PECINAN DI MAKASSAR

Catatan: Hari ini Senin, 8 Februari 2016 adalah Hari Libur Nasional, yaitu Hari Raya Imlek. Menurut penjelasan Budayawan Jaya Suprana di MetroTV tadi malam; Libur Nasional HARI RAYA IMLEK adalah anugerah bagi WNI asal Tiongkok semasa Presiden Gusdur. “Tanpa Gusdur mungkin tak ada anugerah itu”, katanya.

 

PECINAN DI MAKASSAR
Warga Tionghoa berharap bisa hidup lebih tenang dan lepas dari ketertutupan
Memasuki kawasan Jalan Ahmad Yani, Makassar, sebuah gapura dengan arsitektur khas berdiri di sebelah kiri jalan, tepatnya pintu masuk Jalan Jampea. Di gapura itu terdapat tulisan dengan huruf kanji dan latin ‘China Town’ atau Kota Cina. Kawasan ini memang merupakan tempat bermukim para warga keturunan Cina atau Tionghoa di Makassar.
Kawasan ini sebenarnya sudah lama dikenal sebagai kawasan permukiman bagi warga Cina di Makassar. Masyarakat di kota itu menyebut Pecinan seiring kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China sebagai hari libur nasional, kawasan itu semakin ramai dengan hadirnya gapura atau gerbang tersebut. Gerbang itu diresmikan Wali Kota Makassar HB Amiruddin Maula, saat malam perayaan Cap Goh Meh, 15 Februari, 2003 lalu.
Bagi warna Cina di Makassar, kehadiran gerbang itu disambut suka cita, bukan hanya karena arsitekturnya yang mencerminkan ornamen khas negara Cina, tetpi gapura itu juga dianggap sebagai simbol pengakuan dan penerimaan pemerintah maupun masyarakat Makassar terhadap warga Cina. Gerbang itu juga dinilai sebagai pertanda dimulainya babak baru dalam kehidupan warga Tionghoa dan masyarakat lainnya di Makassar.
Kegembiraan itu juga dirasakan oleh warga Tionghoa lainnya di Makassar. Hal ini diakui oleh Robert Lukas, seorang penjual barang kelontongan di Jalan Jampea, Makassar, dan Tan Rosiadi Tandean, pengusaha warung kopi di Jalan Sangir, Makassar. “Kita memang berharap bisa hidup tenang dan damai lagi bersama warga pribumi di sini, setelah sekira 30 tahun lebih kami hidup dalam ketertutupan,”kata Robert.
Bagi masyarakat Cina di sana, pembangunan gerbang itu dimaksudkan untuk menjadikan daerah itu sebagai salah satu kawasan wisata yang nantinya diharapkan akan mendatangkan nilai tambah bagi ibu kota Sulawesi Selatan itu.
Sayangnya, di kawasan itu sendiri hampir tidak bisa lagi ditemukan ornamen yang mencirikan kebudaaan Cina. Rumah-rumah mereka telah direnovasi mengikuti arsitektur modern. Kalaupun ada yang tertinggal, ia lebih diwarnai arsitektur Belanda. Satu-satunya yang masih menggambarkan kebudayaan Cina adalah empat buah kelenteng yang berada di Jalan Sulawesi dan Jalan Lombok, serta tempat sembahyang, dan bau dupa.
“Kita memang baru mulai. Bangunan-bangunan yang kini telah diubah bentuknya, kita imbau kepada pemiliknya agar dikembalikan kembali ke bentuk arsitektur Cina yang asli. Kalaupun dibangun dengan arsitektur modern, ia tetap memadukan dengan arsitektur Cina. Jadi, ke depan kawasan ini nantinya akan menawarkan nuansa negeri Cina, dengan arsitektur rumah serta kebudayaan yang khas,” papar Amiruddin Maula menanggapi kondisi kawasan itu.
Selain gerbang di Jalan Jampea, dalam waktu dekat akan dibangun lagi empat gerbang serupa di Jalan Lombok dan Jalan Timor. Dipilihnya ketiga jalan tersebut karena kawasan itu hampir seluruhnya dihuni oleh warga Tionghoa. Gerbang itu digelari sebagai gerbang perdamaian dan persaudaraan.
Permukiman warga Tionghoa di Makassar, bukan hanya di tiga jalan itu, tetapi juga di beberapa jalan, diantaranya Jalan Sulawesi, Lombok, Sangir, dan Jalan Somba Opu, yang juga Pusat Perbelanjaan di Makassar. Areal yang masuk kawasan Pecinan itu meliputi tiga kelurahan di Kecamatan Wajo, masing-masing Kelurahan Ende, Melayu Baru, dan Pattunuang, yang berada di sekitar Kawasan Pelabuhan Soekarno Hatta dan Pantai Losari Makassar.
Hingga saat ini, warga Tionghoa yang bermukim di Makassar mecapai 23.000 jiwa. Umumnya mereka bergiat di sektor perdagangan atau bisnis, mulai dari usaha warung kopi, tukang gigi, tukang emas, penjual barang kelontongan, hingga bisnis barang-barang mewah, termasuk usaha hiburan malam.
Hingga saat ini, warga Tionghoa di Makassar diperkirakan 400 tahun silam atau pada abad XVI, bahkan ada yang memprediksi sejak abad VII. Namun, tidak ada catatan sejarah yang memastikan awal masuknya warga Tionghoa di daerah itu. Yang dijadikan patokan hanyalah Kelenteng Ibu Agung Bahari di Jalan Sulawesi, Makassar. Prasasti yang ada di kelenteng itu sudah berusia 287 tahun, tetapi prasasti itu sendri dibuat setalah kelenteng itu dibangun kedua kalinya sekitar 100 tahun sebelumnya. Patokan lainnya adalah warga Tionghoa kini merupakan generasi kedelapan pemukim di kota itu.
Kedatangan warga Tionghoa di Makassar berlangsung dalam beberapa gelombang. Umumnya mereka berasal dari Cina daratan. Mereka datang ke Makassar dengan alasan untuk berdagang dan bereksodus karena itu di Cina tengah berlangsung perang, sehingga warga yang merasa terancam keselamatannya dan kesulitan mencari sumber kehidupan melakukan migrasi. Salah satu negara tujuannya adalah Indonesia.
Di Makassar, mereka berdiam di pesisir pelabuhan Makassar. Merekalah yang membuka kawasan tersebut yang saat itu masih hutan. Namun, itu bukanlah awal dari lahirnya Pecinan. Kawasan itu sendiri muncul karena kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda saat menguasai daerah itu. Pemerintah Belanda yang dekat dengan warga Tionghoa membagi empat wilayah kota Makassar saat itu. Di Wilayah Utara, ditempatkan warga Cina, Melayu dan Arab, sedang warga pribumi di bagian Selatan dan dan pinggiran utara kota. Orang-orang Belanda dan Eropa lainnya tinggal di tengah kota. Sebagian dari warga Cina memang bukan lagi Cina “totok”. Mereka sudah jadi warga keturunan melalui perkawinan campur dengan warga pribumi. Namun, jumlahnya belum terlalu besar karena adanya perbedaan yang cukup signifikan di antara mereka, terutama masalah agama.
(Sumber: REPUBLIKA, Rabu, 19 Maret 2003 hlm. 12)

Menulis itu Sulit

Menulis itu Sulit
Oleh Budi Darma
HARIAN Kompas 13 September 1983 menurunkan berita mengenai penulisan buku di UGM. Sebagai kelanjutan berita tersebut, pada tanggal 15 September 1983 harian yang sama menurunkan hasil wawancaranya dengan Direktur Gadjah Mada University Press. Hakekat diskusi dan wawancara tersebut sama, yaitu warga perguruan tinggi tidak mempunyai kebiasaan menulis; padahal orang mengharap warga perguruan tinggi sangup mengeluarkan gagasan-gagasan yang cemerlang dalam bentuk tulisan.
Ada dua hal yang dapat kita catat selubungan dengan diskusi dan wawancara tersebut. Pertama, sinyalemen yang dilanacarkan dari Unversitas Gadjah Mada pada hakikatnya bukan mengenai keadaan di Universitas bersangkutan saja. Tetapi mengenai keadaan di semua perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya. Kedua, apa yang terjadi dalam perguruan tinggi sebenarnya merupakan bias apa yang terjadi di luar perguruan tinggi sendiri. Kesulitan untuk menulis bukan semata-mata yang dihadapi oleh warga perguruan tinggi, tapi juga kesulitan yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
Berdasarkan dua cacatan tersebut, kita tidak perlu mengulang-ngulang apa yang sudah sering dikeluhkan mengenai kesulitan untuk menulis. Keluhan bahwa warga perguruan tinggi malas menulis sudah menjadi klise, meskipun kenyataan bahwa warga perguruan tinggi malas menulis tidak pernah menjadi klise. Dan keluhan yang sudah merupakan klise tidak perlu kita bicarakan lagi. Pekerjaan lain masih ada, yaitu melihat sebab-musabab mengapa menulis itu sulit. Dan kesulitan menulis, sekali lagi, bukan hak patent warga perguruan tinggi.
Ketajaman berpikir
Kesulitan untuk menulis terutama bersumber pada kurangnya kemampuan seseorang untuk berpikir kritis. Seseorang yang tidak dapat berpikir kritis dengan sendirinya tidak dapat mengedentifikasi dan memilah-milah persoalan dengan baik. Dan bila seseorang tidak mempunyai kemampuan melihat persoalan dengan betul, pikirannya juga tidak mempunyai kelengkapan daya analisa yang baik. Persepsi orang semacam ini dengan sendiriya kabur. Dan kekaburan persepsi merupakan sumber kelemahan seseorang untuk menemukan persoalan yang dapat ditulisnya. Ketidakmampuan menemukan persoalan menyebabkan seseorang tidak mungkin menulis mengenai persoalan. Milik orang semacam ini terbatas pada kemampuan menceritakan kembali pengalamannya atau apa yang pernah dilihatnya, didengarnya dan dipelajarinya.
Kurang beribawanya buku teks mengenai Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri dapat terjadi karena penulisannya hanya mampu mendongeng mengenai masalah yang sudah banyak diketahui oleh umum. Melalui buku-buku teks, sebetulnya pembaca menginginkan terbuka pikirannya mengenai persoalan dan bukannya ingin didongengi. Karena itulah, buku mengenai Indonesia yang ditulis oleh orang luar umumnya lebih mudah dicari dibanding dengan yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri.
Sudah dengan sendirinya bangsa Indonesia kaya akan bahan mengenai Indonesia sendiri. Tapi apakah kegunaan bahan kalau kemampuan untuk mengerti bahan itu sendiri tumpul? Dan ketumpulan pengetahuan mengenai bahan dengan sendirinya mengebiri kemampuan untuk menulis mengenai bahan tersebut.

Organisasi pikiran
Kekurangan berikut terletak pada kemampuan mengorganisasi pikiran dan disiplin untuk mengorganisasi pikiran. Sebagai misal, kita sering melihat orang-orang yang pandai berbicara, tetapi bodoh dalam menulis. Dan memang kepandaian berbicara tidak selamanya identik dengan kecerdasan berpikir.
Kelemahan dan kekurangan disiplin mengorganisasi pikiran akan terasa bila seseorang harus mempertangungjawabkan ketangguhan berpikir dalam bentuk tulisan. Dari pertangungjawaban tertulis itulah, kemampuan seseorang yang sebenarnya dapat dikaji. Dalam buku pelajaran bahasa Inggris 88 passages to Develop Reading comprehension: reader halaman 9 (New York: Collage Skills Center ,1980), tim penulis buku tersebut secara implisit juga menyatakan, keamampuan berpikir yang benar justru dimiliki oleh orang-orang yang diam tetapi mendalam kemampuan berpikirnya.
Tengok saja apa yang dikatakan oleh Ilen Soerianegara dalam sebuah diskusi di Tawangmangu yang diselenggarakan oleh Konsorsium Antarbidang Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun lalu. Pada waktu itu Ilen menjadi wakil Gubernur Lemhanas, sebelum akhirnya menjadi Dutabesar Republik Indonesia di Aljazair. Sebagai orang Angkatan 45 sendiri, Ilen mengakui bahwa kekurangan Angkatan 45 pada umumnya terletak pada kekurangmampuan mereka menuliskan apa yang pernah mereka perbuat. Jasa Angkatan 45 memang banyak. Tindakan, perjuangan, dan pemikiran mereka sangat berjasa dalam membangun kemerdekaan Indonesia. Tapi karena rata-rata mereka tidak dapat mempertangungjawabkan apa yang telah mereka perbuat dalam bantuk tulisan, semangat mereka sulit dinilai dan sulit diwariskan.

Kemampuan berbahasa
Selama ini, banyaknya pembicara mengenai kemampuan berbahasa ditujukan untuk lebih menyemarakkan penggunaan bahasa yang yang baku. Dengan penggunaan bahasa yang baku memang perlu. Selain itu, banyak pembicaraan mengenai bahasa yang tidak berkaitan dengan kemampuan berbahasa.
Pembicaraan yang tidak menyangkut kemampuan berbahasa sering dilakukan oleh para ahli bahasa, seperti yang dapat kita saksikan antara lain dalam jurnal MLI (Masyarakat Linguistik Indonesia). Sebagai misalnya, kita dapat menyaksikan pembicaraan mengenai gramatikal fungsional, perantoniman dalam kosa-kata, penelitian mengenai kata kerja transitif, dan sebagainya. Pembicaraan semacam ini memang perlu, terutama untuk pembinaan ilmu bahasa sendiri, akan tetapi sebetulnya tidak berkaitan dengan praktek pengguna bahasa.
Tanpa menyangkal pentingnya kedua macam pembicaraan di atas, sampai sekarang kita melihat bahwa belum banyak orang yang mengungkapkan bahwa sebetulnya kekurangmampuan mempergunakan bahasa terletak pada kekurangmampuan mempergunakan logika. Dan kekurangmampuan mempergunakan logika dapat identik dengan ketumpulan logika. Orang yang berpikirannya ruwet tidak mungkin mempergunakan bahasa dengan baik, demikian juga orang yang logikanya tumpul.
Orang yang dapat mempergunakan bahasa dengan baik, juga bukan selamanya orang yang mempunyai logika yang baik. Tulisan yang kosong dan tidak mencerminkan pikiran yang cemerlang mungkin saja ditulis oleh seseorang yang dapat mempergunakan bahasanya belum tentu benar. Meskipun demikian, dalam tulisan yang beribawa dan karena itu sekaligus mencerminkan otak penulisnya yang cemerlang, dapat dijamin bahasanya berfungsi dengan baik, lincah, dan tidak kaku.
Teori
Banyak orang menduga, mempergunakan teori-teori sebagai landasan untuk mengembangkan persoalan dalam tulisan merupakan pekerjaan yang gagah. Karena itulah banyak tulisan yang katanya ilmiah dihiasi dengan sekian banyak teori dan konsep. Dan tentu saja para penulisnya ingin dianggap sebagai ilmuan terkemuka. Untuk lebih meningkatkan wibawa penulisannya, banyak penulis yang ingin dianggap gagah ini mencantumkan sekian banyak gambar panah bersimpang siur, gambar-gambar bulatan, gambar kotak-kotak, dan tanda-tanda lain yang sebetulnya malah mengungkapkan kebodohan serta keruwetan pikiran mereka.
Wibawa sebuah tulisan tidak terletak pada beberapa banyak teori serta gambar ruwet yang dipertontonkan oleh penulisnya. Sebuah tulisan yang beribawa dapat berangkat dari common sense, dan dari common sense itulah tulisan yang beribawa justru dapat membuahkan teori. Memang pekerjaan penulis yang baik bukan mengubur dirinya ke dalam sekian banyak teori, tetapi justru membersitkan teori.
Sebuah tulisan dapat beribawa karena kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Dan kebenaran dapat diungkapkan karena otak penulisnya mampu berpikir kreatif dan mampu mengeluarkan gagasan-gagasan orisinal. Otak semacam ini banyak dimilki oleh mereka yang mempunyai kecerdasan untuk mengolah teori yang pernah dipelajarinya menjadi common sense.
Ketakutan
Ketakutan tidak dianggap ilmiah sering identik dengan kebodohan dalam menilai tulisan ilmiah secara keliru. Mereka yang takut tidak dianggap ilmiah dan mereka yang bodoh menilai ini akhirnya menyuruh diri mereka terbelenggu oleh kaidah-kaidah yang menurut mereka ilmiah.
Menurut mereka, sebuah tulisan seharusnya mempunyai bab pendahuluan bab masalah yang akan dibahas, bab tujuan penulisan, bab metode yang akan dipergunakan dalam tulisan tersebut, bab landasan teori, bab pembahasan, dan bab kesimpulan serta saran. Tulisan yang tidak memuat bab-bab ini menurut mereka hanyalah sampah.
Karena itulah, banyak orang yang justru mematikan kreativitas mereka dengan jalan mengadakan bab-bab tersebut dapat terintegrasi ke dalam tulisan secara implisit, dan karena itu tidak selamanya harus harafiah. Juga karena dorongan untuk mengikuti bab-bab tersebut, penulis yang tidak bijaksana terpaksa mengangkut sekian banyak teori ke dalam bab landasan teori, yang kalau perlu tidak relevan sekali pun. Dan orang-orang semacam ini terpaksa mengada-ngadakan saran, meskipun pikiran cemerlang pasti akan terpakai meskipun tanpa saran dari siapa pun untuk memakainya.
*Dr Budi Darma adalah staf pengajar dan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Surabaya, dikenal juga sebagai penulis cerpen.

(Sumber: Kompas, 29 September 1993, hlm. IV).

Mengarang itu Gampang

Mengarang itu Gampang
Oleh: Arswendo Atmowiloto
SETIAP waktu kita bisa di antara buku, kalau mau. Baik di tempat pemeran, di toko, di persawaan komik, di perpustakaan ataupun di rumah. Selalu disadarkan, bahwa berteman dengan buku membuat kita betah. Dan selalu juga terbesit: kayaknya saya bisa menulis seperti yang saya baca ini. Apa salahnya dicoba?
Di antara buku, selalu juga diingatkan, bahwa ada buku yang masih selalu menarik untuk jangka lama. Ada yang segera dilupakan. Ada yang ingin diceritakan berulang.
Jangan bimbang. Jangan berpikir jauh yang membikin jatuh semangat.
MENGARANG itu gampang. Asal bisa baca dan bisa menulis, jadilah. Asal pernah bercerita kepada orang lain, dengan bahasa isyarat, lewat surat atau dengan mengobrol, itu berarti punya pengalaman.
Toh semua karangan fiksi selalu mempunyai unsur sama. Ada tokoh, ada lokasi, ada waktu. Tinggal mempelari sifat masing-masing unsur, tinggal merangkaikan, menuliskan sehingga selesai. Apa susahnya?
Sambil jalan, kita belajar tentang memilih bahasa yang tepat, menguasai pengetikan, cara mengirimkan karangan, cara mengirim kritik, bagaimana mengatur honor untuk beli bakso dan bali buku. Memang cuma sebegitu.
Yang gampang tak perlu dipersulit. Karena yang sulit masih ada juga:meyakinkan diri bahwa kita punyak bakat. Padalah bakat itu sebenarnya cuma minat yang tiada habis-habisnya, tak bisa temat.
KENAPA mengarang? Karena jarang yang menyadari bisa menjadi lapangan kerja. Ini terbukti dalam tanya-jawab dengan anak-anak, yang biasanya menjawab, kalau sudah besar cita-citanya adalah menjadi dokter, pramugari, penyanyi, ABRI, Hansip atau ,,,badut di Ancol. Padahal banyak pengarang yang hidupnya lebih baik. Setidaknya dibandingkan tidak menyadari kemampuan ini dan menjadi penganggur.
Karena saya percaya di antara kita ini banyak yang berbakat. Setidaknya lebih mudah menemukan bakat bakat kesenian di antara manusia Indonesia daripada jenius seperti Pak Habibie, Pak Sutami, Pak Sudjatmoko, Pak Sumitro Joyohadikusumo.
Karena mengarang bisa terus dilakukan tanpa menjadi beban bagi pekerjaan yang sudah dilakukan. Sebagai wartawan, guru, menteri, kiyai, pastor, dokter, karyawan atau jabatan lain.
Karena mengarang bisa dilakukan tanpa menjadi penghalang bagi pekerjaan yang sudah dilakukan. Sebagai wartawan, menteri, pastor,kiyai, dokter,jenderal, karyawan atau jabatan lain.
Karena dengan mengarang bisa menulis buku, bisa menjadi wartawan, bisa menulis buku, bisa menjadi wartawan, bisa menulis lirk lagu, membuat skenario, sandiwara, teks iklan. Setidaknya menulis buku harian dan surat rayuan pula lebih lancar.
Karena mengarang mendasari diri sikap kesenimanan yang mengutamakan kreativitas. Dan kreativitas hanya muncul pada situasi, di mana ada kejujuran, keterbukaan atau kebebasan.
Karena mengarang mengajarkan pada diri sendiri untuk melatih menyampaikan gagasan yang masuk nalar, sekaligus mengajarkan mendengarkan orang lain.
Karena semangat dan sikap inilah bisa membangkit kepercayaan pada diri sendiri. Saya pernah menjajal dengan mengumpulkan remaja lulusan SMP di tahun 1971 di Sasonomulyo, Solo. Ada yang kemudian menjadi pengarang dalam artian tulisannya berupa cerita bersambung yang dimuat d Kompas, dibukukan dan kini punya pekerjaan tetap di perusahaan iklan. Ada yang terus menulis sambil menjadi guru SD. Ada yang menjadi pembina kesenian di kotanya. Di Jakarta, saya mencoba dua kali. Di perusahaan Gramedia tahun 1980, dengan peserta para karyawan ”papan bawah” lulusan SD. Ada yang kemudian bisa menjadi agen yang sukses. Yang kedua di Gelanggang Remaja Jakarta Barat. Hasilnya? Salah seorang yang terus menulis sampai sekarang ini, membuat saya ”iri” karena tulisannya sangat menjanjikan.
Sejauh yang saya tahu, mereka yang ikut Bengkel Menulis ini tadinya belum pernah berhasil mempublikasikan karyanya. Minatnya yang besar yang mendorong mengikuti ”kursus” semacam ini.
Saya percaya, yang begini ini banyak sekali jumlahnya. Pengalaman sebagai redaktur –atau semua redaktur sama saja – menunjukkan, bahwa banyak bakat tertutup yang sebenarnya dengan pengenalan diri serta materi,bisa jadi.
BAHWA mereka yang telah mapan dengan pekerjaan dan panggilan hidupnya pun menjadi lebih lancar mengemukakan gagasannya, lebih terbuka mendengarkan kritik, dengan menulis. Kita bisa mengambil contoh sembarangan dari para penulis besar ini, mulai dari Romo Magunwijaya, Pak Abdurrahman Wahid, Th, Sumarthana, Pak Umar Kayam. Atau memperkokoh profesinya seperti Pak Goenawan Mohamad, Pak Putu Wijaya, Pak Danarto, Pak Supardi Joko Damono, Pak Budi Darma, Pak Suparto Brata. Atau kalau mereka bergerak di bidang yang sejenis lebih mengerti dunia kepengarangan. Pak Ajip Rosidi, Pak Moch. Radjien, Pak Jakob Oetama (pernah menulis serial cerita detektif), Pak Susilo Murti, menjadi lebih-baik di mata rekan pengarang , setidaknya dalam soal honor –karena sikap kepengarangannya .
Banyak sekali bukti lain untuk menambah yakin.
Bahwa mengarang tidak untuk mengabaikan pilihan hidup yang ada. Bahwa kemampuan itu bisa menjadi saling mengisi.
MENGARANG ibarat berdoa, ia tak mengehentikan kerja, malah menyiapkan batin, menambah kekuatan, atau malah kekuatan itu sendiri.
Ia mengajarkan kejujuran dan keterbukaan dalam menyampaikan penglaman hidup , atau malah ia pengalaman hidup itu sendiri.
Seperti juga doa, kepengarangan bisa langgeng. Terutama karena bukan jenis pekerjaan yang bisa ketinggalan zaman. Seorang penarik becak, ketika kemajuan semakin hebat, bisa disingkirkan. Seorang pejabat tinggi, masa jabatannya yang diperpanjang pun mengenal titik henti. Tapi mengarang bisa teruuuus.
Terutama karena sebenarnya begitu banyak yang bisa ditulis. Pengalaman hidup kita masing ini begini menakjubkan- dalam soal cinta saja setiap orang bisa bercerita keunikan masing-masing, dalam soal lingkungan pekerjan bisa mengundang dan lain sebagainya. Sumber yang tak pernah menjadi kering. Selalu ada yang bisa diceritakan.
Terutama karena sebenarnya banyak sekali yang seharusnya bisa dituliskan, dengan baik. Masalah pertanian, industri, yang masih kelihatan kering. Bidang ipoleksosbud hankamrata bisa di tuliskan semuanya. Dan selama ini terasa masih kurang.
Terutama karena tuntunan adanya buku-buku akan menjadi kebutuhan. Untuk keperluan perpustakaan, untuk keperluan diri sendiri. Buku wajib. Banyak sekali, dan akan makin bertambah banyak yang harus membaca. Penggalakan minat baca sekarang ini akan melipatgandakan kebutuhan di masa mendatang.
KALAU ini terasa berlebihan, karena kita kurang menyadari saja.
Kadang saya berpikir, andaikata sikap kesenimanan diajarkan, ditularkan, akan banyak artinya. Kalau pernah tersentuh kepengarangan, barangkali nalar kita lebih bekerja, sehingga lebih kecil kemungkinan kita mendengarkan keputusan yang ganjil, surat perintah yang tak masuk akal, pidato dan penerangan yang membosankan, omongan yang belepotan tapi menentukan.
Coba saja kalau tak percaya.
MENYADARI, melatih, mencari, menemukan, melatih, melatih, melatih kepercayaan diri. Kekuatan sendiri, yang tadinya terabaikan.
Mengarang adalah salah satu jalan.
Akan banyak sekali jalan yang lain, yang bisa digali. Mudah-mudahan ini pendekatan begini bisa menggugah. Bisa mengubah ke arah yang lebih baik.
Cobalah beramai-ramai.
Tak ada salahnya. Setidaknya kita terbiasa mengutarakan gagasan secara jujur dan terbuka, dan mendengarkan gagasan orang lain dengan jujur dan terbuka. Begitu sederhana.

*Catatan pengantar pada ceramah di Pameran Buku Nasional I Jawa Timur,di gedung Dewan Kesenian Surabaya,19 Januari 1985.
(Sumber: Kompas, Senin, 21 Januari 1985 hlm. V.

Sasaran tulisan ilmiah populer

Sasaran tulisan ilmiah populer
Oleh Slamet Soeseno
Di antara segi-segi menarik yang mencuat dari diskusi ”Dorongan minat terhadap bacaan ilmiah populer” penyelenggaraan majalah Intisari tanggal 29 September 1983 yang lalu, ada dua hal yang menarik. Yaitu sasaran yang akan ditembak oleh penulisan nonfiksi dan bentuk ”peluru kendali” yang akan ditembakkan.
Sasaran yang berminat membaca tulisan nonfiksi ternyata terdiri dari tiga golongan. Para remaja yang sudah duduk di bangku SLTA dan mahasiswa tingkat permulaan sampai dengan serjana muda, dan kaum cerdik cendekia yang sudah berumur, banyak makan garam.
Macam apa?
Anak SMP dan SMA kelas satu, meskipun bukan anak-anak lagi, masih suka membaca dongeng yang indah cerita petualangan yang mendebarkan, kepahlawanan yang membanggakan dan sejarah yang merangsang keinginan tahu. Mereka tidak berminat membaca tulisan sains dan teknologi, meskipun ini sudah ditulis secara populer. Sebenarnya juga percuma, kita menulis bacaan semacam ini bagi mereka.
Walaupun kadang-kadang ada bacaan nonfiksi bagi mereka, buku tentang pesawat tempur misalnya atau artikel majalah tentang kapal perang nuklir, namun yang menarik perhatian mereka bukan uraian bentuk dari ciri pesawat hasil teknologi mutakhir itu, melainkan kejadian yang berkaitan dengan pesawat itu.
Bacaan nonfiksi tentang binatang yang berhasil memikat mereka juga bukan uraian tentng jeroan sapi, atau warna bulu kucing yang njebook, tapi kisah kehidupan seekor binatang yang dalam petualangannya berjumpa dengan pelbagai binatang lain yang hendak diceritakan sifat dan cirinya secara zoologis.
Atau kalau dibicarakan itu menyangkut keterampilan beternak lebah misalnya, yang menarik ialah kisah seorang tokoh manusia seperti petani teladan, guru inpres, atau dokter gigi yang tentara, yang pada suatu hari yang berternak lebah. Walaupun yang diutarakan itu sebagian besar tehnik keterampilan berternak, namun ada tokoh yang merupakan semacam benang berita yang terbentang mulai dari permulaan sampai akhir cerita.
Lebih nyerempet mengenai sasaran lagi, kalau kita menulis bacaan nonfiksi bagi para remaja siswa SLTA kelas dua dan tiga, yang memang ditugasi oleh guru mereka untuk menyusun karya tulis nonfiksi. Merekalah yang mulai memegang buku keilmuan, seperti buku seri Pustaka Alam, Khazanah pengetahuan bagi anak-anak, atau seri terjemahaan Ledy Bird Books.
Mereka pula yang membaca artikel tentang sains dan teknologi dalam majalah dan koran. Beberapa di antara malah ada yang menonjol jiwa risetnya. Sampai senang mengikuti lomba mengikuti karya ilmiah, baik sebagai peserta aktif, maupun sebagai penonton.
Sebaiknya mereka kita banjiri dengan bacaan nonfiksi, jangan sampai minat baca mereka yang sudah tergugah kemudian pudar kembali karena kekurangan ( rebutan ) bahan. Atau bahan bacaan yang ada berupa bahan ”asal-asalan”. Bagaimana bentuk bacaan yang selain bermutu juga menarik untuk dibaca, agar digambarkan di belakang nanti. Hanya perlu dicatat, kebanyakan dari kaum remaja ini masih menyukai cerita pendek, novel, dan roman cinta, seks dan kriminil. Ini bukan sesuatu yang perlu dibayangkan, tapi malah harus disyukuri, karena dengan menyukai cerita fiksi, mereka juga berkenalan dengan cara menulis ”cerita ” yang bagus.
Supaya bacaan nonfiksi bagi mereka bisa bersaing dengan bacaan fiksi, terpaksa ia diolah sama seperti bacaan anak, hanya bahan ceritanya yang berbeda bagi remaja ini bukan petualangan yang menarik, tapi juga tingkah laku yang berhubungan dengan cinta dengan seks. Dalam contoh cerita kehidupan binatang di muka, jadi tingkah laku bagaimana binatang bercumbuan, berkelahi rebutan pacar, teknik penyusun sarang mahligai perkawinan, pembagian tugas mengeram dan menjaga telur, membesarkan anak dengan giliran jaga.
Bahan cerita yang menarik ini hanya mungkin ditulis secara menarik, kalau penulisannya dulu memang sudah pernah berkenalan dan menghayati cara mengarang cerita fiksi, yang melukiskan kejadian dengan kata dan kalimat bagus secara jelas, sampai pembacaanya mendapat gambaran jernih.
Yang ketemu nalar
Sasaran yang lebih jitu (Bagi penulisan nonfiksi) sebenarnya ialah seorang dewasa, baik yang sudah bekerja setelah jebol SLTA, maupun yang duduk di perguruan tinggi sebagai mahasiswa. Soalnya, mereka sudah mulai mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog langsung dari penulis ke pembaca. Tidak perlu lewat kisah seorang tokoh cerita lagi.
Walaupun sebagian dari mereka masih juga membaca fiksi (sekarang meningkat ke cerita detektif atau misteri, yang pada hakikatnya juga cerita petualangan, namun diolah lebih cerdik dengan bumbu masalah yang merupakan teka-teki), daripada membaca tulisan nonfiksi yang bersifat teknis dan ilmiah dan populer, namun itu masih lebih baik daripada kalau mereka mencari bacaan erotik, karena kita kurang cukup menyediakan cerita detektif dan nonfiksi.
Sasaran ketiga ialah orangtua, yang kebanyakan menyukai tulisan mistik, filsafat, keagamaan, kebatinan, bahasan teknis, dan esei ilmiah. Merekapun jelas mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog langsung antara penulis dan pembaca. Bahkan mereka menuntut pembahasan lebih mendalam, disertai argumentasi ilmiah yang” ketemu nalar”.
Mereka terdiri dari para sarjana, berbabagai disiplin ilmu, seperti insinyur pertanian misalnya, yang senang membaca artikel tentang elektronik. Dokter syaraf yang senang membaca tulisan tentang anggrek. Atau sarjana hukum yang gemar membaca flora dan fauna. Juga orang tua yang menjadi intelektual tanpa melalui jalur perguruan tinggi, terutama kaum ibu rumah tangga dan wanita karir, termasuk kelompok sasaran ini. Mereka senantiasa menambah pengetahuan dan tingkat kecendekiaannya melalui bacaan nonfiksi, tetapi mereka tidak puas dengan tulisan sederhana yang diolah untuk ”konsumsi”remaja dan anak-anak. Mereka meminta tulisan ilmiah populer.
Sudah tentu, di sana- sini, ada golongan pembaca yang ngancik ke wilayah golongan pemabaca lain, misalnya anak cerdas cermat yang sudah senang membaca bacaan remaja, karena lebih cepat ”matang”daripada anak rata-rata sebaya mereka. Begitu pula, kadang-kadang juga ada remaja yang sudah senang membaca cerita detektif orang dewasa. Atau yang diam-diam yang sudah membaca tulisan erotik.
Tapi sebaliknya ada juga kaum remaja kolot yang masih saja suka membaca cerita petualangan paman Gober dan Donal Bebek, yang sebenarnya kegemaran anak-anak.
Dalam praktek jadi tidak ada batas nyata yang memisahkan ketiga golongan itu secara tegas. Namun daripada kita menembak ngaur, masih lebih baik mengenali sasaran berupa ketiga golongan pembaca itu, beserta kegemaran masing-masing.
Yang merangsang dan menggugah
Karena tiap sasaran itu mempunyai selera yang berbeda-beda, maka penyusunan artikel bagi tiap golongan pembaca itu pun jelas harus berbeda. Bacaan nonfiksi untuk remaja tidak mungkin dibuat sama dengan artikel ilmiah populer untuk sarjana lulusan Cornell atau ITB. Dan bacaan untuk ibu rumah tangga lulusan SKKA tidak mungkin dibuat sama dengan bacaan untuk para pejabat lulusan Lembaga Administrasi Negara.
Itulah sebabnya, bentuk bacaan nonfiksi yang kita jumpai di masyarakat baca-membaca Indonesia pada garis besarnya juga ada tiga. Pertama, bentuk tulisan deskriptif, yang membeberkan sesuatu pengetahuan atau penemuan mutakhir di bidang ke ilmuan tertentu sebagai kumpulan fakta saja, sebagaimana apa adanya (misalnya dalam majalah fashion, masak memasak, atau hias menghias), tanpa banyak meributkan soal bagaimana riwayat (latar belakang) terbentuk hal atau jalannya proses penemuan baru yang dilukiskan itu.
Misalnya uraian tentang berbgai jenis cactus atau untuk indoor garden. Namanya, terbentuknya, warnanya, dan ciri keistimewaan lainnya yang menarik, disertai gambar bewarna yang bagus. Bagi golongan pembaca remaja (SMA kelas dua dan tiga ), bacaan deskriptif ini sudah cukup wah, karena pengetahuan mereka memang sudah lebih meningkat dengan membaca tulisan yang memang lebih mendalam(sedikit) itu, daripada tulisan dalam buku pelajaran ilmu tumbuh-tumbuhan yang mereka kenal di sekolah.
Bacaan deskriptif (saja) ini bisa kita jumpai dalam beberapa harian dan majalah ibukota tertentu, yang mempunyai rubrik nonfiksi, keterampilan, atau ”ilmu dan teknologi” untuk menambah daya tarik, artikel itu sering disajikan dengan menggunakan tokoh terkemuka sebagai benang cerita, agar tulisan lebih bersifat human interest. Namun sebagian besar masih berupa tulisan berisi kumpulan fakta, yang tidak merangsang keinginan tahu dan menggugah proses pemikiran pada pembaca. Tulisan itu (berikut ilustrasinya berupa foto berwarna yang bagus-bagus) bisa dinikamati sambil tiduran saja.
Kedua, bentuk bacaan deskriptif yang betul-betul merangsang keinginan tahu. Uraian fakta yang disajikan selalu disertai penjelasan mengapa (sampai begitu) dan bagaimana (duduknya perkara). Sering pula disertai sejarah (proses) pembentukan atau riwayat penemuaannya.Misalnya tulisan mengenai ikan terbang. Setelah dilukiskan bentuk dan ciri morfologinya secara mendalam, diuraikan lebih lanjut bagaimana ikan itu berevolusi dari bentuk normal seperti ikan biasa yang lain sampai sirip dadanya berkembang dan bertugas sebagai sayap. Lalu diungkapkan bagaimana cara ikan itu terbang, lengkap dengan bukti pengamatan kemampuan ikan itu menempuh jarak sekian meter perdetik. Siapa yang mengukur? Dikisahkan kemudian pengalaman seorang peneliti yang telah mengadakan pengukuran itu. Lalu mengapa ikan itu terbang? Karena iseng? Atau karena dibuat musuh?
Artikel yang merangsang keinginan tahu semacam ini kita jumpai di harian Kompas dan Sinar Harapan; pengembangan pertanian Trubus, dan majalah psikologi Anda.
Walaupun kadang-kadang mereka menyajikan juga artikel deskriptif saja, namun karena pembaca sasaran mereka lebih banyak yang tergolong pembaca dewasa, maka sebagian besar artikel yang mereka muat juga berbentuk artikel ”tingkat menengah” ini. Dari luar negeri masuk pula ke Indonesia secara teratur majalah- majalah ilmiah populer kelompok ini, seperti reader’s Digest, kosmos national geographic magazine.
Ketiga, bentuk deskriptif yang selain merangsang keinginan tahu juga menggugah proses pemikiran. Apa yang disajikan selalu disertai dengan alasan mengapa dan bagaimana duduknya perkara, diselipi dengan masalah yang berkaitan, berikut beberapa alternatif pemecahan masalah, (bagaimana jalan keluarnya), yang perlu direnungkan.

*Slamet Soeseno adalah pensiunan pegawai Ditjen Perikanan dan sekarang staf redaksi majalah”Intisari”di samping Pemred majalah ”Trubus”.
(Sumber: Kompas, 16 -11- 1982 hlm. IV – VI).

Kisah PERANG RAJA SI UJUT

Kisah
PERANG RAJA SI UJUT
Geu-useha, lee
= TGK. MUHAMMAD EL
ABDUL MUTALLIB =

RANUB SI GAPU
Assalamu alaikom kaom saudara
Saleuem sijahtra keu gata bandum
Keu umat Islam agam ngn dara
Tuha dan muda kuta dan duson

Keu ureueng Aceh terleubeh aula
Lon kirem doa sireuta saleuem
E Ya Tuhanku beusamporna
Lagee lon cita beu-eek meuteumeung

Kareuna Aceh bijeh mulia
Beu-eek meugisa seumangat jameun
Bek gadoh dasar seni budaya
Pusaka lama beunasit tatueng
Karena Aceh bijeh mulia
Sampou Malaka geumat keurajeuen
Kareuna Bahasa ditunyok Bangsa
Bek taboh kada hai intan buleuen

Bek taboh pirak galak teumaga
Bek taboh sutra galak keu beuneueng
Bek taboh Madrou ohna Ma muda
Wate sengsara tansou peureumeuen

Bek sampou lupot bak ikot masa
Lon takot teuma jiba lam rangkeuem
Peuturot putrou palou ngon raja
Peuturot masa gata luka rueng

Peuturot nabsu jihui lam paya
Peuturot hawa meraba hareuem
Beklee that gadoh peungaroh lua
Cuba pareksa puena meuteumeueng

Laba ngon rugou keudro takira
Dengon Agma puena meulinteueng
Hukom ngon Adat sotupat hana
Hana mehoka resam ngon kanun

Nyankeuh jeut Aceh eleh lagoina
Mesikai dama jinoe tanlee yum
Karena aneuk tanle pateehma
Hana jinietna keu ureueng jameun

Asai kana buet ban heuet keurija
Sabe saudara pih jadeh mekeueng
Seb gob peukaru jihadu domba
Di ureueng lua atrateuh jitueng

E aneuk payong jantong hateema
Keunou tagisa bak gaki rinyeun
Beuthat ka tatron tarawoun donya
Ingat gunama bu teuh geusuleueng

Bak buleuen lapan sangna P.K.A
Tawou u Banda jak eu peukateuen
Mangat tabuka pusaka lama
Takalon puena sinan meuteumeueng

Talob sejarah bagah tabaca
Lethat calitra nyang meyum-meyum
Miseue kisahnyoe jinou ulonba
Atra pusaka bak ureueng jameuen

Riwayat Raja ISKANDARMUDA
Geuprang Malaka bila geujaktueng
Johor dan Bali Banang ngon Guha
Si Ujut geumita nyawong geneuktueng

Dalam SANTUNAN, sinan neubaca
Sambong calitra natieb-tieb buleeun
Lon kirem langsong duson ngon kuta
Keuneubah MAHA rata lon bulueng

Keu, KANWIL DEPAG, hak ta medo’a
Tanyou bersama paleuet talinteueng
Geutem Lestari Seni budaya
Keuneubah lama geutem peureumeuen

Kepada Bapak AZHARI MURTADHA
Lon kirem do’a sireuta Saleuem
Ranub sigapu ka lon peumada
Saleuem sijahtra Pembaca mandum
Banda Aceh/Darussalam
= Tgk. Muhammad el Abd Muttalib =
– 6 Rajab/21 Peb. 1988 M.

 
II. SALSILAH, RAJA ACEH

Dengon Bismillah kisah lon surat
Lontueng beureukat ISIM Zat Esa
ALHAMDULILLAH pujo HADHARAT
Donya akhirat lengkap kuasa

Seulaweuet saleuem lonkheun lom mehat
Akan Muhammad saidil ambiya
Keu pada wareh meceh lom sahbat
Keunan dum mehat rahmat sijahtra

Rahmat ngon saleum lon kheun lom meuhat
Keu rakan sahbat para pembaca
Akan pengarang nadlam Hikayat
Doa selamat saleum sijahtra

Mari bersatu timu ngon barat
Beusapui pakat keurija sama
Tempat ulon nyou nyang jinou si at
Di Peuluiemangat di Jangkabuya

Tegur dan sapa bak rakan sahbat
Sangat lon harab ikat saudara
Wa am ma badu laju lon surat
Ulon riwayat salsilah Raja

Kadang naskah nasalah silab
Dudou taralat ta seutot punca
Bek roh tacela sireuta upat
Nyong ulon harab meu ah beuraya

Reudok meugeudum ujeuen ngon kilat
Pineueng muda klat keubat luka
Asai teumuron deungo lon surat
Raja syah daulat Iskandarmuda

Sultan Juhansyah nyang fon gelakab
Raja syah doulat sangat takwa
Neumat keurajeuen padum treb lambat
Ohdudou mangkat meuninggai donya

Sultan Mahmudsyah bagah geu angkat
Seunang that rakyat gobnyan mat raja
Sultan Firman yohnyan pih mangkat
Geugantou mehat laenlom raja

Sultan Mansursyah bagah geu angkat
Raja nyong taat dalam Agama
Dudou nibaknyan gobnyan pih mangkat
Geugantou mehat laem lom raja

Alauddin Juhansyah bagah geu angkat
Raya martabat pangkat pih ala
Ohwafeuet gobnyan komdian mehat
Geuganto leugat laen lom raja

Sultan Huseinsyah bagah geu angkat
Gobnyan pih mehat meninggai donya
Sultan Riayatsyah bagah geu angkat
Gobnyan keuh nyong mat tampok kuasa

Gobnyan pih dudou sampou kamangkat
Laen geu angkat geuboh keuraja
Sultan Salahuddin yakin ibadat
Nyankeuh geu angkat geuboh keuraja

Wafeuet rajanyan komdian mehat
Laen geu angkat mehat lom raja
Sultan Ala uddin peumimpin geumat
Gobnyan pih meuhat meninggai donya

Sultan Pariyaman lheuhnyan geu angkat
Gobnyan keuh doulat nyangmat kuasa
Nan Pariyaman nyan nama teumat
Kareuna sabab sinan judonya

Nyan pih oh achee hanalee hayat
Laen lom meuhat geuboh keu raja
Sultan Janal ta kenal meuhat
Gobnyan mehat nyong matkuasa

Gobnyan pih sigra hingga ka mangkat
Mansorsyah mehat geuboh keuraja
Sultan Buyong nama geulakab
Kareuna sabab kinayah nama

U Pagaruyong gobnyan metempat
Sinan keuh mehat tempat judonya
Gobnyan oh ache hanalee hayat
Laen geuangkat nobat keuraja

Ala uddin Ri’ayatsyah bagah geu angkat
Nyong nyan pih mehat mangkat lom teuma
Laen geugantou dudoulom meuat
Radhiyah syah doulat nyongmat kuasa
Hingga padum treb laweet komdian mehat
Yohnyan ka mangkat raja wanita
Keu raja geukireem surat
Geunkheuen ka mangkat hanalee raja

Dudou pih bagah geubalah surat
Baro geunobat laeenlom teuma
Raja nyang meugah bagah geu angkat
Nama geu lakan Iskandarmuda

Po teumereuhom nyong peukong adat
Hukom lam kitab bak syiyahkuala
Raja that adee bukon leehebat
Seunang that rakyat duson ngon kuta

Masanyan keuh prang garang ngon hebat
Senjata geu angkat lawan Belanda
Lheeploh thoun leubeh Aceh lamgawat
Jikeuneuek gogat Aceh muliya

Beurangdum tareek han eek digogat
Deungon beureukat Iskandarmuda
Seuramou Mekkah metuah that-that
Sapui han jilhab pengaroh lua

Dengon Ulama ka sapui pakat
Hukom ngon Adat getthat geu jaga
Han eek jipikee lee kafee kaplat
Han eek jikarat nakmat kuasa

E adeek Bungsu mekru semangat
Cuba ta ingat sejarah lama
Supaya mefom bahlee lon surat
Sigetu sapat lon teu oh haba

Aceh lhee sagou keubit bakothat
Yohmasa doulat Iskandarmuda
Kaom Muslimin yakin berjihat
Karena sabab peutheun Agama

Geupeutheuen nanggro bekkuto bejat
Peutheun Martabat Nusa dan Bangsa
Geupeu theuen Hukom bek sirong Adat
Geupeutheun Rakyat bekgob inanya

Geupeutheun Aceh bijeh keuramat
Geuprang sangkilat kafee Belanda
Belanda talo hanco dum ranab
Han eek ji ingat lethat binasa

Sitna bukti dali talihat
Le that-that jeurat kafee Belanda

Di Banda Aceh bineh jalanrab
Watee talewat Meulaboh – Lhoknga
Jalan Uleelheue peukeue u barat
Uwie talihat kubu Beulanda

E adek bungsu meukru seu mangat
Cuba taingat sejarah lama
Supaya meuphom deungo lon surat
Sigeutu sapat lon teoh haba
1. Raja Wilhilmina nama jimeuhat
Jikirem alat dum bala tentra
Di Amsterdam di sideh teumpat
Menuju leugat u Puloruja

Kapai lam laot seupot dum sarat
Leungkap ngon alat meriyam lila
U Pulo Jawa mula jitakat
Keunan jikarat fon jiprang kuta

Jawa pih talo hanco lee siat
Sidum nan kuat tantra Belanda
Di raja Solo kayo geuh that that
Jaroe geu angkat letak senjata

Jawa menyerah kalah siasat
Belanda meuhat jireubot kuta
Di Pulo Jawa kuasa jimat
Ngon cara mangat jiduek Belanda

Jipeukong kuta rata jeueb tempat
Dan jipeukuat alat senjata
Ato baresan angkatan darat
Jineuk beurangkat Pulo Sumatra

Yohnyan jiteuka Sumatra Barat
Keunan jitakat tantra Belanda
U Pagar Ruyong nyong fon jikarat
Jiprang dum rakyat ji reubot kuta

Padang katalo hanco lee siat
Kajiduek teutap tantra Belanda
Sampoe u Singkee kafee beurangkat
Jibangon alat dum balatentra

2. Ngon raja Bujang jineuk meusahbat
Ji peuduek pakat keureuja sama
Raja han neuteem neupaleng leugat
Ngon kafee kaplat peue meu saudara

Oh dudoe jiprang raja nyan meuhat
Sinan fon sabab prang ngon Belanda
Phon dari Singkee kafee ji karat
Hingga merambat troh Kuta raja

Nibak masa nyan muprang that hebat
Yoh masa doulat Iskandar Muda
Dalam pu prangan padum treb lambat
Raja pih meuhat meninggai donya

Peunyaket Ta’un keunong lee leugat
Yohnyan ka mangkat Iskandar Muda
Hingga meugantaou dudou lom mehat
Geuboh keu daulat Mughai syah raja

Wafeut beliau dudou geu angkat
Aneuk Syah doulat Iskandar Muda
Sapiya Tuddin nama geulakab
Muprang that hibat dengon Belanda

Raja binou nyou bako that hibat
Bak pimpin rakyat di Aceh raya
Sapiya Tuddin lheuehnyan mangkat
Geuboh keu doulat laen lom raja

Nan raja Sayed panggelan singkat
Nama nyang lengkap laen lom teuma
Fiqiya Tuddin yakin ibadat
Nurul zaman hat ujong nyan nama

Oh lheueh nibaknyan gobnyan ka mangkat
Laen lom mehat geuboh keu raja
Sultan Inayah Syah megah berpangkat
Ujong meusambat Qaha latuddina

3. Wafeuet beliau dudou geu angkat
Raja Kemalat lon singkat nama
Syaziatuddin ujong mesambat
Menan riwayat dalam calitra

Wafeuet beliau dudou lom mehat
Laju geuangkat laen lom raja
Badrul Alam Sultan Doulat
Syarif Hasyem, hat lakab ujongnya

Jamalul laila nama pih mehat
Nama panyang that rabna sibanja
Wafeuet beliau dudoe lom mehat
Laen geu angkat mehat lom raja

Syaref Ibrahim ujong nyan mehat
Jamalul alat, hat Badrul miza
Dudou geumuprang ngon Pocut Muhammad
Bak laen hikayat na geu calitra

Wafeuet raja nyan laen geu angkat
Juhue Alam, meuhat geurasi nama
Nan imanuddin nyan pih geulakab
Raja Syah daulat panyang that nama

Ima Nuddin nyou dudou pih mangkat
Geu gantou meuhat laen lom raja
Syamsul Alam, nan raja nyan mehat
Sibuleuen lambat geumat kuasa

Alauddin Ahmad Syah bagah geuangkat
Kuasa geumat ganto ayahanda
Nyan keuh Selutan pikiran cakap
Bak pimpin rakyat that bijak sana

Nanggrou pih aman senang that rakyat
Laot ngon darat gangguan hana
Bandum geutampung ureueng melarat
Teumpat ibadat bandum geu bina
4.Gobnyan pih dudou geuwou akhirat
Laen geu angkat nyang mat kuasa
Alauddin Juhan Syah bagah geuangkat
Gobnyan keuh mehat nyang mat kuasa

Wafeuet beliau wou u akhirat
Laen geu nobat angkat keu raja
Sultan Mahmud Syah bagah geuangkat
Raja nyan mehat Eleue mee pih na

Maha Raja Leube tentee geulakab
Badan pih tegab lanjut usia
Walaupun meunan gobnyan pih mangkat
Tammat riwayat silsilah raja

Masalah rambu sigeutu sapat
Mangat taralat taseutot punca
Nyata lam Buku Buku hikayat
Dalam seunurat keuneubah maha

Lon cok kemenyan lon hoi ngon asap
Puwou seumangat sejarah lama
Teuduek haba nyou oh nou sikejab
Mewou Riwayat laen calitra

( Disalin dari majalah Santunan no. 138 halaman 46 – 47)
Penyalin: T.A. Sakti, sambil menunggu saat berbuka puasa, 19 Ramadhan 1433 H bersamaan 7 Agustus 2012. Disalin selama tiga hari, yang pada hari kedua turut dibaca/dikte oleh T. Amalul Arifin, putra bungsu saya. Bale Tambeh, 18.48 Wib. T.A. Sakti.

Lomba Baca Hikayat Masuk Kampus!

Lomba Baca Hikayat Masuk Kampus!?

Oleh: T.A. Sakti
Senin pagi, 12 Oktober 2015 sebuah sms masuk ke ponsel saya. Pesan sms itu berbunyi:”Assalamualaikum. Pak, saya Nisa dari BEM Unsyiah. Sehubungan dengan diadakan lomba Hikayat Aceh di Unsyiah Fair X, kami ingin meminta kesediaan Bapak untuk menjadi juri lomba Hikayat yang akan diadakan pada hari Senin, 19 Oktober 2015”.

“BEM Unsyiah buat lomba baca Hikayat Aceh?”, batin saya membisik seolah tak percaya.
Memang sudah cukup lama saya berharap, agar hikayat dapat berintegrasi kembali dalam kehidupan generasi muda Aceh. Paling tidak harapan demikian muncul sejak Harian Serambi Indonesia memuat hikayat secara bersambung tahun 1992 – 1994, yang telah menyiarkan 12 judul hikayat hasil alih aksara, dan 7 judul di antaranya adalah hasil transliterasi saya sendiri dari huruf Arab Melayu atau Jawoe ke aksara Latin.
Undangan BEM Unsyiah untuk menjadi juri(bersama Nazar Syah Alam) lomba baca hikayat betul-betul mengagetkan. Sebab dalam perkiraan saya, kebangkitan hikayat Aceh kalau pun terjadi; minimal dalam dua puluh tahun mendatang. Itu pun kalau saat itu Pemerintah Aceh telah memasukkan hikayat dalam kurikulum pendidikan ‘muatan lokal’ di Aceh dan dikelola dengan serius. Ternyata dugaan saya meleset, yakni kebangkitan hikayat di kalangan generasi muda Aceh telah dimulai sekarang tahun 2015 yang dipelopori oleh BEM Unsyiah dengan mengadakan lomba baca hikayat dalam rangkaian acara Unsyiah Fair X. Setahu saya, hingga kini belum pernah ada lomba baca hikayat yang disponsori sendiri oleh para mahasiswa atau generasi muda Aceh.
Keterpurukan martabat hikayat Aceh telah berlangsung lebih setengah abad, yaitu sejak tahun 1960-an. Saat itu, radio dan “peutoe beuet’(peti mengaji) sudah merambah ke kampung-kampung di Aceh. Penampilan Syekh-syekh hikayat sebagai sumber pendidikan dan hiburan, sudah digantikan nyanyian P.Ramlee dan Saloma dari Radio Malaysia, Kuala Lumpur. Namun demikian, saat malam tiba bacaan hikayat masih sayup-sayup terdengar dari kejauhan ketika itu.
Tradisi berhikayat di kalangan rakyat Aceh betul-betul ambruk sejak tahun 1970-an. Hasil penelitian Fakultas Keguruan(FK) Unsyiah tahun 1971 menunjukkan, bahwa tradisi berhikayat dalam masyarakat Aceh betul-betul sudah lenyap. Dulu, kehidupan masyarakat Aceh sepanjang tahun ‘diselimuti’ bacaan hikayat. Bulan-bulan selesai panen padi, pada pesta perkawinan, menjelang sunat Rasul, mensyukuri hari-hari bahagia, bahkan dalam rangka melepaskan nazar(peulheueh kaoy); para pemilik hajatan biasanya akan mengundang pembaca hikayat untuk dinikmati penduduk sekampung

.
Benteng terakhir
Upaya defensif untuk mempertahankan keberadaan bacaan hikayat memang berlangsung terus. Hal ini amat tergantung dedikasi pribadi para penyair hikayat. Sementara yang bersifat tradisi masyarakat sudah lenyap. Tokoh-tokoh sastrawan hikayat Aceh seperti Tgk.M.Amin, Tgk. Ibrahim Na’in, Drs. Arabi Ahmad dan Syech Min Cakra Donya merupakan orang-orang yang “pasang badan” untuk melestarikan ‘dendangan hikayat’ di persada Tanah Aceh. Tahun 1968 setiap malam Selasa, Tgk M.Amin selalu membaca Hikayat Aceh di Radio Republik Indonesia (RRI ) Banda Aceh. Sementara malam Jum’at bacaan Nazam rutin disenandungkan Tgk.Ibrahim Na’in. Selanjutnya, bacaan Nazam digantikan Drs. Araby Ahmad di RRI itu. Dalam tahun 1990-an, selama dua tahun Syech Min Cakra Donya mengelola acara baca hikayat di RRI Banda Aceh. Istilah ‘pasang badan’ yang saya sebutkan di atas, berarti mereka betul-betul berkorban demi lestarinya Hikayat Aceh, padahal honor yang diperoleh teramat kecil, nyaris tak cukup untuk biaya transportasi. Walaupun demikian, RRI Banda Aceh amat berjasa dalam memperkuat benteng terakhir hikayat ini.
Sementara itu, beberapa radio lokal Banda Aceh juga ikut berjuang melestarikan hikayat Aceh. Dalam hal ini, Radio Duta Kencana alias Radio “Geureubak Meuh”, Radio Meugah FM, Radio Rapa-i Aceh Lambaro, dan Radio Jati FM telah menaburkan jasanya. Seorang ‘wartawan’ Radio Jati FM, Peunayong asal Sunda pernah empat kali datang merekam bacaan hikayat Aceh ke rumah saya tahun 2007.
Selain lewat siaran RRI dan Radio lokal Banda Aceh, kegiatan yang dapat kita kategorikan sebagai benteng pertahanan terakhir pelestarian hikayat adalah aktivitas Syech Rih Krueng Raya dan Syech Mud Jeureula yang mengunjungi berbagai tempat Uroe Gantoe(Hari Pekan) di seluruh Aceh untuk membaca dan sekaligus menjual buku-buku hikayat. Dalam kesempatan membaca dan menjual hikayat di depan umum itu, Syech Rih Krueng Raya kadang-kadang juga menjual obat dan menyampaikan pesan-pesan pemerintah tentang pembangunan. Dalam kegiatan “berhikayat” kedua penyair Aceh terkenal tersebut, beberapa tahun diantaranya pernah ditemani Medya Hus sebagai tukang tijik taih(membantu  bawa tas). Kini Medya Hus aktif di AcehTV untuk mengasuh beberapa acara budaya Aceh, yaitu Cae Bak Jambo, Ratoh, Seumapa dan Meudike. Dalam acara Cae Bak Jambo dan Ratoh, seniman agung Aceh Medya Hus tak bosan-bosan menghimbau agar masyarakat Aceh(tuha-muda, agam-dara) mencintai kembali budaya Aceh.
Walaupun hasil penelitian FK Unsyiah telah menyimpulkan, bahwa tahun 1971 tradisi berhikayat sudah ‘sekarat’ di Aceh, namun di lapangan nampak masih meninggalkan sisa-sisa kebesaran masa lalunya. Misalnya, Teungku Ismail alias Cut ‘E masih tetap melantunkan Nazam Akhbarul Naim karya Teungku Di Cucum ke mana saja beliau diundang di kampung-kampung di Kabupaten Aceh Besar. Begitu pula dengan aktivitas H.Abdurrahman(Geusyik Raman) dari Lam Ceu(dekat Keude Lam Ateuk, Aceh Besar), beliau juga tetap masih diundang untuk membaca Akhbarul Naim di Aceh Besar dan wilayah Kota Banda Aceh.
Pihak para pengarang hikayat sendiri juga tidak mudah menyerah. Mereka masih tetap menulis hikayat, walaupun pamornya sudah amat merosot. Beberapa judul hikayat masih nampak di sejumlah toko buku di Banda Aceh, sedang di kota Sigli dan Bireuen tak terlintas lagi. Buku-buku hikayat Aceh adalah titipan para pengarang hikayat. Mereka tidaklah mungkin mengharap untung dari usaha penitipan itu, karena amat sedikit yang terjual. Masyarakat Aceh, terutama generasi muda telah merasa malu jika membeli buku hikayat, karena takut dicap teman-temannya ‘kuno’. Akibatnya, para pengarang hikayat selalu rugi, dan modal pun tak kembali.
Tunas baru
Hikayat adalah ‘darah gapah’(darah daging) orang Aceh tempo dulu. Setelah Kerajaan Belanda merasa tak sanggup mengalahkan Kerajaan Aceh Darusslam dengan seluruh kekuatan militernya, maka jalan yang ditempuh Belanda selanjutnya adalah ‘membedah Hikayat Aceh’. Lewat pikiran cerdas C. Snouck Hurgronje, beratus-ratus naskah hikayat, nazam dan tambeh(dua dan tiga terakhir terkait agama Islam) telah dikaji, disaring dan ditapis untuk dipilih saripatinya. Demi tujuan itu,  tentu Pemerintah Belanda telah menguras koceknya jutaan gulden. Dalam beberapa tahun saja, turunlah beberapa butir nasehat Snouck kepada Pemerintah Belanda, berupa “jalan pintas” untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh sampai tak mampu berkutik lagi. Sebanyak 98 judul dari naskah-naskah pilihan telah dimuat Snouck Hurgronje dalam bukunya De Atjeher jilid II(setelah diterjemahkan berjudul: “Aceh di Mata Kolonialis”, jilid II), sedangkan 600 judul lainnya, setelah Snouck pulang ke negerinya berada di tangan Dr.Hoesein Dajadiningrat di Batavia(Jakarta), kemudian beralih kepada Pustaka Pertamina(1994), Jakarta dan info terakhir menyatakan ratusan naskah hikayat itu berada di Pustaka Kraton “Radio Pustoko” kota Solo, Jawa Tengah.
Mengingat begitu pentingnya peran hikayat dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka lembaga- lembaga pemerintah yang terkait dengan kesejarahan, bahasa dan sastra Aceh selalu berupaya mengangkat kembali ‘batang terendam’ itu. Kadang-kadang lembaga itu mendanai kajian hikayat atau mengadakan lomba membaca dan menulis hikayat Aceh. Hanya karena lembaga tersebut selalunya mendapat anggaran sedikit dari Pemerintah Aceh atau Pemerintah Pusat(akibat DPRA-DPR Pusat sangat kurang peduli budaya bangsa!), maka kegiatan-kegiatan demikian kurang terekspose dan jarang diadakan.
Di antara lomba-lomba yang pernah berlangsung terkait hikayat adalah sebagai berikut:

1) Lomba Membaca Hikayat yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh pada hari Sabtu, 28 Agustus 1999. Lomba ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat Aceh dari Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum yang mewakili lembaga/wilayah masing-masing.

2) Lomba Penulisan Hikayat Aceh yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 22 Oktober 2002. Lomba ini hanya diikuti 22 peserta, yang kesemuanya laki-laki. Sebanyak 16 peserta diantaranya hanya mengkritik “tingkah laku orang perempuan” terkait Syari’at Islam di Aceh.

3) Lomba Membaca Hikayat Huruf Arab Jawi(Harah Jawoe) pada Museum Aceh, Banda Aceh tanggal 17 Desember 2003, yang diikuti enam orang peserta yang kesemuanya perempuan. Mereka tak berkesempatan mengkritik kaum laki-laki, karena naskah lomba disediakan panitia.

4) Lomba Membaca Hikayat Aceh dalam rangka acara Pekan Kebudayaan Aceh Ke 5 (PKA V) tanggal 3-4 Agustus 2009 di Taman Budaya, Banda Aceh. Peserta lomba ini mewakili kabupaten se- Aceh. Kegiatan ini tanpa dihadiri seorang penonton pun, selain peserta dan panitia. Inilah bukti, bahwa hikayat Aceh telah ‘mati’.

5) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh yang diadakan oleh Balai Bahasa, Banda Aceh pada 2 – 3 Juli 2013. Bahan lomba yang disediakan panitia berupa naskah huruf Jawoe atau huruf Arab Melayu. Pendaftaran peserta bersifat terbuka, tanpa pembatasan umur, jumlah peserta 45 orang.

6) Lomba Mengarang Hikayat yang dilaksanakan Stand Majelis Adat Aceh(MAA) Provinsi Aceh dalam kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh 6(PKA VI), bulan September 2013 di Banda Aceh.

7) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh yang diselenggarakan Balai Bahasa, Banda Aceh pada tanggal 11 – 12 Maret 2014. Minat calon peserta bagi lomba ini membludak, sehingga melampaui kebutuhan panitia yang membatasi 50 orang. Dalam lomba ini juga diuji kemahiran peserta membaca naskah Aceh dalam huruf Jawi alias Jawoe.
8) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh – kali ke 3 berturut-turut – yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Aceh pada 8 s.d. 9 Juni 2015. Calon peserta kali ini amat membludak, sehingga di luar kemampuan panitia yang menampung hanya  50 peserta. Umur peserta juga beragam, mulai remaja, orang muda dan lanjut usia. Pendidikan peserta sejak Dayah, MTsN, SMP, SMK, SMA, MAN dan mahasiswa. Para mahasiswa ini berasal dari beberapa Perguruan Tinggi, yaitu Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Ummuha, dan Abulyatama. Sungguh keikutsertaan generasi muda pada Lomba Membaca Naskah Lama Aceh di Balai Bahasa, Provinsi Aceh kali ketiga ini melambangkan puncak ‘kecintaan kembali’ generasi muda Aceh terhadap hikayat.
Bila lomba dalam huruf Arab Jawoe saja sudah cukup meriah, tentu jika lomba dalam aksara Latin pasti lebih membahana.
Perlu dipacu
Penyelenggaraan Lomba Baca Hikayat oleh BEM Unsyiah dalam rangkaian acara Unsyiah Fair X merupakan momentum penting dalam kesejarahan berhikayat di Tanah Aceh. Belum pernah selama ini, lomba baca hikayat berlangsung di komplek Gedung AAC Dayan Dawood yang megah itu. Peristiwa lomba inilah landasan awal tempat bergeraknya semangat hikayat Aceh untuk bangkit kembali di kalangan generasi muda Aceh.
Suasana lomba yang menguji ketrampilan peserta membaca cae yang berjudul “Rumboek Helsingke” karya Sulaiman A.Gani/Tgk. Diyueb Bruek ini amat sederhana. Jumlah peserta hanya 8(delapan) orang. Menurut saya, sedikitnya jumlah peserta lomba, akibat panitia membatasi usia peserta antara 15 – 25 tahun, padahal kebanyakan peminat hikayat yang masih ada, umur mereka rata-rata 25  tahun ke atas.Walaupun sepi dari gaung riuh-rendah celoteh para peserta seperti lomba di Balai Bahasa Provinsi Aceh hampir 5 bulan lalu, namun inilah acara lomba baca hikayat yang pertama dan utama diselenggarakan oleh generasi muda Aceh sendiri. Kata orang, bila generasi muda sudah bergerak, maka semua pihak akan teukeupak!(sontak). Mudah-mudahan ke depan semakin banyak BEM Universitas dan Perguruan Tinggi yang melaksanakan berbagai acara terkait hikayat, tambeh dan nazam Aceh. Dukungan penuh untuk mensupport kegiatan seperti ini kita harapkan dari berbagai pihak, agar tunas muda yang baru bergeliat itu tidak patah dan mati sebelum berbuah. Himbauan khusus kita tujukan kepada Lembaga Wali Nanggroe(LWN) agar sudi menyambut ‘semangat baru berhikayat Aceh’ ini dalam rangka memperkenalkan jati dirinya – hingga kini LWN belum dikenal secara luas- kepada masyarakat Aceh. Semoga!.

Ketika Sultan Iskandar Muda Shalat Jum’at di Mesjid Raya Baiturrahman

Droe Keudroe:

Ketika Sultan Iskandar Muda Shalat Jum’at
di Mesjid Raya Baiturrahman(MRB)
Sultan Iskandar Muda adalah sultan yang membawa Kerajaan Aceh Darussalam ke puncak kejayaan. Namanya dipuja-puji orang Aceh hingga hari ini. Dalam cae(syair), like/kasidah(syair agama), lagu Aceh modern, bahkan dalam demonstrasi; masih gencar disanjung-sanjung. Sesuatu yang sakral dalam kesejarahan Aceh selalu dinisbahkan atau dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Yang Agung ini. Orang tidak mempersoalkan lagi, apakah yang diucapkan itu sekedar mitos, legenda atau fakta sejarah masa Sultan Iskandar Muda.
Sebagai sultan terbesar Aceh, kita masih mendapati beberapa naskah tertulis yang berasal dari zaman itu. Salah satu diantaranya adalah berjudul Mabainas Salathin atau Perintah Segala Raja-Raja, yang oleh Profesor Drewes dan Dr.P.Voorhoeve yang pernah mengkaji naskah Melayu ini memberi judul “Adat Aceh”. Denys Lombard(sarjana Prancis) yang menulis disertasi tentang Sultan Iskandar Muda(lihat terjemahan: Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda(1607 – 1636), Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 44), menyatakan, bahwa naskah Mabainas Salathin benar-benar berasal dari era sultan itu. Dua pertiga isi naskah adalah mengenai tata tertib protokoler kerajaan dan sepertiga bagian akhir tentang peraturan pemerintah mengenai bea-cukai di pelabuhan Bandar Aceh Darussalam. Naskah Adat Aceh itu kini tersimpan di Pustaka A.Hasjmy, Jln. Sudirman no. 20 Banda Aceh.
Mengenai Protokoler kerajaan mengandung sembilan peraturan atau majelis dalam naskah Perintah Segala Raja-Raja, yaitu: 1) Sekalian majelis raja, 2) Majelis Hulubalang, 3) Majelis tabal pada hari memegang puasa, 4) Majelis berangkat yang kedua hari raya(Idul Fitri-Idul Adha), 5) Majelis junjung duli, 6) Majelis berangkat hari Jum’at, 7) Majelis berangkat bulan safar(Rabu abeh/Rabu terakhir), 8) Majelis jaga-jaga(malam Lailatul Qadar), 9) Majelis bandar Darussalam(cukai pelabuhan).
Dalam lampiran teks naskah kajian Prof. Drewes dan Dr. P.Voorhoeve tentang “Adat Aceh”(keduanya ilmuwan Belanda) yang dimuat dalam Jurnal Verhandelingen no. XXVI tahun 1958; menyangkut Majelis berangkat hari Jum’at terdapat pada halaman 94 naskah huruf Arab Melayu atau Jawoe dalam bahasa Melayu. Sebutan nama Sultan Iskandar Muda dalam naskah ini sering diganti dengan gelaran Syah ‘Alam(selanjutnya ditulis Syah Alam, artinya Raja Dunia). Begitu pula sewaktu ia bertindak sebagai Khatib Jumat dan Imam shalat, maka nama sultan pun sudah terganti.
Cuplikannya: “Alkisah, maka tersebutlah perkataan Majelis Syah ‘Alam berangkat ke Mesjid sebahyang Jum’at”. Maka naiklah sembah Bintara mohon turun segala alat berangkat pada hari Jum’at. Maka sabda Yang Maha Mulia karunia seperti sembahnya. Maka turunlah segala alat kerajaan berangkat sembahyang Jum’at, masing-masing pada jabatannya. Setelah sudah musta’idlah segala alat pawai, maka berdirilah masing-masing pada tarafnya. Setelah hadir sekalian mereka itu, kemudian turunlah shalih dan puwan kerajaan dan bungkus kain kerajaan. Kemudian, maka naiklah sembah Penghulu Bilal mohon turun Tongkat Khutbah. Setelah itu, maka naiklah sembah Kejuruan Genderang Sri Udahna Gambaran mohon palu Genderang Dong. Maka sabda Yang Maha Mulia karunia seperti sembahnya. Maka segala Hulubalang pun masing-masing berdiri pada tarafnya di Balai Hulubalang”,
(Terjemahan bebas: Tiga orang pejabat resmi terlebih dahulu mempersiapkan segala hal yang perlu. Pertama, Bintara mohon kepada sultan agar dapat menurunkan segala peralatan pawai berangkat ke Mesjid Baiturrahman. Kedua, Penghulu Bilal mohon kepada sultan turun(diberikan) Tongkat Khutbah. Ketiga, Keujruen(Kejuruan) Genderang Sri Udahna Gambaran, mohon pada sultan untuk menabuh Genderang Dong(genderang tegak). Setelah ketiga peralatan itu siap, maka para Hulubalang pun berdiri di Balai Hulubalang pada tempat yang sesuai pangkat atau jabatan masing-masing).

Cuplikannya: “Maka terserlah Syah Alam dengan diiringkan segala alat pawai mengiring Syah Alam tatkala berangkat itu. Maka berangkatlah Syah Alam ke pintu papan, maka hidmatlah segala Hulubalang. Setelah sampailah Syah Alam ke luar pintu gerbang, maka beralih segala Hulubalang hidmat. Kemudian dari itu menebarlah pula segala Hulubalang hingga sampai ke pintu Mesjid Baiturrahman, maka oleh segala Hulubalang hidmat sekali lagi. Setelah sampailah Hadlarat Syah Alam kedalam pintu mesjid, maka Hulubalang pun menyimpang ke kanan pintu mesjid, berdiri masing-masing pada tarafnya. Apabila terserlahlah Syah Alam ke dalam Diwal pintu mesjid, maka tatkala itu genderang pun dialih oranglah murainya kepada ragam sibujan”.
(Selanjutnya, berangkatlah Sultan Iskandar Muda ke Mesjid Raya Baiturrahma(MRB) dengan diiringi pawai kebesaran. Sebelum sampai ke Mesjid, setiap sultan melewati kawasan tertentu dalam kawasan istana Dalam Darud Dunia, maka langgam irama musik pengiring pun akan berganti murainya(bunyi irama), baik murai sibujan atau murai kuda berlari. Kemeriahan pawai yang mengantar sultan dengan berbagai pergelaran genderang dan musik masih berlangsung sampai sang sultan sampai ke pintu mesjid Baiturrahman. Pawai dan arak-arakan serupa ini juga akan berlangsung sekali lagi, ketika sultan berangkat pulang dari sembahyang Jum’at. Namun dari semua acara protokoler kerajaan yang dimuat dalam Mabainas Salatin, maka upacara yang teragung adalah ketika Sultan Iskandar Muda berangkat shalat Hari Raya Haji/Idul Adha ke Mesjid Raya Baiturrahman. Sekiranya jumlah peserta pawai benar-benar akurat seperti yang disebutkan dalam naskah itu, maka jika seluruh penduduk laki-laki dewasa di Kota Banda Aceh sekarang pun tidak cukup untuk mengisi anggota barisan pawai kebesaran Idul Adha masa Sultan Iskandar Muda itu. Apakah jumlah penduduk Bandar Aceh Darussalam saat itu lebih banyak dari warga Banda Aceh sekarang?, wallahu’aklam.
“Maka Hadharat Syah Alam pun masuklah ke dalam Mesjid Kelambu, maka kelambu yang keemasan itu pun ditutup oranglah. Maka Syah Alam pun sembahyang sunat tahyatul masjid dua rakaat suatu salam, maka Bilal pun Bang-lah. Setelah sudah Bilal Azan, maka sembahyanglah sunat Jum’at dua rakaat sesalam.
Setelah itu, maka Penghulu Bilal pun menatangkan Tongkat Khutbah itu, serta menyebut shalawat akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memberi salam ke kanan. Ia naik ke atas Mimbar, maka Penghulu Bilal pun mengatakan:”Innallaha wa Malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi ya aiyuhallazina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.
Setelah itu sampailah Khatib ke atas Mimbar, maka ia memberi salam demikian bunyinya:”Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh!” Setelah itu maka ia duduk, maka Bilal pun Bang-lah dua orang sekali. Setelah itu, maka Bilal pun mengatakan:” ‘An Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu hingga akhirnya.
Setelah itu, maka Khatib pun mengatakan:”Alhamdulillah”, maka membaca Khutbah ia dengan dua Khutbah. Setelah selesailah ia daripada membaca Khutbah itu, maka Penghulu Bilal pun qamatlah ia. Setelah sudah qamat, maka Imam pun akan sembahyang Jum’at bersama-sama makmum dua rakaat suatu salam.
Setelah itu maka membaca tasbih dan membaca do’a akan Hadliratun Nabi dan do’a khair akan Syah Alam. Setelah itu, maka sembahyang Sunat empat rakaat dua salam. Setelah itu maka disingkap oranglah tirai kelambunya, maka Hadlarat Syah Alam pun bersabda memanggil Kadli dan segala Orang Kaya-Orang Kaya dan segala Hulubalang, maka Bujang pun pergi menyangjung sabda Yang Maha Mulia.
Setelah sudah sekalian mereka itu menyanjung, maka tirai pun diterapinyalah, lalu Syah Alam pun berangkatlah bertapak dari dalam jerajak ke kisi, lalu ke Astaka hinggalah sampailah ke atas “mahligai kerajaan”. Maka genderang pun dipalu oranglah. Dan segala Hulubalang pun bersegeralah masing-masing memakai keris-pedang sepertinya, serta mengiringi Hadlarat Syah Alam kembali dari Mesjid Baiturrahman”.

Menarik memang, membahas kembali warisan kebudayaan Aceh yang terkandung dalam manuskrip(arsip) Kerajaan Aceh Darussalam yang masih tersisa itu. Amat disayangkan, hingga kini manuskrip itu masih termuat dalam majalah/Jurnal bangsa Belanda Verhandelingen no. XXVI, tersimpan di Pustaka Ali Hasjmy, Banda Aceh. Sudah lebih setengah abad(sejak tahun 1958) seperti itu, padahal lembaga-lembaga yang terkait pendidikan dan kebudayaan cukup banyak di Provinsi Aceh, tak cukup sepuluh jari untuk menghitungnya. Inilah pertanda kebudayaan Aceh semakin terpuruk dan buruk keadaannya.

T.A. Sakti
Peminat dan Pencinta Manuskrip Aceh,
Tinggal di Banda Aceh. Email: t.abdullah sakti@gmail.com

Catatan buat Redaksi: nama asli saya T.Abdullah.