Bus Transkoetaradja di Koridor I Masih Menghadapi Tantangan Berat!

Genap Setahun Peresmian Bus TransK, 2 Mei 2016 s/d 2 Mei 2017:

Bus Transkoetaradja di Koridor I Masih Menghadapi Tantangan Berat!
Oleh: T.A. Sakti dan M.Yusrizal

Setelah setahun beroperasinya Bus Transkoetaradja yang dimulai pada 2 Mei 2016, ternyata hasilnya belum seperti yang diharapkan. Kemacetan lalulintas yang hendak dikurangi di sepanjang jalan Koridor I, belum memberi kemajuan yang menggembirakan. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satu penyebabnya akibat dipilihnya Jl. Tgk Mohd Daud Beureueh dan Jalan Teuku Nyak Arief (Koridor I ) bagi pelayanan perdana Bus Transkoetaradja(Bus TransK). Menurut saya, jika yang dipilih koridor-koridor lain hasilnya tentu lebih memuaskan.
Penentuan koridor I bagi pelayanan perdana Bus TransK mengandung tantangan besar. Trayek ini melayani penumpang dari terminal Bus TransK Kedah sampai Kampus Darussalam. Di jalur inilah lalu lintas di Banda Aceh paling padat. Bila kemacetan lalulintas di jalur ini dapat teratasi dengan beroperasinya Bus TransK, maka keberhasilan bagi koridor-koridor jalur lain tentu lebih gampang.

 
Tantangan dari perkantoran pemerintah
Menyebut koridor I sebagai jalur penuh tantangan bagi Bus TransK bukanlah sekedar pemanis kata. Sebagian besar kantor-kantor pemerintah berada di sepanjang jalan jalur ini. Selain ramai dengan kendaraan pribadi para pegawai kantor sendiri, kendaraan yang ditumpangi masyarakat yang membutuhkan layanan kantor-kantor itu juga makin meramaikan lalulintas. Lihat saja di Jl. Tgk Mohd Daud Beureueh dan Jalan Teuku Nyak Arief. Di situ berderet kantor-kantor dan lembaga pemerintah yang sebagiannya memang menjadi tempat tumpuan pelayanan masyarakat dalam jumlah besar. Rumah Sakit Zainal Abidin(RSZA) misalnya, jumlah pasien yang berobat kesana tentu cukup besar. Kendaraan yang mengantar orang sakit dari seluruh Aceh hilir-mudik sepanjang tahun. Begitu pula dengan kendaraan sahabat-sanak keluarga yang datang menjenguk mereka. Kantor Imigrasi, Banda Aceh juga tidak kalah banyaknya kendaraan masyarakat yang bermaksud membuat paspor. Masyarakat seluruh Aceh yang bermaksud berpergian ke luar negeri tentu berurusan dengan kantor ini. Sejauh yang mudah diamati, selain yang berangkat keluar negeri untuk berbagai tujuan; masyarakat Aceh yang berubat ke Penang-Malaysia dan menunaikan umrah (terutama sejak dibukanya jalur penerbangan langsung Banda Aceh-Jeddah) biasanya mendominasi layanan pihak Imigrasi.
Setiap kantor pemerintah selain memiliki mobil dinas bagi para pejabat, sebagian karyawannya juga memiliki mobil pribadi. Karena tak tertampung di tempat parkir sekitar kantor, sampai kadang-kadang mobil-mobil itu diparkir melimpah di pinggir jalan umum. Bila ditambah dengan kendaraan yang digunakan masyarakat untuk berurusan dengan kantor-kantor tersebut-baik kendaraan umum atau pun kendaraan pribadi- maka betapa sesaknya lalulintas di jalan Tgk H.Mohd. Daud Beureueh dan Jalan Teuku Nyak Arief yang menjadi jalan terpanjang bagi rute koridor I Bus TransK.
Akibat sebagian besar kantor pemerintah berada di dua jalan utama ibukota Provinsi Aceh, yaitu kota Banda Aceh, maka riuh-rendah dan kepadatan lalulintaslah yang kita saksikan setiap hari. Memang kantor-kantor pemerintah sudah cukup lama berada di jalan Tgk H.Mohd. Daud Beureueh dan Jalan Teuku Nyak Arief . Namun dulu, tidak pernah macet karena kendaraan belum banyak. Tetapi sejak pertumbuhan kendaraan pribadi yang begitu melonjak dalam beberapa tahun terakhir, (terutama akibat tagihan kredit pembelian kendaraan yang sangat rendah); maka nampaklah antrean panjang di lampu-lampu merah pada “jam-jam sibuk” .
Kantor-kantor atau lembaga/instansi pemerintah di Jalan Tgk.H.Mohd.Daud Beureueh dan Jalan Teuku Nyak Arief antara lain: 1) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Aceh(BAPPEDA), 2) Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, 3) Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (Kantor DPRD), 4) Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Aceh, 5) Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah, 6) Kantor Gubernur, 7) Dinas Keuangan Provinsi Aceh, 8) Dinas Pendapatan dan Kekayaan Provinsi Aceh, 9) Dinas Perkebunan, 10) Sekretariat Daerah Aceh, 11) Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Aceh, 12) Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, 13) Sekretariat Majelis Adat Aceh(MAA), 14) Sekretariat Majelis Pendidikan Aceh(MPD), 15) Sekretariat Baitul Mal Aceh, 16) Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Aceh, 17) Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Aceh, 18) Dinas Pertambangan dan Energi, 19) Kapolda Aceh, 20) Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Provinsi Aceh dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan(BAPEDAL) yang berada di Jl. Teungku Malem, 21) Inspektorat Aceh Provinsi Aceh serta Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Aceh di Jl.Gurami, Lampriet dan 22) Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Aceh di Jl. Panglima Nyak Makam. Kantor-kantor pemerintah yang terletak di Jalan Tgk Malem, Jalan Gurami dan Panglima Nyak Makam ujung ketiga jalan itu tembus ke Jalan Tgk H.Mohd Daud Beureueh atau ke Jalan Teuku Nyak Arief.
Bila sebanyak itu perkantoran pemerintah berada di kedua jalan utama kota Banda Aceh, tentu kita dapat mengira-ngira, berapa jumlah kendaraan yang hilir-mudik di kedua jalan itu setiap hari. Inilah sebagian tantangan besar yang harus diatasi oleh Bus TransK. Solusi mengatasi problema ini, tentu sudah bertumpuk dalam pikiran pejabat Pemerintah Aceh. Misalnya dengan “menghimbau” pejabat serta pegawai dari kantor-kantor yang ada untuk ‘ber-Transkoetaradja ria’ saat mereka berangkat dan pulang kantor pada hari-hari yang disepakati. Tentu pimpinan instansi terkait perlu memberi contoh, sehingga karyawan bawahannya akan terpanggil mengikutinya.

 
Tantangan dari sekolah dan kampus
Kawasan Kampus Darussalam sebagai Kota Pelajar dan Mahasiswa telah menjadikan arah jalan menuju kawasan ini merupakan kawasan peredaran kendaraan yang cukup padat. Mahasiswa dari berbagai daerah pun berpusat di kawasan Darussalam dan sekitarnya, seperti mahasiswa Universitas Syiah Kuala, mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, mahasiwa Universitas Serambi Mekkah Jl. T.Nyak Arief, mahasiswa Universitas U’budiyah di Tibang dan beberapa perguruan tinggi lainnya serta sejumlah sekolah mulai tingkat dasar sampai tingkat menengah atas.
Muammar, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah sekaligus Ketua HIMAS(Himpunan Mahasiswa Sejarah) FKIP Unsyiah, mengaku pernah berkali-kali ke kampus dengan menumpang Bus TransK. Dari terminal Kedah ke Kampus Darussalam perlu waktu 40 menit. “Ini karena tiap Halte bus berhenti!” katanya. “Asal kita mahasiswa dan bus disiplin waktu, tidak ada kendala apa-apa”, jelasnya. Lain halnya dengan Mursalin Amri yang juga mahasiswa Prodi Sejarah. Dia lebih nyaman bersepeda motor bila ke kampus. “ Akibat banyak mobil pribadi dan Bus TransK, jalan ke kampus sering macet, dengan sepeda motor saya bisa sampai ke kampus tepat waktu”, ungkapnya.
Karena dianggap kurang praktis, para mahasiswa jarang menggunakan kendaraan umum. Kebanyakan mereka memakai sepeda motor. Kalau kita amati, hampir setiap mahasiswa memiliki kendaraan pribadi untuk menuju kampus, sehingga tidak heran pada jam-jam tertentu kawasan ini semraut dengan kemacetan, misalnya pada pagi hari jam masuk kantor, jam masuk kuliah dan sekolah dan jam-jam pulang sore pukul 4-6 yang dianggap menjadi dalang kemacetan.
Melihat banyaknya berbagai universitas di kawasan yang merupakan koridor I jalur Bus TransK, maka hal ini pun merupakan tantangan paling berat bagi Bus TrannsK. Jumlah mahasiswa, karyawan dan dosen dari berbagai univeritas tersebut tentu cukup banyak. Ribuan kendaraan mahasiswa yang lalu-lalang dalam keseharian pendidikan mereka, seharusnya dapat diatasi dengan pengalihan kepada angkutan publik. Hadirnya TransK sepantasnya menjadi sarana penyelesaian dari masalah macet tersebut.
Mengubah keseharian mahasiswa yang berkendaraan pribadi menuju kampus, tidaklah mudah, namun bukanlah harga mati. Peluang keberhasilan itu masih ada, bila ditunjang dengan memberikan kesan baik dan bagus dari angkutan publik. Dari situ Bus TransK harus mampu memberikan pelayanan sesuai dengan tuntutan para penumpang, terlebih-lebih bagi para mahasiswa. Pihak pengelola harus memahami kapan pergantian waktu dari setiap mata kuliah di kampus-kampus yang menjadikan puncak dari mobilisasi mahasiswa. Dengan demikian antisipasi penyediaan bus tepat waktu dapat terlaksana, tanpa harus menunggu berlama-lama, pasti memberikan nilai plus bagi Bus TransK yang akan menarik minat penumpang kalangan mahasiswa. Perlu diketahui, gengsi orang Aceh cukup tinggi.
Kondisi jalan di kawasan yang dilalui Bus TransK juga suatu problema. Sempitnya fasilitas jalan menjadi pemicu bertambahnya angka kemacetan dalam beroperasinya TransK. Lebih-lebih ketika memasuki kawasan jalan seputaran kampus yang sempit, ditambah lagi dengan ukuran Bus TransK yang berbadan besar dan panjang yang memakan banyak ruas jalan. Tidak heran bila kita melihat tersendatnya kendaraan-kendaraan lain ketika melaju beriringan dengan TransK.

 

Tantangan dari masyarakat
Cita-cita awal dioperasikannya Bus TransK adalah untuk menanggulangi kemacetan. Memang kenyataan di lapangan sekarang angka kesejahteraan masyarakat relatif meningkat. Akibatnya, tidak mengherankan jika hampir setiap anggota keluarga memiliki kendaraan pribadi masing-masing, khususnya sepeda motor dengan alasan lebih praktis untuk bermobilisasi. Kesan kemakmuran ini nampak semakin garang dengan rendahnya cicilan kredit bagi pembelian kendaraan. Dalam hal ini, kita hitung saja berapa jumlah kendaraan yang digunakan penduduk yang mendiami gampong-gampong di sepanjang jalan Koridor I Bus Transk.
Dalam menyikapi hal ini, diperlukan banyak terobosan yang dirawat terus-menerus bagi kejayaan transportasi publik. Salah satunya adalah dengan memberikan kesan-kesan positif dan baik dengan hadirnya Bus TransK. Pelayanan yang baik amat-sangat perlu diperioritaskan, misalnya masalah ketepatan waktu yang benar-benar tahan uji dan bukan sekedar semboyan, begitu pula dengan keramahan kernet menyambut penumpangnya. Dalam mewujudkan pelayanan prima yang diberikan bagi penumpang oleh petugas pelaksana di lapangan(supir, kernet dan pemandu penumpang), Pemerintah Aceh juga perlu terlebih dahulu memberikan pelayanan yang memuaskan pula terhadap mereka. Pemenuhan tuntutan gaji yang layak bagi mereka merupakan hal yang harus sangat diperhatikan, sehingga tidak memunculkan rasa enggan dan ketidak ikhlasan mereka dalam memberikan layanan bagi para penumpang. Pemerintah terkait juga dituntut menyeleksi ketat para awak bus(sopir dan kernet), yang akan ditugaskan untuk melayani para penumpang, karena dalam perkara ini menyangkut keselamatan jiwa orang banyak.
Jadi, walaupun setahun pengoperasian Bus TransK belum mencapai hasil yang memuaskan, namun pengadaan kenderaan publik ini perlu terus dilanjutkan. Pembukaan jalur Koridor II, Koridor III dan seterusnya perlu tetap diwujudkan sebagaimana rencana semula. Kita berharap kepada Irwandi Yusuf dan Aminullah Usman; masing-masing sebagai Gubernur Aceh dan Wali Kota Banda Aceh terpilih dalam Pilkada yang lalu, tidak menghapuskan kebutuhan kenderaan rakyat Aceh ini, yakni Bus Transkoetaradja. Semoga!.

# T.A. Sakti (Drs. Teuku Abdulah, SH,MA), staf pengajar di Unsyiah, peminat manuskrip dan Sastra Aceh. Email: t.abdullahsakti@gmail.com
dan # M Yusrizal, mahasiswa FKIP Unsyiah dan aktivis mahasiswa.
Email: myusrizallatief@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s