Geliat Si Marginal: Semoga Sastra Aceh Bergeliat Kembali Mengejar Sastra Jawa, Sunda dan Bali!.

Hadiah Sastra Rancage 2006
Geliat Si Marginal
Bahasa daerah yang kesusastraannya’masih hidup’ dan terbit secara berkala berbentuk buku hanya meliputi bahasa Sunda, Jawa, dan Bali.
Bertanya santi – remaja yang lahir dan besar di Jakarta – pada rekan kuliahnya di salah satu universitas swasta yang ada di Jakarta. Sastra itu apa sih?” celetuknya. Sang kawan yang ditanya, tak kalah bingung memberikan jawaban. ‘’Tau tuh,” sahutnya.
Dialog singkat tadi sederhana, tapi cukup jelas untuk menggambarkan bagaimana ‘marginal – nya keberadaan perkembangan sastra daerah di negeri ini. Padahal, sastra daerah itu salah satu pilar pembentuk akar budaya suatu negeri – tak terkecuali Indonesia yang memang di bangun dalam ranah multikultural.
Minimnya publikasi sekaligus apresiasi kepada para penggiat sastra, mungkin menjadi satu dari beragam alasan yang menyebabkan geliat sastra daerah tak sederu layaknya perkembangan dunia sastra pada umumnya. Indikatornya sederhana. Dari sebuah kajian singkat yang dilakukan Yayasan Kebudayaan Rencage pimpinan Ajip Rosidi, penerbitan buku dalam bahasa daerah sepanjang 2005 lalu ternyata tidak mengalami banyak perubahan dibanding tahun sebelumnya.
Bahkan, yang lebih ekstrem telah memperlihatkan kalau bahasa daerah yang kesustraannya ‘masih hidup’ dan terbit secara berkala berbentuk buku hanya meliputi bahasa Sunda, Jawa, dan Bali. Memang di tahun 2004, sempat menghias sastra dari tanah Karo yang menghadirkan buku berjudul Pancala karya Trinagu. Di dalam buku setebal 309 halaman itu termaktub 272 judul puisi.
Terlepas dari minimnya ragam apresiasi kepada para penggiat sastra daerah tadi, maka Yayasan Kebudayaan Rancage telah mencoba rintisannya. Yayasan Kebudayaan ini untuk kali pertama di tahun 1989 memberikan award bagi karya sastra berbahasa Sunda.
Lima tahun selanjutnya penberian award itu merambah pada karya-karya sastra berbahasa Jawa. Dan di tahun 1998, giliran sastra Bali yang dianggap patut diberikan apresiasi.
Kini, Yayasan Kebudayaan Rancage bekerjasama dengan Universitas Pendidikan Indonesia(UPI) kembali ingin memberikan sebuah apresiasi kepada para penggiat sastra daerah. Tajuk yang diberikan adalah Hadiah Sastra Ranacage 2006 dan Hadiah Samsudi 2006. Puncak dari pergelaran tahun itu dilakukan pada 29 April mendatang di Kampus Bumi Siliwangi, Bandung.
Apresiasi berupa Hadiah Sastra Rancage ini diperuntukkan kepada para pengarang tiga sastra daerah – Sunda, Jawa, Dan Bali. Sedangkan Hadiah Samsudi lebih difokuskan buku – buku bacaan anak – anak berbahasa Sunda.
Dalam tulisan panjang Hawe Setiawan – Pengurus Yayasan Kebudayaan Rancage – yang diperoleh Republika beberapa waktu lalu, pihaknya telah menyortir sejumlah karya untuk diperlombakan. Pada sesi penghargaan untuk tahun ini, Hawe mencatat sedikitnya 19 judul buku berbahasa Sunda.
Dibanding tahun sebelumnya, peningkatan judul itu hanya ada tiga saja. Bahkan dari jumlah yang dihimpun sepanjang 2005 itu termasuk diantaranya buku cetak ulang, dan terdapat pula satu judul yang terdiri dari lima jilid.
Sedangkan buku yang terbit dalam bahasa Jawa mengalami peningkatan satu judul dari tahun sebelumnya menjadi enam judul. Tapi, untuk buku sastra Bali justru terjadi penurunan yang signifikan. Jika tahun lalu terdapat 14 judul, maka sepanjang tahun 2005 hanya ada lima judul saja – yang beredar di pasaran.
‘’ bahasa – bahasa daerah lainnya kalaupun menerbitkan buku pada umumnya hanya berupa tanskrip dari ceita rakyat, ’’ tulis Hawe Setiawan.
‘’ Untuk karya – karya seperti itu kami memang tidak memasukkannya kedalam karya – karya yang bisa dinilai oleh juri Hadiah Sastra Rancage.’’
Dari penilaian panjang yang telah dilakukan dewan juri, Hadiah Sastra Rancage 2006 untuk buku berbahasa Sunda bakal diberikan kepada Geus Surup Bulan Purnama karya sastrawan kelahiran Bandung 6 Agustus 1947, Yous Hamdan. Dari aspek jasa penghargaan Rancage ini diberikan kepada Abdullah Mustappa, pria asal Garut yang dianggap telah memberikan sumbangan besar kepada upayanya memelihara kehidupan bahasa dan sastra Sunda.
Sementara pada sastra Jawa anugerah diberikan kepada buku Senthir yang berisikan kumpulan cerita pendek karya Suardi Endra Suara. Dibagian tokoh, terpilih nama Suwignyo Adi Alias Tiwiek Sa.
Sedangkan untuk karya dalam bahasa Bali, judul buku Buduh Nglawang karangan Ida Bagus Wayan Keniten terpilih sebagai pemenangnya. Untuk tokoh yang mengembangkan kesustraan Bali ditetapkan Ida Bagus Gde Agastia sebagai layak memperoleh Hadiah Sastra Rancage 2006. Selanjutnya pada Hadiah Samsudi 2006, penghargaan diserahkan kepada Dongeng – Dogeng Tikarawang karya Darpan, Yudhi Adna, Suhenda Yudha Mulia terbitan pamulang, Tangerang.
Seluruh peraih penghargaan Hadiah Rancage nantinya masing – masing memperoleh piagam serta uang tunai sebesar Rp 5 Juta. Sedangkan Hadiah Samsudi memberikan uang tunai Rp 2,5 juta.
( Sumber: REPUBLIKA, Rubrik Warna, Senin, 13- Februari 2006, halaman 20).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s