Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IX

Ketika Sembilan Tahun Sebagai Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2018

Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – IX

HARI INI – adalah hari ke empat Lebaran atau tanggal 4 Syawal 1439 H. Kota-kota di Indonesia terasa sunyi-sepi, karena sebagian besar penduduknya pulang ke kampung halaman untuk merayakan Hari Raya ‘Idul Fitri bersama keluarga di kampungnya masing-masing. Saya bersama keluarga juga pulang kampung untuk menikmati suasana Hari Raya bersama sanak-famili. Sekitar jam 8.15 pagi tadi kami balik ke perantauan di Banda Aceh. Kami mampir ke Mesjid Nurul Huda di kampung untuk melepaskan nazar dengan sembahyang Hajat dua rakaat serta mampir lagi ke tabib urut di Bluek Ulee Birah, Caleue. Menjelang maghrib di hari raya pertama, seorang keluarga saya mengalami cedera di tumit akibat terpeleset saat berlebaran ke rumah syeedara.


Sejak beranjak pergi, sepanjang jalan sampai ke kota Beureunuen, jalan masih sepi dari kenderaan lalu-lalang. Sampai Grong-Grong dan Keude Padang Tiji pun suasana jalan belum begitu ramai. Ini lebih disebabkan turun hujan di bagian pagi sekitar jam 7 lebih. Jadi, orang pun menunda persiapan berangkat mereka. Keadaan mulai ramai di sepanjang jalan pergunungan Seulawah. Kenderaan berjalan tidak mulus, lantaran banyak mobil dan sepeda motor (Aceh: Honda) bergerak dua arah, yaitu dari Sigli ke Banda Aceh dan sebaliknya.Terlihat, mulai dari Kota Bakti, Beureunuen, Grong-Grong, Padang Tiji, Saree, Seulimuem, Lam Baro dan kota Banda Aceh hampir seluruh kedai, warung, dan toko semua tutup. Akibatnya, kami kesulitan mencari warung nasi( rumah makan). Menjelang jam dua siang, barulah kami sekeluarga tiba di rumah.( jam 22.40 wib…. bersambung besok).

Kehadiran saya pada suatu undangan keurija di sekitar Stadion Lhong Raya, Banda Aceh banyak mempengaruhi gerak saya dalam kegiatan pelestarian sastra Aceh tahun 2017 – 2018. Sewaktu pulang dari acara pesta perkawinan staf pengajar UIN Ar-Raniry itu, beberapa puluh meter dari tempat acara saya melihat sebuah kantor mungil yang menjumpakan kembali saya dengan sebuah media yang sudah lama saya mencarinya setelah pindah dari sebuah jalan di sekitaran Simpang Surabaya, Banda Aceh. Sejak berdiri di kota ini tahun 2005, saya telah ikut mengisi media ini dengan tiga judul hikayat hasil alih aksara. Itulah Kantor Harian Rakyat Aceh. Saat itu, Redaktur Budaya Harian Rakyat Aceh adalah Asnawi Kumar. Ketika pemuatan tiga judul hikayat itulah, saya menyaksikan Asnawi Kumar sebagai seorang budayawan Aceh sejati. Selang 2 – 3 hari kemudian – setelah mengedit sebuah hikayat – saya pun pergi lagi ke kantor media itu. Saya menjumpai pemimpin Redaksi guna menyampaikan hasrat saya memuat hikayat dalam koran itu. Gayung pun bersambut, maka mulai Sabtu, 5 Agustus 2017 dimuatlah Hikayat MoU Helsinki dalam Harian Rakyat Aceh.
Setelah pemuatan hikayat itu, bangkitlah semangat saya untuk menyalin atau alih aksara sebuah hikayat dari huruf Jawi ke aksara Latin. Judulnya Hikayat Akhbarun Na’im yang lebih populer di kalangan masyarakat Aceh Besar dengan sebutan Nazam Teungku di Cucum. Fotokopi nazam ini adalah kiriman hadiah dari Pak Jamal, Rumoh Teungoh, kecamatan Beutong, Nagan Raya. Sudah lebih setahun saya miliki dan baca Nazam ini, tetapi belum sanggup menggerakkan batin dan fisik saya untuk menyalinnya ke huruf Latin. Penyebab enggannya saya melakukan penyalinan cukup banyak, antara lain karena tebalnya kitab nazam ini sampai tiga jilid dengan jumlah lembaran lebih 400 halaman. Akibat pemuatan Hikayat MoU Helsinki dalam Harian Rakyat Aceh, saya pun tergerak mengalih aksarakan Nazam Teungku Di Cucum. Pada hari Senin, 21 Beurapet 1438 atau 21 Zulkaidah 1438 H bersamaan 14 Agustus 2017 M pukul 6.32 pagi, mulailah saya menyalinnya.
Kegiatan menyalin boleh dikatakan normal, disela-sela kegiatan mengajar/memberi kuliah yang padat, yaitu hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu. Setiap hari mengasuh dua lokal, disamping sidang Sarjana, seminar proposal dan rapat yang kadang-kadang berlangsung pada hari Senin. Walaupun lamban, ternyata pada malam Uroe Raya Haji (malam ‘Idul Adha) 10 Zulhijjah 1438 atau 31 Agustus 2017 pukul 20.15 wib., telah 51 halaman asli nazam telah selesai tersalinkan. Pernah pula saya berhenti menyalin lebih sebulan setelah baris nazam “Bagoe taeu manok dileusong, jeuep gampong le nyang meuzina”. Sebagaimana telah saya sebutkan di atas, faktor kesibukan memberi kuliah yang membuat fisik saya lelah dan lemah menjadi alasan utama terhentinya penyalinan itu. Hal ini terlihat pada catatan tanggal 13 Nopember 2017 pukul 14.35 wib., lalu pada 15 Nopember 2017 saya dirawat di UGD Rumah Sakit Pangeran Nayef, Unsyiah karena kekurangan gula darah.
Satu dorongan terkuat untuk menyalin nazam Teungku di Cucum muncul kemudian. Suatu sore saya telepon Pak Jamai. Lewat pembicaraan itu tersentuh mengenai Khanduri Thon di Rumoh Teungoh pada 17 Jumadil Akhir tahun 1439 H yang tinggal dua bulan lagi. Sejak sore itu, semangat saya timbul berkobar-kobar untuk menyelesaikan penyalinan terutama jilid pertama nazam itu. Bayangan pikiran saya begini, fotokopi nazam Teungku Di Cucum saya terima dari Pak Jamai Rumoh Teungoh, maka alangkah ‘meusigaknya’ kalau saya sempat membawa hasil alih aksara kitab itu sebagai “bungong jaroe” khaduri thon yang akan saya hadiri. Sempena tujuan itu, bergiatlah saya menyalinnya siang-malam. Setiap saat ada luang waktu selalu saya gunakan untuk menyalinnya. Ketika itu kaki kiri saya sering kebas-kebas kalau lebih setengah jam duduk di kursi. Oleh karenanya, saya berkejar-kejaran waktu dengan sakit kebasan itu; misalnya dapat satu halaman ketikan (8 bait syair)…syukurlah…lalu berhenti.

Dengan cara kerja ‘gerilya’ demikian, maka pada Sabtu, 25 Adoe Molod 1439 atau 25 Rabiul Akhir 1439 H bertepatan 13 Januari 2018 M pukul 11.15 wib., selesailah saya salin jilid I Nazam Teungku di Cucum dengan hasil huruf Latin setebal 147 halaman dari 199 lembar naskah asli huruf Arab Melayu atau Jawi alias Jawoe. Sebenarnya penyalinan kitab ini belumlah tuntas, karena masih ada 170 kata/tempat yang belum dapat saya baca. Karena itu saya harus beberapa kali menjumpai dua orang pembaca nazam, yaitu Pak Mukim Abdurrahman dan Let Markam Hasan. Upaya saya menjumpai Pak Mukim Abdurrahman yang tinggal di Lamceu dekat Keude Lam Ateuk tidaklah membawa hasil memuaskan, karena keadaan beliau sedang sakit mata. Sementara ke rumah Let Markam Hasan juga kurang berhasil, lantaran beliau sudah uzur berusia 91 tahun. Namun, berkat bantuan ‘semangat’ kedua beliau dan daya olah saya sendiri, akhirnya selesai juga perbaikan itu. Usaha alih aksara jilid II yang lembaran huruf Jawi-nya 200 halaman, sampai hari ini belum lagi saya utak-atik.
Kunjungan saya yang lebih satu kali ke rumah kedua pembaca nazam itu mendatangkan rasa iba dalam batin saya. Akibatnya timbullah ide untuk membuat liputan media tentang profil mereka. Tiga orang wartawan, masing-masing Dani Randi dari Harian Waspada, Medan, wartawan internet Fahzi dari Kanal Aceh dan Tagarid online serta Syahril dari Kompastv Aceh saya ajak membuat liputan. Berkelilinglah kami-disertai Teuku Zulkhairi, seorang kolumnis muda- dengan dua mobil selama lima jam pada hari Sabtu, 17 Februari 2018. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah rumah Teungku Ismail alias Cut ‘E di gampong Tanjung Dayah, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar. Atas undangan masyarakat beliau telah membaca nadham Teungku di Cucum selama 45 tahun. Sepulang dari sana kami menuju gampong Cucum. Bersama Keuchik gampong Cucum, Fauzan; kami berziarah ke kubur/makam Teungku di Cucum yang bernama asli Syekh Abdussamad. Beliau adalah pengarang nazam Teungku di Cucum atau Hikayat Akhbarun Na’im. Selesai di Cucum kami menjumpai Pak Mukim Abdurrahman di Lamceu, kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Beliau telah membaca nazam itu selama 20 tahun. Keluar dari Lamceu, kami berangkat ke Meunasah Intan, Lam Ujong-Ulee Kareng ke rumah Let Markam Hasan. Beliau banyak menyalin nazam Teungku di Cucum, baik dalam huruf Jawi maupun ke dalam huruf Latin. Kebanyakan salinan itu atas permintaan orang lain. Ayahnya Keuchik Hasan Lam Ujong juga seorang pembaca nazam. Sewaktu kami jumpai Let Markam Hasan telah uzur berumur 91 tahun, dan pada Jum’at, 5 April 2018 telah berpulang ke Rahmatullah. Ketika kami membuat liputan, saya sempat membaca hasil karya beliau baik dalam huruf Jawi dan huruf Latin di rumah beliau. Semoga arwah Allah Yarham mendapat rahmat dari Allah Swt selamanya, Aminn!.
Hasil liputan itu telah dimuat dalam Harian Waspada, Medan, MEDIA NAD, Banda Aceh dan beberapa situs internet. Alhamdulillah, berkat liputan tersebut-sekarang jika kita klick nazam Aceh di internet, maka muncullah beberapa ulasan mengenai nazam Aceh yang nyaris punah itu. Dan bila kita cari liputan berita mengenai nazam Aceh, maka tinggal kita tulis dan sentuh: nazam Aceh.kompastv.

Perhatian terhadap nasib kehidupan ke tiga pembaca nazam Teungku di Cucum masih bangkit pula. Saya memang tidak mampu memberi materi, cuma sekedar menumpah perhatian untuk menggugah pihak lain, terutama Pemerintah Aceh Besar. Berhasil tidaknya upaya saya terserah kepada Tuhan. Ketika diundang masyarakat untuk membaca nazam, masing-masing beliau memang telah diberi semacam ‘sedekah’, yang kadang-kadang sesuai janji. Tetapi pengabdian mereka tidaklah semata mencari materi, namun lebih besar dari itu. Ketiga merekalah yang menjadi benteng terakhir bagi tradisi ‘bernazam’ di Aceh yang telah berlangsung berbilang abad.
Bentuk penghormatan saya kepada ketiga pembaca nazam tersebut adalah mengusulkan mereka kepada Panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII agar diberikan penghargaan. Akan tetapi saat seleksi para calon penerima ‘anugerah budaya” PKA VII sudah berakhir dalam tahun 2017, meski acara PKA VII baru digelar bulan Agustus 2018 yang akan datang. Karena itu saya mencari dukungan dari beberapa tokoh Aceh dan lembaga terkait. Prof. Dr. Hasbi Amiruddin, MA , Guru Besar UIN-Ar Raniry, adalah tokoh Aceh pertama yang saya jumpai. Lalu, Drs. Muhammad Muis, M.Si, Kepala Balai Bahasa Aceh, Banda Aceh, terus bertemu Prof. Dr. Farid Wajdi, MA, Rektor UIN Ar-Raniry di kantor beliau, kemudian saya antarkan surat usulan kepada Panitia PKA VII, dan terakhir saya melangkah ke Kantor DPRA untuk menemui H. Musannif, SE anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Sebenarnya, saya punya niat juga bertandang ke Kantor Bupati Aceh Besar untuk bertemu Bupati Aceh Besar Ir. Mawardi Ali, namun batal. Bila turut saya kisahkan lika-liku menjumpai para tokoh Aceh itu,- bagi saya yang kemana-mana mesti bertongkat serta dipapah orang lain; saya takut ulasannya kepanjangan!. Pokoknya, kepada Bapak-bapak yang telah saya jumpai itu saya jelaskan, betapa patutnya diberikan penghormatan atau penghargaan Pemerintah Aceh dalam bentuk anugerah budaya PKA VII kepada ketiga seniman Aceh itu ( Let Markam Hasan –alm, Pak Mukim Abdurrahman, dan Tgk. Ismail alias Cut ‘E). Dalam amplop besar yang saya serahkan kepada Bapak-bapak berisi – yang diharapkan mau mendukung usul saya- yaitu fotokopi surat untuk Kepala Dinas Kebudayaan Aceh/Panitia PKA VII, koran Waspada dan MEDIA NAD yang menjelaskan profil ketiga pembaca nazam dan hasil alih aksara jilid I Nazam Teungku di Cucum (kecuali Prof.DR. Hasbi Amiruddin, karena salinannya belum siap saat itu). Tujuan saya hadiahkan salinan  huruf Latin nazam tersebut, agar dapat dipahami betapa perlunya kitab nazam itu diselamatkan atau dilestarikan sebagai sumber nasehat keislaman bagi masyarakat Aceh, khususnya buat warga Aceh Besar yang telah membudayakannya selama ini. Saya berharap, Pemerintah Aceh Besar, para Ulama Aceh Besar, Dayah-Dayah di Aceh Besar,para politikus asal Aceh Besar, komunitas mahasiswa Aceh Besar, komunitas sosial-budaya Aceh Besar, lembaga adat dan kebudayan Aceh Besar dan orang-orang Aceh Besar mau berjibaku dan pasang badan untuk mempertahankan budaya ‘bernazam’ di Aceh Besar!!!.

Bale Tambeh, 18 Juni 2018
4 Syawal 1439

Pawang Blog Tambeh-Bek Tuwo Budaya,

T.A. Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: