Menyambut Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang Diselenggarakan HIMAS FKIP Unsyiah

Mengapa siswa kita belum terampil menulis
oleh Yusri Yusuf

Pernahkah kita para guru berpikir bahwa selama ini kita telah memaksa para siswa kita untuk meramalkan pikiran, perasaan, pengalaman, dan imajinasi kita? Pertanyaan ini mungkin menggelitik para guru bahasa Indonesia di sekolah. Namun bila kita jujur merenungkan, hal ini menjadi bahan intropeksi diri. Kenapa tidak, bukankah selama ini para guru bahasa Indonesia di sekolah dengan mudah dan gamblang menyuruh para siswa membuat karangan dengan mengajukan sejumlah judul/topik, menentukan tema karangan, dan bahkan membuat kerangkanya, kemudian menilai sesuai dengan alam pikiran , perasaan, pengalaman, dan imajinasi sang guru. Pemilihan topik, tema dan penyusunan kerangka karangan yang ditentukan sang guru biasanya tanpa memperhatikan kondisi psikologi anak, kondisi lingkungan, dan kondisi sosial sang anak. Padahal para siswa juga memiliki alam pikirannya, perasaannya, pengalamannya dan imajinasinya sendiri yang boleh jadi sama atau berbeda dengan gurunya. Kerena itu mungkin saja para siswa tidak dapat mengarang dan mendapat nilai yang rendah.
Disebabkan ini telah menempatkan anak dalam posisi tekanan mental. Sang anak senantiasa di cekam rasa takut, malu, cemas, serta ragu-ragu sangat mengarang. Mereka khawatir, kalau karangannya tidak memenuhi selera gurunya. Dan karangan yang dikembangkannya belum mencakup hal ikhwal yang dikehendaki sang guru. Keadaan psikologi yang demikian, akan menjadikan mereka tetap saja tidak bisa mengarang walaupun paham benar teori karangka mengarang.
Problematik pengajaran bahasa aspek menulis yang dikemukakan ini telah berlangsung sedemikian lama, namun tidak terpikirkan oleh kita. Coba kita renungkan, pengajaran menulis sudah dimulai sejak SD sampai ke perguruam tinggi (PT), namun tetap saja kebanyakan sang anak kita belum terampil menulis. Melalui proses pengajaran yang begitu lama tidak dapat melahirkan “out-put” yang terampil menulis. Karena itu, sudah saatnya kita menghayati hakikat dari pada menulis dan pengajarannya.
Sebagai seorang guru, kita hendaknya menyadari benar bahwa menulis itu kegiatan berbahasa bersifat produktif dan ekspresif. Yang diproduksi dan diekspresikan itu berupa pikiran, pengalaman dan imajinasi penulisnya. Sebagai kegiatan berbahasa, penulis pada mulanya dituntut memiliki pengetahuan mengenal komposisi karang mengarang atau menulis, pada mulanya mereka juga dituntut memiliki pengetahuan mengenal struktur bahasa, kosakata, dan sematik. Kemudian para siswa dituntut pengetahuan mengekspresikan potensi kreatif mereka baik yang berupa gagasan, perasaan , pengalaman maupun yang berupa imajinasinya.
Jika proses belajar mengajar menulis hanya terfokus pada pengisian pengetahuan (ranah kognitif), tentunya keterampilan anak tak akan terwujud. Satu kekeliruan yang dilakukan oleh guru-guru kita di sekolah adalah memperlakukan “menulis” sebagai suatu teori. Para guru telah mengajarnya “tentang tulis menulis” kepada para siswanya, bukan mengajarkan mereka “menulis”. Kita kumpulkan sejumlah teori tentang menulis lalu kita sampaikan kepada siswa kita, bagaikan seceretan dituangkan ke dalam satu gelas. Padahal menulis merupakan ranah psikomotorik yang dapat terwujud jika diberikan latihan yang cukup, mental yang aman, dan dimulai dengan hal-hal yang dekat lingkungan pribadi dan sosial anak.

Problematik berikutnya yang menyebabkan para siswa belum terampil menulis adalah penggunaan metode pengajaran yang keliru. Para guru lebih cenderung menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi saat mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah. Padahal metode-metode itu adalah umum, bukan metode pengajaran bahasa. Untuk pengajaran bahasa tersedia bermacam-macam metode dan dapat disesuaikan dengan aspek-aspek materi yang diajarkan. Sayangnya, para guru kita agak rendah tingkat kepeduliannya terhadap metode pengajaran bahasa tersebut, dan kebanyakan dari mereka ada yang tidak tahu metode-metode pengajaran bahasa yang sesuai dengan aspek yang akan diajarkan.
Apabila problematik ini ditanyakan pada guru, maka jawabannya adalah kurikulum. Kurikulum telah lama menjadi kambing hitam ketidak-berhasilan pengajaran kita. Padahal kita yang keliru memahami kurikulum. Kekeliuran itu terjadi karena sempitnya daya pikir dan minimnya referensi kita baik yang menyangkut soal materi maupun yang…………(beberapa baris tak dapat disalin, karena koran berlobang dan hitam)… ………………….. dengan metode pengajaran
malah ada yang menjadikan kurikulum itu…( idem)… bahan pengajaran.

.Drs Yusri Yusuf MPd, dosen
FKIP Unsyiah Banda Aceh.

(Sumber: Serambi Indonesia, Rabu, 20 November 1991, hlm. 4/Opini).

#Catatan: Biar telah usoe/lawas, tulisan ini tetap penting bagi penulis pemula. Saya posting dengan seizin penulis untuk menyongsong pelaksanaan acara Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMAS) FKIP UNSYIAH pada hari Senin, 10 Oktober 2016 bertempat di Auditorium Lama FKIP UNSYIAH lantai 2. Saya mohon maaf pada Panitia atas ketidakhadiran saya pada acara pembukaannya, berhubung kesehatan saya yang kurang baik dalam seminggu terakhir. Kepada semua peserta saya ucapkan: Selamat menjadi penulis kreatif!.

Bale Tambeh, Senin, 10-10-2016 poh 5.26 pgi ( T.A.Sakti )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s