Ketika Sastra Sunda Lebih Bertenaga!

Hadiah Sastra ’’Rancage” 2002
Oleh Ajip Rosidi
Tahun ini Hadiah Sastra “Rancage” akan diserahkan kepada para pengarang yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali dan mereka yang besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan ketiga bahasa daerah itu di wilayahnya masing-masing. Hadiah “Rancage” pertama kali diberikan tahun 1989 hanya untuk sastrawan Sunda saja. Baru kemudian diberikan kepada sastra Jawa (sejak 1994) dan Bali (sejak 1998). Dengan demikian Hadiah Sastra “Rancage” untuk sastra Sunda adalah yang ke – 14 kalinya, sementara sastra Jawa yang ke-9 kalinya dan sastra Bali yang ke-5 kalinya.
Seperti biasa untuk setiap bahasa disediakan 2 macam hadiah, yaitu untuk hadiah karya yang terbit berupa buku dan hadiah untuk jasa. Dengan demikian semuanya ada 6 hadiah. Masing-masing berupa piagam dan uang sebesar Rp 5 juta. Selain itu ada hadiah “Samsudi” yang sejak beberapa tahun tidak diberikan karena tidak ada buku bacaan kanak-kanak dalam bahasa Sunda yang terbit.
Tahun 2001 yang lalu, penerbit buku dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali agak ramai, meskipun jumlah penerbit sastra tidak banyak bedanya dari tahun sebelumnya. Buku sastra bahasa Sunda yang terbit tahun 2001 ada 13 judul (tahun 2000 ada 5 judul) . buku dalam bahasa Jawa ada 7 judul (tahun 2000 ada 3 judul) dan dalam bahasa Bali ada 11 judul ( tahun 2000 ada 14 judul).
Untuk sastra Sunda, buku bahasa Sunda yang terbit tahun 2001, jauh lebih banyak dari pada tahun sebelumnya, yaitu ada 28 judul, tetapi kebanyakan berupa buku pelajaran, kamus ( ada tiga buah, diantaranya Kamus Bahasa Naskah dan prasasti Sunda Abad (XI- XVIII), dan kumpulan lelucon dan buku agama. Yang termasuk karya sastra ( roman, sajak, cerita pendek dan esai) ada 13 buah, dan 2 buah buku bacaan kanak-kanak. Dari 13 buah karya sastra, 4 adalah cetak ulang dan 3 merupakan antologi ‘puisi Sunda Modern’ dalam dua bahasa, Sunda- Indonesia, Sunda – Inggris dan Sunda- Perancis yang diterbitkan sehubungan dengan diselenggarakannya Konferensi Intersional Budaya Sunda (KIBS) di Bandung, 22-25 Agustus 2001.
Saya memberi kata pengantar dan menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia ketiga antologi tersebut, sedang terjemahan ke dalam bahasa Inggris dilakukan Dr Wendy Mukherjee dan terjemahan ke dalam bahasa Perancis Dr Henri Chambert- loir. Lembur Singkur roman pendek karangan Abdullah Mustappa, Manehna roman pendek karangan Sjarif Amin, dan Hurip Waras! memoir Ajip Rosidi, merupakan cetak ulang. Yang terbit sebagai buku pertama kali adalah roman Galuring Gendring oleh Tatang Sumarsono dan Silalatu Ganung Salak jilid 6 oleh Aan Merdeka Permanan, kumpulan cerita Dina Kalangkang Penjara oleh Ahmad Bakri, Astra Jingga Gugat oleh Oom Somara de Uci dan Lalakon Bimbang oleh Dian Hendrayan, Catatan Kenangan Basa Bandung Halimunan ditulis H Us Tiarsa dan saya menulis Ucang-ucang Angge. Seperti biasa, cetak ulang dan karangan saya tidak masuk ke dalam karya yang dipertimbangkan untuk memperoleh Hadiah Sastera “Rancage”. Kedua buku bacaan kanak-kanak ialah Aji Pancawardana oleh Hariang Dwipa dan Nu Ngageugeuh Legok Kiara oleh Dadan Sutisna dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah “ Samsudi”.
DINA Kalangkang Panjara memuat empat buah cerita yang agak panjang dari cerita pendek yang biasa (novelet), menunjukkan ketrampilan pengarangnya, Ahmad Bakri (1917-1988) dalam melukiskan kehidupan di pedesaan, terutama pada masa sebelum perang. Tetapi tidak semuanya memperlihatkan kesungguhan sebagai karya sastra. Dua diantaranya (Dina Kalangkang Panjara dan Kacangan ku Paneker) hanya merupakan bacaan ringan yang dikemas dengan rapi dan tangkas, walaupun dua lainnya menunjukkan mutu sastra yang serius (Kalangkang si Jenat dan Di dieu Hate the Reureuh).
Baik Oom Somara de Uci maupun Dian Hendrayana yang menerbitkan kumpulan cerita pendek itu sama-sama lahir tahun 1971. Keterangan ini barangkali dapat menjelaskan mengapa sering kali menemukan penggunaan kata atau kalimat yang aneh oleh keduanya. Bahwa mereka banyak menggunakan kosa kata bahasa Indonesia, merupakan hal sudah dapat diduga. Tetapi ada pemakaian kata Sunda yang tidak lazim. Misalnya dalam karangan Oom Somara terasa aneh penggunaan kata keneh seperti dalam kalimat: Tapi para nagaya keneh maenkeun waditra, atau keneh nagaya. Keneh nu tingharuit atau Cimata keneh ngalembereh. Kata keneh biasanya ditempatkan setelah kata kerja yang diterangkannnya. Jadi berbeda dengan kata “masih” yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Juga kata “papanggihan” yang mungkin maksudnya “papanggih “ (bertemu). Kata “papanggihan” dalam bahasa Indonesia sama dengan
“ Penemuan” atau “temuan”.
Sedang dalam karangan Dian, kata “pireng”, “miring”, “kapireng” dihubungkan dengan penglihatan, bukan dengan pendengaran. Kata “meuweuh” dalam kalimat “ meuweuh disanghareupkeun kan rupa-rupa pasolan”, atau kata “ebat” dalam “teu kumecrek saurang ge tina ebat sanggeus nyeueung kana kaalusanana”,. Atau kata “buah gandrung” dalam kalimat “pada-pada giung ku buah gandrung”, sebab kalau yang dimaksud adalah makanan yang membuat mabuk (giung) yaitu “gadung” maka yang biasa dimakan dan membuat mabuk (“weureu gadung”) adalah ubinya, bukan buahnya. Sedangkan “gandrung” adalah semacam tumbuhan seperti jagung yang bijinya biasa ditanak menjadi semacam nasi dimakan dengan parutan kelapa atau dibuat borondong. Tak pernah membuat “giung” atau mabuk. Juga kata “melak cangkeng” aneh karena yang biasa adalah “nulak cangkeng”. Atau kata “teumangkuk” dalam kalimat “Teumangkuk salawe urang”, karena kata tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu.
Hal itu disebabkan karena mereka kurang akrab dengan penggunaan bahasa Sunda dalam karya-karya sastra yang telah menjadi klasik terutama yang berasal dari masa sebelum perang seperti karya DK Ardiwinata, Moh Ambri, Rhad Memed Sastrahadiprawira ada yang pernah dicetak ulang. Tidak adanya contoh penggunaan bahasa yang baik, mempunyai pengaruh buruk kepada para pengarang muda dalam penggunaan bahasanya, apalagi kalau mereka malas membuka kamus. Mereka banyak menggunakan kata-kata yang didengar dari percakapan selintas sehingga menimbulkan masalah penulisannya atau dari teks yang sembarangan.
Sepuluh cerita yang dimuat dalam Lalakon Bingbang, memperlihatkan berbagai tema yang menjadi minat Dian Hendrayana dalam penulisan cerita pendek. Yang berdasarkan Ramayana, menyimpang dari babon, karena Rama mencurigai Lasmana, sedang Dewi Sinta dan Rahwana yang menculiknya “ keur sono pogot nyareung seup madu asmara dina oleng galura sagara birahi” ( penuh rindu menghisap madu asmara dalam luapan lautan berahi) dalam “ Kalangkang Riwan”. Penyimpangan atas kisah lama yang dimulai oleh Godi Suwarna agaknya kemudian menjadi mode.
Kisah Perang Bubat diberi polesan baru dengan munculnya Ki Danar Kusuma yang ditugaskan melukis putri Pajajaran Citraresmi yang cantik oleh Parbu Hayam Wuruk dan meraruh hati terhadap sang puteri ( “ Lalakon Bimbang”). Tapi kebanyakan cerita Dian adalah tentang kehidupan masa kini seperti buah yang diperlakukan dengan kekerasan oleh majikan (“ kaca-kaca pereus”), anak yang dibawa ibunya kekota sebagai pengemis menyaksikan peresmian tugu oleh menteri sebagai penghargaan terhadap kota yang disebut “ telah berhasil membangun dan memajukan rakyatnya…”(“Tugu”) kehancuran moral orang kota termasuk anak-anak ( “ Pigura-pigura Rengat”, “ Pulas-pulas Parias “ dan” Kalakay-kalakay mumarurag”). Yang yang menarik dan paling baik adalah “ Kembang-kembang Lengkuang” yang melukiskan perasaan anak muda yang mengalami kelainan seksual.
Roman Galuring Ganding karangan Tatang Sumarsono sebagai naskah memenangkan hadiah DK Ardiwinata dalam sayembara mengarang yang diselenggarakan paguyuban pasundan.
(——————–hampir separuh kolom ini tak dapat disalin karena kertasnya koyak akibat terendam dalam lumpur Tsunami Aceh,2004———————T.A.Sakti, 23-8-2015 pkl 16.45)
“ Rancage “2002 untuk karya dalam bahasa Sunda Galuring Gending roman karangan Tatang Sumarsono. Sedang Prof Dr H Edi S Ekadjati, karena jasanya memperkenalkan orang Sunda akan sejarah dan kekayaan batinnya dalam naskah-naskah peninggalan nenek moyang akan menerima Hadiah Sastra “Rancage” 2002 untuk jasa. Prof Dr H Edi S Ekadjati, lahir di Kuningan, 25 Maret 1945.
Hadiah untuk sastra Jawa
BUKU sastra dalam bahasa Jawa yang terbit tahin 2001 ada 9 judul, dua merupakan suntingan teks dan terjemahan sastra klasik ke dalam bahasa Indonesia, yaitu serat sana sunu karya R Ng Yasadipura II oleh J Siti Rumijah dan Suluk Wujil oleh Sri Harti WidiaSTuti. Yang berupa karya sastra Jawa modern adalah kumpulan geguritan ( sajak) Kitib Tengah Wengi oleh Widodo Basuki. Layang Saka Alam Kelanggengan dan Layang Menyang Suarga yang ditulis Dr K R T R M T Sudiatmana, roman Maskumambang oleh FC Pamudji ( Naniek PM ) dan Sirah oleh AY Suharyono dan kumpulan cerita pendek kretek Emas Jurang Gupit Oleh Djajus Pete. Disamping itu ada antologi geguritan para pengarang yang gerbang kertasusila ( Gresik, Bangkalan, Majakerta, Surabaya, Sidaharja, dan Lamongan) berjudul Kabar Saka Bendulmrisi yang disunting Suharmono Kasiyun.
Setelah dipertimbangkan dengan cermat, maka buku karya sastra Jawa yang patut mendapat Hadiah Sastera “ Rancage” 2002 untuk karya ialah Kereteg Emas Jurang Gupit kumpulan cerita pendek Djajus pete (lahir 1946 di Ngawi) terbitan Yayasan Pinang Sirih dan Dewan Kesenian Jawa Timur. Buku ini memuat sepuluh cerita pendek Djajus yang sebelumnya pernah dimuat dalam majalah Panjebar Semangat (5 buah) dan Joyoboyo (5 buah) dalam tahun 1986-1998. Cerita “ Tikuslan Kucinge Penyair” yang semula dimuat dalam Panjebar Semangat, mendapat hadiah sastra dari Sanggar Sastra Triwida Tulung agung (1995), sedangkan “kaskus” dan “ Bedung” dianggap cerita terbaik yang pernah dimuat dalam Panjebar Semangat masing-masing untuk penerbitan tahun 1989-1992 dan 1993-1997. Tahun 1998 Djajus Pete mendapat piagam penghargaan sebagai pengarang Sastra Jawa Terbaik dari Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta.
Sedangkan hadiah jasa untuk sastra Jawa tahun ini akan diberikan kepada Dr KRT RMT Sudiyatmana (lahir Surakarta, 28 Maret 1937). KRT RMT Sudiyatmana adalah pakar bahasa dan sastra Jawa yang banyak menulis buku tentang bahasa, sastra dan kebudayaan Jawa, antara lain Sarwa Puspita (1986), Basa Jawa saya murakabi (1987), Sabdatama ( 1989), Upacara pengantin Jawi (1990), Arga Sita Tuwin Bagus Rama (1991), Urip Tenteram Raharja (1992), Pustaka Twin Sastra (1999), Saka Simpang Lima Semarang Ngliwati Harbour Bridge Sydney ing Simpang Pitu Kudus (1999), Dan disamping itu iapun menulis geguritan yang diantaranya diterbitkan dalam kumpulan Simpang Lima
Hadia untuk Sastra Bali
Buku sastra Bali modern yang terbit tahun 20011 ada 11 judul, terdiri dari 2 novel, 2 kumpulan cerpen, dan antologi puisi. Selain itu, terbit juga 3 edisi Majalah Satwa (cerita), yang khusus memuat cerita pendek. Majalah ini direncakan terbit setahun 3 kali. Dari jumlah ini, satu kumpulan puisi merupakan antologi bersama diterbitkan untuk mengenang hari pahlawan perang Puputan Klungkung (1908) dan satu antologi cerpen yang merupakan kumpulan cerpen hasil sayembara yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Denpasar tahun 2000.
Semarak kehidupan sastra Bali modern dewasa ini ditandai dengan berbagai faktor. Pertama, tampilnya penyair muda berbakat seperti Iputu Gede Suwata ( menerbitkan dua antologi puisi Majugjag bertengkar dan Magantung Tergantung). Penyair muda lainnya seperti Luh Suwita Utami dan LP Manika Hermayuni juga aktif mencipta. Puisinya terbit dalam an tologi bersama dan majalah Bahasa dan sastra Bali serta di Harian Bali Post.
Kedua, tampilannya sastrawan yang semula mencipta dalam bahasa Indonesia, mulai menulis karya sastra berbahasa Bali seperti IGP Samargantang yang menerbitkan antologi puisi Aab jagat (perangai jagat) dan IDK Raka Kusuma yang menerbitkan prosa lirik kidung I lontar rograg (Balai 1 Lontar Compang – Camping).Raka Kusuma juga menerjemahkan karya sastra Indonesia kedalam bahasa Bali,menyunting antologi,dan menjadi redaktur majalah Buratwangi(sejak 1999).
Ketiga, sastrawan- sastrawan peraih Hadiah Sastra Rancage seperti I Nyoman Manda dan Made Sanggra (tahun 1998),Komang Berata (1999),I Gde Dharna dan I ketut Rida (2000) terus aktif mencipta. Dalam deretan itu ,Nyoman Mandala yang paling produktif, tahun 2001 dia menerbitkan kumpulan puisi Beh,kumpulan cerpen Hilang,dan Novel Bunga Gadung ulung Abancang(kembang Gadung Gugur setangkai).Bersama Made Sanggra,Nyoman Manda juga menjadi pemrakarsa dan penyunting majalah Canang Sari (terbit sejak 1998) dan majalah satwa (terbit sejak 2001).
Dunia sastra Bali modern juga semarak karena munculnya nama lama dengan karya baru. Dialah Djelantik Santha.Novel pertamanya Tresnane Lebur Ajur Santodene Kembang (Cinta layu Sebelum Berkembang)terbit secara bersambung di harian Bali Post awal 1980 yang kemudian terbit menjadi buku tahun 1981(?).Sesudah dua dekade “menghilang”Djelantik Santha tiba-tiba muncul dengan novel baru berjudul Sembalun Rinjani (2001).Novel ini diterbitkan dan diberi “ penghargaan Cakepan 2001” oleh majalah sarad,majalah berbahasa Indonesia dengan isi liputan seputar masyarakat, adat, dan Budaya Bali.
Setelah memperhatikan kualitas karya-karya yang terbit tahun 2001,maka yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastera “Rancage” 2002 untuk karya dalam bahasa Bali adalah roman berjudul Sembalun Rinjani karya Djelantik Santha (12 Agustus 1944) terbitan Majalah Sarad,Denpasar .Sementara sastrawan yang terpilih untuk meraih Hadiah Sastra “Rancage”2002 untuk jasa atas sumbangannya dalam mengembangkan bahasa dan sastra Bali modern adalah IDK Raka Kusuma (lahir di Klungkung ,21 November 1957). (Sastrawan dan Kritikus sastra.Sejak tahun 1980,mengajar di Osaka University of Foreign Studies,Jepang).
(Sumber: Media Indonesia,Minggu,3 Februari 2002, hlm. 17).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s