Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh, Yogyakarta

L A K A

LEMBAGA ADAT DAN KEBUDAYAAN ACEH

YOGYAKARTA

 

 

 

 

UPACARA PEUSIJEUK PENGANTIN MENURUT ADAT ACEH

 

 

 

 

 

KOORDINATOR PELAKSANA

NY. A. MUIN UMAR

 

 

 

 

 

N A S K A H : DRS. OK. AMIRUDDIN

 

 

 

 SUSUNAN ACARA

1.      PEMBUKAAN TVRI

2.      WAWANCARA/TANYA JAWAB

3.       JALANNYA UPACARA

4.      PENUTUP


 

PELAKSANAAN JALANNYA  UPACARA

1.         ACARA MENGINJAK TELUR ;

Ø  Pengantin Pria dan Wanita digandeng oleh 2 orang Ibu, sebelum didudukkan ditempat bersanding ( Pelaminan ). Didalam upacara ini yang bertugas sebagai pendamping : Yaitu ; Ibu Ismail Thaib / Ibu Muslim Syukur – Ibu Marhaban / Ibu Mawardy

Ø  Peralatan yang harus disediakan pada waktu acara mengin­jak telur antara lain terdiri dari :

1.      Talam dari kuningan atau sejenisnya

2.      Sebuah piring atau mangkok yang berisi air

3.      Sebutir telur ayam yang dimasukkan dalam kantong plastik

4.      Beberapa helai daun sidingin (daun cocor bebek) dalam bahasa Aceh disebut Oen sisijeuk, dijadikan satu dalam mangkok yang berisi air

5.      Kelapa muda untuk pelengkap

6.      Disediakan lap untuk membersihkan kaki penganten laki-laki.

 

ACARA DIMULAI

Ø  Pengantin wanita sudah siap melaksanakan tugasnya

Ø  Pengantin laki-laki harus menginjak telur tsb. Dan dibantu oleh penganten wanita kaki pengantin laki-laki dicelupkan kedalam wadah berisi air tadi.

Ø  Semuanya dilakukan dibawah tuntunan pendamping wanita yang bertugas membantu demi kelancaran upacara

Ø  Pengantin wanita mencuci kaki pengantin laki-laki dan mengelapnya.

 

Adat menginjak telur dimaksudkan suatu pelambang bagi kedua pengantin, dimana didalam mendayung bahtera biduk kasihnya senantiasa dapat memecahkan setiap masaalah dengan mudah dan berhasil dengan baik.

Setelah selesai Upacara menginjak telur kedua pengantin dibirnbing keatas persada persundingan

 

 

2.         ACARA PEUSIJUEK PENGANTIN ( TEPUNG TAWAR ) Tujuannya :

ØTelah menjadi adat Resam dalam kehidupan rakyat Aceh bahwa sesuatu yang baru itu haruslah dilepaskan dengan doa  berkat selamat menuju cita-cita.

ØSeseorang yang akan naik kejenjang perkawinan, dianggap akan menempuh hidup baru dengan serba suka dan derita rumah tangga antara suami isteri. Oleh karena itu menjadi adat pula dalam rangkaian suatu acara perkawinan, pada siang harinya terlebih dahulu ditepung tawari,  dalam bahasa  Aceh (dipeusijeuk) sebagai berkat orang tua melepaskan  mereka menuju hidup berumah tangga.

 

BAHAN / PERALATAN YANG DIGUNAKAN

·         TEPUNG TAWAR yang dilarutkan dalam air, diteteskan minyak wangi,

yang artinya :

Bilamana mereka bergaul di dalam Masyarakat namanya selalu harum dan dapat menyesuaikan diri

·         BERAS PADI dicampur dengan beras kunyit yang artinya :

Perlambang Kesejahteraan suami/isteri dalam menempuh hi­dup baru.

·         DAUN- SIDINGIN ( cocor bebek ) biasa digunakan untuk obat turun panas,  dalam bahasa Aceh Oen sisijeuk,  daun manik mano sejenis rumput yang digunakan untuk jampi-jampi.

Daun naleung sambo juga sejenis rumput untak jampi.  Dan untuk pelengkap ,dedaunan seperti daun pudeeng ,daun suci atau daun belimbing.

Daun-daun tersebut diikat jadi satu, disediakan 2 ikat. Kegunaannya apabila dalam upacara oleh yang menepung ta­wari atau yang peusijeuk dapat dipegang kiri dan kanan.

Artinya dari daun SIDINGIN,  yaitu pelambang ketentraman rumah tangga, selalu dijaga antara suami dan isteri saling ada pengertian serta selalu tenteram dan damai

Daun MANIK MANO dan NALEUNG SAMBO,  artinya pelambang suami isteri selalu berada dalam ikatan bathin antara satu dengan yang lain dengan pengertian kokoh kekal dan abadi.Ikatan daun ini dipercik atas diri pengantin

·         Ketan kuning beserta intinya yang dibuat dari kelapa dan ka­ramel atau gula Jawa,

Ketan kuning kegunaannya untuk menyunting telinga kedua pe­ngantin atau dapat juga disuapi kepada kedua pengantin. Ketan kuning dihiasi dengan teumpou. Teumpou makanan khas Aceh yang terbuat dari tepung ketan diramas dengan pisang, digoreng,dibentuk dan dihias.

Arti dari ketan kuning ini adalah pelambang supaya suami isteri selalu hidup bahagia dalam lindungan Allah SWT dan se­lalu ta’at menjalankan Agama dalam kehidupan sehari-hari.

·         Menyediakan uang sekedarnya dimasukkan dalam amplop, istilah bahasa Aceh TEUMEUTUK atau salam temple (Seuneumah) Artinya pelambang suami isteri didalam menjalankan bahtera hidupnya selalu sama-sama bertanggung jawab didalam bahtera kemudi rumah tangga.

Para pelaku fteumeutuk dalam hal ini yaitu:

1.      Ibu dan Bapak pengantin wanita menyerahkan amplop kepada pengantin laki-laki.

2.      Ibu Bapak pengantin laki-laki menyerahkan amplop kepada pengantin wanita.

3.      Keluarga pengantin wanita menyerahkan amplop kepada peng­antin laki-laki

4.      Kelurga pengantin laki-laki menyerahkan amplop kepada pe­ngantin wanita.

5.      Sedangkan atas nama kerabat atau handai taulan menyerah­kan amplop kepada kedua mempelai.

Berarti sebelumnya harus menyediakan amplop sebanyak 7 buah,  karena  yang peusijeuk ada tujuh orang antara lain :

1.      Ibu dari pengantin wanita atau wakil

2.      Bapak dari pengantin wanita

3.      Ibu dari pengantin laki-laki.

4.      Bapak dari pengantin laki-laki

5.      Keluarga dari pengantin wanita

6.      Keluarga dari pengantin laki-laki

7.      Satu orang mewaklli kerabat/handai taulan.

 

URUT-URUTAN PEUSIJEUK

Supaya tertib dan khidmad didahulukan dengan :

1.      TEPUNG TAWAR yang telah tersedia dengan menggunakan dedaunan tadi, dipegang kiri dan kanan oleh yang akan menepung tawari dengan membacakan :

” BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM “

3 kali berturut-turut didahului pada pengantin laki-laki,  selanjutnya kepada pengantin wanita.

2.      BERAS PADI YANG DICAMPUR BERAS KUNYIT

Ditaburi kepada kedua pengantin sebanyak 7 kali berturut-turu,  dihitung sebanyak 7 yang diucapkan agak panjang ,umpama : kalau dalam bahasa Aceh:

Sa, dua, Ihee, peut, limoung, nam, tu……. joeh!

(1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,)

3.      KETAN KUNING .disuntingkan ketelinga pengantin laki-laki dan ketelinga pengantin wanita atau disuapi.

4.      TEUMEUTUEK (salam tempel) seperti telah disebutkan di atas tadi yaitu : Ibu dan Bapak pengantin wanita, Teumeutuek kepada pengantin laki-laki.Dan seterusnya hingga orang ke 7 ( handai taulan/kerabat kedua pengantin ).

Selanjutnya,  setelah upacara ini selesai barulah dilanjutkan de­ngan  : Pembacaan Do’a.

Selesai pembacaan do’a memberi ucapan selamat kepada kedua pengantin oleh pihak keluarga,  baik dari laki-laki maupun dari pihak keluarga wanita

 

Penutup:

Yogyakarta, 31 Agustus 1988

NY. A. Muin Umar

UPACARA  PEUSIJUEK  PENGANTEN MENURUT ADAT ACEH

 

Telah menjadi adat rasam dalam ponghidupan masyarakat Aceh pada umumnya sagala yang baru, haruslah dilepas dengan sempurna dan doa selamat serta berkah menurut clta-cit.

 Upacara pausijuek Ini seringkali dilakukan pada acara sbb:

 Peristiwa membangun rumah baru/naik rumah baru

·       anak tammat mengajl AlQuran

·       anak turun tanah

·       anak jatuh dari  tangga

·       Pergi atau kembali dari suatu perjalanan yang jauh

·       Terlepas dari marabahaya/kecelakaan

·       Penganten baru atau  perkawinan

Dalam penampilan kali ini akan disajikan  upacara Peusijuek penganten baru. Naik ke jenjang perkawinan dianggap akan menempuh hidup baru dengan serbaneka suka dan derita rumah tangga antara suami dan isteri, sehingga sudah menjadi adat dalam rangkaian suatu upacara perkawinan , bahwa menjelang malam peresmian perkawinan (bersanding) pada siang harinya harus terlebih dahulu dipausijuek (di tepung tawari) sekelengkapan orangtua melepaskan mereka menuju hidup baru.

Tujuan peusijuek (Tepung tawari)

Tujuan pausijuek ini adalah untuk memberikan kesempurnaan serta memberikan do’a,berkah, agar dalam menempuh hidup baru nanti dapat berjalan dengan selamat, tentramt damai  rukun serta mendapat rezeki dan anak yang banyak,

 

Bahan/alat

Bahan-bahan yang dipergunakan adalah :

1.      Tepung tawar yang dilarutkan dalam air dingin

2.      Beras padi

3.      Daun sidingin (cocor bebek) biasa digunakan untuk obat penurun panas.

4.      Daun manekmanoe,  sejenis rumput yang digunakan untuk jampi

5.      Daun naleungsambo sejenis rumput untuk jampi

6.      Ketan kunihg beserta intinya yang- dibuat dari kelapa dan gula merah.

7.      Kalapa muda  (degan Jawa)

8.      Telor ayam

 

 

Pelaku peusijuek

Pada umumnya yang malakukan peusijuek ini adalah dipimpin oleh seorang ahli yang terkemuka di kampung, biasanya terdiri dari wanita yang sudah  berusia lanjut atau orangtua yang dianggap pantas untuk melakukan hal tersebut.

Pada umumnya yang melakukan peusijuek ini berjumlah ganjil atau umumnya adalah berjumlah 7 (tujuh) orang yang dipilihkan dari anggota keluarga terdekat dari kedua belah pihak.

Sebelum pekerjaan peusijuek dimulai, biasanya didahului dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kemudian menaburkan beras -padi sabanyak tujuh kali berturut-turut dihitung sebanyak 1,2,3t4f5,6,dan 7 yang diucapkan agak panjang. Setelah itu memercikkan air tepung tawar dengan menggunakan ikatan daun sidingin.  Naleungs ambo, manekmanoe (diikat menjadi satu) pada tangan dan kaki penganten berdua. Kemudian menyuntingkan ketan kuning pada kadua kuping serta menyuapinya pada kedua penganten,  selanjutnya diikuti oleh pelaku peusijuek yang lainnya hingga berjumlah tujuh orang.

Setelah upacara ini selesai barulah kemudian dilanjutkan acara-acara yang lainnya, misalnya memberi ucapan selamat kapada penganten oleh pihak keluarga baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan.

 

Aceh dalam TVRI pusat.

          1-9-88 kerajinan keramik, Kamis

 di Tanah Gayo dalam acara Dunia Dalam Berita

          2. Tari saman dari expo 88 Brisbourne Ju’mat

Australia, dalam acara Dunia Dalam Berita  ( 2-9-88).

          3. Dalam acara Apresiasi Film Nasional 3-9-‘88

“artis Fillm pada PKA-3 Banda Aceh “Sabtu.

          4. 4-9-‘88 acara “Berita Nusantara” ada aceh tentang kehutanan di Aceh” Ahad.

          Aneka Ria Anak2  Nusantara”  ada kesenian Aceh tgl 4-9-‘88 Ahad.

( Cacatan: mulai judul “Aceh dalam TVRI pusat “ adalah catatan tulisan tangan saya di bagian kosong lembaran makalah/proposal Upacara Peusijuek. Bale Tambeh, 22 Puwasa 1433/11 Agustus 2012, pkl 6.57 pagi Wib., T.A. Sakti).

 

 

Upacara “peusijuek pengantin” ini direkam TVRI stasiun Yogya tgl 31 Agustus 1988 TA..dan disiarkan tgl 1-9-1988 sore hari” dalam acara “Lembaran Sastra  &  Budaya”

 

ANGGARAN BIAYA

1.      Perlengkapan Pelaminan                                             Rp: 50.000

2.      Baju pengantin Pria dan kupiah meukutop                 Rp: 25 000

3.      Baju pengantin wanita dengan perhiasan                   Rp: 25 000

4.      Satu stel pakaian penyiar TV dan perhiasan               Rp: 15 000

5.      Pakaian pendamping …………….. …. dan Perhiasan       Rp: 10 000

6.      Rekaman kaset                                                            Rp: 50 000

7.      Make up pengantin dan sanggul ……………….                     Rp:   5 000

8.      Ibu Husen  (Perlengkapan Teumpou dll)                                Rp:   5 000

9.      Ibu Jalalluddin (alat injak telur dan kue loyang )         Rp:   5 000

10.  Ibu Nouruzzaman ( ketan kuning dll )                        Rp:   5 000

11.  Ibu Muslim ( jamba dengan hiasan )                           Rp: 20 000

12.  Ibu Anshari ( karpet )                                                  Rp:    5 000

13.  Ibu Iman ( transportasi )                                             Rp: 10 000

14.  Thimphan 200 buah dihidangkan + karyawan TV     Rp: 20 000

15.  Kesektariatan                                                              Rp:   5 000

16.  Dekorasi/Dokumentasi                                                Rp: 20 000

17.  Konsumsi   30 kali Rp 500 kali 2                                Rp: 30 000

18.  Biaya tak terduga                                                        Rp: 30 000

 

Jumlah                                                                                     Rp: 335 000,-                                                                          ( tiga ratus tiga puluh lima ribu rupiah )

 

 

 

 

 

 

ALAT-ALAT-UNTUK HIASAN ANTARA LAIN  :

1.      Tempat cincin+ Perhiasan

2.      Jeuname (Mas kawin) : seperangkat alat Sembahyang

3.      Seperangkat pakaian wanita

4.      Hiasan kue-kue tradisionil

5.      Hiasan buah-buahan

6.      Puan

7.      Dua buah payung hiasan ( payoeng Aceh )

 

                                                                               Koordinator

 

 

                                                                               Ny. A. Muin Umar

Iklan

Almarhum Prof. H.A. Madjid Ibrahim Berasal dari Keluarga Ulama

Almarhum Prof. H. A. Madjid Ibrahim

Berasal dari  Keluarga Ulama

Laporan: T.A. Sakti (I)

TANGGAL 29 Maret 1981 yang lalu, “WSP” bersama seorang teman mahasiswa keguruan Jurusan Bahasa Inggris Unsyiah, Fadhil Z.A., berangkat  menuju desa Lam Jruen, kecamatan Seulimum, Aceh Besar. Tujuan keberangkatan kami adalah berziarah ke makam MAHA PUTRA Prof. H.A. Madjid Ibrahim yang hari itu,  baru saja dua minggu  berpulang ke Rahmatullah. Kami berangkat dari jurusan Banda Aceh – Medan. Ketika masih  dalam perjalanan kami ditimpa musibah. Honda Cup yang kami pakai kempes. Terpaksalah penulis balik kebelakang ke pasar Sama Ngani untuk menempel ban yang  kempes  itu, sedang kawan penulis dengan menumpang bus Ampera, langsung menuju desa Lam  Jruen Seulimum.

Setelah segala urusan kenderaan beres, perjalanan pun dilanjutkan terus berlangsung hingga sampai di sebuah persimpangan jalan. Keraguan mengganggu lagi, jalan mana yang harus ditempuh. Sejauh mata memandang tidak ada seorang manusia pun kelihatan. Lima menit penulis berhenti dipersimpangan itu. Dari jauh nampak dua buah sepeda motor menuju arah yang sama. Ternyata salah seorang dari mereka adalah adik almarhum Prof. A. Madjid. Penulis telah mengenal orang itu, penulis terus mengikuti perjalanan mereka. Mereka berhenti di sebuah rumah. Sambil bersalaman dan berkenalan, kamipun menuju kerumah khanduri. Setiap orang yang kami lewati, pasti datang bergesa-gesa untuk berjabat tangan dengan adik almarhum tersebut. Mereka memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan “Ban troh Teungku? (barusan sampai Tengku?)”. Orang orang kampung itu sangat hormat kepada anak dari ulamanya Teugku Ibrahim. Gara-gara setiap langkah kami dicegat dengan penuh kehormatan itu, penulis sendiri kadang-kadang kikuk untuk menguasai diri, agar lebih sopan. Sejak itu barulah penulis sadar bahwa Prof.A.Madjid Ibrahim adalah berasal dari keluarga ulama. Dengan beberapa teman, kami mengikuti rombongan Hajjah Rohani Mahmud (isteri almarhum) yang sedang menuju tanah perkuburan, yang tidak berapa jauh dari rumah khanduri. Disebelah kanan jalan nampak tanah yang agak luas, dimana di atasnya batu berturap indah sekali.

Setelah penulis tanyakan, barulah penulis ketahui, bahwa disitu pernah dibangun sebuah pesantren (Dayah) yang sangat masyhur oleh ayah Gubernur Prof.A.Madjid, yaitu Tgk. Ibrahim. Selesai acara do’a untuk ke dua almarhum, yakni Teungku Ibrahim dan Prof. A.Madjid yang dikebumikan berdampingan, semua penziarah, pulang bersama ke rumah khanduri. Sebelum penulis beranjak pergi dari situ, sempat mengamati makam almarhum Tgk.Ibrahim, Pada temboknya tertulis “Kubur Teungku Ibrahim alias Teungku Bireuen”. Tamu yang datang lumayan. Diantaranya adalah kepala-kepala jabatan tingkat propinsi dan kebupaten Aceh Besar, serta sanak famili, handai tolan dari almarhum. Sebelum pejabat-pejabat pulang, Zainal Abidin, yang lebih dikenal dengan gelaran Ayah Cek (Kepala Biro Umum, Humas dan Protokol Kantor Gubernur Daerah Istimewa Aceh) berpidato dihadapan khalayak. Antara lain Ayah Cek mengatakan bahwa semua perjanjian yang telah pernah dibuat antara masyarakat dengan Gubernur Teungku Abdul Madjid, masih tetap berlaku dan diakui sah oleh pemerintah tingkat 1 Aceh, walaupun beliau telah tiada.” Sebagai menghormati almarhum, pemerintah akan mengaspal jalan, mulai dari makam beliau sampai ke jalan raya Banda Aceh-Medan. Ayah Cek juga mengatakan bahwa di kampung Lamjruen ada sebuah pesantren yang akan ditingkatkan pembangunannya di masa mendatang, demikian Zainal Abidin. Sambil mendengar pidato tersebut hati penulis nyeletuk : “memang tepat kata pepatah ; teupat keu pangkai, akai keulaba. Jeuheut keu pangkai, kanjai keulaba (kalau kejujuran dijadikan modal, pasti kebahagian sebagai labanya, tapi jika keserakahan dijadikan modal, pasti kecemaran nama yang akan dirasai). Kalau jalan dari jalan negara ke Lanjruen tidak diaspal selama beliau pegang jabatan, yang sememangnya hanya dua kilometer saja, maka setelah Prof. H. A. Madjid pergi untuk selamanya, pemerintah akan turun tangan memperbaiki jalan yang keriting itu. Setelah mendengar pidato itu pula penulis lebih merasakan, bahwa almarhum yang 3 tahun memegang tampuk pimpinan propinsi Aceh itu, benar-benar berasal dari kalangan ulama. Hal ini dapat kita analisa dari kata-kata Zainal Abidin, dimana beliau tidak satu patah pun menyebut  nama almarhum dengan sebutan yang sering kita dengar dan baca selama ini, yaitu Prof. A. Madjid Ibrahim. Zainal Abidin menyebut beliau dengan nama Teungku Madjid Ibrahim. Initial “professor” di tinggalkan; mungkin masyarakat desa Lam Jruen, lebih mengenal Gubernurnya dengan sebutan Teungku Abdul Madjid Ibrahim.

Jadi kalau nama dari Teungku Abdul Madjid Ibrahim, hendak kita tuliskan secara lengkap, akan kita lihat sangat panjangnya, yaitu Profesor Teungku Haji Abdul Madjid Ibrahim. Untuk beliau Pemerintah memberi gelar MAHA PUTRA. Setelah semua pengunjung pada pulang, penulis mulai mencari data dan penjelasan dari sebuah pesantren, yang pernah diucapkan oleh Zainal Abidin dalam pidato tadi. Beberapa orang santri di minta penjelasan.

Kunjungan calon Perdana Menteri

Pembangunan pertama dari pesantren yang kita kisahkan ini adalah Teungku (Tgk) Haji Ibrahim. Pesantren itu dibangun pada tahun 1928, yaitu dua tahun setelah salah seorang dari anaknya, Abdul Madjid lahir tgl 19 Nopember 1926. Jadi Abdul Madjid sejak kecil hidup di kalangan para pelajar pesantren (sajan ureung meudagang).

Sebelum Tgk. H. Ibrahim mendirikan pesantren, di sana jaman dulu memang telah pernah ada pesantren, tapi telah berhenti sejak tokoh pendirinya meninggal. Jadi pembangunan sebuah pesantren di tahun 1928 itu merupakan proses lanjutan dari yang lama. Di sekitar masa 200 tahun lalu, Tgk. Syeh Mustafa yang kononnya berasal dari kota Baghdad (Irak), telah membangun pesantren di Lam Jruen. Usaha pembangunannya turut dibantu oleh anak dari Tgk. Syeh Mustafa yang bernama Tgk. Syeh Zainal Arifin. Pada bekas Dayah (pesantren) itulah Tgk. H. Ibrahim membina Dayahnya. Pengalaman dari Tgk. Ibrahim banyak juga. Pada umur 17 tahun beliau bersama ayahnya merantau kenegeri seberang.Tanah Melayu, enam tahun menetap di Meureubok, Kedah Malaysia. Menurut keterangan, disana Tgk. Ibrahim banyak famili. Setelah pulang dari Tanah Melayu, beliau berangkat lagi ke Bireuen (di Aceh Utara, sekarang). Karenanya orang jugamemberi gelar beliau dengan Teungku Di Bireuen, sebagaimana terpahat di makamnya yang telah kita baca diatas, Tujuan merantau ke Bireuen adalah dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan.  Memang sifat orang zaman dulu……lebih-lebih calon seorang ulama besar, pasti tidak pernah  puas dalam menambah ilmunya. Lihat  saja kepada sejarah Imam Syafi’i , bagaimana ketabahan beliau dalam menimba pengetahuannya. Setelah 6 tahun Teungku Ibrahim bertugas di Dayah yang dibangun pada bekas Dayah Tgk. Syeh Mustafa, beliau memindahkan lokasi Dayah itu ke lokasi baru, yaitu di Bung Asam. Karena lebih strategis dan juga lebih baru , maka ia diberi nama  Dayah Bung Asam, Lam Jruen, Selimuem. Ketika berada di lokasi baru, Dayah itu banyak mengalami kemajuan. Jumlah murid semakin bertambah. Para murid tidak hanya terdiri dari mereka yang berasal dari sekitar Seulimum, akan tetapi lebih banyak yang datang dari seluruh penjuru Serambi Mekkah. Demikian keterangan Tgk. Muhammad Gade  Bucue  yang kini beralamat di Meunasah Bale, Lammeulo,( Kotabakti, Pidie). Tgk. Muhammad Gade   yang sekarang telah sangat tua itu, pernah belajar tiga tahun di Dayah Baro Bung Asam, Lam Jruen Seulimum. Penulis mendapat keterangan itu dari beliau baru-baru ini.

Salah seorang daripada santri, yang jadi ulama terkenal kemudian hari adalah Tgk. Ismail Tanoh Abee. Beliau sangat lama belajar di Seulimum, sejak di pesantren lama sampai ke pesantren baru di Bung Asam. Tgk. Ismail Tanoh Abeei menjadi pembantu setia bagi Tgk. H. Ibrahim. Kalau pimpinan pesantren ada sesuatu halangan, seringkali ia wakili pekerjaan itu pada Tgk. Ismail Tanoh Abeei. Dalam tahun 1931 Tgk. Ismail Tanoh Abeei pulang ke kampungnya. Dan sejak itu Tgk. Haji Ibrahim tidak mengangkat lagi asistennya yang tetap. Paling ada beliau hanya mengangkat pembantu beliau, hanya untuk waktu mendesak saja. Pembantu yang ditunjuk adalah dari para santri yang telah mampu menguasai beberapa macam ilmu. Dalam tahun empat puluhan. Dayah baru Bung Asam mendapat kunjungan dari seorang pemuda dari Kedah Semenanjung Melayu, kedatangan sang tamu ini adalah dalam rangka kunjungan keluarga. Kunjungan tersebut yang pada saat itu dianggap kejadian yang biasa, tapi sejak tahun 1957, peristiwa kunjungan tadi menjadi suatu sejarah yang perlu diberi catatan khusus. Orang yang mengunjungi Dayah Baro Bung Asam, Lam Jruen Seulimum, ketika Tanah Semenanjung Melayu mendapat kemerdekaan dari jajahan Inggeris tgl 31 Agustus 1957, menjadi tokoh yang paling penting di Malaya. Beliau adalah Tengku Abdurrahman Putra Al Haj, yang memegang jabatan Perdana Menteri di Malaysia selama 13 tahun. Beliau adalah pimpinan tertinggi partai UMNO yang berkuasa disana masa itu. Pengganti beliau sebagai Perdana Menteri Malaysia, adalah Tun Abdurrazak bin Datuk Husein (alm). Berkaitan dengan negara kita Indonesia. Abdurrahman terkenal sekali di masa beliau jadi PM Malaysia. Masa itulah terjadi peristiwa sejarah yang terkenal dengan sebutan konfrontasi. Pihak kita pada saat itu sangat menentang gagasan pembentukan sebuah negara federasi Malaysia yang kedalamnya juga digabungkan daerah Sabah dan Serawak di Kalimantan Utara. Setelah Presiden Soeharto diangkat jadi Presiden, maka kekeruhan itu dapat dijernihkan kembali. Malaysia dan Indonesia sekarang, telah sama-sama menjadi anggota kelompok negara-negara ASEAN (Bersambung)..

Almarhum Prof. H. A. Madjid Ibrahim berasal dari keluarga Ulama


Laporan: T.A. Sakti    ( II )

 

Saksi mata terhadap kunjungan Bapak Kemerdekaan Malaysia itu, masih hidup hingga saat ini. Beliau adalah istri Tgk. H. Ibrahim sendiri, yang masih sehat wal‘afiat sekarang. Teungku Abdurrahman Putra Al Haj, sangat berjasa dalam mempersatukan Negara-negara Islam. Jalan pertama yang beliau tempuh, yaitu dengan mengadakan MTQ tingkat internasional setiap tahun di Kuala Lumpur. MTQ internasional adalah Negara Malaysia yang merintisnya buat pertama kali. Karena jasanya, Teungku Abdurrahman pernah diangkat oleh negara-negara Islam, menjadi presiden pertama Persatuan Negara-Negara Islam sedunia. Sekarang beliau bergiat di bidang dakwah Islamyah di Malaysia.

Perjalanan sejarah memang tidak selamanya datar. Demikian juga dengan perkembangan dayah Baro Bung Asam ini. Penambahan bangunannya tidak pernah terjadi lagi. Kelesuan sudah menjadi nampak dalam tahun empat puluhan. Hal demikian terus berlangsung hingga Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Para santri (ureueng meudagang) yang belajar di sana ketika itu sudah menyusut. Hanya agak menjadi ramai dengan anak dari Tgk. H. Ibrahim sendiri. Dalam masa permulaan kemerdekaan Indonesia, Tgk H. Ibrahim memegang jabatan rangkap. Disamping sebagai pemimpin dari sebuah pondok pesantren, beliau juga sebagai Ketua Barisan Mujahidin Seulimum. Pembentukan Barisan Mujahidin ini, adalah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Selanjutnya Tgk. H. Ibrahim diangkat pemerintah sebagai kepala Mahkamah Syari’ah Kecamatan Seulimum.

Pada hari ahad, menjelang shubuh tahun 1952, Tgk. H. Ibrahim berpulang ke rahmatullah di komplek dayahnya sendiri, di Lamjruen Seulimum, kira-kira 43 km dari kota Banda Aceh kejurusan Banda Aceh – Medan. Jenazah beliau di kebumikan di Lamjruen, yang sekarang berdampingan letaknya dengan makam Prof. Tgk. H. Abdul Madjid. Tgk. H. Ibrahim meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Tgk. Nyak Nur Halimatussa’diyah, Tgk.. Nyak Bulgia dan Pocut Khadijah. Sedangkan anak beliau 10 orang. Mereka itu ialah; Tgk. Abdul Djalil, Prof. Tgk. H. Abdul Madjid Ibrahim, Adnan Ibrahim, SH (tugas sekarang di airport kemayoran Jakarta), Asy’ariah di Seulimum, Jamaluddin (Guru SMA 1 Kramat Raya Jakarta Pusat), Ainal Mardhiah (Jakarta), Mahyuddin (Karyawan Dolog Jakarta) M. Dahlan (Madrasah Ibrahimiyah Seulimum), Mustafa Ibrahim (Biro Rektor Universitas Syiah Kuala) dan Muhammad Ibrahim (telah meninggal dunia tahun 1970).

Sepeninggal Tgk. H. Ibrahim, pimpinan pesantren Dayah Baro Bung Asam Lamjruen beralih kepada putra beliau yang tertua, yakni Tgk. Abdul Djalil. Sejak masa itu dayah tersebut dirobah nama baru, yaitu “Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah Seulimum.” Pemberian nama baru tersebut, sebagai mengenang jasa (meuseumpeuna) perjuangan tokoh sebelumnya, yaitu Tgk. H. Ibrahim. Tgk Abdul Djalil sebagai tokoh yang mewarisi tugas ayahnya untuk melanjutkan kehidupan pesantrennya. Dilahirkan tahun 1922. Tahun 1930 beliau memasuki sekolah rendah selama 5 tahun. Dalam tahun 1936 beliau memasuki sekolah Taman Siswa di Jeunieb Aceh Utara hanya satu tahun saja. Dari sekolah Taman Siswa Jeunieb, Tgk. Abdul Djalil pindah ke sekolah Taman Siswa Banda Aceh, ia juga belajar agama pada Tgk. Usman Lam Panah di Lam Bhuek Banda Aceh, hingga tahun 1943. Kemudian beliau kembali ke kampung asalnya dan belajar pada orang tuanya sendiri. Karir Tgk. Abdul Djalil dalam bidang pengabdian masyarakat dan negara dimulai tahun 1949. Beliau diangkat sebagai pegawai negeri pada Kantor Urusan Agama di kecamatan Seulimum sampai pensiun. Tahun 1971 menjadi anggota DPRD Tingkat I Provinsi Istimewa Aceh. Dan disamping itu beliau sangat aktif dalam masalah-masalah sosial di daerahnya. Hanya baru setahun pimpinan Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah berada di tangan Tgk. Abdul Djalil, pekerjaan itu terpaksa beliau tinggalkan. Beliau menyingkir ke Banda Aceh dan terus ke Medan. Pengungsian beliau kesana, karena keamanan di Aceh masa itu tidak aman akibat meletusnya Peristiwa Aceh tahun 1953. Setelah kekeruhan di Aceh jernih kembali, barulah kegiatan pesantren tersebut diaktifkan kembali. Tahun 1965 Pesantren Dayah Ibrahimiyah mulai membangun dua gedung sekolah, yaitu gedung Ibtidaiyah & Tsanawiyah. Dan sejak itu pula, sistim pendidikan di Dayah tersebut ditambah dengan beberapa mata pelajaran ilmu pengetahuan umum. System kurikulum baru ini, sebagai cara untuk turut menyesuaikan diri dengan perobahan zaman. Gedung Ibtidaiyah berukuran 24 x 6 x 7 meter, sedang Madrasah Tsanawiyah luasnya 21 x 6, 25 m. ke dua gedung yang semi permanen ini, biaya pembangunannya sebagian besar dari swadaya masyarakat. Tahun ajaran 1968/1969 ke dua gedung tersebut diresmikan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh (saat itu pejabatnya adalah Letnan Kolonel Hasby Wahidy). Kurikulum pendidikan di madrasah itu dibagikan dalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Tingkat Bustanul Athfal (Taman Kanak-Kanak)
  2. Tingkat Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
  3. Tingkat Tsanawiyah (Tingkat Menengah)

Di masa permulaan, ketiga macam pendidikan ini berjalan lancar. Semua rintangan yang coba menghalangi perjalanannya, dapat disingkirkan. Tapi pada tahun kedua, badaipun datang silih berganti, hingga tak sanggup tenaga menahannya. Kemunduran ini timbul sebagai akibat didirikan sebuah Madrasah Tsanawiyah swasta di kota Seulimum. Hampir semua lulusan MIN atau MIS yang ada di Seulimum, masuk ke Madrasah Tsanawiyah yang baru saja dibangun itu. Karena para lulusan Madrasah Ibtidaiyah baik negeri maupun swasta hanya sedikit sekali, hingga tidak memungkinkan mencukupi untuk murid-murid dua Madrasah Tsanawiyah. Pimpinan Dayah Ibrahimiyah mengambil kebijaksanaan untuk menutup Madrasah Tsanawiyahnya. Bustanul Athfal juga mengalami nasib yang sama. Dia juga terpaksa ditutup berhubung di kota Seulimum telah dibuka sebuah taman kanak-kanak pula. Kalau sudah ada pihak lain yang mau menampung dan memenuhi kebutuhan rakyat, lebih baik kita beralih ke bidang lain, agar ruang lingkup usaha memenuhi aspirasi rakyat semakin lebar. Untuk sementara sekarang, hanya tinggal tingkat Ibtidaiyah milik Dayah Ibrahimiyah. Madrasah Ibtidaiyah ini telah menghasilkan lulusannya sebanyak 6 kali. Para lulusan pertama dan kedua tidak mengikuti Ujian Negara. Tapi yang 4 kali selanjutnya berkesempatan mengikuti ujian penghabisan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri, yang semua pesertanya mencapai nilai atau angka memuaskan. (bersambung). 

(Catatan kemudian: Mudah-mudahan seri I  & III   dari laporan yang pernah dimuat  Harian”Waspada” di tahun 1981 ini dapat saya postingkan segera!. Bale Tambeh, 24  Mei  2011 poh 9.35 malam Rabu, T.A. Sakti.)

Almarhum Prof. H. A. Madjid Ibrahim

Berasal dari  Keluarga Ulama

Laporan: T.A. Sakti (III – Penutup)

Pada tanggal 19 Desember 1978. Pesantren Dayah Ibrahimiyah di timpa bencana banjir. Semua bangunan yang ada turut dihanyutkan air, yang tinggal hanya dua buah gedung, yakni Madrasah ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, karena keduanya dibangun atas sebuah cot (bukit kecil) setinggi 150 m. Juga semua pondok tempat tinggal santri di sapu banjir. Kerugian seluruhnya di perkirakan bernilai Rp. 15.000.000. Ketika penulis ngomong-ngomong dengan salah seorang santri, tentang peristiwa banjir itu, rasa sedih dan haru memenuhi jiwa penulis. Santri tersebut dapat hafal luar kepala, sejarah banjir dengan melalui syair Acehnya. Mudah-mudahan santri ini akan dapat menggantikan para Pujangga Aceh yang telah tiada. Teungku Muda ini cukup punya bakat dalam bidang syair dan hikayat Aceh.

BALASAN TUHAN

Setiap kesempitan pasti di suatu waktu di ikuti dengan keluasan, demikian pengertian dari sepotong ayat firman Allah. Kejadian yang demikian tidak mengecualikan Dayah Ibrahimiyah ini. Setelah menderita akibat banjir, datanglah bantuan dari berbagai pihak untuk membantu membangunnya kembali. Ada bantuan dari masyarakat, dari pemerintah, baik Pusat maupun pemerintah Daerah. Januari 1979 mulai dibangun kembali pondok penginapan para santri. Lokasinya dipindahkan ke tanah yang lebih tinggi lagi, guna menghindari banjir. Dalam pembangunan tahap baru itu, telah rampung dibangun antara lain, sebuah Mushalla ukuran 9 x 5 x 2.5 m, tiga barak asrama (pondok penginapan santri). satu tempat pengajian baru ukuran 7 x 3 m. Juga telah dibangun sebuah bak wudhuk yang lengkap dengan kerannya, sebuah sumur, pompa tangan serta sejumlah ruangan dapur. Tahun 1979/1980 Madrasah Tsanawiyah Dayah Ibrahimiyah di buka kembali. Kurikulumnya telah disesuaikan dengan Madrasah Tsanawiyah Negeri, yaitu menurut ketetapan Derpatemen Agama R.I. Sementara itu tingkat Tsanawiyah yang pernah ditutup dibuka kembali. Bagi para santri, selain diajarkan mata pelajaran pokok, juga dididik berbagai ketrampilan. Buat sementara ini yang sudah berjalan kursus jahit-menjahit. Sedang dimasa datang akan diusahakan memperbanyak bidang ketrampilan lainnya di dayah ini.

Masa sekarang selain bangunan yang telah penulis sebutkan, juga telah dibangun tiga buah lagi. Dua diantaranya telah dipakai untuk lokal belajar. Jumlah ruangan semuanya 15 buah. Karena satu gedung lagi belum siap, maka pemakaian gedung yang ada secara giliran. Pagi hari untuk pelajar Ibtidaiyah. sedang sore hari untuk pelajar Tsanawiyah. Jumlah pelajar Ibtidaiyah 110 orang. Tingkat Tsanawiyah 50 orang, yang terdiri dari dua kelas.

SUMBER DANA DAN INVENTARISNYA

Daerah Seulimum adalah suatu daerah yang minus. Tidak banyak sumber penghasilan yang dapat diandalkan. Karenanya, pembiayaan sebuah pesantren seperti Dayah Ibrahimiyah ini sukar terpenuhi. Tapi karena perhatian masyarakat sangat besar, maka pembangunannya dapatlah dilakukan walaupun secara bertahap. Tanggal 30 Maret 1979, sudah terbentuk sebuah Badan Penanggung Jawab Untuk Kesejahteraan Dan Kelancaran Pembinaan Dayah Ibrahimiyah Seulimum. Sebagai penasehat/ pembina adalah Gubernur Kepala Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh (Prof.A.Madjid Ibrahim) dan Kakanwil Depag propinsi Aceh Bapak Ibrahim Husen MA (hingga sekarang). Susunan Pengurus Badan Penanggung jawab Kesejahteraan dayah tersebut ialah sebagai berikut : Tgk.Abdul Djalil sebagai ketua, T.Abdullah wakilnya. Sekretaris dan wakilnya masing-masing Tgk.M.Dahlan Ibrahim dan Tgk.Syamsuddin Mahmud. Seksi keuangan diketuai oleh Bapak Zainal Abidin (ayah Cek-Kepala Biro Umum, Humas dan Protokol Kantor Gubernur Daerah Istimewa Aceh). Seksi pendidikan dipimpim oleh Muhammad Ali Usman, bidang pembangunan diketuai Bapak Idris. Tiap seksi dibantu pula oleh beberapa anggota staf.

Disamping bangunan gedung yang telah ada beserta segala peralatan yang telah ada berserta segala peralatannya. Dayah Ibrahimiyah juga memiliki barang-barang inventaris lainnya. Barang-barang itu terdiri dari mesin pembangkit tenaga listrik 2000 wat berasal dari hadiah Menteri Agama tahun 1980. Sebuah traktor mini hadiah Presiden Seoharto. Delapan buah mesin jahit dan satu buah mesin renda. Juga sejumlah Kitab, baik milik sendiri maupun yang berasal dari hadiah Menteri Agama Republik Indonesia.

STAF PENGAJAR

Jumlah tenaga pengajar sekarang 12 orang. Mereka itu ialah Tgk. Abdul Djalil (pimpinan Dayah), M.Ali Usman (Kepala Madrasah Tsanawiyah), Tgk. Muhammad Dahlan Ibrahim (adik Tgk.Djalil Ibrahim), Tgk.M.Harun, Tgk.Abdul Hamid. Anidar A.Djalil BA. Marhamah A.Djalil BA, Nilawati A.Djalil (ketiga orang yang terakhir ini adalah putri dari Tgk. A.Djalil sendiri). Tgk.Hasan. Asimah Wardiah dan Nurjannah (Kepala Madrasah Ibtidaiyah) (habis)

(Catatan terbaru: Tiga serie Laporan di atas, pernah dimuat dalam Harian “Waspada” Medan secara bersambung, yaitu pada: Selasa, 21 April 1981 halaman IX,  Rabu, 22 April 1981 halaman IX, dan hari Kamis, 23 April 1981 halaman IX. Keadaan lembaran koran itu  sudah amat lusuh sekarang. Khusus edisi 21 April 1981 sudah agak robek dan sukar dibaca karena pada kolom pinggirnya meulabo/belepotan lumpur tsunami, 26  Desember  2004. Bale Tambeh, 8 Puwasa 1432/ 8 Ramadhan 1432 H/ 8  Agustus  2011 M, poh 8. 25 Wib., T.A. Sakti ). 

^ Tahun 2010, ketika rombongan budayawan – sejarawan Kedah, Malaysia  bersilaturrahmi dan berdialog dengan sejarawan-mahasiswa prodi pendidikan sejarah di Aula FKIP Unsyiah, laporan di atas saya fotokopy untuk saya bagikan kepada para tamu itu dan juga kepada beberapa tokoh Aceh sendiri. Tujuan saya adalah untuk mengingatkan kembali, bahwa Perdana Menteri Pertama Malaysia, Tunku Abdurrahman Putra Al Haj adalah keturunan Aceh.  Sebab, di Malaysia sendiri kisah ini  memang sudah dilupakan !. Bale Tambeh, 14 Februari 2012,pkl 7.28 wib., pagi, T.A. Sakti.

 

Peringatan Hari Jadi Daerah Istimewa Aceh Ke – 29

PERINGATAN HARI JADI DAERAH ISTIMEWA ACEH KE 29

 

Hari jadi daerah istimewa Aceh ke-29 telah diperingati tanggal 26 Mei 1988 dengan acaranya “Pemancangan Tiang Arena Pekan Kebudayaan Aceh 3 oleh Gubernur Aceh Ibrahim Hasan dan Resepsi di Anjong Mon Mata. Bersama ini kami turunkan Cuplikan ceramah Prof. H.A. Hasjmy dengan judul “Latar Belakang Pembentukan Daerah Istimewa Aceh” yang telah disampaikan pada malam resepsi tersebut.

 

            Tanggal 26 Mei, Mr. Hardi atas nama Pemerintah Pusat, mengeluarkan Keputusan Pemerintah No.I/Missi, yang menetapkan status Propinsi Aceh menjadi Daerah Istimewa Aceh. Semenjak Keputusan Pemerintah itu dikeluarkan, dalam masyarakat di Aceh maupun di luar Aceh, terdengar suara-suara pro yang menyetujuinya dan suara-suara sinis yang anti, yang menggelarkan Aceh dengan bermacam-macam gelar “istimewa jelek….”

Belum selang berapa lama, dalam  sebuah surat kabar yang terbit di Jakarta, seorang penulis yang menamakan dirinya “Te A Es” (nama sebenarnya saya kenal), menulis sebuah karangan yang menamakan Banda Aceh Darussalam sebagai “kota warung kopi” “Te A Es” membandingkan Banda Aceh Darussalam dengan sebuah kota di Jawa Tengah. Katanya, kota tersebut memang “istimewa” karena ia adalah “kota perjuangan, kota pendidikan, kota budaya, kota malioboro  dan kota gudeg….

Setelah “Te A Es” meneliti Banda Aceh Darussalam, ternyata tidak ada keistimewaan apa-apa… kecuali yang istimewa bahwa Banda Aceh Darussalam (“Te A Es” tidak menggunakan predikat Darussalam) adalah KOTA WARUNG KOPI….. karena dimana-mana ada warung kopi, tulisnya.

Apabila tulisannya kita telaah dengan seksama, terpaksa kita berkesimpulan, bahwa “Te A Es” adalah buta sejarah, buta budaya, buta perjuangan dan buta kenyataan-kenyataan yang terekam dalam lembaran masa lampau dan masa kini.

Sebelum tanggal 26 Mei 1959, sebelum Tanah Aceh mendapat status Daerah Istimewa Aceh, di tanah yang terletak paling ujung barat Indonesia, telah terjadi sejumlah peristiwa-peristiwa penting yang sifatnya sangat istimewa.

Di bawah pimpinan Sultan Alaidin Ri’ayat Syah Saiyidil Mukammil (997-1011 H. = 1589-1604 M). Armada Selat Malaka Aceh telah bertempur dengan Armada Portugis di Teluk Haru, suatu perang laut yang amat dahsyat. Sultan Al Mukammil memenangkan perang laut itu, sehingga Sumatera terbebas dari penjajahan Portugis.

Di bawah pimpinan Sultan Alaidin Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alamsyah (1016-1045 H. = 1607-1636 M). Armada Cakra Donya mara ke Semenanjung Tanah Melayu untuk membebaskan Johor, Pahang, Perak, Kedah, Perlis dari penjajahan Portugis, sekalipun kota Malaka sendiri belum berhasil dibebaskan setelah dikepung lebih tiga bulan.

Setelah Aceh memenangkan Perang Teluk Haru, maka Sultan Al-Mukammil  membangun sebuah armada wanita janda, namanya Armada Inong Balee. Panglima Armada, ialah Laksamana Malahayati yang suaminya seorang Laksamana telah syahid dalam Perang Teluk Haru, sementara para prajurit intinya, yaitu para janda muda yang suaminya juga telah syahid dalam perang teluk itu.

(1286-1290 H, = 1870-1874 M). telah menolak pernyataan perang kerajaan Belanda yang bertanggal 26 Maret 1873, dan bersedia memimpin Perang Sabil sampai-sampai Banda Aceh Darussalam hancur seluruhnya. Dalam perjalanan hijrah ke Indrapuri (Ibukota Kerajaan dalam hijrah), beliau syahid dalam perjalanan akibat “perang kuman” yang dilakukan tentera kolonialis Belanda. Perang Sabil melawan tentera penjajahan di Aceh, adalah perang yang terhebat dan terlama di Asia Tenggara.

Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah (1290 H = 1874 M, sampai Belanda angkat kaki dari Tanah Aceh) yang telah ditawan dalam tahun 1903 tidak mau menanda tangani Sarakata Penyerahan Kedaulatan Aceh kepada Belanda, dengan akibat beliau di buang ke Ambon, kemudian dipindah ke Jakarta.

Perlu juga diingat, bahwa sebelum peristiwa-peristiwa penting yang sangat istimewa itu, bahwa di Tanah Aceh lah Islam mulai bertapak di Asia Tenggara, dan di Tanah Aceh pula berdiri Kerajaan ini, yaitu Kerajaan Islam Perlak, dengan Rajanya yang pertama Sulthan Alaiddin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225-249 H, = 840-864).

Selama masa pendudukan Belanda, tentara kolonialis itu tidak pernah merasa aman di Tanah Aceh ; pemberontakan demi pemberontakan terus menerus terjadi. Perang Bakongan dalam tahun 1925-1926 dibawah Pimpinan  Teuku   Raja Angkasah dan Teungku  Cut Ali betul-betul satu peperangan yang banyak makan  korban;  demikian pula   perang  Lhong-Leupung dalam tahun tiga puluhan.

Balatentara Jepang yang menduduki Tanah Aceh selama masa ‘seumur jagung”, juga tidak pernah merasa tenteram. Perang Bayu dan Perang Pandrah telah menghiasi lembaran serajah Tanah Air Indonesia.

Dengan mengetahui sekelumit fakta sejarah itu, apakah masih ada juga orang yang berani mengatakan bahwa Tanah Aceh dan Banda Aceh Darussalam bukan daerah perjuangan dan bukan kota perjuangan ?.

Siapa saja yang mempunyai sedikit saja pengetahuan tentang sejarah REVOLUSI 1945 di Indonesia akan mengetahui bahwa Tanah Aceh dengan ibukotanya Banda Aceh Darussalam telah menanam modal yang cukup besar.

Selama  masa dua kali “angresinya” tentara Belanda tidak pernah menjejak kakinya di Tanoh Aceh, bahwa dua Kabupaten di Sumatera Timur berada di bawah kekuasaan Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan gelar Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo.

Aceh telah menyumbangkan devisa yang cukup banyak untuk perjuangan Republik Indonesia di luar Negeri. Aceh telah menyumbangkan dua buah kapal terbang yang dinamakan Seulawah, yang selama masa Revolusi fisik sebulan dua kali mondar mandir waktu tengah malam, antara Blang Bintang, Rangon Birma, untuk mengangkut lada dan lain-lain serta membawa  senjata ke Aceh dan lain-lain.

Aceh telah menolak ajakan Letnan Gubernur Jenderal “Hindia Belanda” lewat Dr. Tengku Mansur, “Wali Negara Sumatera Timur”, untuk ikut membentuk Negara Boneka Sumatera, Hatta karena penolakan Aceh, gagallah pembentukan “Negara federasi Sumatera itu”.

Banda Aceh telah pernah dipersiapkan untuk menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia Sementara, kalau sekiranya KMB (Komperensi Meja Bundar) di Den  Haag gagal. Cerita-cerita serupa ini cukup banyak.

Apakah masih ada orang yang lancang berkata Tanah Aceh dan Ibukotanya Banda Aceh Darussalam bukan Daerah perjuangan dan bukan kota Perjuangan ?.

( Baca kembali “Warta Pemda”, edisi Mei – Juni 1988  atau baca pula Bulletin KAMABA – Keluarga Masyarakat Aceh Bandung – no. 109  Tahun XVII, Syawal 1412 H/ April 1992  halaman 14 – 18).

 


 

Almarhum Prof.H.A. Madjid Ibrahim berasal dari Keluarga Ulama

Almarhum Prof. H. A. Madjid Ibrahim berasal dari keluarga Ulama

II

Laporan: T.A. Sakti

 

Saksi mata terhadap kunjungan Bapak Kemerdekaan Malaysia itu, masih hidup hingga saat ini. Beliau adalah istri Tgk. H. Ibrahim sendiri, yang masih sehat wal‘afiat sekarang. Teungku Abdurrahman Putra Al Haj, sangat berjasa dalam mempersatukan Negara-negara Islam. Jalan pertama yang beliau tempuh, yaitu dengan mengadakan MTQ tingkat internasional setiap tahun di Kuala Lumpur. MTQ internasional adalah Negara Malaysia yang merintisnya buat pertama kali. Karena jasanya, Teungku Abdurrahman pernah diangkat oleh negara-negara Islam, menjadi presiden pertama Persatuan Negara-Negara Islam sedunia. Sekarang beliau bergiat di bidang dakwah Islamyah di Malaysia.

Perjalanan sejarah memang tidak selamanya datar. Demikian juga dengan perkembangan dayah Baro Bung Asam ini. Penambahan bangunannya tidak pernah terjadi lagi. Kelesuan sudah menjadi nampak dalam tahun empat puluhan. Hal demikian terus berlangsung hingga Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Para santri (ureueng meudagang) yang belajar di sana ketika itu sudah menyusut. Hanya agak menjadi ramai dengan anak dari Tgk. H. Ibrahim sendiri. Dalam masa permulaan kemerdekaan Indonesia, Tgk H. Ibrahim memegang jabatan rangkap. Disamping sebagai pemimpin dari sebuah pondok pesantren, beliau juga sebagai Ketua Barisan Mujahidin Seulimum. Pembentukan Barisan Mujahidin ini, adalah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Selanjutnya Tgk. H. Ibrahim diangkat pemerintah sebagai kepala Mahkamah Syari’ah Kecamatan Seulimum.

Pada hari ahad, menjelang shubuh tahun 1952, Tgk. H. Ibrahim berpulang ke rahmatullah di komplek dayahnya sendiri, di Lamjruen Seulimum, kira-kira 43 km dari kota Banda Aceh kejurusan Banda Aceh – Medan. Jenazah beliau di kebumikan di Lamjruen, yang sekarang berdampingan letaknya dengan makam Prof. Tgk. H. Abdul Madjid. Tgk. H. Ibrahim meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Tgk. Nyak Nur Halimatussa’diyah, Tgk.. Nyak Bulgia dan Pocut Khadijah. Sedangkan anak beliau 10 orang. Mereka itu ialah; Tgk. Abdul Djalil, Prof. Tgk. H. Abdul Madjid Ibrahim, Adnan Ibrahim, SH (tugas sekarang di airport kemayoran Jakarta), Asy’ariah di Seulimum, Jamaluddin (Guru SMA 1 Kramat Raya Jakarta Pusat), Ainal Mardhiah (Jakarta), Mahyuddin (Karyawan Dolog Jakarta) M. Dahlan (Madrasah Ibrahimiyah Seulimum), Mustafa Ibrahim (Biro Rektor Universitas Syiah Kuala) dan Muhammad Ibrahim (telah meninggal dunia tahun 1970).

Sepeninggal Tgk. H. Ibrahim, pimpinan pesantren Dayah Baro Bung Asam Lamjruen beralih kepada putra beliau yang tertua, yakni Tgk. Abdul Djalil. Sejak masa itu dayah tersebut dirobah nama baru, yaitu “Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah Seulimum.” Pemberian nama baru tersebut, sebagai mengenang jasa (meuseumpeuna) perjuangan tokoh sebelumnya, yaitu Tgk. H. Ibrahim. Tgk Abdul Djalil sebagai tokoh yang mewarisi tugas ayahnya untuk melanjutkan kehidupan pesantrennya. Dilahirkan tahun 1922. Tahun 1930 beliau memasuki sekolah rendah selama 5 tahun. Dalam tahun 1936 beliau memasuki sekolah Taman Siswa di Jeunieb Aceh Utara hanya satu tahun saja. Dari sekolah Taman Siswa Jeunieb, Tgk. Abdul Djalil pindah ke sekolah Taman Siswa Banda Aceh, ia juga belajar agama pada Tgk. Usman Lam Panah di Lam Bhuek Banda Aceh, hingga tahun 1943. Kemudian beliau kembali ke kampung asalnya dan belajar pada orang tuanya sendiri. Karir Tgk. Abdul Djalil dalam bidang pengabdian masyarakat dan negara dimulai tahun 1949. Beliau diangkat sebagai pegawai negeri pada Kantor Urusan Agama di kecamatan Seulimum sampai pensiun. Tahun 1971 menjadi anggota DPRD Tingkat I Provinsi Istimewa Aceh. Dan disamping itu beliau sangat aktif dalam masalah-masalah sosial di daerahnya. Hanya baru setahun pimpinan Pondok Pesantren Dayah Ibrahimiyah berada di tangan Tgk. Abdul Djalil, pekerjaan itu terpaksa beliau tinggalkan. Beliau menyingkir ke Banda Aceh dan terus ke Medan. Pengungsian beliau kesana, karena keamanan di Aceh masa itu tidak aman akibat meletusnya Peristiwa Aceh tahun 1953. Setelah kekeruhan di Aceh jernih kembali, barulah kegiatan pesantren tersebut diaktifkan kembali. Tahun 1965 Pesantren Dayah Ibrahimiyah mulai membangun dua gedung sekolah, yaitu gedung Ibtidaiyah & Tsanawiyah. Dan sejak itu pula, sistim pendidikan di Dayah tersebut ditambah dengan beberapa mata pelajaran ilmu pengetahuan umum. System kurikulum baru ini, sebagai cara untuk turut menyesuaikan diri dengan perobahan zaman. Gedung Ibtidaiyah berukuran 24 x 6 x 7 meter, sedang Madrasah Tsanawiyah luasnya 21 x 6, 25 m. ke dua gedung yang semi permanen ini, biaya pembangunannya sebagian besar dari swadaya masyarakat. Tahun ajaran 1968/1969 ke dua gedung tersebut diresmikan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Aceh (saat itu pejabatnya adalah Letnan Kolonel Hasby Wahidy). Kurikulum pendidikan di madrasah itu dibagikan dalam tiga tingkatan, yaitu:

  1. Tingkat Bustanul Athfal (Taman Kanak-Kanak)
  2. Tingkat Ibtidaiyah (Tingkat Dasar)
  3. Tingkat Tsanawiyah (Tingkat Menengah)

Di masa permulaan, ketiga macam pendidikan ini berjalan lancar. Semua rintangan yang coba menghalangi perjalanannya, dapat disingkirkan. Tapi pada tahun kedua, badaipun datang silih berganti, hingga tak sanggup tenaga menahannya. Kemunduran ini timbul sebagai akibat didirikan sebuah Madrasah Tsanawiyah swasta di kota Seulimum. Hampir semua lulusan MIN atau MIS yang ada di Seulimum, masuk ke Madrasah Tsanawiyah yang baru saja dibangun itu. Karena para lulusan Madrasah Ibtidaiyah baik negeri maupun swasta hanya sedikit sekali, hingga tidak memungkinkan mencukupi untuk murid-murid dua Madrasah Tsanawiyah. Pimpinan Dayah Ibrahimiyah mengambil kebijaksanaan untuk menutup Madrasah Tsanawiyahnya. Bustanul Athfal juga mengalami nasib yang sama. Dia juga terpaksa ditutup berhubung di kota Seulimum telah dibuka sebuah taman kanak-kanak pula. Kalau sudah ada pihak lain yang mau menampung dan memenuhi kebutuhan rakyat, lebih baik kita beralih ke bidang lain, agar ruang lingkup usaha memenuhi aspirasi rakyat semakin lebar. Untuk sementara sekarang, hanya tinggal tingkat Ibtidaiyah milik Dayah Ibrahimiyah. Madrasah Ibtidaiyah ini telah menghasilkan lulusannya sebanyak 6 kali. Para lulusan pertama dan kedua tidak mengikuti Ujian Negara. Tapi yang 4 kali selanjutnya berkesempatan mengikuti ujian penghabisan pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri, yang semua pesertanya mencapai nilai atau angka memuaskan. (bersambung). 

Catatan kemudian: Mudah-mudahan seri I  & III   dari laporan yang pernah dimuat  Harian”Waspada” di tahun 1981 ini dapat saya postingkan segera!. Bale Tambeh, 24  Mei  2011 poh 9.35 malam Rabu, T.A. Sakti.