Sempena Menyambut Reuni Alumni Jurusan Sejarah FIB UGM di UGM Yogyakarta Hari Ini, Sabtu, 18 Maret 2017: Menulis di Koran ’Gampang Sulit’ Perlu Jalin Hubungan dengan Redaktur ?

Menulis di Koran ’Gampang Sulit’
Perlu Jalin Hubungan dengan Redaktur ?

Yang harus anda perhatikan apakah anda mengirim naskah untuk dimuat di koran? Demikian pertanyaan yang kerap diajukan orang, khususnya bagi mereka yang masih pemula. Yang sekali nulis, berkali-kali nulis tetap nol, alias blong tidak dimuat.
Memang tanpaknya mudah berkarya tulis, dibaca ulang., bangga, masukan amplop, beri perangko dan sekedar surat pengantar lalu dikirim ke meja redaksi. Tiap waktu terbit koran itu tentu dijenguknya. Baru saja seminggu sudah dijenguk dan diamati : apa sudah dimuat?
Inilah anggapan para pemula yang berangan-angan bahwa begitu kirim begitu dimuat. Seolah-olah gampang, tetapi tidak segampang anggapan itu, perlu ada syarat-syarat yang harus diperhatikan dan diamati sedini mungkin.
Jangan anggap mereka yang telah berhasil itu tidak dengan perjuangan yang gigih.
Dalam hal ini saya memberanikan diri memberikan sekedar ancer-ancer langkah apa yang perlu diperhatikan bila anda akan memulai mengirimkan suatu tulisan ke suatu media pers.
Benarkah anda ada minat atau ada rasa yang betul-betul akan menjadi penulis? Menjadi wartawan? Sebab bila anda hanya ikut-ikutan saja, bisa patah semangat di tengah jalan.
Sebelum anda mengirim naskah harus diteliti lebih dahulu, bagaimana dan ciri khas surat kabar itu. Pengamatan tidak sekedar satu dua kali, bisa berkali-kali. Bagaimana nafas koran itu. Kemudian anda harus bisa menyesuaikan dengan sikap dan misi koran. Baik bahasa, lagak lagu dan thema apa yang dimaui. Bila benar-benar sudah tau ………. Cobalah kirim, bisa berkali-kali. Dan jangan anda harap segera muncul …… sabar saja.
Jalin Hubungan :
Selain itu menjalin hubungan dengan redaktur memang perlu untuk memperlicin jalan pemuatan. Sebab dengan kenal salah satu staf redaksi misalnya, naskah anda lebih banyak peluang pemuatan. Kemungkinan ada satu langkah lebih diperlonggar syaratnya. Sedikit mendapat prioritaslah.
Tetapi kesempatan baik ini jangan anda sia-siakan bisa mati kutu. Sebab anda sudah mengandalkan sudah kenal, lalu cara anda menulis naskah tidak memenuhi syarat, tentu saja masuk kotak sampah.
Pengenalan lain, tidak kenal orangnya, tetapi kenal tulisannya. Apa itu?
Dengan rajin anda mengirim naskah. Sesuai dengan orientasi mas media itu. Nah pengiriman yang rajin dan sesuai misi koran tertu sudah merupakan jalinan hubungan yang baik. Kepercayaan redaksi itu jangan anda abaikan. Setelah dipercaya tetapi anda mengirim naskah yang sama dikirim ke yang lain media, hal ini bisa menutup jalan buat anda. Bisa black list?
Pengenalan dan jalinan hubungan memang perlu bagi mereka yang ingin terjun ke dalam bidang tulis-menulis di surat kabar. Tetapi jangan membanggakan diri. Sebab keburu bangga merupakan awal kejatuhan. Baik buruk suatu naskah, orang lainlah yang menilai. Bukan diri sendiri.

Cara Menulis :
Cara menulis suatu juga punya syarat tertentu, agar bisa menarik redaksi untuk memeriksanya. Memperhatikan format, spasi dan kertas, bersama polio dan cara penyusunan. Buatlah secara baik, spasi dobel (dua spasi) beri tepi kanan yang longgar, tepi kiri juga ( 4 cm dan 2 cm), tidak bertele-tele.
Dengan teratur baik, diketik rapi, susunan bahasa betul, nah hal ini sudah membikin redaksi terpikat.
Juga bila anda mengutip dari bahan lain, sebutkan sumber bahan itu jelas dan anda akan mendapatkan penilaian yang positif. Jika anda menciplak tanpa menyebutkan sumbernya, bisa mati kutu. Jalan yang sudah anda bina itu bisa tertutup untuk selama-lamanya. Cuma gara-gara sekali ketahuan menjiplak.
Selanjutnya jangan mementingkn materi dahulu! Sering pemula itu belum-belum sudah bertanya: berapa honornya Om Daktur bila naskah saya dimuat? Nah ini harus dihindari betul. Yang penting anda itu mendapatkan perhatian. ( Warjiyanto Panca Wasana).

(Sumber: Minggu Pagi No.2 Tgl 15 April 1984 tahun ke 37, hal : 3. Harian ‘Kedaulatan Rakyat’ Yogyakarta adalah induk dari “Minggu Pagi” yang khusus terbit pada hari Minggu).

Sempena Menyambut Reuni Alumni Jurusan Sejarah FIB UGM di Yogyakarta Hari Ini, Sabtu, 18 Maret 2017: Terjadi Eksploitasi Pengetahuan Tradisional

Terjadi Eksploitasi
Pengetahuan Tradisional
JAKARTA¬¬¬¬¬¬——’’Apa yang dicari oleh orang rambut merah dan badan besar tinggi, datang kepada kami. Bertanya ini itu lalu mengambil contoh-contoh banyak tanaman dari kebun dan hutan kami. Mau dibawa kemana semua itu?”
Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang ibu yang berasal dari Suku Dayak Pasir kepada Koesnadi Wirasa Poetra, aktivis lingkungan hidup dan juga sukarelawan pada Yayasan Padi Indonesia di Kalimantan Timur. Pertanyaan yang sama sangat mungkin juga terjadi di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Koesnadi yang aktif melakukan riset parsisipatoris, monitoring dan uji coba sumber daya genetika tanaman lokal bersama petani Kaltim ini, sering kali menemui kasus-kasus yang membuat masyarakat adat bertanya-tanya. Begitu banyak orang asing – dari dalam dan luar negeri – yang datang ke tanah adat mereka, menginventarisir, meneliti, dan membawa sampel-sampel tanaman adat mereka.
Lalu apa yang didapatkan masyarakat adat setelah tanah mereka didatangi dan tanaman mereka diambil? Setelah ’’orang asing” itu membawa ilmu – ilmu mereka yang telah turun – temurun sejak ribuan bahkan ratusan tahun lalu? Pernahkah mereka mendapatkan hak mereka terhadap akses sumber daya dari pengetahuan yang secara sah diakui? Bagaimana dengan hak intelektual mereka sebagai masyarakat adat?
Masalah tersebut menjadi salah satu topik menarik yang dibicarakan dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara 1999 yang diselenggarakan 15-22 Maret di Jakarta. Kongres yang pertama kali diadakan ini tidak hanya menggunakan hak intelektual masyarakat adat, tapi juga membicarakan berbagai masalah yang berkaitan dengan masyarakat adat.
Masalah itu dapat dilihat dari satu kasus perjalanan Muller (ahli medis asal Belanda tahun 1894 dari Kalbar ke Kaltim) yang dikenang melalui konverensi Borneo Research Council (BRC). ’’Dimana reuni para peneliti dalam dan luar negeri yang pernah meneliti di Borneo, berkumpul dan mempresentasikan hasil-hasil penelitiannnya kepada anggota partisipan lalu rekomendasi dikeluarkan,” ungkap Koesnadi.
Tapi lagi-lagi nasib masyarakat asli tidak memiliki akses sumber daya dan pengetahuan yang secara sah diakui. Demikian juga saat tim industry obat Prancis melakukan ekplorasi obat di Suku Dayak Benuaq pedalaman Sungai Mahakam tahun 1994 setelah di BRC di Pontianak. Suku Dayak Benuaq dikenal dengan ramuan obat kanker yang dikenal turun – temurun.
Menurut Koesnadi sekitar tahun 1992 sampai 1997 banyak penelitian dilakukan di Kaltim. ’’Tapi tidak banyak yang mengembalikan sumber daya informasi hasil – hasil penelitian tersebut kepada masyarakat asli sebagai pemilik pengetahuan oleh lembaga penelitian atau oleh perguruan tinggi,” jelasnya.
Menanggapi hal itu Dr Latifah Kadarusman Lektor Kepala pada Jurusan Kimia FMIPA – IPB dan Biofarma IPB, menyatakan masalah tersebut dilihat secara global. ‘’ Kalau dilihat dari segi ilmiah tentu dibangun dengan aturan-aturan ilmiah,’’ katanya.

Namun di sisi lain, lanjutnya, ada perasaan nasionalisme dalam arti memiliki. ‘’ Tapi mereka yang akan bergerak dalam bioprospeksi harus mengerti ini. Ini yang mungkin belum ada pada peneliti yang bukan dari Indonesia. Karena bagi mereka yang dilihat adalah aturan yang ada,’’ jelasnya.
Kelemahan kita memang dari segi UU dan peraturan yang sampai saat ini belum bisa melindungi hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan mereka. ‘’ Contoh kecil, jika kita ingin mendapatkan hak paten untuk produksi pelancar ASI dari daun katuk kita akan susah mendapatkannya. Karena apa yang ada di masyarakat adat seperti daun katuk ini dianggap sebagai pengetahuan umum,’’ tandasnya.
Masalah lainnya belum ada sinkronisasi antara pengetahun tradisional dan pengetahuan lanjutan dalam bioprospektif. ‘’ kita belum punya linkage, bagaimana penemuan tradisional ini kita hubungkan dengan pengetahuan berikutnya. Seolah-olah, ada yang datang lalu pengetahuan masyarakat adat ini diberikan begitu saja,’’ katanya.
Peneliti, lanjutnya, memang sering disalahkan atas penelitian biosprepektif ini. ’’ peneliti sendiri dibangun ada aturan. Sampai saat ini kita belum tahu, belum jelas aturannya. Jika kita ingin mensinkronkan, kita harus bicarakan bersama misalnya bagaimana aturan di negara lain. Lalu jika kita ingin melindungi masyarakat, dalam bentuk apa?’’ tanyanya.
Menurut Latifah, Filipina bisa dijadikan contoh, di Filipina sudah dibuat semacam Keppres yang betul-betul terpadu antara peneliti, LSM dan masyarakat adat. Yang menjadi pendorong lahirnya Keppres itu justru peneliti alam,’’ tandasnya.
Karena itu, tegasnya, jika kita belum siap dengan aturan yang benar-benar jelas maka akan sulit melindungi hak intelektual masyarakat adat. *mag
(Sumber: Republika, Sabtu, 16-3-1999. Hal 5).

MANUSKRIP ARAB MELAYU ( Perkembangan dan Pelestariannya di Aceh )

MANUSKRIP ARAB MELAYU
( Perkembangan dan Pelestariannya di Aceh )

Oleh: Teuku Abdullah *)

ABSTRAK

Seiring dengan masuknya agama Islam ke Aceh dan Nusantara, masyarakat di wilayah ini mulai mengenali huruf Arab. Lama kelamaan dengan penyesuaian seperlunya huruf Arab itu dapat digunakan buat menulis bahasa Melayu, sehingga aksara itu disebut huruf Arab Melayu. Melalui tulisan Arab Melayu inilah selama berabad-abad para pengarang di Aceh dan Asia Tenggara telah menghasilkan beribu-ribu karya tulis mereka yang sekarang dinamakan Manuskrip Arab Melayu. Akibat masuknya huruf Latin yang diperkenalkan kolonial Barat, maka popularitas huruf Arab Melayu dari waktu ke waktu semakin surut. Ujung dari desakan huruf Latin itu berakibat mayoritas masyarakat Aceh dan Nusantara dewasa ini; nyaris tidak dapat lagi membaca naskah dalam huruf Arab Melayu. Dalam usaha menyelamatkan warisan peradaban nasional itu, kini amat diharapkan munculnya upaya-upaya pelestarian manuskrip-manuskrip itu, seperti melakukan transliterasi ke huruf Latin, penterjemahan ke bahasa nasional Indonesia serta menerbitkannya; guna diedarkan kembali bagi bacaan masyarakat luas. Upaya pelestarian inilah yang sedang penulis lakukan secara kecil-kecilan sejak tahun 1992 hingga sekarang ini.

Pendahuluan
Sejak kedatangan agama Islam di Aceh, terjadilah islamisasi dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, huruf Arab ini diberi nama huruf Arab Melayu (huruf Jawi, bahasa Aceh: harah jawoe). Penulisannya menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Aceh dengan tulisan tangan; khusus bagi bahasa Aceh amat langka dijumpai yang sudah tercetak (AD Pirous, 2006: 255).
Sisi lain pengaruh islamisasi terhadap sastra Aceh adalah melahirkan sastra agama atau ‘hikayat agama’, baik yang berbentuk nadham maupun tambeh. Sementara terhadap hikayat dilakukan berbagai penyisipan sehingga tidak lagi bertentangan dengan ‘aqidah Islam. Sebagai sumber informasi seluk-beluk agama Islam, pada masa lampau sastra agama dipelajari masyarakat Aceh baik melalui lembaga-lembaga pendidikan masa itu seperti di meunasah, mesjid, dayah dan rangkang ataupun secara pribadi. Hasil dari mempelajari itu, sebagian orang kadang-kadang bisa menghafal sebagian besar isi naskahnya. Kandungan isi sastra agama adalah berbagai ajaran agama Islam seperti hukum, akhlak, tasawuf, filsafat dan sebagainya. Begitu pula dengan hikayat, isinya banyak mengandung nasihat, petuah, dan sebagainya (LK. Ara, 1995: 504).

A. Asal Mula Huruf Arab Melayu
Berdasarkan berbagai penyelidikan yang telah dilakukan para sarjana, penulis menjadi yakin bahwa huruf Arab Melayu yang berkembang di Nusantara/Asia Tenggara berasal dari Aceh. Daerah Aceh merupakan daerah pertama masuk dan berkembangnya Agama Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Hampir semua sejarawan Barat dan Timur berkesimpulan demikian. Bersamaan masuknya Islam ke Aceh, maka masuk pula bacaan huruf Arab ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, antara lain melalui kitab suci Al-Qur’anul Karim. Bersumber huruf Arab Melayu itu, lambat laun berkembanglah penulisan Arab Melayu tersebut. (Mohd. Syukri Yeoh, 2011: 5).
Sejauh bukti yang tersedia hingga hari ini, penulis pertama alias pencipta huruf Arab Melayu adalah Abu Ishak Al Makarany yang mengarang kitab Idhharul Haq fi Mamlakatil Perlak wal Pasy, yakni tentang sejarah Kerajaan Peureulak dan Pasai. Kitab ini ditulis dalam huruf Arab Melayu. Semua kitab lain yang tertulis dalam huruf Arab Melayu diyakini ditulis setelah penulisan kitab Idhharul Haq itu (Serambi Indonesia, 4 April 1994).
Sejarah mencatat, bahwa di Aceh telah berkembang beberapa kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Peureulak, Kerajaan Pasai, Kerajaan Benua, Kerajaan Linge, Kerajaan Pidie, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Daya dan terakhir kerajaan Aceh Darussalam. Di Kerajaan-kerajaan itu, banyak melahirkan para Ulama yang sebagiannya berbakat mengarang. Melalui tangan-tangan terampil inilah telah ditulis beratus-ratus buah kitab dan karangan dalam bahasa Melayu, Arab dan bahasa Aceh. Tulisan yang digunakan adalah tulisan Arab dan tulisan Jawi (Arab Melayu). Dalam hal ini kita dapat menyimak halaman terakhir kitab Fat al-Mubin ala `i-Mulhidin karya Nuruddin Ar-Raniry yang menyatakan bahwa kitab ini dikarang untuk dikirim kepada: ……… segala saudaraku yang ada di Pulau Aceh, dan yang di Negeri Kedah, dan yang di Pulau Banten, dan yang di Negeri Patani, dan yang di Pulau Mengkasar, dan yang di Negeri Johor, dan yang di Negeri Pahang, dan yang di Negeri Senggora, dan pada segala Negeri di bawah angin”(Teuku Iskandar, 1996: 408). Dengan beredarnya kitab Nuruddin Ar-Raniry tersebut di atas, maka berkembang pula penulisan Arab Melayu (huruf Jawi) ke negeri-negeri yang bersangkutan.
Dalam Kerajaan Aceh Darussalam penulisan Arab Melayu juga berkembang pesat. Dalam hal ini UU Hamidy menjelaskan:
“Bahasa Melayu Aceh berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu. Tak diragukan lagi ulama Aceh-lah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Dari sinilah agaknya tulisan Arab Melayu kemudian menjadi tradisi pula dalam penulisan hikayat di Aceh. Sebab itu tulisan Arab Melayu mungkin juga telah ditaja pada awalnya oleh para ulama di Aceh. Karena tulisan ini juga mempunyai beberpa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua. Dalam bidang ini patut dilakukan penelitian yang memadai, sehingga peranan bahasa Melayu Aceh akan semakin kentara lagi di belantara perkembangan bahasa Melayu” (Serambi Indonesia, 8 Juli 2007).

Memang tidak berlebihan bila penulis berpendapat, bahwa huruf Arab Melayu di tulis pertama kali di Aceh. Sampai sejauh ini, tulisan Jawi tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat sultan Aceh kepada raja Inggris. Tentang hal ini, DR. Muhammad Yusof Hashim menyebut :
“Kalau kita mengatakan bahawa naskah Melayu terawal yang pernah ditemui di awal abad ke-17, iaitu warkah daripada Sultan Aceh kepada Raja England, besar kemungkinan naskah warkah itu hanyalah naskah salinan. Adalah mengkagumkan juga sebuah naskah di atas kertas seperti itu boleh wujud hampir empat abad lamanya, sekiranya ia betul-betul naskah yang asli”(Muhammad Yusof Hashim, 1985: 70).

Abad ke 16-17 merupakan puncak kebesaran bagi kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, selain sempat diperintah beberapa Sultan terkemuka, Aceh juga telah dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini amat banyak karangan mereka, baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Arab. Kitab-kitab tulisan keempat ulama ini tidak hanya beredar di Aceh, tetapi meluas ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya.
Ditinjau dari segi perkembangan penulisan Arab Melayu dan pertumbuhan bahasa Melayu; keempat ulama Aceh inilah serta beberapa ulama Aceh lainnya; betul-betul telah berjasa dalam menyebarkan “kebudayaan” Melayu tersebut. Sewaktu sumpah pemuda 1928, bahasa Melayu telah diakui sebagai Bahasa Nasional Indonesia. Karena itu tidaklah berlebihan bila kita mengatakan, bahwa orang Aceh ikut membidani lahirnya bahasa Indonesia, yakni melalui ratusan karya tulis para pujangga-ulama yang mengarang dalam bahasa Melayu dengan menggunakan tulisan huruf Arab Melayu. Para penulis asal Aceh, sebenarnya tidak perlu malu-malu mengungkapkan “Jasa Aceh dalam Pembinaan Bahasa Indonesia”, karena Aceh memiliki banyak bukti yang dapat ditampilkan serta dapat dipertanggung jawabkan.
Tulisan Arab Melayu terus berkembang selama berabad-abad. Kehidupan masyarakat di seluruh Nusantara sudah menyatu dengan huruf Arab Melayu. Seseorang yang mampu membaca dalam huruf Jawi dianggap sebagai “orang terpandang” dalam masyarakat. Apalagi kalau ia mampu pula menulis, tentu derajat orang yang bersangkutan semakin tinggi lagi. Oleh karena itu, masyarakat di Aceh dan daerah-daerah lain berlomba-lomba mempelajari cara penulisan Arab Melayu, karena dengan pengetahuan itu akan meningkatkan status mereka dalam masyarakat.

B. Dunia Melayu Raya
Menurut UU Hamidy dalam tulisannya “Aceh sebagai pusat bahasa Melayu” menyatakan :
“Kesungguhan memelihara bahasa Melayu, sehingga seluruh kitab-kitab yang dikarang ulama Aceh yang berisi kajian agama Islam dan ilmu pengetahuan telah ditulis dalam bahasa Melayu. Sebab, dengan bahasa itu kitab-kitab ini dengan mudah dipelajari oleh khalayak antar bangsa di Asia Tenggara. Misalnya, Syair Perahu karangan Hamzah Fansuri yang berisi pandangan tasauf telah dikarang dalam bahasa Melayu. Sandingannya, karya Nuruddin Ar-Raniry, Asrar al Insan fi Ma`rifah wa Rahman, juga memakai bahasa Melayu. Hikayat raja Aceh juga memakai bahasa Melayu, tentulah atas pertimbangan agar pembaca mancanegara mengetahui kebesaran raja-raja Aceh. Sementara sandingannya Tajussalatin (mahkota raja) karangan Buchari al Jauhari juga ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab ini berisi pandangan ilmu Islam, bagaimana semestinya perangai seorang raja memegang teraju pemerintahan” (Serambi Indonesia, 8 Juli 2007).

Istilah Melayu mengandung makna yang luas, baik dari segi bahasa maupun mengenai suku-suku bangsa yang berdiam di Asia Tenggara yang, biasa disebut Dunia Melayu Raya. Dalam hal ini Dr. Muhammad Yusuf Hasyim mengatakan: Apa dan siapakah yang dikatakan Melayu? Untuk merujuk kepada bahasa, yaitu Bahasa Melayu (Bahasa Kebangsaan di Malaysia dan Bahasa Melayu di Indonesia), saja tidak mencukupi bagi mencari penentuan konsep Melayu itu. Sekiranya kita merujuk kepada faktor ethnicity dan ilmu alam pula, Melayu meliputi suatu “alam” yang amat luas, memasuki kawasan-kawasan daripada selatan Thailand, mencakupi Malaysia pada hari ini, melingkungi seluruh Nusantara/Indonesia sekarang, melingkupi Darussalam hinggalah menjangkau kepulauan dan gugusan Filipina. Sekirannya kriteria ini yang kita terima, maka istilah Melayu sebagai suatu ras dalam ilmuan antropologi merangkumi pelbagai suku etnik seperti Aceh, Bugis, Batak, Patani, Minang, Lampong, Bauyan, Banjar, Mandahiling, Mengkasar, dan lain-lain, menjadikan Melayu Aceh, Melayu Bugis, Melayu Batak, Melayu Patani, Melayu Minang, Melayu Lampong, Melayu Banjar dan seterusnya. (Muhammad Yusof Hashim, 1985: 71).
Tentang perkembangan naskah-naskah Arab Melayu tulisan tangan yang merupakan warisan zaman lampau Profesor Dr. Ismail Husein menjelaskan :
“Bahasa Melayu kini menjadi bahasa utama di nusantara, malah dapat dikatakan bahasa peribumi moden yang utama di Asia Tenggara, yaitu dari segi jumlah penggunanya, dan juga dari segi keragaman kandungan kebudayaannya. Tetapi kedudukan dan sifat bahasa Melayu seperti itu tidak banyak berbeda dengan zaman lampau. Kini kita warisi sekitar 8,000 buah naskah-naskah tulisan tangan dalam bahasa Melayu dari zaman pracetakan. Ini adalah jumlah warisan naskah yang kedua terbesar di nusantara, selepas yang di dalam bahasa Jawa. Semua naskah-naskah Melayu lama yang kita warisi itu adalah di dalam tulisan Jawi, di dalam huruf Arab, yakni dicipta dan disalin dalam zaman Islam. Tetapi tak kurang pentingnya hampir semua naskah yang ada itu nampaknya dicipta semula ataupun disalin semula selepas abad yang ke-15, yakni selepas kejatuhan Malaka, yakni di dalam zaman penjajahan”(Ismail Husein, 1985: 4).

Perlu juga dicatat, bahwa di Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda sampai kini masih tersimpan 265 naskah Aceh yang terawat dengan baik(Serambi Indonesia, 28 Oktober 1993).
Memang sebelum abad ke 18 istilah bahasa Melayu “belum dikenal. Pada abad ke 16 dan 17 penyebutan bahasa Melayu adalah dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”, karena bahasa itu ditulis dalam huruf Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan dengan ucapan-lidah masyarakat Nusantara. Sementara “Jawi” ialah sebutan orang-orang Arab dimasa itu untuk negeri-negeri di wilayah Nusantara/Asia Tenggara (Syed Muhammad Naguib al-Attas, 1990: 64).

C. Upaya Penghancuran Oleh Bangsa Barat
Pada abad ke-17 bangsa Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Dari waktu ke waktu sampai ke abad ke-20, mereka semakin merata berada di berbagai negeri di Nusantara. Akhirnya semua Negeri secara umum berkebudayaan Melayu telah menjadi jajahan dari bangsa Barat. Kesemua bangsa penjajah itu, yaitu Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat adalah bangsa-bangsa yang tidak memakai huruf Arab (Arab Melayu) dalam penulisannya. Mereka memiliki huruf sendiri yang berasal dari peradaban Yunani-Romawi, yaitu huruf Latin.
Sejak itu, peranan huruf Arab Melayu secara berangsur-angsur terus berkurang dalam kehidupan orang-orang pribumi. Sebab, para penjajah memaksakan huruf Latin kepada rakyat di Nusantara ini melalui lembaga-lembaga pendidikan yang dibangun mereka. (Syed Muhammad Naguib al-Attas, 1990: 18).
Khusus di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), penggusuran secara besar-besaran huruf Arab Melayu baru terjadi secara resmi pada tahun 1901. Ketika itu, pada tanggal 1 Januari 1901, Raja Belanda Ratu Welhelmina mengeluarkan Dekrit tentang Politik Etis dalam sistem penjajahan di Hindia Belanda. Politik “balas budi” itu antara lain memberikan pendidikan modern ala Barat kepada anak negeri jajahan Belanda. Karena itu, dibangunlah beribu-ribu tempat pendidikan umum di seluruh Hindia Belanda dengan memakai huruf Latin dalam penulisannya (Sartono Kartodirdjo, 1975: 14).
Hal ini secara langsung telah menjatuhkan martabat huruf Arab Melayu dalam pandangan sebagian pribumi. Tinggallah Dunia Pesantren, Surau dan Pondok (Dayah di Aceh) sebagai benteng terakhir, sehingga penulisan Arab Melayu masih kekal lestari hingga saat ini. Sebagai bukti, perpustakaan Dayah Tanoh Abee Seulimum, Aceh besar, masih memiliki beribu-ribu naskah kitab lama (Perpustakaan Tanoh Abee, Buku I, 1980).
Kemunduran bagi penulisan Arab Melayu di Aceh lebih kemudian. Ketika Belanda sedang menggayang huruf Arab Melayu secara gencar di daerah-daerah lain- lewat pendidikan ala Barat, malah di Aceh (thn 1901), Belanda sedang bertempur habis-habisan melawan rakyat Aceh, yang telah di tempa dengan baris-baris tulisan Arab Melayu, yakni Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil). Akhirnya para ilmuan Belanda yang dipelopori Snouck Hurgronje berusaha mempelajari karya-karya berhuruf Arab Melayu milik orang Aceh guna mengetahui jalan “lurus” mengalahkan perlawanan orang Aceh sendiri (Snouck Hurgronje, 1985). Tidak kurang 600 naskah Jawi/Jawoe (Arab Melayu) telah dialihkan ke huruf Latin saat itu. (Tempo, 23-39 Juli 2006: 70).
Tentang strategi perang akal budi” yang ditempuh Belanda ini, Prof. Madya. DR. Muhammad Yusof Hashim dari jabatan Sejarah Universiti Malaya menulis : Bayangkan saja bagaimana Malaicus Snouck Hurgronje mengguna dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya naskah-naskah Melayu yang ada di Aceh pada penghujung abad ke-19 bagi meneliti “hati budi dan nurani” penduduk-penduduk Aceh sehingga Aceh berjaya ditakluki oleh Belanda setelah bertungkus-lumus dan berhempas pulas kuasa penjajah ini gagal menawan dan menjajah Aceh melalui saluran diplomatik, perang urat saraf dan paksaan senjata” (Muhammad Yusof Hashim, 1985: 77).
Sebuah pengumuman/maklumat Residen Aceh di tahun 1948 secara tak langsung juga ikut menggusur huruf Arab Melayu. Isi pengumuman tentang syarat-syarat pemilihan anggota Dewan Kota/DPR Kutaraja saat itu, antara lain berbunyi : Yang berhak dipilih untuk menjadi anggota Dewan Kota adalah bangsa Indonesia, berumur 25 tahun ke atas, tahu membaca dan menulis haruf Latin, tidak dalam tahanan preventif atau dalam menjalani hukuman, dalam keadaan berpikir sehat, dan sekurang-kurangnya 1 tahun terus-menerus telah menjadi penduduk Haminte Banda Aceh (T.A. Talsya, 1990: 238).
Dalam era Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap penulisan Arab Melayu mulai Tumbuh, namun tidak berumur panjang. Di saat itu, pelajaran membaca dan menulis huruf Arab Melayu telah diajarkan di sekolah-sekolah pada tingkat sekolah dasar. Tetapi sekitar tahun 60-an pelajaran tersebut dihapuskan, yang kemungkinan besar akibat desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang merajarela ketika itu. Sebatas penulis ketahui, khusus di Aceh sejak beberapa tahun yang lalu juga diajarkan kembali tulisan Arab Melayu dengan nama Tulisan Arab Indonesia (TAI). Namun, pembelajaran ini masih perlu ditingkatkan terutama dalam bidang pengadaan buku bacaan/pedoman penulisan Arab Melayu dan memberikan pendidikan khusus bagi para guru tentang bahan pengajaran tersebut.
Perkembangan terakhir dari penulisan Arab Melayu di Aceh adalah keluarnya Instruksi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanggal 1 Muharram 1423 atau 16 Maret 2002, yang menggalakkan kembali penggunaan huruf Arab Jawi di Bumi Aceh Serambi Mekkah. Sejauh pengamatan penulis, sebagian dari isi instruksi itu memang telah berjalan, khususnya penulisan nama kantor/lembaga/toko dengan menggunakan huruf Arab Melayu disamping huruf Latin. Akan tetapi penulisan Arab Melayu pada lembaga-lembaga tersebut belum memadai, karena masih ada kaidah-kaidah penulisan Arab Melayu yang diabaikan (Mohd. Kalam Daud, 2003: 5).

D. Manuskrip Kita Tetap Aktual
Sebagian besar masyarakat kita dewasa ini beranggapan bahwa naskah-naskah lama itu tidak lebih berupa sampah yang tidak berguna lagi. Namun sesungguhnya, jika diteliti dengan sungguh-sungguh ternyata di dalam lembaran-lembaran kertas yang dianggap “sampah” tersebut ternyata masih terkandung mutiara-mutiara budaya yang tetap berguna dalam kehidupan era sekarang. Dengan kata lain manuskrip-manuskrip itu masih tetap aktual dalam kehidupan kita di hari ini.
Salah satu contohnya adalah manuskrip kitab Tajussalatin. Salah satu warisan pemikiran bangsa yang berkaitan dengan ‘mental pemimpin’ adalah kitab Tajussalatin, yang berarti “Mahkota raja-raja”. Bagi zaman sekarang, raja sama artinya dengan pemimpin atau seorang ketua/kepala dalam berbagai bidang kehidupan. Tajussalatin merupakan kitab/buku tuntunan bagi para Sultan Aceh yang dikarang dalam bahasa Melayu oleh Bukhari Al-Jauhari tahun 1012 H/1603 M.
Pada abad ke-18 Tajussalatin diterjemahkan ke bahasa Jawa atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono V. Kini, kitab yang tebalnya 205 halaman itu masih tersimpan di Museum Sonobudoyo, Pustaka Kraton Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat, 4 Mei 1988).
Selanjutnya, tahun 1827 Tajussalatin diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh Roorda van Eijisinga dan ke bahasa Perancis tahun 1878 oleh A. Marre. Mahkota Raja-raja (Tajussalatin) yang dalam arti tertentu dapat disamakan dengan karya Prince (Raja) karangan Macchiavelli; juga dipedomani oleh Sultan Singapura pada abad ke-19, sedangkan pujangga Abdullah bin Abdulkadir Munsyi memakai kitab Tajussalatin ini untuk mengamati karakter tuannya, orang Inggeris yakni Sir Stafford Raffles sang pendiri kota Singapura (AD Pirous, 2006: 216).
Kemudian, atas anjuran Uleebalang Landschap Keumangan, Pidie, tahun 1937; Tajussalatin yang ditulis dalam bentuk prosa berbahasa Melayu ini, diterjemahkan ke bahasa Aceh dalam bentuk syair hikayat Aceh (Teuku Iskandar, 1996: 379). Selain itu, tahun 1966 Tajussalatin telah dikaji pula oleh Khalid Hussein, yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 1994 kitab Tajussalatin telah direproduksi kembali oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (Serambi Indonesia, 9 Oktober 1994). Sementara setahun sebelumnya, yaitu 22 Syawal 1413/15 April 1993; penulis telah menyelesaikan alih huruf (transliterasi) naskah Tajussalatin bahasa Aceh dari huruf Arab Melayu-Jawoe ke dalam huruf Latin.
Melihat banyaknya terjemahan dan pengkajian serta luasnya penyebaran kitab Tajussalatin di nusantara ini, bisa dijadikan betapa pentingnya karya ini. Berarti pula, keaktualannya juga tak diragukan sampai sekarang. Tajussalatin antara lain menyebutkan, bahwa seseorang raja (maksudnya: pemimpin) jangan sampai mabuk dengan pujian-pujian dari bawahannya. Sebab pujian itu bisa mengakibatkan hilangnya sifat hati-hati sang atasan. Pujian ikhlas memang ada, tapi menurut Tajussalatin kebanyakan pujian dari bawahan terutama didorong upaya mencari pamrih dari pimpinan. Ada tiga sebab si karyawan memuji atasannya. Pertama, karena takut. Misalnya jangan sampai dia dipecat atau dikurangi perannya. Kedua, agar si boss tak mencari-cari kesalahannya. Ketiga, supaya bisa memperoleh hadiah/kekayaan dari pimpinannya. Tajussalatin mengungkapkan, bahwa kebanyakan pemimpin pada saat (zaman akhir) ini ingin dipuji terus-menerus oleh bawahannya. Mengenai penjahat, Tajussalatin menganjurkan agar diberi hukuman seberat-beratnya. Anda percaya atau tidak, merajalelanya para koruptor (baca: penjahat) sekarang; terutama akibat ringannya hukuman yang mereka terima.
Tajussalatin, menganjurkan para pemimpin agar menyingkirkan pegawainya yang tak becus bertugas, terutama yang suka membuat laporan ABS (asal Bapak senang). Guna memperoleh laporan akurat, para pemimpin tempo dulu memiliki “Tim pengintip” yang terpercaya. Bahkan tugas ini dilakukan oleh raja/Sultan sendiri. Setiap pemimpin mesti memiliki penasehatnya. Para penasehat Sultan masa lalu adalah ulama. Namun, Tajussalatin mengingatkan para Sultan agar tidak “bekerjasama” dengan sembarangan ulama. Jadi perlu ‘seleksi’ ketat. Sebab, diantara ulama itu banyak pula yang bermental “perampok”, yang mengharapkan harta dari para raja/Sultan. Selain itu, banyak pula ulama penjilat, yang tidak ikhlas dengan profesi keulamaannya. Bukankah sekarang cukup banyak ulama penjilat???. Demikianlah sedikit cuplikan kitab Tajussalatin!. Naskah kitab ini berisi 24 bab yang seluruh uraiannya mengenai pemimpin dan calon pemimpin!. Ada baiknya, jika Tajussalatin dijadikan buku-saku para pemimpin kita.

E. Nasib Naskah Tulisan Arab Melayu Dewasa ini
Akibat perkembangan zaman, huruf Latin telah menggeser huruf Arab Melayu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Keadaan itu menyebabkan naskah-naskah lama kian kurang dibaca dan disalin orang dan pada akhirnya akan habis. Mayoritas masyarakat Aceh dewasa ini hanya bisa membaca dalam huruf Latin. Akibatnya, banyak manuskrip atau naskah lama yang tertulis dalam huruf Arab Melayu dibiarkan terlantar sekarang karena tidak bisa dibaca. Perkembangan sarana hiburan modern juga ikut melunturkan peranan Sastra Aceh sebagai sumber hiburan masyarakat. Kehadiran industri film, radio, televisi dan media cetak yang memberi bermacam jenis hiburan serta bahan bacaan telah menyebabkan kepopuleran naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh menurun tajam; bahkan hampir-hampir tidak ada pihak yang menghiraukannya lagi.
Kini di desa-desa, naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh jenis apa pun seperti hikayat, nadham, tambeh dan kitab-kitab agama yang ditulis dalam huruf Arab Melayu, baik yang dalam bahasa Arab, Melayu dan bahasa Aceh; hanya disimpan oleh pemiliknya di balai-balai kandang lembu, atas kandang ayam, di rak dapur (bahasa Aceh: sandeng dapu) serta di bara-bara atau para Rumoh Aceh. Memang, sebagian besar masyarakat Aceh masih enggan membuang langsung naskah-naskah lama (manuskrip) itu, karena mereka takut pada kutukan Tuhan (bahasa Aceh: teumeureuka). Walaupun dianggap sudah memuakkan atau barang-barang yang menyemakkan, namun mereka belum berani benar-benar membuangnya, sebab sebagian dari manuskrip-manuskrip itu masih dikeramatkan. Beginilah, keadaan yang tengah dialami naskah-naskah lama Sastra Aceh dewasa ini. Dalam suasana konflik Aceh, tentu semakin memperburuk keadaan itu. Dalam suasana Aceh yang kacau-balau seperti beberapa waktu yang lalu banyak penduduk desa yang mengungsi maka semakin banyak pula naskah-naskah lama Sastra Aceh yang rusak-terbuang, tak ada yang mempedulikannya.

F. Pelestari Naskah Arab Melayu dan Sastra Aceh
1. Transliterasi
Akibat prihatin terhadap naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh seperti dikemukakan di atas, penulis pernah berupaya melakukan kegiatan transliterasi terhadap naskah-naskah tersebut, terutama naskah hikayat, nadham dan tambeh.
Upaya awal sebelum dilakukan transliterasi (alih huruf) adalah mengumpulkan naskah-naskah Sastra Aceh yang masih disimpan masyarakat. Usaha pengumpulan ini memang tidak mudah, karena sebagian masyarakat enggan meminjamkannya, karena berbagai alasan. Namun, berkat berbagai pendekatan yang dilakukan, akhirnya beberapa judul manuskrip dapat dipinjam atau difotocopy. Tahap selanjutnya yang ditempuh adalah melakukan alih huruf atau penggantian huruf naskah dari semula berhuruf Jawi atau Arab Melayu dengan menyalinnya ke dalam huruf Latin. Kesulitan pada bagian ini adalah tidak dapatnya disalin naskah-naskah itu secara lengkap atau menyeluruh karena sebagian dari manuskrip-manuskrip itu halaman-halamannya tidak utuh lagi, karena telah robek, pecah dawat (kehitaman) di sana-sini. Kegiatan alih huruf ini telah mulai dilakukan sejak tahun 1992, dan kini telah selesai dikerjakan beberapa judul manuskrip. Setiap halaman hasil transliterasi berisi rata-rata 6 (enam) bait, dimana setiap bait terisi 4 (empat) baris. Setiap halaman naskah asli yang berhuruf Arab Melayu biasanya bisa menghasilkan salinan ke huruf Latin rata-rata satu setengah halaman.

2. Daftar dan Ringkasan Isi dari Hikayat, Nadham, Tambeh dan naskah berbahasa Melayu yang telah penulis salin ke huruf Latin sebagai berikut :
(1). Hikayat Meudeuhak. Keberhasilan seseorang pemimpin/Raja turut ditentukan oleh para penasihatnya, namun sang pemimpin perlu selalu menguji kesetiaan mereka (434 halaman). (2). Hikayat Banta Keumari. Sikap saling membantu dalam perjuangan hidup akan menghasilkan kebahagiaan bersama (650 halaman). (3). Hikayat Tajussalatin. Tajussalatin = mahkota raja-raja. Membicarakan sejumlah pedoman bagi para pemimpin (420 halaman). (4). Hikayat Aulia Tujoh. Mengisahkan tentang seorang penguasa yang zalim. Begitu angkuhnya sampai-sampai mengakui dirinya sebagai Tuhan (54 halaman). (5). Hikayat Kisason Hiyawan. Kisason Hiyawan merupakan kisah sejumlah hewan/binatang. Kehidupan ini penuh dengan teka-teki, tipu muslihat dan saling bersaing. Oleh karena itu perlu hati-hati dan waspada dalam setiap tindakan. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (176 halaman). (6). Hikayat Gomtala Syah. Kisah monyet raksasa yang berasal dari manusia. Intinya menceritakan kesetiaan sang monyet membela kepentingan pamannya. Hikayat ini bernuansa lingkungan hidup (548 halaman). (7). Hikayat Keumala Indra. Keberhasilan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, akan memperlancar kehidupan. Tokoh ceritanya berasal dari Turki (594 halaman). (8). Hikayat Nabi Yusuf. Penderitaan yang didampingi oleh kesabaran-ketabhan, akan mewujudkan kemenangan. Sementara kedengkian dan iri hati akan menerima rugi dan kekalahan (281 halaman). (9). Hikayat Abu Nawah. Setiap pemimpin /raja harus tahan menerima kritik. Kritikan itu perlu dikemas dalam dua bentuk, yaitu bentuk halus dan tajam/keras (301 halaman). (10). Hikayat Zulkarnaini. Kisah Iskandar Zulkarnaini dan Nabi Khaidir/Hidhir ini menyebut asal usul nama Aceh disebut Pulo Ruja(pulau kain bekas). Dan setiap kedengkian akan menerima balasan Tuhan (226 halaman). (11). Hikayat Akhbarul Karim. Menjelaskan mengenai Ilmu Fiqh, Tasawuf dan Ilmu Tauhid. Hikayat ini juga mengandung nasihat-nasehat agar umat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah (139 halaman). (12). Nadham Akhbarul Hakim. Berisi nasihat dan kritikan tajam terhadap ummat Islam dalam segala umur, yaitu remaja, lelaki dewasa, perempuan dewasa, orang tua (Ibu-bapak dan kakek-Nenek. Kritik disebut secara lantang/pedas dan kadang-kadang lucu (81 halaman). (13). Tambeh Tujoh. Tambeh (Arab adalah tanbihi, artinya penuntun/tuntunan). Berisi tujuh masalah/7 bab. Dua bab di antaranya termasuk masalah yang amat langka dibahas dalam syair/hikayat Aceh, yaitu masalah kerangka tubuh manusia dan Ilmu Ketabiban/kedokteran (155 halaman). (14).Tambihul Ghafilin. Anasms lsin dsri kitsb ini adalah Tambeh Limong Kureung Sireutoh, karena isinya 95 bab. Berisi 95 masalah/95 bab, terdiri dari nasihat, pelajaran Ilmu Agama, Ilmu Tasawuf, contoh-contoh yang bermanfaat; demi kedamaian di dunia dan kebahagiaan di akhirat(623 halaman). (15). Nadham Ruba’i. Membahas banyak hal masalah ajaran Islam namun secara ringkas (serba-serbi Agama Islam). (31 halaman). (16). Nadham Nasihat. Nasihat-nasihat mengenai pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (34 halaman). (17). Hikayat Nabi Meucuko. Kisah pencukuran rambut Nabi Muhammad Saw yang dilakukan Malaikat Jibril (20 halaman). (18). Hikayat Qaulur Ridwan. Qaulur Ridwan ialah perkataan yang disenangi atau diridhai Tuhan. Hikayat ini ditulis dalam bentuk “cerpen” yang mengajak orang mau mengerjakan Shalat, kisahnya diramu dengan muatan lokal (18 halaman). (19). Tambeh Tuhfatul Ikhwan. Menjelaskan 12 bab masalah agama dan kemasyarakatan. Tuhfatul Ikhwan = persembahan kepada saudara (294 halaman). (20). Tambeh Tujoh Blah. Berisi 17 bab, yang membahas masalah hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia dan dengan binatang/Lingkungan hidup. Tambeh 17 ini termasuk salah satu kitab tambeh yang sangat populer di Aceh (Pidie?) hingga tahun 60-an (236 halaman). (21). Hikayat Banta Amat. Kisah seorang anak raja yang yatim sejak kecil. Negeri dan semua kekayaan di rampas pamannya. Berkat ‘azimat’ yang diberikan raja ular ia berhasil menjadi raja kembali. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (318 halaman). (22). Mikrajus Shalat. Membahas seluk-beluk shalat serta yang berkaitan dengannya dalam bentuk nadham Aceh (41 halaman). (23). Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan. Mengisahkan kehidupan dua orang putra raja yang berjuang menemukan permintaan Ayah mereka. Ternyata yang paling menderita; dialah yang mencapai kemenangan dan menjadi raja menggantikan sang ayah (79 halaman).( 24). Kitab Qawai’idul Islam. Dalam sebutan masyarakat tempo dulu naskah ini dinamakan “Kitab Bakeumeunan”, karena setiap pasal dimulai dengan ungkapan “Bakeumeunan”(Setelah itu). Menjelaskan mengenai Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam) secara panjang lebar dan mendalam. Keistimewaan kitab ini adalah karena ia ditulis dalam bahasa Aceh berbentuk prosa. Selain Bahasa Aceh, bahasa pengantar naskah ini juga menggunakan bahasa Melayu serta bahasa Arab. Pada umumnya bentuk penulisan bahasa Aceh adalah dalam jenis syair/puisi secara bersanjak (28 halaman). (25). Tambeh Gohna Nan. Naskah ini ditulis dalam bentuk penyampaian “wasiat dari seorang ayah kepada anaknya”. Inti wasiat sang ayah supaya si anak mengamalkan kehidupan ‘suluk dan tarekat’ yang amat berkembang di Aceh pada akhir zaman. Memang naskah ini berisi banyak ramalan tentang nasib negeri Aceh pada masa yang akan datang. Kitab ini di tulis kira-kira pada masa awal Perang Aceh-Belanda. Oleh karena belum diberi nama oleh pengarangnya, maka kitab ini penulis namakan “Tambeh Gohna Nan”(Kitab Belum Bernama) (175 halaman). (26). Adat Aceh. Berisi adat/tradisi dan protokoler Kerajaan Aceh Darussalam sejak masa Sultan Iskandar Muda. Sesungguhnya, inilah yang disebut dalam sepotong pribahasa Aceh: “Adat bak Poteumereuhom Hukom Bak Syiahkuala” (162 halaman). (27). Tazkirah Thabaqat. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Isinya menjelaskan tentang susunan tata pemerintahan Kesultanan Aceh sejak jabatan Geuchik sampai sultan Aceh sendiri (115 halaman).( 28). Resep Obat Orang Aceh. Cuplikan/saduran dari kitab obat Tajul Muluk karya Haji Ismail Aceh (55 halaman). Selain itu, ada pula 3 (tiga) naskah yang aslinya berhuruf Arab Melayu, namun telah ditransliterasikan oleh orang Belanda ke huruf Latin ejaan lama. Kemudian, penulis telah menyalin kembali ketiga naskah hikayat itu dari ejaan Belanda ke Ejaan Yang Disempurnakn (EYD). Ketiga hikayat itu ialah: (29). Hikayat Malem Dagang. Menceritakan pelayaran Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja si Ujut adalah gelaran orang Aceh kepada Sultan Kerajaan Johor yang telah bekerjasama dengan Portugis (163 halaman). (30). Hikayat Ranto. Mengisahkan perihal masyarakat Pidie lebih seabad lalu, yang pergi merantau buat mengadu nasib di bagian Barat dan Selatan wilayah Aceh( 30 halaman). (31). Hikayat Teungku Di Meukek. Menceritakan perang saudara di Aceh Barat akibat adu-domba Belanda ( 20 halaman). Hasil alih aksara ke huruf Latin dari 31 judul naskah adalah berjumlah 6500 halaman.

3. Penerbitan
Tujuan akhir dari upaya transliterasi tersebut di atas adalah menerbitkannya dalam bentuk buku yang berhuruf Latin. Namun akibat keterbatasan dana penulis, maka hanya sedikit dari hasil alih aksara itu yang telah diterbitkan.

G. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan:
1. Penulisan Arab Melayu (huruf Jawi / Jawoe) tumbuh dan berkembangnya di Aceh, serta di Asia Tenggara (Nusantara) seiring dengan masuknya Agama Islam ke wilayah ini.
2. Sejauh yang dapat ditelusuri, penulisan Arab Melayu mulai tumbuh di Aceh, yakni di kerajaan Islam Perlak.
3. Seiring dengan berkembangnya agama Islam ke wilayah-wilayah lain di Nusantara, maka penulisan Arab Melayu ikut pula berkembang di sana.
4. Semasa kerajaan-kerajaan Islam sedang berjaya di Asia Tenggara, penulisan Arab Melayu sangat berperan dalam mencerdaskan umat, lewat karya-karya para pujangga dan ulama. Akibatnya, masyarakat muslim di Asia Tenggara telah memiliki peradaban/tamaddun tinggi.
5. Para ulama-pujangga Aceh amat berjasa dalam mengembangkan bahasa dan kebudayaan Melayu di Nusantara, melalui kitab-kitab karangan mereka dalam huruf Arab-Melayu, yang tersebar ke seluruh Asia Tenggara.
6. Sebagian besar karya tulis para ulama-pujangga Aceh adalah dalam bahasa Melayu, yang sejak sumpah Pemuda 1928 telah diakui menjadi bahasa Indonesia. Dalam hal ini para pengarang asal Aceh telah ikut membidani lahirnya Bahasa Nasional Indonesia.
7. Kehadiran bangsa-bangsa penjajah di Asia Tenggara merupakan sumber bencana bagi kemunduran penulisan Arab Melayu di Nusantara. Para penjajah telah menggusur huruf Arab Melayu dengan huruf Latin yang disalurkan lewat pendidikan ala Barat kepada rakyat pribumi Nusantara.
Saran-saran:
1. Dalam rangka menggalakkan kembali pemakaian huruf Arab Melayu di Aceh, Pemda NAD perlu mewajibkan pengajaran huruf Arab Melayu (huruf Jawi) pada setiap jenjang pendidikan, baik di sekolah umum, madrasah maupun dayah-pesantren. Fasilitas yang memadai perlu disediakan secara tetap setiap tahun anggaran.
2. Guna menumbuhkan rasa cinta yang lebih mendalam terhadap huruf Arab Melayu, Pemda Aceh / Lembaga terkait perlu lebih sering mengadakan pameran dan lomba yang berkaitan penulisan Arab Melayu; disertai hadiah yang membanggakan bagi para pemenangnya.
3. Perlu dibentuk sebuah Program Studi Bahasa dan Sastra Aceh di Universitas dan Institut yang ada di Aceh sebagai pusat pengkajian dan penelitian naskah dan penulisan Arab Melayu.
4. Para calon pejabat eksekutif dan legislatif di Aceh tidak hanya diwajibkan mampu membaca Al-Qur’an, tetapi perlu pula diwajibkan lancar membaca dan menulis tulisan Arab Melayu/Jawoe, karena huruf Jawi yang berkembang di Nusantara itu berasal dari Aceh.
5. Semoga dimasa mendatang, akan tampil para dermawan yang peduli kepada budaya nasional Indonesia yang nyaris punah ini. Naskah-naskah Arab Melayu yang telah dialihkan ke huruf Latin semestinya diterbitkan serta diedarkan kepada masyarakat Aceh.

Daftar Pustaka

AD Pirous,dkk, Aceh Kembali Ke Masa Depan,IKJ Press, Jakarta, 2006.
Alfakir Prof.Madya Mohd Syukri Yeoh Bin Abdullah,et.al., “Zawiyah Tanoh Abee: Sejarah dan Perkembangannya”, makalah pada International Seminar on Restorasi Naskah; Revitalisasi Manskrip Aceh: Pemeliharaan dan Pelestarian Manuskrip sebagai Warisan Budaya Masa Lalu, Banda Aceh, March 5th, 2011.
Catalog Manuskrip, Perpustakaan Pesantren Tanoh Abee Aceh Besar Buku I, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh Banda Aceh, 1980.
Ismail Husein, “Antara Dunia Melayu Dengan Dunia Indonesia dan Malaysia”, makalah pada penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia, 1985, dalam buku “Warisan Dunia Melayu – Teras Peradaban Malaysia”, Biro Penerbitan GAPENA, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1985.
LK Ara, dkk., Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas, Yayasan Nusantara, Jakarta, 1995.
Majalah TEMPO, Jakarta, edisi 23-30 Juli 2006.
Mohd Harun Ar-Rasyid, Serambi Indonesia, edisi 28 Oktober 1993. (Opini).
Mohd. Kalam Daud, Sistem Penulisan Arab-Melayu (Suatu Solusi dan Pedoman), Dinas Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, 2003.
Muhammad Yusof Hashim “Manuskrip Melayu: Warisan Keilmuan yang bernilai”, dalam buku Warisan Dunia Melayu – Teras Peradaban Malaysia, Biro Penerbitan GAPENA, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1985.
Sartono Kartodirdjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia, Jilid V, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1975.
Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis (terjemahan), Jilid I & II, Yayasan Soko Guru, Jakarta, 1985.
Syed Muhammad Naguib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Penerbit Universiti Kebangsaaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972. Syed Muhammad Naguib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Mizan, Bandung, 1990.
T.A. Talsya, Modal Perjuangan Kemerdekaan (Perjuangan Kemerdekaan di Aceh) 1947-1948, Buku II, Lembaga Sejarah Aceh, Banda Aceh, 1990.
Teuku Iskandar, Kesusasteraan klasik Melayu Sepanjang Abad, Libra, Jakarta, 1996
UU Hamidy, Aceh Sebagai Pusat Bahasa Melayu, Serambi Indonesia, Banda Aceh, Minggu 8 Juli 2007. (Opini).

*) Penulis, Drs. Teuku Abdullah, SH., MA  alias  T.A. Sakti adalah Dosen tetap pada Prodi  Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( FKIP ) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh

Opini

Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh

Sabtu, 7 Januari 2017 08:57
Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh

Oleh T.A. Sakti dan Siti Hajar

HEBOH mengenai foto Cut Meutia yang tidak berkerudung sebagai penutup kepala dalam lembaran uang kertas baru Rp 1.000, hingga kini masih menjadi perbincangan hangat, baik di media sosial, maupun dalam kehidupan masyarakat Aceh. Keadaan demikian terkait dengan kondisi Aceh sekarang yang sedang menerapkan syariat Islam.

Foto yang tanpa hijab itu seolah memberi sinyal yang kurang mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh dewasa ini. Dalam ajaran Islam adalah suatu kewajiban bagi seorang wanita untuk menutup aurat jika berada di lingkungan umum.

Akibat keberadaan foto Cut Meutia dalam lembaran uang itu; dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap kemajuan syariat Islam di Aceh ke depan. Uang merupakan alat jual-beli yang digunakan oleh setiap orang. Sesuatu yang tercantum pada mata uang tentu dianggap memiliki nilai tinggi, dan jika yang menghiasinya gambar seorang Pahlawan Nasional seperti Cut Meutia tentunya diharapkan untuk menjadi idola dan panutan.

Bagi sebagian orang, mungkin hal ini adalah persoalan kecil, tetapi bagi masyarakat Aceh adalah persoalan serius yang membutuhkan perhatian semua pihak demi kemajuan syariat Islam di bumi Serambi Mekkah, dan mengembalikan marwah Cut Meutia sebagai srikandi Aceh yang besar jasanya dalam perang fisabillah melawan penjajah Belanda.

Dalam sejarah peradaban Islam di Aceh yang amat panjang, banyak mewariskan pernak-pernik budaya yang beraneka macam. Sebagian dari pusaka indatu itu masih dapat kita saksikan hingga sekarang, di antaranya berupa manuskrip Aceh (naskah lama). Dalam manuskrip yang bertulisan huruf Arab-Melayu atau aksara Jawi alias Jawoe-Aceh inilah kita dapat melihat, bagaimana sejarah Islam di Aceh yang sangat memuliakan wanita dengan tata cara berbusana yang sopan dan indah.

Kerudung perempuan
Sebagai kegiatan sambilan, sejak 1991 saya (T.A. Sakti) telah melakukan transliterasi atau alih aksara 37 judul manuskrip yang terdiri dari hikayat, tambeh, dan nazam Aceh. Kini, saya memiliki lebih 7.000 halaman naskah olahan berhuruf Latin tentang berbagai segi kehidupan masyarakat Aceh tempo doeloe. Ternyata, dari puluhan judul naskah lama itu, hanya sedikit yang membahas tentang kerudung bagi perempuan. Naskah-naskah lama tersebut ialah Hikayat Akhbarul Karim, Hikayat Gomtala Syah, Tambeh Tukhfatul Ikhwan, Tambeh Limong Kureueng Sireutoh, dan Nazam Akhbarul Hakim.

Dalam bait Hikayat Akhbarul Karim (kabar yang mulia) karya Tgk Seumatang, terdapat gambaran tentang kondisi budaya masyarakat Aceh tempo dulu, termasuk dengan pakaian yang dikenakan oleh perempuan pada zaman itu. Pada ujung Pasal 6 berupa selingan atau jeda yang berjudul Panton Aceh disampaikan bahwa perempuan Aceh pada zaman dulu telah menggunakan kain panjang (ija sawak) sebagai penutup kepala di saat mereka berada dalam khalayak ramai.

Berikut isi bait tersebut: Laen nibak nyan teumpat piasan, rame sinan malam uroe. Cokle alat mita mudai, sok ngon ikai nibak jaroe. Ladom sawak ija panyang, meuhoi le nang ladom adoe (Selain itu, di tempat pertunjukan seni, selalu ramai siang dan malam. Para wanita mulai berdandan, lengkap dengan segala perhiasannya. Mereka menutup kepala dengan kain panjang, memanggil ibu, adik segera berangkat).

Dalam hikayat lain, gambaran peri kehidupan masyarakat juga diselipkan pengarang dalam selingan di antara dua penggalan cerita utama, seperti dalam Hikayat Gomtala Syah (Kisah Kera Raksasa); Puteh-puteh bungong geutoe, seupot uroe cantek-cantek. Ngolon kisah laen bagoe. Nyang ladom ngui gleueng suasa, taeu ija macam-macam. Seugot mirah taeu di ulee, jisok bajee dum putungan. Watee jijak teuhah ulee, hana malee inong jalang. (Putih-putih bunga geutoe, indah-indah di sore hari. Dengar ku kisah lain cerita. Sebagian mengenakan gelang suasa, terlihat kain aneka ragam. Sisir merah tampak di kepala, berpakaian aneka macam. Ketika pergi tanpa kerudung, tidak punya malu wanita jalang).

Yang Sastra dan yang Bukan Sastra

 

  • Catatan dari Sarasehan Kesenian di Solo

Oleh  Arief Budiman

SESUDAH berlansung semacam kemarau panjang dari kehidupan kesustraan Indonesia,  kita tiba-tiba dikejutkan dengan adanya dua seminar sastra (dan seni) nasional yang saling berdekatan waktunya. Yang pertama adalah ’’ Simposium Nasional Sastra Indonesia Modern ’’ di Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh pusat penelitian Kebudayaan dan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada pada tanggal 26 dan 28 Oktober 1984 . Yang kedua adalah ’’ Serasehan Kesenian” ( yang pada kenyataannya lebih banyak bicara tentang kesustraan) yang diadakan di Surakarta, pada tanggal 28 dan 29 Oktober 1984.

Tanpa disengaja, antara seminar yang di Yogya dan di Solo, terjadi dipolarisasi yang menarik. (Saya katakan tanpa disengaja, Karena saya ikut membantu merencanakan seminar Solo, dan ketika itu kami tidak mengetahui sama sekali bahwa UGM sedang merencanakan sebuah seminar sastra lainnya, yang waktu pelenggaraannya sangat berdekatan). Polarisasi pertama adalah yang satu diselenggarakan di Yogya, yang lainnya di Solo, dua kota yang bagi kebudayaan Jawa merupakan kutub yang berlainan. Kemudian, polarisasi dalam hal penyelenggaraan. Di Yogya, karena penyelenggaraannya adalah sebuah lembaga nasional yang besar, pembiayaannya juga besar. Di Solo, karena penyelenggaraannya praktis karena individu-individu yang hanya bermodalkan semangat kerja, maka segalanya juga sangat serba sederhana. Para tamu undangan harus mencari, (atau panitia yang mencarikan) pemondokan di antara teman-teman di Solo yang mau ketumpangan tamu. Tapi polarisasi yang paling penting adalah dalam hal pokok pembicaraan.

Di Yogya, pembicaraan berkisar pada masalah sosiologi kesustraan Indonesia, pembahasan tentang karya-karya sastra mutakhir, dan sebagainya. Di Solo, yang dibicarakan adalah mempertanyakan kembali kriteria penciptaan sastra ( dan seni). Dasar-dasar penciptaan diragukan dan dipertanyakan kembali. Dengan demikian, nada pembicaraan seminar di Solo bersifat pemberontakan terhadap nilai-nilai kesustraan (dan kesenian) yang sudah mapan di Indonesia. Sangat tepat bila seorang peserta seminar di Yogya secara bergurau memberikan predikat pada seminar di Solo sebagai ” kesusastraan yang kiri dan yang kere.”

Karena saya sendiri tidak hadir pada seminar yang di Yogya, maka tulisn ini merupakan tulisan tentang seminar yang di Solo, tentang topik yang dibicarakan di sana dan pentingnya dan perkembangan kesustraan  Indonesia.

Yang Sastra dan yang Bukan Sastra

Empat masalah yang membahas masalah teori tanpa berkonsultasi dulu sebelumnya, tampak Yudhistira Massardi, Ariel Heryanto, YB Mangunwijaya dan saya sendiri (Arifin C. Noer ) yang diundang untuk membahas masalah teori tidak saya masukkan disini, karena yang dilakukannya adalah membacakan, secra sangat baik, bagian dari naskah dramanya). Acara lainnya diisi dengan pembacaan cerita pendek dan puisi oleh Yudhistira, Reny Djajusman dan Darwis Khudori.

Yang jadi pernyaan inti adalah apa sebenarnya  yang disebut sebagai karya ’sastra? Adakah nilai yang universal untuk apa yang disebut sebagai sastra itu? Kalau dengan sastra yang dimaksudkan karya-karya yang dinyatakan melalui bahasa yang dapat menggugah pembaca (  atau orang yang mendengarnya), maka ada banyak karya yang menggugah yang dalam kenyataannya dianggap bukan sebagai karya sastra. Kalau dikatakan bahwa dalam karya sastra yang menggugah itu, perlu ada nilai filosofis yang mendalam, persepsi kepala nilai yang transsendental, dan sebagainya, supaya dapat disebut sebagai karya sastra, maka tidak syak lagi hanya orang-orang kelas menengah ke atas yang terdidik  yang sanggup menikmati karya sastra. Rakyat yang hanya dapat memikirkan soal-soal yang duniawi, lelucon yang pornografis, dan hal-hal yang ’’rendah” lainnya, jelas tidak dapat bersastra. Bukankah ukuran semacam ini merupakan pemaksaan nilai-nilai kelas menengah kepada orang-orang dari kelas bawah, yang dunia dan seleranya berlainan?

Karena itulah, bagi Ariel Heryanto, penggolongan karya tulis menjadi sastra dan bukan sastra, sudah mengandung sebuah ideologi di belakangnya. Karena pada akhirnya, apa yang disebut sebagai sastra dan bukan sastra yang menjadi kekuasaan para kritikus sastra       ( yang semua merupakan anggota masyarakat dari kelas menengah ke atas) yang menentukannya. Aril sendiri belum secara jelas menunjukkan jalan keluar dari persoalan ini. Yang jelas, dia mempertanyakan secara radikal kriteria penggolongan apa yang disebut sastra dan bukan sastra.

Yudhistira mencoba menunjukkan semacam jalan keluar, melalui jalan yang disebutnya sebagi sastra dangdut. Buat dia apa saja yang dapat berkomunikasi dengan lingkungannya, itulah sastra. Katanya ( seperti yang dituliskan dalam makalahnya):

’’ Seperti musik dangdut, Sastra Dangdut ialah sastra yang tak peduli pada asal-usul dan percampurannya  dengan budaya mana pun. Ia juga tak peduli pada segala macam konsep yang ada. Yang penting baginya: bicara. Bicara mengenai apa saja, yang paling dekat dirinya, lingkungan kebutuhan dan keseharian. Tetek-bengek sampai ke Tuhan.”

Dengan demikian, sastra dangdut akan digemari orang baik disisi dan enggannya para ‘terpelajar’ ( para penghamba konsep konsep yang beku) mengakui kenyataan ini. Dalam sastra dangdut, semua bisa, semua sah, semua layak, semua punya hak, semua dapat tempat. Demikian Yudhis.

Romo Mangun bicara tentang konsep bangunan sebagai ganti konsep  keindahan-keindahan yang formal, yang sekarang terasa menguasai dunia kesustraan (dan kesenian) Indonesia. Keindahan yang estetis bukanlah sebuah penikmatan ruang otonom, yang dapat diserapi oleh panca-indera dan intelektual belaka. Keindahan merupakan aspek dari kehidupan secara total. Sesuatu yang indah, bukan karena dia memuaskan kebutuhan harmoni dari panca-indera atau keinginan intelektual kita, tapi karena dia merupakan kebenaran hidup.’’ Keindahan adalah kecemerlangan kebenaran (pulchrum splendor est veritas),’’ demikian Romo Mangun. Karena itulah, baginya, sastra yang berkualitas, jauh atau dekat, akhirnya berdimensi religius.

Sebagai contoh, Romo Mangun berbicara tentang rumah-rumah desa di Jawa. Bentuknya yang joglo, pengaturan ruangnya dari ruang tamu yang luas di muka, kemudian ruang tidur, kemudian lumbung padi di belakang, dan sebagainya, terasa indah bagi orang desa di Jawa, karena semuanya punya fungsi kehidupan, baik kehidupan duniawi, maupun bagi kehidupan akhirat. Justru karena semuanya begitu benar diletakkan pada tempatnya, yang mengatur hubungan antara manusia, dan kosmos maka dia menjadi indah. Keindahan dirasakan karena dalam rumah tersebut, orang Jawa merasakan dengan kehidupannya, dunia dan akhirat. Keindahan ini, sebagai konsekuensinya, tentu saja tidak saja dihayati oleh orang yang dunia kehidupannya berlainan, misalnya oleh orang-orang kelas menengah di kota-kota.

Pada dasarnya, apa yang saya nyatakan dalam seminar di Solo ini, juga sama dengan pembicaran lain. Pertama, saya menolak nilai universal dalam kesusastraan (dan kesenian). Keindahan tidak sama di mana-mana, di sepanjang sejarah. Keindahan terikat pada ruang dan waktu. Untuk masyarakat Jawa, keindahan lain dengan masyarakat Minang, untuk bangsa Indonesia, keindahan lain dengan bangsa Prancis. Untuk kelas menengah Indonesia, keindahan lain dengan kelas bawah Indonesia, untuk kelas menengah Indonesia dulu, keindahan lain dengan kelas menengah Indonesia sekarang. Dan seterusnya.

Bagi saya sastrawan-sastrawan yang menciptakan dengan kiblat nilai universal, yang tidak mau mengakui bahwa keindahan bersifat kontekstual, pada kenyataanya menciptakan karya-karya untuk konsumsi kritis sastra di negara maju. Tanpa sadar, ukurannya adalah karya-karya sastra pemenang Hadiah Nobel, tidak heran mereka cuman dapat memaki-maki rakyat bangsanya sendiri yang dikatanya kurang terdidik dan tidak dapat mengerti sastra yang bernilai.

Saya juga sependirian dengan Romo Mangun, bahwa apa yang disebut sebagai keindahan merupakan ekspresi dari totalitas kehidupan. Bagi saya, pertama-tama, orang harus hidup secara penuh dulu. Karena hidupnya yang penuh ini, maka dia mau menyatakannya melalui alat komunikasi apa saja yang mungkin bagi saya, bentuk tak penting.  Yang utama adalah dia mau menyatakan sesuatu yang berharga, yang berarti bagi hidupnya.

Bagi saya, hidup secara penuh dalam masyarakat Indonesia sekarang adalah terlibat dalam persoalan-persoalan besar bangsa ini. Karena salah satu persoalan  besar bangsa ini adalah masalah kemiskinan dari ketidakadilan (ini diakui oleh pejabat-pejabat pemerintah juga), maka untuk saya, sangat wajar bila pengarang besar Indonesia terlibat dalam persoalan ini, dan menyatakannya dalam persoalan ini, dan menyatakan dalam karya-karyanya. Karena itu, kalau saya mengharapkan sastrawan Indonesia berbincang tentang ketimpangan sosial yang ada sekarang, barangkali saya pada dasarnya memintanya untuk menjadi manusia Indonesia yang terlibat dengan masalah-masalah besar bangsanya dulu, baru menjadi  sastrawan. Menjadi sastrawan hanyalah merupakan by product dari menjadi manusia yang utuh, bukan sebaliknya.

Atas dasar ini saya sering menyatakan bahwa kekuatan roman Romo Mangun burung-burung manyar terletak bukan pada kadar kesusastraannya ( apapun ini maksudnya), tetapi keinginannya untuk menyatakan sesuatu kepada bangsa ini yang dianggapnya penting. Menurut saya, pada roman ini, Romo lebih tampak sebagai seorang manusia yang terlibat dalam masyarakatnya, yang mau menyatakan sesuatu yang dianggapnya penting, dan agak kurang peduli apakah dia akan tersebut sebagai sastrawan atau bukan. ( Dalam pembicaraan, dia menyatakan kepada saya, dia banyak meniru Multatuli ketika menuliskan roman tersebut. Keterangan ini sangat mendukung pendapat saya di atas).

Apakah yang terjadi pada Romo Mangun ini berbeda sekali dengan apa yang (sering) terjadi dengan pengarang-pengarang muda kita. Banyak di antara mereka yang memproyekkan hidupnya untuk menjadi sastrawan lebih dulu, di atas segala-galanya. Untuk itu mereka lalu melihat, misalnya kepada sastrawan-sastrwan terkenal Indonesia, dan mencari ukuran sastra yang dapat mereka penuhi supaya diakui menjadi sastrawan. Hasilnya, meskipun mereka hidup dalam lumpur kemiskinan, mereka menulis puisi-puisi bak orang kelas menengah kota Jakarta, yang berbicara tentang kesepian di tengah keramain kota besar kemungkinan terhadap kehidupan.

(Sumber: Kompas, 23 November 1984 hlm IV)

Surat u Rumoh Teungoh, Beutong, Nagan Raya, Provinsi Aceh

tabib-wen

Tabib Wen dengan Mak Ru (istri beliau)

Yogyakarta, 4-6-1408/24-1-’88.

Kepada Yml

Abu Tabib Wen/Ummi  Makru

serta Keluarga

di

K e d i a m a n

Assalamu’laikum  Wr. Wb.

Pertama-tama  saya mengucapkan salam sejahtera, semoga kita semua tetap berada dalam lindungan Allah SWT; Amin. Selanjutnya,  saya  mengucapkan SELAMAT KHANDURI THON  nanti pada 17 Jumadil Akhir  1408 Hijriyah. Sayang sekali,  saya tidak dapat bersama hadir pada hari ulang tahun ini,  karena saya masih berada di Yogyakarta. Mudah-mudahan saja, surat dan kiriman saya ini sudah sampai ke Rumoh Teungoh  sebelum hari acara khanduri Thon.  Semoga …

Pakriban hai keadaan  Abu ngon Ummi  akhe-akhe lawet nyoe. Mudah-mudahan bak Allah bri sabe lam sihat, lam lindongan   Tuhan  Po   geutanyoe. Ngon do’a nibak Abu ngon Ummi,  Tuhan bri dilon ka tamat sikula di Yogyakarta. Meutapi bak watei   nyoe gohjeut cit ulon woe u Aceh,  kareuna na urusan bacut treuk nyang    gohlom    seuleusoe.   Sangkira   hana   jimat    le   saket   kumong   gaki  lom  lawetnyoe, mungken   urusan   nyang   goh    lheuh   bacuttreuk   nyan   kalheuh.    Bak   uroe   Ahad   tanggai 6   Desember   1987,    gaki    ulon   ‘et   tuot   u   miyub     blah   unuen    nyang    patah   kumong lom.

Sagai   hanjeut   ulon   duek   ateuh   kurusi   untuk   teumeutep.   Asai   ulon   duek   nyang meulipat    tuot   meu   15   minet,    laju    jibeudoh   kumong.   Suratnyoe    ulon    tep   sira  duek bak   aleue  seumet.   Kalheuh   ulon  kirem  sura t keu   Ummi  di  P i d i e, ulon  lakei  beuneu-kirem    on   lingong   ngon   gapu,  ulon  niet   teuom   lom   lagei  uroe  jeh.  Hingga   uroe  nyoe ka   48  uroe   kumong-kumong   gaki   patah  di  ulon.  Keumeunyan   nyang   Abu   bri  kalheuh cit   ulon   tot   na  lhei   go.   Tanda-tanda   saket   kumong   nyoe,  saban   that   ngon  tanda-tanda   watei   karab   beureutoih/buco   bak   tuot   uroe   jeh.  Nyakni   siat-siat   payah   jak u   lueng   ubit.   Meutiet-tiet   ngon   seungkou   dimiyub   teumpat   nyang    buco   uroe   jeh.

Sangkira  toe,   ka   ulon   langkah   laju  bak   Abu,   ulon   jak   muhon  ubat  keu    saket  kumong Nyoe.  Bah   oh  puleh,   ulon   gisa  lom   u   Yogya   teujak   peulheuh   urusan   nyang  goh seumpurna.   Meutapi   Yogya   ngon   Aceh   juoh   meunurot     keumampuan     ekonomi   keluarga ulon,    maka   hanya   dari   juoh   ulon   mohon  tulong   nibak     Abu,   mudah-mudahan    saket kumong    gaki   ulon    sigra  puleh. Watei nyoe,   asai     keuneuk   cok  langkah   sabe  na tungkat    sikrak   lam    reugam   ulon.    Beureukat do’a    nibak Abu,      Insya Allah  Tuhan akan   neuppeupuleh   gaki   ulon.  Sangat   that   ulon   mohon   beureukat   do’a    nibak    Abu di sinoe.

Abu ngon Ummi  nyang mulia Nyoe na bacut kireman nibak ulon keu Abu dan Umi.  Keu Abu ulon peue   et ubat batuk dua boh kaca ubit.  Citka ulon teupeue Abu kalheueh  neujeb meploh macam ubat batok.  Seubab nyan karab hana teuturi  mita,  kira-kira  ubat mirek toh nyang goh Abu ujoe.  Hingga ulon lakei bantu bak sidroe ngon ulon mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (karab jeut keu doto). Saudara RAHMAT  nyan nyang tulong mita ubat batok nyoe keu Abu. Rahmat menyam-paikan/geupeu et saleuem ke Abu ngon Ummi,  ngon ucapan: “Assalamu’alaikum..”.

Mungken cit,  ubat batok nyang ulon kirem nyoe,  kalheuh  cit Abu ujoe jeb.  Bah-that beumeunan , ulon meulakei ubak Tuhan,  ubat batok nyang nyoe beujitem jeut keu ubat nyang meustajeub  ngon izin Po; insya Allah. Teuma keu Ummi  ulon peue et ubat reumatik nan jih minyeuk param. Mungken cit ubat nyoe kalheuh  Ummi pakek baroe-baroekon. Bahthat beumeunan, ulon mohon bak Nyang Po Kuasa ngon seubab ubat dari Yogyakarta  nyoe,  beu Allah bri saket reumatik Ummi meunyo mantong  beulaju puleh;  Insya Allah.   Bak kutak minyeuk param 10 (sepuluh ) kaca  plastik nyang ulon kirem nyoe, na dituleh cara pakek.

Laen nibak nyan,  keu cuco Abu dan Ummi  nyang ka/karab sikula bak SMP na ulon kirem Kamus bahasa Inggreh  ubit  4 buah. Tamat   etnoe   dilei   surat    ulon  keu  Abu/Ummi   seureuta   keluarga  bak     kali  nyoe. Salah   ngon   silap,  tuwo-meuwo   kadang   rohna  bak  ulon      karang     surat   nyoe, maka   ulon lakei   meu’ah    nyang     rayek  that   nibak Abu   ngon  Ummi    di  sinoe.   Peunyaket  tuwo-meuwo     mantong   cit   gohlom   got puleh   di   ulon. Jinoe di Yogya    kana    sigo    jeume’at ulon   pajoh  lom   halia/teupong halia, peuneugah   Kitab   Tajon    Mulok   nyang    ulon  beut watei     di rumoh    Teungoh    nyoe   uroe   jeh.

Wassalamualaikum  Wr. Wb.  nibak  ulon:

                                                                                                          dto

Eungku Lah (Abdullah Sulaiman)

  1. Saleum  ulon   keu  keluarga    Abu/Ummi, syeidara  ulon   nyang  teungoh  meuubat   patah  di    Rumoh  Teungoh  nyoe   dan syeidara   lingka   nyang   kayem  trok  langkah u  rumoh  nyoe;  ucapan    ulon:”Assalamu’alaikum..”.

Rendra, Romantis dan Sentimentil

Rendra, Romantis dan Sentimentil

Dalam percaturan seni kontemporer Indonesia (sastra dan teater/ drama), Rendra adalah salah satu yang paling terkemuka. Bicara tentang sejarah dan eksistensi kesusastraan serta teater/drama kontemporer Indonesia, jelas tidaklah lengkap tanpa menyebut nama dan karya-karya dia bukan saja seorang tokoh, melainkan juga sekaligus fenomena dalam percaturan kesusastraan dan teater/drama kontemporer Indonesia. Ia memainkan peranan yang besar dalam merangsang dan menumbuhkan dinamika kehidupan  seni kontemporer Indonesia, khususnya teater/ drama.

Sebagai langkah awal dalam pembicaraan ini, agaknya tidak salah jika terlebih dahulu kita melihat Rendra dari sisi Rendra sendiri. Yakni menyangkut segala sesuatu yang pernah diungkapkannya perihal sikap dramatik dan kecendrungan estetikanya itu. Untuk ini, satu-satunya sumber paling otentik hanyalah buku mempertimbangkan tradisi ( Jakarta, Granmedia, 1983) yang berupa kumpulan berbagai karangan Rendra. Di dalam buku ini antara lain terdapat sebuah makalah Rendra untuk acara ” Temu Sastra 1982 ”, 6-8 Desember 1982, di TIM, berjudul proses kreatif saya sebagai penyair ( hal. 61-70).

Sesuai dengan judulnya, makalah ini memang berisi uraian Rendra perihal proses kreatifnya sebagai penyair, mulai dari proses penciptaan puisi-puisinya yang terkumpul dalam empat kumpulan sajak hingga potret pembangunan dalam puisi. Di sini dapat disimak, bahwa ternyata, puisi-puisi Rendra pada umumnya ( dan selalu) adalah hasil interaksi antara realitas lingkungan dengan realitas rohaninya.dengan demikian, dapat dikatakan puisi-puisi itu adalah reaksinya.

Jika kita amati seluruh puisi-puisinya itu, lalu kita amati pula realitas lingkungan dan realitas rohani Rendra yang berinteraksi sebelum dan sesaat lahirnya puisi-puisi  itu sebagaimana diuraikan Rendra dalam makalah tersebut, hipotesa ini memperlihatkan kebenarannya. Berdasarkan hal ini pula dapat dikatakan, bahwa Rendra sebetulnya adalah seorang yang reaktif terhadap realitas lingkungan. Sifat ini pula sebenarnya yang menyebabkan Rendra untuk selalu harus komit pada masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik sebagaimana diperlihatkan dengan nyata dalam puisi-puisi potret pembangunannya.

Sifat kreatif itu,tentu saja tidak cuma bisa dilihat lewat puisi-puisinya. Dalam karya drama (lakon) yang ditulisnya, hal ini pun nampak jelas. Seperti yang masih terlihat pada puisi-pusinya – lebh-;lebih pada periode sebelum potret pembangunan dalam puisi.

Hal serupa juga terlihat dalam posisi kesenimannya sebagai aktor dan sutradara. Meskipun untuk kedua bidang ini agak sukar mengamatinya, tapi tidak sulit untuk menangkap kecenderungan-kecenderungan yang diperlihatkan dalam berakting maupun menyutradarai. Selalu saja nampak ada pola-pola tertentu yang memperlihatkan sifat reaktif itu. Sebagai aktor agaknya Rendra-lah  satu-satunya orang yang paling piawai dalam membangun dan mengarahkan imaginasi penonton dengan kemampuan berakting untuk membuat personifikasi-personifkasi tertentu atas peran yang dimainkannya. Bahkan, Rendra  seringkali begitu menyadari hal ini, sehingga tak jarang ia’’ melayani’’ penonton sedemikian rupa. Sedangkan sebagai sutradara ,Rendra pun begitu lihai mengarahkan pertujukan untuk dengan mudah dikait –kaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, maupun politik.

SUDAH barang tentu, bagi setiap orang menyatakan  dan mengaku dirinya seniman , sifat reaktif adalah sesuatu yang mutlak harus dimiliki. Karena, pada dasarnya, sifat semacam ini merupakan modal untuk merangsang kreativitas. Namun memang, tidak setiap seniman memiliki kadar reaktif yang sama, dan Rendra nampaknya termasuk seniman yang tinggi kadar sifat reaktifnya. Artinya, dari segi ini saja , Rendra sudah memiliki satu kelebihan dibanding seniman lain di Indonesia

Hanya saja, rupanya, selain reaktif, Rendra juga seorang yang romantik dan sentimentil. Ini bisa dibuktikan dengan menyimak karya-karyanya lebih lanjut. Antara lain, misalnya, perhatikanlah lakon-lakonnya, seperti Perjuangan Suku Naga, Mastodon dan Burung Kondor, Sekda, ataupun yang terakhir Panembahan Reso. Lakon-lakon ini, di samping memperlihatkan sifat reaktif Rendra, juga memperlihatkan sifat romantis dan sentimentil Rendra terhadap realitas lingkungan ( sosial, ekonomi, politik, kekuasaan, dan lain sebagainya ). Simak lakon Perjuangan Suku Naga, misalnya. Bukankah yang dilakukan Rendra dalam lakon ini lebih banyak’’mengecam’’ dan “berprasangka” untuk yang ia sebut sebagai “modernisasi” atas nama keyakinan terhadap keseimbangan lingkungan. Karena itu, kalau disimak secara teliti, sebetulnya kita sebagai penonton sama sekali tidaklah diberi suatu persfektif pengalaman baru, atau setidaknya merangsang kita terhadap suatu pemahaman baru, sehingga kita memiliki kemampuan lebih kritis lagi melihat persoalan moderinisasi dan keseimbangan lingkungan.

Meskipun cara pengungkapannya persoalannya cenderung nampak berlangsung sebagai diskusi, namun terhadap persoalan yang dibicarakan, sebenarnya tidaklah terlalu banyak merangsang intelektualitas. Sebaliknya, malah emosilah yang lebih banyak dirangsang, sebab Rendra bukannya mengajukan pertanyaan, melainkan menawarkan kesimpulan. Dan ini, selalu dilatarbelakangi oleh sikap romantis dan sentimentilnya tadi.

Akibatnya bukan “dialektika” pemikiran yang terjadi. Tetapi justru “ratapan” –lah terhadapan persoalan yang diagungkan seraya berandai-andai seolah-olah menyesali yang sudah terjadi. Dan ini, biasanya, bukannya kesedaran rasional yang mengendalikan, akan tetapi yang lebih banyak adalah trance alias setengah sadar, tak heran, jika dalam karya Rendra yang lebih banyak berperan perasaan dan keyakinan/pemahaman-pemahaman subjektif atau hal-hal yang di persoalkan; bukan rasionalitas dan kebenaran objektif. Sebabnya adalah karena “reaksi” Rendra terhadap persoalan tersebut selalu ditandai dengan sikap” romantis”dan “sentimentilnya” .

Soal sikap romantis dan sentimentil ini, juga bisa disimak pada lakon-lakon asing yang diterjemahkan kemudian dimainkan Rendra. Bahkan ini lebih nyata lagi kalau diperhtikan puisi-puisinya. Pada umumnya, semua puisi Rendra berisi sikap dan semangat ini. Apakah itu yang terangkum dalam kumpulan Empat Kumpulan Sajak, Blus untuk Boni, Sajak-Sajak Sepatu Tua, sampai Potret Pembanguanan Dalam Puisi. Termasuk di antaranya adalah karya prosa semacam cerita pendek, Waisya Ah Waisya.

DEMIKIANLAH, jika kita simak lebih lanjut, sifat reaktif dan sikap romantis dan sentimentil itu, sesungguhnya juga melatar belakangi kecendrungan estetik dan sikap dramatis yang dianut Rendra dalam berkesenian. Kesadaran estetikanya adalah kesadaran reaktif yang romantis–sentimentil itu. Begitu pula halnya dengan penglaman dramatiknya, banyak di pengaruhi oleh kecenderungan reaktifnya yang romantis–sentimentil.

Namun demikian, bukannya Rendra tak pernah melakukan “penyimpangan” ini misalnya, terutama sekali, terlihat pada karya-karya eksprementasi, Teater Mini Kata. Pada karya-karya ini, meskipun sifat reaktifnya masih cukup kelihatan kecenderungan romantis–sentimentil itu, sudah sangat sukar dilacak. Atau setidaknya, karya-karya ini, tak meninggalkan kesan romantis- sentimentil. Boleh jadi hal ini disebabkan sifat eksprementasinya yang kental. Namun, menurut hemat saya, justru dalam karya-karya inilah Rendra berhasil sepenuhnya ” membebaskan” diri dari ambisi atau keinginan bawah sadarnya. Di sinilah Rendra sangat reasional dan realistis.

Akan tetapi, sekali lagi, apakah Teater Mini Kata adalah karya Rendra paling berhasil atau justru di luar itu, tulisan ini sama sekali tak hendak membicarakannya. Sebab, seperti dikemukakan sebelumnya yang hendak dilihat dalam tulisan ini bukanlah soal baik buruk. Dengan demikian, juga bukan soal berhasil atau tidak. Yang jelas, inilah sebuah kenyataan tentang Rendra dipandang dari aspek sikap dramatik dan kecenderungan estetikanya.

Tentu saja, paparan kenyataan tak perlu mesti mengurangi keberadaan Rendra yang sudah terlanjur diakui, baik sebagai seniman, maupun di luar kesenian. Betapapun, Rendra  adalah seorang tokoh. Suka atau tidak, kita masih membutuhkan pertokohan yang dimilikinya. Apakah itu terhadap dunia kesenian sendiri secara langsung, atau luarnya. Tapi, sudah barang tentu, Rendra pun tidak cukup hanya dilihat sebagai tokoh dibalik ketokohannya, ia pun perlu dilihat dan dipahami yakni dari sisi kecenderungan estetik dan sikap dramatik yang dianutnya sebagai seniman! ( Ari Batu Bara,  Pengamat Teater).

(Sumber: Kompas, Minggu, 26 Juni 1988, hlm. XIII).

#Artikel ini disalin oleh T.A. Sakti sekeluarga!