Rendra, Romantis dan Sentimentil

Rendra, Romantis dan Sentimentil

Dalam percaturan seni kontemporer Indonesia (sastra dan teater/ drama), Rendra adalah salah satu yang paling terkemuka. Bicara tentang sejarah dan eksistensi kesusastraan serta teater/drama kontemporer Indonesia, jelas tidaklah lengkap tanpa menyebut nama dan karya-karya dia bukan saja seorang tokoh, melainkan juga sekaligus fenomena dalam percaturan kesusastraan dan teater/drama kontemporer Indonesia. Ia memainkan peranan yang besar dalam merangsang dan menumbuhkan dinamika kehidupan  seni kontemporer Indonesia, khususnya teater/ drama.

Sebagai langkah awal dalam pembicaraan ini, agaknya tidak salah jika terlebih dahulu kita melihat Rendra dari sisi Rendra sendiri. Yakni menyangkut segala sesuatu yang pernah diungkapkannya perihal sikap dramatik dan kecendrungan estetikanya itu. Untuk ini, satu-satunya sumber paling otentik hanyalah buku mempertimbangkan tradisi ( Jakarta, Granmedia, 1983) yang berupa kumpulan berbagai karangan Rendra. Di dalam buku ini antara lain terdapat sebuah makalah Rendra untuk acara ” Temu Sastra 1982 ”, 6-8 Desember 1982, di TIM, berjudul proses kreatif saya sebagai penyair ( hal. 61-70).

Sesuai dengan judulnya, makalah ini memang berisi uraian Rendra perihal proses kreatifnya sebagai penyair, mulai dari proses penciptaan puisi-puisinya yang terkumpul dalam empat kumpulan sajak hingga potret pembangunan dalam puisi. Di sini dapat disimak, bahwa ternyata, puisi-puisi Rendra pada umumnya ( dan selalu) adalah hasil interaksi antara realitas lingkungan dengan realitas rohaninya.dengan demikian, dapat dikatakan puisi-puisi itu adalah reaksinya.

Jika kita amati seluruh puisi-puisinya itu, lalu kita amati pula realitas lingkungan dan realitas rohani Rendra yang berinteraksi sebelum dan sesaat lahirnya puisi-puisi  itu sebagaimana diuraikan Rendra dalam makalah tersebut, hipotesa ini memperlihatkan kebenarannya. Berdasarkan hal ini pula dapat dikatakan, bahwa Rendra sebetulnya adalah seorang yang reaktif terhadap realitas lingkungan. Sifat ini pula sebenarnya yang menyebabkan Rendra untuk selalu harus komit pada masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik sebagaimana diperlihatkan dengan nyata dalam puisi-puisi potret pembangunannya.

Sifat kreatif itu,tentu saja tidak cuma bisa dilihat lewat puisi-puisinya. Dalam karya drama (lakon) yang ditulisnya, hal ini pun nampak jelas. Seperti yang masih terlihat pada puisi-pusinya – lebh-;lebih pada periode sebelum potret pembangunan dalam puisi.

Hal serupa juga terlihat dalam posisi kesenimannya sebagai aktor dan sutradara. Meskipun untuk kedua bidang ini agak sukar mengamatinya, tapi tidak sulit untuk menangkap kecenderungan-kecenderungan yang diperlihatkan dalam berakting maupun menyutradarai. Selalu saja nampak ada pola-pola tertentu yang memperlihatkan sifat reaktif itu. Sebagai aktor agaknya Rendra-lah  satu-satunya orang yang paling piawai dalam membangun dan mengarahkan imaginasi penonton dengan kemampuan berakting untuk membuat personifikasi-personifkasi tertentu atas peran yang dimainkannya. Bahkan, Rendra  seringkali begitu menyadari hal ini, sehingga tak jarang ia’’ melayani’’ penonton sedemikian rupa. Sedangkan sebagai sutradara ,Rendra pun begitu lihai mengarahkan pertujukan untuk dengan mudah dikait –kaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, maupun politik.

SUDAH barang tentu, bagi setiap orang menyatakan  dan mengaku dirinya seniman , sifat reaktif adalah sesuatu yang mutlak harus dimiliki. Karena, pada dasarnya, sifat semacam ini merupakan modal untuk merangsang kreativitas. Namun memang, tidak setiap seniman memiliki kadar reaktif yang sama, dan Rendra nampaknya termasuk seniman yang tinggi kadar sifat reaktifnya. Artinya, dari segi ini saja , Rendra sudah memiliki satu kelebihan dibanding seniman lain di Indonesia

Hanya saja, rupanya, selain reaktif, Rendra juga seorang yang romantik dan sentimentil. Ini bisa dibuktikan dengan menyimak karya-karyanya lebih lanjut. Antara lain, misalnya, perhatikanlah lakon-lakonnya, seperti Perjuangan Suku Naga, Mastodon dan Burung Kondor, Sekda, ataupun yang terakhir Panembahan Reso. Lakon-lakon ini, di samping memperlihatkan sifat reaktif Rendra, juga memperlihatkan sifat romantis dan sentimentil Rendra terhadap realitas lingkungan ( sosial, ekonomi, politik, kekuasaan, dan lain sebagainya ). Simak lakon Perjuangan Suku Naga, misalnya. Bukankah yang dilakukan Rendra dalam lakon ini lebih banyak’’mengecam’’ dan “berprasangka” untuk yang ia sebut sebagai “modernisasi” atas nama keyakinan terhadap keseimbangan lingkungan. Karena itu, kalau disimak secara teliti, sebetulnya kita sebagai penonton sama sekali tidaklah diberi suatu persfektif pengalaman baru, atau setidaknya merangsang kita terhadap suatu pemahaman baru, sehingga kita memiliki kemampuan lebih kritis lagi melihat persoalan moderinisasi dan keseimbangan lingkungan.

Meskipun cara pengungkapannya persoalannya cenderung nampak berlangsung sebagai diskusi, namun terhadap persoalan yang dibicarakan, sebenarnya tidaklah terlalu banyak merangsang intelektualitas. Sebaliknya, malah emosilah yang lebih banyak dirangsang, sebab Rendra bukannya mengajukan pertanyaan, melainkan menawarkan kesimpulan. Dan ini, selalu dilatarbelakangi oleh sikap romantis dan sentimentilnya tadi.

Akibatnya bukan “dialektika” pemikiran yang terjadi. Tetapi justru “ratapan” –lah terhadapan persoalan yang diagungkan seraya berandai-andai seolah-olah menyesali yang sudah terjadi. Dan ini, biasanya, bukannya kesedaran rasional yang mengendalikan, akan tetapi yang lebih banyak adalah trance alias setengah sadar, tak heran, jika dalam karya Rendra yang lebih banyak berperan perasaan dan keyakinan/pemahaman-pemahaman subjektif atau hal-hal yang di persoalkan; bukan rasionalitas dan kebenaran objektif. Sebabnya adalah karena “reaksi” Rendra terhadap persoalan tersebut selalu ditandai dengan sikap” romantis”dan “sentimentilnya” .

Soal sikap romantis dan sentimentil ini, juga bisa disimak pada lakon-lakon asing yang diterjemahkan kemudian dimainkan Rendra. Bahkan ini lebih nyata lagi kalau diperhtikan puisi-puisinya. Pada umumnya, semua puisi Rendra berisi sikap dan semangat ini. Apakah itu yang terangkum dalam kumpulan Empat Kumpulan Sajak, Blus untuk Boni, Sajak-Sajak Sepatu Tua, sampai Potret Pembanguanan Dalam Puisi. Termasuk di antaranya adalah karya prosa semacam cerita pendek, Waisya Ah Waisya.

DEMIKIANLAH, jika kita simak lebih lanjut, sifat reaktif dan sikap romantis dan sentimentil itu, sesungguhnya juga melatar belakangi kecendrungan estetik dan sikap dramatis yang dianut Rendra dalam berkesenian. Kesadaran estetikanya adalah kesadaran reaktif yang romantis–sentimentil itu. Begitu pula halnya dengan penglaman dramatiknya, banyak di pengaruhi oleh kecenderungan reaktifnya yang romantis–sentimentil.

Namun demikian, bukannya Rendra tak pernah melakukan “penyimpangan” ini misalnya, terutama sekali, terlihat pada karya-karya eksprementasi, Teater Mini Kata. Pada karya-karya ini, meskipun sifat reaktifnya masih cukup kelihatan kecenderungan romantis–sentimentil itu, sudah sangat sukar dilacak. Atau setidaknya, karya-karya ini, tak meninggalkan kesan romantis- sentimentil. Boleh jadi hal ini disebabkan sifat eksprementasinya yang kental. Namun, menurut hemat saya, justru dalam karya-karya inilah Rendra berhasil sepenuhnya ” membebaskan” diri dari ambisi atau keinginan bawah sadarnya. Di sinilah Rendra sangat reasional dan realistis.

Akan tetapi, sekali lagi, apakah Teater Mini Kata adalah karya Rendra paling berhasil atau justru di luar itu, tulisan ini sama sekali tak hendak membicarakannya. Sebab, seperti dikemukakan sebelumnya yang hendak dilihat dalam tulisan ini bukanlah soal baik buruk. Dengan demikian, juga bukan soal berhasil atau tidak. Yang jelas, inilah sebuah kenyataan tentang Rendra dipandang dari aspek sikap dramatik dan kecenderungan estetikanya.

Tentu saja, paparan kenyataan tak perlu mesti mengurangi keberadaan Rendra yang sudah terlanjur diakui, baik sebagai seniman, maupun di luar kesenian. Betapapun, Rendra  adalah seorang tokoh. Suka atau tidak, kita masih membutuhkan pertokohan yang dimilikinya. Apakah itu terhadap dunia kesenian sendiri secara langsung, atau luarnya. Tapi, sudah barang tentu, Rendra pun tidak cukup hanya dilihat sebagai tokoh dibalik ketokohannya, ia pun perlu dilihat dan dipahami yakni dari sisi kecenderungan estetik dan sikap dramatik yang dianutnya sebagai seniman! ( Ari Batu Bara,  Pengamat Teater).

(Sumber: Kompas, Minggu, 26 Juni 1988, hlm. XIII).

#Artikel ini disalin oleh T.A. Sakti sekeluarga!

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s