Pengadilan Redaktur Sastra

Pengadilan Redaktur Sastra

Oleh  Kuswandi Kertaraharja

 ____________________________

Untuk memasyarakatkan karya sastra, ternyata media massa memegang peranan yang sangat menentukan. Baik untuk memperkenalkan sastranya kepada orang lain selaku pembaca media massa maupun memperkenalkan pengarangnya kepada pembaca lain. Sehingga tampak  sekali kuantitas pengarang yang bertebaran dalam mengisi ruang rubrik sastra dan budaya di media massa baik untuk koran maupun majalah. Di samping untuk melihat sejauh mana kualitas pengarang dalam berkarya sastra.

Kalau saja TIM telah berkali-kali menyelenggarakan forum puisi penyair Indonesia, itu tidak lepas dari peranan media massa, dimana mereka (penyair) yang mendapat kesempatan tampil di TIM dilihat dari kualitas karyanya (puisi) yang pernah dimuat di rubrik sastra koran.

Adalah tidak mungkin Dewan Kesenian Jakarta dalam mengundang para peyair untuk membaca karyanya di TIM itu tanpa melihat frekwensi pemuatan puisi atau karya lain di rubrik sastra  koran.

Jelas, media massa memegang peranan dalam memasyarakatkan karya sastra kepada pembaca sastra. Dan peranan yang paling menentukan terhadap rubrik sastra koran atau majalah itu adalah redaktur sastra. Sebab redaktur sastralah yang berkuasa penuh untuk memuat atau tidaknya karya sastra pengarang lain. Naskah sastra yang masuk ke tim redaksi tetap tidak akan dimuat jika redaktur  tidak sanggup menyeleksinya. Kendatipun karya itu bermutu. Begitu sebaliknya, naskah kurang bermutu,  bisa dimuat jika redaktur memang memasangnya. Terlepas beban moral bagi redakturnya , apakah itu karena penulisannya orang yang punya nama, sahabat karib atau golongannya.

Untuk itulah kita pembaca sastra  majalah atau koran sangat membutuhkan sikap redaktur yang netral. Tidak pilih kasih atau berat sebelah. Dalam memilih naskah yang hendak dimuat. Jika ada redaktur yang tidak netral terhadap pengarang lain, barangkali memang sudah saatnya kita adakan pengadilan redaktur sastra. Dan memang satu-satunya  terdakwa adalah redaktur yang bersikap kurang adil dalam menentukan pilihan karya sastra itu. Munculnya gagasan pengadilan redaktur sastra ini tidak mengada-ada seperti pernah terlaksananya pengadilan puisi di Bandung bulan September 12 tahun yang lampau, 1975. Sama sekali tidak ada rasa iri dengan terlaksananya pengadilan puisi 1975 itu.

Gagasan pengadilan redaktur sastra ini muncul karena saya pribadi merasakan tampaknya ada redaktur media massa yang sengaja berlaku tidak adil dan tidak netral dalam menentukan karya yang hendak dipasang dalam rubrik yang diasuhnya. Barangkali para pengarang lain ada yang merasakan dalam hal ini. Namun perasaan itu tidak tersampaikan karena takut atau ragu-ragu bahwa tulisannya tidak akan dimuat oleh redaktur.

Adanya sikap redaktur sastra yang konsisten, adil, dan netral akan membuktikan diri seorang redaktur dalam problematika penulisan karya sastra. Bisa membayangkan  jika seandainya yang merasakan ketidak adilan redaktur sastra itu justru redakturnya sendiri.

Ada beberapa dampak positif jika redaktur sastra itu berbuat jujur, adil, netral, bertanggung jawab atas beban yang dipegangnya dalam menentukan naskah/artikel yang hendak dimuat dalam rubrik yang dipegangnya. Pertama, rubrik sastra koran semakin tumbuh subur. Pengarangnya selalu muncul nama-nama baru. Tidak ajeg orang tertentu: Kedua,  tumbuh semangat bagi pengarang muda (yunior) dalam menulis dan mengirimkannya ke media massa  di berbagai daerah, karena adanya kemungkinan kesempatan  akan dimuatnya artikel yang dikirimkan. Sekalipun harus antri lama sekali. Ketiga, melanjutkan estafeta kepenulisan karya sastra dari generasi tua yang pada saatnya pasti mandeg. Entah disebabkan karena meninggal, tidak mampu berkarya lagi, maupun sebab lain sehingga mengakibatkan karya-karyanya mengalami kebekuan.

Kita merasa prihatin jika masih ada sikap redaktur sastra yang kurang memahami gejala sosial para pengarang muda lainnya yang belum pernah mendapat kesempatan tulisannya dimuat dalam rubrik sastra karena hanya dianggap naskah tidak bermutu dan pengarangnya belum terkenal atau bukan golongannya. Pengertian bukan golongan itu ada dua kemungkinan. Pertama, naskah sastranya tidak sepaham atau sealiran. Misalnya redaktur sastra itu penggemar sastra politik, sedang naskah yang masuk sastra sufi atau sastra relijius atau lainnya. Begitu juga sebaliknya. Kedua, pengirim naskah itu  bukan orang yang terkenal dalam dunia sastra koran  maupun kancah apresiasi sasatra di luar rubrik sastra. Misalnya keterlibatan dalam pembaca puisi, cerpen, temu satra (dialog sastra), pentas teater atau yang lain.

Dua kemungkinan di atas harus dihilangkan. Jika ternyata menghinggap pada diri redaktur sastra, memang layak kita adakan pengadilan buat redaktur sastra dan hakimnya adalah kritikus sastra yang benar-benar berperanan dalam kritik sastra. Sedang para penggugatnya adalah mereka yang merasa diperlakukan kurang adil dan kurang netral oleh redaktur. Yaitu para pengarang muda baik penyair, kritikus, maupun cerpenis yang masih digolongkan pemula (yunior). Termasuk di sini adalah esseis muda yang karya esseisnya tak pernah muncul di rubrik sastra koran karena dikotaksampahkan oleh redaktur.

Pengadilan redaktur sastra media massa bukan  untuk menacari kambing hitam ,tetapi mencari titik semu atau sinkronisasi antar redaktur dan pengarang. Sinkronisasi bukan dimaksudkan sebagai karya yang sepaham dengan redaktur sastra, tetapi dapat dicari jalan keluar tentang estetika sastra. Kita  memang butuh sastra universal, atau sastra umum yang tidak memihak sastra konstektual, sastra terlibat, sastra pop, sastra relijius, sastra sufistik, sastra politik, dan segudang embel-embel sastra lainnya. Kita butuh dalam rubrik sastra itu beragam isinya. Sehingga terwujud fungsi media massa yaitu media dari, oleh dan untuk massa atau masyarakat banyak.

Seandainya pengarang harus mengikuti selera redaktur dalam berkarya, jelas akan tercipta turun temurun pengarang epigon atau pengekor. Sehingga menjadikan kesesustraan kita miskin wawasan dan tidak berkembang. Padahal perkembangan karya sastra tidak lepas dengan perkembangan dan perubahan zaman. Dan tampaknya dewasa ini penyair muda kita mulai mengekor pengarang yang sudah jadi. Misalnya mengekor puisi sufistik, religius, dan sastra konstektual. Sehingga memaksa para pengarang untuk menulis sesuai dengan selera redaktur. Padahal kita butuh karya sastra yang bebas, tak terikat oleh faham atau aliran tertentu dari pra pembaharu terdahulu ( reformer sastra).

Mengingat begitu besarnya peranan media massa dalam apresiasi sastra, kita membutuhkan sosialisasi redaktur terhadap karya sastra yang hendak dipilih. Yaitu tidak membedakan antara yunior dan senior. Atau antara yang pemula dan yang sudah jadi. Yang kita butuhkan adalah sastra yang pantas untuk diketahui oleh publik. Tanpa pertimbangan kualitas dan frekuwensi  pemuatan dalam rubrik sastra koran atau majalah.

(  Sumber: Kedaulatan Rakyat,  5-6-1988. hal 5).

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s