Profil: Drs. Teuku Abdullah,SH,.MA alias T.A. Sakti

Profil: Drs. Teuku Abdullah,SH,.MA alias T.A. Sakti untuk Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Sebagai bahan nomine anugerah tokoh bahasa dan sastra tahun 2018

 

Biodata

Nama lengkap : Drs. Teuku Abdullah, SH., MA
Nama pena : T.A. Sakti
Tempat/tanggal lahir : Pidie, 13 September 1954
Pekerjaan : Dosen tetap FKIP Unsyiah, Banda Aceh
Pangkat/Golongan : Lektor Kepala/IV b
Alamat :
No. HP :
Email :

Hobi : Membaca dan menulis, terutama bidang sejarah dan budaya

Pendidikan
Pendidikan agama saya tempuh di rumah sendiri, Gampong Jeumpa dan Riweuek, Kecamatan Sakti. Terakhir, saya belajar ilmu agama Islam di Dayah Titeue Meunasah Cut, Kecamatan Titeue, Pidie, di bawah asuhan Teungku Muhammad Syekh Lammeulo.
Pendidikan Umum yang saya tempuh adalah SD Lameue, SMI Kota Bakti, SMP Negeri Beureunuen, SMA Negeri Sigli. Pernah kuliah sampai Tingkat Sarjana Muda I di Fakultas Pertanian Unsyiah (1975 – 1976); sebelum pindah ke Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (FHPM) Unsyiah, Banda Aceh (1977). Setelah menyelesaikan kuliah Tingkat Sarjana Muda Hukum (Sm.Hk); dan malah hanya tinggal dua mata kuliah lagi – Filsafat Hukum serta Filsafat Agama (1982)-; kemudian melanjutkan ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta atas bantuan beasiswa Lembaga Kerjasama Indonsia-Belanda/LIPI-Jakarta.Sewaktu pulang bersama/berkonvoi ke kampus UGM setelah menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata(KKN) di desa Guli, kecamatan Nogosari, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah itulah ia ditabrak bis Colt barang/tivi. Tahun 1999 meneruskan kuliah di Program Ekstensi Fakultas Hukum Unsyiah, walaupun mesti dibantu/ dipapah orang lain – dalam satu semester mengambil 2-3 mata kuliah dan 5 semester non aktif akibat sakit serta tsunami -sehingga sidang sarjana 12 Desember 2007. September 2013 melanjutkan kuliah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh dalam konsentrasi Sejarah dan Tamaddun Islam. Kajian tesis terhadap Hikayat Malem Dagang. Wisuda pada 21 Maret 2016, Alhamdulillah!.

Selama menjadi mahasiswa FHPM Unsyiah, pernah menulis di beberapa media massa yang terbit di Banda Aceh dan Medan, Sumatera Utara seperti “ Buletin Peunawa” terbitan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah, “Buletin KERN”, milik Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Unsyiah, Majalah “Gema Ar-Raniry” Media IAIN Ar-Raniry (Banda Aceh), Majalah “Santunan” terbitan Kanwil Depag, Aceh, Suratkabar “Peristiwa” (Banda Aceh) dan suratkabar “Waspada” ( Medan).
Kemudian, setelah menjadi mahasiswa UGM Yogyakarta, mulai menulis di suratkabar lingkup nasional seperti “Merdeka”, “Pelita”, “Suara Karya”, yang ketiganya terbit di Jakarta serta “Kedaulatan Rakyat” (Yogyakarta). Ketika menjadi staf pengajar di Unsyiah, pernah menulis di Harian “Serambi Indonesia” , “Harian Rakyat Aceh“, “Harian Aceh“( ketiganya terbit di Banda Aceh), Buletin “CAKRA” terbitan Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himas) FKIP Unsyiah, Majalah “Sinar Darussalam” Media Kampus Darussalam, Banda Aceh, Majalah “Panca” milik Kanwil Transmigrasi Aceh, Majalah “Puan” terbitan Lembaga BP-7 Aceh, Majalah “WARTA UNSYIAH” dan Buletin “CENDEKIA” keluaran Dinas Pendikan NAD. Hampir semua tulisannya terkait budaya dan sastra Aceh.

.

Kepenulisan

Sejak tahun 1992 telah memfokuskan diri di bidang sastra, khususnya Hikayat Aceh. Sehubungan dengan kegiatan itu, hingga tahun 2009 telah 32 judul Hikayat/Tambeh/Nadham Aceh telah selesai dialihkan hurufnya dari huruf Jawoe- Jawi/Arab Melayu ke aksara Latin. Tiga judul hikayatberjiwa/nuansa Lingkungan Hidup telah diterbitkannya, yaitu : 1. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, (1999). 2. Wajeb Tasayang Binatang Langka (2001). 3. Binatang Ubit Kadit Lam Donya (2001). Tahun 2003, ketiga judul buku saku itu digabungkan dan diterbitkan kembali oleh Dinas Kebudayaan NAD dengan judul “Lingkongan Udep Wajeb Tajaga”. Setelah diedit kembali, “hikayat binatang” ini tahun 2009/2010 pernah dibaca berkali-kali di ACEHTV Banda Aceh dalam acara “Ca-e Bak Jambo” pukul 20.00 s/d 22.00 Wib. pada setiap malam minggu yang disenandungkan Medya Hus.
Beberapa kajian baik sendiri maupun bersama teman yang sudah diterbitkan ialah: 1. Nadham Akhbarul Hakim (M. Nasir), 2. Hikayat Muda Balia (M.Nasir), 3, Tambeh Tujoh, ketiga buku itu diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh , masing-masing tahun 1997, 2006, 2007. Selain itu sembilan judul hikayat telah diterbitkannya. Hikayat-hikayat itu ialah : 1. Hikayat Akhbarul Karim, 2. Hikayat Aulia Tujoh, 3. Hikayat Nabi Meucuko, 4. Nadham Akhbarul Hakim, 5. Hikayat Meudeuhak, 6. Hikayat Tajussalatin, 7. Hikayat Banta Keumari, 8. Tambeh Tujoh Blah dan 9. Hikayat Nabi Yusuf

Karya Tulis Hikayat yang telah Diterbitkan dalam bentuk buku saku
1. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga
2. Nadham Akhbarul Hakim (bersama M. Nasir)
3. Hikayat Muda Balia (bersama M.Nasir)
4. Tambeh Tujoh
5. Hikayat Akhbarul Karim
6. Hikayat Aulia Tujoh
7. Hikayat Nabi Meucuko
8. Nadham Akhbarul Hakim
9. Hikayat Meudeuhak
10. Hikayat Tajussalatin
11. Hikayat Banta Keumari
12. Tambeh Tujoh Blah
13. Hikayat Nabi Yusuf

Publikasi Buku:
1. Qanun Meukuta Alam – Dalam Syarah Tadhkirah Tabaqat Tgk. Di Mulek dan Komentarnya, dialihaksarakan dari Arab-Melayu ke Latin oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, Syiah Kuala University Press, 2010.
2. Kitab Al-Rahmah Fi Al-Tibb Wa’l-Hikmah – Teori penyakitdan tindakan medis dari zaman Yunani Kuno sampai Kerajaan Aceh Darussalam Tgk. Chik Kuta Karang, dialihaksarakan oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, 2013.
3. Kitaburrahmah – Teori penyakit dan tindakan medis karangan Tgk.Chik Kuta Karang, disalin kembali dan dialihakarakan oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, Syiah Kuala University Press, 2014.
4. Qawa’idu’l Islam, dialihaksarakan oleh Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti, U.D. Selamat Sejahtera, 2004.
5. Hikayat Muda Balia – Pengungkapan dan pengkajian latar belakang isi manuskrip, oleh T.A. Sakti dan M.Nasir, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2006.
6. Hikayat Akhbarul Karim, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti dan Ramli A.Dally, Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2002.
7. Historiografi Lokal di Aceh – Studi terhadap Hikayat Malem Dagang, Oleh T.A. Sakti, Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, 2016.
8. Nazam Aceh, dialihaksarakan T.A. Sakti dan T.Idham Khalid, Seumpeuna 33 Tahun Menempuh Ujian Kehidupan, 2017.
9. Tokoh Penulis Hikayat dalam halaman 112 buku Kearifan lokal dalam Hikayat Meudeuhak dan Hikayat lainnya Oleh L.K. Ara, Yayasan Mata Air Jernih & Dinas kebudayaan dan Pariwisata Nanggroe Aceh Darussalam, 2008.
10. Hikayat Teungku di Meukek, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2012.
11. Hikayat Nabi Yusuf, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2009.
12. Hikayat Ranto – Kisah Perantauan Masyarakat Pidie ke Pantai Barat-Selatan Aceh, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2011.
13. Lingkungan Udep Wajeb Tajaga, oleh T.A. Sakti, Dinas kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2003.
14. Nazam Mikrajus Shalat, dialihaksarakan oleh T.A. Sakti, 2014.

Publikasi Jurnal antara lain:
Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang, Al- Imam, Volue , 25-39, 2085-5672 (2015). Suatu ringkasan Tesis saya.

Peran Islam di Negara-Negara Asia Tenggara, Al- Imam, Volum , 73-88, 2085-5672 (2014)

Pemikiran Islam H. Agussalim Tentang Nasionalisme, Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, Al- Imam, Volum , 16-29, 2085-5672 (2014)

Peran Surat Kabar Semangat Merdeka Dalam Masa Perang Kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh, Al- Imam, Volume , 1-18, 2085-5672(2013).

Bahasa Melayu Pasai, Akar Tunjangnya Bahasa Nasional Indonesia, Al- Imam, Volume, 120-130, 2085-5672(2012).
Perkembangan dan Pelestarian Manuskrip Arab Melayu di Aceh, Citra Lekha, Volume , 19-30, 1410-4938 (2011)
Jejak Perjuangan Panglima Besar Reteh Teungku Sulung ( Sebagai Panglima dan Panglima Besar), Tantular, No.4 T, 168-178, 1683-7058 (2007).

Dewan Juri dan Sertifikat:

1. Tahun 1999, menjadi anggota Dewan Juri Lomba Membaca Hikayat Aceh, yang diadakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Banda Aceh, dalam rangka “Gebyar Budaya Aceh ke II”.
2. Tanggal 22 Oktober 2002, menjadi anggota Dewan Juri Lomba Mencipta/Mengarang Hikayat Aceh, yang diadakan Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
3. Juri I Lomba Membaca Naskah Lama Aceh, tanggal 11 – 12 Maret 2014 di Banda Aceh diselenggarakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh.
4. Juri dalam kegiatan Lomba Membaca Naskah Lama, tanggal 26-27 Juli 2017 di Banda Aceh diselenggarakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh.
5. Juri Dalam Kegiatan Lomba Membaca Naskah Lama Aceh, tanggal 8-9 Juni 2015 di Banda Aceh diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh.
6. Pembahas/narasumber pada kegiatan Seminar Hasil Perekaman/Dokumentasi Sastra Lisan Aceh Balai bahasa Provinsi Aceh pada hari Jum’at, tanggal 8 Januari 2016 di Banda Aceh.
7. Juri Lomba Membaca Naskah Lama dalam kegiatan Pekan Bahasa dan Sastra, tanggal 25 Juli s.d 10 Agustus 2016 diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Aceh.
8. Juri dalam kegiatan Lomba Membaca Naskah Lama, tanggal 2 s.d. 3 Juli 2013 di Banda Aceh diselenggarakan Balai Bahasa Banda Aceh.
9. Juri Pada Acara Lomba Hikayat Dalam Rangkaian Acara Unsyiah Fair X dengan Tema “ Satu Dekade Berkarya, Dari Aceh untuk Indonesia’’ Diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Syiah Kuala AAC Dayan Dawod, 18-23 Oktober 2015.
10. Piagam Pemuliaan Atas Kesertaan Dalam Diskusi Terfokus “Hikayat Sebagai Mitigasi Kreatif”, tanggal 11 Januari 2016 diselengarakan oleh Sekolah Menulis Dokarim Banda Aceh.
11. Piagam Kemuliaan sebagai Narasumber Dalam Seminar Naskah “Hikayat Mitigasi Kreatif”, tanggal 3 Februari 2016 diselengarakan oleh Sekolah Menulis Dokarim Banda Aceh.
12. Sertifikat peserta Kuliah Umum oleh Ketua MPR-RI DR. (H.C) Zulkifli Hasan SE.,MM. Dalam rangka Milad Universitas Syiah Kuala ke-55 tahun 2016 diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
13. Peserta dalam Deseminasi Program Pengayaan Kosa Kata di Banda Aceh,tanggal 30 Maret 2016 diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan dan Perlindungan, Badan pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, tanggal 30 Maret 2016.
14. Peserta Seminar Internasional Dunia Melayu Dunia Islam tanggal 5 Desember 2016 di Banda Aceh.

Penghargaan :
1. Sebagai Pengarang, Berprestasi Unggulan Peraih KEHATI Award 2001 dari Yayasan KEHATI (Keanekaragaman Hayati Indonesia), Jakarta tanggal 7 Maret 2001. Yayasan ini dipimpin Prof.Dr. Emil Salim mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI.
2. Sebagai Sastrawan; Memperoleh Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah RI tanggal 14 Agustus 2003. Anugerah Bintang Budaya ini disematkan Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Jakarta.
3. Mendapatkan Penghargaan sebagai “Penulis Karya Terbaik Sastra Aceh 2003” dari Dinas Kebudayaan NAD, tanggal 29 September 2003.
4. Menerima Anugerah Budaya “TAJUL ALAM” dalam rangka Pekan Kebudayaan Aceh Ke 5 (PKA V) dari Pemerintah Aceh yang diserahkan oleh Wakil Gubernur NAD Muhammad Nazar, S.Ag di Anjong Mon Mata, Banda Aceh pada malam Selasa tanggal 10 Agustus 2009.

Hikayat Hasil Alih Aksara Dimuat Bersambung dalam Serambi Indonesia:
Kegiatan menyalin hikayat Aceh ke huruf Latin memang sudah sejak tahun 1992 saya lakoni. Hal ini terkait Harian Serambi Indonesia yang saat itu sedang memuat Hikayat Aceh setiap hari secara bersambung. Pemuatan hikayat oleh koran itu berlangsung pada awal 1992 sampai akhir tahun 1994. Dari 12 judul hikayat yang sempat dimuat koran itu, tujuh (7) judul diantaranya adalah hasil alih aksara saya. Ketujuh hikayat Aceh itu ialah: (1) Hikayat Meudeuhak; (2) Hikayat Nasruwan Ade, (3) Hikayat Abunawah, (4) Hikayat Banta Keumari(5) Hikayat Aulia Tujoh, (6) Hikayat Tajussalatin, dan (7) Hikayat Zulkarnaini.
Bila dihitung jumlah hari pemuatannya, berarti hampir seribu hari/tiga tahun lebih Harian Serambi Indonesia telah memuat hasil kegiatan alih aksara hikayat yang saya kerjakan. Walaupun ditahun 1995 hikayat tidak dimuat lagi dalam koran, namun karena sudah mencintai/ketagihan; saya terus melanjutkan kerja alih aksara hikayat dari satu judul ke judul lainnya.

Judul-judul dan Isi Ringkas Naskah
Judul-judul dan ringkasan isi dari Hikayat-Nadham-Tambeh dan naskah Jawoe yang telah saya salin dari Arab Melayu/Jawoe ke huruf Latin dari tahun 1992 sampai 2009 sebagai berikut : (1) Hikayat Meudeuhak : Keberhasilan seseorang pemimpin/Raja turut ditentukan oleh para penasihatnya namun sang pemimpin perlu selalu menguji kesetiaan mereka (434 halaman) ,(2) Hikayat Banta Keumari: Sikap saling membantu dalam perjuangan hidup akan menghasilkan kebahagiaan bersama (650 halaman), (3) Hikayat Tajussalatin: Tajussalatin = mahkota raja-raja. Membicarakan sejumlah pedoman bagi para pemimpin. Ditulis pertama dalam bentuk prosa, bahasa Melayu oleh Bukhari Al Juhari tahun 1603 M. Tahun 1937 atas anjuran Uleebalang Keumangan,Pidie disusun ke bentuk Hikayat Aceh (420 halaman), (4) Hikayat Aulia Tujoh: Mengisahkan tentang tujuh orang pemuda yang melawan seorang penguasa yang zalim. Begitu angkuhnya raja ini sampai-sampai mengakui dirinya sebagai Tuhan (54 halaman), (5) Hikayat Kisason Hiyawan: Kisason Hiyawan merupakan kisah sejumlah hewan/binatang. Kehidupan ini penuh dengan teka-teki, tipu muslihat dan saling bersaing. Oleh karena itu perlu hati-hati dan waspada dalam setiap tindakan. Di beberapa tempat di Aceh, naskah ini diberi nama Hikayat Nasruwan Ade Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (176 halaman),
(6) Hikayat Gomtala Syah: Kisah monyet raksasa yang berasal dari manusia. Intinya menceritakan kesetiaan sang monyet membela kepentingan pamannya. Hikayat ini bernuansa lingkungan hidup (548 halaman), (7) Hikayat Keumala Indra: Keberhasilan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, akan memperlancar kehidupan. Tokoh ceritanya berasal dari Turki (594 halaman), (8)Hikayat Nabi Yusuf: Penderitaan yang disertai kesabaran-ketabhan, akan mewujudkan kemenangan. Sementara kedengkian dan iri hati akan menerima rugi dan kekalahan. Naskahnya sudah cukup tua yang berasal dari kecamatan Titeue, Pidie (281 halaman), (9) Hikayat Abu Nawah: Setiap pemimpin /raja harus tahan menerima kritik. Kritikan itu perlu dikemas dalam dua bentuk, yaitu bentuk halus dan tajam/keras (301 halaman), (10) Hikayat Zulkarnaini: Kisah Iskandar Zulkainaini dan Nabi Khaidir/Hidhir ini menyebut asal usul nama Aceh dengan sebutan Pulo Ruja( bekas kain serban Sultan Iskandar Zulkarnani). Dan setiap kedengkian akan menerima balasan Tuhan (226 halaman),
(11) Hikayat Akhbarul Karim: Menjelaskan mengenai Ilmu Fiqh, Tasawuf dan Ilmu Tauhid. Hikayat ini juga mengandung nasihat-nasehat agar umat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah. Pengarang Hikayat Akhbarul Karim digelar Teungku Seumatang. Tapi masih diperdebatkan apakah beliau asal Geudong-Aceh Utara atau dari Busu dan Gampong Cot,Pidie(139 halaman), (12) Nadham Akhbarul Hakim: Berisi nasihat dan kritikan tajam terhadap ummat Islam dalam segala umur, yaitu remaja, orang dewasa,dan kakek-nenek. Kritik disebut secara lantang/pedas dan kadang-kadang lucu. Terkesan, sebagian isi naskah ini dikutip dari bagian akhir Tambeh Tujoh Blah. (81 halaman), (13) Tambeh Tujoh: Tambeh (Arab adalah tanbihi, artinya peringatann/tuntunan). Berisi tujuh masalah/ 7 bab. Dua bab di antaranya termasuk masalah yang amat langka dibahas dalam syair/hikayat Aceh, yaitu masalah kerangka tubuh manusia dan Ilmu Ketabiban/kedokteran . Karya ini ditulis tahun 1208 H oleh Syekh Abdussalam(155 halaman), (14) Tambeh 95: Berisi 95 masalah/bab, terdiri dari nasihat, pelajaran Ilmu Agama, Ilmu Tasawuf, contoh-contoh yang bermanfaat; demi kedamaian di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Tambeh ini diterjemahkan dari bahasa Arab tahun 1248 H oleh Syekh Jalaluddin alias Teungku Di Lam Gut (catatan: nama asli dari naskah ini ialah Tambihul Ghafilin, yang baru saya ketahui baru-baru ini) (623 halaman), (15) Nadham Ruba’I: Membahas banyak hal masalah ajaran Islam namun secara ringkas (serba-serbi Agama Islam). Naskah ini tidak lengkap lagi (31 halaman),
(16) Nadham Nasihat: Nasihat-nasihat mengenai pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (34 halaman), (17) Hikayat Nabi Meucuko: Kisah pencukuran rambut Nabi Muhammad SAW yang dilakukan Malaikat Jibril (20 halaman), (18) Hikayat Qaulur Ridwan: Qaulur Ridwan ialah perkataan yang disenangi/ridha Tuhan. Hikayat ini ditulis dalam bentuk cerpen yang mengajak orang mau mengerjakan Shalat, kisahnya diramu dengan muatan local. Hikayat ini ditulis Syekh Abdussalam tahun 1220 H (18 halaman), (19) Tambeh Tuhfatul Ikhwan: Menjelaskan 12 bab masalah agama dan kemasyarakatan. Tuhfatul Ikhwan = persembahan kepada sahabat/saudara. Tambeh ini diterjemahkan Syekh Abdussalam tahun 1224 H (294 halaman), (20) Tambeh Tujoh Blah (Karya Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum. Bahwa beliau sebagai pengarang kitab ini, ‘secara kebetulan’ baru saya ketahui hari Jum’at siang, 10 Ramadhan 1434 H/19 Juli 2013, ketika saya membaca satu bait Tambeh 17 yang berbunyi:”Bahkeu dumnan adab guree, Le kadilee lon hareutoe/Lam hikayat Akhbarul Na’im,Keudeh Polem kalon keudroe!”. Bait terakhir bab ke 7 Tambeh Tujoh Blah itu menyebutkan, bahwa pengarang Tambeh 17 sama dengan penulis kitab Akhbarul Na’im. Sementara pengarang kitab Akhbarul Na’im adalah Syekh Abdussamad atau Teungku Di Cucum. Saya menjadi sangat ingat dengan Akhbarul Na’im serta penulisnya Teungku Di Cucum, karena pada malam Makmeugang Puasa, 9 Juli 2013 yang lalu baru saja berlangsung pembacaan “Nadham Teungku Dicucum” oleh Tgk. Ismail alias Cut ‘E di Bale Tambeh halaman rumah saya. Nadham Tgk. Dicucum adalah nama lain atau nama populer bagi kitab Akhbarul Na’im). : Berisi 17 bab, yang membahas masalah hubungan dengan Allah, hubungan sesama Manusia dan dengan binatang/Lingkungan hidup. Tambeh 17 termasuk salah satu kitab tambeh yang sangat populer di Aceh (Pidie?) pada masa tempo dulu Tambeh ini ditulis tahun 1306 H (236 halaman),
(21) Hikayat Banta Amat: Kisah seorang anak Raja yang yatim sejak kecil. Negeri dan semua kekayaan di rampas Pamannya. Berkat ‘azimat’ yang diberikan Raja Ular ia berhasil menjadi Raja kembali. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (318 halaman), (22) Nadham Mikrajus Shalat: Membahas seluk-beluk shalat serta yang berkaitan dengannya dalam bentuk nadham Aceh. Nadham ini ditulis Teungku Sulaiman Abdullah, Lala-Andeue, Pidie (41 halaman), (23) Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan: Mengisahkan kehidupan dua orang Putra Raja yang berjuang menemukan permintaan Ayah mereka. Ternyata yang paling menderita; dialah yang mencapai kemenangan dan menjadi Raja menggantikan sang Ayah (79 halaman), (24) Kitab Qawai’idul Islam: Dalam sebutan masyarakat tempo dulu naskah ini dinamakan “Kitab Bakeumeunan” ; menjelaskan mengenai Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam) secara panjang lebar dan mendalam. Keistimewaan kitab ini ditulis dalam bahasa Aceh. Selain Bahasa Aceh, bahasa pengantar naskah ini juga menggunakan bahasa Melayu serta bahasa Arab. Pada umumnya bentuk penulisan bahasa Aceh adalah dalam jenis syair/puisi secara bersanjak, tapi kitab ini bahasa Acehnya dalam bentuk prosa (28 halaman), (25) Tambeh Gohna Nan: Naskah ini ditulis dalam bentuk penyampaian “wasiat dari seorang Ayah kepada anaknya”. Inti wasiat sang Ayah supaya si Anak mengamalkan kehidupan ‘suluk dan tarikat’ yang amat berkembang di Aceh pada akhir zaman. Kitab ini ditulis kira-kira pada masa awal Perang Aceh-Belanda.Tambeh ini ditulis Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum, Aceh Besar Naskah ini belum diberi nama oleh pengarang, karena itu saya berilah judul sementara “Tambeh Gohna Nan” (175 halaman),
(26) Adat Aceh: Berisi adat/tradisi dan protokoler Kerajaan Aceh sejak masa Sultan Iskandar Muda. Sesungguhnya, inilah yang disebut dalam sepotong pribahasa Aceh: “Adat bak Poteumereuhom Hukom Bak Syiahkuala” (162 halaman), (27) Tazkirah Thabaqat: Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Isinya menjelaskan tentang susunan tata pemerintahan Kesultanan Aceh sejak jabatan Geuchik sampai sultan Aceh. Naskah ini ditulis tahun 947 H pada masa Sultan ’Alaiddin Mahmud ‘Abdul Qahar ’Ali Riayat Syah dan terus-menerus direvisi oleh sultan-sultan Aceh sesudahnya. Penyalin/revisi terakhir dilakukan Sayed Abdullah Jamalullail alias Teungku Di Mulek atas anjuran Sultan Ibrahim Mansur Syah tahun 1270 H, yakni 20 tahun sebelum perang Belanda-Aceh tahun 1290 H (115 halaman), (28) Resep Obat Orang Aceh: Cuplikan/saduran dari kitab obat Tajul Muluk karya Haji Ismail Aceh yang ditulis atas perintah Sultan Aceh Ibrahim Mansur Syah. Judul “Resep Obat Orang Aceh” hanyalah pemberian saya,karena berupa cuplikan (55 halaman), (29) Hikayat Malem Dagang: Menceritakan pelayaran Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja si Ujut adalah lambang dari bangsa Portugis yang telah menjajah Malaka sejak tahun 1511 M(163 halaman),. Tahun 2015 Hikayat Malem Dagang saya pilih sebagai bahan kajian Tesis di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. (30) Hikayat Nabi Yusuf : Isi ringkasnya tidak jauh berbeda dari Hikayat Nabi Yusuf versi Pidie tersebut di atas, namun ditulis mengikut selera novel moderen. Dalam hal percintaan Siti Zalikha misalnya, sengaja tak saya salin beberapa kalimat karena ’lucahnya’. Naskah Arab Jawoe berasal dari kabupaten Nagan Raya, selesai ditulis tahun 1980(230 halaman). Maka dari 30 judul naskah yang telah disalin ke huruf Latin berjumlah 6680 halaman.

Kegiatan Sastra Aceh Lainnya yang Saya lakukan:
A. Karya Sendiri
1. Nazam dan Syair Aceh di media-massa
1. Taga Pekan Kebudayaan Aceh 3 (Majalah Puan, No 17, Juni 1988)
2. Pariwisata Aceh Peutimang Beugot (Haba Bak Rangkang, Hr. Serambi Indonesia, Rabu, 9 Desember 1992 hlm.7)
3. Tuntut Eleumee Akhirat-Donya (Haba Bak Rangkang, Hr. Serambi Indonesia, Rabu, 21 Juli 1993 hlm7)
4. Cinta Keu Nanggroe Termasuk Iman (Majalah Puan, No. 40, November 1994/Ranub Sigapu)
5. Cinta Keu Nanggroe Termasuk Iman (Majalah Puan, No. 41, Maret 1995/Ranub Sigapu)
6. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (Majalah Puan, No.48/Oktober 1997/Ranub Sigapu)
7. Lingkongan Udep Wajeb Tajaga (Majalah Puan, No.49/Maret 1998/Ranub Sigapu)
8. Disiplin Nasional (Majalah SANTUNAN, No. 229, April 1997, Tahun XXII)
9. Seumangat Indonesia (Majalah SANTUNAN, No. 232, Oktober 1997, Tahun XXII)
10. Musem Khueng (Majalah SANTUNAN, No. 232, Mei 1998, Tahun XXII)
11. Hansep Beulanja (Majalah SANTUNAN, No. 240, Juli 1998, Tahun XXII)
12. Teungku Seumeubeuet “Gaji” Beutabri (Majalah SANTUNAN, No. 221, November 1995-Maret 1996, Tahun XX)
13. Syako-Syako (Gema Ar-Raniry No. 60, Juli-Agustus 1985)
 Syair ini saya bacakan sewaktu menyambut tour mahasiswa IAIN Ar-Raniry ke Yogyakarta, 26 Januari 1985, di Bale Gadeng – Gedung Pertemuan Mahasiswa dan Masyarakat Aceh di Yogyakarta.
14. Kru Seumangat … (Buletin “Peunawa”, edisi 4-5, 1980, diterbitkan Senat Mahasiswa Fekon Unsyiah).
 Syair ini menyambut kehadiran Fakultas Kedokteran, Unsyiah tahun 1980.

2. Buku Hikayat Yang Telah Diterbitkan
1. Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, 21 halaman tahun 1999
2. Hikayat Wajeb Tasayang Binatang Langka, 36 halaman tahun 2001
3. Hikayat Binatang Ubit Kadit Lam Donya, 23 halaman tahun 2001
B. Karya Saduran
1. Menyadur beberapa cerita dari Hikayat Kisason Hiyawan/Hikayat Nasruwan Ade menjadi cerita anak-anak bahasa Indonesia, yang kemudian dimuat dalam Suratkabar. Cerita dimaksud adalah:
1) Hakim Gadungan (Hr. Waspada, Sabtu, 21 Februari 1981).
2) Jampok dan Sekawan Kera (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 7 Maret 1993 halaman 7)
3) Burung Dendang Curi Selendang (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 19 Juni 1994 halaman 7)
4) Pawang Rusa (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 19 November 1995)
5) Furuwan, Si Kancil Diplomat (Hr. Serambi Indonesia, Minggu, 29 Oktober 1995 halaman 6)
6) Raja Katak dan Ular Tapa (Hr. Serambi Indonesia, 1995)
7) Pahlawan Cilik dari Tangse, dimuat dalam Hr. Waspada, Medan. Tahun 1981 (arsip hilang)
8) Niat Hati Memeluk Gunung, dimuat dalam Hr. Waspad, 1981 (arsip hilang)
9) Menepuk Air Didulang, dimuat dalam Hr. Waspada. 1981(arsip hilang)
1. Beberapa Sub Judul dalam buku; “Sastra Untuk Madrasah Dasar” Proyek Pengembangan MPD, belum diterbitkan, 2002.(anggota Tim).

C. Karya Terjemahan
1. Tahun 1999, atas bantuan dana dari World Bank Perwakilan Jakarta, menterjemahkan beberapa hikayat ke dalam bahasa Indonesia, yang semula berbahasa Aceh. Hikayat-hikayat yang diterjemahkan itu ialah:
1) Hikayat Aulia Tujoh
2) Hikayat Nabi Yusuf
3) Hikayat Akhbarul Karim
4) Hikayat Meudeuhak
2. Pernah menjadi Ketua/Anggota Tim pengkajian naskah kuno yang didanai Depdikbud Jakarta dan Balai kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT), Banda Aceh. Naskah-naskah yang telah dikaji ialah:
1) Hikayat Nasruwan Ade (anggota, telah diterbitkan oleh Depdikbud, Jakarta tahun 1996/1997)
2) Nadlam Akhbarul Hakim (Ketua, telah diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh, 1997)
3) Hikayat Muda Balia (Ketua, 1997, belum diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh). Noot: telah diterbitkan tahun 2006.
4) Tambeh Tujoh (Mandiri,. 1998, belum diterbitkan oleh BKSNT, Banda Aceh).Noot: telah diterbitkan tahun 2007.
5) Sebagai pemakalah pada Seminar Sehari di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT), Banda Aceh tanggal 20 Juni 1996 dengan judul makalah “Beberapa Nilai Tradisional dalam Hikayat (Suatu Tinjauan terhadap Isi Hikyat Nasruwan Ade), sebagai Ketua Tim
D. Karya Alih Aksara
1. Transliterasi dari huruf Arab Melayu/Jawi/Jawoe ke aksara Latin.
1) Hikayat Meudeuhak = 434 halaman, tahun 1992
2) Hikayat Banta Keumari = 650 halaman, tahun 1993
3) Hikayat Tajussalatin = 420 halaman, tahun 1994
4) Hikayat Aulia Tujoh = 54 halaman, tahun 1993
5) Hikayat Kisason hiyawan/
Hikayat Nasruwan Ade = 176 halaman, tahun 1993
6) Hikayat Gomtala Syah = 548 halaman, tahun 1995
7) Hikayat Keumala Indra = 593 halaman, tahun 1995
8) Hikayat Nabi Yusuf = 281 halaman, tahun
9) Hikayat Abu Nawah = 301 halaman, tahun 1993
10) Hikayat Zulkarnaini = 226 halaman, tahun 1993
11) Hikayat Akhbarul Karim = 139 halaman, tahun 1992
12) Hikayat Akhbarul Hakim = 81 halaman, tahun 1994
13) Tambeh Tujoh = 155 halaman, tahun
14) Tambeh 95 = 623 halaman, tahun 2002
15) Nazam Ruba’i = 31 halaman, tahun 1996
16) Nazam Nasihat = 34 halaman, tahun 1996
17) Hikayat Nabi Meucuko = 20 halaman, tahun 1996
18) Hikayat Qaulur Ridwan = 18 halaman, tahun 1996
19) Tambeh Tuhfatul Ikhwan = 204 halaman, tahun 1998
20) Tambeh Tujoh Blah = 236 halaman, tahun 2001
21) Hikyat Banta Amat = 318 halaman, tahun 2000
22) Mikrajus Shalat = 41 halaman, tahun 1999
23) Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan = 79 halaman, tahun 1994
24) Tambeh Gohna Nan = 175 halaman, tahun 2002
25) Adat Aceh = 161 halaman, tahun 2002
26) Tazkirah Thabaqat = 101 halaman, tahun 2003
Catatan: – Pentingnya alih aksara ini bagi generasi muda Aceh, karena mayoritas mereka tidak bisa lagi membaca dalam huruf Arab Melayu/aksara Jawi.
– Sebagian kecil dari naskah di atas telah diterbitkan.

Menjadi “Pedagang” Hikayat
Mencetak beberapa naskah yang telah dialih aksara ke huruf Latin. Ongkos cetak dibayar secara cicilan setiap bulan. Hasil cetakan dititip di toko-toko buku dengan harga sekedar mengembalikan modal. Tiap jilid tebalnya 60 halaman. Hikayat dan Nadham yang telah diterbitkan ialah:
1) Hikayat Akhbarul Karim, jilid 1 dan 2, tahun 1997
2) Hikayat Aulia Tujoh, tahun 1997
3) Nadham Akhbarul Hakim, tahun 1997
4) Hikayat Meucuko Nabi Muhammad Saw, tahun 1997
5) Hikayat Abu Nawah, jilid 1, tahun 1998
6) Hikayat Abu Nawah, jilid 2, tahun 2000
7) Hikayat Kisason Hiyawan, jilid 1 & 2, thun 2001
8) Hikayat Banta Amat, jilid 1& 2, tahun 2002
9) Hikayat Gomtala Syah, jilid 1 & 2, tahun 2002
10) Hikayat Abu Nawah, jilid 3, 4dan 5, tahun 2003
11) Hikayat Indra Bangsawan, jilid 1, tahun 2003
12) Hikayat Meudeuhak, jilid 1, tahun 2003
13) Nazam Mikrajus Shalat, tahun 2003
Catatan: – Nomor 1 s.d 5 tiap jilid dicetak 1000 ex (seribu eksamplar), sedangkan nomor 6 s/d 16 pejilid dicetak 500 eks (lima ratus eksamplar).
– Setiap kali selesai cetak, ± 50 eksamplar/buah dari setiap jilid, saya hadiahkan kepada teman-teman/lembaga
E. Dan lain-Lain
Tahun 2001, menjadi nominasi 15 besar dari 345 usulan, dalam Lomba Lingkungan Hidup, yang diputuskan Dewan Juri KEHATI Award 2001. Dari lima macam “Kategori”, saya terpilih sebagai “Unggulan Peraih KEHATI Award 2001”, Kategori “Citra Lestari Kehati”. Yayasan KEHATI diketuai Prof. Dr. Emil Salim, berkantor di Jakarta.
Bahan lomba yang saya kirimkan ialah: 1. Hikayat Lingkongan Udep Wajeb Tajaga, 2. Hikayat Banta Amat, 3. Hikayat Gomtala Syah, dan 4. Hikayat Kisason Hiyawan/Nasruwa Ade(Kecuali no. 1, masing-masing 5 lember sebagai contoh).
*Dalam upaya menggairahkan kebudayaan Aceh, kadangkala saya menulis “Surat Pembaca”, berupa tanggapan, komentar, atau himbauan/saran; yang kebanyakan dimuat dalam Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh.
1. Aksara Jawi, Adakah Berperan dalam Kebudayaan Nasional?
(Hr. “Waspada”, Jum’at, 24 ktober 1980, halaman “Agama”/VI)
2. Mengapa Wasiat Haji Agussalim Dilupakan? (Juga tentang huruf Arab Melayu/harah Jawoe; Majalah SANTUNAN, No. 50, Desember 1980).
3. Mencari Jejak Langkah H. Agussalim; Juga tentang huruf Arab Jawi/ Jawoe; Gema Ar-Raniry, No. 40 Tahun ke XIII/Desember, 1980).
4. Peranan Aksara Jawi dalam Mencerdaskan Bangsa (Juga tentang harah Arab Melayu/ Jawoe; Hr. Serambi Indonesia, Jum’at, 9 Oktober 1992 halaman 4/Opini.
5. Menggairahkan Kembali Sastra Aceh (Hr. Serambi Indonesia, Selasa, 12 Mei 1997, halaman 4/Opini).
6. Dari Moskow Sampai ke Captown-Afrika Selatan: Mencari Akar Sastra Aceh dalam Masyarakatnya Dewasa Ini (Majalah SANTUNAN, No. 231, Agustus 1997, TahunXXII)
7. Syeh Rih Krueng Raya dan Sastra Aceh (Majalah SANTUNAN, No. 241, Agustus 1998, Tahun XXI).
8. Sastra Aceh, Mungkinkah Bangkit Kembali??? (Majalah SANTUNAN, No. 237, April 1998, Tahun XXII).
a. Catatan: Tulisan ini oleh Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) dimuat kembali dalam buku “Takdir-Takdir Fansury”, di halaman 87, Agustus 2002.
9. Hikayat Akhbarul Karim (Alih Aksara dan Terjemah)

Diterbitkan Dinas Kebudayaan Provinsi NAD, tahun 2002 (Ketua).

Beberapa Sorotan Media-massa Cetak dan elektronik:
1. Teuku Abdullah, Pelestarian Sastra Aceh, Kompas Senin, 9 Desember 2002, hlm. 12.
2. Anugerah untuk Delapan Putra Bangsa, Kompas, 15 Agustus 2003, hlm.1.
3. T.A. Sakti, Pria di Tumpukan Hikayat (sosok), Aceh Independen, Minggu, 4 Mei 2008, hlm. 12.
4. Mereka yang Mengajar dengan Hati, Detak Unsyiah, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Universitas Syiah Kuala, Edisi 32/Desember 2011, hlm. 20 (liputan khusus).
5. T.A. Sakti, Menjaga Hayat dengan Hikayat Aceh, Kompas, Minggu, 7 April 2013, hlm. 23.
6. Membaca Indonesia : Saat Kata Menjadi Pemersatu (wawancara), Kompas, Jum’at, 3 Februari 2017, hlm. 5.
7. nazam aceh.kompastv.
8. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/content/ta-sakti.

Beberapa Artikel Sendiri
1. Hikayat Aceh Telah Mati(Fokus), Harian Aceh, Rabu, 14 Januari 2009, hlm. 10.
2. Ejaan Aceh Perlu Penyeragaman, Pikiran Merdeka, Minggu, 11 Maret 2012, hlm. 6.
3. “Takdim keu Guree Meuteumeung Ijazah!”(Budaya), Serambi Indonesia, 21 Desember 2008, hlm. 18.
4. Ejaan Bahasa Aceh Siapa Peduli, Serambi Indonesia, 4 April 2012, hlm. 8.
5. Bahasa Melayu Pasai, Akar Tunjang Bahasa Nasional Indonesia, Serambi Indonesia, Minggu, 19 Mei 2013, hlm. 6.
6. Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?, Serambi Indonesia, Senin, 7 Juli 2014, hlm. 18.
7. Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh oleh T.A. Sakti dan Siti Hajar, Serambi Indonesia, Sabtu, 7 Januari 2017, hlm. 18.
8. Hikayat – Kru Seumangat! Aceh Ka Dame oleh T.A. Sakti dan Mohd. Kalam Daud, Harian Rakyat Aceh, Sabtu, 5 Agustus 2017, hlm. 14.

9. Nasib Asrama Mahasiswa Aceh di Yogyakarta, oleh T.A. Sakti dan M.Nur Hasballah, Serambi Indonesia, Sabtu, 28 Mei 2016 (Opini).

 

Membuat Liputan Sastra Aceh:
Lebih sebulan terakhir (13 Januari s/d 22 Februari 2018), kegiatan dan pikiran saya banyak tercurah untuk menuntaskan penyalinan (ganti huruf) Hikayat Akhbarun Na’im. Hal paling baru terkait hal itu adalah tawaran atau ajakan saya kepada kru televisi iNews Aceh untuk meliput nasib kritis kitab Akhbarun Na’im. Kedatangan tim liputan (3 orang, seorang bernama Zahloel) itu sebenarnya untuk menjumpai saya membicarakan prihal kisah Laksamana Keumala Hayati yang baru saja diakui sebagai Pahlawan Nasional RI. Saya melantunkan Hikayat Laksamana Keumala Hayati karangan Syekh Rih Krueng Raya sore itu, sertal memberi penjelasan sekedarnya. Sambil memperlihatkan naskah Akhbarun Na’im, saya menghimbau mereka untuk peduli kepada ‘Tradisi membaca kitab nazam” yang nyaris punah di Aceh Besar. Diakhir wawancara mengenai silsilah Laksamana Keumala Hayati, yang berlangsung sekitar pukul 5.45 sore s/d Azan maghrib hari Senin, 29 Januari 2018 di Bale Tambeh depan halaman rumah saya, sekali lagi saya mohon kesediaan mereka tentang usulan itu. Ketiga wartawan iNewsTV belum memberikan jawaban pasti, karena harus melapor dulu kepada atasan mereka.
Hari Sabtu dan Ahad, 28 Januari 2018 (lewat telepon) saya juga mengajak wartawan media cetak dan online untuk meliput hal yang sama. Sebenarnya mereka (5 orang) ingin menjumpai saya untuk menanyakan sejarah Putroe Ijo yang kuburan beliau berada di Gampong Pande, Banda Aceh. Mereka pun belum menyanggupi karena tergantung keputusan pimpinan media bersangkutan.
Alhamdulillah, hari Sabtu, 17 Februari 2018 saya berhasil membawa 3 orang wartawan untuk meliput “Jelang Kepunahan Tradisi Membaca Nadham Tgk di Cucum di Aceh Besar” (semoga Allah Swt memunculkan lagi tokoh-tokoh baru pembaca Nazam, Amin!). Ketiga jurnalis itu adalah Fahzi dari situs kanal Aceh dan Tagarid online, Syahril dari KompasTV Aceh, dan Dani Randi dari Harian Waspada, Medan. Ikut pula dalam rombongan kami Teuku Zulkhairi, kolumnis, mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry yang sedang menulis disertasi tentang peran Kitab-kitab Melayu Jawoe dalam pendidikan agama di pedalaman Aceh Besar. Praktek jurnalis kami yang pertama mengunjungi Tgk. Ismail Daud alias Cut ‘E di Tanjung Dayah kecamatan Darussalam, kedua ziarah ke makam/kubur Tgk di Cucum, bersama Bapak Fauzan, Keuchik Gampong Cucum, ketiga menjumpai Pak Mukim di Lamceu, kecamatan Kutabaro dan keempat berangkat ke rumah Let Markam Hasan di Meunasah Intan, Lam Ujong, Ulee Kareeng, Aceh Besar. Kegiatan meliput itu berlangsung selama lebih kurang lima jam. Alhamdulillah, Harian Waspada, Jum’at, 23 Februari 2018 memuat berita di halaman B 6 yang berjudul “Nazam Aceh Tanpa Penerus”, sedang pada Minggu, 25 Februari 2018 dimuat di halaman B 3 (Fotografi) satu halaman penuh dengan judul “ Nazam Aceh Tergerus Zaman”. Teks dan photo kedua laporan itu ditulis Dani Randi Sementara dalam suratkabar MEDIA NAD dimuat pada Edisi 567 Tahun XVII/26 Februari – 4 Maret 2018 halaman 2 dengan judul “Puluhan Tahun Demi Menyelamatkan Nazam Aceh” yang ditulis Fahzian Aldevan.

Memperjuangkan Anugerah Budaya
Perhatian terhadap nasib kehidupan ke tiga pembaca nazam Teungku di Cucum masih bangkit pula. Saya memang tidak mampu memberi materi, cuma sekedar menumpah perhatian untuk menggugah pihak lain, terutama Pemerintah Aceh Besar. Berhasil tidaknya upaya saya terserah kepada Tuhan. Ketika diundang masyarakat untuk membaca nazam, masing-masing beliau memang telah diberi semacam ‘sedekah’, yang kadang-kadang sesuai janji. Tetapi pengabdian mereka tidaklah semata mencari materi, namun lebih besar dari itu. Ketiga merekalah yang menjadi benteng terakhir bagi tradisi ‘bernazam’ di Aceh yang telah berlangsung berbilang abad.
Bentuk penghormatan saya kepada ketiga pembaca nazam tersebut adalah mengusulkan mereka kepada Panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII agar diberikan penghargaan. Akan tetapi saat seleksi para calon penerima ‘anugerah budaya” PKA VII sudah berakhir dalam tahun 2017, meski acara PKA VII baru digelar bulan Agustus 2018 yang akan datang. Karena itu saya mencari dukungan dari beberapa tokoh Aceh dan lembaga terkait. Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, MA , Guru Besar UIN-Ar Raniry, adalah tokoh Aceh pertama yang saya jumpai. Lalu, Drs. Muhammad Muis, M.Si, Kepala Balai Bahasa Aceh, Banda Aceh, terus bertemu Prof. Dr. Farid Wajdi, MA, Rektor UIN Ar-Raniry di kantor beliau, kemudian saya antarkan surat usulan kepada Panitia PKA VII, dan terakhir saya melangkah ke Kantor DPRA untuk menemui H. Musannif, SE anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Pada Jum’at pertama bulan Ramadhan 1439 H yang lalu, permintaan yang sama juga saya sampaikan kepada Prof.Dr. Rusydi Ali Muhammad,SH.,MH  yang berkunjung ke Bale Tambeh saya untuk mencari manuskrip Aceh terkait bulan puasa. Beliau adalah Ketua ‘Literasi Tradisional” Provinsi Aceh. Sebenarnya, saya punya niat juga bertandang ke Kantor Bupati Aceh Besar untuk bertemu Bupati Aceh Besar Ir. Mawardi Ali, namun batal. Bila turut saya kisahkan lika-liku menjumpai para tokoh Aceh itu,- bagi saya yang kemana-mana mesti bertongkat serta dipapah orang lain; saya takut ulasannya kepanjangan!.
Pokoknya, kepada Bapak-bapak yang telah saya jumpai itu saya jelaskan, betapa patutnya diberikan penghormatan atau penghargaan Pemerintah Aceh dalam bentuk anugerah budaya PKA VII kepada ketiga seniman Aceh itu ( Let Markam Hasan –alm, Pak Mukim Abdurrahman, dan Tgk. Ismail Daud alias Cut ‘E). Dalam amplop besar yang saya serahkan kepada Bapak-bapak berisi – yang diharapkan mau mendukung usul saya- yaitu fotokopi surat untuk Kepala Dinas Kebudayaan Aceh/Panitia PKA VII, koran Waspada dan MEDIA NAD yang menjelaskan profil ketiga pembaca nazam dan hasil alih aksara jilid I Nazam Teungku di Cucum (kecuali Prof.Dr. Hasbi Amiruddin, karena salinannya belum siap saat itu). Tujuan saya hadiahkan salinan huruf Latin nazam tersebut, agar dapat dipahami betapa perlunya kitab nazam itu diselamatkan atau dilestarikan sebagai sumber nasehat keislaman bagi masyarakat Aceh, khususnya buat warga Aceh Besar yang telah membudayakannya selama ini. Saya berharap, Pemerintah Aceh Besar, para Ulama Aceh Besar, Dayah-Dayah di Aceh Besar,para politikus asal Aceh Besar, komunitas mahasiswa Aceh Besar, komunitas sosial-budaya Aceh Besar, lembaga adat dan kebudayan Aceh Besar dan orang-orang Aceh Besar mau berjibaku atau pasang badan  alias bertekad bulat dan secara serius mempertahankan budaya ‘bernazam’ di Aceh Besar!!!.

*Catatan:
1. Sebagian kegiatan sastra Aceh yang saya lakukan termuat dalam Blog http://www.tambeh.wordpress.com
2. Profil ini amat kurang dari sempurna, antara lain karena saya belum cukup sembuh dari sakit.

Banda Aceh, 6 Juli 2018
Pegiat Sastra Aceh,
T. A. Sakti
(Drs. Teuku Abdullah, SH., MA)

 

*Profil ini disertai lebih 40 foto dan 4 video yang belum termuat di sini!.

Iklan

2 respons untuk ‘Profil: Drs. Teuku Abdullah,SH,.MA alias T.A. Sakti

Add yours

  1. apa yang bapak perjuangkan merupakan hal yang tidak banyak diperdulikan oleh banyak orang.hanya orang -orang yang punya kemauan kuat dan tanpa lelah yang mau berjuang untuk bangsanya.semoga adat dan budaya aceh tetap terjaga khususnya nazam aceh.semoga cepat sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: