Sastrawan Aceh: Sunyi di Tengah Keramaian

Sastrawan Aceh: Sunyi di Tengah Keramaian
— Anung Wendyartaka

KARYA-KARYA besar sering kali dihasilkan dari tempat-tempat yang jauh dari memadai. Tengok saja karya legendaris novel petualangan Old Shatterhand dan sobatnya orang Indian, Winnetou, karya Dr Karl May maupun tetraloginya Pramoedya Ananta Toer yang dihasilkan dari balik jeruji penjara. Masih banyak karya-karya besar dunia lain, terutama sastra, yang dihasilkan dari tempat yang jauh dari fasilitas memadai.

Mungkin hanya kebetulan saja apabila salah satu karya besar dalam dunia sastra di bumi Serambi Mekkah Aceh, yaitu Ensiklopedi Aceh, juga dihasilkan dari sebuah mess yang berbentuk rumah petak ukuran sekitar 3 x 5 meter. Rumah tanpa kamar itu terletak di dalam lingkungan Taman Budaya Aceh di kota Banda Aceh, Provinsi Nanggore Aceh Darussalam. Di tempat inilah, Lesik Keti Ara atau lebih dikenal dengan LK Ara (71), salah satu sastrawan Aceh, ditemani istrinya menyusun karya babon, yakni Ensiklopedi Aceh, dalam 2 tahun terakhir ini.

Di dalam rumah tanpa kamar yang merangkap fungsi sebagai kamar tidur dan ruang kerja yang disesaki dengan buku dan naskah, LK Ara, pensiunan penerbit Balai Pustaka Jakarta, sekarang tengah menyusun Ensiklopedi Aceh yang kedua. Ensiklopedi Aceh jilid satu dengan tebal lebih dari 460 halaman yang disusunnya bersama Merdi sudah terbit tahun 2008. ”Jilid 2 ini bisa lebih dari 1.000 halaman,” kata LK Ara menjelaskan.

Ensiklopedi Aceh merupakan pengembangan dari buku Seulawah: Antologi Sastra Aceh yang diterbitkan oleh Yayasan Nusantara Jakarta bekerja sama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias dan pemda tahun 1995. ”Jika pada Seulawah berisi karya-karya sastrawan Aceh dari Hamzah Fansuri pada awal abad ke-17 sampai sekarang, pada Ensiklopedi Aceh nama pengarang disertai riwayat hidup singkat, pencapaiannya, dan contoh karyanya yang berupa tulisan pendek, seperti puisi, hikayat diurutkan secara alfabetis. Karya berupa novel atau prosa tidak bisa dicantumkan karena akan menjadi terlalu panjang,” tandas LK Ara. Selain itu, Ensiklopedi Aceh juga memuat hikayat dan adat istiadat Aceh. ”Buat kita di Indonesia, sebenarnya hikayat adalah juga sastra atau bagian dari sastra. Tetapi, kalau di Aceh sini kalau disebut sastra saja orang belum tahu kalau ada hikayat di dalamnya. Oleh karena itu, dalam sampul ensiklopedi ini, saya tampilkan subjudul adat, hikayat, dan sastra.

Menggumuli sastra dan budaya memang sudah menjadi jiwa sekaligus jalan hidup LK Ara. Kendati sudah sepuh, semangat untuk terus berkarya di bidang sastra, terutama sastra Aceh, tetap menggelora di tengah minimnya fasilitas dan penghargaan yang memadai dari pemerintah maupun masyarakat. Sudah lebih dari 10 tahun semenjak pensiun dari Balai Pustaka tahun 1985, LK Ara yang juga dikenal sebagai penyair dan penulis cerita anak-anak ini dengan tekun mendokumentasikan syair Gayo yang biasanya didendangkan para seniman Gayo. ”Saya pernah dalam setahun di Takengon (Gayo) sendiri. Tiap hari tertentu mereka (penyair) itu saya undang ke tempat saya. Saya ajak ngobrol dan menyalin lirik-lirik mereka,” kata LK Ara. Ia lebih memfokuskan untuk mendokumentasikan lirik atau teks, bukan lagunya. ”Karena saya bukan penyanyi,” kata Ara. Syair Gayo yang disalin lewat rekaman kaset ini tebalnya sudah ribuan halaman. Padahal, teks tersebut masih dalam bahasa asalnya. ”Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia bisa 2 juta halaman lebih,” tandas Ara.

Usaha yang dilakukan LK Ara untuk mendokumentasikan syair Gayo selama puluhan tahun ini bukan tanpa halangan. Namun, berkat ketekunan, kesabaran, dan kecintaannya untuk melestarikan salah satu kekayaan budaya Aceh ini, persoalan-persoalan yang ada dapat teratasi. ”Penyair Gayo itu umumnya enggak hirau dokumentasi. Begitu selesai mendendangkan syair, enggak lagi terdokumentasi,” kata LK Ara. Hal inilah yang menjadi salah satu kesulitan LK Ara dalam mendokumentasikan syair Gayo. Contohnya, dalam mengumpulkan karya Teuku Yahya, ia harus rela mengunjungi istri Teuku Yahya, tetapi hasilnya nihil. Akhirnya, seperti tidak habis akal, LK Ara pun mencari murid-murid Teuku Yahya. ”Malam-malam ada yang datang, namanya Siti Juariah kalau tidak salah. Masih ingat lagu-lagu karya mendiang gurunya?” tanyanya. ”Oh, bisa,” jawab Juariah. Kemudian dia langsung berdendang. ”Dari situ salah satu contoh saya mengumpulkan syair Gayo,” tandas LK Ara.

LK Ara membedakan antara syair Gayo dan Didong. Menurut dia, kendati keduanya sama-sama didendangkan, Didong lebih membicarakan masalah duniawi. Sementara syair Gayo temanya lebih religius dan biasanya memakai tradisi Islam.

Dalam satu-dua bulan ini, salah satu buku yang berisi syair Gayo yang ia kumpulkan rencananya akan terbit. Selain itu, ada satu naskah sastra Gayo yang juga sudah siap terbit. ”Ini adalah salah satu dari sastra Gayo selain Didong, peribahasa, pantun, teka-teki atau kekitikan, teka-teki panjang yang disebut ulo-ulo dan sebuku atau seni meratap,” jelas LK Ara yang bersama K Usman, Rusman Sutiasumarga, dan M Taslim Ali ikut mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Selain itu, dulu ia juga pernah memopulerkan penyair tradisional Gayo atau Didong yakni, almarhum Abdul Kadir To’et pentas di berbagai tempat di Indonesia.

Dalam menyelesaikan karya-karyanya, LK Ara biasanya tidak pernah memasang tenggat waktu kapan akan selesai. ”Jadi, saya sesantainya dan seadanya saja. Kadang ada yang mau membantu, seperti dinas kebudayaan ada biaya sedikit. Hal ini bisa lebih mempercepat,” jelas Ara. Kendati hidup di tengah situasi yang kurang memadai untuk berkarya, seperti rumah tanpa kamar, jalan becek pada waktu hujan, dan minimnya honor yang diterima, LK Ara tetap teguh bekerja untuk menghasilkan karya-karya besar bagi dunia satra Aceh.

TA Sakti

Terus berkarya kendati hanya bermodal semangat dan kecintaan terhadap sastra Aceh seperti yang dilakukan LK Ara ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami Teuku Abdullah atau yang lebih dikenal dengan TA Sakti. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Syiah Kuala, Banda Aceh, ini juga dikenal sebagai pelestari sastra Aceh seperti juga LK Ara. Berbekal kemampuan membaca huruf Arab Melayu (Pegon) dan kecintaannya terhadap sastra Aceh sejak tahun 1992, ia mulai mengalihaksarakan (transliterasi) naskah-naskah sastra Aceh ke dalam huruf Latin. ”Tujuannya biar orang Aceh bisa kenal lagi hikayat,” ujar TA Sakti.

Menurut TA Sakti, sebelum tahun 1960, hikayat masih sangat berpengaruh bagi masyarakat Aceh. ”Kalau mau memajukan orang Aceh itu lewat hikayat. Tulis hikayat sebagus-bagusnya, bagi orang Aceh itu akan berpengaruh” pesan C. Snouck Hurgronje. Tetapi, sekarang orang sudah tidak kenal hikayat lagi,” kata TA Sakti.

Awalnya, kegiatan TA Sakti melatinkan hikayat dan naskah Aceh lain itu hanya sekadar mengisi waktu luang. ”Ada naskah yang sudah dibuang di tempat sampah. Sudah tidak ada yang menyentuh lagi. Jadi saya sentuh, gara-gara tidak ada kegiatanlah, untuk mengisi waktu luang,” kata TA Sakti.

Saat ini TA Sakti yang pernah mendapatkan Bintang Budaya Parama dari pemerintah berkat jasanya melestarikan naskah-naskah kuno Aceh ini sudah berhenti mentransliterasi hikayat mengingat kondisi fisiknya yang semakin lemah. ”Sekarang ini mengetik satu halaman saja kaki saya sudah sakit. Kalau diteruskan terus bengkak. Jadi, berpikir pun tidak boleh terlalu berat,” kata TA Sakti. ”Kalau pergi ke mana-mana saya tergantung sama tukang RBT (rakyat banting tulang) atau ojek karena harus dipapah,” tutur TA Sakti.

TA Sakti menyalin hikayat sama sekali bukan demi uang. Bagaimana tidak, satu buku kecil/saku dengan hikayat ukuran 10,5 X 16 cm dan tebal sekitar 80 halaman ia jual ke toko buku seharga Rp 1.200,-. Biasanya ia mencetak paling banyak 1.000 eksemplar, sebagian besar malah hanya dicetak 500 buah. ”Saya kira semua (judul) kurang laku, amat kurang. Malah sudah tidak laku lagi. Bukan zamannya hikayat lagi,” kata TA Sakti. Dengan keuntungan hanya sekitar Rp 600,- per buku karena ongkos cetaknya saja sudah Rp 600,- per buku, itu pun kalau laku semua, ia hampir-hampir sama sekali tidak mendapat keuntungan materi. ”Saya malah rugi, buat ongkos RBT ke sana kemari dan beli kertas sudah harus nombok. Kalau bukan gara-gara kaki saya patah dan tidak ada kegiatan. Saya tidak akan mau,” tutur Sakti. Selain diterbitkan dalam bentuk buku saku, sebelum ini ia juga menyalin hikayat untuk koran lokal, Serambi Indonesia. ”Lebih kurang ada 1.000 hari dimuat, jadi tiap hari bersambung. Satu hari 5 lembar(30 bait). Tetapi, sekarang sudah tidak lagi,” jelas TA Sakti.

Saat ini TA Sakti sudah tidak lagi menyalin hikayat lagi setelah sudah mentransliterasikan 25 judul hikayat, tambeh, dan nazam Aceh, seperti Hikayat Mendeuhak dan Hikayat Nabi Yusuf, serta lebih kurang 22.000 buku saku telah dicetak. Salah satu hikayat terakhir yang dibukukan oleh penerima penghargaan Kehati Award 2001 kategori ”Citra Lestari Kehati” berkat kumpulan hikayat yang bertema cinta lingkungan hidup, seperti Wajeb Tasayang Binatang Langka dan Binatang Ubit Kadit Lam Donya, ini adalah hikayat Tambeh Tujoh Blah (2008). Juga tulisan mengenai salah satu sastrawan Aceh paling populer Syekh RIH Kruengraya yang meninggal tahun 1997.

Padahal, masih banyak bahan-bahan yang belum disentuh. Ada dua prosa Aceh yang belum ia sentuh dan bahan-bahan lain yang kemungkinan besar masih tersimpan di rumah-rumah orang.(bip/wen, Litbang Kompas)

Sumber: Kompas, Jumat, 19 Juni 2009

Iklan

Profil: Drs. Teuku Abdullah,SH,.MA alias T.A. Sakti untuk Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Sebagai bahan nomine anugerah tokoh bahasa dan sastra tahun 2018

Profil:
Drs. Teuku Abdullah,SH,.MA alias T.A. Sakti

Biodata

Nama lengkap : Drs. Teuku Abdullah, SH., MA
Nama pena : T.A. Sakti
Tempat/tanggal lahir : Pidie, 13 September 1954
Pekerjaan : Dosen tetap FKIP Unsyiah, Banda Aceh
Pangkat/Golongan : Lektor Kepala/IV b
Alamat :
No. HP :
Email :

Hobi : Membaca dan menulis, terutama bidang sejarah dan budaya

Pendidikan
Pendidikan agama saya tempuh di rumah sendiri, Gampong Jeumpa dan Riweuek, Kecamatan Sakti. Terakhir, saya belajar ilmu agama Islam di Dayah Titeue Meunasah Cut, Kecamatan Titeue, Pidie, di bawah asuhan Teungku Muhammad Syekh Lammeulo.
Pendidikan Umum yang saya tempuh adalah SD Lameue, SMI Kota Bakti, SMP Negeri Beureunuen, SMA Negeri Sigli. Pernah kuliah sampai Tingkat Sarjana Muda I di Fakultas Pertanian Unsyiah (1975 – 1976); sebelum pindah ke Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM) Unsyiah, Banda Aceh (1977). Setelah menyelesaikan kuliah Tingkat Sarjana Muda Hukum (Sm.Hk); dan malah hanya tinggal dua mata kuliah lagi – Filsafat Hukum serta Filsafat Agama (1982)-; kemudian melanjutkan ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta atas bantuan beasiswa Lembaga Kerjasama Indonsia-Belanda/LIPI-Jakarta.Sewaktu pulang bersama/berkonvoi ke kampus UGM setelah menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata(KKN) di desa Guli, kecamatan Nogosari, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah itulah ia ditabrak bis Colt barang/tivi. Tahun 1999 meneruskan kuliah di Program Ekstensi Fakultas Hukum Unsyiah, walaupun mesti dibantu/ dipapah orang lain – dalam satu semester mengambil 2-3 mata kuliah dan 5 semester non aktif akibat sakit serta tsunami -sehingga sidang sarjana 12 Desember 2007. September 2013 melanjutkan kuliah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh dalam konsentrasi Sejarah dan Tamaddun Islam. Kajian tesis terhadap Hikayat Malem Dagang. Wisuda pada 21 Maret 2016, Alhamdulillah!.

Selama menjadi mahasiswa FHPM Unsyiah, pernah menulis di beberapa media massa yang terbit di Banda Aceh dan Medan, Sumatera Utara seperti “ Buletin Peunawa” terbitan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, “Buletin KERN”, milik Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah, Majalah “Gema Ar-Raniry” Media IAIN Ar-Raniry (Banda Aceh), Majalah “Santunan” terbitan Kanwil Depag, Aceh, Suratkabar “Peristiwa” (Banda Aceh) dan suratkabar “Waspada” ( Medan).
Kemudian, setelah menjadi mahasiswa UGM Yogyakarta, mulai menulis di suratkabar lingkup nasional seperti “Merdeka”, “Pelita”, “Suara Karya”, yang ketiganya terbit di Jakarta serta “Kedaulatan Rakyat” (Yogyakarta). Ketika menjadi staf pengajar di Unsyiah, pernah menulis di Harian “Serambi Indonesia” , “Harian Rakyat Aceh“, “Harian Aceh“( ketiganya terbit di Banda Aceh), Buletin “CAKRA” terbitan Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himas) FKIP Unsyiah, Majalah “Sinar Darussalam” Media Kampus Darussalam, Banda Aceh, Majalah “Panca” milik Kanwil Transmigrasi Aceh, Majalah “Puan” terbitan Lembaga BP-7 Aceh, Majalah “WARTA UNSYIAH” dan Buletin “CENDEKIA” keluaran Dinas Pendikan NAD. Hampir semua tulisannya terkait budaya dan sastra Aceh.

.

Kepenulisan

Sejak tahun 1992 telah memfokuskan diri di bidang sastra, khususnya Hikayat Aceh. Sehubungan dengan kegiatan itu, hingga tahun 2009 telah 32 judul Hikayat/Tambeh/Nadham Aceh telah selesai dialihkan hurufnya dari huruf Jawoe- Jawi/Arab Melayu ke aksara Latin. Tiga judul hikayatberjiwa/nuansa Lingkungan Hidup telah diterbitkannya, yaitu : 1. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, (1999). 2. Wajeb Tasayang Binatang Langka (2001). 3. Binatang Ubit Kadit Lam Donya (2001). Tahun 2003, ketiga judul buku saku itu digabungkan dan diterbitkan kembali oleh Dinas Kebudayaan NAD dengan judul “Lingkongan Udep Wajeb Tajaga”. Setelah diedit kembali, “hikayat binatang” ini tahun 2009/2010 pernah dibaca berkali-kali di ACEHTV Banda Aceh dalam acara “Ca-e Bak Jambo” pukul 20.00 s/d 22.00 Wib. pada setiap malam minggu yang disenandungkan Medya Hus.
Beberapa kajian baik sendiri maupun bersama teman yang sudah diterbitkan ialah: 1. Nadham Akhbarul Hakim (M. Nasir), 2. Hikayat Muda Balia (M.Nasir), 3, Tambeh Tujoh, ketiga buku itu diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh , masing-masing tahun 1997, 2006, 2007. Selain itu sembilan judul hikayat telah diterbitkannya. Hikayat-hikayat itu ialah : 1. Hikayat Akhbarul Karim, 2. Hikayat Aulia Tujoh, 3. Hikayat Nabi Meucuko, 4. Nadham Akhbarul Hakim, 5. Hikayat Meudeuhak, 6. Hikayat Tajussalatin, 7. Hikayat Banta Keumari, 8. Tambeh Tujoh Blah dan 9. Hikayat Nabi Yusuf

Karya Tulis Hikayat yang telah Diterbitkan dalam bentuk buku saku
1. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga
2. Nadham Akhbarul Hakim (bersama M. Nasir)
3. Hikayat Muda Balia (bersama M.Nasir)
4. Tambeh Tujoh
5. Hikayat Akhbarul Karim
6. Hikayat Aulia Tujoh
7. Hikayat Nabi Meucuko
8. Nadham Akhbarul Hakim
9. Hikayat Meudeuhak
10. Hikayat Tajussalatin
11. Hikayat Banta Keumari
12. Tambeh Tujoh Blah
13. Hikayat Nabi Yusuf

Publikasi Buku:
1. Qanun Meukuta Alam – Dalam Syarah Tadhkirah Tabaqat Tgk. Di Mulek dan Komentarnya, dialihaksarakan dari Arab-Melayu ke Latin oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, Syiah Kuala University Press, 2010.
2. Kitab Al-Rahmah Fi Al-Tibb Wa’l-Hikmah – Teori penyakitdan tindakan medis dari zaman Yunani Kuno sampai Kerajaan Aceh Darussalam Tgk. Chik Kuta Karang, dialihaksarakan oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, 2013.
3. Kitaburrahmah – Teori penyakit dan tindakan medis karangan Tgk.Chik Kuta Karang, disalin kembali dan dialihakarakan oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, Syiah Kuala University Press, 2014.
4. Qawa’idu’l Islam, dialihaksarakan oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, U.D. Selamat Sejahtera, 2004.
5. Hikayat Muda Balia – Pengungkapan dan pengkajian latar belakang isi manuskrip, oleh T.A. Sakti dan M.Nasir, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2006.
6. Hikayat Akhbarul Karim, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti dan Ramli A.Dally, Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2002.
7. Historiografi Lokal di Aceh – Studi terhadap Hikayat Malem Dagang, Oleh T.A. Sakti, Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, 2016.
8. Nazam Aceh, dialihaksarakan T.A. Sakti dan T.Idham Khalid, Seumpeuna 33 Tahun Menempuh Ujian Kehidupan, 2017.
9. Tokoh Penulis Hikayat dalam halaman 112 buku Kearifan lokal dalam Hikayat Meudeuhak dan Hikayat lainnya Oleh L.K. Ara, Yayasan Mata Air Jernih & Dinas kebudayaan dan Pariwisata Nanggroe Aceh Darussalam, 2008.
10. Hikayat Teungku di Meukek, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2012.
11. Hikayat Nabi Yusuf, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2009.
12. Hikayat Ranto – Kisah Perantauan Masyarakat Pidie ke Pantai Barat-Selatan Aceh, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2011.
13. Lingkungan Udep Wajeb Tajaga, oleh T.A. Sakti, Dinas kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2003.
14. Nazam Mikrajus Shalat, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2014.

Publikasi Jurnal antara lain:
Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang, Al- Imam, Volue , 25-39, 2085-5672 (2015). Suatu ringkasan Tesis saya.

Peran Islam di Negara-Negara Asia Tenggara, Al- Imam, Volum , 73-88, 2085-5672 (2014)

Pemikiran Islam H. Agussalim Tentang Nasionalisme, Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, Al- Imam, Volum , 16-29, 2085-5672 (2014)

Peran Surat Kabar Semangat Merdeka Dalam Masa Perang Kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh, Al- Imam, Volume , 1-18, 2085-5672(2013).

Bahasa Melayu Pasai, Akar Tunjangnya Bahasa Nasional Indonesia, Al- Imam, Volume, 120-130, 2085-5672(2012).
Perkembangan dan Pelestarian Manuskrip Arab Melayu di Aceh, Citra Lekha, Volume , 19-30, 1410-4938 (2011)
Jejak Perjuangan Panglima Besar Reteh Teungku Sulung ( Sebagai Panglima dan Panglima Besar), Tantular, No.4 T, 168-178, 1683-7058 (2007).

Dewan Juri dan Sertifikat:

1. Tahun 1999, menjadi anggota Dewan Juri Lomba Membaca Hikayat Aceh, yang diadakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Banda Aceh, dalam rangka “Gebyar Budaya Aceh ke II”.
2. Tanggal 22 Oktober 2002, menjadi anggota Dewan Juri Lomba Mencipta/Mengarang Hikayat Aceh, yang diadakan Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
3. Juri I Lomba Membaca Naskah Lama Aceh, tanggal 11 – 12 Maret 2014 di Banda Aceh diselenggarakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh.
4. Juri dalam kegiatan Lomba Membaca Naskah Lama, tanggal 26-27 Juli 2017 di Banda Aceh diselenggarakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh.
5. Juri Dalam Kegiatan Lomba Membaca Naskah Lama Aceh, tanggal 8-9 Juni 2015 di Banda Aceh diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh.
6. Pembahas/narasumber pada kegiatan Seminar Hasil Perekaman/Dokumentasi Sastra Lisan Aceh Balai bahasa Provinsi Aceh pada hari Jum’at, tanggal 8 Januari 2016 di Banda Aceh.
7. Juri Lomba Membaca Naskah Lama dalam kegiatan Pekan Bahasa dan Sastra, tanggal 25 Juli s.d 10 Agustus 2016 diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Aceh.
8. Juri dalam kegiatan Lomba Membaca Naskah Lama, tanggal 2 s.d. 3 Juli 2013 di Banda Aceh diselenggarakan Balai Bahasa Banda Aceh.
9. Juri Pada Acara Lomba Hikayat Dalam Rangkaian Acara Unsyiah Fair X dengan Tema “ Satu Dekade Berkarya, Dari Aceh untuk Indonesia’’ Diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Syiah Kuala AAC Dayan Dawod, 18-23 Oktober 2015.
10. Piagam Pemuliaan Atas Kesertaan Dalam Diskusi Terfokus “Hikayat Sebagai Mitigasi Kreatif”, tanggal 11 Januari 2016 diselengarakan oleh Sekolah Menulis Dokarim Banda Aceh.
11. Piagam Kemuliaan sebagai Narasumber Dalam Seminar Naskah “Hikayat Mitigasi Kreatif”, tanggal 3 Februari 2016 diselengarakan oleh Sekolah Menulis Dokarim Banda Aceh.
12. Sertifikat peserta Kuliah Umum oleh Ketua MPR-RI DR. (H.C) Zulkifli Hasan SE.,MM. Dalam rangka Milad Universitas Syiah Kuala ke-55 tahun 2016 diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
13. Peserta dalam Deseminasi Program Pengayaan Kosa Kata di Banda Aceh,tanggal 30 Maret 2016 diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan dan Perlindungan, Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, tanggal 30 Maret 2016.
14. Peserta Seminar Internasional Dunia Melayu Dunia Islam tanggal 5 Desember 2016 di Banda Aceh.

Penghargaan :
1. Sebagai Pengarang, Berprestasi Unggulan Peraih KEHATI Award 2001 dari Yayasan KEHATI (Keanekaragaman Hayati Indonesia), Jakarta tanggal 7 Maret 2001. Yayasan ini dipimpin Prof.Dr. Emil Salim mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI.
2. Sebagai Sastrawan; Memperoleh Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah RI tanggal 14 Agustus 2003. Anugerah Bintang Budaya ini disematkan Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Jakarta.
3. Mendapatkan Penghargaan sebagai “Penulis Karya Terbaik Sastra Aceh 2003” dari Dinas Kebudayaan NAD, tanggal 29 September 2003.
4. Menerima Anugerah Budaya “TAJUL ALAM” dalam rangka Pekan Kebudayaan Aceh Ke 5 (PKA V) dari Pemerintah Aceh yang diserahkan oleh Wakil Gubernur NAD Muhammad Nazar, S.Ag di Anjong Mon Mata, Banda Aceh pada malam Selasa tanggal 10 Agustus 2009.

Hikayat Hasil Alih Aksara Dimuat Bersambung dalam Serambi Indonesia:
Kegiatan menyalin hikayat Aceh ke huruf Latin memang sudah sejak tahun 1992 saya lakoni. Hal ini terkait Harian Serambi Indonesia yang saat itu sedang memuat Hikayat Aceh setiap hari secara bersambung. Pemuatan hikayat oleh koran itu berlangsung pada awal 1992 sampai akhir tahun 1994. Dari 12 judul hikayat yang sempat dimuat koran itu, tujuh (7) judul diantaranya adalah hasil alih aksara saya. Ketujuh hikayat Aceh itu ialah: (1) Hikayat Meudeuhak; (2) Hikayat Nasruwan Ade, (3) Hikayat Abunawah, (4) Hikayat Banta Keumari(5) Hikayat Aulia Tujoh, (6) Hikayat Tajussalatin, dan (7) Hikayat Zulkarnaini.
Bila dihitung jumlah hari pemuatannya, berarti hampir seribu hari/tiga tahun lebih Harian Serambi Indonesia telah memuat hasil kegiatan alih aksara hikayat yang saya kerjakan. Walaupun ditahun 1995 hikayat tidak dimuat lagi dalam koran, namun karena sudah mencintai/ketagihan; saya terus melanjutkan kerja alih aksara hikayat dari satu judul ke judul lainnya.

Judul-judul dan Isi Ringkas Naskah
Judul-judul dan ringkasan isi dari Hikayat-Nadham-Tambeh dan naskah Jawoe yang telah saya salin dari Arab Melayu/Jawoe ke huruf Latin dari tahun 1992 sampai 2009 sebagai berikut : (1) Hikayat Meudeuhak : Keberhasilan seseorang pemimpin/Raja turut ditentukan oleh para penasihatnya namun sang pemimpin perlu selalu menguji kesetiaan mereka (434 halaman) ,(2) Hikayat Banta Keumari: Sikap saling membantu dalam perjuangan hidup akan menghasilkan kebahagiaan bersama (650 halaman), (3) Hikayat Tajussalatin: Tajussalatin = mahkota raja-raja. Membicarakan sejumlah pedoman bagi para pemimpin. Ditulis pertama dalam bentuk prosa, bahasa Melayu oleh Bukhari Al Juhari tahun 1603 M. Tahun 1937 atas anjuran Uleebalang Keumangan,Pidie disusun ke bentuk Hikayat Aceh (420 halaman), (4) Hikayat Aulia Tujoh: Mengisahkan tentang tujuh orang pemuda yang melawan seorang penguasa yang zalim. Begitu angkuhnya raja ini sampai-sampai mengakui dirinya sebagai Tuhan (54 halaman), (5) Hikayat Kisason Hiyawan: Kisason Hiyawan merupakan kisah sejumlah hewan/binatang. Kehidupan ini penuh dengan teka-teki, tipu muslihat dan saling bersaing. Oleh karena itu perlu hati-hati dan waspada dalam setiap tindakan. Di beberapa tempat di Aceh, naskah ini diberi nama Hikayat Nasruwan Ade Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (176 halaman),
(6) Hikayat Gomtala Syah: Kisah monyet raksasa yang berasal dari manusia. Intinya menceritakan kesetiaan sang monyet membela kepentingan pamannya. Hikayat ini bernuansa lingkungan hidup (548 halaman), (7) Hikayat Keumala Indra: Keberhasilan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, akan memperlancar kehidupan. Tokoh ceritanya berasal dari Turki (594 halaman), (8)Hikayat Nabi Yusuf: Penderitaan yang disertai kesabaran-ketabhan, akan mewujudkan kemenangan. Sementara kedengkian dan iri hati akan menerima rugi dan kekalahan. Naskahnya sudah cukup tua yang berasal dari kecamatan Titeue, Pidie (281 halaman), (9) Hikayat Abu Nawah: Setiap pemimpin /raja harus tahan menerima kritik. Kritikan itu perlu dikemas dalam dua bentuk, yaitu bentuk halus dan tajam/keras (301 halaman), (10) Hikayat Zulkarnaini: Kisah Iskandar Zulkainaini dan Nabi Khaidir/Hidhir ini menyebut asal usul nama Aceh dengan sebutan Pulo Ruja( bekas kain serban Sultan Iskandar Zulkarnani). Dan setiap kedengkian akan menerima balasan Tuhan (226 halaman),
(11) Hikayat Akhbarul Karim: Menjelaskan mengenai Ilmu Fiqh, Tasawuf dan Ilmu Tauhid. Hikayat ini juga mengandung nasihat-nasehat agar umat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah. Pengarang Hikayat Akhbarul Karim digelar Teungku Seumatang. Tapi masih diperdebatkan apakah beliau asal Geudong-Aceh Utara atau dari Busu dan Gampong Cot,Pidie(139 halaman), (12) Nadham Akhbarul Hakim: Berisi nasihat dan kritikan tajam terhadap ummat Islam dalam segala umur, yaitu remaja, orang dewasa,dan kakek-nenek. Kritik disebut secara lantang/pedas dan kadang-kadang lucu. Terkesan, sebagian isi naskah ini dikutip dari bagian akhir Tambeh Tujoh Blah. (81 halaman), (13) Tambeh Tujoh: Tambeh (Arab adalah tanbihi, artinya peringatann/tuntunan). Berisi tujuh masalah/ 7 bab. Dua bab di antaranya termasuk masalah yang amat langka dibahas dalam syair/hikayat Aceh, yaitu masalah kerangka tubuh manusia dan Ilmu Ketabiban/kedokteran . Karya ini ditulis tahun 1208 H oleh Syekh Abdussalam(155 halaman), (14) Tambeh 95: Berisi 95 masalah/bab, terdiri dari nasihat, pelajaran Ilmu Agama, Ilmu Tasawuf, contoh-contoh yang bermanfaat; demi kedamaian di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Tambeh ini diterjemahkan dari bahasa Arab tahun 1248 H oleh Syekh Jalaluddin alias Teungku Di Lam Gut (catatan: nama asli dari naskah ini ialah Tambihul Ghafilin, yang baru saya ketahui baru-baru ini) (623 halaman), (15) Nadham Ruba’I: Membahas banyak hal masalah ajaran Islam namun secara ringkas (serba-serbi Agama Islam). Naskah ini tidak lengkap lagi (31 halaman),
(16) Nadham Nasihat: Nasihat-nasihat mengenai pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (34 halaman), (17) Hikayat Nabi Meucuko: Kisah pencukuran rambut Nabi Muhammad SAW yang dilakukan Malaikat Jibril (20 halaman), (18) Hikayat Qaulur Ridwan: Qaulur Ridwan ialah perkataan yang disenangi/ridha Tuhan. Hikayat ini ditulis dalam bentuk cerpen yang mengajak orang mau mengerjakan Shalat, kisahnya diramu dengan muatan local. Hikayat ini ditulis Syekh Abdussalam tahun 1220 H (18 halaman), (19) Tambeh Tuhfatul Ikhwan: Menjelaskan 12 bab masalah agama dan kemasyarakatan. Tuhfatul Ikhwan = persembahan kepada sahabat/saudara. Tambeh ini diterjemahkan Syekh Abdussalam tahun 1224 H (294 halaman), (20) Tambeh Tujoh Blah (Karya Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum. Bahwa beliau sebagai pengarang kitab ini, ‘secara kebetulan’ baru saya ketahui hari Jum’at siang, 10 Ramadhan 1434 H/19 Juli 2013, ketika saya membaca satu bait Tambeh 17 yang berbunyi:”Bahkeu dumnan adab guree, Le kadilee lon hareutoe/Lam hikayat Akhbarul Na’im,Keudeh Polem kalon keudroe!”. Bait terakhir bab ke 7 Tambeh Tujoh Blah itu menyebutkan, bahwa pengarang Tambeh 17 sama dengan penulis kitab Akhbarul Na’im. Sementara pengarang kitab Akhbarul Na’im adalah Syekh Abdussamad atau Teungku Di Cucum. Saya menjadi sangat ingat dengan Akhbarul Na’im serta penulisnya Teungku Di Cucum, karena pada malam Makmeugang Puasa, 9 Juli 2013 yang lalu baru saja berlangsung pembacaan “Nadham Teungku Dicucum” oleh Tgk. Ismail alias Cut ‘E di Bale Tambeh halaman rumah saya. Nadham Tgk. Dicucum adalah nama lain atau nama populer bagi kitab Akhbarul Na’im). : Berisi 17 bab, yang membahas masalah hubungan dengan Allah, hubungan sesama Manusia dan dengan binatang/Lingkungan hidup. Tambeh 17 termasuk salah satu kitab tambeh yang sangat populer di Aceh (Pidie?) pada masa tempo dulu Tambeh ini ditulis tahun 1306 H (236 halaman),
(21) Hikayat Banta Amat: Kisah seorang anak Raja yang yatim sejak kecil. Negeri dan semua kekayaan di rampas Pamannya. Berkat ‘azimat’ yang diberikan Raja Ular ia berhasil menjadi Raja kembali. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (318 halaman), (22) Nadham Mikrajus Shalat: Membahas seluk-beluk shalat serta yang berkaitan dengannya dalam bentuk nadham Aceh. Nadham ini ditulis Teungku Sulaiman Abdullah, Lala-Andeue, Pidie (41 halaman), (23) Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan: Mengisahkan kehidupan dua orang Putra Raja yang berjuang menemukan permintaan Ayah mereka. Ternyata yang paling menderita; dialah yang mencapai kemenangan dan menjadi Raja menggantikan sang Ayah (79 halaman), (24) Kitab Qawai’idul Islam: Dalam sebutan masyarakat tempo dulu naskah ini dinamakan “Kitab Bakeumeunan” ; menjelaskan mengenai Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam) secara panjang lebar dan mendalam. Keistimewaan kitab ini ditulis dalam bahasa Aceh. Selain Bahasa Aceh, bahasa pengantar naskah ini juga menggunakan bahasa Melayu serta bahasa Arab. Pada umumnya bentuk penulisan bahasa Aceh adalah dalam jenis syair/puisi secara bersanjak, tapi kitab ini bahasa Acehnya dalam bentuk prosa (28 halaman), (25) Tambeh Gohna Nan: Naskah ini ditulis dalam bentuk penyampaian “wasiat dari seorang Ayah kepada anaknya”. Inti wasiat sang Ayah supaya si Anak mengamalkan kehidupan ‘suluk dan tarikat’ yang amat berkembang di Aceh pada akhir zaman. Kitab ini ditulis kira-kira pada masa awal Perang Aceh-Belanda.Tambeh ini ditulis Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum, Aceh Besar Naskah ini belum diberi nama oleh pengarang, karena itu saya berilah judul sementara “Tambeh Gohna Nan” (175 halaman),
(26) Adat Aceh: Berisi adat/tradisi dan protokoler Kerajaan Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda. Sesungguhnya, inilah yang disebut dalam sepotong pribahasa Aceh: “Adat bak Poteumereuhom Hukom Bak Syiahkuala” (162 halaman), (27) Tazkirah Thabaqat: Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Isinya menjelaskan tentang susunan tata pemerintahan Kesultanan Aceh sejak jabatan Geuchik sampai sultan Aceh. Naskah ini ditulis tahun 947 H pada masa Sultan ’Alaiddin Mahmud ‘Abdul Qahar ’Ali Riayat Syah dan terus-menerus direvisi oleh sultan-sultan Aceh sesudahnya. Penyalin/revisi terakhir dilakukan Sayed Abdullah Jamalullail alias Teungku Di Mulek atas anjuran Sultan Ibrahim Mansur Syah tahun 1270 H, yakni 20 tahun sebelum perang Belanda-Aceh tahun 1290 H (115 halaman), (28) Resep Obat Orang Aceh: Cuplikan/saduran dari kitab obat Tajul Muluk karya Haji Ismail Aceh yang ditulis atas perintah Sultan Aceh Ibrahim Mansur Syah. Judul “Resep Obat Orang Aceh” hanyalah pemberian saya,karena berupa cuplikan (55 halaman), (29) Hikayat Malem Dagang: Menceritakan pelayaran Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja si Ujut adalah lambang dari bangsa Portugis yang telah menjajah Malaka sejak tahun 1511 M(163 halaman),. Tahun 2015 Hikayat Malem Dagang saya pilih sebagai bahan kajian Tesis di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. (30) Hikayat Nabi Yusuf : Isi ringkasnya tidak jauh berbeda dari Hikayat Nabi Yusuf versi Pidie tersebut di atas, namun ditulis mengikut selera novel moderen. Dalam hal percintaan Siti Zalikha misalnya, sengaja tak saya salin beberapa kalimat karena ’lucahnya’. Naskah Arab Jawoe berasal dari kabupaten Nagan Raya, selesai ditulis tahun 1980(230 halaman). Maka dari 30 judul naskah yang telah disalin ke huruf Latin berjumlah 6680 halaman.

Kegiatan Sastra Aceh Lainnya yang Saya lakukan:
A. Karya Sendiri
1. Nazam dan Syair Aceh di media-massa
1. Taga Pekan Kebudayaan Aceh 3 (Majalah Puan, No 17, Juni 1988)
2. Pariwisata Aceh Peutimang Beugot (Haba Bak Rangkang, Hr. Serambi Indonesia, Rabu, 9 Desember 1992 hlm.7)
3. Tuntut Eleumee Akhirat-Donya (Haba Bak Rangkang, Hr. Serambi Indonesia, Rabu, 21 Juli 1993 hlm7)
4. Cinta Keu Nanggroe Termasuk Iman (Majalah Puan, No. 40, November 1994/Ranub Sigapu)
5. Cinta Keu Nanggroe Termasuk Iman (Majalah Puan, No. 41, Maret 1995/Ranub Sigapu)
6. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (Majalah Puan, No.48/Oktober 1997/Ranub Sigapu)
7. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (Majalah Puan, No.49/Maret 1998/Ranub Sigapu)
8. Disiplin Nasional (Majalah SANTUNAN, No. 229, April 1997, Tahun XXII)
9. Seumangat Indonesia (Majalah SANTUNAN, No. 232, Oktober 1997, Tahun XXII)
10. Musem Khueng (Majalah SANTUNAN, No. 232, Mei 1998, Tahun XXII)
11. Hansep Beulanja (Majalah SANTUNAN, No. 240, Juli 1998, Tahun XXII)
12. Teungku Seumeubeuet “Gaji” Beutabri (Majalah SANTUNAN, No. 221, November 1995-Maret 1996, Tahun XX)
13. Syako-Syako (Gema Ar-Raniry No. 60, Juli-Agustus 1985)
 Syair ini saya bacakan sewaktu menyambut tour mahasiswa IAIN Ar-Raniry ke Yogyakarta, 26 Januari 1985, di Bale Gadeng – Gedung Pertemuan Mahasiswa dan Masyarakat Aceh di Yogyakarta.
14. Kru Seumangat … (Buletin “Peunawa”, edisi 4-5, 1980, diterbitkan Senat Mahasiswa Fekon Unsyiah).
 Syair ini menyambut kehadiran Fakultas Kedokteran, Unsyiah tahun 1980.

2. Buku Hikayat Yang Telah Diterbitkan
1. Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, 21 halaman tahun 1999
2. Hikayat Wajeb Tasayang Binatang Langka, 36 halaman tahun 2001
3. Hikayat Binatang Ubit Kadit Lam Donya, 23 halaman tahun 2001
B. Karya Saduran
1. Menyadur beberapa cerita dari Hikayat Kisason Hiyawan/Hikayat Nasruwan Ade menjadi cerita anak-anak bahasa Indonesia, yang kemudian dimuat dalam Suratkabar. Cerita dimaksud adalah:
1) Hakim Gadungan (Hr. Waspada, Sabtu, 21 Februari 1981).
2) Jampok dan Sekawan Kera (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 7 Maret 1993 halaman 7)
3) Burung Dendang Curi Selendang (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 19 Juni 1994 halaman 7)
4) Pawang Rusa (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 19 November 1995)
5) Furuwan, Si Kancil Diplomat (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 29 Oktober 1995 halaman 6)
6) Raja Katak dan Ular Tapa (Hr. Serambi Indonesia, 1995)
7) Pahlawan Cilik dari Tangse, dimuat dalam Hr. Waspada, Medan. Tahun 1981 (arsip hilang)
8) Niat Hati Memeluk Gunung, dimuat dalam Hr. Waspad, 1981 (arsip hilang)
9) Menepuk Air Didulang, dimuat dalam Hr. Waspada. 1981(arsip hilang)
1. Beberapa Sub Judul dalam buku; “Sastra Untuk Madrasah Dasar” Proyek Pengembangan MPD, belum diterbitkan, 2002.(anggota Tim).

C. Karya Terjemahan
1. Tahun 1999, atas bantuan dana dari World Bank Perwakilan Jakarta, menterjemahkan beberapa hikayat ke dalam bahasa Indonesia, yang semula berbahasa Aceh. Hikayat-hikayat yang diterjemahkan itu ialah:
1) Hikayat Aulia Tujoh
2) Hikayat Nabi Yusuf
3) Hikayat Akhbarul Karim
4) Hikayat Meudeuhak
2. Pernah menjadi Ketua/Anggota Tim pengkajian naskah kuno yang didanai Depdikbud Jakarta dan Balai kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT), Banda Aceh. Naskah-naskah yang telah dikaji ialah:
1) Hikayat Nasruwan Ade (anggota, telah diterbitkan oleh Depdikbud, Jakarta tahun 1996/1997)
2) Nadlam Akhbarul Hakim (Ketua, telah diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh, 1997)
3) Hikayat Muda Balia (Ketua, 1997, belum diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh). Noot: telah diterbitkan tahun 2006.
4) Tambeh Tujoh (Mandiri,. 1998, belum diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh).Noot: telah diterbitkan tahun 2007.
5) Sebagai pemakalah pada Seminar Sehari di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT), Banda Aceh tanggal 20 Juni 1996 dengan judul makalah “Beberapa Nilai Tradisional dalam Hikayat (Suatu Tinjauan terhadap Isi Hikyat Nasruwan Ade), sebagai Ketua Tim
D. Karya Alih Aksara
1. Transliterasi dari huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe ke aksara Latin.
1) Hikayat Meudeuhak = 434 halaman, tahun 1992
2) Hikayat Banta Keumari = 650 halaman, tahun 1993
3) Hikayat Tajussalatin = 420 halaman, tahun 1994
4) Hikayat Aulia Tujoh = 54 halaman, tahun 1993
5) Hikayat Kisason hiyawan/
Hikayat Nasruwan Ade = 176 halaman, tahun 1993
6) Hikayat Gomtala Syah = 548 halaman, tahun 1995
7) Hikayat Keumala Indra = 593 halaman, tahun 1995
8) Hikayat Nabi Yusuf = 281 halaman, tahun
9) Hikayat Abu Nawah = 301 halaman, tahun 1993
10) Hikayat Zulkarnaini = 226 halaman, tahun 1993
11) Hikayat Akhbarul Karim = 139 halaman, tahun 1992
12) Hikayat Akhbarul Hakim = 81 halaman, tahun 1994
13) Tambeh Tujoh = 155 halaman, tahun
14) Tambeh 95 = 623 halaman, tahun 2002
15) Nazam Ruba’i = 31 halaman, tahun 1996
16) Nazam Nasihat = 34 halaman, tahun 1996
17) Hikayat Nabi Meucuko = 20 halaman, tahun 1996
18) Hikayat Qaulur Ridwan = 18 halaman, tahun 1996
19) Tambeh Tuhfatul Ikhwan = 204 halaman, tahun 1998
20) Tambeh Tujoh Blah = 236 halaman, tahun 2001
21) Hikyat Banta Amat = 318 halaman, tahun 2000
22) Mikrajus Shalat = 41 halaman, tahun 1999
23) Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan = 79 halaman, tahun 1994
24) Tambeh Gohna Nan = 175 halaman, tahun 2002
25) Adat Aceh = 161 halaman, tahun 2002
26) Tazkirah Thabaqat = 101 halaman, tahun 2003
Catatan: – Pentingnya alih aksara ini bagi generasi muda Aceh, karena mayoritas mereka tidak bisa lagi membaca dalam huruf Arab Melayu/aksara Jawi.
– Sebagian kecil dari naskah di atas telah diterbitkan.

Menjadi “Pedagang” Hikayat
Mencetak beberapa naskah yang telah dialih aksara ke huruf Latin. Ongkos cetak dibayar secara cicilan setiap bulan. Hasil cetakan dititip di toko-toko buku dengan harga sekedar mengembalikan modal. Tiap jilid tebalnya 60 halaman. Hikayat dan Nadham yang telah diterbitkan ialah:
1) Hikayat Akhbarul Karim, jilid 1 dan 2, tahun 1997
2) Hikayat Aulia Tujoh, tahun 1997
3) Nadham Akhbarul Hakim, tahun 1997
4) Hikayat Meucuko Nabi Muhammad Saw, tahun 1997
5) Hikayat Abu Nawah, jilid 1, tahun 1998
6) Hikayat Abu Nawah, jilid 2, tahun 2000
7) Hikayat Kisason Hiyawan, jilid 1 & 2, thun 2001
8) Hikayat Banta Amat, jilid 1& 2, tahun 2002
9) Hikayat Gomtala Syah, jilid 1 & 2, tahun 2002
10) Hikayat Abu Nawah, jilid 3, 4dan 5, tahun 2003
11) Hikayat Indra Bangsawan, jilid 1, tahun 2003
12) Hikayat Meudeuhak, jilid 1, tahun 2003
13) Nazam Mikrajus Shalat, tahun 2003
Catatan: – Nomor 1 s.d 5 tiap jilid dicetak 1000 ex (seribu eksamplar), sedangkan nomor 6 s/d 16 pejilid dicetak 500 eks (lima ratus eksamplar).
– Setiap kali selesai cetak, ± 50 eksamplar/buah dari setiap jilid, saya hadiahkan kepada teman-teman/lembaga
E. Dan lain-Lain
Tahun 2001, menjadi nominasi 15 besar dari 345 usulan, dalam Lomba Lingkungan Hidup, yang diputuskan Dewan Juri KEHATI Award 2001. Dari lima macam “Kategori”, saya terpilih sebagai “Unggulan Peraih KEHATI Award 2001”, Kategori “Citra Lestari Kehati”. Yayasan KEHATI diketuai Prof. Dr. Emil Salim, berkantor di Jakarta.
Bahan lomba yang saya kirimkan ialah: 1. Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, 2. Hikayat Banta Amat, 3. Hikayat Gomtala Syah, dan 4. Hikayat Kisason Hiyawan/Nasruwa Ade(Kecuali no. 1, masing-masing 5 lember sebagai contoh).
*Dalam upaya menggairahkan kebudayaan Aceh, kadangkala saya menulis “Surat Pembaca”, berupa tanggapan, komentar, atau himbauan/saran; yang kebanyakan dimuat dalam Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh.
1. Aksara Jawi, Adakah Berperan dalam Kebudayaan Nasional?
(Hr. “Waspada”, Jum’at, 24 ktober 1980, halaman “Agama”/VI)
2. Mengapa Wasiat Haji Agussalim Dilupakan? (Juga tentang huruf Arab Melayu/harah Jawoe; Majalah SANTUNAN, No. 50, Desember 1980).
3. Mencari Jejak Langkah H. Agussalim; Juga tentang huruf Arab Jawi/ Jawoe; Gema Ar-Raniry, No. 40 Tahun ke XIII/Desember, 1980).
4. Peranan Aksara Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa (Juga tentang harah Arab Melayu/ Jawoe; Hr. Serambi Indonesia, Jum’at, 9 Oktober 1992 halaman 4/Opini.
5. Menggairahkan Kembali Sastra Aceh (Hr. Serambi Indonesia, Selasa, 12 Mei 1997, halaman 4/Opini).
6. Dari Moskow Sampai ke Captown-Afrika Selatan: Mencari Akar Sastra Aceh dalam Masyarakatnya Dewasa Ini (Majalah SANTUNAN, No. 231, Agustus 1997, TahunXXII)
7. Syeh Rih Krueng Raya dan Sastra Aceh (Majalah SANTUNAN, No. 241, Agustus 1998, Tahun XXI).
8. Sastra Aceh, Mungkinkah Bangkit Kembali??? (Majalah SANTUNAN, No. 237, April 1998, Tahun XXII).
a. Catatan: Tulisan ini oleh Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) dimuat kembali dalam buku “Takdir-Takdir Fansury”, di halaman 87, Agustus 2002.
9. Hikayat Akhbarul Karim (Alih Aksara dan Terjemah)

Diterbitkan Dinas Kebudayaan Provinsi NAD, tahun 2002 (Ketua).

Beberapa Sorotan Media-massa Cetak dan elektronik:
1. Teuku Abdullah, Pelestarian Sastra Aceh, Kompas Senin, 9 Desember 2002, hlm. 12.
2. Anugerah untuk Delapan Putra Bangsa, Kompas, 15 Agustus 2003, hlm.1.
3. T.A. Sakti, Pria di Tumpukan Hikayat (sosok), Aceh Independen, Minggu, 4 Mei 2008, hlm. 12.
4. Mereka yang Mengajar dengan Hati, Detak Unsyiah, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Universitas Syiah Kuala, Edisi 32/Desember 2011, hlm. 20 (liputan khusus).
5. T.A. Sakti, Menjaga Hayat dengan Hikayat Aceh, Kompas, Minggu, 7 April 2013, hlm. 23.
6. Membaca Indonesia : Saat Kata Menjadi Pemersatu (wawancara), Kompas, Jum’at, 3 Februari 2017, hlm. 5.
7. nazamaceh.kompastv.
8. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/content/ta-sakti.

Beberapa Artikel Sendiri
1. Hikayat Aceh Telah Mati(Fokus), Harian Aceh, Rabu, 14 Januari 2009, hlm. 10.
2. Ejaan Aceh Perlu Penyeragaman, Pikiran Merdeka, Minggu, 11 Maret 2012, hlm. 6.
3. “Takdim keu Guree Meuteumeung Ijazah!”(Budaya), Serambi Indonesia, 21 Desember 2008, hlm. 18.
4. Ejaan Bahasa Aceh Siapa Peduli, Serambi Indonesia, 4 April 2012, hlm. 8.
5. Bahasa Melayu Pasai, Akar Tunjang Bahasa Nasional Indonesia, Serambi Indonesia, Minggu, 19 Mei 2013, hlm. 6.
6. Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?, Serambi Indonesia, Senin, 7 Juli 2014, hlm. 18.
7. Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh oleh T.A. Sakti dan Siti Hajar, Serambi Indonesia, Sabtu, 7 Januari 2017, hlm. 18.
8. Hikayat – Kru Seumangat! Aceh Ka Dame oleh T.A. Sakti dan Mohd. Kalam Daud, Harian Rakyat Aceh, Sabtu, 5 Agustus 2017, hlm. 14.

9. Nasib Asrama Mahasiswa Aceh di Yogyakarta, oleh T.A. Sakti dan M.Nur Hasballah, Serambi Indonesia, Sabtu, 28 Mei 2016 (Opini).

 

Membuat Liputan Sastra Aceh:
Lebih sebulan terakhir (13 Januari s/d 22 Februari 2018), kegiatan dan pikiran saya banyak tercurah untuk menuntaskan penyalinan (ganti huruf) Hikayat Akhbarun Na’im. Hal paling baru terkait hal itu adalah tawaran atau ajakan saya kepada kru televisi iNews Aceh untuk meliput nasib kritis kitab Akhbarun Na’im. Kedatangan tim liputan (3 orang, seorang bernama Zahloel) itu sebenarnya untuk menjumpai saya membicarakan prihal kisah Laksamana Keumala Hayati yang baru saja diakui sebagai Pahlawan Nasional RI. Saya melantunkan Hikayat Laksamana Keumala Hayati karangan Syekh Rih Krueng Raya sore itu, sertal memberi penjelasan sekedarnya. Sambil memperlihatkan naskah Akhbarun Na’im, saya menghimbau mereka untuk peduli kepada ‘Tradisi membaca kitab nazam” yang nyaris punah di Aceh Besar. Diakhir wawancara mengenai silsilah Laksamana Keumala Hayati, yang berlangsung sekitar pukul 5.45 sore s/d Azan maghrib hari Senin, 29 Januari 2018 di Bale Tambeh depan halaman rumah saya, sekali lagi saya mohon kesediaan mereka tentang usulan itu. Ketiga wartawan iNewsTV belum memberikan jawaban pasti, karena harus melapor dulu kepada atasan mereka.
Hari Sabtu dan Ahad, 28 Januari 2018 (lewat telepon) saya juga mengajak wartawan media cetak dan online untuk meliput hal yang sama. Sebenarnya mereka (5 orang) ingin menjumpai saya untuk menanyakan sejarah Putroe Ijo yang kuburan beliau berada di Gampong Pande, Banda Aceh. Mereka pun belum menyanggupi karena tergantung keputusan pimpinan media bersangkutan.
Alhamdulillah, hari Sabtu, 17 Februari 2018 saya berhasil membawa 3 orang wartawan untuk meliput “Jelang Kepunahan Tradisi Membaca Nadham Tgk di Cucum di Aceh Besar” (semoga Allah Swt memunculkan lagi tokoh-tokoh baru pembaca Nazam, Amin!). Ketiga jurnalis itu adalah Fahzi dari situs kanal Aceh dan Tagarid online, Syahril dari KompasTV Aceh, dan Dani Randi dari Harian Waspada, Medan. Ikut pula dalam rombongan kami Teuku Zulkhairi, kolumnis, mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry yang sedang menulis disertasi tentang peran Kitab-kitab Melayu Jawoe dalam pendidikan agama di pedalaman Aceh Besar. Praktek jurnalis kami yang pertama mengunjungi Tgk. Ismail alias Cut ‘E di Tanjung Dayah kecamatan Darussalam, kedua ziarah ke makam/kubur Tgk di Cucum, bersama Bapak Fauzan, Keuchik Gampong Cucum, ketiga menjumpai Pak Mukim di Lamceu, kecamatan Kutabaro dan keempat berangkat ke rumah Let Markam Hasan di Meunasah Intan, Lam Ujong, Ulee Kareeng, Aceh Besar. Kegiatan meliput itu berlangsung selama lebih kurang lima jam. Alhamdulillah, Harian Waspada, Jum’at, 23 Februari 2018 memuat berita di halaman B 6 yang berjudul “Nazam Aceh Tanpa Penerus”, sedang pada Minggu, 25 Februari 2018 dimuat di halaman B 3 (Fotografi) satu halaman penuh dengan judul “ Nazam Aceh Tergerus Zaman”. Teks dan photo kedua laporan itu ditulis Dani Randi Sementara dalam suratkabar MEDIA NAD dimuat pada Edisi 567 Tahun XVII/26 Februari – 4 Maret 2018 halaman 2 dengan judul “Puluhan Tahun Demi Menyelamatkan Nazam Aceh” yang ditulis Fahzian Aldevan.

Memperjuangkan Anugerah Budaya
Perhatian terhadap nasib kehidupan ke tiga pembaca nazam Teungku di Cucum masih bangkit pula. Saya memang tidak mampu memberi materi, cuma sekedar menumpah perhatian untuk menggugah pihak lain, terutama Pemerintah Aceh Besar. Berhasil tidaknya upaya saya terserah kepada Tuhan. Ketika diundang masyarakat untuk membaca nazam, masing-masing beliau memang telah diberi semacam ‘sedekah’, yang kadang-kadang sesuai janji. Tetapi pengabdian mereka tidaklah semata mencari materi, namun lebih besar dari itu. Ketiga merekalah yang menjadi benteng terakhir bagi tradisi ‘bernazam’ di Aceh yang telah berlangsung berbilang abad.
Bentuk penghormatan saya kepada ketiga pembaca nazam tersebut adalah mengusulkan mereka kepada Panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII agar diberikan penghargaan. Akan tetapi saat seleksi para calon penerima ‘anugerah budaya” PKA VII sudah berakhir dalam tahun 2017, meski acara PKA VII baru digelar bulan Agustus 2018 yang akan datang. Karena itu saya mencari dukungan dari beberapa tokoh Aceh dan lembaga terkait. Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, MA , Guru Besar UIN-Ar Raniry, adalah tokoh Aceh pertama yang saya jumpai. Lalu, Drs. Muhammad Muis, M.Si, Kepala Balai Bahasa Aceh, Banda Aceh, terus bertemu Prof. Dr. Farid Wajdi, MA, Rektor UIN Ar-Raniry di kantor beliau, kemudian saya antarkan surat usulan kepada Panitia PKA VII, dan terakhir saya melangkah ke Kantor DPRA untuk menemui H. Musannif, SE anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Sebenarnya, saya punya niat juga bertandang ke Kantor Bupati Aceh Besar untuk bertemu Bupati Aceh Besar Ir. Mawardi Ali, namun batal. Bila turut saya kisahkan lika-liku menjumpai para tokoh Aceh itu,- bagi saya yang kemana-mana mesti bertongkat serta dipapah orang lain; saya takut ulasannya kepanjangan!.
Pokoknya, kepada Bapak-bapak yang telah saya jumpai itu saya jelaskan, betapa patutnya diberikan penghormatan atau penghargaan Pemerintah Aceh dalam bentuk anugerah budaya PKA VII kepada ketiga seniman Aceh itu ( Let Markam Hasan –alm, Pak Mukim Abdurrahman, dan Tgk. Ismail alias Cut ‘E). Dalam amplop besar yang saya serahkan kepada Bapak-bapak berisi – yang diharapkan mau mendukung usul saya- yaitu fotokopi surat untuk Kepala Dinas Kebudayaan Aceh/Panitia PKA VII, koran Waspada dan MEDIA NAD yang menjelaskan profil ketiga pembaca nazam dan hasil alih aksara jilid I Nazam Teungku di Cucum (kecuali Prof.DR. Hasbi Amiruddin, karena salinannya belum siap saat itu). Tujuan saya hadiahkan salinan huruf Latin nazam tersebut, agar dapat dipahami betapa perlunya kitab nazam itu diselamatkan atau dilestarikan sebagai sumber nasehat keislaman bagi masyarakat Aceh, khususnya buat warga Aceh Besar yang telah membudayakannya selama ini. Saya berharap, Pemerintah Aceh Besar, para Ulama Aceh Besar, Dayah-Dayah di Aceh Besar,para politikus asal Aceh Besar, komunitas mahasiswa Aceh Besar, komunitas sosial-budaya Aceh Besar, lembaga adat dan kebudayan Aceh Besar dan orang-orang Aceh Besar mau berjibaku atau pasang badan  alias bertekad secara serius mempertahankan budaya ‘bernazam’ di Aceh Besar!!!.

*Catatan:
1. Sebagian kegiatan sastra Aceh yang saya lakukan termuat dalam Blog http://www.tambeh.wordpress.com
2. Profil ini amat kurang dari sempurna, antara lain karena saya belum cukup sembuh dari sakit.

Banda Aceh, 6 Juli 2018
Pegiat Sastra Aceh,
T. A. Sakti
(Drs. Teuku Abdullah, SH., MA)

 

*Profil ini disertai lebih 40 foto yang belum termuat di sini!.

Catatan Akhir Penyalinan Nazam Akhbarun Na’im Jilid I

Bahkeu ‘ohnoe dilee siat, haba riwayat diureueng dara
Dalam buku nyoe ‘ohnoe peutamat, dudoe meusambat buku nyang duwa

Mantong meusambong haba nyang brat2, han ek taingat dumna calitra
Hanasoe pike dilee kalambat, hanasoe surat nyang meunoe rupa
Haba ‘ulama ureueng ‘alem that, hanasoe seutot meung saboh leu-a
Hansoe padoli rawi riwayat, hansoe peuteupat hukom agama
Narit ulama hanasoe ingat, untuk ‘azimat geutanyoe dumna

Jiled nyang phon ‘ohnoe tamat, teuma meusambat jiled keudua
Washallallahu ‘ala saidina Muhammad, wa’ala alihi washahbihi wasallam
Rahmat sijahtra ateueh Muhammad, ateueh sahbat keuluarga
Wattab’ik, attabi’in
Allahumma, biahsani
Ila yaumiddin
Tamat

Catatan Akhir Penyalinan:
Akhbarul Na’im atau lebih dikenal masyarakat Nazam Teungku Di Cucum merupakan sebuah kitab syair agama yang ditulis tahun 1269 H oleh Syekh Abdussamad yang bergelar Teungku Di Cucum. Walaupun masyarakat selalu menamakan karangan ini Nadham, tetapi Teungku di Cucum sendiri tidak pernah sekali pun menyebut demikian. Beliau menjuluki karya ini dengan nama Hikayat. Pernyataan beliau segera kita jumpai pada bagian khutubah atau pengantarnya. Kitab ini tertulis dalam bentuk syair bahasa Aceh dengan huruf Arab Melayu atau aksara Jawi alias Jawoe. Tebalnya 385 halaman (naskah salinan Syekh Andid), karena itu perlu waktu 5 – 6 malam buat membacanya sampai tamat. Boleh dikatakan, pembacaan Nazam Tgk Di Cucum sudah ‘melegenda’ di Kabupaten Aceh Besar, khususnya bagi warga berbagai Gampong di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Darussalam, Kutabaro dan Krueng Barona. Cucum adalah nama sebuah gampong dalam Kecamatan Kutabaro, terletak di pinggir jalan antara Keude Tungkop dengan Keude Lam Ateuk, Aceh Besar.
Sebagai peminat sastra Aceh, terutama Hikayat, Nazam dan Tambeh, saya baru 26 tahun mengenal nama Nazam Teungku Di Cucum. Suatu malam di tahun 1991, sayup-sayup terdengar dari kejauhan lantunan orang yang sedang membaca syair Aceh. Semula saya kira orang baca hikayat. Saya keluar rumah untuk lebih jelas mendengarnya. Begitulah, saya menyimaknya beberapa malam berturut-turut, sambil nongkrong di luar rumah ditemani nyamuk-nyamuk nakal. Baru saya sadari, bahwa yang dibaca itu bukanlah hikayat, melainkan Nazam atau Tambeh. Ini tercermin dari isinya yang berkaitan nasehat agama. Saat itu, saya tinggal di rumah kost di Lrg. Bakti No. 3 kawasan Tgk Diblang, gampong Tanjung Seulamat, kecamatan Darussalam, Aceh Besar.
Selang dua hari selesai pembacaan itu, saya pun bertamu ke rumah nadham itu dilantunkan. Berbekal sedikit bungong jaroe dan sebuah buku saku ‘Nadlam Akhbarul Hakim’ huruf Latin yang baru tercetak, saya menuju rumah itu. Tuan rumah menyambut kami(saya dan Bukhari) dengan ramah. Dalam pembicaraan awal, barulah saya tahu bahwa yang dibaca beberapa malam lalu adalah Nadham Teungku di Cucum. Rupanya, pembacaan Nazam Teungku Di Cucum di rumah itu dalam rangka melepaskan nazar (peulheueh kaoy). Ketika mulai membangun rumah baru sang pemilik rumah meukaoy demikian. Sewaktu rumah selesai dan mulai ditempati atau tinggal di rumah baru (ek u rumoh baro), maka dibuatlah acara membaca nazam.
Sejak itu saya pun timbul niat ingin memiliki naskah Nadham Teungku di Cucum. Berbagai upaya saya lakukan. Bulan Juli 1999, saya mulai menempati Jambo milik sendiri di Gampong Tanjong Seulamat. Mulai saat itu niat dan usaha memiliki naskah itu semakin kuat, namun selalu gagal. Akhirnya pada tahun 2016 saya memperoleh fotokopi Nadham Tgk di Cucum dari Rumoh Teungoh, Ujong Blang, Kecamatan Beutong, Nagan Raya. Di Rumoh Teungoh inilah, setahun penuh (April 1986 s/d April 1987) saya berobat patah gaki pada Abu Tabib Wen alias Teungku Abdurrahman; setelah sebelas bulan berobat di Yogyakarta, Solo, Sragen (Jawa Tengah) baik secara medis maupun pada tabib patah. Naskah Nazam itu dibawa Cut Bang Pak Jamai (putra Abu Tabib Wen) sewaktu ‘meungunjong’ blah bisan di Banda Aceh. Rab na 16 thon – mulai thon 1999- lon harap-harap pajan na dilon Nadham nyoe. Alhamdulillah, darot poh 3.30 uroe Rabu, 29 Juni 2016 M atawa 24 Puasa 1437 H katrok Ota Akhirul Zaman, cot Abu Tabib Wen jakjok fotokopi Nazam Akhbarul Na’im. Watee trok Ota (nama panggilan) ngon sidroe rakan nyan, dilon pih bantrok lon woe di Cot Buklat bak rumoh Cek Medya Hus.
Setelah membaca beberapa lama, timbullah niat di hati saya untuk menyalin ke huruf Latin.
Salen phon Seulanyan, 21 Beurapet 1438/21 Zulqaidah 1438 H/14 Agustus 2017 M poh 06.32 beungoh. Teuingat meusalen nadham nyoe bunoe teungoh tueng ie seumayang suboh. Baroekon lam teuingat-ingat peue “ie kayat” lon salen/alihaksara atau ketik ulang ‘ohlheueh dimuat Hikayat MoU Helsinki lam koran Rakyat Aceh mulai Sabtu, 5 Agustus 2017. Siat treuk jak bak apel Senin bak FKIP. Watee nyan ulon teungoh meuloe-loe su, aleh wab teukap dilah/lidah ngon gheum kengkeueng tincu rap hanco. Ulontuwan harap ngon beureukat Nadham nyoe mudah2-an beurijang puleh, amin!. Man Hikayat MoU Helsinki dimuat lom bak Sabtu, 12 Agustus 2017. Bak Sabtu, 19 Agustus 2017, ka hana dimuatle bak halaman 14 koran Rakyat Aceh. Aleh pakon?!. Mudah-mudahan seumangat lon han keundo bak salen Nadham Teungku di Cucum nyoe, wab hanale dimuat nyan; ngon idin Allah!.
Selesai disalin (jilid satu) dari huruf Jawi alias Jawoe ke aksara Latin, hari Sabtu, 25 Adoe Molod 1439/25 Rabiul Akhir 1439 H bersamaan 13 Januari 2018 M pkl. 11. 15 wa/wib. Naskah fotokopi yang dikirim dari Rumoh Teungoh berupa salinan ulang yang dilakukan oleh Teungku Teuku Haji Usman Fauzi pendiri Dayah Lam Rheung-Ulee Kareng, Aceh Besar (almarhum). Beliau membagi naskah itu ke dalam tiga jilid. Jilid pertama 198 halaman, jilid dua 199 halaman, jilid tiga 35 halaman; sehingga jumlahnya 432 halaman (naskah salinan Tgk. T. Usman Fauzi). Saya baru selesai menyalin ke huruf Latin hanya jilid satu. Guna mudah dibaca oleh “generasi sibuk” dewasa ini, saya pun memilah-milah hasil alih aksara Latin kepada 69 sub-judul.
Sesudah habis tersalin ke huruf Latin, selanjutnya masih banyak pembetulan yang mesti saya lakukan. Sebanyak 170 pat/tempat (kata) belum dapat saya baca/alihaksara dengan benar. Hal demikian terjadi antara lain karena naskah nazam kiriman dari Rumoh Teungoh, Beutong, Nagan Raya berupa fotokopi, sehingga ada beberapa kata yang luput sewaktu dicopy dan seterusnya. Karena itu saya harus mencari para ahli untuk membetulkannya. Diantara para pakar yang pertama ingin saya hubungi adalah Bapak Mukim H. Abdurrahman (Pak Mukim), Gampong Lamceu, Kecamatan Kutabaro- dekat Keude Lam Ateuk, Aceh Besar. Beliau punya pengalaman puluhan tahun dalam membaca Nadham Akhbarun Na’im ketika diundang masyarakat Aceh Besar untuk membacanya. Hari Rabu, 17 Januari 2018 saya menelepon beliau minta kesediaan bertemu, namun hari itu beliau masih di Jakarta dalam rangka berobat mata dan baru pulang hari Kamis. Semula saya berencana ke Lamceu hari Sabtu, 20 Januari 2018 sekalian memenuhi undangan Khanduri Molod dari Cek Medya Hus di Cot Buklat-dekat Blang Bintang, namun karena teman RBT Hpnya mati, maka batallah niat itu.
Akhirnya, saya bersama Amal putra saya yang bungsu meluncur ke khanduri Molod. Waktu sampai ke Gampong Cot Buklat, kami sempat kesasar/sisat dua kali. Jurong Dayah yang kami masuki sesungguhnya hanya berjarak sekitar 10 meter dari lorong yang kami cari. Waktu masuk ke Jurong Ulee Jalan kami pun berlalu jauh ke depan dari pintu pagar rumah Cek Medya, karena beberapa tanda yang terpacak selama ini ternyata sudah musnah, yaitu beberapa rumpun bambu. Maka keluarlah Cek Medya menunggu kami di babah rot. Nampaknya rumah baru Cek Medya yang sedang dibangun berakibat perlunya penebasan rumpun-rumpun bambu itu. Saya dan Amal, ternyata sebagai tamu yang pertama datang. Berapa lama kemudian baru hadir Cut Hab Montasiek, Yah Gani serta 4 orang pemuda. Tgk Samuti, Cek Amir Blang Krueng, Tgk Din datang bersama dalam sebuah mobil. Nampaknya, hidangan molod perdana kamilah yang “membukanya”. Selesai santap khanduri, waktu keluar ke halaman rumah, saya melihat dan menyalami beberapa teman sekaligus tamu seperti Ayah Muda, Syekh Sofyan, Teungku Mat Isa, Septiawan dan beberapa pemuda lainnya. Di hari molod itu, Cek Medya hanya berkhanduri khusus untuk membawa satu hidang ke Meunasah, maka tamu yang beliau undang pun terbatas, khususnya anggota Group Seniman Aceh TV.
Hari Senin, 22 Januari 2018 dengan RBT Bang Bus saya mengunjungi Bapak Mukim H. Abdurrahman yang baru pulang dari Jakarta. Selain buat silaturrahmi, saya juga bermaksud untuk membetulkan 170 kata dari hasil alih aksara “Akhbarun Na’im” yang belum jelas. Akibat mata kiri Pak Mukim masih sakit dan perih, usaha untuk memperbaiki tersebut tidak berlansung ramphak. Hanya dicelah-celah kisah berobat ke Jakarta kami sempat membetulkan beberapa kesalahan atau alih aksara yang masih ragu-ragu. Menurut cerita Pak Mukim sendiri, beliau akan datang ke Jakarta lagi bulan Maret 2018 untuk operasai mata, yaitu menganti kornea mata.
Saya masih beruntung juga di hari Senin itu, saat Pak Mukim meminta putri beliau untuk mengambil tiga jilid kitab Akhbarun Na’im di atas bara/loteng Depot obatnya di Kedai Lam Ateuk. Sekitar lima tahun lalu (2013!) Pak Mukim minta bantuan Let Markam Hasan menyalinnya dengan hadiah Rp. 300.000, yaitu setiap jilid Rp. 100 ribu. Hari itu, ketiga jilid buku Nazam Akhbarun Na’im dihadiahkan Pak Mukim kepada saya dengan balasan hadiah dari saya Rp. 600.000 (enam ratus ribu rupiah). Keberuntungan kedua dalam kunjungan saya ke rumah Pak Mukim adalah beliau memberitahukan saya lebih rinci tentang Kapten Markam Hasan. Kalaulah bukan karena telah siang (sekitar jam 12, saat orang makan!), saya sudah segera meluncur dengan Honda tua Bang Bus ke Meunasah Intan, Lam Ujong, Ulee Kareng. Berkali-kali saya mendengar Pak Mukim mengklaim umur Pak Markam 100 tahun (umu ka sireutoeh thon).
Selasa, 23 Januari 2018 besoknya, sepulang dari ronsen pinggang di RSPN Unsyiah, saya berangkat lagi untuk menjumpai Pak Mukim guna mengantar uang hadiah kitab nadham, sekaligus minta penjelasan seperti kemaren. Ternyata hasilnya juga tidak seperti yang saya harapkan. Ini semua lantaran Pak Mukim sedang sakit mata. Padahal buat perbaikan itu, saya telah mencatat dalam buku notes semua (170 tempat) halaman kitab nadham yang belum betul penulisannya. Akibat usaha pencatatan halaman-halaman salah belum juga banyak memberi hasil, lalu saya salin dengan dawat merah bait-bait syair yang salah sebanyak 9 halaman dalam buku notes. Akan tetapi tetap belum berhasil tuntas. Sementara itu, saya sendiri juga telah membetulkan sejumlah alih huruf yang salah, baik dengan saya ura-ura sendiri, maupun dengan membaca lagi kitab nadham hadiah Pak Mukim.
Setelah membeli dua kg jeruk, Kamis, 25 Januari 2018 bersama RBT Bang Bus saya berangkat ke Lam Ujong, Ulee Kareng. Sesampai di Simpang Tujoh, Bang Bus menanyakan alamat Pak Markam kepada seorang Bang becak. Dua orang yang menjelaskan ternyata masyarakat di sekitar sini lebih mengenal beliau dengan gelar Pak Let atau Let Markam. Setelah melanjutkan, kami berbelok ke pintu gerbang Meunasah Intan.
Kami terus bergerak sampai ke ujung kampung. Seorang petani yang baru pulang menyemprot hama padi menunjukkan rumah Let Markam yang letaknya tepat sebagai rumah terakhir di pinggir persawahan. Kami masuk dari pintu pagar belakang. Ketika sampai di salah satu rumah, kami bertemu dua orang perempuan dan seorang lelaki. Kemudian, sewaktu pulang baru kami ketahui bahwa kedua wanita itu putri-putri Pak Markam, sedang lelaki tadi adalah menantu beliau yang bekerja di Kejaksaan Tinggi Aceh. Lewat pintu dapur, kami dibawa oleh seorang putri Pak Markam menuju ruang tengah tempat beliau berada. Di situ terlihat Let Markam Hasan berbaring telentang pada sebuah bangku. Beliau seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Kapten. Setelah bersalaman dan memperkenalkan diri, saya juga menyampaikan maksud kunjungan. Lalu beliau meminta putrinya untuk merobah posisi tidur beliau untuk duduk bersandar.
Pembicaraan berlangsung sekitar penyalinan Kitab Akhbarun Na’im yang banyak dilakukan Pak Let. Sebagian salinan itu dilakukan atas permintaan orang. Diantara yang menerima salinan itu adalah Pak Mukim (huruf Jawoe dan Latin), Teungku Zulfan (Cek Fan) pimpinan Dayah Tungkop, kecamatan Darussalam, Aceh Besar serta beberapa orang lain. Kami juga diperlihatkan dua buah buku salinan Nadham Teungku Di Cucum. Melihat kondisi kertas, saya yakin usia salinan itu sudah lebih sepuluh tahun.Tujuan kunjungan kami hanya tercapai separuh, yaitu dalam hal silaturrahmi. Sementara maksud untuk editan alih aksara kurang membawa hasil. Kenyataan ini dapat dimaklumi, karena kondisi Bapak Markam Hasan yang sudah uzur. Suara beliau sudah kurang jelas, namun semangat hidup beliau masih amat kuat serta dapat memberi inspirasi kepada kita. Lewat pendampingan putri beliau, kami terus menambah informasi yang diperlukan. Saat bersalaman mohon izin pulang, sayup-sayup terdengar ucapan Bapak Markam Hasan: “Beumeutuwah-meubahgiya” lantas saya sambung: “Beumalem-beukaya”. Oleh karena beliau pun mengucapkan hal yang sama, maka berdengunglah ucapan itu ke seluruh ruangan tempat kami berada.
Hari Sabtu, 27 Januari 2018, saya datang lagi ke rumah Bapak Markam Hasan, juga ditemani Bang Bus. Setelah pangkas rambut di Keude Tungkop serta saya minta Bang Bus membeli dua kg buah naga, kami pun menuju ke sana. Kali ini kami datang lewat halaman depan. Modal tambahan yang ikut saya bawa adalah halaman-halaman alih aksara yang mengandung kesalahan. Setelah diprint Asyura, hanya 20 lembaran saja yang tersisa dengan jumlah kesalahan sebanyak 25 kata/tempat. Sebelum masuk pintu pagar, dari jauh kami lihat Bapak Markam berada di pintu rumah, sedang duduk di kursi roda dengan dipapah putri beliau. Setelah kami berbincang hampir satu jam, kami pun pamit pulang. Sewaktu bersalaman pamitan, ungkapan seperti pada kunjungan pertama juga beliau ucapkan lagi; ‘beumeutuwah-meubahgia……….!.
Hari Jum’at, 2 Februari 2018 saya berkunjung kembali ke Lamceu ke rumah Pak Mukim Kemukiman Rabo, Kutabaro, Aceh Besar. Halaman Nadham yang belum mendapat pembetulan saya bawa serta. Di hari itu beberapa kata dapat dibetulkan oleh Pak Mukim, misalnya a menjadi (an), gata (kana), banci (banci), lantah (lanteuh ), gami (keumeu), harabi (ceureubi), pueng2 (ung2), sang (seueh), rugi (rudi), brok (bhuek), carabi (ceureubi), udoek (rudok), sabe(sabil), jirabi (ceureubi) dan jeunamei keu lakoe (jeunamei keu lakoe). Selain itu Pak Mukim Haji Abdurrahman juga mengisahkan pengalaman beliau ketika membaca nadham secara bersambung atau bergiliran. Sewaktu diundang ke suatu Meunasah misalnya, pembacaan nadham dilantunkan oleh beberapa orang. Setelah seorang pembaca merasa haus dan lelah, ia digantikan orang lain. Para pelantun Nadham itu dipimpin H. Abubakar (mertua Pak Mukim) asal gampong Beurangong, Tgk Ismail (Teumuda Ma’i), Tgk Sabi, Syekh Ali Cot Cut dan Pak Mukim.
Akhirnya, upaya penyempurnaan salinan Latin berhasil juga, terutama dengan berpedoman pada kitab yang disalin Pak Kapten Markam, yaitu tiga buku yang dihadiahkan Pak Mukim kepada saya. Pada saat ini pembaca Nazam terbaik dari generasi muda hanya dua orang saja, yaitu Muki (nama panggilan) sebagai anak asuh Bapak Mukim Haji Abdurrahman Lamceu, kecamatan Kutabaro, Aceh Besar dan Tgk. Sofyan Kasim, Gampong Uteun Pulo, kecamatan Seunagan Timur, Nagan Raya.
Lebih sebulan terakhir (13 Januari s/d 22 Februari 2018), kegiatan dan pikiran saya banyak tercurah untuk menuntaskan penyalinan (ganti huruf) Hikayat Akhbarun Na’im. Hal paling baru terkait hal itu adalah tawaran atau ajakan saya kepada kru televisi iNews Aceh untuk meliput nasib kritis kitab Akhbarun Na’im. Kedatangan tim liputan (3 orang, seorang bernama Zahloel) itu sebenarnya untuk menjumpai saya membicarakan prihal kisah Laksamana Keumala Hayati yang baru saja diakui sebagai Pahlawan Nasional RI. Saya melantunkan Hikayat Laksamana Keumala Hayati karangan Syekh Rih Krueng Raya sore itu, sambil memberi penjelasan sekedarnya. Sambil memperlihatkan naskah Akhbarun Na’im, saya menghimbau mereka untuk peduli kepada ‘Tradisi membaca kitab nazam” yang nyaris punah di Aceh Besar. Diakhir wawancara mengenai silsilah Laksamana Keumala Hayati, yang berlangsung sekitar pukul 5.45 sore s/d azan maghrib hari Senin, 29 Januari 2018 di Bale Tambeh depan halaman rumah saya, sekali lagi saya mohon kesediaan mereka tentang usulan itu. Ketiga wartawan iNewsTV belum memberikan jawaban pasti, karena harus malapor dulu kepada atasan mereka.
Hari Sabtu dan Ahad, 28 Januari 2018 kemaren(lewat telepon) saya juga mengajak wartawan media cetak dan online untuk meliput hal yang sama. Sebenarnya mereka (5 orang) ingin menjumpai saya untuk menanyakan sejarah Putroe Ijo yang kuburan beliau berada di Gampong Pande, Banda Aceh. Mereka pun belum menyanggupi karena tergantung keputusan pimpinan media bersangkutan.
Alhamdulillah, hari Sabtu, 17 Februari 2018 saya berhasil membawa 3 orang wartawan untuk meliput “Jelang Kepunahan Tradisi Membaca Nadham Tgk di Cucum di Aceh Besar” (semoga Allah Swt memunculkan lagi tokoh-tokoh baru pembaca Nazam, Amin!). Ketiga jurnalis itu adalah Fahzi dari situs kanal Aceh dan Tagarid online, Syahril dari KompasTV Aceh, dan Dani Randi dari Harian Waspada, Medan. Ikut pula dalam rombongan kami Teuku Zulkhairi, kolumnis, mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry yang sedang menulis disertasi tentang peran Kitab-kitab Melayu Jawoe dalam pendidikan agama di pedalaman Aceh Besar. Praktek jurnalis kami yang pertama mengunjungi Tgk. Ismail alias Cut ‘E di Tanjung Dayah kecamatan Darussalam, kedua ziarah ke makam/kubur Tgk di Cucum, bersama Bapak Fauzan, Keuchik Gampong Cucum, ketiga menjumpai Pak Mukim di Lamceu, kecamatan Kutabaro dan keempat berangkat ke rumah Let Markam Hasan di Meunasah Intan, Lam Ujong, Ulee Kareeng, Aceh Besar. Kegiatan meliput itu berlangsung selama lebih kurang lima jam. Alhamdulillah, Harian Waspada, Jum’at, 23 Februari 2018 memuat berita di halaman B 6 yang berjudul “Nazam Aceh Tanpa Penerus”, sedang pada Minggu, 25 Februari 2018 dimuat di halaman B 3 (Fotografi) satu halaman penuh dengan judul “ Nazam Aceh Tergerus Zaman”. Teks dan photo kedua laporan itu ditulis Dani Randi Sementara dalam suratkabar MEDIA NAD dimuat pada Edisi 567 Tahun XVII/26 Februari – 4 Maret 2018 halaman 2 dengan judul “Puluhan Tahun Demi Menyelamatkan Nazam Aceh” yang ditulis Fahzian Aldevan.

Bale Tambeh, Senin, 10 Bln Boh Kayee 1439
10 Jamadil Akhir 1439 H
26 Februari 2018 M

T.A. Sakti
Peminat hikayat dan sastra Aceh

Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IX

Ketika Sembilan Tahun Sebagai Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2018

Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IX

HARI INI – adalah hari ke empat Lebaran atau tanggal 4 Syawal 1439 H. Kota-kota di Indonesia terasa sunyi-sepi, karena sebagian besar penduduknya pulang ke kampung halaman untuk merayakan Hari Raya ‘Idul Fitri bersama keluarga di kampungnya masing-masing. Saya bersama keluarga juga pulang kampung untuk menikmati suasana Hari Raya bersama sanak-famili. Sekitar jam 8.15 pagi tadi kami balik ke perantauan di Banda Aceh. Kami mampir ke Mesjid Nurul Huda di kampung untuk melepaskan nazar dengan sembahyang Hajat dua rakaat serta mampir lagi ke tabib urut di Bluek Ulee Birah, Caleue. Menjelang maghrib di hari raya pertama, seorang keluarga saya mengalami cedera di tumit akibat terpeleset saat berlebaran ke rumah syeedara.
Sejak beranjak pergi, sepanjang jalan sampai ke kota Beureunuen, jalan masih sepi dari kenderaan lalu-lalang. Sampai Grong-Grong dan Keude Padang Tiji pun suasana jalan belum begitu ramai. Ini lebih disebabkan turun hujan di bagian pagi sekitar jam 7 lebih. Jadi, orang pun menunda persiapan berangkat mereka. Keadaan mulai ramai di sepanjang jalan pergunungan Seulawah. Kenderaan berjalan tidak mulus, lantaran banyak mobil dan sepeda motor (Aceh: Honda) bergerak dua arah, yaitu dari Sigli ke Banda Aceh dan sebaliknya.Terlihat, mulai dari Kota Bakti, Beureunuen, Grong-Grong, Padang Tiji, Saree, Seulimuem, Lam Baro dan kota Banda Aceh hampir seluruh kedai, warung, dan toko semua tutup. Akibatnya, kami kesulitan mencari warung nasi( rumah makan). Menjelang jam dua siang, barulah kami sekeluarga tiba di rumah.( jam 22.40 wib…. bersambung besok).

Kehadiran saya pada suatu undangan keurija di sekitar Stadion Lhong Raya, Banda Aceh banyak mempengaruhi gerak saya dalam kegiatan pelestarian sastra Aceh tahun 2017 – 2018. Sewaktu pulang dari acara pesta perkawinan staf pengajar UIN Ar-Raniry itu, beberapa puluh meter dari tempat acara saya melihat sebuah kantor mungil yang menjumpakan kembali saya dengan sebuah media yang sudah lama saya mencarinya setelah pindah dari sebuah jalan di sekitaran Simpang Surabaya, Banda Aceh. Sejak berdiri di kota ini tahun 2005, saya telah ikut mengisi media ini dengan tiga judul hikayat hasil alih aksara. Itulah Kantor Harian Rakyat Aceh. Saat itu, Redaktur Budaya Harian Rakyat Aceh adalah Asnawi Kumar. Ketika pemuatan tiga judul hikayat itulah, saya menyaksikan Asnawi Kumar sebagai seorang budayawan Aceh sejati. Selang 2 – 3 hari kemudian – setelah mengedit sebuah hikayat – saya pun pergi lagi ke kantor media itu. Saya menjumpai pemimpin Redaksi guna menyampaikan hasrat saya memuat hikayat dalam koran itu. Gayung pun bersambut, maka mulai Sabtu, 5 Agustus 2017 dimuatlah Hikayat MoU Helsinki dalam Harian Rakyat Aceh.
Setelah pemuatan hikayat itu, bangkitlah semangat saya untuk menyalin atau alih aksara sebuah hikayat dari huruf Jawi ke aksara Latin. Judulnya Hikayat Akhbarun Na’im yang lebih populer di kalangan masyarakat Aceh Besar dengan sebutan Nazam Teungku di Cucum. Fotokopi nazam ini adalah kiriman hadiah dari Pak Jamal, Rumoh Teungoh, kecamatan Beutong, Nagan Raya. Sudah lebih setahun saya miliki dan baca Nazam ini, tetapi belum sanggup menggerakkan batin dan fisik saya untuk menyalinnya ke huruf Latin. Penyebab enggannya saya melakukan penyalinan cukup banyak, antara lain karena tebalnya kitab nazam ini sampai tiga jilid dengan jumlah lembaran lebih 400 halaman. Akibat pemuatan Hikayat MoU Helsinki dalam Harian Rakyat Aceh, saya pun tergerak mengalih aksarakan Nazam Teungku Di Cucum. Pada hari Senin, 21 Beurapet 1438 atau 21 Zulkaidah 1438 H bersamaan 14 Agustus 2017 M pukul 6.32 pagi, mulailah saya menyalinnya.
Kegiatan menyalin boleh dikatakan normal, disela-sela kegiatan mengajar/memberi kuliah yang padat, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu. Setiap hari mengasuh dua lokal, disamping sidang Sarjana, seminar proposal dan rapat yang kadang-kadang berlangsung pada hari Senin. Walaupun lamban, ternyata pada malam Uroe Raya Haji (malam ‘Idul Adha) 10 Zulhijjah 1438 atau 31 Agustus 2017 pukul 20.15 wib., telah 51 halaman asli nazam telah selesai tersalinkan. Pernah pula saya berhenti menyalin lebih sebulan setelah baris nazam “Bagoe taeu manok dileusong, jeuep gampong le nyang meuzina”. Sebagaimana telah saya sebutkan di atas, faktor kesibukan memberi kuliah yang membuat fisik saya lelah dan lemah menjadi alasan utama terhentinya penyalinan itu. Hal ini terlihat pada catatan tanggal 13 Nopember 2017 pukul 14.35 wib., lalu pada 15 Nopember 2017 saya dirawat di UGD Rumah Sakit Pangeran Nayef, Unsyiah karena kekurangan gula darah.
Satu dorongan terkuat untuk menyalin nazam Teungku di Cucum muncul kemudian. Suatu sore saya telepon Pak Jamai. Lewat pembicaraan itu tersentuh mengenai Khanduri Thon di Rumoh Teungoh pada 17 Jumadil Akhir tahun 1439 H yang tinggal dua bulan lagi. Sejak sore itu, semangat saya timbul berkobar-kobar untuk menyelesaikan penyalinan terutama jilid pertama nazam itu. Bayangan pikiran saya begini, fotokopi nazam Teungku Di Cucum saya terima dari Pak Jamai Rumoh Teungoh, maka alangkah ‘meusigaknya’ kalau saya sempat membawa hasil alih aksara kitab itu sebagai “bungong jaroe” khaduri thon yang akan saya hadiri. Sempena tujuan itu, bergiatlah saya menyalinnya siang-malam. Setiap saat ada luang waktu selalu saya gunakan untuk menyalinnya. Ketika itu kaki kiri saya sering kebas-kebas kalau lebih setengah jam duduk di kursi. Oleh karenanya, saya berkejar-kejaran waktu dengan sakit kebasan itu; misalnya dapat satu halaman ketikan (8 bait syair)…syukurlah…lalu berhenti.

Dengan cara kerja ‘gerilya’ demikian, maka pada Sabtu, 25 Adoe Molod 1439 atau 25 Rabiul Akhir 1439 H bertepatan 13 Januari 2018 M pukul 11.15 wib., selesailah saya salin jilid I Nazam Teungku di Cucum dengan hasil huruf Latin setebal 147 halaman dari 199 lembar naskah asli huruf Arab Melayu atau Jawi alias Jawoe. Sebenarnya penyalinan kitab ini belumlah tuntas, karena masih ada 170 kata/tempat yang belum dapat saya baca. Karena itu saya harus beberapa kali menjumpai dua orang pembaca nazam, yaitu Pak Mukim Abdurrahman dan Let Markam Hasan. Upaya saya menjumpai Pak Mukim Abdurrahman yang tinggal di Lamceu dekat Keude Lam Ateuk tidaklah membawa hasil memuaskan, karena keadaan beliau sedang sakit mata. Sementara ke rumah Let Markam Hasan juga kurang berhasil, lantaran beliau sudah uzur berusia 91 tahun. Namun, berkat bantuan ‘semangat’ kedua beliau dan daya olah saya sendiri, akhirnya selesai juga perbaikan itu. Usaha alih aksara jilid II yang lembaran huruf Jawi-nya 200 halaman, sampai hari ini belum lagi saya utak-atik.
Kunjungan saya yang lebih satu kali ke rumah kedua pembaca nazam itu mendatangkan rasa iba dalam batin saya. Akibatnya timbullah ide untuk membuat liputan media tentang profil mereka. Tiga orang wartawan, masing-masing Dani Randi dari Harian Waspada, Medan, wartawan internet Fahzi dari Kanal Aceh dan Tagarid online serta Syahril dari Kompastv Aceh saya ajak membuat liputan. Berkelilinglah kami-disertai Teuku Zulkhairi, seorang kolumnis muda- dengan dua mobil selama lima jam pada hari Sabtu, 17 Februari 2018. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah rumah Teungku Ismail alias Cut ‘E di gampong Tanjung Dayah, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Atas undangan masyarakat beliau telah membaca nadham Teungku di Cucum selama 45 tahun. Sepulang dari sana kami menuju gampong Cucum. Bersama Keuchik gampong Cucum, Fauzan; kami berziarah ke kubur/makam Teungku di Cucum yang bernama asli Syekh Abdussamad. Beliau adalah pengarang nazam Teungku di Cucum atau Hikayat Akhbarun Na’im. Selesai di Cucum kami menjumpai Pak Mukim Abdurrahman di Lamceu, kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Beliau telah membaca nazam itu selama 20 tahun. Keluar dari Lamceu, kami berangkat ke Meunasah Intan, Lam Ujong-Ulee Kareng ke rumah Let Markam Hasan. Beliau banyak menyalin nazam Teungku di Cucum, baik dalam huruf Jawi maupun ke dalam huruf Latin. Kebanyakan salinan itu atas permintaan orang lain. Ayahnya Keuchik Hasan Lam Ujong juga seorang pembaca nazam. Sewaktu kami jumpai Let Markam Hasan telah uzur berumur 91 tahun, dan pada Jum’at, 5 April 2018 telah berpulang ke Rahmatullah. Ketika kami membuat liputan, saya sempat membaca hasil karya beliau baik dalam huruf Jawi dan huruf Latin di rumah beliau. Semoga arwah Allah Yarham mendapat rahmat dari Allah Swt selamanya, Aminn!.
Hasil liputan itu telah dimuat dalam Harian Waspada, Medan, MEDIA NAD, Banda Aceh dan beberapa situs internet. Alhamdulillah, berkat liputan tersebut-sekarang jika kita klick nazam Aceh di internet, maka muncullah beberapa ulasan mengenai nazam Aceh yang nyaris punah itu. Dan bila kita cari liputan berita mengenai nazam Aceh, maka tinggal kita tulis dan sentuh: nazam Aceh.kompastv.

Perhatian terhadap nasib kehidupan ke tiga pembaca nazam Teungku di Cucum masih bangkit pula. Saya memang tidak mampu memberi materi, cuma sekedar menumpah perhatian untuk menggugah pihak lain, terutama Pemerintah Aceh Besar. Berhasil tidaknya upaya saya terserah kepada Tuhan. Ketika diundang masyarakat untuk membaca nazam, masing-masing beliau memang telah diberi semacam ‘sedekah’, yang kadang-kadang sesuai janji. Tetapi pengabdian mereka tidaklah semata mencari materi, namun lebih besar dari itu. Ketiga merekalah yang menjadi benteng terakhir bagi tradisi ‘bernazam’ di Aceh yang telah berlangsung berbilang abad.
Bentuk penghormatan saya kepada ketiga pembaca nazam tersebut adalah mengusulkan mereka kepada Panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII agar diberikan penghargaan. Akan tetapi saat seleksi para calon penerima ‘anugerah budaya” PKA VII sudah berakhir dalam tahun 2017, meski acara PKA VII baru digelar bulan Agustus 2018 yang akan datang. Karena itu saya mencari dukungan dari beberapa tokoh Aceh dan lembaga terkait. Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, MA , Guru Besar UIN-Ar Raniry, adalah tokoh Aceh pertama yang saya jumpai. Lalu, Drs. Muhammad Muis, M.Si, Kepala Balai Bahasa Aceh, Banda Aceh, terus bertemu Prof. Dr. Farid Wajdi, MA, Rektor UIN Ar-Raniry di kantor beliau, kemudian saya antarkan surat usulan kepada Panitia PKA VII, dan terakhir saya melangkah ke Kantor DPRA untuk menemui H. Musannif, SE anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Sebenarnya, saya punya niat juga bertandang ke Kantor Bupati Aceh Besar untuk bertemu Bupati Aceh Besar Ir. Mawardi Ali, namun batal. Bila turut saya kisahkan lika-liku menjumpai para tokoh Aceh itu,- bagi saya yang kemana-mana mesti bertongkat serta dipapah orang lain; saya takut ulasannya kepanjangan!. Pokoknya, kepada Bapak-bapak yang telah saya jumpai itu saya jelaskan, betapa patutnya diberikan penghormatan atau penghargaan Pemerintah Aceh dalam bentuk anugerah budaya PKA VII kepada ketiga seniman Aceh itu ( Let Markam Hasan –alm, Pak Mukim Abdurrahman, dan Tgk. Ismail alias Cut ‘E). Dalam amplop besar yang saya serahkan kepada Bapak-bapak berisi – yang diharapkan mau mendukung usul saya- yaitu fotokopi surat untuk Kepala Dinas Kebudayaan Aceh/Panitia PKA VII, koran Waspada dan MEDIA NAD yang menjelaskan profil ketiga pembaca nazam dan hasil alih aksara jilid I Nazam Teungku di Cucum (kecuali Prof.DR. Hasbi Amiruddin, karena salinannya belum siap saat itu). Tujuan saya hadiahkan salinan  huruf Latin nazam tersebut, agar dapat dipahami betapa perlunya kitab nazam itu diselamatkan atau dilestarikan sebagai sumber nasehat keislaman bagi masyarakat Aceh, khususnya buat warga Aceh Besar yang telah membudayakannya selama ini. Saya berharap, Pemerintah Aceh Besar, para Ulama Aceh Besar, Dayah-Dayah di Aceh Besar,para politikus asal Aceh Besar, komunitas mahasiswa Aceh Besar, komunitas sosial-budaya Aceh Besar, lembaga adat dan kebudayan Aceh Besar dan orang-orang Aceh Besar mau berjibaku dan pasang badan untuk mempertahankan budaya ‘bernazam’ di Aceh Besar!!!.

Bale Tambeh, 18 Juni 2018
4 Syawal 1439

Pawang Blog Tambeh-Bek Tuwo Budaya,

T.A. Sakti

Nazam Le Ragam- Sambungan Hikayat Bahsa Jawoe, Karya Syekh Muhammad Ibnu Abbas, Krueng Kale (Cuplikan II)

Beuta ingat ajaran lon nyoe wahe adoe
Bek meunyeusai dum geutanyoe uroe dudoe
Lon peingat nyoe hana meuri hana meusoe
‘Ohka nyangnyo aneuk Iseulam beurangkasoe

Hana meuhat inong agam beurangkari
Roh aneuk gob roh aneuk droe roh isteuri
Got nanggroe gob got nanggroe droe nyangna bahgi
Sit jipateh nyang na jiikot Allah ngon Nabi

Bahkeu ‘ohnan jinoe siat nyang khaba nyoe
Nyangpo surat tango hai sahbat lon kheun jinoe
Sinyak Ti Hamamah di Krueng Kale nanggroe Abu
Di Lhee Mukim nanggroe Pineung gampong Ibu

Teungku Haji Idrih ayahndanya beutaturi
Droenyan nyan hepo cuco Teungku di Krueng Kale
Tinggai aneuk bak syeedara di Krueng Kale
Droe nyan ka syahid masa awai phon Prang Kaphe

Duek seukarang teutap jinoe Binasah Baro
‘Oh riwang di Pidie yoh masa plueng dilee talo
Alhamdulillah beuek roh jinoe dalam ta’at
Beule do’a dumna gata wahe sahbat

Nyang seumurat hanlon peugah wahe rakan
Kareuna ulon sangat hina dalam kawan
Akai lon jeuheut ‘Ileumei hana areuta lontan
Di dalam donya thatkeu hina nibak rakan

Lon duek lon dong hana teutab dawok bimbang
Sabab agama keumeung runtoh that leupah sayang
Deungon iradat Ilahonhaq nyang that ghani
Neu peurohlon bak peurusah buet Prang Sabi

Harap tawakkai lon keu Allah simata2
Neubri raseuki bak teumpat nyang hana kamoe sangka
Wa sallalahu ‘ala Muhammad tabri rahmat keu Saidina
Lompi neubri dumkeu sahbat keu ali Muhammad
BEUSAMPOREUNA

……………………………………….
…………………………………………..
…………………………………………….

Wayang tan le di Nabi, saleumle neubri dum insan
Seumbahyang lanjut neupubuet, khutubah neubeuet pendekkan
Ureueng mulia nyang banyak, Nabi meujinak jinakkan
Seunda dan wayang di Nabi, ngon nisa shabi meujan2

Tanna neu pubuet dan marit, malenkan nyang bit yue Tuhan
Sifeuet that damoh dum jroh2, tansoe ek teuoh dan simpan
Lahe dan baten dumpeue seb, di sreb di meugreb meunan tan
Wahe dum kawom nyang umat, proetan Muhammad dumpeue tan

Tan langet bumoe dan asoe, sabab tan siidroe janjongan
Wajeb geutanyoe ta t’akdhim, nabi nyang salim sitbek han
Sudahlah tamat Tuhan bri, Maulod di Nabi janjongan
Alhamdulillah lon pujoe, Tuhanku sidroe bri simpan

Pujoe lon awai dan akhe, baten dan lahe beurangjan
Amin ya Allah ya Rahman, Amin ya Mannan ya salam
Amin ya Rabbi ya qarib, Amin ya mujib ya sallam
Allah ya Rabbi ya ghani, rahmat beuta bri dan sallam

Ateueh panghulee dum umat, Nabi Muhammad nyang nur klam?
Panghulee donya akhirat, panghulee ‘Arab dan ‘ajam
Panghulee insan deungon jen, panghulee laen dum ‘alam
Ulon teumohon takabui, beureukat Rasul zulkiram

Ulon teumaksiet dan bangsat, neubri lon taubat beudeundam
Ulon teujahe dan ghafe, tabri ‘ileumei nyang tajam
Makrifat kureueng that singkat, neubri laot zat meunyelam
Ulonteu lam bahya dan mara, tabri sijahtra nyang dawam

Tataufiek bak buet dan narit, ta taufiek lom niet nyang hilam
Hingga peue nyang jroh tiep2 syoi, neubri jeuep uroe dan malam
Beureukat wali dum Nabi, Rasul dan niniku Adam
Beureukat Makah dan Ka’bah, beureukat mathaf dan makam

Beureukat rukon hijir Syam, ‘Irak dan Yaman multazam
Beureukat mizan dan hijir, beureukat neubri nyang hitam
Beureuakt pinto Ka’bah meueh, beureukat ateueh dan malam
Beureukat neubri nyang mirah, didalam Ka’bah tan macam

Harah Qur’an bungong dum, indah jroh han(ban) hu lamklam
Beureukat kubah geudong jeum, beureukat nyanlom Mon Zamzam
Beureukat do’a peuet Imum, beureukat Syiyah dum haram
Beureukat shafa dan mareuwah, beureukat babah Babussalam

Beureukat mina dan jameurah, muzzalifah dom Adam
Beureukat tanoh di ‘Arafah, mat’arullahil haram?
Beureukat nanggroe Madinah, ta’at neutamah lon deundam
Deesya lon awai dan akhe, baten dan lahe bri peujam

Untong lon neubri beusafi, syuruga tinggi dan makam
Neubri zat gata lon asyek, hingga lon tilek beukaram
Amin ya Allah ka sudah, rahmat neu limpah lam’alam
Silama kamoe nyo hamba, silama gata Po ‘alam

Amin ya Rabbal ‘alamin, kabul mukmin do’a tam
Po ngon surat lon seubut, mangat neu tupat meung uram
Adat jampang meujakhut, rijang geutupat ‘ohka pham
Nanggroe Gampong Krueng Kale, deukat deungon gle Blang Karam

Bak ulee jalan sikaphe, nyankeu Krueng Kale beuta pham
Binasah Baro ka meuhat, nyankeu teumpat dan makam
Bahkeu dumnan lon peugah, pureh jok patah tan kalam
Daweuet pon habeh ka sudah, hate lon sosah that deundam

Panyot pikalen dah habeh, hate lon peudeh tan macam
Malam kajula lon leuteh, ‘oh hampe mureh baro tam
Nyang seumurat he Polem, lagee kheu Nadham lon reukam
Katibuhu rajulun balid Muhammadu sa’idanul Krueng Kale albaladu
Ibnu ‘Abbas ‘alamu Abuhu.

Rabbighfirli waliwa lidaiya Rabbigh hamhuma kama Rabbayani shaghira
Ya Tuhanku tabri rahmat keu nangmbah, kalheueh payah neupadoli

Kalheueh payah neu peulahra lon, deesya neu ampon wahe ya Rabbi
Amin ya Rabbal ‘alamin, kabui mukmin akbal? do’aii

Washallallahu ‘ala khairi khalqihi, Muhammadin wa ‘ala alihi
Washahbihi ajma’in birahmatika ya Arhamar rahimin
Aminn tm

…………………………………….
……………………………………………..
………………………………………………………………….

Catatan Penutup dari Penyalin dan Alih Aksara
Alhamdulillah, hari ini Sabtu, 24 Ramadhan 1439 H bersamaan 9 Juni 2018 M pukul 11.33 wib., selesailah saya salin” Kitab Nazam Le Ragam” karangan Syekh Muhammad Ibnu Abbas. Beliau adalah salah seorang keturunan dari ulama pertama negeri Krueng Kale,yang disebut-sebut berasal dari Baghdad yaitu Syekh Musannif. Mengenai generasi keberapa dari ulama pertama asal Baghdad itu, sampai hari ini belumlah kita ketahui secara pasti. Menurut pemahaman saya, Syekh Muhammad Ibnu Abbas adalah hidup saat Kerajaan Aceh Darussalam belum diperangi bangsa Belanda. Sementara naskah nazam ini merupakan naskah salinan (bukan asli) milik Sinyak Ti Hamamah yakni cicit dari Teungku di Krueng Kale (apakah Syekh Musannif atau Syekh Muhammad Ibnu Abbas?). Saya lebih cenderung kepada Syekh Muhammad Ibnu Abbas, karena suatu sumber menyebutkan bahwa Makam Syekh Musannif yang berada di Krueng Kale sekarang telah berusia sekitar 700 tahun. Ayah Sinyak Ti Hamamah bernama Haji Idris adalah cucu dari Teungku di Krueng Kale. Saat nazam ini disalin, Haji Idris telah syahid masa awal penyerbuan tentera Belanda.
Semula naskah nazam karangan Syekh Muhammad Ibnu Abbas merupakan copi film milik dr. Nabil Berry yang difoto di Pustaka Nasional Jakarta. Sewaktu dr. Nabil ke Bale Tambeh(di depan rumah saya), kami belajar membaca naskah tersebut. Hasil bacaan itu, kemudian diposting/publikasi dr Nabil Berry pada 28 Juli 2017dengan judul “Bacaan Manuskrip Kuno Aceh Bersajak oleh T.A. Sakti”. Setelah dikirim lewat email, saya pun mulai mempelajari secara serius kitab lama Aceh itu. Naskah yang saya terima dari dr. Nabil tidaklah lengkap. Kitab ini tidak memiliki kata pengantar dari pengarang atau pun penutupnya. Isinya terdiri dari beberapa judul nazam, karena itulh saya memberi nama kitab Nazam ini dengan sebutan “Kitab Nazam Le Ragam”(Kitab nazam yang beragam isinya) Secara umum, sebagian besar isi naskah telah pernah saya baca/hafal atau dengar dalam berbagai kesempatan sejak saya masih kecil. Hanya saja, sejak dulu saya belum pernah tahu siapa penulis dari nazam-nazam yang beragam itu. Paling-paling para peminat atau para orangtua hanya menamakan semua nazam itu sebagai “karangan ulama jameun(karya ulama Aceh tempo dulu). Melalui naskah inilah buat pertamakali, saya mengetahui bahwa nazam-nazam itu karya Syekh Muhammad Ibnu Abbas asal Krueng Kale, Aceh Besar. Apalagi dengan adanya Hikayat Bahsa Jawoe sebagai karangan pembuka dalam naskah itu, maka penemuan ini merupakan kebahagian terbesar bagi saya, karena belum mengetahui sebelumnya bagaimana isi Hikayat Bahsa Jawoe. Memang saya telah membaca pembahasan mengenai Hikayat Bahasa Jawoe di berbagai sumber, tetapi pada kali inilah baru saya melihat sendiri “barang aslinya”, Alhamdulillah!. Mengenai tujuan penulisan Hikayat Bahsa Jawoe, kita dapat menjumpainya pada bagian awal naskah ini, yaitu untuk mempermudah para murid yang belajar kitab-kitab BAHASA MELAYU, karena hikayat itu telah memberi makna ( arti)  bahasa Melayu kedalam bahasa Aceh.”Sebaiknya, kitab ini dihafal”, kata sang penulis.
Mengenai pendapat Drs. Nurdin AR M. Hum bahwa beliau di berbagai kesempatan selalu menyatakan Hikayat Bahsa Jawoe adalah karya Syekh Abbas Kuta Karang, memang juga saya pertimbangkan, karena kita sedang mencari kebenaran sejarah secara pasti. Saat sedang menulis “haba peunutop”Ini, memang sengaja saya menelepon beliau guna memperbincangkannya. Insya Allah, suatu saat nanti akan saya bawa naskah Pustaka Nasional Jakarta ini kehadapan Bapak Nurdin AR, sehingga semua akan terang-benderang.
Secara umum keadaan naskah 25 halaman bagian awal yang difoto cukup baik. Akan tetapi 7 halaman terakhir kurang terang. Buat menyalinnya saya pernah memakai dua alat pembantu penglihatan, yaitu kaca mata dan memegang kaca pembesar di tangan. Karena mengganggu konsentrasi,maka saya gunakan kaca pembesar saja. Alat yang membantu mata buat melihat ini merupakan hadiah Prof.Dr. Rusydi Ali Muhammad ketika beliau sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry. Kehadiran beliau ke rumah saya pada awal bulan Puasa ini, mengingatkan saya kembali kepada hadiah beliau itu, dan ternyata sangat membantu dalam menuntaskan kerja alih aksara saya.Sebagian besar isi Nazam Le Ragam ini tertulis dalam bahasa Aceh ( 98 %). Sisa yang amat sedikit tertulis dalam bahasa Melayu dan Arab, yaitu yang terkait soal sembahyang yang tidak akan diterima Tuhan dan do’a-do’a. Agar memudahkan bagi pembaca, saya juga menulis judul dan sub judul buat hasil alih aksara, seperti Hikayat Bahsa Jawoe, ‘Iktiqeuet Limong Ploh, Miekreuj Nabi, Makmum Teumanyong Bak Imum dan lain-lain. Dapat ditambahkan, bahwa Kisah Wasiet Nabi Keu Siti Fatimah tidaklah lengkap naskahnya, sehingga kita pun hilang kesempatan mengenal siapa penulisnya. Namun, karena diawal kisah ini tidak sedikit pun kita jumpai pengantarnya, maka saya pun tetap berpendapat bahwa bagian ini juga ditulis oleh pengarang yang sama, yaitu Syekh Muhammad Ibnu Abbas Krueng Kale.
Syukur Alhamdulillah, kerja alih aksara “Kitab Nazam Le Ragam” dapat selesai pada hari ini, Sabtu, 24 Ramadhan 1439 H. Besok, Ahad, 25 Ramadhan 1439 H adalah Hari Ulang Tahun ke 34 hari naas kecelakaan jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Hasil alih aksara ini merupakan “kado” kenangan buat peristiwa hebat itu. Di hari itu, Sabtu, 25 Ramadhan 1405 atau 15 Juni 1985 M , saya dan rombongan KKN Mahasiswa UGM sedang konvoi pulang menuju Kampus UGM, Yogyakarta. Saya, T. Abdullah Sulaiman, Bang Harsono, Kostawa, Joko Supriyanto dan seorang teman lagi ditempatkan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Ketika saya dan rombongan baru melewati Candi Prambanan, wilayah Kalasan, Kabupaten Klaten sekitar pukul 13.00 wib, tertabraklah saya oleh mobil yang mengangkut barang/Tivi. Akibatnya, saya bertahun-tahun harus berobat. Alhamdulillah, dengan kurnia Allah Swt saya masih hidup dengan bahagia bersama keluarga; sambil berkarya semampu anugerah yang diberikan Tuhan. Salah satu rahmat Allah pada hari ini adalah selesainya alih aksara Kitab Nazam karya seorang Ulama Krueng Kale, dan insya Allah besok luho pada Hari HUT ke 34 musibah dipokle muto (sesuai janji lewat sms- saat ini beliau sedang di Jakarta) sebuah salinan Kitab Nazam karya Ulama Krueng Kale akan saya hadiahkan kepada Tgk. Musannif-salah seorang keturunan Ulama Krueng Kale; bertempat di rumah beliau di Gampong Dayah Baro, Krueng Kale, Aceh Besar. Semoga dimasa-masa akan datang rahmat Tuhan semakin melimpah dicucurkan kepada kami sekeluarga oleh Yang Maha Kuasa; Allah Subhanahu Wata’ala, Aminn!.
*Catatan: Salinan huruf Jawi belum selesai karena berbagai hambatan!.

Bale Tambeh, 24 Puwasa 1439 H
24 Ramadhan 1439 H
atau 9 Juni 2018 M.
Pkl. 16.21 wib.

Penyalin Naskah Nazam,
T.A. Sakti

 

Hikayat Bahsa Jawoe – Karangan Ulama Krueng Kale ( I )

KARANGAN ULAMA KRUENG KALE: Syekh Muhammad bin Abbas
Mulai kamoe salen ngon alih aksara Karangan Ulama Krueng Kale nyoe, poh 3 seupot uroe Jum’at, 9 Puwasa 1439 atawa 9 Ramadhan 1439 H bertepatan 25 Mei 2018 M. Bunoe poh 10.50 ngon Bg Ih ulon jak kunjong u rumoh Bapak Ramli A.Dally (Budayawan Aceh) yang meninggal bak Senin, 21 Mei 2018. Semoga beulam ampunan Allah Swt!. Meunan cit, mudah-mudahan buet seumalen nyoe beurijang seuleusoe, Aminn!. Naskah asal Pustaka Nasional Jakarta, kiriman dr. Nabil Berry, Jakarta.Berikut cuplikan hasil alih aksara isi naskah:

Alih Aksara Oleh: T.A.Sakti dan T.Idham Khalid

‘Ajaeb Subhanallah, nyoe lon kisah bahsa Jawoe
Saboh padan ban atoran, lon boeh bangon ban meuduek adoe?
Bangon lagee sang hikayat, sanjak teupat ban ato droe
Teubiet pucok diujong bak,jroh that rampak bungong geutoe

Reumbang laku keunong sanjak, jeuet keugalak ureueng beuet Jawoe
Reumbang bangon keunong canek, beudoh reunek gule rampoe
Tabeue masen meungna reunek, bak nyum-nyum ek tamakeuen troe
Leumak santan mameh manisan, tapeulawan beurang kapeue

Meuseuki tapeh taboeh keunan, jan tamakeuen mameh hansoe
Meunankeu tamse ureueng keumarang, meunghan reumbang mitsoe pakoe
Keunong lagee reumbang padan, beurang kaban pi geupakoe
Bak ureueng ngeut lom ngon dungee, meunggot lagee ji meurunoe

Adat tatem beuta hafai, rijang takeunai Kitab Jawoe
Galak jipham Bahsa Aceh, makna sareh jiboeh keudroe
Meunggot matan gleh ngoh shurah, bukon ceudah aneukku nyoe
Amma bakdu dudoe nibak nyan, kheundak Tuhan bak uroe nyoe

Kulakee tulong ubak Allah, bahlon kisah Bahsa Jawoe
Lon puphon ngon nama Allah, ampon meu’ah deesya lon nyoe
Deesya ulon han teukhimat, sitimang brat langet bumoe
Bermula phon mengambil tatueng, telaga mon siang uroe

Jika beukit nyang juwa cit, bahwa bit-bit kemudian dudoe
Dahulu dilee minta lakee, dapat tateumei seorang sidroe
Tatkala yohnyan nyang itu nyan, yaitu nyang nyan ini nyang nyoe
Hilang gadoh membasuh tasrah, sentuh teupeh tangan jaroe

Lanjut jioh selesai habeh, hantar keubah liher takue
Maka teuma jikalau sangkira, kain ija pakai tangui
Besar raya kecil ubit, sedikit bacut kembali tawoe
Nyang banyak le …. arat picik ubit bak teumpat nyoe

Berdiri tadong berjalan tajak, duduk taduek sendiri sidroe
Tenang teudong hening jeureungeh, suatu saboh beurangkapeue
Lari taplueng berhenti piyoh, percahya pateh beurangkasoe
Lihat kalon kelihatan leumah, batal hansah beurangkapeue

Mengetahui tathee waktu watee, beroleh tateumei beurangkapeue
Hendak nafsu tanggung tame, kenal turi mengapa hanpeue
Masuk tamong keluar teubiet, kerja pubuet geunap uroe
Nyang ada na tiada tan, serta sajan beurangkasoe

Berbetulan teupat hadapan dinab, menjabat tamat beurangkapeue
Kanan unun belakang likot, lutut teuot gaki geutanyoe
Nyang kiri wie ruma bulee, rambut ulee oek geutanyoe
Telinga geuliyueng mulut babah, lisan lidah nyang dahi dhoe

Bawah diyub kepala ulee, tukal palee heran laloe
Datang teuka bangkit beudoh, menyapu sampoeh beurangkapeue
Segala dum sekalian bandum, cincin incien soek dijaroe
Tinggi manyang rendah miyub, nyang hampir rab ngon geutanyoe

Nyang jangan bek mehimpun sapat, makam teumpat duek geutanyoe
Menutup toep tiap2 jeuep2, hubung sambat beurangkapeue
Pagi beungoh petang seupot, nyang gugur srotle u bumoe
Apabila proehai demikian?, buni tasom daging asoe

Nyang sampai troeh lupa tuwo, cucur sibu ie tamanoe
Nyang apa peue berapa padum, nyang sungai krueng dalam nanggroe
Lindung padok sekali siblet, nyang jalan rot tajak keudroe
Nyang sangat that buang taboih, tinggal keubahle disinoe

Nyang baik jroh nyang jatuh rhot, setelah lheueh bak teumpat nyoe
Nyang pada bak kepada ubak, daripada nibak beurangkasoe

……………………
………………………..

Kemiskinan Aceh dan pesan endatu

Kemiskinan Aceh dan pesan endatu
Oleh: T.A. Sakti
Dewasa ini daerah Aceh berlabel sebagai salah satu daerah miskin di Indonesia. Banyak hasil survei menunjukkan demikian. Banyak faktor yang menyebabkan rakyat Aceh menjadi miskin. Salah satunya konflik politik yang berkepanjangan sebelum ditandatangani MOu Helsinki tahun 2005. Akibat konflik, berbagai segi kehidupan masyarakat Aceh menjadi hancur lebur. Selain konflik, sikap hidup dan perilaku kehidupan masyarakat juga amat berperan dalam melahirkan kemiskinan. Pada kesempatan ini, saya akan menyajikan sudut pandang budaya tentang kemiskinan Aceh, yaitu mengenai sikap dan perilaku manusia Aceh sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh – terutama tempo dulu – sejak kanak-kanak sudah mengenal sejumlah ungkapan yang terkait bidang perekonomian. Pernyataan sikap orang Aceh ini berlaku, baik dalam memproduksi materi / barang maupun dalam mengelola harta kekayaan.
Beberapa kata bahasa Aceh yang seutuhnya dirangkai kedalam hadih maja(peribahasa) itu antara lain: jeumot (rajin), beu-o (malas), beu-o siiet(amat malas), kriet (pelit), haloih(sangat hati-hati), himat (hemat), murah(suka memberi), rampuih(boros), heumpah-hampeh(royal). Secara kasat mata, dalam pengamalan perilaku-perilaku tersebut di ataslah yang menjadi modal dasar apakah seseorang atau sebuah keluarga akan menjadi kaya atau miskin dan berkehidupan sederhana. Faktor takdir Tuhan memang sudah terjalin ke dalamnya.
Dalam mengenali latar-belakang seseorang yang menjadi kaya, miskin atau atau bertaraf hidup sederhana, kita dapat melacak dari berbagai perilaku hidup yang dipraktekkan mereka. Seseorang yang sudah kaya misalnya, ternyata ia mengamalkan sikap hidup yang jeumot(rajin) dalam bekerja sehingga banyak menghasilkan uang atau harta. Di samping rajin ia pula memiliki sifat kriet atau haloih dalam hal pengeluaran uang yang telah diperolehnya. Akibatnya, hartanya semakin lama terus bertambah. Bagi yang hidup di kampung, setiap tahun mereka dapat membeli kebun atau sawah. Mereka yang tinggal di kota, perusahaan atau toko-ruko terus bertambah.
Dalam budaya Aceh, orang rajin (jeumot) memang diberi nilai positif. Gelar mereka awak phui tuleueng(orang bertulang ringan). Meunye keubuet jikap(jika bekerja amat gigih). Bak ureueng jeumot, on trieng jeuet keu peng (Bagi orang rajin, daun bambu kering pun bisa jadi uang). Ungkapan lain menyebutkan:”meunye tatem ta usaha, adak han kaya taduek seunang(jika mau berusaha, kalau pun tak kaya hidup senang). Meunyo hana tausaha, pane atra rhot dimanyang(jika tidak diusahakan, tak ada harta jatuh dari atas).
Di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya(Aceh), saya mendengar dari Abu Tabib Wen sebuah madah kehidupan ketika saya setahun berobat patah tulang kaki di sana dalam tahun 80-an(April 1986 s/d April 1987). Bunyinya:”Raseuki ngon tagagah, tuah ngon tamita. Tuah meubagi-bagi, raseuki meujeumba-jeumba! (Rezeki diperoleh dengan kerja keras, nasib mujur harus dicari. Nasib baik terbagi-bagi, rezeki kadar masing-masing menurut usaha).
Endatu (nenek moyang) orang Aceh juga meninggalkan amanat yang mendorong orang agar mecari harta kekayaan. Sebab, orang kaya lebih terhormat, lebih mulia dibandingkan orang miskin. Ureueng kaya mulia bak wareh, ureueng gasien meukuwien lam tapeh (orang kaya dimuliakan oleh saudaranya, orang miskin dibiarkan dalam sabut kelapa atau tak ada yang peduli). Hanya satu cara orang bisa menjadi kaya adalah bersifat rajin berusaha.
Salah satu hadih maja yang paling ekstrim dalam menghargai sifat rajin berbunyi: “Tukok jok tukok-u, nabuet na bu”(pelepah enau pelepah kelapa, baru dapat makan setelah bekerja). Sewaktu saya kecil, pepatah ini pernah dipraktekkan dengan penuh disiplin oleh sebuah keluarga yang sepanjang hidup mereka terus bergiat dalam bidang dagang. Setiap orang yang datang padanya, termasuk tamu anak-anak, wajib kerja terlebih dahulu sebelum mendapat sesuatu(terutama makan). Sewaktu saya dewasa sekarang, ternyata orang-orang yang menerima disiplin “Tukok jok tukok-u, nabuet na bu” dari saudagar tua itu, yaitu bekerja dalam pengawasan beliau ternyata semuanya menjadi orang-orang kaya. Mereka pun tetap menjalani sikap hidup yang penuh disiplin itu sampai sekarang.
Menyimak begitu positifnya penilaian terhadap perilaku rajin dalam budaya Aceh, kini kita bertanya-tanya, apakah yang sudah berubah?. Dewasa ini para pekerja asal Aceh dianggap ‘malas’ dan dipandang sebelah mata. Para pimpinan proyek (pimpro) lebih senang menerima para pekerja asal luar Aceh dibandingkan pekerja lokal. Akibat tindakan demikian pengangguran pun semakin banyak, maka bertambahlah angka kemiskinan di Aceh. Seharusnya hal ini perlu diberdayakan dan dipikirkan kembali oleh para elite Aceh. Toh karakter orang bisa diubah dengan ‘cemeti’ yang manusiawi!.
Bom waktu
Hidup bermalas-malasan juga dicerca dalam budaya Aceh. Bak sibeu-o uteuen luah, bak simalaih raya dawa!(Gara-gara si pemilik kebun malas membersihkan hutan pun semakin luas, kemalasan si pemalas selalu ditutupi dengan banyak alasan). Sebenarnya sifat malas itu selain hidup dalam pribadi seseorang, ia juga bisa berasal dari lingkungan dan kebijakan penguasa. Namun, walau dari mana sifat malas itu berasal, sikap hidup yang buruk itu tetap punya resiko akan memunculkan kemiskinan.
Sekarang, sikap hidup yang dapat mewarisi kemiskinan cukup merajalela di Aceh. Dengan kemajuan teknologi, berbagai alat elektronik yang menjadi bahan bersantai bagi kawula muda Aceh cukup tersedia dimana-mana. Siang-malam dapat kita saksikan anak-anak muda nongkrong berjam-jam di cafe-cafe atau warung kopi di kota-kota. Saat azan maghrib berkumandang pun, para pemuda Aceh masih berjubel di sana. Mushalla mini memang tersedia di cafe, namun yang sadar ibadat amat terbatas. Bagi yang bergadang malam, biasanya pada pagi besoknya mereka tidur pulas tanpa menghiraukan tugas-tugas mereka. Bagi para mahasiswa, tentu mereka tidak masuk kuliah, khususnya dua matakuliah bagian pagi. Kasihan orangtua sang mahasiswa yang tinggal nun jauh di kampung, yang tidak mengetahui kelakuan buruk anak-anak mereka saat kuliah di kota.
Inilah calon-calon generasi Aceh yang bakal menyambung periode kemiskinan Aceh di masa mendatang semakin panjang. Generasi beu-o siiet(amat malas) ini perlu dipangkas segera dengan kebijakan pihak berwenang.”Kaum muda Aceh inilah sebagai bom waktu bagi kehancuran generasi Aceh di masa depan!”, kata Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA Rektor UIN Ar-Raniry dalam sambutan upacara Wisuda, 21 Maret 2016 yang lalu di Aula Gedung A. Hasjmy, Darussalam, Banda Aceh. Saat mendengar ucapan itu, saya sendiri sebagai peserta Wisuda Magister dalam bidang studi Sejarah dan Tamaddun Islam.
Walaupun sifat kriet(pelit) dianggap rendah dalam kehidupan normal masyarakat Aceh, namun sikap hidup inilah yang biasa membawa seseorang atau sesebuah keluarga menjadi kaya. “Kriet culiep pade, soe nyang kriet rijang mate”(pelit ujung padi, siapa yang pelit cepat mati), begitu bunyi nyanyian anak-anak Aceh tempo dulu yang mengejek teman-teman sepermainannya yang pelit. Memang bukan mudah untuk menjadi orang kaya, walau setingkat kaya di kampung sekalipun. Seluruh anggota keluarga, mulai dari suami, isteri dan anak-anak harus bertanggung jawab dan turut menanggung derita secara bersama-sama.
Kesan utama yang paling nampak dalam keluarga ini adalah perilaku mereka yang rajin dalam setiap usaha yang menghasilkan uang dan harta benda. Keluarga ini juga amat rapat saringannya dalam mengeluarkan uang alias hemat. Demi menjadi kaya, ada orangtua yang tega mengurangi porsi makan bagi anak-anaknya, apalagi semisal uang jajan sekolah, tentu nyaris diabaikan. Kasihan dengan nasib anak-anak dari keluarga yang berperilaku pelit seperti ini. Anak-anak mereka menderita dan minder di sekolah, gara-gara orangtua yang kepingin cepat kaya. Sampai saat ini saya masih ingat, orang-orang yang kaya di kampung-kampung dan kecamatan-kecamatan di sekitar tempat saya. Kesemua orang kaya itu tetap dilabel sebagai orang pelit alias kriet lagee ek linot (pelit seperti sarang lebah kecil), atau kriet lagee ek linot lam bak Me(pelit seperti taik lebah kecil pada pohon asam Jawa) alias kriet meu’iet-‘iet(pelit, amat sukar keluar duit).
“Orang halus”
Perilaku yang lebih dekat dengan kriet (pelit) adalah haloih(amat berhati-hati). Sifat rajin juga dimiliki orang ini, namun ia amat hati-hati dalam membelanjakan uang yang telah diperolehnya. Kalau boleh, uang yang telah didapatnya sama sekali jangan keluar lagi dari kantongnya. Namun demikian dia tidak sebakhil (istilah Melayu: kedekut) orang pelit. Orang-orang yang berpermainan halus (haloih meuneu’en) ini juga merupakan calon orang kaya nantinya.
Dalam berkomunikasi lewat HP/telepon seluler di era canggih ini dengan mudah kita menjumpai contoh orang-orang yang berperilaku ‘orang halus’. Ia tetap melakukan ‘miscoll’ HP ketika memanggil teman. Akibatnya, teman dialah yang harus meneleponnya . Padahal isi pembicaraan lewat telepon genggam itu pendek-pendek saja, misalnya:”ooo…kana(ooo… sudah ada!), tapi begitulah perangai si “orang halus”, betul-betul menjengkelkan!.
Bagi orang pelit dan haloih bisa saja tidak mau menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi karena dianggap hanya menghambur-hamburkan duit saja. Setelah anaknya tahu tulis-baca, setamat SLTP(bagi orang pelit) atau SLTA(bagi si haloih) misalnya, maka kegiatan sekolah segera digantikan dengan usaha mencari uang atau mempraktekkan hidup.
Orang yang hidup bersikap himat(hemat) biasanya lebih sejahtera. Dia tetap membiayai pendidikan anak-anak mereka baik ke sekolah atau ke Dayah(pesantren). Mereka sekolahkan anak-anak mereka sampai setinggi-tingginya sesuai keinginan sang anak. Hanya saja, mereka terus menjalani sikap hermat-cermat dalam segenap lini kehidupan. Pepatah Melayu pun menyebutkan:” hemat pangkal kaya”. Biasanya, dalam keluarga inilah akan melahirkan generasi orang-orang berwibawa, sukses dan berjaya.
Orang-orang yang berperilaku murah (mudah memberi) memiliki kekhasan tersendiri. Mereka memang tidak kaya, tetapi dimuliakan dan punya banyak kawan di mana-mana. Pada umumnya, orang ini berusia lanjut, sebagai lawan dari orang pelit yang biasanya berumur singkat seperti disindir dalam nyanyian anak-anak, bahwa soe nyang kriet rijang mate(siapa yang pelit cepat mati). Kehidupan sang pemurah ini, sebenarnya disinari ajaran agama Islam yang mengajak pemeluknya agar berperilaku pemurah, jangan boros dan berlaku ‘pertengahan’(washathan) dalam setiap tindakan kehidupan. Dalam manuskrip Aceh seperti dalam kitab nazam dan tambeh serta hikayat Aceh, cukup banyak mewariskan pesan-pesan positif ini.

Sifat rampuih (boros) dan heumpah-hampeh (royal) adalah dua sikap hidup manusia yang amat merugikan. Boros atau mubazir bisa menyebabkan kekayaan lambat berkembang, sedangkan royal cenderung mengantarkan pelakunya ke jurang kemiskinan. Secara umum kedua perilaku buruk ini berupa sifat yang tidak mencintai harta yang dimiliki serta ‘membuang’ atau menghamburkan harta dengan seenaknya tanpa memikirkan akibat di belakang hari.
Kruuu seumangat!
Tempo dulu, sifat rampuih(boros) amat tercela dalam kehidupan sebuah keluarga dan bagi masyarakat Aceh. Sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan hidup secara prihatin, tidak boros. Kalau makan, dianjurkan Ibu agar nasi jangan bersisa di piring, harus dimakan habis. Bu beule-le, eungkot beucut-cut(nasi yang perlu banyak dimakan, sedangkan ikan yang kecil saja). Soe rayek pajoh eungkot meuglang(siapa banyak makan ikan akan cacingan), kata Mama yang disetujui sang Ayah. Akibat didikan sejak balita, sampai hari tua pun mereka tetap memelihara sikap hidup yang bersahaja. Kalau mencuci piring, dilakukan dengan hati-hati tidak membuat mangkuk- piring krang-kring bergesekan bahkan retak dan pecah. Lauk dan kuah yang lebih tidak dibiarkan sampai basi lalu dibuang, tetapi dipanaskan lagi hingga dapat digunakan pada waktu makan berikutnya . Saat membuang makanan basi, orang-orang tua tempo dulu secara khidmat mengucapkan:” kruu seumangaaat!!(kembalilah hai semangat), seolah mohon maaf kepada makanan basi yang dibuangnya. Di era sekarang, sifat berhemat seperti demikian sudah dimakan erosi zaman. Hidup secara rampuih (boros) sudah menjadi-jadi dan merajalela, akibat iklan dan tontonan di televisi yang tidak mencerahkan kehidupan. Sebenarnya, sekiranya ada kemauan; pihak penguasa dapat menapis dan menyaring perkembangan perilaku boros ini!.
Sifeut heumpah-hampeh (sifat royal) termasuk perangai paling buruk dalam hal pengelolaan harta kekayaan. Bagi seorang pedagang pemula, bila dia bersikap hidup royal tentu cepat puas dalam usahanya. Dengan segera ia kurang mampu memisahkan antara modal dengan keuntungan yang diperoleh. Akibatnya ia cepat berlagak sebagai ‘toke besar’ yang berhasil dalam penampilannya. Karenanya, ia berangsur bangkrut gara-gara sebagian modal sudah dipakai buat ‘membeli penampilan’ itu.
Heumpah-hampeh juga sering dilakukan oleh anak-anak yang menerima warisan dari orangtuanya. Dia menjadi kalang-kabut dan kebingungan dalam mengelola kekayaan warisan. Segala penat-lelah atau cucuran keringat dari orangtuanya ketika mengumpulkan harta itu segera terlupakan. Akibatnya, satu demi satu harta warisan dijualnya untuk memuaskan nafsu kemewahan hidupnya. Hal demikian semakin diperburuk, jika pendamping (istri atau suami) dan teman-teman sekelilingnya memang ikut mengincar kekayaan tersebut. Akhirnya, ia pun jatuh miskin. Itulah sebabnya, kekayaan seseorang jarang dapat diwariskan secara turun-temurun.
Dalam mengakhiri artikel ini, saya menghimbau Pemerintah Aceh agar terus bersungguh-sungguh membela petani di kampung-kampung seluruh Aceh. Mayoritas warga Aceh adalah petani, berarti rakyat Aceh yang miskin sekarang sebagian besar juga petani. Kehidupan petani amat terjepit sepanjang masa. Mereka tidak pernah lepas dari jerat “gali lobang tutup lobang”. Bila semua petani Aceh sudah makmur, maka barulah kemiskinan di Aceh sirna. Semoga para pemimpin Aceh yang dihasilkan Pilkada Serentak 2017, semuanya memiliki sifat keberpihakan kepada rakyat Aceh yang masih miskin, insya Allah!.