BANYAK MASALAH KELUARGA HARUS DITULIS

BANYAK MASALAH KELUARGA HARUS DITULIS

NAMANYA sudah populer. Tidak hanya di Indonesia. tetapi juga  di luar negeri. Ia pernah bermukim di Jepang, Amerika dan Perancis, karena satu konsekuensi dari perkawinannya dengan Yves Coffin., seorang diplomat Perancis. Dari perkawinan itu (1960) lahirlah dua anak yang kini sudah besar-besar. Sulungnya bernama Merie Clarie Lintang (perempuan) sekarang lagi tekun mempelajari ilmu sosial-politik di Kanada ;  sedang yang bungsu (laki-laki) Pierre Louis Padang menetap di Paris bersama ayahnya. Belakangan ini Ny. Dini sendiri menetap di Indonesia dengan ,pos-pos utamanya adalah Jakarta, Semarang, Jogya dan Bandung. Sebagai orang asli Semarang (dilahirkan 29 Pebruari 1936) Ny. Dini menyambut gembira terbitnya majalah ini. Dan buru-buru dia mempertanyakan nama majalah Dini yang identik dengan namanya. Tantu saja Reporter DINI  Yudiono K.S yang khusus berkujung kerumahnya di Semarang hanya dapat menjawab, ’’ Kebetulan saja. Yang pasti,  serupa tapi tak sama’’.

Selanjutnya dengan ramah Ny.Dini menegaskan bahwa penerbitan di daerah memang harus dikembangkan agar jangan sampai segalanya terpusat di Jakarta. Lagi pula, katanya, sangat banyak masalah keluarga dan kemasyarakatan yang perlu digarap dan dituliskan.

           Et i k e t

Dalam hubungan itu Ny. Dini yang masih tetap men-Jawa itu menuturkan pengalaman dan pengamatannya bahwa masalah utama yang tampaknya semakin kurang diperhatikan orang banyak adalah masalah etiket atau sopan-santun. Dan ngomong soal itu ia bisa tampak bersemangat sekali. “Iki kudu ditulis lho Yudi”, katanya kepada Reporter DINI yang memang sudah siap merekam komentar dan pendapat-pendapatnya. Secara garis besar dikatakan, “Sopan santun itu tidak boleh terdesak arus modernisasi. Saya kira masalahnnya bukan moderen atau tidak. Tapi justru apakah kita ini beradab atau tidak.  Mungkin kedengarannya keras. Tapi biarlah, sebab  terus terang saya prihatin. Dan dengan siapa saja, dimana saja, kapan saja, saya selalu berusaha menegaskan hal itu.  Mbok iya sing padha ngumemi sopan-santun ngono lho!’’

Sementara Reporter DINI  menyinggung masalah berubahnya sistem kemasyarakatan menuju suatu sistem yang lebih mantap nantinya, ternyata Ny. Dini berprinsip bahwa perubahan sistem itu toh tak harus menggeser hakikatnya sopan-santun atau etiket. Dengan demikian harkat kemanusiaan  akan selalu ada pada urutan pertama. Baru kemudian menyangkut masalah sarana atau sistemnya. Diambilnya contoh sekitar masalah ’’kulanuwun’’ atau  ’’terima kasih’’ yang akan selalu berkaitan dengan berbagai segi kehidupan, apakah dalam rangka urusan-urusan formal atau tidak. Dikatakan lagi bahwa untuk memenuhi aturan itu toh seseorang tidak harus datang sendiri.  Bisa lewat telepon atau surat-surat pendek. ’’Tapi banyak diantara kita masih malas menulis kan?’’ katanya sambil tersenyum ramah.

          Membaca

Berbicang-bincang dengan Ny. Nh. Dini atau Ny. Nurhayati Srihardini Coffin yang telah menulis beberapa novel penting itu memang terasa mengasyikkan. Reporter DINI  nyaris kewalahan memilih-milih persoalan yang perlu dikemukakan. Sebab Ny.Dini luwes sekali mengalihkan satu soal ke  lain soal. Dari soal Etiket kemudian beralih ke masalah kebudayaan membaca.

Dikatakan bahwa tradisi atau kebudayaan membaca sangat penting. Pendidikan formal di sekolah-sekolah sebenarnya terlalu singkat untuk membentuk suatu pribadi yang utuh. Sementara itu pendidikan keluarga sangat beraneka ragam. Oleh karena itu buku-buku atau bacaan yang baik harus dijadikan  salah satu sarana yang penting bagi pendidikan, khususnya dalam pembentukan moral.  Soal-soal etiket misalnya, toh bisa dipahami lewat bacaan yang baik. Tentu saja tidak terbatas di situ. Sebab katanya, sangat banyak masalah keluarga yang harus dan bisa diungkapkan lewat tulisan.

Sementara minat membaca sudah semakin berkembang, maka tradisi itu harus semakin ditanamkan di tengah-tengah keluarga. Peranan ayah dan ibu peranan atau lingkungan keluarga sangat penting dalam hal itu.  ’’Saya sendiri bisa mengarang karena dulu-dulunya tumbuh di tengah keluarga yang punya tradisi membaca. Kemuadian saya mulai senang menulis sejak bocah. Dan almarhum Ayah serta kakak-kakak mendorong kegiatan saya menulis. Dan saya yakin bahwa lewat bacaan atau karangan yang saya hasilkan itu sudah berarti ikut menyumbangkan pendidikan’’, katanya  menyinggung masa silamnya  yang manis.

Selanjutnya Ny. Dini menghimbau kepada siapa saja, terutama ayah dan ibu agar sering-seringlah memberi hadiah berupa buku. Bila perlu anak-anak diajak lansung memilih buku kegemarannya di toko buku. Tentu saja  harus disertai kontrol agar pilihan anak-anak itu bermanfaat. Artinya tidak sekedar bacaan hiburan, tetapi ada isinya.

Menjawab pernyataan  Reporter DINI  sekitar buku bacaan anak-anak yang baik, Ny. Dini yang juga telah menceritakan kembali beberapa dongeng Perancis (diterbitkan Sinar Harapan, 1981),  menggariskkan (1) mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak-anak, (2) mengantarkan mereka kepada kesadaran bermasyarakat, (3)  menanamkan keyakinan pada hakikat keadilan, kejujuran, kebenaran, etika, dan (4) ditulis dalam bahasa yang baik.

’’Bagaimana halnya dengan kejujuran, kebenaran atau etika dalam dunia pewayangan kita?’’, tanya Reporter DINI kemudian.

’’Pada prinsipnya saya sendiri senang pada dunia pewayangan. Saya buktikan dengan membeli kaset-kaset wayang setiap kali saya punya uang. Tidak kurang dari Rp 20.000,00 sering saya sisihkan untuk itu. Disamping itu saya selalu menyisihkan sebagian uang untuk membeli buku-buku, apakah itu fiksi atau bukan’’. Dan jawaban itu ditambah catatan bahwa sekarang ia boleh dibilang seratus prosen penulis professional. Artinya, tidak bekerja formal di kantor dengan gaji bulanan.

“Sekarang penulis dapat hidup dengan baik. Asal rajin, tekun dan menjaga kualitasnya. Dan saya sendiri sudah membuktikannnya’’, katanya pula sambil menyinggung kumpulan cerpennya yang baru terbit. Tuileries.

(Sumber: Majalah DINI, no.3 tahun I – 1982 – hal. 5-6).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s