Kiblat Kita : Lokal, Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

Dialog

Kiblat Kita : Lokal,

Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

 

 

Pengantar

Dialog kita kali ini menampilkan dua sastrawan dari dua periode berbeda. Yang pertama, Ayip Rosidi, 41 tahun, adalah orang yang punya perhatian dan melakukan penelitian untuk sastra daerahnya: Sunda. Yang kedua, Sutan Takdir Alisyahbana, 72 tahun, sastrawan pelopor pujangga baru. Mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang kebudayaan daerah dan nasional.

Ayip tetap tak mau meninggalkan keindonesiaan dalam melihat kebudayaan daerah. Dia melihat ada usaha “kurang sadar” yang pernah dibuat orang dalam menghidupkan kembali kesenian daerah, antara lain mengembalikan feodalisme. Dan melihat kebudayaan daerah bagi Ayip sendiri—dia sendiri pernah merekam pantun-pantun Sunda—tak menimbulkan regionalisme.

Takdir pun mencintai kesenian daerah. Dia memiliki sanggar kesenian Toya Bungkah, Bali. Namun bagi Takdir, kebudayaan daerah dan nasional sekarang haruslah bersumber pada ilmu. Kebudayaan sekarang, katanya, adalah soal kesatuan dunia, kesatuan umat manusia. Redaksi.

Kebudayaan Daerah dan Keindonesiaan

Ayip Rosidi, 41 tahun, sastrawan

Banyak sudah usaha yang ingin menghidupkan kebudayaan daerah. Tetapi, usaha itu sering hanya didorong oleh keinginan untuk melanjutkan yang biasa—yang sudah ada—dan sering pula tidak dihubungkan dengan keindonesiaan. Kegiatan dan kebudayaan seperti itu, seperti tidak tahu, bahwa daerah sesungguhnya sudah lain dalam suatu kesatuan Indonesia. Dan mereka yang melakukan kegiatan ini, banyak yang tak sadar bahwa banyak nilai daerah—yang menurut mereka dianggap baik—sebetulnya tidak cocok lagi dengan cita-cita kebangsaan yang hendak kita tegakkan. Masalah demokrasi adalah salah satu contoh.

Kita kini sepakat untuk menegakkan asas demokrasi. Pada dasarnya, asas itu ada di tiap-tiap daerah, dengan tipis tebal yang berbeda, serta latarbelakang yang berlainan. Tetapi di beberapa daerah, feodalisme lebih menonjol. Bagi mereka nampaknya, antara feodalisme dan demokrasi tak ada persoalan prinsipil. Dalam situasi 1950-an, ketika mengagung-agungkan Indonesia, jika ada orang mengatakan bahwa ada hal-hal yang tak cocok lagi, mereka bakal tersinggung. Walaupun begitu, karena kebudayaan daerah itu terdapat di seluruh Indonesia, ia memang perlu digali. Saya berasal dari daerah Sunda, karena itu saya menggali kebudayaan Sunda. Kecenderungan saya menulis dalam bahasa Sunda juga menimbulkan ejekan dari beberapa kawan. Ada yang menyebut saya sebagai “Si Sunda”. Tapi di balik itu, dalam lingkungan kebudayaan Sunda lama, saya juga tidak diterima dengan baik. Kalau pun saya diterima, penerimaan itu disertai dengan kecurigaan. Ada malah yang menulis, bahwa saya adalah “monyet” yang datang dari daerah lain dan tak bisa memahami masalah yang sebenarnya. Tragis. Saya terjepit. Dan pada tahun 1950-an—saat yang masih dekat dengan masa revolusi—setiap usaha dan kegiatan yang berbau daerah dapat dianggap sebagai kaki tangan van Mook. Ini pandangan politis, karena van Mook mendirikan negara boneka. Pada saat begitu, sulit bagi kita untuk membicarakan kebudayaan daerah. Tapi kini keadaan seperti ini masih nampak pada orang-orang yang berasal dari perjuangan 1945. Ada pandangan yang mengatakan bahwa kebudayaan daerah dianggap bertentangan dengan cita-cita nasional. Jadi, unsur daerah masih dilihat sebagai sesuatu yang membahayakan Indonesia sebagai nation. Pandangan ini keliru. Pada tahun 1960-an, kesenian daerah mulai bangkit. Hanya saja ia dipergunakan secara politis oleh Lekra. Organisasi itu mendirikan sanggar, dan dalang yang sebetulnya tidak mempunyai pandangan politis jadi senang sekali. Tempat latihan yang tak pernah mereka bayangkan, mereka peroleh. Banyak orang terjebak. Dalam pada itu organisasi seperti LKN dan Lesbumi masih membatasi pada jenis kesenian tertentu, dan belum menjamah wayang serta topeng. Mereka hanya mengurus kesenian rebana, menjaga perasaan para kiyai. Inilah masalah pada tahun 1960-an.

Penelitian

Kepada Jawatan Kebudayaan pernah saya usulkan untuk membuat rekaman kesenian-kesenian rakyat yang hampir hilang (1958-1959). Saya tertarik pada pantun. Antara 1959 dan 1960, Jawatan Kebudyaan Jawa Barat pernah merekam pertunjukan pantun di Kuningan, tapi usaha ini tidak dilanjutkan lagi. Hingga 1966 juga tak ada. Tahun 1968 dan 1969 setelah saya menulis beberapa artikel di media massa dan gagal, datangah Prof. Teeuw, dan kepadanya saya jelaskan kesulitan saya. Dari dia saya dapat pinjaman alat perekam dan pita. Dengan itu selama 1969, 1970 dan 1971 saya menjelankan penelitian untuk pantun Sunda. Beberapa puluh pantun berhasil saya rekam, kemudian saya transkripkan dan  terbit dalam bentuk stensilan. Jumlahnya ada 20 jilid, dan masing-masing tebalnya antara 100 dan 200 halaman folio. Sekarang beberapa perpustakaan penting di dunia telah memilikinya. Jika ada yang hendak melanjutkan penelitian lewat hasil itu bisa saja. Di Leiden, Negeri Belanda, sastra Sunda itu dipakai. Untuk daerah lain kini pemerintah sudah menyediakan dana yang lebih besar buat penelitian seperti yang saya lakukan itu.

Ciri Sunda

Orang Sunda membangga-banggakan kesenian dan kebudayaan Sunda. Tetapi apakah mereka dapat menerangkan secara benar kebudayaan Sunda sesungguhnya? Sampai sekarang tak ada.

Kalau bersandar pada kebesaran masing-masing kabupaten—Cirebon, Cianjur, Bandung—saya dapat mengejek mereka. Semuanya pernah dijajah Mataram, Jawa Tengah. Semua pernah ngawula Mataram. Jika mempertanyakan, apa kesundaan itu dan bagaimana filsafat Sunda, orang akan kembali kepada Hasan Mustafa. Tapi apakah Hasan Mustafa asli Sunda? Pengaruh Islam besar sekali padanya. Apakah Hasan Mustafa ini orang Sunda yang terpengaruh oleh Islam, atau seorang yang lahir dalam tradisi Islam yang mempunyai warna Sunda? Saya lebih condong pada yang terakhir ini, lebih-lebih setelah saya membaca sebagian besar karya Hasan Mustafa. Ia lahir dalam tradisi Islam. ia menulis dalam bahasa dan warna lokal, yakni Sunda. Dalam hidupnya ia sudah dicurigai. Ia dinamakan ulama mahiwa: lain daripada yang lain.

Karena saya belum menyelesaikan penelitian saya, saya belum dapat menyebutkan, apa ciri Sunda yang membedakannya dengan yang lain. tapi mungkin ada beberapa pandangan hidup orang Sunda yang dapat menerangkannya. Ia bersifat dugaan dan sementara. Saya melihat unsur yang sama dari pantun berbagai daerah. Itu menunjukkan sumber atau paling tidak referensi yang sama. Misalnya, pantun Kuningan punya banyak kesamaan dengan pantun Banten. Pantun Sukabumi selatan juga punya banyak persamaan dengan Sumedang. Persamaan ini menarik untuk diteliti, misalnya pantun yang saya rekam dari Pak Aceng di Sumedang. Dalam pantun itu ada teka-teki, dan teka teki itu sebetulnya dahulu hanya dilakukan oleh raja-raja ketika menerima lamaran. Di dalamnya ada pandangan hidup yang menarik. Inti dasar kalimat dalam pantun itu adalah “kekosongan.” Hidup itu kosong. Berdasarkan kata-kata yang ia pakai, dalam hemat saya, pantun itu mengisyaratkan bahwa “kekosongan” itu yang menjadi tujuan hidup. Jadi, hidup yang sempurna itu adalah yang tak berbekas. Seperti bebek berenang di lubuk. Saya menjumpai filsafat ini dalam beberapa pantun. Dan dalam hati saya bertanya: apakah ini filsafat Sunda? Kalau itu betul, apakah bisa dijawab, kenapa di daerah Sunda tidak terdapat candi dan tidak ada peninggalan-peninggalan yang besar? Mungkin itu terjadi karena raja-raja Sunda dahulu berpendapat bahwa hidup yang baik adalah hidup yang tak meninggalkan apa-apa. Dan dari sana mungkin dapat pula kita lihat, kenapa Sunda dekat dengan Islam. Mungkin karena dalam Islam dikenal apa yang disebut innalilahi…., kembali kepada ketidak-adaan, kepada asal.

Orang Belanda sering kacau dalam membuat interpretasi tentang kesenian kita tempo hari. Dalam metode dan sistematika, mereka memang lebih terlatih, tapi dalam menafsirkan apa yang tersirat mereka gagal. Karena itu kebudayaan atau kesenian daerah harus digali oleh orang daerah itu sendiri. Orang luar jangan diharapkan.

Nilai-nilai dalam masyarakat lahir dengan sendirinya. Ia dilanjutkan. Tapi ketika masyarakat itu berubah, dan ia mengalami goncangan, banyak nilai itu yang menghilang.

Pergeseran dan kepunahan         

Saya dibesarkan dalam lingkungan yang punya apresiasi akan wayang. Ketika saya dikhitan, kakek saya menanggap wayang. Saya senang wayang. Tetapi kini, anak saya tidak lagi suka. Mereka dibesarkan di Jakarta dan tidak memiliki apresiasi untuk itu.

Tetapi kini di kampung kelahiran saya sendiri juga terjadi perubahan niai-nilai. Dahulu orang paling suka menanggap Dalang Cita, paling bagus dan mahal. Kini, yang dianggap hebat adalah yang menaggap band, atau memutar film di alun-alun. Kesenian topeng juga berkurang. Pilihan anak muda untuk itu makin sedikit, dan penghargaan orang pun mulai luntur. Masyarakat berubah. Dalam keadaan seperti itu, peranan pusat-pusat kesenian yang dapat menjadi sarana pembinaan apresiasi kesenian daerah, terasa makin penting.

Jika sarana pembinaan apresiasi seperti ini tidak kita adakan, dan dalam pada itu kurikulum serta guru di sekolah tidak mengajarkannya kepada murid, akan berbahaya. Kita yang bangga dengan kekayaan seni kita, tiba-tiba nanti pada suatu saat mungkin akan menghadapi kenyataan yang pahit: kita akhirnya tak memiliki apa pun. Dan akan lebih parah lagi kalau kita harus belajar wayang di Australia. Ada contoh kecil. Saya pergi ke Kalimantan menonton pertunjukan mamanda. Kesenian ini mulai populer kembali di sana setelah muncul di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di situ saya sadar, bahwa TIM dijadikan ukuran daerah.

Adakah kesenian daerah kita punya daya tahan dan mampu menghadapi “serbuan” kebudayaan luar? Di beberapa daerah saya kira ada beberapa jenis kesenian yang memiliki daya tahan untuk mengadakan akulturasi, sehingga lahir bentuk kesenian yang lain. Lenong yang sering kita saksikan di TIM, sebetulnya berbeda dengan lenong dalam bentuk yang asli. Begitu juga sinden dalam wayang. Sebetulnya sinden baru muncul sebelum zaman Jepang. Wayang dahulunya adalah dalang dan wayang saja, tanpa sinden. Pada zaman Jepang peranan sinden kian penting. Tahun 1950-an lebih ketat lagi, dan Upit Sarimanah serta Titin Fatimah populer. Kalau mereka bernyanyi, mereka duduk di atas meja, lebih tinggi dari dalang dan wayangnya. Walaupun demikian, saya kini agak risau melihat mutu yang menurun, baik dalam kesenian daerah maupun nasional. Dahulu dalam bidang sastra anak-anak sekolah berbicara tentang Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, atau Idrus. Tidak heran kalau anak Taman Siswa mengundang Soedjatmoko memberikan ceramah sehubungan dengan artikelnya ”Mengapa Konfrontasi”. Ramadhan KH setelah pulang dari Spanyol diundang untuk memperkenalkan sajak Lorka. Anak-anak sekolah dan gurunya berbicara tentang majalah Kisah, Mimbar Indonesia, atau Siasat. Tapi kini anak sekolah bicara soal majalah hiburan. Kini kita juga jarang mendengar seriosa. Ciptaan seperti karya Amir Pasaribu yang memasukkan unsur daerah ke dalam musiknya, juga tidak lagi terdengar. Yang kedengaran hanya musik pop. Bahkan TVRI pun turut serta dalam hal itu. Masalah ini cukup serius. Dalam seni lukis kita masih melihat Affandi, Sadali, dan Amri Yahya sebagai oprang-orang yang masih serius. Tetapi bagaimana halnya dengan beberapa pelukis lain?

Pada hemat saya, masalah ini erat sangkutpautnya dengan kebijaksanaan nasional kita dalam bidang ekonomi. Kita terbuka mengundang modal besar sehingga yang berkualitas hanyalah uang. Ada orang berkata, “habis, mereka tak mau mendengar gamelan.maunya lagu pop.”persoalannya adalah: di mana-mana orang disuguhi lagu pop. Secara tidak langsung kita dibina lagu pop. Dan akhirnya kita hanya punya apresiasi terhadap lagu seperti ini. Seharusnya ada suatu kebijkasanaan untuk ini.

Departemen P dan K membuat seminar tentang kebijaksanaan, tetapi yang dijalankan lain. Pusat pengembangan bahasa menyelenggarakan seminar politik bahasa nasional. Diputuskan, penting bahasa daerah. Tetapi dalam kurikulum 1975 yang dibuat suatu badan di bawah P dan K,tidak dicantumkan bahasa daerah. Bahkan di daerah-daerah tertentu ia dihapuskan sebagai bahasa pengantar. Ini tidak konsisten.

Daya tahan

Apa yang kita maksud dengan daya tahan? Daya tahan itu adalah pemberian kesempatan untuk memupuk apresiasi tentang kesenian daerah. Jika kita lakukan pemupukan, barulah ada daya tahan. Inilah yang belum kita perbuat, walaupun kini sudah mulai ada perhatian untuk kebudayaan daerah. Namun secara tidak langsung ada usaha untuk membuat berbagai kesenian daerah jadi pop. Sebetulnya, kalau usaha ini kita biarkan, akibatnya bisa fatal. Yang kita lakukan sebaiknya adalah perawatan, jadi harus disimpan beberapa jenis seni tari, atau lagu, yang tidak boleh diubah. Harus tetap seperti itu. Seni itu harus diajarkan kepada anak-anak, dan dipertunjukan kepada masyarakat, sehingga ada pengembangan. Memang ada yang harus populer, seperti ciptaan-ciptaan baru yang juga harus diberi kesempatan. Tapi sekarang, urusan ini tidak jelas.

Manusia Indonesia yang utuh

Orang Indonesia yang utuh, sebetulnya tidak perlu meninggalkan unsur daerah. Karena itu, saya tidak sependapat dengan Yus Badudu yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia yang sempurna adalah bahasa Indonesia yang berlafal Indonesia, tanpa kedengaran lafal daerahnya. Dalam hemat saya, tidaklah menjadi masalah jika seorang Jawa berbahasa Indonesia dengan lafal Jawa. Hanya saja, lafal daerah itu jangan keterlaluan, misalnya: “mengatakan” diucapkan dengan “mengataken.”

Sekarang nampaknya sudah ada kesadaran seperti itu. Kini saya melihat sudah banyak orang yang ingin jadi orang Indonesia utuh tanpa menghilangkan unsur daerah. Darmanto YT menulis dalam bahasa Indonesia yang baik, tapi dia tetap memperlihatkan unsur Jawa dalam sajak-sajak yang dibuatnya. Saya menafsirkan bahwa Darmanto menganggap, kejawaan bukanlah sesuatu yang dapat mengurangi keindonesiaan. Saya berpendapat, hal seperti itu tidak jadi apa, malah ia sanggup memperkaya keindonesiaannya. Dalam hal seperti inilah orang-orang dari tahun 1930-an membuat kesalahan. Sutan Takdir Alisyahbana menyerukan masa lampau, persetan dengan masa lalu. Indonesia baru harus menghirup roh Barat. Dan kalau kita lihat kesenian yang ditampilkan tahun 1930-an zaman Jepang, terdapat kecenderungan seperti yang dikatakan Yus Badudu: Indonesia adalah Indonesia  yang tidak seperti daerah mana pun.

Orang sering bertanya tentang karakter daerah. Tapi apakah sebetulnya karakter daerah itu? Stereo type seperti ini dipelajari dalam antropologi, dan stereo type seperti itu sudah diragukan. Dalam karya sastra, ia tentu tergantung pada lingkungan hidup sang seniman. Seorang Sunda yang lama di Eropa, akan melahirkan ciptaan yang berbeda dibandingkan dengan seorang Sunda yang tidak pergi ke mana-mana. Kalau Sardono tidak ke Amerika, ia tidak akan sampai pada karya-karyanya yang dipertunjukan di TIM. Dalam masalah politik orang juga berbicara tentang karakter daerah seorang pemimpin. Di sini kita akan bicara dari segi manusia, dan akan susah. Contoh paling dekat adalah Ali Sadikin. Ia sukses. Tapi sebenarnya ia bukanlah tipikal Sunda. Orang Sunda mengakui suksesnya karena dia orang Sunda. Jika tidak, akan jadi lain. Ali Sadikin suka bicara blak-blakan. Ali Sadikin itu mahiwa, lain dari yang lain, lain dari kelompoknya. Apakah itu karakter Sunda?. Kadang-kadang memang muncul pula kesundaannya.

Ada sebuah cerita. Pada suatu saat dia mencoret-coret lukisan Srihadi. Dia kira, lukisan itu mengejek Jakarta. Srihadi marah. Geger. Dewan Kesenian Jakarta turut campur tangan. Saya dan Zaini (almarhum) datang ke Balaikota. Ali Sadikin marah sekali. Dia tidak mau disalahkan. Dan karena hari itu adalah hari Jum’at, kami kemudian sembahyang di TIM. Saya dan Ali Sadikin semobil, sedangkan Zaini di mobil yang lain. Dari Balaikota sampai TIM Ali Sadikin mentertawakan dirinya sendiri. Dia bertanya, “Kok tadi bisa berbuat begitu?.  Kalau filemkan bagus ya?!” lantas saya bertanya, “Bisa marah seperti itu lagi apa tidak?” Dia bilang, “Tidak”. Sebetulnya latarbelakang peristiwa itu sepele saja. Ali Sadikin marah-marah, karena Kepala Dinas Pemugaran DKI, Ir. Tjong, tidak datang. Padahal, Ir. Tjong yang memang tahu bahwa Bang Ali bakal marah-marah, sengaja datang terlambat. Dan akhirnya kemarahan itu tumplek pada lukisan Srihadi. Ini adalah karakter si Kabayan. Hakikat si Kabayan ini populer di derah Sunda. Dia adalah tokoh yang malas, berani mempermainkan mertua, dan akhlaknya kurang baik. Walaupun orang Sunda menyukai cerita itu, tak seorang pun di antara mereka yang mau disebut si Kabayan.

Regionalism

Apakah akan muncul regionalism jika orang terlalu berlebihan menghargai kebudayaan daerahnya? Di sini perlu politik kebudayaan. Sekarang tidak jelas. Sekarang, kedaerahan dibangkitkan tanpa kebijksanaan. Di beberapa tempat kita melihat dihidupkannya kembali kedaerahan yang feodalistis. Saya kurang suka upacara adat dipopulerkan kembali di daerah Jawa Barat. Ada yang dibuat-buat, dan sebelumnya ia tidak pernah ada. Ia hanya semacam pertunjukan. Secara historis tidak benar, dan hanya untuk menyenangkan pejabat. Ketika Ratu Juliana datang ke Bandung, kakinya dicuci. Jika saya jadi Ratu Juliana, saya akan marah, karena itu berarti kaki saya kotor. Begitu juga yang terjadi dengan mengantar pejabat yang pindah ke daerah lain dengan upacara adat. Mereka yang melakukannya, mungkin merasa senang, atau merasa kangon.

Saya memang melakukan transkripsi karya-karya sastra Sunda. Tapi saya tak hendak menimbulkan regionalisme. Yang saya lakukan hanya merawatnya, mengamankan kekayaan rohani supaya jangan hilang. Saya hanya mencatat, apalagi juru pantun kini umumnya sudah berumur di atas 60 tahun, dan mereka tak punya murid lagi.

(Sumber: Majalah PRISMA, no.2 Februari 1979 Tahun VIII, hlm. 50 – 54. Sambungannya yang berjudul “Kebudayaan harus berpokok pada ilmu”  oleh Sutan Takdir Alisjahbana, insya Allah di bulan depan!)

DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

                    DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

Oleh A Hasjmy

Tanggal   28   Maret   1994  yang akan datang merupakan ulang tahun ke-46 gagalnya Mukta­mar Sumatera, yang bertujuan membentuk Negara Federasi   Sumatera dalam rangka usaha menghancurkan Republik Indonesia Proklamasl 17 Ag­ustus 1945.

Menyambut ulang tahun tersebut, dalam tulisan ini saya akan mengangkat ke permukaan, perihal “Negara Sumatera” yang gugur dalam kandungan, karena kala itu Aceh menolak ikut serta. Rencana pembentukan “Negara Sumatera” oleh Belanda, adalah usaha terakhir untuk menghan­curkan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945. Sebelum itu, Belanda telah berhasil mendirikan Negara Indonesia Timur, Negara Madura, Negara Jawa Timur, Negara Pasundan di Jawa Barat, dan sebagainya. Acehlah satu-satunya wilayah Republik Indonesia yang tidak dapat ditaklukkan Belan­da. Hatta Tanah Aceh menjadi “modal” dalam rangka merebut dan memerdekakan kembali daerah-daerah yang telah dijadikan “negara boneka” oleh Belanda lewat tangan antek-anteknya orang Indonesia, seperti Tengku Mansur di Sumatera Timur. Abdul Malik di Sumatera Selatan, Raden Kartalegawa orang Pasundan di Jawa Barat,  Sukowati di Indonesia Timur dan sebagainya.

         Bukan Mimpi

Pada waktu itu, tanggal 17 Maret 1948, sebuah pesawat terbang militer Belanda melayang rendah di atas Kota Banda Aceh (waktu itu bernama Koetaradja) ibukota Daerah Modal Re­publik Indonesia (nama kebanggaan .yang diberikan Presiden Pertama Re­publik Indonesia, Soekarno, waktu bulan Juni 1948 berkunjung ke Aceh). Kapal terbang tcrsebut menjatuhkan sepucuk surat undangan yang dimuat dalam kaleng yang terpateri rapi. Surat undangan itu ternyata ditujukan kepada Mayor Jenderal Teungku Muhammad Daud Beureueh-, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Antara lain berbunyi:

Ke hadapan

Yang Mulia Gubernur Militer Aceh di

Koetaradja

… Itulah sebabnya, maka saya merasa boleh memulai menggerakkan untuk mengundang wakil-wakil segala daerah Sumatera buat limit serta dalam satu Muktamar Sumatera yang akan berlangsunq di Medan pada tanggal 28 Maret 1949.

Negara “Sumatera Timur”   akan merasa sebagai suatu kehormatan untuk menerima perutusan Tuan sebagai tamu selama itu.

Yang diundang ialah Aceh, Tapanuli, Nias, Minangkabau, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Riau, Bangka,   Belitung,   Sumatera   Selatan, Lampung, dan Bengkulu,

Terlepas dari segala perbedaan politik, saya menyatakan pengharapan saya, supaya Aceh juga akan menyuruh suatu perutusan mewakilinya pada Muktamar pertama dari suku-suku bangsa Sumatera ini

Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut per­utusan Tuan dan mengawalnya ke Medan dengan kapal terbang.

Tengku Mansur yang menamakan dirinya ”Wali Negara SumateraTimur”  mengirim surat tersebut atas perintah Dr Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Kalimat-kalimat “Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut … (mana ada kekuasaan Tengku Mansur untuk memerintahkan Perwira-perwira Belanda di Sabang, yang bukan bahagian Sumatera Timur), membuktikan bahwa di belakang Tengku Mansur berdiri Dr Van Mook.

Untuk membahas surat Tengku Mansur, Mayor Jenderal Tengku Mu­hammad Daud Beureueh, mengadakan rapat khusus pada tanggal 20 Maret 1948. Agenda rapat ialah:

  1. a) menerima ajakan Tengku Mansur,
  2. b) memproklamirkan Aceh sebagai sebuah Republik Islam,
  3. c) tetap menjadi bahagian Republik Indonesia yang diproklamirkan tang­gal 17 Agustus 1945.

Pada awal rapat dimulai, para peserta-rapat minta ayat (a) dihapus dari agenda rapat. Pendeknya, mereka tak setuju menerima ajakan Tengku Mansur.

Yang dipertimbangkan dalam rapat maraton yang memakan waktu lama itu ialah agenda point (b) dan (c) yang masing-masing banyak pendukungnya.

Setelah hamplr pukul 22.00 Mayor Jenderal Teungku Mu­hammad Daud Beureueh, sebagai ketua rapat menyatakan bahwa Aceh tetap menjadi bagian Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.

Harian Semangat Merdeka yang terbit tanggal 23 Maret 1948 mengumumkan pernyataan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo seperti berikut:

“Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada lagi Sebab itu, kita tidak bermaksud membentuk Aceh Raya, seperti Tapanuli Raya, Bengkulu Raya, Bangka Raya dan lain-lain, yang kemudian menjadi “negara bahagian” dari “Nega­ra Pederasi Sumatera. Karena itu, yang  ada di Aceh hanya semangat Republikein.

Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur” kita pandang sebagai tidak ada dan karena itulah tidak kita balas…”

Dengan penentangan dan penolakan Aceh terhadap Muktamar Sumateranya Dr Van Mook lewat Tengku Mansur,   maka   gagallah   muktamar tersebut dan “Negara Federasi Sumatera” gugur dari kandungan nafsu Van Mook

Penolakan terhadap usaha pecah belah  Dr Van  Mook,   adalah modal Aceh yang amat penting untuk menyelamatkan Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945, seperti yang pernah saya lukiskan dalam serangkum sajak termuat dalam Buku September Berdarah, yatui: “Akhirnya, karena penentangan Aceh, ‘Negara   Federasi   Sumatera’   gugur dalam kandungan, gagallah politik licik Belanda, Aceh tetap menjadi Daerah Modal Republik Kesatuan Indonesia, tidak pernah dijamah kami, tentera kolonial Belanda waktu agresi pertama di masa agresi kedua.”

Harapan saya, semoga angkatan sekarang, juga angkatan-angkatan yang akan datang, tidak melupakan jejak sejarah masa lalu.

*Prof. A.Hasjmy, Ketua Umum MUI dan LAKA Daerah Istimewa Aceh serta mantan Gubernur Aceh.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Senin, 21 Maret 1994 hlm.4).

#Penyalinan ulang artikel sejarah ini atas usaha T.A. Sakti.

Jejak Aceh di Senggora – negara Thailand

Jejak-jejak Aceh di Senggora

Catatan dari Bangkok (habis)

“KITA ini orang Tenggara. Kita itu orang Tenggara,” ka­ta Yusmar Yusuf penuh semangat ketika membentangkan makalahnya dalam se­minar Pertemuan Kerjasama Melayu-Islam Asean di Hotel Chaleena Bangkok, Thailand 28 Maret sampai 4 April. Yusmar dengan bersemangat sekali hendak membuktikan kebesaran “bangsa” Melayu Asia Tenggara .

Menurut doktor dari Pusat Pengkajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau itu, budaya Melayu pada hakikatnya adalah sebuah persekutuan “tamadun” bangsa-bangsa yang mendiami bagian tenggara Asia, Melayu adalah tamadun yang besar. Cuma saja bangsa-bangsa Asean tidak pernah mengarifi-hal tersebut sebagai “laman” ekspresi tamadun bangsa Melayu Tenggara yang telah salin bersalin nada sejak dari keperkasaan Sriwijaya, Siam, Ligor, Cham, dan lain. Bukti geografls menunjukkan penyebaran Melayu berkisar hampir seluruh Asean, ketika kita bicara tentang orang-orang Muslim di Mindano, orang Pattani di Thailand, di Kepulauan Andaman, atau or­ang Cham di Kamboja. Menurut Dr Arong Suthasasana, salah satu kehebatan orang Melayu adalah mereka pindah melalui laut, sehingga terdapat orang-orang Melayu diwilayah kepulauan dan pesisir. “Ini telah membentuk sebuah kesatuan peradaban yang besar dan saling terkait antara satu dengan lainnya,” kata Guru Besar dari Chulalongkorn Uni­versity Bangkok itu.

Mungkin dari sanalah, maka kabarnya pada 1605 serombongan orang-orang “Melayu” dari Aceh bertolak ke utara, lalu mendarat di sebuah tempat, sebelum mereka melakukan jalan kaki mencari tempat yang cocok untuk sebuah kehidupan. Konon, di Thailand yang sekarang ini, pada masa itu ada sebuah negeri yang bernama Senggora, terletak di bagian pantai timur Thai menghadap ke Laut China Selatan. Ke sanalah diperkirakan sebanyak 40 perahu orang Aceh yang kemudian mendarat di bagian barat. “Salah seorang di antara mereka bernama Datok Monggul alias Sulaiman.” kata Sawai Na Pattalung, mencoba merekonstruksikan catatan sejarah Senggora dengan “petualangan” orang Aceh dalam menghindari “huru hara” di negerinya. Sang pengkisah Sawai Na tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga ketika wawancara de­ngan Serambi, dia menggunakan seorang penerjemah, Bounmi.

Sawai Na Pattalung adalah keturunan kesembilan dari Sultan Sulai­man Shah yang disebutkan tadi. Itu sebabnya dia bisa berkisah dengan piawai tentang leluhurnya. Sultan Su­laiman memiliki tiga anak, masing-masing Mustafa, yang pemah penjadi penguasa negeri dan diangkat sebagai Gubemur Chaiya. Anak keduanya ber­nama Hussen, menjadi gubemur di Pat­talung. Semua negeri ini berada diThailand bagian selatan. Sedangkan anak terakhirya Hassan, menjadi Panglima Angkatan Laut Kerajaan Ayudhya, kerajaan Siam masa lalu yang berpusat di utara yang di kemudian hari menyerang dan mengalahkan Pattani dan Senggora. Memang semua keturunan Sultan Sulaiman menjadi orang-orang penting di Thailand kemudian hari. Beberapa menteri dalam kabinet Thailand moderen dari waktu ke waktu juga termasuk orang-orang keturunan .Raja Sulaiman. Sawai Na Pattalung sendiri, kini masih menjabat sebagai Penasihat Wakil Perdana Menteri Thailand dan Penasihat Senator untuk Urusan Dalam Negeri di Bangkok, meskipun dia menetap di Hatyai, tak jauh dari kota Songkhla yaitu nama baru Senggora yang pernah diperintahi oleh Sultan Sulaiman.

Di Songkhla, 60 km dari Hatyai, kini didirikan sebuah monument, sekaligus menjadi makam Sultan Sulaiman dan  keturunannya. Namanya Budhist Muslim Friendship Paviliun, di bawah naungan sebuah yayasan dimana pelindungnya adalah Princes Phakreu Yong Jaiyut dengan ketuanya adalah Sawai Na Pattalung sendiri. Bangunannya juga merupakan paduan arsitektur Melayu dan Thai (Budhist) dengan konstruksi bertingkat, di atas tanah seluas 10 hektar.

Kenapa harus ada perpaduan an­tara Budhist dengan Muslim di monu­men tersebut? “Itulah gambaran bagaimana Muslim dan Budhist bisa bersatu.” katanya. Juga menyangkut historis sang tokoh. Seperti diceritakan Sawai Na (69 tahun) bahwa monumen itu memang harus demikian. Sebab, meskipun Sultan Sulaiman pada awalnya seorang Islam dan berasal dari Aceh, pada generasi kelimanya mereka menjadi penganut Budha sampai sekarang. “Penting bagi saya bisa mendapatkan keterangan di mana kampung asal Sultan Sulaiman dan Dato Monggul di Aceh.” katanya melalui penerjemah Bounmi.

Bounmi, lelaki berusia empat puluhan yang hari itu menjadi pener­jemah Sawai Na adalah seorang manajer di sebuah pusat hiburan dan ho­tel di kota wisata Hatyai, Thailand ba­gian selatan, milik Pattalung. Jika saja Yusrizal Ibrahim tidak menyimpan alamat Bounmi, mungkin perjumpaan dengan pengusaha hotel dan hiburan terkemuka ini tidak pemah terjadi dalam rangkaian perjalanan budaya kami sembari menghadiri seminar di Bangkok itu. hari.

Tapi bagi Sawai Na, keberhasilan membangun Budhist Muslim Friend­ship Paviliun di Songkhla bukan akhir dari obsesinya untuk mengenang dan melestarikan sejarah tokoh besar seperti Sultan Sulaiman. “Sebab, yang jauh lebih penting ialah di mana asalnya moyang saya itu di Aceh, ketika mereka berangkat sebanyak 40 perahu ke mari dahulu kala,” katanya. Ada rasa rindu tercermin dari wajah Sawai Na, meskipun dia tidak pernah tahu bagaimana sesungguhnya Aceh, kecuali yang samar-samar terlihat dalam peta.

Di mana negeri yang disebut-sebut Sawai Na Pattalung sebagai asal moyangnya di Aceh? Ketika ini ditanyakan berkali-kali, lelaki yang kelihatan lebih muda dari usia sebenamya ini hanya menyebut: “Sale….Sale…..” Mungkinkah yang dimaksud Sawai Na itu Kerajaan Samudra Pase yang diperintah oleh Raja Sultan Malikussaleh? Bounmi menatap wajah Sawai Na. Ya, dia mengatakan negeri asal datoknya dari Sale, dan dia amat merindukan negeri itu.

Kalau kelak diketahui di mana letak Sale yang disebutkan itu, apakah Sawai Na Pattalung akan “pulang” ke sana? “Bukan sekadar pulang. Tapi saya akan membangun kampung itu, dan di sana akan ada monumen sebesar dan sekokoh yang ada di Songkhla tapi dengan identitas Aceh yang kental, sehingga jelas itulah negeri tempat asal seorang raja yang amat berjasa mem­bangun Senggora yang kemudian berubah menjadi Songkhla, berabad-abad lalu,” katanya.

Songkhla berasal dari Senggora yang kotanya didirikan oleh Dato Monggul pada awal abad 17 M. Setelah Dato Monggul mangkat, maka. anaknya Sulaiman mengganti tempatnya. “Pada tahun 1624 Sulaiman mengisy-tiharkan (memproklamirkan) Senggora sebagai sebuah kerajaan bebas de­ngan dinamakan Negeri Melayu Seng­gora dan menggelarkan dirinya sebagai. Sultan,” tulis Chapakla.

Catatan bahwa Senggora didirikan oleh Dato Monggul pada awal abad 17 sesuai dengan keterangan Sawai Na Pattalung yang menyebutkan kedatangan orang-orang .Aceh itu pada tahun 1605. Juga apa yang disebut­kan di sini sesuai dengan catatan penyerangan raja Siam Ayudhya dari utara terhadap negeri-negeri Melayu di Selatan, termasuk Songkhla.

Chapakia juga mencatat bahwa pengganti Sultan Sulaiman di Songklha alias Senggora adalah Mustafa, pada tahun 1688. Ini sesuai dengan apa yang diceritakan Sawai Na Pattalung bahwa Sulaiman punya tiga anak, antara lain Mustafa meski disebut-sebut lelaki ini menjabat sebagai salah seorang gube­rnur. Barangkali benar juga bahwa dari jabatan gubernur inilah ketika ayahnya mangkat, dia dinobat sebagai raja sebagaimana ditulis oleh De Choisi.

Makam Sultan Sulaiman itulah yang sekarang menjadi Budhist-Mus­lim Ferensdship Paviliun, yang dibangun oleh Sawai Na Pattalung, sebagai simbol “persekutuan” budaya, dalam sebuah bingkai sejarah Senggora.

Persekutuan budaya atau tamadun juga tercemin dalam ide pembangunan Budhist Muslim Freindsllip ?Paviliun. Ketika seorang tokoh disosokkan, di sana melekat dua sisi: Melayu dan Is­lam. Tetapi sejarahlah kemudian yang mencatat, kemelayuan seorang Sultan Sulaiman telah melahirkan “kultur” lain Budhist yang kemudian menyatu dalam sebuah peradaban dan sejarah gemilang: sejarah Melayu Senggora.

Ada kemungkinan pula, selain Kerajaan Samudra Pasai, Sale di Aceh yang dimaksudkan Sawai Na Pattalung adalah Saree sebuah tempat di kaki Seulawah,, yang tak jauh dari pusat peradaban Aceh masa lampau; Seulimum. Saree menjadi Sale karena; lidah orang Thai sulit mengucapkan huruf ‘r”.

*barlian a.w

(Sumber: Serambi Indonesia, Jum’at, 10 Mei 2000, hlm. 1 dan 11).

TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU-wawancara TEMPO dgn Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo

TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU

 

Tercantumnya tiga nama, Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poeponegoro, dan Nugroho Notosusanto, pada sampul muka buku Sejarah Nasional Indonesia, bisa menimbulkan salah pengertian bahwa kami bertiga yang menulisnya. Saya sendiri sebenarnya kurang menyetujui pencantuman nama itu. Kami bertiga adalah pengurus dari Panitia Penulisan Buku Sejarah Nasional yang dibentuk pada akhir Seminar Sejarah Nasional II DI Yogya, Agustus 1970. Saya, waktu itu, ketua umum panitia tersebut, Bu Marwati ketua I, dan Pak Nugroho ketua II.

Struktur organisasi penyusunan buku yang enam jilid itu dibagi menjadi enam seksi sesuai dengan banyaknya jilid yang direncanakan. Tiap-tiap seksi membawahi 4 hingga 5 orang anggota penulis. Ada penulis yang terus ikut sampai buku selesai ditulis. Ada penulis yang diganti karena sakit atau sebab yang lain. Tiap seksi menulis satu jilid.

Sebagai ketua umum saya berkewajiban membuat kerangka acuan, sebuah kerangka umum untuk seluruh penulisan. Pelaksanaannya terserah pada ketua seksi masing-masing. Kerangka itu kemudian diterbitkan oleh Gramedia, tahun 1983, berjudul Historiografi Indonesia.

Sebagai ketua, saya juga sudah membuat kata pengantar umum untuk seluruh penulisan itu. Sayang, hanya dimuat pada jilid I. Jadi, mereka yang tidak membeli seluruh jilid, tak tahu hubungan antar jilid, jika tak membaca kata pengantar yang hanya ada pada jilid I itu. Membaca kata pengantar itu penting, terutama untuk mendapatkan gambaran yang mendasari  buku Sejarah Nasional Indonesia itu apa. Seharusnya, kata pengantar itu dimuat di setiap jilid.

Selain itu, saya juga menyumbang tulisan utuk jilid IV, terutama mengenai Abad XIX tentang “tanam paksa” dan sebagainya. Saya juga memberi sumbangan pada jilid V mengenai perkembangan sosial ekonomi tahun 1990-1930-an.

Yang jelas, saya tak turut menulis jilid VI, buku yang direvisi itu. Sejauh ini tanggung jawab saya mengenai jilid VI adalah karena kedudukan saya sebagai ketua umum. Pimpinan langsung untuk semua jilid adalah ketua seksi masing-masing, pada jilid VI ketua seksinya Nugroho Notosusanto.

Kembali pada soal kerangka umum itu, ternyata banyak yang tak mengindahkannya. Saya kan sudah memberi kerangka umum mengenai masalah periodisasi. Pembagian atas enam jilid saya rasa selaras dengan garis besar periodisasi. Tapi tema pokok yang saya ajukan—dan ini sebenarnya teori atau tesis yang saya ajukan—mengapa kami memberi nama buku sejarah Indonesia itu sebagai Sejarah Nasional Indonesia. Nama itu menunjukkan suatu kesatuan dan menunjukkan satu unit dari penulisan yang menjadi enam jilid itu.

Yang harus ditonjolkan dari enam jilid itu adalah benang merah kesatuannya. Umpamanya, kami tidak menulis mengenai Budi Utomo lalu Serikat Islam satu persatu. Melainkan mengenai pergerakan isu secara keseluruhan, bagaimana terbentuknya suatu elite baru. Dan lewat organisasi-organisasi itu mereka menemukan identitasnya yang baru. Organisasi-organisasi itu memberikan arena politik baru tempat mereka bisa berkomunikasi, dari yang semula hanya merupakan suku-suku yang terpisah.

Dalam Seminar Sejarah Nasional I di Yogya tahun 1957, saya sudah mengemukakan itu, bahwa yang harus kita lihat itu adalah wawasan nasio-sentris itu. Yakni bagaimana seluruh masalah nasional Indonesia itu merupakan pengalaman kolektif bangsa melalui proses integrasi. Ini yang sesungguhnya menjadi pendobrak, yang menjadikan kita ini satu bangsa. Dan ini yang ingin dituliskan dalam Sejarah Nasional Indonesia itu.

Kalau kita baca SNI jilid I-VI, muncul selera saya masalah proses integrasi masih kurang menonjol. Jadi, tiap-tiap jiid SNI masih terasa berdiri sendiri-sendiri. Dan memang tidak mudah untuk menyusun sesuai dengan kerangka yang saya inginkan.

Mengapa kita kadang-kadang menghindari satu penulisan sejarah kontemporer? Ini karena secara inheren hal-hal yang potensial menimbulkan kontroversi akan muncul. Karena masih sering sejarah kontemporer menyangkut tokoh-tokoh atau pengikut yang masih hidup.

Jarak yang masih cukup dekat menimbulkan persoalan agak besar. Saya, umpamanya, menulis peristiwa 100 tahun lalu mengenai pemberontakan Banten. Saya merasa cukup jauh jaraknya. Saya tak punya kepentingan apa-apa, baik pada pihak pemberontak maupun yang diberontak. Kata professor yang menguji tesis saya itu: Kalau nama Anda dihilangkan, orang tak akan tahu kalau penulisnya orang Indonesia.” Saya tak tahu apakah ini hinaan atau pujian, tapi paling sedikit komentar professor saya itu merupakan bukti bahwa saya sudah mencoba mendekati objektivitas.

Saya ingin mengatakan seobjektif mungkin. Saya tak ingin membuat evaluasi terhadap sejawat Nugroho Notosusanto yang sudah meninggal. Itu terasa kurang etis buat saya. Tapi, itu tadi, kendala yang dihadapi sejarawan kontemporer berlaku untuk siapa saja, termasuk saya, termasuk Pak Nugroho. Penulis sejarah kontemporer menghadapi kesulitan membuat jarak terhadap zaman, situasi, apalagi terhadap tokoh-tokohnya.

Kalau toh itu ditulis, dan menjadi konstroversi, karena orang membaca tulisan mengenai sejarah kontemporer tidak sebagai pengkaji sejarah secara ilmiah. Tapi mereka membaca sebagai pengikut partai dengan aliran politik atau ideologi tertentu. Nah, kalau sejarah sudah diserahkan kepada kaum partisan, semua sudah dinilai, disusun dengan perspektif partisan itu, ya sukar dikatakan  objektif.

Soal Bung Karno, kenyataannya, tokoh itu dan penulisan sejarahnya, kalau dimuat dalam buku sejarah masih menimbulkan atau masih bersifat kontrovesial. Ini karena masih cukup banyak orang bertindak sebagai partisan—tidak seperti sejarawan—dalam menghayati ilmu sejarah. Kalau seorang menghayati sejarah sebagai partisan, bagaimana bisa menghindari bahan pelajarannya itu secara kritis dan objektif?

Contoh paling kontroversial adalah surat-surat Bung Karno ke Belanda yang menjelaskan bahwa ia sudah minta ampun dan mohon dibebaskan—surat-surat September 1933. Saya masih menyangsikan. Ini aneh. Surat-surat itu disimpan di Belanda sudah diketik. Tapi tak ada tanda tangannya. Tentu harus cukup ada penelaahan yang tuntas, menurut metode sejarah.

Mengenai perkawinan Bung Karno dengan nyonya Hartini, waktu itu sangat menghebohkan. Kita perlu menempatkan peristiwa ini dalam konteks kepribadian Bung Karno. Bagaimana lagi, kenyataannya memang begitu. Sebagai catatan, saya kenal baik dengan keluarga Suwondo Fogel, suami pertama Hartini. Saya masih ingat ketika mereka manten anyar di Salatiga, dan ketika merayakan kelahiran anak pertamanya.

Kalau kita menganggap kehidupan Bung Karno sebagai sejarah, di satu pihak tak mungkin mengabaikan jasa-jasa perjuangannya. Di pihak lain, juga perlu menyatakan kekurangan-kekurangan dan kegagalan-kegagalannya.

Jangan dilupakan bahwa menghayati ilmu yang juga pokok adalah kejujuran. Mengingkari kekurangan Bung Karno sesuatu yang tak jujur. Begitu juga mengingkari kelebihannya.

Lalu mengenai masalah revisi. Persepsi pihak media massa mungkin perlu diluruskan. Bagi sejarawan, masalah menulis kembali—saya tidak memakai kata revisi—merupakan suatu proses yang wajar saja. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap generasi wajib menulis sejarahnya sendiri.

Gambarannya begini. Saya, misalnya, duduk dalam panitia UNESCO dengan 25 anggota. Saya memberi pengarahan untuk menyusun Scientific History of Human Time. Kami berkumpul tahun 1980. Sampai sekarang penulisannya belum selesai.

Kami mendesain kembali penulisan yang didesain tahun 1950 itu. Mengapa? Ini karena generasi tahun 1950 memiliki persepsi dan wawasan yang berbeda dengan generasi tahun 1970. Karena kondisi yang dihadapi berbeda.

Jadi, setiap generasi wajib menulis sejarahnya. Sejarawan tak bisa lepas dari ikatan zaman dan ikatan kebudayaannya. Bagi sejarawan, wajar saja kalau ada revisi. Apalagi kalau ada alasan lebih kuat, yakni karena menimbulkan kontroversi.

Masalahnya, seperti yang saya alami dalam panitia UNECSO itu, timbul perdebatan. Yakni, ketika kami bertemu di tahun 1980, hanya berdebat mengenai apakah sejarah itu direvisi atau ditulis kembali—dengan versi baru. Saya pikir, menurut pertimbangan yang amat logis, membuat revisi lebih repot dibandingkan membuat versi baru.

Yang membuat revisi repot, karena terlalu terikat dengan teks yang ada. Usul saya, lebih baik buat saja versi baru. Ini karena revisi akan menghadapi kesulitan dalam membuat pendekatan. Seperti kita ketahui, ada ungkapan, “Memermak jas lungsuran lebih sulit dibanding membuat jas yang baru.”

Saya pribadi kemudian menulis dua jilid buku mengenai sejarah nasional Indonesia. Yakni periode tahun 1500-1900 dan tahun 1900-1942, dengan judul Pengantar Sejarah Indonesia Baru (penerbit Gramedia). Tahun 1981-1982, waktu saya cuti di negeri Belanda, jilid I saya tulis dengan kerangka acuan saya sendiri. Ini bisa lebih mudah saya kontrol. Saya merasa bisa mengimbangi hal yang saya rasa kurang. Saya bisa memuaskan selera saya.

Saya berhenti sampai periode tahun 1942 karena mata saya tak awas lagi. Untuk menulis buku sejarah umum seperti itu, bacaannya harus banyak. Dan itu tak bisa saya lakukan lagi kini kendalanya sangat besar, saya tak bisa membaca lagi secara cepat. Pada kata pengantar jilid I, saya juga menekankan masalah integrasi. Bagaimana dalam wilayah Indonesia ini dari abad ke abad, secara lambat laun terjadi proses integrasi. Ini tema pokoknya.

Integrasi itu penting. Misalnya, mengapa perjuangan revolusi kita berhasil. Itu karena adanya dua proses perjuangan yang saling memperkuat: fisik dan perjuangan diplomasi. Dua-duanya memperkuat dan masing-masing mempunyai dampak hingga akhirnya perjuangan berhasil 100%. Tesis saya masih seperti itu. Juga dalam karangan saya mengenai Linggarjati, misalnya, bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh ABRI. Waktu itu, di Salatiga, Jawa Tengah, ada 17 organisasi pemuda, ada yang punya senjata dan ada yang tidak, seperti Hizbullah, Laskar Rakyat, Bepri, Pesindo, dan Bambu Runcing. Tergabung waktu itu organisasi pemuda dari yang paling “kanan hingga paling “kiri”.

Kalau hal itu sekarang tak terasa dampak dan hasilnya. Itu tetap penting dalam jalannya sejarah revolusi. Juga, untuk membuktikan bahwa perjuangan rakyat Indonesia adalah perjuangan yang demokratis.

Gambaran orang tentang historiografi atau penulisan sejarah itu kadang keliru. Tak perlu buku sejarah Indonesia menyajikan semua fakta yang terjadi di Indonesia. Yang diperlukan adalah seleksi. Dan yang pokok, kriteria seleksi itu apa. Buat saya sudah jelas. Kriteria seleksinya itu derajat integrasi, yang pada suatu periode bisa dicapai bangsa Indonesia. Itu cara sederhana menuliskan sejarah nasional kita. Dengan cara seleksi itu memang banyak yang tak akan tercakup, misalnya peranan Natuna, Mentawai, atau Selayar bagaimana?

Tapi penduduk di tenpat-tempat yang tak termuat dalam penulisan itu tak usah kecil hati. Kita itu satu nation. Gambaran dalam sejarah itu adalah gambaran pengalaman bersama.

 

 

 

DARI CANDI PRAMBANAN

SAYA lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Februari 1921. Selagi belum berusia setahun, saya dibawa orang tua saya ke Candi Prambanan yang terkenal dengan Rorojonggrang-nya itu. Ini karena kaul ayah saya, Tjitro Sarojo, pegawai pos di zaman Belanda. Ayah bernadar, bila panuwun-nya untuk memperoleh anak laki-laki terkabul, bayi itu akan dibawanya mengunjungi Prambanan. Berangkatlah orang tua saya dari Wonogiri ke Prambanan dengan kereta api, bersama saya si bayi merah.

Mungkin ini sebab pertama yang mempengaruhi bawah sadar saya menyukai sajarah. Orang tua saya sendiri mendambakan saya menjadi dokter. Ini tak mungkin saya laksanakan, karena saya punya penyakit takut melihat darah.

Tentu tak hanya melihat Prambanan itu awal cinta saya pada sejarah. Sewaktu kelas 3 HIS—sekolah di zaman Belanda setingkat SD—pada bulan puasa saya berlibur selama sebulan di rumah kakak saya yang menjabat kepala sekolah desa Borobudur. Setiap pagi selama sebulan, sendirian saya jelajahi Borobudur. Candinya, sungai, bukit dan sawah-sawah di sekitarnya. Kadang saya duduk-duduk menikmati pemandangan dari tingkat atas Candi. Dari atas candi saya lihat sekeliling bangunan candi yang indah dengan sungai Progo dan elo-nya.

Pengetahuan sejarah saya waktu itu tentu masih minim. Saya masih kurang menyadari apa yang saya lakukan, tapi itu barangkali yang membuat saya memasuki bidang garap sejarah. Saya sudah melihat begitu banyak bangunan, Borobudur, misalnya, bermakna bagi sejarawan Indonesia dan bagi umat manusia.

Di sekitar tempat saya lahir sendiri tak banyak dijumpai peninggalan sejarah seperti di Yogya itu. Ada satu monument di Wonogiri sebenarnya, yang cukup penting, yang terletak di tepi Begawan Solo. Di sana ada bukit kecil yang disebut sebagai Gunung Giri, tempat yang dikeramatkan penduduk. Banyak orang berziarah di situ karena ada makam-makam. Tapi yang penting adalah sebuah batu besar di situ. Menurut cerita rakyat setempat batu itu adalah tempat Sunan Giri berhenti sejenak—dari perjalanan jauhnya menyebarkan agama Islam—untuk shalat dan berdoa. Sampai sekarang batu itu tetap didatangi orang sambil membawa nasi dengan gudangan (sayur urap) serta ayam panggang. Sewaktu kecil saya pernah ikut berziarah.

Saya tak tahu dan baru tahu kemudian setelah membaca salah satu majalah, nama majalahnya TBG, di museum Jakarta, bahwa di belokan di kaki Gunung Giri ditemukan prasasti juga. Prasasti itu dulunya adalah tempat penyeberangan orang dari  Barat—dari Pajang—ke Jawa Timur.

Waktu duduk di HIS (1927-1934) di Wonogiri, saya berkali-kali melihat untu bledheg (gigi halilintar). Saya baru tahu kemudian bahwa itu adalah mikrolit, mata panah terbuat dari batu yang digunakan orang pada zaman prasejarah.

Itulah peninggalan prasejarah yang saya kenal waktu kecil.

Lalu, waktu kecil, saya juga sudah mendengar cerita perjuangan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I). Di lingkungan keluarga kami ada kenangan khusus tentang pangeran Sambernyowo berupa pusaka, jenisnya tombak, namanya Kiyai Bruwang. Ceritanya, salah seorang nenek moyang kami pernah menyelamatkan Pangeran Sambernyowo waktu dikejar Kompeni. Pangeran Sambernyowo diseberangkannya di Bengawan Solo dengan selamat. Sebagai penghargaan, tombak Kiyai Bruwang dihadiahkan kepadanya. Kini Kiyai Bruwang ada pada Pak Sujarwo (bekas menteri kehutanan).

Kesejarahan itu mungkin meresap pada saya juga karena berulang kali saya ke makam nenek moyang. Leluhur saya  dari garis laki-laki pernah ada yang menjadi Punggawa Keraton Kartasura (Amangkurat IV). Menurut cerita ibu saya, kakek saya itu menjabat sebagai ronggo. Suatu hari kakek cekcok dengan seorang pengawas perkebunan Belanda (orang Belanda). Lalu, entah bagaimana terjadinya, Belanda itu ditemukan terbunuh. Otomatis, kakek saya dicari polisi. Untuk menghindari perkara dengan polisi Belanda, ia melarikan diri ke Jawa Timur.

Ibu saya, dari garis nenek, turun temurun adalah putra petinggi di Wonogiri. Namanya Mangunprajoko. Keluarga dari pihak ibu merupakan cikal bakal, orang pertama yang membuka daerah, dan tinggal serta memimpin di Wonogiri. Karena itu, waktu nenek saya meninggal, yang mengantar ke kuburan ya mbludag, banyak sekali.

Ketika sudah duduk di MULO, setingkat SMP, di Solo, saya senang ketika dalam ujian akhir saya mendapat angka tertinggi untuk sejarah: sepuluh. Saya makin tertarik pada sejarah. Saya masih ingat buku pertama yang saya beli, judulnya Vander Landsche Geschledenis (sejarah tanah air) terbitan J.B. Wolters di Batavia. Saya pesan khusus, dalam uang gulden yang ada pada waktu itu nilainya tinggi, seringgit (2,5 gulden). Saya tak ingat nama pengarang buku sejarah itu.

Saya lulus dari sekolah guru di Xaverius di Muntilan, Jawa Tengah, tahun 1941, setelah belajar lima tahun. Setelah lulus saya menjadi guru tiga bulan di sekolah Schakel di Muntilan juga. Murid-murid sekolah ini anak-anak yang sudah lulus sekolah ongko loro. Sekolah ongko loro itu jalur sekolahnya anak pribumi. Schakel itu yang menghubungkan ke jalur sekolah Belanda. Baru setelah lulus dari Schakel, bisa masuk MULO, bertemu dengan mereka yang dari HIS.

Sesudah tiga bulan saya lalu pindah ke Salatiga, ke sekolah HIS swasta yang sudah “disamakan.” Gaji saya waktu itu 40 gulden, karena belum penuh. Kalau sudah penuh, 75 gulden. Untuk kos, saya membayar 10 gulden. Itu termasuk mahal karena saya guru. Kalau buat pelajar lebih murah, 6 gulden.

Tak lama kemudian pecah perang. Saya datang di Salatiga November 1941, 8 Desember 1941 Hawai diserang.

Suasana sudah mulai tidak normal. Anak-anak sudah harus dibawa ke tempat bersembunyi kalau ada tanda bahaya. Tanggal 15 Februari Singapura jatuh ke tangan Jepang, dan 1 Maret Jepang masuk ke Jawa. Suasana perang, lampu-lampu di jalan dikerudungi supaya tak begitu terang. Teman-teman saya menajdi sukarelawan menjaga kota. Saya sendiri tak bisa ikut karena mata tak terlalu awas dan fisik tak terlalu kuat.

Akhirnya Jepang datang, dan sampai juga ke Salatiga. Berderet-deret tentara diangkut dengan truk. Tak terdengar tembak-menembak dengan Belanda.

Barang-barang kebutuhan sudah mulai sulit. Nasi sudah mulai dicampur dengan jagung. Sebelumnya, dengan 10 gulden orang sudah bisa makan baik selama sebulan. Setelah Jepang datang, dengan 10 rupiah hidup sudah agak sulit. Saya waktu itu indekos pada seorang pensiunan sersan KNIL. Pensiunan sersan KNIL gajinya dua kali lipat gaji saya. Ia hidup cukup makmur, makan baik, rumah besar.

Saya mengalami kekecewaan pertama dengan masuknya Jepang karena bahasa Belanda dilarang. Bahasa Belanda langsung diganti dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Guru-guru kelas ongko loro hanya tahu sedikit bahasa Belanda. Dengan berubahnya zaman, mereka setengahnya menertawakan kami yang guru berbahasa Belanda ini. Di antaranya ada yang kalau ketemu saya memberi salam dalam bahasa Jepang sambil mengejek: “Komban wa, (selamat malam) dan “konnichi wa” (selamat siang), dan lain-lain. Saya hanya diam saja. Pada zaman Jepang, lulusan sekolah Belanda dianggap rendah.

Teman-teman di bawah saya terus ditarik ke Jakarta, mengajar di Si Hang Dako (Sekolah Guru) di Jatinegara, kebanyakan menjadi guru olah raga. Pada zaman Jepang, kedudukan olah raga mulai dipentingkan.

Teman-teman guru dan pegawai banyak yang kursus bahasa Jepang. Ada guru negeri ditarik ke Jakarta. Saya dari sekokah swasta, tak pernah mendapat giliran. Juga, saya malas untuk mulai dari awal. Fisik saya juga tak terlalu kuat untuk masuk ke berbagai barisan. Waktu teman-teman guru banyak yang masuk PETA, saya ditawari ditarik ke jawatan lain. Waktu ayah saya meninggal, kalau mau bisa saja saya bekerja di Postel di Solo. Tapi saya tak tertarik, karena saya masih senang menjadi guru. Saya juga pernah mendapat kesempatan di kepolisian. Saya juga tak tertarik. Pada zaman Jepang itu, saya berpikir bahwa bahasa adalah sesuatu yang berguna untuk memahami kebudayaan lain. Karena tak ada kegiatan lain akhirnya saya mendalami bahasa Jepang dengan belajar sendiri.

Waktu itu saya kenal dengan salah seorang guru, namanya lupa, orang Cina. Ia jebolan THS (kini Institut Teknologi Bandung). Ia mengajar di SD Cina. Kami sering omong-omong, dan sepakat menempuh ujian bahasa Jepang bersama. Kami sama-sama tak pernah ikut kursus. Nasihatnya pada saya, “Kalau Pak Sartono ingin lulus ujian, hafalkan saja sebanyak-banyaknya huruf Kanji.” Saya lalu menghafalkan banyak huruf Kanji.

Aneh, dari semua yang ikut ujian, hanya kami berdua yang lulus. Akhirnya, saya yang tak pernah ikut kursus bahasa Jepang malahan diserahi tugas untuk mengelola kursu resmi bahasa Jepang di Salatiga. Banyak muridnya, salah seorang di antaranya adalah Nyonya Tjokropanolo (istri bekas Gubernur DKI).

Bulan-bulan kacau dari Agustus sampai November atau Desember 1945, sekolah tutup semua. Selama menganggur, saya banyak bergerak di organisasi pemuda. Waktu itu ada 17 organisasi. Sudah ada GPII, Hisbullah, Pemuda Putri Indonesia, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), Pesindo, juga Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI). Saya ketua AMKRI di Salatiga dan sekitarnya, yang waktu itu menjadi ibu kota Karesidenan Semarang.

Lalu, dibentuk badan koordinasi organisasi pemuda seluruh Karesidenan Semarang. Saya dipilih menjadi koordinator dari 17 organisasi pemuda. Saya dipilih karena saya dikenal sebagai penghuni lama di Salatiga.

Salah satu kesempatan yang sangat menyenangkan adalah merayakan Hari Kartini, 21 April 1946, dalam suasana merdeka. Sebagai ketua, saya membagi-bagi tugas  pada organisasi. Yang menyenangkan, waktu itu, kesatuan nasional masih utuh, masih bulat. Semua organisasi, kecuali pembagian pekerjaan yang cukup rapi, semua bisa kerja sama dengan kerukunan, tak terjadi hal-hal yang tak mengecewekan.

Saya suka menghimpun buku-buku yang disita dari rumah-rumah Indo, dan dikumpulkan di kantor Komite Nasional Indonesia (KNI). Sekretarisnya teman saya, namanya Soewondo—suami pertama Nyonya Hartini Soekarno. Akhirnya Pak Soewondo mengajak saya mengatur perpustakaan KNI. Banyak buku filsafat, tapi kebanykan bacaan popular. Ada yang dari rumah seorang dokter yang punya buku tiga dinding rumah. Tadinya, buku-buku itu ditumpuk saja di kantor Laskar Rakyat. Setelah aksi militer Belanda, nasib buku-buku itu tak saya ketahui lagi.

Sebagai bujangan, saya mempunyai teman-teman kumpul-kumpul sesama bujangan. Waktu itu di antara teman saya adalah Pak Adi Sucipto—yang kemudian gugur dan namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Yogyakarta.

Setelah ada perjanjian Linggarjati, sebagai ketua badan koordinasi pemuda, saya diminta memberi sambutan di hadapan massa di Ambarawa. Hadir di alun-alun Ambarawa sekitar seribu orang. Penduduk waktu itu sepi, Cina-Cinanya mengungsi. Ini peristiwa kedua yang cukup berkesan yang saya alami. Tugas badan koordinasi di Semarang waktu itu adalah memberikan penjelasan mengenai persetujuan Linggarjati. PNI dan Masyumi, misalnya, tak setuju dengan perjanjian itu. Saya salah seorang yang setuju. Dengan kesediaan Belanda melakukan perundingan, sudah menunjukkan pengakuan Belanda secara de facto. Meski pengakuan secara de jure belum.

Tahun 1947 Salatiga diserbu Belanda. Malam gelap gulita, toko banyak dirampok. Saya berada di belakang Hotel Kalitaman. Malam itu saya mesti menentukan, mengungsi atau tidak. Saya waswas karena saya menjadi ketua organisasi pemuda. Yang menjadi hantu waktu itu adalah Nevis, dinas rahasia Belanda. Kalau sampai terpegang itu, bisa mati saya. Maka, untuk amannya saya mengungsi.

Saya bergabung dengan warga kampung. Kami ke luar kota, menyeberang sungai, dengan jalan kaki selama 4-5 hari. Saya lalu ketemu dengan beberapa orang murid saya dan mereka menawari untuk pergi sama-sama ke Yogya atau ke Solo. Saya terima.

Kaki rasanya sakit sekali. Sehari hanya bisa menempuh 30 km. Sebelum sampai di Yogya, beberapa hari saya menginap di Solo, di tempat saudara.

Akhir Juli 1947 sampai tahun 1950 saya tinggal di Yogya. Saya masih sempat melayat Pak Adi Sucipto yang pesawatnya ditembak Belanda. Pelayatan waktu itu amat sederhana. Jenazah—kalau tidak salah ada tiga jenazah—disemayamkan dulu di Rumah Sakit Bethesda. Lalu diiring ke makam Pakuncen. Iring-iringan pelayat menuju ke makam tak begitu panjang, hanya terdiri dari keluarga, teman dekat, dan beberapa dari AURI.

Di Yogya, saya memberi les privat bahasa Indonesia pada Nyonya Urip Sumoharjo, dua kali seminggu. Beliau ini lingkungan gaya hidupnya Eropa, bahasa Belanda. Begitu proklamasi, bahasa Indonesianya tak memadai.

Saya menikah dengan Sri Kadaryati. Waktu saya menikah usia saya 27 tahun dan istri saya 20 tahun. Kami bertemu di pengungsian tahun 1945. Lalu kawin 6 Mei 1948. Mungkin karena itu saya mendapatkan julukan dalam majalah Sarinah sebagai “Pengantin Revolusi”, bukan pahlawan revolusi. Keluarga mertua saya mengungsi di Muntilan.

Dari perkawinan itu kami dikarunia dua orang anak, satu laki-laki, Nimpuno, dan satu perempuan, Roswita. Dari keduanya saya mendapat tiga cucu.

LAHIRNYA SEORANG SEJARAWAN

SAYA mulai kuliah di Fakultas Sastra UI  jurusan Sejarah tahun 1950. Waktu itu banyak yang kuliah lagi ke Jakarta. Sebelumnya, selama 10 tahun, saya hanya mondar-mandir dalam kegiatan politik yang cukup mengasyikkan. Setelah saya ke Jakarta, saya melepaskan kegiatan politik.

Waktu itu dosen saya Profesor Berling untuk filsafat, Profesor Bernet Kempers untuk sejarah kuno dan arkeologi, dan tentu juga Profesor Resink untuk sejarah Indonesia. Guru yang paling saya kagumi adalah Profesor Burger. Saya kira perhatian saya terhadap aspek sosial ekonomi dalam sejarah dibangkitkan oleh kuliahnya. Saya menikamti sebagian besar dari kuliah Profesor Burger, sebab beliau mempersiapkannya baik-baik.

Kuliah para Profesor itu dalam bahasa Belanda. Itu lebih menguntungkan saya dibandingkan dengan rekan mahasiswa yang jauh lebih muda. Malahan skripsi sarjana saya tulis dalam bahasa Belanda di bawah bimbingan Beerling. Tema skripsi itu adalah perbandingan antara masyarakat Abad Pertengahan dan Modern di Eropa, dengan ilustrasi filsafat sejarah.

Terus terang, jurusan sejarah kami di Jakarta waktu itu sangat lemah. Pada suatu waktu di UI saya praktis sendirian. Teman lain pada pindah ke arkeologi. Saya masih ingat, suatu hari Profesor Resink bertanya kepada saya, “Mengapa tidak pindah saja ke fakultas sosial ekonomi?” Saya tak menyesal tidak mengikuti nasehatnya. Saya berkeyakinan bahwa suatu waktu, di antara 80 juta atau 90 juta orang Indonesia (waktu itu) paling sedikit harus ada satu sarjana yang mengkhususkan diri dalam sejarah Indonesia. Saya lulus sebagai sarjana sejarah pertama di Indonesia Februari 1956.

Kebetulan, satu hal yang perlu dilaksanakan setelah saya menjadi sarjana adalah menulis sejarah nasional. Terutama untuk kebutuhan sekolah, dan kedua, untuk mengganti sejarah warisan Belanda. Waktu itu tahun 1957, diselenggarakan Seminar Sejarah Nasional I. Saya mendapat kesempatan menjadi pemberi saran. Setelah saya, banyak orang masuk jurusan sejarah.

Penulisan sejarah menjadi penting sejak tahun 1950. Saya sendiri mendapat kesempatan melaksanakannya. Meskipun tidak selalu berhasil, saya mendapat kesempatan mewujudkannya. Terutama mewujudkan buku Sejarah Nasional Indonesia yang memiliki posisi penting.

Berbicara tentang sejarah, pengetahuan sejarah, terutama sejarah nasional, diperlukan untuk membangkitkan kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah melandasi kesadaran nasional. Kesadaran nasional adalah pangkal dari seluruh nasionalisme idiologi pembentukan bangsa. Terserah umum menyadari atau tidak, ini bisa dilacak secara logis.

Pada kesempatan yang lain, dalam suatu seminar, saya katakan kita masih menghadapi kendala-kendala. Yakni, adanya konsepsi yang salah mengenai kesejarahan, misalnya, banyak teman wartawan menanyakan pada saya “Pak Sartono, sebagai seorang sejarawan penyusun Sejarah Nasional Indonesi, bagaimana perasaan Bapak menghadapi revisi buku itu?” Pertanyaan seperti ini timbul dari pikiran seolah-olah kalau buku sejarah direvisi, langsung si penulis terkena. Lho, ini kan salah. Revisi itu biasa sekali. Semua sejarah pasti ditulis kembali. Setiap generasi lazim menulis kembali sejarah dengan wawasan generasi itu yang tentu saja lain dengan generasi sebelumnya. Revisi itu amatlah wajar.

Tak ada penulisan sejarah yang final. Ada penulisan seperti zamannya rezim Stalin di Soviet yang mengatakan penulisan sejarah harus begini. Tapi begitu Stalin meninggal, penulisan sejarahnya dirombak. Bahkan nama Stalin harus dibuang.

Tentu repot kalau sejarah ditulis dengan cara seperti itu. Anggapan yang mendasari itu kekanak-kanakan. Seperti anak SD, yang mengira bahwa apa yang ditulis dibuku ya seperti itu realitasnya. Tidak diketahui bahwa semua sejarah penulisannya subjektif. Artinya, melekat dalam tulisan itu cirri-ciri si subjek. Ciri generasi, ciri kelompok, tidak mungkin lepas sama sekali.

Dari sudut lain, kalau tidak ada konsepsi yang salah,pasti tidak ada gedung-gedung dirobohkan seperti sekarang. Kontradiksi yang terjadi kini di Indonesia adalah di satu sisi ingin memajukan parawisatanya, tapi di pihak lain, karena tak ada wawasan historis, gedung-gedung kuno dibongkar. Ini kontradiktif. Mana ada turis mau lihat gedung-gedung baru saja?

Saya baru belajar sepuas-puasnya waktu dikirim belajar oleh Departemen P dan K ke Yale University, Amerika Serikat, tahun 1962.Waktu berangkat ke Amerika, istri saya ikut, anak-anak saya titipkan ke neneknya.

Saya memilih disiplin ilmu lain seperti ilmu politik, antropologi, dan sosiologi. Jadi , bukan sejarah. Saya ingin menyerap lebih banyak metodologi interdisiplinernya. Saya lulus MA tahun 1964.

Disertasi saya berjudul The Peason Revoult of Banten in 1888, Its Condition, Coursen Seguel: A Case Study of  Social Moverment in Indonesia. Sebelum berangkat ke luar negeri, saya memang berniat menulis tentang gerakan sosial. Antara lain mengenai Budi Utomo. Tapi promotor saya, Profesor Sukanto, meninggal. Lalu saya dengan ada orang Jepang yang menggarap masalah Budi Utomo. Tapi saya juga berminat mempelajari tentang Ratu Adil (Messeanisme) dalam sejarah Indonesia. Waktu itu saya juga berurusan dengan penulisan sejarah nasional.

Dengan berbagai alasan tersebut, ternyata semuanya tercakup dalam disertasi yang saya tulis mengenai Pemberontakan Petani Banten. Di sini ada gerakan sosialnya, sejarah nasionalnya, masalah Messeanismenya. Juga tercakup peranan bangsa sendiri. Petani punya peranan, tapi tak pernah disebut dalam sejarah yang ditulis oleh sejarawan Belanda. Padahal dalam antropologi dan ilmu politik, petani menjadi pusat. (Penyalin dari TEMPO:  saya ongkos salin pada rental (T.A. Sakti).

 

(Sumber: Majalah TEMPO, 24 Oktober 1992 hlm. 44 – 66).

Catatan: Beberapa foto yang dipasang TEMPO(insya Allah akan saya scan nanti)

1. Di ruang kerjanya: terlihat beliau sedang membaca dengan ‘alat membaca khas beliau’. “saya tidak menyesal memilih sejarah”.

2. Bersama Presiden Soeharto ketika mendapat penghargaan, tahun 1990.

3. dst..dst…..

  

Lee turun, Goh Naik. Apa Bedanya ?

Lee turun, Goh Naik.

Apa Bedanya ?

 

Goh Chok Tong, perdana menteri baru Singapura berjanji akan

memakai sepatunya sendiri. Banyak yang sangsi, karena Lee

Kuan Yew akan duduk sebagai menteri senior.

Lampu warna-warni menghiasi hampir semua kompleks pertokoan. Sementara itu, sampai pukul 11 malam pekan lalu, taman-taman kota masih dipenuhi muda-mudi yang lagi pacaran. Tempat makan model Pecenongan, yang di sana namanya Food Street, penuh sampai pagi.

Namun jangan dihubungkan itu semua dengan turunnya Perdana Menteri Lee Kuan Yew (67 tahun), dan naiknya Goh Chok Tong (49 tahun) sebagai pemimpin baru, yang akan dilangsungkan Rabu pekan ini. Kemeriahan semua pusat pertokoan itu adalah untuk menanti Natal. Tak kelihatan sehelai bendera, umbul-umbul, atau spanduk pun yang mengucapkan selamat pada Goh. Konon, jauh sebelumnya sudah ada pesan dari Goh, agar peristiwa pelantikannya tak usah dibesar-besarkannya.

Namun, di samping pesan Goh, bila peristiwa ini tak diramaikan, mungkin karena suksesi ini berjalan tanpa huru-hara. Orang tak perlu cemas. Tanyalah dari supir taksi sampai penjaga hotel, mereka yakin semuanya bakal beres. Atau, karena demikian mulusnya pergantian penguasa ini, orang pun berani bertaruh, bahwa tak ada perubahan apa pun, hingga tak perlu ucapan selamat. “Tak akan ada perubahan. Dari PAP ke PAP juga. Buat apa ramai-ramai?” kata seorang pejabat pemerintah yang tak mau disebutkan identitasnya. PAP, People Action Party atau Partai Aksi Rakyat, sudah menguasai kota itu sejak ia merdeka pada 1963, dan waktu itu masih menjadi bagian Malaysia.

Bila dicari, apalagi di kalangan anak muda, sebetulnya reaksi pada suksesi ini ada juga. Misalnya, Low Thia Kiang, Sekretaris Partai Buruh yang juga penguasa pabrik alumunium. Ia tak puas dengan dunia politik Singapura yang penuh tekanan. “Tapi mau apa lagi?”, katanya.

Yatiman Yusof, sekretaris parlemen yang PAP, melihtanya dari sudut lain. Proses suksesi itu katanya, sudah lama dibicarakan. Bahkan sudah sejak 1976 Lee Kuan Yew mengatakan akan mundur. “Kalau orang sudah ngomong sepuluh tahun untuk soal yang sama, ya membosankan,” katanya dalam bahasa Inggris bagus.

Sudah sejak 1984 orang mulai bicara dengan lepas tentang peralihan dari Lee ke Goh. Pada pesta kemenangan PAP dalam pemilu terakhir , 4 September 1988, Goh memberi ancar-ancar. “Saya akan jadi Perdana Menteri dalam dua tahun lagi,” katanya kepada wartawan. Lalu Goh mengatakan lagi, waktunya antara akhir November dan minggu pertama Desember 1990. Itulah yang terjadi.

Susunan kabinet baru pun tak mengejutkan. Akhir Oktober Goh menyebut Ong Teng Cheong dan B.G. Lee – anak Lee Kuan Yew – sebagai Wakil Perdana Menteri. Lee muda diberi keistimewaan: ia akan mewakili sebagai pejabat Perdana Menteri apabila Goh berhalangan. Alasan Goh sangat mudah. Kalau ia hanya berpikir untuk tiga atau lima tahun saja, katanya, yang dipilihnya adalah Ong Teng Cheong atau Tonny Tan. Namun, ia mesti berpikir jauh, demi masa depan negara. Susahnya, dengan pilihan itu, banyak yang menganggap ia tak lebih “menghangat kursi.”

“Bagi saya, B.G. Lee adalah mitra, bukan saingan,” kata Goh di muka komprensi kadet PAP, pertengahan November lalu. Ucapan itu justru memancing spekulasi bahwa di antara mereka memang ada rivalitas. Bahkan ada yang mengatakan, dalam kabinet pun sekarang sudah ada dua kubu. Goh punya konco, sementara B.G juga punya geng seperti Wong Kan Seng (menteri luar negeri), Mah Bow Tan, dan George Teo. Ada juga yang “netral”. “susah untuk mengatakan dengan jelas ini orang Goh, itu orang Teo,” kata seorang wartawan senior Singapura.

Keputusan paling penting tapi juga sudah bisa ditebak adalah pengangkatan Lee Kuan Yew sebagai senior minister. Menurut protokoler, pangkat itu adalah tertinggi kedua, setelah perdana menteri. Lee juga akan tetap sebagai sekjen PAP. Tradisi di mana-mana, seperti Partai Tory di Inggris, bos adalah perdana menteri. Di sini baru uniknya politik Singapura. Lee tetap sekjen, selagi Goh perdana menteri

Namun, menurut Goh, tadinya ia ingin mengambil alih jabatan sekjen itu. Ia memutuskan mempertahankan Lee pada jabatan itu karena ia memerlukannya sebagai “penjaga Gurkha” untuk Singapura. Rumah para pejabat Singapura memang dijaga tukang pukul Gurkha yang dikenal setia. “Mr Lee unik. Ia bisa mempengaruhi siapa saja yang diinginkannya,” kata Goh pada para wartawan Indonesia tentang mentornya itu. Di dalam kabinet ia akan menjadi seorang “konsultan”.

Untuk kalangan oposisi, kedudukan Lee yang masih tetap menentukan jelas buruk. Kata Chiam See Tong, Ketua Singapure Democratic Party (SDP), keadaan baru baik kalau Lee benar-benar mundur. Chiam, satu-satunya tokoh oposisi sebenarnya di parlemen, menganggap Lee sebagai sosok politikus yang hidup di masa-masa sulit. Ia hidup di zaman kolonial Inggris, pendudukan Jepang, dan perjuangan melawan komunis. Tipe pemimpin seperti itu tak kenal kompromi, kata Chiam.

Kondisi sekarang tak cocok untuk tipe pemimpin seperti Lee. Chiam mengakui prestasi Lee yang luar biasa. “Ia adalah George Washington-nya Singapura,” kata pengacara yang bertubuh atletis yang berkantor di ruangan kecil milik orang India itu. Stabilitas politik diakuinya sebagai jasa Lee. Demikian juga dengan sistem hukum yang baik dan pemerintah bersih korupsi. Namun, Lee, menurut Chiam, sangat paternalistik. PAP disebutnya partai yang telah menyiapkan segala tatanan.

Masalahya, sejalan dengan perkembangan Singapura, kepemimpinan paternalistik mungkin tak cocok lagi. “Kami memerlukan perubahan gaya. Tak bisa lagi dipertahankan sebuah pemerintahan yang tak punya toleransi terhadap pandangan berbeda,” kata Chiam menegaskan.

Ia menaruh harapan besar pada Goh, yang dalam penilaiannya gayanya bisa diterima rakyat. Goh lebih lunak, komunikatif, dan selalu mencari consensus. Ia berharap oposisi bisa berperan.

Namun, J.B. Jeyaretnan, sekjen Worker’s Party, punya pandangan lain. Ia pesimistis terhadap suksesi ini. “Saya kira tak akan hanya perubahan. Apalagi Lee tetap jadi sekjen PAP. Jadi, apa bedanya?” kata Jeya.

Sebenarnya, perbedaan itu diam-diam sedang direncanakan. Parlemen kini sedang menyiapkan sebuah RUU yang akan memberi kekuasaan lebih besar pada presiden. Berdasarkan pada RUU tersebut, presiden akan dipilih oleh rakyat. Masih diperdebatkan apakah langsung seperti di Amerika atau sistem perwakilan seperti di Indonesia, atau bagaimana. Yang sudah pasti, presiden terpilih akan punya hak veto untuk pengangkatan pejabat kunci dan juga penentuan bujet.

Segera saja timbul spekulasi bahwa Lee akan menempati posisi itu, secara tak langsung. Menurut rencana, Wee Kim Wee, presiden sekarang, akan menjadi presiden pertama yang dipilih, sedangkan Lee akan jadi yang kedua. Memang kontradiktif terdengarnya, sementara ada pemilihan, tapi siapa yang terpilih sudah ditentukan.

Karena itulah pihak oposisi, terutama Chiam, tak begitu antusias terhadap perubahan itu. Diakuinya, bila UU itu sudah berlaku, pemilihan presiden akan menjadi sesuatu yang sangat penting artinya. Namun, kalau yang terpilih seorang yang paternalistik seperti Lee, dan partai berkuasa mendominasi segala hal seperti PAP sekarang, sementara rakyat akan tetap apatis.

Keadaan akan lebih runyam lagi kalau yang terpilih sebgai presiden berasal dari bukan partai penguasa. Keadaannya akan repot karena segalanya akan macet.

Akhirnya, yag ditunggu adalah janji Goh, sebagaimana yang dikatakannya pada International Herald Tribune dua pekan lalu, untuk memerintah dengan lebih demokratis dan lebih lunak.

Setalah Pertemuan

Tengah Malam

 

Goh Chok Tong sudah memberikan kesan sederhana pada awal pelantikannya. Ia lebih suka memilih suatu ruang kecil di City Hail. Di tempat itulah, 31 tahun lalu, Lee Kuan Yew dilantik pertama kali. Tampaknya pergantian pimpinan ini seperti mengganti pilot dengan copilot (lihat wawancara). Menengok sejarah keduanya, memang Lee jugalah yang mendorong Go memasuki dunia politik.

Goh, kini 49 tahun, pada mulanya ingin jadi ahli ekonomi. Karier pertamanya memang sebagai Direktur Eksekutif Orient Lines. Di tangan Goh perusahaan perkapalan negara itu berkembang pesat. Tak sia-sia ia mengantungi master ekonomi pembangunan dari William College, Massachusetts, AS.

Melihat bakat Goh, orang nomor satu di Singapura mendorong Goh terjun ke gelanggang politik. Goh, yang semula ogah-ogahan, entah kenapa, akhirnya setuju.

Pada 1976, Goh jadi anggota parlemen, mewakili partai PAP (Partai Aksi Rakyat). Hanya setahun dikursi itu, Goh terpilih menjadi Menteri Keuangan. Dua tahun  berikut sudah pindah lagi ke kursi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Sementara itu, posisinya di PAP pun ikut meroket: sebagai asisten kedua Sekjen PAP, orang ketiga terpenting di partai berkuasa itu.

Pada 1980, Goh “dites” lagi, sebagai ketua komite pemilihan selang dan persiapan pemilu 1980. Ternyata, ia lulus dengan pujian. Prestasi sebagai manajer kampanye partai membuat Goh dipercaya untuk mengepalai tim seleksi calon pemimpin generasi ketiga PAP.

Yang kemudian memberikan nilai plus bagi Goh adalah caranya yang unik dalam menyeleksi calon. Pria berkaca mata minus itu mengundang calon-calon yang diincar secara informal, minum the di rumahnya, tiga minggu sekali. Di antara pertemuan ini Goh melirik calon yang dianggap memenuhi syarat. Kalau mereka lolos, Goh baru memperkenalkan mereka kepada anggota tim seleksi lainnya.

Dari situ Goh ditarik ke kabinet lagi, sebagai menteri kesehatan merangkap menteri pertahanan. Sementara itu, dalam partai, dari orang ketiga, ia ditarik jadi orang kedua.

Sebenarnya, dalam kelompok PAP generasi kedua, ada banyak calon kuat. Goh dikelilingi oleh enam tokoh muda lainnya. Antara lain Tonny Tan (menteri perdagangan dan industri) Ong Teng Cheong (menteri non-departemen), Suppiah Dhanabalan (menteri luar negeri dan pendidikan, Jayakumar (menteri dalam negeri) dan Yeo Ning Hong (menteri negara urusan pertahanan).

Bila akhirnya Goh yang dipilih, ada cerita tersendiri. Sekitar 1984, ketika perolehan suara PAP menurun, “kami yang muda-muda sangat prihatin,” tutur Goh, sekitar enam bulan lalu. Maka, mereka bertekad berperan di depan agar menguasai segala persoalan.

Waktu itu disepakati, di antara mereka harus ada yang berdiri paling depan. “Penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin di antara yang muda-muda ini sangat mendesak,” ujar Goh. Akhirnya ketujuh anggota generasi kedua ini sepakat untuk bertemu di rumah Tonny Tan pukul 10.30 malam.

Goh terlambat hadir. Ia punya acara yang tidak bisa ditinggalkan, sebagai tamu kehormatan di daerah pemilihan. Rupanya, keenam rekannya sudah membuat putusan. “Kami sudah sepakat,” kata Tonny, “Kamu yang akan memimpin kami.” Saat itu Goh memang sudah di atas angin. Ia menjabat asisten pertama Sekjen PAP.

Entahlah, apakah setelah menjadi PM, Goh masih sempat menyalurkan hobinya: main tenis dan golf. Atau memberi waktu untuk keluarganya, misalnya bermain-main dengan sepasang anak kembarnya.

Setelah Kopilot Menjadi Kapten

Lee Kuan Yew tentang suksesi, Presiden Soeharto, ASEAN, dan oposisi. Wawancara Tempo dengan PM yang pekan ini menyerahkan jabatan pada

Goh Chok Tong.              

 

Alih kekuasaan di Singapura berjalan mulus. Itulah kesan para pengamat sehubungan dengan pelantikan Goh Chok Tong pada Rabu pekan ini. “Itu telah kami persiapkan sejak lima tahun yang silam,” kata Perdana Menteri Lee Kuan Yew, Senin pekan ini, ketika menerima enam wartawan Indonesia, antara lain wartawan Tempo Fikri Jufri.

Di ruang tamu istana negara, tempat wawancara bersama itu dilakukan, Lee tampak santai dan banyak tertawa. Mengenakan kemeja lengan pendek, celana dril hijau muda, dan jaket abu-abu, orang nomor satu Singapura itu kelihatan siap menjawab berbagai pertanyaan. Wawancara berlangsung lebih sebagai diskusi daripada tanya jawab. Berikut ini adalah beberapa petikannya dari wawancara tersebut, ditambah kutipan dari pertanyaan tertulis Tempo yang diajukan beberapa hari sebelumnya.

Apa yang mendorong Anda merasa siap melepaskan kendali pemerintahan pada Goh. Konsep Anda tentang kekuasaan?

 

Secara ekonomi negeri Singapura boleh dikatakan telah mencapai taraf lepas landas. Ini menyebabkan kami menghadapi dua pilihan sulit: menunggu sampai mencapai ketinggian jelajah tertentu dan menyerahkan kemudi kepada para penerus, atau serahkan kendali itu sekarang meskipun kami masih mendaki. Kalau kami ambil alternatif pertama, ada bahaya bagi kopilot. Ia tak akan punya waktu untuk merasa dirinya siap jadi pilot.

Kami akhirnya tiba pada keputusan membiarkan kopilot menjadi kapten pesawat negeri ini dan kami yang tua-tua jadi kopilotnya. Kalau saja posisi Singapura ibarat pesawat masih ada di landasan, kami tak berani melakukan itu. Untunglah, keadaan ekonomi kami sudah demikian maju sehingga kami merasa sudah tiba waktunya mengalihkan kekuasaan kepada para pemimpin generasi muda. Itulah latar belakang dari keputusan kami.

Tapi, Anda kan tahu tentang dilema suatu kekuasaan yang biasanya tak begitu mudah dilepaskan kepada orang lain. Bagaimana Anda bisa menghindari dilema tadi meskipun terdengar juga tudingan Anda telah melakukan akumulasi kekuasaan?

 

Peran saya adalah wasit dari sebuah negeri penganut ekonomi bebas. Ia harus adil, tak bisa dipengaruhi lantaran koneksi atau menerima hadiah. Tak berarti kami tak ingin melihat orang jadi kaya. Di negeri ini punya banyak orang kaya daripada para pemimpin politik. Masing-masing tahu akan perannya. Kalau orang ingin cari duit agar jadi kaya, mereka bebas bergerak di berbagai bidang mulai dari perusahaan swasta, dokter, pengacara, arsitektur, dan lain-lain.

Dilihat secara fisik Anda sehat, padahal banyak pemimpin dunia yang lebih tua dari Anda. Faktor lain apa yang mendorong Anda memutuskan pengunduran diri sekarang?

Kaum eksekutif di negara-negara maju pensiun pada usia 65 tahun, demi vitalitas dan sistem suksesi yang teratur. Saya sebenarnya sudah siap mengundurkan diri pada usia 65 di tahun 1988. Tapi, Chock Tong meminta saya tetap pada kedudukan saya supaya ia dapat mengonsolidasikan kedudukannya di kalangan para pemimpin Indonesia dan Malaysia. Sekarang ia sudah siap mengambil alih kekuasaan.

Banyak yang mengatakan Anda akan jadi menteri senior atau malah menjadi presiden. Apakah Anda berencana memainkan peranan sebagai pelindung pemerintah Goh?

 

Tugas utama saya sebagai menteri senior adalah membantu Goh memenangkan pemilu yang akan datang. Saya telah memenangkan delapan pemilu. Saya tahu bagaimana mengajukan kebijaksanaan-kebijaksanaan tak popular dengan cara tertentu sehingga menjelang pemilu rakyat menyadari itu perlu dan bermanfaat. Karena itu, mereka memilih kami lagi. Goh dan timnya akan memperkembangkan keahlian mereka dengan menghadapi berbagai pengalaman seperti itu.

Mengapa Anda menunjuk Goh dan bukan B.G. Lee sebagai pengganti Anda?

 

Saya tidak menunjuk Goh. Para menteri lebih mudalah yang memilihnya sebagai pemimpin mereka setelah memenangkan pemilu pada Desember 1984. B.G Lee tak ditunjuk sebagai pengganti saya lantaran menteri-menteri itu tak memilihnya.

Tampaknya, Anda punya suatu peraturan khusus yang dikenakan terhadap orang Melayu dan susunan etnis di Singapura. Apakah menurut Anda kebijaksanaan itu harus terus dilakukan?

 

Saya tak punya “peraturan” istimewa terhadap orang Melayu Singapura. Kalau yang dimaksudkan itu untuk menentukan persentase jumlah penduduk Melayu, sebenarnya persentase itu sekarang sudah naik dari 12% pada 1945 jadi 15% pada 1990. Jumlah itu tak akan berubah secara dramatis dalam 45 tahun mendatang. Walaupun ada perbedaan dalam angka kelahiran setiap ras, jumlah itu tak cukup besar untuk mengubah susunan masyarakat Singapura secara fundamental. Singapura adalah negeri berbilang kaum (multirasial).

Hari depan ras Melayu bergantung pada yang 190 juta di Indonesia dan Malaysia. Hari depan ras India bergantung pada 700 juta orang India di India sedangkan yang Cina bergantung pada 1,1 milyar yang ada di daratan Cina. Pendekatan yang paling baik bagi Singapura adalah tetap seperti sekarang ini dan mempertahankan harmoni dan persatuan di kalangan ras-ras itu.

Anda yang mengatakan Anda terlalu pragmatis. Anda telah memajukan ekonomi Singapura dengan cepat, tapi di balik itu sepertinya Anda kurang memperhatikan ideologi dan identitas nasional. Benarkah pendapat itu?

 

Saya yakin kalau ideologi dan identitas nasional harus berkembang dengan perlahan. Sebagai hasil percobaan-percobaan kami dan respons kami terhadap banyak masalah dan kesulitan, kami akan menciptakan suatu ideologi nasional dan identitas nasional. Kalau kedua hal itu terlalu dipaksakan, yang didapat hanyalah kegagalan.

Nampaknya, Anda pengagum Presiden Soeharto, dan berpendapat Goh bisa jadi seorang Soeharto yang tak suka banyak bicara. Tapi, Anda pintar berpidato. Apakah bisa dikatakan PM Lee sebagai kombinasi antara Soekarno dan Soeharto?

 

Wah, saya tak punya karisma seperti Soekarno yang bisa pidato berjam-jam, tanpa teks, tanpa persiapan. Saya tak memiliki stelan yang bisa menggetarkan seperti itu. Saya lebih suka menggunakan pendekatan lebih intelektual ketimbang emosional. Soekarno sering bisa tampil dari satu pidato ke pidato yang lain. Saya lebih suka mempraktekkan dulu isi pidato pertama sebelum pindah ke pidato lain.

Soeharto tak suka pidato panjang-panjang, tapi ia menyediakan lebih banyak waktu untuk berunding dengan para menteri dan penasehatnya. Sebelum mengambil keputusan, Soeharto menyediakan waktu untuk mempertimbangkannya dulu, kadang untuk waktu cukup lama. Tapi, begitu merasa yakin, ia akan melaksanakan dengan konsisten. Itulah rahasia sukses Soeharto sebagai pemimpin.

Anda sudah sekian lama memimpin dan menjadi panutan. Karenanya, apakah Goh tak akan menengok dulu pada Anda sebelum ia mengambil suatu tindakan penting?

 

Tidak, tidak. Bagaimanapun ia selalu akan menoleh ke saya kalau saya tak hadir di situ. Dia telah dan akan tampil dalam berbagai sidang, dan dia telah dan akan mengambil sendiri keputusan. Kami berdua sudah bekerja sama selama 14 tahun. Ia sudah bisa membaca apa yang ada pada benak saya. Mana mungkin kami bisa bekerja sama kalau tujuan kami tak seiring? Hanya saja cara untuk mencapai sasaran bisa berubah, bergantung pada keadaan.           

Hubungan Anda dengan Presiden Soeharto nampak semakin akrab walaupun latar belakang masing-masing berbeda. Betulkah?

 

Ada kesamaan pendekatan antara saya dan dia, di samping perbedaan-perbedaan antara kami yang menurut saya superfisial. Saya tak bisa bicara tentang Soeharto lantaran saya bukan dia. Kami memiliki rasa pendekatan yang sama baik dalam melihat suatu masalah maupun dalam menilai orang lain. Saya rasakan itu dan karenanya kami bisa menjalin hubungan tanpa perlu banyak bicara. Itulah yang menurut saya hubungan nonverbal.

Dia seorang yang baik dan saya bisa mengandalkannya setiap kali kami mencari penyelesaian atas suatu masalah. Saya percaya Presiden Soeharto menganut cara pendekatan yang sama. Presiden Soeharto tak selalu menggunakan argumentasi logis, tapi ia lebih bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kami berdua bukan orang teori dan tak begitu percaya pada itu. Saya berkesimpulan cara Soeharto memecahkan persoalan sama dengan yang saya selalu lakukan. Goh Chock Tong juga termasuk orang yang tak terlalu percaya pada teori.

Namun, ada kesan bahwa Andalah yang sering menyesuaikan diri dengan Soerhato…

 

Dia ramah. Dia bisa menerima saya bukan perokok, karena mata dan hidung saya sakit kalau kena asap. Tapi, mungkin tak banyak orang yang tahu dalam pertemuan “empat mata” Presiden Soeharto bisa berbicara banyak, dan itu terasa lebih efektif. Chok Tong adalah orang tipe demikian.

Banyak yang beranggapan Cina di Asia, termasuk etnik Cina, memainkan peranan dominan terutama di sector ekonomi. Komentar Anda?

 

Saya anggap itu mitos. Kalau orang Singapura berunding dengan wakil-wakil perusahaan negara RRC, jangan dikira itu berjalan mulus dengan sendirinya. Cina yang sedang menggalakkan modernisasi punya kepentingan sendiri. Juga kalau saya bertemu dengan orang keturunan Cina Filipina, mereka juga lain karena gaya mereka lebih mirip Amerika, Cina Malakapun, yang sudah ratusan tahun tinggal di sana, amat berbeda dengan orang Cina di negeri lain. Persamaannya, mereka yang di mana pun sangat mementingkan kelaurga, hidup hemat, dan mengutamakan pendidikan.

Bagaimana persepsi Anda tentang Asia Tenggara seandainya tercipta perdamaian di Kamboja? Mungkinkah itu menampilkan wajah Asia yang kohesif dengan mengikutsertakan negara-negara Indocina dalam suatu sistem regional seperti ASEAN?

 

Saya kira persatuan ASEAN perlu dipertahankan. Kita belum perlu memasukkan Vietnam, Kamboja, dan Laos ke dalam ASEAN. Sekalipun demikian, kita mesti membantu mereka karena, menurut perhitungan saya, Vietnam membutuhkan sekitar 10 tahun untuk mengubah ekonomi komando jadi ekonomi pasar bebas. Kita tidak boleh melupakan Burma. Ia bagian dari Asia Tenggara, dan memiliki posisi strategis sebagai jembatan dengan Asia Selatan.

Dua hari lagi Anda akan menyerahkan tongkat komando pada Goh. Apakah di hari baik itu pemerintah akan membebaskan tahanan politik Chia Thy Poh yang sampai sekarang ditempatkan di Pulau Santosa?

 

Dia diizinkan datang ke kota untuk bekerja. Tapi, harap diketahui, dia itu komunis. Kami terus memantaunya tanpa disadarinya. Ketika gembong komunis Malaysia, Chin Peng, menyerah Desember tahun lalu, Cina amat kecewa. Untuk gampangnya, boleh saja ia menuntut saya. Di Singapura, apabila ada seseorang menuduh orang lain komunis, itu berarti pencemaran nama, suatu perbuatan melanggar hukum. Jadi, kalau Cina mau, ia bisa saja mengadukan saya ke pengadilan.

Setelah Suksesi,

Demokrasi?

 

Cerita tentang oposisi di Singapura mungkin tak bisa dibanggakan sebagaimana pembangunannya. Satu-satunya oposisi di negeri pulau itu adalah Singapore Democratis Party (SDP), yang baru 10 tahun umurnya. Chiam See Tong, ketua SDP, satu-satunya wakil oposisi di parlemen sekarang.

Chiam, bapak satu anak yang sehari-hari bekerja sebagai pengacara, baru berhasil menembus parlemen lewat SDP pada tahun 1984. “Saya memperjuangkan demokrasi,” katanya di kantornya yang sempit, di pertokoan India di kawasan High Street.

Sebenarnya, ada oposisi lain di parlemen. Yakni Dr. Lee Siew Choh, dari Worker’s Party (WP). Hanya saja, Dr. Lee oposisi kelas dua. Ia duduk di parlemen karena jatah yang diberikan pada oposisi. Memang ada ketentuan, bila pihak oposisi hanya berhasil meraih kurang dari tiga kursi, akan ada anggota oposisi yang diangkat sampai jumlah kursi oposisi menjadi tiga. Anggota istimewa ini kemudian disebut sebagai Non-Constituency Members of Parlement (NCMP).

NCMP disebut anggota parlemen kelas dua karena mereka tak boleh memberikan suara untuk hal yang berkaitan dengan undang-undang atau anggaran. Jika misalnya ada mosi tidak percaya terhadap pemerintah, NCMP juga tak boleh ikut ambil bagian.

Lee Kuan Yew memang keras terhadap oposisi. Ia tak segan menuntut oposisi yang dianggapnya membahayakan. J.B. Jeyaretnam, Sekjen WP, adalah salah satu contoh korban sikap itu.

Pada 1981, setelah 15 tahun parlemen dikuasai hanya oleh PAP, Jeya berhasil duduk di lembaga itu. Pada pemilu 1984 ia masih bisa bertahan. Namun, dua tahun kemudian ia ditangkap, dituduh membuat pernyataan palsu dan memindahkan dana partai secara tidak jujur. Ia bukan cuma kehilangan kursi di parlemen, tetapi juga sempat dilarang melanjutkan prakteknya sebagai pengacara. Baru setelah ia mengajukan banding ke Privy Council  di London, hak prakteknya dipulihkan.

Namun, Agustus lalu, ia kena denda hampir Rp 300 juta karena pengadilan memutuskan ia mencemarkan nama baik Lee Kuan Yew. Ceritanya, dalam sebuah kampanye pemilu di Bedok, Agustus 1988, ia menghubung-hubungkan Lee dengan kematian The Cheang Wan, bekas menteri pembangunan nasional yang dinyatakan secara resmi mati karena bunuh diri.

Karena denda itu, Jeya hampir bangkrut. Untung, anggota WP membuka sumbangan, lewat media dua bulanan milik mereka, The Hammer. Karena hukum Singapura tak membenarkan soal mencari dana, Low Thia Kiang, Sekretaris WP, didatangi dan dibawa ke kantor polisi pada pukul 1.00 dini hari. Ia diinterogasi soal pengumpulan dana.

Ada tokoh oposisi yang terpaksa pindah ke Amerika, yakni Francis Seow, anggota WP yang diangkat sebagai NCMP bersama Dr. Lee Siew Choah. Desember tahun lalu ia diadili dengan tuduhan menghindari pajak. Seow terkena denda 19.000 dolar Singapura. Artinya, ia harus pergi dari parlemen karena anggota parlemen yang terkena denda lebih dari 2.000 dolar harus mundur.

Seow memang sudah lama diincar. Sebelumnya ia sempat 27 hari ditahan berdasarkan Internal Security Act (ISA). Berdasarkan ISA itu, pemerintah punya hak menahan orang tanpa diadili jika dianggap membahayakan keamanan negara.

Banyak korban ISA, antara lain Chia Thye Poh, bekas anggota Barisan Sosialis (BS), yang dituduh menjadi anggota partai komunis dan berniat menggulingkan pemerintah lewat aksi kekerasan. Sampai 19 tahun lamanya ia ditahan, pemerintah tak mengeluarkan pernyataan apa pun. “Baru tahun 1985 Menteri Dalam Negeri menjelaskan penahanan saya karena ada pertanyaan di parlemen,” tutur Chia, yang kurus dan berkaca mata tebal ini.

Akhirnya, Mei tahun lalu ia dibebaskan dengan syarat. Yakni harus tinggal di Pulau Santosa, kawasan wisata yang luasnya 3. Km2. Ia menempati sebuah rumah kecil 624 meter, bekas rumah jaga di Fort Siloso bekas benteng Inggris. Ia menyewa ruangan itu dari pemerintah, 90 dolar Singapura sebulan. Memang cukup nyaman, ada listrik, telepon, TV, kulkas kecil, dan tempat tidur. “Namun, ini ibarat kurungan. Biar dari emas juga tetap kurungan,” kata Chia yang sehari-hari sibuk jadi penerjemah. Boleh naik ke daratan Singapura cuma harus balik ke pulau begitu hari gelap.

Adakah masa yang lebih cerah di bawah Goh?

                                                                   Yopis Hidryst (Singapura)

 

( Sumber: Majalah TEMPO, 1 Desember 1990, hlm. 72 – 75). 

          

   

 

                    

 

 

Suluk, Melepas Diri dari Urusan Duniawi ( 1 )

                                           Suluk,  Melepas Diri dari Urusan Duniawi     ( 1 )

Suluk merupakan ibadah menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan melepaskan diri dari segala urusan duniawi. Pengikut suluk dilarang memakan makanan yang mengandung darah dan tidak diperkenankan berhubungan dengan masyarakat luar.  Bagaimana ibadah untuk dijalankan. Berikut ini ikuti laporan  Koresppnden Serambi  Suprijal dan Darul Qutni  CH  menelurusi kegiatan suluk di sejumlah Pesantren Aceh Selatan. Laporan ini dirangkum Zainun Yusuf.

Selama bulan suci Ramadhan ada kegiatan ibadah khas di sejumlah Dayah (pesantren) di Aceh. Sejak awal bulan Ramadhan, pria dan wanita terutama kalangan usia lanjut dengan bekal ala kadarnya ramai-ramai mendatangi Dayah guna mengikuti ibadah yang dinamakan Suluk. Di Aceh Selatan misalnya,  Dayah Darussalam Labuhan Haji dan pesantren Daruss’adah Kota Fajar  Kluet Utara. Pengikut suluk semakin bertambah dari tahun ketahun.
Ibadah suluk dilakukan menyendiri pada bilik dengan kain putih. Orang sering menyangka suluk sama dengan kalut, padahal keduanya terdapat perbedaan, di samping memang ada persamaan. Suluk rangkain kegiatannya dibimbing yang dinamakan Mursyid dan masih diperkenankan bicara dengan pengikut suluk lainnya walaupun terbatas pada hal penting saja.
Sedangkan kalut, ibadah menyendiri total dalam sebuah tempat melakukan ibadah kepada Allah SWT tanpa berbicara sepatah katapun . bila ada keperluan, komunikasi lewat surat. Peserta kalut ini tidak sembarang orang yaitu hanya  mampu dilakukan oleh orang yang telah memiliki pengetahuan agama cukup tinggi dan orang tersebut tidak lagi terpengaruh dengan kesenangan dunia ini. Sehingga peserta kalut ini sangat jarang, hanya satu dua Ulama, itu pun jarang di ketahui orang.
Kesamaannya  adalah pengikutnya dilarang memakan makanan yang berdarah dan nasi ala kadarnya, bahkan kalau peserta suluk persoalan makan telah ditentukan tekarannya oleh sebuah panitia.
Menurut Pimpinan Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Tgk Haji Mawardi Waly,  suluk terbagi tiga tingkatan, suluk 30, 20 dan 10 hari. Ibadah dilakukan dalam sebuah bilik (khalwat) meliputi doa, zikir, shalat sunat, dan membaca Al-Qur’an, sedangkan shalat fardhu dilakukan secara berjamaah. Bagi peserta suluk tidak ada waktu tanpa berzikir. Termasuk waktu berbaring lagi mata terpejam, tetap berserah diri kepada Allah SWT dengan berzikir dan berdoa.
Di dayah Darussalam,  pengikut suluk Ramadhan tahun ini tercatat 658 orang meliputi 553 kaum ibu dan 105 kaum bapak. Sekitar 80 persen berumur 50tahun  keatas dan 20 persen berusia 30 tahun kebawah . Diakui Tgk Haji Mawardi Waly , seperti biasanya pengikut lebih banyak  mengikuti suluk tingkat 20 dan 10 hari, sehingga sampai 20 Ramadhan nanti peserta suluk bisa mencapai seribu orang lebih.
Ibadah suluk merupakan ajran Tarikat Naqsyabandiah, yang dikembangkan oleh Syech Baharuddin Syahbandiyah sekitar 400 tahun setelah imam empat. Selama mengikuti suluk dilarang memakan makanan mengandung darah;  dimaksudkan untuk mengekang hawa nafsu. Agar ibadah suluk lebih khusuk, dilarang berhubungan dengan masyarakat luar , bahkan sesama pengikut suluk sendiri berbicara hanya terbatas perkataan penting saja. Misalnya, sudah shalat atau sudah makan, itu saja.
Pengikut suluk, sering menangis terutama ketika merenung arti kehidupan. Pembahasan soal kehidupan dunia dikupas oleh Mursyid dengan irama dan intonasi yang meluluh kalbu membuat peserta mengucur air mata.

Dengan demikian yang bersangkutan sudah menyatu dengan ibadah suluk, dan mampu melepaskan diri dari segala urusan dunia yang menjadi kesibukan luar biasa. Kemudian lewat ibadah suluk, pengikut berserah kepada Sang Maha Pencipta agar memperoleh keridhaannya dengan melakukan shalat Tahajut sampai larut malam.
Rangkaian kegiatan suluk selama  hampir 24 jam (Sehari Semalam) sangat sarat dengan amal ibadah. Terutama zikir yang dilakukan mencapai 5.000 sampai 7.000 kali, kemudian shalat sunat dan mengikuti ceramah Agama. Kendati demikian, panitia tidak mengabaikan masalah kesehatan pengikut suluk ini. Pada waktu pagi hari sekitar 7.00 sampai…..( satu-dua baris terpotong gunting!)
( Sumber:  Serambi Indonesia, Senin, 28 Februari 1994 halaman 7 ).

Suluk di dayah Darussa’adah Kota Fajar (2-Habis)

Suluk di dayah Darussa’adah Kota Fajar (2-Habis)

Kegiatan suluk yang sama juga dapat kita saksikan di Dayah Daruss’adah, Kota Fajar, Kluet Utara yang kini dipimpin oleh Tgk H Hasbi Nya’  Diwa. Tidak mudah untuk menelusuri kegiatan suluk di sini. Soalnya pimpinan Pesantren agak keberatan dipublikasi dengan alasan suluk bukan untuk gagah-gagahan,tapi ibadah berseri kepada Allah. Namun setelah diberi pengertian bahwa ajaran suluk juga bermanfaat bagi masyarakat yang sempat mengikuti, Akhirnya ulama  ini mengalah.

Seraya mengucap sebuah hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwatkan oleh Muad bin Jabal: “sesungguhnya sedikit dari ria itulah syirik.dan sesungguhnya orang yang memusuhi kekasih Allah , maka sungguh dia telah melawan Allah dengan peperangan. Dan sesungguhnya Allah mencintai orang yang taqwa lagi menyamarkan dirinya (tidak ingin masyhur) yaitu orang-orang kalau pergi  (tidak hadir) mereka dicari, dan kalau mereka hadir tidak diundang dan tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu yang memberi  petunjuk.’’
Hadist itulah yang dikutip Tgk H Hasbi Nya’ Diwa, ketika mulai diwawancara Serambi mengawali pembincaraan ibadah suluk di kediamannya.
Tgk.Hasbi Nyak  Diwa yang masyarakat memanggilnya Abon menjelaskan, sejak  21 Sya’ban atau sepuluh hari lagi menjelang puasa, sejumlah masyarakat sebagian besar terdiri dari orang tua-tua berdatangan ke Pesantren ini guna mengikuti ibadah suluk.
Para jamaah suluk ini-sebagaimana Ramadhan yang sudah-sudah- jumlahnya akan bertambah pada hari pertama, 10 dan 20 Ramadhan. Pengikut ini bukan saja datang dari berbagai wilayah  Kleut  Utara, bahkan dari berbagai kecamatan seperti dari Simpang Kiri, Trumon,Bakongan. Tangan-Tangan dan Manggeng malah ada dari Aceh Tenggara  yang seluruhnya berjumlah sekitar 300 orang. Mereka hadir di sini atas kemauan sendiri semata-mata untuk  kalut ( Khaluet)  dalam bilik khalwat serta menghindari segala kegiatan dunia,” kata Abon.
Menurut Ulama ini, bagi pengikut suluk harus menjalankan beberapa ketentuan. Antara lain tidak memakan makanan berdarah, menghindari percakapan yang kurang bermanfaat, kecuali sebatas yang di hajatkan sesama  jamaah suluk. Hari-hari yang dijalani pengikut suluk lebih banyak berzikir dan amalan-amalan rohani yang dilaksanakan dalam bilik khalwat.

Kendati kegiatan suluk ini semata-mata berzikir dan mensucikan jiwa dari  pengaruh keduniaan, tapi para jammah suluk diberi waktu istirahat dan tidur pada jam-jam tertentu. Bahkan pengikut suluk dari laki-laki dan kaum perempuan berusia lanjut itu diberi “riadah badaniah” (kerja bakti)sebagai olahraga dari pukul 07.00 sampai pukul 09.00  setiap pagi dengan mengambil batu kerikil di pinggiran sungai, yang tidak berapa jauh dari kompleks  untuk bahan bangunan pesantren tersebut. ‘’Riadah badaniah ini bertujuan agar fisik mereka tetap kuat saat mengamalkan ibadah kalut.
Selesai shalat Magrib dan makan para jamaah suluk  berkumpul di Majelis Irsyad untuk mendengarkan ceramah dari beberapa Mursyid(pembimbing) selama satu jam. Materi ceramah berkisar seputar bimbingan cara mengamalkan shalawat kepada Nabi, cara berzikir dan cara bacaan-bacaan lainnya dalam pengamalan thariqat Naqsyahbandiyah. Cerahmah ini diberikan oleh setiap Mursyid setiap periodik, disamping Tgk.H.Hasbi Nya’Diwa  sebagai penceramah juga disampaikan oleh Tgk Marjohan, Tgk.Baihaqi Pelumat,Tgk Aziz dan Tgk Fathani.
Seusai  mengikuti petuah Mursyid sekitar 1 jam,  kemudian melaksanakan Shalat isya dan Tarawih. Setelah tidur sekitar 1 jam, masing-masing bangun shalat sunnat Tahajjud dan Tahajjud hingga menjelang Sahur. Setelah shalat subuh kembali ke bilik khalwat untuk istirahat atau tidur dan sebagian jika dirasa  kuat terus berzikir hingga pukul 7.00.
Setelah itu pengikut suluk  mengikuti riadhah badaniah membersihkan tempat khalwat atau membawa batu kerikil dari sungai. Sehabis mandi kembali ke bilik khalwat guna bershalawat dan berzikir hingga menjelang dhuhur. Antara dhuhur dan shalat ashar mereka tidur dan istirahat  dan sehabis ashar denganTawajuh, bersiap-siap menghadapi buka puasa  setelah selesai mandi, jika Tgk H Hasbi NYa’ Diwa.
M Rahim (55) peserta kalut dan ditanya saat istirahat menunggu shalat isya di Majlis irsyad mengatakan, ia telah tiga kali menjadi jamaah suluk di Dayah Daruss’adah, “sejak mengikuti suluk ini,  jiwa saya semakin tentram dan dekat dengan sang khalik berkat amalan-amalan zikir yang di ajarkan Mursyid, sehingga amalan zikir itu terus terbiasa dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Menurut M Rahim , suasana sepi dan penuh dengan kegiatan shalawat serta zikir di bilik khalwat itu bisa menghidupkan rasa ingat dan cinta kepada Tuhan. Bahkan tak jarang kami menangis lantaran teringat dosa-dosa yang lalu sekaligus mohon keampunan  dari Allah.
Memang kegiatan ibadah kalut jika dilaksanakan secara khusuk dan ikhlas tidak sedikit pun  dipengaruhi kegiatan yang bersifat keduniaan, pasti hasilnya dapat dirasakan langsung oleh yang bersangkutan  dengan memperoleh ketenangan batin. Bahkan lebih lezat  lagi saat  berzikir yang dilakukan penuh konsentrasi sehingga mendatangkan asyik dan maksyuk yaitu fanabillah, kata seorang peserta suluk dari Krueng Luwas, Trumon.
Justru tak ada yang lebih nikmat di dunia ini, selain saat-saat kita menangis bersudu-sedu sewaktu minta agar dosa diampunkan oleh Allah, kata Tgk Marjohan pembimbing suluk di Dayah Daruss’adah.
(nun/su/ch)
( Sumber: Serambi Indonesia, Selasa,  1 Maret   1994 hlm 7 ).