Siti Nuraini, Penyair Wanita

Siti Nuraini, Penyair Wanita

Oleh Linus Suryadi AG

KALAU ada penyair wanita pengembara di Indonesia, tidak lain penyair wanita itu adalah Siti Nuraini.  Juga setelah puisi Indonesia modern berumur 65 tahunan, kapan perjalanan negara dan bangsa Indonesia melampui sejumlah konflik sosial dan politik besar maupun kecil, bercitra nasional dan internasional. Pada umur 18 tahun – dia lahir di Padang 6 Juni 1931 – Siti Nuraini sudah menunjukkan bakat kepenyairannya. Ketika itu dia menulis puisi berjudul Perempuan, Lengkapnya demikian:

PEREMPUAN

Perempuan lena mematah – matahkan

seranting kering, bersandar di jendela tinggi

empat persegi, rahasia kejauhan

Di luar memanggil, di hatinya hinggap rasa ganjil

Jiwanya mesra danau terbuka

alam kedua bagi kehidupan di

pinggir

Kasih dan dambanya

beriak di dasar, tiada sekali diberinya  gilir.

Rumahnya pudar didekap sunyi

Burung-burung dihalaunya masuk

malam.

Ia sendiri menggigil, lalu berdiri

diambang dia gugup, ketika ke dalam

disentaknya pintu dan wajahnya terkatup

September 1949

Saya tidak tahu, puisi di atas apakah merupakan permulaan karier kepenyairannya atau sebetulnya lebih awal lagi mulai mencipta. Puisi tersebut pertama kali muncul di majalah Mimbar Indonesia, kemudian oleh HB Jassin dimasukkan ke dalam bunga rampai sastra Indonesia Gema Tanah Air Jilid 2. Di situ, secara tersamar sudah bisa kita ketahui bibit-bibit naluri pengembaraannya. Katanya:’’ rahasia kejauahan/ di luar memanggil, di hatinya hinggap rasa ganjil”.

Pengembaraan macam apa yang ditempuh Siti Nuraini?.

Selaku penyair Indonesia, tentu saja konteks itu menunjuk kepada pribadi manusia Siti Nuraini Kedudukan  itu mengharap untuk dimengerti bahwa, baik ketika hijrah di Jakarta– dia pernah memangku jabatan sebagai sekretaris majalah Siasat – kemudian bermukim di Negeri Belanda selama 1952-1953, ataupun kini di Amerika Serikat, dia mempersembahkan seluruh eksistensinya melalui wahana puisi Indonesia modern.  Di situ tersimpan sebuah dunia idaman, pengharapan, wawasan, juga sikap, yang sudah tersepuh oleh pengalaman hidup. Pendek kata, Siti Nuraini mencurahkan segalanya ke dalam dunia iminajinasi yang di landasi dunia pengalaman konkret. Tentu saja, tidak semua pengalaman konkret sanggup dia ekspresikan ke dalam bentuk pengucapan  estetik, puisi.

Untuk itu A Teeuw telah merumuskan: Ida Nasution dan Siti Nuraini mungkin merupakan pengarang yang paling berbakat, dan keduanya berhubungan  erat dengan Angkatan  45, tetapi Ida meninggal dunia sebelum ia sempat menghasilkan sesuatu yang abadi nilainya, sedang karya asli Siti Nuraini amat terbatas lapangannnya.” Sedang Ida Nasution disebut-sebut namanya dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia  modern tapi sidang pembaca masa kini buta sekali terhadap karyanya, tapi terhadap Siti Nuraini pun sangat sedikit pembahasan dilakukan. Mungkin baru dalam Kata Pengantar Toeti Keraty, karena formatnya, tidak ada kemungkinan pembicaraan berkembang lebih lanjut.

Entah apa saja faktor yang menyibukkan Siti Nuraini selama kepergiannya dari kampung halaman, Padang; yang jelas pengembaraannya tidak pernah terberitakan oleh media massa Indonesia. Etnik Minang memang sudah sejak sastra Indonesia modern bangkit, dia sudah menyumbangkan banyak putra-putrinya yang terjun ke gelanggang tradisi sastra tulis. Tanpa perlu tahu: apakah tradisi leluhurnya sudah punya  tradisi tulis yang mapan, atau sama dengan etnik-etnik Indonesia yang lain: yakni bertolak dari tradisi sastra lisan. Disamping itu, ternyata sebagian besar sastrawan asal etnik Minang mendapatkan nama dan lahan kreativitasnya – minimal sejak Angkatan PB – di tempat- tempat perantauan: kota-kota besar di Jawa, Jakarta. Jika sajak Perempuan ternyata  merupakan sajak awalnya, ditulis Siti Nuraini di kota pengembaraannya yang pertama Jakarta, kenyataan tersebut akan menjadi indikator bahwa Siti Nuraini memerlukan antitesa kebudayaan kota lain sehingga minat kreatifnya bangkit.

Kebangkitan minat menjadi orang kreatif yang membutuhkan antitesa kebudayaan kota lain, pada hakikatnya bukanlah monopoli sastrawan Indonesia modern dari etnik Minang. Pembentukan kebudayaan baru di manapun di dunia ini, selalulah hasil sintesa kebudayaan-kebudayaan tua yang besar. Demikian pun sastrawan Indonesia modern asal etnik Jawa, sekali meraka  hendak mengartikulasikan pengalaman kebudayaannya yang baru, yang modern, akhirnya akan menemukan dirinya selaku manusia transkultural. Kenyataan kebudayaan Indonesia yang mendapati dirinya sebagai transpormasi budaya etniknya dan budaya Barat bukanlah kenyataan kebudayaan yang ganjil. Dia merupakan trend peradaban  yang mustahil terelakkan. Siapa pun yang menolak keharusan sejarah peradaban modern ini, dia akan menjadi manusia tenik dan terpencil.

Seniman Indonesia modern dari berbagai sektor yang sering mendapat predikat kaum moderenis, lebih realistis lagi berpredikat kaum urbanis, pada hakikatnya produk dari proses-proses sintesa kebudayaan demikian itu.

Itulah sebabnya, pada konteks ini Siti Nuraini berkenalan dengn Godot dan mengucapkan pengalaman estetikanya di dalam puisi Indonesia modern. Puisi pencarian yang singkat, hanya terdiri dari empat baris dalam satu bait, mewakili banyak seniman Indonesia mdern yang ’’bagai pengembara Jahudi”  untuk mencari ”  negeri mana ditakdir kediamanku”. Imagery  Godot dan Jahudi ini sangat kuat, menjadi batu tumpuan kegelisahan spiritual Siti Nuraini, selaku wanita pengembara. Lengkapnya demikian:

               PENCARIAN

                                Untuk R.N

Karena Godot tak datang sungkan

berpesan

alamat tiada kemungkinan seribu

satu:

bagai pengembara jahudi kuriling

bepergian

negeri mana ditakdir kediamanku.

 

Juni 1968

Sejak dia menyadari bahwa ibu kandung kebudayaan yang mengasuhnya tidak lagi (belum lagi? memberikan suatu yang bermakna; dengan idiomnya sendiri ’’ Rumahnya pudar didekap sunyi”  dalam sajak Perempuan (1949) sampai dia menulis sajak Pencarian (1968) – jadi sudah berlansung selama 20 tahunan Siti Nuraini masih juga meriling berpergian. Tidak ada isyarat dan fenomen bahwa negeri kediamannya ialah di dalam puisi-puisinya seperti pengakuan verbal subtansial demikian terdapat pada Chairil Anwar dalam bentuk sajak Rumahku. Bila seorang penyair tidak merasa dan mengira bahwa ”negeri kediamannya’’ ialah puisi-puisinya, yang memungkinkan dia menjadi produktif  berpuisi, agaknya Siti Nuraini bukanlah penyair yang krasan tinggal di dalam rumah. Sajak Rumah (1950), yang singkat, bukan lagi rumah. Demikian pun sajak Dongeng Kepada Seorang Asing(11950) sekalipun dia berada di rumah tapi diapun ”kembali asing”.

Mungkin sekali rumah dalam arti harafiah mesti mengalami transendesi, sehingga sidangkan pembaca puisi Siti Nuraini akan menemukan makna lebih jauh dan bervariasi sudut peninjauannya.  Setidaknya,  apa yang disebut rumah belum lagi diketemukan, apalagi membikin dia krasan. Mungkin baginya rumah merupakan sesuatu yang sangat pribadi, bukan dalam pengertian komunal dan bersifat verbal.

Selalu demikianlah yang menjadi asas kesenian: dia mempunyai dimensi profan sekaligus transenden. Bermula dari pengalaman profan, seorang penyair mengembangkan daya imajinasinya, sampai kepada pengalaman transendental. Di situ dia akan menunjukkan kemahiran memakai bahasa ekspesinya, sehingga bakat dan kekuatan yang dimiliki mampu melahirkan ungkapan artistik.

Kiranya tinjauan A Teeuw yang mengatakan Siti Nuaraini ’’ merupakan pengarang paling berbakat”, pada ’Beberapa Orang penulis wanita sesudah Perang’  baru menemukan bukti yang meyakinkan pada akhir 1960-an. Sajak berjudul Variations on Theme (1969), yang juga mendapat pujian majalah sastra Horison, (1969), hemat saya juga merupakan sajak terbaik yang pernah ditulis Siti Nuraini. Lebih baiklah sajak ini lumayan panjang…….

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s