Ketika Rakyat Aceh Membela Negara Republik Indonesia Yang Baru Merdeka Seumur Jagung!

SEPUTAR PERANG KEMERDEKAAN
Kenang-Kenangan Dari Semenanjung Tanah Melayu

DALAM memperingati 50 tahun Indonesia merdeka saya ingin menceritakan sedikit pengalaman dan kenangan saya yang ada hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan selama saya berada di Semenanjung Tanah Melayu yang duhulu masih disebut Malaya. Itu antara tahun 1948-1949. Saya dan beberapa orang kawan,diantaranya M Nur Nikmat (sekarang Ketua Umum Aceh sepakat Medan) berada di sana dalam perjalanan untuk melanjutkan perjalanan keluar negeri tetapi gagal oleh beberapa sebab. Tetapi selaku Anggota Tentara Pelajaran Islam (TPI) yang diperbantukan pada Markas Batalion Istimewa Mujahidin di Sungai Liput Aceh Timur (setelah jatuhnya Tanjung Pura ke tangan Belanda), kami yang di luar negeri itu, mendapat tugas dan pesan agar turut membantu para pejuang kita yang sering hilir mudik antara Penang-Aceh .
Tugas para pejuang kita di Malaya termasuk Singapore adalah membawa barang-barang dagangan secara barter, memasukkan atau menyelundupkan senjata dan logistik, mencari dana atau devisa. Di samping itu juga melakukan tugas-tugas intelijen dan mencari berbagai informasi untuk kepentingan perjuangan . Pada masa itu Malaya masih dibawah kekuasaan Inggris, tetapi secara umum tidak memusui perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mungkin dari bisnis juga menguntungkan Malaya. Bahkan di Singapore tak ada hambatan untuk Indonesia yang membuka kantor Perwakilan Republik Indonesia dan di Penang ada juga konsulat Indonesia.

Aceh ketika itu sebagai daerah yang bebas dari kedudukan Belanda, maka para pedagang dan pejuang dari Aceh bebas melakukan perdagangan dan barter. Banyak terdapat kantor-kantor perdagangan orang Aceh di Penang. Bahkan dari sini mereka melakukan import ekspor dengan negara-negara lain seperti India, Pakistan, Ceylon, Thailand, Burma, Hongkong, Inggris dan negara-negara Arab.
Pesatnya hubungan perdagangan antara Aceh dan Penang seolah mengulangi kejayaan masa lalu. Dulu di Acheen Street (Leboh Aceh) Penang, banyak bermukim para saudagar Aceh. Komoditi yang utama pada waktu itu….(2 baris hilang) …….yang di dirikan oleh Wakil Presiden Moh.Hatta. 4 Ali Basyah H.Tawi. 5 Indocolim. 6. Petraco, 7 HM Syarif & Sons. 8 Toko Meuraxa, 9. Indo Malaya. Selain dari itu banyak juga perusahaan orang-orang Cina dan India yang asal Aceh atau yang pernah mengadakan perdagangan dengan Aceh. Disamping para pedagang, banyak juga para pejabat, pejuang dan tokoh militer yang hilir mudik. Ada juga para penyelundup yang halunya disebut smokkelar. Selain OA dan Jakfar Hanafiah, tokoh-tokoh yang saya kenal sering hilir mudik Aceh Penang adalah Lektol Hasballah Daud, bekas komandan Mujahiddn dan putraTgk. Daud Beureu’eh, Abdullah Arif wartawan surat kabar Semangat Merdeka Kutaraja dan Staf Penerangan Div X TRI, Kapten Nip Karim yang dikenal sebagai tokoh pejuang dan penyelundup dari front Medan Area,Abdullah Nyak Husin ataulebih dikenal Abdullah NH, yang ini adalah bekas Wedana Langsa dan perwira polisi di Aceh, Kolonel Hasballah Haji/Gajah Mada, ketika itu sebagai komandan Resimen 1/KSBO Medan Area, Tjik Mat Rahmany yang sebagai kepala Staf Div Tgk Tjik Di Tiro dan lain-lain yang saya tidak ingat lagi.
Perdagangan antara Aceh dengan Malaya berjalan baik, hanya bahayanya jika dicegat di tengah laut Selat Malaka oleh patroli Belanda. Untuk melumpuhkan kekuatan kita, Belanda sering memblokir laut seputar Aceh. Para pedagang Aceh yang ada di Malaya, selain melakukan kegiatan bisnis juga turut membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan cara menyumbang dana dan perlengkapan, memberikan berbagai fasilitas kepada para pejabat dan pejuang yang singgah di Penang dan turut memasarkan produk ekspor milik pemerintah. Dalam usaha mencari senjata untuk membeli, para pejabat turut dibantu oleh pedagang dan juga orang-orang Aceh yang ada dinegeri Yan kedah. Dalam pengumpulan dan untuk membeli dua pesawat terbang yang disumbangkan kepada pemerintah pusat, para pedagang kita di Penang turut juga membantu. Dana ini dikumpulkan oleh T. Manyak selaku Wakil Gabungan Saudara Indonesia Daerah Aceh (GASIDA). Tentang pembelian pesawat ini baiklah saya singgung sedikit mengingat adanya …….(hilang sedikit akibat dirusak lumpur tsunami Aceh)…..pendapat bahwa kemungkinan uang itu sudah dibelikan senjata dan perlengkapan untuk perjuangan melawan Belanda.
Saya mengetahui ini karena sekitar bulan Desember 1948 atau awal tahun 1949 saya yang masih golongan pemuda ini ikut musyawarah yang diadakan di kantor NV. Permai di Penang. musyawarah itu dihadiri oleh OA. T Manyak, Ali Basyah H Tawi, H Muhammad ERRI, Hasballah Daud, Abdullah Arif, Nip Karim dan beberapa pedagang lainnya. Bahwa ada sejumlah uang yang mungkin dikirim ke pemerintah pusat karena sulitnya perhubungan dan tidak berjumpanya para penyampai amanah ini dengan Mr Utoyo Ramelan, Kepala Perwakilan RI di Singapore. Maka atas instruksi dari penguasa di Aceh, uang itu akan dibelikan senjata dan perlengkapan dan akan dikirim dengan speed boet ke Aceh.
Uang Palsu
Berikut ada dua peristiwa yang mengesankan yang masih saya kenang, yaitu tentang uang palsu dan penyunludupan senjata. Pada masa-masa perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan ketika itu, pemerintah sangat membutuhkan uang untuk berbagai keperluan . berbagai jenis mata uang yang dikeluarkan seperti ORI, ORIPS, ORIPSU, sementara yang khusus dikeluarkan di Aceh adalah uang yang disebut URIKA dan URIBA, bahkan suatu ketika terjadi keadaan yang mendesak maka alat pengeluaran yang sah ini dikeluarkan dalam bentuk Bon Kontan yang terkenal Bon OA (Oesman Adami) uang itu dikeluarkan dengan tidak dukungan jaminan emas, bahkan dicetak secara besar-besaran sesuai dengan kebutuhan sehingga terjadi inflasi. Kiranya uang yang beredar itu tidak hanya dicetak di Aceh, tetapi juga dicetak di Penang oleh orang lain yang merupakan uang palsu. Saya mengetahui ini secara kebetulan.
Pada waktu kedatangan saya dan kawan-kawan di Penang sekitar April 1948, kami menumpang selama 20 hari di sebuah bangunan, bekas sebuah toko yang bermerek ”Indo Malaya”, terletak di Penang street. Perusahaan tersebut itu tidak aktif lagi dan kami tidak tahu siapa pemiliknya. Hanya seorang bekas pegawainya yang kami kenal, sebut saja namanya Yusuf Idris, orang Aceh. Beliaulah yang memberi tumpangan kepada kami di bangunan kosong itu. Sedangkan Yusuf Idris tidak tinggal di sini. Dia punya pemondokan sendiri. Ketika membenahi dan membersihkan ruangan di atas, kami berusaha membuka sebuah WC yang pintunya tertutup dan terpaku tetap seperti layaknya WC yang tidak terpakai lagi. Waktunya pintu tersebut terbuka, alangkah terkejutnya kami melihat ribuan uang kertas tumpah berhamburan keluar dari WC. Setelah kami teliti ternyata uang kertas palsu Republik Indonesia seperti yang dikelurkan di Aceh. Saya tidak ingat lagi URIKA atau URIBA, tetapi bernila Rp 5,- (Lima Rupiah). Barangkali sekarang ini setara dengan lima Ratus Rupiah. Sebagian sudah dipotong dalam ukuran lembar uang dan sebagian lagi masih dalam lembaran-lembaran kertas besar yang terdiri atas enam lembar uang.
Alangkah banyaknya uang itu. Waktu ditumpuk sekitar satu meter kubik. Karena kami merasa takut dan perasaan hati tidak enak, maka kami sepakat uang palsu itu kami bakar semua. Untuk membakarnya diperlukan dua….rusak lagi…..
kepada polisi, takut kalau-kalau kami ditahan. Maklum kita di negeri orang. Tetapi dua lembar uang itu saya kirim ke Markas Divisi x TNI/Mujahidindi Sungai Liput, tempat saya pernah bertugas. Saya mohon perhatian Markas, kemungkinan uang palsu seperti itu telah lama beredar di Aceh terutama Aceh bagian Timur dan Langkat. Temuan tersebut juga kami laporkan kepada Bpk Hasballah Daud dan Abdullah Arif yang pada waktu itu berada di Penang untuk dilaporkan ke Kutaraja.
Kemudian hari setelah kita sempurna bebas dari pejajah, dan zaman pun sudah normal, sekitar Tahun 1952, orang yag bernama Yusuf Idris itu pernah ditangkap di Medan dan dihukum dua tahun penjara karena kasus uang palsu juga. Sekarang ia sudah meninggal dunia di Penang.

Menyelundupkan Senjata
Mengenai penyelundupan senjata, seperti saya ceritakan di atas, bahwa diantara tugas para pejabat dan pejuang kita di Malaya adalah mencari dan membeli senjata, yang dibantu juga oleh para pedagang dan orang-orang kita di kota Yan, Kedah. Barang-barang tersebut dikumpulkan dan dibeli dari orang-orang Cina dan Siam, diantaranya berasal dari gerilyawan Komunis Malaya pimpinan Cheng Pin, yang ternyata mereka membutuhkan uang. Ada juga senjata-senjata itu berasal dari anak kapal Inggris dan Amerika.
Saya tidak sepenuhnya tahu seluk beluk perdagangan senjata yang penuh resiko itu. Umumnya pusat-pusat pengumpulan senjata itu, antara lain di Sungai Perlis, lautan Perlis-Thailand, Pulau Langkawi, Balik Pulau, sebuah negeri di sekitar Pulau Pinang dan juga di Pulau Pinang. Pada suatu malam saya diajak oleh Bpk Hasballah Daud men…………….selanjutnya isi artikel dalam kolom terakhir ini telah hilang/robek separuh kolom. Kalaupun saya salin bacaaannya tidak sempurna, maka tidak saya salin lagi. Seingat saya, penulis artikel ini adalah: Abd. Wahab Gam-Balee Seutui, Aceh Utara. Artikel ini disalin kembali oleh putra saya yang pertama, kecuali sub judul “menyelundupkan senjata”
Bale Tambeh, 13 Agustus 2015, malam, jam 22.07, T.A. Sakti
( Sumber: Serambi Indonesia, Rubrik REMAJA, Minggu, 9 Juli 1995 hlm…)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s