Jangan Harap Tulisan Anda Dimuat Kalau Tidak Sesuai ‘Misi Koran’

Jangan Harap Tulisan Anda Dimuat Kalau Tidak Sesuai ‘Misi Koran’

 

            TULISAN sdr Untung Sudarmadji tentang “menulis di koran dimuat atau tidak”. yang dimuat Minggu Pagi tanggal 25 Maret 1984, telah membuka tabir rahasia yang selama ini belum pernah terungkapkan. Padahal sebetulnya hal tersebut sangat dinanti-nantikan oleh khalayak, karena bagi awam ada semacam katakutan bila dirinya ingin mengungkapkan tabir rahasia yang semacam itu, karena nanti disangkanya sok protes, aksi, sinis dan sebagainya. Wajarlah kalau tulisan untuk Sudarmadji tersebut sempat mengundang tanggapan dari kalangan pembaca entah itu dari orang dalam sendiri atau dari kalangan pembaca umumnya. Dan baik itu yang pro maupun yang kontra, namun setidaknya sang Redaktur pun telah ditodong untuk urun rembung.

Menulis di koran atau di surat kabar yang menjadi keinginan banyak pemula memang banyak suka dukanya. Kalau tulisan dimuat di koran dan dibica orang lain, rasanya dada ini ingin meletup-letup dan terselip rasa bangga di hati karena dengan dimuatnya tulisan tersebut berarti wawasan yang diajukan itu barangkali berguna untuk perubahan sosial dalam masyarakat, atau seolah-olah di dunia ia pandai sendiri, plus lagi imbalan dari redaksi yang cukup lumayan buat mentraktir kawan membeli es teller. Ini merupakan kesukaan yang tiada taranya.

Tetapi kalau tulisan tidak dimuat-muat. Sudah kehilangan uang untuk beli kertas, prangko, ongkos pengetikan (bagi yang belum punya ketik sendiri mungkin), seolah membuang-buang tenaga dan pikiran sementara hasilnya nihil!

Bagi calon penulis (penulis pemula) yang belum terbiasa menghadapi masalah yang satu ini, dan dasar tidak punya kesabaran akan menjadi prustasi seketika, dan berkonklusi bahwa dirinya tidak bisa menulis di surat kabar! Nah ini yang celaka gara-gara belum dapat prioritas lantas membunuh kreatifitas sendiri.

Untuk itu maka pantaslah bila masalah tersebut dibicarakan bersama dalam rubrik ini sekalipun ini lebih banyak bersifat saling adu argumentasi.

Beberapa faktor

Beberapa faktor yang membuat tulisan seseorang itu bisa dimuat di surat kabar dan tidak, ialah pertama (seperti telah disinggung oleh Bambang Bernandus, cuma pendapat ini kontradiktif dengan kami), khusus mengenai faktor nama. Faktor nama ini sangat penting. Bagi yang telah mempunyai nama (atau yang oleh Sdr Untung, dan ini yang menimbulkan pertentangan atau polemik) disebut-sebut sebagai “best seller” setiap tulisan yang masuk ke meja redaksi tidak pernah dikoreksi namun langsung dimuat. Tetapi bagi yang belum mempunyai nama, hitung-hitung dulu sang Redaktur untuk menerimanya. Sekalipun Sdr Bambang S, Bernardoes telah mengambil kasus yang dialami oleh Umar Yunus misalnya, untuk menentang pendapat Sdr Untung, namun contoh tersebut nampak kurang akurat.

Faktor kedua, mengenai bobot dan penyajian tulisan tersebut. Mungkin bobot atau cakrawala dari tulisan tersebut cukup luas, namun karena tidak bisa(menyajkan) hingga tidak menarik cara penyajiannya maka tulisan tersebut tidak bisa dimuat dalam koran.

Ada sebuah artikel yang isinya hanya sebuah ceritera tentang “orang angon bebek” misalnya, karena penulisannya p a n d a i “m e n g o l o r-n g o l o r” sehingga menjadi panjaaaaang maka tulisan tersebut bisa dimuat. Tetapi sebaliknya ada tulisan mengenai cara-cara mengatasi kelaparan di dunia ketiga misalnya, namun karena tidak bisa menyajikan tidak menarik maka tulisan tersebut tidak dimuat.

Faktor ketiga, yakni mengenai misi masing-masing surat kabar. Patut diingat bahwa setiap surat kabar mempunyai misi sendiri-sendiri yang antara misi surat kabar yang satu dengan yang lain berbeda.

Biasanya surat kabar mau memuat tulisan-tulisan yang sesuai dengan misinya saja. Sekalipun tulisan tersebut bagus tetapi tidak sesuai dengan misi surat-kabar yang dikirimi maka jangan harapkan kalau tulisan tersebut bakal dimuat. Itulah sebabnya maka setiap orang yang ingin mengirimkan artikel ke suatu surat kabar terlebih dahulu mempelajari misi surat kabar yang dimaksudkannya. Hal ini sudah diakui oleh umum.

Faktor keempat, adanya relasi dengan orang dalam, semakin banyak relasi dengan orang dalam maka semakin lebar kemungkinannya untuk dimuat. Sehingga surat kabar tersebut akhirnya cuma di isi oleh orang itu-itu saja, dan seolah tertutup kemungkinannya dari pihak luar.

Kalau hal yang demikian sampai berlarut terjadi di suatu media surat kabar, maka ini suatu gejala yang kurang sehat bagi perkembangan arus komunikasi yang seharusnya bersifat wajar dan sehat.

Itulah beberapa catatan tambahan mengenai tanggapan atas tanggapan terhadap tulisan Sdr Untung Sudarmadji mengenai menulis dikoran dimuat dan tidak dimuat.    (Darmanto dan Darmaningtyas).

 

(Sumber: Minggu Pagi, 6 Mei 1984 hlm. 3). terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s