Seumpeuna IV

Seumpeuna  IV

MERANTAU  merupakan arena pergulatan hidup yang bertujuan mencapai kejayaan. Namun tidak setiap perantau mengalami sukses dalam pencariannya. Gambaran demikian terungkap jelas dalam Hikayat Ranto karya Leube Isa alias Leube Bambi, yang mengisahkan perantauan warga Pidie  ke pantai barat-selatan Aceh tempo dulu.

Memang, merantau diwarnai tantangan dan penderitaan. Itulah yang mewarnai kehidupan para perantau Pidie yang menyabung nasib  ke pantai barat-selatan Aceh. Kebanyakan mereka tidak berhasil di perantauan. Alih-alih mencari kekayaan ke sana, malah mereka menjadi lebih meuteng-paneng(amat miskin). Penyebabnya adalah  ‘penyakit masyarakat’ seperti judi, sabung ayam, budaya ijon dan candu yang merajalela di sana saat itu. Walau bagaimana pun, bekas dari perantauan itu masih terpacak hingga  kini, yakni kota  Blang Pidie  di Kabupaten Aceh Barat Daya( Abdya), sekarang.

Saya juga mengalami nasib yang mirip dengan kisah di atas. Dengan dukungan beasiswa Lembaga Kerjasama Indonesia-Belanda yang dikelola LIPI-Jakarta, saya  merantau dari Aceh ke Yogyakarta.  Perantauan  ini  penuh tantangan. Salah satu cobaan yang tak terlupakan adalah kecelakaan di jalan raya yang menimpa diri saya. Saat itu saya dalam perjalanan pulang ke Kampus UGM dalam konvoi bersama dari tugas akhir Kuliah Kerja Nyata (KKN – UGM) di kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Saya,  T. Abdullah Sulaiman beserta tiga orang teman ditempatkan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Boyolali.  Tragedi mengenaskan itu terjadi   pukul 13.00 lebih di sekitar Kalasan,    lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta. Sebuah Colt barang yang sedang mengangkut kotak-kotak Tivi menabrak saya,  sekejab setelah saya  melewati Candi Prambanan dari arah timur.  Peristiwa musibah itu, kini telah   27 tahun berlalu.

Angka duapuluh tujuh  ( 27 )  dianggap  sakral oleh sebagian orang; termasuk ulontuan.  Karena  itulah saya  menerbitkan dua judul hikayat dalam rangka ‘menghormati’ angka 27 yang telah menyertai kehidupan saya  hingga  hari ini.  Kedua  hikayat pilihan  itu  ialah  HIKAYAT  RANTO  dan HIKAYAT  TEUNGKU  DI MEUKEK.

Selain mencetak dua judul hikayat itu, rangkaian mengenang 27 tahun hari cobaan itu juga saya isi dengan upaya mengumpulkan profil  para pengarang, pembaca  dan penjual  buku cae-hikayat, terutama yang masih berkiprah hingga saat ini. Sebagai langkah awal, Tgk. Ismail alias Cut ‘E   Tanjong Seulamat telah saya wawancarai/rekam pada Aleuhad, 21 Puasa 1432   bertempat di Bale Tambeh, depan rumah saya menjelang buka puasa. Beliau berpengalaman  40 tahun  membaca hikayat ( terutama Nazam Akhbarul Na’im karangan Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum).

Setelah dua kali gagal memenuhi undangan buka puasa ke tempat saya, Medya Hus sudah   dapat  saya wawancarai/rekam pada hari Sabtu, 27 Ramadhan 1432/27 Agustus 2011 sekitar jam 11.00 siang,  bertempat di studio ACEHTV menjelang acara “Cae Bak Jambo”. Beliau yang biasa disapa Cek Madia itu, sekitar 30 tahun berpengalaman sebagai  pengarang, pembaca dan penjual hikayat di Aceh.  Sebagai “pedagang hikayat”  beliau  telah berkeliling ke setiap kota kecamatan di seluruh Aceh pada  Uroe Gantoe (Hari Pekan), baik ketika bersama Syeh Rih Krueng Raya atau  kemudian dengan Syeh Mud Jeureula atau pun saat secara  mandiri/pribadi.

Tokoh ketiga yang diwawancarai sebagai ikon profil  pengarang cae-hikayat adalah Siti Asra pada Senin, 10 Oktober  2011. Sastrawati asal Terbangan, Aceh Selatan ini baru saja meraih gelar Sarjana Pendidikan Islam ( Spd I ) di Fakultas Tarbiyah- Jurusan Bahasa Arab IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, yang diwisuda pada hari Kamis, 8 September 2011 bertempat di Gedung Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh. Kami, 8 orang  dari Komunitas Pengarang   Cae   acara ‘Cae Bak Jambo” ACEHTV,  ikut hadir pada acara  syukuran  wisuda sore itu di Arafah Cost, tempat tinggal Siti Asra selama kuliah, Lorong 1,  di belakang Restorant Lamnyong. Selaku sahabat, sesama peminat sastra Aceh, kami mengucapkan “Selamat!” kepada Siti Asra, semoga   ilmunya bermanfaat hendaknya !!!.

Pada hari  Kamis, 25  Ramadhan 1432 H bersamaan  25  Agustus 2011  M tahun ini,  genaplah 27 tahun   saya mengalami musibah tabrakan,  yang  terjadi pada  hari Sabtu, 25 Puasa 1405 ( 15 Juni 1985 ).   Syukur Alhamdulillah, Allah Swt masih memberi  kesehatan dan kebahagiaan dalam kehidupan saya. Semoga dimasa depan, cucuran rahmat itu semakin berlimpah adanya, Amiinnn!!!.

Darussalam,  26 Desember  2011

dto

T.A. Sakti

www.tambeh.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s