Lomba Baca Hikayat Masuk Kampus!

Lomba Baca Hikayat Masuk Kampus!?

Oleh: T.A. Sakti
Senin pagi, 12 Oktober 2015 sebuah sms masuk ke ponsel saya. Pesan sms itu berbunyi:”Assalamualaikum. Pak, saya Nisa dari BEM Unsyiah. Sehubungan dengan diadakan lomba Hikayat Aceh di Unsyiah Fair X, kami ingin meminta kesediaan Bapak untuk menjadi juri lomba Hikayat yang akan diadakan pada hari Senin, 19 Oktober 2015”.

“BEM Unsyiah buat lomba baca Hikayat Aceh?”, batin saya membisik seolah tak percaya.
Memang sudah cukup lama saya berharap, agar hikayat dapat berintegrasi kembali dalam kehidupan generasi muda Aceh. Paling tidak harapan demikian muncul sejak Harian Serambi Indonesia memuat hikayat secara bersambung tahun 1992 – 1994, yang telah menyiarkan 12 judul hikayat hasil alih aksara, dan 7 judul di antaranya adalah hasil transliterasi saya sendiri dari huruf Arab Melayu atau Jawoe ke aksara Latin.
Undangan BEM Unsyiah untuk menjadi juri(bersama Nazar Syah Alam) lomba baca hikayat betul-betul mengagetkan. Sebab dalam perkiraan saya, kebangkitan hikayat Aceh kalau pun terjadi; minimal dalam dua puluh tahun mendatang. Itu pun kalau saat itu Pemerintah Aceh telah memasukkan hikayat dalam kurikulum pendidikan ‘muatan lokal’ di Aceh dan dikelola dengan serius. Ternyata dugaan saya meleset, yakni kebangkitan hikayat di kalangan generasi muda Aceh telah dimulai sekarang tahun 2015 yang dipelopori oleh BEM Unsyiah dengan mengadakan lomba baca hikayat dalam rangkaian acara Unsyiah Fair X. Setahu saya, hingga kini belum pernah ada lomba baca hikayat yang disponsori sendiri oleh para mahasiswa atau generasi muda Aceh.
Keterpurukan martabat hikayat Aceh telah berlangsung lebih setengah abad, yaitu sejak tahun 1960-an. Saat itu, radio dan “peutoe beuet’(peti mengaji) sudah merambah ke kampung-kampung di Aceh. Penampilan Syekh-syekh hikayat sebagai sumber pendidikan dan hiburan, sudah digantikan nyanyian P.Ramlee dan Saloma dari Radio Malaysia, Kuala Lumpur. Namun demikian, saat malam tiba bacaan hikayat masih sayup-sayup terdengar dari kejauhan ketika itu.
Tradisi berhikayat di kalangan rakyat Aceh betul-betul ambruk sejak tahun 1970-an. Hasil penelitian Fakultas Keguruan(FK) Unsyiah tahun 1971 menunjukkan, bahwa tradisi berhikayat dalam masyarakat Aceh betul-betul sudah lenyap. Dulu, kehidupan masyarakat Aceh sepanjang tahun ‘diselimuti’ bacaan hikayat. Bulan-bulan selesai panen padi, pada pesta perkawinan, menjelang sunat Rasul, mensyukuri hari-hari bahagia, bahkan dalam rangka melepaskan nazar(peulheueh kaoy); para pemilik hajatan biasanya akan mengundang pembaca hikayat untuk dinikmati penduduk sekampung

.
Benteng terakhir
Upaya defensif untuk mempertahankan keberadaan bacaan hikayat memang berlangsung terus. Hal ini amat tergantung dedikasi pribadi para penyair hikayat. Sementara yang bersifat tradisi masyarakat sudah lenyap. Tokoh-tokoh sastrawan hikayat Aceh seperti Tgk.M.Amin, Tgk. Ibrahim Na’in, Drs. Arabi Ahmad dan Syech Min Cakra Donya merupakan orang-orang yang “pasang badan” untuk melestarikan ‘dendangan hikayat’ di persada Tanah Aceh. Tahun 1968 setiap malam Selasa, Tgk M.Amin selalu membaca Hikayat Aceh di Radio Republik Indonesia (RRI ) Banda Aceh. Sementara malam Jum’at bacaan Nazam rutin disenandungkan Tgk.Ibrahim Na’in. Selanjutnya, bacaan Nazam digantikan Drs. Araby Ahmad di RRI itu. Dalam tahun 1990-an, selama dua tahun Syech Min Cakra Donya mengelola acara baca hikayat di RRI Banda Aceh. Istilah ‘pasang badan’ yang saya sebutkan di atas, berarti mereka betul-betul berkorban demi lestarinya Hikayat Aceh, padahal honor yang diperoleh teramat kecil, nyaris tak cukup untuk biaya transportasi. Walaupun demikian, RRI Banda Aceh amat berjasa dalam memperkuat benteng terakhir hikayat ini.
Sementara itu, beberapa radio lokal Banda Aceh juga ikut berjuang melestarikan hikayat Aceh. Dalam hal ini, Radio Duta Kencana alias Radio “Geureubak Meuh”, Radio Meugah FM, Radio Rapa-i Aceh Lambaro, dan Radio Jati FM telah menaburkan jasanya. Seorang ‘wartawan’ Radio Jati FM, Peunayong asal Sunda pernah empat kali datang merekam bacaan hikayat Aceh ke rumah saya tahun 2007.
Selain lewat siaran RRI dan Radio lokal Banda Aceh, kegiatan yang dapat kita kategorikan sebagai benteng pertahanan terakhir pelestarian hikayat adalah aktivitas Syech Rih Krueng Raya dan Syech Mud Jeureula yang mengunjungi berbagai tempat Uroe Gantoe(Hari Pekan) di seluruh Aceh untuk membaca dan sekaligus menjual buku-buku hikayat. Dalam kesempatan membaca dan menjual hikayat di depan umum itu, Syech Rih Krueng Raya kadang-kadang juga menjual obat dan menyampaikan pesan-pesan pemerintah tentang pembangunan. Dalam kegiatan “berhikayat” kedua penyair Aceh terkenal tersebut, beberapa tahun diantaranya pernah ditemani Medya Hus sebagai tukang tijik taih(membantu  bawa tas). Kini Medya Hus aktif di AcehTV untuk mengasuh beberapa acara budaya Aceh, yaitu Cae Bak Jambo, Ratoh, Seumapa dan Meudike. Dalam acara Cae Bak Jambo dan Ratoh, seniman agung Aceh Medya Hus tak bosan-bosan menghimbau agar masyarakat Aceh(tuha-muda, agam-dara) mencintai kembali budaya Aceh.
Walaupun hasil penelitian FK Unsyiah telah menyimpulkan, bahwa tahun 1971 tradisi berhikayat sudah ‘sekarat’ di Aceh, namun di lapangan nampak masih meninggalkan sisa-sisa kebesaran masa lalunya. Misalnya, Teungku Ismail alias Cut ‘E masih tetap melantunkan Nazam Akhbarul Naim karya Teungku Di Cucum ke mana saja beliau diundang di kampung-kampung di Kabupaten Aceh Besar. Begitu pula dengan aktivitas H.Abdurrahman(Geusyik Raman) dari Lam Ceu(dekat Keude Lam Ateuk, Aceh Besar), beliau juga tetap masih diundang untuk membaca Akhbarul Naim di Aceh Besar dan wilayah Kota Banda Aceh.
Pihak para pengarang hikayat sendiri juga tidak mudah menyerah. Mereka masih tetap menulis hikayat, walaupun pamornya sudah amat merosot. Beberapa judul hikayat masih nampak di sejumlah toko buku di Banda Aceh, sedang di kota Sigli dan Bireuen tak terlintas lagi. Buku-buku hikayat Aceh adalah titipan para pengarang hikayat. Mereka tidaklah mungkin mengharap untung dari usaha penitipan itu, karena amat sedikit yang terjual. Masyarakat Aceh, terutama generasi muda telah merasa malu jika membeli buku hikayat, karena takut dicap teman-temannya ‘kuno’. Akibatnya, para pengarang hikayat selalu rugi, dan modal pun tak kembali.
Tunas baru
Hikayat adalah ‘darah gapah’(darah daging) orang Aceh tempo dulu. Setelah Kerajaan Belanda merasa tak sanggup mengalahkan Kerajaan Aceh Darusslam dengan seluruh kekuatan militernya, maka jalan yang ditempuh Belanda selanjutnya adalah ‘membedah Hikayat Aceh’. Lewat pikiran cerdas C. Snouck Hurgronje, beratus-ratus naskah hikayat, nazam dan tambeh(dua dan tiga terakhir terkait agama Islam) telah dikaji, disaring dan ditapis untuk dipilih saripatinya. Demi tujuan itu,  tentu Pemerintah Belanda telah menguras koceknya jutaan gulden. Dalam beberapa tahun saja, turunlah beberapa butir nasehat Snouck kepada Pemerintah Belanda, berupa “jalan pintas” untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh sampai tak mampu berkutik lagi. Sebanyak 98 judul dari naskah-naskah pilihan telah dimuat Snouck Hurgronje dalam bukunya De Atjeher jilid II(setelah diterjemahkan berjudul: “Aceh di Mata Kolonialis”, jilid II), sedangkan 600 judul lainnya, setelah Snouck pulang ke negerinya berada di tangan Dr.Hoesein Dajadiningrat di Batavia(Jakarta), kemudian beralih kepada Pustaka Pertamina(1994), Jakarta dan info terakhir menyatakan ratusan naskah hikayat itu berada di Pustaka Kraton “Radio Pustoko” kota Solo, Jawa Tengah.
Mengingat begitu pentingnya peran hikayat dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka lembaga- lembaga pemerintah yang terkait dengan kesejarahan, bahasa dan sastra Aceh selalu berupaya mengangkat kembali ‘batang terendam’ itu. Kadang-kadang lembaga itu mendanai kajian hikayat atau mengadakan lomba membaca dan menulis hikayat Aceh. Hanya karena lembaga tersebut selalunya mendapat anggaran sedikit dari Pemerintah Aceh atau Pemerintah Pusat(akibat DPRA-DPR Pusat sangat kurang peduli budaya bangsa!), maka kegiatan-kegiatan demikian kurang terekspose dan jarang diadakan.
Di antara lomba-lomba yang pernah berlangsung terkait hikayat adalah sebagai berikut:

1) Lomba Membaca Hikayat yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh pada hari Sabtu, 28 Agustus 1999. Lomba ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat Aceh dari Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum yang mewakili lembaga/wilayah masing-masing.

2) Lomba Penulisan Hikayat Aceh yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 22 Oktober 2002. Lomba ini hanya diikuti 22 peserta, yang kesemuanya laki-laki. Sebanyak 16 peserta diantaranya hanya mengkritik “tingkah laku orang perempuan” terkait Syari’at Islam di Aceh.

3) Lomba Membaca Hikayat Huruf Arab Jawi(Harah Jawoe) pada Museum Aceh, Banda Aceh tanggal 17 Desember 2003, yang diikuti enam orang peserta yang kesemuanya perempuan. Mereka tak berkesempatan mengkritik kaum laki-laki, karena naskah lomba disediakan panitia.

4) Lomba Membaca Hikayat Aceh dalam rangka acara Pekan Kebudayaan Aceh Ke 5 (PKA V) tanggal 3-4 Agustus 2009 di Taman Budaya, Banda Aceh. Peserta lomba ini mewakili kabupaten se- Aceh. Kegiatan ini tanpa dihadiri seorang penonton pun, selain peserta dan panitia. Inilah bukti, bahwa hikayat Aceh telah ‘mati’.

5) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh yang diadakan oleh Balai Bahasa, Banda Aceh pada 2 – 3 Juli 2013. Bahan lomba yang disediakan panitia berupa naskah huruf Jawoe atau huruf Arab Melayu. Pendaftaran peserta bersifat terbuka, tanpa pembatasan umur, jumlah peserta 45 orang.

6) Lomba Mengarang Hikayat yang dilaksanakan Stand Majelis Adat Aceh(MAA) Provinsi Aceh dalam kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh 6(PKA VI), bulan September 2013 di Banda Aceh.

7) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh yang diselenggarakan Balai Bahasa, Banda Aceh pada tanggal 11 – 12 Maret 2014. Minat calon peserta bagi lomba ini membludak, sehingga melampaui kebutuhan panitia yang membatasi 50 orang. Dalam lomba ini juga diuji kemahiran peserta membaca naskah Aceh dalam huruf Jawi alias Jawoe.
8) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh – kali ke 3 berturut-turut – yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Aceh pada 8 s.d. 9 Juni 2015. Calon peserta kali ini amat membludak, sehingga di luar kemampuan panitia yang menampung hanya  50 peserta. Umur peserta juga beragam, mulai remaja, orang muda dan lanjut usia. Pendidikan peserta sejak Dayah, MTsN, SMP, SMK, SMA, MAN dan mahasiswa. Para mahasiswa ini berasal dari beberapa Perguruan Tinggi, yaitu Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Ummuha, dan Abulyatama. Sungguh keikutsertaan generasi muda pada Lomba Membaca Naskah Lama Aceh di Balai Bahasa, Provinsi Aceh kali ketiga ini melambangkan puncak ‘kecintaan kembali’ generasi muda Aceh terhadap hikayat.
Bila lomba dalam huruf Arab Jawoe saja sudah cukup meriah, tentu jika lomba dalam aksara Latin pasti lebih membahana.
Perlu dipacu
Penyelenggaraan Lomba Baca Hikayat oleh BEM Unsyiah dalam rangkaian acara Unsyiah Fair X merupakan momentum penting dalam kesejarahan berhikayat di Tanah Aceh. Belum pernah selama ini, lomba baca hikayat berlangsung di komplek Gedung AAC Dayan Dawood yang megah itu. Peristiwa lomba inilah landasan awal tempat bergeraknya semangat hikayat Aceh untuk bangkit kembali di kalangan generasi muda Aceh.
Suasana lomba yang menguji ketrampilan peserta membaca cae yang berjudul “Rumboek Helsingke” karya Sulaiman A.Gani/Tgk. Diyueb Bruek ini amat sederhana. Jumlah peserta hanya 8(delapan) orang. Menurut saya, sedikitnya jumlah peserta lomba, akibat panitia membatasi usia peserta antara 15 – 25 tahun, padahal kebanyakan peminat hikayat yang masih ada, umur mereka rata-rata 25  tahun ke atas.Walaupun sepi dari gaung riuh-rendah celoteh para peserta seperti lomba di Balai Bahasa Provinsi Aceh hampir 5 bulan lalu, namun inilah acara lomba baca hikayat yang pertama dan utama diselenggarakan oleh generasi muda Aceh sendiri. Kata orang, bila generasi muda sudah bergerak, maka semua pihak akan teukeupak!(sontak). Mudah-mudahan ke depan semakin banyak BEM Universitas dan Perguruan Tinggi yang melaksanakan berbagai acara terkait hikayat, tambeh dan nazam Aceh. Dukungan penuh untuk mensupport kegiatan seperti ini kita harapkan dari berbagai pihak, agar tunas muda yang baru bergeliat itu tidak patah dan mati sebelum berbuah. Himbauan khusus kita tujukan kepada Lembaga Wali Nanggroe(LWN) agar sudi menyambut ‘semangat baru berhikayat Aceh’ ini dalam rangka memperkenalkan jati dirinya – hingga kini LWN belum dikenal secara luas- kepada masyarakat Aceh. Semoga!.

Iklan

Bangsa Melayu Baru!

Bangsa Melayu Baru, Berakar Nasional
dan Berakal Internasional
Oleh: Alfitra Salam

KEKHAWATIRAN terhadap masa depan ekonomi, sosial-budaya dan politik bangsa Melayu telah menimbulkan gagasan baru yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, tentang perlunya pembentukan bangsa Melayu Baru. Gagasan tersebut dikemukakan oleh Mahathir ketika Kongres UMNO pada 8 November 1991, yang antara lain mengatakan bahwa bangsa Melayu akan dapat merebut tempatnya yang sah, bukan saja sebagai peserta tetapi juga sebagai bangsa yang menentukan, dengan satu syarat: orang Melayu haruslah ditransformasikan menjadi bangsa “Melayu Baru”.
Konsep “Melayu Baru” ini melibatkan perubahan menyeluruh terhadap segala aspek budaya orang Melayu, yang didefinisikan sebagai bangsa yang berbudaya sesuai dengan aliran zaman, sanggup menghadapi segala tantangan, dapat bersaing tanpa bantuan, terpelajar dan berilmu, canggih, jujur, berdisiplin, amanah dan ulet.
Munculnya gagasan Melayu baru ini tentunya tidak lepas dari pengamatan Mahathir sendiri dalam melihat gejala yang berlaku dalam masyarakat Melayu belakangan ini. Mahathir sendiri pernah mengatakan bahwa masyarakat Melayu gagal menguasai keterampilan dalam manajemen perdagangan modern.
Kekecewaan ini dirasakan juga sehubungan dengan kebijaksanaan pemerintah yang menyerahkan proyek perdagangan yang dimiliki oleh pemerintah kepada golongan bukan Melayu demi untuk menyelamatkan proyek tersebut. Pandangan terhadap perubahan sosial dan pembaharuan di atas, sebenarnya bukanlah gagasan baru dalam sejarah sosial Malaysia. Beberapa pemikiran pada masa pemerintahan kolonial, seperti Abdullah Munsyi (pertengahan abad ke-19) dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah mengritik orang Melayu yang terkurung dengan tradisi, termasuk golongan atasan Melayu yang berfikir sempit dan sukar membuka pemikiran untuk menerima pembaharuan dari luar.
Syed Sheikh Al-Hadi (tahun 1920-an) pula menekankan pentingnya pembaharuan dilakukan ke atas pendidikan Islam ke arah menjadikan umat Islam dapat bersaing dalam biadng ekonomi. Begitu juga beberapa tokoh pemikir Malaysia terdahulu seperti Aminudin Baki, Za’ba yang mengritik budaya orang Melayu, yang kemerosotannya hingga kini dirasakan dalam kedangkalan budaya orang Melayu.

Kedangkalan budaya
Menarik untuk dikaji pemikiran dari seorang cendekiawan Malaysia yang cukup kritis, Rustam A.Sani dalam bukunya Melayu Baru dan Bangsa Malaysia,
yang mendakwa masyarakat Melayu Malaysia sekarang ini merupakan gabungan tiga unsur budaya dangkal. Pertama, unsur peradaban Barat yang agak dangkal. Peradaban seperti ini adalah orang Melayu yang menguasai bahasa Inggris, berpendidikan dan menguasai bidang profesi tertentu, tetapi pengusaan perdaban barat ini tidak melebihi hanya penguasaan “teknis” bidang yang dikuasai. Penguasaan bahasa Inggris hanya berfungsi sebagai perbendaharaan klise untuk bidang itu dan untuk pengucapan sehari-hari, bukannya pengucapan kreatif yang mendalam.
Kedua, unsur kebudayaan Melayu yang amat dangkal. Kedangkalan kedua ini adalah orang Melayu yang tipis kepekaannya akan budaya Melayu, sehingga dia mungkin tidak menguasai bahasanya sendiri, apalagi penggunaan bahasa itu untuk pengucapan yang kreatif dan canggih. Tradisi sastra, budaya dan sejarah dan pemikiran bangsa yang agak mendalam tidak dikuasai. Orang Melayu seperti ini justru memantapkan unsur-unsur feodalnya seperti kepekaannya terhadap struktur status dan sistem gelar yang amat rumit dalam budaya Melayu itu.
Ketiga, unsur Islam yang semata-mata bersifat ritus. Orang Melayu yang termasuk golongan ini adalah kelompok yang kurang menyadari sama sekali peradaban dan tradisi kecendikiwanan dalam pemikiran Islam., tetapi menekankan unsur amalan dan ibadah agama itu dalam kehidupannya. Bahkan “keislaman” seorang itu mungkin pula diukur semata-mata berdasarkan unsur ibadah yang nyata. Dakwaan seperti di atas dapat juga dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seperti yang terjadi pada tahun 1990 dimana sebuah universitas di Malaysia mengadakan diskusi mengenai buku Surat Setan
Karya Salman Rusdhi, yang mengundang tokoh terkenal dari partai Islam PAS. Setelah diskusi panjang lebar, ternyata tokoh dari PAS ini sama sekali belum membaca buku ysng dihebohksn tersebut., sehingga tokoh tersebut menjadi ejekan di kalangan mahasiswa yang hadir.
Kasus yang sama terjadi juga dalam sebuah universitas di mana sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi agar pementasan musik rock dibatalkan karena bertentangan dengan agama Islam. Setelah diadakan diskusi dengan pihak universitas ternyata kelompok mahasiswa yang menentang ini sama sekali tidak dapat menunjukkan alasan tepat yang masih melihat Islam dalam perspektif “pahala dan dosa”. Gambaran di atas seperti yang dikatakan oleh Rustam A.Sani bahwa pemikiran orang Melayu masih terbatas pada ajaran agama Islam yang penafsirannya terlalu kolot, beku dan tidak rasional.
Pemahaman Melayu Baru
Seperti halnya wawasan 2020, maka gagasan pembentukan Melayu Baru memperlihatkan pemikiran yang visionary dari seorang pemimpin atau suatu paradigma baru tentang model budaya masyarakat Melayu yang berorientasikan pada masa depan. Namun hingga kini gagasan pembentukan Melayu Baru ini masih belum dipahami secara mendalam. Pada umumnya masyarakat mempunyai persepsi bahwa gagasan Melayu baru itu digunakan sebagai alasan untuk melakukan sesuatu hal yang baru di kalangan orang Melayu, Bahkan yang selama ini sukar diterima dalam kerangka sistem nilai dan etos orang Melayu. Sedangkan kelompok oposisi mempersoalkan gagasan tersebut, karena menurut mereka konsep “Melayu Lama” tidaklah terlalu salah.
Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus Abdullah (Monograf Melayu Baru terbitan GAPENA,1993) persepsi masyarakat mempunyai pelbagai pandangan. Pertama, gagasan Melayu baru suatu ungkapan generasi muda Melayu yang berpendidikan dan mudah menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitarnya baik antara suku bangsa maupun di tingkat internasional.
Kedua, ungkapan Melayu baru sering dipergunakan terhadap suatu generasi yang terbuka pada perkembangan mutakhir di bidang politik, ekonomi dan sosial. Ketiga, Melayu baru juga merujuk kepada aspek buruk dan tidak baik dalam generasi baru Melayu, seperti sifat tamak loba, “mata duitan” tidak jujur dan tidak ikhlas.
Keempat, ungkapan Melayu baru ada kalanya diberikankepada suatu angkatan usahawan muda dan tokoh konglemerat Melayu yang terbentuk sebagai hasil Dasar Ekonomi Baru yang sekarang ini dikaitkan dengan pemebentukan suatu masyarakat perdagangan dan perindustrian bumiputra.
Dikalangan tokoh politik, seperti Menteri Besar Selangor, Muhammad Taib membayangkan (Bersambung ke hlm. 5 kol. 5-9)
Catatan: halaman sambungannya belum ditemukan!. Libur Uroe Raya ‘Idul Adha 1435 H hari ke 3, Selasa, 7 Oktober 2014 jam 10.48 pagi. Pengetikan ulang kolom lima artikel ini turut dibantu putri saya. TA

(Sumber: Harian Kompas, Senin, 21 November 1994 hlm. 4).

Menyibak Hubungan Persahabatan Aceh – Jepara

Menyibak Hubungan Persahabatan Aceh
Kerajaan Aceh tempo dulu telah mengadakan hubungan persahabatan dengan sesama kerajaan di kepulauan nusantara dengan tujuan perdamaian dan menggalang persatuan guna menghadapi musuh yang ingin menjajah bangsa Indonesia. Selain itu Aceh juga menjalin hubungan persahabatan juga ikut membina perdamaian dengan mancanegara atau dunia internasional, seperti yang tersimpul dalam rangkaian kata sempena yang melekat (inherent) pada kata Aceh Darussalam, kata HM Nur Rl Ibrahimy.
Dalam bukunya berjudul Selayang Pandang Langkah  Diplomasi Kerajaan Aceh ia menulis hubungan persahabatan kerjaan Aceh (bahkan telah membentuk persekutuan/aliansi militer) adalah dengan kerajaan Jepara di pulau Jawa.
Awal abad ke 16 katanya,  Jepara merupakan suatu kota pelabuhan yang berfungsi sebagai pintu gerbang komunikasi kerajaan Islam pertama di  Jawa yang berpusat di Demak.
Selain sebagai pusat perdagangan terbesar, Jepara juga merupakan pangkalan armada yang kemudian digunakan oleh Adipati Unus putra Raden Fatah untuk menyerang kekuasaan Portugis di Selat Malaka.  Jadi Jepara adalah  daerah paling  penting bagi kerajaan Islam Demak waktu itu, apalagi karena merupakan basis  angkatan laut kerajaan Demak cukup tangguh,  katanya..
Jepara waktu itu diperintah oleh seorang Ratu yang terkenal cantik bernama Ratu Kalinyamat. Suaminya Pangeran Hadiri, adalah seorang ulama berasal dari Aceh yang semula bernama Teungku Thayib. Setelah berada di Jawa ia mendapat panggilan Raden Thayib dan setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat. Thayib dianugerahkan gelar Pangeran Hadiri, tulis M Nur yang mantan anggota DPR RI periode 1950-1960 tersebut.
Menurut riwayat, Teungku Thayib bertolak dari Aceh untuk memperdalam pengetahuan keagamaan. Negeri pertama yang ditujunya adalah Tiongkok. Saat berada di negara itu Kaisar Tiongkok berkenan mengakui beliau sebagai anak angkatnya dan diberi kedudukan cukup tinggi. Tapi Teungku Thayib tidak menghiraukan kedudukan yang diberikan kaisar Tiongkok karena pengembaraan yang dilakukannya bukan untuk mencari pangkat dan kedudukan. Maka ia pun meneruskan perjalanannya ke Negara lain.
Dalam pengembaraannya itu ia sampai ke Jepara. Di Jepara ia menghadap dan menyatakan sekiranya ratu berkenan memberikan kesempatan ia akan mengabdi untuk menegakkan kalimah Allah dan turut serta dalam usaha memakmurkan dan mensejahterakan rakyat daerah itu. Ratu dengan senang hati menerima permohonan Raden Thayib, tulis M Nur El-Ibrahimy yang juga pengarang buku berjudul Catur Politik Imperialis (Inggris, Perancis, Italia dan Amerika) itu.

Suami istri
Pembawaannya yang lemah lembut, budi pekertinya yang tinggi sebagai cermin sikap seorang ulama yang saleh, bijaksana dalam menghadapi segala lapisan masyarakat sebagai menifestasi dari kepemimpinan yang mengayomi, membuat wanita agung itu tertarik kepadanya, Ratu Kalinyamat berkenan meminta Raden Thayib menjadi suaminya. Tawaran itu tidak ditolak sehingga ia dianugerahkani gelar Pangeran Hadiri. Putra Aceh itu akhirnya menjadi mitra Ratu Kalinyamat dalam mengayuh bahtera Kerajaan Jepara.
Cinta kasih Ratu kepada Pangeran Hadiri benar-benar tak terpisahkan semasa hidupnya selalu bersama dan bahkan makam mereka yang berada di belakang masjid Mantingan juga letaknya berdampingan, tulis M Nur.
Menurutnya, makam tesebut dibangun sendiri oleh Pangeran Hadiri tujuh kilometer dari kota Jepara. Sekarang setiap hari Senin dan Kamis pon banyak pengunjung datang berziarah ke makam mereka itu. Kerajaan Aceh waktu itu menilai posisi Jepara cukup kuat sebagai sebuah kerajaan Islam di Jawa dan mempunyai kedudukan strategis serta armada cukup tangguh. Karena itu, kerajaan Aceh berkeinginan menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan tersebut, bahkan ingin mengajak Jepara membentuk suatu persekutuan militer (alliance) untuk menghadapi musuh bersama, yaitu Portugis di perairan Selat Malaka.
Tahun 1568, sebuah perutusan kerajaan yang terdiri dari beberapa duta besar dikirim oleh Sultan Aceh untuk menemui Ratu Jepara, tetapi ketika kapal perang Aceh berada di perairan Selat Malaka, dicegat oleh armada Portugis yang berjumlah besar. Perutusan kerajaan Aceh ditawan dan semua yang berada di atas kapal dibunuh. Sehingga misi kunjungan muhibbah pertama sebagai upaya menjalin hubungan persahabatan gagal dicapai kedua  kerajaan berpengaruh di nusantara ini.
Akhirnya, pada  1573 Aceh- Jepara berhasil membentuk suatu persekutuan militer untuk menghadapi Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka dan seterusnya berkeinginan besar menguasai kepulauan nusantara. Sejak itulah, kedua kerajaan Islam. Aceh dan Jepara bahu membahu melawan Portugis di Selat Malaka,  kata HM. Nur El-Ibrahimy melukiskan hubungan kedua kerajaan yang bersatu menggalang kekuatan untuk mempertahankan kerajaan Islam di nusantara.

( Sumber: Serambi Indonesia, Minggu,  22 Februari 1998 halaman “Budaya” )

Sinabang, Selayang Pandang

*Lumbung cengkeh di Aceh yang kaya obyek wisata

                                Oleh: Djulaidy Kasim dan T.A. Sakti

Pantai di Sinabang

Pantai di Sinabang

Sinabang adalah sebuah kota kecil di pulau Simeulue, Kabupaten Aceh Barat, Daerah Istimewa Aceh. Pulau Simeulue terletak di sebelah barat pulau Sumatera bahagian utara, lebih kurang 150 mil sebelah selatan kota  Meulaboh dan 200 mil sebelah selatan kota Banda Aceh. Luas pulau Simeulue ini lebih kurang 150 km. persegi. Penduduknya  berjumlah sekitar 150.000 jiwa yang tersebar dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Smeulue Barat dengan ibukota Sibigo, kecamatan  Simeulue Tengah ibukotanya Kampung Air,  kecamatan Tepah Selatan  ibukotanya Labuhan Bajau, kecamatan Salang ibukotanya  Nasrehee, dan kecamatan Simeulue Timur ibukotanya Sinabang.

            Baca lebih lanjut

Teungku Ismail, 40 tahun Melestarikan Nazam Teungku Di Cucum

Tgk. Ismail

Malam Jum’at, 1 Syakban 1433 H bertepatan 21 Juni 2012 saya menumpang RBT/Ojeg menuju Mesjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjung Seulamat, Kecamatan Darussakam, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam. Tujuan saya adalah buat mendengar  Pembacaan Nadlam/Nazam Teungku Di Cucum yang dilantunkan Teungku (Tgk ) Ismail alias Cut ‘E.

Pembacaan malam Jum’at itu adalah malam ketiga dari  empat malam berturut-turut yang sudah  ‘diadatkan’ bagi pembacaan manuskrip abad 19 itu. Boleh dikatakan, pembacaan Nazam Tgk Di Cucum  sudah  ‘melegenda; di Kabupaten Aceh Besar. Paling kurang sudah tiga generasi yang melanjutkan pembacaannya. Menurut Bapak Hamzah Ismail, Kepala Dusun Cot Jambee, Gampong Tanjung Seulamat menuturkan bahwa generasi   pertama adalah  Geusyik Hasan Lam Ujong, kedua, Syekh Andid, dan  sekarang dilantunkan oleh Syekh Ismail/Cut ‘E.

Tempo dulu, banyak kesempatan yang dijadikan masyarakat sebagai saat pergelaran pembacaan nazam  itu;  seperti  buat menunaikan nazar/meukaoy, akan mengkhitankan anak, menyambut hari-hari besar Islam seperti munyambut bulan Ramadhan,  dan Israk Mikraj. Menjelang bulan Puasa tahun lalu, masyarakat Blang Krueng, Kecamatan Darussalam  mengadakan acara  serupa  empat malam berturut-turut bertempat di Bale Batok, gampong setempat.  Dua malam  sebelumnya, sebuah balai pengajian (Bale Seumeubeuet) turut pula menggelarnya dalam rangka penutupan pengajian sehubungan datangnya bulan Ramadhan. Acara yang berlangsung di Mesjid Babul  Maghfirah Tanjung Seulamat  kali ini dalam rangka menyambut Israk Mikraj Nabi Muhammad Saw serta buat memberkati  pelantikan Pengurus Baru Remaja Mesjid  Babul Maghfirah gampong itu.

Nazam Teungku Di Cucum  – yang berjudul asli  “Akhbarul Na’im”( Kabar Yang Nikmat)  adalah sebuah kitab syair agama yang ditulis   tahun  1269 H oleh Syekh Abdussamad yang bergelar Teungku Di Cucum. Kitab ini tertulis dalam  bentuk syair bahasa Aceh dengan huruf Arab Melayu atau aksara Jawi alias Jawoe.  Tebalnya lebih 160 halaman, karena itu perlu  waktu  4 malam buat membacanya dengan  hitungan 40 halaman setiap malam. Secara umum isi Nazam Tgk Di Cucum adalah nasehat bagi  Ummat Islam  sepanjang hayatnya, sejak dalam kandungan, lahir kedunia, usia  anak-anak, remaja, kawin-mawin, beranak-bercucu, berumur lanjut sampai meninggal dunia. Semua peringkat kehidupan itu dibumbui  dengan muatan lokal, berupa tradisi, adat-istiadat dalam bentuk ungkapan syair Aceh yang amat menarik. Begitulah  ringkasan isi  Nazam Teungku Di Cucum. Makam beliau pun di Gampong Cucum, sebuah desa yang terletak di pinggiran jalan antara Kedai Tungkop dengan Kedai Lam Ateuk, Aceh Besar.

Baca lebih lanjut

Mencermati Nasib Bahasa Indonesia yang dicabut akar tunjangnya!

Memurnikan Istilah bahasa Indonesia

Oleh: T.A Sakti

Bahasa Indonesia merupakan bahasa “terbesar” di kawasan AsiaTenggara. la dipakai oleh ratusan juta umat manusia. Dalam hal ini, bangsa Indonesia patut berbangga, karena kitalah yang memiliki bahasa Indonesia ini. Kebanggaan tersebut perlu kita tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Caranya, antara lain ialah dengan usaha mempertahankan keutuhan bahasa Indonesia dari “serangan dan ancaman” pihak musuh-musuhnya. Hanya dengan jalan itulah bahasa Indonesia dapat terpelihara kemurniannya.

Namun disadari atau tidak, ternyata bahasa Indonesia dewasa ini berada dalam “kemelut”. Kalau tidak membenahinya sejak sekarang, besar kemungkinan “penyakit” inilah yang akan menghancurkan keutuhan bahasa Indone­sia di suatu hari nanti. Yang penulis maksudkan dengan “penyakit” itu ialah: semakin banyak usaha-usaha untuk menyingkirkan kosakata baha­sa Indonesia di masa akhir-akhir ini.

Hampir setiap hari terjadi usaha penghancuran bahasa Indonesia, terutama dalam media massa. Kosakata bahasa Indonesia yang murni yang telah disingkirkan, lantas diganti dengan kosakata yang berasal dari bahasa daerah atau asing. Kalau pemasukan bahasa daerah, terutama dipelopori oleh para wartawan dan pengarang umumnya, maka “impor” bahasa/istilah asing ke dalam bahasa Indonesia didalangi oleh para ilmuan kita.

Nampaknya, para ilmuan kita lebih memandang hebat bahasa asing daripada bahasa sendiri. Ini terbukti dari sikap mereka: yaitu tidak hanya menggantikan kosakata bahasa Indonesia yang belum  ada padanannya dalam bahasa Indo­nesia, tetapi kosakata yang telah ada padanannya juga sering mereka ganti. Ditinjau dari sudut pemakaian bahasa saja, sudah nampak “kemunafikan” para ilmuan kita. Mereka saring berselogan: “Kami akan berbakti demi rakyat?”. Padahal sikap mereka dalam penggunaan bahasa, telah menciptakan suatu tembok pemisah antara para ilmuan dengan masyarakat awam, yang pada umumnya berpendidikan rendah itu.

 

Putus Kontak

Nggak Jelas Lagi ( kertas koran tersobek air tsunami Aceh, 26 – 12 – 2004)

…………”usaha mencerdaskan bangsa” bukanlah hanya lewat pendidikan formal. Segala jenis penerangan yang berasal dari terbagai pihak asal menuju ke arah usaha itu, dapat pula digolongkan sebagai usaha mencerdaskan bangsa.

Dalam hal Ini, jasa pihak media massa sungguh besar sekali. Tetapi sayang, penyajian dari media massa tidak sepenuhnya dapat diikuti oleh segenap lapisan masyarakat. Sebagian besar sajiannya setiap hari, hanya dapat dihayati masyarakat yang memangnya telah “cerdas” ; paling kurang berpendidikan SLTA ke atas.

Sedang bagi masyarakat yang berpendididkan lebih rendah dari itu, hanya bisa mengikuti dari “pinggir-pinggir” saja. Mengapa kesenjangan demikian sampai terjadi?.  Sebabnya adalah karena berbagai bentuk penyajian dalam media massa telah dijejali dengan Istilah-istilah “asing”, yang belum memasyarakat di kalangan masyarakat lapisan bawah,

Dengan perkataan lain dapat disimpulkan, bahwa media massa kita hanya ikut “mencerdaskan” warga negara yang telah “cerdas” saja. Sedang bagi warga negara yang kurang pendidikannya kurang manfaatnya, alias jauh panggang dari api.

Jika yang dibaca oleh rakyat biasa selembar surat kabar, memang masih ada “untung” nya. Sebab dalam penulisan beritanya, para wartawan sengaja menulis dengan bahasa Indonesia yang tidak terlalu “berat”. Tujuannya, agar dipahami segenap lapisan masya­rakat. Namun ungkapan “untung” tersebut nampaknya tidak selamanya membawa untung. Artinya, masih banyak hal selain berupa berita-berita, yang juga disajikan dalam koran, tetapi tak dapat diikuti oleh para pembaca lapisan bawah.

Artikel-artikel surat kabar yang sudah mendapat “cap ilmiah” atau ilmiah populer, pasti sukar dimengerti masya­rakat umum. Hal ini terjadi, karena para kolumnis yang bertitel profesor, doktor, atau sarjana umumnya; sudah memadati karangannya dengan istilah-istilah bahasa asing.

 

 

 

Nggaak Jelas Lagi ( sda )

………..jarang sekali rakyat lapisan ‘bawah’ yang mau membaca artikel-artikel dari para kolumnis di negara kita. Padahal golongan yang rendah pendididikan inilah mayoritas rakyat di negara kita.

Mana mungkin seorang pedagang sayur misalnya, mau membaca koran (biar surat kabar pinjaman, umpamanya) bila terpaksa harus membeli kamus untuk dapat memahaminya. Akibatnya, semakin lama perbedaan pengetahuan antara lapisan masyarakat semakin jauh berbeda. Yang elit terus melejit, yang rendah semakin terjepit

Keterbukaan

Masalah lainnya yang sema­kin besar pula “bahaya”nya adalah kesukaan memasukkan bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Yang sangat mengherankan, bukan hanya untuk istilah-istilah yang tidak ada padanannya yang diganti dengan bahasa daerah. Kosakata bahasa Indonesia yang sudah lazim pun masih dengan “paksaan” diganti secara semena-mena dengan bahasa daerah.

Perbuatan menggantikan kata demi kata bahasa Indone­sia dengan bahasa daerah, tanpa alasan yang cocok atau pantas, adalah termasuk suatu pemerkosaan bahasa Indone­sia, yang telah kita akui sebagai Bahasa Nasional itu.

Bila keadaan sebagai sekarang terus berlangsung, alangkah kacaunya tata bahasa Indonesia di masa-masa mendatang. Betapa tidak, bukankah Jumlah bahasa daerah di Indo­nesia banyak sekali? Yang berarti akan mewujudkan jenis bahasa Indonesia ratusan ragam pula. Pemecahan masalah-masalah tersebut di atas sudah sepantasnya diperhatikan para ahli bahasa, didiskusikan, diseminarkan atau dijadikan topik pembahasan dalam Kongres-kongres Bahasa Indonesia yang mungkin diadakan di masa-masa akan datang. Sebab gejala “mendewakan” istilah asing dan bahasa daerah yang dipaksakan masuk ke dalam Bahasa Indonesia sudah sangat kentara. Kerelaan dan keterbukaan kita ………………..

 

( Sumber:  Serambi Indonesia, Jum’at, 30 Oktober 1992)

 

Mendambakan Gubernur Aceh yang Meliburkan Sekolah di Bulan Puasa

  Mendambakan Gubernur Aceh  yang Meliburkan Sekolah di Bulan Puasa

                                  Oleh: T.A. Sakti

      Surat Keputusan ( SK )  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( P & K )    Dr. Daoed Joesoef  no. 0211/U/1978 yang tidak meliburkan sekolah selama bulan puasa  tetap masih berlaku hingga sekarang.  Penetrapan peraturan ini sempat menimbulkan polemik  panjang saat itu; bahkan hingga hari ini.   Sebab   sebelumnya, selama  bulan puasa semua sekolah diliburkan sebulan penuh. Alasan dikeluarkannya  peraturan baru itu adalah untuk mengejar ketertinggalan dan mempertinggi  mutu pendidikan di Indonesia dalam rangka  menyongsong era abad ke 21. Sayangnya, apa yang diinginkan Dr. Daoed Joesoef itu sampai hari ini masih sebatas “ mimpi”. Yakni mutu pendidikan di negara kita Indonesia,  masih pada urutan ke seratus lebih dari duaratus lebih negara di dunia.

     Dalam  penjelasan Dr. Daoed Joesoef  saat   mengunjungi  Sumatera Barat  kala  itu   mengatakan: “Sekolah akan diliburkan 10 hari selama bulan puasa, yaitu 3 hari pada permulaan puasa “untuk memungkinkan yang masih hidup menabur bunga sambil berziarah ke makam sanak keluarga” dan 7 hari di sekitar  hari raya Idulfitri untuk memungkinkan merayakan lebaran di lingkungan keluarga yang selama ini terpisah karena aktifitas perantauan” (Tempo, 2 Juni 1979).

     Peraturan Menteri(Permen) itulah yang berlaku di seluruh Indonesia hingga sekarang, termasuk di Aceh.

Dalam bulan  puasa kali  ini, kita dapat menyaksikan sekolah-sekolah di Banda Aceh ada yang mulai aktif pada hari Kamis, 4 Agustus 2011 setelah melewati tiga hari awal puasa  seperti yang ‘diliburkan’ dalam  SK Menteri Daoed Joesoef itu.

       Padahal dalam instruksi bersama antara Kepala Kanwil Kementerian Agama( Kakanwil Kemenag) Aceh dengan  Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh tanggal  22 Juli 2011 keputusannya bukanlah demikian.

      Dalam instruksi bersama itu disebutkan:” Sekolah umum dan sekolah agama di Aceh hanya libur pada minggu pertama bulan Ramadhan ( 1 – 7 Agustus 2011 ). Sedangkan pada tanggal 8 – 20 Agustus, sekolah aktif kembali seperti biasa, namun jam belajarnya dipersingkat, hanya sekitar empat jam/hari (Baca: Serambi Indonesia, “8 – 20 Agustus Sekolah Tak Libur”, Kamis, 28 Juli 2011, halaman 1).

     Ternyata dalam pelaksanaannya tidak mulus . Yakni  sekolah umum sudah mulai aktif pada hari ke empat puasa. Boleh jadi hanya sekolah agama yang melaksanakan instruksi bersama itu, yaitu sekolah mulai aktif pada tanggal 8 Agustus.  Dalam hal ini nampaklah ketidak seragaman, yakni sekolah umum lebih memilih melaksanakan Peraturan Menteri (Permen) yang berasal dari Menteri P & K Dr. Daoed Yoesoef itu. Mengenai kepatuhan terhadap  “peraturan” yang dua macam itu, pihak sekolah tentu memilih yang paling  besar  resikonya.

     Dalam hal ini, sebagai seorang warganegara yang menjunjung tinggi   demokrasi, antara lain    hak berpendapat, saya mengusulkan agar “sekolah libur penuh  di bulan puasa” diwujudkan kembali; khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam.  Dengan berpijak kepada Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA), rasanya mustahil gagasan itu tak bisa dilaksanakan, asal warga Aceh kompak memperjuangkannya. Saluran  kekompakan paling ampuh yang ‘mudah dan menentukan” yang dapat ditunjukkan warga Aceh adalah dalam Pemilukada.

    Karena itu, ke depan   Aceh   membutuhkan hadirnya seorang pemimpin yang mampu mengemban berbagai hak istimewa yang dikandung UUPA. Pemimpin dimaksud adalah seorang Gubernur Aceh yang  terpilih dalam Pemilukada nanti. Salah satu yang harus diwujudkan oleh sang Gubernur adalah sekolah libur penuh selama bulan puasa. Karena itu sejak dalam kampanye  calon Gubernur Aceh itu diharapkan telah berjanji kepada calon pemilihnya, bahwa ia akan – berusaha – meliburkan sekolah di bulan Ramadhan jika ia terpilih nanti.

        Memang benar, kalau dipikir secara matang, buat apa sekolah aktif di bulan puasa, kalau murid dan guru mereka beraktifitas setengah hati. Saya yakin, kalau satu “jajak  pendapat” diadakan terhadap para murid dan guru di Aceh,  pendapat yang menginginkan sekolah diliburkan penuh di bulan puasa;  pasti suaranya lebih dominan.

          Dulu di Aceh ada burung  Got-got, yang menurut legenda masyarakat  punya perilaku aneh. Kelakuannya dicibir anak-anak dengan lagu sindiran. “Got-got panyang iku/Geulungku panyang mata/Nyang tabri han jipajoh/Nyang tatroh dijak mita. Maksudnya, burung itu sungguh aneh, yaitu membiarkan apa yang sudah dapat, dan sibuk mencari yang lain lagi.

         Menurut saya, beginilah masyarakat kita sekarang.   Sebenarnya, rakyat Aceh harus bersyukur, bahwa apa yang pernah diharapkan dulu telah ada hasilnya. Yaitu apa yang terkandung dalam UUPA.  Namun, ternyata  segala rahmat itu diterlantarkan hingga hari  ini.

Dalam pemikiran saya yang awam, semua keteledoran  itu terjadi karena Aceh belum memiliki pemimpin yang benar-benar  mempersembahkan  darma baktinya demi pembangunan dan kesejahteraan rakyat Aceh.  Libur penuh di bulan puasa juga suatu kebutuhan terpenting bagi masyarakat Aceh..

       Sebagai seorang  yang pernah mengalami  dua periode waktu, yakni ketika sekolah  libur penuh selama bulan puasa dan sebaliknya, tentu alakadarnya saya memahami untung-ruginya dari kedua jenis  peraturan pemerintah itu. Orang tua di Aceh tempo dulu, paling kurang punya dua program menjelang puasa terhadap anaknya. Pertama, akan mengantar putra-putrinya ke tempat pengajian yang lebih formal. Kedua, akan melaksanakan sunat rasul  atau “khitan” buat anak laki-lakinya. Rencana orangtua  dibuat demikian, karena selama bulan puasa semua sekolah diliburkan penuh.

       Saya sendiri mengalami kedua hal itu dalam tahun 60-an. Atas kesepakatan beberapa orangtua, kami   enam orang  anak setingkat kelas 3 – 5  SD/SRI diantar ke tempat beuet( pengajian) yang jaraknya lebih 4 km dari kampung sendiri. Setelah diantar (geujak intat beuet) pada hari pertama, kami pun sudah menjadi aneukmiet beuet (murid pengajian) di Meunasah itu.  Begitulah, dengan melingkar kain sarung di leher kami berenam dari Bucue   setiap pagi pergi melintasi persawahan Blang Beutong  serta gampong Beutong Pocut dan Leupeuem ( di Kecamatan Sakti, Pidie) menuju tempat pengajian di Meunasah Me, gampong Jeumpa. Di tempat pengajian itu juga hadir anak-anak dari berbagai kampung di sekitar kampong Jeumpa.

 Begitu pula dengan khitan ( bahasa aceh: geupeusunat)  atau sunat rasul.  Jauh sebelum datang bulan puasa, persiapan untuk acara khitan sudah dimulai. Bagi keluarga mampu, biasanya melangsungkan kenduri khitanan  anak ( khanduripeusunat aneuk). Setelah itu dibuat pula acara tepung tawar (peusijuek/peusunteng). Kemudian,  para orangtua yang punya hajat mengkhitankan anaknya berembug dulu menentukan ‘hari baik’dan rumah tempat acara khitan. Rumah  yang dipilih biasanya  rumah dari keluarga berada atau tokoh masyarakat.  Bila hari H tiba, datanglah Teungku Mudem(tukang sunat)  untuk mengkhitankan anak-anak dari beberapa keluarga itu, yang kadangkala datang dari kampong yang berbeda.

     Begitulah, dengan diterapkannya tidak libur sekolah di bulan puasa; paling kurang dua adat atau  tradisi Aceh telah digilas oleh peraturan itu. Sekarang, para orangtua tidak biasa lagi mengantarkan anaknya ke pengajian pada bulan puasa, karena sekolah anaknya tak libur penuh lagi. Begitu pula, tradisi khitan pun sudah jarang diadakan pada awal puasa dalam masyarakat Aceh.

  Bila dirujuk kepada Undang-Undang  No.4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, penetrapan Peraturan Menteri (Permen) Daoed Joesoef itu sebenarnya telah melanggar UU no. 4 Tahun 1950, karena saat itu UU tersebut belum dicabut. Dalam aturan kenegaraan kita, Undang-undang lebih tinggi statusnya dibandingkan Peraturan Menteri(Permen).

         Mengenai ‘libur sekolah, dalam  UU no. 4 Tahun 1950 disebutkan:  libur sekolah bagi sekolah-sekolah negeri ditetapkan “mengingat kepentingan pendidikan,  faktor musim, kepentingan agama dan hari-hari raya kebangsaan”. Dalam hal  pemberlakuan  SK no. 0211/U/1978 Menteri P & K  Dr. Daoed Joesoef itu, paling kurang telah melanggar dua kepentingan, yakni kepentingan pendidikan dan kepentingan agama. Dalam hal ini berarti Permen itu batal demi hukum. Namun, karena negara Indonesia saat itu  berada dalam kekuasaan totaliter, maka aturan hukum resmi pun digilasnya!.

                                                                                                                 T.A. Sakti

                                                                                                             Banda Aceh

*Penulis,  pengamat budaya Aceh, tinggal di Banda Aceh.

** Saya tidak   keberatan, apakah tulisan ini dijadikan artikel atau rubrik “Droe Keudroe”!.