Mengenang 101 Tahun Cut Meutia

Mengenang   101 Tahun Syahidnya Pahlawan Nasional Cut Meutia ( 25 oktober 1910 – 25 Oktober 2011 )

Memperingati:

GENAP 70 TAHUN SYAHIDNYA

PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA ( 1910 – 1980 )

Oleh : T.A. Sakti

PENDAHULUAN.

MENTERI P & K Republik Indonesia, DR. DAOED JOESOEF, selaku menteri P & K Republik Indone­sia, dalam kunjungan kerjanya kedaerah Istimewa Aceh baru2 ini, telah menyinggung akan dinamika semangat kepahlawanan rakyat dari Serambi Mekkah, Negeri Darah Pahlawan ini. Hal tersebut dikemukakan menteri dalam pidatonya memperingati hari jadi Universitas Syiah Kuala ke-XIX,  hari Selasa tgl 2 September 1980 di Gedung DPRD tingkat I, Banda Aceh,

Tentang ke pahlawanan rakyat Tanah Rencong, Menteri P & K mengungkapkan: “Daerah Aceh terkenal dengan kepahlawanannya, lebih2 masa lalu, pantas dibanggakan dan dapat menyilaukan pandangan generasi sekarang, sehingga mereka mabuk dan lalu alpa membuat sejarah kepahlawanannya sendiri didalam situasi yang sudah berbeda dari keadaan yang dihadapi generasi pahlawan masa lalu.

“Betapapun terpujinya kepahlawanan masa lalu itu, pasti ada harga yang harus dibayar” katanya. Harga yang harus dibayar oleh daerah Aceh, antara lain keterbelakangan di bidang pendidikan. Semangat kepahlawanan tersebut harus dipupuk terus, tetapi harus disesuaikan dengan tuntutan masa pembangunan, dan musuh yang dihadapi bukan pemerintah kolonial, melainkan kekurangan, kemiskinan ketidaktahuan dan keterbelakangan” (WASPADA, 4 September 1980/24 Syawal 1400). Bagaimana tanggapan anda pembaca terhadap ucapan  Bapak Menteri P & K ini???, beliau juga berasal dari Aceh, yang lama hidup di tanah Jawa, sehingga sudah sewajarnya apabila isi pidato beliau yang ter­sebut diatas kita renungi dan pikirkan bersama, tentang benar tidaknya///.

Orang selalu memuji-muji kepahlawanan Aceh, yang kadang membuat kita yang menerima pujian, menjadi lupa diri dan hanya makan pujian2 saja, tepat seperti yang telah di singgung Bapak Daoed Joesoef ,bahwa kita telah mabuk pujian, dan hingga lupa membuat sejarah dalam kehidupan dimasa kini, cuma hidup bermesinkan nostalgia.

Dalam sebuah pidato yang diucapkan tanggal 15 Juni 1948 di Kutaraja (Banda Aceh, sekarang) Presiden Sukarno mengatakan : “Saya mengetahui bahwa rakyat Aceh adalah Pahlawan, Rakyat Aceh adalah contoh perjuangan kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia.

Seluruh rakyat Indonesia mengetahui hal ini, seluruh rakyat Indonesia melihat ke Aceh, mencari kekuatan batin dari Aceh, dan Aceh tetap menjadi obor perjuangan rakyat Indonesia”(1.

Pada kesempatan lain tgl 4 September 1959 bertempat di Meulaboh (Aceh Barat), Presiden Sukarno juga berkata begini: “Daerah Aceh adalah Daerah Modal, dan akan tetap menjadi DAERAH MODAL, bukan saja modal yang berupa emas bukan saja modal yang berupa uang, tetapi yang terutama sekali modal yang berupa jiwa berkobar-kobar. Rakyat Aceh jiwanya memang jiwa yang bernyala-nyala, berapi-api. Dan modal jiwa yang bernyala-nyala dan berapi-api itulah modal yang pertama untuk merebut kemerdekaan, menegakkan kemerdekaan, memelihara kemerdekaan, melanjutkan kemerdekaan sampai ke akhir zaman, sesuai dengan sumpah kita sekali merdeka tetap merdeka” (2.

Kesemuanya itu adalah pujian dan sanjungan. Apakah semuanya itu hanya basa basi yang tiada buktinya, atau putar lidah semata, marilah kita buktikan sekarang.

Kalau dimasa 20 tahun yang lalu (1959) Presiden Sukarno menyatakan bahwa Aceh bukan saja modal dalam bidang ketenteraan, tetapi juga merupakan modal dalam hal ekonomi dan keuangan, maka bagaimana dengan keadaannya dimasa kini?. Setelah kita lihat kekanan-kiri rupanya Aceh juga masih merupakan modal dalam hal ekonomi dan keuangan bagi pembangunan negara kita Indonesia, yaitu buminya kaya dan mengandung berbagai bahan tambang, seperti platina, emas, minyak, gas alam dan lain-lain. Salah satu proyek gas alam yang raksasa kini terdapat di Blang Lancang dan Arun. Menurut sebuah keterangan: “Proyek tersebut diharapkan akan dapat menghasilkan US $ 7,7 milyard, dengan hasil bersih tidak kurang dari US $ 4,7 milyard. Besarnya cadangan Gas diperkirakan 17,l trilyun kubik kaki dengan tekanan 7100 psi dan temperatur 189 derajat Celsius yang mampu untuk menyediakan Gas untuk enam buah unit pencairan Gas selama dua puluh tahun. Ketiga-unit pencairan Gas Alam di Arun itu hanya membutuhkan kurang dari 50% cadangan gas alam yang ada di Arun untuk jangka Waktu 20 tahun. Export Gas alam cair Arun ke Jepang akan memberikan tambahan pendapatan export sebesar Rp. 344.400 juta atau Rp. 344.4 milyard setiap tahunnya” (3.

Karena artikel ini hanya khusus akan menceritakan kepahlawanan dimasa lalu, maka komentar dalam bidang ekonomi kita cukupkan disini saja.

CUT MEUTIA DAN PERJUANGANNYA.

Cut Meutia adalah Pahlawan Nasional, putri dari Teuku Ben Daud,  Uleeibalang Perak Aceh Utara, Beliau salah seorang dari ke tujuh Srikandi Aceh yang telah di kenal rakyat Indonesia. Enam orang Srikandi Aceh yang lain ialah Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien, Teungku Fakinah, Sultan wanita Ratu Shafiatuddin, Pocut Baren, Pocut Biheue, Laksamana Malahayati, Cutpo Fatimah. Sebenarnya masih banyak lagi pahlawan2 wanita yang lain yang belum kita ketahui jejak perjuangannya, tapi karena tidak ada yang mau menonjolkannya sehingga tak dikenal orang. Mudah2an dimasa mendatang akan mulcul ahli2 sejarah yang memperkenalkan perjuangan para pahlawan wanita dinegara kita/.

Perjuangan Cut Meutia  didampingi para pahlawan yang gagah perkasa,  seperti Pang Lubok, Tgk Seupot Mata, Tgk Di Barat, Tgk Saleh, Seorang pengarang bangsa Belanda bernama Paul Van’t Veer, ketika menulis pertempuran2 dibagian Aceh Utara ini, menjelaskan: “Di pantai utara Aceh orang menyangka, bahwa kira-kira tahun 1905 keadaan pemulihan keamanan sudah begitu jauh sehingga sebuah batalyon infanteri dapat dikembalikan ke Jawa. Beberapa buah-tempat pengawalan telah dihapuskan juga.

Benarkah, bahwa disebabkan hal itu perlawanan  tiba-tiba berkecamuk kembali?. Tidak/. Ada sebab-sebab yang lain lagi. Para Ulama meramalkan, bahwa, tahun 1908 merupakan tahun kemenangan: Pengganti Van Heuts  sebagai Gubernur Aceh,y.i. kolonel Van Daalen, telah membuat kesalahan-kesalahan dalam menjalankan kebijaksanaan pemerintahan sehingga menyakiti hati kebanyakan Uleebalang di Aceh seperti yang diramalkan oleh Snouck Hurgronye. Mengenai hal ini akan saya bicarakan lagi.

Perang Rusia-Jepang turut juga berpengaruh. Keunggulan Jepang dianggap kemenangan ‘Asia’ terhadap’ ‘Eropah. la bergema dalam berbagai-bagai nada keseluruh Asia. Di Jawa, timbul pergerakan-pergerakan kebangsaan yang pertama. Aceh tentulah mempunyai tafsirannya sendiri pula,y.i memperhebat aksi-aksi gerilya. Di sekitar Lhokseumawe dan Lhok Sukonsejak dari gunung sampai kelaut dengan keadaan medannya yang silih berganti itu, terdapat pemimpin-pemimpin perjuangan terkenal seperti Teungku di Mata Ie, Teungku di Barat dan Pang Nanggroe. Dua orang yang disebut pertama itu disanjung oleh rakyat sebagai orang-orang keramat. Seperti halnya dengan Teungku-teungku di Tiro yang terkenal itu, para komandan tentara Belanda itu tidak pernah berhasil memperoleh berita dari mata-mata mereka, mengenai tempat-tempat persembunyian tokoh-tokoh tersebut. Teungku di Mata Ie memperoleh luka-luka pada tahun 1913 lalu menghilang; orang menyangka bahwa ia telah meninggal.

Akan tetapi empat tahun kemudian secara kebetulan ia ditemukan digunung-gunung pada sebuah ladang yang telah ditinggalkan dan ditembak mati. Sewaktu mayatnya ditunjukkan kepada orang-orang Aceh, maka serta merta mereka itu merebahkan diri ketanah —demikian  menurut keterangan orang-orang Belanda yang menyaksikan hal itu — dan berseru “Teungku, janganlah Teungku marah. Kami tidak bersalah dalam hal ini’.

Tokoh pejuang terakhir dalam kelompoknya itu telah mengembara sampai tahun 1937. Teungku di Barat aktif sampai tahun 1913, Sedang tokoh-tokoh Pang Nanggroe sampai tahun 1910″(231) Seperti ternyata dari namanya yang tidak bergelar itu, Pang Nanggroe bukanlah seorang Ulama atau Uleebalang, akan tetapi hanya seorang penduduk kampung ‘biasa’ atau petani yang memimpin sebuah kelompok perlawanan. Kedudukannya sebagai seorang panglima terkemuka dalam daerah Keureutoe baru di akui orang pada tahun 1905 sewaktu ia mengawini janda seorang Uleebalang yang telah di hukum mati, sebagai se­orang pemimpin perlawanan”, demikian Buku De Atjeh Oorlog yang telah diterjemahkan (4.

Cut Meutia bersuamikan Teuku Cut Muhammad, yang lebih dikenal rakyat dengan gelar Teuku Chik Tunong. Teuku Chik Tunong merupakan Uleeibalang negeri Keureutou atas yang diangkat oleh Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah.                       Sebagaimana kita ketahui, bahwa setelah Aceh Tiga Sagi (Aceh Besar) tidak dapat dipertahankan lagi, maka Sultan Muhammad Daud memindahkan front pertahanannya ke daerah Pidie, yaitu di Keumala Dalam. “Dalam” berarti tempat kediaman Sultan, dimana istana (keraton) juga terletak disana. Karena mempertimbangkan situasi yang semakin kacau, Sultan berpindah lagi ke daerah Samalanga. Kemudian ke Peusangan, Gedong dan akhirnya sampailah ke Keureutou, yang merupakan daerah dimana Cut Meutia dan suaminya Teuku Cut Muhammad di lahirkan.

Politik memecah belah yang istilah populernya de vide et impera merupakan akal licik Belanda yang selalu di jalankan dimana saja, termasuk di daerah Keureutou ini. Terhadap pengangkatan Teungku Cut Muhammad sebagai Uleeibalang Keureutoe oleh Sultan Aceh, pihak Belanda mengangkat lagi Uleeibalang tandingan bagi negeri Keureutou juga, yaitu mengangkat Teuku Syam Syarief, yang bergelar Teuku Chik Baroh. Akal burik pihak Belanda ini ternyata tidak berhasil, karena semua rakyat Keureutou lebih menyukai kepada Teuku Chik Tunong, yang suami Cut Meutia itu. Bertahun tahun Cut Meutia bersama suami dan pengikutnya bergerilya menentang Belanda.

Banyak serdadu Belanda baik brigade Marsose ataupun tentara bayarannya yang jadi korban akibat serangan2 yang dilancarkan oleh pasukan Cut Meutia dan suaminya. Gara-gara peristiwa Meurandeh Paya, maka pada tahun 1905 Teuku Cut Muhammad alias Teunku Chik Tunong pun ditangkap oleh serdadu Belanda. Setelah ditahan 20 hari, maka pada tanggal 25 Maret 1905, Teuku Cut Muhammad dihukum tembak dan beliaupun syahid. Pada mulanya pihak Belanda mau menjatuhkan hukuman gantung terhadap Uleeibalang Keureutou ini. Tapi karena takut gugutan hukum internasional dan juga sorotan pers internasional, maka oleh Van Daalen, yang memegang pimpinan armada tentera Belanda diputuskan dengan hukuman tembak dua belas pelor.

Pada masa yang sama pula, Cut Meutia baru selesai dari bersalin, Anak yang lahir itupun meninggal. Dua peristiwa pahit sekaligus dialami oleh Cut Meutia. Akibat tekanan batin yang begitu berat, menyebabkan pribadi Cut Meutia sangat menderita, apalagi baru lepas bersalin, maka beliaupun diserang penyakit lumpuh. Sebagai pengganti pimpinan dari pasukan gerilya untuk sementara dipegang oleh Pang Nanggrou. Setelah sembuh seperti semula, barulah beliau mengambil alih pucuk pimpinan gerilya. Demi melanjutkan perjuangan, atas persetujuan kedua belah pihak Cut Meutia dan Pang Nanggrou dinikahkan jadi suami isteri.

Pertempuran terus berlangsung dan bahkan lebih hebat lagi, karena semakin banyak rakyat Keureutou yang membantu barisan Cut Meutia. Oleh pihak Belanda, pribadi Pang Nanggrou dijuluki dengan gelaran “Watergeus”. Watergeus adalah nama barisan berani mati di negeri Belanda yang mengakiri penjajahan Spayol di negeri tersebut. Akhirnya watergeus yang ditakuti pasukan Marsose, karena keberanian yang banyak taktik tipudaya, pada tanggal 26 September 1910 terkepung oleh tentera Belanda dibawah pimpinan sersan Van Slooten. Pada hari tersebut banyak anggota2 pasukan gerilya yang gugur sebagai pahlawan termasuk Pang Nanggrou.

Sepeninggal suaminya, tinggallah Cut Meutia sebagai pemimpin dari lasykarnya. Anak satu-satunya dari Cut Meutia yaitu Teuku Raja Sabi turut dibawa kemana beliau mengembara dihutan rimba. Sebulan kemudian dari gugurnya Pang Nanggrou, Cut Meutia juga syahid menemui Ilahy, setelah berjuang selama bertahun-tahun menentang penjajah yang mau menghancurkan kemerdekaan dari agama Islam yang dipeluknya dan negerinya. Beliau syahid pada tanggal 25 Oktober 1910, akibat tiga pelor yang ditembakkan oleh serdadu Marsose yang dipimpin Sersan W.J. Mosselman. Satu pelor terkena di kepala dan dua pelor lagi bersarang di badan beliau. Beliau gugur sebagai pahlawan agama dan bangsa!.

( Catatan kemudian:  Artikel ini dengan  beberapa perubahan, pernah dimuat dalam Harian WASPADA, Medan,  Jum’at,  24 Oktober 1980 pada rubrik  HALAMAN POPULER atau halaman III. Bale Tambeh, Jum’at, 28 Oktober 2011, poh 11.53 AM, T.A. Sakti ).

 

Iklan

2 pemikiran pada “Mengenang 101 Tahun Cut Meutia

  1. Assalamualaikum Wr Wb
    Jadilah orang pintar dan berakal biar tidak tertipu atau di bodohi, tp banyak orang2 yg pintar ga mau pulang kekampung halamanya lagi. lebih di sayangkan lagi universitas yg ada di aceh tidak memiliki atau belum ada jurusan yang seharusnya ada; teknik Terapan misal ; teknik kimia makan dan analisa, Teknik logam (metalurgi), Teknik tambang juga MIGAS, teknik Elektronika, Teknik mesin.
    jadi akan tetap di “BODOHI” selamanya…. Ma’af kalau terlalu kasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s