Saya Cari Anwar Ibrahim, Ketemu Anwar Amir:

Saya Cari Anwar Ibrahim, Ketemu Anwar Amir: Assalamualaikum wr wb. T.A. Sakti yang saya hormati dan sangat saya kagumi karya2 dan tulisan2nya (meskipun baru saya baca sebatas/melalui website ini). TOKE IEKAYAT ACEH YANG GAGAL / SUDAH MATI ?Hari ini saya merasa seperti kejatuhan durian runtuh, seperti musaffir haus ditengah padang pasir, lalu kecemplung kedalam oase/wadi... Continue Reading →

Tradisi Bagi Orang Meninggal dalam Lintasan Sejarah Masyarakat Aceh

Tradisi Bagi Orang Meninggal  dalam Lintasan Sejarah Masyarakat Aceh Oleh: T.A. Sakti Sejak berpulangnya kerahmatullah istri saya Mardhiyah binti Tgk. H. Harun, di tengah malam tanggal 4 Juli 2022, telah memperkaya khazanah budaya saya mengenai tradisi  bagi orang meninggal,  yang dipraktikkan masyarakat Aceh.  Sumber tradisi itu  berkaitan  agama dan warisan leluhur. Informasi mengenai tradisi itu,... Continue Reading →

Semangat Merdeka, Surat Kabar Pertama di Aceh

“Semangat Merdeka” Suratkabar Pertama di Aceh  Ketika Indonesia Baru Merdeka Oleh: T.A. Sakti Suratkabar Semangat Merdeka hadir pertamakali tanggal 18 Oktober 1945, dua bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Diterbitkan oleh organisasi pemuda yang kemudian diberi nama IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin A. Hasjmy (Ketua Umum). Semboyan  Semangat Merdeka ialah “Surat Kabar Pembimbing Semangat... Continue Reading →

Etos Kerja di Kalangan Masyarakat Aceh

Etos  Kerja di Kalangan Masyarakat Aceh Oleh : T.A Sakti             Etos berarti sikap, kehendak, kebiasaan, watak, cara berbuat, dan perhatian. Jadi, etos adalah suatu karakter yang sudah  mendarah-daging atau dalam istilah Aceh disebut ‘jaban droe’ (watak diri). Dalam hal etos kerja bermakna; sikap lahir-bathin terhadap pekerjaan apa saja yang dilakukan. Menyimak sokongan budaya Aceh... Continue Reading →

Mandi Safar, Upacara Nasional Masa Kesultanan Aceh

Mandi Safar, Upacara Nasional Masa Kesultanan Aceh Oleh: T.A. Sakti DEWASA ini, tradisi Mandi Safar pada hari Rabu terakhir (uroe Rabu habeh)  di bulan Safar ( buleuen Safa), nyaris samasekali tak dipraktekkan lagi masyarakat Aceh. Semua narasumber yang saya hubungi lewat telepon seluler berpendapat sama. Terkecuali di kampung paling udik (lam klek-klok) di pedalaman Aceh,... Continue Reading →

Tahun Baru Islam = Tahun Baru Aceh

Tahun Baru Islam  = Tahun Baru   Aceh Oleh: T.A. Sakti BULEUEN  ACEH  sama jumlahnya dengan bulan-bulan dalam perhitungan tahun yang kita kenal selama ini, baik penanggalan Hijriyah maupun dalam kalender  Masehi,  yaitu 12 bulan. Karena masyarakat Aceh sangat didominasi agama Islam, maka Buleun Aceh juga mengikuti menurut hitungan  Kamariyah( bulan), seperti yang dipunyai Islam. Bulan... Continue Reading →

Tambeh Gohna Nan (5 – 6)

TAMBEH GOHNA NAN  ( 5 ) Karangan Teungku Muda atau Teungku Do alias Teungku Di Cucum yang bernama asli Syekh Abdussamad Alih aksara dari Jawoe ke Latin tahun 2002 Oleh: T.A. Sakti Pensiunan guru kecil FKIP Universitas Syiah Kuala Ureueng tuha janggot puteh, tasrah beugleh bajee ija Nyang lon wasiet beuta pateh, bek peujayeh kamoe... Continue Reading →

Tambeh Gohna Nan (4)

TAMBEH GOHNA NAN     ( 4 ) Karya Syekh Abdussamad  atawa Teungku Di Cucum alias Teungku Muda atau Teungku Do Alih huruf Jawoe ke Latin tahun 2002 Oleh: T.A. Sakti Pensiunan guru kecil  FKIP Unversitas Syiah Kuala Alhamdulillah sudah rab sampoe, meunurot nanggroe aliran masa Hambaa lam ‘alam dum buta tuloe, ‘Alamat nanggroe karab seureupha ‘Alem... Continue Reading →

Gunongan, Tribun Tempat Menyaksikan Margasatwa di Kebun Binatang

  Gunongan, Tribun  Tempat Menyaksikan   Margasatwa di Kebun  Binatang Oleh: T.A. Sakti GUNONGAN adalah sebuah bangunan peninggalan abad 17 dari Kerajaan Aceh Darussalam yang masih dapat disaksikan sisanya di Banda Aceh hingga sekarang. Sebuah menuskrip menyebutkan, bahwa Gunongan itu merupakan “panggung besar” tempat menyaksikan margasatwa dalam kebun binatang di sekitarnya. Tahun 1613  setelah menang dalam... Continue Reading →

Si Amat Jak Tunggee Utang bak Tuhan (4-tamat)

Si Amat Jak Tunggèe Utang bak Tuhan  ( 4 – tamat)  Janji ka trôh, tanggôh pih ka teuprèh, uroe Seulanyan ka jitamöng. Di phôn beungöh kön aneuk nanggroe ka meurèe-rèe jijak bak istana. Uroe go(h)lom göt beungöh, mantöng suboh reuneum, aneuk nanggroe ka meusak garak u leuen istana. Balè raya mantöng soh. Hàna meusidroe pih... Continue Reading →

Blog di WordPress.com.

Atas ↑