Sempena Menyambut Reuni Alumni Jurusan Sejarah FIB UGM di UGM Yogyakarta Hari Ini, Sabtu, 18 Maret 2017: Menulis di Koran ’Gampang Sulit’ Perlu Jalin Hubungan dengan Redaktur ?

Menulis di Koran ’Gampang Sulit’
Perlu Jalin Hubungan dengan Redaktur ?

Yang harus anda perhatikan apakah anda mengirim naskah untuk dimuat di koran? Demikian pertanyaan yang kerap diajukan orang, khususnya bagi mereka yang masih pemula. Yang sekali nulis, berkali-kali nulis tetap nol, alias blong tidak dimuat.
Memang tanpaknya mudah berkarya tulis, dibaca ulang., bangga, masukan amplop, beri perangko dan sekedar surat pengantar lalu dikirim ke meja redaksi. Tiap waktu terbit koran itu tentu dijenguknya. Baru saja seminggu sudah dijenguk dan diamati : apa sudah dimuat?
Inilah anggapan para pemula yang berangan-angan bahwa begitu kirim begitu dimuat. Seolah-olah gampang, tetapi tidak segampang anggapan itu, perlu ada syarat-syarat yang harus diperhatikan dan diamati sedini mungkin.
Jangan anggap mereka yang telah berhasil itu tidak dengan perjuangan yang gigih.
Dalam hal ini saya memberanikan diri memberikan sekedar ancer-ancer langkah apa yang perlu diperhatikan bila anda akan memulai mengirimkan suatu tulisan ke suatu media pers.
Benarkah anda ada minat atau ada rasa yang betul-betul akan menjadi penulis? Menjadi wartawan? Sebab bila anda hanya ikut-ikutan saja, bisa patah semangat di tengah jalan.
Sebelum anda mengirim naskah harus diteliti lebih dahulu, bagaimana dan ciri khas surat kabar itu. Pengamatan tidak sekedar satu dua kali, bisa berkali-kali. Bagaimana nafas koran itu. Kemudian anda harus bisa menyesuaikan dengan sikap dan misi koran. Baik bahasa, lagak lagu dan thema apa yang dimaui. Bila benar-benar sudah tau ………. Cobalah kirim, bisa berkali-kali. Dan jangan anda harap segera muncul …… sabar saja.
Jalin Hubungan :
Selain itu menjalin hubungan dengan redaktur memang perlu untuk memperlicin jalan pemuatan. Sebab dengan kenal salah satu staf redaksi misalnya, naskah anda lebih banyak peluang pemuatan. Kemungkinan ada satu langkah lebih diperlonggar syaratnya. Sedikit mendapat prioritaslah.
Tetapi kesempatan baik ini jangan anda sia-siakan bisa mati kutu. Sebab anda sudah mengandalkan sudah kenal, lalu cara anda menulis naskah tidak memenuhi syarat, tentu saja masuk kotak sampah.
Pengenalan lain, tidak kenal orangnya, tetapi kenal tulisannya. Apa itu?
Dengan rajin anda mengirim naskah. Sesuai dengan orientasi mas media itu. Nah pengiriman yang rajin dan sesuai misi koran tertu sudah merupakan jalinan hubungan yang baik. Kepercayaan redaksi itu jangan anda abaikan. Setelah dipercaya tetapi anda mengirim naskah yang sama dikirim ke yang lain media, hal ini bisa menutup jalan buat anda. Bisa black list?
Pengenalan dan jalinan hubungan memang perlu bagi mereka yang ingin terjun ke dalam bidang tulis-menulis di surat kabar. Tetapi jangan membanggakan diri. Sebab keburu bangga merupakan awal kejatuhan. Baik buruk suatu naskah, orang lainlah yang menilai. Bukan diri sendiri.

Cara Menulis :
Cara menulis suatu juga punya syarat tertentu, agar bisa menarik redaksi untuk memeriksanya. Memperhatikan format, spasi dan kertas, bersama polio dan cara penyusunan. Buatlah secara baik, spasi dobel (dua spasi) beri tepi kanan yang longgar, tepi kiri juga ( 4 cm dan 2 cm), tidak bertele-tele.
Dengan teratur baik, diketik rapi, susunan bahasa betul, nah hal ini sudah membikin redaksi terpikat.
Juga bila anda mengutip dari bahan lain, sebutkan sumber bahan itu jelas dan anda akan mendapatkan penilaian yang positif. Jika anda menciplak tanpa menyebutkan sumbernya, bisa mati kutu. Jalan yang sudah anda bina itu bisa tertutup untuk selama-lamanya. Cuma gara-gara sekali ketahuan menjiplak.
Selanjutnya jangan mementingkn materi dahulu! Sering pemula itu belum-belum sudah bertanya: berapa honornya Om Daktur bila naskah saya dimuat? Nah ini harus dihindari betul. Yang penting anda itu mendapatkan perhatian. ( Warjiyanto Panca Wasana).

(Sumber: Minggu Pagi No.2 Tgl 15 April 1984 tahun ke 37, hal : 3. Harian ‘Kedaulatan Rakyat’ Yogyakarta adalah induk dari “Minggu Pagi” yang khusus terbit pada hari Minggu).

Iklan

Sempena Menyambut Reuni Alumni Jurusan Sejarah FIB UGM di Yogyakarta Hari Ini, Sabtu, 18 Maret 2017: Terjadi Eksploitasi Pengetahuan Tradisional

Terjadi Eksploitasi
Pengetahuan Tradisional
JAKARTA¬¬¬¬¬¬——’’Apa yang dicari oleh orang rambut merah dan badan besar tinggi, datang kepada kami. Bertanya ini itu lalu mengambil contoh-contoh banyak tanaman dari kebun dan hutan kami. Mau dibawa kemana semua itu?”
Pertanyaan di atas dilontarkan oleh seorang ibu yang berasal dari Suku Dayak Pasir kepada Koesnadi Wirasa Poetra, aktivis lingkungan hidup dan juga sukarelawan pada Yayasan Padi Indonesia di Kalimantan Timur. Pertanyaan yang sama sangat mungkin juga terjadi di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Koesnadi yang aktif melakukan riset parsisipatoris, monitoring dan uji coba sumber daya genetika tanaman lokal bersama petani Kaltim ini, sering kali menemui kasus-kasus yang membuat masyarakat adat bertanya-tanya. Begitu banyak orang asing – dari dalam dan luar negeri – yang datang ke tanah adat mereka, menginventarisir, meneliti, dan membawa sampel-sampel tanaman adat mereka.
Lalu apa yang didapatkan masyarakat adat setelah tanah mereka didatangi dan tanaman mereka diambil? Setelah ’’orang asing” itu membawa ilmu – ilmu mereka yang telah turun – temurun sejak ribuan bahkan ratusan tahun lalu? Pernahkah mereka mendapatkan hak mereka terhadap akses sumber daya dari pengetahuan yang secara sah diakui? Bagaimana dengan hak intelektual mereka sebagai masyarakat adat?
Masalah tersebut menjadi salah satu topik menarik yang dibicarakan dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara 1999 yang diselenggarakan 15-22 Maret di Jakarta. Kongres yang pertama kali diadakan ini tidak hanya menggunakan hak intelektual masyarakat adat, tapi juga membicarakan berbagai masalah yang berkaitan dengan masyarakat adat.
Masalah itu dapat dilihat dari satu kasus perjalanan Muller (ahli medis asal Belanda tahun 1894 dari Kalbar ke Kaltim) yang dikenang melalui konverensi Borneo Research Council (BRC). ’’Dimana reuni para peneliti dalam dan luar negeri yang pernah meneliti di Borneo, berkumpul dan mempresentasikan hasil-hasil penelitiannnya kepada anggota partisipan lalu rekomendasi dikeluarkan,” ungkap Koesnadi.
Tapi lagi-lagi nasib masyarakat asli tidak memiliki akses sumber daya dan pengetahuan yang secara sah diakui. Demikian juga saat tim industry obat Prancis melakukan ekplorasi obat di Suku Dayak Benuaq pedalaman Sungai Mahakam tahun 1994 setelah di BRC di Pontianak. Suku Dayak Benuaq dikenal dengan ramuan obat kanker yang dikenal turun – temurun.
Menurut Koesnadi sekitar tahun 1992 sampai 1997 banyak penelitian dilakukan di Kaltim. ’’Tapi tidak banyak yang mengembalikan sumber daya informasi hasil – hasil penelitian tersebut kepada masyarakat asli sebagai pemilik pengetahuan oleh lembaga penelitian atau oleh perguruan tinggi,” jelasnya.
Menanggapi hal itu Dr Latifah Kadarusman Lektor Kepala pada Jurusan Kimia FMIPA – IPB dan Biofarma IPB, menyatakan masalah tersebut dilihat secara global. ‘’ Kalau dilihat dari segi ilmiah tentu dibangun dengan aturan-aturan ilmiah,’’ katanya.

Namun di sisi lain, lanjutnya, ada perasaan nasionalisme dalam arti memiliki. ‘’ Tapi mereka yang akan bergerak dalam bioprospeksi harus mengerti ini. Ini yang mungkin belum ada pada peneliti yang bukan dari Indonesia. Karena bagi mereka yang dilihat adalah aturan yang ada,’’ jelasnya.
Kelemahan kita memang dari segi UU dan peraturan yang sampai saat ini belum bisa melindungi hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan mereka. ‘’ Contoh kecil, jika kita ingin mendapatkan hak paten untuk produksi pelancar ASI dari daun katuk kita akan susah mendapatkannya. Karena apa yang ada di masyarakat adat seperti daun katuk ini dianggap sebagai pengetahuan umum,’’ tandasnya.
Masalah lainnya belum ada sinkronisasi antara pengetahun tradisional dan pengetahuan lanjutan dalam bioprospektif. ‘’ kita belum punya linkage, bagaimana penemuan tradisional ini kita hubungkan dengan pengetahuan berikutnya. Seolah-olah, ada yang datang lalu pengetahuan masyarakat adat ini diberikan begitu saja,’’ katanya.
Peneliti, lanjutnya, memang sering disalahkan atas penelitian biosprepektif ini. ’’ peneliti sendiri dibangun ada aturan. Sampai saat ini kita belum tahu, belum jelas aturannya. Jika kita ingin mensinkronkan, kita harus bicarakan bersama misalnya bagaimana aturan di negara lain. Lalu jika kita ingin melindungi masyarakat, dalam bentuk apa?’’ tanyanya.
Menurut Latifah, Filipina bisa dijadikan contoh, di Filipina sudah dibuat semacam Keppres yang betul-betul terpadu antara peneliti, LSM dan masyarakat adat. Yang menjadi pendorong lahirnya Keppres itu justru peneliti alam,’’ tandasnya.
Karena itu, tegasnya, jika kita belum siap dengan aturan yang benar-benar jelas maka akan sulit melindungi hak intelektual masyarakat adat. *mag
(Sumber: Republika, Sabtu, 16-3-1999. Hal 5).