Menanti Prodi Bahasa Aceh di Unsyiah

Menanti Prodi Bahasa Aceh di Unsyiah

Progam Studi Bahasa Aceh di FKIP Universitas Syiah Kuala merupakan satu Prodi yang telah lama din anti-nantikan. Pihak yang menanti tidak hanya civitas academika Unsyiah, melainkan juga seluruh masyarakat Aceh yang sangat cinta akan bahasa Aceh . Penantian lama itu belum di ketahui kapan berakhirnya.
Di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lain umumnya telah membuka program studi bahasa daerah. Seperti IKIP Medan, IKIP Bandung, USU, UGM dan beberapa PTN lain. Lantas, bagaimana dengan Unsyiah yang telah berusia seperempat abad lebih ? Mengapa Prodi Bahasa Aceh sampai saat ini belum dibuka?
Dua masalah di atas merupakan persoalan yang patut dikaji dan diteliti lebih lanjut.
Unsyiah merupakan jantung masyarakat Aceh. Oleh karena itu, perhatian masyarakat sangat jelas terlihat dalam memajukan dan meningkatkan kualitas mahasiswanya, pun kuantitas fakultas dan jurusannya.
Beberapa tahun lalu telah dibuka lagi Fakultas MIPA yang meliputi empat jurusan, yaitu Matematika, Kimia, Fisika, dan Biologi. Di FKIP dibuka pula Program Studi Kesenian.
Secara langsung pembukaan fakultas dan Prodi tersebut tentulah memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Aceh, bahkan untuk Indonesia. Sebab, para alumni tersebut tidak hanya menerapkan ilmunya di Aceh.
Mengapa Bahasa Aceh?
Apapun alasannya setiap daerah harus berupaya melestarikan kebudayaan daerahnya. Hal ini merupakan satu tanggung jawab yang tidak ringan. Salah satu unsur budaya daerah adalah bahasa daerah. Bahasa tersebut merupakan ciri kedaerahan dan menjadi identitas spesifik. Pengertian ciri khas kedaerahan kita artikan di sini secara positif.
Bahasa Aceh sebagai bahasa daerah berhak untuk hidup dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan pemikiran penuturnya. Bahasa Aceh juga punya kedudukan dan fungsi yang sama dengan bahasa daerah lain di seluruh nusantara. Jika demikian, maka otomatis bahasa Aceh juga mempunyai hak untuk hidup, berkembang, dan dilembagakan pada satu lembaga negeri. Maksudnya, ia harus ditumbuh kembangkan dari waktu ke waktu . Sehingga ia tetap menjadi asset yang berguna dan viral bagi daerahnya.
Salah satu langkah yang paling tepat adalah dengan membuka Prodi Bahasa Aceh di Unsyiah. Sehingga nantinya diharapkan beberapa kendala yang selama ini terjadi di masyarakat akan dapat teratasi perlahan-lahan . Persoalan yang mencuat saat ini terutama di bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Aceh di sekolah-sekolah akan bisa diantisipasi.
Beberapa fenomena yang timbul di masyarakat yang kurang konprehensifnya pengajaran bahasa Aceh di sekolah, antara lain:
* Para siswa menjadi verbalisme.
Maksudnya hanya dapat menggunakan bahasa Aceh secara lisan dalam kontek bahasa pasaran. Mereka sama sekali tidak mampu menggunakan bahasa Aceh dalam bentuk tulisan. Persoalan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa Aceh di masa yang akan datang. Sungguh riskan rasanya, jika kita mengembangkan satu bahasa, sementara kita tidak punya kemampuan menggunakan bahasa tersebut dalam bentuk tulis.
* Tidak jelasnya mana konsep bahasa Aceh yang standar.
Ini tidak hanya menyangkut dialek, melainkan juga kosa katanya. Hal ini juga menjadi satu masalah besar, terutama jika bahasa tersebut digunakan di media-media cetak dan elektronik. Misalnya saja di terbitkan buku pelajaran bahasa Aceh untuk sekolah (SD, SLTP, SLTA), muncul beberapa masalah terutama bagi siswa yang tidak menguasai dialek bahasa Aceh yang dipakai pada buku tersebut. Jadi, perlu satu kesepakatan final. Dengan demikian, muncullah satu dialek Aceh yang dibakukan.
Untuk merealisasikan masalah ini perlu adanya kesadaran yang tinggi dari segenap masyarakat Aceh. Kata sepakat merupakan titik final. Dengan kata lain, rasa ‘etnis sentris’ kabupatenan harus dihilangkan, digantikan dengan rasa memiliki dan bertanggung jawab dengan bahasa daerah.
* Adanya perbedaan kemampuan guru dalam mengajar bahasa Aceh.
Hal ini memang suatu yang wajar, karena guru yang mengajar bahasa Aceh bukanlah guru yang professional. Jadi tidak pernah menempuh pendidikan secara khusus. Guru yang mengajarkan bahasa Aceh , adalah guru yang dianggap bisa berbahasa Aceh dan bisa mengajar. Pokoknya tidak soal, apakah guru IPA, IPS, Bahasa Indonesia, atau guru Agama. Fenomena ini jelas sangat berpengaruh terhadap kemampuan dan kecakapan siswa di bidang bahasa dan sastra Aceh.
Tiga masalah tersebut merupakan hal yang perlu dipikirkan dan dirumuskan cara penyelesaiannya. Satu langkah yang paling tepat, akurat adalah mengusulkan agar Prodi Bahasa dan Sastra Aceh secepatnya dibuka di Unsyiah. Lantas timbul pertanyaan: Program (sastra) apa yang harus dibuka dan siapa pula yang menjadi tenaga edukatif di Prodi baru tersebut?
Tenaga Pengajar
Melihat fenomena dan eksistensi bahasa Aceh di masyarakat saat ini, maka hal yang harus dilakukan adalah membuka Program Diploma Kepentingan Prodi Bahasa Aceh. Langkah ini akan lebih cepat dan tepat untuk mengantisipasi gejala-gejala yang tidak menguntungkan perkembangan Bahasa Aceh.
Alumninya diharapkan akan mampu menciptakan kondisi yang lebih baik dibandingkan saat ini. Hal yang paling penting dilaksanakan adalah mendidik para siswa agar trampil menggunakan bahasa Aceh, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Jadi, materi-materi yang diajarkan hendaknya lebih ditekankan pada hal yang sifatnya kebutuhan praktis.
Selanjutnya , siapa-siapakah yang bertindak sebagai tenaga edukatif di program studi tersebut? Menurut penulis ada satu cara yang mungkin dapat ditempuh untuk menjaring tenaga pengajar yang dibutuhkan.
Pertama, pihak universitas dapat melakukan pengumuman kepada khalayak. Sehingga, orang-orang yang mempunyai kemampuan di bidang bahasa dan sastra Aceh berhak mengikuti tes. Bila ia memenuhi persyaratan, berhak sebagai tenaga pengajar tidak tetap (dosen lepas).
Selain itu, sudah tentu ada beberapa tenaga pengajar Unsyiah yang mempunyai kemampuan menonjol dalam bidang bahasa dan sastra Aceh. Jika hal ini memang ada, perihal tenaga mengajar tidak menjadi masalah lagi. Jadi, tinggal menyusun kurikulum yang cocok dengan kebutuhan masyarakat.
Sampai kapanpun kita dan seluruh masyarakat Aceh, tetap mengharapkan dibukanya Program Studi Bahasa dan Sastra Aceh di Unsyiah, atau lebih bagus lagi didirikannya sebuah Fakultas Sastra. Hal ini sangat beralasan, karena kita tidak ingin ketinggalan dari provinsi-provinsi lain dan kita pun tak merelakan generasi muda Aceh semakin sulit meggunakan bahasa ibunya, baik secara lisan maupun tertulis. (ansor tambunan)

*Sumber: Serambi Indonesia, Senin, 3 Januari 1994, halaman 9(Kampus)

Iklan

Ketika delapan tahun menjadi Blogger

Ketika delapan tahun menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2017-06-18

Ayo, Menuliskan Aceh di Internet:
Judul “Ayo Menuliskan Aceh di Internet” merupakan poster pengumuman yang dipajangkan panitia seminar internet di samping barat depan Gedung AAC. Dayan Dawod Darussalam, Banda Aceh  pada bulan Juni 2009, delapan tahun yang lalu!. Sampai hari ini, saya masih menggunakan judul itu setiap saya memperingati hari keterlibatan saya dalam Dunia Blogger yang sebenarnya kurang saya pahami itu. Jadi walaupun saya sudah bergelut delapan tahun, tapi saya merasa masih dalam taraf ikut-ikutan, tidak tahu maknanya, apalagi faedah dan kerugiannya.
Ada pihak yang mengajak saya untuk memperoleh uang dari kegiatan blogger ini, tetapi banyak pula teman-teman yang melarang saya mencari uang lewat urusan blogger. Namun, yang  amat  membingungkan saya, kenapa pembaca luar negeri yang paling banyak membaca isi blog ini adalah dari negara Amerika Serikat!. Mudah-mudahan ke depan akan ada orang yang dapat dipercaya menjelaskan soal itu!.
Berikut ini saya muat cuplikan (bagian kecil)  dari sebuah kitab yang tidak utuh lagi. Siapa pengarang kitab ini hingga sekarang tidak jelas, namun menurut pengamatan saya  ia ditulis/disalin ulang oleh Tuwanku Raja Keumala, karena pada penutupnya selalu tercantum gampong Kedah, Kuta Raja. Isinya  berupa nadham dan syair-syair agama peninggalan ulama-ulama Aceh terdahulu. Sebagian dari nadham ini memang disebut pengarangnya, yaitu Teungku Chiek Di Reubee(sekarang di Kecamatan Delima, Pidie).

بسم الله الرحمن الرحيم
(ألِفْ) الله ۑن اشارة نما اسم ذات * سنن محمفون جنس أسْمَا دڠن صِفَاتْ
(Aleh) Allah nyan isyarah nama Isem Zat * sinan meuhimpon jeuneh Asma deungon Sifat
سى يڠ تيلك دڠن ذِهِن بك اسم ۑن * ۑتا توهن خَالِقُ الْعالمَ ددالم ۑن
Soe nyang tilek deungon zihen bak Isim nyan * nyata Tuhan Khaliqul ‘alam didalam nyan
(ب) اشارة بَهاَءُ لله بائك توهن * يڠ مصفة دڠن جميل كائلؤ كن
(Ba) isyarah bahaullah bayek Tuhan * nyang meusifeuet deungon Jamil keu elokan
هنا بنديڠ ڠن تلادان موتا فسَا * سكالى ٢ مها سوچى توهن يڠ اسَا
Hana bandeng ngon teuladan meita peusa * sikali kali maha suci Tuhan Nyang Asa
(ت) اشارة تَوْبَة بك الله نبك دوشا * ظاهر
باطن رجوع بك توهن كتاڽوهمبا
(Ta) Isyarat taubat bak Allah nibak deesya * lahe baten ruj’uk bak Tuhan geutanyoe hamba
تاۑسل درى يوه ڬوه تتوف فنتو توبة * ماس هيدوف كهلوم تالوب دالم جرات
Ta nyeusai droe yoh goh teutop pinto taubat * masa hudep gohlom talob dalam jeurat
(ث) ثَوَابْ بتهت هارف نبرى فهلا * أوليه توهن دوم عمل صالح تا كرجا
(Tsa) tsawab beuthat harap neubri pahla * uleh Tuhan dum ‘amal saleh ta keureuja
بى مكوريس دالم ذِهنْ فوبوة معصية
ايڠت كدوشا بك آخر ماس دودو مكريت
Bek meugureh dalam zihen peubuet maksiet * ingat keu deesya bak akhe masa dudoe meugriet
(ج) جَلَّ الله ۑن اشارة كبا سران توهن * تهت اماره سى يڠ بنته بك سورهن
(Jim) Jalallah nyan isyarah keubeusaran Tuhan * that amarah soe nyang bantah bak surohan
ايڠت ٢ جلال توهن هى بديمان * بئ فجاته نجس بك توبه معصية كتوهن
Ingat ingat jalal Tuhan he budiman * bek peujatoeh najih bak tuboeh maksiet keu Tuhan
(ح) حَليم توهن كريم كما سه نتهت * كتاڽى همبا نبرى كارنۑا فى يڠ حاجة
(Ha) Halim Tuhan karim geumaseh neu that * geutanyoe hamba neubri karonya peue nyang hajat
لوم نصبر هن نعذاب لم دنيا ۑى * يڠدرهكا تمر نشكسا فا كى دودى
Lom neu saba han neu adeup lam donya nyoe * nyang darohaka teuma neu syeksa page dudoe
(خ) خَلِيفَهْ فوتالله ڬنتى بك أومة * نبڠكيت نبى سى فتورى جالن عبادة
(Kha) Khalifah Poteu Allah gantoe bak umat * neu bangket Nabi soe peuturi jalan ibadat
نابئ سيست دوم كتاۑى أومة دومنا * نكبه ڬنتى نبي دودى شيخ علماء
Nabek sisat dum geutanyoe umat dumna * neukeubah gantoe Nabi syiah ulama
(د) دنياۑى سيكرا هيلڠ بئ تهت عجب * هن تريب لَما دوق لم دنيا فيوه سكجف
(Dai) Donya nyoe sigra hilang bek that ‘ajab * hantreb lama duek lam donya piyoh sikeujab
يڠ كتنتوت بك كتاڽى ميتا بكل * مسَا جنى بئ جد دودى تمر مۑسل
Nyang geutuntut bak geutanyoe mita beukai * masa jinoe bek jeuet dudoe tameu nyeusai
(ذ) ذَلِيلْ بتا كتهوى درى تهينا * مولا فهون جادى نبك ائر هاۑى توهن فينا
(Zai) Zalil beuta keutahwi droe teuhina * mula phon jadi nibak ie hanyi Tuhan peuna

( ١١ )
ايڠت فوليم بئ وهم درى لبه كتا * نبك يڠلائن تاسيديك فانى أصل مولا
Ingat Polem bek waham droe leubeh gata * nibak nyang laen tasidek pane asai mula
( ر ) رِضْوَانُ كرضأن بن يڠ قضا * نبك توهن كسو كأن داتڠ بَلاَ
(Ra) Ridhwan keu ridhaan ban nyang qadla * nibak Tuhan keu sukaan datang bala
بئنا سوسه بتا تهو درى لم قَبْضَهُ * فرنته توهن هنا جالن تامُخَا لَفَهْ
Bekna susah beuta thee droe lam qabdlahu * peurintah Tuhan hana jalan ta mukhalafahu
( ز ) زَكيهْ ين اشاره درى بسوجى * نبك صفة دوم يڠ جهت ٢ يڠ كبنچى
(Zoe) Zakiah nyan isyarah droe beusuci * nibak sifeuet dum nyang jeuheuet nyang geubanci
مثل عجب سمعه رياء دڠكى كوعه * ظاهر باطن كأدم بيك تابڠيه
Miseue ‘ujob sumeu’ah riya deungki ku’eh * lahe baten keu Adam bek tabeungeh
( س ) سلامة دومنا أومة بسجهترا * دنيا أخرة توهن برى رحمة مكندا ٢
(Sin) Seulamat dumna umat beusijahtra * donya akhirat Tuhan bri rahmat meuganda-ganda
توهن كرنيا فڠكت لبه سبب مليا * نبى محمد نفجد أومة أورڠ مبهڬيا
Tuhan karonya pangkat leubeh sabab mulia * Nabi Muhammad neu peujeuet umat ureueng meubahgia
( ش ) تاشُكُرْ دوم كتابى كفوت الله * كرنيا لا تهت نبك حضرة كهمبا الله
(Syen) Tasyuko dum geutanyoe keu Potallah * karonya lethat nibak Hadlarat keu hamba Allah
نفجد ڬتاۑى نبك عدم مَحَضُ ديلوتن * نبرى معرفة جالن كنل ذات توهن رحمن
Neu peujeuet geutanyoe nibak ‘adam mahadlu dilee tan * neubri makrifat jalan keunal Zat Tuhan Rahman
( ص ) تاصبر دوم كتاۑى نبك بَلَا * نامڠ سمفى كدوم كتاۑى بسر فهلا
(Shad) Tasaba dum geutanyoe nibak bala * nameung sampoe keudum geutanyoe besar pahla
ايڠت كدرى دوم كتاۑى مِلِك الله * فاتوت نحكم بن يڠ كهنداق نفرنته
Ingat keudroe dum geutanyoe milek Allah * patot neu hukom ban nyang kheundak neu peurintah
( ض ) ضَلَالَةُ نفا سيست أوله توهن * كبار ڠسى يڠ نكهنداق كهينأن
(Dlat) Dlalalah neu peusisat uleh Tuhan * Keu beurangsoe nyang neu kheundak keuhinaan
ۑن علامة كظاهران صفة جلال * ايمان ڠن طاعت ۑن علامة صفة جمال
Nyan alamat keulaheran sifeuet jalal * Iman ngon thaat nyan alamat sifeuet jamal
( ط ) اشارة أوبك طَاعَةْ تندا بهڬيا * كفر معصية ۑن علامة تندا چلا كا
(Tha) isyarat ubak Thaat tanda bahgia * kupho maksiet nyan alamat tanda ceulaka
بتا ايڠت دوا علامة هى بديمان * ايكوت لى كتا تندا بهڬيا فو بوة سورهن
Beuta ingat dua alamat he budiman * ikotle gata tanda bahgia peubuet surohan
( ظ ) اشارة أوبك ظالم بئ إِنْنَاىَ * كبار ڠسى لم دنيا ڽي نبك همبا
(Zha) isyarat ubak Zalem bek enanya * keu beurangsoe lam donya nyoe nibak hamba
تا كوة ڬأمبل أورى فا كى عمل ڬتا * كبرى كقصاص كجوك بالس فوارتا
Takot geuambil uroe page ‘amal gata * geubri keu Qishas geucok balaih Po areuta
( ع ) علمو مَعْرِفَة الله تفا تنتو * يڠ هن رامبڠ جك فسنڠ أوبك ڬورو
(‘In) Eleumei Makrifatullah tapeu teuntee * nyang han reumbang jak peuseunang ubak guree
يڠ موافقة أهل السنة ۑن تاا يكوة * يڠ بِدْعَةُ ڠن ضلالة بواڠ أو ليكوة
Nyang mupakat Ahli Sunnah nyan taikot * nyang bideu’ah ngon dlalalah buwang ulikot
( غ ) غَنِى توهنكو ربي كيا لمفه * نبرى كَرَنُيَا دوم كهمبا تهت بَحْرُ الله
(Ghen) Ghani Tuhanku Rabbi kaya limpah * neubri karonya dum keuhamba that bahrullah
دوم كتاڽي لالى كدرى هن تاايڠت * كنعمة توهن مابوق مومڠ دڠن معصية
Dum geutanyoe lale keudroe han taingat * keu niekmat Tuhan mabok mumang deungon maksiet
( ف ) فنا دوم سكلين ها بس بنسا * توڠ عبارة بئلى لذة مالم أورى
(Fa) Fana dum seukalian habeh binasa * tueng ‘ibarat bekle ladat malam uroe

( ١٢ )
ايعت ٢ تكاموات هنا مجن * فيله عمل يڠ جتتْ كبكل تباسا جن
Ingat ingat teuka mawot hana meujan * pileh ‘amai nyang jeuet keu beukai taba sajan
( ق ) قُرْبَه بك فوت الله فهمفر درى * فوبوة طاعة هاتى لذة مالم أورى
(Kaih) Qurbah bagi Potallah peuhampe droe * peubuet thaat hate ladat malam uroe
ۑن كبكل يڠ هن تڠڬل ڬتا هن چرى * نيفهون لم قبور هڠڬا تلالو سمفى بك تيتى
Nyankeu beukai nyan han tinggai gata han cre * niphon lam kubu hingga talalu sampe bak titi
( ك ) كلمه ذ كر الله بئتا لوفا * ۑن تاسبت ايڠت معبود توهن اسَا
(Keueh) Kalimah zikerullah bekna lupa * nyan taseubut ingat makbud Tuhan Asa
هڠڬا مجمفور سبوة كلمه اسَىْ ڠن داره * تفو مسرا ايلير اير متا فنوه لمفه
Hingga meujampu seubut kalimah asoe ngon darah * tapeu meusra ile ie mata peunoh limpah
( ل ) اشارة لِقاء الله فكرى حيلة * دوم كتابى عُه متمڠ ڠن فوت الله
(Lam) Isyarat liqa Allah pakri ilah * dum geutanyoe ‘oh meuteumeung ngon Po Tallah
دوشا لاتهت تكرجا أورى مالم * توهن نحكم دڠن شرع كن ڠن رسم
Deesya lethat takeureuja uroe malam * Tuhan neu hukom deungon Syar’ak kon ngon reusam
( م ) اشارة أوبك مِنَة نعمة توهن * هنئك هڠڬا نعمة متا لائن سكلين
(Mim) Isyarat ubak minat niekmat Tuhan * han ek hingga niekmat mata laen seukalian
هنا دافت جى مقابله أوليه برڠسى * اكن نعمة فرى جى قيمة شكر بك درى
Hana dapat ji meungbalah uleh beurangsoe * akan niekmat proe ji kimat syuko bak droe
( ن ) نِيَه بك شربعة تبڠسا دري * فڠهولو نبى يڠ مولا برى شفاعة دودي
(Nun) Niet bak syari’at tabangsa droe * panghulee Nabi nyang mula bri syafa’at dudoe
دوم أنبياء نكهن دمحشر نفسى ٢ * نبى ڬتابى يڠ كهن دودى َأُمَّتى ٢
Dum Ambiya neukheun di Mahsya nafsi-nafsi * Nabi geutanyoe nyang kheun dudoe ummati-ummati
( و ) وَلَهان سايڠ انسان دالم لالى * أورى مالم عمر كارم دالم روڬو
(Wee) Walahan ayang insan dalam laloe * uroe malam umu karam dalam rugoe
عه كبڠكيت متاجى اليت تندوق أولو * مى مريب٢ ساڠت غريب هنڬج لا ڬو
‘Oh geubangket mata ji ilet tunduk ulee * moe meureb-reb sangat ghareb han got lagee
(ه) هِدَايَه نبك الله فنجوك جالن * كبارڠسى يڠ نكهنداق برى مأيمان
(Ha) Hidayah nibak Allah peutunyok jalan * keu beurangsoe nyang neu kheundak bri meu-Iman
دڠن حكمة نبري هداية أوليه توهن * نكهنداق فظاهر صفة جَمَلُ كائلؤ كن
Deungon Hikeumat neubri Hidayah uleh Tuhan * Neu kheundak peulahe sifeuet Jamal keuelokan
( لاء ) لَاإلهَ إلا اللهُ أمبل كتولن * ين فليت يڠتراڠ چهيا فڠس جالن
(Lam Aleh) Lailaha illallah ambil keu Tuhan * nyang peulita nyang trang cahya peungeuh jalan
فري تأمبل ۑن كتولن أوله ڬتا * داس تكالن جالن لم كلم ڬلب ڬليتا
Proe taambil nyang keu taulan uleh gata * deueh takalon jalan lam klam glap gulita
( ى ) يا الله ياتوهنكو نفلهرا * دنيا أخرة نبري سلامة كامو دومنا
(Ya) Ya Allah Ya Tuhanku neu peulahra * donya akhirat neubri seulamat kamoe dumna
بركة شفاعة نبي محمد سيد ا لانام * كامى سمفى دالم نڠڬرى دار السلام
Bereukat syafaat Nabi Muhammad Saiyidil Anam * kamoe sampe dalam nanggroe Darussalam
( چ ) چابة دري نبك دوشا سكلين * بئ مۑسل أورى دودى نبك توهن
(Ca) Jayeh droe  nibak deesya seukaliyan * bek meunyeusai Uroe Dudoe nibak Tuhan
نفو فنوه كفل عمل دوم بسَارات * سمتران كهلوم داتڠ اڠن بارات
Neu peupunoh kapai ‘amai dum beusarat * seumeutaran gohlom datang angen barat
( د ) دڬاڠن بكل سفر دوم فحاصل * تفا سيكرا ديلو بك بوڠكا كوه كفڠڬل
(Dai) dagangan beukai safa dum peuhase * tapeu sigra dilee bak bungka goh geupangge

( ١٣ )
هِمَّه بتهت فتكوه الت فرلَا يران * اڠن باراة رايا باكة عه جن طوفن
Himmah beuthat peuteugoh alat peulayaran * angen barat raya bakat ‘ohjan topan
( ڠ ) ڠاف اڠكو هَنْدَى تولن هنا ڬنده
عمل هنا دوق لم دنيا هن تامينه
(Nga) Ngpa engkau handai taulan hana gundah * ‘amal hana duek lam donya han taminah
فدوم ٢ توبه سملا كو جروه تهت انده * دالم بومى دوم كفاسى سنن ڬا كبه
Padum2 tuboeh samlakoe jroh that indah * dalam bumoe gum geupasoe sinan geukeubah
( ڤ ) فدوم اڠكو ذات تو بهم سكا لين * هادف متا هاتى كتا بك ذات تو هن
(Pa) Padum engkau zat tubuhmu seukalian * hadap mata hate gata bak Zat Allah
مثل كتيكا داتڠ لۑف توبه كمبالى * أوبك أصل عَدَمُ مَحَضُ ديلو جادى
Miseue keutika datang leunyap tuboeh keumbali *ubak asai ‘adam mahadlu dilee jadi
( ڬ ) ڬالَلَهُ كتا فايه همفون ارتا * تن فائده عهكا سده هيلڠ ۑاوا
(Ga) Geu Allah gata payah himpon areuta * tan paidah ‘ohka sudah hilang nyawa
چيت فنجڠ اڠن ٢ أورى مالم * مقصود تن حاصل أوري فا كى دالم جهنم
Cita panyang angan2 uroe malam * makeusud tan hase uroe page lam Jahannam
( ث )ۑتا الله توهن يڠ اساواجب الوجود * لم فنداڠن أورڠ عَارِفْ امفوث شهود
(Nya) Nyata Allah Tuhan Nyang Asa wajibul wujud * lam pandangan ureueng ‘Areh empunya syuhud
ۑن كتوهن قَدِيمْ سودِيَ سدرى مَعْبُوْد * هنا لائن سبا ڬيڽ يڠ مَقْصُودْ
Nyankeu Tuhan qadim saudi sidroe makbud * hana laen sibagoenya nyang maksud
معنى اشارة رَمُوزْ حرف عهنى تمام * يڠ مناسبة بك عبارة أورڠ عوَامْ
Makna Isyarat rumuz harah ‘ohnoe tamam * nyang meunasabat bak ‘ibarat ureueng ‘awam
بك أورڠ عارف لاتهت لافس معنى دالم * علمو وَهْبى فهم فى زا كى عقل تاجم

Bak ureueng ‘Areh lethat lapeh makna dalam * “Eleumei Wahbi pham pi zaki akai tajam
ممدا دومنى بك كتاڽى سابه ماجم * جد بهڬيا سى يڠ بچا معنا جى فهم
Meumada dumnoe bak geutanyoe saboh macam * jeuet bahgiya soe nyang baca makna jipham
جتوڠ عبارة بن كسبوة دالم نَظَمْ * رُمُورْ حرف هن جى أوبه جى فكارام
Jitueng ‘ibarat nyan geuseubut dalam Nadham * Rumuz harah han jiubah ji peukaram
الحمد الله كاكسده نظم تمام * تمر صلوة اتس نبى سَيِدُ اُلْأَ نَامَ
Alhamdulillah kakeu sudah Nadham tamam * teuma seulaweuet ateueh Nabi Saiyidul Anam
وصل الله على سيِدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Washallallahu ‘ala Saiyidina Muhammad * Wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam
( تمت فدا ٢٣ رجب الفرد ١٣٤٤ كوتاراجا آچيه )
{Tamat pada 23 Rajab alfard 1344 Kuta Raja-Aceh)

Setahun lalu, kitab ini pernah saya bayangkan selesai saya salin dalam bulan Puwasa tahun itu. Namun, akibat cobaan berat yang saya alami dalam setahun penuh ini –mulai Ramadhan 1437 s/d Ramadhan 1438 H – di samping tugas-tugas kampus yang semakin padat, mendetil dan rapi, maka kerja menyalin dan alih aksara kitab ini menjadi terbengkalai. Padahal, kitab yang belum diketahui judul ini, mau saya terbitkan sempena Peringatan 33 tahun musibah di Kalasan-Yogyakarta pada 25 Ramadhan 1405 H yang lalu.

Kepada kaum muslimin dan muslimat yang sedang berpuasa, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga amal ibadah kita diridhai Allah SWT.

Bale Tambeh, 18 Juni 2017/23 Ramadhan 1438 H/23 Puwasa 1438

Pemilik Blog Bek Tuwo Budaya: T.A. Sakti

.

Ada Dugaan Kuat Gadjah Mada Dimakamkan di Lampung Barat

Ada Dugaan Kuat Gadjah Mada
Dimakamkan di Lampung Barat

Serambi Bandar Lampung
Berdasarkan penelusuran sejarah dari berbagai sumber dengan dukungan bukti – bukti benda peninggalan maupun legenda dalam masyarakat, ada dugaan kuat bahwa Maha Patih Gadjah Mada memang dimakamkan di Pugung Tampak, Lampung Barat.
Ahli sejarah Universitas Lampung, Dr Husin Sayuti mengatakan di Bandar lampung, baru – baru ini, beberapa hipotesis yang secara otomatis akan menumbangkan hipotesis yang selama ini ada, menyebutkan bahwa menurut kitab Negarakertagama selesai disusun.
Pernyataan itulah kata Husin Sayuti, membuat para ahli sejarah yakin bahwa Gadjah Mada telah wafat dengan tenang, tetapi di mana dimakamkan tidak dijelaskan dan tidak ada satu tempat pun di Jawa menunjukkan Gadjah Mada diperabukan.
Husin Sayuti yang juga Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Lampung menegaskan bahwa hipotesis yang selama ini mendasarkan pada Kitab Negarakertama makin meragukan.
Alasannya, katanya, karena reputasi Mpu Prapanca dikenal dekat dengan Gadjah Mada tetapi kurang disukai Raja Hhyam Wuruk. Selain itu Prapanca baru kembali dari pembuangan sehingga ada dugaan ia mengatakan Gadjah Mada telah meninggal untuk menjaga stabilitas Kerajaan Majapahit sekaligus mencoba membuat raja senang.
Karena itu untuk melakukan analisis harus berdasarkan hipotesis baru bahwa pada tahun 1364 Patih Gadjah Mada belum wafat tetapi menghindar pergi dari Majapahit, jelas Husin Sayuti.
Setelah pergi dari Majapahit, kemungkinan besar lari ke Sumatra, tidak ke Sulawesi atau Lombok yang dikabarkn memiliki peninggalannya, tetapi sulit dibuktikan.
Sedangkan kepergian ke Sumatera punya alasan kuat, karena Gadjah Mada mempunyai sahabat Adityawarman yang pada saat itu berada di Sumatera dan menjadi raja di Pagaruyung, ujar Husin Sayuti.

Sungai Musi
Gadjah Mada, urai Husin Sayuti, menuju ke Sumatera melalui Selat Bangka ke Sumatera Selatan, kemudian menyusuri Sungai Musi, masuk ke Sungai Ogan dan ke Sungai Kelekar . kemudian kembali lagi keluar Sungai Ogan, masuk ke Sungai Musi. Dari Musi kemungkinan besar menuju Sungai Komering karena pada saat itu sudah banyak penduduk Lampung yang pindah ke Sumatera Selatan.
Akhirnya ia memperoleh tempat yang aman di Pugung Tampak, Lampung Barat dan dimakamkan di sana. “tapi dugaan itu masih perlu dibuktikan dengan berbagai penelusuran, karena memang tidak ada bukti Gadjah Mada wafat di Majapahit, melainkan raib ke luar Jawa dan seterusnya Sumatera, “tegasnya.
Sebelumnya, antara yang sempat ikut menelusuri kebenaran makam Gadjah Mada di Lampung Barat memperoleh temuan legenda turun temurun mengenai riwayat perjalanan Gadjah Mada beserta isteri, anak dan menantunya yang akhirnya singgah dan dimakamkan di makam Kesugehan, Desa Pugung Tampak, Kec. Pesisir Utara, Lampung Barat.
Keluarga yang mengaku pewaris turun temurun peninggalan barang milik Gadjah Mada, sekaligus yang mengurus makam Kesugehan juga menunjukkan beberapa barang yang masih disimpan yaitu meriam sundut (pistol), topi alas mahkota, tempat rokok piring makan, dan talam/ nampan yang dipercaya milik Gadjah Mada.
Mereka juga menyebutkan berbagai barang lain yang masih disimpan maupun yang tersebar di beberapa tempat dan diidentifikasi sebagai benda peninggalan yang dibawa Gadjah Mada beserta anak isterinya. (ant)

 

*Sumber: Serambi Indonesia, Jum’at,  2 oktober 1992 halaman 6.

Haji Jameun Dilee = Naik Haji Tempo Dulu

HAJI JAMEUN DILEE

Lailaha Illallah, beumeutuwah ureueng tuha
Neubri peurangoe got seureuloe, ureung nanggroe jigaseh na

Bahkeu ‘ohnan dihaba nyan, meuwoe karangan bak Nyak Muda
Sinyak Muda ileumei saleh, lagi leubeh zahed wara’a
Keu Potallah that bakeuti, jakeuet jibri jan toek kira
Ji puwasa ngon seumayang, hantom lapang toek kutika

Rukon limong nyang goh Haji, laen sare cit dumpeue ka
Mita beulanja lhee peuet reutoih, sare kukoh keumeung bungka
Peuhase breueh deungon sagee, lom ngon rujee kanot tima
Peuhase guci tareh taloe, tareh peutoe deungon sara (sira? )

Sare hase dumka leungkap. Kapai ‘Arab pih toek teuka
Teuma lheueh nyan peudieng dabeueh, angen linteueh laju bungka
‘Ohsare toek leupah Silan, upah sinan ladom bak na
Hingga ‘ohtroih nanggroe Makkah, bayeue upah habeh dumna

‘Ohtroih Miqat sinan Ihram, tamong u dalam Makkah muliya
Thawaf Sa’i Wukuf ‘Arafah, srom Jamarah lhee sibanja
Sare cukop Haji ‘Ummeurah, u Madinah lanja bungka
Geujak ziarah Kubah Nabi,buettan Haji ka samporeuna

Ladom hana jak Madinah, jiwoe pantah miet beulanja
Soetan ziarah Kubah Nabi, jiek Haji han samporeuna
Sang pajoh bu tan pajoh eungkot, adat ek ta’uet hana meurasa
‘Ohsare lheueh dum meuwoe-woe, u nanggroe droe ayah bunda

Ladom han woe dong di Makkah, ileumei Allah geukeumeung mita
Sinan geudong meununtut sabe, hingga mate nanggroe mulia
Soe nyang mate nanggroe Makkah, page dijih cit seuntausa
Ladom sunggoh bak geubeuet-beuet, nyang ladom jeuet keu ‘Ulama

‘Ohsare woe geuseumubeuet, ban kada jeuet keu Peutuwa
Ladom jiwoe ‘ohlheueh Haji, jidong sabe tan beulanja
Ladom beuthat nacit nyang woe, jijak meubloe dabeueh pina
Bloe Kupiah bloe ruja Syam, bloe Ie Zamzam boh Kureuma

Bloe ngon kasab ngon ija jroh, sare peunoh peutoe sara
Troih Kuala jicok wase, lam-lam gule dum jimita
Cok keureutah puweh sugoe, buka peutoe bileueng ija
Hanjeuet tasom taleung padok, habeh jicok lam siplohsa

Troih u darat toek geujak tueng, maseng bulueng dum saudara
‘Ohsare troih woe u rumoh, ureueng peunoh dum jak sapa
Assalamu’alaikom Teungku Haji, saleuem gobbri seuot sigra
Ri nyang teuka rakan kawom, jok saboh kom boh kureuma

Ureung gampong dum jak meujrom, bri Ie Zamzam ngon kureuma
‘Oh le teuka geutakot hansep, ie lam gupet jampu sigra
Ladom gebri kupiah puteh, nyang that neu gaseh bri ngon ija
Meunan-meunan ban nyang layak, keu ureueng jak dum mulia

Sok ngon bajee lhee peuet lapeh, jroh that meuceh nibak nyang na
Peuudep janggot nyang tan dilee, sok ngon bajee syureuban raya
Watee neujak meuhayat-hayot, rakan dilikot lhee peuet neuba
Ho nyang neujak gob mumat jaroe, Teungku ban woe Tanoh Mulia

Teum a ‘ohtreb jeuet keu bateue, hansoe tupeue Haji teuka
Bajee pitan syeuruban hanle, Teungku Haji hanale tanda
Ladom sulet ban Baduwi, Teungku Haji sit nan saja
Droe nyan leubeh bak pancuri, taki-maki le bicara

Hanjeuet harap sagai-sagai, peue gob tinggai dum neuhila
Dumnan pangkai neu kahabeh, Datok paleh tan bicara
Nyankeu Haji Syitan tipee, asai dilee niet han beuna
Nyankeu Haji jen peuratee, ka jitipee mangat binasa

Jak Haji kon kareuna Allah, buet phon leumah jen peudaya
Jak Haji kon seubab Syara’, sabab gob jak malee mata
Sabab ka le rame gob jak, jih pih galak keumeung bungka
Kadang rakan jihka leupah, yohnyan gagah jimeung bungka

Han jeuet dongle dalam nanggroe, lam teugoe-goe dalam dada
Digob leupah nyang adoe-adoe, nyum uroe nyoe bak jibungka
Jeuet ceumuru gobka geujak, lon han kujak sang-sang hina
Sira meu’en kalon nanggroe, lheueh nyan lon woe Haji pika

Yohnyan harok hanjeuet tinggai, mita pangkai dum beulanja
Adat tan pangkai mita ilah, asai leupah jih jibungka
Mung goh Haji kupiah haji, dum geutukri nanggroe mulia
Meungnyo meunan han sakon jeuet, syaitan peungeut asai nama

Ta eu jakeuet hantom jiboeh, jikheun han troih meugoe hana
Pade jeueb thon meureutoih-reutoih, hancit jiboeh jakeuet areuta
Sabab tan meugah ureueng boeh jakeuet, di Haji jeuet bako mulia
Areuta habeh mulia tan, ngon sabab nyan mit soe geuma(r )

Umong jih le nyang gob meugoe, bijeh keudroe si usaha
Dijih umong jikheun bungkai, han sagai bijeh bak jih na
Meungtan jibri bijeh pade, jakeuet sabe bak jih hana
Sabab jakeuet ji seutot bijeh, kawoi saheh meunan haba

Teutapi zakeuet meuseutot bijeh, bekna daleh ngon ilah gata
Tatem ilah nibak lahe, han tapike keu le pahla
Meuseuki Hukom meunan bit-bit, bek ta isib walee beuna
Bijeh tabri nameung ek toek, beuthat harok keu le pahla

Nibak jakeuet tailah bek bri, teuma di Haji tailah bak na
Nyan Haji kon kareuna Tuhan, mita got nan ngon mulia
Haji galak ke zakeuet han, jih dua ban sisyaudara
Nyan alamat jen peuratee, ji tipee mangat binasa

Meungnyo tailah nibak lahe, dumkri hase tabicara
Ngon Potallah bekta meuhom, ‘ohneu hukom di Blang Masya
Diseumayang pihna ilah, rot bek payah takeureuja
Kareuna seumayang jeueb-jeueb watee, bak ureueng seudee wajeb hana

Tapeulahe droeteu pungo, hansoe hiro seumayang gata
Teuma puasa pina ilah, ureueng leumoh wajeb hana
Tapeulahe droeteu saket, lom pih ciret ‘oh lhok mata
Teuma jakeuet pihna ilah, meungtan bijeh wajeb hana

Tapeulahe bek bri bijeh, ta ilah bek rugoe atra
Meungnyo bit han ek tabri bijeh, sabab ringkeh tan sapeue na
Meungnyo meunan nyankon ilah, bak Potallah han meureuka
Meungkon meunan peue tapeugah, mita ilah lheueh bak donya

Ngon Potallah bah tapeuhom, nyankeu kawom biek meureuka
Eu bak umong le meuriti, bijeh pade patot hana
Miseue leumo ka ek tabloe, patot taloe han ek tapeuna
Nyankeu ilah rot bek rugoe, ta peulheueh droe meung bak donya

Nyan muektamat kawoi nyang sah, kon ngon ilah ta peubeuna (r )
Di Haji jeuet cit tailah, wajeb dijih nyang kuasa
Tuboh teuga areuta pih le, kandran Jalo upah pihna
Meunan syarat wajeb Haji, tapeulahe tan kuasa

Takheun leumoh beulanja tan, lon jak ‘ohnan saket lam pha
Troih u laot muntah ak-uek, takheun mabok hana reuda
Hukom Haji soe nyang meunan, wajeb jihan meungkon teuga
Nyankeu Tuhan tan tapeubrat, nyang jeuet takarat sabab mulia

Nyankeu Haji hana tailah, sabab meugah lom got nama
Nyankeu Haji jen peuratee, asai dilee niet han beuna (r )
Nyankeu Haji iblih yue jak, keujih layak hana pahla
Pangkai habeh haji han sah, page balaih lam Nuraka

Lailaha illallah, Haji nyang sah beuta geuma (r )
Soe ek Haji niet ikheulah, kareuna Allah kon keu Donya
Haji neutueng dijih meuhat, di akhirat jeuet keu Raja
Bahkeu dumnan dihaba nyoe, karangan meuwoe bak Nyak Muda

(Cuplikan jiled 2 Nazam Akhbaron Na’im karangan Tgk DI Cucum halaman 24 – 28. Teungku Di Tucum alias Syekh Abdussamad alias Teungku Do alias Teungku Muda lahe di Mukim Lam Rabo, gampong Tucum, sinan maklum rumoh tangga. Kitab Akhbarul Na’im lheueh neu karang, 26 Muharram 1274 H )

*Bale Tambeh, 12 Haji 1437/ 12 Zul Hijjah 1437 H/13 – 14 September 2016 M, pkl 0955 wib.

-Gara-gara han teungeut wab seuuem-ngon dang-dang preh woe aneuk agam phon, beudoh darot poh 11 malam jak salen kitab nyoe sampe poh 12.15 trok bak bareh: “Sabab jakeuet ji seutot bijeh, kawoi saheh meunan haba”, baris-baris selanjutnya disalin di pagi besoknya. (T.A. Sakti ).

– Nadham ini pernah disenandungkan oleh Medya Hus pada acara “Cae Bak Jambo” ACEHTV Banda Aceh.

Sempena Menyambut Reuni Alumni Jurusan Sejarah FIB UGM di UGM Yogyakarta Hari Ini, Sabtu, 18 Maret 2017: Menulis di Koran ’Gampang Sulit’ Perlu Jalin Hubungan dengan Redaktur ?

Menulis di Koran ’Gampang Sulit’
Perlu Jalin Hubungan dengan Redaktur ?

Yang harus anda perhatikan apakah anda mengirim naskah untuk dimuat di koran? Demikian pertanyaan yang kerap diajukan orang, khususnya bagi mereka yang masih pemula. Yang sekali nulis, berkali-kali nulis tetap nol, alias blong tidak dimuat.
Memang tanpaknya mudah berkarya tulis, dibaca ulang., bangga, masukan amplop, beri perangko dan sekedar surat pengantar lalu dikirim ke meja redaksi. Tiap waktu terbit koran itu tentu dijenguknya. Baru saja seminggu sudah dijenguk dan diamati : apa sudah dimuat?
Inilah anggapan para pemula yang berangan-angan bahwa begitu kirim begitu dimuat. Seolah-olah gampang, tetapi tidak segampang anggapan itu, perlu ada syarat-syarat yang harus diperhatikan dan diamati sedini mungkin.
Jangan anggap mereka yang telah berhasil itu tidak dengan perjuangan yang gigih.
Dalam hal ini saya memberanikan diri memberikan sekedar ancer-ancer langkah apa yang perlu diperhatikan bila anda akan memulai mengirimkan suatu tulisan ke suatu media pers.
Benarkah anda ada minat atau ada rasa yang betul-betul akan menjadi penulis? Menjadi wartawan? Sebab bila anda hanya ikut-ikutan saja, bisa patah semangat di tengah jalan.
Sebelum anda mengirim naskah harus diteliti lebih dahulu, bagaimana dan ciri khas surat kabar itu. Pengamatan tidak sekedar satu dua kali, bisa berkali-kali. Bagaimana nafas koran itu. Kemudian anda harus bisa menyesuaikan dengan sikap dan misi koran. Baik bahasa, lagak lagu dan thema apa yang dimaui. Bila benar-benar sudah tau ………. Cobalah kirim, bisa berkali-kali. Dan jangan anda harap segera muncul …… sabar saja.
Jalin Hubungan :
Selain itu menjalin hubungan dengan redaktur memang perlu untuk memperlicin jalan pemuatan. Sebab dengan kenal salah satu staf redaksi misalnya, naskah anda lebih banyak peluang pemuatan. Kemungkinan ada satu langkah lebih diperlonggar syaratnya. Sedikit mendapat prioritaslah.
Tetapi kesempatan baik ini jangan anda sia-siakan bisa mati kutu. Sebab anda sudah mengandalkan sudah kenal, lalu cara anda menulis naskah tidak memenuhi syarat, tentu saja masuk kotak sampah.
Pengenalan lain, tidak kenal orangnya, tetapi kenal tulisannya. Apa itu?
Dengan rajin anda mengirim naskah. Sesuai dengan orientasi mas media itu. Nah pengiriman yang rajin dan sesuai misi koran tertu sudah merupakan jalinan hubungan yang baik. Kepercayaan redaksi itu jangan anda abaikan. Setelah dipercaya tetapi anda mengirim naskah yang sama dikirim ke yang lain media, hal ini bisa menutup jalan buat anda. Bisa black list?
Pengenalan dan jalinan hubungan memang perlu bagi mereka yang ingin terjun ke dalam bidang tulis-menulis di surat kabar. Tetapi jangan membanggakan diri. Sebab keburu bangga merupakan awal kejatuhan. Baik buruk suatu naskah, orang lainlah yang menilai. Bukan diri sendiri.

Cara Menulis :
Cara menulis suatu juga punya syarat tertentu, agar bisa menarik redaksi untuk memeriksanya. Memperhatikan format, spasi dan kertas, bersama polio dan cara penyusunan. Buatlah secara baik, spasi dobel (dua spasi) beri tepi kanan yang longgar, tepi kiri juga ( 4 cm dan 2 cm), tidak bertele-tele.
Dengan teratur baik, diketik rapi, susunan bahasa betul, nah hal ini sudah membikin redaksi terpikat.
Juga bila anda mengutip dari bahan lain, sebutkan sumber bahan itu jelas dan anda akan mendapatkan penilaian yang positif. Jika anda menciplak tanpa menyebutkan sumbernya, bisa mati kutu. Jalan yang sudah anda bina itu bisa tertutup untuk selama-lamanya. Cuma gara-gara sekali ketahuan menjiplak.
Selanjutnya jangan mementingkn materi dahulu! Sering pemula itu belum-belum sudah bertanya: berapa honornya Om Daktur bila naskah saya dimuat? Nah ini harus dihindari betul. Yang penting anda itu mendapatkan perhatian. ( Warjiyanto Panca Wasana).

(Sumber: Minggu Pagi No.2 Tgl 15 April 1984 tahun ke 37, hal : 3. Harian ‘Kedaulatan Rakyat’ Yogyakarta adalah induk dari “Minggu Pagi” yang khusus terbit pada hari Minggu).

Sempena Menyambut Reuni Alumni Jurusan Sejarah FIB UGM di Yogyakarta Hari Ini, Sabtu, 18 Maret 2017: Terjadi Eksploitasi Pengetahuan Tradisional

Terjadi Eksploitasi
Pengetahuan Tradisional
JAKARTA¬¬¬¬¬¬——’’Apa yang dicari oleh orang rambut merah dan badan besar tinggi, datang kepada kami. Bertanya ini itu lalu mengambil contoh-contoh banyak tanaman dari kebun dan hutan kami. Mau dibawa kemana semua itu?”
Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang ibu yang berasal dari Suku Dayak Pasir kepada Koesnadi Wirasa Poetra, aktivis lingkungan hidup dan juga sukarelawan pada Yayasan Padi Indonesia di Kalimantan Timur. Pertanyaan yang sama sangat mungkin juga terjadi di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Koesnadi yang aktif melakukan riset parsisipatoris, monitoring dan uji coba sumber daya genetika tanaman lokal bersama petani Kaltim ini, sering kali menemui kasus-kasus yang membuat masyarakat adat bertanya-tanya. Begitu banyak orang asing – dari dalam dan luar negeri – yang datang ke tanah adat mereka, menginventarisir, meneliti, dan membawa sampel-sampel tanaman adat mereka.
Lalu apa yang didapatkan masyarakat adat setelah tanah mereka didatangi dan tanaman mereka diambil? Setelah ’’orang asing” itu membawa ilmu – ilmu mereka yang telah turun – temurun sejak ribuan bahkan ratusan tahun lalu? Pernahkah mereka mendapatkan hak mereka terhadap akses sumber daya dari pengetahuan yang secara sah diakui? Bagaimana dengan hak intelektual mereka sebagai masyarakat adat?
Masalah tersebut menjadi salah satu topik menarik yang dibicarakan dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara 1999 yang diselenggarakan 15-22 Maret di Jakarta. Kongres yang pertama kali diadakan ini tidak hanya menggunakan hak intelektual masyarakat adat, tapi juga membicarakan berbagai masalah yang berkaitan dengan masyarakat adat.
Masalah itu dapat dilihat dari satu kasus perjalanan Muller (ahli medis asal Belanda tahun 1894 dari Kalbar ke Kaltim) yang dikenang melalui konverensi Borneo Research Council (BRC). ’’Dimana reuni para peneliti dalam dan luar negeri yang pernah meneliti di Borneo, berkumpul dan mempresentasikan hasil-hasil penelitiannnya kepada anggota partisipan lalu rekomendasi dikeluarkan,” ungkap Koesnadi.
Tapi lagi-lagi nasib masyarakat asli tidak memiliki akses sumber daya dan pengetahuan yang secara sah diakui. Demikian juga saat tim industry obat Prancis melakukan ekplorasi obat di Suku Dayak Benuaq pedalaman Sungai Mahakam tahun 1994 setelah di BRC di Pontianak. Suku Dayak Benuaq dikenal dengan ramuan obat kanker yang dikenal turun – temurun.
Menurut Koesnadi sekitar tahun 1992 sampai 1997 banyak penelitian dilakukan di Kaltim. ’’Tapi tidak banyak yang mengembalikan sumber daya informasi hasil – hasil penelitian tersebut kepada masyarakat asli sebagai pemilik pengetahuan oleh lembaga penelitian atau oleh perguruan tinggi,” jelasnya.
Menanggapi hal itu Dr Latifah Kadarusman Lektor Kepala pada Jurusan Kimia FMIPA – IPB dan Biofarma IPB, menyatakan masalah tersebut dilihat secara global. ‘’ Kalau dilihat dari segi ilmiah tentu dibangun dengan aturan-aturan ilmiah,’’ katanya.

Namun di sisi lain, lanjutnya, ada perasaan nasionalisme dalam arti memiliki. ‘’ Tapi mereka yang akan bergerak dalam bioprospeksi harus mengerti ini. Ini yang mungkin belum ada pada peneliti yang bukan dari Indonesia. Karena bagi mereka yang dilihat adalah aturan yang ada,’’ jelasnya.
Kelemahan kita memang dari segi UU dan peraturan yang sampai saat ini belum bisa melindungi hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan mereka. ‘’ Contoh kecil, jika kita ingin mendapatkan hak paten untuk produksi pelancar ASI dari daun katuk kita akan susah mendapatkannya. Karena apa yang ada di masyarakat adat seperti daun katuk ini dianggap sebagai pengetahuan umum,’’ tandasnya.
Masalah lainnya belum ada sinkronisasi antara pengetahun tradisional dan pengetahuan lanjutan dalam bioprospektif. ‘’ kita belum punya linkage, bagaimana penemuan tradisional ini kita hubungkan dengan pengetahuan berikutnya. Seolah-olah, ada yang datang lalu pengetahuan masyarakat adat ini diberikan begitu saja,’’ katanya.
Peneliti, lanjutnya, memang sering disalahkan atas penelitian biosprepektif ini. ’’ peneliti sendiri dibangun ada aturan. Sampai saat ini kita belum tahu, belum jelas aturannya. Jika kita ingin mensinkronkan, kita harus bicarakan bersama misalnya bagaimana aturan di negara lain. Lalu jika kita ingin melindungi masyarakat, dalam bentuk apa?’’ tanyanya.
Menurut Latifah, Filipina bisa dijadikan contoh, di Filipina sudah dibuat semacam Keppres yang betul-betul terpadu antara peneliti, LSM dan masyarakat adat. Yang menjadi pendorong lahirnya Keppres itu justru peneliti alam,’’ tandasnya.
Karena itu, tegasnya, jika kita belum siap dengan aturan yang benar-benar jelas maka akan sulit melindungi hak intelektual masyarakat adat. *mag
(Sumber: Republika, Sabtu, 16-3-1999. Hal 5).

MANUSKRIP ARAB MELAYU ( Perkembangan dan Pelestariannya di Aceh )

MANUSKRIP ARAB MELAYU
( Perkembangan dan Pelestariannya di Aceh )

Oleh: Teuku Abdullah *)

ABSTRAK

Seiring dengan masuknya agama Islam ke Aceh dan Nusantara, masyarakat di wilayah ini mulai mengenali huruf Arab. Lama kelamaan dengan penyesuaian seperlunya huruf Arab itu dapat digunakan buat menulis bahasa Melayu, sehingga aksara itu disebut huruf Arab Melayu. Melalui tulisan Arab Melayu inilah selama berabad-abad para pengarang di Aceh dan Asia Tenggara telah menghasilkan beribu-ribu karya tulis mereka yang sekarang dinamakan Manuskrip Arab Melayu. Akibat masuknya huruf Latin yang diperkenalkan kolonial Barat, maka popularitas huruf Arab Melayu dari waktu ke waktu semakin surut. Ujung dari desakan huruf Latin itu berakibat mayoritas masyarakat Aceh dan Nusantara dewasa ini; nyaris tidak dapat lagi membaca naskah dalam huruf Arab Melayu. Dalam usaha menyelamatkan warisan peradaban nasional itu, kini amat diharapkan munculnya upaya-upaya pelestarian manuskrip-manuskrip itu, seperti melakukan transliterasi ke huruf Latin, penterjemahan ke bahasa nasional Indonesia serta menerbitkannya; guna diedarkan kembali bagi bacaan masyarakat luas. Upaya pelestarian inilah yang sedang penulis lakukan secara kecil-kecilan sejak tahun 1992 hingga sekarang ini.

Pendahuluan
Sejak kedatangan agama Islam di Aceh, terjadilah islamisasi dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, huruf Arab ini diberi nama huruf Arab Melayu (huruf Jawi, bahasa Aceh: harah jawoe). Penulisannya menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Aceh dengan tulisan tangan; khusus bagi bahasa Aceh amat langka dijumpai yang sudah tercetak (AD Pirous, 2006: 255).
Sisi lain pengaruh islamisasi terhadap sastra Aceh adalah melahirkan sastra agama atau ‘hikayat agama’, baik yang berbentuk nadham maupun tambeh. Sementara terhadap hikayat dilakukan berbagai penyisipan sehingga tidak lagi bertentangan dengan ‘aqidah Islam. Sebagai sumber informasi seluk-beluk agama Islam, pada masa lampau sastra agama dipelajari masyarakat Aceh baik melalui lembaga-lembaga pendidikan masa itu seperti di meunasah, mesjid, dayah dan rangkang ataupun secara pribadi. Hasil dari mempelajari itu, sebagian orang kadang-kadang bisa menghafal sebagian besar isi naskahnya. Kandungan isi sastra agama adalah berbagai ajaran agama Islam seperti hukum, akhlak, tasawuf, filsafat dan sebagainya. Begitu pula dengan hikayat, isinya banyak mengandung nasihat, petuah, dan sebagainya (LK. Ara, 1995: 504).

A. Asal Mula Huruf Arab Melayu
Berdasarkan berbagai penyelidikan yang telah dilakukan para sarjana, penulis menjadi yakin bahwa huruf Arab Melayu yang berkembang di Nusantara/Asia Tenggara berasal dari Aceh. Daerah Aceh merupakan daerah pertama masuk dan berkembangnya Agama Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Hampir semua sejarawan Barat dan Timur berkesimpulan demikian. Bersamaan masuknya Islam ke Aceh, maka masuk pula bacaan huruf Arab ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, antara lain melalui kitab suci Al-Qur’anul Karim. Bersumber huruf Arab Melayu itu, lambat laun berkembanglah penulisan Arab Melayu tersebut. (Mohd. Syukri Yeoh, 2011: 5).
Sejauh bukti yang tersedia hingga hari ini, penulis pertama alias pencipta huruf Arab Melayu adalah Abu Ishak Al Makarany yang mengarang kitab Idhharul Haq fi Mamlakatil Perlak wal Pasy, yakni tentang sejarah Kerajaan Peureulak dan Pasai. Kitab ini ditulis dalam huruf Arab Melayu. Semua kitab lain yang tertulis dalam huruf Arab Melayu diyakini ditulis setelah penulisan kitab Idhharul Haq itu (Serambi Indonesia, 4 April 1994).
Sejarah mencatat, bahwa di Aceh telah berkembang beberapa kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Peureulak, Kerajaan Pasai, Kerajaan Benua, Kerajaan Linge, Kerajaan Pidie, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Daya dan terakhir kerajaan Aceh Darussalam. Di Kerajaan-kerajaan itu, banyak melahirkan para Ulama yang sebagiannya berbakat mengarang. Melalui tangan-tangan terampil inilah telah ditulis beratus-ratus buah kitab dan karangan dalam bahasa Melayu, Arab dan bahasa Aceh. Tulisan yang digunakan adalah tulisan Arab dan tulisan Jawi (Arab Melayu). Dalam hal ini kita dapat menyimak halaman terakhir kitab Fat al-Mubin ala `i-Mulhidin karya Nuruddin Ar-Raniry yang menyatakan bahwa kitab ini dikarang untuk dikirim kepada: ……… segala saudaraku yang ada di Pulau Aceh, dan yang di Negeri Kedah, dan yang di Pulau Banten, dan yang di Negeri Patani, dan yang di Pulau Mengkasar, dan yang di Negeri Johor, dan yang di Negeri Pahang, dan yang di Negeri Senggora, dan pada segala Negeri di bawah angin”(Teuku Iskandar, 1996: 408). Dengan beredarnya kitab Nuruddin Ar-Raniry tersebut di atas, maka berkembang pula penulisan Arab Melayu (huruf Jawi) ke negeri-negeri yang bersangkutan.
Dalam Kerajaan Aceh Darussalam penulisan Arab Melayu juga berkembang pesat. Dalam hal ini UU Hamidy menjelaskan:
“Bahasa Melayu Aceh berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu. Tak diragukan lagi ulama Aceh-lah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Dari sinilah agaknya tulisan Arab Melayu kemudian menjadi tradisi pula dalam penulisan hikayat di Aceh. Sebab itu tulisan Arab Melayu mungkin juga telah ditaja pada awalnya oleh para ulama di Aceh. Karena tulisan ini juga mempunyai beberpa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua. Dalam bidang ini patut dilakukan penelitian yang memadai, sehingga peranan bahasa Melayu Aceh akan semakin kentara lagi di belantara perkembangan bahasa Melayu” (Serambi Indonesia, 8 Juli 2007).

Memang tidak berlebihan bila penulis berpendapat, bahwa huruf Arab Melayu di tulis pertama kali di Aceh. Sampai sejauh ini, tulisan Jawi tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat sultan Aceh kepada raja Inggris. Tentang hal ini, DR. Muhammad Yusof Hashim menyebut :
“Kalau kita mengatakan bahawa naskah Melayu terawal yang pernah ditemui di awal abad ke-17, iaitu warkah daripada Sultan Aceh kepada Raja England, besar kemungkinan naskah warkah itu hanyalah naskah salinan. Adalah mengkagumkan juga sebuah naskah di atas kertas seperti itu boleh wujud hampir empat abad lamanya, sekiranya ia betul-betul naskah yang asli”(Muhammad Yusof Hashim, 1985: 70).

Abad ke 16-17 merupakan puncak kebesaran bagi kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, selain sempat diperintah beberapa Sultan terkemuka, Aceh juga telah dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini amat banyak karangan mereka, baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Arab. Kitab-kitab tulisan keempat ulama ini tidak hanya beredar di Aceh, tetapi meluas ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya.
Ditinjau dari segi perkembangan penulisan Arab Melayu dan pertumbuhan bahasa Melayu; keempat ulama Aceh inilah serta beberapa ulama Aceh lainnya; betul-betul telah berjasa dalam menyebarkan “kebudayaan” Melayu tersebut. Sewaktu sumpah pemuda 1928, bahasa Melayu telah diakui sebagai Bahasa Nasional Indonesia. Karena itu tidaklah berlebihan bila kita mengatakan, bahwa orang Aceh ikut membidani lahirnya bahasa Indonesia, yakni melalui ratusan karya tulis para pujangga-ulama yang mengarang dalam bahasa Melayu dengan menggunakan tulisan huruf Arab Melayu. Para penulis asal Aceh, sebenarnya tidak perlu malu-malu mengungkapkan “Jasa Aceh dalam Pembinaan Bahasa Indonesia”, karena Aceh memiliki banyak bukti yang dapat ditampilkan serta dapat dipertanggung jawabkan.
Tulisan Arab Melayu terus berkembang selama berabad-abad. Kehidupan masyarakat di seluruh Nusantara sudah menyatu dengan huruf Arab Melayu. Seseorang yang mampu membaca dalam huruf Jawi dianggap sebagai “orang terpandang” dalam masyarakat. Apalagi kalau ia mampu pula menulis, tentu derajat orang yang bersangkutan semakin tinggi lagi. Oleh karena itu, masyarakat di Aceh dan daerah-daerah lain berlomba-lomba mempelajari cara penulisan Arab Melayu, karena dengan pengetahuan itu akan meningkatkan status mereka dalam masyarakat.

B. Dunia Melayu Raya
Menurut UU Hamidy dalam tulisannya “Aceh sebagai pusat bahasa Melayu” menyatakan :
“Kesungguhan memelihara bahasa Melayu, sehingga seluruh kitab-kitab yang dikarang ulama Aceh yang berisi kajian agama Islam dan ilmu pengetahuan telah ditulis dalam bahasa Melayu. Sebab, dengan bahasa itu kitab-kitab ini dengan mudah dipelajari oleh khalayak antar bangsa di Asia Tenggara. Misalnya, Syair Perahu karangan Hamzah Fansuri yang berisi pandangan tasauf telah dikarang dalam bahasa Melayu. Sandingannya, karya Nuruddin Ar-Raniry, Asrar al Insan fi Ma`rifah wa Rahman, juga memakai bahasa Melayu. Hikayat raja Aceh juga memakai bahasa Melayu, tentulah atas pertimbangan agar pembaca mancanegara mengetahui kebesaran raja-raja Aceh. Sementara sandingannya Tajussalatin (mahkota raja) karangan Buchari al Jauhari juga ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab ini berisi pandangan ilmu Islam, bagaimana semestinya perangai seorang raja memegang teraju pemerintahan” (Serambi Indonesia, 8 Juli 2007).

Istilah Melayu mengandung makna yang luas, baik dari segi bahasa maupun mengenai suku-suku bangsa yang berdiam di Asia Tenggara yang, biasa disebut Dunia Melayu Raya. Dalam hal ini Dr. Muhammad Yusuf Hasyim mengatakan: Apa dan siapakah yang dikatakan Melayu? Untuk merujuk kepada bahasa, yaitu Bahasa Melayu (Bahasa Kebangsaan di Malaysia dan Bahasa Melayu di Indonesia), saja tidak mencukupi bagi mencari penentuan konsep Melayu itu. Sekiranya kita merujuk kepada faktor ethnicity dan ilmu alam pula, Melayu meliputi suatu “alam” yang amat luas, memasuki kawasan-kawasan daripada selatan Thailand, mencakupi Malaysia pada hari ini, melingkungi seluruh Nusantara/Indonesia sekarang, melingkupi Darussalam hinggalah menjangkau kepulauan dan gugusan Filipina. Sekirannya kriteria ini yang kita terima, maka istilah Melayu sebagai suatu ras dalam ilmuan antropologi merangkumi pelbagai suku etnik seperti Aceh, Bugis, Batak, Patani, Minang, Lampong, Bauyan, Banjar, Mandahiling, Mengkasar, dan lain-lain, menjadikan Melayu Aceh, Melayu Bugis, Melayu Batak, Melayu Patani, Melayu Minang, Melayu Lampong, Melayu Banjar dan seterusnya. (Muhammad Yusof Hashim, 1985: 71).
Tentang perkembangan naskah-naskah Arab Melayu tulisan tangan yang merupakan warisan zaman lampau Profesor Dr. Ismail Husein menjelaskan :
“Bahasa Melayu kini menjadi bahasa utama di nusantara, malah dapat dikatakan bahasa peribumi moden yang utama di Asia Tenggara, yaitu dari segi jumlah penggunanya, dan juga dari segi keragaman kandungan kebudayaannya. Tetapi kedudukan dan sifat bahasa Melayu seperti itu tidak banyak berbeda dengan zaman lampau. Kini kita warisi sekitar 8,000 buah naskah-naskah tulisan tangan dalam bahasa Melayu dari zaman pracetakan. Ini adalah jumlah warisan naskah yang kedua terbesar di nusantara, selepas yang di dalam bahasa Jawa. Semua naskah-naskah Melayu lama yang kita warisi itu adalah di dalam tulisan Jawi, di dalam huruf Arab, yakni dicipta dan disalin dalam zaman Islam. Tetapi tak kurang pentingnya hampir semua naskah yang ada itu nampaknya dicipta semula ataupun disalin semula selepas abad yang ke-15, yakni selepas kejatuhan Malaka, yakni di dalam zaman penjajahan”(Ismail Husein, 1985: 4).

Perlu juga dicatat, bahwa di Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda sampai kini masih tersimpan 265 naskah Aceh yang terawat dengan baik(Serambi Indonesia, 28 Oktober 1993).
Memang sebelum abad ke 18 istilah bahasa Melayu “belum dikenal. Pada abad ke 16 dan 17 penyebutan bahasa Melayu adalah dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”, karena bahasa itu ditulis dalam huruf Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan dengan ucapan-lidah masyarakat Nusantara. Sementara “Jawi” ialah sebutan orang-orang Arab dimasa itu untuk negeri-negeri di wilayah Nusantara/Asia Tenggara (Syed Muhammad Naguib al-Attas, 1990: 64).

C. Upaya Penghancuran Oleh Bangsa Barat
Pada abad ke-17 bangsa Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Dari waktu ke waktu sampai ke abad ke-20, mereka semakin merata berada di berbagai negeri di Nusantara. Akhirnya semua Negeri secara umum berkebudayaan Melayu telah menjadi jajahan dari bangsa Barat. Kesemua bangsa penjajah itu, yaitu Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat adalah bangsa-bangsa yang tidak memakai huruf Arab (Arab Melayu) dalam penulisannya. Mereka memiliki huruf sendiri yang berasal dari peradaban Yunani-Romawi, yaitu huruf Latin.
Sejak itu, peranan huruf Arab Melayu secara berangsur-angsur terus berkurang dalam kehidupan orang-orang pribumi. Sebab, para penjajah memaksakan huruf Latin kepada rakyat di Nusantara ini melalui lembaga-lembaga pendidikan yang dibangun mereka. (Syed Muhammad Naguib al-Attas, 1990: 18).
Khusus di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), penggusuran secara besar-besaran huruf Arab Melayu baru terjadi secara resmi pada tahun 1901. Ketika itu, pada tanggal 1 Januari 1901, Raja Belanda Ratu Welhelmina mengeluarkan Dekrit tentang Politik Etis dalam sistem penjajahan di Hindia Belanda. Politik “balas budi” itu antara lain memberikan pendidikan modern ala Barat kepada anak negeri jajahan Belanda. Karena itu, dibangunlah beribu-ribu tempat pendidikan umum di seluruh Hindia Belanda dengan memakai huruf Latin dalam penulisannya (Sartono Kartodirdjo, 1975: 14).
Hal ini secara langsung telah menjatuhkan martabat huruf Arab Melayu dalam pandangan sebagian pribumi. Tinggallah Dunia Pesantren, Surau dan Pondok (Dayah di Aceh) sebagai benteng terakhir, sehingga penulisan Arab Melayu masih kekal lestari hingga saat ini. Sebagai bukti, perpustakaan Dayah Tanoh Abee Seulimum, Aceh besar, masih memiliki beribu-ribu naskah kitab lama (Perpustakaan Tanoh Abee, Buku I, 1980).
Kemunduran bagi penulisan Arab Melayu di Aceh lebih kemudian. Ketika Belanda sedang menggayang huruf Arab Melayu secara gencar di daerah-daerah lain- lewat pendidikan ala Barat, malah di Aceh (thn 1901), Belanda sedang bertempur habis-habisan melawan rakyat Aceh, yang telah di tempa dengan baris-baris tulisan Arab Melayu, yakni Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil). Akhirnya para ilmuan Belanda yang dipelopori Snouck Hurgronje berusaha mempelajari karya-karya berhuruf Arab Melayu milik orang Aceh guna mengetahui jalan “lurus” mengalahkan perlawanan orang Aceh sendiri (Snouck Hurgronje, 1985). Tidak kurang 600 naskah Jawi/Jawoe (Arab Melayu) telah dialihkan ke huruf Latin saat itu. (Tempo, 23-39 Juli 2006: 70).
Tentang strategi perang akal budi” yang ditempuh Belanda ini, Prof. Madya. DR. Muhammad Yusof Hashim dari jabatan Sejarah Universiti Malaya menulis : Bayangkan saja bagaimana Malaicus Snouck Hurgronje mengguna dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya naskah-naskah Melayu yang ada di Aceh pada penghujung abad ke-19 bagi meneliti “hati budi dan nurani” penduduk-penduduk Aceh sehingga Aceh berjaya ditakluki oleh Belanda setelah bertungkus-lumus dan berhempas pulas kuasa penjajah ini gagal menawan dan menjajah Aceh melalui saluran diplomatik, perang urat saraf dan paksaan senjata” (Muhammad Yusof Hashim, 1985: 77).
Sebuah pengumuman/maklumat Residen Aceh di tahun 1948 secara tak langsung juga ikut menggusur huruf Arab Melayu. Isi pengumuman tentang syarat-syarat pemilihan anggota Dewan Kota/DPR Kutaraja saat itu, antara lain berbunyi : Yang berhak dipilih untuk menjadi anggota Dewan Kota adalah bangsa Indonesia, berumur 25 tahun ke atas, tahu membaca dan menulis haruf Latin, tidak dalam tahanan preventif atau dalam menjalani hukuman, dalam keadaan berpikir sehat, dan sekurang-kurangnya 1 tahun terus-menerus telah menjadi penduduk Haminte Banda Aceh (T.A. Talsya, 1990: 238).
Dalam era Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap penulisan Arab Melayu mulai Tumbuh, namun tidak berumur panjang. Di saat itu, pelajaran membaca dan menulis huruf Arab Melayu telah diajarkan di sekolah-sekolah pada tingkat sekolah dasar. Tetapi sekitar tahun 60-an pelajaran tersebut dihapuskan, yang kemungkinan besar akibat desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang merajarela ketika itu. Sebatas penulis ketahui, khusus di Aceh sejak beberapa tahun yang lalu juga diajarkan kembali tulisan Arab Melayu dengan nama Tulisan Arab Indonesia (TAI). Namun, pembelajaran ini masih perlu ditingkatkan terutama dalam bidang pengadaan buku bacaan/pedoman penulisan Arab Melayu dan memberikan pendidikan khusus bagi para guru tentang bahan pengajaran tersebut.
Perkembangan terakhir dari penulisan Arab Melayu di Aceh adalah keluarnya Instruksi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanggal 1 Muharram 1423 atau 16 Maret 2002, yang menggalakkan kembali penggunaan huruf Arab Jawi di Bumi Aceh Serambi Mekkah. Sejauh pengamatan penulis, sebagian dari isi instruksi itu memang telah berjalan, khususnya penulisan nama kantor/lembaga/toko dengan menggunakan huruf Arab Melayu disamping huruf Latin. Akan tetapi penulisan Arab Melayu pada lembaga-lembaga tersebut belum memadai, karena masih ada kaidah-kaidah penulisan Arab Melayu yang diabaikan (Mohd. Kalam Daud, 2003: 5).

D. Manuskrip Kita Tetap Aktual
Sebagian besar masyarakat kita dewasa ini beranggapan bahwa naskah-naskah lama itu tidak lebih berupa sampah yang tidak berguna lagi. Namun sesungguhnya, jika diteliti dengan sungguh-sungguh ternyata di dalam lembaran-lembaran kertas yang dianggap “sampah” tersebut ternyata masih terkandung mutiara-mutiara budaya yang tetap berguna dalam kehidupan era sekarang. Dengan kata lain manuskrip-manuskrip itu masih tetap aktual dalam kehidupan kita di hari ini.
Salah satu contohnya adalah manuskrip kitab Tajussalatin. Salah satu warisan pemikiran bangsa yang berkaitan dengan ‘mental pemimpin’ adalah kitab Tajussalatin, yang berarti “Mahkota raja-raja”. Bagi zaman sekarang, raja sama artinya dengan pemimpin atau seorang ketua/kepala dalam berbagai bidang kehidupan. Tajussalatin merupakan kitab/buku tuntunan bagi para Sultan Aceh yang dikarang dalam bahasa Melayu oleh Bukhari Al-Jauhari tahun 1012 H/1603 M.
Pada abad ke-18 Tajussalatin diterjemahkan ke bahasa Jawa atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono V. Kini, kitab yang tebalnya 205 halaman itu masih tersimpan di Museum Sonobudoyo, Pustaka Kraton Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat, 4 Mei 1988).
Selanjutnya, tahun 1827 Tajussalatin diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh Roorda van Eijisinga dan ke bahasa Perancis tahun 1878 oleh A. Marre. Mahkota Raja-raja (Tajussalatin) yang dalam arti tertentu dapat disamakan dengan karya Prince (Raja) karangan Macchiavelli; juga dipedomani oleh Sultan Singapura pada abad ke-19, sedangkan pujangga Abdullah bin Abdulkadir Munsyi memakai kitab Tajussalatin ini untuk mengamati karakter tuannya, orang Inggeris yakni Sir Stafford Raffles sang pendiri kota Singapura (AD Pirous, 2006: 216).
Kemudian, atas anjuran Uleebalang Landschap Keumangan, Pidie, tahun 1937; Tajussalatin yang ditulis dalam bentuk prosa berbahasa Melayu ini, diterjemahkan ke bahasa Aceh dalam bentuk syair hikayat Aceh (Teuku Iskandar, 1996: 379). Selain itu, tahun 1966 Tajussalatin telah dikaji pula oleh Khalid Hussein, yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 1994 kitab Tajussalatin telah direproduksi kembali oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (Serambi Indonesia, 9 Oktober 1994). Sementara setahun sebelumnya, yaitu 22 Syawal 1413/15 April 1993; penulis telah menyelesaikan alih huruf (transliterasi) naskah Tajussalatin bahasa Aceh dari huruf Arab Melayu-Jawoe ke dalam huruf Latin.
Melihat banyaknya terjemahan dan pengkajian serta luasnya penyebaran kitab Tajussalatin di nusantara ini, bisa dijadikan betapa pentingnya karya ini. Berarti pula, keaktualannya juga tak diragukan sampai sekarang. Tajussalatin antara lain menyebutkan, bahwa seseorang raja (maksudnya: pemimpin) jangan sampai mabuk dengan pujian-pujian dari bawahannya. Sebab pujian itu bisa mengakibatkan hilangnya sifat hati-hati sang atasan. Pujian ikhlas memang ada, tapi menurut Tajussalatin kebanyakan pujian dari bawahan terutama didorong upaya mencari pamrih dari pimpinan. Ada tiga sebab si karyawan memuji atasannya. Pertama, karena takut. Misalnya jangan sampai dia dipecat atau dikurangi perannya. Kedua, agar si boss tak mencari-cari kesalahannya. Ketiga, supaya bisa memperoleh hadiah/kekayaan dari pimpinannya. Tajussalatin mengungkapkan, bahwa kebanyakan pemimpin pada saat (zaman akhir) ini ingin dipuji terus-menerus oleh bawahannya. Mengenai penjahat, Tajussalatin menganjurkan agar diberi hukuman seberat-beratnya. Anda percaya atau tidak, merajalelanya para koruptor (baca: penjahat) sekarang; terutama akibat ringannya hukuman yang mereka terima.
Tajussalatin, menganjurkan para pemimpin agar menyingkirkan pegawainya yang tak becus bertugas, terutama yang suka membuat laporan ABS (asal Bapak senang). Guna memperoleh laporan akurat, para pemimpin tempo dulu memiliki “Tim pengintip” yang terpercaya. Bahkan tugas ini dilakukan oleh raja/Sultan sendiri. Setiap pemimpin mesti memiliki penasehatnya. Para penasehat Sultan masa lalu adalah ulama. Namun, Tajussalatin mengingatkan para Sultan agar tidak “bekerjasama” dengan sembarangan ulama. Jadi perlu ‘seleksi’ ketat. Sebab, diantara ulama itu banyak pula yang bermental “perampok”, yang mengharapkan harta dari para raja/Sultan. Selain itu, banyak pula ulama penjilat, yang tidak ikhlas dengan profesi keulamaannya. Bukankah sekarang cukup banyak ulama penjilat???. Demikianlah sedikit cuplikan kitab Tajussalatin!. Naskah kitab ini berisi 24 bab yang seluruh uraiannya mengenai pemimpin dan calon pemimpin!. Ada baiknya, jika Tajussalatin dijadikan buku-saku para pemimpin kita.

E. Nasib Naskah Tulisan Arab Melayu Dewasa ini
Akibat perkembangan zaman, huruf Latin telah menggeser huruf Arab Melayu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Keadaan itu menyebabkan naskah-naskah lama kian kurang dibaca dan disalin orang dan pada akhirnya akan habis. Mayoritas masyarakat Aceh dewasa ini hanya bisa membaca dalam huruf Latin. Akibatnya, banyak manuskrip atau naskah lama yang tertulis dalam huruf Arab Melayu dibiarkan terlantar sekarang karena tidak bisa dibaca. Perkembangan sarana hiburan modern juga ikut melunturkan peranan Sastra Aceh sebagai sumber hiburan masyarakat. Kehadiran industri film, radio, televisi dan media cetak yang memberi bermacam jenis hiburan serta bahan bacaan telah menyebabkan kepopuleran naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh menurun tajam; bahkan hampir-hampir tidak ada pihak yang menghiraukannya lagi.
Kini di desa-desa, naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh jenis apa pun seperti hikayat, nadham, tambeh dan kitab-kitab agama yang ditulis dalam huruf Arab Melayu, baik yang dalam bahasa Arab, Melayu dan bahasa Aceh; hanya disimpan oleh pemiliknya di balai-balai kandang lembu, atas kandang ayam, di rak dapur (bahasa Aceh: sandeng dapu) serta di bara-bara atau para Rumoh Aceh. Memang, sebagian besar masyarakat Aceh masih enggan membuang langsung naskah-naskah lama (manuskrip) itu, karena mereka takut pada kutukan Tuhan (bahasa Aceh: teumeureuka). Walaupun dianggap sudah memuakkan atau barang-barang yang menyemakkan, namun mereka belum berani benar-benar membuangnya, sebab sebagian dari manuskrip-manuskrip itu masih dikeramatkan. Beginilah, keadaan yang tengah dialami naskah-naskah lama Sastra Aceh dewasa ini. Dalam suasana konflik Aceh, tentu semakin memperburuk keadaan itu. Dalam suasana Aceh yang kacau-balau seperti beberapa waktu yang lalu banyak penduduk desa yang mengungsi maka semakin banyak pula naskah-naskah lama Sastra Aceh yang rusak-terbuang, tak ada yang mempedulikannya.

F. Pelestari Naskah Arab Melayu dan Sastra Aceh
1. Transliterasi
Akibat prihatin terhadap naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh seperti dikemukakan di atas, penulis pernah berupaya melakukan kegiatan transliterasi terhadap naskah-naskah tersebut, terutama naskah hikayat, nadham dan tambeh.
Upaya awal sebelum dilakukan transliterasi (alih huruf) adalah mengumpulkan naskah-naskah Sastra Aceh yang masih disimpan masyarakat. Usaha pengumpulan ini memang tidak mudah, karena sebagian masyarakat enggan meminjamkannya, karena berbagai alasan. Namun, berkat berbagai pendekatan yang dilakukan, akhirnya beberapa judul manuskrip dapat dipinjam atau difotocopy. Tahap selanjutnya yang ditempuh adalah melakukan alih huruf atau penggantian huruf naskah dari semula berhuruf Jawi atau Arab Melayu dengan menyalinnya ke dalam huruf Latin. Kesulitan pada bagian ini adalah tidak dapatnya disalin naskah-naskah itu secara lengkap atau menyeluruh karena sebagian dari manuskrip-manuskrip itu halaman-halamannya tidak utuh lagi, karena telah robek, pecah dawat (kehitaman) di sana-sini. Kegiatan alih huruf ini telah mulai dilakukan sejak tahun 1992, dan kini telah selesai dikerjakan beberapa judul manuskrip. Setiap halaman hasil transliterasi berisi rata-rata 6 (enam) bait, dimana setiap bait terisi 4 (empat) baris. Setiap halaman naskah asli yang berhuruf Arab Melayu biasanya bisa menghasilkan salinan ke huruf Latin rata-rata satu setengah halaman.

2. Daftar dan Ringkasan Isi dari Hikayat, Nadham, Tambeh dan naskah berbahasa Melayu yang telah penulis salin ke huruf Latin sebagai berikut :
(1). Hikayat Meudeuhak. Keberhasilan seseorang pemimpin/Raja turut ditentukan oleh para penasihatnya, namun sang pemimpin perlu selalu menguji kesetiaan mereka (434 halaman). (2). Hikayat Banta Keumari. Sikap saling membantu dalam perjuangan hidup akan menghasilkan kebahagiaan bersama (650 halaman). (3). Hikayat Tajussalatin. Tajussalatin = mahkota raja-raja. Membicarakan sejumlah pedoman bagi para pemimpin (420 halaman). (4). Hikayat Aulia Tujoh. Mengisahkan tentang seorang penguasa yang zalim. Begitu angkuhnya sampai-sampai mengakui dirinya sebagai Tuhan (54 halaman). (5). Hikayat Kisason Hiyawan. Kisason Hiyawan merupakan kisah sejumlah hewan/binatang. Kehidupan ini penuh dengan teka-teki, tipu muslihat dan saling bersaing. Oleh karena itu perlu hati-hati dan waspada dalam setiap tindakan. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (176 halaman). (6). Hikayat Gomtala Syah. Kisah monyet raksasa yang berasal dari manusia. Intinya menceritakan kesetiaan sang monyet membela kepentingan pamannya. Hikayat ini bernuansa lingkungan hidup (548 halaman). (7). Hikayat Keumala Indra. Keberhasilan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, akan memperlancar kehidupan. Tokoh ceritanya berasal dari Turki (594 halaman). (8). Hikayat Nabi Yusuf. Penderitaan yang didampingi oleh kesabaran-ketabhan, akan mewujudkan kemenangan. Sementara kedengkian dan iri hati akan menerima rugi dan kekalahan (281 halaman). (9). Hikayat Abu Nawah. Setiap pemimpin /raja harus tahan menerima kritik. Kritikan itu perlu dikemas dalam dua bentuk, yaitu bentuk halus dan tajam/keras (301 halaman). (10). Hikayat Zulkarnaini. Kisah Iskandar Zulkarnaini dan Nabi Khaidir/Hidhir ini menyebut asal usul nama Aceh disebut Pulo Ruja(pulau kain bekas). Dan setiap kedengkian akan menerima balasan Tuhan (226 halaman). (11). Hikayat Akhbarul Karim. Menjelaskan mengenai Ilmu Fiqh, Tasawuf dan Ilmu Tauhid. Hikayat ini juga mengandung nasihat-nasehat agar umat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah (139 halaman). (12). Nadham Akhbarul Hakim. Berisi nasihat dan kritikan tajam terhadap ummat Islam dalam segala umur, yaitu remaja, lelaki dewasa, perempuan dewasa, orang tua (Ibu-bapak dan kakek-Nenek. Kritik disebut secara lantang/pedas dan kadang-kadang lucu (81 halaman). (13). Tambeh Tujoh. Tambeh (Arab adalah tanbihi, artinya penuntun/tuntunan). Berisi tujuh masalah/7 bab. Dua bab di antaranya termasuk masalah yang amat langka dibahas dalam syair/hikayat Aceh, yaitu masalah kerangka tubuh manusia dan Ilmu Ketabiban/kedokteran (155 halaman). (14).Tambihul Ghafilin. Anasms lsin dsri kitsb ini adalah Tambeh Limong Kureung Sireutoh, karena isinya 95 bab. Berisi 95 masalah/95 bab, terdiri dari nasihat, pelajaran Ilmu Agama, Ilmu Tasawuf, contoh-contoh yang bermanfaat; demi kedamaian di dunia dan kebahagiaan di akhirat(623 halaman). (15). Nadham Ruba’i. Membahas banyak hal masalah ajaran Islam namun secara ringkas (serba-serbi Agama Islam). (31 halaman). (16). Nadham Nasihat. Nasihat-nasihat mengenai pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (34 halaman). (17). Hikayat Nabi Meucuko. Kisah pencukuran rambut Nabi Muhammad Saw yang dilakukan Malaikat Jibril (20 halaman). (18). Hikayat Qaulur Ridwan. Qaulur Ridwan ialah perkataan yang disenangi atau diridhai Tuhan. Hikayat ini ditulis dalam bentuk “cerpen” yang mengajak orang mau mengerjakan Shalat, kisahnya diramu dengan muatan lokal (18 halaman). (19). Tambeh Tuhfatul Ikhwan. Menjelaskan 12 bab masalah agama dan kemasyarakatan. Tuhfatul Ikhwan = persembahan kepada saudara (294 halaman). (20). Tambeh Tujoh Blah. Berisi 17 bab, yang membahas masalah hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia dan dengan binatang/Lingkungan hidup. Tambeh 17 ini termasuk salah satu kitab tambeh yang sangat populer di Aceh (Pidie?) hingga tahun 60-an (236 halaman). (21). Hikayat Banta Amat. Kisah seorang anak raja yang yatim sejak kecil. Negeri dan semua kekayaan di rampas pamannya. Berkat ‘azimat’ yang diberikan raja ular ia berhasil menjadi raja kembali. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (318 halaman). (22). Mikrajus Shalat. Membahas seluk-beluk shalat serta yang berkaitan dengannya dalam bentuk nadham Aceh (41 halaman). (23). Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan. Mengisahkan kehidupan dua orang putra raja yang berjuang menemukan permintaan Ayah mereka. Ternyata yang paling menderita; dialah yang mencapai kemenangan dan menjadi raja menggantikan sang ayah (79 halaman).( 24). Kitab Qawai’idul Islam. Dalam sebutan masyarakat tempo dulu naskah ini dinamakan “Kitab Bakeumeunan”, karena setiap pasal dimulai dengan ungkapan “Bakeumeunan”(Setelah itu). Menjelaskan mengenai Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam) secara panjang lebar dan mendalam. Keistimewaan kitab ini adalah karena ia ditulis dalam bahasa Aceh berbentuk prosa. Selain Bahasa Aceh, bahasa pengantar naskah ini juga menggunakan bahasa Melayu serta bahasa Arab. Pada umumnya bentuk penulisan bahasa Aceh adalah dalam jenis syair/puisi secara bersanjak (28 halaman). (25). Tambeh Gohna Nan. Naskah ini ditulis dalam bentuk penyampaian “wasiat dari seorang ayah kepada anaknya”. Inti wasiat sang ayah supaya si anak mengamalkan kehidupan ‘suluk dan tarekat’ yang amat berkembang di Aceh pada akhir zaman. Memang naskah ini berisi banyak ramalan tentang nasib negeri Aceh pada masa yang akan datang. Kitab ini di tulis kira-kira pada masa awal Perang Aceh-Belanda. Oleh karena belum diberi nama oleh pengarangnya, maka kitab ini penulis namakan “Tambeh Gohna Nan”(Kitab Belum Bernama) (175 halaman). (26). Adat Aceh. Berisi adat/tradisi dan protokoler Kerajaan Aceh Darussalam sejak masa Sultan Iskandar Muda. Sesungguhnya, inilah yang disebut dalam sepotong pribahasa Aceh: “Adat bak Poteumereuhom Hukom Bak Syiahkuala” (162 halaman). (27). Tazkirah Thabaqat. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Isinya menjelaskan tentang susunan tata pemerintahan Kesultanan Aceh sejak jabatan Geuchik sampai sultan Aceh sendiri (115 halaman).( 28). Resep Obat Orang Aceh. Cuplikan/saduran dari kitab obat Tajul Muluk karya Haji Ismail Aceh (55 halaman). Selain itu, ada pula 3 (tiga) naskah yang aslinya berhuruf Arab Melayu, namun telah ditransliterasikan oleh orang Belanda ke huruf Latin ejaan lama. Kemudian, penulis telah menyalin kembali ketiga naskah hikayat itu dari ejaan Belanda ke Ejaan Yang Disempurnakn (EYD). Ketiga hikayat itu ialah: (29). Hikayat Malem Dagang. Menceritakan pelayaran Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja si Ujut adalah gelaran orang Aceh kepada Sultan Kerajaan Johor yang telah bekerjasama dengan Portugis (163 halaman). (30). Hikayat Ranto. Mengisahkan perihal masyarakat Pidie lebih seabad lalu, yang pergi merantau buat mengadu nasib di bagian Barat dan Selatan wilayah Aceh( 30 halaman). (31). Hikayat Teungku Di Meukek. Menceritakan perang saudara di Aceh Barat akibat adu-domba Belanda ( 20 halaman). Hasil alih aksara ke huruf Latin dari 31 judul naskah adalah berjumlah 6500 halaman.

3. Penerbitan
Tujuan akhir dari upaya transliterasi tersebut di atas adalah menerbitkannya dalam bentuk buku yang berhuruf Latin. Namun akibat keterbatasan dana penulis, maka hanya sedikit dari hasil alih aksara itu yang telah diterbitkan.

G. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan:
1. Penulisan Arab Melayu (huruf Jawi / Jawoe) tumbuh dan berkembangnya di Aceh, serta di Asia Tenggara (Nusantara) seiring dengan masuknya Agama Islam ke wilayah ini.
2. Sejauh yang dapat ditelusuri, penulisan Arab Melayu mulai tumbuh di Aceh, yakni di kerajaan Islam Perlak.
3. Seiring dengan berkembangnya agama Islam ke wilayah-wilayah lain di Nusantara, maka penulisan Arab Melayu ikut pula berkembang di sana.
4. Semasa kerajaan-kerajaan Islam sedang berjaya di Asia Tenggara, penulisan Arab Melayu sangat berperan dalam mencerdaskan umat, lewat karya-karya para pujangga dan ulama. Akibatnya, masyarakat muslim di Asia Tenggara telah memiliki peradaban/tamaddun tinggi.
5. Para ulama-pujangga Aceh amat berjasa dalam mengembangkan bahasa dan kebudayaan Melayu di Nusantara, melalui kitab-kitab karangan mereka dalam huruf Arab-Melayu, yang tersebar ke seluruh Asia Tenggara.
6. Sebagian besar karya tulis para ulama-pujangga Aceh adalah dalam bahasa Melayu, yang sejak sumpah Pemuda 1928 telah diakui menjadi bahasa Indonesia. Dalam hal ini para pengarang asal Aceh telah ikut membidani lahirnya Bahasa Nasional Indonesia.
7. Kehadiran bangsa-bangsa penjajah di Asia Tenggara merupakan sumber bencana bagi kemunduran penulisan Arab Melayu di Nusantara. Para penjajah telah menggusur huruf Arab Melayu dengan huruf Latin yang disalurkan lewat pendidikan ala Barat kepada rakyat pribumi Nusantara.
Saran-saran:
1. Dalam rangka menggalakkan kembali pemakaian huruf Arab Melayu di Aceh, Pemda NAD perlu mewajibkan pengajaran huruf Arab Melayu (huruf Jawi) pada setiap jenjang pendidikan, baik di sekolah umum, madrasah maupun dayah-pesantren. Fasilitas yang memadai perlu disediakan secara tetap setiap tahun anggaran.
2. Guna menumbuhkan rasa cinta yang lebih mendalam terhadap huruf Arab Melayu, Pemda Aceh / Lembaga terkait perlu lebih sering mengadakan pameran dan lomba yang berkaitan penulisan Arab Melayu; disertai hadiah yang membanggakan bagi para pemenangnya.
3. Perlu dibentuk sebuah Program Studi Bahasa dan Sastra Aceh di Universitas dan Institut yang ada di Aceh sebagai pusat pengkajian dan penelitian naskah dan penulisan Arab Melayu.
4. Para calon pejabat eksekutif dan legislatif di Aceh tidak hanya diwajibkan mampu membaca Al-Qur’an, tetapi perlu pula diwajibkan lancar membaca dan menulis tulisan Arab Melayu/Jawoe, karena huruf Jawi yang berkembang di Nusantara itu berasal dari Aceh.
5. Semoga dimasa mendatang, akan tampil para dermawan yang peduli kepada budaya nasional Indonesia yang nyaris punah ini. Naskah-naskah Arab Melayu yang telah dialihkan ke huruf Latin semestinya diterbitkan serta diedarkan kepada masyarakat Aceh.

Daftar Pustaka

AD Pirous,dkk, Aceh Kembali Ke Masa Depan,IKJ Press, Jakarta, 2006.
Alfakir Prof.Madya Mohd Syukri Yeoh Bin Abdullah,et.al., “Zawiyah Tanoh Abee: Sejarah dan Perkembangannya”, makalah pada International Seminar on Restorasi Naskah; Revitalisasi Manskrip Aceh: Pemeliharaan dan Pelestarian Manuskrip sebagai Warisan Budaya Masa Lalu, Banda Aceh, March 5th, 2011.
Catalog Manuskrip, Perpustakaan Pesantren Tanoh Abee Aceh Besar Buku I, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh Banda Aceh, 1980.
Ismail Husein, “Antara Dunia Melayu Dengan Dunia Indonesia dan Malaysia”, makalah pada penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia, 1985, dalam buku “Warisan Dunia Melayu – Teras Peradaban Malaysia”, Biro Penerbitan GAPENA, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1985.
LK Ara, dkk., Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas, Yayasan Nusantara, Jakarta, 1995.
Majalah TEMPO, Jakarta, edisi 23-30 Juli 2006.
Mohd Harun Ar-Rasyid, Serambi Indonesia, edisi 28 Oktober 1993. (Opini).
Mohd. Kalam Daud, Sistem Penulisan Arab-Melayu (Suatu Solusi dan Pedoman), Dinas Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, 2003.
Muhammad Yusof Hashim “Manuskrip Melayu: Warisan Keilmuan yang bernilai”, dalam buku Warisan Dunia Melayu – Teras Peradaban Malaysia, Biro Penerbitan GAPENA, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1985.
Sartono Kartodirdjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia, Jilid V, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1975.
Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis (terjemahan), Jilid I & II, Yayasan Soko Guru, Jakarta, 1985.
Syed Muhammad Naguib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Penerbit Universiti Kebangsaaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972. Syed Muhammad Naguib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Mizan, Bandung, 1990.
T.A. Talsya, Modal Perjuangan Kemerdekaan (Perjuangan Kemerdekaan di Aceh) 1947-1948, Buku II, Lembaga Sejarah Aceh, Banda Aceh, 1990.
Teuku Iskandar, Kesusasteraan klasik Melayu Sepanjang Abad, Libra, Jakarta, 1996
UU Hamidy, Aceh Sebagai Pusat Bahasa Melayu, Serambi Indonesia, Banda Aceh, Minggu 8 Juli 2007. (Opini).

*) Penulis, Drs. Teuku Abdullah, SH., MA  alias  T.A. Sakti adalah Dosen tetap pada Prodi  Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( FKIP ) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.