MANUSKRIP ARAB MELAYU ( Perkembangan dan Pelestariannya di Aceh )

MANUSKRIP ARAB MELAYU
( Perkembangan dan Pelestariannya di Aceh )

Oleh: Teuku Abdullah *)

ABSTRAK

Seiring dengan masuknya agama Islam ke Aceh dan Nusantara, masyarakat di wilayah ini mulai mengenali huruf Arab. Lama kelamaan dengan penyesuaian seperlunya huruf Arab itu dapat digunakan buat menulis bahasa Melayu, sehingga aksara itu disebut huruf Arab Melayu. Melalui tulisan Arab Melayu inilah selama berabad-abad para pengarang di Aceh dan Asia Tenggara telah menghasilkan beribu-ribu karya tulis mereka yang sekarang dinamakan Manuskrip Arab Melayu. Akibat masuknya huruf Latin yang diperkenalkan kolonial Barat, maka popularitas huruf Arab Melayu dari waktu ke waktu semakin surut. Ujung dari desakan huruf Latin itu berakibat mayoritas masyarakat Aceh dan Nusantara dewasa ini; nyaris tidak dapat lagi membaca naskah dalam huruf Arab Melayu. Dalam usaha menyelamatkan warisan peradaban nasional itu, kini amat diharapkan munculnya upaya-upaya pelestarian manuskrip-manuskrip itu, seperti melakukan transliterasi ke huruf Latin, penterjemahan ke bahasa nasional Indonesia serta menerbitkannya; guna diedarkan kembali bagi bacaan masyarakat luas. Upaya pelestarian inilah yang sedang penulis lakukan secara kecil-kecilan sejak tahun 1992 hingga sekarang ini.

Pendahuluan
Sejak kedatangan agama Islam di Aceh, terjadilah islamisasi dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang seni-budaya, misalnya digunakan huruf Arab dalam hal penulisan. Sesudah dibuat penyesuaian seperlunya, huruf Arab ini diberi nama huruf Arab Melayu (huruf Jawi, bahasa Aceh: harah jawoe). Penulisannya menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Aceh dengan tulisan tangan; khusus bagi bahasa Aceh amat langka dijumpai yang sudah tercetak (AD Pirous, 2006: 255).
Sisi lain pengaruh islamisasi terhadap sastra Aceh adalah melahirkan sastra agama atau ‘hikayat agama’, baik yang berbentuk nadham maupun tambeh. Sementara terhadap hikayat dilakukan berbagai penyisipan sehingga tidak lagi bertentangan dengan ‘aqidah Islam. Sebagai sumber informasi seluk-beluk agama Islam, pada masa lampau sastra agama dipelajari masyarakat Aceh baik melalui lembaga-lembaga pendidikan masa itu seperti di meunasah, mesjid, dayah dan rangkang ataupun secara pribadi. Hasil dari mempelajari itu, sebagian orang kadang-kadang bisa menghafal sebagian besar isi naskahnya. Kandungan isi sastra agama adalah berbagai ajaran agama Islam seperti hukum, akhlak, tasawuf, filsafat dan sebagainya. Begitu pula dengan hikayat, isinya banyak mengandung nasihat, petuah, dan sebagainya (LK. Ara, 1995: 504).

A. Asal Mula Huruf Arab Melayu
Berdasarkan berbagai penyelidikan yang telah dilakukan para sarjana, penulis menjadi yakin bahwa huruf Arab Melayu yang berkembang di Nusantara/Asia Tenggara berasal dari Aceh. Daerah Aceh merupakan daerah pertama masuk dan berkembangnya Agama Islam untuk kawasan Asia Tenggara. Hampir semua sejarawan Barat dan Timur berkesimpulan demikian. Bersamaan masuknya Islam ke Aceh, maka masuk pula bacaan huruf Arab ke dalam kehidupan masyarakat Aceh, antara lain melalui kitab suci Al-Qur’anul Karim. Bersumber huruf Arab Melayu itu, lambat laun berkembanglah penulisan Arab Melayu tersebut. (Mohd. Syukri Yeoh, 2011: 5).
Sejauh bukti yang tersedia hingga hari ini, penulis pertama alias pencipta huruf Arab Melayu adalah Abu Ishak Al Makarany yang mengarang kitab Idhharul Haq fi Mamlakatil Perlak wal Pasy, yakni tentang sejarah Kerajaan Peureulak dan Pasai. Kitab ini ditulis dalam huruf Arab Melayu. Semua kitab lain yang tertulis dalam huruf Arab Melayu diyakini ditulis setelah penulisan kitab Idhharul Haq itu (Serambi Indonesia, 4 April 1994).
Sejarah mencatat, bahwa di Aceh telah berkembang beberapa kerajaan Islam, yaitu Kerajaan Peureulak, Kerajaan Pasai, Kerajaan Benua, Kerajaan Linge, Kerajaan Pidie, Kerajaan Lamuri, Kerajaan Daya dan terakhir kerajaan Aceh Darussalam. Di Kerajaan-kerajaan itu, banyak melahirkan para Ulama yang sebagiannya berbakat mengarang. Melalui tangan-tangan terampil inilah telah ditulis beratus-ratus buah kitab dan karangan dalam bahasa Melayu, Arab dan bahasa Aceh. Tulisan yang digunakan adalah tulisan Arab dan tulisan Jawi (Arab Melayu). Dalam hal ini kita dapat menyimak halaman terakhir kitab Fat al-Mubin ala `i-Mulhidin karya Nuruddin Ar-Raniry yang menyatakan bahwa kitab ini dikarang untuk dikirim kepada: ……… segala saudaraku yang ada di Pulau Aceh, dan yang di Negeri Kedah, dan yang di Pulau Banten, dan yang di Negeri Patani, dan yang di Pulau Mengkasar, dan yang di Negeri Johor, dan yang di Negeri Pahang, dan yang di Negeri Senggora, dan pada segala Negeri di bawah angin”(Teuku Iskandar, 1996: 408). Dengan beredarnya kitab Nuruddin Ar-Raniry tersebut di atas, maka berkembang pula penulisan Arab Melayu (huruf Jawi) ke negeri-negeri yang bersangkutan.
Dalam Kerajaan Aceh Darussalam penulisan Arab Melayu juga berkembang pesat. Dalam hal ini UU Hamidy menjelaskan:
“Bahasa Melayu Aceh berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu. Tak diragukan lagi ulama Aceh-lah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Dari sinilah agaknya tulisan Arab Melayu kemudian menjadi tradisi pula dalam penulisan hikayat di Aceh. Sebab itu tulisan Arab Melayu mungkin juga telah ditaja pada awalnya oleh para ulama di Aceh. Karena tulisan ini juga mempunyai beberpa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua. Dalam bidang ini patut dilakukan penelitian yang memadai, sehingga peranan bahasa Melayu Aceh akan semakin kentara lagi di belantara perkembangan bahasa Melayu” (Serambi Indonesia, 8 Juli 2007).

Memang tidak berlebihan bila penulis berpendapat, bahwa huruf Arab Melayu di tulis pertama kali di Aceh. Sampai sejauh ini, tulisan Jawi tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat sultan Aceh kepada raja Inggris. Tentang hal ini, DR. Muhammad Yusof Hashim menyebut :
“Kalau kita mengatakan bahawa naskah Melayu terawal yang pernah ditemui di awal abad ke-17, iaitu warkah daripada Sultan Aceh kepada Raja England, besar kemungkinan naskah warkah itu hanyalah naskah salinan. Adalah mengkagumkan juga sebuah naskah di atas kertas seperti itu boleh wujud hampir empat abad lamanya, sekiranya ia betul-betul naskah yang asli”(Muhammad Yusof Hashim, 1985: 70).

Abad ke 16-17 merupakan puncak kebesaran bagi kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, selain sempat diperintah beberapa Sultan terkemuka, Aceh juga telah dibimbing beberapa ulama kaliber dunia, yaitu Hamzah Fansury, Syamsudin As-Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdurrauf As-Singkily atau Syiah Kuala. Keempat ulama Aceh ini amat banyak karangan mereka, baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Arab. Kitab-kitab tulisan keempat ulama ini tidak hanya beredar di Aceh, tetapi meluas ke seluruh Asia Tenggara dan dunia Islam lainnya.
Ditinjau dari segi perkembangan penulisan Arab Melayu dan pertumbuhan bahasa Melayu; keempat ulama Aceh inilah serta beberapa ulama Aceh lainnya; betul-betul telah berjasa dalam menyebarkan “kebudayaan” Melayu tersebut. Sewaktu sumpah pemuda 1928, bahasa Melayu telah diakui sebagai Bahasa Nasional Indonesia. Karena itu tidaklah berlebihan bila kita mengatakan, bahwa orang Aceh ikut membidani lahirnya bahasa Indonesia, yakni melalui ratusan karya tulis para pujangga-ulama yang mengarang dalam bahasa Melayu dengan menggunakan tulisan huruf Arab Melayu. Para penulis asal Aceh, sebenarnya tidak perlu malu-malu mengungkapkan “Jasa Aceh dalam Pembinaan Bahasa Indonesia”, karena Aceh memiliki banyak bukti yang dapat ditampilkan serta dapat dipertanggung jawabkan.
Tulisan Arab Melayu terus berkembang selama berabad-abad. Kehidupan masyarakat di seluruh Nusantara sudah menyatu dengan huruf Arab Melayu. Seseorang yang mampu membaca dalam huruf Jawi dianggap sebagai “orang terpandang” dalam masyarakat. Apalagi kalau ia mampu pula menulis, tentu derajat orang yang bersangkutan semakin tinggi lagi. Oleh karena itu, masyarakat di Aceh dan daerah-daerah lain berlomba-lomba mempelajari cara penulisan Arab Melayu, karena dengan pengetahuan itu akan meningkatkan status mereka dalam masyarakat.

B. Dunia Melayu Raya
Menurut UU Hamidy dalam tulisannya “Aceh sebagai pusat bahasa Melayu” menyatakan :
“Kesungguhan memelihara bahasa Melayu, sehingga seluruh kitab-kitab yang dikarang ulama Aceh yang berisi kajian agama Islam dan ilmu pengetahuan telah ditulis dalam bahasa Melayu. Sebab, dengan bahasa itu kitab-kitab ini dengan mudah dipelajari oleh khalayak antar bangsa di Asia Tenggara. Misalnya, Syair Perahu karangan Hamzah Fansuri yang berisi pandangan tasauf telah dikarang dalam bahasa Melayu. Sandingannya, karya Nuruddin Ar-Raniry, Asrar al Insan fi Ma`rifah wa Rahman, juga memakai bahasa Melayu. Hikayat raja Aceh juga memakai bahasa Melayu, tentulah atas pertimbangan agar pembaca mancanegara mengetahui kebesaran raja-raja Aceh. Sementara sandingannya Tajussalatin (mahkota raja) karangan Buchari al Jauhari juga ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab ini berisi pandangan ilmu Islam, bagaimana semestinya perangai seorang raja memegang teraju pemerintahan” (Serambi Indonesia, 8 Juli 2007).

Istilah Melayu mengandung makna yang luas, baik dari segi bahasa maupun mengenai suku-suku bangsa yang berdiam di Asia Tenggara yang, biasa disebut Dunia Melayu Raya. Dalam hal ini Dr. Muhammad Yusuf Hasyim mengatakan: Apa dan siapakah yang dikatakan Melayu? Untuk merujuk kepada bahasa, yaitu Bahasa Melayu (Bahasa Kebangsaan di Malaysia dan Bahasa Melayu di Indonesia), saja tidak mencukupi bagi mencari penentuan konsep Melayu itu. Sekiranya kita merujuk kepada faktor ethnicity dan ilmu alam pula, Melayu meliputi suatu “alam” yang amat luas, memasuki kawasan-kawasan daripada selatan Thailand, mencakupi Malaysia pada hari ini, melingkungi seluruh Nusantara/Indonesia sekarang, melingkupi Darussalam hinggalah menjangkau kepulauan dan gugusan Filipina. Sekirannya kriteria ini yang kita terima, maka istilah Melayu sebagai suatu ras dalam ilmuan antropologi merangkumi pelbagai suku etnik seperti Aceh, Bugis, Batak, Patani, Minang, Lampong, Bauyan, Banjar, Mandahiling, Mengkasar, dan lain-lain, menjadikan Melayu Aceh, Melayu Bugis, Melayu Batak, Melayu Patani, Melayu Minang, Melayu Lampong, Melayu Banjar dan seterusnya. (Muhammad Yusof Hashim, 1985: 71).
Tentang perkembangan naskah-naskah Arab Melayu tulisan tangan yang merupakan warisan zaman lampau Profesor Dr. Ismail Husein menjelaskan :
“Bahasa Melayu kini menjadi bahasa utama di nusantara, malah dapat dikatakan bahasa peribumi moden yang utama di Asia Tenggara, yaitu dari segi jumlah penggunanya, dan juga dari segi keragaman kandungan kebudayaannya. Tetapi kedudukan dan sifat bahasa Melayu seperti itu tidak banyak berbeda dengan zaman lampau. Kini kita warisi sekitar 8,000 buah naskah-naskah tulisan tangan dalam bahasa Melayu dari zaman pracetakan. Ini adalah jumlah warisan naskah yang kedua terbesar di nusantara, selepas yang di dalam bahasa Jawa. Semua naskah-naskah Melayu lama yang kita warisi itu adalah di dalam tulisan Jawi, di dalam huruf Arab, yakni dicipta dan disalin dalam zaman Islam. Tetapi tak kurang pentingnya hampir semua naskah yang ada itu nampaknya dicipta semula ataupun disalin semula selepas abad yang ke-15, yakni selepas kejatuhan Malaka, yakni di dalam zaman penjajahan”(Ismail Husein, 1985: 4).

Perlu juga dicatat, bahwa di Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda sampai kini masih tersimpan 265 naskah Aceh yang terawat dengan baik(Serambi Indonesia, 28 Oktober 1993).
Memang sebelum abad ke 18 istilah bahasa Melayu “belum dikenal. Pada abad ke 16 dan 17 penyebutan bahasa Melayu adalah dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”, karena bahasa itu ditulis dalam huruf Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan dengan ucapan-lidah masyarakat Nusantara. Sementara “Jawi” ialah sebutan orang-orang Arab dimasa itu untuk negeri-negeri di wilayah Nusantara/Asia Tenggara (Syed Muhammad Naguib al-Attas, 1990: 64).

C. Upaya Penghancuran Oleh Bangsa Barat
Pada abad ke-17 bangsa Eropa mulai berdatangan ke Asia Tenggara. Dari waktu ke waktu sampai ke abad ke-20, mereka semakin merata berada di berbagai negeri di Nusantara. Akhirnya semua Negeri secara umum berkebudayaan Melayu telah menjadi jajahan dari bangsa Barat. Kesemua bangsa penjajah itu, yaitu Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat adalah bangsa-bangsa yang tidak memakai huruf Arab (Arab Melayu) dalam penulisannya. Mereka memiliki huruf sendiri yang berasal dari peradaban Yunani-Romawi, yaitu huruf Latin.
Sejak itu, peranan huruf Arab Melayu secara berangsur-angsur terus berkurang dalam kehidupan orang-orang pribumi. Sebab, para penjajah memaksakan huruf Latin kepada rakyat di Nusantara ini melalui lembaga-lembaga pendidikan yang dibangun mereka. (Syed Muhammad Naguib al-Attas, 1990: 18).
Khusus di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), penggusuran secara besar-besaran huruf Arab Melayu baru terjadi secara resmi pada tahun 1901. Ketika itu, pada tanggal 1 Januari 1901, Raja Belanda Ratu Welhelmina mengeluarkan Dekrit tentang Politik Etis dalam sistem penjajahan di Hindia Belanda. Politik “balas budi” itu antara lain memberikan pendidikan modern ala Barat kepada anak negeri jajahan Belanda. Karena itu, dibangunlah beribu-ribu tempat pendidikan umum di seluruh Hindia Belanda dengan memakai huruf Latin dalam penulisannya (Sartono Kartodirdjo, 1975: 14).
Hal ini secara langsung telah menjatuhkan martabat huruf Arab Melayu dalam pandangan sebagian pribumi. Tinggallah Dunia Pesantren, Surau dan Pondok (Dayah di Aceh) sebagai benteng terakhir, sehingga penulisan Arab Melayu masih kekal lestari hingga saat ini. Sebagai bukti, perpustakaan Dayah Tanoh Abee Seulimum, Aceh besar, masih memiliki beribu-ribu naskah kitab lama (Perpustakaan Tanoh Abee, Buku I, 1980).
Kemunduran bagi penulisan Arab Melayu di Aceh lebih kemudian. Ketika Belanda sedang menggayang huruf Arab Melayu secara gencar di daerah-daerah lain- lewat pendidikan ala Barat, malah di Aceh (thn 1901), Belanda sedang bertempur habis-habisan melawan rakyat Aceh, yang telah di tempa dengan baris-baris tulisan Arab Melayu, yakni Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil). Akhirnya para ilmuan Belanda yang dipelopori Snouck Hurgronje berusaha mempelajari karya-karya berhuruf Arab Melayu milik orang Aceh guna mengetahui jalan “lurus” mengalahkan perlawanan orang Aceh sendiri (Snouck Hurgronje, 1985). Tidak kurang 600 naskah Jawi/Jawoe (Arab Melayu) telah dialihkan ke huruf Latin saat itu. (Tempo, 23-39 Juli 2006: 70).
Tentang strategi perang akal budi” yang ditempuh Belanda ini, Prof. Madya. DR. Muhammad Yusof Hashim dari jabatan Sejarah Universiti Malaya menulis : Bayangkan saja bagaimana Malaicus Snouck Hurgronje mengguna dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya naskah-naskah Melayu yang ada di Aceh pada penghujung abad ke-19 bagi meneliti “hati budi dan nurani” penduduk-penduduk Aceh sehingga Aceh berjaya ditakluki oleh Belanda setelah bertungkus-lumus dan berhempas pulas kuasa penjajah ini gagal menawan dan menjajah Aceh melalui saluran diplomatik, perang urat saraf dan paksaan senjata” (Muhammad Yusof Hashim, 1985: 77).
Sebuah pengumuman/maklumat Residen Aceh di tahun 1948 secara tak langsung juga ikut menggusur huruf Arab Melayu. Isi pengumuman tentang syarat-syarat pemilihan anggota Dewan Kota/DPR Kutaraja saat itu, antara lain berbunyi : Yang berhak dipilih untuk menjadi anggota Dewan Kota adalah bangsa Indonesia, berumur 25 tahun ke atas, tahu membaca dan menulis haruf Latin, tidak dalam tahanan preventif atau dalam menjalani hukuman, dalam keadaan berpikir sehat, dan sekurang-kurangnya 1 tahun terus-menerus telah menjadi penduduk Haminte Banda Aceh (T.A. Talsya, 1990: 238).
Dalam era Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap penulisan Arab Melayu mulai Tumbuh, namun tidak berumur panjang. Di saat itu, pelajaran membaca dan menulis huruf Arab Melayu telah diajarkan di sekolah-sekolah pada tingkat sekolah dasar. Tetapi sekitar tahun 60-an pelajaran tersebut dihapuskan, yang kemungkinan besar akibat desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sedang merajarela ketika itu. Sebatas penulis ketahui, khusus di Aceh sejak beberapa tahun yang lalu juga diajarkan kembali tulisan Arab Melayu dengan nama Tulisan Arab Indonesia (TAI). Namun, pembelajaran ini masih perlu ditingkatkan terutama dalam bidang pengadaan buku bacaan/pedoman penulisan Arab Melayu dan memberikan pendidikan khusus bagi para guru tentang bahan pengajaran tersebut.
Perkembangan terakhir dari penulisan Arab Melayu di Aceh adalah keluarnya Instruksi Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tanggal 1 Muharram 1423 atau 16 Maret 2002, yang menggalakkan kembali penggunaan huruf Arab Jawi di Bumi Aceh Serambi Mekkah. Sejauh pengamatan penulis, sebagian dari isi instruksi itu memang telah berjalan, khususnya penulisan nama kantor/lembaga/toko dengan menggunakan huruf Arab Melayu disamping huruf Latin. Akan tetapi penulisan Arab Melayu pada lembaga-lembaga tersebut belum memadai, karena masih ada kaidah-kaidah penulisan Arab Melayu yang diabaikan (Mohd. Kalam Daud, 2003: 5).

D. Manuskrip Kita Tetap Aktual
Sebagian besar masyarakat kita dewasa ini beranggapan bahwa naskah-naskah lama itu tidak lebih berupa sampah yang tidak berguna lagi. Namun sesungguhnya, jika diteliti dengan sungguh-sungguh ternyata di dalam lembaran-lembaran kertas yang dianggap “sampah” tersebut ternyata masih terkandung mutiara-mutiara budaya yang tetap berguna dalam kehidupan era sekarang. Dengan kata lain manuskrip-manuskrip itu masih tetap aktual dalam kehidupan kita di hari ini.
Salah satu contohnya adalah manuskrip kitab Tajussalatin. Salah satu warisan pemikiran bangsa yang berkaitan dengan ‘mental pemimpin’ adalah kitab Tajussalatin, yang berarti “Mahkota raja-raja”. Bagi zaman sekarang, raja sama artinya dengan pemimpin atau seorang ketua/kepala dalam berbagai bidang kehidupan. Tajussalatin merupakan kitab/buku tuntunan bagi para Sultan Aceh yang dikarang dalam bahasa Melayu oleh Bukhari Al-Jauhari tahun 1012 H/1603 M.
Pada abad ke-18 Tajussalatin diterjemahkan ke bahasa Jawa atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono V. Kini, kitab yang tebalnya 205 halaman itu masih tersimpan di Museum Sonobudoyo, Pustaka Kraton Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat, 4 Mei 1988).
Selanjutnya, tahun 1827 Tajussalatin diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh Roorda van Eijisinga dan ke bahasa Perancis tahun 1878 oleh A. Marre. Mahkota Raja-raja (Tajussalatin) yang dalam arti tertentu dapat disamakan dengan karya Prince (Raja) karangan Macchiavelli; juga dipedomani oleh Sultan Singapura pada abad ke-19, sedangkan pujangga Abdullah bin Abdulkadir Munsyi memakai kitab Tajussalatin ini untuk mengamati karakter tuannya, orang Inggeris yakni Sir Stafford Raffles sang pendiri kota Singapura (AD Pirous, 2006: 216).
Kemudian, atas anjuran Uleebalang Landschap Keumangan, Pidie, tahun 1937; Tajussalatin yang ditulis dalam bentuk prosa berbahasa Melayu ini, diterjemahkan ke bahasa Aceh dalam bentuk syair hikayat Aceh (Teuku Iskandar, 1996: 379). Selain itu, tahun 1966 Tajussalatin telah dikaji pula oleh Khalid Hussein, yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Malaysia. Tahun 1994 kitab Tajussalatin telah direproduksi kembali oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (Serambi Indonesia, 9 Oktober 1994). Sementara setahun sebelumnya, yaitu 22 Syawal 1413/15 April 1993; penulis telah menyelesaikan alih huruf (transliterasi) naskah Tajussalatin bahasa Aceh dari huruf Arab Melayu-Jawoe ke dalam huruf Latin.
Melihat banyaknya terjemahan dan pengkajian serta luasnya penyebaran kitab Tajussalatin di nusantara ini, bisa dijadikan betapa pentingnya karya ini. Berarti pula, keaktualannya juga tak diragukan sampai sekarang. Tajussalatin antara lain menyebutkan, bahwa seseorang raja (maksudnya: pemimpin) jangan sampai mabuk dengan pujian-pujian dari bawahannya. Sebab pujian itu bisa mengakibatkan hilangnya sifat hati-hati sang atasan. Pujian ikhlas memang ada, tapi menurut Tajussalatin kebanyakan pujian dari bawahan terutama didorong upaya mencari pamrih dari pimpinan. Ada tiga sebab si karyawan memuji atasannya. Pertama, karena takut. Misalnya jangan sampai dia dipecat atau dikurangi perannya. Kedua, agar si boss tak mencari-cari kesalahannya. Ketiga, supaya bisa memperoleh hadiah/kekayaan dari pimpinannya. Tajussalatin mengungkapkan, bahwa kebanyakan pemimpin pada saat (zaman akhir) ini ingin dipuji terus-menerus oleh bawahannya. Mengenai penjahat, Tajussalatin menganjurkan agar diberi hukuman seberat-beratnya. Anda percaya atau tidak, merajalelanya para koruptor (baca: penjahat) sekarang; terutama akibat ringannya hukuman yang mereka terima.
Tajussalatin, menganjurkan para pemimpin agar menyingkirkan pegawainya yang tak becus bertugas, terutama yang suka membuat laporan ABS (asal Bapak senang). Guna memperoleh laporan akurat, para pemimpin tempo dulu memiliki “Tim pengintip” yang terpercaya. Bahkan tugas ini dilakukan oleh raja/Sultan sendiri. Setiap pemimpin mesti memiliki penasehatnya. Para penasehat Sultan masa lalu adalah ulama. Namun, Tajussalatin mengingatkan para Sultan agar tidak “bekerjasama” dengan sembarangan ulama. Jadi perlu ‘seleksi’ ketat. Sebab, diantara ulama itu banyak pula yang bermental “perampok”, yang mengharapkan harta dari para raja/Sultan. Selain itu, banyak pula ulama penjilat, yang tidak ikhlas dengan profesi keulamaannya. Bukankah sekarang cukup banyak ulama penjilat???. Demikianlah sedikit cuplikan kitab Tajussalatin!. Naskah kitab ini berisi 24 bab yang seluruh uraiannya mengenai pemimpin dan calon pemimpin!. Ada baiknya, jika Tajussalatin dijadikan buku-saku para pemimpin kita.

E. Nasib Naskah Tulisan Arab Melayu Dewasa ini
Akibat perkembangan zaman, huruf Latin telah menggeser huruf Arab Melayu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Keadaan itu menyebabkan naskah-naskah lama kian kurang dibaca dan disalin orang dan pada akhirnya akan habis. Mayoritas masyarakat Aceh dewasa ini hanya bisa membaca dalam huruf Latin. Akibatnya, banyak manuskrip atau naskah lama yang tertulis dalam huruf Arab Melayu dibiarkan terlantar sekarang karena tidak bisa dibaca. Perkembangan sarana hiburan modern juga ikut melunturkan peranan Sastra Aceh sebagai sumber hiburan masyarakat. Kehadiran industri film, radio, televisi dan media cetak yang memberi bermacam jenis hiburan serta bahan bacaan telah menyebabkan kepopuleran naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh menurun tajam; bahkan hampir-hampir tidak ada pihak yang menghiraukannya lagi.
Kini di desa-desa, naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh jenis apa pun seperti hikayat, nadham, tambeh dan kitab-kitab agama yang ditulis dalam huruf Arab Melayu, baik yang dalam bahasa Arab, Melayu dan bahasa Aceh; hanya disimpan oleh pemiliknya di balai-balai kandang lembu, atas kandang ayam, di rak dapur (bahasa Aceh: sandeng dapu) serta di bara-bara atau para Rumoh Aceh. Memang, sebagian besar masyarakat Aceh masih enggan membuang langsung naskah-naskah lama (manuskrip) itu, karena mereka takut pada kutukan Tuhan (bahasa Aceh: teumeureuka). Walaupun dianggap sudah memuakkan atau barang-barang yang menyemakkan, namun mereka belum berani benar-benar membuangnya, sebab sebagian dari manuskrip-manuskrip itu masih dikeramatkan. Beginilah, keadaan yang tengah dialami naskah-naskah lama Sastra Aceh dewasa ini. Dalam suasana konflik Aceh, tentu semakin memperburuk keadaan itu. Dalam suasana Aceh yang kacau-balau seperti beberapa waktu yang lalu banyak penduduk desa yang mengungsi maka semakin banyak pula naskah-naskah lama Sastra Aceh yang rusak-terbuang, tak ada yang mempedulikannya.

F. Pelestari Naskah Arab Melayu dan Sastra Aceh
1. Transliterasi
Akibat prihatin terhadap naskah Arab Melayu dan naskah Sastra Aceh seperti dikemukakan di atas, penulis pernah berupaya melakukan kegiatan transliterasi terhadap naskah-naskah tersebut, terutama naskah hikayat, nadham dan tambeh.
Upaya awal sebelum dilakukan transliterasi (alih huruf) adalah mengumpulkan naskah-naskah Sastra Aceh yang masih disimpan masyarakat. Usaha pengumpulan ini memang tidak mudah, karena sebagian masyarakat enggan meminjamkannya, karena berbagai alasan. Namun, berkat berbagai pendekatan yang dilakukan, akhirnya beberapa judul manuskrip dapat dipinjam atau difotocopy. Tahap selanjutnya yang ditempuh adalah melakukan alih huruf atau penggantian huruf naskah dari semula berhuruf Jawi atau Arab Melayu dengan menyalinnya ke dalam huruf Latin. Kesulitan pada bagian ini adalah tidak dapatnya disalin naskah-naskah itu secara lengkap atau menyeluruh karena sebagian dari manuskrip-manuskrip itu halaman-halamannya tidak utuh lagi, karena telah robek, pecah dawat (kehitaman) di sana-sini. Kegiatan alih huruf ini telah mulai dilakukan sejak tahun 1992, dan kini telah selesai dikerjakan beberapa judul manuskrip. Setiap halaman hasil transliterasi berisi rata-rata 6 (enam) bait, dimana setiap bait terisi 4 (empat) baris. Setiap halaman naskah asli yang berhuruf Arab Melayu biasanya bisa menghasilkan salinan ke huruf Latin rata-rata satu setengah halaman.

2. Daftar dan Ringkasan Isi dari Hikayat, Nadham, Tambeh dan naskah berbahasa Melayu yang telah penulis salin ke huruf Latin sebagai berikut :
(1). Hikayat Meudeuhak. Keberhasilan seseorang pemimpin/Raja turut ditentukan oleh para penasihatnya, namun sang pemimpin perlu selalu menguji kesetiaan mereka (434 halaman). (2). Hikayat Banta Keumari. Sikap saling membantu dalam perjuangan hidup akan menghasilkan kebahagiaan bersama (650 halaman). (3). Hikayat Tajussalatin. Tajussalatin = mahkota raja-raja. Membicarakan sejumlah pedoman bagi para pemimpin (420 halaman). (4). Hikayat Aulia Tujoh. Mengisahkan tentang seorang penguasa yang zalim. Begitu angkuhnya sampai-sampai mengakui dirinya sebagai Tuhan (54 halaman). (5). Hikayat Kisason Hiyawan. Kisason Hiyawan merupakan kisah sejumlah hewan/binatang. Kehidupan ini penuh dengan teka-teki, tipu muslihat dan saling bersaing. Oleh karena itu perlu hati-hati dan waspada dalam setiap tindakan. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (176 halaman). (6). Hikayat Gomtala Syah. Kisah monyet raksasa yang berasal dari manusia. Intinya menceritakan kesetiaan sang monyet membela kepentingan pamannya. Hikayat ini bernuansa lingkungan hidup (548 halaman). (7). Hikayat Keumala Indra. Keberhasilan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan, akan memperlancar kehidupan. Tokoh ceritanya berasal dari Turki (594 halaman). (8). Hikayat Nabi Yusuf. Penderitaan yang didampingi oleh kesabaran-ketabhan, akan mewujudkan kemenangan. Sementara kedengkian dan iri hati akan menerima rugi dan kekalahan (281 halaman). (9). Hikayat Abu Nawah. Setiap pemimpin /raja harus tahan menerima kritik. Kritikan itu perlu dikemas dalam dua bentuk, yaitu bentuk halus dan tajam/keras (301 halaman). (10). Hikayat Zulkarnaini. Kisah Iskandar Zulkarnaini dan Nabi Khaidir/Hidhir ini menyebut asal usul nama Aceh disebut Pulo Ruja(pulau kain bekas). Dan setiap kedengkian akan menerima balasan Tuhan (226 halaman). (11). Hikayat Akhbarul Karim. Menjelaskan mengenai Ilmu Fiqh, Tasawuf dan Ilmu Tauhid. Hikayat ini juga mengandung nasihat-nasehat agar umat Islam melaksanakan syari’at Islam secara kaffah (139 halaman). (12). Nadham Akhbarul Hakim. Berisi nasihat dan kritikan tajam terhadap ummat Islam dalam segala umur, yaitu remaja, lelaki dewasa, perempuan dewasa, orang tua (Ibu-bapak dan kakek-Nenek. Kritik disebut secara lantang/pedas dan kadang-kadang lucu (81 halaman). (13). Tambeh Tujoh. Tambeh (Arab adalah tanbihi, artinya penuntun/tuntunan). Berisi tujuh masalah/7 bab. Dua bab di antaranya termasuk masalah yang amat langka dibahas dalam syair/hikayat Aceh, yaitu masalah kerangka tubuh manusia dan Ilmu Ketabiban/kedokteran (155 halaman). (14).Tambihul Ghafilin. Anasms lsin dsri kitsb ini adalah Tambeh Limong Kureung Sireutoh, karena isinya 95 bab. Berisi 95 masalah/95 bab, terdiri dari nasihat, pelajaran Ilmu Agama, Ilmu Tasawuf, contoh-contoh yang bermanfaat; demi kedamaian di dunia dan kebahagiaan di akhirat(623 halaman). (15). Nadham Ruba’i. Membahas banyak hal masalah ajaran Islam namun secara ringkas (serba-serbi Agama Islam). (31 halaman). (16). Nadham Nasihat. Nasihat-nasihat mengenai pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (34 halaman). (17). Hikayat Nabi Meucuko. Kisah pencukuran rambut Nabi Muhammad Saw yang dilakukan Malaikat Jibril (20 halaman). (18). Hikayat Qaulur Ridwan. Qaulur Ridwan ialah perkataan yang disenangi atau diridhai Tuhan. Hikayat ini ditulis dalam bentuk “cerpen” yang mengajak orang mau mengerjakan Shalat, kisahnya diramu dengan muatan lokal (18 halaman). (19). Tambeh Tuhfatul Ikhwan. Menjelaskan 12 bab masalah agama dan kemasyarakatan. Tuhfatul Ikhwan = persembahan kepada saudara (294 halaman). (20). Tambeh Tujoh Blah. Berisi 17 bab, yang membahas masalah hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia dan dengan binatang/Lingkungan hidup. Tambeh 17 ini termasuk salah satu kitab tambeh yang sangat populer di Aceh (Pidie?) hingga tahun 60-an (236 halaman). (21). Hikayat Banta Amat. Kisah seorang anak raja yang yatim sejak kecil. Negeri dan semua kekayaan di rampas pamannya. Berkat ‘azimat’ yang diberikan raja ular ia berhasil menjadi raja kembali. Hikayat ini berjiwa lingkungan hidup (318 halaman). (22). Mikrajus Shalat. Membahas seluk-beluk shalat serta yang berkaitan dengannya dalam bentuk nadham Aceh (41 halaman). (23). Cuplikan: Hikayat Indra Bangsawan. Mengisahkan kehidupan dua orang putra raja yang berjuang menemukan permintaan Ayah mereka. Ternyata yang paling menderita; dialah yang mencapai kemenangan dan menjadi raja menggantikan sang ayah (79 halaman).( 24). Kitab Qawai’idul Islam. Dalam sebutan masyarakat tempo dulu naskah ini dinamakan “Kitab Bakeumeunan”, karena setiap pasal dimulai dengan ungkapan “Bakeumeunan”(Setelah itu). Menjelaskan mengenai Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam) secara panjang lebar dan mendalam. Keistimewaan kitab ini adalah karena ia ditulis dalam bahasa Aceh berbentuk prosa. Selain Bahasa Aceh, bahasa pengantar naskah ini juga menggunakan bahasa Melayu serta bahasa Arab. Pada umumnya bentuk penulisan bahasa Aceh adalah dalam jenis syair/puisi secara bersanjak (28 halaman). (25). Tambeh Gohna Nan. Naskah ini ditulis dalam bentuk penyampaian “wasiat dari seorang ayah kepada anaknya”. Inti wasiat sang ayah supaya si anak mengamalkan kehidupan ‘suluk dan tarekat’ yang amat berkembang di Aceh pada akhir zaman. Memang naskah ini berisi banyak ramalan tentang nasib negeri Aceh pada masa yang akan datang. Kitab ini di tulis kira-kira pada masa awal Perang Aceh-Belanda. Oleh karena belum diberi nama oleh pengarangnya, maka kitab ini penulis namakan “Tambeh Gohna Nan”(Kitab Belum Bernama) (175 halaman). (26). Adat Aceh. Berisi adat/tradisi dan protokoler Kerajaan Aceh Darussalam sejak masa Sultan Iskandar Muda. Sesungguhnya, inilah yang disebut dalam sepotong pribahasa Aceh: “Adat bak Poteumereuhom Hukom Bak Syiahkuala” (162 halaman). (27). Tazkirah Thabaqat. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Isinya menjelaskan tentang susunan tata pemerintahan Kesultanan Aceh sejak jabatan Geuchik sampai sultan Aceh sendiri (115 halaman).( 28). Resep Obat Orang Aceh. Cuplikan/saduran dari kitab obat Tajul Muluk karya Haji Ismail Aceh (55 halaman). Selain itu, ada pula 3 (tiga) naskah yang aslinya berhuruf Arab Melayu, namun telah ditransliterasikan oleh orang Belanda ke huruf Latin ejaan lama. Kemudian, penulis telah menyalin kembali ketiga naskah hikayat itu dari ejaan Belanda ke Ejaan Yang Disempurnakn (EYD). Ketiga hikayat itu ialah: (29). Hikayat Malem Dagang. Menceritakan pelayaran Sultan Iskandar Muda bersama pasukannya menyerang Raja Si Ujut di Malaka. Raja si Ujut adalah gelaran orang Aceh kepada Sultan Kerajaan Johor yang telah bekerjasama dengan Portugis (163 halaman). (30). Hikayat Ranto. Mengisahkan perihal masyarakat Pidie lebih seabad lalu, yang pergi merantau buat mengadu nasib di bagian Barat dan Selatan wilayah Aceh( 30 halaman). (31). Hikayat Teungku Di Meukek. Menceritakan perang saudara di Aceh Barat akibat adu-domba Belanda ( 20 halaman). Hasil alih aksara ke huruf Latin dari 31 judul naskah adalah berjumlah 6500 halaman.

3. Penerbitan
Tujuan akhir dari upaya transliterasi tersebut di atas adalah menerbitkannya dalam bentuk buku yang berhuruf Latin. Namun akibat keterbatasan dana penulis, maka hanya sedikit dari hasil alih aksara itu yang telah diterbitkan.

G. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan:
1. Penulisan Arab Melayu (huruf Jawi / Jawoe) tumbuh dan berkembangnya di Aceh, serta di Asia Tenggara (Nusantara) seiring dengan masuknya Agama Islam ke wilayah ini.
2. Sejauh yang dapat ditelusuri, penulisan Arab Melayu mulai tumbuh di Aceh, yakni di kerajaan Islam Perlak.
3. Seiring dengan berkembangnya agama Islam ke wilayah-wilayah lain di Nusantara, maka penulisan Arab Melayu ikut pula berkembang di sana.
4. Semasa kerajaan-kerajaan Islam sedang berjaya di Asia Tenggara, penulisan Arab Melayu sangat berperan dalam mencerdaskan umat, lewat karya-karya para pujangga dan ulama. Akibatnya, masyarakat muslim di Asia Tenggara telah memiliki peradaban/tamaddun tinggi.
5. Para ulama-pujangga Aceh amat berjasa dalam mengembangkan bahasa dan kebudayaan Melayu di Nusantara, melalui kitab-kitab karangan mereka dalam huruf Arab-Melayu, yang tersebar ke seluruh Asia Tenggara.
6. Sebagian besar karya tulis para ulama-pujangga Aceh adalah dalam bahasa Melayu, yang sejak sumpah Pemuda 1928 telah diakui menjadi bahasa Indonesia. Dalam hal ini para pengarang asal Aceh telah ikut membidani lahirnya Bahasa Nasional Indonesia.
7. Kehadiran bangsa-bangsa penjajah di Asia Tenggara merupakan sumber bencana bagi kemunduran penulisan Arab Melayu di Nusantara. Para penjajah telah menggusur huruf Arab Melayu dengan huruf Latin yang disalurkan lewat pendidikan ala Barat kepada rakyat pribumi Nusantara.
Saran-saran:
1. Dalam rangka menggalakkan kembali pemakaian huruf Arab Melayu di Aceh, Pemda NAD perlu mewajibkan pengajaran huruf Arab Melayu (huruf Jawi) pada setiap jenjang pendidikan, baik di sekolah umum, madrasah maupun dayah-pesantren. Fasilitas yang memadai perlu disediakan secara tetap setiap tahun anggaran.
2. Guna menumbuhkan rasa cinta yang lebih mendalam terhadap huruf Arab Melayu, Pemda Aceh / Lembaga terkait perlu lebih sering mengadakan pameran dan lomba yang berkaitan penulisan Arab Melayu; disertai hadiah yang membanggakan bagi para pemenangnya.
3. Perlu dibentuk sebuah Program Studi Bahasa dan Sastra Aceh di Universitas dan Institut yang ada di Aceh sebagai pusat pengkajian dan penelitian naskah dan penulisan Arab Melayu.
4. Para calon pejabat eksekutif dan legislatif di Aceh tidak hanya diwajibkan mampu membaca Al-Qur’an, tetapi perlu pula diwajibkan lancar membaca dan menulis tulisan Arab Melayu/Jawoe, karena huruf Jawi yang berkembang di Nusantara itu berasal dari Aceh.
5. Semoga dimasa mendatang, akan tampil para dermawan yang peduli kepada budaya nasional Indonesia yang nyaris punah ini. Naskah-naskah Arab Melayu yang telah dialihkan ke huruf Latin semestinya diterbitkan serta diedarkan kepada masyarakat Aceh.

Daftar Pustaka

AD Pirous,dkk, Aceh Kembali Ke Masa Depan,IKJ Press, Jakarta, 2006.
Alfakir Prof.Madya Mohd Syukri Yeoh Bin Abdullah,et.al., “Zawiyah Tanoh Abee: Sejarah dan Perkembangannya”, makalah pada International Seminar on Restorasi Naskah; Revitalisasi Manskrip Aceh: Pemeliharaan dan Pelestarian Manuskrip sebagai Warisan Budaya Masa Lalu, Banda Aceh, March 5th, 2011.
Catalog Manuskrip, Perpustakaan Pesantren Tanoh Abee Aceh Besar Buku I, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh Banda Aceh, 1980.
Ismail Husein, “Antara Dunia Melayu Dengan Dunia Indonesia dan Malaysia”, makalah pada penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia, 1985, dalam buku “Warisan Dunia Melayu – Teras Peradaban Malaysia”, Biro Penerbitan GAPENA, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1985.
LK Ara, dkk., Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas, Yayasan Nusantara, Jakarta, 1995.
Majalah TEMPO, Jakarta, edisi 23-30 Juli 2006.
Mohd Harun Ar-Rasyid, Serambi Indonesia, edisi 28 Oktober 1993. (Opini).
Mohd. Kalam Daud, Sistem Penulisan Arab-Melayu (Suatu Solusi dan Pedoman), Dinas Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, 2003.
Muhammad Yusof Hashim “Manuskrip Melayu: Warisan Keilmuan yang bernilai”, dalam buku Warisan Dunia Melayu – Teras Peradaban Malaysia, Biro Penerbitan GAPENA, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1985.
Sartono Kartodirdjo, dkk., Sejarah Nasional Indonesia, Jilid V, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1975.
Snouck Hurgronje, Aceh di Mata Kolonialis (terjemahan), Jilid I & II, Yayasan Soko Guru, Jakarta, 1985.
Syed Muhammad Naguib Al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Penerbit Universiti Kebangsaaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972. Syed Muhammad Naguib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Mizan, Bandung, 1990.
T.A. Talsya, Modal Perjuangan Kemerdekaan (Perjuangan Kemerdekaan di Aceh) 1947-1948, Buku II, Lembaga Sejarah Aceh, Banda Aceh, 1990.
Teuku Iskandar, Kesusasteraan klasik Melayu Sepanjang Abad, Libra, Jakarta, 1996
UU Hamidy, Aceh Sebagai Pusat Bahasa Melayu, Serambi Indonesia, Banda Aceh, Minggu 8 Juli 2007. (Opini).

*) Penulis, Drs. Teuku Abdullah, SH., MA  alias  T.A. Sakti adalah Dosen tetap pada Prodi  Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ( FKIP ) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Iklan

Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh

Opini

Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh

Sabtu, 7 Januari 2017 08:57
Kerudung Perempuan dalam Manuskrip Aceh

Oleh T.A. Sakti dan Siti Hajar

HEBOH mengenai foto Cut Meutia yang tidak berkerudung sebagai penutup kepala dalam lembaran uang kertas baru Rp 1.000, hingga kini masih menjadi perbincangan hangat, baik di media sosial, maupun dalam kehidupan masyarakat Aceh. Keadaan demikian terkait dengan kondisi Aceh sekarang yang sedang menerapkan syariat Islam.

Foto yang tanpa hijab itu seolah memberi sinyal yang kurang mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh dewasa ini. Dalam ajaran Islam adalah suatu kewajiban bagi seorang wanita untuk menutup aurat jika berada di lingkungan umum.

Akibat keberadaan foto Cut Meutia dalam lembaran uang itu; dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap kemajuan syariat Islam di Aceh ke depan. Uang merupakan alat jual-beli yang digunakan oleh setiap orang. Sesuatu yang tercantum pada mata uang tentu dianggap memiliki nilai tinggi, dan jika yang menghiasinya gambar seorang Pahlawan Nasional seperti Cut Meutia tentunya diharapkan untuk menjadi idola dan panutan.

Bagi sebagian orang, mungkin hal ini adalah persoalan kecil, tetapi bagi masyarakat Aceh adalah persoalan serius yang membutuhkan perhatian semua pihak demi kemajuan syariat Islam di bumi Serambi Mekkah, dan mengembalikan marwah Cut Meutia sebagai srikandi Aceh yang besar jasanya dalam perang fisabillah melawan penjajah Belanda.

Dalam sejarah peradaban Islam di Aceh yang amat panjang, banyak mewariskan pernak-pernik budaya yang beraneka macam. Sebagian dari pusaka indatu itu masih dapat kita saksikan hingga sekarang, di antaranya berupa manuskrip Aceh (naskah lama). Dalam manuskrip yang bertulisan huruf Arab-Melayu atau aksara Jawi alias Jawoe-Aceh inilah kita dapat melihat, bagaimana sejarah Islam di Aceh yang sangat memuliakan wanita dengan tata cara berbusana yang sopan dan indah.

Kerudung perempuan
Sebagai kegiatan sambilan, sejak 1991 saya (T.A. Sakti) telah melakukan transliterasi atau alih aksara 37 judul manuskrip yang terdiri dari hikayat, tambeh, dan nazam Aceh. Kini, saya memiliki lebih 7.000 halaman naskah olahan berhuruf Latin tentang berbagai segi kehidupan masyarakat Aceh tempo doeloe. Ternyata, dari puluhan judul naskah lama itu, hanya sedikit yang membahas tentang kerudung bagi perempuan. Naskah-naskah lama tersebut ialah Hikayat Akhbarul Karim, Hikayat Gomtala Syah, Tambeh Tukhfatul Ikhwan, Tambeh Limong Kureueng Sireutoh, dan Nazam Akhbarul Hakim.

Dalam bait Hikayat Akhbarul Karim (kabar yang mulia) karya Tgk Seumatang, terdapat gambaran tentang kondisi budaya masyarakat Aceh tempo dulu, termasuk dengan pakaian yang dikenakan oleh perempuan pada zaman itu. Pada ujung Pasal 6 berupa selingan atau jeda yang berjudul Panton Aceh disampaikan bahwa perempuan Aceh pada zaman dulu telah menggunakan kain panjang (ija sawak) sebagai penutup kepala di saat mereka berada dalam khalayak ramai.

Berikut isi bait tersebut: Laen nibak nyan teumpat piasan, rame sinan malam uroe. Cokle alat mita mudai, sok ngon ikai nibak jaroe. Ladom sawak ija panyang, meuhoi le nang ladom adoe (Selain itu, di tempat pertunjukan seni, selalu ramai siang dan malam. Para wanita mulai berdandan, lengkap dengan segala perhiasannya. Mereka menutup kepala dengan kain panjang, memanggil ibu, adik segera berangkat).

Dalam hikayat lain, gambaran peri kehidupan masyarakat juga diselipkan pengarang dalam selingan di antara dua penggalan cerita utama, seperti dalam Hikayat Gomtala Syah (Kisah Kera Raksasa); Puteh-puteh bungong geutoe, seupot uroe cantek-cantek. Ngolon kisah laen bagoe. Nyang ladom ngui gleueng suasa, taeu ija macam-macam. Seugot mirah taeu di ulee, jisok bajee dum putungan. Watee jijak teuhah ulee, hana malee inong jalang. (Putih-putih bunga geutoe, indah-indah di sore hari. Dengar ku kisah lain cerita. Sebagian mengenakan gelang suasa, terlihat kain aneka ragam. Sisir merah tampak di kepala, berpakaian aneka macam. Ketika pergi tanpa kerudung, tidak punya malu wanita jalang).