Upacara Jak Bak Tuwan di Aceh

UPACARA “JAK BAK TUAN” ACEH

 

PEPATAH Aceh mengatakan: “Moe-moe ureung geupeukawen, khem-khem ureung geukoh boh” (nangis-nangis orang dikawinkan, ketawa ­ketawa orang yang mau disunat).

Hadih Maja (pepatah) ini melukiskan akibat perbandingan antara orang yang mau jadi pengantin baru dengan mereka yang hendak sunat Rasul.

Biar bagaimanapun perasaan gembira, yang sengaja ditonjolkan oleh orang hendak sunatan guna menutup-nutupi kengeriannya, namun yang dirasakan pada akhirnya adalah rasa perih dan sakit. Sebaliknya, walau bagaimanapun rasa sedih, bahkan menangis berhari-hari, mungkin karena pada mulanya kurang setuju dengan calon jodohnya, tapi pada tahap akhir si pengantin akan merasakan berbagai ragam kenikmatan dan kebahagiaan bersama pasangannya suami-isteri. Khusus bagi Dara Baro (pengantin wanita), diantara bermacam rupa kegembiraan adalah Jak bak Tuan (mengunjungi mertua) buat pertama kali selepas Hari Raya (Lebaran). Baik Lebaran Idul Adha maupun Idul Fitri.

Berhari-hari sebelum acara Jak bak Tuan dilangsungkan, nampak sekali kesibukan dirumah kedua pengantin sangat meningkat. Pihak keluarga Linto Baro (Pengantin pria) disibukkan dengan melengkapi berbagai keperluan dalam rangka menyambut Dara Baro tiba (preh trok Dara Baro). Pagar rumah yang berantakan  diikat kembali, sumur yang dangkal dikerukkan, rumah yang kotor dibersihkan, dan sebagainya.

Termasuk, sang mertua yang jarang mandi selama ini, terpaksa sering berkenalan lagi dengan sabun dan keramas; Pokoknya, biar si Dara baro dan pengiring melihat nanti, bahwa suasana di rumah mertuanya cukup serasi dan menyenangkan. “Oooo, hana peuetanyong rumoh tuan si pulan meunyo keu gleh dithei le Kafe” (Oh nggak usah tanya lagi, kalau tentang bersihnya rumah mertua si anu sudah dikenal Kafir-dulu: Belanda).

Disamping merehap rumah dan sekitarnya, pihak keluarga Linto Baro juga sibuk menyiapkan perlengkapan menu, yang akan disajikan kepada tamu para pengiring Dara Baro. Kebutuhan itu memang tidak terlalu sukar dipenuhi, karena hari Makmeugang baru saja berlalu. Daging Makmeugang memang dibeli lebih banyak oleh keluarga yang bermaksud preh Dara Baro (menunggu kedatangan pengantin).

Lain pula jenis kesibukan dipihak keluarga Dara Baro. Berhari-hari kegiatan mereka adalah membikin jenis kue. Tiap jenis kue yang dibuat itu dalam jumlah banyak. Karena baki-baki berisi kue, yang dibawa kerumah Linto Baro nanti,  tidak hanya sebagai buah tangan (bungong jaroe) khusus bagi keluarga Linto Baro, tetapi juga akan dibagi-bagikan kepada semua famili terdekat dan tetangga sedesa, untuk Teungku seumeubeut ( guru ngaji), isteri kepala desa (inong Pak Keuchik) dan lain-lain.

Diantara jenis kue yang sering dibuat untuk tujuan ini adalah dhoi-dhoi, wajeb, ……… cupet kuet, makanan boh manok, ruti bungong, timphan, bengkang, peukarah, ruti sumprit, bu tho, bhoi, bohlu, bulukat tumpoe dan lain-lain. Guna menyiapkan kue-kue tersebut kaum ibu sedesa berkumpul dirumah Dara Baro, baik siang maupun malam. Khusus untuk bikin jenis-jenis tertentu, mungkin terpaksa diundang ahlinya dari desa lain. Makanan boh manok (kue telur) misalnya, sudah jarang sekali kalangan ibu-ibu muda yang dapat membuatnya.

Pada hari yang telah disepakati kedua belah pihak, yaitu sekitar 2-4 hari setelah Lebaran, berangkatlah rombongan Dara Baro menuju rumah pengantin pria. Para pengiring Dara Baro terdiri dari isteri-isteri tokoh masyarakat seperti inong (istri) Teungku Keuchik, inong Tuha Peut (isteri tokoh nan empat), inong Teungku Peutua (isteri Imam), ibu-ibu yang dituakan, seorang Nek Peunganjo (Maja), serta beberapa orang gadis remaja pendamping khusus Dara Baro.

Kue-kue yang telah siap diisi dalam beberapa baki (tafsi) besar, dimana kadang-kadang telah lebih dulu diantarkan kerumah Linto Baro sehari sebelumnya. Penampilan gaya Dara Baro, di hari Jak bak Tuan ini sungguh meyakinkan. Aggun dan manis sekali. Pakaiannya, sejak dari warna baju kebaya model terbaru, ikat pinggang, san­dal tumit tinggi (silop ceudang-ceudeung), sanggul rambut dan sebagainya, memang telah ditata rapi. Perhiasan keemasan, seperti gelang tangan (sawek jaroe), kalung (taloe takue) dan pawon ringget Turki (dollar emas), peniti emas (boh dob ma), lengkap di dada. Selain waktu hari persandingan, pada hari Jak bak Tuan inilah seseorang Dara Baro patut memakai segala perhiasan keemasannya. Kalau tak punya, pinjam pada tetangga tak tercela, pokoknya tak akan jadi omelan orang.

Sebelum berangkat dari rumah, terlebih dahulu Dara Baro sujud dilutut (seumah bak tuot) kedua orang tuanya. Sungkem ini mengandung arti mohon permisi mau berpergian. Dengan memegang gagang payung yang berwarna-warni, Dara Baro jalan melenggang keluar dari halaman rumah menuju tujuan. Bagi yang tidak ikut, tcrutama kedua orang tuanya, terus mengikuti sejauh mata memandang, dengan penuh haru karena kegembiraannya.

Bila tempat yang dituju dekat, mereka jalan kaki, tapi kalau jauh mereka naik bis/colt, yang disewa khusus. Bila telah dekat, barisan atau iring-iringan segera diatur. Orang-orang yang ditokohkan diantara rombongan berjalan di barisan depan, Dara Baro serta gadis-gadis pengiringnya ditengah-tengah rombongan. Sedang sebagian lagi barisan belakang. Disaat-saat demikian banyak pemuda-pemuda usil, usik-mengusik bila melihat kecantikan Dara Baro dengan gadis-gadis pendampingnya. “Hai-hai dikah pajan lom kapot bungong, jeh ka eue digob na dipubre (hei hei kamu kapan lagi mau memetik bunga, lihat tuh orang lain tidak melambat-lambat meminangnya), begitu bisikan pemuda kepada temannya disepanjang perjalanan.

Di pihak Linto Baro, para penjemput juga telah siap dihalaman rumah. “Assalamualaikuuummm!”, sapa ketua rombongan tamu. “Waalaikum salaaammm!”, jawab yang mewakili Tuan rumah. Setelah bersalam salaman, rom­bongan Dara Baro dipersilakan naik kerumah (bentuk rumah Aceh bertiang tinggi).

Di rumah, sekali lagi terjadi saling menyalami antara tamu dengan para penunggu lainnya di serambi. Sementara itu ibu Linto Baro, memang telah duduk ditempat khusus di beranda. Dara Baro berkewajiban mendatangi kedua orang tua Linto Baro untuk sungkem dilutut (seumah bak tuot), khusus bagi sang ibu, sedang bagi si ayah cukup dengan bersalaman saja. Disaat itulah sang mertua “geuteumutuek” yakni memberikan sejumlah  uang kepada Dara Baro. Kemudian beriring-iringan, semua famili terdekat Linto Baro datang ber­kenalan dengan menyalami serta “teumeutuek” pula. Selesai makan sirih dan istirahat, makanan- minuman pun dihidangkan.

Acara berikutnya, yaitu peusijuek dan rah jaroe (cuci tangan) Dara Baro. Tepung tawar (peusijuek) dilakukan oleh seorang ibu yang dituakan dari pihak mertua. Sedang rah jaroe dilakukan oleh perorangan yang berkepentingan, khususnya keluarga dekat pihak Linto Baro. Perlu diketahui, bahwa pemberian sejumlah uang “teumeutuek” kepada Dara Baro baik oleh mertua atau mereka yang berkepentingan, sering juga dilakukan setelah selesai melaksanakan Rah jaroe (mencuci) tangan Dara Baro.

Acara yang tidak kurang pula menarik dilakukan berikutnya adalah “peulhuek kanot sira (memasukkan tangan kedalam kuali garam). Dara Baro dibimbing oleh seorang ibu kedapur untuk melakukannya. Didalam kuali garam (kanot sira), selain garam juga telah dimasukkan: cabe, belimbing (boh limeng), buah rumbia dan segala sesuatu yang beraneka ragam rasanya. Benda-benda itu mempunyai interpretasi/ penafsiran masing-masing. Garam bertujuan, supaya kehidupan rumah tangga mereka basah, seperti garam yang sering lembab. Begitu pula memberi ibarat dan iktibar kepada “bentuk rumah tangga baru” itu, bahwa perjalanan hidup mereka nanti tidak selamanya lempang dan manis, tetapi tidak jarang pula akan ditemui rasa pahit, ngilu, pedas, pasang naik dan pasang surut.

Selesai semua acara yang merupakan tradisi, anggota rombongan mohon diri mau pulang. Biasanya, Dara Baro bersama seorang nek peunganjo (pendamping) tidak pulang hari itu. Mereka tetap tinggal disitu beberapa hari. Biasanya, yang ditunjuk sebagai pendamping adalah seorang yang telah tua, namun lincah dan lucu.

Dialah yang bertugas membuat keakraban antara Dara Baro dengan anggota keluarga mertua dengan keahlian bergurau, humor dan melawak. Karena, memiliki ciri khas ini, iseng-iseng kadang-kala orang menyebutnya; Maja Tuhen-Majen Tuha (nenek Iblis). Ketika mereka mau pulang, setelah tinggal beberapa hari, pihak mertua memberikan berbagai jenis benda menurut kemampuannya.

Barang-barang pecah belah, perkakas dapur, binatang ternak dan sebagainya. Karena perkembangan zaman, acara Jak bak Tuan dewasa ini kadang kadang dilakukan di hari pesta perkawinan pihak Linto Baro. Soalnya, sekarang seorang gadis telah lebih dulu kenal (pacaran) dengan calon jodohnya. Walaupun masih dilaksanakan tradisi Jak bak Tuan, namun keseronokannya kurang. “Inilah suatu tanda, bahwa dunia mendekati Qiamat, segala tradisi diremehkan”, keluh seorang nenek mengomeli tingkah cucunya!.  (T.A. Sakti)

 

( Sumber:  Harian “Merdeka”, Jakarta, Selasa, 7 Desember 1982 halaman VII ).

 

  • Sebelah kanan artikel nampak gambar Darabaro – Lintobaro dalam adat perkawinan Aceh.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s