Menanti Prodi Bahasa Aceh di Unsyiah

Menanti Prodi Bahasa Aceh di Unsyiah

Progam Studi Bahasa Aceh di FKIP Universitas Syiah Kuala merupakan satu Prodi yang telah lama din anti-nantikan. Pihak yang menanti tidak hanya civitas academika Unsyiah, melainkan juga seluruh masyarakat Aceh yang sangat cinta akan bahasa Aceh . Penantian lama itu belum di ketahui kapan berakhirnya.
Di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lain umumnya telah membuka program studi bahasa daerah. Seperti IKIP Medan, IKIP Bandung, USU, UGM dan beberapa PTN lain. Lantas, bagaimana dengan Unsyiah yang telah berusia seperempat abad lebih ? Mengapa Prodi Bahasa Aceh sampai saat ini belum dibuka?
Dua masalah di atas merupakan persoalan yang patut dikaji dan diteliti lebih lanjut.
Unsyiah merupakan jantung masyarakat Aceh. Oleh karena itu, perhatian masyarakat sangat jelas terlihat dalam memajukan dan meningkatkan kualitas mahasiswanya, pun kuantitas fakultas dan jurusannya.
Beberapa tahun lalu telah dibuka lagi Fakultas MIPA yang meliputi empat jurusan, yaitu Matematika, Kimia, Fisika, dan Biologi. Di FKIP dibuka pula Program Studi Kesenian.
Secara langsung pembukaan fakultas dan Prodi tersebut tentulah memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Aceh, bahkan untuk Indonesia. Sebab, para alumni tersebut tidak hanya menerapkan ilmunya di Aceh.
Mengapa Bahasa Aceh?
Apapun alasannya setiap daerah harus berupaya melestarikan kebudayaan daerahnya. Hal ini merupakan satu tanggung jawab yang tidak ringan. Salah satu unsur budaya daerah adalah bahasa daerah. Bahasa tersebut merupakan ciri kedaerahan dan menjadi identitas spesifik. Pengertian ciri khas kedaerahan kita artikan di sini secara positif.
Bahasa Aceh sebagai bahasa daerah berhak untuk hidup dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan pemikiran penuturnya. Bahasa Aceh juga punya kedudukan dan fungsi yang sama dengan bahasa daerah lain di seluruh nusantara. Jika demikian, maka otomatis bahasa Aceh juga mempunyai hak untuk hidup, berkembang, dan dilembagakan pada satu lembaga negeri. Maksudnya, ia harus ditumbuh kembangkan dari waktu ke waktu . Sehingga ia tetap menjadi asset yang berguna dan viral bagi daerahnya.
Salah satu langkah yang paling tepat adalah dengan membuka Prodi Bahasa Aceh di Unsyiah. Sehingga nantinya diharapkan beberapa kendala yang selama ini terjadi di masyarakat akan dapat teratasi perlahan-lahan . Persoalan yang mencuat saat ini terutama di bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Aceh di sekolah-sekolah akan bisa diantisipasi.
Beberapa fenomena yang timbul di masyarakat yang kurang konprehensifnya pengajaran bahasa Aceh di sekolah, antara lain:
* Para siswa menjadi verbalisme.
Maksudnya hanya dapat menggunakan bahasa Aceh secara lisan dalam kontek bahasa pasaran. Mereka sama sekali tidak mampu menggunakan bahasa Aceh dalam bentuk tulisan. Persoalan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa Aceh di masa yang akan datang. Sungguh riskan rasanya, jika kita mengembangkan satu bahasa, sementara kita tidak punya kemampuan menggunakan bahasa tersebut dalam bentuk tulis.
* Tidak jelasnya mana konsep bahasa Aceh yang standar.
Ini tidak hanya menyangkut dialek, melainkan juga kosa katanya. Hal ini juga menjadi satu masalah besar, terutama jika bahasa tersebut digunakan di media-media cetak dan elektronik. Misalnya saja di terbitkan buku pelajaran bahasa Aceh untuk sekolah (SD, SLTP, SLTA), muncul beberapa masalah terutama bagi siswa yang tidak menguasai dialek bahasa Aceh yang dipakai pada buku tersebut. Jadi, perlu satu kesepakatan final. Dengan demikian, muncullah satu dialek Aceh yang dibakukan.
Untuk merealisasikan masalah ini perlu adanya kesadaran yang tinggi dari segenap masyarakat Aceh. Kata sepakat merupakan titik final. Dengan kata lain, rasa ‘etnis sentris’ kabupatenan harus dihilangkan, digantikan dengan rasa memiliki dan bertanggung jawab dengan bahasa daerah.
* Adanya perbedaan kemampuan guru dalam mengajar bahasa Aceh.
Hal ini memang suatu yang wajar, karena guru yang mengajar bahasa Aceh bukanlah guru yang professional. Jadi tidak pernah menempuh pendidikan secara khusus. Guru yang mengajarkan bahasa Aceh , adalah guru yang dianggap bisa berbahasa Aceh dan bisa mengajar. Pokoknya tidak soal, apakah guru IPA, IPS, Bahasa Indonesia, atau guru Agama. Fenomena ini jelas sangat berpengaruh terhadap kemampuan dan kecakapan siswa di bidang bahasa dan sastra Aceh.
Tiga masalah tersebut merupakan hal yang perlu dipikirkan dan dirumuskan cara penyelesaiannya. Satu langkah yang paling tepat, akurat adalah mengusulkan agar Prodi Bahasa dan Sastra Aceh secepatnya dibuka di Unsyiah. Lantas timbul pertanyaan: Program (sastra) apa yang harus dibuka dan siapa pula yang menjadi tenaga edukatif di Prodi baru tersebut?
Tenaga Pengajar
Melihat fenomena dan eksistensi bahasa Aceh di masyarakat saat ini, maka hal yang harus dilakukan adalah membuka Program Diploma Kepentingan Prodi Bahasa Aceh. Langkah ini akan lebih cepat dan tepat untuk mengantisipasi gejala-gejala yang tidak menguntungkan perkembangan Bahasa Aceh.
Alumninya diharapkan akan mampu menciptakan kondisi yang lebih baik dibandingkan saat ini. Hal yang paling penting dilaksanakan adalah mendidik para siswa agar trampil menggunakan bahasa Aceh, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Jadi, materi-materi yang diajarkan hendaknya lebih ditekankan pada hal yang sifatnya kebutuhan praktis.
Selanjutnya , siapa-siapakah yang bertindak sebagai tenaga edukatif di program studi tersebut? Menurut penulis ada satu cara yang mungkin dapat ditempuh untuk menjaring tenaga pengajar yang dibutuhkan.
Pertama, pihak universitas dapat melakukan pengumuman kepada khalayak. Sehingga, orang-orang yang mempunyai kemampuan di bidang bahasa dan sastra Aceh berhak mengikuti tes. Bila ia memenuhi persyaratan, berhak sebagai tenaga pengajar tidak tetap (dosen lepas).
Selain itu, sudah tentu ada beberapa tenaga pengajar Unsyiah yang mempunyai kemampuan menonjol dalam bidang bahasa dan sastra Aceh. Jika hal ini memang ada, perihal tenaga mengajar tidak menjadi masalah lagi. Jadi, tinggal menyusun kurikulum yang cocok dengan kebutuhan masyarakat.
Sampai kapanpun kita dan seluruh masyarakat Aceh, tetap mengharapkan dibukanya Program Studi Bahasa dan Sastra Aceh di Unsyiah, atau lebih bagus lagi didirikannya sebuah Fakultas Sastra. Hal ini sangat beralasan, karena kita tidak ingin ketinggalan dari provinsi-provinsi lain dan kita pun tak merelakan generasi muda Aceh semakin sulit meggunakan bahasa ibunya, baik secara lisan maupun tertulis. (ansor tambunan)

*Sumber: Serambi Indonesia, Senin, 3 Januari 1994, halaman 9(Kampus)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s