TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU-wawancara TEMPO dgn Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo

TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU

 

Tercantumnya tiga nama, Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poeponegoro, dan Nugroho Notosusanto, pada sampul muka buku Sejarah Nasional Indonesia, bisa menimbulkan salah pengertian bahwa kami bertiga yang menulisnya. Saya sendiri sebenarnya kurang menyetujui pencantuman nama itu. Kami bertiga adalah pengurus dari Panitia Penulisan Buku Sejarah Nasional yang dibentuk pada akhir Seminar Sejarah Nasional II DI Yogya, Agustus 1970. Saya, waktu itu, ketua umum panitia tersebut, Bu Marwati ketua I, dan Pak Nugroho ketua II.

Struktur organisasi penyusunan buku yang enam jilid itu dibagi menjadi enam seksi sesuai dengan banyaknya jilid yang direncanakan. Tiap-tiap seksi membawahi 4 hingga 5 orang anggota penulis. Ada penulis yang terus ikut sampai buku selesai ditulis. Ada penulis yang diganti karena sakit atau sebab yang lain. Tiap seksi menulis satu jilid.

Sebagai ketua umum saya berkewajiban membuat kerangka acuan, sebuah kerangka umum untuk seluruh penulisan. Pelaksanaannya terserah pada ketua seksi masing-masing. Kerangka itu kemudian diterbitkan oleh Gramedia, tahun 1983, berjudul Historiografi Indonesia.

Sebagai ketua, saya juga sudah membuat kata pengantar umum untuk seluruh penulisan itu. Sayang, hanya dimuat pada jilid I. Jadi, mereka yang tidak membeli seluruh jilid, tak tahu hubungan antar jilid, jika tak membaca kata pengantar yang hanya ada pada jilid I itu. Membaca kata pengantar itu penting, terutama untuk mendapatkan gambaran yang mendasari  buku Sejarah Nasional Indonesia itu apa. Seharusnya, kata pengantar itu dimuat di setiap jilid.

Selain itu, saya juga menyumbang tulisan utuk jilid IV, terutama mengenai Abad XIX tentang “tanam paksa” dan sebagainya. Saya juga memberi sumbangan pada jilid V mengenai perkembangan sosial ekonomi tahun 1990-1930-an.

Yang jelas, saya tak turut menulis jilid VI, buku yang direvisi itu. Sejauh ini tanggung jawab saya mengenai jilid VI adalah karena kedudukan saya sebagai ketua umum. Pimpinan langsung untuk semua jilid adalah ketua seksi masing-masing, pada jilid VI ketua seksinya Nugroho Notosusanto.

Kembali pada soal kerangka umum itu, ternyata banyak yang tak mengindahkannya. Saya kan sudah memberi kerangka umum mengenai masalah periodisasi. Pembagian atas enam jilid saya rasa selaras dengan garis besar periodisasi. Tapi tema pokok yang saya ajukan—dan ini sebenarnya teori atau tesis yang saya ajukan—mengapa kami memberi nama buku sejarah Indonesia itu sebagai Sejarah Nasional Indonesia. Nama itu menunjukkan suatu kesatuan dan menunjukkan satu unit dari penulisan yang menjadi enam jilid itu.

Yang harus ditonjolkan dari enam jilid itu adalah benang merah kesatuannya. Umpamanya, kami tidak menulis mengenai Budi Utomo lalu Serikat Islam satu persatu. Melainkan mengenai pergerakan isu secara keseluruhan, bagaimana terbentuknya suatu elite baru. Dan lewat organisasi-organisasi itu mereka menemukan identitasnya yang baru. Organisasi-organisasi itu memberikan arena politik baru tempat mereka bisa berkomunikasi, dari yang semula hanya merupakan suku-suku yang terpisah.

Dalam Seminar Sejarah Nasional I di Yogya tahun 1957, saya sudah mengemukakan itu, bahwa yang harus kita lihat itu adalah wawasan nasio-sentris itu. Yakni bagaimana seluruh masalah nasional Indonesia itu merupakan pengalaman kolektif bangsa melalui proses integrasi. Ini yang sesungguhnya menjadi pendobrak, yang menjadikan kita ini satu bangsa. Dan ini yang ingin dituliskan dalam Sejarah Nasional Indonesia itu.

Kalau kita baca SNI jilid I-VI, muncul selera saya masalah proses integrasi masih kurang menonjol. Jadi, tiap-tiap jiid SNI masih terasa berdiri sendiri-sendiri. Dan memang tidak mudah untuk menyusun sesuai dengan kerangka yang saya inginkan.

Mengapa kita kadang-kadang menghindari satu penulisan sejarah kontemporer? Ini karena secara inheren hal-hal yang potensial menimbulkan kontroversi akan muncul. Karena masih sering sejarah kontemporer menyangkut tokoh-tokoh atau pengikut yang masih hidup.

Jarak yang masih cukup dekat menimbulkan persoalan agak besar. Saya, umpamanya, menulis peristiwa 100 tahun lalu mengenai pemberontakan Banten. Saya merasa cukup jauh jaraknya. Saya tak punya kepentingan apa-apa, baik pada pihak pemberontak maupun yang diberontak. Kata professor yang menguji tesis saya itu: Kalau nama Anda dihilangkan, orang tak akan tahu kalau penulisnya orang Indonesia.” Saya tak tahu apakah ini hinaan atau pujian, tapi paling sedikit komentar professor saya itu merupakan bukti bahwa saya sudah mencoba mendekati objektivitas.

Saya ingin mengatakan seobjektif mungkin. Saya tak ingin membuat evaluasi terhadap sejawat Nugroho Notosusanto yang sudah meninggal. Itu terasa kurang etis buat saya. Tapi, itu tadi, kendala yang dihadapi sejarawan kontemporer berlaku untuk siapa saja, termasuk saya, termasuk Pak Nugroho. Penulis sejarah kontemporer menghadapi kesulitan membuat jarak terhadap zaman, situasi, apalagi terhadap tokoh-tokohnya.

Kalau toh itu ditulis, dan menjadi konstroversi, karena orang membaca tulisan mengenai sejarah kontemporer tidak sebagai pengkaji sejarah secara ilmiah. Tapi mereka membaca sebagai pengikut partai dengan aliran politik atau ideologi tertentu. Nah, kalau sejarah sudah diserahkan kepada kaum partisan, semua sudah dinilai, disusun dengan perspektif partisan itu, ya sukar dikatakan  objektif.

Soal Bung Karno, kenyataannya, tokoh itu dan penulisan sejarahnya, kalau dimuat dalam buku sejarah masih menimbulkan atau masih bersifat kontrovesial. Ini karena masih cukup banyak orang bertindak sebagai partisan—tidak seperti sejarawan—dalam menghayati ilmu sejarah. Kalau seorang menghayati sejarah sebagai partisan, bagaimana bisa menghindari bahan pelajarannya itu secara kritis dan objektif?

Contoh paling kontroversial adalah surat-surat Bung Karno ke Belanda yang menjelaskan bahwa ia sudah minta ampun dan mohon dibebaskan—surat-surat September 1933. Saya masih menyangsikan. Ini aneh. Surat-surat itu disimpan di Belanda sudah diketik. Tapi tak ada tanda tangannya. Tentu harus cukup ada penelaahan yang tuntas, menurut metode sejarah.

Mengenai perkawinan Bung Karno dengan nyonya Hartini, waktu itu sangat menghebohkan. Kita perlu menempatkan peristiwa ini dalam konteks kepribadian Bung Karno. Bagaimana lagi, kenyataannya memang begitu. Sebagai catatan, saya kenal baik dengan keluarga Suwondo Fogel, suami pertama Hartini. Saya masih ingat ketika mereka manten anyar di Salatiga, dan ketika merayakan kelahiran anak pertamanya.

Kalau kita menganggap kehidupan Bung Karno sebagai sejarah, di satu pihak tak mungkin mengabaikan jasa-jasa perjuangannya. Di pihak lain, juga perlu menyatakan kekurangan-kekurangan dan kegagalan-kegagalannya.

Jangan dilupakan bahwa menghayati ilmu yang juga pokok adalah kejujuran. Mengingkari kekurangan Bung Karno sesuatu yang tak jujur. Begitu juga mengingkari kelebihannya.

Lalu mengenai masalah revisi. Persepsi pihak media massa mungkin perlu diluruskan. Bagi sejarawan, masalah menulis kembali—saya tidak memakai kata revisi—merupakan suatu proses yang wajar saja. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap generasi wajib menulis sejarahnya sendiri.

Gambarannya begini. Saya, misalnya, duduk dalam panitia UNESCO dengan 25 anggota. Saya memberi pengarahan untuk menyusun Scientific History of Human Time. Kami berkumpul tahun 1980. Sampai sekarang penulisannya belum selesai.

Kami mendesain kembali penulisan yang didesain tahun 1950 itu. Mengapa? Ini karena generasi tahun 1950 memiliki persepsi dan wawasan yang berbeda dengan generasi tahun 1970. Karena kondisi yang dihadapi berbeda.

Jadi, setiap generasi wajib menulis sejarahnya. Sejarawan tak bisa lepas dari ikatan zaman dan ikatan kebudayaannya. Bagi sejarawan, wajar saja kalau ada revisi. Apalagi kalau ada alasan lebih kuat, yakni karena menimbulkan kontroversi.

Masalahnya, seperti yang saya alami dalam panitia UNECSO itu, timbul perdebatan. Yakni, ketika kami bertemu di tahun 1980, hanya berdebat mengenai apakah sejarah itu direvisi atau ditulis kembali—dengan versi baru. Saya pikir, menurut pertimbangan yang amat logis, membuat revisi lebih repot dibandingkan membuat versi baru.

Yang membuat revisi repot, karena terlalu terikat dengan teks yang ada. Usul saya, lebih baik buat saja versi baru. Ini karena revisi akan menghadapi kesulitan dalam membuat pendekatan. Seperti kita ketahui, ada ungkapan, “Memermak jas lungsuran lebih sulit dibanding membuat jas yang baru.”

Saya pribadi kemudian menulis dua jilid buku mengenai sejarah nasional Indonesia. Yakni periode tahun 1500-1900 dan tahun 1900-1942, dengan judul Pengantar Sejarah Indonesia Baru (penerbit Gramedia). Tahun 1981-1982, waktu saya cuti di negeri Belanda, jilid I saya tulis dengan kerangka acuan saya sendiri. Ini bisa lebih mudah saya kontrol. Saya merasa bisa mengimbangi hal yang saya rasa kurang. Saya bisa memuaskan selera saya.

Saya berhenti sampai periode tahun 1942 karena mata saya tak awas lagi. Untuk menulis buku sejarah umum seperti itu, bacaannya harus banyak. Dan itu tak bisa saya lakukan lagi kini kendalanya sangat besar, saya tak bisa membaca lagi secara cepat. Pada kata pengantar jilid I, saya juga menekankan masalah integrasi. Bagaimana dalam wilayah Indonesia ini dari abad ke abad, secara lambat laun terjadi proses integrasi. Ini tema pokoknya.

Integrasi itu penting. Misalnya, mengapa perjuangan revolusi kita berhasil. Itu karena adanya dua proses perjuangan yang saling memperkuat: fisik dan perjuangan diplomasi. Dua-duanya memperkuat dan masing-masing mempunyai dampak hingga akhirnya perjuangan berhasil 100%. Tesis saya masih seperti itu. Juga dalam karangan saya mengenai Linggarjati, misalnya, bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh ABRI. Waktu itu, di Salatiga, Jawa Tengah, ada 17 organisasi pemuda, ada yang punya senjata dan ada yang tidak, seperti Hizbullah, Laskar Rakyat, Bepri, Pesindo, dan Bambu Runcing. Tergabung waktu itu organisasi pemuda dari yang paling “kanan hingga paling “kiri”.

Kalau hal itu sekarang tak terasa dampak dan hasilnya. Itu tetap penting dalam jalannya sejarah revolusi. Juga, untuk membuktikan bahwa perjuangan rakyat Indonesia adalah perjuangan yang demokratis.

Gambaran orang tentang historiografi atau penulisan sejarah itu kadang keliru. Tak perlu buku sejarah Indonesia menyajikan semua fakta yang terjadi di Indonesia. Yang diperlukan adalah seleksi. Dan yang pokok, kriteria seleksi itu apa. Buat saya sudah jelas. Kriteria seleksinya itu derajat integrasi, yang pada suatu periode bisa dicapai bangsa Indonesia. Itu cara sederhana menuliskan sejarah nasional kita. Dengan cara seleksi itu memang banyak yang tak akan tercakup, misalnya peranan Natuna, Mentawai, atau Selayar bagaimana?

Tapi penduduk di tenpat-tempat yang tak termuat dalam penulisan itu tak usah kecil hati. Kita itu satu nation. Gambaran dalam sejarah itu adalah gambaran pengalaman bersama.

 

 

 

DARI CANDI PRAMBANAN

SAYA lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Februari 1921. Selagi belum berusia setahun, saya dibawa orang tua saya ke Candi Prambanan yang terkenal dengan Rorojonggrang-nya itu. Ini karena kaul ayah saya, Tjitro Sarojo, pegawai pos di zaman Belanda. Ayah bernadar, bila panuwun-nya untuk memperoleh anak laki-laki terkabul, bayi itu akan dibawanya mengunjungi Prambanan. Berangkatlah orang tua saya dari Wonogiri ke Prambanan dengan kereta api, bersama saya si bayi merah.

Mungkin ini sebab pertama yang mempengaruhi bawah sadar saya menyukai sajarah. Orang tua saya sendiri mendambakan saya menjadi dokter. Ini tak mungkin saya laksanakan, karena saya punya penyakit takut melihat darah.

Tentu tak hanya melihat Prambanan itu awal cinta saya pada sejarah. Sewaktu kelas 3 HIS—sekolah di zaman Belanda setingkat SD—pada bulan puasa saya berlibur selama sebulan di rumah kakak saya yang menjabat kepala sekolah desa Borobudur. Setiap pagi selama sebulan, sendirian saya jelajahi Borobudur. Candinya, sungai, bukit dan sawah-sawah di sekitarnya. Kadang saya duduk-duduk menikmati pemandangan dari tingkat atas Candi. Dari atas candi saya lihat sekeliling bangunan candi yang indah dengan sungai Progo dan elo-nya.

Pengetahuan sejarah saya waktu itu tentu masih minim. Saya masih kurang menyadari apa yang saya lakukan, tapi itu barangkali yang membuat saya memasuki bidang garap sejarah. Saya sudah melihat begitu banyak bangunan, Borobudur, misalnya, bermakna bagi sejarawan Indonesia dan bagi umat manusia.

Di sekitar tempat saya lahir sendiri tak banyak dijumpai peninggalan sejarah seperti di Yogya itu. Ada satu monument di Wonogiri sebenarnya, yang cukup penting, yang terletak di tepi Begawan Solo. Di sana ada bukit kecil yang disebut sebagai Gunung Giri, tempat yang dikeramatkan penduduk. Banyak orang berziarah di situ karena ada makam-makam. Tapi yang penting adalah sebuah batu besar di situ. Menurut cerita rakyat setempat batu itu adalah tempat Sunan Giri berhenti sejenak—dari perjalanan jauhnya menyebarkan agama Islam—untuk shalat dan berdoa. Sampai sekarang batu itu tetap didatangi orang sambil membawa nasi dengan gudangan (sayur urap) serta ayam panggang. Sewaktu kecil saya pernah ikut berziarah.

Saya tak tahu dan baru tahu kemudian setelah membaca salah satu majalah, nama majalahnya TBG, di museum Jakarta, bahwa di belokan di kaki Gunung Giri ditemukan prasasti juga. Prasasti itu dulunya adalah tempat penyeberangan orang dari  Barat—dari Pajang—ke Jawa Timur.

Waktu duduk di HIS (1927-1934) di Wonogiri, saya berkali-kali melihat untu bledheg (gigi halilintar). Saya baru tahu kemudian bahwa itu adalah mikrolit, mata panah terbuat dari batu yang digunakan orang pada zaman prasejarah.

Itulah peninggalan prasejarah yang saya kenal waktu kecil.

Lalu, waktu kecil, saya juga sudah mendengar cerita perjuangan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I). Di lingkungan keluarga kami ada kenangan khusus tentang pangeran Sambernyowo berupa pusaka, jenisnya tombak, namanya Kiyai Bruwang. Ceritanya, salah seorang nenek moyang kami pernah menyelamatkan Pangeran Sambernyowo waktu dikejar Kompeni. Pangeran Sambernyowo diseberangkannya di Bengawan Solo dengan selamat. Sebagai penghargaan, tombak Kiyai Bruwang dihadiahkan kepadanya. Kini Kiyai Bruwang ada pada Pak Sujarwo (bekas menteri kehutanan).

Kesejarahan itu mungkin meresap pada saya juga karena berulang kali saya ke makam nenek moyang. Leluhur saya  dari garis laki-laki pernah ada yang menjadi Punggawa Keraton Kartasura (Amangkurat IV). Menurut cerita ibu saya, kakek saya itu menjabat sebagai ronggo. Suatu hari kakek cekcok dengan seorang pengawas perkebunan Belanda (orang Belanda). Lalu, entah bagaimana terjadinya, Belanda itu ditemukan terbunuh. Otomatis, kakek saya dicari polisi. Untuk menghindari perkara dengan polisi Belanda, ia melarikan diri ke Jawa Timur.

Ibu saya, dari garis nenek, turun temurun adalah putra petinggi di Wonogiri. Namanya Mangunprajoko. Keluarga dari pihak ibu merupakan cikal bakal, orang pertama yang membuka daerah, dan tinggal serta memimpin di Wonogiri. Karena itu, waktu nenek saya meninggal, yang mengantar ke kuburan ya mbludag, banyak sekali.

Ketika sudah duduk di MULO, setingkat SMP, di Solo, saya senang ketika dalam ujian akhir saya mendapat angka tertinggi untuk sejarah: sepuluh. Saya makin tertarik pada sejarah. Saya masih ingat buku pertama yang saya beli, judulnya Vander Landsche Geschledenis (sejarah tanah air) terbitan J.B. Wolters di Batavia. Saya pesan khusus, dalam uang gulden yang ada pada waktu itu nilainya tinggi, seringgit (2,5 gulden). Saya tak ingat nama pengarang buku sejarah itu.

Saya lulus dari sekolah guru di Xaverius di Muntilan, Jawa Tengah, tahun 1941, setelah belajar lima tahun. Setelah lulus saya menjadi guru tiga bulan di sekolah Schakel di Muntilan juga. Murid-murid sekolah ini anak-anak yang sudah lulus sekolah ongko loro. Sekolah ongko loro itu jalur sekolahnya anak pribumi. Schakel itu yang menghubungkan ke jalur sekolah Belanda. Baru setelah lulus dari Schakel, bisa masuk MULO, bertemu dengan mereka yang dari HIS.

Sesudah tiga bulan saya lalu pindah ke Salatiga, ke sekolah HIS swasta yang sudah “disamakan.” Gaji saya waktu itu 40 gulden, karena belum penuh. Kalau sudah penuh, 75 gulden. Untuk kos, saya membayar 10 gulden. Itu termasuk mahal karena saya guru. Kalau buat pelajar lebih murah, 6 gulden.

Tak lama kemudian pecah perang. Saya datang di Salatiga November 1941, 8 Desember 1941 Hawai diserang.

Suasana sudah mulai tidak normal. Anak-anak sudah harus dibawa ke tempat bersembunyi kalau ada tanda bahaya. Tanggal 15 Februari Singapura jatuh ke tangan Jepang, dan 1 Maret Jepang masuk ke Jawa. Suasana perang, lampu-lampu di jalan dikerudungi supaya tak begitu terang. Teman-teman saya menajdi sukarelawan menjaga kota. Saya sendiri tak bisa ikut karena mata tak terlalu awas dan fisik tak terlalu kuat.

Akhirnya Jepang datang, dan sampai juga ke Salatiga. Berderet-deret tentara diangkut dengan truk. Tak terdengar tembak-menembak dengan Belanda.

Barang-barang kebutuhan sudah mulai sulit. Nasi sudah mulai dicampur dengan jagung. Sebelumnya, dengan 10 gulden orang sudah bisa makan baik selama sebulan. Setelah Jepang datang, dengan 10 rupiah hidup sudah agak sulit. Saya waktu itu indekos pada seorang pensiunan sersan KNIL. Pensiunan sersan KNIL gajinya dua kali lipat gaji saya. Ia hidup cukup makmur, makan baik, rumah besar.

Saya mengalami kekecewaan pertama dengan masuknya Jepang karena bahasa Belanda dilarang. Bahasa Belanda langsung diganti dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Guru-guru kelas ongko loro hanya tahu sedikit bahasa Belanda. Dengan berubahnya zaman, mereka setengahnya menertawakan kami yang guru berbahasa Belanda ini. Di antaranya ada yang kalau ketemu saya memberi salam dalam bahasa Jepang sambil mengejek: “Komban wa, (selamat malam) dan “konnichi wa” (selamat siang), dan lain-lain. Saya hanya diam saja. Pada zaman Jepang, lulusan sekolah Belanda dianggap rendah.

Teman-teman di bawah saya terus ditarik ke Jakarta, mengajar di Si Hang Dako (Sekolah Guru) di Jatinegara, kebanyakan menjadi guru olah raga. Pada zaman Jepang, kedudukan olah raga mulai dipentingkan.

Teman-teman guru dan pegawai banyak yang kursus bahasa Jepang. Ada guru negeri ditarik ke Jakarta. Saya dari sekokah swasta, tak pernah mendapat giliran. Juga, saya malas untuk mulai dari awal. Fisik saya juga tak terlalu kuat untuk masuk ke berbagai barisan. Waktu teman-teman guru banyak yang masuk PETA, saya ditawari ditarik ke jawatan lain. Waktu ayah saya meninggal, kalau mau bisa saja saya bekerja di Postel di Solo. Tapi saya tak tertarik, karena saya masih senang menjadi guru. Saya juga pernah mendapat kesempatan di kepolisian. Saya juga tak tertarik. Pada zaman Jepang itu, saya berpikir bahwa bahasa adalah sesuatu yang berguna untuk memahami kebudayaan lain. Karena tak ada kegiatan lain akhirnya saya mendalami bahasa Jepang dengan belajar sendiri.

Waktu itu saya kenal dengan salah seorang guru, namanya lupa, orang Cina. Ia jebolan THS (kini Institut Teknologi Bandung). Ia mengajar di SD Cina. Kami sering omong-omong, dan sepakat menempuh ujian bahasa Jepang bersama. Kami sama-sama tak pernah ikut kursus. Nasihatnya pada saya, “Kalau Pak Sartono ingin lulus ujian, hafalkan saja sebanyak-banyaknya huruf Kanji.” Saya lalu menghafalkan banyak huruf Kanji.

Aneh, dari semua yang ikut ujian, hanya kami berdua yang lulus. Akhirnya, saya yang tak pernah ikut kursus bahasa Jepang malahan diserahi tugas untuk mengelola kursu resmi bahasa Jepang di Salatiga. Banyak muridnya, salah seorang di antaranya adalah Nyonya Tjokropanolo (istri bekas Gubernur DKI).

Bulan-bulan kacau dari Agustus sampai November atau Desember 1945, sekolah tutup semua. Selama menganggur, saya banyak bergerak di organisasi pemuda. Waktu itu ada 17 organisasi. Sudah ada GPII, Hisbullah, Pemuda Putri Indonesia, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), Pesindo, juga Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI). Saya ketua AMKRI di Salatiga dan sekitarnya, yang waktu itu menjadi ibu kota Karesidenan Semarang.

Lalu, dibentuk badan koordinasi organisasi pemuda seluruh Karesidenan Semarang. Saya dipilih menjadi koordinator dari 17 organisasi pemuda. Saya dipilih karena saya dikenal sebagai penghuni lama di Salatiga.

Salah satu kesempatan yang sangat menyenangkan adalah merayakan Hari Kartini, 21 April 1946, dalam suasana merdeka. Sebagai ketua, saya membagi-bagi tugas  pada organisasi. Yang menyenangkan, waktu itu, kesatuan nasional masih utuh, masih bulat. Semua organisasi, kecuali pembagian pekerjaan yang cukup rapi, semua bisa kerja sama dengan kerukunan, tak terjadi hal-hal yang tak mengecewekan.

Saya suka menghimpun buku-buku yang disita dari rumah-rumah Indo, dan dikumpulkan di kantor Komite Nasional Indonesia (KNI). Sekretarisnya teman saya, namanya Soewondo—suami pertama Nyonya Hartini Soekarno. Akhirnya Pak Soewondo mengajak saya mengatur perpustakaan KNI. Banyak buku filsafat, tapi kebanykan bacaan popular. Ada yang dari rumah seorang dokter yang punya buku tiga dinding rumah. Tadinya, buku-buku itu ditumpuk saja di kantor Laskar Rakyat. Setelah aksi militer Belanda, nasib buku-buku itu tak saya ketahui lagi.

Sebagai bujangan, saya mempunyai teman-teman kumpul-kumpul sesama bujangan. Waktu itu di antara teman saya adalah Pak Adi Sucipto—yang kemudian gugur dan namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Yogyakarta.

Setelah ada perjanjian Linggarjati, sebagai ketua badan koordinasi pemuda, saya diminta memberi sambutan di hadapan massa di Ambarawa. Hadir di alun-alun Ambarawa sekitar seribu orang. Penduduk waktu itu sepi, Cina-Cinanya mengungsi. Ini peristiwa kedua yang cukup berkesan yang saya alami. Tugas badan koordinasi di Semarang waktu itu adalah memberikan penjelasan mengenai persetujuan Linggarjati. PNI dan Masyumi, misalnya, tak setuju dengan perjanjian itu. Saya salah seorang yang setuju. Dengan kesediaan Belanda melakukan perundingan, sudah menunjukkan pengakuan Belanda secara de facto. Meski pengakuan secara de jure belum.

Tahun 1947 Salatiga diserbu Belanda. Malam gelap gulita, toko banyak dirampok. Saya berada di belakang Hotel Kalitaman. Malam itu saya mesti menentukan, mengungsi atau tidak. Saya waswas karena saya menjadi ketua organisasi pemuda. Yang menjadi hantu waktu itu adalah Nevis, dinas rahasia Belanda. Kalau sampai terpegang itu, bisa mati saya. Maka, untuk amannya saya mengungsi.

Saya bergabung dengan warga kampung. Kami ke luar kota, menyeberang sungai, dengan jalan kaki selama 4-5 hari. Saya lalu ketemu dengan beberapa orang murid saya dan mereka menawari untuk pergi sama-sama ke Yogya atau ke Solo. Saya terima.

Kaki rasanya sakit sekali. Sehari hanya bisa menempuh 30 km. Sebelum sampai di Yogya, beberapa hari saya menginap di Solo, di tempat saudara.

Akhir Juli 1947 sampai tahun 1950 saya tinggal di Yogya. Saya masih sempat melayat Pak Adi Sucipto yang pesawatnya ditembak Belanda. Pelayatan waktu itu amat sederhana. Jenazah—kalau tidak salah ada tiga jenazah—disemayamkan dulu di Rumah Sakit Bethesda. Lalu diiring ke makam Pakuncen. Iring-iringan pelayat menuju ke makam tak begitu panjang, hanya terdiri dari keluarga, teman dekat, dan beberapa dari AURI.

Di Yogya, saya memberi les privat bahasa Indonesia pada Nyonya Urip Sumoharjo, dua kali seminggu. Beliau ini lingkungan gaya hidupnya Eropa, bahasa Belanda. Begitu proklamasi, bahasa Indonesianya tak memadai.

Saya menikah dengan Sri Kadaryati. Waktu saya menikah usia saya 27 tahun dan istri saya 20 tahun. Kami bertemu di pengungsian tahun 1945. Lalu kawin 6 Mei 1948. Mungkin karena itu saya mendapatkan julukan dalam majalah Sarinah sebagai “Pengantin Revolusi”, bukan pahlawan revolusi. Keluarga mertua saya mengungsi di Muntilan.

Dari perkawinan itu kami dikarunia dua orang anak, satu laki-laki, Nimpuno, dan satu perempuan, Roswita. Dari keduanya saya mendapat tiga cucu.

LAHIRNYA SEORANG SEJARAWAN

SAYA mulai kuliah di Fakultas Sastra UI  jurusan Sejarah tahun 1950. Waktu itu banyak yang kuliah lagi ke Jakarta. Sebelumnya, selama 10 tahun, saya hanya mondar-mandir dalam kegiatan politik yang cukup mengasyikkan. Setelah saya ke Jakarta, saya melepaskan kegiatan politik.

Waktu itu dosen saya Profesor Berling untuk filsafat, Profesor Bernet Kempers untuk sejarah kuno dan arkeologi, dan tentu juga Profesor Resink untuk sejarah Indonesia. Guru yang paling saya kagumi adalah Profesor Burger. Saya kira perhatian saya terhadap aspek sosial ekonomi dalam sejarah dibangkitkan oleh kuliahnya. Saya menikamti sebagian besar dari kuliah Profesor Burger, sebab beliau mempersiapkannya baik-baik.

Kuliah para Profesor itu dalam bahasa Belanda. Itu lebih menguntungkan saya dibandingkan dengan rekan mahasiswa yang jauh lebih muda. Malahan skripsi sarjana saya tulis dalam bahasa Belanda di bawah bimbingan Beerling. Tema skripsi itu adalah perbandingan antara masyarakat Abad Pertengahan dan Modern di Eropa, dengan ilustrasi filsafat sejarah.

Terus terang, jurusan sejarah kami di Jakarta waktu itu sangat lemah. Pada suatu waktu di UI saya praktis sendirian. Teman lain pada pindah ke arkeologi. Saya masih ingat, suatu hari Profesor Resink bertanya kepada saya, “Mengapa tidak pindah saja ke fakultas sosial ekonomi?” Saya tak menyesal tidak mengikuti nasehatnya. Saya berkeyakinan bahwa suatu waktu, di antara 80 juta atau 90 juta orang Indonesia (waktu itu) paling sedikit harus ada satu sarjana yang mengkhususkan diri dalam sejarah Indonesia. Saya lulus sebagai sarjana sejarah pertama di Indonesia Februari 1956.

Kebetulan, satu hal yang perlu dilaksanakan setelah saya menjadi sarjana adalah menulis sejarah nasional. Terutama untuk kebutuhan sekolah, dan kedua, untuk mengganti sejarah warisan Belanda. Waktu itu tahun 1957, diselenggarakan Seminar Sejarah Nasional I. Saya mendapat kesempatan menjadi pemberi saran. Setelah saya, banyak orang masuk jurusan sejarah.

Penulisan sejarah menjadi penting sejak tahun 1950. Saya sendiri mendapat kesempatan melaksanakannya. Meskipun tidak selalu berhasil, saya mendapat kesempatan mewujudkannya. Terutama mewujudkan buku Sejarah Nasional Indonesia yang memiliki posisi penting.

Berbicara tentang sejarah, pengetahuan sejarah, terutama sejarah nasional, diperlukan untuk membangkitkan kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah melandasi kesadaran nasional. Kesadaran nasional adalah pangkal dari seluruh nasionalisme idiologi pembentukan bangsa. Terserah umum menyadari atau tidak, ini bisa dilacak secara logis.

Pada kesempatan yang lain, dalam suatu seminar, saya katakan kita masih menghadapi kendala-kendala. Yakni, adanya konsepsi yang salah mengenai kesejarahan, misalnya, banyak teman wartawan menanyakan pada saya “Pak Sartono, sebagai seorang sejarawan penyusun Sejarah Nasional Indonesi, bagaimana perasaan Bapak menghadapi revisi buku itu?” Pertanyaan seperti ini timbul dari pikiran seolah-olah kalau buku sejarah direvisi, langsung si penulis terkena. Lho, ini kan salah. Revisi itu biasa sekali. Semua sejarah pasti ditulis kembali. Setiap generasi lazim menulis kembali sejarah dengan wawasan generasi itu yang tentu saja lain dengan generasi sebelumnya. Revisi itu amatlah wajar.

Tak ada penulisan sejarah yang final. Ada penulisan seperti zamannya rezim Stalin di Soviet yang mengatakan penulisan sejarah harus begini. Tapi begitu Stalin meninggal, penulisan sejarahnya dirombak. Bahkan nama Stalin harus dibuang.

Tentu repot kalau sejarah ditulis dengan cara seperti itu. Anggapan yang mendasari itu kekanak-kanakan. Seperti anak SD, yang mengira bahwa apa yang ditulis dibuku ya seperti itu realitasnya. Tidak diketahui bahwa semua sejarah penulisannya subjektif. Artinya, melekat dalam tulisan itu cirri-ciri si subjek. Ciri generasi, ciri kelompok, tidak mungkin lepas sama sekali.

Dari sudut lain, kalau tidak ada konsepsi yang salah,pasti tidak ada gedung-gedung dirobohkan seperti sekarang. Kontradiksi yang terjadi kini di Indonesia adalah di satu sisi ingin memajukan parawisatanya, tapi di pihak lain, karena tak ada wawasan historis, gedung-gedung kuno dibongkar. Ini kontradiktif. Mana ada turis mau lihat gedung-gedung baru saja?

Saya baru belajar sepuas-puasnya waktu dikirim belajar oleh Departemen P dan K ke Yale University, Amerika Serikat, tahun 1962.Waktu berangkat ke Amerika, istri saya ikut, anak-anak saya titipkan ke neneknya.

Saya memilih disiplin ilmu lain seperti ilmu politik, antropologi, dan sosiologi. Jadi , bukan sejarah. Saya ingin menyerap lebih banyak metodologi interdisiplinernya. Saya lulus MA tahun 1964.

Disertasi saya berjudul The Peason Revoult of Banten in 1888, Its Condition, Coursen Seguel: A Case Study of  Social Moverment in Indonesia. Sebelum berangkat ke luar negeri, saya memang berniat menulis tentang gerakan sosial. Antara lain mengenai Budi Utomo. Tapi promotor saya, Profesor Sukanto, meninggal. Lalu saya dengan ada orang Jepang yang menggarap masalah Budi Utomo. Tapi saya juga berminat mempelajari tentang Ratu Adil (Messeanisme) dalam sejarah Indonesia. Waktu itu saya juga berurusan dengan penulisan sejarah nasional.

Dengan berbagai alasan tersebut, ternyata semuanya tercakup dalam disertasi yang saya tulis mengenai Pemberontakan Petani Banten. Di sini ada gerakan sosialnya, sejarah nasionalnya, masalah Messeanismenya. Juga tercakup peranan bangsa sendiri. Petani punya peranan, tapi tak pernah disebut dalam sejarah yang ditulis oleh sejarawan Belanda. Padahal dalam antropologi dan ilmu politik, petani menjadi pusat. (Penyalin dari TEMPO:  saya ongkos salin pada rental (T.A. Sakti).

 

(Sumber: Majalah TEMPO, 24 Oktober 1992 hlm. 44 – 66).

Catatan: Beberapa foto yang dipasang TEMPO(insya Allah akan saya scan nanti)

1. Di ruang kerjanya: terlihat beliau sedang membaca dengan ‘alat membaca khas beliau’. “saya tidak menyesal memilih sejarah”.

2. Bersama Presiden Soeharto ketika mendapat penghargaan, tahun 1990.

3. dst..dst…..

  

Lee turun, Goh Naik. Apa Bedanya ?

Lee turun, Goh Naik.

Apa Bedanya ?

 

Goh Chok Tong, perdana menteri baru Singapura berjanji akan

memakai sepatunya sendiri. Banyak yang sangsi, karena Lee

Kuan Yew akan duduk sebagai menteri senior.

Lampu warna-warni menghiasi hampir semua kompleks pertokoan. Sementara itu, sampai pukul 11 malam pekan lalu, taman-taman kota masih dipenuhi muda-mudi yang lagi pacaran. Tempat makan model Pecenongan, yang di sana namanya Food Street, penuh sampai pagi.

Namun jangan dihubungkan itu semua dengan turunnya Perdana Menteri Lee Kuan Yew (67 tahun), dan naiknya Goh Chok Tong (49 tahun) sebagai pemimpin baru, yang akan dilangsungkan Rabu pekan ini. Kemeriahan semua pusat pertokoan itu adalah untuk menanti Natal. Tak kelihatan sehelai bendera, umbul-umbul, atau spanduk pun yang mengucapkan selamat pada Goh. Konon, jauh sebelumnya sudah ada pesan dari Goh, agar peristiwa pelantikannya tak usah dibesar-besarkannya.

Namun, di samping pesan Goh, bila peristiwa ini tak diramaikan, mungkin karena suksesi ini berjalan tanpa huru-hara. Orang tak perlu cemas. Tanyalah dari supir taksi sampai penjaga hotel, mereka yakin semuanya bakal beres. Atau, karena demikian mulusnya pergantian penguasa ini, orang pun berani bertaruh, bahwa tak ada perubahan apa pun, hingga tak perlu ucapan selamat. “Tak akan ada perubahan. Dari PAP ke PAP juga. Buat apa ramai-ramai?” kata seorang pejabat pemerintah yang tak mau disebutkan identitasnya. PAP, People Action Party atau Partai Aksi Rakyat, sudah menguasai kota itu sejak ia merdeka pada 1963, dan waktu itu masih menjadi bagian Malaysia.

Bila dicari, apalagi di kalangan anak muda, sebetulnya reaksi pada suksesi ini ada juga. Misalnya, Low Thia Kiang, Sekretaris Partai Buruh yang juga penguasa pabrik alumunium. Ia tak puas dengan dunia politik Singapura yang penuh tekanan. “Tapi mau apa lagi?”, katanya.

Yatiman Yusof, sekretaris parlemen yang PAP, melihtanya dari sudut lain. Proses suksesi itu katanya, sudah lama dibicarakan. Bahkan sudah sejak 1976 Lee Kuan Yew mengatakan akan mundur. “Kalau orang sudah ngomong sepuluh tahun untuk soal yang sama, ya membosankan,” katanya dalam bahasa Inggris bagus.

Sudah sejak 1984 orang mulai bicara dengan lepas tentang peralihan dari Lee ke Goh. Pada pesta kemenangan PAP dalam pemilu terakhir , 4 September 1988, Goh memberi ancar-ancar. “Saya akan jadi Perdana Menteri dalam dua tahun lagi,” katanya kepada wartawan. Lalu Goh mengatakan lagi, waktunya antara akhir November dan minggu pertama Desember 1990. Itulah yang terjadi.

Susunan kabinet baru pun tak mengejutkan. Akhir Oktober Goh menyebut Ong Teng Cheong dan B.G. Lee – anak Lee Kuan Yew – sebagai Wakil Perdana Menteri. Lee muda diberi keistimewaan: ia akan mewakili sebagai pejabat Perdana Menteri apabila Goh berhalangan. Alasan Goh sangat mudah. Kalau ia hanya berpikir untuk tiga atau lima tahun saja, katanya, yang dipilihnya adalah Ong Teng Cheong atau Tonny Tan. Namun, ia mesti berpikir jauh, demi masa depan negara. Susahnya, dengan pilihan itu, banyak yang menganggap ia tak lebih “menghangat kursi.”

“Bagi saya, B.G. Lee adalah mitra, bukan saingan,” kata Goh di muka komprensi kadet PAP, pertengahan November lalu. Ucapan itu justru memancing spekulasi bahwa di antara mereka memang ada rivalitas. Bahkan ada yang mengatakan, dalam kabinet pun sekarang sudah ada dua kubu. Goh punya konco, sementara B.G juga punya geng seperti Wong Kan Seng (menteri luar negeri), Mah Bow Tan, dan George Teo. Ada juga yang “netral”. “susah untuk mengatakan dengan jelas ini orang Goh, itu orang Teo,” kata seorang wartawan senior Singapura.

Keputusan paling penting tapi juga sudah bisa ditebak adalah pengangkatan Lee Kuan Yew sebagai senior minister. Menurut protokoler, pangkat itu adalah tertinggi kedua, setelah perdana menteri. Lee juga akan tetap sebagai sekjen PAP. Tradisi di mana-mana, seperti Partai Tory di Inggris, bos adalah perdana menteri. Di sini baru uniknya politik Singapura. Lee tetap sekjen, selagi Goh perdana menteri

Namun, menurut Goh, tadinya ia ingin mengambil alih jabatan sekjen itu. Ia memutuskan mempertahankan Lee pada jabatan itu karena ia memerlukannya sebagai “penjaga Gurkha” untuk Singapura. Rumah para pejabat Singapura memang dijaga tukang pukul Gurkha yang dikenal setia. “Mr Lee unik. Ia bisa mempengaruhi siapa saja yang diinginkannya,” kata Goh pada para wartawan Indonesia tentang mentornya itu. Di dalam kabinet ia akan menjadi seorang “konsultan”.

Untuk kalangan oposisi, kedudukan Lee yang masih tetap menentukan jelas buruk. Kata Chiam See Tong, Ketua Singapure Democratic Party (SDP), keadaan baru baik kalau Lee benar-benar mundur. Chiam, satu-satunya tokoh oposisi sebenarnya di parlemen, menganggap Lee sebagai sosok politikus yang hidup di masa-masa sulit. Ia hidup di zaman kolonial Inggris, pendudukan Jepang, dan perjuangan melawan komunis. Tipe pemimpin seperti itu tak kenal kompromi, kata Chiam.

Kondisi sekarang tak cocok untuk tipe pemimpin seperti Lee. Chiam mengakui prestasi Lee yang luar biasa. “Ia adalah George Washington-nya Singapura,” kata pengacara yang bertubuh atletis yang berkantor di ruangan kecil milik orang India itu. Stabilitas politik diakuinya sebagai jasa Lee. Demikian juga dengan sistem hukum yang baik dan pemerintah bersih korupsi. Namun, Lee, menurut Chiam, sangat paternalistik. PAP disebutnya partai yang telah menyiapkan segala tatanan.

Masalahya, sejalan dengan perkembangan Singapura, kepemimpinan paternalistik mungkin tak cocok lagi. “Kami memerlukan perubahan gaya. Tak bisa lagi dipertahankan sebuah pemerintahan yang tak punya toleransi terhadap pandangan berbeda,” kata Chiam menegaskan.

Ia menaruh harapan besar pada Goh, yang dalam penilaiannya gayanya bisa diterima rakyat. Goh lebih lunak, komunikatif, dan selalu mencari consensus. Ia berharap oposisi bisa berperan.

Namun, J.B. Jeyaretnan, sekjen Worker’s Party, punya pandangan lain. Ia pesimistis terhadap suksesi ini. “Saya kira tak akan hanya perubahan. Apalagi Lee tetap jadi sekjen PAP. Jadi, apa bedanya?” kata Jeya.

Sebenarnya, perbedaan itu diam-diam sedang direncanakan. Parlemen kini sedang menyiapkan sebuah RUU yang akan memberi kekuasaan lebih besar pada presiden. Berdasarkan pada RUU tersebut, presiden akan dipilih oleh rakyat. Masih diperdebatkan apakah langsung seperti di Amerika atau sistem perwakilan seperti di Indonesia, atau bagaimana. Yang sudah pasti, presiden terpilih akan punya hak veto untuk pengangkatan pejabat kunci dan juga penentuan bujet.

Segera saja timbul spekulasi bahwa Lee akan menempati posisi itu, secara tak langsung. Menurut rencana, Wee Kim Wee, presiden sekarang, akan menjadi presiden pertama yang dipilih, sedangkan Lee akan jadi yang kedua. Memang kontradiktif terdengarnya, sementara ada pemilihan, tapi siapa yang terpilih sudah ditentukan.

Karena itulah pihak oposisi, terutama Chiam, tak begitu antusias terhadap perubahan itu. Diakuinya, bila UU itu sudah berlaku, pemilihan presiden akan menjadi sesuatu yang sangat penting artinya. Namun, kalau yang terpilih seorang yang paternalistik seperti Lee, dan partai berkuasa mendominasi segala hal seperti PAP sekarang, sementara rakyat akan tetap apatis.

Keadaan akan lebih runyam lagi kalau yang terpilih sebgai presiden berasal dari bukan partai penguasa. Keadaannya akan repot karena segalanya akan macet.

Akhirnya, yag ditunggu adalah janji Goh, sebagaimana yang dikatakannya pada International Herald Tribune dua pekan lalu, untuk memerintah dengan lebih demokratis dan lebih lunak.

Setalah Pertemuan

Tengah Malam

 

Goh Chok Tong sudah memberikan kesan sederhana pada awal pelantikannya. Ia lebih suka memilih suatu ruang kecil di City Hail. Di tempat itulah, 31 tahun lalu, Lee Kuan Yew dilantik pertama kali. Tampaknya pergantian pimpinan ini seperti mengganti pilot dengan copilot (lihat wawancara). Menengok sejarah keduanya, memang Lee jugalah yang mendorong Go memasuki dunia politik.

Goh, kini 49 tahun, pada mulanya ingin jadi ahli ekonomi. Karier pertamanya memang sebagai Direktur Eksekutif Orient Lines. Di tangan Goh perusahaan perkapalan negara itu berkembang pesat. Tak sia-sia ia mengantungi master ekonomi pembangunan dari William College, Massachusetts, AS.

Melihat bakat Goh, orang nomor satu di Singapura mendorong Goh terjun ke gelanggang politik. Goh, yang semula ogah-ogahan, entah kenapa, akhirnya setuju.

Pada 1976, Goh jadi anggota parlemen, mewakili partai PAP (Partai Aksi Rakyat). Hanya setahun dikursi itu, Goh terpilih menjadi Menteri Keuangan. Dua tahun  berikut sudah pindah lagi ke kursi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Sementara itu, posisinya di PAP pun ikut meroket: sebagai asisten kedua Sekjen PAP, orang ketiga terpenting di partai berkuasa itu.

Pada 1980, Goh “dites” lagi, sebagai ketua komite pemilihan selang dan persiapan pemilu 1980. Ternyata, ia lulus dengan pujian. Prestasi sebagai manajer kampanye partai membuat Goh dipercaya untuk mengepalai tim seleksi calon pemimpin generasi ketiga PAP.

Yang kemudian memberikan nilai plus bagi Goh adalah caranya yang unik dalam menyeleksi calon. Pria berkaca mata minus itu mengundang calon-calon yang diincar secara informal, minum the di rumahnya, tiga minggu sekali. Di antara pertemuan ini Goh melirik calon yang dianggap memenuhi syarat. Kalau mereka lolos, Goh baru memperkenalkan mereka kepada anggota tim seleksi lainnya.

Dari situ Goh ditarik ke kabinet lagi, sebagai menteri kesehatan merangkap menteri pertahanan. Sementara itu, dalam partai, dari orang ketiga, ia ditarik jadi orang kedua.

Sebenarnya, dalam kelompok PAP generasi kedua, ada banyak calon kuat. Goh dikelilingi oleh enam tokoh muda lainnya. Antara lain Tonny Tan (menteri perdagangan dan industri) Ong Teng Cheong (menteri non-departemen), Suppiah Dhanabalan (menteri luar negeri dan pendidikan, Jayakumar (menteri dalam negeri) dan Yeo Ning Hong (menteri negara urusan pertahanan).

Bila akhirnya Goh yang dipilih, ada cerita tersendiri. Sekitar 1984, ketika perolehan suara PAP menurun, “kami yang muda-muda sangat prihatin,” tutur Goh, sekitar enam bulan lalu. Maka, mereka bertekad berperan di depan agar menguasai segala persoalan.

Waktu itu disepakati, di antara mereka harus ada yang berdiri paling depan. “Penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin di antara yang muda-muda ini sangat mendesak,” ujar Goh. Akhirnya ketujuh anggota generasi kedua ini sepakat untuk bertemu di rumah Tonny Tan pukul 10.30 malam.

Goh terlambat hadir. Ia punya acara yang tidak bisa ditinggalkan, sebagai tamu kehormatan di daerah pemilihan. Rupanya, keenam rekannya sudah membuat putusan. “Kami sudah sepakat,” kata Tonny, “Kamu yang akan memimpin kami.” Saat itu Goh memang sudah di atas angin. Ia menjabat asisten pertama Sekjen PAP.

Entahlah, apakah setelah menjadi PM, Goh masih sempat menyalurkan hobinya: main tenis dan golf. Atau memberi waktu untuk keluarganya, misalnya bermain-main dengan sepasang anak kembarnya.

Setelah Kopilot Menjadi Kapten

Lee Kuan Yew tentang suksesi, Presiden Soeharto, ASEAN, dan oposisi. Wawancara Tempo dengan PM yang pekan ini menyerahkan jabatan pada

Goh Chok Tong.              

 

Alih kekuasaan di Singapura berjalan mulus. Itulah kesan para pengamat sehubungan dengan pelantikan Goh Chok Tong pada Rabu pekan ini. “Itu telah kami persiapkan sejak lima tahun yang silam,” kata Perdana Menteri Lee Kuan Yew, Senin pekan ini, ketika menerima enam wartawan Indonesia, antara lain wartawan Tempo Fikri Jufri.

Di ruang tamu istana negara, tempat wawancara bersama itu dilakukan, Lee tampak santai dan banyak tertawa. Mengenakan kemeja lengan pendek, celana dril hijau muda, dan jaket abu-abu, orang nomor satu Singapura itu kelihatan siap menjawab berbagai pertanyaan. Wawancara berlangsung lebih sebagai diskusi daripada tanya jawab. Berikut ini adalah beberapa petikannya dari wawancara tersebut, ditambah kutipan dari pertanyaan tertulis Tempo yang diajukan beberapa hari sebelumnya.

Apa yang mendorong Anda merasa siap melepaskan kendali pemerintahan pada Goh. Konsep Anda tentang kekuasaan?

 

Secara ekonomi negeri Singapura boleh dikatakan telah mencapai taraf lepas landas. Ini menyebabkan kami menghadapi dua pilihan sulit: menunggu sampai mencapai ketinggian jelajah tertentu dan menyerahkan kemudi kepada para penerus, atau serahkan kendali itu sekarang meskipun kami masih mendaki. Kalau kami ambil alternatif pertama, ada bahaya bagi kopilot. Ia tak akan punya waktu untuk merasa dirinya siap jadi pilot.

Kami akhirnya tiba pada keputusan membiarkan kopilot menjadi kapten pesawat negeri ini dan kami yang tua-tua jadi kopilotnya. Kalau saja posisi Singapura ibarat pesawat masih ada di landasan, kami tak berani melakukan itu. Untunglah, keadaan ekonomi kami sudah demikian maju sehingga kami merasa sudah tiba waktunya mengalihkan kekuasaan kepada para pemimpin generasi muda. Itulah latar belakang dari keputusan kami.

Tapi, Anda kan tahu tentang dilema suatu kekuasaan yang biasanya tak begitu mudah dilepaskan kepada orang lain. Bagaimana Anda bisa menghindari dilema tadi meskipun terdengar juga tudingan Anda telah melakukan akumulasi kekuasaan?

 

Peran saya adalah wasit dari sebuah negeri penganut ekonomi bebas. Ia harus adil, tak bisa dipengaruhi lantaran koneksi atau menerima hadiah. Tak berarti kami tak ingin melihat orang jadi kaya. Di negeri ini punya banyak orang kaya daripada para pemimpin politik. Masing-masing tahu akan perannya. Kalau orang ingin cari duit agar jadi kaya, mereka bebas bergerak di berbagai bidang mulai dari perusahaan swasta, dokter, pengacara, arsitektur, dan lain-lain.

Dilihat secara fisik Anda sehat, padahal banyak pemimpin dunia yang lebih tua dari Anda. Faktor lain apa yang mendorong Anda memutuskan pengunduran diri sekarang?

Kaum eksekutif di negara-negara maju pensiun pada usia 65 tahun, demi vitalitas dan sistem suksesi yang teratur. Saya sebenarnya sudah siap mengundurkan diri pada usia 65 di tahun 1988. Tapi, Chock Tong meminta saya tetap pada kedudukan saya supaya ia dapat mengonsolidasikan kedudukannya di kalangan para pemimpin Indonesia dan Malaysia. Sekarang ia sudah siap mengambil alih kekuasaan.

Banyak yang mengatakan Anda akan jadi menteri senior atau malah menjadi presiden. Apakah Anda berencana memainkan peranan sebagai pelindung pemerintah Goh?

 

Tugas utama saya sebagai menteri senior adalah membantu Goh memenangkan pemilu yang akan datang. Saya telah memenangkan delapan pemilu. Saya tahu bagaimana mengajukan kebijaksanaan-kebijaksanaan tak popular dengan cara tertentu sehingga menjelang pemilu rakyat menyadari itu perlu dan bermanfaat. Karena itu, mereka memilih kami lagi. Goh dan timnya akan memperkembangkan keahlian mereka dengan menghadapi berbagai pengalaman seperti itu.

Mengapa Anda menunjuk Goh dan bukan B.G. Lee sebagai pengganti Anda?

 

Saya tidak menunjuk Goh. Para menteri lebih mudalah yang memilihnya sebagai pemimpin mereka setelah memenangkan pemilu pada Desember 1984. B.G Lee tak ditunjuk sebagai pengganti saya lantaran menteri-menteri itu tak memilihnya.

Tampaknya, Anda punya suatu peraturan khusus yang dikenakan terhadap orang Melayu dan susunan etnis di Singapura. Apakah menurut Anda kebijaksanaan itu harus terus dilakukan?

 

Saya tak punya “peraturan” istimewa terhadap orang Melayu Singapura. Kalau yang dimaksudkan itu untuk menentukan persentase jumlah penduduk Melayu, sebenarnya persentase itu sekarang sudah naik dari 12% pada 1945 jadi 15% pada 1990. Jumlah itu tak akan berubah secara dramatis dalam 45 tahun mendatang. Walaupun ada perbedaan dalam angka kelahiran setiap ras, jumlah itu tak cukup besar untuk mengubah susunan masyarakat Singapura secara fundamental. Singapura adalah negeri berbilang kaum (multirasial).

Hari depan ras Melayu bergantung pada yang 190 juta di Indonesia dan Malaysia. Hari depan ras India bergantung pada 700 juta orang India di India sedangkan yang Cina bergantung pada 1,1 milyar yang ada di daratan Cina. Pendekatan yang paling baik bagi Singapura adalah tetap seperti sekarang ini dan mempertahankan harmoni dan persatuan di kalangan ras-ras itu.

Anda yang mengatakan Anda terlalu pragmatis. Anda telah memajukan ekonomi Singapura dengan cepat, tapi di balik itu sepertinya Anda kurang memperhatikan ideologi dan identitas nasional. Benarkah pendapat itu?

 

Saya yakin kalau ideologi dan identitas nasional harus berkembang dengan perlahan. Sebagai hasil percobaan-percobaan kami dan respons kami terhadap banyak masalah dan kesulitan, kami akan menciptakan suatu ideologi nasional dan identitas nasional. Kalau kedua hal itu terlalu dipaksakan, yang didapat hanyalah kegagalan.

Nampaknya, Anda pengagum Presiden Soeharto, dan berpendapat Goh bisa jadi seorang Soeharto yang tak suka banyak bicara. Tapi, Anda pintar berpidato. Apakah bisa dikatakan PM Lee sebagai kombinasi antara Soekarno dan Soeharto?

 

Wah, saya tak punya karisma seperti Soekarno yang bisa pidato berjam-jam, tanpa teks, tanpa persiapan. Saya tak memiliki stelan yang bisa menggetarkan seperti itu. Saya lebih suka menggunakan pendekatan lebih intelektual ketimbang emosional. Soekarno sering bisa tampil dari satu pidato ke pidato yang lain. Saya lebih suka mempraktekkan dulu isi pidato pertama sebelum pindah ke pidato lain.

Soeharto tak suka pidato panjang-panjang, tapi ia menyediakan lebih banyak waktu untuk berunding dengan para menteri dan penasehatnya. Sebelum mengambil keputusan, Soeharto menyediakan waktu untuk mempertimbangkannya dulu, kadang untuk waktu cukup lama. Tapi, begitu merasa yakin, ia akan melaksanakan dengan konsisten. Itulah rahasia sukses Soeharto sebagai pemimpin.

Anda sudah sekian lama memimpin dan menjadi panutan. Karenanya, apakah Goh tak akan menengok dulu pada Anda sebelum ia mengambil suatu tindakan penting?

 

Tidak, tidak. Bagaimanapun ia selalu akan menoleh ke saya kalau saya tak hadir di situ. Dia telah dan akan tampil dalam berbagai sidang, dan dia telah dan akan mengambil sendiri keputusan. Kami berdua sudah bekerja sama selama 14 tahun. Ia sudah bisa membaca apa yang ada pada benak saya. Mana mungkin kami bisa bekerja sama kalau tujuan kami tak seiring? Hanya saja cara untuk mencapai sasaran bisa berubah, bergantung pada keadaan.           

Hubungan Anda dengan Presiden Soeharto nampak semakin akrab walaupun latar belakang masing-masing berbeda. Betulkah?

 

Ada kesamaan pendekatan antara saya dan dia, di samping perbedaan-perbedaan antara kami yang menurut saya superfisial. Saya tak bisa bicara tentang Soeharto lantaran saya bukan dia. Kami memiliki rasa pendekatan yang sama baik dalam melihat suatu masalah maupun dalam menilai orang lain. Saya rasakan itu dan karenanya kami bisa menjalin hubungan tanpa perlu banyak bicara. Itulah yang menurut saya hubungan nonverbal.

Dia seorang yang baik dan saya bisa mengandalkannya setiap kali kami mencari penyelesaian atas suatu masalah. Saya percaya Presiden Soeharto menganut cara pendekatan yang sama. Presiden Soeharto tak selalu menggunakan argumentasi logis, tapi ia lebih bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kami berdua bukan orang teori dan tak begitu percaya pada itu. Saya berkesimpulan cara Soeharto memecahkan persoalan sama dengan yang saya selalu lakukan. Goh Chock Tong juga termasuk orang yang tak terlalu percaya pada teori.

Namun, ada kesan bahwa Andalah yang sering menyesuaikan diri dengan Soerhato…

 

Dia ramah. Dia bisa menerima saya bukan perokok, karena mata dan hidung saya sakit kalau kena asap. Tapi, mungkin tak banyak orang yang tahu dalam pertemuan “empat mata” Presiden Soeharto bisa berbicara banyak, dan itu terasa lebih efektif. Chok Tong adalah orang tipe demikian.

Banyak yang beranggapan Cina di Asia, termasuk etnik Cina, memainkan peranan dominan terutama di sector ekonomi. Komentar Anda?

 

Saya anggap itu mitos. Kalau orang Singapura berunding dengan wakil-wakil perusahaan negara RRC, jangan dikira itu berjalan mulus dengan sendirinya. Cina yang sedang menggalakkan modernisasi punya kepentingan sendiri. Juga kalau saya bertemu dengan orang keturunan Cina Filipina, mereka juga lain karena gaya mereka lebih mirip Amerika, Cina Malakapun, yang sudah ratusan tahun tinggal di sana, amat berbeda dengan orang Cina di negeri lain. Persamaannya, mereka yang di mana pun sangat mementingkan kelaurga, hidup hemat, dan mengutamakan pendidikan.

Bagaimana persepsi Anda tentang Asia Tenggara seandainya tercipta perdamaian di Kamboja? Mungkinkah itu menampilkan wajah Asia yang kohesif dengan mengikutsertakan negara-negara Indocina dalam suatu sistem regional seperti ASEAN?

 

Saya kira persatuan ASEAN perlu dipertahankan. Kita belum perlu memasukkan Vietnam, Kamboja, dan Laos ke dalam ASEAN. Sekalipun demikian, kita mesti membantu mereka karena, menurut perhitungan saya, Vietnam membutuhkan sekitar 10 tahun untuk mengubah ekonomi komando jadi ekonomi pasar bebas. Kita tidak boleh melupakan Burma. Ia bagian dari Asia Tenggara, dan memiliki posisi strategis sebagai jembatan dengan Asia Selatan.

Dua hari lagi Anda akan menyerahkan tongkat komando pada Goh. Apakah di hari baik itu pemerintah akan membebaskan tahanan politik Chia Thy Poh yang sampai sekarang ditempatkan di Pulau Santosa?

 

Dia diizinkan datang ke kota untuk bekerja. Tapi, harap diketahui, dia itu komunis. Kami terus memantaunya tanpa disadarinya. Ketika gembong komunis Malaysia, Chin Peng, menyerah Desember tahun lalu, Cina amat kecewa. Untuk gampangnya, boleh saja ia menuntut saya. Di Singapura, apabila ada seseorang menuduh orang lain komunis, itu berarti pencemaran nama, suatu perbuatan melanggar hukum. Jadi, kalau Cina mau, ia bisa saja mengadukan saya ke pengadilan.

Setelah Suksesi,

Demokrasi?

 

Cerita tentang oposisi di Singapura mungkin tak bisa dibanggakan sebagaimana pembangunannya. Satu-satunya oposisi di negeri pulau itu adalah Singapore Democratis Party (SDP), yang baru 10 tahun umurnya. Chiam See Tong, ketua SDP, satu-satunya wakil oposisi di parlemen sekarang.

Chiam, bapak satu anak yang sehari-hari bekerja sebagai pengacara, baru berhasil menembus parlemen lewat SDP pada tahun 1984. “Saya memperjuangkan demokrasi,” katanya di kantornya yang sempit, di pertokoan India di kawasan High Street.

Sebenarnya, ada oposisi lain di parlemen. Yakni Dr. Lee Siew Choh, dari Worker’s Party (WP). Hanya saja, Dr. Lee oposisi kelas dua. Ia duduk di parlemen karena jatah yang diberikan pada oposisi. Memang ada ketentuan, bila pihak oposisi hanya berhasil meraih kurang dari tiga kursi, akan ada anggota oposisi yang diangkat sampai jumlah kursi oposisi menjadi tiga. Anggota istimewa ini kemudian disebut sebagai Non-Constituency Members of Parlement (NCMP).

NCMP disebut anggota parlemen kelas dua karena mereka tak boleh memberikan suara untuk hal yang berkaitan dengan undang-undang atau anggaran. Jika misalnya ada mosi tidak percaya terhadap pemerintah, NCMP juga tak boleh ikut ambil bagian.

Lee Kuan Yew memang keras terhadap oposisi. Ia tak segan menuntut oposisi yang dianggapnya membahayakan. J.B. Jeyaretnam, Sekjen WP, adalah salah satu contoh korban sikap itu.

Pada 1981, setelah 15 tahun parlemen dikuasai hanya oleh PAP, Jeya berhasil duduk di lembaga itu. Pada pemilu 1984 ia masih bisa bertahan. Namun, dua tahun kemudian ia ditangkap, dituduh membuat pernyataan palsu dan memindahkan dana partai secara tidak jujur. Ia bukan cuma kehilangan kursi di parlemen, tetapi juga sempat dilarang melanjutkan prakteknya sebagai pengacara. Baru setelah ia mengajukan banding ke Privy Council  di London, hak prakteknya dipulihkan.

Namun, Agustus lalu, ia kena denda hampir Rp 300 juta karena pengadilan memutuskan ia mencemarkan nama baik Lee Kuan Yew. Ceritanya, dalam sebuah kampanye pemilu di Bedok, Agustus 1988, ia menghubung-hubungkan Lee dengan kematian The Cheang Wan, bekas menteri pembangunan nasional yang dinyatakan secara resmi mati karena bunuh diri.

Karena denda itu, Jeya hampir bangkrut. Untung, anggota WP membuka sumbangan, lewat media dua bulanan milik mereka, The Hammer. Karena hukum Singapura tak membenarkan soal mencari dana, Low Thia Kiang, Sekretaris WP, didatangi dan dibawa ke kantor polisi pada pukul 1.00 dini hari. Ia diinterogasi soal pengumpulan dana.

Ada tokoh oposisi yang terpaksa pindah ke Amerika, yakni Francis Seow, anggota WP yang diangkat sebagai NCMP bersama Dr. Lee Siew Choah. Desember tahun lalu ia diadili dengan tuduhan menghindari pajak. Seow terkena denda 19.000 dolar Singapura. Artinya, ia harus pergi dari parlemen karena anggota parlemen yang terkena denda lebih dari 2.000 dolar harus mundur.

Seow memang sudah lama diincar. Sebelumnya ia sempat 27 hari ditahan berdasarkan Internal Security Act (ISA). Berdasarkan ISA itu, pemerintah punya hak menahan orang tanpa diadili jika dianggap membahayakan keamanan negara.

Banyak korban ISA, antara lain Chia Thye Poh, bekas anggota Barisan Sosialis (BS), yang dituduh menjadi anggota partai komunis dan berniat menggulingkan pemerintah lewat aksi kekerasan. Sampai 19 tahun lamanya ia ditahan, pemerintah tak mengeluarkan pernyataan apa pun. “Baru tahun 1985 Menteri Dalam Negeri menjelaskan penahanan saya karena ada pertanyaan di parlemen,” tutur Chia, yang kurus dan berkaca mata tebal ini.

Akhirnya, Mei tahun lalu ia dibebaskan dengan syarat. Yakni harus tinggal di Pulau Santosa, kawasan wisata yang luasnya 3. Km2. Ia menempati sebuah rumah kecil 624 meter, bekas rumah jaga di Fort Siloso bekas benteng Inggris. Ia menyewa ruangan itu dari pemerintah, 90 dolar Singapura sebulan. Memang cukup nyaman, ada listrik, telepon, TV, kulkas kecil, dan tempat tidur. “Namun, ini ibarat kurungan. Biar dari emas juga tetap kurungan,” kata Chia yang sehari-hari sibuk jadi penerjemah. Boleh naik ke daratan Singapura cuma harus balik ke pulau begitu hari gelap.

Adakah masa yang lebih cerah di bawah Goh?

                                                                   Yopis Hidryst (Singapura)

 

( Sumber: Majalah TEMPO, 1 Desember 1990, hlm. 72 – 75). 

          

   

 

                    

 

 

Suluk, Melepas Diri dari Urusan Duniawi ( 1 )

                                           Suluk,  Melepas Diri dari Urusan Duniawi     ( 1 )

Suluk merupakan ibadah menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan melepaskan diri dari segala urusan duniawi. Pengikut suluk dilarang memakan makanan yang mengandung darah dan tidak diperkenankan berhubungan dengan masyarakat luar.  Bagaimana ibadah untuk dijalankan. Berikut ini ikuti laporan  Koresppnden Serambi  Suprijal dan Darul Qutni  CH  menelurusi kegiatan suluk di sejumlah Pesantren Aceh Selatan. Laporan ini dirangkum Zainun Yusuf.

Selama bulan suci Ramadhan ada kegiatan ibadah khas di sejumlah Dayah (pesantren) di Aceh. Sejak awal bulan Ramadhan, pria dan wanita terutama kalangan usia lanjut dengan bekal ala kadarnya ramai-ramai mendatangi Dayah guna mengikuti ibadah yang dinamakan Suluk. Di Aceh Selatan misalnya,  Dayah Darussalam Labuhan Haji dan pesantren Daruss’adah Kota Fajar  Kluet Utara. Pengikut suluk semakin bertambah dari tahun ketahun.
Ibadah suluk dilakukan menyendiri pada bilik dengan kain putih. Orang sering menyangka suluk sama dengan kalut, padahal keduanya terdapat perbedaan, di samping memang ada persamaan. Suluk rangkain kegiatannya dibimbing yang dinamakan Mursyid dan masih diperkenankan bicara dengan pengikut suluk lainnya walaupun terbatas pada hal penting saja.
Sedangkan kalut, ibadah menyendiri total dalam sebuah tempat melakukan ibadah kepada Allah SWT tanpa berbicara sepatah katapun . bila ada keperluan, komunikasi lewat surat. Peserta kalut ini tidak sembarang orang yaitu hanya  mampu dilakukan oleh orang yang telah memiliki pengetahuan agama cukup tinggi dan orang tersebut tidak lagi terpengaruh dengan kesenangan dunia ini. Sehingga peserta kalut ini sangat jarang, hanya satu dua Ulama, itu pun jarang di ketahui orang.
Kesamaannya  adalah pengikutnya dilarang memakan makanan yang berdarah dan nasi ala kadarnya, bahkan kalau peserta suluk persoalan makan telah ditentukan tekarannya oleh sebuah panitia.
Menurut Pimpinan Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Tgk Haji Mawardi Waly,  suluk terbagi tiga tingkatan, suluk 30, 20 dan 10 hari. Ibadah dilakukan dalam sebuah bilik (khalwat) meliputi doa, zikir, shalat sunat, dan membaca Al-Qur’an, sedangkan shalat fardhu dilakukan secara berjamaah. Bagi peserta suluk tidak ada waktu tanpa berzikir. Termasuk waktu berbaring lagi mata terpejam, tetap berserah diri kepada Allah SWT dengan berzikir dan berdoa.
Di dayah Darussalam,  pengikut suluk Ramadhan tahun ini tercatat 658 orang meliputi 553 kaum ibu dan 105 kaum bapak. Sekitar 80 persen berumur 50tahun  keatas dan 20 persen berusia 30 tahun kebawah . Diakui Tgk Haji Mawardi Waly , seperti biasanya pengikut lebih banyak  mengikuti suluk tingkat 20 dan 10 hari, sehingga sampai 20 Ramadhan nanti peserta suluk bisa mencapai seribu orang lebih.
Ibadah suluk merupakan ajran Tarikat Naqsyabandiah, yang dikembangkan oleh Syech Baharuddin Syahbandiyah sekitar 400 tahun setelah imam empat. Selama mengikuti suluk dilarang memakan makanan mengandung darah;  dimaksudkan untuk mengekang hawa nafsu. Agar ibadah suluk lebih khusuk, dilarang berhubungan dengan masyarakat luar , bahkan sesama pengikut suluk sendiri berbicara hanya terbatas perkataan penting saja. Misalnya, sudah shalat atau sudah makan, itu saja.
Pengikut suluk, sering menangis terutama ketika merenung arti kehidupan. Pembahasan soal kehidupan dunia dikupas oleh Mursyid dengan irama dan intonasi yang meluluh kalbu membuat peserta mengucur air mata.

Dengan demikian yang bersangkutan sudah menyatu dengan ibadah suluk, dan mampu melepaskan diri dari segala urusan dunia yang menjadi kesibukan luar biasa. Kemudian lewat ibadah suluk, pengikut berserah kepada Sang Maha Pencipta agar memperoleh keridhaannya dengan melakukan shalat Tahajut sampai larut malam.
Rangkaian kegiatan suluk selama  hampir 24 jam (Sehari Semalam) sangat sarat dengan amal ibadah. Terutama zikir yang dilakukan mencapai 5.000 sampai 7.000 kali, kemudian shalat sunat dan mengikuti ceramah Agama. Kendati demikian, panitia tidak mengabaikan masalah kesehatan pengikut suluk ini. Pada waktu pagi hari sekitar 7.00 sampai…..( satu-dua baris terpotong gunting!)
( Sumber:  Serambi Indonesia, Senin, 28 Februari 1994 halaman 7 ).

Suluk di dayah Darussa’adah Kota Fajar (2-Habis)

Suluk di dayah Darussa’adah Kota Fajar (2-Habis)

Kegiatan suluk yang sama juga dapat kita saksikan di Dayah Daruss’adah, Kota Fajar, Kluet Utara yang kini dipimpin oleh Tgk H Hasbi Nya’  Diwa. Tidak mudah untuk menelusuri kegiatan suluk di sini. Soalnya pimpinan Pesantren agak keberatan dipublikasi dengan alasan suluk bukan untuk gagah-gagahan,tapi ibadah berseri kepada Allah. Namun setelah diberi pengertian bahwa ajaran suluk juga bermanfaat bagi masyarakat yang sempat mengikuti, Akhirnya ulama  ini mengalah.

Seraya mengucap sebuah hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwatkan oleh Muad bin Jabal: “sesungguhnya sedikit dari ria itulah syirik.dan sesungguhnya orang yang memusuhi kekasih Allah , maka sungguh dia telah melawan Allah dengan peperangan. Dan sesungguhnya Allah mencintai orang yang taqwa lagi menyamarkan dirinya (tidak ingin masyhur) yaitu orang-orang kalau pergi  (tidak hadir) mereka dicari, dan kalau mereka hadir tidak diundang dan tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu yang memberi  petunjuk.’’
Hadist itulah yang dikutip Tgk H Hasbi Nya’ Diwa, ketika mulai diwawancara Serambi mengawali pembincaraan ibadah suluk di kediamannya.
Tgk.Hasbi Nyak  Diwa yang masyarakat memanggilnya Abon menjelaskan, sejak  21 Sya’ban atau sepuluh hari lagi menjelang puasa, sejumlah masyarakat sebagian besar terdiri dari orang tua-tua berdatangan ke Pesantren ini guna mengikuti ibadah suluk.
Para jamaah suluk ini-sebagaimana Ramadhan yang sudah-sudah- jumlahnya akan bertambah pada hari pertama, 10 dan 20 Ramadhan. Pengikut ini bukan saja datang dari berbagai wilayah  Kleut  Utara, bahkan dari berbagai kecamatan seperti dari Simpang Kiri, Trumon,Bakongan. Tangan-Tangan dan Manggeng malah ada dari Aceh Tenggara  yang seluruhnya berjumlah sekitar 300 orang. Mereka hadir di sini atas kemauan sendiri semata-mata untuk  kalut ( Khaluet)  dalam bilik khalwat serta menghindari segala kegiatan dunia,” kata Abon.
Menurut Ulama ini, bagi pengikut suluk harus menjalankan beberapa ketentuan. Antara lain tidak memakan makanan berdarah, menghindari percakapan yang kurang bermanfaat, kecuali sebatas yang di hajatkan sesama  jamaah suluk. Hari-hari yang dijalani pengikut suluk lebih banyak berzikir dan amalan-amalan rohani yang dilaksanakan dalam bilik khalwat.

Kendati kegiatan suluk ini semata-mata berzikir dan mensucikan jiwa dari  pengaruh keduniaan, tapi para jammah suluk diberi waktu istirahat dan tidur pada jam-jam tertentu. Bahkan pengikut suluk dari laki-laki dan kaum perempuan berusia lanjut itu diberi “riadah badaniah” (kerja bakti)sebagai olahraga dari pukul 07.00 sampai pukul 09.00  setiap pagi dengan mengambil batu kerikil di pinggiran sungai, yang tidak berapa jauh dari kompleks  untuk bahan bangunan pesantren tersebut. ‘’Riadah badaniah ini bertujuan agar fisik mereka tetap kuat saat mengamalkan ibadah kalut.
Selesai shalat Magrib dan makan para jamaah suluk  berkumpul di Majelis Irsyad untuk mendengarkan ceramah dari beberapa Mursyid(pembimbing) selama satu jam. Materi ceramah berkisar seputar bimbingan cara mengamalkan shalawat kepada Nabi, cara berzikir dan cara bacaan-bacaan lainnya dalam pengamalan thariqat Naqsyahbandiyah. Cerahmah ini diberikan oleh setiap Mursyid setiap periodik, disamping Tgk.H.Hasbi Nya’Diwa  sebagai penceramah juga disampaikan oleh Tgk Marjohan, Tgk.Baihaqi Pelumat,Tgk Aziz dan Tgk Fathani.
Seusai  mengikuti petuah Mursyid sekitar 1 jam,  kemudian melaksanakan Shalat isya dan Tarawih. Setelah tidur sekitar 1 jam, masing-masing bangun shalat sunnat Tahajjud dan Tahajjud hingga menjelang Sahur. Setelah shalat subuh kembali ke bilik khalwat untuk istirahat atau tidur dan sebagian jika dirasa  kuat terus berzikir hingga pukul 7.00.
Setelah itu pengikut suluk  mengikuti riadhah badaniah membersihkan tempat khalwat atau membawa batu kerikil dari sungai. Sehabis mandi kembali ke bilik khalwat guna bershalawat dan berzikir hingga menjelang dhuhur. Antara dhuhur dan shalat ashar mereka tidur dan istirahat  dan sehabis ashar denganTawajuh, bersiap-siap menghadapi buka puasa  setelah selesai mandi, jika Tgk H Hasbi NYa’ Diwa.
M Rahim (55) peserta kalut dan ditanya saat istirahat menunggu shalat isya di Majlis irsyad mengatakan, ia telah tiga kali menjadi jamaah suluk di Dayah Daruss’adah, “sejak mengikuti suluk ini,  jiwa saya semakin tentram dan dekat dengan sang khalik berkat amalan-amalan zikir yang di ajarkan Mursyid, sehingga amalan zikir itu terus terbiasa dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Menurut M Rahim , suasana sepi dan penuh dengan kegiatan shalawat serta zikir di bilik khalwat itu bisa menghidupkan rasa ingat dan cinta kepada Tuhan. Bahkan tak jarang kami menangis lantaran teringat dosa-dosa yang lalu sekaligus mohon keampunan  dari Allah.
Memang kegiatan ibadah kalut jika dilaksanakan secara khusuk dan ikhlas tidak sedikit pun  dipengaruhi kegiatan yang bersifat keduniaan, pasti hasilnya dapat dirasakan langsung oleh yang bersangkutan  dengan memperoleh ketenangan batin. Bahkan lebih lezat  lagi saat  berzikir yang dilakukan penuh konsentrasi sehingga mendatangkan asyik dan maksyuk yaitu fanabillah, kata seorang peserta suluk dari Krueng Luwas, Trumon.
Justru tak ada yang lebih nikmat di dunia ini, selain saat-saat kita menangis bersudu-sedu sewaktu minta agar dosa diampunkan oleh Allah, kata Tgk Marjohan pembimbing suluk di Dayah Daruss’adah.
(nun/su/ch)
( Sumber: Serambi Indonesia, Selasa,  1 Maret   1994 hlm 7 ).

Suluk, Meneteskan Air Mata Memohon Ampunan

                                   Suluk, Meneteskan Air Mata Memohon Ampunan

Suluk merupakan salah satu kegiatan pada bulan Ramadhan yang hampir rutin dilaksanakan oleh Dayah Darul Nizdam Desa Tanoh Anoe Kecamatan Teunom Aceh Barat. Kegiatan ibadah  yang diadakan bertepatan saat santri sedang libur adalah sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun,  sejak pesantren itu didirikan pada tahun 1942.
Menurut Abd Latif (27) dan M Diah (26) dua peserta suluk  termuda dari 300 peserta di pesantren Darul Nizdam, melalui ibadah suluk mereka menemui ketenangan  jiwa dan saat meneteskan air mata untuk memohon ampunan dari Allah atas doa dan kesalahan yang pernah dilakukan.
Kedua peserta suluk itu menceritakan meski dalam pelaksanaannya tidak dibolehkan santapan makanan berdarah untuk menghindari timbulnya nafsu syahwat bukan suatu rintangan bagi dua pemuda itu untuk melaksanakan ibadah dengan khusyuk. Setelah kami melaksanakan suluk seakan-akan diri kita semakin dekat dengan Ilahi dan tak akan mengulangi lagi perbuatan yang menyimpang dari ketentuan agama”  katanya.
Sebab, katanya , dalam melaksanakan suluk hampir 24 jam kita selain beribadah secara berjamaah seperti berzikir membaca Al qur’an dan bertahlil serta bertahmid. Kita juga dianjurkan untuk melaksanakan ibadah sendirian di bilik masing-masing. Pada saat kita menyendiri di situlah kita meneteskan air mata memohon ampunan Allah, “jelas Abd Latif.

Pimpinan pesantren Darul Nizdam.Tgk Muslim HK kepada Serambi mengatakan, kegiatan suluk di pesantren yang ia pimpin diadakan setiap tiga kali setahun,  masing masing suluk Haji, Suluk Maulid dan Ramadhan. Suluk Haji berlangsung selama  sepuluh hari sejak 1 hingga 10 Zulhijjah.
Sementara suluk Maulid mulai yang berlangsung selama 20 hari diadakan pada bulan Safar. Dan, suluk yang terakhir pada bulan Ramadhan  dimulai 21 Syakban hingga 30 Ramadhan. Untuk suluk bulan Ramadhan dibagi dalam tiga tingkat yaitu 40 hari, 30 hari, 20 hari, dan 10 hari.
Biasanya, pesrta suluk paling ramai pada bulan Ramadhan yang jumlahnya mencapai 500 orang yang terdiri dari orang tua,  wanita dan pemuda dari berbagai daerah. Namun pada pelaksanaan suluk Ramadhan kali ini jumlah pesertanya agak sedikit berkurang hanya 300 orang akibat masyarakat sedang sibuk turun kesawah.
Menurut Tgk Muslim HK,  para peserta yang melaksanakan ibadah suluk di pesantren Darul Nizdam bukan saja   berasal dari kecamatan Teunom. Melainkan mereka datang dari luar daerah seperti Laweueng Pidie, Pulau weh Sabang,  Aceh Utara malah ada dari Aceh Tenggara.
Bagi calon peserta suluk , kata Tgk Muslim mereka terlihat dulu harus menyerahkan perbekalan makanan yaitu beras 4 bumbu,  uang Rp 1500 untuk masa sepuluh hari kepada pihak pengurus dapur umum ,sementara jika peserta yang mengikuti suluk 40 hari mereka baru menyerahkan 16 bumbu be serta uang lauk pauk Rp. 6.000 ribu.
Kegiatan selama melaksanakan suluk kepada peserta dibagi dalam dua paket kegiatan meliputi ibadah seusai berbuka puasa hingga pagi hari para peserta suluk terus melakukan ibadah yang paling berat baik secara berjamaah maupun menyendiri. Kegiatan ibadah secara berjamaah seperti melaksanakan shalat tarawih, berzikir, membaca Al-Qur’an dan shalat tahajjud. Sementara kegiatan menyendiri para peserta bebas melaksanakan ibadah sesuai dengan peraturan suluk.

Sedangkan paket kegiatan yang diadakan pada pagi hari yang disebutkan dengan masa  istirahat mereka diwajibkan melakukan gerak badan,  membersihkan bilik dan lingkungan ,  mencuci pakaian masing-masing. Kegiatan ini berlangsung sampai dengan siang hari. Setelah itu, para peserta suluk kembali melaksanakan ibadah secara berjamaah seusai shalat zhuhur dan ashar.

Kesemua  paket kegiatan tersebut, yang berlangsung secara rutin selama masa suluk semata-mata bertujuan untuk mendekat diri dengan Allah sambil berdoa agar pada hari kebangkitan kelak mendapat tempat di  surga. (zahrial)
(Sumber: Serambi Indonesia, 3 Maret 1994 hlm  7).

Bangsa Melayu Baru!

Bangsa Melayu Baru, Berakar Nasional
dan Berakal Internasional
Oleh: Alfitra Salam

KEKHAWATIRAN terhadap masa depan ekonomi, sosial-budaya dan politik bangsa Melayu telah menimbulkan gagasan baru yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, tentang perlunya pembentukan bangsa Melayu Baru. Gagasan tersebut dikemukakan oleh Mahathir ketika Kongres UMNO pada 8 November 1991, yang antara lain mengatakan bahwa bangsa Melayu akan dapat merebut tempatnya yang sah, bukan saja sebagai peserta tetapi juga sebagai bangsa yang menentukan, dengan satu syarat: orang Melayu haruslah ditransformasikan menjadi bangsa “Melayu Baru”.
Konsep “Melayu Baru” ini melibatkan perubahan menyeluruh terhadap segala aspek budaya orang Melayu, yang didefinisikan sebagai bangsa yang berbudaya sesuai dengan aliran zaman, sanggup menghadapi segala tantangan, dapat bersaing tanpa bantuan, terpelajar dan berilmu, canggih, jujur, berdisiplin, amanah dan ulet.
Munculnya gagasan Melayu baru ini tentunya tidak lepas dari pengamatan Mahathir sendiri dalam melihat gejala yang berlaku dalam masyarakat Melayu belakangan ini. Mahathir sendiri pernah mengatakan bahwa masyarakat Melayu gagal menguasai keterampilan dalam manajemen perdagangan modern.
Kekecewaan ini dirasakan juga sehubungan dengan kebijaksanaan pemerintah yang menyerahkan proyek perdagangan yang dimiliki oleh pemerintah kepada golongan bukan Melayu demi untuk menyelamatkan proyek tersebut. Pandangan terhadap perubahan sosial dan pembaharuan di atas, sebenarnya bukanlah gagasan baru dalam sejarah sosial Malaysia. Beberapa pemikiran pada masa pemerintahan kolonial, seperti Abdullah Munsyi (pertengahan abad ke-19) dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah mengritik orang Melayu yang terkurung dengan tradisi, termasuk golongan atasan Melayu yang berfikir sempit dan sukar membuka pemikiran untuk menerima pembaharuan dari luar.
Syed Sheikh Al-Hadi (tahun 1920-an) pula menekankan pentingnya pembaharuan dilakukan ke atas pendidikan Islam ke arah menjadikan umat Islam dapat bersaing dalam biadng ekonomi. Begitu juga beberapa tokoh pemikir Malaysia terdahulu seperti Aminudin Baki, Za’ba yang mengritik budaya orang Melayu, yang kemerosotannya hingga kini dirasakan dalam kedangkalan budaya orang Melayu.

Kedangkalan budaya
Menarik untuk dikaji pemikiran dari seorang cendekiawan Malaysia yang cukup kritis, Rustam A.Sani dalam bukunya Melayu Baru dan Bangsa Malaysia,
yang mendakwa masyarakat Melayu Malaysia sekarang ini merupakan gabungan tiga unsur budaya dangkal. Pertama, unsur peradaban Barat yang agak dangkal. Peradaban seperti ini adalah orang Melayu yang menguasai bahasa Inggris, berpendidikan dan menguasai bidang profesi tertentu, tetapi pengusaan perdaban barat ini tidak melebihi hanya penguasaan “teknis” bidang yang dikuasai. Penguasaan bahasa Inggris hanya berfungsi sebagai perbendaharaan klise untuk bidang itu dan untuk pengucapan sehari-hari, bukannya pengucapan kreatif yang mendalam.
Kedua, unsur kebudayaan Melayu yang amat dangkal. Kedangkalan kedua ini adalah orang Melayu yang tipis kepekaannya akan budaya Melayu, sehingga dia mungkin tidak menguasai bahasanya sendiri, apalagi penggunaan bahasa itu untuk pengucapan yang kreatif dan canggih. Tradisi sastra, budaya dan sejarah dan pemikiran bangsa yang agak mendalam tidak dikuasai. Orang Melayu seperti ini justru memantapkan unsur-unsur feodalnya seperti kepekaannya terhadap struktur status dan sistem gelar yang amat rumit dalam budaya Melayu itu.
Ketiga, unsur Islam yang semata-mata bersifat ritus. Orang Melayu yang termasuk golongan ini adalah kelompok yang kurang menyadari sama sekali peradaban dan tradisi kecendikiwanan dalam pemikiran Islam., tetapi menekankan unsur amalan dan ibadah agama itu dalam kehidupannya. Bahkan “keislaman” seorang itu mungkin pula diukur semata-mata berdasarkan unsur ibadah yang nyata. Dakwaan seperti di atas dapat juga dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seperti yang terjadi pada tahun 1990 dimana sebuah universitas di Malaysia mengadakan diskusi mengenai buku Surat Setan
Karya Salman Rusdhi, yang mengundang tokoh terkenal dari partai Islam PAS. Setelah diskusi panjang lebar, ternyata tokoh dari PAS ini sama sekali belum membaca buku ysng dihebohksn tersebut., sehingga tokoh tersebut menjadi ejekan di kalangan mahasiswa yang hadir.
Kasus yang sama terjadi juga dalam sebuah universitas di mana sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi agar pementasan musik rock dibatalkan karena bertentangan dengan agama Islam. Setelah diadakan diskusi dengan pihak universitas ternyata kelompok mahasiswa yang menentang ini sama sekali tidak dapat menunjukkan alasan tepat yang masih melihat Islam dalam perspektif “pahala dan dosa”. Gambaran di atas seperti yang dikatakan oleh Rustam A.Sani bahwa pemikiran orang Melayu masih terbatas pada ajaran agama Islam yang penafsirannya terlalu kolot, beku dan tidak rasional.
Pemahaman Melayu Baru
Seperti halnya wawasan 2020, maka gagasan pembentukan Melayu Baru memperlihatkan pemikiran yang visionary dari seorang pemimpin atau suatu paradigma baru tentang model budaya masyarakat Melayu yang berorientasikan pada masa depan. Namun hingga kini gagasan pembentukan Melayu Baru ini masih belum dipahami secara mendalam. Pada umumnya masyarakat mempunyai persepsi bahwa gagasan Melayu baru itu digunakan sebagai alasan untuk melakukan sesuatu hal yang baru di kalangan orang Melayu, Bahkan yang selama ini sukar diterima dalam kerangka sistem nilai dan etos orang Melayu. Sedangkan kelompok oposisi mempersoalkan gagasan tersebut, karena menurut mereka konsep “Melayu Lama” tidaklah terlalu salah.
Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus Abdullah (Monograf Melayu Baru terbitan GAPENA,1993) persepsi masyarakat mempunyai pelbagai pandangan. Pertama, gagasan Melayu baru suatu ungkapan generasi muda Melayu yang berpendidikan dan mudah menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitarnya baik antara suku bangsa maupun di tingkat internasional.
Kedua, ungkapan Melayu baru sering dipergunakan terhadap suatu generasi yang terbuka pada perkembangan mutakhir di bidang politik, ekonomi dan sosial. Ketiga, Melayu baru juga merujuk kepada aspek buruk dan tidak baik dalam generasi baru Melayu, seperti sifat tamak loba, “mata duitan” tidak jujur dan tidak ikhlas.
Keempat, ungkapan Melayu baru ada kalanya diberikankepada suatu angkatan usahawan muda dan tokoh konglemerat Melayu yang terbentuk sebagai hasil Dasar Ekonomi Baru yang sekarang ini dikaitkan dengan pemebentukan suatu masyarakat perdagangan dan perindustrian bumiputra.
Dikalangan tokoh politik, seperti Menteri Besar Selangor, Muhammad Taib membayangkan (Bersambung ke hlm. 5 kol. 5-9)
Catatan: halaman sambungannya belum ditemukan!. Libur Uroe Raya ‘Idul Adha 1435 H hari ke 3, Selasa, 7 Oktober 2014 jam 10.48 pagi. Pengetikan ulang kolom lima artikel ini turut dibantu putri saya. TA

(Sumber: Harian Kompas, Senin, 21 November 1994 hlm. 4).

Jiwa Bisnis Orang Pidie

Pembentukan Jiwa Bisnis Orang Pidie
( BAGIAN PERTAMA DARI DUA TULISAN)

Oleh: Hafasnudin
Saya menduga keras sekitar lima dari 10 lelaki yang berdarah Pidie mempunyai naluri bisnis yang tajam. Jika kita telusuri pusat pertokoan di hampir seluruh tanah Serambi Mekkah ini, kemudian kita wawancarai para pedagangnya – dengan tidak memasukan kaum Tionghoa – kita akan menjumpai sekitar 60 sampai 70 persen dari mereka itu adalah berdarah Pidie. Dengan kata lain 6 hingga 7 dari usahawan di Aceh adalah orang-orang yang berdarah Pidie.
Memang, belum ada studi lengkap tentang pedagang Pidie. Masih merupakan tanda tanya besar bagi sebagian rakyat Aceh menyangkut etos Pidie ini: apa latar budaya, sistem nilai, sistem kekeluargaan dan falsafah, sehingga mereka lebih menyukai berbisnis daripada menjadi pegawai negeri atau buruh umpamanya.
Seorang Humas salah satu perusahaan raksasa di Lhokseumawe, menjumpai sekitar 60 persen pedagang di Batu Phat adalah orang Pidie. Ia merasa bangga dan senang akan sifat ini. “Sebab mereka, tidak terlalu bergantung untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang berlokasi di Lhokseumawe,” kata pejabat Humas tersebut.
Ada yang berpendapat atau berasumsi, etos dagang orang Pidie, disebabkan darah dagang mereka telah ada sejak lahir, atau karena sifat familisme yang tinggi, disertai ketekunan, keuletaan dan lebih fleksibel. Ironisnya, sebagian dari mereka hanya berpendidikan rendahan saja, seperti SD dan SMP.
Melihat prestasi masyarakat Pidie dalam menggapai keberhaslan ekonominya, maka patut bagi kita untuk menelaah kisi kunci rahasia dari etos dagang itu.
Jiwa Bisnis
Hasil observasi saya pada beberapa orang Pidie, terungkap beberapa tabir yang menyangkut pembentukan watak dan jiwa bisnis mereka. Dari observasi tersebut saya berasumsi:
Pertama, pembentukan watak dan jiwa bisnis orang Pidie telah terbentuk sejak dini. Beberapa kasus di bawah ini, yang saya temukan dalam observasi tersebut, dapat dijadikan pijakan.
Anak sekolah dasar di desa Tiro mencoba mencari penghasilan untuk jajan sekolah dengan cara memilih buah melinjo. Sambil menuju sekolah, si anak tadi menjual melinjonya, dengan memperoleh uang 100-400 rupiah sehari. Secara tidak sadar, orang tua telah menempuh salah satu proses pendidikan yang terbaik yaitu mengajarkan anaknya untuk mandiri.
Contoh lainnya, dua orang anak usia sekolah dasar, menghimpun modal untuk memperdagangkan buah pepaya(putek). Ambisi mereka jelas untuk mencari uang dan belajar bisnis. Kemiskinan orang tua mereka bukanlah hambatan, malah menjadi pendorong bagi mereka. Namun usaha perkongsian mereka terputus ditengah jalan. Tapi jiwa bisnis mereka tetap melekat dalam benak dan nalurinya.
Kedua, pembentukan jiwa bisnis mereka dimulai dari rumah tangga. Kasus yang paling menonjol yang saya temui ialah kisah seorang Pidie yang menyewa toko di Medan. Ia bekerja pada ayahnya, dan digaji seperti pekerja lainnya. Metode ini sama dan sebangun dengan caranya orang-orang Tionghoa. Kebiasaan ini ternyata dapat membentuk jiwa dan kemauan serta mendapat keahlian dan kiat-kiat dari seni mengelola ladang bisnis.
Ketiga, cemburu dan malu kepada teman. Kebiasaan pemuda-pemuda Pidie adalah duduk-duduk di bale dan meunasah. Tempat ini, dijadikan sebagai ajang diskusi tentang siapa-siapa yang sukses dalam bisnis dan bagaimana mereka mencapai kesuksesan tersebut. Melihat kesuksesan teman atau orang sekampung, si Pidie yang belum sukses tergugah dan terdorong.serta terus bertanya mengapa merka bisa sukses berbisnis ? Kenapa saya tidak?.
Si pidie yang belum sukses mencoba menghimpun informasi dan kekuatan. Yang terlihat di depannya hanyalah kesuksesan. Ia mencari negeri harapan. Mereka sering bertujuan ke Banda Aceh, Bireuen, Lhokseumawe, dan berbagai pusat perdagangan di sekitar bumi Iskandar Muda ini.
Sama siapa ia dapat tinggal di negeri harapan ?. Dimana ia bisa bekerja untuk tahap pertama? Adalah dua pertanyaan mendasar yang harus ia menjawab sebelum ia melangkah.
Ternyata, pengaruh familisme memang sangat menentukan tahap-tahap awal untuk mendapat kesuksesan menjadi usahawan di negeri harapan (rantau).
Ada kecenderungan dari pemuda asal Pidie yang belum sukses di rantau merasa “malu” pulang ke desanya. Kondisi psikologis ini, mendesak si pidie yang belum sukses utuk tetap bertahan di negeri rantau. Rasa bangga pun datang ketika sukses. Metode dan kiat rahasia sukses diinformasikan kepada famili dan teman sekampung. Tujuannya untuk mendorong si pemuda kampung untuk ikut meraih kesuksesan. Pertolongan pun ditawarkan.
Keempat, merantau adalah bagian dari jiwa masyarakat Pidie. Lloyd E Shefsky, penulis berkebangsaan Amerika mengeluarkan suatu stetement bahwa berimigrasi adalah pintu gerbang menuju usahawan. Untuk membuktikan pendapatnya, ia memaparkan data, dimana dalam periode 1982-1987 jumlah usaha kecil yang dimiliki orang Asia-Pasifik American meningkat sebesar 87 %. Sebagian besar pemiliknya adalah mereka-mereka yang baru datang ke Amerika.
Literatur lain menyebutkan, kini di Amerika terdapat sekitar 2 juta orang Korea. Rasa nasionalisme yang tinggi antara sesama Korea merupakan faktor utama yang menyebabkan mereka bisa sukses dalam berbisnis. Orang Korea yang baru datang ke negeri Paman Sam, biasanya ditampung dan diinformasikan tentang sektor-sektor bisnis mana yang basah dan patut mereka geluti. Kisah sukses Roberto Guizueta, bekas direktur pimpinan perusahaan raksasa Coca-cola, juga membuktikan, bahwa awal kesusksesan adalah merantau atau hijrah. Beliau berdarah Kuba, dan merantau ke Amerika. Ia pernah menjadi top pimpinan Coca cola dan memperbesar perusahaan itu dengan terobosan strateginya yang dikenal dengan “Mega Strategy”. Kini kabarnya perusahaan itu memperoleh 11 trilyun keuntungan.
Semangat mencontoh kesuksesan teman di rantau, maka sebagian dari pemuda Pidie memutuskan untuk berpindah alias merantau. Dengan modal dengkul malah SD pun tidak tamat, beberapa dari merka menuju negeri harapan. Sebaliknya, ambisi, cita-cita dan kesadaran akan kondisi yang kurang menguntungkan, menjadi modal, yang tak ternilai dari mereka untuk minggat. Malah beberapa diantara dari mereka yang sudah berumah tangga, sang istri rela ditinggalkan oleh suaminya. Jual cendol, cabe, surat kabar, pedagang kaki lima atau jenis dagangan lainnya, seperti mencuci piring di kedai kopi bukan rintangan bagi mereka. Malah menjadi landasan.
Kelima, berani menanggung resiko rugi. Adalah suatu aksioma, didalam setiap bidang bisnis dimana setiap sukses-sukses besar dapat terjadi, kegagalan mendadak dan besar pun bisa terjadi. Seorang Bisnisman harus mampu memandang bahwa dibalik aktivitas bisnis, harus diperoleh keuntungan besar. Yang mesti mereka pikirkan adalah keuntungan bukan kegagalan atau kerugian. Jika yang terpikir adalah kegagalan, semangat melangkah untuk berbisnis akan terteror, dan dramatis mengendor. Namun mencegah kerugian perlu untuk tidak dikesampingkan.
Seandainya Muammar Qhadafi takut dihukum mati jika ia gagal melakukan kudeta di Libya, ia tidak akan melakukan kudeta itu. Tapi yang terpikir olehnya adalah kursi presiden, ada dibalik kudeta yang penuh resiko itu. Orang Pidie yang berambisi sukses, walau hanya punya sepetak, dua petak tanah dikampungnya, berani menjual tanah tersebut untuk dijadikan modal usaha, seperti untuk menyewa toko sebagai tempat foto copy, menjual nasi atau sebagai tempat warung kopi adalah beberapa fakta yang saya temui. Malah lebih ngeri lagi, seorang eksportir pinang yang bermukim di Medan, ingin merubah rumahnya menjad ladang jemur usaha pinangnya. Ia tak takut rugi, ia mengatakan pada saya bahwa ia siap untuk rugi. Jika kerugian itu menimpanya, ia tidak segan-segan untuk menjadi pedagang kaki lima. Pekerjaan yang pernah ia geluti.
Watak dan sifat orang Pidie lainnya adalah sangat telaten dalam pengeluaran, ramah pada pembeli, tabah, berambisi untuk lebih maju dan sangat persuasif kepada pembeli. Kelatenan dalam pengeluaran membuat mereka lebih hemat. Tetapi banyak orang menyangka hemat ini sama dengan kikir, padahal sangatlah berbeda. Hemat berarti ketepatan mengeluarkan uang atau sesuatu yang bernilai sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Sedangkan kikir dapat berarti ketidakmauan mengeluarkan uang (sesuatu yang bernilai) sesuai dengan kebutuhan.
Sikap hemat, bukan kikir, merupakan jembatan emas untuk menjadi usahawan. Betapa tidak, Jepang yang kecil, kini mampu menyandang supremasi raksasa ekonomi dunia. Tahun lima puluhan keluarga-keluarga Jepang …… menysihkan hampir 25%…….. penghasilannya bangsa Jepang kabarnya, dipaksa untuk ………mengeluarkan sebagian dana masyarakat …..dan ulasan angka-angka ……… menunjukkan Jepang dan Korea b……………………… dunia.

Catatan: ……… adalah bagian koran yang sobek akibat terendam air stunami Aceh

( Sumber: Serambi Indonesia, Rabu, 17 Mei 1995 hlm. 4)