Dialog Kiblat Kita : Lokal, Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

Dialog
Kiblat Kita : Lokal,
Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

Pengantar
Dialog kita kali ini menampilkan dua sastrawan dari dua periode berbeda. Yang pertama, Ayip Rosidi, 41 tahun, adalah orang yang punya perhatian dan melakukan penelitian untuk sastra daerahnya: Sunda. Yang kedua, Sutan Takdir Alisyahbana, 72 tahun, sastrawan pelopor pujangga baru. Mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang kebudayaan daerah dan nasional.
Ayip tetap tak mau meninggalkan keindonesiaan dalam melihat kebudayaan daerah. Dia melihat ada usaha “kurang sadar” yang pernah dibuat orang dalam menghidupkan kembali kesenian daerah, antara lain mengembalikan feodalisme. Dan melihat kebudayaan daerah bagi Ayip sendiri—dia sendiri pernah merekam pantun-pantun Sunda—tak menimbulkan regionalisme.
Takdir pun mencintai kesenian daerah. Dia memiliki sanggar kesenian Toya Bungkah, Bali. Namun bagi Takdir, kebudayaan daerah dan nasional sekarang haruslah bersumber pada ilmu. Kebudayaan sekarang, katanya, adalah soal kesatuan dunia, kesatuan umat manusia. Redaksi.

Kebudayaan Daerah dan Keindonesiaan
Ayip Rosidi, 41 tahun, sastrawan
Banyak sudah usaha yang ingin menghidupkan kebudayaan daerah. Tetapi, usaha itu sering hanya didorong oleh keinginan untuk melanjutkan yang biasa—yang sudah ada—dan sering pula tidak dihubungkan dengan keindonesiaan. Kegiatan dan kebudayaan seperti itu, seperti tidak tahu, bahwa daerah sesungguhnya sudah lain dalam suatu kesatuan Indonesia. Dan mereka yang melakukan kegiatan ini, banyak yang tak sadar bahwa banyak nilai daerah—yang menurut mereka dianggap baik—sebetulnya tidak cocok lagi dengan cita-cita kebangsaan yang hendak kita tegakkan. Masalah demokrasi adalah salah satu contoh.
Kita kini sepakat untuk menegakkan asas demokrasi. Pada dasarnya, asas itu ada di tiap-tiap daerah, dengan tipis tebal yang berbeda, serta latarbelakang yang berlainan. Tetapi di beberapa daerah, feodalisme lebih menonjol. Bagi mereka nampaknya, antara feodalisme dan demokrasi tak ada persoalan prinsipil. Dalam situasi 1950-an, ketika mengagung-agungkan Indonesia, jika ada orang mengatakan bahwa ada hal-hal yang tak cocok lagi, mereka bakal tersinggung. Walaupun begitu, karena kebudayaan daerah itu terdapat di seluruh Indonesia, ia memang perlu digali. Saya berasal dari daerah Sunda, karena itu saya menggali kebudayaan Sunda. Kecenderungan saya menulis dalam bahasa Sunda juga menimbulkan ejekan dari beberapa kawan. Ada yang menyebut saya sebagai “Si Sunda”. Tapi di balik itu, dalam lingkungan kebudayaan Sunda lama, saya juga tidak diterima dengan baik. Kalau pun saya diterima, penerimaan itu disertai dengan kecurigaan. Ada malah yang menulis, bahwa saya adalah “monyet” yang datang dari daerah lain dan tak bisa memahami masalah yang sebenarnya. Tragis. Saya terjepit. Dan pada tahun 1950-an—saat yang masih dekat dengan masa revolusi—setiap usaha dan kegiatan yang berbau daerah dapat dianggap sebagai kaki tangan van Mook. Ini pandangan politis, karena van Mook mendirikan negara boneka. Pada saat begitu, sulit bagi kita untuk membicarakan kebudayaan daerah. Tapi kini keadaan seperti ini masih nampak pada orang-orang yang berasal dari perjuangan 1945. Ada pandangan yang mengtakan bahwa kebudayaan daerah dianggap bertentangan dengan cita-cita nasional. Jadi, unsur daerah masih dilihat sebagai sesuatu yang membahayakan Indonesia sebagai nation. Pandangan ini keliru. Pada tahun 1960-an, kesenian daerah mulai bangkit. Hanya saja ia dipergunakan secara politis oleh Lekra. Organisasi itu mendirikan sanggar, dan dalang yang sebetulnya tidak mempunyai pandangan politis jadi senang sekali. Tempat latihan yang tak pernah mereka bayangkan, mereka peroleh. Banyak orang terjebak. Dalam pada itu organisasi seperti LKN dan Lesbumi masih membatasi pada jenis kesenian tertentu, dan belum menjamah wayang serta topeng. Mereka hanya mengurus kesenian rebana, menjaga perasaan para kiyai. Inilah masalah pada tahun 1960-an.

Penelitian
Kepada Jawatan Kebudayaan pernah saya usulkan untuk membuat rekaman kesenian-kesenian rakyat yang hampir hilang (1958-1959). Saya tertarik pada pantun. Antara 1959 dan 1960, Jawatan Kebudyaan Jawa Barat pernah merekam pertunjukan pantun di Kuningan, tapi usaha ini tidak dilanjutkan lagi. Hingga 1966 juga tak ada. Tahun 1968 dan 1969 setelah saya menulis beberapa artikel di media massa dan gagal, datangah Prof. Teeuw, dan kepadanya saya jelaskan kesulitan saya. Dari dia saya dapat pinjaman alat perekam dan pita. Dengan itu selama 1969, 1970 dan 1971 saya menjelankan penelitian untuk pantun Sunda. Beberapa puluh pantun berhasil saya rekam, kemudian saya transkripkan dan terbit dalam bentuk stensilan. Jumlahnya ada 20 jiid, dan masing-masing tebalnya antara 100 dan 200 halaman folio. Sekarang beberapa perpustakaan penting di dunia telah memilikinya. Jika ada yang hendak melanjutkan penelitian lewat hasil itu bisa saja. Di Leiden, Negeri Belanda, sastra Sunda itu pakai. Untuk daerah lain kini pemerintah sudah menyediakan dana yang lebih besar buat penelitian seperti yang saya lakukan itu.

Ciri Sunda
Orang Sunda membangga-banggakan kesenian dan kebudayaan Sunda. Tetapi apakah mereka dapat menerangkan secara benar kebudayaan Sunda sesungguhnya? Sampai sekarang tak ada.
Kalau bersandar pada kebesaran masing-masing kabupaten—Cirebon, Cianjur, Bandung—saya dapat mengejek mereka. Semuanya pernah dijajah Mataram, Jawa Tengah. Semua pernah ngawula Mataram. Jika mempertanyakan, apa kesundaan itu dan bagaimana filsafat Sunda, orang akan kembali kepada Hasan Mustafa. Tapi apakah Hasan Mustafa asli Sunda? Pengaruh Islam besar sekali padanya. Apakah Hasan Mustafa ini orang Sunda yang terpengaruh oleh Islam, atau seorang yang lahir dalam tradisi Islam yang mempunyai warna Sunda? Saya lebih condong pada yang terakhir ini, lebih-lebih setelah saya membaca sebagian besar karya Hasan Mustafa. Ia lahir dalam tradisi Islam. ia menulis dalam bahasa dan warna lokal, yakni Sunda. Dalam hidupnya ia sudah dicurigai. Ia dinamakan ulama mahiwa: lain daripada yang lain.

Karena saya belum menyelesaikan penelitian saya, saya belum dapat menyebutkan, apa ciri Sunda yang membedakannya dengan yang lain. tapi mungkin ada beberapa pandangan hidup orang Sunda yang dapat menerangkannya. Ia bersifat dugaan dan sementara. Saya melihat unsur yang sama dari pantun berbagai daerah. Itu menunjukkan sumber atau paling tidak referensi yang sama. Misalnya, pantun Kuningan punya banyak kesamaan dengan pantun Banten. Pantun Sukabumi selatan juga punya banyak persamaan dengan Sumedang. Persamaan ini menarik untuk diteliti, misalnya pantun yang saya rekam dari Pak Aceng di Sumedang. Dalam pantun itu ada teka-teki, dan teka teki itu sebetulnya dahulu hanya dilakukan oleh raja-raja ketika menerima lamaran. Di dalamnya ada pandangan hidup yang menarik. Inti dasar kalimat dalam pantun itu adalah “kekosongan.” Hidup itu kosong. Berdasarkan kata-kata yang ia pakai, dalam hemat saya, pantun itu mengisyaratkan bahwa “kekosongan” itu yang menjadi tujuan hidup. Jadi, hidup yang sempurna itu adalah yang tak berbekas. Seperti bebek berenang di lubuk. Saya menjumpai filsafat ini dalam beberapa pantun. Dan dalam hati saya bertanya: apakah ini filsafat Sunda? Kalau itu betul, apakah bisa dijawab, kenapa di daerah Sunda tidak terdapat candi dan tidak ada peninggalan-peninggalan yang besar? Mungkin itu terjadi karena raja-raja Sunda dahulu berpendapat bahwa hidup yang baik adalah hidup yang tak meninggalkan apa-apa. Dan dari sana mungkin dapat pula kita lihat, kenapa Sunda dekat dengan Islam. Mungkin karena dalam Islam dikenal apa yang disebut innalilahi…., kembali kepada ketidak-adaan, kepada asal.
Orang Belanda sering kacau dalam membuat interpretasi tentang kesenian kita tempo hari. Dalam metode dan sistematika, mereka memang lebih terlatih, tapi dalam menafisrkan apa yang tersirat mereka gagal. Karena itu kebudayaan atau kesenian daerah harus digali oleh orang daerah itu sendiri. Orang luar jangan diharapkan.
Nilai-nilai dalam masyarakat lahir dengan sendirinya. Ia dilanjutkan. Tapi ketika masyarakat itu berubah, dan ia mengalami goncangan, banyak nilai itu yang menghilang.

Pergeseran dan kepunahan
Saya dibesarkan dalam lingkungan yang punya apresiasi akan wayang. Ketika saya dikhitan, kakek saya menanggap wayang. Saya senang wayang. Tetapi kini, anak saya tidak lagi suka. Mereka dibesarkan di Jakarta dan tidak memiliki apresiasi untuk itu.
Tetapi kini di kampung kelahiran saya sendiri juga terjadi perubahan niai-nilai. Dahulu orang paling suka menanggap Dalang Cita, paling bagus dan mahal. Kini, yang dianggap hebat adalah yang menaggap band, atau memutar film di alun-alun. Kesenian topeng juga berkurang. Pilihan anak muda untuk itu makin sedikit, dan penghargaan orang pun mulai luntur. Masyarakat berubah. Dalam keadaan seperti itu, peranan pusat-pusat kesenian yang dapat menjadi sarana pembinaan apresiasi kesenian daerah, terasa makin penting.
Jika sarana pembinaan apresiasi seperti ini tidak kita adakan, dan dalam pada itu kurikulum serta guru di sekolah tidak mengajarkannya kepada murid, akan berbahaya. Kita yang bangga dengan kekayaan seni kita, tiba-tiba nanti pada suatu saat mungkin akan menghadapi kenyataan yang pahit: kita akhirnya tak memiliki apa pun. Dan akan lebih parah lagi kalau kita harus belajar wayang di Australia. Ada contoh kecil. Saya pergi ke Kalimantan menonton pertunjukan mamanda. Kesenian ini mulai populer kembali di sana setelah muncul di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di situ saya sadar, bahwa TIM dijadikan ukuran daerah.
Adakah kesenian daerah kita punya daya tahan dan mampu menghadapi “serbuan” kebudayaan luar? Di beberapa daerah saya kira ada beberapa jenis kesenian yang memiliki daya tahan untuk mengadakan akulturasi, sehingga lahir bentuk kesenian yang lain. Lenong yang sering kita saksikan di TIM, sebetulnya berbeda dengan lenong dalam bentuk yang asli. Begitu juga sinden dalam wayang. Sebetulnya sinden baru muncul sebelum zaman Jepang. Wayang dahulunya adalah dalang dan wayang saja, tanpa sinden. Pada zaman Jepang peranan sinden kian penting. Tahun 1950-an lebih ketat lagi, dan Upit Sarimanah serta Titin Fatimah populer. Kalau mereka bernyanyi, mereka duduk di atas meja, lebih tinggi dari dalang dan wayangnya. Walaupun demikian, saya kini agak risau melihat mutu yang menurun, baik dalam kesenian daerah maupun nasional. Dahulu dalam bidang sastra anak-anak sekolah berbicara tentang Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, atau Idrus. Tidak heran kalau anak Taman Siswa mengundang Soedjatmoko memberikan ceramah sehubungan dengan artikelnya ”Mengapa Konfrontasi” Ramadhan KH setelah pulang dari Spanyol diundang untuk memperkenalkan sajak Lorka. Anak-anak sekolah dan gurunya berbicara tentang majalah Kisah, Mimbar Indonesia, atau Siasat. Tapi kini anak sekolah bicara soal majalah hiburan. Kini kita juga jarang mendengar seriosa. Ciptaan seperti karya Amir Pasaribu yang memasukkan unsur daerah ke dalam musiknya, juga tidak lagi terdengar. Yang kedengaran hanya musik pop. Bahkan TVRI pun turut serta dalam hal itu. Masalah ini cukup serius. Dalam seni lukis kita masih melihat Affandi, Sadali, dan Amri Yahya sebagai oprang-orang yang masih serius. Tetapi bagaimana halnya dengan beberapa pelukis lain?
Pada hemat saya, masalah ini erat sangkutpautnya dengan kebijaksanaan nasional kita dalam bidang ekonomi. Kita terbuka mengundang modal besar sehingga yang berkualitas hanyalah uang. Ada orang berkata, “habis, mereka tak mau mendengar gamelan.maunya lagu pop.”persoalannya adalah: di mana-mana orang disuguhi lagu pop. Secara tidak langsung kita dibina lagu pop. Dan akhirnya kita hanya punya apresiasi terhadap lagu seperti ini. Seharusnya ada suatu kebijkasanaan untuk ini.
Departemen P dan K membuat seminar tentang kebijaksanaan, tetapi yang dijalankan lain. Pusat pengembangan bahasa menyelenggarakan seminar politik bahasa nasional. Diputuskan, penting bahasa daerah. Tetapi dalam kurikulum 1975 yang dibuat suatu badan di bawah P dan K,tidak dicantumkan bahasa daerah. Bahkan di daerah-daerah tertentu ia dihapuskan sebagai bahasa pengantar. Ini tidak konsisten.

Daya tahan
Apa yang kita maksud dengan daya tahan? Daya tahan itu adalah pemberian kesempatan untuk memupuk apresiasi tentang kesenian daerah. Jika kita lakukan pemupukan, barulah ada daya tahan. Inilah yang belum kita perbuat, walaupun kini sudah mulai ada perhatian untuk kebudayaan daerah. Namun secara tidak langsung ada usaha untuk membuat berbagai kesenian daerah jadi pop. Sebetulnya, kalau usaha ini kita biarkan, akibatnya bisa fatal. Yang kita lakukan sebaiknya adalah perawatan, jadi harus disimpan beberapa jenis seni tari, atau lagu, yang tidak boleh diubah. Harus tetap seperti itu. Seni itu harus diajarkan kepada anak-anak, dan dipertunjukan kepada masyarakat, sehingga ada pengembangan. Memang ada yang harus populer, seperti ciptaan-ciptaan baru yang juga harus diberi kesempatan. Tapi sekarang, urusan ini tidak dijelas.

Manusia Indonesia yang utuh
Orang Indonesia yang utuh, sebetulnya tidak perlu meninggalkan unsur daerah. Karena itu, saya tidak sependapat dengan Yus Badudu yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia yang sempurna adalah bahasa Indonesia yang berlafal Indonesia, tanpa kedengaran lafal daerahnya. Dalam hemat saya, tidaklah menjadi masalah jika seorang Jawa berbahasa Indonesia dengan lafal Jawa. Hanya saja, lafal daerah itu jangan keterlaluan, misalnya: “mengatakan” diucapkan dengan “mengataken.”
Sekarang nampaknya sudah ada kesadaran seperti itu. Kini saya melihat sudah banyak orang yang ingin jadi orang Indonesia utuh tanpa menghilangkan unsur daerah. Darmanto YT menulis dalam bahasa Indonesia yang baik, tapi dia tetap memperlihatkan unsur Jawa dalam sajak-sajak yang dibuatnya. Saya menafsirkan bahwa Darmanto menggangap, kejawaan bukanlah sesuatu yang dapat mengurangi keindonesiaan. Saya berpendapat, hal seperti itu tidak jadi apa, malah ia sanggup memperkaya keindonesiaannya. Dalam hal seperti inilah orang-orang dari tahun 1930-an membuat kesalahan. Sutan Takdir Alisyahbana menyerukan masa lampau, persetan dengan masa lalu. Indonesia baru harus menghirup roh Barat. Dan kalau kita lihat kesenian yang ditampilkan tahun 1930-an zaman Jepang, terdapat kecenderungan seperti yang dikatakan Yus Badudu: Indonesia adalah Indonesia yang tidak seperti daerah mana pun.
Orang sering bertanya tentang karakter daerah. Tapi apakah sebetulnya karakter daerah itu? Stereo type seperti ini dipelajari dalam antropologi, dan stereo type seperti itu sudah diragukan. Dalam karya sastra, ia tentu tergantung pada lingkungan hidup sang seniman. Seorang Sunda yang lama di Eropa, akan melahirkan ciptaan yang berbeda dibandingkan dengan seorang Sunda yang tidak pergi ke mana-mana. Kalau Sardono tidak ke Amerika, ia tidak akan sampai pada karya-karyanya yang dipertunjukan di TIM. Dalam masalah politik orang juga berbicara tentang karakter daerah seorang pemimpin. Di sini kita akan bicara dari segi manusia, dan akan susah. Contoh paling dekat adalah Ali Sadikin. Ia sukses. Tapi sebenarnya ia bukanlah tipikal Sunda. Orang Sunda mengakui suksesnya karena dia orang Sunda. Jika tidak, akan jadi lain. Ali Sadikin suka bicara blak-blakan. Ali Sadikin itu mahiwa, lain dari yang lain, lain dari kelompoknya. Apakah itu karakter Sunda? Kadang-kadang memang muncul pula kesundaannya.
Ada sebuah cerita. Pada suatu saat dia mencoret-coret lukisan Srihadi. Dia kira, lukisan itu mengejek Jakarta. Srihadi marah. Geger. Dewan kesenian Jakarta turut campur tangan. Saya dan Zaini (almarhum) datang ke Balaikota. Ali Sadikin marah sekali. Dia tidak mau disalahkan. Dan karena hari itu adalah hari Jum’at, kami kemudian sembahyang di TIM. Saya dan Ali Sadikin semobil, sedangkan Zaini di mobil yang lain. Dari Balaikota sampai TIM Ali Sadikin mentertawakan dirinya sendiri. Dia bertanya, “Kok tadi bisa berbuat begitu? Kalau filemkan bagus ya?!” lantas saya bertanya, “Bisa marah seperti itu lagi apa tidak?” Dia bilang, “Tidak”. Sebetulnya latarbelakang peristiwa itu sepele saja. Ali Sadikin marah-marah, karena Kepala Dinas Pemugaran DKI, Ir. Tjong, tidak datang. Padahal, Ir. Tjong yang memang tahu bahwa Bang Ali bakal marah-marah, sengaja datang terlambat. Dan akhirnya kemarahan itu tumplek pada lukisan Srihadi. Ini adalah karakter si Kabayan. Hakikat si Kabayan ini populer di derah Sunda. Dia adalah tokoh yang malas, berani mempermainkan mertua, dan akhlaknya kurang baik. Walaupun orang Sunda menyukai cerita itu, tak seorang pun di antara mereka yang mau disebut si Kabayan.

Regionalism
Apakah akan muncul regionalism jika orang terlalu berlebihan menghargai kebudayaan daerahnya? Di sini perlu politik kebudayaan. Sekarang tidak jelas. Sekarang, kedaerahan dibangkitkan tanpa kebijksanaan. Di beberapa tempat kita melihat dihidupkannya kembali kedaerahan yang feodalistis. Saya kurang suka upacara adat dipopulerkan kembali di daerah Jawa Barat. Ada yang dibuat-buat, dan sebelumnya ia tidak pernah ada. Ia hanya semacam pertunjukan. Secara historis tidak benar, dan hanya untuk menyenangkan pejabat. Ketika Ratu Juliana datang ke Bandung, kakinya dicuci. Jika saya jadi Ratu Juliana, saya akan marah, karena itu berarti kaki saya kotor. Begitu juga yang terjadi dengan mengantar pejabat yang pindah ke daerah lain dengan upacara adat. Mereka yang melakukannya, mungkin merasa senang, atau merasa kangon.
Saya memang melakukan transkripsi karya-karya sastra Sunda. Tapi saya tak hendak menimbulkan regionalism. Yang saya lakukan hanya merawatnya, mengamankan kekayaan rohani supaya jangan hilang. Saya hanya mencatat, apalagi juru pantun kini umumnya sudah berumur di atas 60 tahun, dan mereka tak punya murid lagi.

Kebudayaan harus berpokok pada ilmu
Sutan Takdir Alisjahbana, 72 tahun, sastrawan

Sebenarnya terjadi kekacauan dalam mengambil pengetian tentang kebudayaan nasional Indonesia. Banyak di antara kita tidak memiliki pengertian kebudayaan yang jelas. Dalam arti sempit, kebudayaan adalah adat istiadat, kepercayaan, seni. Dalam arti luas—yang sebenarnya relevan pada zaman sekarang—kebudayaan itu melingkupi segala perbuatan manusia, yang membedakannya dengan hewan. Budi daya atau kebudayaan tak lain daripada hasil budi manusia. Dan bila kita lihat kebudayaan Indonesia dalam arti yang luas ini, perubahannya akan jelas sekali: dari suatu konfigurasi yang dikuasai agama, seni, solidaritas dan kekuasaan politik, pindah ke suatu bentuk yang dikuasai ilmu, ekonomi, yang bersama-sama melahirkan teknologi dan menumbuhkan solidaritas serta susunan politik yang baru. Bagi saya jelas sekali perbedaan kebudayaan Indonesia lama, kebudayaan Indonesia baru, dan kebudayaan Indonesia modern. Pusat kebudayaan itu adalah universitas.

Kebudayaan daerah
Kebudayaan nasional Indonesia adalah kebudayaan yang progresif. Ia dikuasai ilmu dan teknologi. Dan bagi saya seluruh kebudayaan Indonesia, juga kebudayaan daerah, akan berpokok pada ilmu dan bersifat progresif. Kalau beternak sapi di daerah, ia harus dipelihara secara ilmiah. Bahasa apa pun yang dikuasai sekolah-sekolah di desa, ia mesti memberikan ilmu abad keduapuluh ini. Warung di desa mesti dijalankan dengan pikiran yang menyadari efisiensi. Kita tak peduli petani memberi sesajen untuk Dewi Sri, namun mereka harus menanam padinya secara modern. Dalam hal ini sifat kedaerahan hilang. Indonesia adalah bagian dari dunia, dan karenanya ia tak bisa lari dari kebudayaan progresif. Kenapa demikian? Karena kebudayaan yang berpokok pada ilmu, ekonomi, telah menyatukan dunia. Yang tidak sadar akan hal ini, berarti hidup dalam abad yang lampau. Kita masih hidup dalam abad pertengahan. Kesukarannya adalah karena cara berpikir universitas belum sampai ke desa, dan rasionalisasi dalam bidang ekonomi serta efisiensi masih merupakan kata-kata asing. Hal ini masih terdapat pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan pemimpin kita banyak yang belum mengetahui secara jelas apa yang terjadi di dunia ini.
Dengan universitas sebagai pusat, dapatkah kita melakukan perubahan secara cepat? Kalau mau, perubahan itu bida cepat terjadi. Lihatlah Jepang. Semuanya berubah dalam lima tahun. Tapi kita, mendisiplinkan pegawai negeri saja belum bisa. Bekerja keras dan belajar keras, belum menjadi semboyan.
Saya berpendapat bahwa embel-embel daerah itu tidak penting. Anak Jawa yang melanggar kelakuan Jawa dianggap belum jadi orang Jawa. Kita harus tahu, kebudayaan itu hanya tempelen. Yang penting adalah bagaimana kemauan cara hidup kita. Jika kita hanya mengambil bahan dari Indonesia, alangkah bodohnya kita. Kita harus meluaskannya. Sejarah kita terlalu kecil dibandingkan dengan Cina, India, Islam ataupun Eropa. Karena itu kita harus luas. Bentuk diri menjadi manusia besar abad sekarang. Jalannya adalah lewat pendidikan, bekerja keras. Rasanya tidak banyak orang yang mati karena bekerja terlalu banyak. Barangkali lebih banyak orang mati karena kurang bekerja.
Hendaknya kita sadar bahwa kebudayaan di abad ini adalah soal kesatuan dunia, umat manusia. Ada orang yang berkata, kita manusia Timur, jangan seperti orang Barat, kebudayaan kita lain. saya dulu memang memakai perkataan Barat, tapi yang saya maksud adalah manusia yang rasional, dinamis dan sadar akan hidupnya. Namun sekarang, perkataan Barat dan Timur harus dibuang. Ia menghambat pengertian tentang kemanusiaan. Manusia Barat dan Timur sama. Sama manusia.
Jangan dikira saya terlalu jadi orang internasional dibandingkan jadi orang Indonesia. Itu tak benar. Saya bekerja mati-matian untuk Indonesia. Tetapi Indonesia haruslah dilihat dari kemanusiaan. Saya ingin menjadi orang Indonesia yang besar. Apa saya mau menjadi orang atau manusia kecil tetapi keindonesiaannya saja yang besar?
Kebudayaan daerah dengan sendirinya akan tetap ada. Seperti di Eropa sekarang, di setiap desa ada kebudayaan. Mau dihapuskan tentu tidak bisa. Karena mereka satu desa dan berteman bersama-sama, tentulah mereka mengadakan tari-tarian dan menyanyi bersama. Tetapi sebaliknya, desa itu tidak dapat menutup diri dari semua yang asing. Sekarang ini ada pertukaran antara pusat dan daerah. Dengan pertukaran ini desa tidak lenyap. Tiap desa mempunyai coraknya sendiri.

Luntur
Ada yang mengatakan bahwa lunturnya kebudayaan daerah antara lain disebabkan kesalahan Angkatan 28 yang mempersetankan kebudayaan Indonesia lama, dan menghembuskan kebudayaan Indonesia baru. Pendapat seperti ini memutarbalikkan sejarah. Mohammad Yamin adalah orang yang banyak mempelajari kebudayaan Jawa. Angkatan 28 sampai dengan Pujangga Baru lebi berdasarkan ilmu dalam penyelidikan kebudayaan lama. Orang tak mengerti tentang apa yang dikerjakan oleh mereka yang pro barat. Saya dikatakan pro Barat. Dan orang pun tak mengerti apa yang saya lakukan dengan sanggar kesenian Toya Bungkah di Bali.
Kini orang pun cemas tentang masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia. Padahal dalam kekhawatiran itu, kebudayaan yang mereka maksud dan membuat khawatir itu hanyalah ujung-ujungnya atau ekses-ekses saja. Kebudayaan Barat yang sebenarnya, sebetulnya terlalu lambat masuk ke negeri kita. Universitas, teknologi, ekonomi, efisiensi, terlalu lambat kita terima. Janganlah melihat yang jelek-jelek itu. Kalau mau telanjang, telanjanglah. Itu hanya ujung-ujungnya. Tapi yang saya kehendaki adalah kebudayaan, yakni ilmu dari Barat.
Kenapa kebudayaan daerah dalam arti sempit kini makin luntur? Karena angkatan muda dinamis dan kreatif. Jiwanya sudah jiwa abad ke-20. Jadi kalau disodori isi yang lama, tidak cocok lagi. Saya sekarang memberi jiwa abad ke-20 kepada gaya-gaya lama tadi, jiwa masa yang akan datang. Kita buat tari Bali, gerak Bali dan gamelan Bali di persimpangan jalan. Ini adalah soal kita. Betul tari Bali, tetapi orang melihatnya sebagai sesuatu yang lain. Indonesia kaya sekali akan kesenian. Pada Conference on the Art and future, orang asing mengatakan bahwa pusat markas besarnya adalah di Toya Bungkah. Jadi kita diberi kesempatan memimpin dunia. Tetapi kalau kita hanya berpikir secara daerah saja, sukar bagi kita memimpin dunia. Sekarang pun kita sukar memimpin daerah karena kebudayaan daerah sudah masuk kebudayaan industri. Kita harus meluaskan pikiran kita, bahwa dunia sudah berubah sejak perang dunia II. Lihat di Eropa, Inggris dan Jerman tahun ini akan memilih anggota parlemen langsung dari rakyat mereka, tahun ini mereka akan bertukar pegawai, dan mereka sudah lama membicarakan penyatuan uang. Dulu mereka bermusuhan. Sekarang kita harus mengetahui tujuan dunia.

Strategi kebudayaan
Kalau kita suatu bangsa yang sadar, pasti kita mempunyai strategi kebudayaan untuk menuju masa depan yang baik. Dalam rapat perguruan tinggi swasta saya merumuskan tentang kebudayaan Indonesia. Saya memakai nama kebudayaan Indonesia secara prioritas. Pertama tentang ekonomi dan ilmu. Kalau tidak, kita akan menjadi paria di dunia. Bertambah lama bertambah paria. Ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi.
Tentang agama, kita jangan lupa bahwa ilmu itu adalah sebagian dari apa yang kita tidak tahu. Dalam hal ini kita harus rendah hati kepada rahasia alam semesta yang tidak terduga, yang menguasai kita dalam segala hal.
Tentang politik, masyarakat, organisasi kemasyarakatan mempunyai 2 sumbu, kekuasaan dan solidaritas. Kekuasaan itu vertikal, dari atas ke bawah. Solidaritas, horizontal, berdasarkan cinta kasih sayang. Dan kita ingin demokrasi. Tinggal satu nilai lagi yakni seni. Nilai seni itu nilai kreatif, mencipta sesuatu yang baru. Saya menghendaki supaya seni membesar bukan hanya keindahannya saja. Gampang saja membuat sajak percintaan yang menimbulkan keharuan. Bagi saya sekarang, tiba saatnya kekreatifan seni itu melingkupi ilmu, ekonomi, politik dan solidaritas. Kekreatifan itu meluas ke segala lapangan. Sebab itu, kalau orang mengatakan roman saya terlampau banyak isinya, itu adalah keyakinan saya. Roman hanya dapat melakukan tugasnya sekarang, kalau dia memakai segala hal yang diperoleh itu, dia meluaskan pikirannya seluas agama, kalau dia dapat memberikan kepada dirinya suatu tanggungjawab, solidaritas dan organisasi negara.

Bukan karena penjajah
Dapatkah penjajahan yang berlangsung di Indonesia tempo dulu disebut sebagai penghalang? Tidak. Penghalang itu adalah mentalitas bangsa Indonesia sendiri. Penjajahan adalah sebagai akibat hukum alam: yang pintar, kuat, dinamis, mesti menguasai yang bodoh, lemah dan statis.
Tugas Belanda dahulu memang bukan untuk mendidik kita. Dan sebetulnya Belanda telah berjasa besar mengubah otak Sukarno, Hatta, dan lain-lainnya, yang akhirnya menjadi murid-murid yang mengusir Belanda itu sendiri. Itu pun atas dukungan internasional yang besar sekali.
Bagaimana pun bangganya kita, kita harus sadar bahwa kebudayaan kita tidak pintar, lemah dan statis. Kebanggaan kita kadang-kadang berlebihan. Kita kurang intropeksi. Kita harus melihat perubahan dunia secara nyata, jujur, jangan bermimpi atau berilusi. Kita harus merubah mental dari kebudayaan ekspresif dan fantasi, sedikit rasio yang berdasarkan intuisi, menjadi kebudayaan yang dikuasai rasio, perhitungan, dan realitas. Dengan begitu, bukan berarti agama bakal hilang. Saya tak khawatir sumber agama akan lenyap. Hanya orang bodoh dan tak memahami arti agama sesungguhnyalah yang memiliki kekhawatiran demikian.

Bahasa
Tentang berbahasa Indonesia dengan baik, saya selalu berselisih dengan kaum linguis. Mereka tidak sampai menjadi manusia dewasa. Mereka itu murid-murid. Guru-gurunya itu kolega saya berdebat di Amerika. Linguistik dalam 50 tahun yang lalu tiba di jalan buntu, karena mereka takut kepada pikiran. Mereka bermain dengan bunyi-bunyi, maka timbullah fonologi, yang semuanya berputar-putar pada bunyi. Pikiran itu susah bagi mereka. Jadi kita sekarang menerima ilmu linguistik sebagai ilmu bahasa yang tidak berarti. Padahal bahasa itu pentingnya kalau punya arti.
Kalau demikian boleh saja mereka membuat ilmu linguistik mengenai aum harimau, suara bebek atau kambing, sebab hanya tentang bunyi. Bagi mereka pikiran terlampau sukar. Mereka sebenarnya harus sampai kepada logika, filsafat, dan kebudayaan. Bahasa yang tidak menjadi alat pikiran, bahasa apa pula namanya? Bagi saya, bahasa itu adalah cara menjelmakan pikiran manusia. Di sinilah letak kebudayaan. Setiap bahasa itu sempurna untuk kebudayaannya. Kebudayaan apa yang ada di Indonesia ini, bahasa Indonesia harus menjadi cermin yang sesungguhnya. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia berbeda sekali. Bahasa daerah akan menjadi cermin kebudayaan lama, kebudayaan daerah. Bahasa Indonesia sejak dulu dikritik banyak orang. Sekarang bahasa Indonesia harus menjadi setaraf dengan bahasa Jerman, Belanda, Inggris, Jepang, Rusia sebagai bahasa modern abad ke-20. Istilah yang kita ciptakan sudah lebih dari setengah juta. Terasa bagaimana perubahan kebudayaan kita. Dari 20 ribu, yang masuk hampir 20 kali, sejak zaman Jepang. Kalau Diponegoro tiba-tiba masuk ke suatu sekolah di Jawa Tengah, dia tidak bakal mengerti. Kaum linguis tidak mengerti hal ini. Bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa Melayu Polynesia yang menjadi bahasa modern.
Kalau orang mengatakan kita harus berbahasa Indonesia yang baik, berarti bahasa yang modern, yang logis. Sekarang dalam pelajaran bahasa di bawah pimpinan kaum linguis, saya sering melihat kalimat-kalimat itu tidak selesai, sebab cara berpikir tidak jadi penting. Dalam tata-bahasa diadakan uraian kalimat. Mana subjek, prediket, objek, keterangan tempat dan keterangan waktu. Semua ini kategori pikiran. Penganalisaan pikiran. Bahasa adalah seperti yang disebutkan guru saya, Niewenhuys: Bahasa itu kadang-kadang berupa bunyi, kadang berupa tanda, tetapi selalu pikiran. Janganlah hal ini diabaikan. Dalam krisis kebudayaan seperti sekarang, orang tidak bisa berpikir tentang kebudayaan kalau tidak berani naik ke filsafat. Di zaman sekarang kita harus berani mendaki gunung. Dari puncak gunung kita dapat melihat peta kebudayaan seluruh Indonesia. Tetapi kalau kita di bawah pohon, kita tidak bisa berbicara tentang kebudayaan yang luas itu. Kita hanya melihat bayang-bayangnya saja.
Jadi, berbahasa Indoensia yang baik adalah mengekpresikan pikiran-pikiran dengan baik. Kalau tidak begitu kita menipu rakyat. Kita jadinya memberi bahasa yang tidak cocok.
Lebih celaka lagi kalau cara-cara lama mewarnai bahasa Indonesia. Seperti perasaan halus dan kasar dari bahasa Jawa. Pelacur sudah bagus lantas diganti dengan tuna-susila. Penganggur diganti tuna-karya. Yang kita kehendaki bukan penghalusan tetapi penambahan logika dan tepat. Dan tiap-tiap penghargaan yang lain menghalangi penglogisan dan pentepatan bahasa kita. Karena itu juga saya mempertahankan perkataan tuan dan puan. Dahulu orang Belanda suka yang memanggil tuan dan puan. Setelah merdeka, semua kita harus menjadi tuan, sekarang yang dipakai adalah kata kampong dari desa yakni Bapak dan Ibu. Di desa semua memakai bapak dan ibu, kakak dan adik. Tetapi dalam hubungan resmi mestinya memakai tuan dan puan. Dengan kata ini semua orang sama.
Dalam kongres bahasa baru-baru ini saya katakan bahwa dalam pengadilan semua orang Indonesia adalah Tuan dan Puan, sama tinggi duduknya dengan hakim. Kalau kita pergi ke kantor pajak, “Tunggu dulu, tuan. Akan saya lunasi besok.” Semua menyebut tuan. Lancar. Sekarang masih terlampau ditinggikan, kata Bapak memasukkan unsur desa ditambah unsur feodal. Apakah saya harus memanggil anak muda, dengan Bapak? Kekuasaan menjadikannya sebagai Bapak. Ini namanya perkawinan desa dengan feudal. Untuk abad ke-20 ini mestinya, tuan dan puan. Pesawat terbang Malaysia mempergunakan panggilan Tuan-tuan dan puan-puan. Maskapai penerbangan Singapura juga begitu. Tetapi Indonesia mempergunakan Tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Mungkinkah wanita Indonesia bukan nona lagi? Mengapa tidak memakai tuan dan puan? Apakah kita takut dikatakan meniru Malaysia? Bukankah Malaysia, Singapura dan Indonesia mempunyai bahasa yang satu?. Di sini kekerdilan kita masih kelihatan sekali.
( Sumber: Prisma 2, Februari 1978 hlm 50 – 58 ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s