Syarat Menulis di Koran Perlu Menjaring Pesan dan Kreativitas

TANGGAPAN BUAT DRS UNTUNG SUDARMADJI

Syarat Menulis di Koran Perlu Menjaring Pesan   dan Kreativitas

Oleh: Bambang Soelistyanto Bernardoes

TIDAK dapat di sangkal bahwa           di samping terpetik wajah maju di bidang penulisan dan dunia tulis menulis di koran, tampak ujud lain lagi yang di satu sisi sering masih di gunjingkan orang.

Sisi ini hanyalah anggapan yang masih berupa asumsi subyektif dan belum pernah diperbincangkan lewat forum yang lebih serius.

Secara langsung atau pun tak langsung, kita tiap hari disuguhi acara membaca tulisan berbagai masalah yang digarap dan dicanangkan oleh beragam orang. Hal itulah yang mau tidak mau mesti dilihat secara obyektif, bila kita ingin menilai apakah di segi kualitas (mutu), dunia tulis menulis kita mengalami kenaikan atau justru merisaukan. Dalam hal kuantitas (jumlah dan kesempatan) yang kian membanjir sekarang, memang tak perlulah orang ragukan benar.

Drs. Untung Sudarmadji agaknya memandang perihal dunia kepenulisan di koran dalam kacamata ‘sang terlibat’  yang masih berurusan dengan ‘kemurnian pandangan’ dan tidak disertai keingintahuan lebih jauh perihal ‘ lingkup koran’ secara wajar dari ‘dalam’.

Sengaja saya haturkan begitu, sebab kenyataannya menurut Untung, hanya nama-nama ‘best seller’ yang nyaris setiap saat ditemui di berbagai media, dan kenapa bukan para pemula yang sedang gigih mempertahankan eksitensinya sebagai penyumbang naskah. Tentu saja dalam hal ini, masalah yang kita bicarakan adalah masalah yang bersih dari prasangka dan bersifat umum.

 

Kriteria

Bercakap-cakap masalah tulisan yang pantas disaji di koran kita tentu tak boleh begitu saja mencampuradukkan antara tulisan dengan oknum atau orang yang menulisnya, dan paling sedikit kita harap maklum bahwa kehadiran orang yang menuliskannya tak kurang dan tak lebih merupakan pedamping karya yang berhasil dituangkannya dalam bentuk dan isinya yang ada di saat itu.

Faktor ‘best seller’ memang sedikit banyak kita kenal juga keberuntungan-keberuntungan mereka. Itu bukan masalah yang sebetulnya “masalah” namun kita toh dengan semangat ‘jujur’ mau menyebut bahwa ke-best saller-an (baca: kelarisan) merekapun dulu dimulai dari penulisan yang jatuh bangun dengan dunianya. Dengan tulisan demi tulisannya.

Untuk itu, andai kata saudara Untung mempertautkan dan mengaitkannya dengan segerombol titel, keterkenalan, ‘klik’ (ini istilah kasar) dan lain sebagainya, hal satu inilah yang agaknya cukup mengusik sekalangan orang yang mengalaminya.

Umar Yunus, salah seorang penulis yang akhir-akhir ini yang kembali  berdengung namanya, kerap sekali menerima naskahnya diretur (dikirim kembali) dari berbagai pihak, dan tidak jarang tulisannya yang setulusnya dianggap baik oleh dia (Umar Yunus), ternyata tak muncul-muncul di media yang ‘dipercaya ‘-nya untuk memasangnya . Dan dengan keterusterangan Umar Yunus, seperti dapat kita temui di salah satu tulisannya di buku “mitos dan komunikasi”-nya, perihal satu naskahnya yang mengupas Belenggu, yang ‘ditahan’ HB Jassin (?), tidak hanya dialami oleh Umar Yunus saja.

Pendek kata, banyak nama ‘best seller’ yang dulukala ketika masih ‘ingusan’ pernah mengalami kejemuan lantaran karyanya tak terpasang.

Penulis ini sendiri merasakan benar dan mengalami hal serupa itu. Dan bukan sesuatu yang pongah serta bersifat destruktif apabila dengan terus terang saya nyatakan bahwa : “belum tentu kedekatannya dengan orang dalam membawa kelancaran”. Itu semoga tidak terlampau mengada-ada dan menjadi sebuah ‘kaca banding’ yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tiap redaktur memiliki kaca pengukur dan semacam kriteria yang boleh diyakini oleh pihak diluar sang media itu sendiri. Tetapi kriteria mereka pun tidak mesti sama dan tidak perlu sama. Mereka memandang naskah dan isinya, penyampaian dan kerapihannya, baru di lain-lain segi perihal nama dan kelarisan penulisannya pun sering dipakai sebagai ‘pelengkap’ kehadiran yang super melengkapi seadanya. Jadi bukan pelengkap yang hanya embel-embel belaka sifatnya.

                                          Mudah!

Menulis di surat kabar itu disebut sukar ya boleh saja sukar,tetapi disebut mudah memang sebenarnya mudah pula. Kita menangkap apa yang ada sebagai buah kenyataan, seperti halnya bila seorang insinyur mesin menghadapi  mesin, tak ada pula yang sekali pandang tahu secara detailnya dan dapat dengan ‘empuk’ melahapnya dan menguasainya.

Yang tersulit bagi para penulis seperti yang selalu saya pikirkan dan saya catat dan renungkan adalah kesahajaan penyampaian,dengan bahasa dan penalaran indah permai (dalam artian bukan mutlak bunga bahasa,tetapi tetap dan komunitatifnya) disertai tanggungjawab penuh dari penulisnya sendiri. Biasanya ketergelinciran pemikiran seorang penulis tak mudah dilihat orang, tetapi yang termudah untuk diamati adalah kesalahan-kesalahan tata hurufnya belaka.

Berbekal keyakinan bahwa menulis itu mudah (lihat selanjutnya tulisan Arswendo Atmowiloto kendati ia cenderung kepenulisan fiktif an sich), maka bagi penulis yang masih menganggap diri belum ‘best seller’ dan ‘tidak bertitel’ pun tidak seharusnya berkecil hati.

Kalau kita memandang akhir-akhir ini kecenderungan ‘orang kampus’ dan ‘ gembala mahasiswa’ …………………….(sobek)………..untuk menjebol benteng koran yang dinanti-nantikan memajang tulisannya.

Syarat-syarat itu tentu saja sangat kompleks sekali. Hanya mereka yang pintar ‘menjaring pesan dan kriteria serta tak putus berkreasi kreatiflah’ yang akhirnya merasa betapa kemudahan dapat diraihnya. Tentu saja koran dan majalah atau media  bukan barang yang boleh disebut dan dicaci  dengan ‘mudah’ begitu saja. Media memang memerlukan ‘isi dan kulit’ sekaligus.

Hampir setiap tulisan berbicara tentang isi dan kulit dalam membahas suatu masalah, asosiasi kita selalu mirip atau bahkan sama persis dengan masalah bentuk dan isi dalam dunia sastra. Hal itu memang wajar,. Isi tanpa bentuk yang mendukung secara tepat, apalah artinya.  Bentuk tanpa bobot isi, apalagi. Pendeknya apabila dalam sebuah tulisan kedua hal itu diperhatikan masak-masak, adalah sebuah nasib buruk belaka apabila redaksi menolaknya untuk memuat di medianya.

Tetapi masalah isi dan bentuk karangan yang sudah sesuai pun masih harus menjalani pengujian yang lain lagi. Kita semua tahu ada sebutan khas yang menyatakan: “ Koran bagai ‘kelekatu’, sekali muncul lalu ditelan sang waktu”. Ada lagi kesamaan serupa itu yang sering disebut orang dengan istilah lainnya. Pendek kata sekali koran dibaca, lalu dibuanglah sang koran, seakan tak ada gunanya selain sebagai pembungkus. Ironis yang nyata tetapi pedih.

Bagi seorang peneliti dan penelaah tulisan tertentu di koran-koran terpilih, tulisan di Koran ternyata tidak secepat itu dienyahkan. Ia bisa berujud kliping, bisa berujud dokumentasi utuh. Bukan lantaran bentuk dan isi tulisan itu saja yang dikejar sang peneliti atau penelaah, tetapi apa yang bisa bersifat sedikit langgeng yang dikumpulkannya.

Syarat?

Bila setiap penulisan di koran memahami benar masalah itu, maka sang penulis pun akan berusaha untuk mewujudkan tulisannya, Sejalan dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang biasanya sudah sejak awal mula dicatatnya dalam hati.

Ketentuan itu bisa saja antara lain berupa:

Topik aktual yang mengandung unsur baru, entah berupa data kongkrit, pandangan atau saran yang menyangkut kepentingan sebagian  besar pembaca.

Mempunyai sasaran tertentu dan menarik. Bila ada ide dari sebuah  sumber yang hendak dituangkan dalam berita, anda boleh memperluasnya dengan urutan waktu kronologis, menggunakan suatu bentuk News Story (cerita berbentuk berita) dan tidak melupakan hubungan sebab akibat …………(Catatan: Selebihnya tidak terbaca lagi, karena sudah koyak dan tertutup lumpur tsunami Aceh,26 Desember 2004. Bale Tambeh, Sabtu, 26 Februari 2016, pkl. 8.55 pagi, T.A. Sakti).

 

{Sumber: Minggu Pagi, Yogyakarta, 8 April 1984 hlm. 3} terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

 

 

 

Jangan Harap Tulisan Anda Dimuat Kalau Tidak Sesuai ‘Misi Koran’

Jangan Harap Tulisan Anda Dimuat Kalau Tidak Sesuai ‘Misi Koran’

 

            TULISAN sdr Untung Sudarmadji tentang “menulis di koran dimuat atau tidak”. yang dimuat Minggu Pagi tanggal 25 Maret 1984, telah membuka tabir rahasia yang selama ini belum pernah terungkapkan. Padahal sebetulnya hal tersebut sangat dinanti-nantikan oleh khalayak, karena bagi awam ada semacam katakutan bila dirinya ingin mengungkapkan tabir rahasia yang semacam itu, karena nanti disangkanya sok protes, aksi, sinis dan sebagainya. Wajarlah kalau tulisan untuk Sudarmadji tersebut sempat mengundang tanggapan dari kalangan pembaca entah itu dari orang dalam sendiri atau dari kalangan pembaca umumnya. Dan baik itu yang pro maupun yang kontra, namun setidaknya sang Redaktur pun telah ditodong untuk urun rembung.

Menulis di koran atau di surat kabar yang menjadi keinginan banyak pemula memang banyak suka dukanya. Kalau tulisan dimuat di koran dan dibica orang lain, rasanya dada ini ingin meletup-letup dan terselip rasa bangga di hati karena dengan dimuatnya tulisan tersebut berarti wawasan yang diajukan itu barangkali berguna untuk perubahan sosial dalam masyarakat, atau seolah-olah di dunia ia pandai sendiri, plus lagi imbalan dari redaksi yang cukup lumayan buat mentraktir kawan membeli es teller. Ini merupakan kesukaan yang tiada taranya.

Tetapi kalau tulisan tidak dimuat-muat. Sudah kehilangan uang untuk beli kertas, prangko, ongkos pengetikan (bagi yang belum punya ketik sendiri mungkin), seolah membuang-buang tenaga dan pikiran sementara hasilnya nihil!

Bagi calon penulis (penulis pemula) yang belum terbiasa menghadapi masalah yang satu ini, dan dasar tidak punya kesabaran akan menjadi prustasi seketika, dan berkonklusi bahwa dirinya tidak bisa menulis di surat kabar! Nah ini yang celaka gara-gara belum dapat prioritas lantas membunuh kreatifitas sendiri.

Untuk itu maka pantaslah bila masalah tersebut dibicarakan bersama dalam rubrik ini sekalipun ini lebih banyak bersifat saling adu argumentasi.

Beberapa faktor

Beberapa faktor yang membuat tulisan seseorang itu bisa dimuat di surat kabar dan tidak, ialah pertama (seperti telah disinggung oleh Bambang Bernandus, cuma pendapat ini kontradiktif dengan kami), khusus mengenai faktor nama. Faktor nama ini sangat penting. Bagi yang telah mempunyai nama (atau yang oleh Sdr Untung, dan ini yang menimbulkan pertentangan atau polemik) disebut-sebut sebagai “best seller” setiap tulisan yang masuk ke meja redaksi tidak pernah dikoreksi namun langsung dimuat. Tetapi bagi yang belum mempunyai nama, hitung-hitung dulu sang Redaktur untuk menerimanya. Sekalipun Sdr Bambang S, Bernardoes telah mengambil kasus yang dialami oleh Umar Yunus misalnya, untuk menentang pendapat Sdr Untung, namun contoh tersebut nampak kurang akurat.

Faktor kedua, mengenai bobot dan penyajian tulisan tersebut. Mungkin bobot atau cakrawala dari tulisan tersebut cukup luas, namun karena tidak bisa(menyajkan) hingga tidak menarik cara penyajiannya maka tulisan tersebut tidak bisa dimuat dalam koran.

Ada sebuah artikel yang isinya hanya sebuah ceritera tentang “orang angon bebek” misalnya, karena penulisannya p a n d a i “m e n g o l o r-n g o l o r” sehingga menjadi panjaaaaang maka tulisan tersebut bisa dimuat. Tetapi sebaliknya ada tulisan mengenai cara-cara mengatasi kelaparan di dunia ketiga misalnya, namun karena tidak bisa menyajikan tidak menarik maka tulisan tersebut tidak dimuat.

Faktor ketiga, yakni mengenai misi masing-masing surat kabar. Patut diingat bahwa setiap surat kabar mempunyai misi sendiri-sendiri yang antara misi surat kabar yang satu dengan yang lain berbeda.

Biasanya surat kabar mau memuat tulisan-tulisan yang sesuai dengan misinya saja. Sekalipun tulisan tersebut bagus tetapi tidak sesuai dengan misi surat-kabar yang dikirimi maka jangan harapkan kalau tulisan tersebut bakal dimuat. Itulah sebabnya maka setiap orang yang ingin mengirimkan artikel ke suatu surat kabar terlebih dahulu mempelajari misi surat kabar yang dimaksudkannya. Hal ini sudah diakui oleh umum.

Faktor keempat, adanya relasi dengan orang dalam, semakin banyak relasi dengan orang dalam maka semakin lebar kemungkinannya untuk dimuat. Sehingga surat kabar tersebut akhirnya cuma di isi oleh orang itu-itu saja, dan seolah tertutup kemungkinannya dari pihak luar.

Kalau hal yang demikian sampai berlarut terjadi di suatu media surat kabar, maka ini suatu gejala yang kurang sehat bagi perkembangan arus komunikasi yang seharusnya bersifat wajar dan sehat.

Itulah beberapa catatan tambahan mengenai tanggapan atas tanggapan terhadap tulisan Sdr Untung Sudarmadji mengenai menulis dikoran dimuat dan tidak dimuat.    (Darmanto dan Darmaningtyas).

 

(Sumber: Minggu Pagi, 6 Mei 1984 hlm. 3). terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

Gara-gara Minuman Keras, Malaysia Hukum Mati 167 Orang Warganya

Gara-gara Minuman Keras, Malaysia Hukum Mati 167 Orang Warganya

Kuala Lumpur, [KNI/AP].

          Pengadilan-pengadilan Malaysia telah mejatuhkan hukuman mati kapada 167 orang karena menyangkut minuman keras, sejak Parlemen menyatujui dijatuhkannya hukuman atas tindak pelangaran seperti itu pada tahun 1985. Demikian dikatakan oleh pejabat tinggi pemerintah.

Dari jumlah tersebut di atas, 51 orang digantung dan sisanya menunggu keputusan naik banding atau eksekusi, demikian dikatakan oleh Wakil Menteri luar Negeri Megat Junid Megat Ayub pada pembukaan  pameran anti-minuman keras hari Selasa.

Sebahagian besar  dari  mereka yang digantung itu adalah orang-orang Malaysia, tetapi dua orang Australia dan sejumlah orang-orang Singapura yang tidak diketahui pasti jumlahnya dan juga orang-orang Muangthai, juga telah di eksekusi. Sejumlah orang-orang Singapura, Muangthai, Philipina dan Indonesia adalah diantara mereka yang tercantum dalam deretan mati, tetapi jumlahnya yang tepat tidak diperoleh oleh para pejabat.  Megat Junid mengatakan , jumlah orang-orang yang ketagihan minuman keras terdaftar di pemerintah; mereka yang tertangkap polisi atau yang menyerahkan dirinya sendiri, sekarang berjumlah 125.967 orang. Para pejabat pemerintah memperkirakan  bagi setiap pencandu yang terdaftar, terdapat empat orang yang belum dideteksi oleh para pejabat. Penduduk Malaysia berjumlah 16,5 juta.

Megat Junid mengatakan, bagi para pekerja yang mengku bahwa dia kecanduan minuman, diberikan cuti dua tahun tanpa diberi gaji dan upah untuk program rehabilitasi dan akan kembali setelah sembuh.

Diantara mereka yang ditahan karena menggunakan minuman keras sejak tahun 1975 terdapat 544 personil polisi, 96 anggauta staf bagian penjara dan 925 personil angkatan bersenjata. Dari jumlah ini, orang 453 polisi, 57 orang staf kepenjaraan ditembak mati

“untuk menunjukkan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh dalam memerangi bahaya minuman keras”, demikian dinyatakan oleh Megat Junid.

(Sumber:  Pelita, 5-2- 1988, hlm. X).

 

 

 

 

 

 

 

Siti Nuraini, Penyair Wanita

Siti Nuraini, Penyair Wanita

Oleh Linus Suryadi AG

KALAU ada penyair wanita pengembara di Indonesia, tidak lain penyair wanita itu adalah Siti Nuraini.  Juga setelah puisi Indonesia modern berumur 65 tahunan, kapan perjalanan negara dan bangsa Indonesia melampui sejumlah konflik sosial dan politik besar maupun kecil, bercitra nasional dan internasional. Pada umur 18 tahun – dia lahir di Padang 6 Juni 1931 – Siti Nuraini sudah menunjukkan bakat kepenyairannya. Ketika itu dia menulis puisi berjudul Perempuan, Lengkapnya demikian:

PEREMPUAN

Perempuan lena mematah – matahkan

seranting kering, bersandar di jendela tinggi

empat persegi, rahasia kejauhan

Di luar memanggil, di hatinya hinggap rasa ganjil

Jiwanya mesra danau terbuka

alam kedua bagi kehidupan di

pinggir

Kasih dan dambanya

beriak di dasar, tiada sekali diberinya  gilir.

Rumahnya pudar didekap sunyi

Burung-burung dihalaunya masuk

malam.

Ia sendiri menggigil, lalu berdiri

diambang dia gugup, ketika ke dalam

disentaknya pintu dan wajahnya terkatup

September 1949

Saya tidak tahu, puisi di atas apakah merupakan permulaan karier kepenyairannya atau sebetulnya lebih awal lagi mulai mencipta. Puisi tersebut pertama kali muncul di majalah Mimbar Indonesia, kemudian oleh HB Jassin dimasukkan ke dalam bunga rampai sastra Indonesia Gema Tanah Air Jilid 2. Di situ, secara tersamar sudah bisa kita ketahui bibit-bibit naluri pengembaraannya. Katanya:’’ rahasia kejauahan/ di luar memanggil, di hatinya hinggap rasa ganjil”.

Pengembaraan macam apa yang ditempuh Siti Nuraini?.

Selaku penyair Indonesia, tentu saja konteks itu menunjuk kepada pribadi manusia Siti Nuraini Kedudukan  itu mengharap untuk dimengerti bahwa, baik ketika hijrah di Jakarta– dia pernah memangku jabatan sebagai sekretaris majalah Siasat – kemudian bermukim di Negeri Belanda selama 1952-1953, ataupun kini di Amerika Serikat, dia mempersembahkan seluruh eksistensinya melalui wahana puisi Indonesia modern.  Di situ tersimpan sebuah dunia idaman, pengharapan, wawasan, juga sikap, yang sudah tersepuh oleh pengalaman hidup. Pendek kata, Siti Nuraini mencurahkan segalanya ke dalam dunia iminajinasi yang di landasi dunia pengalaman konkret. Tentu saja, tidak semua pengalaman konkret sanggup dia ekspresikan ke dalam bentuk pengucapan  estetik, puisi.

Untuk itu A Teeuw telah merumuskan: Ida Nasution dan Siti Nuraini mungkin merupakan pengarang yang paling berbakat, dan keduanya berhubungan  erat dengan Angkatan  45, tetapi Ida meninggal dunia sebelum ia sempat menghasilkan sesuatu yang abadi nilainya, sedang karya asli Siti Nuraini amat terbatas lapangannnya.” Sedang Ida Nasution disebut-sebut namanya dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia  modern tapi sidang pembaca masa kini buta sekali terhadap karyanya, tapi terhadap Siti Nuraini pun sangat sedikit pembahasan dilakukan. Mungkin baru dalam Kata Pengantar Toeti Keraty, karena formatnya, tidak ada kemungkinan pembicaraan berkembang lebih lanjut.

Entah apa saja faktor yang menyibukkan Siti Nuraini selama kepergiannya dari kampung halaman, Padang; yang jelas pengembaraannya tidak pernah terberitakan oleh media massa Indonesia. Etnik Minang memang sudah sejak sastra Indonesia modern bangkit, dia sudah menyumbangkan banyak putra-putrinya yang terjun ke gelanggang tradisi sastra tulis. Tanpa perlu tahu: apakah tradisi leluhurnya sudah punya  tradisi tulis yang mapan, atau sama dengan etnik-etnik Indonesia yang lain: yakni bertolak dari tradisi sastra lisan. Disamping itu, ternyata sebagian besar sastrawan asal etnik Minang mendapatkan nama dan lahan kreativitasnya – minimal sejak Angkatan PB – di tempat- tempat perantauan: kota-kota besar di Jawa, Jakarta. Jika sajak Perempuan ternyata  merupakan sajak awalnya, ditulis Siti Nuraini di kota pengembaraannya yang pertama Jakarta, kenyataan tersebut akan menjadi indikator bahwa Siti Nuraini memerlukan antitesa kebudayaan kota lain sehingga minat kreatifnya bangkit.

Kebangkitan minat menjadi orang kreatif yang membutuhkan antitesa kebudayaan kota lain, pada hakikatnya bukanlah monopoli sastrawan Indonesia modern dari etnik Minang. Pembentukan kebudayaan baru di manapun di dunia ini, selalulah hasil sintesa kebudayaan-kebudayaan tua yang besar. Demikian pun sastrawan Indonesia modern asal etnik Jawa, sekali meraka  hendak mengartikulasikan pengalaman kebudayaannya yang baru, yang modern, akhirnya akan menemukan dirinya selaku manusia transkultural. Kenyataan kebudayaan Indonesia yang mendapati dirinya sebagai transpormasi budaya etniknya dan budaya Barat bukanlah kenyataan kebudayaan yang ganjil. Dia merupakan trend peradaban  yang mustahil terelakkan. Siapa pun yang menolak keharusan sejarah peradaban modern ini, dia akan menjadi manusia tenik dan terpencil.

Seniman Indonesia modern dari berbagai sektor yang sering mendapat predikat kaum moderenis, lebih realistis lagi berpredikat kaum urbanis, pada hakikatnya produk dari proses-proses sintesa kebudayaan demikian itu.

Itulah sebabnya, pada konteks ini Siti Nuraini berkenalan dengn Godot dan mengucapkan pengalaman estetikanya di dalam puisi Indonesia modern. Puisi pencarian yang singkat, hanya terdiri dari empat baris dalam satu bait, mewakili banyak seniman Indonesia mdern yang ’’bagai pengembara Jahudi”  untuk mencari ”  negeri mana ditakdir kediamanku”. Imagery  Godot dan Jahudi ini sangat kuat, menjadi batu tumpuan kegelisahan spiritual Siti Nuraini, selaku wanita pengembara. Lengkapnya demikian:

               PENCARIAN

                                Untuk R.N

Karena Godot tak datang sungkan

berpesan

alamat tiada kemungkinan seribu

satu:

bagai pengembara jahudi kuriling

bepergian

negeri mana ditakdir kediamanku.

 

Juni 1968

Sejak dia menyadari bahwa ibu kandung kebudayaan yang mengasuhnya tidak lagi (belum lagi? memberikan suatu yang bermakna; dengan idiomnya sendiri ’’ Rumahnya pudar didekap sunyi”  dalam sajak Perempuan (1949) sampai dia menulis sajak Pencarian (1968) – jadi sudah berlansung selama 20 tahunan Siti Nuraini masih juga meriling berpergian. Tidak ada isyarat dan fenomen bahwa negeri kediamannya ialah di dalam puisi-puisinya seperti pengakuan verbal subtansial demikian terdapat pada Chairil Anwar dalam bentuk sajak Rumahku. Bila seorang penyair tidak merasa dan mengira bahwa ”negeri kediamannya’’ ialah puisi-puisinya, yang memungkinkan dia menjadi produktif  berpuisi, agaknya Siti Nuraini bukanlah penyair yang krasan tinggal di dalam rumah. Sajak Rumah (1950), yang singkat, bukan lagi rumah. Demikian pun sajak Dongeng Kepada Seorang Asing(11950) sekalipun dia berada di rumah tapi diapun ”kembali asing”.

Mungkin sekali rumah dalam arti harafiah mesti mengalami transendesi, sehingga sidangkan pembaca puisi Siti Nuraini akan menemukan makna lebih jauh dan bervariasi sudut peninjauannya.  Setidaknya,  apa yang disebut rumah belum lagi diketemukan, apalagi membikin dia krasan. Mungkin baginya rumah merupakan sesuatu yang sangat pribadi, bukan dalam pengertian komunal dan bersifat verbal.

Selalu demikianlah yang menjadi asas kesenian: dia mempunyai dimensi profan sekaligus transenden. Bermula dari pengalaman profan, seorang penyair mengembangkan daya imajinasinya, sampai kepada pengalaman transendental. Di situ dia akan menunjukkan kemahiran memakai bahasa ekspesinya, sehingga bakat dan kekuatan yang dimiliki mampu melahirkan ungkapan artistik.

Kiranya tinjauan A Teeuw yang mengatakan Siti Nuaraini ’’ merupakan pengarang paling berbakat”, pada ’Beberapa Orang penulis wanita sesudah Perang’  baru menemukan bukti yang meyakinkan pada akhir 1960-an. Sajak berjudul Variations on Theme (1969), yang juga mendapat pujian majalah sastra Horison, (1969), hemat saya juga merupakan sajak terbaik yang pernah ditulis Siti Nuraini. Lebih baiklah sajak ini lumayan panjang…….

 

 

 

 

 

 

BANYAK MASALAH KELUARGA HARUS DITULIS

BANYAK MASALAH KELUARGA HARUS DITULIS

NAMANYA sudah populer. Tidak hanya di Indonesia. tetapi juga  di luar negeri. Ia pernah bermukim di Jepang, Amerika dan Perancis, karena satu konsekuensi dari perkawinannya dengan Yves Coffin., seorang diplomat Perancis. Dari perkawinan itu (1960) lahirlah dua anak yang kini sudah besar-besar. Sulungnya bernama Merie Clarie Lintang (perempuan) sekarang lagi tekun mempelajari ilmu sosial-politik di Kanada ;  sedang yang bungsu (laki-laki) Pierre Louis Padang menetap di Paris bersama ayahnya. Belakangan ini Ny. Dini sendiri menetap di Indonesia dengan ,pos-pos utamanya adalah Jakarta, Semarang, Jogya dan Bandung. Sebagai orang asli Semarang (dilahirkan 29 Pebruari 1936) Ny. Dini menyambut gembira terbitnya majalah ini. Dan buru-buru dia mempertanyakan nama majalah Dini yang identik dengan namanya. Tantu saja Reporter DINI  Yudiono K.S yang khusus berkujung kerumahnya di Semarang hanya dapat menjawab, ’’ Kebetulan saja. Yang pasti,  serupa tapi tak sama’’.

Selanjutnya dengan ramah Ny.Dini menegaskan bahwa penerbitan di daerah memang harus dikembangkan agar jangan sampai segalanya terpusat di Jakarta. Lagi pula, katanya, sangat banyak masalah keluarga dan kemasyarakatan yang perlu digarap dan dituliskan.

           Et i k e t

Dalam hubungan itu Ny. Dini yang masih tetap men-Jawa itu menuturkan pengalaman dan pengamatannya bahwa masalah utama yang tampaknya semakin kurang diperhatikan orang banyak adalah masalah etiket atau sopan-santun. Dan ngomong soal itu ia bisa tampak bersemangat sekali. “Iki kudu ditulis lho Yudi”, katanya kepada Reporter DINI yang memang sudah siap merekam komentar dan pendapat-pendapatnya. Secara garis besar dikatakan, “Sopan santun itu tidak boleh terdesak arus modernisasi. Saya kira masalahnnya bukan moderen atau tidak. Tapi justru apakah kita ini beradab atau tidak.  Mungkin kedengarannya keras. Tapi biarlah, sebab  terus terang saya prihatin. Dan dengan siapa saja, dimana saja, kapan saja, saya selalu berusaha menegaskan hal itu.  Mbok iya sing padha ngumemi sopan-santun ngono lho!’’

Sementara Reporter DINI  menyinggung masalah berubahnya sistem kemasyarakatan menuju suatu sistem yang lebih mantap nantinya, ternyata Ny. Dini berprinsip bahwa perubahan sistem itu toh tak harus menggeser hakikatnya sopan-santun atau etiket. Dengan demikian harkat kemanusiaan  akan selalu ada pada urutan pertama. Baru kemudian menyangkut masalah sarana atau sistemnya. Diambilnya contoh sekitar masalah ’’kulanuwun’’ atau  ’’terima kasih’’ yang akan selalu berkaitan dengan berbagai segi kehidupan, apakah dalam rangka urusan-urusan formal atau tidak. Dikatakan lagi bahwa untuk memenuhi aturan itu toh seseorang tidak harus datang sendiri.  Bisa lewat telepon atau surat-surat pendek. ’’Tapi banyak diantara kita masih malas menulis kan?’’ katanya sambil tersenyum ramah.

          Membaca

Berbicang-bincang dengan Ny. Nh. Dini atau Ny. Nurhayati Srihardini Coffin yang telah menulis beberapa novel penting itu memang terasa mengasyikkan. Reporter DINI  nyaris kewalahan memilih-milih persoalan yang perlu dikemukakan. Sebab Ny.Dini luwes sekali mengalihkan satu soal ke  lain soal. Dari soal Etiket kemudian beralih ke masalah kebudayaan membaca.

Dikatakan bahwa tradisi atau kebudayaan membaca sangat penting. Pendidikan formal di sekolah-sekolah sebenarnya terlalu singkat untuk membentuk suatu pribadi yang utuh. Sementara itu pendidikan keluarga sangat beraneka ragam. Oleh karena itu buku-buku atau bacaan yang baik harus dijadikan  salah satu sarana yang penting bagi pendidikan, khususnya dalam pembentukan moral.  Soal-soal etiket misalnya, toh bisa dipahami lewat bacaan yang baik. Tentu saja tidak terbatas di situ. Sebab katanya, sangat banyak masalah keluarga yang harus dan bisa diungkapkan lewat tulisan.

Sementara minat membaca sudah semakin berkembang, maka tradisi itu harus semakin ditanamkan di tengah-tengah keluarga. Peranan ayah dan ibu peranan atau lingkungan keluarga sangat penting dalam hal itu.  ’’Saya sendiri bisa mengarang karena dulu-dulunya tumbuh di tengah keluarga yang punya tradisi membaca. Kemuadian saya mulai senang menulis sejak bocah. Dan almarhum Ayah serta kakak-kakak mendorong kegiatan saya menulis. Dan saya yakin bahwa lewat bacaan atau karangan yang saya hasilkan itu sudah berarti ikut menyumbangkan pendidikan’’, katanya  menyinggung masa silamnya  yang manis.

Selanjutnya Ny. Dini menghimbau kepada siapa saja, terutama ayah dan ibu agar sering-seringlah memberi hadiah berupa buku. Bila perlu anak-anak diajak lansung memilih buku kegemarannya di toko buku. Tentu saja  harus disertai kontrol agar pilihan anak-anak itu bermanfaat. Artinya tidak sekedar bacaan hiburan, tetapi ada isinya.

Menjawab pernyataan  Reporter DINI  sekitar buku bacaan anak-anak yang baik, Ny. Dini yang juga telah menceritakan kembali beberapa dongeng Perancis (diterbitkan Sinar Harapan, 1981),  menggariskkan (1) mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak-anak, (2) mengantarkan mereka kepada kesadaran bermasyarakat, (3)  menanamkan keyakinan pada hakikat keadilan, kejujuran, kebenaran, etika, dan (4) ditulis dalam bahasa yang baik.

’’Bagaimana halnya dengan kejujuran, kebenaran atau etika dalam dunia pewayangan kita?’’, tanya Reporter DINI kemudian.

’’Pada prinsipnya saya sendiri senang pada dunia pewayangan. Saya buktikan dengan membeli kaset-kaset wayang setiap kali saya punya uang. Tidak kurang dari Rp 20.000,00 sering saya sisihkan untuk itu. Disamping itu saya selalu menyisihkan sebagian uang untuk membeli buku-buku, apakah itu fiksi atau bukan’’. Dan jawaban itu ditambah catatan bahwa sekarang ia boleh dibilang seratus prosen penulis professional. Artinya, tidak bekerja formal di kantor dengan gaji bulanan.

“Sekarang penulis dapat hidup dengan baik. Asal rajin, tekun dan menjaga kualitasnya. Dan saya sendiri sudah membuktikannnya’’, katanya pula sambil menyinggung kumpulan cerpennya yang baru terbit. Tuileries.

(Sumber: Majalah DINI, no.3 tahun I – 1982 – hal. 5-6).

wajeb iman – nazam Syekh Yakob Padang Tiji 1341 H

 

وا جب  ايمان  دوم  كتايى  ا  كن   نبى  *  واجب فاتيه  فوى يڠ نهكن أوليه نبى
بتا   فاتيه    يڠكوه    داتڠ    نفا   خبر  *  مثال  موت يڠ  تهت سا كية  تافراسا
مثال  نفكه  عذاب  قبور  دسيى  كافر  *  أوراڠ معصية يڠ تن توبة ماتى جاهيل
أورڠ  مؤمين  نبرى   نعمة  دالم   قبور  *  نعمت شر ڬا  توهن  بوكا  كنن  لاجو
بتا  فاتيه  أورى  قيامت   دودى  تكا  *   ينك   أورى  كسوداهن  هارو  هارا
بولن ڠن  أورى فى  كرهنا بنتڠ مهمبور   *  لاڠيت مليڠكڠ بومى مكنجڠ مهو بور٢
سوره توهن اسرافيل يوب سڠكا  كلا   *  هابس ماتى  بندوم سارى صفا  صفا
هايس ماتى بندوم سارى ملينكن توهن  *  لاڠيت ڠن بومى كن لى منى كا كسمفن
عمورفة فوله   تهن يڠ  منن ين صفا صفا  *  تمر  تورون   هوجن  فوتيه  مأ ء الحيا
ها بس   تيموه بندوم توبه كاتدوق٢  *   فكاين تن  بندوم  تلهن  بنيه  أوروق
تمر   نيوب    سڠكا   كلالى    اسرفيل  *   موى  ياواڠ بندوم  تمر  تن  لى  ماتى
تمر كرون كا  كهمفون  أو   فداڠ  محشر  *  دومنا  رعيت كا  كحساب  كفر  كسا
عوه مهمفون دومنا رعيية  كجوك سوراة  *  تمر يڠ چوك ويل ڠن أونن بن يڠ بايت

تمر  يڠ    جوك   دڠن   أونن    مبهڬيا  *  تمر يڠ روه ڠن  جاري  ويل كاچيل كا
تمر   كجيڠ    دومنا    عمل    لم   نراچا  *  كج دڠن جهة فهول دڠن كهون دسنن يتا

يڠ  كهون  عمل    كيجيكن  أسى  شرڬا  *  تمر  يڠ   فهول  دوم  كفالوى  لم  نركا
تمر  تجك  اتس   تيتى  صراط  المستقيم  *  ها لوس فى تهت كفدوق أتس نركا جحيم
فنجڠ  تيتى  سابه   رواية  تلهو ريبو تهن  *  تأيك تاجك أتس فوجق  دڠن  تاترون
تيتى  هلوس  لا ڬي    تاجم   نيك  فدڠ  *  سدومنن هالوس سدوم فوتس اداة ملنتڠ
تمر  يڠ  جك  اتس   تيتى    لابن   بابت *  كرنيا  الله   لدوم   فنتس  نابن   كيلت
لدوم  فنتس  ناكدوم  بن   فاڠين    باوا  *  تمر   لدم    تابن   كودا   كفوه   لاوا
( ٩ )
تمر لدوم بن  أروڠ   فلوڠ  يڠ تهت  چچا  *  تمر  لدوم فنتس باجوة هن  تهت لنجا

لدوم   يودى   معوى   ٢   مسسق   ٢  *  مهيلا   ٢   لم      نركا      كاتسيرك
يڠ سيلامت  أتس  تبتى  جمراڠ  فيتروس *   بك حوض نبى كروڠ  الكوثر دسنن فيوه
بنيه  كروڠ  بن   كندى فيلا   نابن   ينتڠ  *  اسى مهت سيب سيدرى ٢ هن فوى ريواڠ
يڠ جيب  ايرين دق فيهن لى كراه فيهن لى *  كرنيا   حق   هويڠ   كهندق كنن نبرى
تلس  ين  تمر  أورڠ    مؤمن  تامڠ  شرڬا *  سنتوك سابى تبيت هنلى روك٢ مسا
ككل   سنن  جيت  هنا   هد  هنا  هڠڬا *  دالم    لذاه  سنتوك  مابت  جاتى رسا
ڠن بوه   كايو  جيت   متنتو  رسالا  ين *  سى يڠ فاجوه فروة هن سڠكوه لم سو كأن
سنتوك  قليم   لم   تكهيم ٢  هاتى  ماڠت  *  ڠن     مكانن   ڠن  مينمن  لذات ٢
توها  هنلى سا  كيت  هنلى روك ٢ مسا  *  عمور  سدوم  سابى ٢   مودا   بهليا
دسكافر    دوم    تكو  لير   لم    نر كا  *  تتف  سنن جى تبيت  هن روك٢ مسا
فدوم  عذاب   أورى   مالم   هنا   تدوه   *  كمكانن  بواه   زقوم  ين   جى  فاجوه
بوه زقوم ين توتڠ  تهت  تاجم  بن  دورى   *  سى يڠ فاجوه ها ڠوس توبه افوى سنرى
فدوم    عذاب  كلا  لمفن  أولر   فاتهوق   *  لوم ڠن رنتى كبوه فاسوڠ رنتهيق رنتهوك
أورڠ   مؤمن   أومة  نبى   يڠ   مدوشا   *  يڠتن   توبة  بن   في   كتوت   لم   تركا
كيرا ٢   أوبى   دوشا    دومنن   كتوت   *  هن  جيلا لو افوى نر كايك هن فاتوت
لدوم توتوڠ  مڠ عوه كا  كى عوه نن سجا   *  لدوم بتيس  لدوم  هابس  لدوم  عوه فها
لدوم  توتوڠ  مڠ  عوه تا  كوى ا لا دادا   *  تمر   لدوم    هابس    بندوم   ا لا موكا
سنچوة  ٢ عذاب فا  كى  ڠر لن  فكه   *  كاوس  افوى نبك  كا  كى بندوا بله
تولڠ  أوراة   ايسي   أوتق  بندوم  رلى   *  تمر  كبوه  بن  سوة   تمر  عذاب   سابى
بتا ايمان وهى يق جوة دان هى جوة دا    *  ري  چيت  كبيت   يڠ   كفكه  تافراسا
سمبهيڠ   ليمڠ  بى   تانڠڬل  بنا  جا   كا    *  يڠ    كفكه  دهى  تا كبه   بك  مصلا
(  تمت  والحمد لله  رب العالمين)

 

Transliterasi/Alih aksaranya:

Bismillahirrahmanirrahim

Wajeeb Iman dum geutanyoe akan Nabi  * wajeb pateh peue nyang  neukheun uleh Nabi

Beuta pateh nyang goh datang neu peukhaba  * miseue mawot nyang that saket tapeurasa

Miseue neupeugah adeub kubu disikaphe  *  ureueng maksiet nyang tan taubat mate jahe

Ureueng mukmin neubri niekmat dalam kubu  * niekmat Syuruga Tuhan buka keunan laju

Beuta pateh uroe kiyamat dudoe teuka  * nyankeu uroe keusudahan haru-hara

Buleuen ngon uroe pi gurahna bintang meuhambo  *  langet meulinggang bumoe meuguncang meu hubo-hubo

Suroh Tuhan Israfi yub sangkaikala  *  habeh mate bandum sare saffan safa

Habeh mate bandum sare malenkan Tuhan  *  langet ngon bumoe konle menoe ka geusimpan

Umu peuet ploh thon nyang meunan nyan saffan safa  *  teuma turon hujeun puteh Maul Haiya

Habeh timoh bandum tuboeh ka teuduek-duek  * peukayan tan bandum teulhon bineh uruek

Teuma neuyub sangkaikalale Israfi   meuwoe nyawong bandum teuma tanle mate

Teuma geuron geuhimpon u Padang Mahsya  *  dumna rakyat ka geuhisab geupareksa

‘Oh meuhimpon dumna rakyat geujok surat  *  teuma nyang cok wie ngon unun ban nyang babat

Teuma nyang cok deungon unun meubahgiya  *  teuma nyang roeh ngon jaroe wie ka ceulaka

Teuma geuceng dumna amai lam neuraca  *  got ngon jeuheut phui ngon geuhon disinan nyata

Nyang geuhon amai keubajikan asoe Syuruga  *  teuma nyang phui dum geupului kam Nuraka

Teuma tajak ateueh titi Sirathal Mustaqim  *  haloih pi that geupeuduek ateueh Nuraka Jahim

Panyang titi saboh riwayat lhee ribee thon * taek tajak ateueh pucak deungon tatron

Titi haloih lagi tajam nibak peudeueng   *  sidumnan haloih sidom putoih adat meulinteueng

Teuma nyang jak ateueh titi le ban babat * karonya Allah ladom pantah naban kilat

Ladom pantaih na keudum nyan angen bawa * teuma ladom naban guda geupoh lawa

Teuma ladom ban ureueng plueng nyang that caca * teuma ladom pantah bacut han that lanja

Ladum budoe? meu-eue meu-eue meuseuk-meuseuk * meuhila-hila lam Nuraka ka teusireuk

Nyang silamat ateueh titi jeumeurang pi troih  * bak hudh Nabi krueng Kalkausa disinan piyoh

Bineh krueng nyan kande pi le naban bintang  *  asoe meuhat seb sidroe-droe hanpeue riwang?

Nyang jeb ie nyan deuek pi hanle grah pi hanle  *  karonya haq ho nyang kheundak keunan neubre

Lheueh nyan teuma ureueng mukmin tamong Syuruga  *  seuntok sabe teubiet hanle rok-rok masa

Keukai sinan cit hana had hana hingga  *  dalam lazat seuntok mangat cati rasa

Ngon boh kayee cit meuteuntee rasa le ban  *  soe nyang pajoh pruet han sungkoeh lam sukaan

Suntok kayem lam teukhem-khem hate mangat  *  ngon makanan ngon minoman lazat-lazat

Tuha hanle saket hanle rok-rok masa  *  umu sadum saban-saban muda bahliya

Di sikaphe dum teugule lam Nuraka  *  teutap sinan ji teubiet han rok-rok masa

Padum adeub uroe malam hana teudoh  * keu makanan buah zakom nyang ji pajoh

Boh zakom nyan tutong that tajam ban duroe  *  soe nyang  pajoh hangoh tuboeh apui sinaroe

Padum adeub kala limpeun uleue pathuek  *  lom ngon rante geuboeh pasong   rinthiek-rinthuek

Ureueng mukmin umat Nabi nyang meudeesya  *  nyang tan taubat nyan pi geutot lam Nuraka

Kira-kira ube deesya dumnan geutot  *  han jilalu apui Nuraka bak han patot

Ladom tutong meung ‘oh gaki ‘ohnan saja  *  ladom beuteh ladom habeh ladom ‘oh pha

Ladom tutong meung ‘oh takue illa dada  *  teuma ladom habeh bandum illa muka

Sineucut-neucut adeub page ngo lon peugah  *  kawoh apui nibak gaki bandua blah

Tuleueng urat asoe utak bandum reule  *  teuma geuboeh bansot teuma adeub sabe

Beuta Iman wahe Nyak Cut dan he Cut Da  *  roe cit keubit nyang  geupeugah ta peurasa

Seumbahyang limong bekta tinggai beuta jaga  *  nyang geupeugah dhoe takeubah bak mushalla

 

( Tamat, wal hamdulillahi Rabbil ‘alaminn)

 

Catatan: Alhamdulillah, setelah  saya dan putra tertua belajar cara mengetik huruf Arab dan huruf Arab Jawi/Jawoe selama lk 2 jam pada Drs.Mohd Kalam Daud, M.Ag;  sekarang secara tertatih-tatih saya sudah dapat mengetik komputer huruf Arab. Orang pertama yang dapat menulis pada “kursus kilat” menjelang bulan Puasa 1437 H ini adalah putra saya, kemudian saya belajar lagi padanya. Inilah hadiah hidangan  pertama saya kepada para pembaca blog Tambeh. Posting ini bersempena Ultah ke 32 musibah lalin saya di Kalasan, Yogyakarta pada 25 Ramadhan 1405 H atau 15 Juni 1985 M. Semoga Allah Swt senantiasa menolong saya sekeluarga dan segenap kaum Muslimin, Aminn!.

 

 

 

 

Ayo Menuliskan Aceh di Internet – VII

 

Ketika Tujuh Tahun Menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2016

 

Ayo Menuliskan Aceh di Internet – VII

 

April 2015  s/d  Maret 2016  merupakan Tahun Tesis saya. Betul-betul tahun penuh perjuangan dan penuh kesabaran untuk mengatasi berbagai kesulitan guna mencapai tujuan.

Alhamdulillah, biar pun saya hidup dalam suasana penuh tekanan fisik dan mental, namun blog Bek Tuwo Budaya masih tetap berlangsung dengan menu-menu baru setiap bulannya;  walaupun kebanyakan bersumber kliping koran atau majalah yang telah saya simpan bertahun-tahun dan sebagian besar ‘daur-ulang’ dari rendaman lumpur tsunami Aceh, 26 Desember 2004 M.

Tekanan fisik yang saya sebutkan di atas, bukanlah bersumber dari luar. Akan tetapi berasal dari fisik saya sendiri yang sudah “rusak” lebih dari 31 tahun. Dalam hal demikian, untuk berpergian saya harus dibantu sebatang tongkat serta dipapah orang. Sementara tekanan mental, bahwa penulisan tesis itu mempunyai jadwal penyelesaian yang pasti yang tidak boleh saya lewati, yaitu tangal 30 Desember 2015.

Catatan: Terakhir saya salinHikayat Abu Jeuhai (Abu Jahal)  pada  19 Maret 2014 pkl 7.15 wib. Setelah itu saya disibukkan dengan pekerjaan rutin memberi kuliah pada dua kelas mahasiswa Reg 1 dan 2  setiap hari, yaitu sejak hari Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at. Sementara pada hari Sabtu, Ahad; saya sebagai mahasiswa di Pascasarjana   mengikuti kuliah mulai 8.30 pagi sampai jam 18.00 sore dengan 4 mata kuliah setiap hari serta 1 – 2 dan 3 (ujian Teks Home) tugas paper setiap mata kuliah. Insya Allah, mulai 1 Ramadhan 1435 H/29 Juni 2014 M  saya akan giat menyalin kembali Hikayat Abu Jahai. Sehari- sampai jam 12 siang. Sebelum 1 Ramadhan, hati sempat cemas karena Fel Hikayat ini hilang terhapus, Alhamdulillah, berkat batuan orang  felnya muncul lagi!. Memang, menjelang bulan Puasa, CPU berkali-kali ke tukang   itu, sampai-sampai fel Hikayat Abu Jahai terhapuskan!.

 

Bagi orang yang sehat dan segar-bugar, mungkin saja apa yang saya alami sejak awal dari pencarian topik tesis, merupakan hal biasa. Namun, bagi saya yang mimiliki ‘kelemahan fisik’ apa saja yang membutuhan gerakan badan merupakan beban yang membutuhkan ketenangan buat menghadapinya. Sebelum terpilih calon tesis yang ‘jadi’, berkali-kali saya perlu membawa bahan yang akan dikaji. Beruntung saya diberikan Allah mendapat ‘pengkaji awal’ seorang dosen yang baik hati.

Selanjutnya, saya menjalani bimbingan proposal berkali-kali. Satu renungan, yang saya resapi pada periode ini, bahwa begitu mudah saya menjumpai kesalahan-kesilapan mahasiswa dalam proposal dan skripsi mereka yang saya ‘bimbing’ selama ini. Akan tetapi saya kurang mampu melacak kesalahan-kesilapan dalam proposal saya sendiri, sehingga memerlukan campur tangan dosen pembimbing dalam urusan yang sesungguhnya teramat mudah itu, namun terlepas dari glip-glip atau tatapan mata saya.

Setelah mengikuti Seminar Proposal yang berjudul “Nilai-nilai Sejarah Aceh dalam Hikayat Malem Dagang” (28 Mei 2015) bersama 5 orang teman, saya pun memasuki masa pembimbingan tesis. Akibat berbagai rintangan – mungkin sebagiannya dapat disebut tak dapat mengatur waktu – penyerahan hasil perbaikan proposal baru terlaksana pada (28 Juni 2015) hari terakhir batas penyerahan yang telah diberi waktu sebulan penuh.

Meski saat penyusunan tesis dengan judul baru Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang; telah mulai sejak ditunjuk dua orang Profesor sebagai  pembimbing melalui SK Direktur Pascasarjana pada 30 Juni 2015, namun bulan-bulan September-Oktober-Nopember dan Desember 2015 adalah bulan-bulan penuh beureukat dan meukarat(berkah dan payah) bagi saya. Setelah melalui beberapa kali konsultasi (beliau mau berangkat dinas ke luar negeri), pada 4 September 2015 tesis saya ditangdatangi oleh Pembimbing II.

Selain terus menjalani bimbingan dari Pembimbing I, di bulan September dan  Oktober saya perlu membuat ringkasan tesis untuk sebuah Jurnal yang merupakan peraturan baru. Mencari Jurnal secara mendadak, ini juga termasuk kisah yang panjang. Hari Selasa, 24 November 2015 mulai jam 9.00 saya mengikuti Seminar Hasil Penelitian dengan empat orang penguji. Ini juga peraturan baru. Tanggal 11 – 17 Desember 2015 tesis saya mengalami Review Ujian Pendahuluan oleh dua orang penelaah tesis. Peraturan baru ini juga saya pertama yang mengalaminya dari mahasiswa program kelompok saya. Ini semua, karena saya  mengejar waktu harus lulus sebelum tanggal 30 Desember 2015. Pada 29 Desember 2015  jam 11.00 saya mengkuti acara mempertahan tesis di depan Tim Penguji Tesis Pascasarjana dan dinyatakan lulus, yang langsung hari itu dibuat surat keterangan lulus untuk segera saya sampaikan kepada Rektor dan Dekan tempat saya bertugas. Alhamdulillah!.

Angka tujuh dianggap bilangan “keramat dan misterius” dalam budaya Aceh dan Dunia Melayu pada umumnya. Di Aceh ada ungkapan: aulia tujoh(aulia tujuh), khanduri seunujoh(kenduri hari ketujuh orang meninggal), hitungan 1 s/d 7 pada peusa-dua pengobatan tradisional dan pancuri tujoh(tujuh pencuri) dan beberapa istilah lain.

Begitu juga dengan keberadaan blog TAMBEH ini yang telah berlangsung sampai tujuh tahun. Suatu masa yang lumayan panjang dan banyak suka-duka untuk mempertahankannya. Alhamdulillah, semua problema itu telah mampu dilewati dengan selamat.  Berikut saya kutip bagian penutup tesis saya berupa saran-saran, yang mana tesis ini telah menggiling fisik dan mental saya dalam setahun terakhir:

Saran-saran

 

Dalam mengakhiri tesis ini penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Studi terhadap historiografi lokal Aceh, termasuk kajian yang diminati para akademisi, ilmuwan baik dari  dalam maupun luar negeri. Studi penulis terhadap Hikayat Malem Dagang diharapkan menjadi inspirasi  buat  lebih meramaikan penelitian dan kajian terhadap historiografi lokal Aceh.
  2. Masih cukup banyak manuskrip dan naskah hikayat, nazam dan tambeh yang menanti “sentuhan tangan” para akademisi dan ilmuwan; sebelum manuskrip dan naskah-naskah itu punah ditelan zaman.
  3. Pemerintah Aceh perlu menetapkan keseragaman ejaan dalam penulisan bahasa Aceh yang selama ini masih ditulis secara beraneka-ragam.
  4. Setiap tahun Pemerintah Aceh perlu menyelenggarakan sayembara mengarang dan membaca Hikayat Aceh, baik dalam aksara Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe. Sayembara itu perlu diikuti oleh peserta mulai kalangan anak-anak, remaja dan orang dewasa dengan jumlah hadiah yang menggiurkan.

 

Mengakhiri sambutan ini, saya mengucapkan Selamat Berpuasa kepada umat Islam di seluruh dunia, semoga amal ibadah kita diterma Allah Swt, Aminn!.

 

Bale Tambeh, Sabtu, 18 Juni 2016

13 Puasa 1437, pkl 9.44 pagi

 

T.A. Sakti