Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IX

Ketika Sembilan Tahun Sebagai Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2018

Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IX

HARI INI – adalah hari ke empat Lebaran atau tanggal 4 Syawal 1439 H. Kota-kota di Indonesia terasa sunyi-sepi, karena sebagian besar penduduknya pulang ke kampung halaman untuk merayakan Hari Raya ‘Idul Fitri bersama keluarga di kampungnya masing-masing. Saya bersama keluarga juga pulang kampung untuk menikmati suasana Hari Raya bersama sanak-famili. Sekitar jam 8.15 pagi tadi kami balik ke perantauan di Banda Aceh. Kami mampir ke Mesjid Nurul Huda di kampung untuk melepaskan nazar dengan sembahyang Hajat dua rakaat serta mampir lagi ke tabib urut di Bluek Ule Birah, Caleue. Menjelang maghrib di hari raya pertama, seorang keluarga saya mengalami cedera di tumit akibat terpeleset saat berlebaran ke rumah syeedara.
Sejak beranjak pergi, sepanjang jalan sampai ke kota Beureunuen, jalan masih sepi dari kenderaan lalu-lalang. Sampai Grong-Grong dan Keude Padang Tiji pun suasana jalan belum begitu ramai. Ini lebih disebabkan turun hujan di bagian pagi sekitar jam 7 lebih. Jadi, orang pun menunda persiapan berangkat mereka. Keadaan mulai ramai di sepanjang jalan pergunungan Seulawah. Kenderaan berjalan tidak mulus, lantaran banyak mobil dan sepeda motor (Aceh: Honda) bergerak dua arah, yaitu dari Sigli ke Banda Aceh dan sebaliknya.Terlihat, mulai dari Kota Bakti, Beureunuen, Grong-Grong, Padang Tiji, Saree, Seulimuem, Lam Baro dan kota Banda Aceh hampir seluruh kedai, warung, dan toko semua tutup. Akibatnya, kami kesulitan mencari warung nasi( rumah makan). Menjelang jam dua siang, barulah kami sekeluarga tiba di rumah.( jam 22.40 wib…. bersambung besok)

Kehadiran saya pada suatu undangan keurija di sekitar Stadion Lhong Raya, Banda Aceh banyak mempengaruhi gerak saya dalam kegiatan pelestarian sastra Aceh tahun 2017 – 2018. Sewaktu pulang dari acara pesta perkawinan staf pengajar UIN Ar-Raniry itu, beberapa puluh meter dari tempat acara saya melihat sebuah kantor mungil yang menjumpakan kembali saya dengan sebuah media yang sudah lama saya mencarinya setelah pindah dari sebuah jalan di sekitaran Simpang Surabaya, Banda Aceh. Sejak berdiri di kota ini tahun 2005, saya telah ikut mengisi media ini dengan tiga judul hikayat hasil alih aksara. Itulah Kantor Harian Rakyat Aceh. Saat itu, Redaktur Budaya Harian Rakyat Aceh adalah Asnawi Kumar. Ketika pemuatan tiga judul hikayat itulah, saya menyaksikan Asnawi Kumar sebagai seorang budayawan Aceh sejati. Selang 2 – 3 hari kemudian – setelah mengedit sebuah hikayat – saya pun pergi lagi ke kantor media itu. Saya menjumpai pemimpin Redaksi guna menyampaikan hasrat saya memuat hikayat dalam koran itu. Gayung pun bersambut, maka mulai Sabtu, 5 Agustus 2017 dimuatlah Hikayat MoU Helsinki dalam Harian Rakyat Aceh.
Setelah pemuatan hikayat itu, bangkitlah semangat saya untuk menyalin atau alih aksara sebuah hikayat dari huruf Jawi ke aksara Latin. Judulnya Hikayat Akhbarun Na’im yang lebih populer di kalangan masyarakat Aceh Besar dengan sebutan Nazam Teungku di Cucum. Fotokopi nazam ini adalah kiriman hadiah dari Pak Jamal, Rumoh Teungoh, kecamatan Beutong, Nagan Raya. Sudah lebih setahun saya miliki dan baca Nazam ini, tetapi belum sanggup menggerakkan batin dan fisik saya untuk menyalinnya ke huruf Latin. Penyebab enggannya saya melakukan penyalinan cukup banyak, antara lain karena tebalnya kitab nazam ini sampai tiga jilid dengan jumlah lembaran lebih 400 halaman. Akibat pemuatan Hikayat MoU Helsinki dalam Harian Rakyat Aceh, saya pun tergerak mengalih aksarakan Nazam Teungku Di Cucum. Pada hari Senin, 21 Beurapet 1438 atau 21 Zulkaidah 1438 H bersamaan 14 Agustus 2017 M pukul 6.32 pagi, mulailah saya menyalinnya.
Kegiatan menyalin boleh dikatakan normal, disela-sela kegiatan mengajar/memberi kuliah yang padat, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu. Setiap hari mengasuh dua lokal, disamping sidang Sarjana, seminar proposal dan rapat yang kadang-kadang berlangsung pada hari Senin. Walaupun lamban, ternyata pada malam Uroe Raya Haji (malam ‘Idul Adha) 10 Zulhijjah 1438 atau 31 Agustus 2017 pukul 20.15 wib., telah 51 halaman asli nazam telah selesai tersalinkan. Pernah pula saya berhenti menyalin lebih sebulan setelah baris nazam “Bagoe taeu manok dileusong, jeuep gampong le nyang meuzina”. Sebagaimana telah saya sebutkan di atas, faktor kesibukan memberi kuliah yang membuat fisik saya lelah dan lemah menjadi alasan utama terhentinya penyalinan itu. Hal ini terlihat pada catatan tanggal 13 Nopember 2017 pukul 14.35 wib., lalu pada 15 Nopember 2017 saya dirawat di UGD Rumah Sakit Pangeran Nayef, Unsyiah karena kekurangan gula darah.
Satu dorongan terkuat untuk menyalin nazam Teungku di Cucum muncul kemudian. Suatu sore saya telepon Pak Jamai. Lewat pembicaraan itu tersentuh mengenai Khanduri Thon di Rumoh Teungoh pada 17 Jumadil Akhir tahun 1439 H yang tinggal dua bulan lagi. Sejak sore itu, semangat saya timbul berkobar-kobar untuk menyelesaikan penyalinan terutama jilid pertama nazam itu. Bayangan pikiran saya begini, fotokopi nazam Teungku Di Cucum saya terima dari Pak Jamai Rumoh Teungoh, maka alangkah ‘meusigaknya’ kalau saya sempat membawa hasil alih aksara kitab itu sebagai “bungong jaroe” khaduri thon yang akan saya hadiri. Sempena tujuan itu, bergiatlah saya menyalinnya siang-malam. Setiap saat ada luang waktu selalu saya gunakan untuk menyalinnya. Ketika itu kaki kiri saya sering kebas-kebas kalau lebih setengah jam duduk di kursi. Oleh karenanya, saya berkejar-kejaran waktu dengan sakit kebasan itu; misalnya dapat satu halaman ketikan (8 bait syair)…syukurlah…lalu berhenti.

Dengan cara kerja ‘gerilya’ demikian, maka pada Sabtu, 25 Adoe Molod 1439 atau 25 Rabiul Akhir 1439 H bertepatan 13 Januari 2018 M pukul 11.15 wib., selesailah saya salin jilid I Nazam Teungku di Cucum dengan hasil huruf Latin setebal 147 halaman dari 199 lembar naskah asli huruf Arab Melayu atau Jawi alias Jawoe. Sebenarnya penyalinan kitab ini belumlah tuntas, karena masih ada 170 kata/tempat yang belum dapat saya baca. Karena itu saya harus beberapa kali menjumpai dua orang pembaca nazam, yaitu Pak Mukim Abdurrahman dan Let Markam Hasan. Upaya saya menjumpai Pak Mukim Abdurrahman yang tinggal di Lamceu dekat Keude Lam Ateuk tidaklah membawa hasil memuaskan, karena keadaan beliau sedang sakit mata. Sementara ke rumah Let Markam Hasan juga kurang berhasil, lantaran beliau sudah uzur berusia 91 tahun. Namun, berkat bantuan ‘semangat’ kedua beliau dan daya olah saya sendiri, akhirnya selesai juga perbaikan itu. Usaha alih aksara jilid II yang lembaran huruf Jawi-nya 200 halaman, sampai hari ini belum lagi saya utak-atik.
Kunjungan saya yang lebih satu kali ke rumah kedua pembaca nazam itu mendatangkan rasa iba dalam batin saya. Akibatnya timbullah ide untuk membuat liputan media tentang profil mereka. Tiga orang wartawan, masing-masing Dani Randi dari Harian Waspada, Medan, wartawan internet Fahzi dari Kanal Aceh dan Tagarid online serta Syahril dari Kompastv Aceh saya ajak membuat liputan. Berkelilinglah kami-disertai Teuku Zulkhairi, seorang kolumnis muda- dengan dua mobil selama lima jam pada hari Sabtu, 17 Februari 2018. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah rumah Teungku Ismail alias Cut ‘E di gampong Tanjung Dayah, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Atas undangan masyarakat beliau telah membaca nadham Teungku di Cucum selama 45 tahun. Sepulang dari sana kami menuju gampong Cucum. Bersama Keuchik gampong Cucum, Fauzan; kami berziarah ke kubur/makam Teungku di Cucum yang bernama asli Syekh Abdussamad. Beliau adalah pengarang nazam Teungku di Cucum atau Hikayat Akhbarun Na’im. Selesai di Cucum kami menjumpai Pak Mukim Abdurrahman di Lamceu, kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Beliau telah membaca nazam itu selama 20 tahun. Keluar dari Lamceu, kami berangkat ke Meunasah Intan, Lam Ujong-Ulee Kareng ke rumah Let Markam Hasan. Beliau banyak menyalin nazam Teungku di Cucum, baik dalam huruf Jawi maupun ke dalam huruf Latin. Ayahnya Keuchik Hasan Lam Ujong juga seorang pembaca nazam. Sewaktu kami jumpai Let Markam Hasan telah uzur berumur 91 tahun, dan pada Jum’at, 5 April 2018 telah berpulang ke Rahmatullah. Semoga arwah Allah Yarham mendapat rahmat dari Allah Swt selamanya, Aminn!.
Hasil liputan itu telah dimuat dalam Harian Waspada, Medan, MEDIA NAD, Banda Aceh dan beberapa situs internet. Alhamdulillah, berkat liputan tersebut-sekarang jika kita klick nazam Aceh di internet, maka muncullah beberapa ulasan mengenai nazam Aceh yang nyaris punah itu. Dan bila kita cari liputan berita mengenai nazam Aceh, maka tinggal kita tulis dan sentuh: nazam Aceh.kompastv.

Perhatian terhadap nasib kehidupan ke tiga pembaca nazam Teungku di Cucum masih bangkit pula. Saya memang tidak mampu memberi materi, cuma sekedar menumpah perhatian untuk menggugah pihak lain, terutama Pemerintah Aceh Besar. Berhasil tidaknya upaya saya terserah kepada Tuhan. Ketika diundang masyarakat untuk membaca nazam, masing-masing beliau memang telah diberi semacam ‘sedekah’, yang kadang-kadang sesuai janji. Tetapi pengabdian mereka tidaklah semata mencari materi, namun lebih besar dari itu. Ketiga merekalah yang menjadi benteng terakhir bagi tradisi ‘bernazam’ di Aceh yang telah berlangsung berbilang abad.
Bentuk penghormatan saya kepada ketiga pembaca nazam tersebut adalah mengusulkan mereka kepada Panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII agar diberikan penghargaan. Akan tetapi saat seleksi para calon penerima ‘anugerah budaya” PKA VII sudah berakhir dalam tahun 2017, meski acara PKA VII baru digelar bulan Agustus 2018 yang akan datang. Karena itu saya mencari dukungan dari beberapa tokoh Aceh dan lembaga terkait. Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, MA , Guru Besar UIN-Ar Raniry, adalah tokoh Aceh pertama yang saya jumpai. Lalu, Drs. Muhammad Muis, M.Si, Kepala Balai Bahasa Aceh, Banda Aceh, terus bertemu Prof. Dr. Farid Wajdi, MA, Rektor UIN Ar-Raniry di kantor beliau, kemudian saya antarkan surat usulan kepada Panitia PKA VII, dan terakhir saya melangkah ke Kantor DPRA untuk menemui Tgk. Musannif, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Sebenarnya, saya punya niat juga bertandang ke Kantor Bupati Aceh Besar untuk bertemu Bupati Aceh Besar Ir. Mawardi Ali, namun batal. Bila turut saya kisahkan lika-liku menjumpai para tokoh Aceh itu,- bagi saya yang kemana-mana mesti bertongkat serta dipapah orang lain; saya takut ulasannya kepanjangan!. Pokoknya, kepada Bapak-bapak yang telah saya jumpai itu saya jelaskan, betapa patutnya diberikan penghormatan atau penghargaan Pemerintah Aceh dalam bentuk anugerah budaya PKA VII kepada ketiga seniman Aceh itu ( Let Markam Hasan –alm, Pak Mukim Abdurrahman, dan Tgk. Ismail alias Cut ‘E). Dalam amplop besar yang saya serahkan kepada Bapak-bapak – yang diharapkan mau mendukung usul saya- yaitu fotokopi surat untuk Kepala Dinas Kebudayaan Aceh/Panitia PKA VII, koran Waspada dan MEDIA NAD yang menjelaskan profil ketiga pembaca nazam dan hasil alih aksara jilid I Nazam Teungku di Cucum (kecuali Prof.DR. Hasbi Amiruddin, karena salinannya belum siap saat itu). Tujuan saya hadiahkan salinan  huruf Latin nazam tersebut, agar dapat dipahami betapa perlunya kitab nazam itu diselamatkan atau dilestarikan sebagai sumber nasehat keislaman bagi masyarakat Aceh, khususnya buat warga Aceh Besar yang telah membudayakannya selama ini. Saya berharap, Pemerintah Aceh Besar,para Ulama Aceh Besar, Dayah-Dayah di Aceh Besar,para politikus asal Aceh Besar, komunitas mahasiswa Aceh Besar, komunitas sosial-budaya Aceh Besar, lembaga adat dan kebudayan Aceh Besar dan orang-orang Aceh Besar mau berjibaku mempertahankan budaya ‘bernazam’ di Aceh Besar!!!.

Bale Tambeh, 18 Juni 2018
4 Syawal 1439

Pawang Blog Tambeh-Bek Tuwo Budaya,

T.A. Sakti

Iklan

Nazam Le Ragam- Sambungan Hikayat Bahsa Jawoe, Karya Syekh Muhammad Ibnu Abbas, Krueng Kale (Cuplikan II)

Beuta ingat ajaran lon nyoe wahe adoe
Bek meunyeusai dum geutanyoe uroe dudoe
Lon peingat nyoe hana meuri hana meusoe
‘Ohka nyangnyo aneuk Iseulam beurangkasoe

Hana meuhat inong agam beurangkari
Roh aneuk gob roh aneuk droe roh isteuri
Got nanggroe gob got nanggroe droe nyangna bahgi
Sit jipateh nyang na jiikot Allah ngon Nabi

Bahkeu ‘ohnan jinoe siat nyang khaba nyoe
Nyangpo surat tango hai sahbat lon kheun jinoe
Sinyak Ti Hamamah di Krueng Kale nanggroe Abu
Di Lhee Mukim nanggroe Pineung gampong Ibu

Teungku Haji Idrih ayahndanya beutaturi
Droenyan nyan hepo cuco Teungku di Krueng Kale
Tinggai aneuk bak syeedara di Krueng Kale
Droe nyan ka syahid masa awai phon Prang Kaphe

Duek seukarang teutap jinoe Binasah Baro
‘Oh riwang di Pidie yoh masa plueng dilee talo
Alhamdulillah beuek roh jinoe dalam ta’at
Beule do’a dumna gata wahe sahbat

Nyang seumurat hanlon peugah wahe rakan
Kareuna ulon sangat hina dalam kawan
Akai lon jeuheut ‘Ileumei hana areuta lontan
Di dalam donya thatkeu hina nibak rakan

Lon duek lon dong hana teutab dawok bimbang
Sabab agama keumeung runtoh that leupah sayang
Deungon iradat Ilahonhaq nyang that ghani
Neu peurohlon bak peurusah buet Prang Sabi

Harap tawakkai lon keu Allah simata2
Neubri raseuki bak teumpat nyang hana kamoe sangka
Wa sallalahu ‘ala Muhammad tabri rahmat keu Saidina
Lompi neubri dumkeu sahbat keu ali Muhammad
BEUSAMPOREUNA

……………………………………….
…………………………………………..
…………………………………………….

Wayang tan le di Nabi, saleumle neubri dum insan
Seumbahyang lanjut neupubuet, khutubah neubeuet pendekkan
Ureueng mulia nyang banyak, Nabi meujinak jinakkan
Seunda dan wayang di Nabi, ngon nisa shabi meujan2

Tanna neu pubuet dan marit, malenkan nyang bit yue Tuhan
Sifeuet that damoh dum jroh2, tansoe ek teuoh dan simpan
Lahe dan baten dumpeue seb, di sreb di meugreb meunan tan
Wahe dum kawom nyang umat, proetan Muhammad dumpeue tan

Tan langet bumoe dan asoe, sabab tan siidroe janjongan
Wajeb geutanyoe ta t’akdhim, nabi nyang salim sitbek han
Sudahlah tamat Tuhan bri, Maulod di Nabi janjongan
Alhamdulillah lon pujoe, Tuhanku sidroe bri simpan

Pujoe lon awai dan akhe, baten dan lahe beurangjan
Amin ya Allah ya Rahman, Amin ya Mannan ya salam
Amin ya Rabbi ya qarib, Amin ya mujib ya sallam
Allah ya Rabbi ya ghani, rahmat beuta bri dan sallam

Ateueh panghulee dum umat, Nabi Muhammad nyang nur klam?
Panghulee donya akhirat, panghulee ‘Arab dan ‘ajam
Panghulee insan deungon jen, panghulee laen dum ‘alam
Ulon teumohon takabui, beureukat Rasul zulkiram

Ulon teumaksiet dan bangsat, neubri lon taubat beudeundam
Ulon teujahe dan ghafe, tabri ‘ileumei nyang tajam
Makrifat kureueng that singkat, neubri laot zat meunyelam
Ulonteu lam bahya dan mara, tabri sijahtra nyang dawam

Tataufiek bak buet dan narit, ta taufiek lom niet nyang hilam
Hingga peue nyang jroh tiep2 syoi, neubri jeuep uroe dan malam
Beureukat wali dum Nabi, Rasul dan niniku Adam
Beureukat Makah dan Ka’bah, beureukat mathaf dan makam

Beureukat rukon hijir Syam, ‘Irak dan Yaman multazam
Beureukat mizan dan hijir, beureukat neubri nyang hitam
Beureuakt pinto Ka’bah meueh, beureukat ateueh dan malam
Beureukat neubri nyang mirah, didalam Ka’bah tan macam

Harah Qur’an bungong dum, indah jroh han(ban) hu lamklam
Beureukat kubah geudong jeum, beureukat nyanlom Mon Zamzam
Beureukat do’a peuet Imum, beureukat Syiyah dum haram
Beureukat shafa dan mareuwah, beureukat babah Babussalam

Beureukat mina dan jameurah, muzzalifah dom Adam
Beureukat tanoh di ‘Arafah, mat’arullahil haram?
Beureukat nanggroe Madinah, ta’at neutamah lon deundam
Deesya lon awai dan akhe, baten dan lahe bri peujam

Untong lon neubri beusafi, syuruga tinggi dan makam
Neubri zat gata lon asyek, hingga lon tilek beukaram
Amin ya Allah ka sudah, rahmat neu limpah lam’alam
Silama kamoe nyo hamba, silama gata Po ‘alam

Amin ya Rabbal ‘alamin, kabul mukmin do’a tam
Po ngon surat lon seubut, mangat neu tupat meung uram
Adat jampang meujakhut, rijang geutupat ‘ohka pham
Nanggroe Gampong Krueng Kale, deukat deungon gle Blang Karam

Bak ulee jalan sikaphe, nyankeu Krueng Kale beuta pham
Binasah Baro ka meuhat, nyankeu teumpat dan makam
Bahkeu dumnan lon peugah, pureh jok patah tan kalam
Daweuet pon habeh ka sudah, hate lon sosah that deundam

Panyot pikalen dah habeh, hate lon peudeh tan macam
Malam kajula lon leuteh, ‘oh hampe mureh baro tam
Nyang seumurat he Polem, lagee kheu Nadham lon reukam
Katibuhu rajulun balid Muhammadu sa’idanul Krueng Kale albaladu
Ibnu ‘Abbas ‘alamu Abuhu.

Rabbighfirli waliwa lidaiya Rabbigh hamhuma kama Rabbayani shaghira
Ya Tuhanku tabri rahmat keu nangmbah, kalheueh payah neupadoli

Kalheueh payah neu peulahra lon, deesya neu ampon wahe ya Rabbi
Amin ya Rabbal ‘alamin, kabui mukmin akbal? do’aii

Washallallahu ‘ala khairi khalqihi, Muhammadin wa ‘ala alihi
Washahbihi ajma’in birahmatika ya Arhamar rahimin
Aminn tm

…………………………………….
……………………………………………..
………………………………………………………………….

Catatan Penutup dari Penyalin dan Alih Aksara
Alhamdulillah, hari ini Sabtu, 24 Ramadhan 1439 H bersamaan 9 Juni 2018 M pukul 11.33 wib., selesailah saya salin” Kitab Nazam Le Ragam” karangan Syekh Muhammad Ibnu Abbas. Beliau adalah salah seorang keturunan dari ulama pertama negeri Krueng Kale,yang disebut-sebut berasal dari Baghdad yaitu Syekh Musannif. Mengenai generasi keberapa dari ulama pertama asal Baghdad itu, sampai hari ini belumlah kita ketahui secara pasti. Menurut pemahaman saya, Syekh Muhammad Ibnu Abbas adalah hidup saat Kerajaan Aceh Darussalam belum diperangi bangsa Belanda. Sementara naskah nazam ini merupakan naskah salinan (bukan asli) milik Sinyak Ti Hamamah yakni cicit dari Teungku di Krueng Kale (apakah Syekh Musannif atau Syekh Muhammad Ibnu Abbas?). Saya lebih cenderung kepada Syekh Muhammad Ibnu Abbas, karena suatu sumber menyebutkan bahwa Makam Syekh Musannif yang berada di Krueng Kale sekarang telah berusia sekitar 700 tahun. Ayah Sinyak Ti Hamamah bernama Haji Idris adalah cucu dari Teungku di Krueng Kale. Saat nazam ini disalin, Haji Idris telah syahid masa awal penyerbuan tentera Belanda.
Semula naskah nazam karangan Syekh Muhammad Ibnu Abbas merupakan copi film milik dr. Nabil Berry yang difoto di Pustaka Nasional Jakarta. Sewaktu dr. Nabil ke Bale Tambeh(di depan rumah saya), kami belajar membaca naskah tersebut. Hasil bacaan itu, kemudian diposting/publikasi dr Nabil Berry pada 28 Juli 2017dengan judul “Bacaan Manuskrip Kuno Aceh Bersajak oleh T.A. Sakti”. Setelah dikirim lewat email, saya pun mulai mempelajari secara serius kitab lama Aceh itu. Naskah yang saya terima dari dr. Nabil tidaklah lengkap. Kitab ini tidak memiliki kata pengantar dari pengarang atau pun penutupnya. Isinya terdiri dari beberapa judul nazam, karena itulh saya memberi nama kitab Nazam ini dengan sebutan “Kitab Nazam Le Ragam”(Kitab nazam yang beragam isinya) Secara umum, sebagian besar isi naskah telah pernah saya baca/hafal atau dengar dalam berbagai kesempatan sejak saya masih kecil. Hanya saja, sejak dulu saya belum pernah tahu siapa penulis dari nazam-nazam yang beragam itu. Paling-paling para peminat atau para orangtua hanya menamakan semua nazam itu sebagai “karangan ulama jameun(karya ulama Aceh tempo dulu). Melalui naskah inilah buat pertamakali, saya mengetahui bahwa nazam-nazam itu karya Syekh Muhammad Ibnu Abbas asal Krueng Kale, Aceh Besar. Apalagi dengan adanya Hikayat Bahsa Jawoe sebagai karangan pembuka dalam naskah itu, maka penemuan ini merupakan kebahagian terbesar bagi saya, karena belum mengetahui sebelumnya bagaimana isi Hikayat Bahsa Jawoe. Memang saya telah membaca pembahasan mengenai Hikayat Bahasa Jawoe di berbagai sumber, tetapi pada kali inilah baru saya melihat sendiri “barang aslinya”, Alhamdulillah!.
Mengenai pendapat Drs. Nurdin AR M. Hum bahwa beliau di berbagai kesempatan selalu menyatakan Hikayat Bahsa Jawoe adalah karya Syekh Abbas Kuta Karang, memang juga saya pertimbangkan, karena kita sedang mencari kebenaran sejarah secara pasti. Saat sedang menulis “haba peunutop”Ini, memang sengaja saya menelepon beliau guna memperbincangkannya. Insya Allah, suatu saat nanti akan saya bawa naskah Pustaka Nasional Jakarta ini kehadapan Bapak Nurdin AR, sehingga semua akan terang-benderang.
Secara umum keadaan naskah 25 halaman bagian awal yang difoto cukup baik. Akan tetapi 7 halaman terakhir kurang terang. Buat menyalinnya saya pernah memakai dua alat pembantu penglihatan, yaitu kaca mata dan memegang kaca pembesar di tangan. Karena mengganggu konsentrasi,maka saya gunakan kaca pembesar saja. Alat yang membantu mata buat melihat ini merupakan hadiah Prof.Dr. Rusydi Ali Muhammad ketika beliau sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry. Kehadiran beliau ke rumah saya pada awal bulan Puasa ini, mengingatkan saya kembali kepada hadiah beliau itu, dan ternyata sangat membantu dalam menuntaskan kerja alih aksara saya.Sebagian besar isi Nazam Le Ragam ini tertulis dalam bahasa Aceh ( 98 %). Sisa yang amat sedikit tertulis dalam bahasa Melayu dan Arab, yaitu yang terkait soal sembahyang yang tidak akan diterima Tuhan dan do’a-do’a. Agar memudahkan bagi pembaca, saya juga menulis judul dan sub judul buat hasil alih aksara, seperti Hikayat Bahsa Jawoe, ‘Iktiqeuet Limong Ploh, Miekreuj Nabi, Makmum Teumanyong Bak Imum dan lain-lain. Dapat ditambahkan, bahwa Kisah Wasiet Nabi Keu Siti Fatimah tidaklah lengkap naskahnya, sehingga kita pun hilang kesempatan mengenal siapa penulisnya. Namun, karena diawal kisah ini tidak sedikit pun kita jumpai pengantarnya, maka saya pun tetap berpendapat bahwa bagian ini juga ditulis oleh pengarang yang sama, yaitu Syekh Muhammad Ibnu Abbas Krueng Kale.
Syukur Alhamdulillah, kerja alih aksara “Kitab Nazam Le Ragam” dapat selesai pada hari ini, Sabtu, 24 Ramadhan 1439 H. Besok, Ahad, 25 Ramadhan 1439 H adalah Hari Ulang Tahun ke 34 hari naas kecelakaan jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Hasil alih aksara ini merupakan “kado” kenangan buat peristiwa hebat itu. Di hari itu, Sabtu, 25 Ramadhan 1405 atau 15 Juni 1985 M , saya dan rombongan KKN Mahasiswa UGM sedang konvoi pulang menuju Kampus UGM, Yogyakarta. Saya, T. Abdullah Sulaiman, Bang Harsono, Kostawa, Joko Supriyanto dan seorang teman lagi ditempatkan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Ketika saya dan rombongan baru melewati Candi Prambanan, wilayah Kalasan, Kabupaten Klaten sekitar pukul 13.00 wib, tertabraklah saya oleh mobil yang mengangkut barang/Tivi. Akibatnya, saya bertahun-tahun harus berobat. Alhamdulillah, dengan kurnia Allah Swt saya masih hidup dengan bahagia bersama keluarga; sambil berkarya semampu anugerah yang diberikan Tuhan. Salah satu rahmat Allah pada hari ini adalah selesainya alih aksara Kitab Nazam karya seorang Ulama Krueng Kale, dan insya Allah besok luho pada Hari HUT ke 34 musibah dipokle muto (sesuai janji lewat sms- saat ini beliau sedang di Jakarta) sebuah salinan Kitab Nazam karya Ulama Krueng Kale akan saya hadiahkan kepada Tgk. Musannif-salah seorang keturunan Ulama Krueng Kale; bertempat di rumah beliau di Gampong Dayah Baro, Krueng Kale, Aceh Besar. Semoga dimasa-masa akan datang rahmat Tuhan semakin melimpah dicucurkan kepada kami sekeluarga oleh Yang Maha Kuasa; Allah Subhanahu Wata’ala, Aminn!.
*Catatan: Salinan huruf Jawi belum selesai karena berbagai hambatan!.

Bale Tambeh, 24 Puwasa 1439 H
24 Ramadhan 1439 H
atau 9 Juni 2018 M.
Pkl. 16.21 wib.

Penyalin Naskah Nazam,
T.A. Sakti

 

Hikayat Bahsa Jawoe – Karangan Ulama Krueng Kale ( I )

KARANGAN ULAMA KRUENG KALE: Syekh Muhammad bin Abbas
Mulai kamoe salen ngon alih aksara Karangan Ulama Krueng Kale nyoe, poh 3 seupot uroe Jum’at, 9 Puwasa 1439 atawa 9 Ramadhan 1439 H bertepatan 25 Mei 2018 M. Bunoe poh 10.50 ngon Bg Ih ulon jak kunjong u rumoh Bapak Ramli A.Dally (Budayawan Aceh) yang meninggal bak Senin, 21 Mei 2018. Semoga beulam ampunan Allah Swt!. Meunan cit, mudah-mudahan buet seumalen nyoe beurijang seuleusoe, Aminn!. Naskah asal Pustaka Nasional Jakarta, kiriman dr. Nabil Berry, Jakarta.Berikut cuplikan hasil alih aksara isi naskah:

Alih Aksara Oleh: T.A.Sakti dan T.Idham Khalid

‘Ajaeb Subhanallah, nyoe lon kisah bahsa Jawoe
Saboh padan ban atoran, lon boeh bangon ban meuduek adoe?
Bangon lagee sang hikayat, sanjak teupat ban ato droe
Teubiet pucok diujong bak,jroh that rampak bungong geutoe

Reumbang laku keunong sanjak, jeuet keugalak ureueng beuet Jawoe
Reumbang bangon keunong canek, beudoh reunek gule rampoe
Tabeue masen meungna reunek, bak nyum-nyum ek tamakeuen troe
Leumak santan mameh manisan, tapeulawan beurang kapeue

Meuseuki tapeh taboeh keunan, jan tamakeuen mameh hansoe
Meunankeu tamse ureueng keumarang, meunghan reumbang mitsoe pakoe
Keunong lagee reumbang padan, beurang kaban pi geupakoe
Bak ureueng ngeut lom ngon dungee, meunggot lagee ji meurunoe

Adat tatem beuta hafai, rijang takeunai Kitab Jawoe
Galak jipham Bahsa Aceh, makna sareh jiboeh keudroe
Meunggot matan gleh ngoh shurah, bukon ceudah aneukku nyoe
Amma bakdu dudoe nibak nyan, kheundak Tuhan bak uroe nyoe

Kulakee tulong ubak Allah, bahlon kisah Bahsa Jawoe
Lon puphon ngon nama Allah, ampon meu’ah deesya lon nyoe
Deesya ulon han teukhimat, sitimang brat langet bumoe
Bermula phon mengambil tatueng, telaga mon siang uroe

Jika beukit nyang juwa cit, bahwa bit-bit kemudian dudoe
Dahulu dilee minta lakee, dapat tateumei seorang sidroe
Tatkala yohnyan nyang itu nyan, yaitu nyang nyan ini nyang nyoe
Hilang gadoh membasuh tasrah, sentuh teupeh tangan jaroe

Lanjut jioh selesai habeh, hantar keubah liher takue
Maka teuma jikalau sangkira, kain ija pakai tangui
Besar raya kecil ubit, sedikit bacut kembali tawoe
Nyang banyak le …. arat picik ubit bak teumpat nyoe

Berdiri tadong berjalan tajak, duduk taduek sendiri sidroe
Tenang teudong hening jeureungeh, suatu saboh beurangkapeue
Lari taplueng berhenti piyoh, percahya pateh beurangkasoe
Lihat kalon kelihatan leumah, batal hansah beurangkapeue

Mengetahui tathee waktu watee, beroleh tateumei beurangkapeue
Hendak nafsu tanggung tame, kenal turi mengapa hanpeue
Masuk tamong keluar teubiet, kerja pubuet geunap uroe
Nyang ada na tiada tan, serta sajan beurangkasoe

Berbetulan teupat hadapan dinab, menjabat tamat beurangkapeue
Kanan unun belakang likot, lutut teuot gaki geutanyoe
Nyang kiri wie ruma bulee, rambut ulee oek geutanyoe
Telinga geuliyueng mulut babah, lisan lidah nyang dahi dhoe

Bawah diyub kepala ulee, tukal palee heran laloe
Datang teuka bangkit beudoh, menyapu sampoeh beurangkapeue
Segala dum sekalian bandum, cincin incien soek dijaroe
Tinggi manyang rendah miyub, nyang hampir rab ngon geutanyoe

Nyang jangan bek mehimpun sapat, makam teumpat duek geutanyoe
Menutup toep tiap2 jeuep2, hubung sambat beurangkapeue
Pake beungeh peutang seupot, nyang gugur srotle u bumoe
Apabila proehai demikian?, buni tasom daging asoe

Nyang sampai troeh lupa tuwo, cucur sibu ie tamanoe
Nyang apa peue berapa padum, nyang sungai krueng dalam nanggroe
Lindung padok sekali siblet, nyang jalan rot tajak keudroe
Nyang sangat that buang taboih, tinggal keubahle disinoe

Nyang baik jroh nyang jatuh rhot, setelah lheueh bak teumpat nyoe
Nyang pada bak kepada ubak, daripada nibak beurangkasoe

……………………
………………………..

Kemiskinan Aceh dan pesan endatu

Kemiskinan Aceh dan pesan endatu
Oleh: T.A. Sakti
Dewasa ini daerah Aceh berlabel sebagai salah satu daerah miskin di Indonesia. Banyak hasil survei menunjukkan demikian. Banyak faktor yang menyebabkan rakyat Aceh menjadi miskin. Salah satunya konflik politik yang berkepanjangan sebelum ditandatangani MOu Helsinki tahun 2005. Akibat konflik, berbagai segi kehidupan masyarakat Aceh menjadi hancur lebur. Selain konflik, sikap hidup dan perilaku kehidupan masyarakat juga amat berperan dalam melahirkan kemiskinan. Pada kesempatan ini, saya akan menyajikan sudut pandang budaya tentang kemiskinan Aceh, yaitu mengenai sikap dan perilaku manusia Aceh sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh – terutama tempo dulu – sejak kanak-kanak sudah mengenal sejumlah ungkapan yang terkait bidang perekonomian. Pernyataan sikap orang Aceh ini berlaku, baik dalam memproduksi materi / barang maupun dalam mengelola harta kekayaan.
Beberapa kata bahasa Aceh yang seutuhnya dirangkai kedalam hadih maja(peribahasa) itu antara lain: jeumot (rajin), beu-o (malas), beu-o siiet(amat malas), kriet (pelit), haloih(sangat hati-hati), himat (hemat), murah(suka memberi), rampuih(boros), heumpah-hampeh(royal). Secara kasat mata, dalam pengamalan perilaku-perilaku tersebut di ataslah yang menjadi modal dasar apakah seseorang atau sebuah keluarga akan menjadi kaya atau miskin dan berkehidupan sederhana. Faktor takdir Tuhan memang sudah terjalin ke dalamnya.
Dalam mengenali latar-belakang seseorang yang menjadi kaya, miskin atau atau bertaraf hidup sederhana, kita dapat melacak dari berbagai perilaku hidup yang dipraktekkan mereka. Seseorang yang sudah kaya misalnya, ternyata ia mengamalkan sikap hidup yang jeumot(rajin) dalam bekerja sehingga banyak menghasilkan uang atau harta. Di samping rajin ia pula memiliki sifat kriet atau haloih dalam hal pengeluaran uang yang telah diperolehnya. Akibatnya, hartanya semakin lama terus bertambah. Bagi yang hidup di kampung, setiap tahun mereka dapat membeli kebun atau sawah. Mereka yang tinggal di kota, perusahaan atau toko-ruko terus bertambah.
Dalam budaya Aceh, orang rajin (jeumot) memang diberi nilai positif. Gelar mereka awak phui tuleueng(orang bertulang ringan). Meunye keubuet jikap(jika bekerja amat gigih). Bak ureueng jeumot, on trieng jeuet keu peng (Bagi orang rajin, daun bambu kering pun bisa jadi uang). Ungkapan lain menyebutkan:”meunye tatem ta usaha, adak han kaya taduek seunang(jika mau berusaha, kalau pun tak kaya hidup senang). Meunyo hana tausaha, pane atra rhot dimanyang(jika tidak diusahakan, tak ada harta jatuh dari atas).
Di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya(Aceh), saya mendengar dari Abu Tabib Wen sebuah madah kehidupan ketika saya setahun berobat patah tulang kaki di sana dalam tahun 80-an(April 1986 s/d April 1987). Bunyinya:”Raseuki ngon tagagah, tuah ngon tamita. Tuah meubagi-bagi, raseuki meujeumba-jeumba! (Rezeki diperoleh dengan kerja keras, nasib mujur harus dicari. Nasib baik terbagi-bagi, rezeki kadar masing-masing menurut usaha).
Endatu (nenek moyang) orang Aceh juga meninggalkan amanat yang mendorong orang agar mecari harta kekayaan. Sebab, orang kaya lebih terhormat, lebih mulia dibandingkan orang miskin. Ureueng kaya mulia bak wareh, ureueng gasien meukuwien lam tapeh (orang kaya dimuliakan oleh saudaranya, orang miskin dibiarkan dalam sabut kelapa atau tak ada yang peduli). Hanya satu cara orang bisa menjadi kaya adalah bersifat rajin berusaha.
Salah satu hadih maja yang paling ekstrim dalam menghargai sifat rajin berbunyi: “Tukok jok tukok-u, nabuet na bu”(pelepah enau pelepah kelapa, baru dapat makan setelah bekerja). Sewaktu saya kecil, pepatah ini pernah dipraktekkan dengan penuh disiplin oleh sebuah keluarga yang sepanjang hidup mereka terus bergiat dalam bidang dagang. Setiap orang yang datang padanya, termasuk tamu anak-anak, wajib kerja terlebih dahulu sebelum mendapat sesuatu(terutama makan). Sewaktu saya dewasa sekarang, ternyata orang-orang yang menerima disiplin “Tukok jok tukok-u, nabuet na bu” dari saudagar tua itu, yaitu bekerja dalam pengawasan beliau ternyata semuanya menjadi orang-orang kaya. Mereka pun tetap menjalani sikap hidup yang penuh disiplin itu sampai sekarang.
Menyimak begitu positifnya penilaian terhadap perilaku rajin dalam budaya Aceh, kini kita bertanya-tanya, apakah yang sudah berubah?. Dewasa ini para pekerja asal Aceh dianggap ‘malas’ dan dipandang sebelah mata. Para pimpinan proyek (pimpro) lebih senang menerima para pekerja asal luar Aceh dibandingkan pekerja lokal. Akibat tindakan demikian pengangguran pun semakin banyak, maka bertambahlah angka kemiskinan di Aceh. Seharusnya hal ini perlu diberdayakan dan dipikirkan kembali oleh para elite Aceh. Toh karakter orang bisa diubah dengan ‘cemeti’ yang manusiawi!.
Bom waktu
Hidup bermalas-malasan juga dicerca dalam budaya Aceh. Bak sibeu-o uteuen luah, bak simalaih raya dawa!(Gara-gara si pemilik kebun malas membersihkan hutan pun semakin luas, kemalasan si pemalas selalu ditutupi dengan banyak alasan). Sebenarnya sifat malas itu selain hidup dalam pribadi seseorang, ia juga bisa berasal dari lingkungan dan kebijakan penguasa. Namun, walau dari mana sifat malas itu berasal, sikap hidup yang buruk itu tetap punya resiko akan memunculkan kemiskinan.
Sekarang, sikap hidup yang dapat mewarisi kemiskinan cukup merajalela di Aceh. Dengan kemajuan teknologi, berbagai alat elektronik yang menjadi bahan bersantai bagi kawula muda Aceh cukup tersedia dimana-mana. Siang-malam dapat kita saksikan anak-anak muda nongkrong berjam-jam di cafe-cafe atau warung kopi di kota-kota. Saat azan maghrib berkumandang pun, para pemuda Aceh masih berjubel di sana. Mushalla mini memang tersedia di cafe, namun yang sadar ibadat amat terbatas. Bagi yang bergadang malam, biasanya pada pagi besoknya mereka tidur pulas tanpa menghiraukan tugas-tugas mereka. Bagi para mahasiswa, tentu mereka tidak masuk kuliah, khususnya dua matakuliah bagian pagi. Kasihan orangtua sang mahasiswa yang tinggal nun jauh di kampung, yang tidak mengetahui kelakuan buruk anak-anak mereka saat kuliah di kota.
Inilah calon-calon generasi Aceh yang bakal menyambung periode kemiskinan Aceh di masa mendatang semakin panjang. Generasi beu-o siiet(amat malas) ini perlu dipangkas segera dengan kebijakan pihak berwenang.”Kaum muda Aceh inilah sebagai bom waktu bagi kehancuran generasi Aceh di masa depan!”, kata Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA Rektor UIN Ar-Raniry dalam sambutan upacara Wisuda, 21 Maret 2016 yang lalu di Aula Gedung A. Hasjmy, Darussalam, Banda Aceh. Saat mendengar ucapan itu, saya sendiri sebagai peserta Wisuda Magister dalam bidang studi Sejarah dan Tamaddun Islam.
Walaupun sifat kriet(pelit) dianggap rendah dalam kehidupan normal masyarakat Aceh, namun sikap hidup inilah yang biasa membawa seseorang atau sesebuah keluarga menjadi kaya. “Kriet culiep pade, soe nyang kriet rijang mate”(pelit ujung padi, siapa yang pelit cepat mati), begitu bunyi nyanyian anak-anak Aceh tempo dulu yang mengejek teman-teman sepermainannya yang pelit. Memang bukan mudah untuk menjadi orang kaya, walau setingkat kaya di kampung sekalipun. Seluruh anggota keluarga, mulai dari suami, isteri dan anak-anak harus bertanggung jawab dan turut menanggung derita secara bersama-sama.
Kesan utama yang paling nampak dalam keluarga ini adalah perilaku mereka yang rajin dalam setiap usaha yang menghasilkan uang dan harta benda. Keluarga ini juga amat rapat saringannya dalam mengeluarkan uang alias hemat. Demi menjadi kaya, ada orangtua yang tega mengurangi porsi makan bagi anak-anaknya, apalagi semisal uang jajan sekolah, tentu nyaris diabaikan. Kasihan dengan nasib anak-anak dari keluarga yang berperilaku pelit seperti ini. Anak-anak mereka menderita dan minder di sekolah, gara-gara orangtua yang kepingin cepat kaya. Sampai saat ini saya masih ingat, orang-orang yang kaya di kampung-kampung dan kecamatan-kecamatan di sekitar tempat saya. Kesemua orang kaya itu tetap dilabel sebagai orang pelit alias kriet lagee ek linot (pelit seperti sarang lebah kecil), atau kriet lagee ek linot lam bak Me(pelit seperti taik lebah kecil pada pohon asam Jawa) alias kriet meu’iet-‘iet(pelit, amat sukar keluar duit).
“Orang halus”
Perilaku yang lebih dekat dengan kriet (pelit) adalah haloih(amat berhati-hati). Sifat rajin juga dimiliki orang ini, namun ia amat hati-hati dalam membelanjakan uang yang telah diperolehnya. Kalau boleh, uang yang telah didapatnya sama sekali jangan keluar lagi dari kantongnya. Namun demikian dia tidak sebakhil (istilah Melayu: kedekut) orang pelit. Orang-orang yang berpermainan halus (haloih meuneu’en) ini juga merupakan calon orang kaya nantinya.
Dalam berkomunikasi lewat HP/telepon seluler di era canggih ini dengan mudah kita menjumpai contoh orang-orang yang berperilaku ‘orang halus’. Ia tetap melakukan ‘miscoll’ HP ketika memanggil teman. Akibatnya, teman dialah yang harus meneleponnya . Padahal isi pembicaraan lewat telepon genggam itu pendek-pendek saja, misalnya:”ooo…kana(ooo… sudah ada!), tapi begitulah perangai si “orang halus”, betul-betul menjengkelkan!.
Bagi orang pelit dan haloih bisa saja tidak mau menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi karena dianggap hanya menghambur-hamburkan duit saja. Setelah anaknya tahu tulis-baca, setamat SLTP(bagi orang pelit) atau SLTA(bagi si haloih) misalnya, maka kegiatan sekolah segera digantikan dengan usaha mencari uang atau mempraktekkan hidup.
Orang yang hidup bersikap himat(hemat) biasanya lebih sejahtera. Dia tetap membiayai pendidikan anak-anak mereka baik ke sekolah atau ke Dayah(pesantren). Mereka sekolahkan anak-anak mereka sampai setinggi-tingginya sesuai keinginan sang anak. Hanya saja, mereka terus menjalani sikap hermat-cermat dalam segenap lini kehidupan. Pepatah Melayu pun menyebutkan:” hemat pangkal kaya”. Biasanya, dalam keluarga inilah akan melahirkan generasi orang-orang berwibawa, sukses dan berjaya.
Orang-orang yang berperilaku murah (mudah memberi) memiliki kekhasan tersendiri. Mereka memang tidak kaya, tetapi dimuliakan dan punya banyak kawan di mana-mana. Pada umumnya, orang ini berusia lanjut, sebagai lawan dari orang pelit yang biasanya berumur singkat seperti disindir dalam nyanyian anak-anak, bahwa soe nyang kriet rijang mate(siapa yang pelit cepat mati). Kehidupan sang pemurah ini, sebenarnya disinari ajaran agama Islam yang mengajak pemeluknya agar berperilaku pemurah, jangan boros dan berlaku ‘pertengahan’(washathan) dalam setiap tindakan kehidupan. Dalam manuskrip Aceh seperti dalam kitab nazam dan tambeh serta hikayat Aceh, cukup banyak mewariskan pesan-pesan positif ini.

Sifat rampuih (boros) dan heumpah-hampeh (royal) adalah dua sikap hidup manusia yang amat merugikan. Boros atau mubazir bisa menyebabkan kekayaan lambat berkembang, sedangkan royal cenderung mengantarkan pelakunya ke jurang kemiskinan. Secara umum kedua perilaku buruk ini berupa sifat yang tidak mencintai harta yang dimiliki serta ‘membuang’ atau menghamburkan harta dengan seenaknya tanpa memikirkan akibat di belakang hari.
Kruuu seumangat!
Tempo dulu, sifat rampuih(boros) amat tercela dalam kehidupan sebuah keluarga dan bagi masyarakat Aceh. Sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan hidup secara prihatin, tidak boros. Kalau makan, dianjurkan Ibu agar nasi jangan bersisa di piring, harus dimakan habis. Bu beule-le, eungkot beucut-cut(nasi yang perlu banyak dimakan, sedangkan ikan yang kecil saja). Soe rayek pajoh eungkot meuglang(siapa banyak makan ikan akan cacingan), kata Mama yang disetujui sang Ayah. Akibat didikan sejak balita, sampai hari tua pun mereka tetap memelihara sikap hidup yang bersahaja. Kalau mencuci piring, dilakukan dengan hati-hati tidak membuat mangkuk- piring krang-kring bergesekan bahkan retak dan pecah. Lauk dan kuah yang lebih tidak dibiarkan sampai basi lalu dibuang, tetapi dipanaskan lagi hingga dapat digunakan pada waktu makan berikutnya . Saat membuang makanan basi, orang-orang tua tempo dulu secara khidmat mengucapkan:” kruu seumangaaat!!(kembalilah hai semangat), seolah mohon maaf kepada makanan basi yang dibuangnya. Di era sekarang, sifat berhemat seperti demikian sudah dimakan erosi zaman. Hidup secara rampuih (boros) sudah menjadi-jadi dan merajalela, akibat iklan dan tontonan di televisi yang tidak mencerahkan kehidupan. Sebenarnya, sekiranya ada kemauan; pihak penguasa dapat menapis dan menyaring perkembangan perilaku boros ini!.
Sifeut heumpah-hampeh (sifat royal) termasuk perangai paling buruk dalam hal pengelolaan harta kekayaan. Bagi seorang pedagang pemula, bila dia bersikap hidup royal tentu cepat puas dalam usahanya. Dengan segera ia kurang mampu memisahkan antara modal dengan keuntungan yang diperoleh. Akibatnya ia cepat berlagak sebagai ‘toke besar’ yang berhasil dalam penampilannya. Karenanya, ia berangsur bangkrut gara-gara sebagian modal sudah dipakai buat ‘membeli penampilan’ itu.
Heumpah-hampeh juga sering dilakukan oleh anak-anak yang menerima warisan dari orangtuanya. Dia menjadi kalang-kabut dan kebingungan dalam mengelola kekayaan warisan. Segala penat-lelah atau cucuran keringat dari orangtuanya ketika mengumpulkan harta itu segera terlupakan. Akibatnya, satu demi satu harta warisan dijualnya untuk memuaskan nafsu kemewahan hidupnya. Hal demikian semakin diperburuk, jika pendamping (istri atau suami) dan teman-teman sekelilingnya memang ikut mengincar kekayaan tersebut. Akhirnya, ia pun jatuh miskin. Itulah sebabnya, kekayaan seseorang jarang dapat diwariskan secara turun-temurun.
Dalam mengakhiri artikel ini, saya menghimbau Pemerintah Aceh agar terus bersungguh-sungguh membela petani di kampung-kampung seluruh Aceh. Mayoritas warga Aceh adalah petani, berarti rakyat Aceh yang miskin sekarang sebagian besar juga petani. Kehidupan petani amat terjepit sepanjang masa. Mereka tidak pernah lepas dari jerat “gali lobang tutup lobang”. Bila semua petani Aceh sudah makmur, maka barulah kemiskinan di Aceh sirna. Semoga para pemimpin Aceh yang dihasilkan Pilkada Serentak 2017, semuanya memiliki sifat keberpihakan kepada rakyat Aceh yang masih miskin, insya Allah!.

KISAH LHEE DROE ULAMA (Kisah Tiga Orang Ulama)-Cuplikan Nazam Teungku Di Cucum

10. KISAH LHEE DROE ULAMA

Nyoe tadeungo saboh Tambeh, beuta pateh dum teurata
Jameun dilee masa saboh roe, ulama lhee droe si syeedara

Aduen tuha ‘alem hansoe, geunap nanggroe gobnyan peutuwa
Adoe teunggoh kureueng bacut, han santeut ngon aduen tuha
Adoe teulot han that ‘alem, teutapi gobnyan war’ak that keu Ma
Teukeudirullah bak mubeuet-beuet, teupike bacut aduen tuha

Peujeuet taduek geutanyoe sinoe, geunap uroe sabe deesya
Nyanggot jinoe geutanyoe banlhee, lam guha batee tajak tapa
Keumah pakat nyokeu meunan, udeh kaman tajak tapa
Teuma geubeudoh sigo banlhee, lam guha batee geumeuseuninya

Pubuet ‘ibadat lam guha nyan, keu Tuhan Jalla wa ‘aza
Sinan sabe tan geuminah, teukeudi Allah teuka bala
Meugule batee nyang raya that, sare arat babah guha
Teubiet han jeuet ie han sapat, meuhoi Hadlarat aduen nyang tuha

Ya Ilahy wa Ya Rabbi, Tuhanku neubri ban lon pinta
Neubri reunggang batee bacut, lon teubiet han jeuet seumayang hana
Teukeudirullah lom meuginton, maken that geuhon jab keupala
Teuma neukheun bak adoe teungoh, saleh peunoh pinta gata

Cuba lakee digata siat, bak Hadlarat muhon pinta
Teungku nyan lakeele that sunggoh, batee meubeudoh bak phon teuka
Hingga han-ekle neulakee, teuduek batee bak phon teuma
Teuma neukheun bak adoe teulot, jinoe patot do’a bak gata

Seuot nyang teulot pakri lon lakee, gata nyang guree han-ek troih pinta
Seuot aduen adoe meutuwah, kadang Allah neukabui gata
Teuma neulakeele adoe teulot, batee teuboetle ngon sigra
Batee gadoh han meuhole, mangat hate ureueng tiga

Hanle tinggai batee bunoe, deungon adoe Teungku meukhaba
Meutuah gata hai adoe jroh, batee gadoh ngon do’a gata
‘Ohlon lakee lom maken that, maken arat nibak nyangka
Peuekeuh leubeh gata adoe, peugah jinoe lon ngo nyata

Peue bu’amai gata adoe, tapeugah jinoe ‘amal gata
Seuot Teungku adoe teulot, lon com teuot Ku deungon Ma
Hantom siseun hate meugrak, niphon manyak ka an tuha
Neukheun keulon aneuk seulamat, donya akhirat bekpeue mara

Seuot nyang tuha kayem lon dhot, loncom teuot pih hantom na
Seuot nyang teungoh hantom lon dhot, loncom teuot meusigo hana
Teuma aduen kheun bak adoe, dilon kuwoe jak khadam Ma
Lon jak seumah jeuep2 uroe, dilon adoe hanle kutapa

Meungtan do’a nibak Nangmbah, tan faidah adat lon tapa
Do’a teutulak ibadat hansah, page geubalah dalam Nuraka
Teungku neuwoe jak seumah Mawang, na sigra rijang meukabui do’a
Lheueh nyan lahe ka keuramat, meusyuhu that nyo aulia

Ingat bandum adoe dalem, nyansa ‘alem han meuguna
Do’a han geutueng ibadat hansah, sabab keu Nangmbah hana mulia
Jikalau meunan dum geutanyoe, geunap uroe taseumah Ku Ma
Adatka mate ziyarah jeurat, do’a tabeuet khanduri bakna

Yoh masa hudep gantoe tabri bu, ‘oh troh lam kubu talakee do’a
Bri seudeukah keu miskin faki, taniet bak hate pahla keu Ku Ma
Seureuta do’a tabeuet sigeutu, Ya Tuhanku neu peutroh pahla
Niet bak hate keu Ma ngon Ku, Ya Tuhanku neubri pahla

Gubernur Aceh sekarang, Ir. Irwandi Yusuf, M.Sc Pernah Menikmati Masakan Yuk Harjo-Yuk Mar

44 Tahun Mengabdi untuk Masyarakat Aceh
Semoga Menumbuhkan “Simpul” jalinan Kerjasama Aceh-Yogyakarta
Pengantar
Ini merupakan kisah sejati dua orang kaka-beradik yang menaburkan bakti tulusnya bagi mahasiswa Aceh yang mondok di Asrama Meurapi Dua Yogyakarta. Sang kakak sehari-hari dipanggil Yuk Harjo, Si adik dipanggil Yuk Mar.. Keduanya telah puluhan tahun menyumbangkan karya baktinya buat generasi muda Aceh yang sedang menuntut ilmu di Kota Budaya Yogyakarta. Pergaulan antara mahasiswa Aceh dengan Yuk Harjo dan Yuk Mar; sangat akrab, bagaikan adik dengan kakak, atau bagai anak dengan orangtua. Ini suatu pertanda bahwa perlakuan orang Aceh terhadap “orang lain” di luar klannya cukup manusiawi. Melalui hubungan dan perlakuan seperti ini diharapkan nantinya terjalin kerjasama Aceh – Yogyakarta.
Manisnya pergaulan Yuk Harjo dan Yuk Mar dengan mahasiswa Aceh, ditulis dalam bahasa yang apik oleh Drs. T.A. Sakti, SmHk, mantan penghuni Asrama Meurapi Dua Yogyakarta. Ia juga orang yang pernah menikmati bagaimana lezatnya nasi dan lauk yang dimasak oleh kedua kakak angkatnya itu.
Dewasa ini, ratusan orang Aceh (seterusnya disebut: mahasiswa Aceh) yang telah menyelesaikan studi di Yogyakarta telah memegang posisi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka sudah menjadi orang ternama, baik di Provinsi Daerah Istimewa Aceh, di daerah-daerah lain, di tingkat nasional; bahkan di luar negeri.
Banyak sumber menyebutkan, bahwa diantaranya yang bernasib baik, ada yang pernah menjadi gubernur, bupati anggota DPR tingkat pusat dan daerah, pedagang sukses, rektor universitas/institut, guru besar, dosen, serta berbagai profesi lainnya.
Sepantasnyalah diingat, bahwa berhasilnya studi manusia Aceh itu; tidak terlepas dari peranan dua orang perempuan asal desa Kaliurang, Yogyakarta. Keduanya, sudah 44 tahun mengabdikan diri untuk para mahasiswa Aceh yang studi di berbagai perguruan tinggi di sana. Kedua wanita itu berperan sebagai pembantu asrama pada salah satu asrama mahasiswa Aceh, yaitu Asrama Meurapi Dua (Jln. Sunaryo No. 2, Kotabaru, Yogyakarta).
Mengapa penulis menganggap mereka “mengabdikan diri? Padahal selaku pembantu asrama; keduanya dibayar gaji setiap bulan?”
Jawabannya akan terungkap sepanjang uraian tulisan ini!
Gambar: Manusiawi dan akrab
Yuk Harjo (kanan) dan Yuk Mar mengapit penulis seusai Wisuda.
Foto ini diabadikan di depan Perpustakaan Asrama Aceh Meurapi Dua,
Nopember 1987.
Kesan Unik
Faktor apakah yang menyebabkan kedua orang itu betah bertahan sampai 44 tahun?. Padahal tugas-tugasnya cukup padat dan berat, sebagai pembantu yang mengurus makan-minum dan bermacam-ragam tugas-kerja lainnya?. Seandainya sebab gaji di asrama Aceh itu mungkin lebih tinggi, pasti bukan; karena gaji pembantu di tempat lain bahkan lebih besar. Mau dijadikan alasan bahwa kebetahan itu lantaran terpaksa, sebab sulit memperoleh kerja ditempat lain. Alasan demikian juga tidak tepat, karena pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga ataupun pembantu asrama; selalu terbuka, apalagi bagi orang-orang yang sudah sangat terampil dalam profesi sebagai pembantu, seperti pengalaman kerja yang dimiliki kedua orang itu, yakni berpengalaman kerja selama 44 (empat puluh empat) tahun.
Sungguh tidak bersangkut-paut dengan gaji!. Bukan, sekali lagi, bukan karena masalah gaji besar atau sulit mendapatkan pekerjaan ditempat lain, yang mempengaruhi kedua wanita lebih setengah baya itu tetap betah (istiqamah) bertahun-tahun bekerja mengurus manusia Aceh yang sedang menuntut ilmu diYogyakarta, yang sangat populer sebagai kota pendidikan.
Setelah mengamati secara diam-diam, perilaku/segala tindak-tanduk para anggota penghuni asrama , maka penulis telah menemukan kesan-kesan unik yang sukar atau jarang kita jumpai di temapt-tempat lain. Ke-unikannya adalah tersimpul dalam segala urusan; berkaitan hubungan timbal-balik antara majikan (yang membayar gaji) dengan para pemabantu/pesuruhnya (orang yang digaji).
Pergaulan kakak-adik
Sungguh menakjubkan! Ternyata dalam pandangan para mahasiswa Aceh; kedua perempuan kakak-adik itu tidaklah dianggap sebagai “ pembantu resmi “ seperti pandangan umum yang sudah lazim mentradisi. Dalam pergaulan setiap hari, para mahasiswa/i Aceh bersikap terhadap pembantu mereka bagaikan pergaulan diantara anggota keluarga sendiri layaknya.
Sebutan atau panggilan pun tidak digunakan istilah bik ( bibik, bila diserukan menjadi : Biiikkk –yang umum dipakai terhadap para pembantu di tempat lain). Panggilan Biiikkk!, langsung memberi kesan makna sebagai pembantu atau babu. Sebaliknya, panggilan yang berdengung, menyejukkan jantung!. Para penghuni asrama selalu memanggilnya dengan gelaran: “Yuk’ (Yuuuukkkk!) yang berasal dari kata mbak Yu; yang berarti kakak.
Dalam pergaulan sehari-hari, pada kedua pembantu juga tidak nampak kesan atau sikap seorang bawahan terhadap atasan. Tingkah demikian tercermin dalam tingkah-laku sang pembantu ditempat-tempat lain; seperti mesti membungkuk-bungkuk, cemas, salah tingkah dan khawatir setiap hari. Kedua “pembantu” bebas bergerak, sebagaimana pergaulan antara seorang kakak dengan adik-adiknya dalam sebuah keluarga yang tenteram-damai.
Jadi, panggilan Yuuukk! (mbak Yu = kakak) bukanlah sekedar basa-basi, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam kegiatan hidup sehari-hari.
Suara bernada membentak, mengancam, bermuka sinis atau masam; sama sekali tidak pernah diarahkan kepada kedua mBakyu oleh adik-adik asuhannya., Kedua belah pihak berbaur akrab dan saling menghargai seperti dalam sebuah keluarga bahagia.
Gambar: Akrab dengan mahasiswi
Yuk Mar (ujung meja) dibantu mahasiwi Aceh dari Asrama Putri Tjut Njak Dhien; sedang mempersiapkan bekal khanduri Ultah ke 39 Asrama Meurapi Dua, 4 April 1988.
Perlakuan manusiawi
Menurut analisa psikologis, terjalinnya hubungan akrab antara manusia yang berbeda ‘status’ bisa disebabkan beberapa faktor. Diantara sebab-sebab utama adalah faktor perlakuan yang manusiawi dan saling menghargai. Itulah yang merupakan sebab dominan terjalinnya ikatan batin antara kedua belah pihak.
Berdasarkan pengalaman penulis yang bertahun-tahun tinggal di komplek kamar kost-sewaan-sebelum tinggal di Asrama Aceh Meurapi Dua tersebut, bahwa mencari pembantu yang bisa tetap bertahan bekerja selama setahun penuh saja, sangatlah sukar mendapatkannya. Penulis bersama teman-teman, secara patungan menggaji pembantu. Biasanya, dalam tempo setahun saja terpaksa dua sampai tiga kali harus mencari pembantu baru sebagai pengganti “pembantu lama” yang sudah minta berhenti, atau telah minggat/pergi tanpa permisi alias melarikan diri.
Bila pengalaman penulis tersebut di atas dibandingkan dengan kemampuan para mahasiswa Aceh yang “sanggup mengikat atau membetahkan” dua orang pembantu asrama sampai 44 tahun-tanpa pernah terputus-bukanlah hal itu suatu prestasi besar??. Adakah para mahasiswa Aceh menggunakan ‘jampi-jampi pengasih’,sehingga cukup berhasil dalam “pergaulan antar insan itu???” Tidak, sama sekali tidak. Hanya perlakuan manusiawilah yang dominan sebagai modal utama keberhasilan pergaulan itu. Para penghuni asrama Aceh Meurapi Dua yang sekarang, tentu telah mewarisi sikap toleransi terhadap pembantu asrama, seperti telah dipraktekkan para mahasiswa pendahulu mereka. Pewarisan nilai manusiawilah masih melengket kental dan terpantul sampai saat penulis berpisah dengan mereka dipenghujung tahun 1988. Menurut informasi dari teman-teman yang tengah melanjutkan studi Pascasarjana di Yogyakarta: sikap toleran terhadap pembantu di Asrama Meurapi Dua masih tetap bertahan hingga sekarang.
Gambar: Tamu dari Aceh
Prof. Ali Hasjmy dan T.A. Talsya (membelakangi lensa) berbincang-bincang dengan Prof.Drs. H.Husein Yusuf dosen IAIN Sunan Kalijaga dan Nyonya. Mereka menikmati teh yang dihidangkan Yuk Harjo dan Yuk Mar.
Bercerminkan kasus perilaku para mahasiswa asal daerah Aceh di Yogyakarta,terbantahlah ” anggapan jahil “ yang kadangkala muncul kepermukaan, yaitu anggapan keliru yang memvonis manusia Aceh sebagai pribadi-pribadi beringas, kurang manusiawi dan sejumlah perilaku negatif lainnya. “Tuduhan” demikian,sebenarnya bersumber kejahilan pihak pelempar tuduhan yang belum mengenal Aceh secara memadai. Kepincangan ini, terutama disebabkan sukarnya mendapatkan informasi mengenai daerah Aceh di luar daerah Aceh sendiri, baik yang berupa buku-buku, dalam majalah-majalah, surat-surat kabar, bahkan juga sulit diperoleh informasi melalui RRI dan TVRI Pusat Jakarta!.
Kembali ke pokok pembahasan!. Sungguh, perlakuan oleh mahasiswa Aceh memang luar biasa, kesan ini bukan sekedar pujian murahan, tapi benar-benar suatu kenyataan.
Boleh Anda bandingkan dengan perlakuan terhadap pembantu rumah tangga di London (Inggeris). Dalam siaran radio BBC London seksi Bahasa Indonesia pukul 18.20 Wib tanggal 24 Oktober 1990 dalam acara “Dibelakang Layar”, radio BBC London banyak menceritakan kehidupan pembantu rumah tangga di London saat ini. Ternyata kehidupan mereka sangat menderita, karena diperlakukan oleh majikan mereka secara kejam, kasar, sinis tanpa perikemanusiaan. Secara singkat, yang perlu saya kutip dari siaran radio itu adalah ungkapan pertama: “Pembantu rumah tangga di London diperlakukan seperti budak belian”. Sorotan mengenai kehidupan pembantu dalam acara “Di belakang Layar” itu juga disertai pula wawancara dengan tiga orang pembantu. Kesimpulan dari wawancara itu membuktikan, bahwa perlakuan akan pembantu rumah tangga di London sangat jelek, tidak manusiawi; padahal negara itu cukup terkenal sebagai pelopor demokrasi Hak Asasi Manusia (HAM) dan sekaligus negara industri modern. Sungguh, mereka sangat keterlaluan.
Bukankah apa yang dialami pembantu rumah tangga di London sangat bertolak belakang dengan “ perhatian” para mahasiswa Aceh terhadap kedua pembantu asramanya. Mahasiswa Aceh “menservis” pembantu dengan perlakuan yang manusiawi dan saling menghargai!. Di samping itu, yang tidak kurang penting pula adalah ‘pendekatan’ lain yang juga dipraktekkan penghuni asrama mahasiswa AcehMeurapi Dua Yogyakarta, yang boleh menjadi menyebabkan kedua pembantu asrama betah-bertahan sampai 44 tahun. Di antara cara pendekatan yang sudah jadi tradisi di asrama Meurapi Dua itu, seperti memberi hadiah kepada pembantu asrama ketika kenduri hari ulang tahun asrama, yang biasanya diserahkan oleh salah seorang mantan penghuni asrama yang dianggap “paling beken” diantara para hadirin pada saat itu. Selain itu, kadang-kadang pula diberi hadiah Lebaran dan foto bersama” pembantu asrama” dengan setiap penghuni yang baru saja diwisuda sarjana.Sungguh manusiawi!!!.
Missi muhibbah (?)
Penulis hanya mampu berdesah dalam hati, alangkah sayangnya kedua syeedara seubut ( saudara angkat) yang sudah berbakti atau mengabdi lebih separuh hidupnya untuk mengasuh calon-calon orang pintar dari manusia Aceh. Tugas yang dipikul cukup berat dan ketat; mengurus makan -minum bagi mahasiswa yang sehat,menyuapi makan buat yang sedang sakit dan melaksanakan bermacam tugas lain bagi kepentingan manusia Aceh. Kesudian menyuapi nasi makan bagi yang sakit, penulis saksikan sendiri pada awal Januari 1988. Kebetulan yang sakit demam panas/cacar saat itu adalah seorang mahasiswa Aceh asal Jakarta; kedua orang tuanya menetap di Jakarta.
Namun sangat disayangi, keduanya hingga kini belum pernah menyaksikan atau menginjakkan kaki mereka di bumi Tanah Aceh; tempat lahir sebagian besar manusia Aceh yang pernah turut diasuhnya. Manusia Aceh itu telah makan-minum hasil olahan tangannya saat kedua mBak Yu memasak makanan di dapur.
Pernahkah keduanya berangan-angan, bahwa sebelum urusan dunia berakhir segalanya, mudah-mudahan terbukalah kesempatan melihat langsung daerah Aceh???. Mengenal Provinsi Aceh sudah pasti lebih sempurna, jika tidak sekedar mendengar celoteh para mahasiswa Aceh yang sedang dilanda rindu kampung halaman, seperti yang sering didengar keduanya selama ini!!!. Secara terus-terang, niat begitu tak akan pernah diungkapkan. Tapi siapa tahu keinginan itu sudah bersarang puluhan tahun dalam hatinya… (???)
Sementara itu, para tokoh masyarakat Aceh yang sewaktu dulu pernah diasuhnya; mungkin pula belum pernah terlintas dibenak mereka untuk melancarkan Missi Muhibbah ke Aceh bersama-sama mantan pembantu mereka dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berkunjung ke Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Walaupun benar demikian, sekarangpun belumlah terlambat.!!!\
Dua Daerah Istimewa
Hadih Maja (pepatah) Aceh punya suatu sindiran tajam kepada orang-orang yang tak tahu membalas budi atau sengaja melupakan jasa baik orang lain kepada seorang (dirinya). Kenyataan itu diumpamakan seperti orang menaiki rakit batang pisang. “ Lagee Raket bak pisang, oh lheuh tajeumeurang tatulak raket lam Bangka! “(bagaikan rakit batang pisang, sesudah dipakai menyeberang dibuang rakit ke rumpun bakau!). atau “Lagee Raket bak pisang, galah bak rangkileh,. Oh lheueh ta jeumeurang hanho taba raket paleh!” (bagaikan rakit batang pisang, galah bak rangkileh. Sesudah dipakai menyeberang, biarlah mampus rakit celaka!, persetanlah kamu ).
Hadih Maja ini menegaskan bahwa sikap atau perilaku sebagaimana orang-orang yang menggunakan rakit barang pisang, bukanlah kelakuan insan yang beradab!. Adakah diantara manusia Aceh yang berakhlak demikian???. Pasti banyak!. Kalau tak ada; mana mungkin sampai-sampai endatu (nenek moyang) kita mewariskan sebutir etika pergaulan; agar cucu-cicitnya tahu diri bila telah ‘makan budi’ orang lain.
Kembali kepada kisah dua mBakyu pembantu. Akankah mengalami nasib yang sama seperti “musibah” rakit batang pisang; yang segera di buang selesai menyeberang??? Padahal banyak dari orang-orang yang pernah diasuhnya; sekarang sudah menjadi orang-orang terpandang, baik di Aceh dan yang berada diluar daerah Aceh saat dewasa ini!!!
Tidakkah terlintas di hati Bapak-bapak yang ‘berpangkat tinggi” atau yang sudah menjadi tokoh masyarakat itu untuk menghaiahkan “kado kenang-kenangan” yang sangat berkesan bagi kedua mantan saudara angkat (Syeedara seubut) mereka??? Ataukah syeedara seubut tersebut hanya mereka anggap sudah dibuang; bagaikan nasib raket bak pisang???.
Kado kenang-kenangan paling berkesan bagi penulis maksudkan, yaitu mengundangkedua mBak Yu itu untuk menjadi turis domestik ke Provinsi Daerah Istimewa Aceh, moga-moga saja kunjungan kedua insan kalangan bawah ini, dapat berfungsi sebagai utusan missi muhibbah dari penduduk daerah istimewa Yogyakarta; yang bisa mampu merintis jalan bagi membina hubungan kerjasama dan persahabatan lebih kental antara kedua provinsi, yang hingga kini masih berpredikat Daerah Istimewa di Republik Indonesia ini… !
Terjalinlah ikatan kerjasama yang kuat antara Provinsi Daerah Istimewa Aceh dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang hanya memiliki satu keistimewaan saja!, yaitu setiap gubernurnya mestilah dari keturunan Sultan Yogyakarta serta wakil gubernurnya selalu dari keturunan kerajaan Pakualaman, namun kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, daerah ini mampu mewujudkan pula sejumlah bidang keistimewaan lain seperti: bidang pendidikan, adat istiadat (kebudayaan), pariwisata, dan tidak ketinggalan pula di bidang perkembangan agama (Islam).
Beberapa tokoh pemikir Islam yang sedang dan terus berkiprah di republik Indonesia dewasa ini, seperti Dr. Kuntowidjojo, Dr. Amin Rais, Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Emha Ainun Najib; sampai hari ini keempat mereka masih bertempat tinggal di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. (tempatnya; di kota Yogyakarta). Bila sempat adanya ikatan kerjasama antara “Dua Daerah Istimewa di Indonesia” akan lebih mudahlah diwujudkannya upaya saling bertukar pengalaman bahkan saling membantu dalam berbagai bidang kegiatan pembangunan. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya sikap saling bercermin diri.., sungguuuuhhhh !. Semoga!.
T. A. Sakti alias Drs. Teuku Abdullah Sulaiman, SH., MA adalah Alumnus Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan mantan penghuni asrama mahasiswa Aceh “Meurapi Dua”, Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta
Mondok selama 14 bulan
Sumber: Majalah PANCA, Mei – Juni 1994 halaman 29 s/d 32.
PANCA, terbitan Kanwil Transmigrasi/Mobilitas Penduduk, ACEH.
( Catatan Kemudian: Gubernur Aceh sekarang, Ir. Irwandi Yusuf, M.Sc adalah salah seorang yang pernah 8 bulan ( 1987 – 1988 ) tinggal di Asrama Merapi Dua, Yogyakarta. Bale Tambeh, 1 Januari 2011, T.A. Sakti ).

JAK BEUET BEUMALEM – Cuplikan nadham Akhbarun Na’im karya Tgk Di Cucum

JAK BEUET BEUMALEM

Ladom galak Peu Teungku droe, jen peulaloe jeueb kutika
‘Eleumei bacut sang dumpeue jeuet, duek seumubeuet sang ulama
Peugah keu shurah karoet-karoet, jibalot-baloet jipeuka ka
Bak sibingong shurah got that, jihka sisat jithee hana
Ladom taeu saleh hansoe, jisangka droe that takeuwa

‘Oh inong eu Teungku saleh, hantom weh-weh agam dara
Me seudeukah ngon breueh geumpet, jaktueng rateb jaktueng do’a
Ladom khadam Teungku saleh, jakle gigeh tuha muda
‘Ohtreb bak treb teuka banci, ka jitukri dum rahsiya

Kon bube buet meunan peuneugah, bandum salah bak agama
Hana saboh nyang keuramat, maken bangsat han ngon peusa
Ladom Teungku peurateb inong, Teungku bingong jen peudaya
Peurateb inong ji peusalek, musang putek  sangka pahla

Jen peuratee lethat bagoe, pike keudroe agam ngon dara
Ladom galak han seumayang, ladom bimbang han puasa
Ladom galak han boeh jakeuet, ladom han beuet malee mata
Pakon han jeuet adat geubeuet, pangkat santeut cit ngon gata

Hana pakon keu ‘eleumei, hana jithee jen peudaya
Ureueng tan ‘ileumei cit mangat that,‘oh jen peungeut han meudawa
Jiyue bangsat jiyue meuroh-roh, miseue lon teuoh bunoe nyangka
Nyang got geutanyoe bandum tabeuet, raya ngon cut agam ngon dara

Kareuna ‘ileumei le mamfaat, donya akhirat han binasa
Nyoe tadeungo panton saboh, rupa that jroh lom meutatah
Soe nyang pateh haba lon nyoe, jih nyan sidroe hamba Allah
Tacok galang koh bak tampu, keu dujee bu dum taplah-plah
Bekta weh-weh nibak Teungku, tabeuet laju bek meuilah

Tacok pheuet tapeugot bangku, jan beuradu mangat dahsyah
‘Ohsare jeuet tabeuet Nah’u, me bak Teungku Kitab Fiqah
Saboh cicem dong cong bak kreh, roeh lam cungkeh kasrot patah
Meunggoh ‘Alem beuet bak gigeh, bek meucukeh poh beurakah

Taloe taboeh Leumo itam, takambam bak ukheue patah
Tabeuet sunggoh uroe malam, meunggoh ‘Alem bekta minah
Tadrob cicem dua lhee pat, tasie lam blat mangat taplah
‘Ohka ‘Alem ta seumubeuet, ‘ohsare jeuet ‘eleumei peuetblah

Tacok reunong chot boh labu, wot keu iebu bek le kuwah
Aneuk nyang weh nibak Teungku, Ma deungon Ku kureueng tuwah
Bineh pante timoh jeureughang, teumpat dagang cob kupiyah
Han meusampe tapeutimang, Maha ngon Nang teusiya payah

Koh ukheue trieng peugot geurupoh,teumpat jitoh boh manok mirah
Sabab hana jiikot suroh, han sapeue roh tan faidah
Jak u lampoh jak koh kayee, jeuet keu dujee dum jiplah-plah
Adat meudo’a hanjeuet jilakee, aneuk asee ‘oh mate Nangmbah

Sare teuka ureueng jak beuet, ban nyang najeuet dualhee patah
Geulob Quru’an geubeuet leugat, lingka jeurat dumjak meudrah
‘Oh jieu gob ka meusak-sak, jih pih jijak bak jeurat mbah
Teungoh gob beuet Quru’an geumat, dijih peusapat tanoh bicah

Eu-eu jeurat pat nyang na rhub, na jipeurab jitiek tamah
Jitot keumenyan jiboeh lam bruek, lheueh nyan jiduek teuhah babah
Digob geubeuet dijih teuheng, ban cupeng ka patah siblah
Jiduek sinan meukeh-meukeh, dandang jipreh lheueh gob meudrah

‘Ohlheueh gob beuet hanle jipreh,lheuh nyan jiweh banpheuet patah
Beuta ingat adoe pocut, ureueng tan beuet jayeh leupah
Lom pih malee han ngon peusa, jan puasa bak Madrasah
Digob geubeuet dum meudaroih, dijih meukroih lheueh shalallah

Jiduek sinan geuhoi han lale, jak hai Leube keunoe tameudrah
Yohnyan malee han jijeuet jak, adat geutak jisampoh darah
Jan khanduri Qur’an geujok, han jijeuet cok teuhah babah
Digob geubeuet dum meu’ei-‘ei, dijih malee ban seuluweue beukah

Dalam donya kureueng deurajat, soe han beuet ‘eleumei Allah
Dalam akhirat adeuep peudeh, soehan pateh ban lon peugah
Ban nyang lon kheun bek talupa, meungnyo gata na meutuwah
Meungnyo paleh han tahireuen, meuhat takheun lon beurakah

Wahe rakan aduen adoe, bahkeu ‘ohnoe saboh bingkah
Ureueng nyang beuet le mamfaat, donya akhirat bri Potallah
Tuntut ‘ileumei cit wajeb that, raya ubit hamba Allah
Soehan tuntut ileumei Tuhan, ureueng nyan raya that salah

Adat mate nyang meununtut, dijih jeurat sang lam Jannah
Asoe laot asoe darat, jimoe meuhat mate Syiyah
Sigala nyang na bandum jimoe, sabab geunantoe Nabiyullah
Ureueng mate lam jibeuet-beuet, lethat nyang jeuet Aulia Allah

Ureueng mate lam hareukat, taeu le that meureuka Allah
Meungnyo seunang ban syari’at, nacit rahmat nibak Allah
Meungnyo meucurieng meung sigitu,dijih laju seurapa Allah
Beuta pike hai adoe cut, dum tatuntut ‘ileumei Allah

Beuta taubat seuntok sabe, bek laloele poh beurakah
Bekta iem droe sang beulaga, duek meuhaba meujakarah
Bek peujeuet droe ban sipungo, bek teuso-so tan faidah
Bahkeu dumnoe dihaba nyoe, karangan meuwoe bak Nyak Muda

PEUSUNAT SINYAK MUDA

Dandang-dandang Sinyak jibeuet, rayek bacut nibak nyangka
Keumeung peukhatan meunan nafsu, han got laku jihka raya
Geuhoi Mudem yue peusunat, meunan nyang got pike Ku Ma
Peugot khanduri meung sigeutu, meuhoi Teungku yue beuet do’a

 

Catatan: naskah asli kitab ini dalam huruf Arab Melayu alias Jawi atau Jawoe. Hingga hari ini telah rampung saya alihkan ke huruf Latin separuhnya, yaitu 199 halaman huruf Jawi. Terdapat 170 kata yang tak dapat saya membacanya, namun dengan bantuan beberapa narasumber problema itu nyaris tuntas teratasi.

Bale Tambeh, 28 Bungong Kayee 1439/28 Jumadil Awal 1439 H bersamaan 14 Februari 2018 M. T.A. Sakti