Bagaimana pun wilayah pengarang berasal dari tradisi masyarakatnya

TANGGAPAN BUAT PURWADMADI

Bagaimana pun wilayah pengarang berasal  dari tradisi masyarakatnya

Oleh: Agnes Yani Sardjono

RISIKO untuk ditertawakan memang ada, jika saat sekarang ini seseorang berani mempersoalkan sastra lengkap dengan segala atributnya. Ditertawakan, kalau yang dikemukakan itu cuma persoalan yang sudah klise, basi, dan bukannya mengemukakan alternatif-alternatif baru yang menantang. Apabila ditulis oleh orang lain yang sebenarnya tidak berkompeten. Tapi siapa boleh melarang seseorang mengemukakan gagasannya?

Dari yang sudah basi, betapa pun menjemukan bagi pihak-pihak tertentu, kalau itu di publisir lewat media mssa misalnya Koran, hal itu masih bisa dipetik manfaatnya. Mungkin tak seberapa manfaat yang bisa diperoleh. Namun itu sudah mending dibanding pendapat yang menggebu-gebu yang serba ilmiah tapi cuma diramaikan di dalam kamar sempit. Entah itu dalam seminar atau lokakarya.

Sekurang-kurangnya itulah yang tersirat dalam benak saya. Terbukti ketika saya membaca tulisan Purwadmadi (MP,29 April 1984), dari gagasan yang semula cuma berbentuk kalimat, saya dan pembaca jadi bisa lebih tahu ketika penulis tersebut mencoba menggambarkan  dengan skema. Apakah ini bukan sesuatu yang bermanfaat bagi saya khususnya dan pembaca pada umumnya? Seperti kita ketahui, mayoritas dari mereka adalah orang awam dalam hal sastra seperti yang dipercaturkan.

Karena itulah sebagai pengarang sekaligus pembaca, (biperan), saya agak bingung sedikit melihat skema kedua yang terpapar dalam tulisan tersebut. Di samping tidak terbiasa menghadapi benda macam begitu, juga rasanya tidak amat penting bagi pembaca awam. Siapa pun pasti tahu, untuk bisa membaca karya sastra (serius atau pop),dan seseorang tidak bisa langsung membaca dari tanggan pertama, terkecuali anggota keluarga pengarang!

Sebuah karya  sastra baru bisa dinikmati oleh pembaca tentunya setelah melewati proses penyebaran sebagaimana mestinya. ………………………(Beberapa baris rusak akibat tsunami, T.A.Sakti)……………………………………Kalau karya sastra itu sudah berbentuk buku, tentunya karena sudah diterbitkan oleh sebuah penerbit. Dan pabrik kertas sendiri harus bisa menjelaskan darimana dia mendapat bahan buku. Tapi yang begini jelas memusingkan. Sama halnya orang awam melihat skema tersebut.

Kacamata  kepengarangan

Hal yang tidak memusingkan bagi saya, ialah jika menyinggung wilayah seorang pengarang. Artinya, keberangkatan seorang pengarang dalam melahirkan karya-karyanya. Teramat luas sebenarnya wilayah seorang pengarang. Saking luasnya, bisa saja seorang pengarang malah tidak tahu apa yang harus ia tulis. Tapi pengarang jenis ini jelas bukan pengarang yang kreatif, ia tidak akan menelan begitu saja wilayah yang begitu luas. Diakui atau tidak, ia mesti sadar akan kemampuan dirinya. Karena kesadaran itulah seorang lalu menciptakan kapling untuk dijadikan daerah garapannya.

Karena itu, bagi pengulas sastra yang  arif pasti mafhum akan kondisi macam itu, pengarang yang satu pasti lain dengan yang lain. Karena memang kaplingnya tidak sama. Perbedaan itu bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Antara lain, faktor intelektualitas, kekuatan imajinatif yang ia punyai, daya ekspresif dan tak kalah pentingnya adalah sikap moral seorang pengarang menghadapi masyarakat dan zamannya.

Tidak mudah menemukan pengarang yang dikaruniai modal kelengkapan berpikir yang mencakup faktor-faktor di atas. Karena itu tidak usah berpusing-pusing kenapa pengarang macam Edy D. Iskandar ‘hanya’ mampu melahirkan cerita-cerita remaja macam Semau Gue, Cowok Komersil, Sok Nyentrik dll nya itu. Sedang Iwan  Simatupang mampu melahirkan novel ‘berat’ macam Ziarah, Merahnya Merah, dll. Sementara YB Mangunwijaya lebih sukses menulis novel-novel sejarah sedang NH Dini lebih tertarik menulis kehidupan dunia wanita yang lebih ia akrabi dibanding dunia lain yang mungkin tak begitu  akrab dalam hidupnya.

Bukan maksud saya dalam tulisan ini membanding-bandingkan pengarang yang saya sebut di atas. Hal itu tak lebih hanya sekedar contoh. Sebab saya pribadi tidak menganggap yang satu lebih hebat dari yang lain. Dalam beberapa hal mungkin saja. Tapi dilihat dari kacamata kepengarangan, saya pribadi lebih condong menghargai mereka sama besarnya. Masing-masing sudah menggarap kapling yang mereka punyai dan ternyata diterima oleh masyarakat pembacanya.

Teori?

Kalau ditanya kondisi masyarakat macam apa yang melatarbelangi lahirnya novel-novel berat macam karya Iwan Simatupang Merahnya Merah; Laki-laki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway, juga Bumi Manusia karangan Pramudya, maka jawab dari pertanyaan itu tidak sulit.

Saya yakin, pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh pengarangnya! Merekalah yang tahu pasti msyarakatnya, kondisi zaman, serta situasi yang melingkungi dirinya pada saat proses penulisan itu berlangsung. Kalaupun ada kritikus atau pengamat yang mencoba mengorek lewat seperangkat teori atau metode, maka hasilnya tidak dijamin benar seratus persen. Bahkan mungkin kebalikannya (meleset dari kondisi yang sebenarnya).

Pengakuan Putu Wijaya akan proses kreatifnya, keberangkatan dirinya dari seorang pemula hingga mempunyai nama besar seperti sekarang, adalah sebuah contoh. Betapa para pengamat sastra  keliru memberi tafsiran di dalam beberapa karyanya. Novel yang berjudul Bila Malam Bertambah Malam yang oleh para pengamat dianggap usaha untuk memberontak, menjebol dinding feodalisme, ternyata keliru. Maksud pengarangnya tidak sejauh itu. Seperti yang diakui oleh pengarangnya sendiri, “saya tidak punya obsesi untuk menjebol atau mendukung (feodalisme-pen), karena pada masa saya, soal kebangsawanan tidak merupakan pertentangan yang tajam lagi.” (Putu Wijaya, Horison, No 10 thn 1982)

Apalagi untuk novel-novel yang sering disebut jenis stream of consciousness atau aliran kesadaran itu. Para pengulas hanya mampu meraba-raba bersandarkan pada teori atau metode yang sudah ada. Novel-novel Iwan Simatupang, atau beberapa karya Putu Wijaya  juga cerpen-cerpen Danarto dan Budi Darma, Saya yakin hanya pengarangnya sendirilah yang mampu menjelaskan dengan gamblang akan kondisi masyarakat yang mempengaruhi  lahirnya karya-karya tersebut.

Karena itulah, jika kita membaca kumpulan cerpen Budi Darma orang-orang Bloomington, sebagai pembaca kita wajib berterimakasih kepada pengarangnya dengan adanya prakata atau pengantar yang panjang lebar menjelaskan latar lahirnya cerpen-cerpen tersebut (Budi Darma, Orang-orang Bloomington, Jakarta 1980).

Keterikatan

Diakui atau tidak, dalam beberapa hal pengarang memang tercetak oleh kondisi dan tradisi masyarakatnya. Betapapun kuatnya ia berusaha untuk lari ke luar dari sana, tapi sisa-sisa akar yang sudah terlanjur merasuk ke dalam jiwanya sangatlah sulit untuk dibuang begitu saja. Dan pengertian masyarakat di sini, janganlah dianggap sebagai pengertian yang sempit. Pengertian masyarakat bagi seorang pengarang tentu lain dengan awam itu sendiri. Masing-masing punya  sudut pandang yang berbeda.

Dan oleh karena keterikatannya, tak mungkin pengarang akan lari meninggalkan masyarakatnya. Tapi sekali lagi, ikatan macam itu janganlah dianggap sebagai ikatan yang kaku dan mati. Itu adalah ikatan yang luwes. Karena luwes, pengarang masih memiliki kebebasan. Karena hanya kebebasan dan keberanianlah yang memungkinkan seorang pengarang bisa mencipta dengan leluasa.

Meski begitu, di sini yang namanya “kebebasan” tidak mesti mutlak. Kalau sampai ini terjadi, maka akan menghasilkan vertigo, tempat berpijak akan berpusing. Maka yang lain-lain pun akan ikut pusing.

Tapi saya tidak akan ambil pusing dengan “keberanian” Purwadmadi memasukkan saya pada kelompok penulis yang cuma bisa menghasilkan karya-karya macam Sok Nyentrik, Gaun Hitam Seorang Janda, Puspa Indah Taman Hati dll.

Sungguh, selaku pribadi yang punya peran ganda (pengarang dan pembaca hanya belum jadi editor saja), saya menghargai pengarang-pengarang jenis lain. Bahkan dalam beberapa hal, penghargaan saya akan lebih tinggi dibanding para pengulas sastra yang melecehkan karya mereka. Lebih dari sikap solidaritas, karena mereka mampu mengungkapkan kenyataan sosial yang sedang terjadi di dalam masyarakat.

(Catatan: Beberapa baris  terakhir tak terbaca dikotori lumpur Tsunami, T.A. Sakti)

{Sumber: Minggu Pagi,  20 Mei  1984 hlm. 3). terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s