Gelar Sarjana Bukan ‘Status’ Tapi Identitas Keprofesionalan

Gelar Sarjana  Bukan ‘Status’ Tapi Identitas Keprofesionalan

Oleh: Hendro Partomo

 

            PEMAKAIAN gelar kesarjanaan (lulusan perguruan tinggi) segera ditertibkan dalam waktu dekat ini. Berkenaan dengan itu Menteri Pendidikan dan kebudayaan sebelum bulan Juli tahun ini akan segera mengeluarkan peraturan tentang pemakaian gelar. Demikian keterangan Humas Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (“Suara Karya”, 9 April 1984).

Memang apa yang akan diwujudkan oleh Mendikbud seperti dijelaskan Humas Depdikbud sudah selayaknya. Penertiban ini akan sekaligus menunjukkan keprofesionalan dan tingkat akademik seseorang yang menyandang gelar tersebut.

Seperti kita ketahui, perguruan tinggi di negara kita mempunyai dua arah dalam mendidik para mahasiswanya.

Yaitu : (1) Keahlian akademik yang mencetak para mahasiswa untuk menjadi peneliti keilmuan, tehnik dan seni. Keahlian ini menciptakan seseorang untuk dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru dan (2) Keahlian yang mencetak seseorang agar terampil dalam menerapkan suatu disiplin ilmu yang diperolehnya. Dimana program ini biasa disebut program non gelar atau diploma. Untuk sementara yang telah mengembangkan program ini adalah bidang kependidikan (keguruan). Sedangkan untuk bidang-bidang di luar keguruan baru sedikit saja yang mengembangkan program ini.

Tentang pemakaian gelar yang tidak pada proporsinya banyak dapat kita saksikan di sekeliling kita. Gelar dipakai tidak sebagaimana mestinya, alias tidak singkron dengan keperluannya itu, tidak lain hanyalah ingin memamerkan bahwa dirinya telah sarjana (dalam hal ini bukannya saya iri, tetapi memang demikianlah gejala yang dapat saya amati dari keadaan di sekeliling).

Betapa tidak? Hanya menulis surat undangan perkawinan saja gelar Sarjana dicantumkan. Apakah ini bukan suatu sikap pamer?. Padahal pencantuman gelar dalam surat undangan tidak ada relevansinya sama sekali dengan gelar kesarjanaan yang dipunyai.

Menurut “Suara Karya”, seseorang yang melamar pekerjaan, sedangkan pekerjaan itu tidak membutuhkan keahlian yang melekat pada gelar tersebut pun kurang/ tidak relevan. Kalau pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian yang melekat pada gelar yang dipunyai si penyandang gelar, pemakaian/pencantuman gelarnya baru ada relevansinya.

Martabat?

Sampai detik ini masih berkembang di masyarakat yang menganggap orang yang mempunyai gelar kesarjanaan merupakan masyarakat elit. Imaji inilah yang mendorong orang untuk memiliki gelar agar dirinya dapat masuk dalam golongan elit itu. Bukan saja sang sarjana yang merasa bangga, tetapi seluruh keluarganya pun demikian tanpa menyadari apa yang ada di balik selembar ijazah tersebut. Ijazah dianggap sebagai tiket menuju stratum lebih atas. Dengan selembar ijazah seseorang telah memiliki status tinggi tanpa peduli apa yang ada di balik ijazah itu. Apakah ijazah tersebut aspal, hasil membeli atau pun cara lain bukan soal (Suara Merdeka, 23 April 1984).

Sebenarnya gelar bukanlah menunjukkan martabat atau status seseorang. Gelar hanyalah menunjukkan identitas keprofesionalan dan tingkat akademik seseorang saja.

Kalau terjadi seseorang menjadi sarjana lalu  m e m b a n g g a kan  kesarjanaannya, ataupun ingin dihargai oleh orang lain, maka sebenarnya orang tersebut belum memiliki kesadaran  tinggi, serta masih berfikir secara feodal. Sebab ingin dihargai karena bertitel, adalah fikiran orang-orang yang hidup di zaman foedalisme dulu. Justru orang yang mempunyai kesadaran tinggi serta berfikir modern tidak akan berbuat begitu. Ia sadar apa arti kesarjanaan jika tidak punya prestasi, alias dangkal terhadap berbagai masalah dan aspirasi masyarakat (Kedaulatan Rakyat, 22 April 1984).

Dialam pembangunan sekarang ini tidak perlu lagi seseorang terlalu bangga akan gelar yang disandangnya, seyogyanya tunjukkanlah kemampuan niscaya orang akan menghargai.

(Sumber: Minggu Pagi, 13 Mei 1984 hlm. 3). terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

Tulisan yang Ditolak Redaksi Bukan Semuanya Buruk!

Tulisan yang Ditolak Redaksi Bukan Semuanya Buruk!

Oleh: Budy Wahyono

 

TANPA  bertendensi menuduh isi tulisan dari para penanggap yang sebagian resepnya barangkali sudah basi dan stereotif (mengulang-ulang), saya merasa tergugah untuk nimbrung berbicara. Siapa tahu tulisan pendek ini dapat dijadikan “rabuk” dari opini-opini yang lebih dulu nongkrong di rubrik “cakrawala kita”. Maksud saya: tulisan bung Bambang Soelistiyanto Bernadoes, Andi Amarsuki, Warjianto Panca Wasana, dan Bahar Chiffarie.

Kenapa Tulisan Ditolak? Ini mungkin agak lucu ditanyakan, meskipun bagi saya justru perlu mengundang perenungan. Terus terang, saya sangat kuatir kalau pertanyaan yang klise ini bakal dijawab: “Karena tulisan itu buruk!”

Kekuatiran saya ini tentu saja cukup beralasan. Lebih dari itu kita perlu merombak imaji bahwa tulisan yang ditolak karena tulisan itu buruk dan tidak bermutu di mata bung Redaktur, sebab ini hanya salah satu kemungkinan saja. Masih banyak kemungkinan lain kenapa naskah ditolak, sehingga kita mudah ambruk karena ketidaktahuan itu.

Lho! Apa ada alternatif lain yang membuat naskah kita ditolak?!

“Ada!”. Buru-buru saya harus menjawab begitu. Mungkin tulisan itu sudah cukup baik, tapi karena terdesak tulisan yang lebih baik yang ditulis oleh orang yang berwibawa, maka tulisan kita yang sebetulnya sudah bagus otomatis kena gusur. Kasus ini terasa lebih jelas menimpa tulisan-tulisn jenis laporan-liputan suatu masalah penting, terutama yang bersamaan waktu ditulis oleh penulis-penulis berkaliber kakap.

Ada pameran kartun nasional, dan anda menghadiri sekaligus kepingin mengirimkan laporan itu ke koran “anu” misalnya. Meski tulisan anda berkualitas dan layak diberi hadiah bintang tiga, mungkin tidak bakalan dimuat, kalau mas Arswendo Atmowiloto juga mengirim laporan yang sama ke koran yang anda kirimi!. Pertimbangannya kurang lebih: nama Arswendo terasa lebih berwibawa dalam bidang kritik humor dibanding nama anda. Dan peristiwa kayak begini, konon pula mampu meningkatkan gengsi media cetak yang bersangkutan!

Ada pertemuan sastra kelas berat misalnya, dimana Romo Mangun hadir dan menulis kesan-kesannya di koran yang mungkin anda “ancam” untuk dikirimi tanpa mengerutan jidat berulang kali, saya tebak pasti naskah anda bakal masuk kotak sampah! Begitu pula masalah pertanian dan pangan, kalau tulisan anda mimpi bisa nongol di koran besar; anda harus belajar mengalahkan kehebatan Pak Dr Mubyrto.

Tahu diri

Itulah rentetan penyebab yang layak dipertimbangkan masak-masak agar kita lebih bisa tahu diri dan tidak ngawur dalam mengirim naskah. Dan meraba akan sikon seperti ini, kita tentu akan cepat maklum, bahwa tulisan yang tidak muncul di koran “Anu” kemungkinan besar bisa lolos di koran lain hanya masalah “perbenturan” si pengirim saja.

Maka saya tidak perlu heran ketika mendapat undangan untuk meliput sebuah pameran, yang punya kerja atau kawan baik sudah membisiki lebih awal, kalau wartawan anu datang, pengritik anu datang-dus saya bisa secepatnya berinisiatif untuk mengirim kemedia yang mungkin belum punya ‘duta’ di sini…. Walau mungkin saya nekad mengirimkan ke koran yang sudah mengirimkan korespondennya, tindakan spekulatif ini saya lakukan dengan maksud baik. Yakni menaruhkan tulisan saya mampu bertarung menang atau tidak? Dan kalau sampai menang, itu namanya sebuah kepuasan batin yang nikmat berarti saya rengguk.

Kecelakan lain yang menyebabkan naskah kita terlantar nasibnya adalah kegagalan kita meraba misi koran yang kita kirimi. Seorang penyumbang naskah yang terlatih kepekaannya, pasti mengerti dulu misi dan gaya sebuah media cetak. Mengirim Cerpen yang bertema Paskah, rasanya sulit diharap bisa muncul di majalah Panji Masyarakat atau Kiblat. Begitu juga menulis laporan kegiatan  HBI seperti Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW apakah mungkin bisa muncul di majalah ‘Hidup’. Itu catatan ekstrimnya. Tapi buktinya juga banyak media cetak yang memproklamirkan diri sebagai media independent, tetapi pak Redakturnya punya selera khusus. Ada yang getol dengan tulisan-tulisan romantis, kritik sosial, fiksi-fiksi inkonvensional, dsbnya. Kalau boleh diumpamakan barang kali meski sama-sama bermakanan pokok nasi, tapi ada yang seneng gudeg, sate setengah mateng, atau bakmi plus telor puyuh. Bukan mengejek, realita memang terasa demikian.

 

Koran kecil?

Pernah ketika coba-coba mengirim naskah beberapa waktu lalu, saya mendapat saran untuk memulai dari koran kecil saja. Saingannya sedikit dan kemungkinan dimuat besar –meski honornya kecil. Mula-mula memang enak, namun tuntutan untuk lebih dewasa dengan cara memanfaatkan koran dewasa kalau mampu dilaksanakan apa salahnya mencoba?

Lebih-lebih dendam saya pada  redaktur koran kecil yang sok banyak tuntutan (sok rapi, bertele-tele, tidak sistematis, masalah yang ditulis basi, antri panjang dan tethek-bengek alasan menyakitkan lainnya) merupakan pengalaman yang enak.

Rupanya mencoba tidak asal mencoba, itulah cermin yang wajib kita ikat. Mengirimkan tulisan lebih baik dari tulisan yang pernah dimuat pada koran yang akan kita kirimi, lebih memungkinkan lolosnya naskah kita melalui ‘selaput ketatnya’ tirai redaksi. Prinsip inilah yang harus kita pegang, agar kita tidak seenaknya menelorkan tulisan yang berkesan asal jadi.

 

(Sumber: Minggu Pagi, 13 Mei 1984 hlm. 3, terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

Peugah Haba Jameun

Peugah Haba Jameun

Cae, ABI DAUD


Assalamualaikum, Laju uloen kheun
Loen kirem saleum, keu Cek Medya
Para pemirsa, Kota ngon kampung
Loen kirem saleum, loen peu mulia

Aneuk cempala, Ateuh bak kuyun
Na aneuk Tiyung, Ateuh bak Ara
Saboh cae nyo, jino uloen kheun
Peugah haba jameun, Nama judul nya

Bak masa jino, Cit kon peu takheun
Peugah haba jameun, Ka hilang semua
Di Masa dilee, ureung Tuha jameun
Geu  yu  urut Rung, Geupeugah haba

Sambil peugah haba, Rung geuyu urut
Bak Aneuk miet cut cut, Atau Balita
Bandum  gembira, Aneuk miet cut cut
Oh, teubit kentut, Khem  ube  raya

Haba – geupeugah, Bandum manfaat
Jeut keu – ibarat, sotem  peuguna
Walau pun lucu, Haba riwayat
Aso – Lam Kitab, oh geu calitra
Dan – yang lain lom, pih hampir lenyap
Peugah Hikayat, pih ka – jareung na
Di masa dilee, keubit –meu  leuha  that
Peugah Hikayat,  Rata  Desa  na

Ladoem Hikayat, leupah that hayeu
Hikayat Putro bungsu, Ngon Malem Diwa
Ladoem Hikayat, Pih hayeu – leupah
Laju – geu peugah, Kisah Madang drya

Ladoem – geupeugah, Hikayat Perang Sabi
Geu jak perang – kafir, Bila Agama
so so – yang syahid, Dalam perang sabi
Geubri Bidadari, dalam syurga

Jan na – acara, Kenduri sunatan
Sampai  lhee – malam, Geu peugah Hikayat
Oh – geu undang syeh, Pih kon sembarangan
Yang – jago keumarang, Suara pih mangat

Tamu dum Teuka, Ramai kon wayang
Inong  –  Agam, Jak – deungo Hikayat
Ureung – Po Rumoh, Pih leupah senang
Na – geu sediakan, ie  –  Makanan se – ala kadar

Meunan  keuh jameun, Ureung dum Kompak
Keubit that galak,Bak keramaian
Bak jameun dilee, ureung bersatu
Nanggroe pih Makmue, dan lagi Aman

Ateuh bak panjo, Beurago – meusu
Aneuk Leuk Kutru, Ateuh bak Mamplam
Oh no meumada, Cae nyo satu
Oh  – Minggu  –  u  keu, uloen sambungkan

Saleum mulia, uloen ba laju
Phoen that lon tuju, Keu syeh Sofyan
Pih hana lupa, Saleum hormat
Kepada Cut Hab, serta Cek Man

Keu Yah Muda, saleum uloen bri
Keu Tgk. Fuadi, dan Septiawan
Keu Subki Patek, saleum uloen bri
Keu Tgk. Asnawi, Loen kirim salam

Wassalam

Dari ABI DAUD, SAMAHANI

KUTA MALAKA

 

 

 

 

 

 

Catatan: Disalen ngon komputerle T. Idham Khalid

Bale Tambeh, malam Jeumeu’at, 13 Khanduri Bu 1437/13 Sy’akban 1437 H/19 Mei 2016, poh 10.30 malam, T.A. Sakti.

KISAH NABI ISA

                                                KISAH  NABI  ISA


Cae  ABI DAUD
                                                        1

Assalamualaikum, saleum uloen ba
Keu Cek Medya, yang loen hormati
Penggemar cae, para pemirsa
Pih hana lupa, saleum uloen bri

Ateuh bak kuyun, burung “Cempala”
Ateuh bak Bangka, cicem Keudidi
Saboh cae nyo, jino loen rika
KISAH NABI  ISA, judulnya loen bri

Di Nabi ISA, dan sidro  teman
Dua – ureung nyan, jak keuliling Negeri
Di Nabi ISA, pada uroe – nyan
Neuba keu bekal, na lhee – boh Roti

Bak – kira kira, ka – cot uroe timang
Di bawah pepohonan, siat berhenti
Sambil  istirahat, Dua – ureung nyo
Cok – saboh sapo, geu makan Roti

 

 

2

Pada – watee nyan, di Nabi Isa
Jak bak Telaga, ka – neu jak cok – ie
Oh ban neu riwang, di Nabi Isa
Roti yang sisa, Neu – eu hana le

Bak teman droe, Isa neu tanyong
Ho ka lom, Roti yang sisa
Pada watee nyan geu jaweub le ngon
Hana loen kalon, hai Nabi Isa

Ureung nyan dua, ka berangkat lom
Ka geu jak rowong, keliling dunia
Na saboh kameng, Isa neu kalon
Laju – neu rumkhom, neu koh saboh pha

Di kameng – buno, oh – ji eu – le ngon
Ka hudep lom, kana peut boh pha
Pha kameng buno, Isa neu panggang
Laju watee  nyan, makan bersama

3

Sira neuduk-duk, haba neu meupro
Sisa roti buno, Isa tanyong hoka
Oleh teman Isa, ka neu kheun meuno
Hana loen tuho, wahai ya Isa

Di Nabi Isa, Tanoh neu bulit – bulit
Na  lhee  boh   bulit, ube – be raya
Ka jeut keu Meuh, ban lhee boh bulit
Indah keubit, han ngon peu sa

Isa neu bagi cok saboh sapo
Satu lagi nyo, keu ureung cok roti
Wahai ya Isa, yang cok roti buno
Nyo keuh   ulon nyo, Bak na neu turi

Meu nyo meunan. Kheun Nabi Isa
Meuh – bagi saya, keu – gata loen bri
Kita berpisah, sekarang juga
Di Nabi Isa, laju neu pergi

4

Ka tinggai sinan, ureung nyan sidro
Na – siat tempo, datang perampok
Wahai saudara,  kita bek ta meulho
Jino  Meuh – nyo, saboh sapo tacok

Ban lhee – awak nyan, meu pakat jino
Salah sidro  jak blo makanan
Peuhaba teuma,  perampok buno
Dua awak nyo, peugot perencanaan

Bek tapreh jiduk, nanti – oh jiwo
Ureung yang tayu, jak blo makanan
‘Oh ban – ji peuduk, makanan bak jaro
Laju ta – eungkho, bak mati kontan

Di ureung blo makanan, pih peugot rencana
Pih – ku blo tuba, ku paso – lam makanan
Oh ban ji makan, le awak nyan dua
Ngon tiba-tiba, nyawong pih hilang

5

Pada  akhirnya apa ?  yang terjadi
Ban lhee awak nyan mati, gara – gara Meuh  nyan
Isa dan rombongan, keunan neu lewati
Neu – eu ka – mati, bandum awak nyan

Memada – ‘oh no, Cae nyo  ini
Loen sambung lagi, meunyo na – umu panjang
Uloen meu do’a, malam dan hari
Ya Allah neu bri, bak sehat badan

Pih hana tuwo, loen kirim salam
Keu rakan-rakan, Pengarang cae
Saleum mulia, uloen sampaikan
Kepada rakan, bak Jambo  cae

wassalam

Dari ABI DAUD, SAMAHANI
KUTA MALAKA

 

 

 

 

 

Catatan: Disalen ngon komputerle T.Idham Khalid.

Bale Tambeh, uroe  Satu, 14 Khanduri Bu 1437/14 Sy’akban 1437 H/21  Mei 2016 M, poh 3.11  uroe, Bang Asa lheueh lon edit, euntreuk malam ‘nishfu sy’akban’. Hari ini Selasa, jam 7.11 pagi tgl. 31  Mei 2016. Malam Senin kemarin syair KISAH NABI ISA ini dibacakan oleh Cek Medya Hus di ACEHTV  pada acara “Cae Bak Jambo”,   T.A. Sakti

 

Meunasah Alue dan Legenda P Ramlee

                             Meunasah Alue dan Legenda P Ramlee

“Tanam pinang ditanah rata

tanam kelapa dibukit tinggi

pucuk di awan melambai mesra

akar bertemu di perut bumi!”

 

.
Alangkah puitisnya kata-kata tersebut. Ia memiliki makna yang dalam. Itulah sekerat syair dari sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh Ahmad Jais – – penyanyi Malaysia – – yang dihapal baik oleh publik Indonesia, terutama di Aceh pada dekade tujuh puluhan. Namun, jauh sebelumnya, seorang penyanyi Malaysia lainnya, P Ramlee, telah menggunakan ungkapan pantun itu dalam lagu-lagunya.
Barangkali generasi sekarang tidak kenal P Ramlee. Penyanyi dan pemain film tersebut sudah almarhum. Meski dia penyanyi Malaysia, tetapi dia punya ikatan paling kental dengan Aceh. Maka, warga di sebuah desa bernama Meunasah Alue di Kecamatan Muara Dua Lhoksumawe pun merasa kaget dalam hari-hari sekarang ini. Desa mereka dipersiapkan untuk sebuah  hajatan besar.
Diperkirakan 250 orang akan datang ke desa di pinggang Kota Lhoksumawe itu  pada 28 November mendatang. Ini dilaksanakan dalam sebuah acara bertaraf internasional: Dialog Utara dari 26 sampai 28 November. Peserta seminar dan pertemuan paling bergengsi ini berasal dari Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Brunei, Sumatra Utara, dan Aceh sendiri selaku tuan rumah.
Kenapa para budayawan akan berkunjung  ke Meunasah Alue  dan ada apa pula dengan P Ramlee? Konon kabarnya,  P Ramlee bintang film dan penyanyi legendaris itu lahir di desa tersebut. Namanya Ramli, ayahnya bernama Puteh. Versi lain menyebutkan dia bernama Puteh dan ayahnya bernama Ramli.
Kalau begitu kenapa tidak bernama Ramli Puteh atau Puteh Ramli sebagai lazimnya?  Itulah uniknya seniman. Ada hal-hal yang “diperlukan” untuk ketenaran sebuah nama dengan popularitasnya. Banyak artis kita juga mengganti namanya sehingga enak didengar. Setelah dia pindah ke Malaysia (waktu itu bernama Semenanjung Tanah Malaya) nama Ramli diganti dengan P Ramlee mengikut ejaan Malaya.
Di masa jaya-jayanya tahun lima puluhan dan awal enam puluhan,  setiap orang kaya di Indonesia pasti menyimpan piringan hitam berisikan lagu-lagu P Ramlee. Dia berduet dengan Salamah alias Saloma . “Oh Saloma” adalah lagu yang paling populer di samping “BertamasyaBertamasya Salamah, kata P Ramlee, yang disambung Saloma: Sabar dulu kandaku, kita kembali mintala izin ayah dan bunda. Lalu kata P Ramlee lagi: sungguh jujur hatimu.

Saloma menimpali: Sudah tentu kandaku karena ku taat adat dan timur sejak dahulu… Mari bersamaa… kita kita berjumpa….
           Konon, banyak gadis Malaysia dan Indonesia tergila-gila dan jatuh cinta pada P Ramlee. Maklum mereka hanya bisa mendengarkan suara nyanyian lewat radio atau piringan hitam, tanpa melihat wajah. Dan waktu itu, siaran Radio Malaya terdengar cukup jelas di Indonesia, terutama disepanjang pesisir utara Sumatera.
Barulah setelah filmnya beredar, publik Indonesia mengenal P Pamlee dan Saloma dengan suara emasnya. Ketika tenar-tenarnya orang Malaysia lupa bahwa P Ramlee hanya “barang pinjaman”. Atau mereka tak peduli bahwa P Ramlee adalah orang Aceh yang lahir di Meunasah Alue, kemudian merantau ke Malaya pada waktu itu.
Di Malaysia P Ramlee telah ditabalkan sebagai pahlawan nasional. Sebuah Museum dibangun di Pulau Pinang. Dis ana kita bisa membaca biografi P Ramlee dan melihat puluhan piringan hitam berisikan lagu-lagunya. Berbagai aksesoris yang dipakai serta kopi film layar lebar yang pernah dibintanginya – – antara lain Bujang Lapuk- – dapat kita saksikan bila kita berkunjung ke Museum P Ramlee di jalan P Ramlee, Pulau Pinang.
Kelaziman di Malaysia, setiap orang yang berjasa di bidang apa saja diangkat dan dianggap pahlawan. Termasuk P Ramlee selaku pahlawan nasional  bidang seni suara dan film. Sebagai penghargaan dia mendapat derjah Kerajaan Malaysia dengan gelar Tan Sri. Sebuah gelar tertinggi yang juga dianugerahkan kepad Profesor Tan Sri Ismail Husin, Ketua Gapena yang juga keturunan Aceh.
Maka Gapena (Gabungan Penulis Nasional Malaysia) yang memprakarsai Dialog Utara mengagendakan sebuah acara kunjungan dan kenduri di desa kelahiran almarhum P Ramlee, Meunasah Alue.  Sebagian besar penduduknya petani dan sebagian lagi berdagang di pasar.
Dimana sebetulnya desa kelahiran P Ramlee? Mencari desa itu tidak begitu sulit. Bagi anda yang baru datang ke Lhoksumawe tidak akan sesat mencarinya. Anda tinggal turun di Simpang Ardath, Kecamatan Muara Dua, lalu terus masuk ke arah selatan menuju ke jalan Desa Paya Bili. Ruas jalan ke lokasi itu mulus, karena sudah diaspal hotmix, dan kebetulan saja rumah walikota berada di ruas jalan yang dilalui ke Meunasah Alue.
Lalu beberapa jauh dengan Jalan Banda Aceh-Medan?. Tidak terlalu jauh. Jarak Meunasah Alue dengan jalan nasional hanya sekitar dua kilometer. Dan masuk ke lokasi itu juga bisa dengan menggunakan mobil.
Nama P Ramlee masih terpajang di salah satu lorong di lokasi itu. Kebetulan di kawasan itu tinggal sejumlah keluarga besar seniman dimaksud. “Nama P Ramlee sengaja dibuat menjadi nama lorong, sehingga generasi muda di sini tidak lupa dengan tokoh besar tersebut,” ujar warga.
Namun sayang, palang lorong itu terkesan tak terpelihara. Tulisan yang terdapat di papan sudah mulai pudar, sehingga tidak jelas lagi tulisannya. Namun dalam beberapa hari kedepan, nama lorong tersebut akan dipermak sehingga nama P Ramlee jelas terlihat apabila kita melintas di sana.
Meski nama P Ramlee begitu tenar dan mendunia, tapi  sejumlah warga Meunasah Alue tak ingat secara persis. Mereka hanya tahu P Ramlee berasal dari desa mereka. Maklum mereka adalah generasi sekarang yang tak pernah menonton Bujang Lapuk, misalnya. “inilah yang membanggakan kami di sini,” ujar salah seorang warga.
Persiapan lokasi yang akan dikunjungi budayawan sedang dilakukan. Masyarakat amat suka cita dengan bakal digelarnya acara itu. Pejabat Walikota Lhoksumawe, Marzuki Muhd Amin, Ketua Panitia Dialog Utara kali ini, M Rizal SH MSi, dan kepala desa Meunasah Alue, M Ruddin Syam meninjau persiapan menyonsong hajatan tersebut. Ya, hajatan besar ketika para pakar dan “orang-orang kenamaan” dari dalam dan luar negeri akan menyantap “kenduri” di Meunasah Alue.
“Di sini akan digelar temuramah antara peserta Dialog Utara dengan masyarakat,” ujar pejabat walikota. Dan di sani spirit seorang P Ramlee akan muncul “membuhuli” desa kelahirannya. Siapa tahu dari dua “pucuk di awan melambai mesra” dan “akar bertemu dengan perut bumi” seperti lirik lagu di awal tulisan ini benar-benar akan terujud seusai acara.
Ya, lambaian antara Malaysia, tempat P Ramlee menuai nama besar dengan Meunasah Alue, tempat dia dilahirkan. Dan siapa tahu usai dialog utara sebuah monument P Ramlee akan berdiri di Meunasah Alue. (barlian aw/ yuswardi mustafa).

 

( Sumber: Serambi Indonesia, Senin, 14 November 2005, hlm 1 – 7)

      

Mengenang Sutan Takdir Alisjahbana

Mengenang  Sutan Takdir Alisjahbana
                          Oleh Achdiat K. Mihardja

TANGGAL 17 Juli lalu Sutan Takdir Alisjahbana meninggal dunia di Jakarta dalam usia 86 tahun. Dia paling akhir yang meninggal dari ketiga pionir Angkatan Pujangga Baru. Kedua kawan seperjuangannya , Armijn Pane dan Amir Hamzah sudah jauh lebih dulu pulang ke rahmatullah.
Sebagai orang yang bukan ahli filsafat, bukan pula sarjana sastra dan budaya, atau ahli kritik sastra, perhatian saya hanya sebagai storyteller alias tukang dongeng yang sekali-sekali suka  mereka-reka kisah-kisah manusia, lebih setuju kepada Takdir sebagai manusia biasa saja, Cuma kebetulan watak kehadirannya sangat “istimewa” dan “unik”, sehingga pasti menarik bagi setiap pengarang cerita atau biografi. Kebetulan dia seorang sahabat yang saya kagumi dan hormati.
Dengan khayal kreatifnya, seorang tukang dongeng bisa menciptakan seorang tokoh yang semangat idealismenya ingin menjangkau langit ketujuh, tapi seolah kontradiktif, semangat realisme  sangat membumi, dan kalkulatif dalam mengumpulkan kekayaan materi yang dibutuhkan justru untuk dapat merealisasikan cita-cita idealismenya itu.
Berdiri di atas kedua kaki yang nampaknya kontradiktif itu, dia melancarkan pikiran-pikiran dan langkah-langkah perbuatan yang tak jarang menimbulkan kontroversi, ketegangan dan konflik , yang dia sayangkan, tapi apa boleh buat. Dia bukan jiwa yang cengeng. Dia batu karang yang mampu menahan bantingan-bantingan ombak.

Itulah Takdir menurut personal impression saya. Dia orang idealis, tapi pun realis. Namanya masyhur sampai ke mancanegara, tapi bulldozer kemauan dan sifatnya yang kritis serta agresif tak berpanen tepuk tangan atau hadiah pujian murahan. Dia menjulang di atas “populism”, bukan seorang “celebrity”…….  tulisan dalam kolom ini tidak disalin, karena kertasnya sobek………………TAS.
nasional yang menentang system pendidikan kolonial. Salah satu semboyan yang terkenal dari perguruan itu berbunyi: “Tertib dan damai”.
Bagi Takdir semboyan itu “absurd”, harus dilempar jauh-jauh dari sifat modern. Dia tulis sebuah sajak yang kira-kira berbunyi begini : Tertib dan damai?!… O,tidak! Tertib dan damai, nantilah! nanti! Kalau badan berkain kafan, telentang di bawah tanah…
Sepagi itu saya sudah sangat terkesan oleh keberanian pemuda Takdir untuk mengkritik sebuah institute perguruan nasional yang dipimpin tokoh-tokoh pendidikan nasional kawakan macam Ki Tjokrodirdjo, Ki Mangunsarkono, dan lain-lainnya.
Takdir konsisten. Semangat muda revolusernya selalu gelisah, aktif, dinamis, kritik sini, kritik sana, tidak mau “tertib  dan damai” selama hayatnya masih dikandung badan.
Armijn Pane, Amir Hamzah, dan saya sendiri yang sekolah di AMS (Sekolah Menengah Jurusan Sastra Timur) di kota Solo, ikut aktif di perkumpulan pemuda yang semata-mata nasional norak dan sifatnya bernama Indonesia Muda, dengan mendirikan cabangnya di kota tersebut. Kemudian setelah lulus AMS, Armijn dan Amir bersama Takdir menerbitkan majalah Pujangga Baru di Jakarta. Itulah suatu peristiwa nasional yang sangat penting; bukan saja karena itulah majalah sastra-budaya Indonesia modern yang paling pertama terbit di Tanah Air, melainkan karena terbitnya majalah itu terdorong suatu kesadaran bahwa persatuan dan kesatuan bangsa itu akan mengambang terapung-apung tanpa  akar, jika tidak disadari suatu kebudayaan yang sama dan serupa sebagai pondasi pengikatnya. Bangsa dan negara Indonesia yang modern harus disadari dan diikat oleh hanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan Indonesia modern. Sastra Indonesia modern oleh salah satu unsur utama kebudayaan tersebut. Dengan istilah “modern” itu dimaksudkan “demokrasi” (tidak feodal tradisional), dan mencakup suatu bangsa sebagai suatu persatuan “nasional” ( tidak terpecah-pecah dalam bermacam-macam kedaerahan  dan kesukuan).
Dalam memikirkan soal pembentukan kebudayaan nasional Indonesia yang modern-demokratis dan utuh-menyeluruh itu, Takdir adalah yang paling gigih diantara pelopor Pujangga Baru itu.
Polemik-polemiknya dengan sejumlah tokoh-tokoh besar inteligensia dari zaman itu, termasuk Ki Hadjar Dewantoro, Dr Amir, Dr Sutomo, Adinegoro, dan lain-lain mengenai soal budaya Timur dan Barat, merupakan suatu peristiwa sejarah yang telah saya kumpulkan dan beberapa kali telah direbitkan sebagai buku, berjudul Polemik Kebudayaan. Itulah puncaknya kegiatan Angkatan Pujangga Baru dalam rangka pemikiran tentang pembentukan kebudayaan persatuan bangsa Indonesia yang modern-demokratis itu. Takdir-lah pionirnya dan bintangnya. Dia lantang dan tegas menyuarakan sikap agresifnya, bahwa budaya feodal tradisional yang dibanggakan “berketimuran” itu, mengkrak mengkrik napas Intelektualisme-nya, napas Materialismenya, dan napas Egoisme Individualisme-nya. Penyebabnya karena kalah melulu, didominasi melulu oleh budaya Barat, berkat ketiga nilai tersebut mereka kukuhi, sedang kita malah abaikan. Akibatnya, beratus tahun kita dijajah mereka.
Sanusi Pane, bintang satunya lagi, yang lebih introspektif jiwanya sebagai penyair-filosuf mengemukakan pendapat yang lebih seimbang: kawinkan si Faust, manusia barat yang mau menundukkan alam demi kepentingan hidup manusia, dan Sang Arjuna  yang mengasingkan diri ke hutan dan bertapa di bukit Indrakila guna membersihkan jiwanya dari polusi nafsu-nafsu kesetanan. Kawinkan kedua jenis manusia itu,  barulah eksistensi manusia bisa beres!
Saya kira, sekarang pun, atau justru malah sekarang ini, di zaman iptek dan ekonomi pasar bebas yang sangat kompetetif ala kapitalisme Liberal yang bersikap hidup survival of the fittest dan lebih mengutamakan self-interest dari pada common interest, sekuler, dan netral terhadap nilai-nilai moral, jusru sekarang inilah polemik Takdir itu sangat relevan untuk dipikirkan lagi.
***

SAYA punya kesan bahwa Takdir cenderung menelan begitu saja nilai-nilai  budaya Barat itu. Tapi nyatanya tidak begitu. Takdir tak se-sekuler itu, dan tidak tanpa kritik pula. Dalam salah satu suratnya dari Amerika kepada saya, dia menyatakan kekecewaannya dengan Kebudayaan barat Amerika-Serikat. Dia melihat budaya Barat itu dalam keadaan “krisis”. Akibatnya buruk sekali bagi seluruh kemanusiaan.

Pada satu kesempatan Takdir mengaku bahwa dia seorang muslim, dan menganggap Islam sebagai “agama akal” parexcellence. Tapi katanya, yang terutama dia ambil adalah nilai-nilai  moralnya, seperti dia ambil pula nilai-nilai  moralnya  agama lainnya.Dia mengakui dirinya lebih dekat kepada filsafat hidup ulama-ulama besar macam Ibn Rusyd dan Ibn Sina yang lebih bersikap hidup dieszseitig duniawiah dari pada kepada Imam Gazali yang dianggap lebih bersikap jenseitig mengarah ke alam akhirat.
Pada kesempatan lain saya kebetulan mencela orang-orang yang suka bolak-balik pergi ke Mekah naik  haji, sambil membawa berkeranjang-keranjang bumbu bumbuan dan makanan-makan kering, untuk dijual kepada para jemaah di sana. Kalau kembali, angkaribung membawa karpet-karpet, batu-batuan, minyak samin, dan sebagainya. Semuanya dengan tujuan yang sama : cari untung. Mendengar celaan saya itu, Takdir seperti ular kobra yang terinjak kaki. Dia heran, mengapa saya mencela orang-orang itu. Apa salahnya, katanya. Itu perbuatan manusia yang paling benar dan seharusnya — ibadah dan cari rezeki. Jelas Takdir menggemakan adagium kaum Calvinist ora etlabora (berdoa dan bekerjalah). Dia konsisten dengan semangat realismenya. Hasilnya, dia sangat realismenya. Hasilnya, dia cukup kaya, sehingga tanpa kekayaan, keringat dan otak dia, mana mungkin Universitas Nasional Jakarta itu bisa  berdiri.  Demikian juga Toyabungkah di Pulau Bali, yang dimaksudkan sebagai pusat pertemuan para sastrawan, seniman dari dalam dan dari luar negeri untuk bertemu, berdiskusi, bereksperimen, bekerja cari ilham, melamun. Perusahaan-perusahaan lainnya, seperti penerbitan, percetakan, toko buku, majalah Ilmu dan Budaya, yang semua merupakan kejaran semangat idealismenya itu, mana mungkin bisa berdiri tanpa semangat realism Takdir yang kalkulatif materialistis itu?!

Pada kesempatan lain lagi, semangat idealismenya itu nongol lagi. Dia mengutarakan bahwa kini dengan bumi sudah menciut menjadi sebuah globalvillage yang kecil, idealismenya mengarah ke pembentukan suatu kebudayaan dunia yang harus dapat mempersatukan segenap umat manusia dengan segala kegiatan hidupnya — agamanya, politiknya, ekonominya, dan sebagainya. Bahasa Inggris, bahasa persatuannya. Dia sudah merencanakan sebuah mesjid yang istimewa bentuknya, melambangkan semangat “interfaith communication” ala Paus John Paul ke-2, Abdurrachman Wahid alias Gus Dur yang ketua umum partai Nahdatul Ulama itu, dan Romo Mangunwijoyo, pastor Katolik yang suka merakyat dan pernah menulis novel yang bagus Burung-burung Manyar.

Itulah sepintas lalu kesan pribadi saya mengenai STA, tokoh besar Indonesia yang pionir dalam pemikiran soal pembentukan sastra dan budaya (juga bahasa) Indonesia modern sebagai pondasi pemersatu dan sekaligus ciri jati diri bangsa Indonesia yang modern-demokratis. Baik di Indonesia maupun di Malaysia, jasa-jasanya dihargai dalam bentuk gelar doctor Honoris Causa dan Universitas Indonesia, Jakarta, dan dari Universiti Sains, Pulau Pinang.

Tanggal 17 juli 1994 ia tutup usia. Maka tiada lain doa saya, semoga arwahnya berada dalam ketertiban dan kedamaian, seperti pernah dijanjikan dalam sajaknya itu, di sisi Tuhan YME.***

(Achdiat  K. Mihardja, pengarang roman Atheis, tinggal di Australia)

 

(Sumber: Kompas, Minggu,  14 Agustus 1994,  Rubrik SENI, hlm. 17). Lembaran koran  bagian atas/sejajar judul Rubrik SENI, pecah-pecah akibat lumpur Tsunami Aceh.

HIKAYAT NUBUET NABI-Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw, Bagian I

HIKAYAT NUBUET NABI

 

 

Hikayat Neubut Nabi  nyoe,mulayi  ulon salen  uroe Satu, poh 6.00 seupot bak *25 Molod Keuneulheueh 1437/25 Jumadil Awal 1437 H/5 Maret 2016 M. Lon cok watee   salen Hikayat  nyoe kareuna  na  2 boh seumpeuna:

1)  Teuka  Kafilah Like Molod dari Kec. Beutong, Nagan Raya geujak Meulike Molod bak Asrama Beutong, di  Rukoh Darussalam, Banda Aceh.  Darot 15 meunet yoh goh poh nam, rombongan katrok  ‘et Gunong Geureutee. Syekh Like Molod  Tgk Rusli Ulee Jalan. Meunan haba rot  HP neupeugahle Cut  Bang Pak Jamai Rumoh Teungoh nyang na  sajan  kafilah lam muto nyan.

2)  Alhamdulillah, darot poh 11.30 Jum’at baroe(hari penutupan pendaftaran; 4 Maret 2016), ulon ka jadeh mendaftar yudisium ngon wisuda bak Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Yudisium teuma bak  uroe  Seulanyan, 14 Maret 2016 dan wisuda bak Seunanyan, 21 Maret 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

Empunya Surat

Cut Kandy

 

……………..

 

Beuseulamat donya  dan  akhirat

………………      beusijahtra

 

 

 

 

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

 

Wabihi nasta’in, Allah Ta’ala ‘azza wajalla

Ubak Allah lon lakee bantu, Tuhan ghafuru nyang muliya

Bissmilah  poteu  lon kisah, nama Allah nyang muliya**

Dudoe nibak nyan Nama Rasulullah, dua Kalimah sajan seureuta

 

Nama Allah deungon Muhammad, duwa sangat nyang that mulia

Nyang phon Neu peujeuet Nur Muhammad, leungkap shamad Nur Saidina

Teulheueh nibak nyan sigala umat,  kareuna Muhammad nyang that muliya

Gohlom neu peujeuet sigala ‘alam, Nabi Adam pih gohlom na

 

Mantong didalam maklumat Tuhan, gohlom Neu peutron dalam donya

Yohnyan Neu peujeuet Nur Muhammad,  leungkap shamad  Nur Saidina

Kakeu na zat deungon sifat,  neubri pangkat deungon  agama

Yohnyan  neukeubah saboh teumpat, peurintah Hadharat Tuhan Nyang Asa

 

 

Mantong didalam maklumat Tuhan,  goh neu peutron dalam donya

Yohnyan Neu peujeuet ‘Arasy Kurusi, dumna Nabi nyang that muliya

Teuma Neu peujeuet Loh ngon Kalam, dum seukalian  Ciruga Neuraka

Teuma Neu peujeuet langet ngon bumoe, dumna asoe nyang lam donya

 

Teulhueh Neu peujeuet Nabi Adam,  nyang awai tron lam nanggroe donya

Sinan keu asai kafe Iseulam,  nibak Adam asai mula

Nyang keu Nabi nyang that awai, nibak asai Tuhan karonya

Sinan Neu peutron Nur Muhammad,  peurintah Hadharat Tuhan Nyang Asa

 

Padum natreb bak Nabi Adam,  meusalen yohnyan bak sanah? Muliya H 3

Neu pinah sinan teuma ho laen,  peurintah Tuhan buet Rabbana

Padum zameun meusalen-salen,  suci seukalian teumpat mulia

Hingga troh bak Nabi Ibrahim, meusalen-salen Nubuet mulia

 

Meusalen sinan bak Nabi Ismail,  padum zameun treb ka lama h 4

Dudoe nibak nyan bak Nabi Nyakkoeb, meukuta Arab asai bangsa   muliya

Aron nek ?ulon na taturi, kheun Syafi’i   Arab bangsa h 4

Neupinah sinan bak Nabi Yusuh, nyang that makruf taeu  rupa

 

Hingga meusalen troh bak cuco,  meusaho katroh bak Musa

Hingga troh bak ‘Isa Ruhullah, sinan neukeubah Nubuet mulia

Hingga troh bak Nabi Sulaiman,  troh bak Adnan nyang mulia

Hingga troh bak  Abdullah?, sinan neupinah Nubuet muliya h 4

 

Neupinah teuma ho laen, bak  Abi  ?Hasyem nyang that mulia

Abdul Muthaleb tinggai? Kandongan, peurintah Tuhan buet Rabbana

Padum na zameun bak Abdul Muthaleb,  padum natreb bak………………

Neupinah  sinan bak ‘Abdullah, Poteu Allah nyang thee sibeuna

 

Sinan ka teutap Nubuet Nabi,  Tuhanku Rabbi nyang peulara

Sinan ka nyata jibeudoh trang, bukon bubarang bit that aula

Seulawet neukandong tuboh janjongan, han tatuban peucalitra

‘Ajayeb Subhanallah, tango lon peugah Nubuet mulia

 

Teuma lon kisah Nabi Muhammad, masa diriyeuek   gohlom nyata

Goh meusalen bak ‘Abdullah,  gohlom muminah tuboh mulia

Sinan ka nyata jibeudoh trang,  bukon bubarang indah rupa

Miseue buleuen teungoh reumbang, bukon bubarang limpah cahya

 

Hingga meugah jeueb-jeueb nanggroe,  that samlakoe bit that aula

Yohnyan meugah u nanggroe Cam,  keurajeuen Sulaiman asai mula

Disinan na ureueng binoe, rupa sambinoe iloek rupa

Badan seudang that meubagoe,  hana sidroe nyang bandeng sa

 

Miseue buleuen teungoh punoh, manyen manyoh laku rupa

Ngon hareuta that barullah, lom meutamah hamba sahya

Lagi aneuk Uleebalang,  ureueng dampeng deungon raja

Fatimah Cam nama geurasi, rupa nari buleuen purnama

 

Tamse buleuen teungoh punoh, meunan seuneuleuk cahya muka

Lom that ‘alem Fatimah Cam, kitab jipham raya-raya

Yohmasa nyan  alem Taurit, Fatimah bit ka neubaca

Leumah jikalon dalam Taurit, Fatimah bit ka neubaca

 

Meunan leumah jeueb-jeueb kitab, Nabi Muhammad nyang peurtama

Cinta that leubeh Nabi akhe zaman, meunan neukalon lam kitab raya

Habeh neukalon jeueb-jeueb kitab,  Poteu Allah nyang peunyata

Sikati duablah laksa peuet ribee Nabi,  Muhammad Nabi nyang pangka Aula

 

Nyata ubak Tuan ‘Abdullah,  meunan leumah lam calitra

Yohnyan meugah Tuan ‘Abdullah, rupa indah hanatara

Lagi aneuk ‘Abdul Muthaleb, meunan sabet lam calitra

Yohmasa nyan Fatimah Cam,  rindu deundam hate lam dada ? h  7

 

Uroe malam gundah hate, hanpeue pike peubicara

Hate mabok bukon bubarang, meugeulumbang ngon ie mata

Bukon bubarang sangat rindu, keundak meujudo  ngon ureueng muda

Neukeundak meujudo ngon ‘Abdullah, di nanggroe Makkah ibu-bapa

 

Sabab nyang that neumeukeundak,  kareuna Nubuet disinan nyata

Kareuna Nubuet bak ‘Abdullah,  disinan leumah cahya muka

Nyankeu ureueng mat gunci Kakbah,  cahya seumuloh sigala donya

Di musyreb kon troh u meughreb,  meusyuhu sabeb hanatara

 

Yohnyan neuyue sidroe ureueng, neuyue jak pandang  u Makkah mulia

Neuyue jak pandang Tuwan ‘Abdullah,  nyo sabeb sah indah rupa

‘Ohsare troh u nanggroe Makkah,  ubak Kakbahle jihala

Meutumei sigra Tuan ‘Abdullah,  sangat indah cahya muka

 

Diyub langet diateueh bumoe, hana sidroe nyang bandeng rupa

Di mushyreb kon troh u meugrheb,  sunggoh sabet indah rupa

Sibarang ri gampong sibarang ri nanggroe,  hana sidroe nyang jroh rupa

Habeh jikalon dum neu pandang,  sangat trang mandrang  bulan purnama

 

Jroh that rupa sangat indah, jijak peugah jroh hana sa

Laju jiwoe u nanggroe Cam, teukeudi Tuhan trohle sigra

Teuma jipeugah bak Fatimah Cam, rupa naban buleuen purnama

Ban jideungo meunan peuneugah,  hate dahsyah bit that suka

 

Jibeudoh beureuhi Fatimah Cam,  hate didalam dawok beurcinta

Geunap uroe geunap malam, ………… teudong  neubuet mulia

Ya Ilahi Tuhanku Rabbi, Tuhanku neubri ban lon pinta

Pakrile jalan ulon peulaku, keundak meujudo ngon ureueng muda

 

Lon keundak meujudo ngon ‘Abdullah, dinanggroe Makkah ibu-bapa

Jinoe ulon keundak meukawen,  manyoh meucen Nubuet mulia

Bak siuroe habeh pike, habeh cawe hate lam dada

Teukeudirullah peurintah Tuhan, Fatimah Cam that meukira

 

Neubuka peutoe asoe neucok,  Fatimah Cam po areuta

Teuma neubukale ngon geudong, neucok pingan pakaiyan raja

Jicok dum nyang indah-indah, kayen Indulas musra  diwangga

Laen nibak nyan jeuneh alat,  han teurkhimat dum peukara

 

Jineh ganceng deungon peundeng,  laen lethat meuh peurmata

Padum-padum gleueng ngon subang, lagi incien han teurkira

Peurmata intan pudoe manikam,  meuribee ban taeu rupa

Meuh ngon pirak dum meuhalak, padum khulumbak gahru ceundana

 

Deungon hamparan dum kasturi, harom baruni bak komkomma

Fatimah Cam lethat alat, neu peudieng brat 40 unta

Yohnyan jibungka Fatimah Cam, jiba sajan hamba sahya

Troh sibuleuen nyangka neujak, piasan galak Makkah mulia

 

Padum lawet neucre nanggroe, trohle sampoe Makkah muliya

‘Ohsare troh u nanggroe Makkah, geupeudong khimah u luwa kuta

Neu peudong diluwa Kuta Makkah,  neupiyoh payah dum geurata? H 10

Geudeungoran nanggroe Makkah,  ureueng Cam geupeugah lethat teuka

 

Ureueng binoe Fatimah Cam,  seuneuto? Peureumpuan keunoe teuka h 11

Neu keundak meujudo ngon ‘Abdullah,  Poteu Allah thee sibeuna

Neume alat han teurkhimat,  meuh pile that han teukira

Peuet ploh unta neu peudieng brat,  neu keundak hajat keu muda bahlia

 

Ban neudeungo meunan peuneugah, Tuan ‘Abdullah hate suka

Meunyan seubab neujak meu’en, sangat ingen teungo calitra

Langkah neujak rab ngon khimah,  ….?  leumah jroh that rupa

Rupa indah bukon bubarang, ban buleuen trang teungoh purnama

 

Fatimah Cam sangat rindu, neu eu laku hibat hantara

Lang geumilang bukon bubarang,  miseue buleuen trang teungoh purnama

Neu eu cahya Nubuet Nabi, hate beureuhi dalam dada

Neuyue jak tueng Tuwan ‘Abdullah, bak Mubacarah nyang panglima

 

‘Ohban neuyue Mubacarah, jijak pantah sigra-sigra

Sare meuteumei ngon ‘Abdullah, peutamong lam khimah ya Saidina

Fatimah Cam lakee langkah, Tuan ‘Abdullah hate suka

Ban neudeungo meunan peuneugah,  bak Fatimahle neuhala

 

Lalu neutamong dalam khimah,  geupeu indah hanatara

Yohnyan neuleung peurmadani, neuleueng Lahori indah rupa

Diateueh nyan neuleueng sukhuleut, nanyum h’at-h’ueut tapandang mata

Geuato kurusi diateuh nyan,  peurmata intan meulok-lok cahya

 

………………………………………., tamse seuneulek  dum peukara h 12

Teuma neuyue duek Tuan ‘Abdullah, ……………………..

Yohmasa nyan Fatimah Cam,  neu beuot makanan peuena neuba?

Yohnyan geubri keu ‘Abdullah,  makanan manisan cati rasa

 

Neucok beebeewan na sigeutu, harom bawu nibak komkomma

Lheueh ‘Abdullah pajoh makanan, neu pinah idang pantah sigra

Teuma teubiet Tuan Fatimah,  neujak peuindah ureueng muda

Nejok ranub saboh karah, meuh meutatah dum peurmata

 

Neujak meuteumeung ngon ‘Abdullah, dendayang papah tuha muda

Nam tujoh droe diwie diunun, neujak meuteumeung pantah sigra

‘Ohsare lheueh geumeuteumeung, dum dendayang hate suka

Dumna dendayang jiduek? Hadap, jihoreumat jipeumulia

 

Teuma marit sidroe inong, jaroe jiseuon ateueh jeumala

Tadeungo kamoe Tuwan  ‘Abdullah,  tango sipatah meucalitra

Sitroh langkah bak nanggroe nyoe,  dumna kamoe jak bak gata

Fatimah Cam neujak keunoe,  bak nanggroe nyoe neu peuteuk

 

Geucre gampong geutinggai nanggroe, dumna kamoe sajan neuba

Habeh meume meuh ngon pirak, han teukhimat meureutoh laksa

Laen nibak nyan dumna alat, han teurkhimat meuribee laksa

…………………………………….., meunan peuneugah lon deungo nyata

Keundak neugaseh Tuan ‘Abdullah, neu keundak meunikah deungon gata

Kareuna sabab rindu deundam, uroe malam hate suka

Makeusud Fatimah keundak meunikah, insya Allah ulon ridha

Teuma bacut nyang na salah, tajak peugah bak ayahnda

 

Intu kamoe Nabi Ibrahim, kawom nyang karim asai mula

Nabi Ismail Nek dikamoe, tango jinoe ulon calitra

Beurang kakri buet deungon ijazah, nibak ayah deungon bunda

Ulon meutanggoh meusijameung, lon jak tanyong bak ayahnda

 

Cit patot meunan Tuan ;Abdullah, hana salah ban kheun gata

Tuwan ‘Abdullah laju neuwoe,  neulakee droe ureueng muda

Neulakee droe bak Fatimah Cam,  neuwoe yohnyan u rumoh tangga

Tuan Aminah  lalu neuheut droe,  yohnyan neu meungui hanatara

 

Neungui pakaian ngon  beebeewan, hana lawan indah rupa

Yohnyan neupadan Tuan ‘Abdullah, Tuan Aminah hate suka

‘Asyek beurahi Tuan ‘Abdullah,  lalu  neu peurab bertemu dua

Droebit   ngon teukeudirullah, yohnyan Aminah teuma beurcahya

 

Neupinah bak rahim Tuan Aminah,  keunan neukeubah Nubuet mulia

Yohmasa nyan Tuan ‘Abdullah, lalu meuubah wareuna muka

Miseue buleuen teungoh awan toep,  leungkap   seupot padam cahya

Kareuna Nubuet ka meuminah, Tuan Aminah teuma beurcahya

 

Miseue buleuen  trang bukon bubarang,  lang geumilang limpah cahya

Teutap disinan Tuan Aminah,Tuan ‘Abdullah teuma takira

Teulheueh neumanoe Tuan ‘Abdullah, neu meulangkah ubak ayahnda

Bak ‘Abdul Muthaleb ‘Abdullah sampoe, neu peugah jinoe hajat pinta

 

Tango kamoe wahe ayah,  keundak peugah khaba rahsiya

Sidroe ureueng teuka keunoe, bak nanggroe nyoe he ayahnda

Ureueng binoe dinanggroe Cam, Fatimah Cam geuboeh nama

Jime hareuta meuh ngon pirak,  that meuhalak meureutoh laksa

 

Laen nibak nyan dumna alat, ji peudieng brat 40 unta

Keu suwami beujeuet kamoe, jibri sinaroe harta jiba

Teuma neu seuot “Abdul Muthaleb,  neukheun narit …? h 16

Bak hate kamoe saleh han meukri,  saleh han jadi?……..

 

Kricit narit Tuan ;Abdullah,  ubak ayah lom neu meupinta

Neubri keu idin wahe ayah, lon meunikah ngon ureueng muda

Adat meunan wahe ‘Abdullah,  ban peurintah nyan kuridha

Yohnyan neu peukeue Tuan ‘Abdullah, bak Fatimahle neuhala

 

Uluwa kuta katroh neu langkah, lalu meugah bak ureueng teuka

Tuan ‘Abdullah katroh geuwoe, bak uroe nyoe ubak gata

Fatiah Cam  teumanyong reujang, bak ureueng nyan peugah haba

Pakri rupa Tuan ‘Abdullah, hana ubah rupa nyangka

 

 

Jaweueb  ureueng nyang seumeugah,  Tuan ‘Abdullah hanale cahya

Ban neudeungo narit meunan,  beurtangisan hanatara

Fatimah Cam geupoh-poh droe, ri  geumanoe ngon ie mata

Geupoh-poh droe bukon bubarang,  rasa hilang….. h 17

 

Wahe  ayah  kupaban bah,  hana tuwah aneuk digata

Kureueng untong hana Allah bri, lon that keuji diateueh donya

Nyang lon keundak hana lon teumei, peue untong kee meuraba-raba

Hanale nafsu Tuan ‘Abdullah, hanale tuah lon ateueh donya

 

Meunye citna?  Tuan ‘Abdullah, bekle talangkah keunoe gata

Kareuna hanale lon meujudo,  hanale nafsu lon bak gata

Kareuna hanle nyang nafsu kamoe, jak udeh tawoe u rumoh tangga

Ban nafsu kamoe ka taubah, hanale gaseh ulon bak gata

 

Tuan ‘Abdullah ngon ka neumoe?, lalu neuwoe duka cita h 18

Tuan ‘Abdullah sangat malee, khaba dilee bak ayahnda

Teutap Fatimah neu beurangkat, ‘Abdullah teutap bak ayahnda

Teuma lheueh nyan Fatimah Cam, neuwoele yohnyan ngon balatantra

 

‘Ohsare troh u nanggroe,…………………………………..

Jikhanduri jibri seudeukah, areuta barullah Fatimah ba?

Hareuta hajat keu ‘Abdullah, jibri seudeukah dum barang na

Geusie ngon kibaih nam tujoh ploh, Tuan Fatimah neu meukeurija

 

Teulheueh khanduri Fatimah Cam,  teutap yohnyan dirumoh tangga

Tuan ‘Abdullah jinoe lon peugah, haba Fatimah sepdum nyangka

Teutap dirumoh Tuan ‘Abdullah, jinoe Aminah ulon calitra

Umu lhee buleuen mume Fatimah, Tuan ‘Abdullah dang kira-kira

 

Kri?………..Tuan Abdul Muthaleb,  neukheun narit bak aneuknda

Taleungo kamoe he Abdullah,  kareuna Aminah hamel  jika

Tajak gata u nanggroe Cireubi, tamita ubat jeura haliya

Tamita makanan kureuma zabet, jeuneh ruti gandom kutila

 

‘Oh neudeungo narit ayah, Tuan Abdullah bungka sigra

Ngon lasyeuka tujoh beurjalan, seureuta sajan muda bahlia

Padum-padum perjalanan,  sampoe tuan ho neuhala

Keundak Allah khalikol alam, Tuan  Abdullah hilang nyawa

 

Habeh raseuki Tuan Abdullah, tinggai Aminah dirumoh tangga

Teuma geutanomle disinan,  kubu janjongan nyang mulia

Geupuwoe haba u nanggroe Makkah, ubak ayah deungon bunda

Geupeugah hanale Tuan Abdullah,  Tuan Aminah duka cita

 

‘Abdul Muthaleb pihka neumoe, ri geumanoe ngon ie mata

Lom saudara lam dukaan, ………………………. h 20

Tuan Abbas pika neumoe, ………………………………

Tuan Hamzah ngon Abi Thaleb,neumoe meureb-reb  ngon ie mata

 

Geubri seudeukah ngon khanduri,  geunap hari dum saudara? H 20

Teuduek haba Tuan Abdullah, Tuan Aminah jinoe takira

Tuan Aminah lam dukaan,  geunap bulan tron ie mata

Neubri seudeukah ngon khanduri,  geunap hari  neulakee do’a

 

Neulakee do’a keu ‘Abdullah,  keundak Allah nyang that mulia

Neu keumeung jak kunjong kubu Abdullah,  kareuna susah budak gohlom na

Padum lawet geunap buleun,  teukeudi Tuhan budak gohlom na

Duablah buleuen Rabiul Awai, malam Seunanyan pada thon Ha

 

Yohmasa nyan budak keuluwa,  habeh meugeumpa sigala donya

Di musyreb kon troh u meughreb,  troh u langet habeh gabra

‘Arasy Kurusi Loh ngon Kalam,  dum seukalian suka cita

Yohnyan habeh meungucap teuseubeh,  meugeurupoh sare gubra

 

Pinto langet tujoh lapeh, bandum habeh ka teubuka

Budiadari nyang dilanget,  leungkap shamad dum simua

Raja Nasrun yohnyan mate,  keundak Rabbi neu peunyata

Nyankeu raja nanggroe kafe,  that bit jahe raja raya

 

Meuligoe jidum habeh runtoh,  habeh reuloh ngon astana

Deungon raja pika mate,  hana soele seumah beurahla

Meunan teukeudi Tuhan Hadlarat,  sabab Muhammad nyang that mulia

Dalam Kakbah beurahla patong, panteng panteung ban sineuna? H 22

 

Patah lihe tinggai badan, meunan  lagee  sagala  donya

Ureueng  binoe  hamel sajan,  peuetploh inong diateueh donya

Keuluwa sajan ban 40 droe,  ureueng lakoe ban siseun na

Geuboh ngon nan bandum Ahmad, kheundak Hadlarat Tuhan Asa

 

Ban 40 droe sahbat Nabi,  dudoe jadi ‘oh jeuet  raya

Meunan keundak Tuhan sidroe,  meutuah? Dudoe disinan nyata h 22

………………………………….., ……………………………………………………..

Nibak…….malaikat,  bak Hadlarat Tuhan Nyang Asa

 

Ya Tuhanku Po dikamoe, meungadu droe nibak gata

Dumna kamoe hantroh ‘ileumei,  geutanyoe peue barang keureuja

Lahe baten awai akhe,  habeh lahe ubak gata

‘Arasy Kurusi Loh ngon Qalam, dum meuguncang peue kareuna

 

Pinto langet tujoh lapeh,  teubuka habeh peue kareuna

Peue alamat wa Ya Rabbi,  peue keundak bri  uleh gata

Tron fireuman nibak Tuhan,  Malaikat deungo sibarang na

Ka deungo he Malaikat, panghulee umat kupeunyata

 

Meusyuhu? Umat geunaseh kamoe,  goh leumah jinoe ulam donya

Ya Tuhanku toh geunaseh Rabbi,  jinoe tabri Ya Rabbana

Firman Tuhan bak Malaikat, Tuhan Hadlarat neu meusabda

Ka deungo he Malaikat,  leungkap shamad dum barang na

 

…………Nabi Muhammad, panghulee umat dum barang na

Jak kapandang ateueh ‘Arasy, ka tilek bak deueh  deungon rata

Lalu ji pandang dum Malaikat,  leumah seunurat nyang that mulia

Lailahaillallah Muhammadurrasulullah,  meunan leumah Allah peunyata

 

Nyan ku gaseh Nabi Muhammad,  na meusapat Haq Ta’ala

………………………………………………, bak malam nyoe u dalam donya

…….dinanggroe Makkah,  meunan peurintah Tuhan nyang Asa

Tadeungo he dum Malaikat,  jak kunjong Muhammad ulam donya

 

Asoe ‘Arasy asoe Kurusi, jak bak Nabi nyang that mulia

Malaikat tron tujoh ribee, nyang panghulee dum barang na

Bak sidroe-droe jitron pahlawan,  70 ribee pasukan jiba

Laen nibak nyan han teukhimat?, asoe langet tron u donya

 

Malaikat bak 7 lapeh langet, bandum jijak bak Saidina

Jijak kunjong Nabi Muhammad, asoe langet ban sineuna

Meunan lagi deungon mukjizat, bak Muhammad neu peunyata

Na 400 mukjizat neu peutron sinan, bak malam nyan uleh Rabbana

 

Tron bak Tuan Siti Aminah,  lalu leumah saboh cahya

Teuka awan tron dilanget, keunan leugat laju cahya

Lalu teuka berpasukan,ngon bunyian han teukira

Dum bunyian that ‘adhimah, Tuan Aminah suka cita

 

Galak pithat teumakot hansoe, hantom meunoe neu eu rupa

Bak ureueng laen hana leumah,  bak Aminah nyang na nyata

Hana? Sidroe yohnyan Malaikat, ureueng lethat sajan seureuta

Meung Aminah nyang na tuban, peurintah Tuhan ‘aza wajalla

 

Saboh riwayat meunan seubutan,  adoe aduen sajan seureuta

Dumna kawom pidi sinan,  bak Aminah sajan dumna

Teuma teuseubut saboh riwayat, hana mupakat bak bicara

Tuan Aminah sidroe dirumoh, laen hanasoe manusia

 

Hana sidroe ureueng laen, Aminah yohnyan dirumoh tangga

Neu eu awan lethat bangon, hsn tstubsn peucalitra

Dalam awan nyan Malaikat, barullah that hanatara

Ngon suwara amat sangat, yue minah rakyat umat lam donya?

 

Meutron deungon peurintah Allah, meujak kunjong Neubuet u donya

Ban neu deungo narit Malaikat, sangat hibat ngon suara

Tuan Aminah sidroe dirumoh, laen han saboh manusia

Tuan Aminah teumakot hansoe, kareuna hibat deungo suara

 

Lalu neu beudoh pantah rujang, Amiah pasangle peulita

Panyot pilheueh neu pasang sudah, neu eu leumah Malaikat teuka

Yohnyan neukalon angen awan, meuribee ban bangon rupa

Malaikat tron bak Aminah, peunoh rumoh han sapat bla

 

Yohmasa nyan Malakat, neume alat  dalam jaroenya? H 26

Lalu jileueng  deungon hamparan, meuribee ban tangieng  rupa

Bee jiharom nibak kheuleumbak, teumpat Ahmad nyang that mulia

Lalu jiba ie Kalkausar, ngon peumanoe Ahmad muda

 

Bee jiharom bukon bubarang,  hana lawan diateueh donya

Malaikat han teurkhimat,  neujak mat budak baro na

Ladom Malaikat com gaki Nabi,  dum jisare meunan keureuja

Malaikat comle pusat Nabi, Aminah lihat meunan keureuja

 

Ladom bak jaroe ladom bak ulee,  meunan  lagee ji peumulia

Yohnyan hireuen/ Siti Aminah,  jieu peurintah Malaikat dumna

Malaikat meubagoe-bagoe?, ………….ladom rupa

Laen nibak nyan han teupeugah, lethat ulah lagee rupa

 

Yohnyan uroe pika siyang, Malaikat teureubang u andara

Tinggai Ahmad bak Aminah,  lalu leumah deungon cuaca

Yohmasa nyan lalu meugah, Tuan Aminah aneuk neukana

Lalu meugah bak Tuan Abdul Muthaleb,  budak lam pruet Tuhan peunyata

 

Nyankeu aneuk Tuan ‘Abdullah, mate tinggai bunda

Nyankeu cuco Tuan Abdul Muthaleb, that bit ajayeb indah rupa

Lang gumilang bukon bubarang,  ban buleuen trang teungoh purnama

‘Abdul Muthaleb neujak pantah, bak Aminah cuco neukana

 

Teungoh neujak bak Aminah, u jeuoh leumah meucahya-cahya

Ngon bebeewan  bukonbibarang,  hireuen neu pandang budak barona

Lalu neu tamong dalm rumoh,  cahya seumeuloh hanatara

Neu eu cuco that samlakoe, ban mata uroe seumeuloh cahya

 

Bibi dua nyan pi meugrak-grak,  Abdul Muthaleb galak eu rupa

Neu peurab geuliyueng ubak bibi,  neu peulahe peue jikata

Teubiet suara dalam mulot,  leumoh leumbot hana teuga

Meunoe suara Nabi Muhammad,  neu seubut keu umat nyang lam donya

 

Ummati ummati ‘amalal husaini? 29, neu deungo menan teubiet suara

Lalu hireuen Abdul Muthaleb,  hantom aneuk miet meunan suara

Pihak leubeh deungon mukjizat, saleh Muhammad nyoeka nyata

Saleh nyoekeu Nabi akhe zameun, bak ri bangon lagee rupa!

 

Bak bicara Abdul Muthaleb,  cuco geusabeb that mulia

Tuhan peunyata bak uroe nyoe,  Ahmad sidroe geuboh nama

Saboh calitra jikheun Muhammad, Abdul Muthaleb nyang boeh nama

Meunankeu Tuan lam riwayat, maseng ‘ibarat bak ulama

 

Tuan  Aminah pidi sinan, that sukaan hanatara

Kricit narit Tuan Aminah, lalu neu peugah neu calitra

Neu peugah bak Abdul Muthaleb,  dumna rame deungo suara

Aneukku nyoe cit indah that, Malaikat dum peulahra

 

Malaikat tron dilanget,  han teurkhimat keunoe teuka

Ladom jime jeuneh pakaian, han sipatan lam……..? h 30

Malaikat tron meubagoe-bagoe, meuribee syoe sinoe rupa

Lalu hireuen Abdul Muthaleb,dumna rakyat hate suka

 

Neu deungo caltra Tuan Aminah, teukeudirullah nyang peulara

Duaploh uroe keuluwa manyak,  Aminah jak kubu mulia

Neujak bak kubu Tuan Abdullah, sajan kafilah dum saudara

Nam uroe jak u nanggroe Syarbi, ngon Makkah bumoe mulia

 

Neujak kunjong kubu ‘Abdullah, Tuan Aminah deungon saudara

‘Ohsare troh ubak kubu,  duek meulingka tuha muda

Neubeuet do’ale Teungku  Ciyah,  lingka kubu maha mulia

Tuan Aminah beurtangisan, lalu pansan  sikutika

Padum uroe treb disinan,  Abdul Muthaleb sajan seureuta

Teukeudirullah keu Tuan Aminah,  habeh langkah diateueh donya

 

Tuan Aminah teupangge rahmat,  ngadap akhirat tinggai donya

Abdul Muthaleb that dukaan,  yohmasa nyan meugrak rasa

Muka? Rakyat bukon bubarang,  that dukaan hanatara

Lalu neumoe Abdul Muthaleb,  neumoe meureb-reb  deungon ie mata

 

Wahe cuco kupaban bah, mate ayah deungon bunda

Ahmad neucok neupasoe lam lumueng,  bukon bubarang sangat duka

………….geupumanoe,  aduen adoe dum seureuta

Bandum rakyat beurtangisan,  han meuban-ban tron  ie mata

 

Teulheueh geupumanoe geupeugafan,  pasoe yohnyan dalam keureunda

Neume geuputron ngon jeunazah, rab ‘Abdullah  kubu dua

Geutanom dilikot Tuan ‘Abdullah,  Tuan Aminah nyang that mulia

Teulheueh geutanom Tuan Aminah,  Teungku Ciyah lakee do’a

 

Abdul Muthaleb bri seudeukah,  barang nyang mudah Allah karonya

Neu muwoe dum u nanggroe, maseng woe dum u tangga

Abdul Muthaleb neuwoe u rumoh,keu Tuan Aminah neulakee do’a

Habeh neuwoe dum u teumpat, nibak jeurat nyang mulia

 

Lalu neu puwoele ngon manyak,  Abdul Muthaleb rusak  hate lam dada

Kakeu geuwoe nanggroe Syarabi,  troh meuhatle u Makkah mulia

Ahmad pitroh nyan geupuwoe,  sirang neumoe ngon ie mata

Wahe cuco tangke hate,  ayah tanle deungon bunda

 

 

Sinan droe peuetploh uroe,  troh u nanggroe Makkah mulia

Abdul Muthaleb neumueng sinyak,  Tuhan Hadlarat nyang peulahra

Padum lawet dalam susah,  toh pakribah cuco raja

Pakri keuban ku peutimang,  sabab tan nang susu tanna

 

Tamita ureueng nyang meulaku,  jibri susu Ahmad muda

Soena Tuan tem meupayah,  kubri upah nyan digata

Yohnyan geubrile ngon susu,  neuhapiet ulee keumala donya

Neubri susu nyankeu Ahmad,  kheundak Hadlarat han neuridla

 

Ka neu kucoeple ngon bibi, ka teukeudi Tuhan Nyang Asa

‘Oh hanjeuet nyan neubri laen,  maken han neutem hana  neu ridla

Han neukabui pi meusidroe,  sigala nanggroe ureueng teuka

Ureueng peumom meulaksa laksin,  maken han neutem neupet ngon mata

 

………? Abdon Muthaleb, geumoe meureb-reb deungon ie mata

Wahe Ahmad pakri ku ilah, toh pakri bah jeuet kudaya

Nyang na neuphiep  ibutangan, teubiet disinan niekmat  Ciruga

Padumna di sinan lazat, lethat niekmat Tuhan karonya

 

Ladom jikheun siteungoh rakyat, jikheun Ahmad tan bahgiya

Kareuna sabab jitulak nangmbah,  lom meutamah mate bunda

Meunan jikheun siteungoh rakyat,  hana meuhat nyan jikata

Abdul Muthaleb gundah sangat,  kareuna Ahmad susu jihana

 

Hana neupajoh nyang laen susu,  hana meulaku bak geukira

Kadang-kadang hanpeue harap,  peurintah Hadlarat hantroh juga

Yohnyan gundah bukon bubarang,  tamong ileuham dalam dada

Droe cit kangon teukeudirullah, Poteu Allah nyang peunyata

 

Lheueh nyan geukheun ubak kawom, ureung nyang peumom taseuraya

Tamita ureueng nyang hana meuaneuk, nyang dlahet that diateueh donya

Cucoku nyoe ureueng teuleubeh,  susu nyang han teupeh babah dumna

Hana neuridla nyan bumeunan, tamita tuan dipat nyang na

 

Nyang na meunan Tuan Halimah,  susu ji siblah lagi ka tuha

Pat bunanggroe ureueng binoe nyan,  dipat tuan rumoh tangga

Nama nanggroe nyan Banu Sakdiah, meunan peuneugah kudeungo nyata

Hana that jarak nanggroe Sakdiah,  deungon Makkah bumoe mulia

 

Limong ploh uroe peurjalanan,  hingga keunan bak ureueng tuha

‘Adat meunan dumna gata, ku seuraya  jaktueng sigra

Laju geujak u nanggroe Sakdiah,  bak Halimahle geuhala

Padum uroe peurjalanan, meuteumei dijalan Halimah muda

 

‘Oh geujak meuteumeung bak ret, neukheun narit sigra-sigra

He Halimah lon kheun jinoe,  tango kamoe kheun bak gata

Sidroe aneukmiet dinanggroe Makkah,  keumeung peuupah ubak gata

Geuyue peumom bak gata susu, ……dudoe geubri keu gata h 35

 

Ban neudeungo meunan peuneugah,  han sipatah neubri dawa

Droe cit kangon teukeudirullah,  neujak yohnyan ureueng tuha

Teuma geugiduek unta nyang syik,  masa? Nyang get puteh safa

Padum uroe Halimah neujak,  trohle leugat Makkah mulia

 

Troh Halimah u nanggroe Makkah,  neu tamong pantah ureueng tuha

Abdo Muthaleb pi disinan, horeumat yohnyan neubri mulia

Na sijameung neuduek disinan, neu peugah yohnyan pantah sigra

Beuhabeh tadeungo narit kamoe, cuco kunyoe tapeulara

 

Tabri susu nyan keu Ahmad,  laen lethat han jiridla

Ureueng binoe laen ka meuribee, han sidroe mei bak Ahmad muda

Saleh na untong neubrile Tuhan,  bak gata taulan jitem ridla

Teuma seuot Tuan Halimah,  lalu neu peugah neucalitra

 

………..dikheun Abdo Muthaleb, kamoe,,,,,,,,,

Lontuan…………………, teukeudirullah ie pi?  Hana h 36

Tango lon kheun ya Halimah, kuasa Allah hantroh jiduga

Cit …..lam ileumei Tuhan,  gata tuan nyang peulara

 

Yang laen bandum han jipajoh, jinoe susu roh ubak gata?

Bak lon kira? Nyoe pi meunan,  yohmasa nyan hana……

Manyak neucokle neu julang,  puduek lam lumueng Ahmad muda

Droe cit kangon teukeudirullah, Tuan Halimah susu kadua

 

Mom nyang buta Ahmad  cucui, lalu teubiet ban ie nira

Deungon muekjizat Nabi Muhammad,  ie nyan lethat mameh rasa

Mangatkeu hate Abdul Muthaleb, nibak Ahmad susu kana

Yohnyan keuphon hanle gundah,  Tuan Halimah pika muda

 

Naban umu namblah tahon, bak ri bangon laku rupa

Lon ngon tuboh puteh kuneng,  ngon kilat mieng buleuen purnama

Deungon urat taeu hijo,  indah laku hanatara

Bee pi harom hana lawan,  lagee padan gahru ceundana

 

Sang-sang putroe peurumoh Solutan,  neuduek yohnyan deungon cahya

Deungon beureukat nibak Ahmad,  rupa neuget hanatara

Sabab neubri ie susu keu Nabi,  kangon teukeudi Allah Ta’ala

Ka Tuhan bri meunan tuwah,  yohnyan Halimah pi ka muda

 

Abdo Muthaleb hate mangat,  hudep Ahmad bak neukira

Yohnya uroe pika peutang,  neu keumeung riwang Halimah muda

Abdo Muthaleb pi disinan, yohmasa nyan neu meukira

Yohnyan neutuka unta nyan syik,  kheundak bri nyang get keu ureueng muda

 

Tuan Halimah hana neukabui,  bahle areuta lon po meukuta

Yohnyan neuwoe  Tuan Halimah,  teukeudirullah Tuhan Nyang Asa

Unta saboh kajeuet banyak,  kheundah Hadlarat Tuhan Nyang Asa

Deungon mukjizat nibak Ahmad,  meusyuhu that diateueh donya

 

Na umu sithon Tuan Halimah,  teutap dirumoh deungon aneuknda

Unta pile ji meuaneuk, sabab mukjizat Ahmad muda

Rakyat hireuen jieu Ahmad,  deungon mukjizat leumah nyata

Di mushreb kon troh u meughreb,  meusyuhu sabeb diateueh donya

 

Lalu meugah u nanggroe Meuliran,  Panghulee Makkah cuco neukana

Nyankeu cuco Abdo Muthaleb,  lahe muekjiza diateueh donya

Teuma meugah bak Jamurul Hakim,  baklaku? Jameun ka tanle mata

Yohnyan  neupeugah bak aneuk cuco,  dum meusaho dengo nyata

 

Taintat keulon bak Abdul Muthaleb,  meunan narit ureueng tuha

Taba keudeh u nanggoe Makkah, tanoh leubeh diateueh donya

Teuma jitanyong pakon meujak intat,  peue na hajat gata nyang raya

Janji kamoe citka dilee, hana sidroe thee dalam rahsia

 

Raja Basiron culek mata kee,  diprang Tangkudee kafe mereuka h 39

Agama kuikot jih kujajah, sabab nyan sah jiculek mata

‘Oh jiculek mata kunyoe, Than sidroe bri rahsia

Aneuk ‘Abdullah cuco Abdul Muthaleb, nyankeeu Muhammad  nyang that mulia

 

Nyankeu? Jinoe ulon u Makkah,  meunan peuneugah ureueng tuha

Ubak Ahmad aneuk ‘Abdullah, Poteu Allah nyang peunyata

Mata  kunyoe  ji peuubat,  guna muekjizat disinan nyata

Droe cit kangon teukeudi Tuhan,  mukjizat Ahmad meuwoe mata

 

Ban jidungo neukheun meunan,  ji intat yohnyan laju sigra

Jijak intat bak Abdul Muthaleb, bak Ahmad aneukmiet muda

‘Ohsare troh u nanggroe Mekkah, lalu meugah bak ureueng teuka

Bak Abdul Muthaleb trohle sampoe,  rakyat sinaroe sajan seureuta

 

Tuanteu Abbas pi disinan,  yohmasa nyan suka cita

Jamurul Hakim geupumanoe,  geuuet asoe pat nyang leuta

Limau gepeukruet geupeubeudak,  geuboeh kheuleumbak gahru cendana

Jamurul Hakim lheueh pumanoe,  teuma dudoe neu marit sigra

 

 

He Abdul Muthaleb tango kamoe, peutamong jinoe lon bak Ahmad muda

Ahmad geuba bak pinto Kakbah,  sinangeukeubah muda bahlia

Jamurul Hakim tundok ulee,  meunan lagee meuubat mata

Yohnyan geucok gaki Ahmad,  neupeulop meuhat bak mata buta

 

Droe cit kangon peurintah Tuhan,  lahe mukjizat Ahmad muda

Mata nyang buta ka meugantoe,  ngon samlakoe hanatara

Naban aneuk umu 14 thon,  meunan bangon lagee rupa

Meunan muekjizat nibak Ahmad,  dumna umat suka cita

 

Rakyat pandang seukalian,  bandum hireuen tuha muda

Abdul Muthaleb  neupuwoe Ahmad, laju u teumpat u rumoh tangga

Jamurul Hakim neulakee droe, neuwoe u nanggroe dum barangna

Abdul Muthaleb lale ngon cuco, Ahmad sidroe Tuhan peulara

 

Dawok lale deungon Ahmad,  aneuk miet cut peugawe donya

Hana geupadoli keu piasan,  gaseh tuan keu Ahmad muda

Padum lawet dudoe nibak nyan,  teukeudi Tuhan Poteu Yang  Asa

Ho siuroe laen simalam bukon,  bak ri bangon maken raya

 

Bak sibuleuen bak sibuleuen, Ahmad neukalon laen bicara

Ubak sithon ubak sithon,  indah bangon laku rupa

Teukeudirullah peurintah Tuhan,  Abdul Muthaleb saket neurasa

Yohmasa nyan Abdul Muthaleb, geumoe meureb-reb deungon ie mata

 

 

Sabab gaseh nyan keu Ahmad,  kamoe saket hansoe peulara

Adat mate ulon nyoe sidroe, saleh hansoe peulara gata

Yohnyan neumoe bukon bubarang,  basah ngon mieng neu bandua

Wahe aneuk cuco boh hate, saleh pakri untong digata

 

Ayah bunda teuka mate, saleh hansoele peulara gata

Sangat neumoe yohmasa nyan,  ‘Abbas keunan hadle teuka

Pakon neumoe wahe ayah, cuba peugah pakon duka

Peue tatakot peue tagundah,  cuba peugah bak aneuknda

 

Hana kutakot hana kugundah, peue kupeugah aneuk bak gata

Hana kutakot aneuk keumate, adat jinoele pi kuridla

Sabab kamoe taeu gundah, Ahmad saboh hansoe peulara

Tabri bak kamoe wahe ayah, insya Allah ulon peulara

 

Kricit narit Abdul Muthaleb,  hana jeuet aneuk gata peulara

Kareuna gata ureueng peurniagaan, Ahmad hanjan gata peulara

Gata lale bak tameukat, tinggai Ahmad hansoe peulahra

Kricit narit Mama Hamzah, phalawan meugah that mulia

 

Neubri bak kamoe wahe ayah,  kamoe peurintah meupeulahra

Tango kamoe wahe Hamzah, phalawan meugah hanjeet bak gata

Gata pahlawan Uleebalang,  pat nyang na prang ka tajak gata

Kareuna gata that amarah,  patna musoh taprang lanja

 

Hana ulon bri bak gata cuco,  hanjan tahiro aneuk gata

Abi Thaleb peu-ek seumbah, ubak ayah neu meupinta

Tabri bak ulon wahe ayah,  peulara Allah Ahmad muda

Kareuna Allah wahe ayah, bekle gundah duka cita

 

Yohmasa nyan geubri keu Abi Thaleb, kubri sabeb cucoku bak gata

Tango kamoe he Abi Thaleb, kubri Ahmad gata peulara

Kareuna gata that geumaseh, lagi leubeh that gata peulara

Gata tagaseh keu aneuk piyatu, meunan laku dilee nyangka

 

Peue dikeundak uleh Ahmad, tapeutroh hajat uleh gata

Peue nyang hajat beuta turot,  cuco kunyoe meubahgia

Ahmad geupuwoe bak Abi Thaleb,  kheundak Hadlarat nyang peulara

Ahmad teutap bak Abi Thaleb,  yakin sabb neu peulara

 

Padum uroe lheueh nibak nyan,  teukeudi Tuhan katroh masa

Yohnyan mate  Abdul Muthaleb, tinggai Ahmad ubak Mama

Tinggai Ahmad bak Abi Thaleb, sinan rayek neu peulahra

Teuma dudoe lheueh geutanom,  dumna kawom lakee do’a

 

Tuan ‘Abbas phon khanduri, geunap hari neulakee do’a

Tuan Abas bri seudeukah, sigala syiah ngon ulama

Tuan Hamzah dudoe khanduri,  deumikian lagi dum saudara

Padum lawet nyan bumeunan,  troh ubak thon laen pula

 

‘Ohlheueh mate Abdul Muthaleb, nadum na treb jeuoh masa

Nibak Ahmad teuka aneukmiet,  bandum aneukmiet silayeue na

Teuka aneukmiet nyang na sajan,  40 aneuk nyan nyang sigo na

Sigo nyata ngon Muhammad yatim,  malam seunanyan pada thon ha

 

Jeuet keu taulan deungon Nabi  Muhammad, nibak sahbat mula pertama?

Hana sidroe pi nyang na cre, meunan teukeudi Allah Ta’ala

Uroe malam pi hantom cre,  teumpat hase Tuhan karonya

Bak siuroe teukeudi Allah,  dilakee langkah Muhammad muda

 

Yohnyan jimaba oleh rakan,  jime tuan bak ayahnda

Wahe Ahmad tadeungo kamoe, ta meulangkah jinoe ubak ayahnda

Tajak [ajoh buah-buahan,  jineh makanan zabeb kurma

Ubak ayah kalon lakee idin, kamoe bandum ireng gata

 

Tajak pajoh buah-buahan,  jineh makanan zabet kureuma

Inca Allah wahe rakan,  lon jak peugah dilee bak Mama

Wahe Mama lon peugah  jinoe,  neubri izin lon rakan maba

Yohnyan neu kheunle rijang-rijang, neubrile yohnyan hana dawa

 

Abi Thaleb ngon ‘Atikah, duek dirumoh ngon saudara

Neudeungo Ahmad lakee izin,  jak he kumuen sabe muda

Siploh diwie siploh diunun, dilikot pi meunan  hadapannya

Meunan teukeudi nibak Allah, ji tupeue peuindah keumala donya

 

Nyankeu rakan aneukmiet cut-cut,  santeut santeut siseun nyata

Manyang Ahmad siteungoh baho, meunan laku Allah peunyata

Lalu bungka Ahmad yohnyan,  dumna rakan sajan seureuta

Teuma teuka awan mupayong,  ji peutudong keumala donya

 

Padok uroe padok ujeuen, bungka yohnyan Muhammad muda

Padum-padum ngon pakaian, karonya Tuhan Allah Ta’ala

Suka jipandang Ahmad muda,  that samlakoe hanatara

Dum aneukmiet suka jipandang,  sira meu’en muda  bahlia

 

Ladom deumpek ladom surak, aneukmiet galak meusuka-suka

Lalu jijak bak ulee gampong,  ret lam jurong ureueng tuha

Nyankeu aneuk raja Makkah,  nyan bahrullah diateueh donya

Sare leupah nibak jurong, troh u gampong bak ayahnda

 

Lalu jitamong dalam keubon,  jieu buahan dum barang na

Jipot kureuma deungon zabet,  jibri keu Ahmad dum barang na

Jipot boh kayee han teurkhimat, ri nyang mangat boh deulima

Yohnyan jipajoh buah-buahan,  meugah yohnyan bak ureueng kaya

 

Yohnyan meugah bak  Abu Jeuhal, ureueng beubai tan agama

Meugah Ahmad jijak ret jurong,  aneukmiet saban dum barangna

Peuetploh aneukmiet jijak sajan, aneukmiet nyan sama-sama

Ban jideungo narit meunan, beungeh yohnyan hu ngon mata

 

Yohnyan beungeh ubak aneukmiet, hana jiniet kamoe tuha

Pakri jijak ret lam jurong,  jayeh jithat (keu) kamoe tuha

Hana jipike keu ureueng meugah, kareuna jih  sah ureueng hina

Jijak ret nyoe ji meusurak,  hana layak ji meusubra

 

Kareuna jih ureueng gasien,  aneuk yatim duek bak Mama

Hanthee keudroe Muhammad Yatim,  kamoe Sulotan ji peuhina

Yohnyan jikheun ubak kawom, tadeungo bandum gata ban nyang na

Adat jiwoe nyan keunoe ret,  beuhabeh taseupot tapeurata

 

Beuhabeh tapoh kawom Muhammad,  supaya jiingat droe jihina

Supaya jithee lon ureueng meugah,  jih tan nangmbah duek bak Mama

Kamoe meugah bak nanggroe nyoe, mangat jithee meungka tapeujra

Teuma jideungole ureueng sidroe,  sayang hansoe keu Ahmad muda

 

Sayang jih that keu Ahmad sidroe, jijak peugah proe bak Ambiya

Droe chiet kangon teukeudirullah, jijak peugah sigra-sigra

Ureueng nyan kawom Abu Juhai,  harap tiwakai hana binasa

‘Ohsare troh ubak Ahmad,  jikheun leugat nyan rahsiya

 

Wahe Ahmad tango kamoe, meukheun jinoe ubak gata

Kudeungo narit Abu Jeuhai,  meunan akai jipoh gata

Adat jiwoe Ahmad ret nyoe, tapoh jinoe tapeurata’

Oh watee jiwoe dum aneukmiet,  taseupot bak got tapeurata

 

Kareuna jijak rame-rame,  jipeujayeh? Nama raja h 50

Yohnyan Ahmad ka geuiem droe, hana sapeue neu meudakwa

Kareuna cit bandum rakan,  bandum taulan Muhammad muda

Pakon meunan Abu Juhai, han got akai ureueng tuha

 

Pakon jitham Muhammad sidroe,  dum geutanyoe keupeue cit guna

Ureueng laen jijak rot nyan, pakon han jitam dum beurata

Jiroe chit kangon teukeudi Allah, Tuhan peurintah aneukmiet muda

Yohnyan aneukmiet ji mufakat, jikheun bak Ahmad tanglong donya

 

Wahe Ahmad jak hleh tawoe,  dumna kamoe keupeue cit guna

Tawoe jinooe ret jurong nyan,  nabek hinaan Muhammad muda

Bahkeu tawoe rot lam jurong,  ban nyang untong Tuhan karonya

Peue nyang kheundak ubak geutanyoe,  Ahmad sidroe hana meudawa

 

Pat?  jipoh cit talawan, dumna rakan sajan seureta

Pakat pikeumah jime ngon alat, sikada dapat maseng rata

Yohnyan jiwoe ret lam jrong,  leumah jakalonle rakyat dumna

Yohnyan jikheunle Abu Jeuhai,  bekna sagai ngon soksangka

 

Ladom tasrom ladom tapoh, bek meusaboh tinggai nyang na

……….kawom Ahmad,  meuseuki patah ka peuluka

Meuseuki patah meuseuki mate,  dum beusare beksok sangka

Bek takira wahe kawom,  tamuprang mandum ngon Ahmad muda

 

‘Ohsare lheueh jikheun pakat, leumahle Ahmad nyangka teuka

Leumah angkatan kawom Ahmad,  dempek surak hanatara

Abu Jeuhai kalon kawom Ahmad,  jikheun bak ingat beksok sangka

Ulon bekna sinoe sajan,  bahle meuwoe kamoe tuha

 

Rakyat meuwoe dalam jurong,  neuwou u gampong ureueng tuha

Kakeu geucok dumna alat, kalon rakyat lam jurong raya

Yohnyan aneukmiet pika cakap, sajan Ahmad 40 seunjata?

Cabeueng kayee dumna alat,  bubek oek peulupeuk kuruma

 

Ladom na bube inong gaki,  kayee kawi? Cabeung ceundana

Ladom jisurak ngon ji deumpek, ladom jilumpat hanatara

‘Ohsare meuteumeung dua pihak,  reuntak surat sangat gabra

Masa nyan kawom Abu Jeuhai,  kayee batee dum jirata

 

Padum jisrom padum jipoh, hana saboh na binasa

Hana binasa kawom Ahmad,  aneukmiet cut Tuhan peulara

Jipoh ngon jisrom hana peujam,  hana keunong Malaikat publa

Jipoh aneukmiet keunong ateueh droe,  meunan geuproe tuha muda

 

Jisrom pi meunan  pi meuriwang, batee meuulang ubak muka

Darah meujoh-joh dalam babah,  that bit gundah ureueng tuha

Deungon beureukat nibak Ahmad,  lahe muekjizat Allah peunyata

Yohnyan  talo? Kawom Abu Jeuhai, habeh jiplueng ureueng tuha

 

Padum patah padum capiek,  kawom ureueng syik le binasa

Lalu jiplueng bak Abu Juhai,  aneukmiet huse ban sineuna

Yohnyan beungeh Abu Jeuhai,  pakon jihuse geutanyoe tuha

Yohmasa nyan jimupakat,  dumna rakyat dumna gata

 

Jiyue suroh  dumna kawom, jikheun ulon malee raya

Hana digob na dikamoe, aneukmiet use ureueng tuha

Jinoe pihak? Saboh padan, dumna tuan bak habeh teuka

Adat na jijak teuma lom keunoe,  tapoh sinaroe tapeupahna

 

Jinoe bak get geutanyoe lawan,  lethat rakan ka binasa

Jih aneukmiet hana jihee, buet jaroe kee  ku peurasa

Abu Jeuhai jikheun meunan,  ‘oh jipreh jan Muhammad teuka

Jinoe taputalo Muhammad yatim,  bek seubutan asoe donya

 

Meunan jikheun Abu Juhai,  habeh jithee dum cut raya

Meunan jikheun dumna  kawom, Muhammad Yatim geuboh nama

Meunan jikheun Abu Jeuhai,  Ahmad neuwoe troh bak Mama

‘Ohsare troh bak Abi Thaleb, sajan aneukmiet dum barangna

 

Maka cit marit aneukmiet yohnyan,  nibak Ahmad nyan neukata

Tango kamoe wahe Ahmad,  kamoe sangat lapar dahaga

Dumna kawom Abu Juhai,  payah ta use ureueng tuha

Tabri makanan wahe Ahmad,  tabri niekmat kamoe dahaga

 

Yohnyan neulakee bak Abi Thaleb, niekmat neubri wahe Mama

Kareuna kamoe keulaparan,  dumna rakan kamoe dahaga

Yohnyan neujok dua boh ruti,  lalu neubri pantah sigra

Ruti dua boh ureueng 40,  padumna jipajoeh jibagi rata? H 54

 

Yohnyan jilakee lom ka neubri, dua ruti laen pula

Ruti peuet boh bacut sapo, ‘oh meusaho tan padumna

Lom jilakee ubak Ahmad,  neubri niekmat ke kamoe dumna

Kareuna kamoe gohlom keunyang,  payah muprang kamoe dahaga

 

Lom neulakee uleh Ahmad, nalom niekmat wahe Mama

Wahe Muhammad nyoe cit siblah, aneuklon keubah nyoe keugata

Beugot ?neukira Mama keu kamoe,  tabri keunoe  nyoe beusigra

Jinoe ruti nyoe cit siblah, pakri ilah toh bicara

 

Lom jilakee yohmasa nyan,  gohlom keunyang kamoe dahga

Ban neudeungo gohlom keunyang,  beurtangisan Ahmad muda

Yohnyan neumoe bukon bubarang, teuoh keu untong tan ayahnda

Adat na hudep ayah kamoe,  hana meunoe leumah papa

 

Wahe ayah kupaban bah,  kheundak Allah katroh masa

‘Ohjan geuteuoh nyan keu untong, meugeugulong ngon ie mata

Sampoh ie mata teusrieb ie idong,  teuoh keu untong sangat hina

Teuma neusampoh ubak kayee tho,  meunan laku Allah peunyata

 

Na sibak kayee sinan teudong,  bak kayee nyan neusampoh ie mata

Kayee katho kajeuet udep,  meunan lagee lahe nyata

Teukeudi Allah deungon mukjizat, kayee tho bak udep teuma

Teubiet tarok meugantoe pucok,  on pile that bak pi raya

 

Ngon beureukat ie mata Nabi, buah jadi masak dum rata

Boh pihle masak yohnyan,  mameh hanban cati rasa

Aneukmiet cut pajoh boh kayee,  ladat meuteuntee hanatara

Boh kayee nyan sangat ladat,  meutamah kuwat nibak nyangka

 

Yohnyan keunyang bandum sare,  mangat hate dum jirata

Lalu jimarit sabe keudroe-droe,  dumna geutanyoe that peurkasa

Sabab tapajoh boh kayee nyan,  mangat badan dum jirata

;Adat meuteumei lom ngon lawan,  beurang kajan pi taridla

 

Ngon kheundak (Allah) beureukat Muhammad, beurang kapat pih tangaza

Abu Jeuhai nyang that beureuhi, ka teutahe han teukira? H 57

Sahbat 40 nyang kheun meunanbeureukat janjongan Muhammad muda

Meuji  ?kalon kayee mate, teubiet pucokle meuboh sigra

 

Aneukmiet cut sajan Ahmad, hana saboh neu peucre dumna

Padum lawet cre? Nibak nyan,  sapeue pitan na mumara

Teukeudi Allah bak siuroe,  teuka sidroe aneukmiet muda

Yohmasa nyan jijak bak Ahmad, jimaba Ahmad bak ayahnda

 

Tajak pajoh kureuma zabet,  soe(toh) nyang mangat boh deulima

Laen nibak nyan dum buahan,  jineh makanan gandom kutila

Hanpeue salah Ahmad seuot,  ulon ikot bankheun gata

Kareuna geutanyoe dum geunaseh,  inca Allah bek soksangka

 

Adat meunan wahe sahbat,  ulon jak peugah ubak Mama

Lalu neuwoe bak ‘Atikah,  geujak peugah ubak Mama

Wahe Mama tadeungo lonkheun, kamoe tuan rakan maba

Hanpeue salah wahe Muhammad,  jak bak sahbat kumuen raja

 

Yohnyan neubungka sajan sahbat,  Muhammad beurangkat dum barangna

Lalu jiteuka awan meupayong, jipeutudoeng peugawe donya

Lalu neubungka troh u gampong, ret lam jurong miseue nyangka

Ret lam jurong Abu Jeuhai, ……….cit meubahya

 

Lalu neujak leupah jurong,  troh u gampong bak ayahnda

Lalu neu tamong dalam keubon, pajoh buwahan zabet kureuma

Habeh jibri dum keu Ahmad, ri nyang mangat cati rasa

Lalu jipotle ngon bungong, hanpeue tanyong peue nyang suka

 

Lalu meugah bak Abu Juhai, ureueng bubai tan agama

Meugah Ahmad jijak ret nyan,  yohmasa nyan beungeh raya

Hoka gata dumna rakyat, dumna alat peucukop sigra

Ta peuhase kayee batee,  tapileh kayee nyang gasa-gasa

 

Ta peucukop dumna alat, tapoh Ahmad ta peurata

Bak uroe nyoe tatueng balaih, adat patah tapeuluka

Adat capiek bek tagundah,  bahle patah kamoe raja

Areuta ku le bek tagundah, meunan jipeugah sitan agama

 

Yohmasa nyan dumna rakyat, jimupakat dum jirata

Bak uroe nyoe bekna tilek?, tapoh bak capieik dum jirata

Tapoh bak ulee ngon bak gaki, adat mate sudi tanna

Ji pilehle  kayee nyang kreueh-kreueh,  cabeueng rangkileh ngon krak bangka

 

Laen nibak nyan han teukhimat,  jipoh Ahmad dum jirata

Rakyat lethat meuribee-ribee, kayee batee dum jirata

Teukeudirullah nibak Ahmad,  geujak bri ingat pantah sigra

Wahe Ahmad muda samlakoe, tango kamoe keumala donya

 

Bekle tawoe ret lam jurong, Abu Juhai jipoh gata

Ban neudeungo narit meunan, Ahmat teusinyom suka rasa

Kricit narit dum aneukmiet, neutanyong pakon peue guna

Laen ureueng jijak ret nan, pakon han jitham he peugawe donya

 

Bekta takot keu Abu Jeuhai,  hana get akai ureueng tuha

Saleh dilee hana tatakot,  ureueng laknat deungki   jina

Masa dilee ka talawan, jinoe pi taulan bek soksangka

Beureukat Muhammad tulong Tuhan, geutanyoe rakan kuwat raya

 

Bak uroe nyoe bah tamuprang, tapeu teuntang ngon ureueng tuha

Jinoe talawan Abu Juhai, harap tiwakai keuhak Ta’ala

Kricit narit Muhammad sidroe, udeh tawoe dum simuwa

Yohnyan jiwoe dum aneukmiet, sahbat Muhammad dum barangna

 

Lalu jijak ka meuron-meuron, sipeurti ban kawan geureuda

‘Ohsare troh dalam jurong, yohnyan meuteumeung  jeuet prang raya

Abu Jeuhai ‘alaihi laknat, muprang ngoh Ahmad peugawe donya

Padum rakyat meuribee-ribee, jimat kayee dum simuwa

 

Yohyan jpoh bukon bubarang,  aneukmiet seudang han binasa

Jisrom jipoh hana keunong, Allah tulong Malaikat publa

Adat jipoh pihan saket, beureukat Muhammad peugawe donya

‘Ohban jipoh rakan Muhammad, meuriwang meuhat ubak muka

 

Jipoh aneukmiet keunong ateueh droe,  darah meureuet-reuet  ureueng tuha

Lom jitamah uleh aneukmiet, maken meugriet ureueng tuha

Habeh jipohle sahbat Muhammad,  patah lethat rakyat raja

Ladomcapiek ladom reubah, subhanallah tango jikata

 

Laen nibak nyan that barullah, timplak Allah keujih teuka

Habeh jiplueng kawom ureueng nyan, kawom Muhammad that guranta

Abu Juhai pina sajan, leumah neupandang  Muhammad muda

‘Ohmeu leumah ka meuteuntang, neuplueng rujang ureueng tuha

 

Meusong habong jiplueng jinoe, aneukmiet kiloe ureueng tuha

Kakeu jiplueng jinoe u gampong, aneukmiet keupong ureueng tuha

Muhammad meunang bak uroe nyan, bukon bubarang hate suka

Lalu meugah bak Abu Jeuhai, aneukmiet huse ureueng tuha

 

Yohmasa nyan maken that malee,  neutundok ulee tron ie mata

Masanyan  that saket hate,  sangat malee poteu raja

Yohnyan marit jikeu? Ahmad, sajan teuingat nyang lam donya h 62

Ahmad sidroe ku peutaloe, beurang kaho jih kumita

 

Meukusud kee kupeutaloe jih,  lon that keuji diateueh donya

Kareuna jih aneuk yatim.  Kamoe tuan-tuan aneuk panglima

Jih tuan ureueng gasien,  kamoe tuan ureung kaya

Muhammad yatim hanthee keudroe,  hanale Nang ayah bunda

 

Hanthee keudroe jih gasien that,  dikamoe meuhat le areuta

Patot jikiloe kamoe meugah,  gadoh leupah nama raja

Bukonle malee dumna kamoe,  aneukmiet kiloe kamoe raja

Jakalee bit leubeh Muhammad,  bahle meureupah sama dua

 

Dihadapan dumna rakyat, meunan pakat ureueng kaya

Meunan jikheunle Abu Juhai,  geumita pangkai bak panita

Jinoe kujak bah ahlul nujum,  kuyue peumaklum ileumei donya

Kuyue peurunoe ileumei hikeumat,  areuta ku lethat kupeubeulanja

Laju jijak troh bak guree, jikheun jih malee bak panita

Habeh jihuse uleh Ahmad,  malee sangat kamoe raja

 

Sirang neu peugah sirang neumoe,  neu tulong kamoe he teungku panita

Ulon jinoe tapeurunoe,  tabri keukamoe ilmei donya

Kubri jinoe meuh sikatoe, ta peurunoe ileumei peurkasa

Jinoe takheun soe nyang meunang,  cuba neupandang  teungku panita

 

Tadeungo he Abu Juhai, hana sagai meunang gata

Gata talo lumah dalam kitab, bek taharap meunang gata

Meunyo talawan gata talo,  meutamah laju malee gata

Meunyo tatakot gata keu malee, meunang teuntee Ahmad muda

 

Han ek talawan Muhammad yatim, gaseh Tuhan lagi ambiya

Adat meunan he teungku droe,  ta peurunoe ulon beusigra

Sbu Jeuhai teutap disinan,  Ahmad yohnyan teutap bak Mama

Ahmad teutap sajan sahbat,  peutploh meuhat sajan seureuta

 

Hanatom cre uroe malam,  padum zameun bak calitra

Bak sibuleuen bak sibuleuen, soe ngieng hireun hanatara

Ubak sithon ubak sithon,  hana lawan indah rupa

Badan pigot sangat timang? Miseue intan mata dua

 

Tuboeh neugot cit meutrieng blang, keuieng …? keumang u dada

Tuboh Nabi sangat indah, siulah-ulah buleuen purnama

Bulee keunemg got that leubat, nyang leuntek that bulee mata

Mata unun hansoe tuban, wahe  tailan  peucalitra

Gigoe nyang suci geulima makah,  peunoh limpah jiplueng cahya

Suara neu mangat mameh ranom,  teusinyom-sinyom watee beurkata

 

Ka teuduek haba Muhammad yatim, jinoe laen lon calitra

Jinoe lon kisah tuan Khadijah, ureueng Mekkah diateueh donya

Tuan Khadijah benti Hawailah, ureueng that meugah lagi mulia

Hareuta pile that barullah, namiet pi mudah han teukira

 

Rupa pi indah bukon bubarang, ngon peukaian hanatara

Lagi ‘alem Tuan Khadijah, kitab barullah Taurit neubaca

Lom ngon rupa that sambinoe,  ngon meubudoe got ngon bahsa

Lom kawom nibak Kureh, lom geumaseh murah tangannya

 

Sithon dua  seun neubri seudeukah, areuta barullah han teukira

Neubri keu faki  ngon miseukin, laen nibak nyan haji ulama

Neubri makanan ngon minoman,  neubri peukaian jineh ija

Padum-padum hamba teubosan,  rupa neutuan jroh hanasa

 

Nacit meulakoe nyangka dilee, jinoe ka balee ureueng muda

Neuduek balee niphon seudang, cit lam bimbang peutimang areuta

Buet beurniaga ngon bloe-peubloe,  hana padoe neutueng laba

Dua droe lakoe nyang ka mate,  meunan teukedi Allah Ta’ala

 

Adat na untong neubrile Tuhan,  meuteumei peutumuen ngon Ahmad muda

Bak siuroe Tuan Khadijah,  kitab barullah dum eubaca

Lheueh nyan neubeuet kitab Taurit,  teuseubut Muhammad disinan nyata

Nameu lumah dalam kitab, Nabi Muhammad disinan nyata

 

Nyankeu Nabi akher zaman,  gaseh Tuhan nyang that mulia

Nyang pomilek Ciruga ngon niekmat, karonya Hadlarat Tuhan Nyang Asa

Sikati duablah laksa 4000 Nabi, Muhammad Tuhan bri pangkat teur-ula

Cit that leubeh deungon mukjizat, dilee Ahmad geuboh nama

 

‘Oh rayek bacut umu lapan thon,  geubalek nan Muhammad muda

Meunan leumah dalam Taurit, Nabi indah sangat hanatara

Nyata ubak Tuan Abdullah,  bak Aminah sinan keuluwa

Yohnyan beureuhi Tuan Khadijah,  pakri kuilah ngon kudaya

 

Padum lawet lheueh nibak nyan,  that sukaan Khadijah muda

Pakri bak jeuet keu suami, Tuhan ya ghani neu peutroh pinta

Kareuna Muhammad that samlakoe,  ho siuroe that jroh rupa

Mangken rayek mangken samlakoe,  hana sidroe bandeng rupa

 

Pakriban keu untong keu suami,  hana geutukri peubicara

Yohnyan teupike Tuan Khadijah, Poteu Allah nyang bri bahsa

Lalu teuingat dalam hate,  geuyue jak tueng Mama bunda

Nyankeu Mama Muhammad yatim,  ureueng salihin that takeuwa

 

Neuyue jak tueng Tuan ‘Atikah,  saudara ‘Abdullah geunantoe Mama

Abi Thaleb ureueng lakoe,  nyan pi sidroe  podu? Mama h 68

‘Ohsare troh Tuan ‘Atikah,  Khadijah peuindah neu peumulia

Padum natreb neuduek disinan,  that sukaan hanatara

 

Khadijah peubeuet Tuan Atikah,  sepeurti jumulah? Ureueng kaya

Tuan Atikah yohnyan meuguree,  tuntut ileumei nyang that mulia

Khadijah peubeut Zabur Taurit, bit meu ileumei khadijah muda

Neu peubeuet Taurit surat hikam, bit that ‘ajam ureueng muda

 

Lheueh nyan ‘Atikah nibak meungaji,  neu kheundak riwang ureueng tuha

Neulakee droe bak Khadijah,  neuwoe pantah u rumoh tangga

Yohnyan neuwoe bak Abi Thaleb, neuwoe  bak  Ahmad nyang that mulia

Ahmad teumanyong yohmasa nyan,  pane tuan tajak gata

 

Ulon teuka bak Khadijah,  kamoe disuroh beukayem teuka

Abu Thaleb pidi sinan, keu sukaan hanatara

Yohmasa nyan Abi Thaleb,  kheundak Rabbi Tuhan peunyata

Padum natreb teutap disinan,  hana sapeue tan mumara

 

Tuan Fatimah isteuri Abi Thaleb,  sangat……….sukacita

Droe citka ngon teukeudi Allah,  hamel Fatimah Tuhan karonya

Yohnyan Fatimah di dalam brat, bunteng sangat gohlom keuluwa

‘Ohjan neuwoe Ahmad  u rumoh, Fatimah mehmoh beeudoh sigra

 

Umu tujoh buleuen Fatimah kandong,  cit lam mantong neu peumulia

Abi Thaleb yohnyan neu pandang, lalu teumanyong neu pareksa

Pakon tabeudoh he Fatimah, ‘ohjan leumah Ahmad muda

Kareuna Ahmad aneuk geutanyoe,  hankeu namei bak takira

 

Maka neuseuot Tuan Fatimah,  lalu neu peugah sigra-sigra

Tadeungo judo ureueng lakoe,  budak lam pruet peumulia

Bukon nafsu bukon kheundak, teuka Ahmad meugrak dada

Leumah Ahmad teuka dijeuoh,  karu na jipot ulee dada? H 70

 

Nyankeu sabab neueu meubeudoh,  nyum ka reuloh ulee dada

Ban neu deungo narit meunan,  lalu hireuen sukacita

Pihak leubeh deungon mukjizat,  budak dalam pruet jibri mulia

Kareuna budak Muhammad teunyoe,  nyan geukheu ‘Ali Murtadla

 

Bameu meugah bak Khadijah,  mangken gundah nibak nyangka

Pakri ilah kutueng Ahmad,  supaya dapat peubicara

Rupa Ahmad mangken meulaku, ho siuroe jiek  peuet ganda

Neuyue surom lom? Bak Atikah, bak Khadijah neu peuteuka

 

‘Ohsare troh bak Khadijah,  neu peuindah neu peumulia

Neubri makanan ngon minuman,  laen nibak nyan sianika

Teulheuh makeun neu pinah hidang, neuduek yohnyan meuseuninya

Yohmasa nyan neubeut Zabur, Taurit Injil lhee peukara

 

Meunan keumise  Tuan Khadijah, laen pi mudah hanatara

Paum lawet nyan bumeunan,  teukeudi Tuhan nyang peulara

Bak siuroe teukeudi Hadlarat,  geutanyong Ahmad keumala donya

He ‘Atikah jinoe lon tanyong,  takheun bak keunong uleh gata

 

Ahmad jinoe peue buatan,  neuduek ngon rakan peue keureuja

Peue na tuan tateumei makanan,  keu aneukmiet nyan dum barangna

Saleh hate han  tatuban,  makanan………….dumna

Tango kamoe Tuan ‘Atikah, adat na mudah Tuhan karonya

 

Meung na mudah tabri keurakan,  beukeubit tan pakri daya

Kareuna Ahmad sangat miseukin,  lagi yatim tan Nang Bapa

Nyang get pakri tamupakat,  saleh cit brat?  Meuganda laba

Proehai tabri nyan keu taulan,  tayue  jam u Syam beurniaga

 

Tadeungo kamoe Tuan Khadijah,  pakri tailah ta maniyaga

Ureueng nyang meukat beutbloe-peubloe,  panyang akai le bicara

Kricit narit Tuan Khadijah,  bekta gundah he saudara

Adat hanjeuet nyan tameukat,  meubri namiet nyang jeuet keumira

 

Barang kadum  neu kheundak peumubloe, nabak kamoe Allah karonya

Hingga seupotle ngon uroe,  ‘Atikah woe u rumoh tangga

‘Ohsare troh bak Abi Thaleb,  troh bak Ahmad nyang that mulia

Yohnyan neubri peukaiyan keu Ahmad,  seuleungkapan indah rupa

 

Yohnyan Ahmad neu teumanyong, pane he Nang tajak gata

Kamoe meujak bak Khadijah, kamoe jisuroh bak kayem teuka

Peubuet neujak bak Khadijah, jinoe neu peugah wahe bunda

Hana sapeue wahe Ahmad, kareuna sabab ji meucinta

 

Geunap uroe jiyue peureugi, teuma meungaji sipatah dua

Geuyue tanyong he Muhammad,  tatem meukat beurniaga

Adat tatem jibri mudah,  jibri pangkai tatueng laba

Ban neudeungo narit meunan,  teusinyom yohnyan keumala donya

 

Padum natreb nyan bumeunan, ji seuruhan hana reuda

Bak siuroe meucawe hate,  ka geukheunle ubak bunda

Adat na gaseh bak Khadijah,  saleh na langkah wahe bunda

Sira meujak kalon nanggroe,  meujak kalon proe laku rupa

 

Meunan neukheun uleh Ahmad,  kheundak Hadlarat Tuhan Yang Asa

Lalu meugah bak Khadijah, mangken gagah neuyue lanja

Meunyo neujak u nanggroe Syam, meubri dagangan nyang mulia

Neuyue bukale deungon geudong,  geucok dagangan meuneukat geuba

 

Dilee neuyue cok mutu maknikam, teuma pualam zamrut meutia

Teulheuh neucok  nilam pualam,  neucok yakkuzan  mantrus? Meutia

Jineh ija deungon  sukhalit,  ;aifil binat  makwa diwangga

Laen nibak nyan keu masnuram,  padum meuhimpon han teukira??????????

 

Kakeu hase dum meuneukat, geupeudieng brat 40 unta

Peuet ploh unta geupudieng brat, geubungka rakyat dum barangna

Hadhir teudong dum kafilah,  saudagar Makkah nyang kaya-kaya

Kricit narit Tuan Khadijah,  Mubasyarah deungo sigra

 

Neujok keureutah kalam daweuet,  lalu jisurat sigra-sigra

Tango kamoe Mubasyarah, jinoe kupeugah ubak gata

Adat na gaseh gata keu kamoe, Ahmad sidroe ta peumulia

Barang kaho Ahmad neujak, bek sitapak jarak ngon gata

 

Peue nyang nafsu beuta turot,  beuta ikot uleh gata

Taniet tajak kon tameukat,  taireng Ahmad gata dumna

Adat habeh areuta ji buwang,  bek talarang uleh gata

Meunyo taubah ban lon peugah, wajeb salah gata kudra

 

Mangka seuot Mubasyarah, inca Allah ulon  ridha

Ban nyang narit Tuan Khadijah, hana ubah silama-lama

Yohnyan meuhimpon dumna rakyat, sajan Muhammad muda bahlia

Lalu neu bungka u nanggroe Cam, rakyat sajan ireng Saidina

 

Padum lawet neucre nanggroe, trohle sampoe hana mumara

‘Ohsare troh u nanggroe Syam, rakyat sajan  dum barangna

Lalu geupiyoh  geupeudong khimah,  that barullah han teukira

Yohnyan meugah bak saudaga Cam, geuba dagangan nyang mulaba

 

Meugah saudaga teuka di Makkah,  meuneukat barullah han teukira

Ureueng surohan bak Khadijah,  meuneukat indah dum peurmata

Lethat teuka saudaga Cam, geujak tanyong meuneukat geuba

Meuneukat geuba jineh maknikam, nilam puwalam yakkut meutiya

 

Ban jideungo narit meunan,  that sukaan hanatara

Saudaga Makkah piyoh lam khimah,  geupiyoh payah dum sineuna

Saudaga Cam jiwoe u gampong,  maseng-maseng woe u tangga

Ureueng Makkah piyoh lam blang,  ngon bunyian sare gabra

 

Kalhee uroe piyoh disinan,  that sukaan hanatara

Teukeudi Allah peurintah Tuhan, raja meu’en Uroe Raya

………………………………….., meunan kayem meurok-rok masa

Jime khanduri deungon tanglong,  u teungoh blang mahajana

 

Jitot tanglong diteungoh blang, miseue bintang indah rupa

Lalu neujak panghulee Makkah, dum kafilah  Ahmad muda

Yohmasa nyan dumna rakyat, ireng Muhammad ublang raya

‘Ohsare troh blang u ….?, dien ngon tanglong padam cahya

 

Yohnyan jingieng uleh rakyat,  beureukat Muhammad len simua

Kareuna kande habeh padam,  ujeuen pitan hantom nyangka

Dilee nyangka hantom meunoe, peue bahya nyoe keunoe  teuka

Yohnyan raja Cam sangat gundah,  seumpom kupiyah dikeupala

 

Teuma teumanyongle  raja Cam, pakon ka jinoe peue keureuna

Peue alamat nyang jeuet meunan,  takheun tuan dumna gata

Angen pitan ujeuen pihan,  kande padam peue kareuna

Yohnyan neuseuot Uleebalang,  hantom meunan dilee nyangka

 

Hantom meudeungo hantom meukalon,  hana meukon pahdam cahya

Tajak tanyong bak ahli nujum,  saleh na maklum Tuhan peunyata

Meuhan jipeugah bak uroe nyoe, kukoh takue dumna gata

Yohnyan gundah dumna rakyat,  raja pithat duka cita

 

Kricit narit Rahet sidroe, na bak kamoe saboh bicara

Nabak kamoe ureueng sidroe,  guree kamoe sangat tuha

Bak Rahet nyan saleh na maklum.  Kareuna nujum ‘alem raya

Jinoe seumbah bak raja Cam, jiyue jaktueng sigra-sigra

 

Yohnyan jijak rujang-rujang,  lalu ji jaktueng Rahet tuha

‘Ohsare troh nyan u gampong, lalu ji usong pantah sigra

‘Ohsare troh bak raja Cam,  seumbah laman pomeukuta

Syah Alam deelat tuanku,  nyoekeu Nujum nyang troh mata

 

Raja peugah ubak Rahet,  kande  lethat padam cahya

Jinoe tapeugah wahe Rahet,  peue alamat keunoe teuka?

Nyan neu peugah wahe Rahet,  padum zameun meunoe hana

Kareuna droe umu lawet,  masa Nabiyullah Musa

 

Tango kamoe pojanjongan, padum zameun meunoe hana

Nyangka dilee hantom meunoe,  dumna kamoe nyangka tuha

Ubak uroe nyoe keunyataan, bak janjongan jinoe kana

Wahe Rahet peue alamat, takheun beumeuhat tapeunyata

 

Alamat tuanku cit meupeugah,  bek gundah pomeukuta

Ureueng mulia teuka keunoe,  bak nanggroe nyoe Allah peunyata

Nyankeu ureueng di nanggroe Makkah, leubeh tuwah diateueh donya

Sabda raja ubak Rahet,  neu pugah pat neu peunyata

 

Bak uroe nyoe tapuleumah,  bahle tapoh tapeupahna

Bahle tapoh dumna kawom,  meunan hukom dilee nyangka

Tango kamoe meukuta nanggroe,  meukheun jinoe meukuta donya

Hanjeuet tapoh ureueng meutuwah,  Poteu Allah neu peumulia

 

Nyan neu peujeuet dumna makhluk,  nyang na maujud leumah nyata

Seubab neu peujeuet dumna umat,  kareuna Muhammad neu peunyata

Nyankeu museubab ureueng meutuwah,  laen pileumah disinan nyata

Pakri tapoh pojanjongan,  geutanyoe sinan dum geupeuna

 

Adat meunan wahe Rahet,  pakri nyang get bak gata dumna

Kukeumeung meuteumeung ureueng meutuwah,  pakri ilah toh bicara

Tango kamoe pojanjongan, ta peurjamuan ureueng nyan dumna

Ta peutamong keunoe u Dalam, tabri makanan pomeukuta

 

Ban neudeungo Rahet peugah,  neuyue kafilah jaktueng sigra

Bujang jijak bak kafilah,  bak ureueng Makkah nyang mulia

Tango kamoe dumkafilah,  neu meulangkah ubak raja

Jinoe raja kheundak peujamei, bek sidroe mei tinggai gata

 

Yohnyan habeh dum meulangkah, ureueng Makkah tamong bak raja

‘Ohban sare troh jidong hadap,  seumbah deelat poteu raja

Yohnyan habeh raja pandang,  lalu neu tanyong neu pareksa

Wahe Raheb jinoe tapeugah,  ta peulumah toh ureueng mulia

 

Tuanku gohlom keunoe sampoe,  saleh tinggai droe sajan unta

Ahmad yatim ngon Mubasyarah,  ureueng Khadijah sangat mulia

Raja tanyong ………. narit, neuyue jaktueng pantah sigra

Yohnyan Rahet peu ek seumbah, bak khalifah poteuraja

 

Tango kamoe pojanjongan,  majeulih reusam neu peulara

Teuma neuyue jak ureueng dua droe, neuyue jak meuntroe ngon panglima

Ban sare troh ubak khimah,  teuma leumahle ngon cahya

Yohnyan meuntroe lalu teudong,  katroh geujak ngon panglima

 

Jikalon rupa that samlakoe,  dalam nanggroe? tan sabohsa

Lang geumilang bukon bubarang,  sang buleuen trang tungoh purnama

Miseue buleuen teungoh peunoh,  meunan seunaleuk peurumpama

Yohnyan meuntroe neu tunduk ulee,  that geumalee meuhadap muka

 

Tango kamoe panghulee Makkah, raja yue peugah saleum bak gata

Neuyue meulangkah Tuan u Dalam,  manyoh deundam poteuraja

Inca Allah tuan Meuntroe,  meujak jinoe ubak raja

Lalu neujak ngon Mubasyarah,  neu meulangkah ubak raja

 

Teuma teuka awan meupayong,  ji peutudong Ahmad muda

‘Ohsare troh u leuen Meuligoe,  neu eu jinoe poteuraja

Diyub awan ureueng 4 droe,  teumanyong jinoe poteuraja

Tuanku bit jroh ban neu pandang,  ureueng nyang panyang nibak nyangna

 

Raja neukalon leumah neupandang, bukon bubarang indah rupa

Wahe Rahet pakri hai kamoe,  peugah jinoe uleh gata

Jinoe tuwanku neutron u bumoe,  neujak meuteumeung pomeukuta

Yohnyan raja neutron u bumoe,  neujak meuteumeung neucom tangannya

 

Sare teulheuh neu mumat jaroe,  neupeu ek jinoe u astana

Troh u ateuh? laju u Dalam, neu eu gambaran habeh binasa

Patah takue tinggai badan,  putoh meukhan dum beurhala

Teulheuh nyan Ahmad neume u Dalam,  sigala dum rakyat neupeurap ?raja

 

Sajan Rahet duek disinan, sigala kawom rakyat dumna

Geubri makanan peurjamuan,  dalam hidang nyang mulia

‘Ohlheueh makeun pinah hidang,  peurap hadapan ya Saidina

Duek hadapan tuan Ahmad, Imum Rahet buka haba

Wahe Ahmad neusuet bajee,  kamoe lakee kalon rupa

Tuan Ahmad lheueh suet bajee,  raja lakee com peugawe donya

 

Ahmad neubri raja lakee com, neumat jaroe Ahmad raja ucap kalimah duwa

(Asyuhadualla ilahaillallah, wa Asyhaduanna Muhammadar Rasulullah)

…………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………..

……………………………………………………………………………………………………………….

………………………..Hikayat ini masih dalam proses perbaikan salinannya!………………

…………………………………………………………………………………………………………….

Soe nyang deungo raya faidah, Poteu Allah bri karonya

Kareuna pangkat Nabi Muhammad,  leubeh deurajat nibak nyangna

 

Tatot rumoh pihan tutong,  Tuhan tulong han meubahya

Adat lam kapai pihan karam,  bak na didalam surat mulia

Beuta pateh nyoe peuneugah, keu Nabiyullah bek talupa

Meuhan tapateh teumpat lam Jahnam,  page karam lam Nuraka

 

Miseue pahla tabeuet Quru’an,  meunan Tuhan neubri pahla

Beurang kasoe syok salah waham,  balah Tuhan page Neuraka

 

 

Allahumma shalli ‘ala Saiyidina Muhammad

Wa’ala alihi washahbihi wasallam

(tamat lon salen ban lheueh Bang ‘Ashar, poh 15.50 wib, selasa, 12 April 2016, T.A. Sakti)