Syarat Menulis di Koran Perlu Menjaring Pesan dan Kreativitas

TANGGAPAN BUAT DRS UNTUNG SUDARMADJI

Syarat Menulis di Koran Perlu Menjaring Pesan   dan Kreativitas

Oleh: Bambang Soelistyanto Bernardoes

TIDAK dapat di sangkal bahwa           di samping terpetik wajah maju di bidang penulisan dan dunia tulis menulis di koran, tampak ujud lain lagi yang di satu sisi sering masih di gunjingkan orang.

Sisi ini hanyalah anggapan yang masih berupa asumsi subyektif dan belum pernah diperbincangkan lewat forum yang lebih serius.

Secara langsung atau pun tak langsung, kita tiap hari disuguhi acara membaca tulisan berbagai masalah yang digarap dan dicanangkan oleh beragam orang. Hal itulah yang mau tidak mau mesti dilihat secara obyektif, bila kita ingin menilai apakah di segi kualitas (mutu), dunia tulis menulis kita mengalami kenaikan atau justru merisaukan. Dalam hal kuantitas (jumlah dan kesempatan) yang kian membanjir sekarang, memang tak perlulah orang ragukan benar.

Drs. Untung Sudarmadji agaknya memandang perihal dunia kepenulisan di koran dalam kacamata ‘sang terlibat’  yang masih berurusan dengan ‘kemurnian pandangan’ dan tidak disertai keingintahuan lebih jauh perihal ‘ lingkup koran’ secara wajar dari ‘dalam’.

Sengaja saya haturkan begitu, sebab kenyataannya menurut Untung, hanya nama-nama ‘best seller’ yang nyaris setiap saat ditemui di berbagai media, dan kenapa bukan para pemula yang sedang gigih mempertahankan eksitensinya sebagai penyumbang naskah. Tentu saja dalam hal ini, masalah yang kita bicarakan adalah masalah yang bersih dari prasangka dan bersifat umum.

 

Kriteria

Bercakap-cakap masalah tulisan yang pantas disaji di koran kita tentu tak boleh begitu saja mencampuradukkan antara tulisan dengan oknum atau orang yang menulisnya, dan paling sedikit kita harap maklum bahwa kehadiran orang yang menuliskannya tak kurang dan tak lebih merupakan pedamping karya yang berhasil dituangkannya dalam bentuk dan isinya yang ada di saat itu.

Faktor ‘best seller’ memang sedikit banyak kita kenal juga keberuntungan-keberuntungan mereka. Itu bukan masalah yang sebetulnya “masalah” namun kita toh dengan semangat ‘jujur’ mau menyebut bahwa ke-best saller-an (baca: kelarisan) merekapun dulu dimulai dari penulisan yang jatuh bangun dengan dunianya. Dengan tulisan demi tulisannya.

Untuk itu, andai kata saudara Untung mempertautkan dan mengaitkannya dengan segerombol titel, keterkenalan, ‘klik’ (ini istilah kasar) dan lain sebagainya, hal satu inilah yang agaknya cukup mengusik sekalangan orang yang mengalaminya.

Umar Yunus, salah seorang penulis yang akhir-akhir ini yang kembali  berdengung namanya, kerap sekali menerima naskahnya diretur (dikirim kembali) dari berbagai pihak, dan tidak jarang tulisannya yang setulusnya dianggap baik oleh dia (Umar Yunus), ternyata tak muncul-muncul di media yang ‘dipercaya ‘-nya untuk memasangnya . Dan dengan keterusterangan Umar Yunus, seperti dapat kita temui di salah satu tulisannya di buku “mitos dan komunikasi”-nya, perihal satu naskahnya yang mengupas Belenggu, yang ‘ditahan’ HB Jassin (?), tidak hanya dialami oleh Umar Yunus saja.

Pendek kata, banyak nama ‘best seller’ yang dulukala ketika masih ‘ingusan’ pernah mengalami kejemuan lantaran karyanya tak terpasang.

Penulis ini sendiri merasakan benar dan mengalami hal serupa itu. Dan bukan sesuatu yang pongah serta bersifat destruktif apabila dengan terus terang saya nyatakan bahwa : “belum tentu kedekatannya dengan orang dalam membawa kelancaran”. Itu semoga tidak terlampau mengada-ada dan menjadi sebuah ‘kaca banding’ yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tiap redaktur memiliki kaca pengukur dan semacam kriteria yang boleh diyakini oleh pihak diluar sang media itu sendiri. Tetapi kriteria mereka pun tidak mesti sama dan tidak perlu sama. Mereka memandang naskah dan isinya, penyampaian dan kerapihannya, baru di lain-lain segi perihal nama dan kelarisan penulisannya pun sering dipakai sebagai ‘pelengkap’ kehadiran yang super melengkapi seadanya. Jadi bukan pelengkap yang hanya embel-embel belaka sifatnya.

                                          Mudah!

Menulis di surat kabar itu disebut sukar ya boleh saja sukar,tetapi disebut mudah memang sebenarnya mudah pula. Kita menangkap apa yang ada sebagai buah kenyataan, seperti halnya bila seorang insinyur mesin menghadapi  mesin, tak ada pula yang sekali pandang tahu secara detailnya dan dapat dengan ‘empuk’ melahapnya dan menguasainya.

Yang tersulit bagi para penulis seperti yang selalu saya pikirkan dan saya catat dan renungkan adalah kesahajaan penyampaian,dengan bahasa dan penalaran indah permai (dalam artian bukan mutlak bunga bahasa,tetapi tetap dan komunitatifnya) disertai tanggungjawab penuh dari penulisnya sendiri. Biasanya ketergelinciran pemikiran seorang penulis tak mudah dilihat orang, tetapi yang termudah untuk diamati adalah kesalahan-kesalahan tata hurufnya belaka.

Berbekal keyakinan bahwa menulis itu mudah (lihat selanjutnya tulisan Arswendo Atmowiloto kendati ia cenderung kepenulisan fiktif an sich), maka bagi penulis yang masih menganggap diri belum ‘best seller’ dan ‘tidak bertitel’ pun tidak seharusnya berkecil hati.

Kalau kita memandang akhir-akhir ini kecenderungan ‘orang kampus’ dan ‘ gembala mahasiswa’ …………………….(sobek)………..untuk menjebol benteng koran yang dinanti-nantikan memajang tulisannya.

Syarat-syarat itu tentu saja sangat kompleks sekali. Hanya mereka yang pintar ‘menjaring pesan dan kriteria serta tak putus berkreasi kreatiflah’ yang akhirnya merasa betapa kemudahan dapat diraihnya. Tentu saja koran dan majalah atau media  bukan barang yang boleh disebut dan dicaci  dengan ‘mudah’ begitu saja. Media memang memerlukan ‘isi dan kulit’ sekaligus.

Hampir setiap tulisan berbicara tentang isi dan kulit dalam membahas suatu masalah, asosiasi kita selalu mirip atau bahkan sama persis dengan masalah bentuk dan isi dalam dunia sastra. Hal itu memang wajar,. Isi tanpa bentuk yang mendukung secara tepat, apalah artinya.  Bentuk tanpa bobot isi, apalagi. Pendeknya apabila dalam sebuah tulisan kedua hal itu diperhatikan masak-masak, adalah sebuah nasib buruk belaka apabila redaksi menolaknya untuk memuat di medianya.

Tetapi masalah isi dan bentuk karangan yang sudah sesuai pun masih harus menjalani pengujian yang lain lagi. Kita semua tahu ada sebutan khas yang menyatakan: “ Koran bagai ‘kelekatu’, sekali muncul lalu ditelan sang waktu”. Ada lagi kesamaan serupa itu yang sering disebut orang dengan istilah lainnya. Pendek kata sekali koran dibaca, lalu dibuanglah sang koran, seakan tak ada gunanya selain sebagai pembungkus. Ironis yang nyata tetapi pedih.

Bagi seorang peneliti dan penelaah tulisan tertentu di koran-koran terpilih, tulisan di Koran ternyata tidak secepat itu dienyahkan. Ia bisa berujud kliping, bisa berujud dokumentasi utuh. Bukan lantaran bentuk dan isi tulisan itu saja yang dikejar sang peneliti atau penelaah, tetapi apa yang bisa bersifat sedikit langgeng yang dikumpulkannya.

Syarat?

Bila setiap penulisan di koran memahami benar masalah itu, maka sang penulis pun akan berusaha untuk mewujudkan tulisannya, Sejalan dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang biasanya sudah sejak awal mula dicatatnya dalam hati.

Ketentuan itu bisa saja antara lain berupa:

Topik aktual yang mengandung unsur baru, entah berupa data kongkrit, pandangan atau saran yang menyangkut kepentingan sebagian  besar pembaca.

Mempunyai sasaran tertentu dan menarik. Bila ada ide dari sebuah  sumber yang hendak dituangkan dalam berita, anda boleh memperluasnya dengan urutan waktu kronologis, menggunakan suatu bentuk News Story (cerita berbentuk berita) dan tidak melupakan hubungan sebab akibat …………(Catatan: Selebihnya tidak terbaca lagi, karena sudah koyak dan tertutup lumpur tsunami Aceh,26 Desember 2004. Bale Tambeh, Sabtu, 26 Februari 2016, pkl. 8.55 pagi, T.A. Sakti).

 

{Sumber: Minggu Pagi, Yogyakarta, 8 April 1984 hlm. 3} terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

 

 

 

Jangan Harap Tulisan Anda Dimuat Kalau Tidak Sesuai ‘Misi Koran’

Jangan Harap Tulisan Anda Dimuat Kalau Tidak Sesuai ‘Misi Koran’

 

            TULISAN sdr Untung Sudarmadji tentang “menulis di koran dimuat atau tidak”. yang dimuat Minggu Pagi tanggal 25 Maret 1984, telah membuka tabir rahasia yang selama ini belum pernah terungkapkan. Padahal sebetulnya hal tersebut sangat dinanti-nantikan oleh khalayak, karena bagi awam ada semacam katakutan bila dirinya ingin mengungkapkan tabir rahasia yang semacam itu, karena nanti disangkanya sok protes, aksi, sinis dan sebagainya. Wajarlah kalau tulisan untuk Sudarmadji tersebut sempat mengundang tanggapan dari kalangan pembaca entah itu dari orang dalam sendiri atau dari kalangan pembaca umumnya. Dan baik itu yang pro maupun yang kontra, namun setidaknya sang Redaktur pun telah ditodong untuk urun rembung.

Menulis di koran atau di surat kabar yang menjadi keinginan banyak pemula memang banyak suka dukanya. Kalau tulisan dimuat di koran dan dibica orang lain, rasanya dada ini ingin meletup-letup dan terselip rasa bangga di hati karena dengan dimuatnya tulisan tersebut berarti wawasan yang diajukan itu barangkali berguna untuk perubahan sosial dalam masyarakat, atau seolah-olah di dunia ia pandai sendiri, plus lagi imbalan dari redaksi yang cukup lumayan buat mentraktir kawan membeli es teller. Ini merupakan kesukaan yang tiada taranya.

Tetapi kalau tulisan tidak dimuat-muat. Sudah kehilangan uang untuk beli kertas, prangko, ongkos pengetikan (bagi yang belum punya ketik sendiri mungkin), seolah membuang-buang tenaga dan pikiran sementara hasilnya nihil!

Bagi calon penulis (penulis pemula) yang belum terbiasa menghadapi masalah yang satu ini, dan dasar tidak punya kesabaran akan menjadi prustasi seketika, dan berkonklusi bahwa dirinya tidak bisa menulis di surat kabar! Nah ini yang celaka gara-gara belum dapat prioritas lantas membunuh kreatifitas sendiri.

Untuk itu maka pantaslah bila masalah tersebut dibicarakan bersama dalam rubrik ini sekalipun ini lebih banyak bersifat saling adu argumentasi.

Beberapa faktor

Beberapa faktor yang membuat tulisan seseorang itu bisa dimuat di surat kabar dan tidak, ialah pertama (seperti telah disinggung oleh Bambang Bernandus, cuma pendapat ini kontradiktif dengan kami), khusus mengenai faktor nama. Faktor nama ini sangat penting. Bagi yang telah mempunyai nama (atau yang oleh Sdr Untung, dan ini yang menimbulkan pertentangan atau polemik) disebut-sebut sebagai “best seller” setiap tulisan yang masuk ke meja redaksi tidak pernah dikoreksi namun langsung dimuat. Tetapi bagi yang belum mempunyai nama, hitung-hitung dulu sang Redaktur untuk menerimanya. Sekalipun Sdr Bambang S, Bernardoes telah mengambil kasus yang dialami oleh Umar Yunus misalnya, untuk menentang pendapat Sdr Untung, namun contoh tersebut nampak kurang akurat.

Faktor kedua, mengenai bobot dan penyajian tulisan tersebut. Mungkin bobot atau cakrawala dari tulisan tersebut cukup luas, namun karena tidak bisa(menyajkan) hingga tidak menarik cara penyajiannya maka tulisan tersebut tidak bisa dimuat dalam koran.

Ada sebuah artikel yang isinya hanya sebuah ceritera tentang “orang angon bebek” misalnya, karena penulisannya p a n d a i “m e n g o l o r-n g o l o r” sehingga menjadi panjaaaaang maka tulisan tersebut bisa dimuat. Tetapi sebaliknya ada tulisan mengenai cara-cara mengatasi kelaparan di dunia ketiga misalnya, namun karena tidak bisa menyajikan tidak menarik maka tulisan tersebut tidak dimuat.

Faktor ketiga, yakni mengenai misi masing-masing surat kabar. Patut diingat bahwa setiap surat kabar mempunyai misi sendiri-sendiri yang antara misi surat kabar yang satu dengan yang lain berbeda.

Biasanya surat kabar mau memuat tulisan-tulisan yang sesuai dengan misinya saja. Sekalipun tulisan tersebut bagus tetapi tidak sesuai dengan misi surat-kabar yang dikirimi maka jangan harapkan kalau tulisan tersebut bakal dimuat. Itulah sebabnya maka setiap orang yang ingin mengirimkan artikel ke suatu surat kabar terlebih dahulu mempelajari misi surat kabar yang dimaksudkannya. Hal ini sudah diakui oleh umum.

Faktor keempat, adanya relasi dengan orang dalam, semakin banyak relasi dengan orang dalam maka semakin lebar kemungkinannya untuk dimuat. Sehingga surat kabar tersebut akhirnya cuma di isi oleh orang itu-itu saja, dan seolah tertutup kemungkinannya dari pihak luar.

Kalau hal yang demikian sampai berlarut terjadi di suatu media surat kabar, maka ini suatu gejala yang kurang sehat bagi perkembangan arus komunikasi yang seharusnya bersifat wajar dan sehat.

Itulah beberapa catatan tambahan mengenai tanggapan atas tanggapan terhadap tulisan Sdr Untung Sudarmadji mengenai menulis dikoran dimuat dan tidak dimuat.    (Darmanto dan Darmaningtyas).

 

(Sumber: Minggu Pagi, 6 Mei 1984 hlm. 3). terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`