Yang Sastra dan yang Bukan Sastra

 

  • Catatan dari Sarasehan Kesenian di Solo

Oleh  Arief Budiman

SESUDAH berlansung semacam kemarau panjang dari kehidupan kesustraan Indonesia,  kita tiba-tiba dikejutkan dengan adanya dua seminar sastra (dan seni) nasional yang saling berdekatan waktunya. Yang pertama adalah ’’ Simposium Nasional Sastra Indonesia Modern ’’ di Yogyakarta, yang diselenggarakan oleh pusat penelitian Kebudayaan dan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada pada tanggal 26 dan 28 Oktober 1984 . Yang kedua adalah ’’ Serasehan Kesenian” ( yang pada kenyataannya lebih banyak bicara tentang kesustraan) yang diadakan di Surakarta, pada tanggal 28 dan 29 Oktober 1984.

Tanpa disengaja, antara seminar yang di Yogya dan di Solo, terjadi dipolarisasi yang menarik. (Saya katakan tanpa disengaja, Karena saya ikut membantu merencanakan seminar Solo, dan ketika itu kami tidak mengetahui sama sekali bahwa UGM sedang merencanakan sebuah seminar sastra lainnya, yang waktu pelenggaraannya sangat berdekatan). Polarisasi pertama adalah yang satu diselenggarakan di Yogya, yang lainnya di Solo, dua kota yang bagi kebudayaan Jawa merupakan kutub yang berlainan. Kemudian, polarisasi dalam hal penyelenggaraan. Di Yogya, karena penyelenggaraannya adalah sebuah lembaga nasional yang besar, pembiayaannya juga besar. Di Solo, karena penyelenggaraannya praktis karena individu-individu yang hanya bermodalkan semangat kerja, maka segalanya juga sangat serba sederhana. Para tamu undangan harus mencari, (atau panitia yang mencarikan) pemondokan di antara teman-teman di Solo yang mau ketumpangan tamu. Tapi polarisasi yang paling penting adalah dalam hal pokok pembicaraan.

Di Yogya, pembicaraan berkisar pada masalah sosiologi kesustraan Indonesia, pembahasan tentang karya-karya sastra mutakhir, dan sebagainya. Di Solo, yang dibicarakan adalah mempertanyakan kembali kriteria penciptaan sastra ( dan seni). Dasar-dasar penciptaan diragukan dan dipertanyakan kembali. Dengan demikian, nada pembicaraan seminar di Solo bersifat pemberontakan terhadap nilai-nilai kesustraan (dan kesenian) yang sudah mapan di Indonesia. Sangat tepat bila seorang peserta seminar di Yogya secara bergurau memberikan predikat pada seminar di Solo sebagai ” kesusastraan yang kiri dan yang kere.”

Karena saya sendiri tidak hadir pada seminar yang di Yogya, maka tulisn ini merupakan tulisan tentang seminar yang di Solo, tentang topik yang dibicarakan di sana dan pentingnya dan perkembangan kesustraan  Indonesia.

Yang Sastra dan yang Bukan Sastra

Empat masalah yang membahas masalah teori tanpa berkonsultasi dulu sebelumnya, tampak Yudhistira Massardi, Ariel Heryanto, YB Mangunwijaya dan saya sendiri (Arifin C. Noer ) yang diundang untuk membahas masalah teori tidak saya masukkan disini, karena yang dilakukannya adalah membacakan, secra sangat baik, bagian dari naskah dramanya). Acara lainnya diisi dengan pembacaan cerita pendek dan puisi oleh Yudhistira, Reny Djajusman dan Darwis Khudori.

Yang jadi pernyaan inti adalah apa sebenarnya  yang disebut sebagai karya ’sastra? Adakah nilai yang universal untuk apa yang disebut sebagai sastra itu? Kalau dengan sastra yang dimaksudkan karya-karya yang dinyatakan melalui bahasa yang dapat menggugah pembaca (  atau orang yang mendengarnya), maka ada banyak karya yang menggugah yang dalam kenyataannya dianggap bukan sebagai karya sastra. Kalau dikatakan bahwa dalam karya sastra yang menggugah itu, perlu ada nilai filosofis yang mendalam, persepsi kepala nilai yang transsendental, dan sebagainya, supaya dapat disebut sebagai karya sastra, maka tidak syak lagi hanya orang-orang kelas menengah ke atas yang terdidik  yang sanggup menikmati karya sastra. Rakyat yang hanya dapat memikirkan soal-soal yang duniawi, lelucon yang pornografis, dan hal-hal yang ’’rendah” lainnya, jelas tidak dapat bersastra. Bukankah ukuran semacam ini merupakan pemaksaan nilai-nilai kelas menengah kepada orang-orang dari kelas bawah, yang dunia dan seleranya berlainan?

Karena itulah, bagi Ariel Heryanto, penggolongan karya tulis menjadi sastra dan bukan sastra, sudah mengandung sebuah ideologi di belakangnya. Karena pada akhirnya, apa yang disebut sebagai sastra dan bukan sastra yang menjadi kekuasaan para kritikus sastra       ( yang semua merupakan anggota masyarakat dari kelas menengah ke atas) yang menentukannya. Aril sendiri belum secara jelas menunjukkan jalan keluar dari persoalan ini. Yang jelas, dia mempertanyakan secara radikal kriteria penggolongan apa yang disebut sastra dan bukan sastra.

Yudhistira mencoba menunjukkan semacam jalan keluar, melalui jalan yang disebutnya sebagi sastra dangdut. Buat dia apa saja yang dapat berkomunikasi dengan lingkungannya, itulah sastra. Katanya ( seperti yang dituliskan dalam makalahnya):

’’ Seperti musik dangdut, Sastra Dangdut ialah sastra yang tak peduli pada asal-usul dan percampurannya  dengan budaya mana pun. Ia juga tak peduli pada segala macam konsep yang ada. Yang penting baginya: bicara. Bicara mengenai apa saja, yang paling dekat dirinya, lingkungan kebutuhan dan keseharian. Tetek-bengek sampai ke Tuhan.”

Dengan demikian, sastra dangdut akan digemari orang baik disisi dan enggannya para ‘terpelajar’ ( para penghamba konsep konsep yang beku) mengakui kenyataan ini. Dalam sastra dangdut, semua bisa, semua sah, semua layak, semua punya hak, semua dapat tempat. Demikian Yudhis.

Romo Mangun bicara tentang konsep bangunan sebagai ganti konsep  keindahan-keindahan yang formal, yang sekarang terasa menguasai dunia kesustraan (dan kesenian) Indonesia. Keindahan yang estetis bukanlah sebuah penikmatan ruang otonom, yang dapat diserapi oleh panca-indera dan intelektual belaka. Keindahan merupakan aspek dari kehidupan secara total. Sesuatu yang indah, bukan karena dia memuaskan kebutuhan harmoni dari panca-indera atau keinginan intelektual kita, tapi karena dia merupakan kebenaran hidup.’’ Keindahan adalah kecemerlangan kebenaran (pulchrum splendor est veritas),’’ demikian Romo Mangun. Karena itulah, baginya, sastra yang berkualitas, jauh atau dekat, akhirnya berdimensi religius.

Sebagai contoh, Romo Mangun berbicara tentang rumah-rumah desa di Jawa. Bentuknya yang joglo, pengaturan ruangnya dari ruang tamu yang luas di muka, kemudian ruang tidur, kemudian lumbung padi di belakang, dan sebagainya, terasa indah bagi orang desa di Jawa, karena semuanya punya fungsi kehidupan, baik kehidupan duniawi, maupun bagi kehidupan akhirat. Justru karena semuanya begitu benar diletakkan pada tempatnya, yang mengatur hubungan antara manusia, dan kosmos maka dia menjadi indah. Keindahan dirasakan karena dalam rumah tersebut, orang Jawa merasakan dengan kehidupannya, dunia dan akhirat. Keindahan ini, sebagai konsekuensinya, tentu saja tidak saja dihayati oleh orang yang dunia kehidupannya berlainan, misalnya oleh orang-orang kelas menengah di kota-kota.

Pada dasarnya, apa yang saya nyatakan dalam seminar di Solo ini, juga sama dengan pembicaran lain. Pertama, saya menolak nilai universal dalam kesusastraan (dan kesenian). Keindahan tidak sama di mana-mana, di sepanjang sejarah. Keindahan terikat pada ruang dan waktu. Untuk masyarakat Jawa, keindahan lain dengan masyarakat Minang, untuk bangsa Indonesia, keindahan lain dengan bangsa Prancis. Untuk kelas menengah Indonesia, keindahan lain dengan kelas bawah Indonesia, untuk kelas menengah Indonesia dulu, keindahan lain dengan kelas menengah Indonesia sekarang. Dan seterusnya.

Bagi saya sastrawan-sastrawan yang menciptakan dengan kiblat nilai universal, yang tidak mau mengakui bahwa keindahan bersifat kontekstual, pada kenyataanya menciptakan karya-karya untuk konsumsi kritis sastra di negara maju. Tanpa sadar, ukurannya adalah karya-karya sastra pemenang Hadiah Nobel, tidak heran mereka cuman dapat memaki-maki rakyat bangsanya sendiri yang dikatanya kurang terdidik dan tidak dapat mengerti sastra yang bernilai.

Saya juga sependirian dengan Romo Mangun, bahwa apa yang disebut sebagai keindahan merupakan ekspresi dari totalitas kehidupan. Bagi saya, pertama-tama, orang harus hidup secara penuh dulu. Karena hidupnya yang penuh ini, maka dia mau menyatakannya melalui alat komunikasi apa saja yang mungkin bagi saya, bentuk tak penting.  Yang utama adalah dia mau menyatakan sesuatu yang berharga, yang berarti bagi hidupnya.

Bagi saya, hidup secara penuh dalam masyarakat Indonesia sekarang adalah terlibat dalam persoalan-persoalan besar bangsa ini. Karena salah satu persoalan  besar bangsa ini adalah masalah kemiskinan dari ketidakadilan (ini diakui oleh pejabat-pejabat pemerintah juga), maka untuk saya, sangat wajar bila pengarang besar Indonesia terlibat dalam persoalan ini, dan menyatakannya dalam persoalan ini, dan menyatakan dalam karya-karyanya. Karena itu, kalau saya mengharapkan sastrawan Indonesia berbincang tentang ketimpangan sosial yang ada sekarang, barangkali saya pada dasarnya memintanya untuk menjadi manusia Indonesia yang terlibat dengan masalah-masalah besar bangsanya dulu, baru menjadi  sastrawan. Menjadi sastrawan hanyalah merupakan by product dari menjadi manusia yang utuh, bukan sebaliknya.

Atas dasar ini saya sering menyatakan bahwa kekuatan roman Romo Mangun burung-burung manyar terletak bukan pada kadar kesusastraannya ( apapun ini maksudnya), tetapi keinginannya untuk menyatakan sesuatu kepada bangsa ini yang dianggapnya penting. Menurut saya, pada roman ini, Romo lebih tampak sebagai seorang manusia yang terlibat dalam masyarakatnya, yang mau menyatakan sesuatu yang dianggapnya penting, dan agak kurang peduli apakah dia akan tersebut sebagai sastrawan atau bukan. ( Dalam pembicaraan, dia menyatakan kepada saya, dia banyak meniru Multatuli ketika menuliskan roman tersebut. Keterangan ini sangat mendukung pendapat saya di atas).

Apakah yang terjadi pada Romo Mangun ini berbeda sekali dengan apa yang (sering) terjadi dengan pengarang-pengarang muda kita. Banyak di antara mereka yang memproyekkan hidupnya untuk menjadi sastrawan lebih dulu, di atas segala-galanya. Untuk itu mereka lalu melihat, misalnya kepada sastrawan-sastrwan terkenal Indonesia, dan mencari ukuran sastra yang dapat mereka penuhi supaya diakui menjadi sastrawan. Hasilnya, meskipun mereka hidup dalam lumpur kemiskinan, mereka menulis puisi-puisi bak orang kelas menengah kota Jakarta, yang berbicara tentang kesepian di tengah keramain kota besar kemungkinan terhadap kehidupan.

(Sumber: Kompas, 23 November 1984 hlm IV)