Ayo Menuliskan Aceh di Internet – VII

 

Ketika Tujuh Tahun Menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2016

 

Ayo Menuliskan Aceh di Internet – VII

 

April 2015  s/d  Maret 2016  merupakan Tahun Tesis saya. Betul-betul tahun penuh perjuangan dan penuh kesabaran untuk mengatasi berbagai kesulitan guna mencapai tujuan.

Alhamdulillah, biar pun saya hidup dalam suasana penuh tekanan fisik dan mental, namun blog Bek Tuwo Budaya masih tetap berlangsung dengan menu-menu baru setiap bulannya;  walaupun kebanyakan bersumber kliping koran atau majalah yang telah saya simpan bertahun-tahun dan sebagian besar ‘daur-ulang’ dari rendaman lumpur tsunami Aceh, 26 Desember 2004 M.

Tekanan fisik yang saya sebutkan di atas, bukanlah bersumber dari luar. Akan tetapi berasal dari fisik saya sendiri yang sudah “rusak” lebih dari 31 tahun. Dalam hal demikian, untuk berpergian saya harus dibantu sebatang tongkat serta dipapah orang. Sementara tekanan mental, bahwa penulisan tesis itu mempunyai jadwal penyelesaian yang pasti yang tidak boleh saya lewati, yaitu tangal 30 Desember 2015.

Catatan: Terakhir saya salinHikayat Abu Jeuhai (Abu Jahal)  pada  19 Maret 2014 pkl 7.15 wib. Setelah itu saya disibukkan dengan pekerjaan rutin memberi kuliah pada dua kelas mahasiswa Reg 1 dan 2  setiap hari, yaitu sejak hari Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at. Sementara pada hari Sabtu, Ahad; saya sebagai mahasiswa di Pascasarjana   mengikuti kuliah mulai 8.30 pagi sampai jam 18.00 sore dengan 4 mata kuliah setiap hari serta 1 – 2 dan 3 (ujian Teks Home) tugas paper setiap mata kuliah. Insya Allah, mulai 1 Ramadhan 1435 H/29 Juni 2014 M  saya akan giat menyalin kembali Hikayat Abu Jahai. Sehari- sampai jam 12 siang. Sebelum 1 Ramadhan, hati sempat cemas karena Fel Hikayat ini hilang terhapus, Alhamdulillah, berkat batuan orang  felnya muncul lagi!. Memang, menjelang bulan Puasa, CPU berkali-kali ke tukang   itu, sampai-sampai fel Hikayat Abu Jahai terhapuskan!.

 

Bagi orang yang sehat dan segar-bugar, mungkin saja apa yang saya alami sejak awal dari pencarian topik tesis, merupakan hal biasa. Namun, bagi saya yang mimiliki ‘kelemahan fisik’ apa saja yang membutuhan gerakan badan merupakan beban yang membutuhkan ketenangan buat menghadapinya. Sebelum terpilih calon tesis yang ‘jadi’, berkali-kali saya perlu membawa bahan yang akan dikaji. Beruntung saya diberikan Allah mendapat ‘pengkaji awal’ seorang dosen yang baik hati.

Selanjutnya, saya menjalani bimbingan proposal berkali-kali. Satu renungan, yang saya resapi pada periode ini, bahwa begitu mudah saya menjumpai kesalahan-kesilapan mahasiswa dalam proposal dan skripsi mereka yang saya ‘bimbing’ selama ini. Akan tetapi saya kurang mampu melacak kesalahan-kesilapan dalam proposal saya sendiri, sehingga memerlukan campur tangan dosen pembimbing dalam urusan yang sesungguhnya teramat mudah itu, namun terlepas dari glip-glip atau tatapan mata saya.

Setelah mengikuti Seminar Proposal yang berjudul “Nilai-nilai Sejarah Aceh dalam Hikayat Malem Dagang” (28 Mei 2015) bersama 5 orang teman, saya pun memasuki masa pembimbingan tesis. Akibat berbagai rintangan – mungkin sebagiannya dapat disebut tak dapat mengatur waktu – penyerahan hasil perbaikan proposal baru terlaksana pada (28 Juni 2015) hari terakhir batas penyerahan yang telah diberi waktu sebulan penuh.

Meski saat penyusunan tesis dengan judul baru Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang; telah mulai sejak ditunjuk dua orang Profesor sebagai  pembimbing melalui SK Direktur Pascasarjana pada 30 Juni 2015, namun bulan-bulan September-Oktober-Nopember dan Desember 2015 adalah bulan-bulan penuh beureukat dan meukarat(berkah dan payah) bagi saya. Setelah melalui beberapa kali konsultasi (beliau mau berangkat dinas ke luar negeri), pada 4 September 2015 tesis saya ditangdatangi oleh Pembimbing II.

Selain terus menjalani bimbingan dari Pembimbing I, di bulan September dan  Oktober saya perlu membuat ringkasan tesis untuk sebuah Jurnal yang merupakan peraturan baru. Mencari Jurnal secara mendadak, ini juga termasuk kisah yang panjang. Hari Selasa, 24 November 2015 mulai jam 9.00 saya mengikuti Seminar Hasil Penelitian dengan empat orang penguji. Ini juga peraturan baru. Tanggal 11 – 17 Desember 2015 tesis saya mengalami Review Ujian Pendahuluan oleh dua orang penelaah tesis. Peraturan baru ini juga saya pertama yang mengalaminya dari mahasiswa program kelompok saya. Ini semua, karena saya  mengejar waktu harus lulus sebelum tanggal 30 Desember 2015. Pada 29 Desember 2015  jam 11.00 saya mengkuti acara mempertahan tesis di depan Tim Penguji Tesis Pascasarjana dan dinyatakan lulus, yang langsung hari itu dibuat surat keterangan lulus untuk segera saya sampaikan kepada Rektor dan Dekan tempat saya bertugas. Alhamdulillah!.

Angka tujuh dianggap bilangan “keramat dan misterius” dalam budaya Aceh dan Dunia Melayu pada umumnya. Di Aceh ada ungkapan: aulia tujoh(aulia tujuh), khanduri seunujoh(kenduri hari ketujuh orang meninggal), hitungan 1 s/d 7 pada peusa-dua pengobatan tradisional dan pancuri tujoh(tujuh pencuri) dan beberapa istilah lain.

Begitu juga dengan keberadaan blog TAMBEH ini yang telah berlangsung sampai tujuh tahun. Suatu masa yang lumayan panjang dan banyak suka-duka untuk mempertahankannya. Alhamdulillah, semua problema itu telah mampu dilewati dengan selamat.  Berikut saya kutip bagian penutup tesis saya berupa saran-saran, yang mana tesis ini telah menggiling fisik dan mental saya dalam setahun terakhir:

Saran-saran

 

Dalam mengakhiri tesis ini penulis menyampaikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Studi terhadap historiografi lokal Aceh, termasuk kajian yang diminati para akademisi, ilmuwan baik dari  dalam maupun luar negeri. Studi penulis terhadap Hikayat Malem Dagang diharapkan menjadi inspirasi  buat  lebih meramaikan penelitian dan kajian terhadap historiografi lokal Aceh.
  2. Masih cukup banyak manuskrip dan naskah hikayat, nazam dan tambeh yang menanti “sentuhan tangan” para akademisi dan ilmuwan; sebelum manuskrip dan naskah-naskah itu punah ditelan zaman.
  3. Pemerintah Aceh perlu menetapkan keseragaman ejaan dalam penulisan bahasa Aceh yang selama ini masih ditulis secara beraneka-ragam.
  4. Setiap tahun Pemerintah Aceh perlu menyelenggarakan sayembara mengarang dan membaca Hikayat Aceh, baik dalam aksara Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawi atau Jawoe. Sayembara itu perlu diikuti oleh peserta mulai kalangan anak-anak, remaja dan orang dewasa dengan jumlah hadiah yang menggiurkan.

 

Mengakhiri sambutan ini, saya mengucapkan Selamat Berpuasa kepada umat Islam di seluruh dunia, semoga amal ibadah kita diterma Allah Swt, Aminn!.

 

Bale Tambeh, Sabtu, 18 Juni 2016

13 Puasa 1437, pkl 9.44 pagi

 

T.A. Sakti

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s