Tarian Ranub Lam Puwan

TARI RANUB LAM PUAN ACEH

SIMBOL KERAMAHAN WANITA

 

Oleh: T.A. Sakti

 

 

MULIA jamei ranub lampuan, mulia rakan mameh suara (menghormati tamu dengan sirih dalam cerana, memuliakan teman dengan suara manis), demikian sebait Hadih Maja/pepatah Aceh, peninggalan budaya lama. Nampaknya, pesan itulah yang diperagakan oleh beberapa orang gadis Aceh, dalam suatu tarian yang lumayan terkenal disana, yaitu “Tarian Ranub Lampuan,” yang berarti “sirih dalam cerana”.

Tarian ini dimainkan oleh 5 – 7 orang, lengkap dengan pakaian adat Aceh yang terdiri dari celana hitam panjang (luweu tham asei), kebaya panjang, selendang tutup kepala (ija top ulei), kain pinggang sampai dibawah lutut dan sebuah cerana beserta perlengkapannya. Sebagai pelengkap lainnya adalah barang keemasan, sesuai dengan hiasan seorang wanita.

Makna dari tarian ini secara keseluruhan adalah mengingatkan penonton agar memuliakan tamu, yang berkunjung kerumahnya. Salah satu dari sikap sopan santun menyambut tamu, yakni dengan menyuguhkan sirih dalam cerana (ranub lampuan). “Siblet siblet tajak, meuranub sigo ‘ab han keuh diteupeu bri!” (sekali kali saya berkunjung, sirih sekali makan pun tak mau dia suguhkan!). Omelan yang sering terdengar di kalangan kaum ibu yang baru pulang bertamu, tapi kecewa karena tuan rumah tidak menyuguhkan “ranub lampuan” kepadanya.

Kalau sudah demikian, maklum saja sifat umum kaum wanita; omelan pun terus berkepanjangan. “Biet hai, bak Endatu jih kon kriet culiep pade;  lagei taklok ek linot bak bak me!” (Memang sudah demikian, nenek moyangnya pun pelitnya bukan main, bagaikan orang mengambil kotoran serangga dalam batang asam Jawa!). Wanita yang tidak menghiraukan tamu itu sering disisihkadalam pergaulan wanita sedesa, karena telah dicap sebagai wanita sombong (inong bob).

Untuk menghindari agar dalam keluarganya jangan sampai ada orang yang berperangai sombong, pihak keluarga terutama kaum ibu, telah dibekali ajaran kesopanan dari orang tua mereka. Ajaran ajaran inilah yang:‘diwariskan kepada keturunan-turunannya bergiliran. Pantang sekali dalam kehidupan rakyat desa di Aceh, menyambut anak kecil dari punggungnya. Menurut kepercayaan, hal ini akan menyebabkan si anak jadi sombong bila ia dewasa. Gerakan gerakan tarian Ranub Lampuan menggambarkan kegiatan seseorang tuan rumah, sejak lari memetik sirih hingga selesai ia menyusun sirih dalam cerana. Kemudian sirih yang telah tersusun rapi, setelah dilengkapi pinang, kapur sirih, cengkeh diserahkan (dipeusambot) kepada tamu. Sudah jadi tradisi, bahwa sebelum dilakukan segala sesuatu, “adat makan sirih” merupakan hak pertama bagi sang tamu.

Karena itu, dijaman dulu hampir setiap halaman rumah di Aceh memiliki kebun kecil. Dalam kebun mini ini ditanam beberapa jenis tanaman kebutuhan dapur sehari hari, seperti kunyit, jahe, belimbing, serai, keladi, dan beberapa rumpun  sirih. Daun sirih, selain untuk menyambut tamu, juga dijadikan sebagai pengganti “surat undangan” untuk beberapa macam pesta didesa.

“Tapula ranub dua Ihei bak, jampang gob jak napeue tabri” (tanamlah sirih dua tiga rumpun, bila tamu datang ada yang disuguhkan!), begitu pesan Pantun Aceh kepada para ibu rumah tangga. “Alaikum salam jamei baru troh, tamong jak piyoh u dalam tika. Lon meubri ranub kahana bate, kamoe bineh gle juoh ngon banda!” (Waalaikumsalam!, wahai tamu yang baru datang, silakan masuk duduk di tikar. Mau saya suguhkan sirih tidak ada cerana, maklumlah kami dipinggir gunung- jauh dari kota!), bunyi sebait syair kesenian Rapa-i (Rebana khas Aceh), tentang basa basi si tuan rumah dengan tamunya.

Inilah sekedar catatan tentang Tarian Ranub Lampuan, yang merupakan potret keramahan wanita wanita Aceh, tidak terkecuali para gadisnya. Dara dara Aceh, sejak kecil memang telah dididik tentang sopan santun, baik cara bertamu atau menerima tamu. Pendidikan rumah tangga inilah yang membentuk jiwa dara dara Aceh bersifat peramah dan luwes dalarn pergaulan, Ini bukan iklan Iho!. Nggak percaya?, Survey dulu!!.

 

( Sumber: Harian “Merdeka”, Jakarta, Jum’at, 14 Januari 1983 halaman VII ).

*Di sisi kanan artikel terpampang 7 orang gadis Aceh dengan seuleuweue tham asee ( pakaian adatnya).

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s