Konfrensi Internasional Budaya Sunda

Orang Sunda yang Rusuh
Ayang- ayang gung
gung googna rame
menak ki mastanu
nu jadi wadana
naha maneh kitu
tukang olok-olok
loba anu giruk
ruket jeung kumpeni
niat jadi pangkat
katon kagorengan
ngantos kangjeng dalem
lempa lempi lempong
ngadu pipi jeung no ompong

Lagu di atas hanyalah lagu anak-anak Sunda. Dengan kalimat nyinyir, lagu tersebut menggambarkan kebiasaaan bangsawan Sunda yang cenderung mengikuti kompeni agar bahagia hidupnya. Tak kurang dari seorang Ajip Rosidi, menilai kecenderungan masyarakat Sunda yang lebih mampu ngawula (menjadi pengikut) ketimbang menjadi pemimpin. Karena lebih memilih ngawula, maka kecenderungannya, masyarakat Sunda tak berani melawan’atasan’, tak mau aksi kekerasan. Atau dengan kata lain, masyarakat Sunda tak suka berbuat rusuh.
Lantas sastrawan Sunda yang kini mukim di Jepang itu menyebut kota Bandung yang telah melahirkan banyak pemimpin gerakan nasional. Tapi dari tokoh-tokoh yang muncul, tak ada tokoh dari Sunda. Yang ada, tokoh Jawa atau Sumatera.
Dalam berbagai kesempatan, Gebernur Jabar HR Nuriana selalu menegaskan, tipologi masyarakat Sunda memang tak suka berbuat rusuh. Karenanya, Nuriana cukup bangga jika kerusuhan yang ada di Jawa Barat bisa dilokalisasi. Tidak meluas sebagaimana halnya kerusuhan-kerusuhan di luar Jawa Barat.
Tapi benarkah demikian? Orang Sunda sebenarnya justru sering berbuat rusuh. Coba lihat setiap pagi hari ketika orang hendak berangkat kerja atau pergi ke pasar. Mereka selalu rusuh. Rusuh di sini, tentu saja rusuh dalam bahasa Sunda yang berarti terburu-buru. He he…
Benarkah orang Sunda tak suka melawan? Buktinya, Si Kabayan, selalu melakukan penentangan. Meski hanya kepada mertuanya. Benarkah orang Sunda tak memyukai aksi kekerasan? Buktinya tentara Siliwangi mengejar kelompok DI/ TII. Tentara Siliwangi pula yang memburu Kahar Muzakar.
***
Hal-hal itu, tentu saja hanya sebagian kecil dari problema yang akan dibahas dalam ‘Konferensi Internasional Budaya Sunda’ yang akan dilangsungkan di Gedung Merdeka, Bandung 22-25 Agustus ini. Pencetus konferensi ini adalah Ajip Rosidi, yang begitu gamang dengan perkembangan budaya Sunda. “ Anak-anak muda sekarang tak mengetahui budaya Sunda,” ujar Ajip.
Kenyataan itu ditemukan Ajip selama menyusun eksiklopedi Sunda. Sebab banyak orang yang jarang mengetahui jawabannnya, ketika pihaknya mengonfirmasi berbagai hal untuk entri ensiklopedinya. Ensiklopedi sudah tercetak, dan langkah selanjutnya adalah meneruskannya ketingkat konferensi yang dihadiri banyak pengamat budaya Sunda dari negara lain.
Ajip menjelaskan, banyak naskah kuno Sunda yang meberikan ajaran-ajaran demokrasi dan moralitas, tak tersosialisasikan, lantaran jarang yang bisa membacanya. Naskah-naskah itu, kini banyak tersimpan di Belanda.
Bagi Eep Saefullah Fatah yang juga orang Sunda, upaya ini patut didukung selama tidak mengarah kepada komunalisme. Menurut Eep, upaya mengangkat budaya lokal harus disasarkan pada gerakan demokratisasi.
Perubahan yang mencekam selama ini telah mendorong beberapa kelompok masyarakat memakai agama sebagai langkah penyelesaian. Tapi atas nama agama, mereka kemudian menyerang kelompok lain. Agama menjadi perekat identitas yang dapat memperkuat daya desak terciptanya kerumunan. Itulah yang dimaksud Eep sebagai komunalisme. ‘‘ Budaya lokal mempunyai potensi seperti itu,’’ ujar Eep yang diundang bicara dalam persiapan konferensi internasional budaya Sunda ini, di Jakarta, akhir Juli lalu.
Komunalisme bisa muncul dengan banyak cara. ‘‘Ketika pejabat politik diadili. Komunalisme muncul dengan kerumunan orang-orang yang sedaerah asal dengan tokoh tersebut, untuk kemudian menuntut proses peradilan dihentikan,’’ papar Eep justru menjadi kontraproduktif.
Karenanya, ia mengingatkan, seharusnya upaya membangun budaya lokal di khidmatkan untuk membangun lokalitas yang tersebar di berbagai tempat. “ Karena lokalitas itulah yang memberi kontribusi besar terhadap demokratisasi,’’ Ujar Eep.
Itulah sebabnya, konferensi budaya Sunda ini bisa dijadikan bagian dari gerakan pembugaran budaya. Pemeringkatan dalam berbahasa, kata Eep, layak dibugarkan. Karena pemeringkatan justru menandakan sikap tidak demokratis. Ajip pun sepakat tentang ini. Undak usuk ( pemeringkatan ) dalam Bahasa Sunda, menurut Ajib terjadi karena Belanda – di masa kolonialisme – menginginkan hal itu untuk mendukung kepentingan Belanda. “ Sebelum Belanda masuk, Bahasa Sunda tak mengenal undak-usuk, jelas Ajip. Dalam hal ini, kata Eep, upaya pembugaran budaya dilakukan bukan dengan cara menjaga tradisi sebagai warisan. Melainkan, dengan cara mereaktualisasi tradisi.
Lontaran Ajip soal kecenderungan masyarakat Sunda yang lebih suka ngawula tentulah bukan harga mati. Karena ternyata, yang memilih tindakan itu, adalah kalangan bangsawan. Tapi kalangan bangsawan ini justru mematikan kebudayaan rakyat. Rakyat yang memilki kemampuan untuk tidak ngawula. Masyarakat Baduy, adalah salah satu contoh tentang keberanian masyarakat Baduy tak mengakui organisasi negara. Kini pun, masih ada yang memilih sikap ini dengan cara tak bersedia memiliki kartu tanda penduduk (KTP).
Lantas, tiadanya pemimpin yang muncul dari kalangan Sunda yang masih dipertanyakan. Djuanda – yang nasibnya menjadi pegawai, ataupun Otto Iskandardinata – yang meninggal karena kecelakaan pesawat, dicurigai ‘tersingkir’ karena intrik-intrik. Inilah ketidakberdayaan orang Sunda.
Bahkan, ketidakberdayaan orang Sunda kian lengkap. Ketika nama Sunda Kecil diganti oleh Muh Yamin dengan sebutan Nusa Tenggara. Demikian juga untuk sebutan Sunda Besar yang juga ditiadakan oleh Yamin# pri
( Sumber: Republika, Minggu, 19 Agustus 2001, hlm. 13).

Geliat Si Marginal: Semoga Sastra Aceh Bergeliat Kembali Mengejar Sastra Jawa, Sunda dan Bali!.

Hadiah Sastra Rancage 2006
Geliat Si Marginal
Bahasa daerah yang kesusastraannya’masih hidup’ dan terbit secara berkala berbentuk buku hanya meliputi bahasa Sunda, Jawa, dan Bali.
Bertanya santi – remaja yang lahir dan besar di Jakarta – pada rekan kuliahnya di salah satu universitas swasta yang ada di Jakarta. Sastra itu apa sih?” celetuknya. Sang kawan yang ditanya, tak kalah bingung memberikan jawaban. ‘’Tau tuh,” sahutnya.
Dialog singkat tadi sederhana, tapi cukup jelas untuk menggambarkan bagaimana ‘marginal – nya keberadaan perkembangan sastra daerah di negeri ini. Padahal, sastra daerah itu salah satu pilar pembentuk akar budaya suatu negeri – tak terkecuali Indonesia yang memang di bangun dalam ranah multikultural.
Minimnya publikasi sekaligus apresiasi kepada para penggiat sastra, mungkin menjadi satu dari beragam alasan yang menyebabkan geliat sastra daerah tak sederu layaknya perkembangan dunia sastra pada umumnya. Indikatornya sederhana. Dari sebuah kajian singkat yang dilakukan Yayasan Kebudayaan Rencage pimpinan Ajip Rosidi, penerbitan buku dalam bahasa daerah sepanjang 2005 lalu ternyata tidak mengalami banyak perubahan dibanding tahun sebelumnya.
Bahkan, yang lebih ekstrem telah memperlihatkan kalau bahasa daerah yang kesustraannya ‘masih hidup’ dan terbit secara berkala berbentuk buku hanya meliputi bahasa Sunda, Jawa, dan Bali. Memang di tahun 2004, sempat menghias sastra dari tanah Karo yang menghadirkan buku berjudul Pancala karya Trinagu. Di dalam buku setebal 309 halaman itu termaktub 272 judul puisi.
Terlepas dari minimnya ragam apresiasi kepada para penggiat sastra daerah tadi, maka Yayasan Kebudayaan Rancage telah mencoba rintisannya. Yayasan Kebudayaan ini untuk kali pertama di tahun 1989 memberikan award bagi karya sastra berbahasa Sunda.
Lima tahun selanjutnya penberian award itu merambah pada karya-karya sastra berbahasa Jawa. Dan di tahun 1998, giliran sastra Bali yang dianggap patut diberikan apresiasi.
Kini, Yayasan Kebudayaan Rancage bekerjasama dengan Universitas Pendidikan Indonesia(UPI) kembali ingin memberikan sebuah apresiasi kepada para penggiat sastra daerah. Tajuk yang diberikan adalah Hadiah Sastra Ranacage 2006 dan Hadiah Samsudi 2006. Puncak dari pergelaran tahun itu dilakukan pada 29 April mendatang di Kampus Bumi Siliwangi, Bandung.
Apresiasi berupa Hadiah Sastra Rancage ini diperuntukkan kepada para pengarang tiga sastra daerah – Sunda, Jawa, Dan Bali. Sedangkan Hadiah Samsudi lebih difokuskan buku – buku bacaan anak – anak berbahasa Sunda.
Dalam tulisan panjang Hawe Setiawan – Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage – yang diperoleh Republika beberapa waktu lalu, pihaknya telah menyortir sejumlah karya untuk diperlombakan. Pada sesi penghargaan untuk tahun ini, Hawe mencatat sedikitnya 19 judul buku berbahasa Sunda.
Dibanding tahun sebelumnya, peningkatan judul itu hanya ada tiga saja. Bahkan dari jumlah yang dihimpun sepanjang 2005 itu termasuk diantaranya buku cetak ulang, dan terdapat pula satu judul yang terdiri dari lima jilid.
Sedangkan buku yang terbit dalam bahasa Jawa mengalami peningkatan satu judul dari tahun sebelumnya menjadi enam judul. Tapi, untuk buku sastra Bali justru terjadi penurunan yang signifikan. Jika tahun lalu terdapat 14 judul, maka sepanjang tahun 2005 hanya ada lima judul saja – yang beredar di pasaran.
‘’ bahasa – bahasa daerah lainnya kalaupun menerbitkan buku pada umumnya hanya berupa tanskrip dari ceita rakyat, ’’ tulis Hawe Setiawan.
‘’ Untuk karya – karya seperti itu kami memang tidak memasukkannya kedalam karya – karya yang bisa dinilai oleh juri Hadiah Sastra Rancage.’’
Dari penilaian panjang yang telah dilakukan dewan juri, Hadiah Sastra Rancage 2006 untuk buku berbahasa Sunda bakal diberikan kepada Geus Surup Bulan Purnama karya sastrawan kelahiran Bandung 6 Agustus 1947, Yous Hamdan. Dari aspek jasa penghargaan Rancage ini diberikan kepada Abdullah Mustappa, pria asal Garut yang dianggap telah memberikan sumbangan besar kepada upayanya memelihara kehidupan bahasa dan sastra Sunda.
Sementara pada sastra Jawa anugerah diberikan kepada buku Senthir yang berisikan kumpulan cerita pendek karya Suardi Endra Suara. Dibagian tokoh, terpilih nama Suwignyo Adi Alias Tiwiek Sa.
Sedangkan untuk karya dalam bahasa Bali, judul buku Buduh Nglawang karangan Ida Bagus Wayan Keniten terpilih sebagai pemenangnya. Untuk tokoh yang mengembangkan kesustraan Bali ditetapkan Ida Bagus Gde Agastia sebagai layak memperoleh Hadiah Sastra Rancage 2006. Selanjutnya pada Hadiah Samsudi 2006, penghargaan diserahkan kepada Dongeng – Dogeng Tikarawang karya Darpan, Yudhi Adna, Suhenda Yudha Mulia terbitan pamulang, Tangerang.
Seluruh peraih penghargaan Hadiah Rancage nantinya masing – masing memperoleh piagam serta uang tunai sebesar Rp 5 Juta. Sedangkan Hadiah Samsudi memberikan uang tunai Rp 2,5 juta.
( Sumber: REPUBLIKA, Rubrik Warna, Senin, 13- Februari 2006, halaman 20).

Ketika Sastra Sunda Lebih Bertenaga!

Hadiah Sastra ’’Rancage” 2002
Oleh Ajip Rosidi
Tahun ini Hadiah Sastra “Rancage” akan diserahkan kepada para pengarang yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali dan mereka yang besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan ketiga bahasa daerah itu di wilayahnya masing-masing. Hadiah “Rancage” pertama kali diberikan tahun 1989 hanya untuk sastrawan Sunda saja. Baru kemudian diberikan kepada sastra Jawa (sejak 1994) dan Bali (sejak 1998). Dengan demikian Hadiah Sastra “Rancage” untuk sastra Sunda adalah yang ke – 14 kalinya, sementara sastra Jawa yang ke-9 kalinya dan sastra Bali yang ke-5 kalinya.
Seperti biasa untuk setiap bahasa disediakan 2 macam hadiah, yaitu untuk hadiah karya yang terbit berupa buku dan hadiah untuk jasa. Dengan demikian semuanya ada 6 hadiah. Masing-masing berupa piagam dan uang sebesar Rp 5 juta. Selain itu ada hadiah “Samsudi” yang sejak beberapa tahun tidak diberikan karena tidak ada buku bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda yang terbit.
Tahun 2001 yang lalu, penerbit buku dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali agak ramai, meskipun jumlah penerbit sastra tidak banyak bedanya dari tahun sebelumnya. Buku sastra bahasa Sunda yang terbit tahun 2001 ada 13 judul (tahun 2000 ada 5 judul) . buku dalam bahasa Jawa ada 7 judul (tahun 2000 ada 3 judul) dan dalam bahasa Bali ada 11 judul ( tahun 2000 ada 14 judul).
Untuk sastra Sunda, buku bahasa Sunda yang terbit tahun 2001, jauh lebih banyak dari pada tahun sebelumnya, yaitu ada 28 judul, tetapi kebanyakan berupa buku pelajaran, kamus ( ada tiga buah, diantaranya Kamus Bahasa Naskah dan prasasti Sunda Abad (XI- XVIII), dan kumpulan lelucon dan buku agama. Yang termasuk karya sastra ( roman, sajak, cerita pendek dan esai) ada 13 buah, dan 2 buah buku bacaan kanak-kanak. Dari 13 buah karya sastra, 4 adalah cetak ulang dan 3 merupakan antologi ‘puisi Sunda Modern’ dalam dua bahasa, Sunda- Indonesia, Sunda – Inggris dan Sunda- Perancis yang diterbitkan sehubungan dengan diselenggarakannya Konferensi Intersional Budaya Sunda (KIBS) di Bandung, 22-25 Agustus 2001.
Saya memberi kata pengantar dan menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia ketiga antologi tersebut, sedang terjemahan ke dalam bahasa Inggris dilakukan Dr Wendy Mukherjee dan terjemahan ke dalam bahasa Perancis Dr Henri Chambert- loir. Lembur Singkur roman pendek karangan Abdullah Mustappa, Manehna roman pendek karangan Sjarif Amin, dan Hurip Waras! memoir Ajip Rosidi, merupakan cetak ulang. Yang terbit sebagai buku pertama kali adalah roman Galuring Gendring oleh Tatang Sumarsono dan Silalatu Ganung Salak jilid 6 oleh Aan Merdeka Permanan, kumpulan cerita Dina Kalangkang Penjara oleh Ahmad Bakri, Astra Jingga Gugat oleh Oom Somara de Uci dan Lalakon Bimbang oleh Dian Hendrayan, Catatan Kenangan Basa Bandung Halimunan ditulis H Us Tiarsa dan saya menulis Ucang-ucang Angge. Seperti biasa, cetak ulang dan karangan saya tidak masuk ke dalam karya yang dipertimbangkan untuk memperoleh Hadiah Sastera “Rancage”. Kedua buku bacaan kanak-kanak ialah Aji Pancawardana oleh Hariang Dwipa dan Nu Ngageugeuh Legok Kiara oleh Dadan Sutisna dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah “ Samsudi”.
DINA Kalangkang Panjara memuat empat buah cerita yang agak panjang dari cerita pendek yang biasa (novelet), menunjukkan ketrampilan pengarangnya, Ahmad Bakri (1917-1988) dalam melukiskan kehidupan di pedesaan, terutama pada masa sebelum perang. Tetapi tidak semuanya memperlihatkan kesungguhan sebagai karya sastra. Dua diantaranya (Dina Kalangkang Panjara dan Kacangan ku Paneker) hanya merupakan bacaan ringan yang dikemas dengan rapi dan tangkas, walaupun dua lainnya menunjukkan mutu sastra yang serius (Kalangkang si Jenat dan Di dieu Hate the Reureuh).
Baik Oom Somara de Uci maupun Dian Hendrayana yang menerbitkan kumpulan cerita pendek itu sama-sama lahir tahun 1971. Keterangan ini barangkali dapat menjelaskan mengapa sering kali menemukan penggunaan kata atau kalimat yang aneh oleh keduanya. Bahwa mereka banyak menggunakan kosa kata bahasa Indonesia, merupakan hal sudah dapat diduga. Tetapi ada pemakaian kata Sunda yang tidak lazim. Misalnya dalam karangan Oom Somara terasa aneh penggunaan kata keneh seperti dalam kalimat: Tapi para nagaya keneh maenkeun waditra, atau keneh nagaya. Keneh nu tingharuit atau Cimata keneh ngalembereh. Kata keneh biasanya ditempatkan setelah kata kerja yang diterangkannnya. Jadi berbeda dengan kata “masih” yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Juga kata “papanggihan” yang mungkin maksudnya “papanggih “ (bertemu). Kata “papanggihan” dalam bahasa Indonesia sama dengan
“ Penemuan” atau “temuan”.
Sedang dalam karangan Dian, kata “pireng”, “miring”, “kapireng” dihubungkan dengan penglihatan, bukan dengan pendengaran. Kata “meuweuh” dalam kalimat “ meuweuh disanghareupkeun kan rupa-rupa pasolan”, atau kata “ebat” dalam “teu kumecrek saurang ge tina ebat sanggeus nyeueung kana kaalusanana”,. Atau kata “buah gandrung” dalam kalimat “pada-pada giung ku buah gandrung”, sebab kalau yang dimaksud adalah makanan yang membuat mabuk (giung) yaitu “gadung” maka yang biasa dimakan dan membuat mabuk (“weureu gadung”) adalah ubinya, bukan buahnya. Sedangkan “gandrung” adalah semacam tumbuhan seperti jagung yang bijinya biasa ditanak menjadi semacam nasi dimakan dengan parutan kelapa atau dibuat borondong. Tak pernah membuat “giung” atau mabuk. Juga kata “melak cangkeng” aneh karena yang biasa adalah “nulak cangkeng”. Atau kata “teumangkuk” dalam kalimat “Teumangkuk salawe urang”, karena kata tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu.
Hal itu disebabkan karena mereka kurang akrab dengan penggunaan bahasa Sunda dalam karya-karya sastra yang telah menjadi klasik terutama yang berasal dari masa sebelum perang seperti karya DK Ardiwinata, Moh Ambri, Rhad Memed Sastrahadiprawira ada yang pernah dicetak ulang. Tidak adanya contoh penggunaan bahasa yang baik, mempunyai pengaruh buruk kepada para pengarang muda dalam penggunaan bahasanya, apalagi kalau mereka malas membuka kamus. Mereka banyak menggunakan kata-kata yang didengar dari percakapan selintas sehingga menimbulkan masalah penulisannya atau dari teks yang sembarangan.
Sepuluh cerita yang dimuat dalam Lalakon Bingbang, memperlihatkan berbagai tema yang menjadi minat Dian Hendrayana dalam penulisan cerita pendek. Yang berdasarkan Ramayana, menyimpang dari babon, karena Rama mencurigai Lasmana, sedang Dewi Sinta dan Rahwana yang menculiknya “ keur sono pogot nyareung seup madu asmara dina oleng galura sagara birahi” ( penuh rindu menghisap madu asmara dalam luapan lautan berahi) dalam “ Kalangkang Riwan”. Penyimpangan atas kisah lama yang dimulai oleh Godi Suwarna agaknya kemudian menjadi mode.
Kisah Perang Bubat diberi polesan baru dengan munculnya Ki Danar Kusuma yang ditugaskan melukis putri Pajajaran Citraresmi yang cantik oleh Parbu Hayam Wuruk dan meraruh hati terhadap sang puteri ( “ Lalakon Bimbang”). Tapi kebanyakan cerita Dian adalah tentang kehidupan masa kini seperti buah yang diperlakukan dengan kekerasan oleh majikan (“ kaca-kaca pereus”), anak yang dibawa ibunya kekota sebagai pengemis menyaksikan peresmian tugu oleh menteri sebagai penghargaan terhadap kota yang disebut “ telah berhasil membangun dan memajukan rakyatnya…”(“Tugu”) kehancuran moral orang kota termasuk anak-anak ( “ Pigura-pigura Rengat”, “ Pulas-pulas Parias “ dan” Kalakay-kalakay mumarurag”). Yang yang menarik dan paling baik adalah “ Kembang-kembang Lengkuang” yang melukiskan perasaan anak muda yang mengalami kelainan seksual.
Roman Galuring Ganding karangan Tatang Sumarsono sebagai naskah memenangkan hadiah DK Ardiwinata dalam sayembara mengarang yang diselenggarakan paguyuban pasundan.
(——————–hampir separuh kolom ini tak dapat disalin karena kertasnya koyak akibat terendam dalam lumpur Tsunami Aceh,2004———————T.A.Sakti, 23-8-2015 pkl 16.45)
“ Rancage “2002 untuk karya dalam bahasa Sunda Galuring Gending roman karangan Tatang Sumarsono. Sedang Prof Dr H Edi S Ekadjati, karena jasanya memperkenalkan orang Sunda akan sejarah dan kekayaan batinnya dalam naskah-naskah peninggalan nenek moyang akan menerima Hadiah Sastra “Rancage” 2002 untuk jasa. Prof Dr H Edi S Ekadjati, lahir di Kuningan, 25 Maret 1945.
Hadiah untuk sastra Jawa
BUKU sastra dalam bahasa Jawa yang terbit tahin 2001 ada 9 judul, dua merupakan suntingan teks dan terjemahan sastra klasik ke dalam bahasa Indonesia, yaitu serat sana sunu karya R Ng Yasadipura II oleh J Siti Rumijah dan Suluk Wujil oleh Sri Harti WidiaSTuti. Yang berupa karya sastra Jawa modern adalah kumpulan geguritan ( sajak) Kitib Tengah Wengi oleh Widodo Basuki. Layang Saka Alam Kelanggengan dan Layang Menyang Suarga yang ditulis Dr K R T R M T Sudiatmana, roman Maskumambang oleh FC Pamudji ( Naniek PM ) dan Sirah oleh AY Suharyono dan kumpulan cerita pendek kretek Emas Jurang Gupit Oleh Djajus Pete. Disamping itu ada antologi geguritan para pengarang yang gerbang kertasusila ( Gresik, Bangkalan, Majakerta, Surabaya, Sidaharja, dan Lamongan) berjudul Kabar Saka Bendulmrisi yang disunting Suharmono Kasiyun.
Setelah dipertimbangkan dengan cermat, maka buku karya sastra Jawa yang patut mendapat Hadiah Sastera “ Rancage” 2002 untuk karya ialah Kereteg Emas Jurang Gupit kumpulan cerita pendek Djajus pete (lahir 1946 di Ngawi) terbitan Yayasan Pinang Sirih dan Dewan Kesenian Jawa Timur. Buku ini memuat sepuluh cerita pendek Djajus yang sebelumnya pernah dimuat dalam majalah Panjebar Semangat (5 buah) dan Joyoboyo (5 buah) dalam tahun 1986-1998. Cerita “ Tikuslan Kucinge Penyair” yang semula dimuat dalam Panjebar Semangat, mendapat hadiah sastra dari Sanggar Sastra Triwida Tulung agung (1995), sedangkan “kaskus” dan “ Bedung” dianggap cerita terbaik yang pernah dimuat dalam Panjebar Semangat masing-masing untuk penerbitan tahun 1989-1992 dan 1993-1997. Tahun 1998 Djajus Pete mendapat piagam penghargaan sebagai pengarang Sastra Jawa Terbaik dari Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta.
Sedangkan hadiah jasa untuk sastra Jawa tahun ini akan diberikan kepada Dr KRT RMT Sudiyatmana (lahir Surakarta, 28 Maret 1937). KRT RMT Sudiyatmana adalah pakar bahasa dan sastra Jawa yang banyak menulis buku tentang bahasa, sastra dan kebudayaan Jawa, antara lain Sarwa Puspita (1986), Basa Jawa saya murakabi (1987), Sabdatama ( 1989), Upacara pengantin Jawi (1990), Arga Sita Tuwin Bagus Rama (1991), Urip Tenteram Raharja (1992), Pustaka Twin Sastra (1999), Saka Simpang Lima Semarang Ngliwati Harbour Bridge Sydney ing Simpang Pitu Kudus (1999), Dan disamping itu iapun menulis geguritan yang diantaranya diterbitkan dalam kumpulan Simpang Lima
Hadia untuk Sastra Bali
Buku sastra Bali modern yang terbit tahun 20011 ada 11 judul, terdiri dari 2 novel, 2 kumpulan cerpen, dan antologi puisi. Selain itu, terbit juga 3 edisi Majalah Satwa (cerita), yang khusus memuat cerita pendek. Majalah ini direncakan terbit setahun 3 kali. Dari jumlah ini, satu kumpulan puisi merupakan antologi bersama diterbitkan untuk mengenang hari pahlawan perang Puputan Klungkung (1908) dan satu antologi cerpen yang merupakan kumpulan cerpen hasil sayembara yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Denpasar tahun 2000.
Semarak kehidupan sastra Bali modern dewasa ini ditandai dengan berbagai faktor. Pertama, tampilnya penyair muda berbakat seperti Iputu Gede Suwata ( menerbitkan dua antologi puisi Majugjag bertengkar dan Magantung Tergantung). Penyair muda lainnya seperti Luh Suwita Utami dan LP Manika Hermayuni juga aktif mencipta. Puisinya terbit dalam an tologi bersama dan majalah Bahasa dan sastra Bali serta di Harian Bali Post.
Kedua, tampilannya sastrawan yang semula mencipta dalam bahasa Indonesia, mulai menulis karya sastra berbahasa Bali seperti IGP Samargantang yang menerbitkan antologi puisi Aab jagat (perangai jagat) dan IDK Raka Kusuma yang menerbitkan prosa lirik kidung I lontar rograg (Balai 1 Lontar Compang – Camping).Raka Kusuma juga menerjemahkan karya sastra Indonesia kedalam bahasa Bali,menyunting antologi,dan menjadi redaktur majalah Buratwangi(sejak 1999).
Ketiga, sastrawan- sastrawan peraih Hadiah Sastra Rancage seperti I Nyoman Manda dan Made Sanggra (tahun 1998),Komang Berata (1999),I Gde Dharna dan I ketut Rida (2000) terus aktif mencipta. Dalam deretan itu ,Nyoman Mandala yang paling produktif, tahun 2001 dia menerbitkan kumpulan puisi Beh,kumpulan cerpen Hilang,dan Novel Bunga Gadung ulung Abancang(kembang Gadung Gugur setangkai).Bersama Made Sanggra,Nyoman Manda juga menjadi pemrakarsa dan penyunting majalah Canang Sari (terbit sejak 1998) dan majalah satwa (terbit sejak 2001).
Dunia sastra Bali modern juga semarak karena munculnya nama lama dengan karya baru. Dialah Djelantik Santha.Novel pertamanya Tresnane Lebur Ajur Santodene Kembang (Cinta layu Sebelum Berkembang)terbit secara bersambung di harian Bali Post awal 1980 yang kemudian terbit menjadi buku tahun 1981(?).Sesudah dua dekade “menghilang”Djelantik Santha tiba-tiba muncul dengan novel baru berjudul Sembalun Rinjani (2001).Novel ini diterbitkan dan diberi “ penghargaan Cakepan 2001” oleh majalah sarad,majalah berbahasa Indonesia dengan isi liputan seputar masyarakat, adat, dan Budaya Bali.
Setelah memperhatikan kualitas karya-karya yang terbit tahun 2001,maka yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastera “Rancage” 2002 untuk karya dalam bahasa Bali adalah roman berjudul Sembalun Rinjani karya Djelantik Santha (12 Agustus 1944) terbitan Majalah Sarad,Denpasar .Sementara sastrawan yang terpilih untuk meraih Hadiah Sastra “Rancage”2002 untuk jasa atas sumbangannya dalam mengembangkan bahasa dan sastra Bali modern adalah IDK Raka Kusuma (lahir di Klungkung ,21 November 1957). (Sastrawan dan Kritikus sastra.Sejak tahun 1980,mengajar di Osaka University of Foreign Studies,Jepang).
(Sumber: Media Indonesia,Minggu,3 Februari 2002, hlm. 17).

Ketika Rakyat Aceh Membela Negara Republik Indonesia Yang Baru Merdeka Seumur Jagung!

SEPUTAR PERANG KEMERDEKAAN
Kenang-Kenangan Dari Semenanjung Tanah Melayu

DALAM memperingati 50 tahun Indonesia merdeka saya ingin menceritakan sedikit pengalaman dan kenangan saya yang ada hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan selama saya berada di Semenanjung Tanah Melayu yang duhulu masih disebut Malaya. Itu antara tahun 1948-1949. Saya dan beberapa orang kawan,diantaranya M Nur Nikmat (sekarang Ketua Umum Aceh sepakat Medan) berada di sana dalam perjalanan untuk melanjutkan perjalanan keluar negeri tetapi gagal oleh beberapa sebab. Tetapi selaku Anggota Tentara Pelajaran Islam (TPI) yang diperbantukan pada Markas Batalion Istimewa Mujahidin di Sungai Liput Aceh Timur (setelah jatuhnya Tanjung Pura ke tangan Belanda), kami yang di luar negeri itu, mendapat tugas dan pesan agar turut membantu para pejuang kita yang sering hilir mudik antara Penang-Aceh .
Tugas para pejuang kita di Malaya termasuk Singapore adalah membawa barang-barang dagangan secara barter, memasukkan atau menyelundupkan senjata dan logistik, mencari dana atau devisa. Di samping itu juga melakukan tugas-tugas intelijen dan mencari berbagai informasi untuk kepentingan perjuangan . Pada masa itu Malaya masih dibawah kekuasaan Inggris, tetapi secara umum tidak memusui perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mungkin dari bisnis juga menguntungkan Malaya. Bahkan di Singapore tak ada hambatan untuk Indonesia yang membuka kantor Perwakilan Republik Indonesia dan di Penang ada juga konsulat Indonesia.

Aceh ketika itu sebagai daerah yang bebas dari kedudukan Belanda, maka para pedagang dan pejuang dari Aceh bebas melakukan perdagangan dan barter. Banyak terdapat kantor-kantor perdagangan orang Aceh di Penang. Bahkan dari sini mereka melakukan import ekspor dengan negara-negara lain seperti India, Pakistan, Ceylon, Thailand, Burma, Hongkong, Inggris dan negara-negara Arab.
Pesatnya hubungan perdagangan antara Aceh dan Penang seolah mengulangi kejayaan masa lalu. Dulu di Acheen Street (Leboh Aceh) Penang, banyak bermukim para saudagar Aceh. Komoditi yang utama pada waktu itu….(2 baris hilang) …….yang di dirikan oleh Wakil Presiden Moh.Hatta. 4 Ali Basyah H.Tawi. 5 Indocolim. 6. Petraco, 7 HM Syarif & Sons. 8 Toko Meuraxa, 9. Indo Malaya. Selain dari itu banyak juga perusahaan orang-orang Cina dan India yang asal Aceh atau yang pernah mengadakan perdagangan dengan Aceh. Disamping para pedagang, banyak juga para pejabat, pejuang dan tokoh militer yang hilir mudik. Ada juga para penyelundup yang halunya disebut smokkelar. Selain OA dan Jakfar Hanafiah, tokoh-tokoh yang saya kenal sering hilir mudik Aceh Penang adalah Lektol Hasballah Daud, bekas komandan Mujahiddn dan putraTgk. Daud Beureu’eh, Abdullah Arif wartawan surat kabar Semangat Merdeka Kutaraja dan Staf Penerangan Div X TRI, Kapten Nip Karim yang dikenal sebagai tokoh pejuang dan penyelundup dari front Medan Area,Abdullah Nyak Husin ataulebih dikenal Abdullah NH, yang ini adalah bekas Wedana Langsa dan perwira polisi di Aceh, Kolonel Hasballah Haji/Gajah Mada, ketika itu sebagai komandan Resimen 1/KSBO Medan Area, Tjik Mat Rahmany yang sebagai kepala Staf Div Tgk Tjik Di Tiro dan lain-lain yang saya tidak ingat lagi.
Perdagangan antara Aceh dengan Malaya berjalan baik, hanya bahayanya jika dicegat di tengah laut Selat Malaka oleh patroli Belanda. Untuk melumpuhkan kekuatan kita, Belanda sering memblokir laut seputar Aceh. Para pedagang Aceh yang ada di Malaya, selain melakukan kegiatan bisnis juga turut membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan cara menyumbang dana dan perlengkapan, memberikan berbagai fasilitas kepada para pejabat dan pejuang yang singgah di Penang dan turut memasarkan produk ekspor milik pemerintah. Dalam usaha mencari senjata untuk membeli, para pejabat turut dibantu oleh pedagang dan juga orang-orang Aceh yang ada dinegeri Yan kedah. Dalam pengumpulan dan untuk membeli dua pesawat terbang yang disumbangkan kepada pemerintah pusat, para pedagang kita di Penang turut juga membantu. Dana ini dikumpulkan oleh T. Manyak selaku Wakil Gabungan Saudara Indonesia Daerah Aceh (GASIDA). Tentang pembelian pesawat ini baiklah saya singgung sedikit mengingat adanya …….(hilang sedikit akibat dirusak lumpur tsunami Aceh)…..pendapat bahwa kemungkinan uang itu sudah dibelikan senjata dan perlengkapan untuk perjuangan melawan Belanda.
Saya mengetahui ini karena sekitar bulan Desember 1948 atau awal tahun 1949 saya yang masih golongan pemuda ini ikut musyawarah yang diadakan di kantor NV. Permai di Penang. musyawarah itu dihadiri oleh OA. T Manyak, Ali Basyah H Tawi, H Muhammad ERRI, Hasballah Daud, Abdullah Arif, Nip Karim dan beberapa pedagang lainnya. Bahwa ada sejumlah uang yang mungkin dikirim ke pemerintah pusat karena sulitnya perhubungan dan tidak berjumpanya para penyampai amanah ini dengan Mr Utoyo Ramelan, Kepala Perwakilan RI di Singapore. Maka atas instruksi dari penguasa di Aceh, uang itu akan dibelikan senjata dan perlengkapan dan akan dikirim dengan speed boet ke Aceh.
Uang Palsu
Berikut ada dua peristiwa yang mengesankan yang masih saya kenang, yaitu tentang uang palsu dan penyunludupan senjata. Pada masa-masa perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan ketika itu, pemerintah sangat membutuhkan uang untuk berbagai keperluan . berbagai jenis mata uang yang dikeluarkan seperti ORI, ORIPS, ORIPSU, sementara yang khusus dikeluarkan di Aceh adalah uang yang disebut URIKA dan URIBA, bahkan suatu ketika terjadi keadaan yang mendesak maka alat pengeluaran yang sah ini dikeluarkan dalam bentuk Bon Kontan yang terkenal Bon OA (Oesman Adami) uang itu dikeluarkan dengan tidak dukungan jaminan emas, bahkan dicetak secara besar-besaran sesuai dengan kebutuhan sehingga terjadi inflasi. Kiranya uang yang beredar itu tidak hanya dicetak di Aceh, tetapi juga dicetak di Penang oleh orang lain yang merupakan uang palsu. Saya mengetahui ini secara kebetulan.
Pada waktu kedatangan saya dan kawan-kawan di Penang sekitar April 1948, kami menumpang selama 20 hari di sebuah bangunan, bekas sebuah toko yang bermerek ”Indo Malaya”, terletak di Penang street. Perusahaan tersebut itu tidak aktif lagi dan kami tidak tahu siapa pemiliknya. Hanya seorang bekas pegawainya yang kami kenal, sebut saja namanya Yusuf Idris, orang Aceh. Beliaulah yang memberi tumpangan kepada kami di bangunan kosong itu. Sedangkan Yusuf Idris tidak tinggal di sini. Dia punya pemondokan sendiri. Ketika membenahi dan membersihkan ruangan di atas, kami berusaha membuka sebuah WC yang pintunya tertutup dan terpaku tetap seperti layaknya WC yang tidak terpakai lagi. Waktunya pintu tersebut terbuka, alangkah terkejutnya kami melihat ribuan uang kertas tumpah berhamburan keluar dari WC. Setelah kami teliti ternyata uang kertas palsu Republik Indonesia seperti yang dikelurkan di Aceh. Saya tidak ingat lagi URIKA atau URIBA, tetapi bernila Rp 5,- (Lima Rupiah). Barangkali sekarang ini setara dengan lima Ratus Rupiah. Sebagian sudah dipotong dalam ukuran lembar uang dan sebagian lagi masih dalam lembaran-lembaran kertas besar yang terdiri atas enam lembar uang.
Alangkah banyaknya uang itu. Waktu ditumpuk sekitar satu meter kubik. Karena kami merasa takut dan perasaan hati tidak enak, maka kami sepakat uang palsu itu kami bakar semua. Untuk membakarnya diperlukan dua….rusak lagi…..
kepada polisi, takut kalau-kalau kami ditahan. Maklum kita di negeri orang. Tetapi dua lembar uang itu saya kirim ke Markas Divisi x TNI/Mujahidindi Sungai Liput, tempat saya pernah bertugas. Saya mohon perhatian Markas, kemungkinan uang palsu seperti itu telah lama beredar di Aceh terutama Aceh bagian Timur dan Langkat. Temuan tersebut juga kami laporkan kepada Bpk Hasballah Daud dan Abdullah Arif yang pada waktu itu berada di Penang untuk dilaporkan ke Kutaraja.
Kemudian hari setelah kita sempurna bebas dari pejajah, dan zaman pun sudah normal, sekitar Tahun 1952, orang yag bernama Yusuf Idris itu pernah ditangkap di Medan dan dihukum dua tahun penjara karena kasus uang palsu juga. Sekarang ia sudah meninggal dunia di Penang.

Menyelundupkan Senjata
Mengenai penyelundupan senjata, seperti saya ceritakan di atas, bahwa diantara tugas para pejabat dan pejuang kita di Malaya adalah mencari dan membeli senjata, yang dibantu juga oleh para pedagang dan orang-orang kita di kota Yan, Kedah. Barang-barang tersebut dikumpulkan dan dibeli dari orang-orang Cina dan Siam, diantaranya berasal dari gerilyawan Komunis Malaya pimpinan Cheng Pin, yang ternyata mereka membutuhkan uang. Ada juga senjata-senjata itu berasal dari anak kapal Inggris dan Amerika.
Saya tidak sepenuhnya tahu seluk beluk perdagangan senjata yang penuh resiko itu. Umumnya pusat-pusat pengumpulan senjata itu, antara lain di Sungai Perlis, lautan Perlis-Thailand, Pulau Langkawi, Balik Pulau, sebuah negeri di sekitar Pulau Pinang dan juga di Pulau Pinang. Pada suatu malam saya diajak oleh Bpk Hasballah Daud men…………….selanjutnya isi artikel dalam kolom terakhir ini telah hilang/robek separuh kolom. Kalaupun saya salin bacaaannya tidak sempurna, maka tidak saya salin lagi. Seingat saya, penulis artikel ini adalah: Abd. Wahab Gam-Balee Seutui, Aceh Utara. Artikel ini disalin kembali oleh putra saya yang pertama, kecuali sub judul “menyelundupkan senjata”
Bale Tambeh, 13 Agustus 2015, malam, jam 22.07, T.A. Sakti
( Sumber: Serambi Indonesia, Rubrik REMAJA, Minggu, 9 Juli 1995 hlm…)

Menyambut HUT Kemerdekaan Negara Republik Indonesia ke-70 (17 Agustus 2015): Peran Surat Kabar “Semangat Merdeka” di Aceh dalam Mendukung Perang Kemerdekaan Republik Indonesia(1945-1949)

SEMANGAT MERDEKA, SURAT KABAR PERTAMA DI ACEH SETELAH INDONESIA MERDEKA

Oleh: T.A. Sakti

A. Ringkasan ‘Profil’ Suratkabar Semangat Merdeka

– Semangat merdeka diterbitkan oleh organisasi pemuda yang kemudian diberi nama IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin A. Hasjmy (Ketua Umum).

– Semboyan/motto Semangat Merdeka ialah “Surat Kabar Pembimbing Semangat dan Penjunjung Republik Indonesia”.

– Penerbit Semangat Merdeka pada awalnya adalah Badan Penerbit Semangat Merdeka Koetaradja.
– Suratkabar Semangat Merdeka terbit sejak tanggal 18 Oktober 1945 sampai tanggal 14 September 1950. Pada mulanya terbit tiap-tiap hari Selasa, Kamis, Sabtu.

– Seingat A.Hasjmy pemberian nama suratkabar dengan nama “Semangat Merdeka” adalah atas usul Abdullah Arif.

– Pendiri Semangat Merdeka ialah bekas pemimpin/pengasuh suratkabar Jepang: Atjeh Sinbun.

– Percetakan yang digunakan mencetak Semangat Merdeka juga bekas percetakan Atjeh Sinbun.

– Atas persetujuan para pendirinya, tanggal 3 November 1945, Pemerintah Daerah Aceh Republik Indonesia mengambil alih penerbitan Semangat Merdeka, sedangkan pimpinan dan karyawannya tetap seperti semula.

– Badan penerbit pemerintah daerah Aceh ini bernama: Pejabat Penerangan Umum Republik Indonesia Daerah Aceh di Koetaradja.

– Sejak tanggal 1 Desember 1945, semangat Merdeka sudah mampu terbit setiap hari, kecuali hari Ahad. Jadi, Semangat Merdeka adalah suratkabar harian pertama yang terbit di Aceh setelah Indonesia Merdeka.
– Para pengelola Semangat Merdeka, yaitu:
Para pengelola Semangat Merdeka, yaitu:
Pemimpin Umum : A. Hasjmy
Wakil Pemimpin Umum : Amelz
Staf Redaksi/Para Redaktur : Abdullah arif, Teuku Alibasyah Talsya dan
Ridwan.
Pemimpin Tata Usaha : Abu Bakar dan Syarif Alimy.
*Semua pegawai bekas percetakan Atjeh Sinbun tetap menjadi karyawan Percetakan Semangat Merdeka.
*Akhirnya tahun 1946 setelah A. Hasjmy mengalami berbagai kesibukan perjuangan di bidang lain, maka yang menggantikan beliau sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab suratkabar Semangat Merdeka ialah AMELZ (Abdul Manaf el Zamzamy; – yang kemudian menjadi pendiri Badan Penerbit “Bulan Bintang” di Jakarta).

– Pada awal penerbitan Semangat Merdeka pernah mengalami krisis/kesulitan kertas. Oleh karena Semangat Merdeka lakunya laris sekali, maka setelah habis kertas koran sisa Atjeh Sinbun, terpaksalah dicetak di atas kertas serat ubi dan di atas kertas doorslag, yang hanya bisa dicetak pada satu sisi saja.

– Lokasi kantor suratkabar Semangat Merdeka adalah belasan meter di sebelah utara Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (bangunan lama mesjid itu, tahun 1945-1950).

– Jumlah oplah/eksemplar Semangat Merdeka berkisar antara 2500-3000,- eksemplar.

– Peredaran/penyebaran Semangat Merdeka, selain di Aceh juga ‘diseludupkan’ kepada pusat-pusat pertahanan kita seperti ke Yogyakarta, Bukittinggi dan selainnya; termasuk kepada perwakilan-perwakilan negara Indonesia di Malaya, India, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

B. Tinjauan Dan Analisis Isi Semangat Merdeka
Untuk menelusuri peranan suratkabar Semangat Merdeka semasa perang kemerdekaan Republik Indonesia, akan dilakukan tinjauan dan analisis beberapa unsur dari isi suratkabar tersebut. Di antara isi yang akan dianalisa ialah berita dalam negeri, berita luar negeri. Seruan-seruan/pengumuman dan tajuk rencana. Penulisan isi suratkabar akan ditulis dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), hanya kutipan-kutipan panjang yang tetap ditulis sebagaimana ejaan aslinya..

1. Berita dalam negeri
Berita yang berjudul “Negara Republik Indonesia telah diakui” yang dimuat suratkabar Semangat Merdeka terbitan Selasa, 23 Oktober 1945 memberitakan pengumuman resmi penguasa tertinggi pasukan Sekutu untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Singapura. Pengumuman itu bersisi empat masalah. Pertama, Panglima Sekutu bagi Indonesia Jenderal Philips Christison tidak diberi kuasa untuk mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia. Kedua, kepada Jenderal Philips Christison hanya diperintahkan untuk melucuti senjata tentera Jepang dan menjaga keselamatan tawanan-tawanan Sekutu di Indonesia. Ketiga, urusan politik dalam negeri Indonesia diserahkan dan diakui keberadaannya di bawah pemerintahan Republik Indonesia, yang telah dibangunkan oleh rakyat Indonesia sendiri. Keempat, bila pelucutan senjata telah selesai, urusan pemerintahan Indonesia hanya akan diawasi oleh pucuk pimpinan tentera Sekutu Asia Tenggara di Singapura.
Pengumuman resmi Admiral Lord Mountbetten sebagai pimpinan tertinggi tentera Sekutu di Asia Tenggara tentu memberi pengaruh positif bagi rakyat daerah Aceh yang sedang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pelarangan terhadap pasukan Sekutu mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia, bisa ditafsirkan sebagai suatu bentuk pengakuan tentang berdirinya negara Indonesia yang baru dua bulan lebih diproklamirkan. Pengakuan wewenang pemerintahan Republik Indonesia untuk mengatur urusan politik dalam negeri, merupakan lambang pembenaran, bahwa bangsa Indonesia sudah mampu mengatur negaranya sendiri. Tentang perlucutan senjata Jepang, bisa menggugah pikiran rakyat daerah Aceh bahwa keperkasaan sebuah bangsa sering ada pasang-surutnya. Bangsa Jepang yang dulu kuat, setelah dikalahkan tentera Sekutu telah berubah menjadi bangsa tak berdaya. Pembenaran pihak Sekutu bagi pemerintah Indonesia untuk mengurus sendiri urusan dalam negeri, bisa berarti bangsa Indonesia pun bisa menjadi sebagai bangsa yang perkasa seperti Jepang, sekiranya bangsa Indonesia tetap mampu mempertahankan kemerdekaannya. Isi suratkabar Semangat Merdeka itu sanggup membangkitkan semangat rakyat daerah Aceh untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman tentera Belanda yang membonceng Sekutu.
Suratkabar Semangat Merdeka terbitan tanggal 24 Nopember 1945 memuat berita utama di halaman depan dengan judul “Hukum Perang Sabil pada masa sekarang ini adalah Fardlu ‘Ain, bukan Fardlu Kifayah lagi”. Judul berita yang dicetak dengan huruf yang besar-besar serta mengisi tiga perempat lebar halaman depan itu adalah berasal dari kutipan ucapan Teungku H.M. Hasan Krueng Kale seorang ulama kenamaan di daerah Aceh, terutama sangat dihormati rakyat di Aceh Besar. Teungku H.M. Hasan Krueng Kale menyebut hukum perang sabil itu bertempat di Mesjid Raya Kutaraja (Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sekarang) di hadapan para ulama terkemuka serta masyarakat pada rapat pembentukan Barisan Hizbullah daerah Aceh. Kalangan ulama terkenal yang ikut hadir pada rapat tersebut antara lain ialah Teungku (Tgk.) Sayed Abdullah Kajhu, Tgk.H. Ahmad Hasballah Indrapuri, Tgk. H. Makam Gampong Blang, Tgk. Mohd. Ali alias Tgk. Lam Pisang Kreung Kale, Tgk.M. Daud Beureueh, Tgk. Abdul Wahab Selimum dan lain-lain.
Pernyataan Tgk.H.M. Hasan Kreung Kale yang mengatakan hukum perang sabil (perang melawan kafir) menjadi fardlu ‘ain, yakni yang wajib dikerjakan oleh setiap pribadi ummat Islam sebagaimana kewajiban shalat; tentu menumbuhkan semangat jihad bagi para peserta rapat itu. Oleh karena pernyataan itu ikut disiarkan sebagai berita paling utama suratkabar Semangat Merdeka, ucapan tersebut bisa pula membangkitkan semangat jihad bagi para pembacanya. Di antara alasan yang dapat penulis kemukakan, bahwa berita itu mampu menggugah rakyat ialah karena ketokohan Tgk.H.M. Hasan Krueng Kale sebagai ulama besar sudah cukup luas dikenal masyarakat. Lebih-lebih lagi ucapan tersebut dilontarkan di depan para ulama sekaliber beliau pula. Harus pula disebutkan, bahwa ucapan itu dikemukakan pada rapat pembentukan Barisan Hisbullah, yaitu persatuan laskar rakyat yang dipimpin para ulama daerah Aceh untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Atas inisiatif suratkabar Semangat Merdeka memuat berita pembentukan Barisan Hizbullah daerah Aceh serta mengutip pula perihal hukum perang sabil itu, tentu mampu menggerakkan rakyat daerah Aceh untuk bergabung menjadi anggota Barisan Hizbullah atau mendaftarkan diri pada kelompok-kelompok perjuangan yang lain, karena perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu hukumnya fardlu ‘ain, yaitu wajib bagi setiap pribadi muslim.
Dalam Semangat Merdeka terbitan Kamis, 25 Oktober 1945 halaman 2 menurunkan berita berjudul “Uang Republik Indonesia segera akan dikeluarkan”. Selain menjelaskan bahwa mata uang Republik Indonesia segera diedarkan, berita itu juga memberi tahu masyarakat tentang dilarangnya menggunakan mata uang NICA (Netherlands Indies Civil Administration) sebagai alat tukar dalam jual-beli. Berita peringatan yang berasal dari Wakil Presiden Mohamad Hatta itu dikirim melalui telegram (surat kawat) kepada Komite Nasional Kutaraja. Bagian penting lainnya dari isi berita itu ialah suatu ketentuan bahwa alat penukar yang sah saat itu adalah mata uang Javasche Bank dan uang Nippon (Jepang).
Berita tentang akan segera beredar mata uang sendiri negara Republik Indonesia memberi kesan bahwa Republik Indonesia benar-benar sanggup memerintah diri sendiri. Keyakinan itu bisa memperteguh kepercayaan rakyat dan menghilangkan sikap ragu-ragu sebagian rakyat yang belum percaya penuh bahwa bangsa Indonesia sanggup mengatur dan membiayai negara yang baru merdeka itu. Larangan menggunakan uang NICA dan anjuran penggunaan uang Javasche Bank serta mata uang Jepang, menunjukkan sikap tegas Pemerintah Republik Indonesia yang menolak kedatangan Belanda menjajah kembali Indonesia yang telah merdeka. Kepercayaan diri ini memperteguh jiwa juang rakyat Indonesia umumnya dan rakyat daerah Aceh khususnya untuk berkorban mempertahankan kemerdekaan yang sudah dicapai saat itu.
“Semangat Republik di dusun-dusun”, demikian judul berita suratkabar Semangat Merdeka edisi Sabtu, 21 Oktober 1945 yang memberitakan dua peristiwa rapat umum menyambut kemerdekaan di dua desa yaitu di Sibreh dan Seunelop Aceh Besar. Rapat umum yang dihadiri ribuan pendengar itu bertujuan mengupas serta menjelaskan soal-soal berkenaan kemerdekaan.
Mengawali acara dilakukan penaikan Sang Merah Putih diiringi oleh Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Para pembicara di Seoneulop secara berturut-turut adalah Said Usman dari Markas Daerah API (Angkatan Pemuda Indonesia), A. Hasjmy sebagai Ketua Pusat PRI (Pemuda Republik Indonesia) Daerah Aceh, Tgk.H. Hasballah Indrapuri, dan Said Abubakar. Para pembicara di Sibreh yang rapat itu berlangsung dua hari kemudian ialah Tgk. Ismail Jakoeb dari Badan Penerangan Pusat Komite Nasional Daerah Aceh, A. Hasjmy, Tgk.H. Hasballah Indrapuri, Tgk. Lamjabat, T. Waki Harun dan T. Oesman Kepala Mukim VII Baet.
Bagi pembaca Semangat Merdeka yang membaca berita tersebut di atas, akan menambah wawasan kemerdekaan mereka bahwa soal Indonesia merdeka bukanlah sekedar urusan kaum elit yang tinggal di kota-kota, tetapi merupakan masalah bersama segenap rakyat Indonesia di mana saja mereka berada, tak terkecuali bagi penduduk daerah Aceh yang menetap di desa-desa. Penaikan bendera Merah Putih yang diiringkan lagu kebangsaan Indonesia yang dinyanyikan penuh semangat tentu memberi sentuhan sangat mendalam bagi rakyat desa yang mengalir pada keyakinan, bahwa Indonesia benar-benar telah merdeka; maka mesti dipertahankan buat selama-lamanya. Turut sertanya para ulama pujaan rakyat dalam rapat umum menyokong kemerdekaan itu, jelas mencetuskan sikap makin percaya kalangan rakyat desa terhadap kewajiban mendukung kemerdekaan Indonesia. Pemuatan berita rapat umum dalam Semangat Merdeka, berarti makin memperluas gema dari rapat mengelu-elukan kemerdekaan Republik Indonesia.
Suratkabar Semangat Merdeka terbitan, Kemis, Tanggal 1 Nopember 1945 halaman 1 dengan kepala berita yang berbunyi “van Mook bermusyawarat dengan Presiden kita”. Berita itu sangat singkat, tetapi memiliki nilai amat penting; sehingga dijadikan berita utama pada penerbitan hari itu.
Isi lengkap berita itu sebagai berikut: “Radio San Fransisco 30-X. Permoesjawaratan jang telah dianggap resmi diantara Presiden Soekarno dengan van Mook telah ditentoekan dimoelai pada hari Selasa ini di Djakarta”.
Berita akan berlangsungnya perundingan antara Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno dengan Dr. A.J. van Mook sebagai pemimpin utama NICA menimbulkan penafsiran bahwa pihak Belanda telah mengakui Presiden Soekarno sebagai presiden resmi dari negara Indonesia yang berdaulat dan merdeka penuh. Pencantuman kata-kata “yang telah dianggap resmi” dalam berita itu, seolah-olah perundingan tersebut diadakan antara dua pemimpin resmi yang mewakili negara masing-masing, yakni Presiden Soekarno mewakili Republik Indonesia, sedangkan Dr. A.J. Van Mook sebagai wakil negara Belanda. Dipilihnya Jakarta yang merupakan ibukota negara Republik Indonesia menjadi tempat berlangsungnya permusyawaratan itu, mengandung pengakuan tidak langsung Belanda bahwa Indonesia memang betul-betul sebuah negara merdeka. Kesemua alasan di atas bisa menumbuhkan semangat percaya diri sebagai sebuah bangsa merdeka, baik bagi rakyat daerah Aceh khususnya atau bagi rakyat seluruh Indonesia pada umumnya. Semangat percaya diri ini, akan memperkuat rasa persatuan dan memperkokoh semangat berkorban bagi kepentingan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya, suratkabar Semangat Merdeka terbitan Sabtu, 3 Nopember 1945 mengisi halaman depannya dengan berita berjudul “62 kapal terbang jatuh ke tangan tentera Indonesia”. Selain 62 kapal terbang, beberapa perlengkapan perang yang dapat dirampas tentera Indonesia dari tentera Jepang di Magelang, Jawa Tengah ialah 65 meriam besar, 80 buah meriam parie dan beribu-ribu granat tangan dan peluru (pelor).
Berita perampasan peralatan perang oleh tentera Indonesia dari tentera Jepang dengan hasil sangat besar itu, bisa menambah kepercayaan akan kemampuan tempur tentera Republik Indonesia yang kemerdekaannya belum sampai tiga bulan. Pemilikan 62 pesawat terbang dan sejumlah besar peralatan tempur lainnya, jelas merupakan modal yang sangat berarti dalam rangka mempertahankan kemerdekaan tanah air kita Republik Indonesia. Rakyat daerah Aceh yang tidak terlibat langsung pada saat perebutan senjata-senjata tentera Jepang itu sangat gembira membaca berita kemenangan pihak Indonesia yang dimuat Semangat Merdeka, serta menumbuhkan sifat keberanian berjuang menentang pasukan Belanda yang bermaksud menduduki daerah Aceh.
Berita “5 pesawat terbang Inggeris gugur di Surabaya” yang dimuat pada halaman 2 suratkabar Semangat Merdeka edisi Sabtu, 17 Nopember 1945 menyiramkan gelora semangat tempur merebut kemenangan bagi warga negara Indonesia yang mendengar berita tersebut. Kelima pesawat tempur Inggeris yang jatuh ditembak itu adalah sebagai balasan kekejaman tentera Inggeris membom kota Surabaya. Pasukan Indonesia tidak tinggal diam, meriam-meriam penangkis serangan udara menembak jatuh ke lima pesawat pembom itu, sehingga jatuh berkeping-keping. Dalam uraian lebih lanjut isi berita itu, juga menyebutkan pertempuran di Surabaya semakin menjadi-jadi. Pihak kebangsaan memiliki cukup senjata-senjata serba moderen, yang terdiri dari meriam-meriam besar, kecil, meriam-meriam kodok dan sebagainya.
Judul berita Semangat Merdeka “Tentera Keamanan Rakyat seluruh Indonesia diakui”, dimuat hari Selasa, 13 Nopember 1945 memberi kelegaan besar bagi bangsa Indonesia. Berita yang berasal dari Gubernur Sumatera Mr. Teuku M. Hasan yang diterima dari Wakil Presiden Dr. Mohd. Hatta menyebutkan pengakuan itu datangnya dari pemimpin tentera Sekutu di Jawa, Jenderal P. Christison.

2. Berita dari Luar Negeri.
Bangsa Jepang yang sangat ditakuti rakyat selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, ternyata sama sekali tidak berkutik setelah menderita kalah dalam Perang Dunia ke II. Keperkasaan mereka lenyap, kekejaman pudar dan setelah kalah berprilaku sangat patuh kepada pemenang perang, yaitu pihak Sekutu.
Keadaan yang bertolak-belakang tersebut di atas tercermin dalam berita suratkabar Semangat Merdeka terbitan hari Selasa, 11 Desember 1945 halaman 1 yang berjudul “Penjahat-penjahat perang Jepang akan diperiksa di Hawai”. Selanjutnya berita itu menyebutkan ada 300 orang terdiri dari kalangan militer dan sipil Jepang dinyatakan sebagai tertuduh sebagai pelaku penyiksaan terhadap tawanan orang-orang Amerika selama masa perang. Selain itu terlibat pula beberapa pemimpin Jepang dituduh melakukan rapat-rapat rahasia untuk melancarkan serangan ke pelabuhan Mutiara; Pearl Habour serta pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan di sana memang sudah direncanakan sebelumnya. Jaksa penuntut dari Amerika Serikat I. Joseph. D menerangkan lagi bahwa bekas perdana menteri Jepang; Tozyo tidak akan diadili di Hawai, tetapi di suatu tempat yang belum diumumkan.
Bagi siapa saja yang pernah hidup di jaman penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang dan ketika bangsa Indonesia telah lepas dari derita penjajahan bangsa asing, melihat nasib kejatuhan Jepang mungkin akan membuat mereka mengingat kembali beberapa peristiwa penting. Sewaktu Belanda masih berkuasa, bangsa Indonesia umumnya menganggap dirinya lemah dan tidak pernah mampu mengusir penjajah. Setiap peperangan melawan Belanda, pihak yang selalu kalah adalah bangsa Indonesia.
Akan tetapi ketika orang Jepang menyerang Belanda di Indonesia, bangsa kulit putih itu pun menyerah kalah tanpa mampu memberi perlawanan yang berarti. Bahkan sebagian rakyat Indonesia sempat menyaksikan sendiri ketika tentera Jepang yang bertubuh pendek-pendek itu terpaksa melompat waktu mau menempeleng orang Belanda yang postur tubuhnya tinggi besar. Belanda yang didera tentera Jepang sedikit pun tidak berani melawan, padahal semasa berkuasa dulu orang Belanda sangat berani dan kejam terhadap orang-orang Indonesia. Meskipun peristiwa tak berdayanya Belanda berhadapan dengan Jepang baru beberapa tahun saja disaksikan sendiri, sekarang mereka baca pula dalam suratkabar Semangat Merdeka, Jepang pun mengalami penderitaan yang sama ketika bertekuk lutut di hadapan bangsa Amerika Serikat (Sekutu) yang menang perang. Berita ini bisa membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia, khususnya di Aceh; untuk membantu perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tersirat dalam berita tersebut, setiap bangsa yang memiliki kekuatan besar, besar kemungkinan akan dihormati oleh kawan dan lawan.
Nasib buruk yang menimpa bangsa Jepang terus bertambah, sejak negerinya dikalahkan Sekutu. “Paham shinto dihapuskan di Jepang,” salah satu judul pada halaman pertama Semangat Merdeka, terbitan Senin, 17 Desember 1945. Panglima besar tentera Amerika Serikat di Jepang; Jenderal Mac Arthur mengeluarkan perintah supaya ajaran Shintoisme dihapuskan di Jepang. Ajaran Shinto yang menghormati leluhur, memuja militer serta menghormati Kaisar dilarang diajarkan di sekolah-sekolah.
Dilarangnya ajaran Shinto oleh pemimpin bangsa Amerika yang sedang menduduki Jepang, menunjukkan bahwa pemerintahan bangsa asing terhadap suatu bangsa, lebih sering melakukan tindakan sewenang-wenang. Oleh sebab itu bangsa Indonesia perlu dijaga tetap merdeka.
Suratkabar Semangat Merdeka terbitan hari Selasa tanggal 27 Nopember 1945 memuat berita utamanya berjudul “Rusia Simpati Kepada Indonesia”. Berita yang berasal dari siaran radio Surakarta itu menyebutkan bahwa radio Moskow dalam siaran seksi bahasa Indonesia menyiarkan pada tanggal 15 Nopember 1945, bahwa Rusia menyatakan simpatinya terhadap perjuangan kebangsaan Indonesia dan berdoa semoga tercapai hendaknya segala maksud dan tujuan bangsa Indonesia seluruhnya.
Isi berita itu memang singkat, tetapi karena memiliki nilai cukup penting untuk menggugah rasa percaya diri bagi bangsa Indonesia yang sedang mempertahankan kemerdekaannya, maka pihak redaksi Semangat Merdeka menempatkan berita tersebut pada halaman pertama diurutan pertama pula. Pentingnya berita itu dari segi perjuangan kebangsaan Indonesia mengandung beberapa alasan. Pertama, radio Moskow menyiarkan sikap simpati itu dalam bahasa Indonesia, yakni bahasa resmi negara Republik Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia oleh radio kota Moskow sebagai sebuah seksi tersendiri bagi siaran luar negeri dari radio negara Rusia itu, boleh diartikan bahwa bangsa Rusia telah mengakui kemerdekaan Republik Indonesia secara tidak resmi. Sebuah pepatah menyebutkan bahwa bahasa menunjukkan bangsa, bahasa Indonesia menunjukkan bangsa Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.
Alasan kedua, pengakuan simpati kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia itu berasal dari negara Rusia yang keluar sebagai pemenang dalam Perang Dunia ke II. Dalam percaturan politik internasional Rusia memiliki kekuatan yang menentukan, antara lain karena punya kekuatan militer yang besar, persenjataan modern dan sanggup bersuara vokal dalam forum internasional. Buktinya, ketika Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dibentuk, Rusia terpilih sebagai salah satu negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Sebagai anggota tetap dewan Keamanan PBB, Rusia mempunyai hak veto dalam pemungutan suara pada lembaga PBB. Penggunaan hak veto bisa membatalkan resolusi-resolusi yang sedang dimusyawarahkan para anggota Dewan Keamanan PBB.
Ketiga, pernyataan simpati Rusia itu datangnya pada saat yang tepat, ketika bangsa Indonesia memang sedang sangat membutuhkan pengakuan luar negeri terhadap kemerdekaannya. Rasa simpati Rusia itu, punya nilai strategis penting dalam melawan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Pernyataan simpati Rusia merupakan pengakuan tidak langsung atau belum resmi dari sebuah negara yang sedang menanjak menjadi salah satu negara super power saat itu. Setiap negara yang mempunyai pengaruh besar seperti Rusia mempunyai banyak negara sahabat atau negara-negara yang berada di bawah pengaruhnya. Bila sang induk telah bersimpati, biasanya cepat atau lambat negara-negara sekelompok itu juga akan mengikuti jejak induknya. Beralasan sekali bila dikatakan, bahwa berita simpati Rusia kepada perjuangan rakyat Indonesia yang dimuat Semangat Merdeka itu punya daya dukung yang besar bagi memantapkan niat atau ketetapan hati rakyat Indonesia di daerah Aceh untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Berita pemogokan mendukung Indonesia di Australia dimuat di halaman depan suratkabar Semangat Merdeka, Sabtu, 3 Nopember 1945 menarik penulis menganalisanya. Berita berjudul “Pemogokan besar di Australia” melaporkan tentang aksi pemogokan di lapangan terbang di Brisbane (Australia), sebagai bantahan terhadap tindakan Belanda yang masih berniat jahat kepada bangsa Indonesia. Diberitakan lebih lanjut, bahwa para peserta mogok tidak mau memuat atau memunggah barang-barang dari kapal terbang kepunyaan Belanda, karena mereka mengetahui, tentu barang-barang itu akan dipergunakan untuk menindas pergerakan kebangsaan Indonesia.
Berita pemogokan mendukung bangsa Indonesia di Australia tentu amat menarik. Kejadian itu menunjukkan persoalan Indonesia bukan hanya masalah bangsa Indonesia saja, tetapi sudah berkembang menjadi problema masyarakat dunia yang cinta damai dan mengakui hak asasi setiap bangsa untuk menentukan nasib mereka sendiri. Pemogokan mendukung kemerdekaan Indonesia di sebuah negeri seperti Australia yang berpenduduk kulit putih dan biasanya lebih cenderung menyokong Belanda atau sesama kulit putih (ras Eropa), termasuk peristiwa aneh. Keganjilan ini bisa dijadikan sebagai bukti, bahwa perjuangan rakyat Indonesia membela kemerdekaan bagi negaranya merupakan tindakan yang benar, sesuai dengan suara hati nurani umat manusia di mana saja mereka berada. Tindakan pemogokan para buruh lapangan terbang di Brisbane (Australia itu, selain merugikan Belanda dalam bentuk materi, hal yang lebih penting lagi adalah pengaruh psikologis yang dapat merangsang perjuangan rakyat Indonesia menentang Belanda.
Suratkabar New York Time yang terbit di Amerika Serikat ikut menyebarkan tentang kekuatan pertahananan bangsa Indonesia menentang Belanda. Berita suratkabar tersebut yang disiarkan kembali oleh radio Amerika dan seterusnya dimuat dalam Semangat Merdeka, Kemis, tanggal 20 Desember 1945 dengan judul “Benteng pertahanan Indonesia amat kuat”, mengandung nilai psikologis besar bagi memupuk rasa percaya pada kekuatan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang telah merdeka. Jika kekuatan pertahanan Indonesia tidak perlu diperhitungkan musuh (Belanda), jelas tidak mungkin masalah kuatnya pertahanan Indonesia mau dijadikan berita oleh sebuah suratkabar beroplah besar dan sangat terkenal di dunia, yaitu suratkabar New York Time. Berita itu turut disiar ulang oleh radio Amerika Serikat, langsung tersebarlah ke seluruh dunia, bahwa kekuatan pertahanan kita cukup kuat.

3. Pengumuman dan seruan
Selama perang kemerdekaan Republik Indonesia banyak dikeluarkan pengumuman (maklumat) dan seruan-seruan untuk menggalang kekuatan rakyat mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang hendak dijajah Belanda kembali. Pengumuman dan seruan itu berasal dari banyak pihak; seperti dari pemerintah, organisasi sipil, dan militer, bahkan dari seorang tokoh pejuang kemerdekaan serta tokoh luar negeri yang bersimpati kepada perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia. Banyak cara ditempuh agar pengumuman dan seruan itu bisa sampai kepada masyarakat seperti menempelkan di dinding toko-toko atau rumah, menulis di tembok, disiarkan lewat radio dan memuatkannya dalam suratkabar. Sehubungan tulisan ini hanya menyangkut suratkabar Semangat Merdeka, maka penulis hanya mengulas beberapa pengumuman atau seruan yang berkaitan dengan tujuan tulisan ini.
Suratkabar Semangat Merdeka, terbitan hari Selasa, tanggal 30 Oktober 1945 memuat maklumat (pengumuman) yang ditanda tangani Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Soekarno-Hatta. Maklumat yang dimuat di halaman depan Semangat Merdeka itu berjudul “Maklumat Presiden Republik”. Pengumuman ini ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia. Disebutkan dalam maklumat itu, bahwa pembangunan Negara Indonesia Merdeka yang dikehendaki segenap lapisan rakyat, waktu itu sedang dilaksanakan dengan seksama. Segala hal yang perlu untuk pembangunan Negara Republik Indonesia sedang diselenggarakan saat itu dan dijanjikan bahwa pembangunan itu akan selesai dalam waktu yang pendek. Oleh karena itu, maka Presiden dan Wakil Presiden, Soekarno – Hatta mengharapkan pada sekalian rakyat Indonesia dari segala lapisan masyarakat agar tetap tinggal tenteram, tenang, siap sedia dan memegang teguh disiplin.
Bagi rakyat Indonesia umumnya dan bagi rakyat daerah Aceh khususnya, pengumuman (maklumat) itu sangat penting, karena maklumat itu dikeluarkan oleh pemimpin tertinggi dari negara mereka yaitu Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Kedua tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta sejak sebelum menjadi Presiden – Wakil Presiden telah dikagumi serta diakui sebagai pemimpin yang teguh pendiriannya, penuh disiplin dan senantiasa berjuang memimpin pergerakan kebangsaan dengan tujuan menuntut kemerdekaan Indonesia dari penjajah bangsa asing. Oleh karena itu, maklumat yang berasal dari kedua tokoh pejuang kemerdekaan itu disambut hangat rakyat Indonesia. Apalagi saat itu Soekarno-Hatta telah menjadi presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Satu hal lain yang menarik penulis tentang maklumat yang dimuat Semangat Merdeka tanggal 30 Oktober 1945 ialah pengumuman tersebut dikeluarkan Soekarno Hatta di Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2605 (1945-penulis), yaitu pada hari pertama Soekarno-Hatta dipilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ini berarti Maklumat itu telah pernah disiarkan kepada masyarakat baik melalui radio, suratkabar atau melalui selebaran-selebaran, terutama di Kota Jakarta sendiri dan kota-kota besar lainnya yang banyak memiliki saluran media massa seperti suratkabar dan radio. Boleh jadi mengingat arus informasi dari ibu kota negara Jakarta masih kurang lancar penyebarannya ke daerah-daerah, termasuk ke daerah Aceh; maka inisiatif redaksi suratkabar Semangat Merdeka menyiarkan kembali maklumat itu tanggal 30 Oktober 1945 merupakan tindakan sangat tepat. Apalagi mengingat Semangat Merdeka baru berdiri tanggal 18 Oktober 1945. Untuk ukuran masa itu pemuatan maklumat itu tidaklah jadi berita basi, apalagi isinya sangat penting dalam rangka mempersatukan rakyat Indonesia.
Berikut akan dikaji “Maklumat Residen Aceh No. 2” yang dimuat dalam Semangat Merdeka halaman 2 pada hari pemuatan Maklumat Presiden Republik tersebut di atas. Pengumuman Residen Aceh T. Nyak Arief yang mulai berlaku pada hari diumumkan, yakni tanggal 30 Oktober 1945 merupakan “blokade ekonomi” pemerintah Indonesia di daerah Aceh terhadap tentera Belanda dan NICA yang sedang menduduki Sabang, Pulau Weh yang dijadikan sentral kekuatan Belanda untuk menembus pertahanan rakyat Aceh di sepanjang pantai.
Dalam upaya melemahkan kekuatan musuh, Residen Aceh mengeluarkan peraturan untuk menghentikan keluar-masuk barang-barang dari daerah Aceh ke Sabang dan sebaliknya, terkecuali barang-barang yang akan digunakan untuk kepentingan Sekutu yang juga sedang berada di Sabang. Barang-barang yang dilarang dibawa keluar-masuk Sabang ialah bahan-bahan makanan, pakaian, senjata dan lain-lain yang bisa menunjang kekuatan Belanda.
Sehubungan dengan larangan itu, maka semua perahu dan berbagai alat pengangkut yang lain dilarang keras berlayar hilir-mudik dari daratan Tanah Aceh ke Sabang dan sebaliknya dari Sabang ke daratan Aceh. Orang-orang yang melanggar ketetapan itu dinyatakan akan dihukum berat serta barang-barang termasuk alat pengangkutnya akan dirampas. Kepada semua alat negara diperintahkan untuk menegakkan terlaksananya ketentuan tersebut.
Maklumat Residen Aceh No. 2 ini membuktikan pemerintahan Republik Indonesia di daerah Aceh sudah mampu menegakkan kepentingan negara sendiri. Berarti pula pemerintah Indonesia sudah berani menegaskan kepada negeri musuhnya, yaitu negara Belanda segala urusan yang berkepentingan untuk menegakkan kemerdekaannya walaupun hal itu bertentangan dengan kepentingan pihak Belanda sendiri. Berita ini memberi dukungan moril dan memperkuat kepercayaan rakyat kepada pemerintahnya.
Pernyataan sikap para ulama seluruh daerah Aceh tentang perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, telah dimuat suratkabar Semangat Merdeka hari Kemis, 29 Nopember 1945. Atas nama ulama seluruh Aceh, empat orang ulama terkemuka masa itu, yakni Tgk. Haji Hasan Krueng Kale, Tgk. Haji Dja’far Sidik Lamjabat, Tgk. M. Daud Beureueh dan Tgk. Haji Ahmad Hasballah Indrapuri menegaskan, bahwa perang menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah perjuangan suci yang disebut Perang Sabil.
Lebih lanjut, “Maklumat Ulama Seluruh Aceh” itu menjelaskan, bahwa Belanda adalah satu kerajaan yang kecil serta miskin. Belanda satu negeri yang kecil lebih kecil dari daerah Aceh dan telah hancur dalam Perang Dunia kedua. Diterangkan pula, bahwa segenap rakyat telah bersatu-padu dengan patuh berdiri di belakang maha pemimpin Ir. Soekarno untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan. Pada bagian penutup maklumat itu mereka menghimbau rakyat supaya tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perinah pemimpin kita untuk keselamatan Tanah Air, Agama dan bangsa. Pernyataan para ulama Aceh ini diketahui Residen Aceh T. Nyak Arief dan disetujui Ketua Komite Nasional Daerah Aceh Tuanku Mahmud.
Bagi rakyat daerah Aceh yang mayoritas beragama Islam; bahkan ada yang menyebutkan fanatik, pernyataan keempat ulama kharismatik itu bisa menggelorakan semangat jihad, karena para ulama itu telah memberi fatwa (keputusan hukum agama) bahwa perang kemerdekaan yang sedang dihadapi saat itu adalah Perang Sabil. Bagi yang terbunuh dalam Perang Sabil akan mendapat pahala syahid yang langsung dimasukkan ke Surga oleh Allah SWT tanpa rintangan apapun. Selain itu, penjelasan dalam maklumat itu yang menyebutkan negara Belanda suatu negeri kecil dan miskin, menambah dorongan bagi rakyat tidak merasa takut kepada Belanda.
Pengumuman Pemimpin Pusat Pemuda Republik Indonesia (PRI) nomor satu, dimuat Semangat Merdeka edisi Selasa, 23 Oktober 1945. Dalam pengumuman yang diberi nama “Panggilan Umum”, pengurus pusat PRI Daerah Aceh yang diketuai A.Hasjmy sebagai Ketua I dan Tuanku Mahmud selaku Sekretaris I, meminta kepada para pemuda berumur 18 tahun ke atas supaya mendaftar diri menjadi anggota Pemuda Republik Indonesia (PRI). Ditambahkan lagi, bahwa berusaha mengerahkan dan mempersatukan tenaga pemuda Indonesia guna menyokong Komite Nasional yang berdiri sebagai tulang-punggung Republik Indonesia. Di bagian penutup pengumuman itu disampaikan semboyan perjuangan yaitu: hidup Indonesia, bahagia Indonesia; merdeka.
Pengumuman Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang disiarkan kepada masyarakat melalui suratkabar, akan lebih cepat sampai ke sasaran yang ditujukan Pemimpin pusat PRI. Dalam hal ini suratkabar Semangat Merdeka berjasa dengan menghubungkan antara pengurus PRI dengan masyarakat luas. PRI adalah sebuah perkumpulan pemuda yang bercita-cita mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 1 Nopember 1945, Semangat Merdeka mengumumkan aturan memakai lencana merah putih sebagai lambang setia kepada negara Republik Indonesia. Disebutkan aturan itu sebagai berikut: pertama, bagi putera-puteri yang berumur dibawah 18 tahun harus melekatkan lencana merah putih tersebut pada lengan sebelah kiri (atas). Kedua, bagi putera-puteri yang berumur 18 tahun ke atas memakainya di dada sebelah kiri, yaitu tepat di atas detakan jantung.
Pengumuman cara memakai lencana merah putih yang disiarkan Semangat Merdeka menjadikan pemakaian simbol bendera Indonesia itu seragam. Berhubung penyampaian informasi masa itu belum lancar, membuat praktek memakai lencana itu bisa berbeda-beda di antara satu tempat dengan tempat lainnya. Ketidak seragaman bisa berkesan perpecahan, sedangkan seragam menunjukkan bersatu, kokoh.
Selain menyiarkan pengumuman dan seruan-seruan, suratkabar Semangat Merdeka juga memasang berbagai iklan yang memberi sokongan kepada perjuangan membela kemerdekaan Indonesia. Walaupun iklan-iklan itu bertujuan menarik pembeli terhadap barang yang diiklankan, namun karena barang-barang itu memang dibuat untuk mendukung semangat kemerdekaan,- bukan sekedar urusan dagang,- maka lewat iklan pun suratkabar Semangat Merdeka berpartisipasi menegakkan kemerdekaan Indonesia.
Di antara iklan-iklan yang dimuat Semangat Merdeka (selanjutnya yang berhubungan iklan disingkat: SM) ialah iklan hikayat berjudul “Semangat Atjeh” karangan Abdulah Arif (SM, 23-10-1945). Kata pengantar iklan menyatakan bahwa hikayat ukuran saku itu disusun dalam syair Aceh yang indah bersemangat, menunjang negara Republik Indonesia dan menganjurkan anti penjajahan.
“Peutheun Meurdehka” adalah syair Aceh yang bersemangat dan menggelorakan jiwa pembacanya digubah oleh Ibnoe Abbas (SM, 23-10-1945). Iklan lainnya (SM, 8-11-’45) memberi tahu bahwa akan terbit buku “Susunan Indonesia Merdeka” oleh Tgk. Ismail Jakoeb. Buku tersebut membahas riwayat gerakan kemerdekaan Indonesia, siapa Bung Karno, Undang-undang Dasar, susunan kabinat, PRI dan lain-lain.
Semangat Merdeka, 13 Nopember 1945 mengiklankan barang di Toko Indonesia Baru, Kutaraja dengan bunyi: Sudah sedia, lencana merah putih menurut ukuran yang ditetapkan. Seterusnya (SM, 27-11-1945) memasang iklan “Kalender 1946 Negara Republik Indonesia”. Kalender ini dikeluarkan badan Penerangan Umum Negara Republik Indonesia (NRI). Semangat Merdeka, 1 Desember 1945 memasang dua iklan yang kedua-duanya bisa menimbulkan gairah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Iklan pertama ajakan berlangganan majalah “Rencong” yang terbit di Binjei dan tentang terbitnya buku baru Riwayat penghidupan dan Perjuangan Ir. Soekarno yang disusun M. Yunan Nasution.

4. Tajuk Rencana
Tajuk rencana merupakan suara suratkabar yang bersangkutan terhadap suatu masalah. Suratkabar Semangat Merdeka yang terbit sejak 18 Oktober 1945, baru memiliki kolom khusus tajuk rencana pada tanggal 17 Nopember 1945. Sebelumnya, tulisan-tulisan yang bersifat opini pernah pula dimuat, tetapi penulis karangan itu termasuk mereka di luar staf redaksi.
Tanggal 17 Nopember 1945, Semangat Merdeka memuat tajuk rencana berjudul “Tiga Bulan Indonesia Merdeka”. Bagian awal tajuk menjelaskan tentang tantangan yang sedang dihadapi Indonesia, sedangkan di bagian akhir memaparkan harapan-harapan yang bakal dicapai bangsa Indonesia.
Dijelaskan, dalam usia Republik Indonesia yang baru tiga bulan, hanya satu syarat yang belum dimiliki Republik Indonesia dari empat syarat penting bagi sebuah negara merdeka. Syarat dimaksud ialah pengakuan dari luar negeri. Ketiga syarat lain telah digenggam Indonesia, yaitu wilayah negara, rakyat negara dan pemerintah.
Untuk memperoleh pengakuan luar negeri, tajuk itu menyerukan agar cita-cita perjuangan bangsa jangan bergeser arahnya seperti semula. Pertama, melawan segala percobaan dari luar yang bermaksud menjajah Indonesia kembali. Kedua, perjuangan di lapangan internasional. Sifat perjuangan ini digerakkan secara teratur dan harmonis. Oleh karena itu tindakan liar jangan dibiarkan berlaku untuk mencapai maksud perjuangan. Setiap bertindak perlu mematuhi aturan-aturan yang dikeluarkan para pemimpin negara.
Tajuk rencana itu mencontohkan akibat kekejaman dan tindakan liar tentera Inggeris di Indonesia. Hampir seluruh dunia mencela tindakan-tindakan Inggeris yang di lakukan di Jawa, karena tindakan mereka melanggar tujuan sebenarnya pendaratan tentera Inggeris ke Indonesia. Presiden Soekarno yang bijaksana menghadapi suasana ini dengan tenang, tanpa melakukan suatu tindakan yang makin memperburuk kekacauan itu.
Semua yang terjadi di Indonesia, baik sikap Inggeris yang mengecewakan, maupun sikap Belanda; namun bagi kemerdekaan Indonesia ada gunanya. Teristimewa lagi karena peristiwa-peristiwa tersebut telah menyebabkan perhatian dunia internasional semakin lebih tajam, kritis dan bersimpati kepada Republik Indonesia. Kata tajuk rencana itu lagi, kita yakin buat masa seterusnya bangsa kita akan tetap dapat mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Di bagian penutup tajuk rencana yang ditulis Wakil Pemimpin Umum Semangat Merdeka, Amelz; media ini membangkitkan rasa optimis bagi bangsa Indonesia, dikatakan, telah tiga bulan kita tempuh Indonesia Merdeka dengan selamat. Dan kita akan menghadapi masa tiga bulan yang akan datang hingga seterusnya dengan penuh bahagia.
Tajuk rencana ini memberi pendidikan politik kepada rakyat agar bisa berprilaku sebagai suatu bangsa yang beradab dan dewasa. Sikap berhati-hati dalam bertindak bukan berarti pengecut, tetapi hendaklah semua usaha mencapai tujuan perlu dilakukan berpedoman ke pada aturan yang digariskan para pemimpin yang sudah matang memikirkan setiap tindakan yang akan dilaksanakan. Setiap tindakan liar dan gegabah akan merusak nama baik Republik Indonesia di mata dunia luar. Padahal simpati dan pengakuan luar negeri terhadap Indonesia akan memperlancar perjuangan menegakkan kemerdekaan serta kedaulatan Republik Indonesia.
Suratkabar Semangat Merdeka tanggal 21 Desember 1945 menurunkan tajuk rencana yang berjudul “Keputusan Majelis Islam Tinggi”. Muktamar diadakan di Bukit Tinggi. Hasil-hasil dari muktamar itu adalah terbentuknya tiga panitia, yaitu panitia fatwa dibawah pimpinan Syeh Ibrahim Moesa Parabek, Barisan Sabiloellah diketuai oleh Tgk. Abdul Wahab Seulimum dan politik diketuai oleh Abu Gaffar Djambek.
Panitia kedua yaitu Barisan Sabiloellah yang diketuai oleh Tgk. Abdul Wahab Seulimum, adalah mempunyai kedudukan dan kewajiban penting dalam masa mempertahankan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang tercinta ini. Penitia Sabil ini tentulah akan disambut oleh segenap kaum muslimin di daerah Aceh dengan mengokohkan tekadnya untuk berjuang melawan kafir dan hendak mati Syahid dalam perang suci itu.
Semangat perjuangan dalam perang sabil sekali-kali tidak pernah padam dalam setiap jiwa putra-putra perwira di tanah Rencong; karena riwayat perjuangan Mujahid Besar Tgk. Chik Ditiro, Muda Perkasa T. Panglima Polem, Panglima Perang Besar T. Umar dan berpuluh-puluh pahlawan yang telah tewas dalam membela kesucian Agama dan Tanah Airnya dahulu senantiasa menjadi pedoman pemuda-pemuda angkatan zaman.
Semangat perang sabil sangat melekat pada setiap masyarakat Aceh. Apalagi telah diketahui bahwa mati dalam peperangan membela tanah air adalah mati syahid. Orang yang mati syahid akan langsung masuk Surga. Hal ini akan mendorong rakyat Aceh untuk mempertahankan negerinya sampai titik darah terakhir.
A. Beberapa Kesimpulan
1. Suratkabar Semangat Merdeka diterbitkan atas inisiatif para pemuda dan tokoh pejuang angkatan 45. Semangat Merdeka pada pertama sekali dipergunakan oleh para pejuang angkatan ’45 untuk menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia kepada rakyat Aceh dan berita-berita menyerahnya bangsa Jepang kepada Sekutu.
2. Suratkabar Semangat Merdeka merupakan media komunikasi yang dapat menghubungkan antara seseorang dengan orang lain, antara pemerintah daerah dengan rakyat yang di bawah pemerintahannya, antara pemerintah daerah dengan pemerintahan pusat dan antara pemerintah pusat dengan pemerintah negara lain.
3. Suratkabar Semangat Merdeka berperan untuk membangkitkan Semangat Keperwiraan serta mendorong semangat perjuangan di medan Pertempuran, baik bagi pejuang yang berada di daerah Aceh maupun yang berjuang di daerah lain.
4. Melalui Suratkabar Semangat Merdeka dapat ditangkis dan dipatahkan propaganda palsu Belanda yang mereka siarkan melalui suratkabar dan radio.
5. Suratkabar Semangat Merdeka berperan menyiarkan semua instruksi Kepala Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Mr. Sjafruddin Prawiranegara terutama kepada perwakilan Indonesia Dr. Sudarsono di India dan L.N. Palar di PBB.
6. Melalui Suratkabar Semangat Merdeka dapat diberitahukan kepada masyarakat untuk memberikan bantuan kepada para pejuang. Berita-berita pengumpulan dana untuk membeli pesawat udara “Seulawah”, berita-berita ekonomi lainnya juga dimuat dalam Semangat Merdeka semasa perang kemerdekaan.
7. Suratkabar Semangat Merdeka berperan menyiarkan amanat-amanat pemerintah maupun pendapat-pendapat para tokoh pejuang, baik yang ditujukan ke dalam negeri maupun ke luar negeri.
8. Suratkabar Semangat Merdeka berperan menyiarkan keadaan sosial rakyat Indonesia yang senasib sependeritaan dan sepenanggungan. Suratkabar ini juga menyiarkan hasil-hasil karya para pejuang Aceh, baik yang berbentuk hikayat, syair, dan sejenisnya untuk membangkitkan semangat juang para patriot Aceh.
9. Dalam mengisi kemerdekaan, suratkabar Semangat Merdeka ialah mengajak dan membimbing masyarakat Aceh khususnya serta bangsa Indonesia umumnya untuk turut aktif dalam segenap bidang kehidupan demi tercapai kemerdekaan sepenuhnya bagi bangsa Indonesia.

B. Saran-saran
1. Disarankan kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) daerah Aceh agar menyusun sebuah buku tentang sejarah persuratkabaran di Aceh. Penerbitan buku tersebut sangat penting untuk menggugah minat mengarang (tulis-menulis) bagi generasi muda daerah Aceh.
2. Dalam upaya mengikis anggapan orang luar bahwa daerah Aceh merupakan daerah angker dan tertutup, maka usaha menyebarluaskan informasi positif tentang Aceh perlu terus-menerus dilakukan secara terencana.
3. Perlu dibangun sebuah tugu peringatan untuk mengenang peran suratkabar Semangat Merdeka dalam masa perang kemerdekaan di Aceh.

—-000—-
(Sumber: 1. SEMANGAT MERDEKA, A. Hasjmy 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan & Perjuangan Kemerdekaan, “Bulan Bintang” Jakarta, 1985. 2. Koleksi fotokopy arsip koran Semangat Merdeka, 40 hari terbit).

Hikayat Abu Jeuhai- Biografi Nabi Muhammad Saw semasa kanak-kanak

Mulayi lon salen Hikayat Abu Juhai, Jum’at, 3 Ramadhan 1434 H/12 Juli 2013 M poh 10.15 wib
Transliterasi/Alih Aksara dari huruf Arab Melayu-Jawi-Jawoe ke aksara Latin dilaksanakan:
Oleh: T.A. Sakti

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Hikayat Abu Jahai

Alhamdulillah pujoe keu Tuhan,  Sekalian dumna hamba
Keu Muhammad seulaweuet sajan,  Wahe rakan bek talupa
Zat nyang suci nama Allah,  Ngon Bismillah phon lom mula
Teunku deungo ulon peugah,  Khaba indah lon calitra

Ulon peuphon ngon Khutubah,  Bismillah phon    tabaca
Khaba zameun ulon kisah,  Ngo lon peugah he saudara
Soe nyang pateh that meutuwah ,  Soe nyang bantah jeuet ceulaka
Soe nyang deungo le mufeu’at,  Soe nyang ingat meubahgiya

Nubuet Nabi  ulon surat, Ingat beuthat he saudara
Ulon peugot keu hikayat,  Mangat sahbat ‘oh tabaca
Soe nyang nabeuet kheun bak Surat,Soe nyang ngeut that deungo sahja
Supaya jeuet keu peuingat, Ri nyang umat mubahgiya

Wahe kawom rakan sahbat, Nyoe  nasihat nyang sijahtra
Geulantoe lonbri ranub siikat, Nyoe Hikayat Teungku Baca
Keureutah puteh daweuet pucat, Lon seumurat tan biyasa
Sabab ulon ureueng bangsat, ‘Eleumei singkat rancak hana

Nyang na lon beuet tamat Quru’an, Nyang laen tan he saudara
Ulon teunyoe that hinaan, Ngon pakayan ruja tuha
Hina bak donya areuta lon tan, Hina bak rakan pakayan hana
Hina bak Nabi  seulaweuet lon tan, Hina bak Tuhan ‘amai lon hana
Lon seumurat cit meumalam, Mata reukam teungeut raya

Hitam hitam aneuk bayam,  Cok  sireugam kue bak ija
Cok pureh jok cu keu kalam, Daweuet itam ie keuseumba
Phon lon surat haba reusam, Dudoe tapham buet agama
Ube kawom nyang Iseulam, Inong agam tuha muda

Khaba Nubuet ulon reusam, Beugot tapham  agam dara
Watee geukheun beuta khadam, Bek peukiyam peugah haba
Lon cok daweuet deungon kalam, Ulon reusam pura-pura
Lon seumurat hana tajam, Jaroe bugam tan sikula

‘Eleumei kureueng hana troh pham, Gadoh waham miet bicara
Manyak  Payet toe Sungoe Yu, Lakee buku bak ureueng tuha
Allah Allah ya Tuhanku, Lon neubri bu deungon ija
Lon seumurat hana that jeuet, Upama pheuet teumpoi mata

That ta sakai beukah ulee, Meukreueh kayee cumeh mata
Lon seumurat meunan lagee, Buet lon tiree tan Sikula
Sabab ulon ureueng dungei, Tan  ‘eleumei dalam dada
Miseue uroe ka reudok top, Miseue sagob angen raya

Lon seumurat karang marot,  Hate seupot dalam dada
Nyankeu Teungku ka lon seubut, Lon boeh bacut bek meutuka
Adat salah deungon karot,  Ngieng ulikot ‘oh neubaca
Adat kureueng Teungku  kikeh,  Adat leubeh neuboeh tanda

Nyankeu Teungku kalon sareh, Bek meudaleh lon saudara
Di kuwala Aceh kapai meuriti, Kuwala Sigli kapai Dokaha
Kon meung gata aja lon bri, Diulon pi syaitan daya
Jeuet keudumnan lon peugah kri, Meule cakri hana gura

Lon boeh bacut mangat meuri, Neubuet Nabi lon calitra
Wabihi nasta’in ya Allahul  a’kla, Teulhee boh Isim phon lon mula
Lhee boh Isim saboh ayat, Sampoe hajat peue  tapinta
Awai phon lon tueng beureukat, Lon seumurat  tan biyasa

Awai   Iseulam nyang  phon  Syahadat,  Pujoe Hadharat  Tuan Asa
Nyankeu  pangkai   woe  akhirat,  Beuta taubat  agam – dara
Lam donya  nyoe taduek siat,  Diakhirat  nanggroe  baka
Ie minoman ladat – ladat,  Troh u teumpat lam Syuruga

Lailaha illallah,  Kalimah thayibah pangkai Syuruga
Bekna lapang kheun dibabah,  He meutuwah bekta lupa
‘Amai saleh ‘Iktikeud beusah,   Woe bak Allah nanggroe baka
Jeuet keudumnan nyang khutubah, Meuwoe kisah bak calitra

‘Ajayeb Subhanallah, Mukaddimah lon peunyata
Mukaddimah lon peugah phon, Ato turon lon calitra
Phon neu peujeuet uleh Tuhan, Nur janjongan nyawong muliya
Banyak? nibak ‘akyan tsabitah, Keunan limpah punca cahya

‘Akyan tsabitah ceureumen Isim,  Asma Tuhan keunan nyata
‘Akyan tsabitah ceureumen Isim,  Keunan limpah  mula-mula
Ubak sifeuet teujali zat,  Ahdiyah wahidah  martsabet na
‘Akyan tsabitah tamse ceureumen, Lahe  baten keunan nyata

Fireuman Tuhan ubak maghaf?,   Bak maklumat keunan nyata
Fireuman Tuhan  na  khatabkan,   Bak Maksyukan? nyan gohlom nyata
Khatab pilheueh maksyuk?  Hase,  Jeuet  Nur Nabi  nyang muliya
Teulheuh tilekle Hadharat,  Bak Nur Muhammad nyang muliya

Meulabuh? Nyan Nur Muhammad, Reuoh sangat teubiet lanja
Tuhan peujeut dumna nyawong,  Bak reuoh nyang that muliya
Sinan pince dumna nyawong, Taulan tanyong bak ulama
Roh muhaddas bukon qadim,  Beuta yakin dum teurata

‘Oh nyang masok dinyawong keunan,  Bukon qadim he saudara
Miseue sabda ‘Alaihissalam, Teungku tapham ulon nyata
Awai neupeujeuet uleh Tuhan, Sit Nur ulon nyan phon nyata
Lheueh neu peujeuet Nur Muhammad,  Leungkap sangat  ‘alam donya

Kata rawi poriwayat, Tuhan Hadharat kheundak nyata
Neukheundak lahe nyoe geutanyoe,  Ateueh bumoe  dalam donya
Suroh Tuhan bak Jebra-I,  Neuyue tuengle tanoh muliya
Fireuman pilheueh nibak Rabbi,  Tron Jebra-I dalam donya

Jebra-I cok tanoh pantah,  Neupeu thawaf lingka Syuruga
Geurungka lagee ser tanoh karah?,   Maken indah that bak nyangka
Jebra-I ba bak Hadharat,  Reuoh leugat teubiet sigra
Tuhan peujeuet bak reuoh nyan, Seukalian dum Ambiya

‘Oh lheueh neu peuejeuet Adam Khalifah, Nur neukeubah tanoh muliya
Ubak Adam neu keubah phon, Turon-muron bak Ambiya
Silsilah Nabi phon bak Adam,   Bangsa ‘ajam dum Ambiya
Bak Ibrahim ‘alaihissalam,  Nyanpi ‘ajam geukheun bangsa

Bak Ismail phon ‘Araby,  Nasab Nabi nyang muliya
Nyankeu aneuk kaneu gaseh?,   Bangsa Kureh phon peurtama
Nashir keuphon nan gla Kureh, Meu’en jigleh ji usaha
Ladom geukheun makna Kureh, Meuhimpon wareh nanggroe muliya

Aneuk cuco Nabi Ismail,  Sidroe sane keunan teuka
Sabab talo nibak sitree, Plueng meuree-ree dalam rimba
Geumeusom lam guha bate, Masa dilee talo ngaza
Nadhir himpon lom u Makkah, Kawom neukrah dalam rimba

Geumeu sapat dum kafilah, Prang neugagah lagee raya
Talo musoh pulang nanggroe, Nadhir neuwoe Makkah muliya
Jeuetkeu dumnan lon hareutoe, Kisah meuwoe bak calitra
Alhamdulillah seukalian pujoe, Bandum meuwoe keu Allah Ta’ala

Keu Muhammad panghulee kamoe, Seulaweuet jinoe bekna reuda
Allahumma shalli ‘ala Muhammad,  Wa’ala alihi wa shahbihi ajma’in
Ngo lon kisah ‘Abdul Manaf,  keu silsilah Nabi kita
‘Abdul Manaf aneuk peuet droe,  Ureueng lakoe Tuhan karonya

Nyang phon Hasyim that meutuwah,  Keunan neukeubah Nur muliya
‘Abdus Samad dua geupeunan, Intu ‘Usman sahbat muliya
Keulhee Naufan aneuk Jabir,  ‘Alem han sabe ateueh donya
‘Eleumei Hadist nyan neupakoe, Ureueng nanggroe gaseh dumna

‘Abdul Muthalib geunap peuet droe, Habeh ‘ohnoe saboh haba
Nyankeu aneuk Imum Syafi’I, Nyang juhari ateueh donya
Cuco Hasyem ngon Muthaleb, Meugah nyang seb ateueh donya
Aneuk Hasyim pina peuet droe, Lon peugah soe he saudara

Phon Asadan aneuk sidroe,  Fathimah roe geuhoi    nama
Nyankeu Ibu Saidina ‘Ali, Sahbat Nabi nyang muliya
Dua Fashlah teulhee Sha’I, Aneuk mate droe na dua
Peuet Muthaleb nyang that meugah, Keunan  neukeubah Nur Mustafa

‘Abdul Muthalib limong isteuri, Ngo lon rawi he saudara
Phon Fatimah anek ‘Umarah, Nyan he taulan inong tuha
Aneuk Muthaleb nyang  9,  Ngo lon bileueng he saudara
Abu Thaleb, ‘Abdul Ka’bah, Lhee geupeugah Zubir nama

Nan nyang keu 4 nan ‘Abdullah, Keunan neukeubah Nur muliya
Peuet nyang agam kalon peugah, Saboh ayah saboh bunda
Aneuk inong ulon kisah,  Nyak meutuwah tabileueng sa
Phon Abshar dua Amarah,  Lhee ‘Atikah geuboh nama

Keu 4 Rawi limong Umimah,  Meunan amanah lam calitra
Judo Muthaleb nyang dua droe, Lon peugah soe he saudara
Nama  Halih geuhareutoe, Meunan adoe kheun ulama
Aneuk bak Halih na 5 droe, Lon peugah soe tabileueng sa

Hamzah, ‘Abdak, lhee Maqwam, Peuet geupeunan Hajib nama
Nyang keu 5 nan Shafiyah,  Meunan kisah lam  calitra
Lhee isteuri nan Salabah, Baginda ‘Abbas sinan nyata
Keudua Dhurir keulhee Hasyem, Ban lhee agam hana dara

Peuet isteuri Shafiyah jroh,  Aneuk saboh  Haris nama
Judo Haris  na limong  droe, Meunan geuproe  geucalitra
Nyankeu  aneuk ureueng lakoe, 19 droe bak meuhingga
Nyankeu aneuk ‘Abdul Muthaleb, Nyang na udep pandang donya

Meuteumei muprang masa Iseulam,  Mama janjongan 4 droe  saja
Hamzah, Abbas, Abu Thaleb, Abu Lahab laen hana
Agam laen habeh mate,  Gohlom lahe buet agama
Masok Islam mama Nabi,   Ngo lon rawi he saudara

Nyang phon Hamzah dua ‘Abbas, Meunan peuneugah lam calitra
Abu Thaleb sinan khilaf, Kawoi nyang sah Islam hana
Teutapi Nabi  neugaseh that, Sinan rahmat  hase teuka
Neu peulahra ngon neukawai, Hana sagai na neulupa

Abu Lahab  tan Iseulam,  Mupakat dum kheun  ‘ulama
Macut Nabi  masok Islam, Shafiyah nan  khilaf hana
‘Atikah  awai sinan khilaf, laen sudah dilee fahna
Mate  masa jahiliyah, hana leumah lom agama

Ahlul Fitri nyan geupeunan, berseulangan  Rasul teuka
Antara nyan keujadian, mate sinan lam antara
Limong reutoh thon peurseulangan,  lheueh nibak nyan Rasul teuka
Lheueh nyan teuka Nabi geutanyoe,  ateueh bumoe nyan muliya

Yoh masa goh lahe  Nabi, amar nahi hana nyata
Haleue hareum buet salahan,  kutika nyan hana deesya
Ceulaka bahgiya hana lahe, hukom sabe hana bida
‘Ohsare ka lahe Nabi, tron Jebra-I hukom neuba
Wa’ad wa’id amar nahi,  habeh meukri bahgiya ceulaka

Got tapubuet got neubalah, jeuheuet neukeubah lam Nuraka
Jeuet keudumnan ulon peugah, nyang silsilah habeh khaba
Supaya sah tameu iman,  ‘iktikeuet meunan dalam dada
Bangsa meukri nanggroe meupat,  han syubeuhatle lam dada

Miseue  thariqat beuna  silsilah, nibak syiah phon tamula
Nibak syiah nibak Nabi,  bak jebra-I bak Rabbana
Mukaddimah jeuet keudumnan,  lon peugah nyan pasai nama
Peurtama  phon lon kheun jinoe,  Nabi geutanyoe na meunyata

‘Abdul   Muthaleb  aneuk lhee blah droe,  ureueng lakoe bak meuhingga
Aneuk tuha nan ‘Abdullah,  keunan neukeubah Nur muliya
Pangkat leubeh beurani that,  dhoe meukilat Nur musthafa
Neu peukawen uleh ayah, tuwan ‘Abdullah gaseh raya

Yohmasa nyan jahiliyah, hana nikah tan agama
Neu peukawen ngon Aminah, tuka kupiyahle ayahnda
Aneuk Wahab tuwan Aminah, nanggroe Makkah asai mula
Bangsa saboh Rasulullah, meunan peuneugah dum ‘ulama

Lheueh meukawen ngon Aminah, Tuhan  pinah Nur muliya
Tuhan pinah Nur Muhammad,  ubak jasad nyang han leuta
Nishfu akhe ‘ilmu ? jeumot. Teungeut mangat hanatara
Aminah kandong  Nur Muhammad,  rasa mangat jeub anggauta

Tuhan buka pinto Jannah,  leubeh ……. Dalam donya
Pinto Syuruga lapan pangkat,  Malaikat  dum neubuka
Tuwan Aminah rupa jroh that, hu meukilat cahya muka
Soe nyang kalon mata ladat,  hireuen rakyat agam dara

Hantom  saket dalam mangat,  dalam niekmat rok-rok masa
Bak  neukandong han  keuna brat,  ngon mukjizat Nur Mustafa
Buleuen phon mume  Tuwan Aminah,  neu lumpoe leumah Adam teuka
Adam  kheunle bak Anminah,  Rasul Allah aneuk gata

Nabi Idris teuma leumah,  lumpoe Aminah bleuen keudua
Buleuen nyang keulhee Nabiyullah Noh, keunan u rumoh sang neuteuka
Buleuen keu  4  lumpoe Ibrahim,  Nabi nyang salim peudong agama
Limong buleuen troh Ismail,  sajan neume saboh haba

He Aminah ngo lon kheun kri,  panghulee Nabi gata bawa
Neu lumpoe Musa buleuen keunam, tujoh tapham Dawod teuka
Buleuen lapan Nabi Sulaiman,  sikureueng  tuwan Nabi ‘Isa
Jeueb-jeueb buleuen lumpoe meunan, Aminah yohnyan hae suka

Bak Aminah dum geupeusan,  nyo khabaran dum  Ambiya
‘Ohtee lahe aneuk teunyan,  Muhammad nan taboeh nama
Jeueb-jeueb Nabi meunan peuneusan,  that  sukaam hanatara
Hingga sampoe  9  buleuen,  Aminah kheun bak Rabbana

Neu tulong lon wahe Tuhan,  dumna buet nyan nibak gata
Aminah pilheueh neukheun meunan,  Asiah yohnyan katroh teuka
Teuka Maryam aneuk Imran,  Ma janjongan Nabi ‘Isa
Budiyadari dum troh keunan,  gantoe bidan   ureueng donya

Lingka Aminah seukalian, suroh Tuhan lam Syuruga
Malaikat dong meurumphan,  neu hantarkan sayeuep  sigra
Miseue tire pageue badan,  bek jeuet insan  kalon rupa
Jebra-I dinab, unun Mika-I,  budiyadari ban seulingka

Buleuen dua blah malam Seunanyan, Po janjongan pandang donya
Teubiet cahya sajan Nabi, Peungeuh sare ‘alam donya
Langet bumoe mangat hate, Nabi lahe dalam donya
Musyeb Mugreb peungeuh sare,  cahya Nabi leumah cuwaca

Patong kengkeueng habeh reule, dum sigala be jeueb2  donya
Sabab keunong cahya Nabi,  apui  Majusi len dum rata
Habeh susah raja kafe, patong hanle sigala donya
Langet bumoe pujoe Rabbi, bandua si hate suka

Ahlan wa sahlan dum dicae, mangat hate ‘alam donya
Ban sare lheueh lahe Nabi,  di Jebra-I sambot sigra
Malaikat le ngon Jebra-I, neume Nabi sagai donya
Langet bumoe neujak peulemah,  siseun naf’ah katroh neuba

Asoe donya dum ji eu sah, Nabiyullah Jebra-I ba
Neu peuwoe lom bak Aminah,  lheueh peuleumah asoe donya
Baksot bunoe Jebra-I keubah, that bit pantah hanatara
Neuboeh alat sileungkapan, malam Seulanyan yue Rabbana

Neuboeh tire rumboe intan,  seukalian habeh leungka
Calitra nyoe aneuk ‘Abdullah, deungo beusah he saudara
Sare nyata Rasulullah, Aminah yue peugah ubak raja
Bak ‘Abdul Muthaleb  neuyue peugah,  trohle pantah keunan sigra

Bak Muthaleb antusan s’ah,  kheun Aminah ji calitra
He Muthaleb ngo lon peugah,  Tuwan Aminah aneuk kana
Ureueng lakoe bri Potallah,  rupa ceudah hana ngon sa
Kulet badan sang meue meutah, cahya limpah sagai donya

Muthaleb ngo meunan peuneugah,  beudoh pantah neujak sigra
Ban sare troh bak Aminah,  cuco leumah neu eu rupa
Beu eu rupa that bit ceudah,  ban peuneugah tan meutuka
Muthaleb  duek pantah-pntah, Nabiyullah neucok sigra

Peuduek lam lumueng com diubon, cuco neu seuon ateueh jeumala
Ngon ie mata rhot meualon,  Nabi neu ugon neucom sigra
‘Abdul Muthaleb cuco neu phon, lom neu seuon lom neuwawa
Neu eu rupa hana lawan,  mise  intan mata dua

Muthaleb mat nibak badan,  that bee beewan gahru jeumpa
Pusat teukoh kalheueh khatan, malam Seulanyan pandang donya
Mata dua ceulak ka hase,  jroh han sabe ladat mata
Neucom manyak bee kasturi,  that beureuhi hate suka

Neu eu bibi ka meugrak-grak,  aneuk budak pujoe Asa
Neu peurab geulinyueng ubak babah,  neu deungo drah manyak kata
Meunoe neukheun uleh Nabi,  lafai  lon bri sajan makna
Allahummagh firly zunubi, lon ek haji jan  nyang  suka

Ya Tuhanku deungo kamoe,  lon kheun  jinoe ubak gata
Ngon sibeuna gata sidroe,  mukjizat Rasul ban sineuna
Beuta gaseh umat kamoe,  page dudoe lam Syuruga
Nibak salah beuneu ampon, umat ulon agam dara

Meunan do’a manyak lam hayon,  lakee ampon umat dumna
Muthaleb ngo meunan pujoe,  hana bagoe hate suka
Neu peuduek manyak lam lumueng droe, aneuk jaroe teukap sigra
Muthaleb pike teuma dudoe,  snyak cut nyoe that bahgiya

Peue alamat bak uroe nyoe, hana meunoe dilee nyangka
Manyak ban na jeuet meututo, do’a pile dum jikata
Lakee do’a dum keu umat,  Tuhan peuingat dalam dada
‘Abdul Muthaleb ‘ajeb akai,  hantok sagai neu bicara

Muthaleb beudoh pantah-pantah,  bak Baitullah neujak sigra
Sare troh bak pinto K’akbah,  pujoe Allah Tuhan Asa
Aneuk manyak neu peuthawaf, lingka K’akbah  Muthaleb ba
Abdul Muthaleb hate dahsyah,  pujoe Allah hana reuda

Ureueng laen sidroe pitan,  manyak sajan Muthaleb ba
Muthaleb kheun teuma nyoeban,  tango rakan  lon calitra
Shally  ‘alaikallahu ya  ‘Adnan,    ya Mustafa ya ‘afwatun  rahman
Meunan nekheun lafai sya-e, hingga  akhe  habeh baca

Tawaf pilheueh do’a hase,  Muthaleb woele teuma gisa
Troh Muthaleb woe u teumpat,  neuduek leugat bak seuninya
Trohle aneuk   teuma leugat,   geu meusapat   ube nyangna
Yohnyan Muthaleb musyawarat, neu meupakat ngon aneuknda

Neu  eu  aneuk ka meusaho, manyak neu bubo  sigra-sigra
Yohnyan   Muthaleb neu  meututo,  bak aneuk le neu calitra
Wahe aneuk deungo kamoe,  kukheun jinoe ubak gata
Le peue lon  eu   bak uroe nyoe,  hantom meunoe dilee nyangka

Mudah-mudahan lahe dudoe,  geutanyoe roe hantok bicara
Ku ji mate kumuen teunyoe, gata jinoe nyang peulahra
Gata  aneuk ureueng  meugah, kumuen tapapah ta usaha
Bek meusampe aneuk tan mbah, ‘Abdullah syeedara gata

Nyankeu aneuk ulon peugah,  wasiet ayah bek meutuka
Aneuk deungo khaba ayah,  dum geukeubah dalam dada
‘Abdul Mthaleb teutap kisah, ulon peugah laen haba
Kata Hamzah eumpunya rawi,  masa Nabi pandang donya

Nanggroe Mekkah bandum meunan,  malam Seulanyan saboh masa
Bandum manyak hana bidan, kudrat Tuhan beureukat Saidina
Peuet ploh manyak na simalam,  sajan janjongan pandang donya
Keuluwa manyak Nang han saket, sang geuceupet meunan rasa

Ngon mukjizat Nabi Muhammad, badan mangat jeueb2 anggauta
Nibak Nabi nan mukjizat, nan keuramat bak Aulia
‘Abdul Muthaleb ulon sambat, neu peusapat  aneuk  dumna
Muthaleb peugah teuma leugat, neu riwayat bak aneuknda

Wahe aneuk tango kamoe, cuco kunyoe ta peulara
Beuta satoh he aneuk droe,  malam uroe beuta jaga
Ma ji pitan, Du ka mate,  beu meusampe gaseh gata
Bek tadhot-dhot bek ta pake, gaseh sabe sampe raya

Jinoe tamita ureueng binoe,  simanyak nyoe yue peulara
Tayue  meumom cuco lon nyoe, upah jinoe brile gata
Aneuk deungo wasiet ayah,  dum geukeubah dalam dada
Neu beudohle pantah-pantah,  maseng leupah jak meumita

Hana jioh lom neulangkah, kheundak Allah dirot raya
Meuteumeungle ngon Halimah,  ban amanah han meutuka
Peue neu  tanyong jeuet neu peugah.  ubak ayah laju neuba
Bansare troh Siti Halimah, Muthaleb tangah yue duek sigra

‘Abdul Muthaleb neu amanah, bak Halimah neu calitra
Soenan gata Nyak meutuwah,  cuba peugah laju sigra
Ureueng binoe suot pantah, lon Halimah geuhoi nama
Muthaleb ngo meunan peuneugah, hate dahsyah dalam dada

Muthaleb kheun bak Halimah, nyoe amanah lon bak gata
Tatem peumom Nyak meutuwah, taseuleuah tapeulahra
Aneuk yatim ta seuleuah, tanle ayah deungon bunda
Cuco lon nyoe that meutuwah,  beugot tapapah tapeulara

Adat tatem that meutuwah,  Tuhan balaih neubri Syuruga
Beungoh seupot tapeumanoe, cuco kamoe that bahgiya
Ulon teu eu bak Sinyak nyoe,  le peue sinoe leumah tanda
Adat lahe uroe dudoe,  beurang kasoe bek peukhaba

Ta seumanoe geunab uroe, mangat asoe rijang raya
Beuta sayang  cuco kamoe,  Sinyak cut nyoe hanale Ma
Muthaleb wasiet dum sinaroe,  awai dudoe neu calitra
Siti Halimah kisah meuwoe, cok u jaroe  Manyak banna

Neu tingkuele teuma dudoe,  ngon ija droe kasab sutra
Kata he-he keudeh-keunoe,  hayon nyanyoe hana reuda
Ija tumpe nyang meusujoe,  jeuneh bagoe ija sutra
Ma Halimah neucok Nabi,  sit teubietle ngon ie mata

Badan Manyak bee kasturi,   dum beureuhi soe eu rupa
Teubiet cahya bak mata Nabi,   peungeuh sare  ‘alam donya
Yohnyan Halimah hireuen pike,  dalam hate kira-kira
Badan saket cit pulehle,  bandum sare jeueb anggeeta

Dum peunyaket habeh mate, luka kude gadoh sigra
Yohnyan Halimah ka teupike, neu maritle meunoe khaba
Bahle jinoe mom ulon bri, lon kalon hi pakri rupa
Ie mom katho bandua blah,  aneukku Hamzah mom bandua

Sare lon boeh mom lam babah,  teubiet limpah ie mom lanja
Nabi pitroe mom neu pinah, Siti Halimah khem teurtawa
Nabi teusinyom pujoe Allah,  cahya limpah meucuwaca
Siti Halimah hate dahsyah,  kheun sipatah meunoe khaba

Sinyak cut nyoe that meutuwah, gaseh Allah that keuhamba
Unun di Nabi wie di Hamzah,  ie mom limpah ka bandua
Masa dilee mom neu siblah, kheundak Allah ka jeuet dua
Siti Halimah  hate dahsyah, bandua blah mom neukana

Uroe malam neu seuleuah,   Nabiyullah neu peulahra
Meusiat hantom neukeubah,  lam neupapah beungoh sinja
Rupa Nabi sangat indah, sang siulah bungong jeumpa
Kulet puteh jampu mirah,  badan ceudah sang geu upa

Oek diulee jroh that hilam,  ta eu hitam miseue baja
Tuboeh Nabi peurteungahan, kulet badan bungong jeumpa
Meunan tamse bak teuladan,   meuribee ban leubeh  ganda
Mata dua miseue intan,  hana  lawan ngon tapeusa

Barangri rumoh na janjongan, panyot sinan hana guna
Muka Nabi sang buleuen  trang,  soe nyang pandang labui mata
Badan ceudah jroh meutrieng blang,  raya u manyang keumang u dada
Takue Nabi ban geutuwang, badan seudang han that raya

Bulee keuneng buleuen siuroe, kilat gigoe  dum  peurmata
Teusinyom Nabi leumah gigoe, hireuen laloe ladat mata
Neucok langkah jroh meualon, sang bakat tron meulumba-lumba
Neutiek aleh leumah-leumbot,  sang angen pot cabeueng  keureuma

Cahya Nabi ulon seubut, lon boeh bacut he saudara
Adat malam hanpeue panyot, tae u blet-blot cahya muka
Seb ngon cahya Rasulullah, peungeuh limpah sigai  donya
Sifeuet Nabi han ek peugah, akai dahsyah ngon bicara

Teutap siat keu Halimah, ulon pinah laen teuma
Nabi rayek ho siuroe, Tuhan sidroe nyang peulara
Umu nam thon Nabi sampoe,  na 40 droe sahbat kana
Sabe2   ban 40 droe,  na siuroe pandang donya

‘Abdul Muthaleb kisah meuwoe, tango adoe lon calitra
Neuhoi aneuk dum sinaroe,  keunan sampoe bak ayahnda
‘Abdul Muthaleb neukheun meunoe,  tango kamoe bandum gata
Kadang mate ulon jinoe, wasiet  lon  nyoe bek talupa

Wahe aneuk lon hareutoe, beurang  kasoe mawot teuka
Wahe aneuk lon peurunoe,  kumuen teunyoe  tapeulara
Bek tadhot-dhot cuco lon nyoe,   wasiet  kamoe bandum gata
Hana gundah ulon sidroe,  nyawong jiwoe bak Rabbana

Nyang  teuingat ulon teunyoe,  cuco kamoe soe peulara
Ulon aneuk karab mate,  hana treble bijeh mata
Beurang kasoe pisit mate,  walau Nabi Rasul Rabbana
Kullu nafsin   zaikatul mauti, firman Rabbi  nyang peunyata

Nyang meunyawong bandum mate, barang soele got Ambiya
‘Abdul Mthaeb meunan syawe,  ie mata ile taloe muka
Ulon aneuk karab mate, Tuhan peucre dalam donya
Cuco lon nyoe keusoe lon bri, cuba kheunkri bandum gata

Hamzah deungo tuto Abi,  jaweueb neubri keu ayahnda
Wahe ayah bek that kiroh, kamoe tujoh aneuk gata
Bek tagundah Muhammad saboh, kamoe jroh2  meujaga
Uroe malam ulon satoh,  hanjeuet gadoh sikleb mata

Kamoe hiro kumuen lon nyan,  di janjongan bek that duka
Ija  bajee ngon peukayan,  ulontuwan nyang usaha
Bek that susah di janjongan, dum makanan ulon kira
Saidina Hamzah neukheun meunan,  Muthaleb yohnyan  seuot sigra

Bek bak gata cuco lon nyoe, digata han  jan takira
Gata aneuk that phalawan, keumuen hanjan ta usaha
Gata lale sajan rakan, toh pakriban  ta peulahra
‘Abdul Muthaleb neukheun meunan,  Hamzah yohnyan  hanle khaba

‘Oh neu pike nyobit meunan, meutuka han kheun ayahnda
Teuduek tahe tuwan Hamzah, seuot ‘Abbas meunoe haba
Bahle bak lon wahe ayah, bek that susah he Du raja
Bahlon hiro Du meutuwah, gata peugah ulon kira

Ija bajee ngon kupiyah, hana suwah gob bicara
Bak  lontuwan dumpeue mudah, bekle susah he ayahnda
Meunan neukheun tuwan ‘Abbas, Muthaleb pantah jaweueb sigra
Bek bak gata nyak meutuwah, gata sosah maniyaga

Gata aneuk ta meukeude, le peue lale kira mira
Gata kaya tan padoli, hana lon bri ta peulara
‘Abdul Muthaleb meunan syawe,  ‘Abbas iemle hana khaba
Teuduek ‘Abbas beudoh adoe,  seun2  sidroe lakee peulara

Mama Nabi dum sinaroe,  teutap iem droe hanle khaba
Abu Thaleb seuot meunoe,  sira neumoe  meusuwara
Wahe ayah bri bak kamoe, kumuen lon nyoe kupeulara
Tan buet laen ulon teunyoe,  sabab kamoe gasien raya

Ulon jaga Muhammad sidroe, malam uroe lon usaha
Abu Thaleb meunan kheun proe,  bak ayah droe neu peukhaba
‘Abdul Muthaleb neukheun meunoe, cuco lon nyoe jeuet bak gata
Neumat Muhammad nibak jaroe, Muthaleb kheun proe bak aneuknda

Ku peusan bak gata Abu Thaleb,  cucoku wajeb ta peulara
Bekta  poh2  bekta let2,   adat saket ta usaha
Adat ji meu’en ngon aneukmiet, bek jicutiet bek jitampa
Meunan wasiet ‘Abdul Muthaleb,  moe meureb-reb ngon ie mata

Abu Thaleb jaweueb neubri,  wahe Abi bek that duka
Han lon ubah ban nyang janji,  han meu ungki he ayahda
Abu thaleb sambot Nabi,  that beureuhi hate suka
‘Abdul Muthaleh lheueh nyan neumoe, ri geumanoe ro ie mata

Neucok Nabi neucom bak dhoe,  hana bagoe hate luka
Aneuk lingka dum sinaroe, ceupet asoe hana reuda
Peusan pilheueh janji kaseb,  moe meureb-reb aneuk lingka
Lheueh nibak nyan meutamah saket,  ‘Abdul Muthaleb that nadeu’a

Aneuk bandum seukaliyan, sinan sajan agam dara
Malaikat mawot katroh keunan, geucok yohnyan nyawong sigra
Nyawong geuba ubak Tuhan,  tinggai badan eh teurhanta
Geuseumanoe boh lam gafan,  aneuk sajan lakee do’a

Lheueh geutanom rakyat jiwoe, tinggai sidroe lam kheureunda
Hana panyang ulon peugah, takot salah jeuet keu deesya
Geukhanduri  bri seudeukah, ureueng ziyarah le that teuka
‘Abdul Muthaleb dalam kubah,  teutap kisah saboh khaba

Yoh masanyan jahiliyah,  hanban peurintah buet agama
Laila haillallah, Muthaleb sah asoe syuruga
Nabi Muhammad neu gaseh that,  Tuhan Hadharat ampon deesya
;Abdullah ka dilee mate,  gohlom Nabi pandang donya

Peuet ploh uroe umu Nabi,  wafeuet Siti tinggai donya
Tuwan Aminah pihka mate, gohlom lahe buet agama
Na tujoh thon umu Nabi,  mate Nini Muthaleb nama
Abu Thaleb  peulara Nabi,  ayah ‘Ali nyang Murtadla

Jinoe   uroe Satu, 25 Buleuen Puwasa 1434, baro  ‘etnoe ( baro trok 20 on naskah asli  atawa 20 halaman cit lam huruf Laten)   lheueh lon salen Hikayat Abu Jeuhai nibak  harah Jawoe  keu harah Laten. Hikayat nyoe geupeutaba  ngon geuyue salenle  Medya Hus  watee lon jak ngon Amal u rumoh  droeneuh nyan di Cot Buklat,   hana treb yoh goh  buleuen Puwasa nyoe. Le that  ‘rangkeum’ lam usaha lon seumalen hikayat nyoe, nyangka lon mulayi bak  3 Ramadhan 1434  H/12 Juli 2013 M.  Aleh wab  reumatik jaroe, ‘oh lon keutik rijang saket-singke aneuk jaroe ban dua blah jaroe. Baro meu  4 bareh lon keutik, ditunyum  laju singke le aneuk jaroe. Padahai jinoe lon mengetik ngon komputer, aleh sang meunye  ngon mesin Tik  lagee awai  hanjeuet sagaile!?. Lon peugot catatan nyoe, seubab bak: Sabtu, 25 Ramadhan  1434 H ( 3 Agustus 2013 M), yakni hari ini adalah dalam rangka mengenang atau Ultah ke 29   kecelakaan di jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Naas itu terjadi hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405  (15 Juni 1985 ) sekitar pukul 13.00 wib di wilayah Kalasan, lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta.  Pada hari itu, kami mahasiswa peserta KKN-UGM dijemput pulang ke kampus setelah melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata selama dua bulan lebih. Saya sendiri, T. Abdullah Sulaiman  beserta empat orang teman lainnnya ditugaskan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selesai acara perpisahan dengan “Pemda Kabupaten di Boyolali” konvoi mahasiswa KKN-UGM bergerak pulang ke Kampus UGM Yogyakarta.  Setelah melintasi Candi Prambanan peristiwa naas itu terjadi. Sebuah mobil Colt pengangkut barang  tivi tiba-tiba menabrak saya.  Akibatnya, saya  perlu berobat dua tahun, secara medis di kota dan tabib patah di gunung. Nyaris skripsi tak selesai. Syukur Alhamdulillah, semua hambatan itu teratasi juwa akhirnya. Semoga kedepan rahmat dan karunia Allah Swt semakin berlimpah dicucurkan kepada saya sekeluarga serta bagi kaum Muslimin-Muslimat  ban Sigom Donya!. Selamat Menyambut Hari Raya ‘Idul Fitri 1434 H, mohon-maaf   lahir dan bathin!!!.

Bale Tambeh,  25 Puwasa 1434
25 Ramadhan  1434 H
3 Agustus 2013 M
( T.A. Sakti )

Neugaseh that hana sakri, wasiet  Abi tan meuriba
Dua blah thon umu Nabi, that beureuhi cahya muka
Sifeuet that jroh bangsa leubeh, lidah faseh hana tara
Su mangat that narit mameh, hantom beungeh taeu muka

Ulon seubut sifeuet Muhammad, soe nyang ingat that bahgiya
Geulunyueng dua bak ibrat, bak beureukat neu peujeuet keupala
Bibi teuseubeh lidah zike,  sinan hase Tuhan peuna
Bahsa ‘Arab Nur keumari,  cahya Nabi buleuen purnama

Hate nurani nyawong rahmani, panghulee Nabi  jroh lagoina
Soe tumei mat jaroe Nabi, bee kasturi bee syuruga
Pruet eleumee bulee badan,  mangat beewan hanatara
Cahya muka miseue intan,  cahya badan sang meutiya

Bulee timoh nibak badan,  beeji naban gahru jeumpa
Naleueng Syuruga oek di ulee, mangat that bee nibak ‘atha
Rupa that jroh hana lagee, buleuen reudee cahya muka
Bungong lawang hate ikhlas, badan ceudah sang geuteumpa

Rupa Nabi sangat indah, bibi mirah sang keuseumba
Teumpat lahe Neu di Mekkah, meunan peuneugah dum ulama
Mama Nabi Saidina Hamzah,  Tuwan ‘Abdullah nan  Ayahnda
Bunda Nabi Tuwan Aminah,  Siti Halimah nyang peulara

Hidong manyang peurteungahan,  bee janjongan gahru jeumpa
Paleuet jaroe jroh meukulam, oek neu hitam miseue baja
Badan sihat bee pi mangat, Nabi Muhammad panghulee kita
Na peuet ploh droe kana sahbat, neu gaseh that hanatara

Bee kasturi bee Muhammad, narit mangat miseue saka
Uroe malam bee meukeumat, Malaikat dum seureuta
Aneuk yatim ‘oh meuteumei, neu gusuek diulee ngon tangannya
Neugaseh that hana lagee,  peue jilakee neu karonya

Soe na grah tapeugah droe, neu keubah jaroe ateueh dada
Grah pi gadoh pruet pi katroe, niekmat sampoe jeueb anggouta
Aneuk jaroe miseue sungoe, paleuet jaroe laot raya
Jaroe murah Nabi geutanyoe, barang kasoe mameh muka

Sampoh jaroe jeuet keu ubat, ie babah jeuet keu peunawa
Dum  peunyaket gadoh siat,  peue nyang hajat sampoe pinta
Teubiet reuoh nibak badan, hase tuwan  dum peukara
Ngon bee nafaih bee keumunyan, jampu sajan  bee  komkomma

Sifeuet Nabi han ek simpan, mit na jalan lon peunyata
Bak sireutoih lon  boh saboh, meubek gadoh kira-kira
Sifeuet Nabi han ek teuoh, bandun jroh-jroh tan upama
Saboh khaba ‘ohnoe outoh, laen lon boeh he saudara

La ila haillallah, sangat indah sifeuet Mustafa
Maulod Nabi nanggroe Makkah, ureueng ziyarah  keunan teuka
Imum Syafi’I nyang beuet kisah, Rasulullah geucalitra
Soe khanduri raya faidah, Tuhan balaih page Syuruga

( Catatan: 11 bait setelah Ultah ke 29 tahun di atas, mulai saya salin sekitar jam 11.00 pada hari Senin, 24 Beurapet 1434 alias 24 Zulqaidah 1434 H alias 30 September 2013 M, poh 9.51 mlm, T.A. Sakti ).

Rabiul Awai uroe dua blaih, nanggroe Makkah nyang keureuja
Geutueng beureukat geujak ziyarah, nanggroe Makkah teumpat Bunda
Bak uroe nyoe geubuka Kakbah, Rasulullah pandang donya
Geubeuet kisah Maulod Nabi, salen geubri nibak raja

Niet  ta syuko Nabi lahe, galak hate galak suka
Lahe baten na khanduri, hate suci bekna riba
Soe kanduri ikhlas hate, uroe page lam Syuruga
Lam buleuen nyan  takhanduri, Imum Sayuthi nyang calitra

Kanduri Maulod soe na hajat, pileh teumpat nyang utama
Bid’ah hasanah bukon siat, Syiah mufakat Ibnu Hajar
Lahe baten  seukalian,  dum nibak nyan niekmat teuka
Adat han hase nyan disinan, lam buleuen nyan takeureuja

Kata ulama siteungoh kheun,  barang ri buleuen pi neu ridha
Peue nyang mudah nyan ta makeuen, sithon siseuen ta keureuja
Hasyiqah Tuhfah(                        ) Ibnu Hasyim, kalon Polem bek syok sangka
Sithon siblet ta peulazem, awai musem ta keureuja

Soe kanduri ji peukayem, nyan hai Dalem meubahgiya
Hafith Nashiruddin, beuta yakin bek syok sangka
Meunan geukheun dalam Kitab,  Abu Lahab kureueng syeksa
‘Oh troih gantoe uroe Seunanyan, beurang kajan na seureuta

Sabab neu syuko lahe Muhammad,  sidroe namiet neu peumeurdeka
Buleuen duablah uroe Seunanyan, sabe meunan neupeu meurdeka
Sabab suka keu janjongan, ‘azeueb neuhan that geusyeksa
Lam Nuraka beurang kajan, ‘azeueb taulan na cit reuda

Nyan dum balaih ureueng kafe, mukmin  pakri Babul aula
Kata rawi poriwayat, tango sahbat lon calitra
Di nanggrpe Meuse ureueng sidroe, ureueng lakoe that taqwa
Rabiul awai dua blah uroe,  ‘oh troih gantoe geukeureuja

Kanduri maulod gobnyan sidroe,  Nabi geupujoe seulaweuet geuba
Toe rumoh nyan ureueng kafe,  biek Yahudi umat Musa
Bak siuroe Tuhan neubri, jeum teukeudi bak Rabbana
Jikalon ureueng kanduri,  pujoe Nabi geubeuet do’a

Meuwoe kisah keu Yahudi,  ngo lon rawi he syeedara
Tanyong inong ubak lakoe, meunoe bagoe ji pareksa
Wahe judo tango kamoe, ulon teunyoe tanyong khaba
Ureueng Islam rab geutanyoe, lone u bunoe sang geukeurija

Ji kanduri bunoe uroe, peue jipujoe nyang that raya
‘Oh trok bak thon lam buleun nyoe,  sabe meunoe ji keurija
Dalam lumpoe meunan leumah, sang ji seumah Nabi kita
Inong Yahudi that meutuwah, pujoe Allah lam rahsiya

Awai kafe Islam dudoe, dalam lumpoe Syahadat jiba
Teugoh janji ureueng binoe, dalam lumpoe ngon Allah Ta’ala
Lheueh neu wasiet dum sinaroe, Nabi neuwoe jih pih jaga
Ban teukeujot bak meulumpoe, mata uroe  ka teurpanca

Ji beudohle ban dua droe,  deungon lakoe  sigra jaga
Jitron u yub teuma dudoe, mata uroe pika jula
Rupa Nabi ji eu lam lumpoe, hate teugoe-goe syuko jiba
Teuduek inong kisah lakoe,  tango adoe lon calitra

Sigra  dua ji meulumpoe, Tuhan sidroe bri rahsiya
Hingga beungohle ngon uroe,  buka putoe sigra-sigra
Bri seudeukah di Polakoe, hana bagoe hate suka
Dum makanan ka jijak bloe,  ureueng nanggroe ji seuranta

Tanyong inong ubak lakoe,  meunoe bagoe ji pareksa
Peue kanduri bak uroe nyoe,  hantom meunoe dilee nyangka
Teungku peugah ubak kamoe, kanduri nyoe  keupeue guna
Peue makeusud peugah jinoe, ubak kamoe neu calitra

Inong tanyong awai dudoe, seuot lakoe meunoe khaba
Wahe judo nyang sambinoe, buklam kamoe na rahsiya
Nabi Muhammad ulon lumpoe, Tuhan sidroe nyang peunyata
Nanggroe Makkah neujak keunoe, bak geutanyoe neu peuteuka

Rupa jroh that hana bagoe, that samlakoe hanatara
Ku Iseulam ulon sidroe, dalam lumpoe meunan rasa
Lon meusyahadat dalam lumpoe,  lon mat jaroe Nabi kita
Lheueh Islam ulon sidroe,  Nabi neuwoe lon pi jaga

Nyan meukeusud  kanduri nyoe,  sabab kamoe masok agama
Rabiul awai dua blaih uroe,  troih bak gantoe jinoe kutika
Kanduri Maulod Nabi kheun proe,  bak lon sidroe neu calitra
Soehan  kanduri beurang kasoe,  uroe dudoe jih geusyeksa

Meunan Nabi kheun bak kamoe,  ulon teunyoe ku peucaya
Iman teugoh ulon  teunyoe, kalheueh bunoe masok  agama
Ban jidengo kheun Polakoe,  teukab jaroe di Podara
Teuma seuot ureueng binoe,  ulon teunyoe hireuen raya

Dilon buklam ku meulumpo, mureh uroe teubiet faja
Nabi Muhammad neujak keunoe, deungon kamoe peugah haba
Ruoa iloek that samlakoe,  jroh that bagoe hanatara
Ka meutuwah ulon sidroe, roh lam jaroe Meukuta donya

Ku meusyahdat dalam lumpoe,  hate teugoe-goe keu agama
Ku Iseulam ulon teunyoe, ‘ohlheueh kamoe teuma gata
Inong Yahaudi  meunan  hareutoe, ubak lakoe ji calitra
Masok Islam bandua droe, dalam lumpoe lam rahsiya

Mangat hate hana bagoe, bandua droe masok agama
Lheueh Iseulam inong Yahudi, ji kanduri lakee do;a
Mangat hate hana sakri, bandua si sama-sama
Nyankeu  indah  ta khanduri. Teuka Nabi bak rumoh gata

Soe kanduri ikhlas hate,  uroe page lam Syuruga
Leumah lumpoe inong Yahudi, Tuhan neubri masok agama
Tueng ‘ibarat he ya akhi, beurang kari agam dara
Habeh ‘ohnoe haba Yahudi,  ngo  lon rawi laen punca

Lailaha iliallah, pujoe Allah bek talupa
Muhammadur Rasulullah, kheun dibabah bek na reuda
Pasai nyang phon ‘ohnoe sudah, ulon peugah pasai dua
Nabi  geutanyoe neu meubantah, neu meureupah deungon apa

Ngon Abu Juhai neu meureupah, meunan kisah dum ulama
Yohmasa nyan jahiliyah, Nabiyullah gohlom raya
Raja Husyam ulon peugah,  nanggroe Mekkah sinan raja
Abu Jeuhai nyankeu ayah,  raja meugah hanatara

Rakyat rame nanggroe luah, kaya limpah le areuta
Raja Habsyah*)  teutap kisah,  Nabiyullah lom meugisa
Lailaha illallah, sidroe Allah nyang kuasa
Dua blah thon umu Nabi, goh soe turi nyoe Ambia

Muhammad  yatim nan geurasi,  gohlom Nabi peudong agama
Aneuk miet dum jeuet keurakan, nyang na sajan saboh masa
Na peuet ploh droe bak bilangan,  lam nanggroe nyan ban seulingka
Umu santeuet muda saban,  jroh lakuan saban rupa

Sabe-sabe ngon janjongan, ban  40 nyan Muhammad nama
Neu gaseh that nyan keurakan, sa pakaian saban rupa
Kupiyah iloek? Ngui janjongan,  bandum meunan sama-sama
Ija meukasab keu syuruban,  hana lawan ngon tapeusa

Buleuen purnama nintang sajan, keu piasan langet donya
Rakan 40 saban-saban,  ban lakuan sang saboh Ma
‘Oh jeuet Mukim  keu jamaah,  ngon Muhammad na 41
‘Oh watee beungoh ka meusapat,  seupot meuhat woe u tangga

Jak meusaho duek meusapat,  ho Muhammad keunan teuka
Tuto narit bri nasihat,  neu yue taat keu Rabbana
Hana tom cre pi meungsiat, peuet ploh sahbat sang saboh Ma
Jak meuron-ron ngon Muhammad,  hate mangat sahbat dumna

Muhammad jak Jabal Kubes, sabe keudeh ubak Apa
Rakan  40 that neu gaseh,  bandum habeh  sajan neuba
Nabi peurunoe ngon kalimah, neu amanah buet agama
Lailaha illallah, sidroe Allah nyang kuasa
Muhammad Rasulullah, kheun dibabah bek talupa

Bitpi hana lom tron wahi,  tuto Nabi dum sibeuna
Rakan 40 Tuhan neubri, hantom seu-i   sabe teuga
Sabe-sabe deungon Nabi,  that juhari taeu rupa
Uroe geujak malam geuwoe, maseng bak droe rumoh tangga

Kheundak Tuhan bak siuroe, rakan 40 droe ji meukhaba
He Muhammad deungo jinoe, dumna kamoe gaseh keu gata
Sajan gata malam uroe, kamoe 40 droe  jarak hana
Kamoe pakat bak siseun nyoe,  gata jinoe  meuboeh  raja

Sabab gata jroh peurangoe, bandum kamoe hate suka
Meunan geukheun dum sinaroe, ban 40 droe saban hba
Dua blah thon umu sampoe, kaseb ragoe dum bicara
Ban 40 droe saban peugah, Nabiyullah geuboh raja

Nabi deungo meunan seumbah, kabui  pantah neutem ridha
‘Oh lheueh bai’at geumeu sumpah,  nabiyullah geuboh raja
Nabi keuraja taulan keu rakyat,  sapeue pakat ban 41
‘Oh sare lheueh geutueng bi’at, Nabi Muhammad boeh keuraja

Rakan 40 hate mangat, ka seulamat nibak bahya
Ateueh gunong Jabal Kubes, bi’at sideh sabe muda
Nabi Muhammad that geumaseh, kawom wareh that muliya
Ureueng laen hansoe tuban, sidroe Tuhan thee sibeuna

Sidroe raja 40 rakan,  muda saban sang saboh Ma
Sabe-sabe ngon janjongan, ban 40 nyan saboh  nama
Sidroe Nabi 40 rakan, sa pakaian saban rupa
Kisah Nabi teutap ‘ohnan,  nyoe kurangan laen haba

Bukon sayang bungong karah,  rupa ceudah hanatara
Ajayib subhanallah, ngo lon kisah sidroe raja
Jeueb2  nanggroe meusyuhu meugah,  Kaya limpah hanatara
Neu kheurajeun nanggroe Mekkah, that barullah ngon areuta

Rakyat rame nanggroe luah,  troh u Jeudah droeneu raja
Yoh masa nyan jahiliyah, bandum seumbah patong beurahla
Raja Husyam nan Sulotan, meunan rakan gob peukhaba
Masa kheurajeuen raja Husyam, agama Islam gohlom nyata

Seumah patong uroe malam,  nyan dikhadam jeueb2 raja
Nam blah raja dalam reugam,  raja Husyam nyan nyang raya
Aneuk raja pina sidroe, ureueng lakoe Tuhan karonya
Rupa hibat hana bagoe,  dalam nanggroe meunan hana

Ngon beurani kuat hansoe,  that peungaroe ilok rupa
Kulet puteh that samlakoe,  hana bagoe hibat rupa
Peukayan hu nibak  asoe, intan pudoe ngon meutiya
Ek jime brat siribee katoe,  dum siploh droe phalawan teuga

Hansoe lawan jeueb2  nanggroe, that seureuloe aneuk raja
Na peuet reutoih rakan sajan,  nyang pilihan kaya-kaya
Umu santeuet rupa saban,  sa pakaiyan saban muda
Kulah kama tampok intan,  syuruban meusuri wangga

Ban 400 sa pakaiyan,  saban-saban deungon raja
Soe nyang kalon that sukaan,  keu rakan ji gaseh raya
Permanyenan ngon piasan,  han sapeue tan aneuk raja
Peukaiyan hu nibak badan, meueh ngon intan dum  peurmata

Ban 400 saban-saban,  sa pakaiyan brile raja
Jijak meu’en dalam nanggroe,  400 droe rakan jiba
Beungoh jijak seupot jiwoe,  geunap uroe meudi wangga
Saboh Bale lam meuligoe,  teumpat duek droe aneuk raja

Limong blah thon umu sampoe,  geunap uroe meu’en guda
Nama geuhoi Abu Juhai,  sangat bubai bak agama
Mantong muda teungoh dai-dai, gohna akai ngon bicara
Teutap siat Abu Juhai, ubak asai lon peugisa

Ulon seubut Nabi Muhammad,  beuta ingat he syaudara
Rakan 40 kalheueh bi’at, neu amanat keu agama
Nabi raja rakan rakyat,  nyang mupakat bak bicara
Bak siuroe neu beurangkat, deungon rakyat 40 neuba

Nabi neujak padang Ibthah, padang luah hanatara
Keunan meuneu’en ureueng Mekkah, bak Ibthah padang raya
Antara Mina deungon Makkah, teumpat Ibthah neu calitra
Raja-raja  uleebalang, dum sibarang keunan teuka

Teumpat meu’en nyang geulanggang, sabab padang luah raya
Piasan le dum sibarang, tambo geundrang keunan geuba
‘Ohtee beungoh geumeusapat, seupot meuhat  dum geugisa
Makna Ibthah nama teumpat, nyang luah that pahok(        ) raya
Ureue Haji dum geutupat,  jinoe meuhat geuboh nama

Makkah jarak ngon Mina toe, rotdeh rotnoe gunong dua
Keunan meusapat ureueng nanggroe,  dum sinaroe gasien kaya
Beungoh geujak seupot geuwoe, bak teumpat droe maseng jeumba
Nabi geujak bak siuroe,  ngon 40 droe sajan neuba

Ban sare troih keunan Nabi,  meureumpokle aneuk raja
Abu Jeuhai kalon Nabi, teuka beunci  dalam dada
Dijih jiduek ateueh kurusi, wet-wet gaki aneuk raja
Keudeh mata ateueh Nabi,  jikalon ci pakri rupa

Ji eu hana hormat neubri,  beungeh sang ri rimueng Beungga
Abu Juhai ateueh kurusi, di Nabi hana neu sapa
Ji eu hana neu  padoli, teuka beunci aneuk raja
Ka jitroh dam dalam hate, hana lahe  nyan u luwa

Nabi laloe neumeu dike, hate hadle keu Rabbana
Geunap uroe meunan sabe, saket hate aneuk raja
Neujak neuwoe rotnan sabe, neumeu zike raya-raya
Abu Juhai saket hate, leumah pike dalam dada

Ubak rakan ji peugahle, meunoe syawe aneuk raja
Wahe sahbat ngo lon lahe,  pakri pike nibak gata
Muhammad yatim jinoe pakri, tan padoli kamoe raja
Ulon sidroe tan jituri,  hana jibri hormat mulia

Keujih sidroe that ku banci, jinoe pakri nibak gata
Jijqk jiwoe rotnoe sabe, ji meudike raya raya
‘Ohtee beungoh jijak u gle, rotnoe sabe ‘oh jigisa
‘Ohtee jijak jihoi sare, ji meuzike rot leuen raja

Tan ji ingat Ma ji tanle, dijih sabe seu-u raya
‘Ohtee jijak singoh u gle, jih tapake uleh gata
Rot leuen kamoe bek dijakle, ji meudike kiroh raya
Meuhan jipateh tapoh mate, bandum sare ban  41

Abu jeuhai  meunan syawe, ji seuotle rakan dumna
Ampon daulat po dikamoe, narit jaknyoe sabet beuna
Muhammad han taklok keunoe, pike kamoe laen kira
Dijih laen meupeurangoe, agama nyoe han jiridla

Meunan pike nibak kamoe, hantom keunoe na jiteuka
Han ji taklok bak geutanyoe, laen peurangoe yatim tan Ma
Beungoh jijak seupot jiwoe,  na 40 droe rakan geuna
‘Ohtroih baklon leuen meuligoe, pok-prok jaroe ji peusuara

Ji peukiroh jijak jiwoe, hanthee kudroe yatim tan Ma
Bale tapoh singoh uroe, taboeh taloe dum sineuna
Meuta lurong tuwanku droe, ache dudoe jeuet jih raja
Nyang got tapoh laju jinoe, pike kamoe meunan gura

Muhammad laen peurangoe, ban laku nyoe lone u rupa
Meunan khaba dum sinaroe, ji hareutoe ubak raja
Abu Juhai teutap iem droe,  duek teupipoe ateueh keuta
Hingga seupotle ngon uroe, pakat sampoe putoih khaba

Abu Jeuhai lon hareutoe, u meuligoe jiek sigra
Deungon rakan dum sinaroe, sajan ngon droe aneuk raja
Abu Juhai teutap ‘ohnoe, Nabi geutanyoe lon calitra
Hingga beungohle ngon uroe,  rakan 40 droe keunan teuka

Cabeueng kheureuma sikrak sidroe,  mat dijaroe bandum rata
Rot leuen raja neujak neuwoe, geunap uroe hana reuda
Nabi neujak ngon rakan droe, hingga sampoe padang raya
Teutap Nabi siat ‘ohnoe, lon kisah nyoe aneuk raja

Abu Jahai lon hareutoe, beungoh uroe beudoh sigra
Ngui peukayan dum u asoe,  intan pudoe ngon mutiya
Deungon rakan 400 droe, di jaroe alat dum rata
Ji meujak poh Nabi Muhammad,  meunan ingat aneuk raja

Padang Ibtah dijak leugat,  ubak teumpat luwah raya
Na 400 jiba rakyat, saban kuat aneuk raja
Mat dijaroe bandum alat, ladom tungkat ladom cokma
Ban 400 saban kuat,  rupa hibat hanatara

Ban sare troih ubak teumpat, surak leugat aneuk raja
Bandum seu-u taeu rakyat, ji lumpat ji lila lila
Lon peuriwang Nabi Muhammad,  neupeu ingat bak ngon neuba
Tango kamoe wahe sahbat, dong beusapat bandum gata

Bekta takot raja bangsat, Tuhan Hadlarat soe peulara
Beudoih lawan laju leugat, poh ngon tungkat cabeueng khurma
Ta peujok droe bak Hadlarat, sidroe kudrat nyang kuwasa
Teulheueh wasiet ngon amanat, Nabi Muhammad beudoh ngaza

Rakan 40 beudoh leugat,  jak meusapat santeut banja
Abu Jeuhai ‘alaihi laknat,  prang Muhammad Keumala Donya
Padang Ibtah nyang luah that,  nyankeu teumpat prang Maulana
Ji deumpekle bandum rakyat, geu ek leugat laju teuma

Bandua ho ka meusapat, poh ngon tungkat cabeueng kurma
Abu Jeuhai beungeh jithat, ji lumpat na limong deupa
Jisuet peudeueng teuma leugat, jicang sahbat Nabi kita
‘Oh jitak ka meulipat, peudeueng meuhat patah dua

Deungon tulong Tuhan Hadlarat, bandum sahbat han binasa
Bandum seu-u beurani that, ngon kuat meuteumeung teuga
Yohnyan beungeh bandum sahbat,  geupoh leugat rakan raja
Ladom mate keunong tungkat, ladom rakyat reuloh jungka

Bandua ho geumeu tak tak,  deumpek surak hana reuda
Ladom asoe jihka pipak,  teuntang utak darah teupanca
Sahbat Nabi hana rusak, Ilahon haq nyang peulara
Bandum seu-u hate galak,  laju geutak lam kawan raja

Abu Juhai hate palak,  rakan rusak bandum rata
Ladom luka bak tangkurak, ladom utak beukah dua
Patah teuot han jeuet jijak, ladom pipak asoe luka
Ban 400 rata rusak, hate palak aneuk raja

Deungon tulong sidroe Tuhan, han jipaban tukri daya
Kateumakot bandum rakan, yo ngon badan miseue geumpa
Abu Jeuhai susah hanban, han ek lawan ‘oh jikira
Ji surotle bandum rakan, beungeh hanban aneuk raja

Han ekle theun saket badan, bandum rakan ka jiguda
Ban 400 jiplueng yohnyan, sidroe pihan na jigisa
Sahbat Nabi kalon meunan, geulet yohnyan lagee raya
Geusurakle  seukalian, geulet rakan aneuk raja

Sahbat Nabi that sukaan, pujoe Tuhan hana reuda
Abu Juhai lon peugah ban,  sajan akan aneuk raja
Dalam kuta jiplueng yohnyan, ngon janjongan tinggai diluwa
Abu Jeuhai teutap ‘ohnan,  lon karangan Nabi kita

Bandum sahbat hate mangat, ka seulamat nibak mara
‘Oh leupah woe raja laknat, Nabi Muhammad teuma gisa
Deungon rakan bandum sahbat,  troih u teumpat dilee nyangka
Nabi piyoh teuma leugat,  bandum rakyat hek lagoina

Ban 41 duek meusapat, sidroe sahbat buka haba
Kamoe lakee ya Muhammad,  makanan mangat nibak gata
Neubri piyoh kamoe siat,  sabab hek that deuek meuraya
Ban Nabi ngo khaba sahbat,  beudoh leugat sigra sigra

Nabi jakle bak ‘Atikah, seureuta limpah ngon ie mata
Meunoe sabda Nabi Allah, peue na mudah wahe Mama
Rakan ulon bandum payah, deuek deungon grah silagoina
Neubri makanan peue na mudah, neu seuleuah wahe Mama

Meunan neukheu Nabiyullah,  tuwan ‘Atikah moe meu’a’a
‘Atikah com Nabiyullah,  sare limpah ngon ie mata
Ulee Nabi bak dada ‘Atikah, ingat keu Ayah deungon Bunda
Droe neu mate aneuk neukeubah, tan bube drah na areuta

Meunoe neu kheunle ‘Atikah,  ile limpah ngon ie mata
Allah Allah hu ya Allah,  ban peurintah Po lon gata
Nyang pat laen tan lon peugah, gata nyang sah amat kaya
Keumuen lon deuek hanpeue lonbri, he ya Rabbi putoih asa

‘Atikah com ulee Nabi, hana sakri neumoe  rugha
Sira neumoe  neu meurawe, ‘Atikah kheunle meunoe khaba
Wahe aneuk jantong hate, bungong pade kumuen raja
Makanan tan peuekeu lon bri,  jinoe pakri bijeh mata

Sabab ulon gasien faki,  siblah ruti pajoh duwa
Makanan tan sapeue hanle, he boh hate deuek karasa
Tuan ‘Atikah meunan syawe,  Nabi moele ro ie mata
Ingat sahbat weueh that hate, neumoe sabe hana reuda

Hari Sabtu-Ahad, 21-22 Zulhijjah 1434 H/26-27 Oktober 2013  M ulon  puphon kuliah di  Pasca Sarjana  UIN Ar-Raniry Banda Aceh nyang dipeutatehle Muhajir. Selain antar-jemput, pada jam 10 dan 16 dia menjenguk  saya buat ‘urusan DM’. Bale Tambeh, 28 Oktober 2013 jam 22.44. Semoga usaha kuliah S 2 saya ini mendapat rahmat dan ridha Allah Swt. Aminn!, T.A. Sakti.

Ngon ie mata laju ile, Rabbon Kade nyang kuwasa
Leuen ‘Atikah khuruma mate,  on ji tanle trebka lama
Neucok ie mata neu sampohle, gusuek sare ban seulingka
Deungon Kudrat Rabbol Kade, khuruma mate udep sigra

Ji teubiet on dum sagaibe, teudong sare ban seulingka
Teubiet bungong  ka meurungkhe, ji meubohle bandum rata
Masak laju bandum sare, jeueb2 tangke mirah rata
Deungon Kudrat Rabbol Kade, khurma mate meuboh sigra

Mukjizak Nabi neu peulahe, sahbat sare deuek lagoina
Yohnyan Nabi mangat hate, sit neu potle boh khuruma
Rasa mameh hana sabe, sang2  mise kaye Syuruga
Lheueh neupot boh uleh Nabi, bak pi mate miseue nyangka

‘Atikah eu meunan alamat, teumakot  that  hanatara
Reubah pangsan gadoh ingat,  Nabi Muhammad pruih dimuka
Puleh laju deungon siat, ‘Atikah leugat beudoh sigra
‘Atikah com Nabi Muhammad, neu peuingat meunoe haba

Wahe kumuen lon peuingat, nyoe amanat lon bak gata
Bek tapeugah nyoe alamat, lon peuingat nyang sibeuna
Gata kumuen na muekjizat, Tuhan hadlarat  nyang karonya
Lheueh ‘Atikah neu peuingat, Nabi Muhammad teubiet u luwa

Ban sare troh ubak sahbat, neujok leugat boh kheuruma
Gapajohle bandum rakyat, mangat pithat cati rasa
Grah deungon deuek gadoh siat, ngon mukjizat Nabi kita
‘Oh lheueh makeun bandum sahbat, meutamah kuwat deungon teuga

Soena pajoh kheuruma mukjizat, page teumpat lam Syuruga
Nyan nur iman teugoh ingat, Nabi Muhammad  ji peucaya
Iman teugoh badan kuwat, bandum sahbat hate suka
Hingga seupot uroe leugat, woe u eumpat maseng jeumba

Ban leupah woe bandum sahbat, Nabi Muhammad woe bak Mama
Nabi neueh teuma siat, malam leugat laju jula
Hingga beungoh uroe leugat,  bandum sahbat bandum teuka
Ureueng  peuet ploh ka meusapat, sapeue pakat ngon bicara

‘Ohlheuh makeuen bandum sahbat, geujak leugat padang raya
Nyang jak dikeue Nabi Muhammad, neu peuingat sahbat dumna
Padang Ibthah troih beurangkat, bandum sahbat meuseuninya
Maseng-maseng duek bak teumpat, meunan adat dilee nyangka

Cabeueng khurma geumeutungkat, ngon Muhammad bandum rata
Nabi neuduek saboh teumpat, sajan sahbat nyang sigona
Teutap Nabi dilee siat, lon riwayat aneuk raja
Baroe talo beungeh jithat, uroe nyoe meuhat jipoh bila

Meunan pike raja bangsat,  ek troih  hajat bak jikira
Ji keumeung poh Nabi Muhammad, meunan ingat po ceulaka
Peuet reutoih droe dijih sahbat, saban kuwat aneuk raja
Dua ribee jiba rakyat, ji peusapat dum nyang teuga

Maseng-maseng geuba alat, kadom tungkat na ube pha
Sare cikop bandum rakyat,  beudoh leugat aneuk raja
Blang Ibthah ji beurangkat, ubak teumpat padang raya
Sare leumah Nabi Muhammad, ji peuingat bak ngon jiba

Beudoh kaju jinoe leugat,  prang takarat bandum gata
Muhammad Yatim deungon sahbat, drop taikat ban 41
Baroe talo malee kuthat, uroe nyoe meuhat tatueng bila
Ji keumeung poh Nabi Muhammad, meunan ingat aneuk raja

‘Ohsare kheueh ji meupakat, beudoih leugat prang ji ngaza
Ji surakle bandum rakyat,  galak jithat aneuk raja
Ateueh Nabi jiek leugat, jikarat meulumba-lumba
Teuma neukheun Nabi Muhammad, neu peuingat sahbat dumna

Beudoih laju wahe sahbat, Malaikat sajan gata
Bek tatakot raja bangsat,  Tuhan Hadlarat nyang peulahra
Teulheuh Nabi neu amanat, bandum umat beudoih ngaza
Bandua ho geuek leugat, ‘oh meusapat geumeuwawa

Geumeupoh-poh  deungon tungkat, prang raya that hanatara
Sahbat Nabi hana saket, Malaikat nyang theun sangga
Nibak baroe that nyoe kuwat, bandum sahbat gasang raya
Rakan raja geupoh leugat, ngon tungkat cabeueng keuruma

Deungon tulong Tuhan Hadlarat, neubri kuwat deungon teuga
Phon beungoh kon troih cot uroe, hingga sampoe watee ‘Asa
Hana talo  keudeh-keunoe, prang uroe nyoe that bak nyangka
Sahbat Nabi lon hareutoe,  ban 40  droe that guranta

Rakan raja dum sinaroe, luka asoe patah ngon pha
Ji meupoh-poh sabe keudroe,  aduen adoe ji meuwawa
Jipoh keudeh karoh keunoe, meuseugamoe dalam tantra
Jabot peudeueng  nibak jaroe, roh ateueh droe jih meugisa

Jitak sahbat roh keunong droe, peudeueng meuwoe rhot bak muka
Lethat rusak dum sinaroe, ngon peudeueng droe rakan raja
Susah jithat hana bagoe, luka asoe reuloh jungka
Sahbat Nabi han meupaloe,  Tuhan sidroe nyang peulahra

Geuliyueng tuloe mata seupot, meubalot sabe  saudara
Rakan raja nyum teumakot,  yo ngon atot miseue geumpa
Ji eu rakyat ka meusurot, that meupoet-poet aneuk raja
Abu Jeuhai that teumakot, muka jikrot malee raya

Prang ka talo rakyat surot, uroe seupot awai ‘Asa
Sahbat Nabi ulon seubut, hana kuyut be seuma
Geu eu musoh ka meusurot,  let dilikot lagee raya
Habeh jiplueng dum sinaroe, laju  jiwoe dalam kuta

Abu Juhai yohnyan jimoe, sang geumanoe ngon ie mata
Malee jithat hana bagoe, ureueng  nanggroe le binasa
Troih lam kuta dum sinaroe, ji piyoh droe rakyat dumna
Abu Jeuhai lon hareutoe, u Meuligoe jiek sigra

Rakyat laen habeh jiwoe, peuet reutoh droe sajan raja
Abu Jeuhai teutap ‘ohnoe, Nabi geutanyoe lon peugisa
Talo musoh dum sinaroe, Tuhan sidroe nyang peulahra
Hingga seupot ‘Asa uroe, Nabi neuwoe teuma gisa

Sahbat 40 bandum sajan, that sukaan hanatara
Deungon tulong sidroe Tuhan,  meusidroe tan na binasa
Troh u teumpat po janjongan, neuek yohnyan ubak Mama
Sahbat 40 lon riwayat, woe u teumpat maseng gisa

Hingga malam uroe leugat, teutap siat saboh haba
Galak tabeuet jak u Langkat, galak bangsat jak sikula
Amma ba’du wahe adek, Meunasah Parek bineh jurong raya
Abu Jeuhai lon riwayat, tango sahbat lon calitra

Bak malam nyan meuduek pakat, malee jithat talo ngaza
Wazi meuntroe duek meusapat, musyawarat aneuk raja
Abu Jeuhai yohnyan jimoe, ri geumanoe ngon ie mata
Malee jithat hana bagoe, ureueng nanggroe talo ngaza

Geumeusapat lam Meuligoe, wazi meuntroe ban seulingka
Balek keunoe balek keudeh, mata puteh miseue saga
Bah lon peugah meusilapeh, tango wareh lon calitra
Teuma teuka sidroe Raeh, ureueng meuceh sukee raja

Jeuet ji balek meunoe meudeh, akai areh le bicara
Shahir Kharab nan ka meuceh, ureueng peuneuleh biek meubangsa
Gobnyan sidroe peugah akai,  ji tanyong hai ubak raja
Pakon tamoe Abu Jeuhai,  soe peukanjai pomeukuta

Peugah bak lon pakri pasai,  akhe awai tacalitra
Sabab gata mantong dai-dai,  lon boeh akai ngon bicara
Teuma seuot Abu Juhai,  phon bak asai ji calitra
Lon he Raeh kaseb kanjai, gadoh akai ngon bicara

Sidroe yatim nan Muhammad,  that khianat hana ngon sa
Habeh jipoh bandum rakyat,  ngon tungkat cabeueng khuruma
Rakan dijih hana cacat,  utoeh silat keunong hana
Handeuh taeu ‘oh jilumpat, miseue kilat tajam raya

Ban peuet ribee dilon cacat, lon peuubat habeh luka
Nyankeu Raeh sosah lon that, pakri pakat toh bicara
Pakri akai nyang naseb hat, peugah leugat uleh gata
Abu Jeuhai meunan kheun proe, Raeh sidroe laen haba

He tuwanku pakri tajeuet moe, bit raja nyoe malee hana
Sang aneuk miet meupeurangoe, pakon meunoe wahe raja
Sangkon gata ureueng lakoe, bak lon sidroe meunan kira
‘Ayeb keuji hana bagoe, jeueb jeueb nanggroe gob ceureuca

Muhammad yatim dijih sidroe, digata roe leubeh laksa
Tajeuet peugah han ek tapoh, yatim saboh aneuk tan Ma
Keupeue badan ugoh-ugoh, bandum teuboih hana guna
Nacit baklon akai saboh, deungo beujroh wahe raja

Bekle taeh beudoh dilee, ta deungo kee sikrak haba
Lon bri akai nyang meuteuntee, rot tatipee yatim tan Ma
Tamita ie deungon bate, taseubee bak jalan raya
Ie nyan taple ateueh rot ueh, ‘oh  jijak pueh gla lagoina

Jalan rapat dum tayue kueh, jeueb2  rot ueh ie beurata
Mita bate nyang raya that, nyang ek na brat limong gunca
Ateueh rot ueh geuboh leugat, bak teumpat Muhammad gisa
Tayue jak eu bandum rakyat, ube sahbat kawom gata

Meungka taeu Muhammad woe, ta peutoe geutanyoe dumna
Ta beuot phon bate keudroe, ngon jaroe ta peuba-peuba
Bak Muhammad yue beududoe, pakri bagoe taeu rupa
Meunyo han ek jabot bate, puleh malee gata raja

Meukon meunan ta peulagee, han ek tipee ngon tadaya
Meunyo han ek jabot bate, jihka malee deungon gata
Teuntee rotnoe han jiwoele, malee sabe jih ngon gata
Meuhat jiwoe keudeh rot gle,  bak lon pike meunan kira

Adat Teungku lon tapateh, malee puleh pomeukuta
Ka jipeugah meunoe meudeh, meuceh2 ji peukhaba
Ban jideungo tuto Raeh,  hate puleh aneuk raja
Abu Jeuhai lon kheun meuceh,  jihoi wareh dum seedara

Ka meusapat bandum habeh,  tuto Raeh ji peukhaba
Jiboh padan meunoe meudeh, pakat habeh aneuk raja
Jibeudohle kawom Qureh, batee  puteh jijak mita
Jak angkot ie saboh kawan, ro bak jalan yuele raja

Deungon tanoh ka jiligan, jiple saban rot ueh kagla
Mita bate saboh kawan, bandum rakan yakin raya
Ka ji teumeung sineuk bate, hana lagee ceudah rupa
Ladom sungket deungon kayee, ladom pangkee ladom hila

Jiboeh taloe kawat puta lhee, ube teubee taeu raya
Jihue laju aneuk bate, dua ribee ureueng hila
Bate pitroh ka ji puwoe, lon hareutoe aneuk raja
Abu Jeuhai peukeumah droe, cok ngon jaroe bate raya

Ji beuotle teuma dudoe, troih intang dhoe aneuk raja
Keudeh keunoe ka jilambong, batee ban krong duwa gunca
Duwa ribee rakyat usong,  raja lambong sang boh panta
Mangat hate ureueng gampong, bate ban krong ek jibaba

Abu Jeuhai lon riwayat, tango sahbat lon calitra
Raya panyang rupa hibat, badan kuwat hanatara
Ngon beurani teuga pithat, ek jime brat 40 gunca
Jroh peuet sagoe badan rapat, umu meuhat 16 thonka

Sajan raja ureueng lehat, duek meusapat bak rot raya
Jipreh Nabi ‘ohtee neuwoe, alat dijaroe bandum rata
Hingga seupot ‘Asha uroe, Nabi neuwoe teuma gisa
Deungon sahbat na 40 droe, mat dijaroe cabeueng khurma

Raja kalon Nabi katoe, jihoile droe aneuk raja
He Muhammad tajak keunoe, ulon teunyoe napeue haba
Bahta meuci deungon kamoe, peurab keunoe laju gata
Teuga gata meuri sinoe, teuga kamoe nyoepat tanda

Tacuba grak bate kunyoe, peurab keunoe bekle haba
Abu Juhai peukeumah droe,  cok ngon jaroe bate raya
Lambong keudeh-lmbong keunoe, ateueh bumoe meugisa-gisa
Yohnyan Nabi tahe keudroe, neukalon proe buettan raja

Teuka waham Nabi geutanyoe, jihoi kamoe nyan kareuna
Adat lon woe laju jinoe, sitree lon nyoe hate suka
Jikheun yatim ulon sidroe,  han keu nasoe padubawa
Meunan pike Nabi geutanyoe, neuwoe jinoe jalan tuha

Rot bineh gle Nabi neuwoe, ngon 40 droe sajan neuba
Abu Juhai eu Nabi neuwoe, cula caloe khem meubura
Jiyue surak ban rakan droe, pok-pok jaroe lambong ija
Sira jikhem jikheun meunoe, ulon teunyoe meuhoi gata

Bahta meuci bak uroe nyoe, deungon kamoe soe nyang teuga
Cuba seuon ateueh ulee, aneuk bate ban krong raya
Teuga gata mangat kuthee,  meuteuga kee nyoepat tanda
Sinan meuri teuga lape, ta mume batee raya

Tajak keunoe pakon tase, meuri lape deungon teuga
Nabi deungo kheun Abu Jeuhai, hana sagai neutem ridha
Sabab jihnyan hana akai, ureueng beubai tan agama
Neuwoe laju haba kabeh, han neupateh bankheun raja

Ka jisurak kawom Kureh, jikheuh nyoe jeh hana reuda
He Muhammad peubuet keudeh, nyoepat nyang gleh jalanraya
Riwang laju gata keunoe, bah ngon kamoe ka uji teuga
Pakon geusuen bak uroe nyoe, le peurangoe Yatim tan Ma

Meunyo gata ureueng lakoe, rotnoe tawoe jalan raya
Abu Jeuhai hoi riwang keunoe, Nabi geutanyoe han neugisa
Jiyue surak bak rakan droe, pok-pok jaroe lambong ija
Sahbat Nabi lon hareutoe, ban 40 droe ro ie mata

Sira geujak bandum geumoe, Nabi geutanyoe tanyong sigra
Wahe sahbat pakon tamoe, peugah jinoe lon ngo nyata
Jaweueb sahbat teuma meunoe, sabab lonmoe ya Saidina
Abu Juhai jikheun meunoe, geutayoe ka talo ngaza

Eueh that hate bandum kamoe, pakri jinoe ya Saidina
Ban Nabi deungo tuto sahbat, seuot leugat meunoe sabda
Meunye meunan tariwayat, wahe sahbat got tagisa
Bekle tawoe ubak teumpat, malee teuthat hanatara

Nabi riwang teuma leugat, deungon sahbat sajan neuba
Bansare troh ubak teumpat, jihoi leugat uleh raja
He Muhammad peurab keunoe,  ubak kamoe laju gata
Cuba seuon aneuk bate nyoe, lone u jinoe pakri rupa

Rakan gata na 40 droe, yue beurangsoe toh nyang teuga
Bate geuhon tameu meme, meuri lape deungon teuga
Ek deungon han sinan meuri, tacuba ci uleh gata
Abu Jeuhai meunan rawi, beudoh Nabi teuma sigra

Neucok batee Abu Jeuhai, 600 tai brat meuhingga
Nabi neubot siblah sapai, hana sagai geuhon jina
Tahe mandang Abu Jeuhai, gadoh akai ngon bicara
Bandum rakyat tahe mandang, Nabi tatang bate raya

Nabi lambong ka neutimang, rhom u manyang troh lam hawa
Rakyat pandang dum jitangah, hana leumah bate raya
Bandum jikheun tan bideu’ah, aneuk Aminah that bit teuga
Ureueng keumalon that barullah, teuhah babah agam dara

Na sikeujab rakyat tangah,  jieu leumah batee raya
Bate karhot ateueh bumoe, bak soj bunoe tan meuriba
Nabi  Muhammad neukheun meunoe, tango kamoe wahe raja
Jinoe gata rhom batee nyoe, miseue kamoe rhom lam hawa

Meunan Nabi neu hareutoe, beudoh dudoe aneuk raja
Peuet reutoh droe kawan sagai, bandum dai-dai mantong muda
Ji meukeumah Abu Jeuhai, gusuek sapai pura-pura(bawah mulai 1-1-
Ji meunari lam kawan jai, sangka jawai meunan rupa(2014 jam 7.12 pgi.

Keubah peudeueng silak bajee, gusuek singkee sampoh muka
Ubak patong ji meulakee, neutop malee kamoe raja
Ka jilingka aneuk bate, sangka seudee meunan rupa
Tiek kupiyah nibak ulee, jak meulakee bak beurhala

Abu Jeuhai grak-grak bate, teutap dilee saboh khaba
Firman Tuhan ubak bate, ka deungo kee wahe hamba
Peugeuhon droe dikah jinoe, sibrat bumoe langet donya
Beusa ngon brat Jabal Kubes, kee kheun meuceh wahe hamba

Bate deungo fireuman Hadharat, droe jipeubrat siblah donya
Meuhimpon jen deungon insan, grak batee nyan han kuwasa
Peuekeu sabab neuyue meunan, nyang tan iman mangat hina
Mangat jithee uleh insan, muliyaan Nabi kita

Na jtupeue seukaliyan, sidroe Tuhan nyang kuwasa
Peuekeu sabab neuyue meunan, meuroe jihan na agama
Na jituri sidroe Tuhan, bek jikheun tan siceulaka
Teutap ‘ohnoe siat dilee, laen sampee lon calitra

Abu Jahai grak-grak batee, hana lagee sunggoh raya
Ji meubeuot ateueh ulee, beukah bajee han jikira
Abu Jeuhai sangka seudee, aneuk batee ka jiwawa
Ka jikoek koek habeh kuwat, maken rapat nibak nyangka
Abu Jeuhai susah jithat,  ka jikarat teusuet mata

Maken jigrak maken rapat, kong maken that nibak nyangka
Ji meukheun-kheun bandum rakyat, hana kuwat aneuk raja
Muhammad yatim teuga jithat, ban yang brat-brat jikeuluwa
Abu Jeuhai reuoh reuoh-reueut, meung sipaleuet meugrak hana

Taloe keuieng habeh jireuet, bajee sukleuet jipriek duwa
Hana teudoh do’a jibeuet,  jileueng paleuet bak beurahla
Meusigeutu hana meugrak, lom meulintak kong bak nyangka
Abu Juhai hate rusak, Nabi timplak dikeue mata

Pakon meunan Abu Jeuhai, hana sagai kuwat gata
Naban geukheun hana akai, ureueng beubai tan agama
Nabi timplak lam kawan jai, Abu Jeuhai malee raya
Nabi kheun lom bittan akai, gusuek sapai hana reuda

Bek antara batee  tarhom, ube sidom meugrak hana
Han ek taboet keupeue tarhom, meuseubee lom that bak nyangka
Jigrak batee meuteugom-teugom, rab meuseumpom aneuk raja
Jaroe peudeh  sapai reudom, batee  jitrom hana reuda

Yohnyan Nabi ka teusinyom, muka ranom leumah cahya
Sahbat  Nabi hate galak, geusurak meutaga taga
Bandum geukheun han ek tagrak, ngon kudrat haq Tuhan Asa
Bek bunoekon gata rancak, ta cuba grak meusideupa

Kamoe tahoi han meutem jak, tayue surak bak ngon gata
Keupeue beuhe deungon cangklak, han ek tagrak bate raya
Abu Jeuhai hate palak, rakyat timplak dikeue mata
Sahbat Nabi ka geusurak, geureutak meutaga-taga

Ureueng keumalon that meusak-sak, mata ubak aneuk raja
Hana panyang lon hareutoe, kuwut jaroe teungeut mata
Hingga seupot Asa uroe, rakyat jiwoe agam dara
Abu Jahai lon hareutoe, malee hansoe aneuk raja

Ka duwa go talo ngon nyoe, karab jimoe krot ngon muka
Uroe seupot beudoh jiwoe, ngon rakan droe aneuk raja
Jitob ulee keulubong droe, u Meuligoe jiek sigra
Di Nabi rot laen neuwoe, ngon sahbat droe Nabi kita

Teutap Nabi dilee siat, lon sambat keu aneuk raja
Jihka malee duwa-lhee pat, ngon mukjizat Nabi kita
Wazi meuntroe deungon sahbat, bandum rakyat sajan raja
Uroe malam geumupakat, musyawarat hana reuda

Raeh pina teuduek sinan, phon bak gobnyan teubiet haba
Jiduek sapat ngon janjongan, nyang laen han toe ngon raja
Phon dileekon jih cit padan, le seunuban  ngon bicara
Gobnyan miseue lalat mirah, ji fiteunah hana reuda

Meunoe-meudeh jeuet jipeugah, jeuet jibantah raja-raja
Utoh jiploh  ngon jipalet, jibleut jipet peugah haba
Abu Jeuhai jibicah phet, narit saket phon jibuka
Pakon tamoe Abu Jeuhai, soena sakai peugah sigra

Soe peu’ayeb soe peukanjai, tapeugah hai lon ngo nyata
Pat nyang ruhung lon boeh sandai, bahlon tampai miseue ija
Cuba peugah jinoe bak asai, lon boeh akai lom keugata
Peunyaket darah bila mate, meunan lahe lam calitra

Peue taingat peue tapike, peue tasyawe dalam dada
Ulon peugah beumeusampe, tadeungo he pomeukuta
Po geutanyoe ka lon turi, tadeungo kri lon peukhaba
Muhammad yatim nan geurasi, keumuen Abi Thaleb Mama

Raeh peugah awai ache, ji seuotle aneuk raja
Beungeh jithat hana sabe, saket hate hana ngon sa
Abu Jeuhai jibeudohle, narit singke phon jibuka
Ceulaka that bit tuha be, meudeh meunoe ka peukhaba

Axat meuna sikin kamoe, kuplah jinoe hate gata
Kukoh takue gata sidroe, sidumnan roe bak nyum rasa
Jeuetka peugah meudeh-meunoe, peurangoe jeuheuet teuraya
Hantom ku eu nyang miseue nyoe, brok peurangoe le bicara

Ka taeu lon hate saket, tabicah phet lomle gata
Raeh sidroe that bit sulet, ji tupeue kieh dum peukara
Ji seuot lom teuma Raeh, hate puleh aneuk raja
He tuwanku lon kheun meuceh, that lon gaseh pomeukuta

Adat daulat lon neupateh, malee  puleh baklon kira
Lon boeh miseue meusilapeh, that lon gaseh keumeukuta
Hanjeuet meunoe peugot meudeh, buet uroe jeh bek takira
Meuta pateh ulon teunyoe, gata jinoe han binasa

Ulon syik that hana bagoe, lon tupeue roe dum peukara
Ube nyang na ureueng nanggroe, dum sinaroe lon nyang tuha
Beuneu pateh lon peurunoe,  nibak buet nyoe hanjeuet seunda
Ureueng Makkah bak siseun nyoe, tanle keunoe peue neusangka

Bak Muhammad ji peujok droe, dum sinaroe agam dara
Han jiikot gata jinoe, agama nyoe han jiridha
Muhammad Yatim dun ji pujoe, jeub jeub nanggroe lon ngo khaba
Keudeh taklok dum sinaroe, akhe dudoe saboh masa

Sapeue pakat ureueng nanggroe, gata sidroe han jiraja
Meuhan tapateh ban lon peugah, dudoe teulah teuma gata
Nyanggot tajak ubak ayah, bekle susah wahe raja
Lon peurunoe meung sipatah,  sayang leupah lon keugata

Lakee idin ubak ayah, tajak peugah jinoe sigra
Ngon Muhammad ta meureupah, meunan ulah tapeukhaba
Muhammad Yatim ek tacacah, aneuk tam mbah ibu bapa
Meuta pateh that meutuwah, meuta ubah jeuet ceulaka

Muhammad aneuk ‘Abdullah, ta meureupah jinoe gata
Beurang peue buet dum jibantah, ka jiubah dum peukara
Han jipateh peue tapeugah, ji peusalah tuto gata
Meugoh mate siyatim nyan, sabe meunan malee gata

Meunan Raeh jiboeh padan, that sukaan aneuk raja
‘Oh jipike nyobit meunan, meutuka han ube seuma
Abu Jeuhai lon kurangan, tango Kaman lon calitra
Dengon Raeh kasep padan,  seukalian dum peukara

Jibeudohle teuma sinan, jijak yohnyan bak ayahnda
Abu Jeuhai jikheun nyoeban,  ngo  lontuwan he Du raja
Ngon Muhammad lon meureupah, idin ayah keulon sigra
Muhammad Yatim ku meucacah, kujeb darah aneuk tan Ma

Han jipateh peue lon peugah, kreueh that babah jimeudawa
Ulon teunyoe malee leupah, bahku cacah yatim tan Ma
Abu Jeuhai meunan kisah, teuhah babah Du jiraja
Husyam deungo aneuk peugah, hate gundah hanatara

Ingat aneuk ji meureupah, teuka sosah raja raya
Ubak aneuk raja peugah, sira jojah ngon ie mata
Tadeungo lon Nyak meutuwah, ulon peugah nyang sijahtra
Ngon Muhammad bek meureupah, dudoe teulah ache masa

Meunyo mate jih tacacah, tuwan Hamzah nyang tueng bila
Hansoe lawan tuwan Hamzah, teuga leupah hana ngonsa
Jitueng bila kumuen jitapoh, gata saboh jiplah duwa
Nanggroe Makkah lon takot soh, pike beujroh bijeh mata

Dum phalawan ugoh-ugoh,  Hamzah saboh leubeh teuga
Tapoh kumuen Abi Thaleb, pike beusep he  aneuknda
Gata malee meutamah ‘ayeb, musyreb meugreb gob ceureuca
Jeueb jeueb nanggroe gata jibeb, pike beuseb bijeh mata
Nyankeuh aneuk lon peuingat, ngon Muhammad bek meuseunda
Ji seuot lom aneuk laknat, he Du bek that leho kira
Si yatim nyan ek ku lawan, kumat hanjan jih mateka
Dilon sidroe dijih lapan, he Du badan han kutaba

Ban raja ngo jikheun meunan, Wazi yohnyan neu seuranta
Teulheueh sabda bak janjongan, trohle keunan dum Bentara
Peuduek pakat bak malam nyan, lheueh minoman peugah haba
Raja Husyam kheunle nyoeban, ngo lon tuwan bandum gata

Takrah rakyat seukalian, ngon piyasan tayue jiba
Tayue tren bak ulontuwan, raya padan ngon bicara
Sabda pilheueh bak janjongan, kireman jipeugot sigra
Peuet surat seukalian, jeueb solotan jeueb-jeueb raja
Hana panyang lon kurangan, jeuet keudumnan saboh khaba

Dalam geupet boeh ie bangoe, ie  unoe boeh dalam kaca
Amma ba’du di seuramoe, he Teungku nyoe baro gura
Meuwoe kisah ureueng nanggroe, surat sampoe nibak raja
Haba surat maklum bak droe,  laba rugoe ka jiridha

Padum  natreb teuma dudoe, rakyat sampoe ubak raja
Habeh jitron jeueb-jeueb nanggroe, di jaroe alat dum rata
Jime beude tan keuripoe, jime bajoe hana nuga
Rakyat jitron geunap uroe, jak meutaloe santeut banja

Saboh kawan nyang me geundrang, rot bineh blang kawan guda
Tot kumurah  ngon seunapang, na miseue prang meunan rupa
Rakyat rame hansoe tukri, teungoh ili ubak raja
Ji palu gong yub nafiri, ngon kucapi hareudam mama

Unggul-unggul ji peunari, peh kudangdi ngon nugara
Yub seurumpet ngon beureugu, nyang raya su sangkai kala
Rakyat jitron barat timu, ka’a ka’u hana reuda
Hana teudoh beude meusu, sang-sang laku geuprang kuta

Rakyat rame hansoe tuban, Allah Tuhan nyang ek kira
Sira geujak meupiyasan, ban lakuwan  sang keurija
Maseng-maseng saboh kawan, rakyat sajn han teukira
Jak meuseuh-seuh meupasukan,  ban atoran jak bak raja

Ubak raja rakyat sampoe, ji piyoh droe dum diluwa
Peu ek seumbah wazi meunroe, jabot jaroe ateueh raja
Ampon daulat meuploh katoe, lon kasampoe bak meukuta
Peue meukusud neuhoi kamoe, peugah jinoe he baginda

Raja Husyam seuot meunoe,  tango kamoe bandum gata
Nyang lon pangge dum kafilah, lon meupeugah saboh haba
Nyangkeu sabab jeuet lon yue krah, asoe Meukah lon seuranta
Aneuk ulon ji meureupah, nyan lon peugah ubak gata

Bak siseun nyoe ka meusiblah, roh ngon Hamzah tameudawa
Ngon Muhammad ka meubantah, ji meureupah jadeh lusa
Bak siseun nyoe lon ka susah, ku pabanbah jeuet prang raya
Abu Jeuhai Muhammad yatim, kalon idin bah jicuba

Rakyat tahe bandum ji iem, ban panyot len hana haba
Dalam hate dum ji ingat,  talo Muhammad bak jikira
Weueh that hate ladom rakyat, saying jithat yatim tan Ma
Muhammad cut kureueng kuwat, Abu Jeuhai that geukheun teuga

Bak jipike talo Muhammad, meunan ingat dumka rata
Nyang ladom kheun bek tagundah, raya tuwah yatim tan Ma
Meuta teu’oh buet meureupah, hana  suwah badan raya
Meunyo lisek deungon ilah, bek tagundah beuthat teuga

Beuthat raya teuntee reubah, beuna ilah tamat dipha
Keupeue guna raya badan, tan amilan reubah saja
Muhammad yatim le seunuban,  soe peugah tan jitupeue ka
Ji peurunoe bandum rakan, le amilan ngon bicara

Ji meukheun-kheamun dal kawan, sabe rakan ji meudawa
Haba rayat jeuetkeu dumnan, lon kurangan aneuk raja(Kms,13-2-’14 poh 17.55, baro teuingat lon,bahwa ureueng dilee  kheun Hikayat, geukheun RAYAT, kon rakyat lagee kalon tuleh baroekon!).

Ji meukheun-kheun dalam  kawan, sabe rakan ji meudawa
Haba rayat jeuetkeu dumnan, lon kurangan aneuk raja
Abu Jeuhai lon hareuto, tango adoe lon calitra
Teungoh meungui di meuligoe, ngon rakan droe sabe muda

Cok ngon gunci mat u jaroe, laju peutoe dijak buka
Jicok ija nyang meutaloe, ban peuet sagoe meupeurmata
Roh pakaian nibak asoe, that samlakoe ceudah rupa
Jisoek incien nibak jaroe, intan peudoe ngon meutiya

Lhat dikiieng kreh meudolang, intan karang dum peurmata
Bajee Meuse meukeurawang, miseue bintang meunan cahya
Rupa iloek kon bubarang,  soe nyang pandang hate suka
Kulah kama ateueh ulee, hana lagee iloek rupa

Bintang tanjong boeh bak bajee, sibanja lhee boeh bak dada
Ngon kawoih meuh nibak gaki, that beureuhi nibak nyangka
Pawon bajee jroh meuriti, jilheung lhi pawon rupiya
Minyek ‘ata ngon kasturi, hana sakri bee meubura

Soe nyang kalon that beurahi, meuriti bintang bak dada
Jingui habeh dum u asoe, padam uroe cahya muka
Hana panyang lon hareutoe, maklum bak droe he syeedara
Kon meuraja wahe adoe, beurang kasoe meunan rupa

Meunyo kaya barang kasoe, meunan cit roe bak lon kira
Jeuet keudumnan lon hareutoe, meule rampoe jeuet keucakra
Abu Jahai meuwoe kisah, ngo lon peugah he syeedara
Troh bak tanggoh janji ayah, ureueng Mekkah teubiet sigra

Rakyat-rakyat that barollah, han ek peugah hat ngon hingga
Aneuk raja ji meureupah, dum jikisah agam dara
Ka meusapat dum u Meukah, ureueng ceudah habeh teuka
Uroe Seunanyan buleuen 14, phon meureupah nyan kutika

Neu beurangkat raja Husyam, tot meuriyam dalam kuta
Habeh jithee sigala ‘alam, dara agam habeh teuka
Ngon ji surak tango kiyam, nyum rasa lham langet donya
Abu Jeuhai lom meuriwang,  cong guda plang aneuk raja

Taeu jijak jroh meureuntang, ulee baling ban seulingka
Rakyat lethat ka peunoh blang, bandum gasang agam dara
Peulheueh beude ngon seunapang, tambo geundrang meusuwara
Meupiyasan sira geujak,  geumeukhem-khak lam blang raya

Jipeh tambo ngon geudumbak,  ji lantak meutaga-taga
Jitot bude ngon ji surak, nyum meugrak-grak langet donya
Abu Juhai hate galak,  rakyat arak ban seulingka
Rakyat rame hansoe tukri, sidroe Rabbi nyang ek kira

Jiyub suleng deungon bangsi, peh kudangdi ngon nugara
Yub seurumpet ngon nafiri, kusyapi hareudam mama
Taeu geujak jroh meuriti, digaki kawoh dum rata
Laen rakyat jak ngon gaki, meuntri wazi ateueh guda

Payong sutra ji peunari, lingka duli aneuk raja
Hana teudoh beude meusu, sang ban laku geuprang kuta
Rakyat rame kon sigeutu, hate seu-u agam dara
Jipeh geundrang deungon tambo, su meu-oo-oo sagai donya

Abu Jeuhai miseue Linto, rakyat jak le ireng lingka
Ngon jisurak ka-‘a ka-o,  payong hijo ji peugisa
Hana panyang ulon ato,  laen pile he saudara
Geujak sampoe troh u mideuen, rakyat hireuen publoe mata

Agam inong ji meukheun-kheun, hana soe theun aneuk raja
Peukayan le dum reuen-mareuen, miseue buleuen meunan rupa
Ban sare troh nyan u mideuen, tamong uleuen aneuk raja
Abu Jeuhai ateueh kurusi, meuntroe wazi ban seulingka

Dimiyub nyanpeurmadani, tika lahori kasab ruma
Sajan raja meuntroe wazi, dong sipa-I ban seulingka
Rayat laen dong meuriti, siteungoh ri lam uroe kha
Maseng-maseng teumpat geubri, nyang pulisi geuyue jaga

Dalam mideuen rakyat peunoh, taeu s’eh-s’oh agam dara
‘Ohtroh watee jeum poh tujoh, beude geucoh ban seulingka
Luwa dalam rakyat kiroeh, kapah kapoeh agam dara
Nyang rab sinan jimeu ‘oh-‘oh, nyang dijeuoh lom jiteuka

Ureueng jarak keunan katroh, dong rot baroh santeut banja
Dalam kawan laju jibloh, tango kiroh ji meudawa
Peudong khimah layeue geuboh, rakyat piyoh agam dara
Abu Jeuhai ka jibeudoih, keuieng jiploh keubah ija

Keubah alat dum dibadan, ngui pakaian bajee keusumba
Abu Jeuhat that analan, ban lakuwan hansoe sangga
Jroh peuet sagoe taeu badan, teuga jihban gajah meunta
Ka jimeusu dum bunyian, mupiyasan arak raja

Mata uroe ka poh lapan, buleuen Syakban duablah ka
Abu Jeuhai ngui peukayan, bandum rakan keunan mata
Ngui peukayan jak meureupah, suroh ayah raja  raya
Rakyat rame hanpeue peugah, asoe Meukah habeh teuka

Abu Jeuhai ulon kisah, panyang rungkaih badan raya
Tujoh blah thon umu sudah, phon meureupah aneuk raja
Rupa iloek hanpeue peugah, buleuen 14  nyangkeu masa
Palet dikeuieng ija kasab meuh, cahya peungeuh hanatara

Abu Jeuhai that beulinshyeueh, sang uleue lheueh dalam raga
Agam inong dong meuseueh-seueh, ngieng u ateueh aneuk raja
Abu Jeuhai meungui kalheueh, beuhe tangkeueh deungon teuga
Rakyat laen dong meuseueh-seueh, di ateueh payong jigisa

‘Ohsare lheueh ji meukeumah, jitangah u langet donya
Jibeudohle jidong pantah, rupa gagah hanatara
Saleh sapeue Tuan Hamzah, meunan ulah taeu rupa
Teungoh mideuen jidong sidroe, that seureuloe aneuk raja

Taeu badan jroh 4 sagoe, that samlakoe iloek rupa
Ji meukheun-kheun dum sinaroe, barang kasoe han ek sangga
Teungoh mideuen jimeunari, ban Keudidi dalam paya
Keuruncong meuh nibak gaki, seurapi jiboh bak dada

Abu Jeuhai that bit raghoe, taeu jaroe ban Cempala
Ji meuhoile ureueng sidroe, beurang kasoe ri nyang teuka
Ta meureupah deungon kamoe, beudoh keunoe siat gata
Bah tameuci bak uroe nyoe, deungon kamoe phon tacuba

Abu Jeuhai meunan hareutoe, ureueng sidroe lon calitra
Ulon peugah saboh phalawan, teuga jiban gajah meunta
Abu Lubakhta geurasi nan, lam kawan nyan leubeh teuga
Nyan phalawan nanggroe Yaman, nyang laen han ek soe sangga

Nam hah lilet raya badan, panyang kiban limong deupa
Abu Jeuhai meuhoi gobnyan, beudoh Kaman keuno gata
Abu Lubakhta deungo meunan, beudoh yohnyan pantah sigra
Ji meukeumah ngui pakaiyan, ikat badan nam deupa ija

Geuruet keuieng hana lawan, geupalet ban siseunlingka
‘Ohsare lheueh ngui peukaiyan,  geudeupan 20 deupa
Abu Lubakhta  lon peugah ban, siblah badan gobnyan raya
Miseue makong deungon cawan,  miseue reungkan deungon raga

Abu Jeuhai meunan keuban, leubeh sikhan panyang Bakhta
Geumeulikak dua gobnyan, mata keunan agam dara
Abu Jeuhai ka ji deupan, jiwa badan Abu Bakhta
Abu Lubakhta susah hanban, jiwa badan aneuk raja

Hana ek troh jiwa badan, ka jiwanwan bak uram pha
Abu Jeuhai tajam hanban, hana meujan didrop bak pha
Geumeureupah  dua gobnyan, ureueng sinan laksin-laksa
Hana saho keumeunangan, reubah pihan ureueng dua

Na dua jeum geumeureupah, hana reubah sabe padra
Keudeh keunoe hana ugah, timang leupah ureueng dua
Ureueng keumalon that barullah, han ek peugah hat ngon hingga
Abu Jeuhai ulon peugah, that bit pantah aneuk raja

Teuga jithat bak meureupah, raya ilah ngon bicara
Abu Lubakhta ka jiteumei, jidrob meuh’ei bak uram pha
Jabot laju ateueh ulee, ji pangkee gaki bandua
Miseue ureueng beuot kayee, meunan lagee bak ri rupa

Kaji seumpom ateueh abee, meunyum malee Abu Lubakhta
Ka meuligan luweue bajee, karoh abee lam-lam mata
Ji beudohle pantah meupru, jiwoe laju malee raya
Bandum rakyat habeh karu, taeu prapru lambong ija

Ngon jisurak ka’a ka’u, jitajo dijak poet raja
Geupeh geundrang deungon tambo, paying ijo jipeugisa
Abu Jeuhai mantong reupah, ulon kisah raj raya
Raja Husyam khem meuhah-hah, rhot kupiah han geukira

Sira geukheun deungon babah, nyak meutuah meunang gata
Geugrob lambong rhom kupiah, khem meuhah-hah raja raya
Rakyat laen hanpeue peugah, aloh alah khem meubura
Abu Jeuhai ulon rawi, that beurani hana ngonsa

Ji kheundak jak ubak Nabi, meunan nyum hi bak jikira
Meunan teugrak dalm hate, jibeudohle jijak sigra
Ban sare troh ubak Nabi, Potallah bri tan suwara
Hankeu najeuet ji meututo, teudong tahe hana haba

Abu Jeuhai rab teupako, meutajo meugisa-gisa
Hanjeuet jingieng mata sapu, jiweh laju teuma sigra
Abu Jeuhai teutap siat, laen sahbat lon calitra
Saboh phalawan lon riwayat, teuga jithat hana ngonsa

Jeueb-jeueb nanggroe meusyuhu that, leubeh kuwat dengon teuga
Nama geuhoi nan Asuwat, ek jime brat namblah gunca
Ube bak U jimat tungkat, jilipat beusoe meulila
Badan raya hana sakri, ube guci ulee bunta

Ube beuteh taeu gusi, hijo bibi mirah mata
Teuga jithat hana sakri, beurang kari hana ngonsa
Namiet Maghirah bangsa ji, puteh sang ri miseue baja
Dum phalawan ugoh-ugoh, habeh jipoh ube nyangna

Nyangka talo sireutoih boh, laen nyang goh han ek kira
Abu Jeuhai lom meuteuoh, jitanyong toh lom nyang teuga
Sidroe Wazi seuot leugat, ampon deelat lon meuhaba
Lam kawan nyoe nyang teuga that, cit Asuwat laen hana

Meunan meuntroe ji riwayat, peutoe leugat aneuk raja
Bansare troh bak Asuwat, ka meusapat jih bandua
Abu Jeuhai peugah leugat, he Asuwat nyang that teuga
Lon meureupah bak uroe nyoe, hajat kamoe deungon gata

Ureueng laen dum sinaroe, ngon lon  talo ngaza
Meunyo talo gata jinoe,  bak  kamoe han keunong bala
Meutalo lon ngo kupeugah, kubri upah hak keugata
Ku pulang kreh deungon siwah, meuh keureutah 5 bara

Kubri kawoh meuh meutatah, kupiah meusru diwangga
Bajee tatah meuh maknikam, ku peureugam nyankeu gata
Siploh ribee lonbri deureuham, beudoh tajam laju sigra
Asuwat ngo meunan kalam, seuot curam meunoe haba

Ampon deelat diyub kidam, nyang meunggeunggam sigom donya
Hana patot deelat makam, meunan macam pomeukuta
Ulon geubloe ngon deureuham, patot lon gulam deelat raja
Bek meureupah ngon lontuan, kon sipadan pomeukuta

Ulon namiet biek teubusan, hanjeuet lawan bangsa raja
Ampon daulat keujanjongan, di ulon han lawan gata
Abu Jeuhai seuot yohnyan, bek kheun meunan hana gura
Kon uroe nyoe bangsa nasab, keunoe peurab laju gata

Asuwat ngo meunan cakap, beudoh dhab-dhab keubah ija
Jiruet keuieng ija Arab, meukasab nayum sibahra
Ureueng dua lagee reuhab, rakyat ngadab ban seulingka
Ubak tanoh gaki hanjab, meu’en cakap lagee ansa

Keutep jaroe ji meulikak,  miseue  meurak meunan rupa
Jitiek aleh jroh meukeupak, ji reuntak meutaga-taga
Ureueng keumalon that meusak-sak, mata ubak aneuk raja
Abu Jeuhai deumpek habeh kuwat, su raya that sang geureuda

Bandua droe geujak leugat, ‘oh meusapat geumeuwa-wa
Raja Husyam teumakot that, sabab Suwat badan raya
Abu Jeuhai ka jirapat, jiwa kong that bak uram pha
Ji meureupah deungon Suwat, dinab rakyat laksin-laksa

Hana saho pina lugat, saban kuwat ureueng duwa
Abu Jeuhai jih ubit that, badan Suwat panyang raya
Miseue kameng deungon gajah, meunan ulah bak ri rupa
Raja Husyam hate gundah, leubeh siblah Suwat raya

Abu Jeuhai ulon kisah, that bit gagah aneuk raja
Na dua jeum geumeureupah, hana reubah ureueng dua
Keudeh keunoe hana ugah, reuoh basah ban ie raya
Abu Jeuhai utoh leupah, lethat ilah aneuk raja

Suwat silap bacut salah, jimat pantah bak uram pha
Yohnyan Suwat keunong tipee, ji pangkeele aneuk raja
Ka jiseuon ateueh ulee, miseue kayee tungoe raya
Rakyat surak ka meu’ee’ee, ube jamei kawom raja

Ka jiseumpom miseue tungoe, leungo bumoe miseue geumpa
Kakeu talo Suwat bunoe, meunang kamoe sneuk raja
Ka jisurak be kawom droe, pok-pok jaroe lambong ija
Raj Husyam lon hareutoe, cula caloe khem meubura

Lambong ija keuteb jaroe, geupoh poh droe tumbok dada
Rakyat surak nyuem ka tuloe,  ureueng nanggroe hate suka
Raja Husyam kisah meuwoe, ci ‘iet peutoe ka neubuka
Neucok ringget deungon suku, neu rhom laju dalam tantra

Dalam kawan ka neu tabu, habeh karu rakyat dumna
Raja Husyam hate seu-u,  neuro laju han neukira
Lagee miseue supreuek beureuteh, seulamat wareh nibak bahya
Jeuet keudumnan saboh lapeh, meuwoe keudeh lom keuraja

Raja Husyam lon riwayat,  tango sahbat lon calitra
Meunang aneuk deungon Suwat,  galak geuthat hanatara
Meuntroe Wazi duek meusapat, musyawarat raja raya
Raja Husyam peugah leugat, pakri pakat nibak gata

Aneuk ulon ubit jithat, badan Suwat siblah raya
Catatan: Terakhir saya salin pada  19 Maret 2014 pkl 7.15 wib. Setelah itu saya disibukkan dengan pekerjaan rutin memberi kuliah pada dua kelas mahasiswa Reg 1 dan 2  setiap hari, yaitu sejak hari Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at. Sementara pada hari Sabtu, Ahad; saya sebagai mahasiswa di Pascasarjana UIN Ar-Raniry mengikuti kuliah mulai 8.30 pagi sampai jam 18.00 sore dengan 4 mata kuliah setiap hari serta 1 – 2 dan 3 (ujian Teks Home) tugas paper setiap mata kuliah. Insya Allah, mulai 1 Ramadhan 1435 H/29 Juni 2014 M  saya akan giat menyalin kembali Hikayat Abu Jahai ini. Sehari- sampai jam 12 siang – sebelum 1 Ramadhan, hati sempat cemas karena Fel Hikayat ini hilang terhapus, Alhamdulillah, berkat batuan SADAF COMPUTER Felnya muncul lagi!. Memang, menjelang bulan Puasa, CPU berkali-kali ke tukang “Sadaf” itu, sampai-sampai fel Hikayat Abu Jahai terhapuskan!.

Aneuk ulon ubit jithat, badan Suwat siblah raya
Ek jiseumpom hanjan siat,  dumnan kuwat deungon teuga
Ngon Muhammad teuga Suwat, siploh lipat leubeh ganda
Abu Jeuhai ngon Muhammad, cuba ingat soe nyang teuga

Lam dua jih toh nyang kuwat,  bak  ibarat  taeu rupa
Menan sabda nibak deelat, seuot leugat dum bentara
He tuwanku bek susah that, meunang meuhat pomeukuta
Peunyuem lon sang talo Muhammad, meunan inagt kamoe dumna

Sabab yatim jih ubit that, kureueng kuwat aneuk tan Ma
Bak hate lon na meunyuem brat, meunang meuhat pomeukuta
Sabab Yatim tan eleumee,  that bit dungee tan bicara
Tan jitu’oh tipee-mipee, hana guree jih soe aja

Lom pi aneuk mantong bubai, hana akai ube seuma
‘Oh jipohle Abu Juhai, jisakai jiklik meu’a’a
Han ek jiamat siblah sapai, hana sagai dijih teuga
Sabab Yatim hana akai, Abu Jeuhai lisek raya

Teuntee meunang pojanjongan, sabab Yatim nyan hana teuga
Husyam deungo khaba meunan, meutuka han kheun bentara
Mangat hate pojanjongan, neukhem yohnyan ube raya
Ubak aneuk neukheun nyoeban, wahe intan ngo ayahnda

Wahe aneuk jantong hate, bek lalele bijeh mata
Lon eu teumpat pika hase, rakyat sare habeh teuka
Dipasi kon sampe ugle, nyuem hanlotle mideuen raja
Ji keumeung eu tameureupah, ureueng meugah habeh teuka

Abu Juhai ngo khaba ayah, beudoh pantah jakle sigra
Dalam kawan ji meulangkah, dong meusiblah kawom raja
Meuhadapan ngon Nabiyullah, jikheun pantah meunoe khaba
Wahe Yatim Abi Thaleb, dilon katreb kudam gata

Bak uroe nyoe kah ku peuseb, ku peu’ayeb yatim tan Ma
Jak meukeumah laju bek treb, musyreb meugreb ureueng teuga
Trebka kutroh dalam hate, kudam sabe sampe tuha
Bak uroe nyoe ka kulahe, kupoh mate Yatim tan Ma

Beudoh tajo bek kaiemle, peue kapike hana guna
Meunan jikheun Abu Juhai, ureueng beubai  tan agama
Naban geukheun hana akai, sangka jawai  meunan rupa
Patot Nabi ji peukanjai, lam kawan jai meuploh laksa

Nabi seuot meunoe macam, neu meukalam deungon raja
Ta deungo lon aneuk agam, lon meukalam deungon gata
Dalam hate bek troh-troh dam,  bek syok waham deungon sangka
Ngon rakan bek muka masam, bek troh-troh dann ngon syeedara

Bale lon kheun nyoe beusaheh, kureueng leubeh bek meuhaba
Bak uroe nyoe bek peujadeh, le peue daleh nibak gata
Lon meutanggoh siat tapreh,  singoh jadeh lon kungaza
Sabab gata lon eu hek that, ngon Asuwat banlheueh panca

Nyankeuh sabab tapreh siat, ploh-ploh urat dilee gata
Euntreut malam tajeb ubat, mangat kuwat leubeh teuga
Adat talo gata uroe nyoe, nibak kamoe daleh kana
Nyankeuh sabab singoh uroe, bek meupaloe gata raja

Hanjeuet takheun meudeh meunoe, meunang kamoe talo gata
Meunan Nabi neuhareutoe, ka jiiem droe aneuk raja
Ban jideungo Nabi kheun proe, teukab jaroe tuha muda
Geumeututo geukheun meunoe, bit Sinyak nyoe le bicara

Tango tuto kon aneukmiet, hak nyan teubiet bak ureueng tuha
‘Ohta deungo got that meut’iet, meuhiep-hiep sampe lam dada
Dalam hate jihka that niet, jih aneukmiet tuto tuha
Meunan jikheun jeueb-jeueb babah, teutap kisah saboh khaba

Mata uroe pika mirah, bak peuneugah awai ‘asha
Woe u gampong dum khafilah, hate dahsyah agam dara
Jeueb-jeueb nanggroe meusyuhu gah, Nabi meureupah ngon aneukraja
Jeueb-jeueb gampong dum ji kisah, nyan dibabah agam dara

Soe tube thee buet meureupah, ‘oh meubantah jeuet keudawa
Raja Husyam deungon Hamzah, roh meusiblah saboh masa
Muhammad Yatim sayang leupah, aneuk tan mbah ibu-bapa
Hana soe eu ‘ohtee reubah, ji cacahle aneuk raja

Meunan tuto ureue Makkah, buet meureupah ji calitra
Singoh uroe meuhat reubah, saleh soe tuwah ureueng duwa
Muhammad Yatim ubit leupah, raya siblah aneuk raja
Ladom kheun talo Nabiyullah, Abu Juhai pantaih hana ngonsa

Dum Asuwat piek reubah, nyang sa gagah deungon teuga
Muhammad Yatim la’eh leupah, bacut salah ka teurhanta
Hanjan jimat jihka reubah, seb ngon siblah jaroe raja
Ladom kheun talo Abu Jeuhai,  ureueng beubai tan bicara

Keupeue teuga meutan ilah, sabe susah bicara hana
Keupeue teuga meutan akai,  hana sagai sakon guna
Kareuna Muhammad that ceureudek,  akai lisek le bicara
‘Oh reubah jih gob jibalek, kulet tarek hana ngon sa

Jeueb-jeueb ureueng jikheun meunan, dibabah nyan agam dara
Ureueng Makkah ngon Kana’an, ureueng Yaman ngon Syahriya
Hana teungeut silawet nyan, hai janjongan ji calitra
Ji meudawa sabe rakan,  taroh jilawan sineuk duwa

Ladom kheun talo Muhammad nyan, ladom kheun han talo raja
Jeueb jeueb babah jikheun meunan, hai janjongan ji calitra
Ureueng inong lon peugah ban, bah sikhan-khan lon  peukhaba
Hana teungeut bak malam nyan, wot makanan boeh ie saka

Tot ngon ruti peugot timphan, jok manisan wot haluwa
Ladom geuboeh dalam pingan, lam peuluman dalam raga
Jeueb2  nanggroe bandum meunan, bak malam nyan teungeut hana
Hingga beungoh puteh uroe, peukeumah droe agam dara

Cok pakaian ngui u asoe, mat dijaroe payong sutra
Nyang na bak droe hana suwah, nyang that gundah jak meumita
Tampai2 beuthat beukah, meungka leupah jak u Bansa
Ladom bak gob jijak lakee, bek jeuet malee jitem siwa

Na siluweue hana bajee, jitop ulee leumah dada
Meunan bandum wahe sampee, teutap dilee saboh khaba
Beuneung puteh beuneung itam, meulu Siyam keulumba sutra
Meudeh meunoe ulon reusam, mangat tapham he syeedara

Beungoh uroe tanle malam,  tot meuriyam dalam kuta
Habeh jithee inong agam, beudoh tajam jak u banda
Neu beurangkat raja Husyam, tot meuriyam teubiet sigra
Geumeusapat inong agam, syahi ‘alam laju bungka

Rakyat rame that bahrullah, han ek peugah had ngon hingga
Ureue Yaman deungon Jeudah, dum u Makkah geupeuteuka
Sira geujak poh beurakah, khem meuhah-hah agam dara
Geutot beude ngon kumeurah, raja Makkah jak u banda

Raja Husyam ateueh gajah, dum karilah ireng lingka
Abu Juhai meuwoe kisah, teubiet pantaih dalam kuta
Rakyat lethat hansoe  tuban, Allah Tuhan nyang ek kira
Ban peuet reutoih dijak rakan, sa peukaian deungon raja

Ta eu dijak meuatoran, ji meukandran ateueh guda
Ladom gajah nyang balohan, ladom rakan ateueh unta
Ta eu jijak jroh meurumpan, saboh kawan sabe muda
Peukaiyan hu nibak badan,  meuh ngon intan ngon meutiya

Sira geujak peh bunyian,  bandum rakan hate suka
Abu Juhai that analan, hana lawan ngon tapeusa
Kulahkama tampok intan, syeureuban meusru diwangga
Bajee Meuse salak Adan, sok dibadan aneuk raja

Dokma pi meuh mata intan, cahya jiban bintang kala
Mata duwa ceulak jiligan, jiboeh sajan gahru ‘atha
Peudeueng pi meueh ulee intan, beurliyan geutata lingka
Peukaian hu leungkap badan,  rupa jinyan  bintang kala

Balatantra ngon angkatan,  sileungkapan bandum geuba
Rakyat rame hansoe tuban,  Allah Tuhan nyang ek kira
Sira geujak meupiasan, peh ngon geundrang rupa-rupa
Meuntroe wazi jak ngon kandran, laen rakan jak meusafa

Abu Juhai ureueng meugah, ateueh gajah aneuk raja
Rakyat laen han ek peugah, that bahrullah han ek kira
Ladom guda ladom gajah, ladom kibaih ladom unta
Geutot beude ngon kumeurah, khem meuhah-hah hana reuda

Aneuk raja jak meureupah, asoe Makkah habeh teuka
Soe nyang kalon hate dahsyah, ‘alam mirah geupeugisa
Meupiasan teungoh geujak, ka meugrum-grak lam blang raya
Jipeh canang ngon geudeumbak, ka jiarak aneuk raja

Jitot beude ngon jisurak, nyuem meugrak-grak  langet  donya
Ji meuwayang teungoh geujak, ka jimeutak pura-pura
Bandum seu-u hate galak, ji hayak payong jigisa
Jitiek aleh jroh meukeupak, rakyat jijak lingka raja

Jipeh tambo deungon geundrang, jitatang peudeueng nyang raya
Kasang-kasui di dalam blang, lagee sang-sang Linto geuba
Jiyub suleng jipeh canang, payong keumang bandum rata
Ngon su beude hana reunggang, na miseue prang meunan rupa

Meuntroe wazi deungon bujang,  uleebalang  dum  bentara
Ladom giduek ateueh guda plang, ladom pasang ateueh unta
Jeuetkeu dumnoe saboh karang, han ek abang lon calitra
Troh u mideuen bandum rakyat, piyoh leugat agam-dara

Maseng2 geubri teumpat, ban nyang babat meunan jeumba
Meuntroe wazi sajan daulat, laen rakyat dum diluwa
Si u timu ureueng meukat, si u barat bak duek raja
Si u baroh bak duek rakyat, saboh teumpat peukan raya

Si u tunong duek Muhammad, hate mangat agam dara
Tujoh buleuen peugot teumpat, luwah pithat banda raya
Nan peuet sagoe pageue kawat, panyot geulhat ban seulingka
Nam blah batee timu barat, bak teumpat meureupah raja

Peugot khimah ngon bantalan, bak duek rakan agam dara
Leueng leulanget rumboe intan,  ngon hamparan tika sutra
Rakyat rame hansoe tuban, Allah Tuhan nyang ek kira
Uroe malam meupiasan,  ban  lakuan  sang keurija

Bandum rakyat that sukaan, teungeut jitan agam dara
Habeh khaba ‘ohnoe sikhan, laen rakan lon calitra
Baroh Tidiek tunong Keumangan, diteungoh nyan babah sikuwa
Amma bakdu  Rani ngon Jaman, keu janjongan meuwoe haba

Nabi neudong sajan rakan, neu kalon ban buettan raja
Neu eu rakyat le hanaban, ngon piasan rupa-rupa
Diyum khimah yub bantayan, ube sikhan peunoh rata
Ingat keudroe pojanjongan, yoh masa nyan hate luka

Tahe mandang Nabi neumoe, ri geumanoe ngon ie mata
Beudoh laju Nabi neuwoe, bak Mama droe neu peuteuka
Yohnyan Nabi neukheun meunoe, sira neumoe neu meusabda
Wahe Mama neungo kamoe, neubri jinoe bajee ija

Lon meureupah bak uroe nyoe,  brikeu kamoe dum peukara
Abu Juhai le peukaian, meuh ngon intan peunoh dada
Na 400 dijih rakan, saban-saban bandum ija
Dilon Mama tan peukaian, keutiwasan malee mata

Ulon sidroe keuhinaan, tan pakaian wahe Mama
Lon uroenyoe jak u peukan, malee hanban han sapeuena
Nabi neuiem lheueh neukheun nyan, pojanjongan ingat keu Mama
Nabi neumoe mata neupet, treb-treb siblet neu meusabda

Teuma seuot Abu Thaleb, ro meureb-reb ngon ie mata
‘Ohneu ingat malee ‘ayeb, meusyreb meugreb gob ceureuca
Sira neumoe neu peugahle, meunoe syawe  Mama khaba
Wahe aneuk jantong hate, bungong pade bijeh mata
Peukaian tan peue ulon bri, kamoe faki gasien raya
Digob keeumuen ureueng meugah, kaya limpah Du jiraja
Peue nyang dingui dumpeue mudah, hana suwah jijak mita
Geucok gunci buka peutoe, le atra droe ureueng kaya

Dilon gasien he aneuk droe, ngon peue kubloe bijeh mata
Yohnyan Nabi laju neumoe, neungo bunyoe narit Mama
Meunoe neukheun teungoh neumoe, han meubunyoe dalam dada
Adat na udep Ma ngon Ayah, peue nyang lon hah ek neupeuna

Meuta lakee hana suwah, dumpeue mudah meunyo na Ma
Hana bak droe bak gob talakee, bek cit malee jak u Banda
Nabi neumoe tumpang ulee, basah bajee ro ie mata
Sira neumoe neu meurawe, hana lahe tan suwara

Lon pabanbah Nangbah mate, Du lon hanle ateueh donya
Yohnyan Nabi neu meurawe, hana lahe ubak Mama
Neu seot lom Abi Thaleb, moe-moe meureb ngon ie mata
Bak uroe nyoe lon that ‘ayeb, musyreb meugreb gob ceureuca

Siya-siya mantong udep, malee kaseb dalam donya
Wahe aneuk nyawong badan, ku pakriban bijeh mata
Baklon aneuk tan peukaian, ngon kubloe tan peng kuhana
Dalam hate kuthat susah, lon pakribah keumuen raja

‘Ohlon ingat Nyak meutuwah,  rasa beukah langet donya
Beulanja tan sipeng mirah, peue2 lon peugah hana guna
Nyang na alat ureueng nanggroe, jingui keudroe dum jirata
Adat meuna arta kamoe, bak bahya nyoe kuteuboih gata

Bek jeuet aneuk ta meureupah, ku pabanbah tan areuta
Abu Thaleb meunan peugah, Rasulullah seungab haba
Teuduek tahe Nabi neumoe, tan meubunyoe na suwara
Dalam rumoh ureueng lhee droe, lon peugah soe tabileueng sa

Abu Thaleb ngon ‘Atikah, Nabiyullah nyang lhee teuma
Ureueng lhee nyan teungoh geumoe, neungo bunyoe meusuwara
Luwa pinto jikheun meunoe, idin kamoe tamong bak gata
Tema seuot tuan ‘Atikah, han peue salah tamong sigra

Yohnyan pinto ka neu peuhah, tamong leupah sidroe nisa
Ureueng jak nyan namiet Khadijah, saboh khafah sajan jiba
Makna khafah nyan kalamdan, meunan rakan geupeukhaba
Bak Abu Thaleb jok kalandan, khaba peuneusan ji calitra

He Abu Thaleb khaba Khadijah, neuyue peugah ubak gata
Nyoe Kalamdan peunoh limpah, ceudah-ceudah bandum ija
Peukaian nyoe ngui keu Nabi,  beurangkari toh nyang suka
Abu Thaleb ngo meunan rawi, neucok gunci ka neubuka

Neu peuhahle kalamdan nyan, neu eu sinan bajee ija
Jeueb2 alat ngon peukaian, han sapeue tan rupa-rupa
Ija bajee dokma sajan, ngon syeureuban meusri wangga
Hana bandeng ngon teuladan, sang peukaian lam syuruga

Na miseue ban ija sundusen,  haloih licen sangkon sutra
Peukaian na limong seun tren, Khadijah salen Nabi kita
Abu Thaleb hanle ceuken, manyoh meusyen hate suka
Yohnyan Nabi neungui salen, ban siseun tren dum peukara

Nabi ngui ija sundusen,,  haloih licen dhiet bak sutra
Masa Nabi neungui salen, ureueng laen sidroe hana
Soe nyang kalon manyoh meusyen, meu-ek meutren cahya muka
Doma bajee manikm teukarang, meukeurawang mutiara

Soe nyang kalon tahe mndang, sang buleuen trang cahya muka
Mata incien misue intan, soe nyang pandang labui mata
Peukaian hu nibak badan, meueh ngon intan mutiyara
Neungui habeh dum peukaian,  troih lam awan meucuwaca

Puteh ijo kulet badan, soe eu pansan sikutika
Di dalam nur diluwa nu, soe nyang na eu labui  mata
Cahya muka sang panyot hu,  bee meuharu minyeuk ‘atha
‘Ohlheueh neungui alat keurajeuen,  naban buleuen cahya muka

Soe nyang kalon tahe hireuen, peungeuh mideuen meunan cahya
Laila haillallah,  peurintah  Allah neumat kuwasa
‘Ohlheueh meungui Rasulullah, neucok langkah got kutika
Nabi teubiet rumoh ‘Atikah,  rakyat bahrullah habeh teuka

Trohle keunan tuan Hamzah, tuwan ‘Abbas dum seureuta
Neujak sajan Nabiyullah, tuan ‘Atikah Muthaleb ba
Rakyat laen han ek peugah, that bahrullah agam dara
Mata uroe kagot tampah,  dalam kisah poh lapan ka

Ureueng lethat dum meusak-sak, hate galak agam dara
Teungoh kawan Nabi neujak, rakyat arak ban seun lingka
Cahya badan hu meubhak-bhak, mata meuclak sa banduwa
Bandum sahbat katroh keunan, bak janjongan meukuta donya

Mama Nabi seukalian, neujak sajan ube nyang na
Nabi neujak teungoh kawan,  laen rakan ban silingka
Sira geujak meupiasan, peh bunyian rupa-rupa
Maseng-maseng giduek kandran,  jak meukawan santeut banja

Tuan Hamzah teuma sidroe, mat dijaroe peudeueng raya
Rupa hibat hana bagoe, beurang kasoe hana ngon sa
Rakyat laen dum sinaroe, asoe nanggroe dum seureuta
Geujak sajan pojanjongan, ube sinan agam dara

Kata rawi pokhabaran, tango rakan lon calitra
Muhammad Amin yoh masa nyan, hansoe tuban nyo ambiya
Tansoe teupeue seukalian, nyang na tuban ureueng duwa
Nyang na tupeue ngon lon peugah, tuan Katijah ngon Abubaka

Seubab geuthee di Katijah, Poteu Allah bri rahsiya
Bak simalam Katijah lumpoe,  meunoe bagoe lam rahsia
Buleuen dilanget tron u bumoe, lam ‘alam nyoe meunan rasa
Khadijah mat deungon jaroe,  u meuligoe leugat neuba

Tahe mandang Katijah laloe, buleuen bak jaroe peungeuh donya
Meunan leumah dlam lumpoe, beungoh uroe Khadijah jaga
Makna lumpoe Katijah ingat, nyoe alamat na ambiya
Nyokeu yakin Nabi Muhammad, nyang bri niekmat dalam donya

‘Ohnan haba ampunya kisah, narit Katijah lon calitra
Neuhoi namiet nan Basyarah,  troihle pantah keunan teuka
Meunoe neukheunle Khadijah, jinoele kah jak uluwa
Wahe ulon kango kamoe, talam jinoe kame sigra

Katop talam sahab meusujoe, peunoh asoe intan p

 

 

 

 

 

 

 

Minat Baca Huruf Arab-Jawoe, Bangkit Kembali di Aceh

Minat  Baca Huruf Arab-Jawoe,

Bangkit Kembali di Aceh

Oleh : T.A. Sakti dan Siti Hajar

Aceh merupakan salah satu gudang naskah(manuskrip) nusantara. Berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti agama, hukum adat, sejarah, kesehatan,astronomi,  sosial-budaya, politik dan ekonomi tercakup dalam naskah itu. Sebelum diperkenalkan dengan huruf Latin oleh penjajah Belanda, huruf Arab-Melayu atau Jawi alias harah Jawoe merupakan satu-satunya media  pencari ilmu bagi orang Aceh.Tetapi akibat perkembangan zaman, yaitu dengan tingginya penggunaan huruf Latin, membuat huruf Arab- Melayu mulai ditinggalkan. Peralihan penggunaan huruf Jawi ke aksara Latin membuat masyarakat Aceh pada umumnya tidak mampu lagi membaca hikayat, nazam dan tambeh.  Padahal tradisi membaca ketiga jenis naskah itu merupakan  ‘santapan’ sehari-hari masyarakat Aceh tempo dulu sepanjang tahun.

Suatu sore  di bulan Februari 2013 Bapak Drs. Teguh Santoso, S.S., M. Hum sebagai Kepala Balai Bahasa Banda Aceh menghubungi saya (T.A Sakti) untuk tukar pendapat terkait dengan ide beliau yang berencana mengadakan lomba naskah lama Aceh.  Saya sangat mendukung gagasan itu, namun akibat pengalaman saya yang pernah menjadi juri pada kegiatan lomba membaca naskah lama yang diadakan oleh Museum Aceh, Banda Aceh tahun 2003, saya menjadi sedikit prihatin dan sedih. Sebab, lomba di Museum Aceh itu hanya diikuti oleh 6 (enam) orang peserta lomba dan seluruh pesertanya perempuan. Sementara yang laki-laki tidak seorang pun ikut mendaftar. Mendengar jawaban saya, Bapak Teguh tidak menyerah, sekaligus mencari solusinya. Akhirnya, acara lomba membaca naskah lama Aceh pertama di Balai Bahasa Banda Aceh, berlangsung dengan meriah.

Pada acara lomba membaca naskah lama Aceh pertama yang berlangsung tahun 2013, saya (T.A Sakti), Medya Hus, dan Zainun S.Ag diundang sebagai juri dalam perlombaan itu. Acara lomba diikuti oleh 46 peserta dari berbagai kalangan; mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, dan santri dayah yang datang dari berbagai kampung di Banda Aceh dan Aceh besar. Banyaknya peserta melebihi perkiraan semula, membuat saya merasa kaget, seakan tidak percaya. Setelah melihat antusias peserta untuk mengikuti perlombaan ini, membuat saya amat bahagia. Sekarang, ternyata minat baca masyarakat Aceh terhadap naskah lama mulai bangkit kembali. Dalam upaya mendukung pengembangan dan pelestarian naskah lama Aceh, sejak tahun 1992 hingga sekarang; saya telah melakukan alih aksara 35 judul naskah lama Aceh. Hasil transliterasinya sekitar 7000(tujuh ribu) halaman. Sebagian teramat kecil dari hasil alihaksara itu telah diterbitkan.

Dalam perlombaan yang diadakan tahun 2013, para peserta diwajibkan membaca cuplikan Hikayat Akhbarul Karim dan Hikayat Abu Nawah. Setiap peserta diberi waktu 10 menit untuk membacakan salah satu dari hikayat itu.  Acara lomba selesai dengan sukses. Para pemenang lomba yaitu; Tasnim dari Sibreh, Mufazal dari Gue Gajah, Sahimi dari Klieng Meuria, dan Ahmad Fauzi dari Gamp. Sagoe Baru. Kesuksesan lomba baca naskah lama tahun 2013, merupakan tonggak pertama  dalam membangkitkan minat baca masyarakat Aceh terhadap naskah Arab-Melayu alias Jawoe. Upaya melestarikan warisan budaya leluhur ini  mencapai sukses nyaris sempurna.

Tahun 2014 Balai Bahasa Banda Aceh kembali menggelar lomba membaca naskah lama untuk kedua kalinya. Perlombaan ini diikuti oleh 50 orang peserta dari berbagai kalangan yang berasal dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Saya (T.A Sakti), Medya Hus, dan Lukman kembali dipercayakan untuk menjadi juri dalam perlombaan tersebut.  Adapun naskah yang telah dipersiapkan oleh panitia untuk diperlombakan, yaitu Hikayat Abu Nawah dan Nazam Teungku di Cucum.  Pelaksanaan lomba pada tahun kedua ini lebih meriah dan lebih sukses dari tahun sebelumnya.

Kesuksesan kegiatan lomba pertama dan kedua, memberi angin segar bagi naskah Aceh untuk kembali diminati masyarakat. Balai Bahasa Banda Aceh yang telah menjadi Balai Bahasa Provinsi Aceh menjadikan kegiatan lomba baca naskah lama  Aceh sebagai salah satu agenda rutin tahunan.  Bapak Murhaban, S.Ag., M.A. sebagai koordinator kegiatan lomba membaca naskah lama Aceh tahun 2015 menuturkan bahwa, lomba baca naskah Aceh dilaksanakan selama dua hari,  yakni hari Senin dan Selasa tanggal 8 – 9 Juni 2015. Pada hari pertama acara berlangsung dari pagi sampai sore hari, sedangkan hari kedua acara hanya sampai siang hari. Kegiatan lomba tahun 2015 berbeda dari pelaksanaan kegiatan lomba tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, untuk lomba yang bersifat kedaerahan hanya lomba membaca naskah lama, sedangkan pada tahun ketiga ini, ada cabang perlombaan lain yaitu;  lomba Hiem yang telah diselenggarakan pada tanggal 6 dan 7 Juni 2015 dan lomba membaca naskah lama Aceh.

Bapak Murhaban lebih lanjut menuturkan bahwa, “lomba baca naskah lama Aceh diikuti oleh 50 peserta, dari berbagai kalangan, baik masyarakat umum, mahasiswa, siswa tsanawiyah dan dayah. Para peserta berasal dari daerah Banda Aceh dan Aceh Besar. Kegiatan ini masih langka dan berskala kecil, makanya bebas diikuti oleh setiap kalangan dan tidak dibatasi umur. Balai Bahasa menjadikan kegiatan ini agenda rutin karena naskah sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Acara ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk kembali cinta naskah dan mengambil manfaat dari isi naskah tersebut”. “Saya prihatin melihat kondisi naskah Aceh yang masih sangat kurang minat masyarakat untuk kembali membuka naskah-naskah tersebut, sedangkan ditempat lain minat masyarakat sudah sangat tinggi, sehingga kegiatan ini dijadikan sebagai pancingan agar masyarakat kembali mau membuka naskah lama”, ungkap Murhaban lagi. Bahan naskah yang diperlomba tahun ini juga dua naskah, yaitu cuplikan Nazam Teungku(Tgk) Di Cucum dan Hikayat Abu Nawah. Cuplikan Nazam Teungku Di Cucum membicarakan tentang perkembangan “zikirullah” yang akan semakin semarak di Aceh pada akhir zaman. Cuplikan Hikayat Abu Nawah mengisahkan keberangkatan Abu Nawah bersama para menteri memancing ikan bersisik merah ke laut lepas. Sementara Dewan Juri adalah T.A. Sakti, Zainun, S.Ag dan Rahmat, S.Ag.,M.Hum

Balai Bahasa Provinsi Aceh berencana, jika kegiatan lomba membaca naskah lama kembali dilaksanakan tahun depan, maka akan dibuat dengan format yang berbeda. Mutu acara akan ditingkatkan. Jika selama ini; yang sudah tiga tahun berjalan, pada saat mendaftar peserta diberikan pilihan salah satu naskah yang akan dibaca. Untuk  kedepan tantangan akan lebih besar. Direncanakan peserta akan diberikan beberapa naskah, dan ketika tampil di pentas, maka panitia yang akan menentukan naskah mana yang harus dibacakan. Dengan demikian akan memunculkan sosok-sosok yang memang sangat paham dengan aksara Arab-Melayu/Jawi atau Jawoe.

Beragam tanggapan para pesarta terkait keikutsertaan mereka dalam lomba ini. M. Husen (55) pembaca naskah Teungku di Cucum 1 (satu) menjelaskan bahwa; ia ikut lomba ini karena merasa prihatin dengan bahasa Aceh saat ini. Generasi sekarang mulai meninggal bahasa sendiri, yaitu bahasa Aceh dengan cara enggan menggunakan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bertanya dengan bahasa Aceh, maka dia tetap menjawab dengan bahasa Indonesia, walaupun dia sangat mengerti  bahasa Aceh. Saat ini bahasa Aceh banyak dicampur dengan bahasa nasional, seperti saat menyebutkan “camca”, anak-anak tidak lagi menyebut sesuai aslinya, tapi lebih mengenal kata sendok sebagai pengganti camca. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari untuk meminta camca maka ia menyebutkan “ tolong Mak cok sendok siat!”. Diharapkan dengan perlombaan ini, masyarakat tidak meninggalkan identitas diri dan tidak mencampur adukkan bahasa Aceh sebagai identitas diri dengan bahasa nasional dan lainnya. Acara ini diharapkan dapat diikuti oleh setiap wilayah di Aceh untuk meningkatkan khazanah budaya Aceh. Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa terkaya di dunia dan semoga acara ini terus dapat diselenggarakan.

Peserta lain, Muhammad Nur dari Tibang yang membacakan naskah Teungku Di Cucum 2(dua) menuturkan bahwa, ketika kecil sering bergaul dengan orang tua yang gemar membaca hikayat, dan saat itu senang belajar membaca hikayat karena isinya sangat bagus, mulai dari nasehat dan petuah ulama. Harapannya, semoga setiap tahun dapat dilaksanakan  kegiatan lomba ini.

Berdasarkan hasil pantauan terhadap lomba membaca naskah lama Aceh yang sudah berlangsung tiga kali dalam masa tiga tahun, ternyata para peserta lomba lebih banyak memilih membaca naskah yang berunsur agama, dibandingkan dengan naskah cerita. Pada lomba tahun 2013, mayoritas peserta membaca naskah Hikayat Akhbarul Karim, yang mengandung ajaran Islam tentang kehidupan sehari-hari. Pada tahun 2014 dan 2015, kebanyakan peserta memilih membaca naskah Nazam Tgk. Di Cucum, yang berisi “ilmu batin” membersihkan hati. Dalam acara lomba tahun ini, dari jumlah 50 peserta, hanya satu orang saja yang melantunkan Hikayat Abu Nawah.

Kegiatan lomba ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba. Mereka yang terpilih sebagai juara 1 sampai dengan 6 yaitu; Jamaluddin dari Mureu Baro, Sakdiah dari Jeulingke, Qudusisara dari Rukoh, M. Amiruddin dari Lam Beusoe, M. Khaled dari Kajhu, dan Husni Marzan dari Lampineung. Acara diakhiri dengan foto bersama antara para pemenang lomba dengan panitia, serta dewan juri. Sebagai bingkisan dan kenang-kenangan kegiatan lomba membaca naskah lama Aceh, kepada seluruh peserta dibagikan sertifikat dan kaos warna silver yang bertuliskan “Balai Bahasa Provinsi Aceh, Lomba Membaca Naskah Lama Tahun 2015”.

 

 

***Artikel ini dengan sedikit penyesuaian telah dimuat dalam “opini Serambi” 30 Juni 2015,T.A. Sakti

#Catatan kemudian: Selama bertahun-tahun, hampir setiap bulan Ramadhan kegiatan saya adalah menyalin hikayat dari huruf Jawi/Jawoe ke aksara Latin. Ketika sampai pada hari ke 25 Ramadhan, saya selalu menulis cacatan mengenai Ulang Tahun musibah di jalan raya Solo-Yogyakarta. Saya berbuat demikian, karena musibah lalin itu memang terjadi pada tanggal 25 Ramadhan 1405 H/15 Juni 1985 M di sekitar Kalasan, Klaten-Yogyakarta.  Namun pada Ultah ke- 31 pada tanggal 25 Ramadhan 1436 H tahun ini catatan demikian tidak dapat saya lakukan, karena saya tidak mengerjakan alih aksara hikayat Aceh. Sebagai pengganti “catatan perayaan Ultah” itu, saya telah fotokopy lebih 31 paket(baik yang huruf Jawi dan alih aksaranya) cuplikan Nazam Teungku Di Cucum mengenai Zikirullah di Aceh pada akhir zaman. Kesemua paket hadiah itu telah saya sampaikan kepada berbagai pihak di Aceh, yang saya anggap paham tentang makna nazam Aceh itu.

Bale Tambeh, 2 Uroe Raya 1436/2 Syawal 1436 H/18 Juli 2015 M, pukul 18.04 wib.