Gara-gara Minuman Keras, Malaysia Hukum Mati 167 Orang Warganya

Gara-gara Minuman Keras, Malaysia Hukum Mati 167 Orang Warganya

Kuala Lumpur, [KNI/AP].

          Pengadilan-pengadilan Malaysia telah mejatuhkan hukuman mati kapada 167 orang karena menyangkut minuman keras, sejak Parlemen menyatujui dijatuhkannya hukuman atas tindak pelangaran seperti itu pada tahun 1985. Demikian dikatakan oleh pejabat tinggi pemerintah.

Dari jumlah tersebut di atas, 51 orang digantung dan sisanya menunggu keputusan naik banding atau eksekusi, demikian dikatakan oleh Wakil Menteri luar Negeri Megat Junid Megat Ayub pada pembukaan  pameran anti-minuman keras hari Selasa.

Sebahagian besar  dari  mereka yang digantung itu adalah orang-orang Malaysia, tetapi dua orang Australia dan sejumlah orang-orang Singapura yang tidak diketahui pasti jumlahnya dan juga orang-orang Muangthai, juga telah di eksekusi. Sejumlah orang-orang Singapura, Muangthai, Philipina dan Indonesia adalah diantara mereka yang tercantum dalam deretan mati, tetapi jumlahnya yang tepat tidak diperoleh oleh para pejabat.  Megat Junid mengatakan , jumlah orang-orang yang ketagihan minuman keras terdaftar di pemerintah; mereka yang tertangkap polisi atau yang menyerahkan dirinya sendiri, sekarang berjumlah 125.967 orang. Para pejabat pemerintah memperkirakan  bagi setiap pencandu yang terdaftar, terdapat empat orang yang belum dideteksi oleh para pejabat. Penduduk Malaysia berjumlah 16,5 juta.

Megat Junid mengatakan, bagi para pekerja yang mengku bahwa dia kecanduan minuman, diberikan cuti dua tahun tanpa diberi gaji dan upah untuk program rehabilitasi dan akan kembali setelah sembuh.

Diantara mereka yang ditahan karena menggunakan minuman keras sejak tahun 1975 terdapat 544 personil polisi, 96 anggauta staf bagian penjara dan 925 personil angkatan bersenjata. Dari jumlah ini, orang 453 polisi, 57 orang staf kepenjaraan ditembak mati

“untuk menunjukkan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh dalam memerangi bahaya minuman keras”, demikian dinyatakan oleh Megat Junid.

(Sumber:  Pelita, 5-2- 1988, hlm. X).

 

 

 

 

 

 

 

Siti Nuraini, Penyair Wanita

Siti Nuraini, Penyair Wanita

Oleh Linus Suryadi AG

KALAU ada penyair wanita pengembara di Indonesia, tidak lain penyair wanita itu adalah Siti Nuraini.  Juga setelah puisi Indonesia modern berumur 65 tahunan, kapan perjalanan negara dan bangsa Indonesia melampui sejumlah konflik sosial dan politik besar maupun kecil, bercitra nasional dan internasional. Pada umur 18 tahun – dia lahir di Padang 6 Juni 1931 – Siti Nuraini sudah menunjukkan bakat kepenyairannya. Ketika itu dia menulis puisi berjudul Perempuan, Lengkapnya demikian:

PEREMPUAN

Perempuan lena mematah – matahkan

seranting kering, bersandar di jendela tinggi

empat persegi, rahasia kejauhan

Di luar memanggil, di hatinya hinggap rasa ganjil

Jiwanya mesra danau terbuka

alam kedua bagi kehidupan di

pinggir

Kasih dan dambanya

beriak di dasar, tiada sekali diberinya  gilir.

Rumahnya pudar didekap sunyi

Burung-burung dihalaunya masuk

malam.

Ia sendiri menggigil, lalu berdiri

diambang dia gugup, ketika ke dalam

disentaknya pintu dan wajahnya terkatup

September 1949

Saya tidak tahu, puisi di atas apakah merupakan permulaan karier kepenyairannya atau sebetulnya lebih awal lagi mulai mencipta. Puisi tersebut pertama kali muncul di majalah Mimbar Indonesia, kemudian oleh HB Jassin dimasukkan ke dalam bunga rampai sastra Indonesia Gema Tanah Air Jilid 2. Di situ, secara tersamar sudah bisa kita ketahui bibit-bibit naluri pengembaraannya. Katanya:’’ rahasia kejauahan/ di luar memanggil, di hatinya hinggap rasa ganjil”.

Pengembaraan macam apa yang ditempuh Siti Nuraini?.

Selaku penyair Indonesia, tentu saja konteks itu menunjuk kepada pribadi manusia Siti Nuraini Kedudukan  itu mengharap untuk dimengerti bahwa, baik ketika hijrah di Jakarta– dia pernah memangku jabatan sebagai sekretaris majalah Siasat – kemudian bermukim di Negeri Belanda selama 1952-1953, ataupun kini di Amerika Serikat, dia mempersembahkan seluruh eksistensinya melalui wahana puisi Indonesia modern.  Di situ tersimpan sebuah dunia idaman, pengharapan, wawasan, juga sikap, yang sudah tersepuh oleh pengalaman hidup. Pendek kata, Siti Nuraini mencurahkan segalanya ke dalam dunia iminajinasi yang di landasi dunia pengalaman konkret. Tentu saja, tidak semua pengalaman konkret sanggup dia ekspresikan ke dalam bentuk pengucapan  estetik, puisi.

Untuk itu A Teeuw telah merumuskan: Ida Nasution dan Siti Nuraini mungkin merupakan pengarang yang paling berbakat, dan keduanya berhubungan  erat dengan Angkatan  45, tetapi Ida meninggal dunia sebelum ia sempat menghasilkan sesuatu yang abadi nilainya, sedang karya asli Siti Nuraini amat terbatas lapangannnya.” Sedang Ida Nasution disebut-sebut namanya dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia  modern tapi sidang pembaca masa kini buta sekali terhadap karyanya, tapi terhadap Siti Nuraini pun sangat sedikit pembahasan dilakukan. Mungkin baru dalam Kata Pengantar Toeti Keraty, karena formatnya, tidak ada kemungkinan pembicaraan berkembang lebih lanjut.

Entah apa saja faktor yang menyibukkan Siti Nuraini selama kepergiannya dari kampung halaman, Padang; yang jelas pengembaraannya tidak pernah terberitakan oleh media massa Indonesia. Etnik Minang memang sudah sejak sastra Indonesia modern bangkit, dia sudah menyumbangkan banyak putra-putrinya yang terjun ke gelanggang tradisi sastra tulis. Tanpa perlu tahu: apakah tradisi leluhurnya sudah punya  tradisi tulis yang mapan, atau sama dengan etnik-etnik Indonesia yang lain: yakni bertolak dari tradisi sastra lisan. Disamping itu, ternyata sebagian besar sastrawan asal etnik Minang mendapatkan nama dan lahan kreativitasnya – minimal sejak Angkatan PB – di tempat- tempat perantauan: kota-kota besar di Jawa, Jakarta. Jika sajak Perempuan ternyata  merupakan sajak awalnya, ditulis Siti Nuraini di kota pengembaraannya yang pertama Jakarta, kenyataan tersebut akan menjadi indikator bahwa Siti Nuraini memerlukan antitesa kebudayaan kota lain sehingga minat kreatifnya bangkit.

Kebangkitan minat menjadi orang kreatif yang membutuhkan antitesa kebudayaan kota lain, pada hakikatnya bukanlah monopoli sastrawan Indonesia modern dari etnik Minang. Pembentukan kebudayaan baru di manapun di dunia ini, selalulah hasil sintesa kebudayaan-kebudayaan tua yang besar. Demikian pun sastrawan Indonesia modern asal etnik Jawa, sekali meraka  hendak mengartikulasikan pengalaman kebudayaannya yang baru, yang modern, akhirnya akan menemukan dirinya selaku manusia transkultural. Kenyataan kebudayaan Indonesia yang mendapati dirinya sebagai transpormasi budaya etniknya dan budaya Barat bukanlah kenyataan kebudayaan yang ganjil. Dia merupakan trend peradaban  yang mustahil terelakkan. Siapa pun yang menolak keharusan sejarah peradaban modern ini, dia akan menjadi manusia tenik dan terpencil.

Seniman Indonesia modern dari berbagai sektor yang sering mendapat predikat kaum moderenis, lebih realistis lagi berpredikat kaum urbanis, pada hakikatnya produk dari proses-proses sintesa kebudayaan demikian itu.

Itulah sebabnya, pada konteks ini Siti Nuraini berkenalan dengn Godot dan mengucapkan pengalaman estetikanya di dalam puisi Indonesia modern. Puisi pencarian yang singkat, hanya terdiri dari empat baris dalam satu bait, mewakili banyak seniman Indonesia mdern yang ’’bagai pengembara Jahudi”  untuk mencari ”  negeri mana ditakdir kediamanku”. Imagery  Godot dan Jahudi ini sangat kuat, menjadi batu tumpuan kegelisahan spiritual Siti Nuraini, selaku wanita pengembara. Lengkapnya demikian:

               PENCARIAN

                                Untuk R.N

Karena Godot tak datang sungkan

berpesan

alamat tiada kemungkinan seribu

satu:

bagai pengembara jahudi kuriling

bepergian

negeri mana ditakdir kediamanku.

 

Juni 1968

Sejak dia menyadari bahwa ibu kandung kebudayaan yang mengasuhnya tidak lagi (belum lagi? memberikan suatu yang bermakna; dengan idiomnya sendiri ’’ Rumahnya pudar didekap sunyi”  dalam sajak Perempuan (1949) sampai dia menulis sajak Pencarian (1968) – jadi sudah berlansung selama 20 tahunan Siti Nuraini masih juga meriling berpergian. Tidak ada isyarat dan fenomen bahwa negeri kediamannya ialah di dalam puisi-puisinya seperti pengakuan verbal subtansial demikian terdapat pada Chairil Anwar dalam bentuk sajak Rumahku. Bila seorang penyair tidak merasa dan mengira bahwa ”negeri kediamannya’’ ialah puisi-puisinya, yang memungkinkan dia menjadi produktif  berpuisi, agaknya Siti Nuraini bukanlah penyair yang krasan tinggal di dalam rumah. Sajak Rumah (1950), yang singkat, bukan lagi rumah. Demikian pun sajak Dongeng Kepada Seorang Asing(11950) sekalipun dia berada di rumah tapi diapun ”kembali asing”.

Mungkin sekali rumah dalam arti harafiah mesti mengalami transendesi, sehingga sidangkan pembaca puisi Siti Nuraini akan menemukan makna lebih jauh dan bervariasi sudut peninjauannya.  Setidaknya,  apa yang disebut rumah belum lagi diketemukan, apalagi membikin dia krasan. Mungkin baginya rumah merupakan sesuatu yang sangat pribadi, bukan dalam pengertian komunal dan bersifat verbal.

Selalu demikianlah yang menjadi asas kesenian: dia mempunyai dimensi profan sekaligus transenden. Bermula dari pengalaman profan, seorang penyair mengembangkan daya imajinasinya, sampai kepada pengalaman transendental. Di situ dia akan menunjukkan kemahiran memakai bahasa ekspesinya, sehingga bakat dan kekuatan yang dimiliki mampu melahirkan ungkapan artistik.

Kiranya tinjauan A Teeuw yang mengatakan Siti Nuaraini ’’ merupakan pengarang paling berbakat”, pada ’Beberapa Orang penulis wanita sesudah Perang’  baru menemukan bukti yang meyakinkan pada akhir 1960-an. Sajak berjudul Variations on Theme (1969), yang juga mendapat pujian majalah sastra Horison, (1969), hemat saya juga merupakan sajak terbaik yang pernah ditulis Siti Nuraini. Lebih baiklah sajak ini lumayan panjang…….

 

 

 

 

 

 

BANYAK MASALAH KELUARGA HARUS DITULIS

BANYAK MASALAH KELUARGA HARUS DITULIS

NAMANYA sudah populer. Tidak hanya di Indonesia. tetapi juga  di luar negeri. Ia pernah bermukim di Jepang, Amerika dan Perancis, karena satu konsekuensi dari perkawinannya dengan Yves Coffin., seorang diplomat Perancis. Dari perkawinan itu (1960) lahirlah dua anak yang kini sudah besar-besar. Sulungnya bernama Merie Clarie Lintang (perempuan) sekarang lagi tekun mempelajari ilmu sosial-politik di Kanada ;  sedang yang bungsu (laki-laki) Pierre Louis Padang menetap di Paris bersama ayahnya. Belakangan ini Ny. Dini sendiri menetap di Indonesia dengan ,pos-pos utamanya adalah Jakarta, Semarang, Jogya dan Bandung. Sebagai orang asli Semarang (dilahirkan 29 Pebruari 1936) Ny. Dini menyambut gembira terbitnya majalah ini. Dan buru-buru dia mempertanyakan nama majalah Dini yang identik dengan namanya. Tantu saja Reporter DINI  Yudiono K.S yang khusus berkujung kerumahnya di Semarang hanya dapat menjawab, ’’ Kebetulan saja. Yang pasti,  serupa tapi tak sama’’.

Selanjutnya dengan ramah Ny.Dini menegaskan bahwa penerbitan di daerah memang harus dikembangkan agar jangan sampai segalanya terpusat di Jakarta. Lagi pula, katanya, sangat banyak masalah keluarga dan kemasyarakatan yang perlu digarap dan dituliskan.

           Et i k e t

Dalam hubungan itu Ny. Dini yang masih tetap men-Jawa itu menuturkan pengalaman dan pengamatannya bahwa masalah utama yang tampaknya semakin kurang diperhatikan orang banyak adalah masalah etiket atau sopan-santun. Dan ngomong soal itu ia bisa tampak bersemangat sekali. “Iki kudu ditulis lho Yudi”, katanya kepada Reporter DINI yang memang sudah siap merekam komentar dan pendapat-pendapatnya. Secara garis besar dikatakan, “Sopan santun itu tidak boleh terdesak arus modernisasi. Saya kira masalahnnya bukan moderen atau tidak. Tapi justru apakah kita ini beradab atau tidak.  Mungkin kedengarannya keras. Tapi biarlah, sebab  terus terang saya prihatin. Dan dengan siapa saja, dimana saja, kapan saja, saya selalu berusaha menegaskan hal itu.  Mbok iya sing padha ngumemi sopan-santun ngono lho!’’

Sementara Reporter DINI  menyinggung masalah berubahnya sistem kemasyarakatan menuju suatu sistem yang lebih mantap nantinya, ternyata Ny. Dini berprinsip bahwa perubahan sistem itu toh tak harus menggeser hakikatnya sopan-santun atau etiket. Dengan demikian harkat kemanusiaan  akan selalu ada pada urutan pertama. Baru kemudian menyangkut masalah sarana atau sistemnya. Diambilnya contoh sekitar masalah ’’kulanuwun’’ atau  ’’terima kasih’’ yang akan selalu berkaitan dengan berbagai segi kehidupan, apakah dalam rangka urusan-urusan formal atau tidak. Dikatakan lagi bahwa untuk memenuhi aturan itu toh seseorang tidak harus datang sendiri.  Bisa lewat telepon atau surat-surat pendek. ’’Tapi banyak diantara kita masih malas menulis kan?’’ katanya sambil tersenyum ramah.

          Membaca

Berbicang-bincang dengan Ny. Nh. Dini atau Ny. Nurhayati Srihardini Coffin yang telah menulis beberapa novel penting itu memang terasa mengasyikkan. Reporter DINI  nyaris kewalahan memilih-milih persoalan yang perlu dikemukakan. Sebab Ny.Dini luwes sekali mengalihkan satu soal ke  lain soal. Dari soal Etiket kemudian beralih ke masalah kebudayaan membaca.

Dikatakan bahwa tradisi atau kebudayaan membaca sangat penting. Pendidikan formal di sekolah-sekolah sebenarnya terlalu singkat untuk membentuk suatu pribadi yang utuh. Sementara itu pendidikan keluarga sangat beraneka ragam. Oleh karena itu buku-buku atau bacaan yang baik harus dijadikan  salah satu sarana yang penting bagi pendidikan, khususnya dalam pembentukan moral.  Soal-soal etiket misalnya, toh bisa dipahami lewat bacaan yang baik. Tentu saja tidak terbatas di situ. Sebab katanya, sangat banyak masalah keluarga yang harus dan bisa diungkapkan lewat tulisan.

Sementara minat membaca sudah semakin berkembang, maka tradisi itu harus semakin ditanamkan di tengah-tengah keluarga. Peranan ayah dan ibu peranan atau lingkungan keluarga sangat penting dalam hal itu.  ’’Saya sendiri bisa mengarang karena dulu-dulunya tumbuh di tengah keluarga yang punya tradisi membaca. Kemuadian saya mulai senang menulis sejak bocah. Dan almarhum Ayah serta kakak-kakak mendorong kegiatan saya menulis. Dan saya yakin bahwa lewat bacaan atau karangan yang saya hasilkan itu sudah berarti ikut menyumbangkan pendidikan’’, katanya  menyinggung masa silamnya  yang manis.

Selanjutnya Ny. Dini menghimbau kepada siapa saja, terutama ayah dan ibu agar sering-seringlah memberi hadiah berupa buku. Bila perlu anak-anak diajak lansung memilih buku kegemarannya di toko buku. Tentu saja  harus disertai kontrol agar pilihan anak-anak itu bermanfaat. Artinya tidak sekedar bacaan hiburan, tetapi ada isinya.

Menjawab pernyataan  Reporter DINI  sekitar buku bacaan anak-anak yang baik, Ny. Dini yang juga telah menceritakan kembali beberapa dongeng Perancis (diterbitkan Sinar Harapan, 1981),  menggariskkan (1) mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak-anak, (2) mengantarkan mereka kepada kesadaran bermasyarakat, (3)  menanamkan keyakinan pada hakikat keadilan, kejujuran, kebenaran, etika, dan (4) ditulis dalam bahasa yang baik.

’’Bagaimana halnya dengan kejujuran, kebenaran atau etika dalam dunia pewayangan kita?’’, tanya Reporter DINI kemudian.

’’Pada prinsipnya saya sendiri senang pada dunia pewayangan. Saya buktikan dengan membeli kaset-kaset wayang setiap kali saya punya uang. Tidak kurang dari Rp 20.000,00 sering saya sisihkan untuk itu. Disamping itu saya selalu menyisihkan sebagian uang untuk membeli buku-buku, apakah itu fiksi atau bukan’’. Dan jawaban itu ditambah catatan bahwa sekarang ia boleh dibilang seratus prosen penulis professional. Artinya, tidak bekerja formal di kantor dengan gaji bulanan.

“Sekarang penulis dapat hidup dengan baik. Asal rajin, tekun dan menjaga kualitasnya. Dan saya sendiri sudah membuktikannnya’’, katanya pula sambil menyinggung kumpulan cerpennya yang baru terbit. Tuileries.

(Sumber: Majalah DINI, no.3 tahun I – 1982 – hal. 5-6).

wajeb iman – nazam Syekh Yakob Padang Tiji 1341 H

 

وا جب  ايمان  دوم  كتايى  ا  كن   نبى  *  واجب فاتيه  فوى يڠ نهكن أوليه نبى
بتا   فاتيه    يڠكوه    داتڠ    نفا   خبر  *  مثال  موت يڠ  تهت سا كية  تافراسا
مثال  نفكه  عذاب  قبور  دسيى  كافر  *  أوراڠ معصية يڠ تن توبة ماتى جاهيل
أورڠ  مؤمين  نبرى   نعمة  دالم   قبور  *  نعمت شر ڬا  توهن  بوكا  كنن  لاجو
بتا  فاتيه  أورى  قيامت   دودى  تكا  *   ينك   أورى  كسوداهن  هارو  هارا
بولن ڠن  أورى فى  كرهنا بنتڠ مهمبور   *  لاڠيت مليڠكڠ بومى مكنجڠ مهو بور٢
سوره توهن اسرافيل يوب سڠكا  كلا   *  هابس ماتى  بندوم سارى صفا  صفا
هايس ماتى بندوم سارى ملينكن توهن  *  لاڠيت ڠن بومى كن لى منى كا كسمفن
عمورفة فوله   تهن يڠ  منن ين صفا صفا  *  تمر  تورون   هوجن  فوتيه  مأ ء الحيا
ها بس   تيموه بندوم توبه كاتدوق٢  *   فكاين تن  بندوم  تلهن  بنيه  أوروق
تمر   نيوب    سڠكا   كلالى    اسرفيل  *   موى  ياواڠ بندوم  تمر  تن  لى  ماتى
تمر كرون كا  كهمفون  أو   فداڠ  محشر  *  دومنا  رعيت كا  كحساب  كفر  كسا
عوه مهمفون دومنا رعيية  كجوك سوراة  *  تمر يڠ چوك ويل ڠن أونن بن يڠ بايت

تمر  يڠ    جوك   دڠن   أونن    مبهڬيا  *  تمر يڠ روه ڠن  جاري  ويل كاچيل كا
تمر   كجيڠ    دومنا    عمل    لم   نراچا  *  كج دڠن جهة فهول دڠن كهون دسنن يتا

يڠ  كهون  عمل    كيجيكن  أسى  شرڬا  *  تمر  يڠ   فهول  دوم  كفالوى  لم  نركا
تمر  تجك  اتس   تيتى  صراط  المستقيم  *  ها لوس فى تهت كفدوق أتس نركا جحيم
فنجڠ  تيتى  سابه   رواية  تلهو ريبو تهن  *  تأيك تاجك أتس فوجق  دڠن  تاترون
تيتى  هلوس  لا ڬي    تاجم   نيك  فدڠ  *  سدومنن هالوس سدوم فوتس اداة ملنتڠ
تمر  يڠ  جك  اتس   تيتى    لابن   بابت *  كرنيا  الله   لدوم   فنتس  نابن   كيلت
لدوم  فنتس  ناكدوم  بن   فاڠين    باوا  *  تمر   لدم    تابن   كودا   كفوه   لاوا
( ٩ )
تمر لدوم بن  أروڠ   فلوڠ  يڠ تهت  چچا  *  تمر  لدوم فنتس باجوة هن  تهت لنجا

لدوم   يودى   معوى   ٢   مسسق   ٢  *  مهيلا   ٢   لم      نركا      كاتسيرك
يڠ سيلامت  أتس  تبتى  جمراڠ  فيتروس *   بك حوض نبى كروڠ  الكوثر دسنن فيوه
بنيه  كروڠ  بن   كندى فيلا   نابن   ينتڠ  *  اسى مهت سيب سيدرى ٢ هن فوى ريواڠ
يڠ جيب  ايرين دق فيهن لى كراه فيهن لى *  كرنيا   حق   هويڠ   كهندق كنن نبرى
تلس  ين  تمر  أورڠ    مؤمن  تامڠ  شرڬا *  سنتوك سابى تبيت هنلى روك٢ مسا
ككل   سنن  جيت  هنا   هد  هنا  هڠڬا *  دالم    لذاه  سنتوك  مابت  جاتى رسا
ڠن بوه   كايو  جيت   متنتو  رسالا  ين *  سى يڠ فاجوه فروة هن سڠكوه لم سو كأن
سنتوك  قليم   لم   تكهيم ٢  هاتى  ماڠت  *  ڠن     مكانن   ڠن  مينمن  لذات ٢
توها  هنلى سا  كيت  هنلى روك ٢ مسا  *  عمور  سدوم  سابى ٢   مودا   بهليا
دسكافر    دوم    تكو  لير   لم    نر كا  *  تتف  سنن جى تبيت  هن روك٢ مسا
فدوم  عذاب   أورى   مالم   هنا   تدوه   *  كمكانن  بواه   زقوم  ين   جى  فاجوه
بوه زقوم ين توتڠ  تهت  تاجم  بن  دورى   *  سى يڠ فاجوه ها ڠوس توبه افوى سنرى
فدوم    عذاب  كلا  لمفن  أولر   فاتهوق   *  لوم ڠن رنتى كبوه فاسوڠ رنتهيق رنتهوك
أورڠ   مؤمن   أومة  نبى   يڠ   مدوشا   *  يڠتن   توبة  بن   في   كتوت   لم   تركا
كيرا ٢   أوبى   دوشا    دومنن   كتوت   *  هن  جيلا لو افوى نر كايك هن فاتوت
لدوم توتوڠ  مڠ عوه كا  كى عوه نن سجا   *  لدوم بتيس  لدوم  هابس  لدوم  عوه فها
لدوم  توتوڠ  مڠ  عوه تا  كوى ا لا دادا   *  تمر   لدوم    هابس    بندوم   ا لا موكا
سنچوة  ٢ عذاب فا  كى  ڠر لن  فكه   *  كاوس  افوى نبك  كا  كى بندوا بله
تولڠ  أوراة   ايسي   أوتق  بندوم  رلى   *  تمر  كبوه  بن  سوة   تمر  عذاب   سابى
بتا ايمان وهى يق جوة دان هى جوة دا    *  ري  چيت  كبيت   يڠ   كفكه  تافراسا
سمبهيڠ   ليمڠ  بى   تانڠڬل  بنا  جا   كا    *  يڠ    كفكه  دهى  تا كبه   بك  مصلا
(  تمت  والحمد لله  رب العالمين)

 

Transliterasi/Alih aksaranya:

Bismillahirrahmanirrahim

Wajeeb Iman dum geutanyoe akan Nabi  * wajeb pateh peue nyang  neukheun uleh Nabi

Beuta pateh nyang goh datang neu peukhaba  * miseue mawot nyang that saket tapeurasa

Miseue neupeugah adeub kubu disikaphe  *  ureueng maksiet nyang tan taubat mate jahe

Ureueng mukmin neubri niekmat dalam kubu  * niekmat Syuruga Tuhan buka keunan laju

Beuta pateh uroe kiyamat dudoe teuka  * nyankeu uroe keusudahan haru-hara

Buleuen ngon uroe pi gurahna bintang meuhambo  *  langet meulinggang bumoe meuguncang meu hubo-hubo

Suroh Tuhan Israfi yub sangkaikala  *  habeh mate bandum sare saffan safa

Habeh mate bandum sare malenkan Tuhan  *  langet ngon bumoe konle menoe ka geusimpan

Umu peuet ploh thon nyang meunan nyan saffan safa  *  teuma turon hujeun puteh Maul Haiya

Habeh timoh bandum tuboeh ka teuduek-duek  * peukayan tan bandum teulhon bineh uruek

Teuma neuyub sangkaikalale Israfi   meuwoe nyawong bandum teuma tanle mate

Teuma geuron geuhimpon u Padang Mahsya  *  dumna rakyat ka geuhisab geupareksa

‘Oh meuhimpon dumna rakyat geujok surat  *  teuma nyang cok wie ngon unun ban nyang babat

Teuma nyang cok deungon unun meubahgiya  *  teuma nyang roeh ngon jaroe wie ka ceulaka

Teuma geuceng dumna amai lam neuraca  *  got ngon jeuheut phui ngon geuhon disinan nyata

Nyang geuhon amai keubajikan asoe Syuruga  *  teuma nyang phui dum geupului kam Nuraka

Teuma tajak ateueh titi Sirathal Mustaqim  *  haloih pi that geupeuduek ateueh Nuraka Jahim

Panyang titi saboh riwayat lhee ribee thon * taek tajak ateueh pucak deungon tatron

Titi haloih lagi tajam nibak peudeueng   *  sidumnan haloih sidom putoih adat meulinteueng

Teuma nyang jak ateueh titi le ban babat * karonya Allah ladom pantah naban kilat

Ladom pantaih na keudum nyan angen bawa * teuma ladom naban guda geupoh lawa

Teuma ladom ban ureueng plueng nyang that caca * teuma ladom pantah bacut han that lanja

Ladum budoe? meu-eue meu-eue meuseuk-meuseuk * meuhila-hila lam Nuraka ka teusireuk

Nyang silamat ateueh titi jeumeurang pi troih  * bak hudh Nabi krueng Kalkausa disinan piyoh

Bineh krueng nyan kande pi le naban bintang  *  asoe meuhat seb sidroe-droe hanpeue riwang?

Nyang jeb ie nyan deuek pi hanle grah pi hanle  *  karonya haq ho nyang kheundak keunan neubre

Lheueh nyan teuma ureueng mukmin tamong Syuruga  *  seuntok sabe teubiet hanle rok-rok masa

Keukai sinan cit hana had hana hingga  *  dalam lazat seuntok mangat cati rasa

Ngon boh kayee cit meuteuntee rasa le ban  *  soe nyang pajoh pruet han sungkoeh lam sukaan

Suntok kayem lam teukhem-khem hate mangat  *  ngon makanan ngon minoman lazat-lazat

Tuha hanle saket hanle rok-rok masa  *  umu sadum saban-saban muda bahliya

Di sikaphe dum teugule lam Nuraka  *  teutap sinan ji teubiet han rok-rok masa

Padum adeub uroe malam hana teudoh  * keu makanan buah zakom nyang ji pajoh

Boh zakom nyan tutong that tajam ban duroe  *  soe nyang  pajoh hangoh tuboeh apui sinaroe

Padum adeub kala limpeun uleue pathuek  *  lom ngon rante geuboeh pasong   rinthiek-rinthuek

Ureueng mukmin umat Nabi nyang meudeesya  *  nyang tan taubat nyan pi geutot lam Nuraka

Kira-kira ube deesya dumnan geutot  *  han jilalu apui Nuraka bak han patot

Ladom tutong meung ‘oh gaki ‘ohnan saja  *  ladom beuteh ladom habeh ladom ‘oh pha

Ladom tutong meung ‘oh takue illa dada  *  teuma ladom habeh bandum illa muka

Sineucut-neucut adeub page ngo lon peugah  *  kawoh apui nibak gaki bandua blah

Tuleueng urat asoe utak bandum reule  *  teuma geuboeh bansot teuma adeub sabe

Beuta Iman wahe Nyak Cut dan he Cut Da  *  roe cit keubit nyang  geupeugah ta peurasa

Seumbahyang limong bekta tinggai beuta jaga  *  nyang geupeugah dhoe takeubah bak mushalla

 

( Tamat, wal hamdulillahi Rabbil ‘alaminn)

 

Catatan: Alhamdulillah, setelah  saya dan putra tertua belajar cara mengetik huruf Arab dan huruf Arab Jawi/Jawoe selama lk 2 jam pada Drs.Mohd Kalam Daud, M.Ag;  sekarang secara tertatih-tatih saya sudah dapat mengetik komputer huruf Arab. Orang pertama yang dapat menulis pada “kursus kilat” menjelang bulan Puasa 1437 H ini adalah putra saya, kemudian saya belajar lagi padanya. Inilah hadiah hidangan  pertama saya kepada para pembaca blog Tambeh. Posting ini bersempena Ultah ke 32 musibah lalin saya di Kalasan, Yogyakarta pada 25 Ramadhan 1405 H atau 15 Juni 1985 M. Semoga Allah Swt senantiasa menolong saya sekeluarga dan segenap kaum Muslimin, Aminn!.

 

 

 

 

Ayo Menuliskan Aceh di Internet – VII

 

Ketika Tujuh Tahun Menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2016

 

Ayo Menuliskan Aceh di Internet – VII

 

April 2015  s/d  Maret 2016  merupakan Tahun Tesis saya. Betul-betul tahun penuh perjuangan dan penuh kesabaran untuk mengatasi berbagai kesulitan guna mencapai tujuan.

Alhamdulillah, biar pun saya hidup dalam suasana penuh tekanan fisik dan mental, namun blog Bek Tuwo Budaya masih tetap berlangsung dengan menu-menu baru setiap bulannya;  walaupun kebanyakan bersumber kliping koran atau majalah yang telah saya simpan bertahun-tahun dan sebagian besar ‘daur-ulang’ dari rendaman lumpur tsunami Aceh, 26 Desember 2004 M.

Tekanan fisik yang saya sebutkan di atas, bukanlah bersumber dari luar. Akan tetapi berasal dari fisik saya sendiri yang sudah “rusak” lebih dari 31 tahun. Dalam hal demikian, untuk berpergian saya harus dibantu sebatang tongkat serta dipapah orang. Sementara tekanan mental, bahwa penulisan tesis itu mempunyai jadwal penyelesaian yang pasti yang tidak boleh saya lewati, yaitu tangal 30 Desember 2015.

Catatan: Terakhir saya salinHikayat Abu Jeuhai (Abu Jahal)  pada  19 Maret 2014 pkl 7.15 wib. Setelah itu saya disibukkan dengan pekerjaan rutin memberi kuliah pada dua kelas mahasiswa Reg 1 dan 2  setiap hari, yaitu sejak hari Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at. Sementara pada hari Sabtu, Ahad; saya sebagai mahasiswa di Pascasarjana   mengikuti kuliah mulai 8.30 pagi sampai jam 18.00 sore dengan 4 mata kuliah setiap hari serta 1 – 2 dan 3 (ujian Teks Home) tugas paper setiap mata kuliah. Insya Allah, mulai 1 Ramadhan 1435 H/29 Juni 2014 M  saya akan giat menyalin kembali Hikayat Abu Jahai. Sehari- sampai jam 12 siang. Sebelum 1 Ramadhan, hati sempat cemas karena Fel Hikayat ini hilang terhapus, Alhamdulillah, berkat batuan orang  felnya muncul lagi!. Memang, menjelang bulan Puasa, CPU berkali-kali ke tukang   itu, sampai-sampai fel Hikayat Abu Jahai terhapuskan!.

 

Bagi orang yang sehat dan segar-bugar, mungkin saja apa yang saya alami sejak awal dari pencarian topik tesis, merupakan hal biasa. Namun, bagi saya yang mimiliki ‘kelemahan fisik’ apa saja yang membutuhan gerakan badan merupakan beban yang membutuhkan ketenangan buat menghadapinya. Sebelum terpilih calon tesis yang ‘jadi’, berkali-kali saya perlu membawa bahan yang akan dikaji. Beruntung saya diberikan Allah mendapat ‘pengkaji awal’ seorang dosen yang baik hati.

Selanjutnya, saya menjalani bimbingan proposal berkali-kali. Satu renungan, yang saya resapi pada periode ini, bahwa begitu mudah saya menjumpai kesalahan-kesilapan mahasiswa dalam proposal dan skripsi mereka yang saya ‘bimbing’ selama ini. Akan tetapi saya kurang mampu melacak kesalahan-kesilapan dalam proposal saya sendiri, sehingga memerlukan campur tangan dosen pembimbing dalam urusan yang sesungguhnya teramat mudah itu, namun terlepas dari glip-glip atau tatapan mata saya.

Setelah mengikuti Seminar Proposal yang berjudul “Nilai-nilai Sejarah Aceh dalam Hikayat Malem Dagang” (28 Mei 2015) bersama 5 orang teman, saya pun memasuki masa pembimbingan tesis. Akibat berbagai rintangan – mungkin sebagiannya dapat disebut tak dapat mengatur waktu – penyerahan hasil perbaikan proposal baru terlaksana pada (28 Juni 2015) hari terakhir batas penyerahan yang telah diberi waktu sebulan penuh.

Meski saat penyusunan tesis dengan judul baru Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang; telah mulai sejak ditunjuk dua orang Profesor sebagai  pembimbing melalui SK Direktur Pascasarjana pada 30 Juni 2015, namun bulan-bulan September-Oktober-Nopember dan Desember 2015 adalah bulan-bulan penuh beureukat dan meukarat(berkah dan payah) bagi saya. Setelah melalui beberapa kali konsultasi (beliau mau berangkat dinas ke luar negeri), pada 4 September 2015 tesis saya ditangdatangi oleh Pembimbing II.

Selain terus menjalani bimbingan dari Pembimbing I, di bulan September dan  Oktober saya perlu membuat ringkasan tesis untuk sebuah Jurnal yang merupakan peraturan baru. Mencari Jurnal secara mendadak, ini juga termasuk kisah yang panjang. Hari Selasa, 24 November 2015 mulai jam 9.00 saya mengikuti Seminar Hasil Penelitian dengan empat orang penguji. Ini juga peraturan baru. Tanggal 11 – 17 Desember 2015 tesis saya mengalami Review Ujian Pendahuluan oleh dua orang penelaah tesis. Peraturan baru ini juga saya pertama yang mengalaminya dari mahasiswa program kelompok saya. Ini semua, karena saya  mengejar waktu harus lulus sebelum tanggal 30 Desember 2015. Pada 29 Desember 2015  jam 11.00 saya mengkuti acara mempertahan tesis di depan Tim Penguji Tesis Pascasarjana dan dinyatakan lulus, yang langsung hari itu dibuat surat keterangan lulus untuk segera saya sampaikan kepada Rektor dan Dekan tempat saya bertugas. Alhamdulillah!.

Angka tujuh dianggap bilangan “keramat dan misterius” dalam budaya Aceh dan Dunia Melayu pada umumnya. Di Aceh ada ungkapan: aulia tujoh(aulia tujuh), khanduri seunujoh(kenduri hari ketujuh orang meninggal), hitungan 1 s/d 7 pada peusa-dua pengobatan tradisional dan pancuri tujoh(tujuh pencuri) dan beberapa istilah lain.

Begitu juga dengan keberadaan blog TAMBEH ini yang telah berlangsung sampai tujuh tahun. Suatu masa yang lumayan panjang dan banyak suka-duka untuk mempertahankannya. Alhamdulillah, semua problema itu telah mampu dilewati dengan selamat.  Berikut saya kutip bagian penutup tesis saya berupa saran-saran, yang mana tesis ini telah menggiling fisik dan mental saya dalam setahun terakhir:

Saran-saran

 

Dalam mengakhiri tesis ini penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Studi terhadap historiografi lokal Aceh, termasuk kajian yang diminati para akademisi, ilmuwan baik dari  dalam maupun luar negeri. Studi penulis terhadap Hikayat Malem Dagang diharapkan menjadi inspirasi  buat  lebih meramaikan penelitian dan kajian terhadap historiografi lokal Aceh.
  2. Masih cukup banyak manuskrip dan naskah hikayat, nazam dan tambeh yang menanti “sentuhan tangan” para akademisi dan ilmuwan; sebelum manuskrip dan naskah-naskah itu punah ditelan zaman.
  3. Pemerintah Aceh perlu menetapkan keseragaman ejaan dalam penulisan bahasa Aceh yang selama ini masih ditulis secara beraneka-ragam.
  4. Setiap tahun Pemerintah Aceh perlu menyelenggarakan sayembara mengarang dan membaca Hikayat Aceh, baik dalam aksara Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe. Sayembara itu perlu diikuti oleh peserta mulai kalangan anak-anak, remaja dan orang dewasa dengan jumlah hadiah yang menggiurkan.

 

Mengakhiri sambutan ini, saya mengucapkan Selamat Berpuasa kepada umat Islam di seluruh dunia, semoga amal ibadah kita diterma Allah Swt, Aminn!.

 

Bale Tambeh, Sabtu, 18 Juni 2016

13 Puasa 1437, pkl 9.44 pagi

 

T.A. Sakti

 

 

Dukalara Asrama Mahasiswa Aceh di Yogyakarta

Dukalara Asrama Mahasiswa Aceh di Yogyakarta
Oleh: T.A. Sakti dan Muhammad Nur Hasballah

Rakyat Aceh tentu sedih dan gamang membaca berita “20 Mahasiswa Aceh di Jogja ‘Diusir; dari Asrama”(Serambi, 20 Mei 2016 halaman 1). Pertama, sedih; karena mahasiswa Aceh sampai diusir orang lain dari asrama yang sudah ditempati mahasiswa asal Aceh selama puluhan tahun-nyaris sejak Indonesia merdeka. Bila betul-betul terusir, selain amat merepotkan bagi mahasiswa Aceh yang bersangkutan; juga terhina bagaikan biri-biri yang diusir karena memasuki kebun orang. Kedua, gamang; kita bertanya-tanya sudah sejauh mana hasil dari upaya Pemerintah Aceh dalam menangani kasus ini. Sewaktu gugatan muncul tahun lalu, Pemerintah Aceh sudah berjanji untuk melawan sang penyerobot itu. Kita semua tahu, bahwa kasus gugatan terhadap asrama mahasiswa Aceh Meuligoe Sultan Iskandar Muda ini sudah mencuat sekitar 10 bulan lalu (Lihat: Serambi Indonesia, 1 Juli 2015 dan 2 Juli 2015).
Yogyakarta adalah ibukota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki satu keistimewaannya, yaitu gubernurnya harus keturunan Sultan Kerajaan NgaYogyakarta Hadiningrat. Walaupun keistimewaannya hanya masalah gubernur, tapi banyak keistimewaan yang dapat kita saksikan di kota ini. Salah satunya adalah bidang pendidikan. Karena itu, gelar yang disandang Yogyakarta sebagai kota pendidikan tidaklah berlebihan.
Akibat terkenal sebagai kota pendidikan, maka tidak heran bila kota ini diramaikan oleh pelajar dan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hampir setiap provinsi, paling kurang mempunyai satu asrama pelajar dan mahasiswa di Yogyakarta. Suatu keistimewaan bagi provinsi Aceh, yang memiliki 5(lima) asrama di kota ini. Keunggulan Aceh ini terkait erat dengan sejarah Perang Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945-1949.
Setelah terdesak, karena hampir semua wilayah Indonesia sudah dikuasai Belanda kembali, Presiden Soekarno memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta. Gedung Agung, yang masih lestari hingga sekarang dijadikan sebagai Istana Presiden RI. Aceh sebagai wilayah satu-satunya yang tak dapat diduduki kembali oleh Belanda, dengan setia terus mendampingi Negara Republik Indonesia dalam perang kemerdekaan itu. Akibatnya, sejumlah pemimpin dan tokoh Aceh sering berkunjung dan berada di ibukota negara Yogyakarta. Karena itu, pemerintah RI memberikan sejumlah rumah kepada para pemimpin dan tokoh Aceh. Setelah Perang Kemerdekaan RI berakhir tahun 1949, maka rumah tokoh-tokoh Aceh itu dijadikan sebagai asrama pelajar dan mahasiswa asal Aceh.
Misalnya, rumah yang ditempati Tgk Muhammad Daud Beureueh sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung(DPA), menjadi Asrama Aceh Meurapi Dua. Itulah sebabnya asrama Aceh di Yogyakarta sampai berjumlah lima, karena rumah-rumah pejabat Aceh berubah fungsinya menjadi asrama pelajar mahasiswa Aceh. Kelima asrama Aceh yaitu: 1) Asrama Meurapi Dua, Jalan Sunaryo No. 2 Yogyakarta, 2) Asrama Putri Cuk Nyak Dhien, Jalan Kartini No.1a Sagan, Yogyakarta, 3) Asrama Meuligoe Iskandar Muda- dulu bernama Asrama Taman Sultan Iskandar Muda, Jalan Poncowinatan No. 6, Yogyakarta, 4) Asrama Sabena, Jalan Taman Siswa No. 11a Yogyakarta, 5) Asrama Kebon Dalem, Jalan Mangkubumi, Yogyakarta. Kelima asrama Aceh itu berada dalam koordinasi organisasi Taman Pelajar Aceh(TPA) Yogyakarta.
Dapat ditambahkan, sampai saat ini asrama Meurapi Dua Yogyakarta berdampingan letaknya dengan asrama mahasiswa Sulawesi Selatan. Semula bangunan itu adalah rumah Andi Mattalata, seorang petinggi militer RI asal Sulawesi Selatan. Menyaksikan Teungku Daud Beureueh menyerahkan rumahnya untuk asrama mahasiswa Aceh, maka kemudian Andi Mattlata pun berbuat demikian. Memang, di sekitar dan sepanjang Jalan Sunaryo, Yogyakarta pada masa Revolusi Kemerdekaan RI banyak ditempati para petinggi negara RI. Di seberang jalan dari asrama Meurapi Dua adalah rumah kediaman Jenderal Sudirman. Sampai tahun 1988, pada setiap Lebaran Idul Fitri beberapa mahasiswa Aceh selalu berkunjung ke rumah Buk Jenderal Sudirman itu, hingga kemudian beliau pindah ke Timoho di selatan kota. Masih di Jalan Sunaryo no. 8, dulu di situ juga terdapat satu asrama mahasiswa Aceh, tapi kemudian dibeli oleh lembaga pemerintah.
Kekompakan sumber kekuatan
Puluhan tahun waktu sudah berlalu, asrama-asrama Aceh di Yogyakarta dengan aman-damai ditempati para pelajar dan mahasiswa asal Aceh. Bagi mahasiswi dan pelajar putri tersedia asrama Putri Cut Nyak Dhien, sedang bagi kalangan laki-laki, mereka dapat memilih di antara empat asrama putra yang ada. Alumni dari asrama-asrama Taman Pelajar Aceh pun terus bertambah dari tahun ke tahun. Mereka hidup berkarya di berbagai profesi baik sebagai pegawai negeri atau pun karyawan swasta. Para alumni lepasan TPA Yogyakarta ini ada yang terus menetap di Yogyakarta, pulang ke Aceh, bekerja di berbagai provinsi di Indonesia, bahkan di luar negeri.
Begitulah keadaan aman dan nyaman terus berlangsung berpuluh-puluh tahun. Sewaktu saya(T.A. Sakti) mondok selama 14 bulan (1987 – 1988) di asrama Aceh Meurapi Dua, saat itu kondisi asrama masih tetap aman dan nyaman. Saya sempat menyaksikan beberapa tokoh Aceh yang sekaligus tokoh Yogyakarta atau tokoh nasional menjenguk kami. Mereka adalah para mantan penghuni asrama Aceh. Jadi, hingga saat itu solidaritas masih kuat. Hanya kadang-kadang terdengar desakan pengurusan sertifikat asrama dalam pembicaraan antar penghuni ketika itu. Tujuan pengurusan sertifikat adalah untuk mencegah gugatan pihak luar terhadap kepemilikan asrama Aceh. Nampaknya selintingan usul pengurusan sertifikat itu tak pernah dilaksanakan sampai tuntas. Sesungguhnya semua orang tahu, bahwa letak beberapa petak tanah asrama Aceh cukup strategis untuk bidang bisnis, karena berada di pusat kota Yogyakarta yang terus berkembang. Asrama Kebon Dalem, asrama Taman Sultan Iskandar Muda dan asrama Meurapi Dua merupakan petak-petak tanah yang tinggi harganya.
Ketika itu, para alumni TPA generasi pertama, kedua dan ketiga cukup banyak . Mereka memiliki solidaritas kuat atau amat kompak. Profil mereka dikenal luas, karena besar peranannya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Jadi, tak ada pihak yang berani mengusik keberadaan asrama-asrama Aceh saat itu.
Seiring berlalunya waktu, kekompakan antara alumni TPA dengan penghuni asrama-asarama Aceh semakin menipis. Faktor penyebabnya banyak. Tokoh-tokoh alumni TPA generasi terdahulu semakin hari terus berkurang, baik karena telah meninggal dunia atau akibat keuzuran mereka, sehingga menghilang dalam pergaulan. Para mahasiswa penghuni asrama Aceh sudah jarang berkunjung ke rumah-rumah sesepuh Aceh, ketika Lebaran misalnya. Sebaliknya, para alumni juga semakin langka menjenguk(jak saweue) para mahasiswa ke asrama. Maka runtuhlah kekompakan itu.
Saat kondisi berubah
Kondisi demikian, sudah lama dinanti-nantikan oleh pihak yang mengincar tanah-tanah asrama Aceh yang amat strategis. Sejak itu, mereka mulai memainkan aksi untuk “menerkam” tanah-tanah asrama Aceh satu demi satu. Sasaran pertama yang hendak disabot adalah asrama Kebon Dalem di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta. Ternyata gugatan mereka yang pertama berhasil mulus pada tahun 1989.
Seterusnya, mereka melanjutkan gugatan kedua pada tahun 2013. Sasarannya adalah asrama Aceh Meuligoe Iskandar Muda di Jalan Poncowinatan No. 6 Yogyakarta. Karena belum berhasil, entah bagaimana prosesnya, gugatan yang dulu diajukan oleh Inawati, sekarang beralih kepada Sutan Suryajaya. Mereka menggasak kembali pada saat sekarang. Harian Serambi Indonesia dua hari berturut-turut (Rabu, 1 Juli 2015 dan Kamis,2 Juli 2015) memuat berita konflik perebutan Asrama Aceh Meuligoe Iskandar Muda. Gugatan pemilikan terhadap asrama mahasiswa Aceh itu sedang berlangsung sekarang.
Kami yang pernah tinggal di salah satu asrama Aceh di Yogyakarta, merasa amat prihatin membaca kedua berita itu. Sebab saya sendiri (Muhammad Nur Hasballah alias Tgk Sabi), pernah terlibat langsung dalam kasus serupa. Saat itu tahun 1989,salah satu asrama mahasiswa Aceh, yaitu asrama Aceh Kebon Dalem yang terletak di Jalan Mangkubumi, telah dimiliki orang setelah kalah di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Ketika itu T. Dasrul Dewa Saputra sebagai Ketua TPA , begitu gigih berjuang mempertahankan Asrama Kebun Dalem. Namun tetap mengalami kekalahan, walaupun dibela oleh pengacara senior T. Marhaban Zainun SH (tokoh Aceh di Yogyakarta). Pada saat dilaksanakan eksekusi keputusan pengadilan, kami penghuni asrama Aceh Meurapi Dua, Jalan Sunaryo No 2 Yogyakarta, ikut bergotong royong membantu mengeluarkan semua barang milik warga asrama Kebon Dalem, seperti lemari pakaian, meja belajar, tempat tidur, bantal – kasur dan alat-alat dapur lainnya, lalu diangkut ke aula asrama Putri Tjut Nyak Dhien, Jalan Kartini No. 1 A Sagan Yogyakarta. Apa yang telah menimpa asrama Kebon Dalem, saya berharap dan berdoa mudah-mudahan tidak dialami asrama Meuligoe Iskandar Muda Poncowinatan, Yogyakarta. Tragedi asrama Aceh Kebon Dalem amat memalukan kami para mahasiswa Aceh di Yogyakarta, sekaligus menciutkan martabat rakyat dan Pemda Aceh.
Keberadaan Taman Pelajar Aceh di Yogyakarta amat mempengaruhi kesuksesan pendidikan bagi putra-putri Aceh. Di masa kemajuan dulu, ribuan sarjana alumni TPA tersebar di segenap penjuru Tanah Air dan di luar negeri. Sebagian kecil dari mereka dianugerahkan Tuhan menjadi kaum elit yang nampak perannya dalam masyarakat luas. Sekarang, sebagian besar dari tokoh Aceh ini telah berpulang kerahmatullah. Itulah sebabnya, kini wibawa dan kharisma TPA turun drastis, sehingga miliknya berani digugat orang. Kini kekuatan perlu dipadukan kembali untuk melawan pihak-pihak yang hendak merampas satu-persatu asrama mahasiswa Aceh di Yogyakarta. Pemerintah Aceh mesti bertekad bulat untuk melawan gugatan itu. Kekuatan perlu digalang, semangat harus ditajamkan, dan kalau mungkin “Dompet Musibah asrama Aceh di Yogyakarta” harus dibuka!. Mudah-mudahan upaya hukum melawan Sutan Suryajaya yang dibela pengacara kelas kakap, memberi kemenangan mutlak bagi rakyat Aceh seumumnya, semoga!.
*T.A. Sakti adalah mantan penghuni asrama Aceh “Meurapi Dua”, Yogyakarta, Email: t.abdullahsakti@gmail.com
*Muhammad Nur Hasballah, bekerja wiraswasta dan alumni asrama Aceh “Meurapi Dua”, Yogyakarta, Email: muhammadhasballah@gmail.com

^Catatan buat Redaksi: nama lengkap saya Drs. Teuku Abdullah, SH,MA dan nama pena saya T.A. Sakti.

*Setelah tersentuh perbaikan redaktur, artikel ini pernah dimuat dalam Harian Serambi Indonesia, Sabtu, 28 Mei 2016 hlm. 18/Opini.

Gelar Sarjana Bukan ‘Status’ Tapi Identitas Keprofesionalan

Gelar Sarjana  Bukan ‘Status’ Tapi Identitas Keprofesionalan

Oleh: Hendro Partomo

 

            PEMAKAIAN gelar kesarjanaan (lulusan perguruan tinggi) segera ditertibkan dalam waktu dekat ini. Berkenaan dengan itu Menteri Pendidikan dan kebudayaan sebelum bulan Juli tahun ini akan segera mengeluarkan peraturan tentang pemakaian gelar. Demikian keterangan Humas Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (“Suara Karya”, 9 April 1984).

Memang apa yang akan diwujudkan oleh Mendikbud seperti dijelaskan Humas Depdikbud sudah selayaknya. Penertiban ini akan sekaligus menunjukkan keprofesionalan dan tingkat akademik seseorang yang menyandang gelar tersebut.

Seperti kita ketahui, perguruan tinggi di negara kita mempunyai dua arah dalam mendidik para mahasiswanya.

Yaitu : (1) Keahlian akademik yang mencetak para mahasiswa untuk menjadi peneliti keilmuan, tehnik dan seni. Keahlian ini menciptakan seseorang untuk dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru dan (2) Keahlian yang mencetak seseorang agar terampil dalam menerapkan suatu disiplin ilmu yang diperolehnya. Dimana program ini biasa disebut program non gelar atau diploma. Untuk sementara yang telah mengembangkan program ini adalah bidang kependidikan (keguruan). Sedangkan untuk bidang-bidang di luar keguruan baru sedikit saja yang mengembangkan program ini.

Tentang pemakaian gelar yang tidak pada proporsinya banyak dapat kita saksikan di sekeliling kita. Gelar dipakai tidak sebagaimana mestinya, alias tidak singkron dengan keperluannya itu, tidak lain hanyalah ingin memamerkan bahwa dirinya telah sarjana (dalam hal ini bukannya saya iri, tetapi memang demikianlah gejala yang dapat saya amati dari keadaan di sekeliling).

Betapa tidak? Hanya menulis surat undangan perkawinan saja gelar Sarjana dicantumkan. Apakah ini bukan suatu sikap pamer?. Padahal pencantuman gelar dalam surat undangan tidak ada relevansinya sama sekali dengan gelar kesarjanaan yang dipunyai.

Menurut “Suara Karya”, seseorang yang melamar pekerjaan, sedangkan pekerjaan itu tidak membutuhkan keahlian yang melekat pada gelar tersebut pun kurang/ tidak relevan. Kalau pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian yang melekat pada gelar yang dipunyai si penyandang gelar, pemakaian/pencantuman gelarnya baru ada relevansinya.

Martabat?

Sampai detik ini masih berkembang di masyarakat yang menganggap orang yang mempunyai gelar kesarjanaan merupakan masyarakat elit. Imaji inilah yang mendorong orang untuk memiliki gelar agar dirinya dapat masuk dalam golongan elit itu. Bukan saja sang sarjana yang merasa bangga, tetapi seluruh keluarganya pun demikian tanpa menyadari apa yang ada di balik selembar ijazah tersebut. Ijazah dianggap sebagai tiket menuju stratum lebih atas. Dengan selembar ijazah seseorang telah memiliki status tinggi tanpa peduli apa yang ada di balik ijazah itu. Apakah ijazah tersebut aspal, hasil membeli atau pun cara lain bukan soal (Suara Merdeka, 23 April 1984).

Sebenarnya gelar bukanlah menunjukkan martabat atau status seseorang. Gelar hanyalah menunjukkan identitas keprofesionalan dan tingkat akademik seseorang saja.

Kalau terjadi seseorang menjadi sarjana lalu  m e m b a n g g a kan  kesarjanaannya, ataupun ingin dihargai oleh orang lain, maka sebenarnya orang tersebut belum memiliki kesadaran  tinggi, serta masih berfikir secara feodal. Sebab ingin dihargai karena bertitel, adalah fikiran orang-orang yang hidup di zaman foedalisme dulu. Justru orang yang mempunyai kesadaran tinggi serta berfikir modern tidak akan berbuat begitu. Ia sadar apa arti kesarjanaan jika tidak punya prestasi, alias dangkal terhadap berbagai masalah dan aspirasi masyarakat (Kedaulatan Rakyat, 22 April 1984).

Dialam pembangunan sekarang ini tidak perlu lagi seseorang terlalu bangga akan gelar yang disandangnya, seyogyanya tunjukkanlah kemampuan niscaya orang akan menghargai.

(Sumber: Minggu Pagi, 13 Mei 1984 hlm. 3). terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`