Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – VI

Ketika Enam Tahun Menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2015

Ayo, menuliskan Aceh di Internet – VI

Selamat berpuasa, semoga ibadah kita di Ramadhan mulia ini diridhai Allah Swt, sehingga kita mendapat ampunan dan rahmat yang berlipat ganda, Amin!.

Tanggal 15 Juni 2015 jam 22.35 sudah 266.600 lebih  kunjungan pada  blog Bek Tuwo Budaya. Melihat jumlah penikmat  selama enam tahun hanya sebanyak itu, memang tidak menggembirakan; amat sedikit!.   Namun, rasa syukur yang dalam tetap bersemadi  di hati saya, karena blog ini telah sanggup melintasi beragam tantangan selama enam tahun. Dengan semakin berkurangnya tulisan-tulisan saya  sendiri yang dapat diposting,  maka semakin berganda-ganda pula  “rasa bosan dan sia-sia” datang menyerang. Alhamdulillah, semua beban batin itu masih mampu saya kikis dari batin saya yang dirasukinya. Sebab, saya masih yakin bahwa setiap artikel yang  saya posting pasti ada manfaat bagi sebagian  pembaca. Memberi faedah kepada orang lain, tentu Allah Swt akan menganugerahkan rahmat kepada sang penulis dan pelaksana lainnya.

Satu hal yang paling menyenangkan, bahwa pengetikan bahan bacaan untuk diposting tidak perlu lagi saya bawa ke Rental seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekarang, semua kebutuhan itu telah ditangani oleh anggota keluarga secara gotong-royong. Dengan bermodalkan sebuah komputer pribadi  dan tiga Laptop milik putri-putra saya, maka semua ‘order ketikan’ dapat berlangsung lancar dalam setahun ini. Hanya saja, berhubung kost pengetikan di rumah ‘lebih mahal’, maka artikel yang diposting dalam blog dalam masa sebulan dicukupkan satu judul saja, atau kadang-kadang dua.

Walaupun telah bergaul  sampai enam tahun, tetapi saya belum mengenal betul dengan perangkat internet ini. Selain belum paham seluk-beluknya, saya juga masih dibisikkan  rasa kurang percaya terhadap keakuratannya. Sampai kini, belum ada ahli yang dapat saya tanyai mengenai keraguan ini. Satu contoh: terhadap kunjungan blog Bek Tuwo Budaya tanggal 15 Juni 2025. Pada pukul 22.35 hari Senin/malam Selasa, jumlah kunjungan per-negara sebagai berikut:  62 Indonesia, 20 Amerika Serikat,  15 Malaysia, 11 Uni Eropa, 2 Singapura, 1 Thailand, 1 Inggris. Saya belum yakin kesahihannya, mengapa  pengunjung dari negara Amerika Serikat lebih banyak dibandingkan dengan pengunjung dari Malaysia. Mengapa pengunjung dari Uni Eropa bisa lebih banyak daripada pengunjung dari Singapura, Thailand; padahal dari satu negara Eropa, yaitu Inggris hanya 1 pengunjung saja. Kemudian, besok jam 7.00 pagi tanggal 16 Juni 2015 jumlah pengunjung per-negara menjadi: 87 Indonesia, 33 Amerika Serikat, 15 Malaysia, 14 Uni Eropa, 2 Singapura, 1 Thailand, dan Inggris tetap 1. Dalam keadaan ini, saya masih tetap bertanya-tanya, mengapa lagi-lagi Amerika Serikat dan Uni Eropa yang banyak bertambah dibandingkan negara-negara tetangga kita!?. Apakah  semakin jauh merantau, orang-orang semakin rindu kepada tanah airnya?. Atau karena bangsa Amerika Serikat dan Eropa adalah orang-orang yang amat doyan kepada informasi?

Kemusykilan lain  alias  problema blog Tambeh saat ini, yaitu kembalinya penyakit lama yang menghisap semangat saya untuk terus mengasuh blog Tambeh. Pada awal  keaktifannya, isi blog ini banyak dicopy-paste oleh pemilik-pemilik blog lain yang curang. Banyak tulisan-tulisan saya yang diambil untuk dipampang ke dalam blog mereka. Sebagian plagiator ini sampai-sampai menghapuskan nama saya, lalu mengganti  dengan namanya sendiri. Namun setelah berkali-kali saya “tunjuk hidungnya” dalam setiap sambutan ulang tahun blog Tambeh ini, mereka pun satu-persatu mengakui kesalahannya dengan menghapuskan karangan-karangan saya dalam daftar isi blog-blog tersebut. Gejala itu sudah bangkit lagi dalam setahun ini!. Beberapa copy-paste terhadap tulisan saya terlihat jelas.  Beberapa waktu ke depan, saat  saya melakukan edit terakhir terhadap sambutan Ulang Tahun ini, semua kecurangan dan penculikan karya saya akan ditampilkan satu-persatu!.

Dalam  kegairahan  Islam di Aceh dewasa ini, ada gejala menarik yang berkembang dalam dua tahun terakhir. Fenomena itu adalah bangkitnya ‘amalan  Zikir” yang menyentuh hampir semua kalangan masyarakat Aceh.  Hampir lima tahun lalu, pada  setiap maghrib dan subuh, dari kejauhan sayub-sayub terdengar gema zikir dari suatu tempat yang jauh di sekitar Banda Aceh. Saat sekarang, hampir setiap pekan kita dapat membaca-mendengar berita-berita tentang kegiatan berzikir dalam media-massa Aceh. Acara zikirullah itu diikuti ribuan orang. Iklan berzikir pun sering terpampang di halaman pertama Harian Serambi Indonesia, serta baliho dan poster terus berkibar di beberapa sudut kota Banda Aceh. Tempat pelaksanaan berzikir itu sudah berlangsung di beragam lingkungan, seperti di komplek  Makam Syiah Kuala,di lapangan sekitar Makam Ulama dan Sultan Aceh seperti Makam Sultan Iskandar Muda,  Mesjid Raya Baiturrahman, di berbagai ibukota kabupaten di Aceh, di berbagai komunitas, di kampus-kampus, di Kapolda Aceh dan lain-lain.

Memang ada kalangan  yang memandang ‘kecil’ terhadap geliat dakwah di kalangan  masyarakat  umum ini, namun dalam kesempatan menyambut Ulang Tahun ke enam blog Bek Tuwo Budaya  kali ini,  saya  menampilkan bagaimana tanggapan salah seorang ulama tempo dulu terhadap geliat agama  ini. Beliau bernama Syekh Abdussamad  atau  Teungku Di Cucum. Kubur beliau terdapat di gampong Cucum,  – antara Keude Tungkop dan Keude Lam Ateuk, Aceh Besar.Ulama yang diperkirakan hidup di awal Perang Aceh-Belanda ini,  masih meninggalkan  warisan karya bermutu hingga  sekarang,  antara lain  Akhbarul Na’im, Tambeh Tujuh Blaih dan “Tambeh Gohna Nan”.  Tambeh Gohna Nan  adalah judul yang saya lakapkan, karena naskah ini belum diberikan nama oleh Teungku Di Cucum. Setelah membaca cuplikan kitab  itu, terkesan kepada kita seolah-olah beliau sudah ‘meramalkan’ apa yang sedang berlangsung di Aceh hari ini, yakni  sekarang  gema zikir semakin sering dan nyaring terdengar di Bumi Serambi Mekkah!.

Dalam  mengikuti  arus zaman, saya telah memberikan cuplikan naskah Tambeh/Nazam Teungku Di Cucum  kepada Panitia Lomba Membaca Naskah Lama Balai Bahasa Provinsi Aceh. Lomba yang berlangsung  tanggal 8 – 9 Juni 2015 itu,  diikuti oleh 50(lima puluh) peserta dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Saya yang menjadi salah seorang juri dalam acara  langka itu,  amat menikmati makna dan kemerduan nazam Aceh yang dibacakan  oleh peserta  beragam umur , laki-laki dan perempuan. Sebagian besar peserta membaca  naskah huruf Arab Jawoe  dari cuplikan Tambeh Gohna Nan seri  I, sedang seri II sambungannya,  hanya dibaca beberapa orang saja. Sementara  naskah Jawi/Jawoe  cuplikan  Hikayat Abu Nawah;   mengenai  Abunawah yang ditugaskan Sultan Harunur Rasyid mencari ikan bersisik merah di laut; hanya dibaca oleh satu orang peserta saja. Acara Lomba Membaca Naskah Lama Aceh di Balai Bahasa  Banda Aceh/Provinsi Aceh, merupakan kegiatan tahun ketiga secara  berturut-turut. Salam hormat dan tahniah yang setinggi-tingginya patut kita persembahkan kepada Kepala Balai Bahasa Propinsi Aceh, Bapak Teguh Santoso, S.S., M.Hum yang telah menggagas dan melaksanakan  acara teramat langka itu. Beliau yang berasal dari Yogyakarta  telah mengukir jasa bagi bahasa, sastra dan kebudayaan Aceh. Berdasarkan pengamatan tiga kali berlangsungnya  acara lomba itu, nampaknya  minat membaca huruf Arab Jawoe sudah bangkit kembali di Aceh. Kiranya,  berbagai pihak  terutama  lembaga yang terkait agama Islam dan kebudayaan Aceh  perlu ‘menampung’  gejolak manis ini!.

Berikut cuplikan  “Tambeh Gohna Nan”  tentang ibadat ragam kaum  sufi tersebut:

Teungku Di Cucum I

Lailahaillallah, kalimah thaiyibah jeuet keu payong

Neu peulara bandum kamoe, meunan jinoe neubri untong

Lailahillallah, kalimah thaiyibah kuta nyang raya

Soe nyang tem duek lam kuta nyan, seulamat iman hate lam dada

Peubuet suroh peujeuoh teugah, hamba Allah nyang sijahtra

Nyoe nyang laen lon amanat, beuta ingat E aneuknda

Pat-pat na meugah hai puteh lumat, bungong hekeumat  peukayan dada

Yoh goh prang Aceh dilee saboh hat, bungong hekeumat meugah muliya

Aceh pih reule ‘ohlheueh kaphe mat,  bungong hekeumat leunyap pat nyang na

Le syahid Teungku neuwoe bak rahmat, bungong hekeumat bak gobnyan punca

Sangkira Teungku neubri seulamat, bungong hekeumat rata rinyeun na

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat,  geuliyueng mangat deungo nyang beuna

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, hate jih thaat barangjan masa

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, nyawong jih mangat watee keuluwa

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, teupuka kasyaf leumah peue nyang na

Beudoh jak mita bungong hekeumat, supaya mangat hate lam dada

Nyang le bungong nyan dinanggroe luwah, Makkah Madinah sinan phon mula

Dinanggroe Irak ngon nannggroe Kufah, rame sileupah keubon peunula

Meunurot dali neubrile Allah, keubon nyang luwah ‘oh akhe masa

Maken that akhe maken meutamah,  keubon nyan teuhah rata teumpat na

Lam nanggroe tanyoe hanale leumah, lawet ka leupah Teungku neugisa

Teutapi dudoe leubeh lom luwah, deungon afuwah Syiyah Kuala

Kana soe puwoe dinanggroe Makkah, bungong peuet ulah hudep peunula

Bijeh meutabu neubrile Allah,  neujok ‘inayah keu ureueng puga

Qudrat Iradat kuasa Allah, soe-soe meutuwah jiteumei mita

Ji teumei pangkee bungong lhee ulah,  soe nyang na teuhah hate lam dada

Bungong lapan on mantong that mudah, bungong peuet ulah tapreh-preh teuka

Bungong lapan on meususon ulah, harah dua blaih aleh lam lam ha

Bungong kalimah ulah teudong-dong, takalon mantong meuteumeung pahla

Ulah bungong  nyan  nacit nyang meurok, takalon beutok jeuet peungeuh dada

Bungong bak ulah leumah lapan on, tan meu-ek meutron beurangjan masa

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on, Tuhan peuampon sigala dausa

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on,  langet meususon pinto geubuka

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on,  roh jih lam ayon watee ‘oh geuba

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on. Jiduek yub payong Blang Padang Masya

Lailahaillah, beumeutuwah aneuk hamba

Beujitem seubut Kalimah Lailahaillallah. Bungong nyan sah keuyum Syuruga

Bareh lapan nyankeuh bungong, pham beukeunong cut ngon raya

Bareh lapan geukheun bungong, gunci ngon tamong pinto Syuruga

Watee takheun deungon lidah, Lailahaillallah bak jipoh ha

Bareh lapan tinggai tujoh, sabab karoh ka jipoh ha

nyankeuh lon kheun bungong tujoh on, bek meuron karon watee tabaca

lailahaillallah, pasoe lam babah kalimah zike

bungong lapan on mantong na mudah, bungong peuet ulah nyang that meuseuke

bungong lapan on Thariqat Hadad, baca beule that iep watee sabe

lailahaillallah, Kalimah Thaiyibah kuta nyang tinggi

soe le baca Kalimah Thaiyibah, urat darah ji meunari

hate didalam seunang ka teuhah, ingat keu Allah Nyang Maha Suci

Teungku Di Cucum II

Lailahaillallah, Kalimah Thaiyibah kuta nyang tinggi

Bungong lapan on kalheueh lon peugah, bungong peuet ulah deungo lon kheunkri

Wahe aneuk nyang na tuwah, tadeungo gah pat-pat teurjali

Pat-pat nyang na teuma meugah, Zikerullah lateh rohani

Ngon nyan teubuka ‘ileumei nyang luwah,  Kalimah Allah seubut ngon hate

Beureuseh hate neubrile Allah, raseuki mudah karonya Rabbi

Raseuki haleue Tuhan neulimpah, meunan geupeugah didalam rawi

Watee ta’amai deungon ikheulah, lakee bak Allah taubat beugeubri

Talakee ampon pat-pat nyang salah, nyawong bak leupah dalam Jannati

Tadeungo jinoe ulon meupeugah, supaya mudah jeuet tatukri

Bukon sayang Miruek Pango, sinan jinoe  na teumpat Kaluet

Watee akhe teuma dudoe, tanle sidroe nyang jak khaluet

Tanle Teungku soe peurunoe, taek keudroe teumpat kaluet

Suloek kaluet jak lateh droe, jak peugleh droe bandum sifeuet

Jak boih dausa darah asoe, jak meutoe ngon Tuhan makbud

Hate pigleh nibak kuto, ka baro toe ngon Tuhan makbud

Duek lam kaluet malam ngon uroe, hate peulaloe ngon Ya Makbud

Baca Tahle malam uroe, bak duek sidroe nyan tapubuet

Suloek kaloet sithon lhee go, lam watee droe nyan geupubuet

Syakban Ramadhan nyang phon sigo, teuma dudoe lam Haji peubuet

Buleuen Molod nyang keulhee go, jumeulah uroe tujohploh ka

Dalam tiep thon watee lhee go, geupeusaho lheueh nyan teuma

Meungna umu neubrile Po, nam thon jinoe payah keureuja

Suloek kaluet meunan bagoe, baro sampoe ‘oh meunan na

‘Ohka cukop sithon nam uroe, ‘oh meusaho uroe jina

Duek lam kaluet malam uroe, na dum bagoe zike taba

Zike qalbi ngon lathaif, troh bak nafi isbad nama

Troh bak ‘ukuf muraqabah, bandum sudah tamat teuma

Trok bak tahle nyang manyang that, ‘ohnan meuhat suloek geuba

Bukonle dhiet panyot kande, that meuseuke ‘oh tamita

Duek lam kaluet zike sabe, seubut zike peue nyang kana

Peue nyang geuyue uleh guree, meunan teuntee takeureuja

Lailahaillallah, ngon lidah tabaca sabe

Tan laen Po nyang lon seumah, malengkan Allah Rabbol Kade

Duek lam kaluet hate dahsyah, Allah Allah seubut di hate

‘Ohka tamat bandum sudah, Allah Allah nyan zike se

‘Ohlheueh suloek deungon kaluet, ‘ileumei peubuet dumka geubri

‘Ileumei bandum ka habeh jeuet, adab peubuet dumka meukri

Guree kalon bandum sifeuet, soe nyang kajeuet ijazah neubri

Neujok ijazah ban laku jeuet, deueh bak sifeuet neukalon kri

Rame ngon le khalifah jeuet, nyang kalheueh beuet ijazah neubri

Nyang meuseuke jareueng na jeuet, keu mursyid nyang that tinggi

Lam siribee hana meupeuet, mursyid nyang jeuet ijazah neubri

Jok ijazah sigala buet, keu mursyid nyang that tinggi

Guree kalon bandum sifeuet, narit ngon buet dum geutukri

Pajoh ranub jih bak mirah, tacok seupah sumbo puree

Mursyid kajeuet ngon khalifah, geu ijazah uleh guree

Dum ileumei ubit luwah, jok naseukhah uleh guree

Bukonle dhiet tanoh Makkah, sinan payah hudep kayee

Nyangka mursyid geubri ijazah, bungong peuet ulah sikarang lhee

Zike hate Allah Allah, nyang lon peugah bungong karang lhee

Zike qalbi nama jih sah, Allah Allah bareh jih lhee

Sinan hai Nyak ulon peugah, supaya mudah tacok teurajee

Jak bak Teungku cok ijazah, Zikerullah nyang bareh lhee

Bukonle dhiet tanoh Makkah, Blang ‘Arafah teumpat dum Haji

Bungong jih lhee Kalimah Allah, salasilah diphon bak Nabi

Jebra-i peutron lam guha Hirak, masa neujak kaluet Nabi

Jebra-i  cok nibak Tuhan, peutroh yohnyan jok keu Nabi

Nabi sambot bak watee nyan, meuhadapan ngon Jebra-i

Keu sahbat peuet Nabi pulang, hingga luwah bak dum sufi

Ngon sahabat meusilsilah, meu ijazah hate keu hate

Mula diphon meusala silah, ‘an sudah kiyamat bumi

Bukonle dhiet K’akbatullah, jak dum tawaf ureueng Haji

Bukonle dhiet dum silsilah, naseukhah bandum ka meukri

Bukonle dhiet K’akbatullah, hamba Allah nyan qiblati

Bahauddin Naksyabandiyah, nyang peuluwah zike qalbi

Bukonle dhiet tanoh Makkah, asaliyah lahe Nabi

Bukonle dhier zikerullah,  nyang peugleh hate nyang keuji

Geuboeh nama Zike Isem Zat, Thariqat Naqsya Bandi

Nyangkeuh Imum lam Thariqat,  Bahauddin meuhat nama geurasi

Saboh pinto tamong taubat, ngon nyan meuhat bagah asi

Dausa zina dausa liwat, ‘oh jitaubat bandum meukri

Dausa baten nyang teusom that,  rotnan meuhat bagah suci

Jantong leumoh jih gusuen that,  bagah puleh Tuhan neubri

‘Ohka keunong hate meucap, ‘oh keunong lhat nama Ilahy

Tuboeh la’eh teuga meuhat, asoe urat dum beureuhi

Seumayang tinggai hate batat, tan teuingat suroh Rabbi

Tan ji teupeue uroe Jumeu’at, meungnyo kathat hate meulhi

‘Ohka keunong hate meucap, buet Syari’at baro meukri

Baroka mangat peubuet ‘Ibadat,  hate ka teupat hana meugawi(o)

Seumbahyang limong bandum ka meukrat, puwasa meuhat bandum ka meukri

Ureueng nyang maksiet cit rotnoe taubat,  laen tan sapat jalan teupuka

Meugoh gleh hate han ek takarat, adak gob pakat han ek teuhila

Dum ek gob maba jipadan taubat,  hate beungeh that keu ureueng maba

Meu’oh jitamong jitem jak taubat, hanpeuele pakat bandum teurasa

Ureueng nyang maksiet deungon nyang ‘awam, wajeb hai rakan taubat ngon sigra

Wajeb tatamong tatueng Thariqat,  sunat cit meuhat bak takeureuja

Ureueng nyang ‘awam tapadan meuhat, tangieng nyang batat seumbahyang hana

Jih nyan tamaba peulop bak taubat, supaya meupat dijih rahsiya

Rahsiya tuboeh baro jitupat, bandum na hijab habeh teupuka

Baro ka jithee laloe raya that, baro ji tupat hate lam dada

Ureueng nyang lazem kayem ‘Ibadat, hanpeue tapakat keunan tamaba

Geuturi keudroe jalan nyang teupat, bandum na hijab hate lam dada

Ileumei Tasawuf ngon peugleh hasad, maksiet siploh boh teusuet uluwa

Taek ugle takoh keu tungkat, pileh meuhat kayee ‘Ali

Lethat kasiet ngon hekeumat, kayee tungkat Saidina ‘Ali

Zike hate nyan Isem Zat,  geukheun Thariqat Naqsya Bandi

Dum biek raya dausa lethat, bagah teupat Tuhan neubri

Akai nyang brok gadoh meuhat, deungon bereukat Naqsya Bandi

Nyankeuh aneuk kalon peugah, asailiyah phon teurjadi

Paneuk haba ulon peugah, silsilah meuribee ahli

Pat-pat lehna teuma meugah, ‘oh leupah kamoe peureugi

Tinggai gata ubit leupah,  nyan silsilah tatupeue dali

Alhamdulillah, ternyata Ulang Tahun ke ENAM blog tercinta kita;  bertepatan dengan hari pertama secara resmi umat Islam  Indonesia melaksanakan ibadah puasa. Semoga, semangat berpuasa ini dapat menjalar ke dalam diri  kita, sehingga blog Tambeh-Bek Tuwo Budaya ini terus berjaya, insya Allah  mampu bertahan terhadap segala tantangan dan rintangan di masa-masa akan datang!. Sekaligus kita harapkan, mudah-mudahan blog ini tetap berfaedah  bagi pembaca di mana saja berada, khususnya  bagi peminat  kebudayaan Aceh dan bidang humaniora lainnya.

Tetap harus diakui, bahwa tujuan utama penampilan blog ini di alam maya belumlah tercapai. Buktinya, sampai saat ini bidang bahasa dan sastra Aceh kurang dipedulikan  di Aceh. Misalnya, setiap diadakan berbagai lomba di berbagai tempat  di Aceh,  bahasa dan sastra Aceh selalu dilupakan. Padahal hampir semua pelaksana kegiatan lomba itu adalah orang-orang Aceh.  Setahu saya,  setiap tahun  cukup banyak Dayah, sekolah  dan perguruan tinggi mengadakan  berbagai perlombaan atau sayembara. Lihat saja, kapan mereka pernah memasukkan lomba seni Aceh yang Islami, seperti lomba mengarang nazam dan tambeh Aceh, lomba menulis dan membaca naskah Jawoe dan sejenisnya!.  Kita  ileh terhadap kebudayaan Aceh, budaya  kita sendiri!.

Akhirul kalam, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa mulai hari ini kepada kaum muslimin –muslimat di mana saja berada. Semoga  segala amal ibadat kita di bulan Ramadhan yang penuh  ampunan ini diterima Allah Swt,  dan kita mendapat rahmat dan beureukat!.

Banda Aceh, 18 Juni 2015

1 Ramadhan 1436 H/1 Puwasa 1436

dto

T.A. Sakti

darurat dayah di aceh!

Droe Keudroe:

Darurat Dayah

Serambi Indonesia telah memuat tiga berita  tentang nasib Dayah Aceh pada edisi Kamis, 30 April 2015. Ketiga berita itu ternyata menyedihkan. Pada halaman “Serambi Pase” sebagai berita teratas berjudul ’12 Bilik Santri Terbakar”, yaitu sebanyak 12 bilik(kamar) santri  Dayah Darut Thalibin Desa Mesjid Baro, Kecamatan Samalanga, Bireun hangus terbakar. Dalam halaman 19 berjudul “Tak Miliki Santri, Pemerintah Stop Bantuan”. Ini mengenai hasil verifikasi yang dilakukan oleh tim bersama  Aceh Jaya, yang menemukan adanya Dayah dan TPA yang tidak memiliki santri sama sekali, sementara bantuan dari pemerintah terus mengalir ke Dayah dan TPA itu. Berita ketiga berjudul “DPRK Minta Jerih Guru Dayah Ditingkatkan – Selama Ini Rp. 970 Ribu Per Tahun”. Berita di halaman 20 ini,  terkait hasil kunjungan kerja Wakil Ketua DPRK Pidie Jaya Fakhruzzaman Hasballah ke sejumlah Dayah di kabupaten  itu, yang ternyata jerih guru Dayah sangat minim di sana.

Sesungguhnya, berita duka dari  Dayah-dayah  di tiga kabupaten daerah Aceh itu,  merupakan cerminan dari nasib pilu dari sebagian besar Dayah dan TPA(Bale Seumeubeuet) yang terdapat di Provinsi Aceh. Hanya saja jarang terungkap ke publik. Petuah “sabar”  sudah menjadi benteng pertahanan yang kokoh bagi para santri(Aceh:Ureueng Meudagang) di Dayah-dayah sejak  dahulu kala. Segala macam penderitaan selama di Dayah dianggap sebagai “cobaan dan ujian” yang harus dimenangkan. Akibat pandangan demikian, keluh-kesah anak-anak Dayah jarang terekspose ke luar.Berkat ikut membimbing sejumlah skripsi mahasiswa  mengenai  Sejarah Dayah dan beberapa kali ulang-alik ke beberapa Dayah di Aceh Besar  sejak tahun 2013 – 2015, menyebabkan ‘ puncak gunung es ‘ cobaan para santri Dayah sudah terkuak ala kadarnya.

Memang, dalam 30 tahun terakhir geliat Dayah di Aceh amatlah nampak. Minat para orangtua yang  mengantarkan anaknya ke Dayah semakin hari semakin tinggi. Akibatnya, walaupun pertumbuhan jumlah Dayah yang  cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun ternyata tidak mampu menampung  jumlah santri/santriwati yang mendaftarkan diri. Beberapa Dayah terkenal sudah menyetop penerimaan murid baru buat sementara. Sebagian orangtua hanya menginginkan putra-putrinya “pernah” menjadi santri/santriwati di Dayah,  tetapi tidak kurang pula para orangtua yang  mengharapkan anak-anak mereka  belajar  secara penuh di Dayah, terutama di Dayah-dayah yang mengeluarkan ijazah.

Banyak faktor yang mendorong para orangtua menjadi “sadar Dayah”.  Selain faktor-faktor tradisional yang sudah membudaya, faktor-faktor masa kini juga amat kuat getarannya. Terbentuknya Badan Dayah Provinsi Aceh beberapa tahun terakhir,  cukup mempesona sebagian calon santri. Banyaknya berita-berita tentang aktivitas Dayah dalam media-massa – seperti dalam Serambi Indonesia -,telah menggugah ‘kesadaran Dayah’ para orangtua. Diakuinya ijazah Dayah untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi cukup mendamaikan batin santri/santriwati  untuk belajar di Dayah. Apalagi, jika pernah ada berita “penerimaan PNS”   bagi alumni Dayah.Salah satu faktor masa kini yang lain yang cukup tinggi daya dorongnya adalah negeri kita yang terjangkiti ‘darurat narkoba”. Semua orangtua amat khawatir terhadap keselamatan anaknya dari bahaya sabu-sabee ini. Salah Satu  bentang pertahanan yang masih dipercaya masyarakat Aceh adalah Dayah. Maka berduyun-duyunlah para orangtua mengantarkan putra-putri mereka ke Dayah. Akibatnya, Dayah-dayah terkenal di Aceh menjadi penuh-sesak, dan sebagian calon santri/santriwati tak tertampung lagi!. Inilah yang saya sebut “Darurat Dayah”,  yang perlu perhatian Pemerintah Aceh, masyarakat dan media-massa di Aceh.

T.A. Sakti

Tinggal di   Banda Aceh

Kebudayaan harus berpokok pada ilmu

Kebudayaan harus berpokok pada ilmu

Sutan Takdir Alisjahbana, 72 tahun, sastrawan

Sebenarnya terjadi kekacauan dalam mengambil pengetian tentang kebudayaan nasional Indonesia. Banyak di antara kita tidak memiliki pengertian kebudayaan yang jelas. Dalam arti sempit, kebudayaan adalah adat istiadat, kepercayaan, seni. Dalam arti luas—yang sebenarnya relevan pada zaman sekarang—kebudayaan itu melingkupi segala perbuatan manusia, yang membedakannya dengan hewan. Budi daya atau kebudayaan tak lain daripada hasil budi manusia. Dan bila kita lihat kebudayaan Indonesia dalam arti yang luas ini, perubahannya akan jelas sekali: dari suatu konfigurasi yang dikuasai agama, seni, solidaritas dan kekuasaan politik, pindah ke suatu bentuk yang dikuasai ilmu, ekonomi, yang bersama-sama melahirkan teknologi dan menumbuhkan solidaritas serta susunan politik yang baru. Bagi saya jelas sekali perbedaan kebudayaan Indonesia lama, kebudayaan Indonesia baru, dan kebudayaan Indonesia modern. Pusat kebudayaan itu adalah universitas.

Kebudayaan daerah                                          

Kebudayaan nasional Indonesia adalah kebudayaan yang progresif. Ia dikuasai ilmu dan teknologi. Dan bagi saya seluruh kebudayaan Indonesia, juga kebudayaan daerah, akan berpokok pada ilmu dan bersifat progresif. Kalau beternak sapi di daerah, ia harus dipelihara secara ilmiah. Bahasa apa pun yang dikuasai sekolah-sekolah di desa, ia mesti memberikan ilmu abad keduapuluh ini. Warung di desa mesti dijalankan dengan pikiran yang menyadari efisiensi. Kita tak peduli petani memberi sesajen untuk Dewi Sri, namun mereka harus menanam padinya secara modern. Dalam hal ini sifat kedaerahan hilang. Indonesia adalah bagian dari dunia, dan karenanya ia tak bisa lari dari kebudayaan progresif. Kenapa demikian? Karena kebudayaan yang berpokok pada ilmu, ekonomi, telah menyatukan dunia. Yang tidak sadar akan hal ini, berarti hidup dalam abad yang lampau. Kita masih hidup dalam abad pertengahan. Kesukarannya adalah karena cara berpikir universitas belum sampai ke desa, dan rasionalisasi dalam bidang ekonomi serta efisiensi masih merupakan kata-kata asing. Hal ini masih terdapat pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan pemimpin kita banyak yang belum mengetahui secara jelas apa yang terjadi di dunia ini.

Dengan universitas sebagai pusat, dapatkah kita melakukan perubahan secara cepat? Kalau mau, perubahan itu bida cepat terjadi. Lihatlah Jepang. Semuanya berubah dalam lima tahun. Tapi kita, mendisiplinkan pegawai negeri saja belum bisa. Bekerja keras dan belajar keras, belum menjadi semboyan.

Saya berpendapat bahwa embel-embel daerah itu tidak penting. Anak Jawa yang melanggar kelakuan Jawa dianggap belum jadi orang Jawa. Kita harus tahu, kebudayaan itu hanya tempelen. Yang penting adalah bagaimana kemauan cara hidup kita. Jika kita hanya mengambil bahan dari Indonesia, alangkah bodohnya kita. Kita harus meluaskannya. Sejarah kita terlalu kecil dibandingkan dengan Cina, India, Islam ataupun Eropa. Karena itu kita harus luas. Bentuk diri menjadi manusia besar abad sekarang. Jalannya adalah lewat pendidikan, bekerja keras. Rasanya tidak banyak orang yang mati karena bekerja terlalu banyak. Barangkali lebih banyak orang mati karena kurang bekerja.

Hendaknya kita sadar bahwa kebudayaan di abad ini adalah soal kesatuan dunia, umat manusia. Ada orang yang berkata, kita manusia Timur, jangan seperti orang Barat, kebudayaan kita lain. saya dulu memang memakai perkataan Barat, tapi yang saya maksud adalah manusia yang rasional, dinamis dan sadar akan hidupnya. Namun sekarang, perkataan Barat dan Timur harus dibuang. Ia menghambat pengertian tentang kemanusiaan. Manusia Barat dan Timur sama. Sama manusia.

Jangan dikira saya terlalu jadi orang internasional dibandingkan jadi orang Indonesia. Itu tak benar. Saya bekerja mati-matian untuk Indonesia. Tetapi Indonesia haruslah dilihat dari kemanusiaan. Saya ingin menjadi orang Indonesia yang besar. Apa saya mau menjadi orang atau manusia kecil tetapi keindonesiaannya saja yang besar?

Kebudayaan daerah dengan sendirinya akan tetap ada. Seperti di Eropa sekarang, di setiap desa ada kebudayaan. Mau dihapuskan tentu tidak bisa. Karena mereka satu desa dan berteman bersama-sama, tentulah mereka mengadakan tari-tarian dan menyanyi bersama. Tetapi sebaliknya, desa itu tidak dapat menutup diri dari semua yang asing. Sekarang ini ada pertukaran antara pusat dan daerah. Dengan pertukaran ini desa tidak lenyap. Tiap desa mempunyai coraknya sendiri.

Luntur

Ada yang mengatakan bahwa lunturnya kebudayaan daerah antara lain disebabkan kesalahan Angkatan 28 yang mempersetankan kebudayaan Indonesia lama, dan menghembuskan kebudayaan Indonesia baru. Pendapat seperti ini memutarbalikkan sejarah. Mohammad Yamin adalah orang yang banyak mempelajari kebudayaan Jawa. Angkatan 28 sampai dengan Pujangga Baru lebi berdasarkan ilmu dalam penyelidikan kebudayaan lama. Orang tak mengerti tentang apa yang dikerjakan oleh mereka yang pro barat. Saya dikatakan pro Barat. Dan orang pun tak mengerti apa yang saya lakukan dengan sanggar kesenian Toya Bungkah di Bali.

Kini orang pun cemas tentang masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia. Padahal dalam kekhawatiran itu, kebudayaan yang mereka maksud dan membuat khawatir itu hanyalah ujung-ujungnya atau ekses-ekses saja. Kebudayaan Barat yang sebenarnya, sebetulnya terlalu lambat masuk ke negeri kita. Universitas, teknologi, ekonomi, efisiensi, terlalu lambat kita terima. Janganlah melihat yang jelek-jelek itu. Kalau mau telanjang, telanjanglah. Itu hanya ujung-ujungnya. Tapi yang saya kehendaki adalah kebudayaan, yakni ilmu dari Barat.

Kenapa kebudayaan daerah dalam arti sempit kini makin luntur? Karena angkatan muda dinamis dan kreatif. Jiwanya sudah jiwa abad ke-20. Jadi kalau disodori isi yang lama, tidak cocok lagi. Saya sekarang memberi jiwa abad ke-20 kepada gaya-gaya lama tadi, jiwa masa yang akan datang. Kita buat tari Bali, gerak Bali dan gamelan Bali di persimpangan jalan. Ini adalah soal kita. Betul tari Bali, tetapi orang melihatnya sebagai sesuatu yang lain. Indonesia kaya sekali akan kesenian. Pada Conference on the Art and future, orang asing mengatakan bahwa pusat markas besarnya adalah di Toya Bungkah. Jadi kita diberi kesempatan memimpin dunia. Tetapi kalau kita hanya berpikir secara daerah saja, sukar bagi kita memimpin dunia. Sekarang pun kita sukar memimpin daerah karena kebudayaan daerah sudah masuk kebudayaan industri. Kita harus meluaskan pikiran kita, bahwa dunia sudah berubah sejak perang dunia II. Lihat di Eropa, Inggris dan Jerman tahun ini akan memilih anggota parlemen langsung dari rakyat mereka, tahun ini mereka akan bertukar pegawai, dan mereka sudah lama membicarakan penyatuan uang. Dulu mereka bermusuhan. Sekarang kita harus mengetahui tujuan dunia.

Strategi kebudayaan

Kalau kita suatu bangsa yang sadar, pasti kita mempunyai strategi kebudayaan untuk menuju masa depan yang baik. Dalam rapat perguruan tinggi swasta saya merumuskan tentang kebudayaan Indonesia. Saya memakai nama kebudayaan Indonesia secara prioritas. Pertama tentang ekonomi dan ilmu. Kalau tidak, kita akan menjadi paria di dunia. Bertambah lama bertambah paria. Ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi.

Tentang agama, kita jangan lupa bahwa ilmu itu adalah sebagian dari apa yang kita tidak tahu. Dalam hal ini kita harus rendah hati kepada rahasia alam semesta yang tidak terduga, yang menguasai kita dalam segala hal.

Tentang politik, masyarakat, organisasi kemasyarakatan mempunyai 2 sumbu, kekuasaan dan solidaritas. Kekuasaan itu vertikal, dari atas ke bawah. Solidaritas, horizontal, berdasarkan cinta kasih sayang. Dan kita ingin demokrasi. Tinggal satu nilai lagi yakni seni. Nilai seni itu nilai kreatif, mencipta sesuatu yang baru. Saya menghendaki supaya seni membesar bukan hanya keindahannya saja. Gampang saja membuat sajak percintaan yang menimbulkan keharuan. Bagi saya sekarang, tiba saatnya kekreatifan seni itu melingkupi ilmu, ekonomi, politik dan solidaritas. Kekreatifan itu meluas ke segala lapangan. Sebab itu, kalau orang mengatakan roman saya terlampau banyak isinya, itu adalah keyakinan saya. Roman hanya dapat melakukan tugasnya sekarang, kalau dia memakai segala hal yang diperoleh itu, dia meluaskan pikirannya seluas agama, kalau dia dapat memberikan kepada dirinya suatu tanggungjawab, solidaritas dan organisasi negara.

Bukan karena penjajah

Dapatkah penjajahan yang berlangsung di Indonesia tempo dulu disebut sebagai penghalang? Tidak. Penghalang itu adalah mentalitas bangsa Indonesia sendiri. Penjajahan adalah sebagai akibat hukum alam: yang pintar, kuat, dinamis, mesti menguasai yang bodoh, lemah dan statis.

Tugas Belanda dahulu memang bukan untuk mendidik kita. Dan sebetulnya Belanda telah berjasa besar mengubah otak Sukarno, Hatta, dan lain-lainnya, yang akhirnya menjadi murid-murid yang mengusir Belanda itu sendiri. Itu pun atas dukungan internasional yang besar sekali.

Bagaimana pun bangganya kita, kita harus sadar bahwa kebudayaan kita tidak pintar, lemah dan statis. Kebanggaan kita kadang-kadang berlebihan. Kita kurang intropeksi. Kita harus melihat perubahan dunia secara nyata, jujur, jangan bermimpi atau berilusi. Kita harus merubah mental dari kebudayaan ekspresif dan fantasi, sedikit rasio yang berdasarkan intuisi, menjadi kebudayaan yang dikuasai rasio, perhitungan, dan realitas. Dengan begitu, bukan berarti agama bakal hilang. Saya tak khawatir sumber agama akan lenyap. Hanya orang bodoh dan tak memahami arti agama sesungguhnyalah yang memiliki kekhawatiran demikian.

Bahasa

Tentang berbahasa Indonesia dengan baik, saya selalu berselisih dengan kaum linguis. Mereka tidak sampai menjadi manusia dewasa. Mereka itu murid-murid. Guru-gurunya itu kolega saya berdebat di Amerika. Linguistik dalam 50 tahun yang lalu tiba di jalan buntu, karena mereka takut kepada pikiran. Mereka bermain dengan bunyi-bunyi, maka timbullah fonologi, yang semuanya berputar-putar pada bunyi. Pikiran itu susah bagi mereka. Jadi kita sekarang menerima ilmu linguistik sebagai ilmu bahasa yang tidak berarti. Padahal bahasa itu pentingnya kalau punya arti.

Kalau demikian boleh saja mereka membuat ilmu linguistik mengenai aum harimau, suara bebek atau kambing, sebab hanya tentang bunyi. Bagi mereka pikiran terlampau sukar. Mereka sebenarnya harus sampai kepada logika, filsafat, dan kebudayaan. Bahasa yang tidak menjadi alat pikiran, bahasa apa pula namanya? Bagi saya, bahasa itu adalah cara menjelmakan pikiran manusia. Di sinilah letak kebudayaan. Setiap bahasa itu sempurna untuk kebudayaannya. Kebudayaan apa yang ada di Indonesia ini, bahasa Indonesia harus menjadi cermin yang sesungguhnya. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia berbeda sekali. Bahasa daerah akan menjadi cermin kebudayaan lama, kebudayaan daerah. Bahasa Indonesia sejak dulu dikritik banyak orang. Sekarang bahasa Indonesia harus menjadi setaraf dengan bahasa Jerman, Belanda, Inggris, Jepang, Rusia sebagai bahasa modern abad ke-20. Istilah yang kita ciptakan sudah lebih dari setengah juta. Terasa bagaimana perubahan kebudayaan kita. Dari 20 ribu, yang masuk hampir 20 kali, sejak zaman Jepang. Kalau Diponegoro tiba-tiba masuk ke suatu sekolah di Jawa Tengah, dia tidak bakal mengerti. Kaum linguis tidak mengerti hal ini. Bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa Melayu Polynesia yang menjadi bahasa modern.

Kalau orang mengatakan kita harus berbahasa Indonesia yang baik, berarti bahasa yang modern, yang logis. Sekarang dalam pelajaran bahasa di bawah pimpinan kaum linguis, saya sering melihat kalimat-kalimat itu tidak selesai, sebab cara berpikir tidak jadi penting. Dalam tata-bahasa diadakan uraian kalimat. Mana subjek, prediket, objek, keterangan tempat dan keterangan waktu. Semua ini kategori pikiran. Penganalisaan pikiran. Bahasa adalah seperti yang disebutkan guru saya, Niewenhuys: Bahasa itu kadang-kadang berupa bunyi, kadang berupa tanda, tetapi selalu pikiran. Janganlah hal ini diabaikan. Dalam krisis kebudayaan seperti sekarang, orang tidak bisa berpikir tentang kebudayaan kalau tidak berani naik ke filsafat. Di zaman sekarang kita harus berani mendaki gunung. Dari puncak gunung kita dapat melihat peta kebudayaan seluruh Indonesia. Tetapi kalau kita di bawah pohon, kita tidak bisa berbicara tentang kebudayaan yang luas itu. Kita hanya melihat bayang-bayangnya saja.

Jadi, berbahasa Indoensia yang baik adalah mengekpresikan pikiran-pikiran dengan baik. Kalau tidak begitu kita menipu rakyat. Kita jadinya memberi bahasa yang tidak cocok.

Lebih celaka lagi kalau cara-cara lama mewarnai bahasa Indonesia. Seperti perasaan halus dan kasar dari bahasa Jawa. Pelacur sudah bagus lantas diganti dengan tuna-susila. Penganggur diganti tuna-karya. Yang kita kehendaki bukan penghalusan tetapi penambahan logika dan tepat. Dan tiap-tiap penghargaan yang lain menghalangi penglogisan dan pentepatan bahasa kita. Karena itu juga saya mempertahankan perkataan tuan dan puan. Dahulu orang Belanda suka yang memanggil tuan dan puan. Setelah merdeka, semua kita harus menjadi tuan,  sekarang yang dipakai adalah kata kampong dari desa yakni Bapak dan Ibu. Di desa semua memakai bapak dan ibu, kakak dan adik. Tetapi dalam hubungan resmi mestinya memakai tuan dan puan. Dengan kata ini semua orang sama.

Dalam kongres bahasa baru-baru ini saya katakan bahwa dalam pengadilan semua orang Indonesia adalah Tuan dan Puan, sama tinggi duduknya dengan hakim. Kalau kita pergi ke kantor pajak, “Tunggu dulu, tuan. Akan saya lunasi besok.” Semua menyebut tuan. Lancar. Sekarang masih terlampau ditinggikan, kata Bapak memasukkan unsur desa ditambah unsur feodal. Apakah saya harus memanggil anak muda, dengan Bapak? Kekuasaan menjadikannya sebagai Bapak. Ini namanya perkawinan desa dengan feudal. Untuk abad ke-20 ini mestinya, tuan dan puan. Pesawat terbang Malaysia mempergunakan panggilan Tuan-tuan dan puan-puan. Maskapai penerbangan Singapura juga begitu. Tetapi Indonesia mempergunakan Tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Mungkinkah wanita Indonesia bukan nona lagi? Mengapa tidak memakai tuan dan puan? Apakah kita takut dikatakan meniru Malaysia? Bukankah Malaysia, Singapura dan Indonesia mempunyai bahasa yang satu?.  Di sini kekerdilan kita masih kelihatan sekali.

( Sumber:  Prisma 2, Februari 1978 hlm  50 – 58 ).

                 

Kiblat Kita : Lokal, Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

Dialog

Kiblat Kita : Lokal,

Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

 

 

Pengantar

Dialog kita kali ini menampilkan dua sastrawan dari dua periode berbeda. Yang pertama, Ayip Rosidi, 41 tahun, adalah orang yang punya perhatian dan melakukan penelitian untuk sastra daerahnya: Sunda. Yang kedua, Sutan Takdir Alisyahbana, 72 tahun, sastrawan pelopor pujangga baru. Mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang kebudayaan daerah dan nasional.

Ayip tetap tak mau meninggalkan keindonesiaan dalam melihat kebudayaan daerah. Dia melihat ada usaha “kurang sadar” yang pernah dibuat orang dalam menghidupkan kembali kesenian daerah, antara lain mengembalikan feodalisme. Dan melihat kebudayaan daerah bagi Ayip sendiri—dia sendiri pernah merekam pantun-pantun Sunda—tak menimbulkan regionalisme.

Takdir pun mencintai kesenian daerah. Dia memiliki sanggar kesenian Toya Bungkah, Bali. Namun bagi Takdir, kebudayaan daerah dan nasional sekarang haruslah bersumber pada ilmu. Kebudayaan sekarang, katanya, adalah soal kesatuan dunia, kesatuan umat manusia. Redaksi.

Kebudayaan Daerah dan Keindonesiaan

Ayip Rosidi, 41 tahun, sastrawan

Banyak sudah usaha yang ingin menghidupkan kebudayaan daerah. Tetapi, usaha itu sering hanya didorong oleh keinginan untuk melanjutkan yang biasa—yang sudah ada—dan sering pula tidak dihubungkan dengan keindonesiaan. Kegiatan dan kebudayaan seperti itu, seperti tidak tahu, bahwa daerah sesungguhnya sudah lain dalam suatu kesatuan Indonesia. Dan mereka yang melakukan kegiatan ini, banyak yang tak sadar bahwa banyak nilai daerah—yang menurut mereka dianggap baik—sebetulnya tidak cocok lagi dengan cita-cita kebangsaan yang hendak kita tegakkan. Masalah demokrasi adalah salah satu contoh.

Kita kini sepakat untuk menegakkan asas demokrasi. Pada dasarnya, asas itu ada di tiap-tiap daerah, dengan tipis tebal yang berbeda, serta latarbelakang yang berlainan. Tetapi di beberapa daerah, feodalisme lebih menonjol. Bagi mereka nampaknya, antara feodalisme dan demokrasi tak ada persoalan prinsipil. Dalam situasi 1950-an, ketika mengagung-agungkan Indonesia, jika ada orang mengatakan bahwa ada hal-hal yang tak cocok lagi, mereka bakal tersinggung. Walaupun begitu, karena kebudayaan daerah itu terdapat di seluruh Indonesia, ia memang perlu digali. Saya berasal dari daerah Sunda, karena itu saya menggali kebudayaan Sunda. Kecenderungan saya menulis dalam bahasa Sunda juga menimbulkan ejekan dari beberapa kawan. Ada yang menyebut saya sebagai “Si Sunda”. Tapi di balik itu, dalam lingkungan kebudayaan Sunda lama, saya juga tidak diterima dengan baik. Kalau pun saya diterima, penerimaan itu disertai dengan kecurigaan. Ada malah yang menulis, bahwa saya adalah “monyet” yang datang dari daerah lain dan tak bisa memahami masalah yang sebenarnya. Tragis. Saya terjepit. Dan pada tahun 1950-an—saat yang masih dekat dengan masa revolusi—setiap usaha dan kegiatan yang berbau daerah dapat dianggap sebagai kaki tangan van Mook. Ini pandangan politis, karena van Mook mendirikan negara boneka. Pada saat begitu, sulit bagi kita untuk membicarakan kebudayaan daerah. Tapi kini keadaan seperti ini masih nampak pada orang-orang yang berasal dari perjuangan 1945. Ada pandangan yang mengatakan bahwa kebudayaan daerah dianggap bertentangan dengan cita-cita nasional. Jadi, unsur daerah masih dilihat sebagai sesuatu yang membahayakan Indonesia sebagai nation. Pandangan ini keliru. Pada tahun 1960-an, kesenian daerah mulai bangkit. Hanya saja ia dipergunakan secara politis oleh Lekra. Organisasi itu mendirikan sanggar, dan dalang yang sebetulnya tidak mempunyai pandangan politis jadi senang sekali. Tempat latihan yang tak pernah mereka bayangkan, mereka peroleh. Banyak orang terjebak. Dalam pada itu organisasi seperti LKN dan Lesbumi masih membatasi pada jenis kesenian tertentu, dan belum menjamah wayang serta topeng. Mereka hanya mengurus kesenian rebana, menjaga perasaan para kiyai. Inilah masalah pada tahun 1960-an.

Penelitian

Kepada Jawatan Kebudayaan pernah saya usulkan untuk membuat rekaman kesenian-kesenian rakyat yang hampir hilang (1958-1959). Saya tertarik pada pantun. Antara 1959 dan 1960, Jawatan Kebudyaan Jawa Barat pernah merekam pertunjukan pantun di Kuningan, tapi usaha ini tidak dilanjutkan lagi. Hingga 1966 juga tak ada. Tahun 1968 dan 1969 setelah saya menulis beberapa artikel di media massa dan gagal, datangah Prof. Teeuw, dan kepadanya saya jelaskan kesulitan saya. Dari dia saya dapat pinjaman alat perekam dan pita. Dengan itu selama 1969, 1970 dan 1971 saya menjelankan penelitian untuk pantun Sunda. Beberapa puluh pantun berhasil saya rekam, kemudian saya transkripkan dan  terbit dalam bentuk stensilan. Jumlahnya ada 20 jilid, dan masing-masing tebalnya antara 100 dan 200 halaman folio. Sekarang beberapa perpustakaan penting di dunia telah memilikinya. Jika ada yang hendak melanjutkan penelitian lewat hasil itu bisa saja. Di Leiden, Negeri Belanda, sastra Sunda itu dipakai. Untuk daerah lain kini pemerintah sudah menyediakan dana yang lebih besar buat penelitian seperti yang saya lakukan itu.

Ciri Sunda

Orang Sunda membangga-banggakan kesenian dan kebudayaan Sunda. Tetapi apakah mereka dapat menerangkan secara benar kebudayaan Sunda sesungguhnya? Sampai sekarang tak ada.

Kalau bersandar pada kebesaran masing-masing kabupaten—Cirebon, Cianjur, Bandung—saya dapat mengejek mereka. Semuanya pernah dijajah Mataram, Jawa Tengah. Semua pernah ngawula Mataram. Jika mempertanyakan, apa kesundaan itu dan bagaimana filsafat Sunda, orang akan kembali kepada Hasan Mustafa. Tapi apakah Hasan Mustafa asli Sunda? Pengaruh Islam besar sekali padanya. Apakah Hasan Mustafa ini orang Sunda yang terpengaruh oleh Islam, atau seorang yang lahir dalam tradisi Islam yang mempunyai warna Sunda? Saya lebih condong pada yang terakhir ini, lebih-lebih setelah saya membaca sebagian besar karya Hasan Mustafa. Ia lahir dalam tradisi Islam. ia menulis dalam bahasa dan warna lokal, yakni Sunda. Dalam hidupnya ia sudah dicurigai. Ia dinamakan ulama mahiwa: lain daripada yang lain.

Karena saya belum menyelesaikan penelitian saya, saya belum dapat menyebutkan, apa ciri Sunda yang membedakannya dengan yang lain. tapi mungkin ada beberapa pandangan hidup orang Sunda yang dapat menerangkannya. Ia bersifat dugaan dan sementara. Saya melihat unsur yang sama dari pantun berbagai daerah. Itu menunjukkan sumber atau paling tidak referensi yang sama. Misalnya, pantun Kuningan punya banyak kesamaan dengan pantun Banten. Pantun Sukabumi selatan juga punya banyak persamaan dengan Sumedang. Persamaan ini menarik untuk diteliti, misalnya pantun yang saya rekam dari Pak Aceng di Sumedang. Dalam pantun itu ada teka-teki, dan teka teki itu sebetulnya dahulu hanya dilakukan oleh raja-raja ketika menerima lamaran. Di dalamnya ada pandangan hidup yang menarik. Inti dasar kalimat dalam pantun itu adalah “kekosongan.” Hidup itu kosong. Berdasarkan kata-kata yang ia pakai, dalam hemat saya, pantun itu mengisyaratkan bahwa “kekosongan” itu yang menjadi tujuan hidup. Jadi, hidup yang sempurna itu adalah yang tak berbekas. Seperti bebek berenang di lubuk. Saya menjumpai filsafat ini dalam beberapa pantun. Dan dalam hati saya bertanya: apakah ini filsafat Sunda? Kalau itu betul, apakah bisa dijawab, kenapa di daerah Sunda tidak terdapat candi dan tidak ada peninggalan-peninggalan yang besar? Mungkin itu terjadi karena raja-raja Sunda dahulu berpendapat bahwa hidup yang baik adalah hidup yang tak meninggalkan apa-apa. Dan dari sana mungkin dapat pula kita lihat, kenapa Sunda dekat dengan Islam. Mungkin karena dalam Islam dikenal apa yang disebut innalilahi…., kembali kepada ketidak-adaan, kepada asal.

Orang Belanda sering kacau dalam membuat interpretasi tentang kesenian kita tempo hari. Dalam metode dan sistematika, mereka memang lebih terlatih, tapi dalam menafsirkan apa yang tersirat mereka gagal. Karena itu kebudayaan atau kesenian daerah harus digali oleh orang daerah itu sendiri. Orang luar jangan diharapkan.

Nilai-nilai dalam masyarakat lahir dengan sendirinya. Ia dilanjutkan. Tapi ketika masyarakat itu berubah, dan ia mengalami goncangan, banyak nilai itu yang menghilang.

Pergeseran dan kepunahan         

Saya dibesarkan dalam lingkungan yang punya apresiasi akan wayang. Ketika saya dikhitan, kakek saya menanggap wayang. Saya senang wayang. Tetapi kini, anak saya tidak lagi suka. Mereka dibesarkan di Jakarta dan tidak memiliki apresiasi untuk itu.

Tetapi kini di kampung kelahiran saya sendiri juga terjadi perubahan niai-nilai. Dahulu orang paling suka menanggap Dalang Cita, paling bagus dan mahal. Kini, yang dianggap hebat adalah yang menaggap band, atau memutar film di alun-alun. Kesenian topeng juga berkurang. Pilihan anak muda untuk itu makin sedikit, dan penghargaan orang pun mulai luntur. Masyarakat berubah. Dalam keadaan seperti itu, peranan pusat-pusat kesenian yang dapat menjadi sarana pembinaan apresiasi kesenian daerah, terasa makin penting.

Jika sarana pembinaan apresiasi seperti ini tidak kita adakan, dan dalam pada itu kurikulum serta guru di sekolah tidak mengajarkannya kepada murid, akan berbahaya. Kita yang bangga dengan kekayaan seni kita, tiba-tiba nanti pada suatu saat mungkin akan menghadapi kenyataan yang pahit: kita akhirnya tak memiliki apa pun. Dan akan lebih parah lagi kalau kita harus belajar wayang di Australia. Ada contoh kecil. Saya pergi ke Kalimantan menonton pertunjukan mamanda. Kesenian ini mulai populer kembali di sana setelah muncul di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di situ saya sadar, bahwa TIM dijadikan ukuran daerah.

Adakah kesenian daerah kita punya daya tahan dan mampu menghadapi “serbuan” kebudayaan luar? Di beberapa daerah saya kira ada beberapa jenis kesenian yang memiliki daya tahan untuk mengadakan akulturasi, sehingga lahir bentuk kesenian yang lain. Lenong yang sering kita saksikan di TIM, sebetulnya berbeda dengan lenong dalam bentuk yang asli. Begitu juga sinden dalam wayang. Sebetulnya sinden baru muncul sebelum zaman Jepang. Wayang dahulunya adalah dalang dan wayang saja, tanpa sinden. Pada zaman Jepang peranan sinden kian penting. Tahun 1950-an lebih ketat lagi, dan Upit Sarimanah serta Titin Fatimah populer. Kalau mereka bernyanyi, mereka duduk di atas meja, lebih tinggi dari dalang dan wayangnya. Walaupun demikian, saya kini agak risau melihat mutu yang menurun, baik dalam kesenian daerah maupun nasional. Dahulu dalam bidang sastra anak-anak sekolah berbicara tentang Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, atau Idrus. Tidak heran kalau anak Taman Siswa mengundang Soedjatmoko memberikan ceramah sehubungan dengan artikelnya ”Mengapa Konfrontasi”. Ramadhan KH setelah pulang dari Spanyol diundang untuk memperkenalkan sajak Lorka. Anak-anak sekolah dan gurunya berbicara tentang majalah Kisah, Mimbar Indonesia, atau Siasat. Tapi kini anak sekolah bicara soal majalah hiburan. Kini kita juga jarang mendengar seriosa. Ciptaan seperti karya Amir Pasaribu yang memasukkan unsur daerah ke dalam musiknya, juga tidak lagi terdengar. Yang kedengaran hanya musik pop. Bahkan TVRI pun turut serta dalam hal itu. Masalah ini cukup serius. Dalam seni lukis kita masih melihat Affandi, Sadali, dan Amri Yahya sebagai oprang-orang yang masih serius. Tetapi bagaimana halnya dengan beberapa pelukis lain?

Pada hemat saya, masalah ini erat sangkutpautnya dengan kebijaksanaan nasional kita dalam bidang ekonomi. Kita terbuka mengundang modal besar sehingga yang berkualitas hanyalah uang. Ada orang berkata, “habis, mereka tak mau mendengar gamelan.maunya lagu pop.”persoalannya adalah: di mana-mana orang disuguhi lagu pop. Secara tidak langsung kita dibina lagu pop. Dan akhirnya kita hanya punya apresiasi terhadap lagu seperti ini. Seharusnya ada suatu kebijkasanaan untuk ini.

Departemen P dan K membuat seminar tentang kebijaksanaan, tetapi yang dijalankan lain. Pusat pengembangan bahasa menyelenggarakan seminar politik bahasa nasional. Diputuskan, penting bahasa daerah. Tetapi dalam kurikulum 1975 yang dibuat suatu badan di bawah P dan K,tidak dicantumkan bahasa daerah. Bahkan di daerah-daerah tertentu ia dihapuskan sebagai bahasa pengantar. Ini tidak konsisten.

Daya tahan

Apa yang kita maksud dengan daya tahan? Daya tahan itu adalah pemberian kesempatan untuk memupuk apresiasi tentang kesenian daerah. Jika kita lakukan pemupukan, barulah ada daya tahan. Inilah yang belum kita perbuat, walaupun kini sudah mulai ada perhatian untuk kebudayaan daerah. Namun secara tidak langsung ada usaha untuk membuat berbagai kesenian daerah jadi pop. Sebetulnya, kalau usaha ini kita biarkan, akibatnya bisa fatal. Yang kita lakukan sebaiknya adalah perawatan, jadi harus disimpan beberapa jenis seni tari, atau lagu, yang tidak boleh diubah. Harus tetap seperti itu. Seni itu harus diajarkan kepada anak-anak, dan dipertunjukan kepada masyarakat, sehingga ada pengembangan. Memang ada yang harus populer, seperti ciptaan-ciptaan baru yang juga harus diberi kesempatan. Tapi sekarang, urusan ini tidak jelas.

Manusia Indonesia yang utuh

Orang Indonesia yang utuh, sebetulnya tidak perlu meninggalkan unsur daerah. Karena itu, saya tidak sependapat dengan Yus Badudu yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia yang sempurna adalah bahasa Indonesia yang berlafal Indonesia, tanpa kedengaran lafal daerahnya. Dalam hemat saya, tidaklah menjadi masalah jika seorang Jawa berbahasa Indonesia dengan lafal Jawa. Hanya saja, lafal daerah itu jangan keterlaluan, misalnya: “mengatakan” diucapkan dengan “mengataken.”

Sekarang nampaknya sudah ada kesadaran seperti itu. Kini saya melihat sudah banyak orang yang ingin jadi orang Indonesia utuh tanpa menghilangkan unsur daerah. Darmanto YT menulis dalam bahasa Indonesia yang baik, tapi dia tetap memperlihatkan unsur Jawa dalam sajak-sajak yang dibuatnya. Saya menafsirkan bahwa Darmanto menganggap, kejawaan bukanlah sesuatu yang dapat mengurangi keindonesiaan. Saya berpendapat, hal seperti itu tidak jadi apa, malah ia sanggup memperkaya keindonesiaannya. Dalam hal seperti inilah orang-orang dari tahun 1930-an membuat kesalahan. Sutan Takdir Alisyahbana menyerukan masa lampau, persetan dengan masa lalu. Indonesia baru harus menghirup roh Barat. Dan kalau kita lihat kesenian yang ditampilkan tahun 1930-an zaman Jepang, terdapat kecenderungan seperti yang dikatakan Yus Badudu: Indonesia adalah Indonesia  yang tidak seperti daerah mana pun.

Orang sering bertanya tentang karakter daerah. Tapi apakah sebetulnya karakter daerah itu? Stereo type seperti ini dipelajari dalam antropologi, dan stereo type seperti itu sudah diragukan. Dalam karya sastra, ia tentu tergantung pada lingkungan hidup sang seniman. Seorang Sunda yang lama di Eropa, akan melahirkan ciptaan yang berbeda dibandingkan dengan seorang Sunda yang tidak pergi ke mana-mana. Kalau Sardono tidak ke Amerika, ia tidak akan sampai pada karya-karyanya yang dipertunjukan di TIM. Dalam masalah politik orang juga berbicara tentang karakter daerah seorang pemimpin. Di sini kita akan bicara dari segi manusia, dan akan susah. Contoh paling dekat adalah Ali Sadikin. Ia sukses. Tapi sebenarnya ia bukanlah tipikal Sunda. Orang Sunda mengakui suksesnya karena dia orang Sunda. Jika tidak, akan jadi lain. Ali Sadikin suka bicara blak-blakan. Ali Sadikin itu mahiwa, lain dari yang lain, lain dari kelompoknya. Apakah itu karakter Sunda?. Kadang-kadang memang muncul pula kesundaannya.

Ada sebuah cerita. Pada suatu saat dia mencoret-coret lukisan Srihadi. Dia kira, lukisan itu mengejek Jakarta. Srihadi marah. Geger. Dewan Kesenian Jakarta turut campur tangan. Saya dan Zaini (almarhum) datang ke Balaikota. Ali Sadikin marah sekali. Dia tidak mau disalahkan. Dan karena hari itu adalah hari Jum’at, kami kemudian sembahyang di TIM. Saya dan Ali Sadikin semobil, sedangkan Zaini di mobil yang lain. Dari Balaikota sampai TIM Ali Sadikin mentertawakan dirinya sendiri. Dia bertanya, “Kok tadi bisa berbuat begitu?.  Kalau filemkan bagus ya?!” lantas saya bertanya, “Bisa marah seperti itu lagi apa tidak?” Dia bilang, “Tidak”. Sebetulnya latarbelakang peristiwa itu sepele saja. Ali Sadikin marah-marah, karena Kepala Dinas Pemugaran DKI, Ir. Tjong, tidak datang. Padahal, Ir. Tjong yang memang tahu bahwa Bang Ali bakal marah-marah, sengaja datang terlambat. Dan akhirnya kemarahan itu tumplek pada lukisan Srihadi. Ini adalah karakter si Kabayan. Hakikat si Kabayan ini populer di derah Sunda. Dia adalah tokoh yang malas, berani mempermainkan mertua, dan akhlaknya kurang baik. Walaupun orang Sunda menyukai cerita itu, tak seorang pun di antara mereka yang mau disebut si Kabayan.

Regionalism

Apakah akan muncul regionalism jika orang terlalu berlebihan menghargai kebudayaan daerahnya? Di sini perlu politik kebudayaan. Sekarang tidak jelas. Sekarang, kedaerahan dibangkitkan tanpa kebijksanaan. Di beberapa tempat kita melihat dihidupkannya kembali kedaerahan yang feodalistis. Saya kurang suka upacara adat dipopulerkan kembali di daerah Jawa Barat. Ada yang dibuat-buat, dan sebelumnya ia tidak pernah ada. Ia hanya semacam pertunjukan. Secara historis tidak benar, dan hanya untuk menyenangkan pejabat. Ketika Ratu Juliana datang ke Bandung, kakinya dicuci. Jika saya jadi Ratu Juliana, saya akan marah, karena itu berarti kaki saya kotor. Begitu juga yang terjadi dengan mengantar pejabat yang pindah ke daerah lain dengan upacara adat. Mereka yang melakukannya, mungkin merasa senang, atau merasa kangon.

Saya memang melakukan transkripsi karya-karya sastra Sunda. Tapi saya tak hendak menimbulkan regionalisme. Yang saya lakukan hanya merawatnya, mengamankan kekayaan rohani supaya jangan hilang. Saya hanya mencatat, apalagi juru pantun kini umumnya sudah berumur di atas 60 tahun, dan mereka tak punya murid lagi.

(Sumber: Majalah PRISMA, no.2 Februari 1979 Tahun VIII, hlm. 50 – 54. Sambungannya yang berjudul “Kebudayaan harus berpokok pada ilmu”  oleh Sutan Takdir Alisjahbana, insya Allah di bulan depan!)

DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

                    DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

Oleh A Hasjmy

Tanggal   28   Maret   1994  yang akan datang merupakan ulang tahun ke-46 gagalnya Mukta­mar Sumatera, yang bertujuan membentuk Negara Federasi   Sumatera dalam rangka usaha menghancurkan Republik Indonesia Proklamasl 17 Ag­ustus 1945.

Menyambut ulang tahun tersebut, dalam tulisan ini saya akan mengangkat ke permukaan, perihal “Negara Sumatera” yang gugur dalam kandungan, karena kala itu Aceh menolak ikut serta. Rencana pembentukan “Negara Sumatera” oleh Belanda, adalah usaha terakhir untuk menghan­curkan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945. Sebelum itu, Belanda telah berhasil mendirikan Negara Indonesia Timur, Negara Madura, Negara Jawa Timur, Negara Pasundan di Jawa Barat, dan sebagainya. Acehlah satu-satunya wilayah Republik Indonesia yang tidak dapat ditaklukkan Belan­da. Hatta Tanah Aceh menjadi “modal” dalam rangka merebut dan memerdekakan kembali daerah-daerah yang telah dijadikan “negara boneka” oleh Belanda lewat tangan antek-anteknya orang Indonesia, seperti Tengku Mansur di Sumatera Timur. Abdul Malik di Sumatera Selatan, Raden Kartalegawa orang Pasundan di Jawa Barat,  Sukowati di Indonesia Timur dan sebagainya.

         Bukan Mimpi

Pada waktu itu, tanggal 17 Maret 1948, sebuah pesawat terbang militer Belanda melayang rendah di atas Kota Banda Aceh (waktu itu bernama Koetaradja) ibukota Daerah Modal Re­publik Indonesia (nama kebanggaan .yang diberikan Presiden Pertama Re­publik Indonesia, Soekarno, waktu bulan Juni 1948 berkunjung ke Aceh). Kapal terbang tcrsebut menjatuhkan sepucuk surat undangan yang dimuat dalam kaleng yang terpateri rapi. Surat undangan itu ternyata ditujukan kepada Mayor Jenderal Teungku Muhammad Daud Beureueh-, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Antara lain berbunyi:

Ke hadapan

Yang Mulia Gubernur Militer Aceh di

Koetaradja

… Itulah sebabnya, maka saya merasa boleh memulai menggerakkan untuk mengundang wakil-wakil segala daerah Sumatera buat limit serta dalam satu Muktamar Sumatera yang akan berlangsunq di Medan pada tanggal 28 Maret 1949.

Negara “Sumatera Timur”   akan merasa sebagai suatu kehormatan untuk menerima perutusan Tuan sebagai tamu selama itu.

Yang diundang ialah Aceh, Tapanuli, Nias, Minangkabau, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Riau, Bangka,   Belitung,   Sumatera   Selatan, Lampung, dan Bengkulu,

Terlepas dari segala perbedaan politik, saya menyatakan pengharapan saya, supaya Aceh juga akan menyuruh suatu perutusan mewakilinya pada Muktamar pertama dari suku-suku bangsa Sumatera ini

Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut per­utusan Tuan dan mengawalnya ke Medan dengan kapal terbang.

Tengku Mansur yang menamakan dirinya ”Wali Negara SumateraTimur”  mengirim surat tersebut atas perintah Dr Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Kalimat-kalimat “Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut … (mana ada kekuasaan Tengku Mansur untuk memerintahkan Perwira-perwira Belanda di Sabang, yang bukan bahagian Sumatera Timur), membuktikan bahwa di belakang Tengku Mansur berdiri Dr Van Mook.

Untuk membahas surat Tengku Mansur, Mayor Jenderal Tengku Mu­hammad Daud Beureueh, mengadakan rapat khusus pada tanggal 20 Maret 1948. Agenda rapat ialah:

  1. a) menerima ajakan Tengku Mansur,
  2. b) memproklamirkan Aceh sebagai sebuah Republik Islam,
  3. c) tetap menjadi bahagian Republik Indonesia yang diproklamirkan tang­gal 17 Agustus 1945.

Pada awal rapat dimulai, para peserta-rapat minta ayat (a) dihapus dari agenda rapat. Pendeknya, mereka tak setuju menerima ajakan Tengku Mansur.

Yang dipertimbangkan dalam rapat maraton yang memakan waktu lama itu ialah agenda point (b) dan (c) yang masing-masing banyak pendukungnya.

Setelah hamplr pukul 22.00 Mayor Jenderal Teungku Mu­hammad Daud Beureueh, sebagai ketua rapat menyatakan bahwa Aceh tetap menjadi bagian Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.

Harian Semangat Merdeka yang terbit tanggal 23 Maret 1948 mengumumkan pernyataan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo seperti berikut:

“Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada lagi Sebab itu, kita tidak bermaksud membentuk Aceh Raya, seperti Tapanuli Raya, Bengkulu Raya, Bangka Raya dan lain-lain, yang kemudian menjadi “negara bahagian” dari “Nega­ra Pederasi Sumatera. Karena itu, yang  ada di Aceh hanya semangat Republikein.

Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur” kita pandang sebagai tidak ada dan karena itulah tidak kita balas…”

Dengan penentangan dan penolakan Aceh terhadap Muktamar Sumateranya Dr Van Mook lewat Tengku Mansur,   maka   gagallah   muktamar tersebut dan “Negara Federasi Sumatera” gugur dari kandungan nafsu Van Mook

Penolakan terhadap usaha pecah belah  Dr Van  Mook,   adalah modal Aceh yang amat penting untuk menyelamatkan Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945, seperti yang pernah saya lukiskan dalam serangkum sajak termuat dalam Buku September Berdarah, yatui: “Akhirnya, karena penentangan Aceh, ‘Negara   Federasi   Sumatera’   gugur dalam kandungan, gagallah politik licik Belanda, Aceh tetap menjadi Daerah Modal Republik Kesatuan Indonesia, tidak pernah dijamah kami, tentera kolonial Belanda waktu agresi pertama di masa agresi kedua.”

Harapan saya, semoga angkatan sekarang, juga angkatan-angkatan yang akan datang, tidak melupakan jejak sejarah masa lalu.

*Prof. A.Hasjmy, Ketua Umum MUI dan LAKA Daerah Istimewa Aceh serta mantan Gubernur Aceh.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Senin, 21 Maret 1994 hlm.4).

#Penyalinan ulang artikel sejarah ini atas usaha T.A. Sakti.

Jejak Aceh di Senggora – negara Thailand

Jejak-jejak Aceh di Senggora

Catatan dari Bangkok (habis)

“KITA ini orang Tenggara. Kita itu orang Tenggara,” ka­ta Yusmar Yusuf penuh semangat ketika membentangkan makalahnya dalam se­minar Pertemuan Kerjasama Melayu-Islam Asean di Hotel Chaleena Bangkok, Thailand 28 Maret sampai 4 April. Yusmar dengan bersemangat sekali hendak membuktikan kebesaran “bangsa” Melayu Asia Tenggara .

Menurut doktor dari Pusat Pengkajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau itu, budaya Melayu pada hakikatnya adalah sebuah persekutuan “tamadun” bangsa-bangsa yang mendiami bagian tenggara Asia, Melayu adalah tamadun yang besar. Cuma saja bangsa-bangsa Asean tidak pernah mengarifi-hal tersebut sebagai “laman” ekspresi tamadun bangsa Melayu Tenggara yang telah salin bersalin nada sejak dari keperkasaan Sriwijaya, Siam, Ligor, Cham, dan lain. Bukti geografls menunjukkan penyebaran Melayu berkisar hampir seluruh Asean, ketika kita bicara tentang orang-orang Muslim di Mindano, orang Pattani di Thailand, di Kepulauan Andaman, atau or­ang Cham di Kamboja. Menurut Dr Arong Suthasasana, salah satu kehebatan orang Melayu adalah mereka pindah melalui laut, sehingga terdapat orang-orang Melayu diwilayah kepulauan dan pesisir. “Ini telah membentuk sebuah kesatuan peradaban yang besar dan saling terkait antara satu dengan lainnya,” kata Guru Besar dari Chulalongkorn Uni­versity Bangkok itu.

Mungkin dari sanalah, maka kabarnya pada 1605 serombongan orang-orang “Melayu” dari Aceh bertolak ke utara, lalu mendarat di sebuah tempat, sebelum mereka melakukan jalan kaki mencari tempat yang cocok untuk sebuah kehidupan. Konon, di Thailand yang sekarang ini, pada masa itu ada sebuah negeri yang bernama Senggora, terletak di bagian pantai timur Thai menghadap ke Laut China Selatan. Ke sanalah diperkirakan sebanyak 40 perahu orang Aceh yang kemudian mendarat di bagian barat. “Salah seorang di antara mereka bernama Datok Monggul alias Sulaiman.” kata Sawai Na Pattalung, mencoba merekonstruksikan catatan sejarah Senggora dengan “petualangan” orang Aceh dalam menghindari “huru hara” di negerinya. Sang pengkisah Sawai Na tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga ketika wawancara de­ngan Serambi, dia menggunakan seorang penerjemah, Bounmi.

Sawai Na Pattalung adalah keturunan kesembilan dari Sultan Sulai­man Shah yang disebutkan tadi. Itu sebabnya dia bisa berkisah dengan piawai tentang leluhurnya. Sultan Su­laiman memiliki tiga anak, masing-masing Mustafa, yang pemah penjadi penguasa negeri dan diangkat sebagai Gubemur Chaiya. Anak keduanya ber­nama Hussen, menjadi gubemur di Pat­talung. Semua negeri ini berada diThailand bagian selatan. Sedangkan anak terakhirya Hassan, menjadi Panglima Angkatan Laut Kerajaan Ayudhya, kerajaan Siam masa lalu yang berpusat di utara yang di kemudian hari menyerang dan mengalahkan Pattani dan Senggora. Memang semua keturunan Sultan Sulaiman menjadi orang-orang penting di Thailand kemudian hari. Beberapa menteri dalam kabinet Thailand moderen dari waktu ke waktu juga termasuk orang-orang keturunan .Raja Sulaiman. Sawai Na Pattalung sendiri, kini masih menjabat sebagai Penasihat Wakil Perdana Menteri Thailand dan Penasihat Senator untuk Urusan Dalam Negeri di Bangkok, meskipun dia menetap di Hatyai, tak jauh dari kota Songkhla yaitu nama baru Senggora yang pernah diperintahi oleh Sultan Sulaiman.

Di Songkhla, 60 km dari Hatyai, kini didirikan sebuah monument, sekaligus menjadi makam Sultan Sulaiman dan  keturunannya. Namanya Budhist Muslim Friendship Paviliun, di bawah naungan sebuah yayasan dimana pelindungnya adalah Princes Phakreu Yong Jaiyut dengan ketuanya adalah Sawai Na Pattalung sendiri. Bangunannya juga merupakan paduan arsitektur Melayu dan Thai (Budhist) dengan konstruksi bertingkat, di atas tanah seluas 10 hektar.

Kenapa harus ada perpaduan an­tara Budhist dengan Muslim di monu­men tersebut? “Itulah gambaran bagaimana Muslim dan Budhist bisa bersatu.” katanya. Juga menyangkut historis sang tokoh. Seperti diceritakan Sawai Na (69 tahun) bahwa monumen itu memang harus demikian. Sebab, meskipun Sultan Sulaiman pada awalnya seorang Islam dan berasal dari Aceh, pada generasi kelimanya mereka menjadi penganut Budha sampai sekarang. “Penting bagi saya bisa mendapatkan keterangan di mana kampung asal Sultan Sulaiman dan Dato Monggul di Aceh.” katanya melalui penerjemah Bounmi.

Bounmi, lelaki berusia empat puluhan yang hari itu menjadi pener­jemah Sawai Na adalah seorang manajer di sebuah pusat hiburan dan ho­tel di kota wisata Hatyai, Thailand ba­gian selatan, milik Pattalung. Jika saja Yusrizal Ibrahim tidak menyimpan alamat Bounmi, mungkin perjumpaan dengan pengusaha hotel dan hiburan terkemuka ini tidak pemah terjadi dalam rangkaian perjalanan budaya kami sembari menghadiri seminar di Bangkok itu. hari.

Tapi bagi Sawai Na, keberhasilan membangun Budhist Muslim Friend­ship Paviliun di Songkhla bukan akhir dari obsesinya untuk mengenang dan melestarikan sejarah tokoh besar seperti Sultan Sulaiman. “Sebab, yang jauh lebih penting ialah di mana asalnya moyang saya itu di Aceh, ketika mereka berangkat sebanyak 40 perahu ke mari dahulu kala,” katanya. Ada rasa rindu tercermin dari wajah Sawai Na, meskipun dia tidak pernah tahu bagaimana sesungguhnya Aceh, kecuali yang samar-samar terlihat dalam peta.

Di mana negeri yang disebut-sebut Sawai Na Pattalung sebagai asal moyangnya di Aceh? Ketika ini ditanyakan berkali-kali, lelaki yang kelihatan lebih muda dari usia sebenamya ini hanya menyebut: “Sale….Sale…..” Mungkinkah yang dimaksud Sawai Na itu Kerajaan Samudra Pase yang diperintah oleh Raja Sultan Malikussaleh? Bounmi menatap wajah Sawai Na. Ya, dia mengatakan negeri asal datoknya dari Sale, dan dia amat merindukan negeri itu.

Kalau kelak diketahui di mana letak Sale yang disebutkan itu, apakah Sawai Na Pattalung akan “pulang” ke sana? “Bukan sekadar pulang. Tapi saya akan membangun kampung itu, dan di sana akan ada monumen sebesar dan sekokoh yang ada di Songkhla tapi dengan identitas Aceh yang kental, sehingga jelas itulah negeri tempat asal seorang raja yang amat berjasa mem­bangun Senggora yang kemudian berubah menjadi Songkhla, berabad-abad lalu,” katanya.

Songkhla berasal dari Senggora yang kotanya didirikan oleh Dato Monggul pada awal abad 17 M. Setelah Dato Monggul mangkat, maka. anaknya Sulaiman mengganti tempatnya. “Pada tahun 1624 Sulaiman mengisy-tiharkan (memproklamirkan) Senggora sebagai sebuah kerajaan bebas de­ngan dinamakan Negeri Melayu Seng­gora dan menggelarkan dirinya sebagai. Sultan,” tulis Chapakla.

Catatan bahwa Senggora didirikan oleh Dato Monggul pada awal abad 17 sesuai dengan keterangan Sawai Na Pattalung yang menyebutkan kedatangan orang-orang .Aceh itu pada tahun 1605. Juga apa yang disebut­kan di sini sesuai dengan catatan penyerangan raja Siam Ayudhya dari utara terhadap negeri-negeri Melayu di Selatan, termasuk Songkhla.

Chapakia juga mencatat bahwa pengganti Sultan Sulaiman di Songklha alias Senggora adalah Mustafa, pada tahun 1688. Ini sesuai dengan apa yang diceritakan Sawai Na Pattalung bahwa Sulaiman punya tiga anak, antara lain Mustafa meski disebut-sebut lelaki ini menjabat sebagai salah seorang gube­rnur. Barangkali benar juga bahwa dari jabatan gubernur inilah ketika ayahnya mangkat, dia dinobat sebagai raja sebagaimana ditulis oleh De Choisi.

Makam Sultan Sulaiman itulah yang sekarang menjadi Budhist-Mus­lim Ferensdship Paviliun, yang dibangun oleh Sawai Na Pattalung, sebagai simbol “persekutuan” budaya, dalam sebuah bingkai sejarah Senggora.

Persekutuan budaya atau tamadun juga tercemin dalam ide pembangunan Budhist Muslim Freindsllip ?Paviliun. Ketika seorang tokoh disosokkan, di sana melekat dua sisi: Melayu dan Is­lam. Tetapi sejarahlah kemudian yang mencatat, kemelayuan seorang Sultan Sulaiman telah melahirkan “kultur” lain Budhist yang kemudian menyatu dalam sebuah peradaban dan sejarah gemilang: sejarah Melayu Senggora.

Ada kemungkinan pula, selain Kerajaan Samudra Pasai, Sale di Aceh yang dimaksudkan Sawai Na Pattalung adalah Saree sebuah tempat di kaki Seulawah,, yang tak jauh dari pusat peradaban Aceh masa lampau; Seulimum. Saree menjadi Sale karena; lidah orang Thai sulit mengucapkan huruf ‘r”.

*barlian a.w

(Sumber: Serambi Indonesia, Jum’at, 10 Mei 2000, hlm. 1 dan 11).

TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU-wawancara TEMPO dgn Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo

TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU

 

Tercantumnya tiga nama, Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poeponegoro, dan Nugroho Notosusanto, pada sampul muka buku Sejarah Nasional Indonesia, bisa menimbulkan salah pengertian bahwa kami bertiga yang menulisnya. Saya sendiri sebenarnya kurang menyetujui pencantuman nama itu. Kami bertiga adalah pengurus dari Panitia Penulisan Buku Sejarah Nasional yang dibentuk pada akhir Seminar Sejarah Nasional II DI Yogya, Agustus 1970. Saya, waktu itu, ketua umum panitia tersebut, Bu Marwati ketua I, dan Pak Nugroho ketua II.

Struktur organisasi penyusunan buku yang enam jilid itu dibagi menjadi enam seksi sesuai dengan banyaknya jilid yang direncanakan. Tiap-tiap seksi membawahi 4 hingga 5 orang anggota penulis. Ada penulis yang terus ikut sampai buku selesai ditulis. Ada penulis yang diganti karena sakit atau sebab yang lain. Tiap seksi menulis satu jilid.

Sebagai ketua umum saya berkewajiban membuat kerangka acuan, sebuah kerangka umum untuk seluruh penulisan. Pelaksanaannya terserah pada ketua seksi masing-masing. Kerangka itu kemudian diterbitkan oleh Gramedia, tahun 1983, berjudul Historiografi Indonesia.

Sebagai ketua, saya juga sudah membuat kata pengantar umum untuk seluruh penulisan itu. Sayang, hanya dimuat pada jilid I. Jadi, mereka yang tidak membeli seluruh jilid, tak tahu hubungan antar jilid, jika tak membaca kata pengantar yang hanya ada pada jilid I itu. Membaca kata pengantar itu penting, terutama untuk mendapatkan gambaran yang mendasari  buku Sejarah Nasional Indonesia itu apa. Seharusnya, kata pengantar itu dimuat di setiap jilid.

Selain itu, saya juga menyumbang tulisan utuk jilid IV, terutama mengenai Abad XIX tentang “tanam paksa” dan sebagainya. Saya juga memberi sumbangan pada jilid V mengenai perkembangan sosial ekonomi tahun 1990-1930-an.

Yang jelas, saya tak turut menulis jilid VI, buku yang direvisi itu. Sejauh ini tanggung jawab saya mengenai jilid VI adalah karena kedudukan saya sebagai ketua umum. Pimpinan langsung untuk semua jilid adalah ketua seksi masing-masing, pada jilid VI ketua seksinya Nugroho Notosusanto.

Kembali pada soal kerangka umum itu, ternyata banyak yang tak mengindahkannya. Saya kan sudah memberi kerangka umum mengenai masalah periodisasi. Pembagian atas enam jilid saya rasa selaras dengan garis besar periodisasi. Tapi tema pokok yang saya ajukan—dan ini sebenarnya teori atau tesis yang saya ajukan—mengapa kami memberi nama buku sejarah Indonesia itu sebagai Sejarah Nasional Indonesia. Nama itu menunjukkan suatu kesatuan dan menunjukkan satu unit dari penulisan yang menjadi enam jilid itu.

Yang harus ditonjolkan dari enam jilid itu adalah benang merah kesatuannya. Umpamanya, kami tidak menulis mengenai Budi Utomo lalu Serikat Islam satu persatu. Melainkan mengenai pergerakan isu secara keseluruhan, bagaimana terbentuknya suatu elite baru. Dan lewat organisasi-organisasi itu mereka menemukan identitasnya yang baru. Organisasi-organisasi itu memberikan arena politik baru tempat mereka bisa berkomunikasi, dari yang semula hanya merupakan suku-suku yang terpisah.

Dalam Seminar Sejarah Nasional I di Yogya tahun 1957, saya sudah mengemukakan itu, bahwa yang harus kita lihat itu adalah wawasan nasio-sentris itu. Yakni bagaimana seluruh masalah nasional Indonesia itu merupakan pengalaman kolektif bangsa melalui proses integrasi. Ini yang sesungguhnya menjadi pendobrak, yang menjadikan kita ini satu bangsa. Dan ini yang ingin dituliskan dalam Sejarah Nasional Indonesia itu.

Kalau kita baca SNI jilid I-VI, muncul selera saya masalah proses integrasi masih kurang menonjol. Jadi, tiap-tiap jiid SNI masih terasa berdiri sendiri-sendiri. Dan memang tidak mudah untuk menyusun sesuai dengan kerangka yang saya inginkan.

Mengapa kita kadang-kadang menghindari satu penulisan sejarah kontemporer? Ini karena secara inheren hal-hal yang potensial menimbulkan kontroversi akan muncul. Karena masih sering sejarah kontemporer menyangkut tokoh-tokoh atau pengikut yang masih hidup.

Jarak yang masih cukup dekat menimbulkan persoalan agak besar. Saya, umpamanya, menulis peristiwa 100 tahun lalu mengenai pemberontakan Banten. Saya merasa cukup jauh jaraknya. Saya tak punya kepentingan apa-apa, baik pada pihak pemberontak maupun yang diberontak. Kata professor yang menguji tesis saya itu: Kalau nama Anda dihilangkan, orang tak akan tahu kalau penulisnya orang Indonesia.” Saya tak tahu apakah ini hinaan atau pujian, tapi paling sedikit komentar professor saya itu merupakan bukti bahwa saya sudah mencoba mendekati objektivitas.

Saya ingin mengatakan seobjektif mungkin. Saya tak ingin membuat evaluasi terhadap sejawat Nugroho Notosusanto yang sudah meninggal. Itu terasa kurang etis buat saya. Tapi, itu tadi, kendala yang dihadapi sejarawan kontemporer berlaku untuk siapa saja, termasuk saya, termasuk Pak Nugroho. Penulis sejarah kontemporer menghadapi kesulitan membuat jarak terhadap zaman, situasi, apalagi terhadap tokoh-tokohnya.

Kalau toh itu ditulis, dan menjadi konstroversi, karena orang membaca tulisan mengenai sejarah kontemporer tidak sebagai pengkaji sejarah secara ilmiah. Tapi mereka membaca sebagai pengikut partai dengan aliran politik atau ideologi tertentu. Nah, kalau sejarah sudah diserahkan kepada kaum partisan, semua sudah dinilai, disusun dengan perspektif partisan itu, ya sukar dikatakan  objektif.

Soal Bung Karno, kenyataannya, tokoh itu dan penulisan sejarahnya, kalau dimuat dalam buku sejarah masih menimbulkan atau masih bersifat kontrovesial. Ini karena masih cukup banyak orang bertindak sebagai partisan—tidak seperti sejarawan—dalam menghayati ilmu sejarah. Kalau seorang menghayati sejarah sebagai partisan, bagaimana bisa menghindari bahan pelajarannya itu secara kritis dan objektif?

Contoh paling kontroversial adalah surat-surat Bung Karno ke Belanda yang menjelaskan bahwa ia sudah minta ampun dan mohon dibebaskan—surat-surat September 1933. Saya masih menyangsikan. Ini aneh. Surat-surat itu disimpan di Belanda sudah diketik. Tapi tak ada tanda tangannya. Tentu harus cukup ada penelaahan yang tuntas, menurut metode sejarah.

Mengenai perkawinan Bung Karno dengan nyonya Hartini, waktu itu sangat menghebohkan. Kita perlu menempatkan peristiwa ini dalam konteks kepribadian Bung Karno. Bagaimana lagi, kenyataannya memang begitu. Sebagai catatan, saya kenal baik dengan keluarga Suwondo Fogel, suami pertama Hartini. Saya masih ingat ketika mereka manten anyar di Salatiga, dan ketika merayakan kelahiran anak pertamanya.

Kalau kita menganggap kehidupan Bung Karno sebagai sejarah, di satu pihak tak mungkin mengabaikan jasa-jasa perjuangannya. Di pihak lain, juga perlu menyatakan kekurangan-kekurangan dan kegagalan-kegagalannya.

Jangan dilupakan bahwa menghayati ilmu yang juga pokok adalah kejujuran. Mengingkari kekurangan Bung Karno sesuatu yang tak jujur. Begitu juga mengingkari kelebihannya.

Lalu mengenai masalah revisi. Persepsi pihak media massa mungkin perlu diluruskan. Bagi sejarawan, masalah menulis kembali—saya tidak memakai kata revisi—merupakan suatu proses yang wajar saja. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap generasi wajib menulis sejarahnya sendiri.

Gambarannya begini. Saya, misalnya, duduk dalam panitia UNESCO dengan 25 anggota. Saya memberi pengarahan untuk menyusun Scientific History of Human Time. Kami berkumpul tahun 1980. Sampai sekarang penulisannya belum selesai.

Kami mendesain kembali penulisan yang didesain tahun 1950 itu. Mengapa? Ini karena generasi tahun 1950 memiliki persepsi dan wawasan yang berbeda dengan generasi tahun 1970. Karena kondisi yang dihadapi berbeda.

Jadi, setiap generasi wajib menulis sejarahnya. Sejarawan tak bisa lepas dari ikatan zaman dan ikatan kebudayaannya. Bagi sejarawan, wajar saja kalau ada revisi. Apalagi kalau ada alasan lebih kuat, yakni karena menimbulkan kontroversi.

Masalahnya, seperti yang saya alami dalam panitia UNECSO itu, timbul perdebatan. Yakni, ketika kami bertemu di tahun 1980, hanya berdebat mengenai apakah sejarah itu direvisi atau ditulis kembali—dengan versi baru. Saya pikir, menurut pertimbangan yang amat logis, membuat revisi lebih repot dibandingkan membuat versi baru.

Yang membuat revisi repot, karena terlalu terikat dengan teks yang ada. Usul saya, lebih baik buat saja versi baru. Ini karena revisi akan menghadapi kesulitan dalam membuat pendekatan. Seperti kita ketahui, ada ungkapan, “Memermak jas lungsuran lebih sulit dibanding membuat jas yang baru.”

Saya pribadi kemudian menulis dua jilid buku mengenai sejarah nasional Indonesia. Yakni periode tahun 1500-1900 dan tahun 1900-1942, dengan judul Pengantar Sejarah Indonesia Baru (penerbit Gramedia). Tahun 1981-1982, waktu saya cuti di negeri Belanda, jilid I saya tulis dengan kerangka acuan saya sendiri. Ini bisa lebih mudah saya kontrol. Saya merasa bisa mengimbangi hal yang saya rasa kurang. Saya bisa memuaskan selera saya.

Saya berhenti sampai periode tahun 1942 karena mata saya tak awas lagi. Untuk menulis buku sejarah umum seperti itu, bacaannya harus banyak. Dan itu tak bisa saya lakukan lagi kini kendalanya sangat besar, saya tak bisa membaca lagi secara cepat. Pada kata pengantar jilid I, saya juga menekankan masalah integrasi. Bagaimana dalam wilayah Indonesia ini dari abad ke abad, secara lambat laun terjadi proses integrasi. Ini tema pokoknya.

Integrasi itu penting. Misalnya, mengapa perjuangan revolusi kita berhasil. Itu karena adanya dua proses perjuangan yang saling memperkuat: fisik dan perjuangan diplomasi. Dua-duanya memperkuat dan masing-masing mempunyai dampak hingga akhirnya perjuangan berhasil 100%. Tesis saya masih seperti itu. Juga dalam karangan saya mengenai Linggarjati, misalnya, bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh ABRI. Waktu itu, di Salatiga, Jawa Tengah, ada 17 organisasi pemuda, ada yang punya senjata dan ada yang tidak, seperti Hizbullah, Laskar Rakyat, Bepri, Pesindo, dan Bambu Runcing. Tergabung waktu itu organisasi pemuda dari yang paling “kanan hingga paling “kiri”.

Kalau hal itu sekarang tak terasa dampak dan hasilnya. Itu tetap penting dalam jalannya sejarah revolusi. Juga, untuk membuktikan bahwa perjuangan rakyat Indonesia adalah perjuangan yang demokratis.

Gambaran orang tentang historiografi atau penulisan sejarah itu kadang keliru. Tak perlu buku sejarah Indonesia menyajikan semua fakta yang terjadi di Indonesia. Yang diperlukan adalah seleksi. Dan yang pokok, kriteria seleksi itu apa. Buat saya sudah jelas. Kriteria seleksinya itu derajat integrasi, yang pada suatu periode bisa dicapai bangsa Indonesia. Itu cara sederhana menuliskan sejarah nasional kita. Dengan cara seleksi itu memang banyak yang tak akan tercakup, misalnya peranan Natuna, Mentawai, atau Selayar bagaimana?

Tapi penduduk di tenpat-tempat yang tak termuat dalam penulisan itu tak usah kecil hati. Kita itu satu nation. Gambaran dalam sejarah itu adalah gambaran pengalaman bersama.

 

 

 

DARI CANDI PRAMBANAN

SAYA lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Februari 1921. Selagi belum berusia setahun, saya dibawa orang tua saya ke Candi Prambanan yang terkenal dengan Rorojonggrang-nya itu. Ini karena kaul ayah saya, Tjitro Sarojo, pegawai pos di zaman Belanda. Ayah bernadar, bila panuwun-nya untuk memperoleh anak laki-laki terkabul, bayi itu akan dibawanya mengunjungi Prambanan. Berangkatlah orang tua saya dari Wonogiri ke Prambanan dengan kereta api, bersama saya si bayi merah.

Mungkin ini sebab pertama yang mempengaruhi bawah sadar saya menyukai sajarah. Orang tua saya sendiri mendambakan saya menjadi dokter. Ini tak mungkin saya laksanakan, karena saya punya penyakit takut melihat darah.

Tentu tak hanya melihat Prambanan itu awal cinta saya pada sejarah. Sewaktu kelas 3 HIS—sekolah di zaman Belanda setingkat SD—pada bulan puasa saya berlibur selama sebulan di rumah kakak saya yang menjabat kepala sekolah desa Borobudur. Setiap pagi selama sebulan, sendirian saya jelajahi Borobudur. Candinya, sungai, bukit dan sawah-sawah di sekitarnya. Kadang saya duduk-duduk menikmati pemandangan dari tingkat atas Candi. Dari atas candi saya lihat sekeliling bangunan candi yang indah dengan sungai Progo dan elo-nya.

Pengetahuan sejarah saya waktu itu tentu masih minim. Saya masih kurang menyadari apa yang saya lakukan, tapi itu barangkali yang membuat saya memasuki bidang garap sejarah. Saya sudah melihat begitu banyak bangunan, Borobudur, misalnya, bermakna bagi sejarawan Indonesia dan bagi umat manusia.

Di sekitar tempat saya lahir sendiri tak banyak dijumpai peninggalan sejarah seperti di Yogya itu. Ada satu monument di Wonogiri sebenarnya, yang cukup penting, yang terletak di tepi Begawan Solo. Di sana ada bukit kecil yang disebut sebagai Gunung Giri, tempat yang dikeramatkan penduduk. Banyak orang berziarah di situ karena ada makam-makam. Tapi yang penting adalah sebuah batu besar di situ. Menurut cerita rakyat setempat batu itu adalah tempat Sunan Giri berhenti sejenak—dari perjalanan jauhnya menyebarkan agama Islam—untuk shalat dan berdoa. Sampai sekarang batu itu tetap didatangi orang sambil membawa nasi dengan gudangan (sayur urap) serta ayam panggang. Sewaktu kecil saya pernah ikut berziarah.

Saya tak tahu dan baru tahu kemudian setelah membaca salah satu majalah, nama majalahnya TBG, di museum Jakarta, bahwa di belokan di kaki Gunung Giri ditemukan prasasti juga. Prasasti itu dulunya adalah tempat penyeberangan orang dari  Barat—dari Pajang—ke Jawa Timur.

Waktu duduk di HIS (1927-1934) di Wonogiri, saya berkali-kali melihat untu bledheg (gigi halilintar). Saya baru tahu kemudian bahwa itu adalah mikrolit, mata panah terbuat dari batu yang digunakan orang pada zaman prasejarah.

Itulah peninggalan prasejarah yang saya kenal waktu kecil.

Lalu, waktu kecil, saya juga sudah mendengar cerita perjuangan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I). Di lingkungan keluarga kami ada kenangan khusus tentang pangeran Sambernyowo berupa pusaka, jenisnya tombak, namanya Kiyai Bruwang. Ceritanya, salah seorang nenek moyang kami pernah menyelamatkan Pangeran Sambernyowo waktu dikejar Kompeni. Pangeran Sambernyowo diseberangkannya di Bengawan Solo dengan selamat. Sebagai penghargaan, tombak Kiyai Bruwang dihadiahkan kepadanya. Kini Kiyai Bruwang ada pada Pak Sujarwo (bekas menteri kehutanan).

Kesejarahan itu mungkin meresap pada saya juga karena berulang kali saya ke makam nenek moyang. Leluhur saya  dari garis laki-laki pernah ada yang menjadi Punggawa Keraton Kartasura (Amangkurat IV). Menurut cerita ibu saya, kakek saya itu menjabat sebagai ronggo. Suatu hari kakek cekcok dengan seorang pengawas perkebunan Belanda (orang Belanda). Lalu, entah bagaimana terjadinya, Belanda itu ditemukan terbunuh. Otomatis, kakek saya dicari polisi. Untuk menghindari perkara dengan polisi Belanda, ia melarikan diri ke Jawa Timur.

Ibu saya, dari garis nenek, turun temurun adalah putra petinggi di Wonogiri. Namanya Mangunprajoko. Keluarga dari pihak ibu merupakan cikal bakal, orang pertama yang membuka daerah, dan tinggal serta memimpin di Wonogiri. Karena itu, waktu nenek saya meninggal, yang mengantar ke kuburan ya mbludag, banyak sekali.

Ketika sudah duduk di MULO, setingkat SMP, di Solo, saya senang ketika dalam ujian akhir saya mendapat angka tertinggi untuk sejarah: sepuluh. Saya makin tertarik pada sejarah. Saya masih ingat buku pertama yang saya beli, judulnya Vander Landsche Geschledenis (sejarah tanah air) terbitan J.B. Wolters di Batavia. Saya pesan khusus, dalam uang gulden yang ada pada waktu itu nilainya tinggi, seringgit (2,5 gulden). Saya tak ingat nama pengarang buku sejarah itu.

Saya lulus dari sekolah guru di Xaverius di Muntilan, Jawa Tengah, tahun 1941, setelah belajar lima tahun. Setelah lulus saya menjadi guru tiga bulan di sekolah Schakel di Muntilan juga. Murid-murid sekolah ini anak-anak yang sudah lulus sekolah ongko loro. Sekolah ongko loro itu jalur sekolahnya anak pribumi. Schakel itu yang menghubungkan ke jalur sekolah Belanda. Baru setelah lulus dari Schakel, bisa masuk MULO, bertemu dengan mereka yang dari HIS.

Sesudah tiga bulan saya lalu pindah ke Salatiga, ke sekolah HIS swasta yang sudah “disamakan.” Gaji saya waktu itu 40 gulden, karena belum penuh. Kalau sudah penuh, 75 gulden. Untuk kos, saya membayar 10 gulden. Itu termasuk mahal karena saya guru. Kalau buat pelajar lebih murah, 6 gulden.

Tak lama kemudian pecah perang. Saya datang di Salatiga November 1941, 8 Desember 1941 Hawai diserang.

Suasana sudah mulai tidak normal. Anak-anak sudah harus dibawa ke tempat bersembunyi kalau ada tanda bahaya. Tanggal 15 Februari Singapura jatuh ke tangan Jepang, dan 1 Maret Jepang masuk ke Jawa. Suasana perang, lampu-lampu di jalan dikerudungi supaya tak begitu terang. Teman-teman saya menajdi sukarelawan menjaga kota. Saya sendiri tak bisa ikut karena mata tak terlalu awas dan fisik tak terlalu kuat.

Akhirnya Jepang datang, dan sampai juga ke Salatiga. Berderet-deret tentara diangkut dengan truk. Tak terdengar tembak-menembak dengan Belanda.

Barang-barang kebutuhan sudah mulai sulit. Nasi sudah mulai dicampur dengan jagung. Sebelumnya, dengan 10 gulden orang sudah bisa makan baik selama sebulan. Setelah Jepang datang, dengan 10 rupiah hidup sudah agak sulit. Saya waktu itu indekos pada seorang pensiunan sersan KNIL. Pensiunan sersan KNIL gajinya dua kali lipat gaji saya. Ia hidup cukup makmur, makan baik, rumah besar.

Saya mengalami kekecewaan pertama dengan masuknya Jepang karena bahasa Belanda dilarang. Bahasa Belanda langsung diganti dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Guru-guru kelas ongko loro hanya tahu sedikit bahasa Belanda. Dengan berubahnya zaman, mereka setengahnya menertawakan kami yang guru berbahasa Belanda ini. Di antaranya ada yang kalau ketemu saya memberi salam dalam bahasa Jepang sambil mengejek: “Komban wa, (selamat malam) dan “konnichi wa” (selamat siang), dan lain-lain. Saya hanya diam saja. Pada zaman Jepang, lulusan sekolah Belanda dianggap rendah.

Teman-teman di bawah saya terus ditarik ke Jakarta, mengajar di Si Hang Dako (Sekolah Guru) di Jatinegara, kebanyakan menjadi guru olah raga. Pada zaman Jepang, kedudukan olah raga mulai dipentingkan.

Teman-teman guru dan pegawai banyak yang kursus bahasa Jepang. Ada guru negeri ditarik ke Jakarta. Saya dari sekokah swasta, tak pernah mendapat giliran. Juga, saya malas untuk mulai dari awal. Fisik saya juga tak terlalu kuat untuk masuk ke berbagai barisan. Waktu teman-teman guru banyak yang masuk PETA, saya ditawari ditarik ke jawatan lain. Waktu ayah saya meninggal, kalau mau bisa saja saya bekerja di Postel di Solo. Tapi saya tak tertarik, karena saya masih senang menjadi guru. Saya juga pernah mendapat kesempatan di kepolisian. Saya juga tak tertarik. Pada zaman Jepang itu, saya berpikir bahwa bahasa adalah sesuatu yang berguna untuk memahami kebudayaan lain. Karena tak ada kegiatan lain akhirnya saya mendalami bahasa Jepang dengan belajar sendiri.

Waktu itu saya kenal dengan salah seorang guru, namanya lupa, orang Cina. Ia jebolan THS (kini Institut Teknologi Bandung). Ia mengajar di SD Cina. Kami sering omong-omong, dan sepakat menempuh ujian bahasa Jepang bersama. Kami sama-sama tak pernah ikut kursus. Nasihatnya pada saya, “Kalau Pak Sartono ingin lulus ujian, hafalkan saja sebanyak-banyaknya huruf Kanji.” Saya lalu menghafalkan banyak huruf Kanji.

Aneh, dari semua yang ikut ujian, hanya kami berdua yang lulus. Akhirnya, saya yang tak pernah ikut kursus bahasa Jepang malahan diserahi tugas untuk mengelola kursu resmi bahasa Jepang di Salatiga. Banyak muridnya, salah seorang di antaranya adalah Nyonya Tjokropanolo (istri bekas Gubernur DKI).

Bulan-bulan kacau dari Agustus sampai November atau Desember 1945, sekolah tutup semua. Selama menganggur, saya banyak bergerak di organisasi pemuda. Waktu itu ada 17 organisasi. Sudah ada GPII, Hisbullah, Pemuda Putri Indonesia, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), Pesindo, juga Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI). Saya ketua AMKRI di Salatiga dan sekitarnya, yang waktu itu menjadi ibu kota Karesidenan Semarang.

Lalu, dibentuk badan koordinasi organisasi pemuda seluruh Karesidenan Semarang. Saya dipilih menjadi koordinator dari 17 organisasi pemuda. Saya dipilih karena saya dikenal sebagai penghuni lama di Salatiga.

Salah satu kesempatan yang sangat menyenangkan adalah merayakan Hari Kartini, 21 April 1946, dalam suasana merdeka. Sebagai ketua, saya membagi-bagi tugas  pada organisasi. Yang menyenangkan, waktu itu, kesatuan nasional masih utuh, masih bulat. Semua organisasi, kecuali pembagian pekerjaan yang cukup rapi, semua bisa kerja sama dengan kerukunan, tak terjadi hal-hal yang tak mengecewekan.

Saya suka menghimpun buku-buku yang disita dari rumah-rumah Indo, dan dikumpulkan di kantor Komite Nasional Indonesia (KNI). Sekretarisnya teman saya, namanya Soewondo—suami pertama Nyonya Hartini Soekarno. Akhirnya Pak Soewondo mengajak saya mengatur perpustakaan KNI. Banyak buku filsafat, tapi kebanykan bacaan popular. Ada yang dari rumah seorang dokter yang punya buku tiga dinding rumah. Tadinya, buku-buku itu ditumpuk saja di kantor Laskar Rakyat. Setelah aksi militer Belanda, nasib buku-buku itu tak saya ketahui lagi.

Sebagai bujangan, saya mempunyai teman-teman kumpul-kumpul sesama bujangan. Waktu itu di antara teman saya adalah Pak Adi Sucipto—yang kemudian gugur dan namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Yogyakarta.

Setelah ada perjanjian Linggarjati, sebagai ketua badan koordinasi pemuda, saya diminta memberi sambutan di hadapan massa di Ambarawa. Hadir di alun-alun Ambarawa sekitar seribu orang. Penduduk waktu itu sepi, Cina-Cinanya mengungsi. Ini peristiwa kedua yang cukup berkesan yang saya alami. Tugas badan koordinasi di Semarang waktu itu adalah memberikan penjelasan mengenai persetujuan Linggarjati. PNI dan Masyumi, misalnya, tak setuju dengan perjanjian itu. Saya salah seorang yang setuju. Dengan kesediaan Belanda melakukan perundingan, sudah menunjukkan pengakuan Belanda secara de facto. Meski pengakuan secara de jure belum.

Tahun 1947 Salatiga diserbu Belanda. Malam gelap gulita, toko banyak dirampok. Saya berada di belakang Hotel Kalitaman. Malam itu saya mesti menentukan, mengungsi atau tidak. Saya waswas karena saya menjadi ketua organisasi pemuda. Yang menjadi hantu waktu itu adalah Nevis, dinas rahasia Belanda. Kalau sampai terpegang itu, bisa mati saya. Maka, untuk amannya saya mengungsi.

Saya bergabung dengan warga kampung. Kami ke luar kota, menyeberang sungai, dengan jalan kaki selama 4-5 hari. Saya lalu ketemu dengan beberapa orang murid saya dan mereka menawari untuk pergi sama-sama ke Yogya atau ke Solo. Saya terima.

Kaki rasanya sakit sekali. Sehari hanya bisa menempuh 30 km. Sebelum sampai di Yogya, beberapa hari saya menginap di Solo, di tempat saudara.

Akhir Juli 1947 sampai tahun 1950 saya tinggal di Yogya. Saya masih sempat melayat Pak Adi Sucipto yang pesawatnya ditembak Belanda. Pelayatan waktu itu amat sederhana. Jenazah—kalau tidak salah ada tiga jenazah—disemayamkan dulu di Rumah Sakit Bethesda. Lalu diiring ke makam Pakuncen. Iring-iringan pelayat menuju ke makam tak begitu panjang, hanya terdiri dari keluarga, teman dekat, dan beberapa dari AURI.

Di Yogya, saya memberi les privat bahasa Indonesia pada Nyonya Urip Sumoharjo, dua kali seminggu. Beliau ini lingkungan gaya hidupnya Eropa, bahasa Belanda. Begitu proklamasi, bahasa Indonesianya tak memadai.

Saya menikah dengan Sri Kadaryati. Waktu saya menikah usia saya 27 tahun dan istri saya 20 tahun. Kami bertemu di pengungsian tahun 1945. Lalu kawin 6 Mei 1948. Mungkin karena itu saya mendapatkan julukan dalam majalah Sarinah sebagai “Pengantin Revolusi”, bukan pahlawan revolusi. Keluarga mertua saya mengungsi di Muntilan.

Dari perkawinan itu kami dikarunia dua orang anak, satu laki-laki, Nimpuno, dan satu perempuan, Roswita. Dari keduanya saya mendapat tiga cucu.

LAHIRNYA SEORANG SEJARAWAN

SAYA mulai kuliah di Fakultas Sastra UI  jurusan Sejarah tahun 1950. Waktu itu banyak yang kuliah lagi ke Jakarta. Sebelumnya, selama 10 tahun, saya hanya mondar-mandir dalam kegiatan politik yang cukup mengasyikkan. Setelah saya ke Jakarta, saya melepaskan kegiatan politik.

Waktu itu dosen saya Profesor Berling untuk filsafat, Profesor Bernet Kempers untuk sejarah kuno dan arkeologi, dan tentu juga Profesor Resink untuk sejarah Indonesia. Guru yang paling saya kagumi adalah Profesor Burger. Saya kira perhatian saya terhadap aspek sosial ekonomi dalam sejarah dibangkitkan oleh kuliahnya. Saya menikamti sebagian besar dari kuliah Profesor Burger, sebab beliau mempersiapkannya baik-baik.

Kuliah para Profesor itu dalam bahasa Belanda. Itu lebih menguntungkan saya dibandingkan dengan rekan mahasiswa yang jauh lebih muda. Malahan skripsi sarjana saya tulis dalam bahasa Belanda di bawah bimbingan Beerling. Tema skripsi itu adalah perbandingan antara masyarakat Abad Pertengahan dan Modern di Eropa, dengan ilustrasi filsafat sejarah.

Terus terang, jurusan sejarah kami di Jakarta waktu itu sangat lemah. Pada suatu waktu di UI saya praktis sendirian. Teman lain pada pindah ke arkeologi. Saya masih ingat, suatu hari Profesor Resink bertanya kepada saya, “Mengapa tidak pindah saja ke fakultas sosial ekonomi?” Saya tak menyesal tidak mengikuti nasehatnya. Saya berkeyakinan bahwa suatu waktu, di antara 80 juta atau 90 juta orang Indonesia (waktu itu) paling sedikit harus ada satu sarjana yang mengkhususkan diri dalam sejarah Indonesia. Saya lulus sebagai sarjana sejarah pertama di Indonesia Februari 1956.

Kebetulan, satu hal yang perlu dilaksanakan setelah saya menjadi sarjana adalah menulis sejarah nasional. Terutama untuk kebutuhan sekolah, dan kedua, untuk mengganti sejarah warisan Belanda. Waktu itu tahun 1957, diselenggarakan Seminar Sejarah Nasional I. Saya mendapat kesempatan menjadi pemberi saran. Setelah saya, banyak orang masuk jurusan sejarah.

Penulisan sejarah menjadi penting sejak tahun 1950. Saya sendiri mendapat kesempatan melaksanakannya. Meskipun tidak selalu berhasil, saya mendapat kesempatan mewujudkannya. Terutama mewujudkan buku Sejarah Nasional Indonesia yang memiliki posisi penting.

Berbicara tentang sejarah, pengetahuan sejarah, terutama sejarah nasional, diperlukan untuk membangkitkan kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah melandasi kesadaran nasional. Kesadaran nasional adalah pangkal dari seluruh nasionalisme idiologi pembentukan bangsa. Terserah umum menyadari atau tidak, ini bisa dilacak secara logis.

Pada kesempatan yang lain, dalam suatu seminar, saya katakan kita masih menghadapi kendala-kendala. Yakni, adanya konsepsi yang salah mengenai kesejarahan, misalnya, banyak teman wartawan menanyakan pada saya “Pak Sartono, sebagai seorang sejarawan penyusun Sejarah Nasional Indonesi, bagaimana perasaan Bapak menghadapi revisi buku itu?” Pertanyaan seperti ini timbul dari pikiran seolah-olah kalau buku sejarah direvisi, langsung si penulis terkena. Lho, ini kan salah. Revisi itu biasa sekali. Semua sejarah pasti ditulis kembali. Setiap generasi lazim menulis kembali sejarah dengan wawasan generasi itu yang tentu saja lain dengan generasi sebelumnya. Revisi itu amatlah wajar.

Tak ada penulisan sejarah yang final. Ada penulisan seperti zamannya rezim Stalin di Soviet yang mengatakan penulisan sejarah harus begini. Tapi begitu Stalin meninggal, penulisan sejarahnya dirombak. Bahkan nama Stalin harus dibuang.

Tentu repot kalau sejarah ditulis dengan cara seperti itu. Anggapan yang mendasari itu kekanak-kanakan. Seperti anak SD, yang mengira bahwa apa yang ditulis dibuku ya seperti itu realitasnya. Tidak diketahui bahwa semua sejarah penulisannya subjektif. Artinya, melekat dalam tulisan itu cirri-ciri si subjek. Ciri generasi, ciri kelompok, tidak mungkin lepas sama sekali.

Dari sudut lain, kalau tidak ada konsepsi yang salah,pasti tidak ada gedung-gedung dirobohkan seperti sekarang. Kontradiksi yang terjadi kini di Indonesia adalah di satu sisi ingin memajukan parawisatanya, tapi di pihak lain, karena tak ada wawasan historis, gedung-gedung kuno dibongkar. Ini kontradiktif. Mana ada turis mau lihat gedung-gedung baru saja?

Saya baru belajar sepuas-puasnya waktu dikirim belajar oleh Departemen P dan K ke Yale University, Amerika Serikat, tahun 1962.Waktu berangkat ke Amerika, istri saya ikut, anak-anak saya titipkan ke neneknya.

Saya memilih disiplin ilmu lain seperti ilmu politik, antropologi, dan sosiologi. Jadi , bukan sejarah. Saya ingin menyerap lebih banyak metodologi interdisiplinernya. Saya lulus MA tahun 1964.

Disertasi saya berjudul The Peason Revoult of Banten in 1888, Its Condition, Coursen Seguel: A Case Study of  Social Moverment in Indonesia. Sebelum berangkat ke luar negeri, saya memang berniat menulis tentang gerakan sosial. Antara lain mengenai Budi Utomo. Tapi promotor saya, Profesor Sukanto, meninggal. Lalu saya dengan ada orang Jepang yang menggarap masalah Budi Utomo. Tapi saya juga berminat mempelajari tentang Ratu Adil (Messeanisme) dalam sejarah Indonesia. Waktu itu saya juga berurusan dengan penulisan sejarah nasional.

Dengan berbagai alasan tersebut, ternyata semuanya tercakup dalam disertasi yang saya tulis mengenai Pemberontakan Petani Banten. Di sini ada gerakan sosialnya, sejarah nasionalnya, masalah Messeanismenya. Juga tercakup peranan bangsa sendiri. Petani punya peranan, tapi tak pernah disebut dalam sejarah yang ditulis oleh sejarawan Belanda. Padahal dalam antropologi dan ilmu politik, petani menjadi pusat. (Penyalin dari TEMPO:  saya ongkos salin pada rental (T.A. Sakti).

 

(Sumber: Majalah TEMPO, 24 Oktober 1992 hlm. 44 – 66).

Catatan: Beberapa foto yang dipasang TEMPO(insya Allah akan saya scan nanti)

1. Di ruang kerjanya: terlihat beliau sedang membaca dengan ‘alat membaca khas beliau’. “saya tidak menyesal memilih sejarah”.

2. Bersama Presiden Soeharto ketika mendapat penghargaan, tahun 1990.

3. dst..dst…..