Surat Kepada Prof. A. Hasjmy

Bucue 10 Juli 1979

Kepada yth.

Bapak Prof. A. Hasjmy

di

T e m p a t.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Dengan hormat

Terlebih dahulu saya mohon ma’af pada bapak, karena saya mengirimkan surat ini dan sebuah karangan, yang mungkin mengganggu bagi bapak, jadi terlebih dahulu saya mohon ma’af.

Sebab utama saya mengirimkan kepada bapak, karangan yang berjudul WASIAT  HAJI  AGUSSALIM  TENTANG  PENDIDIKAN  DI INDONESIA, karena saya telah sangat mengetahui baik dari karangan-karangan bapak sendiri ataupun dari karangan-karangan orang lain, bahwa bapak sangat berminat dan telah berperanan sekali dalam pendidikan, maka bapak adalah pemilik yang sah suatu gelaran yaitu BAPAK PENDIDIKAN ACEH.

Maksud dari pengiriman saya ini adalah untuk mohon tanggapan bapak tentang masalah huruf JAWI. Karangan ini merupakan percobaan saya untuk mempraktekkan kata-kata Meutiara hikmat yang saya kutip dari tinjauan resensi buku “DIREBUT KABUT KELAM” oleh Al-Hariry (menurut sepengetahuan saya adalah nama samaran dari bapak sendiri).

Tinjauan tersebut ada dimuat dalam majalah SANTUNAN no. 30 dan Panji Masyarakat no. 268 halaman 26. Pada alinea kedua dari resensi buku tersebut, Al-Hariry menulis: “Buku puisi tersebut mengesankan kepada saya bahwa ada kebenarannya pendapat yang mengatakan musibah dan penderitaan seringkali menyuburkan rasa indah dalam jiwa seseorang, sehingga menjelma menjadi karya seni pada umumnya dan karya sastra pada khususnya, yang kadang-kadang mempunyai nilai tinggi”.

Kata Meutiara hikmat yang tersebut diatas itulah yang saya ingin buktikan. Selain kepada bapak, WASIAT HAJI AGUSSALIM ini juga saya kirimkan kepada harian WASPADA yang terbit di Medan dengan harapan agar disiarkan kepada umum.

Mungkinkah harian ini sudi memuat karangan saya tersebut, seperti halnya mereka selalu memuat karangan-karangan bapak yang hampir tiap hari, dalam hal ini saya rasa tak mungkin, karena karangan saya tidak/belum ilmiah.

Hanya sekian isi surat saya, dan atas perhatian bapak, saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalam dari saya

(EL  KANDY  BUCUE).

( Catatan susulan: 1.  Pada awal kegemaran saya menulis dalam ‘persuratkabaran’, saya memakai beberapa nama samaran seperti El Kandy Bucue, T.A. Soelaihu Bucue, A.S. Humar Bucue, Nuga Lantui, dan Awak Tunong.

2. Bucue, adalah gampong kelahiran saya; termasuk kampung yang pelosok yang diremehkan orang, sehingga mendorong saya membelanya!.

3. El Kandy Bucue = Lampu/kandil dari Bucue.  T.A. Soelaihu Bucue = Teuku Abdullah Sulaiman Husein Umar Bucue.  A.S.Humar Bucue = Abdullah Sulaiman Husein Umar.  Nuga Lantui = alat pemukul buat membelah bambu  dan memeras minyak kelapa. Awak Tunong = orang selatan/pedalaman.

Bale Tambeh Darussalam, 27 Oktober 2011, T.A. Sakti ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s