Tulisan yang Ditolak Redaksi Bukan Semuanya Buruk!

Tulisan yang Ditolak Redaksi Bukan Semuanya Buruk!

Oleh: Budy Wahyono

 

TANPA  bertendensi menuduh isi tulisan dari para penanggap yang sebagian resepnya barangkali sudah basi dan stereotif (mengulang-ulang), saya merasa tergugah untuk nimbrung berbicara. Siapa tahu tulisan pendek ini dapat dijadikan “rabuk” dari opini-opini yang lebih dulu nongkrong di rubrik “cakrawala kita”. Maksud saya: tulisan bung Bambang Soelistiyanto Bernadoes, Andi Amarsuki, Warjianto Panca Wasana, dan Bahar Chiffarie.

Kenapa Tulisan Ditolak? Ini mungkin agak lucu ditanyakan, meskipun bagi saya justru perlu mengundang perenungan. Terus terang, saya sangat kuatir kalau pertanyaan yang klise ini bakal dijawab: “Karena tulisan itu buruk!”

Kekuatiran saya ini tentu saja cukup beralasan. Lebih dari itu kita perlu merombak imaji bahwa tulisan yang ditolak karena tulisan itu buruk dan tidak bermutu di mata bung Redaktur, sebab ini hanya salah satu kemungkinan saja. Masih banyak kemungkinan lain kenapa naskah ditolak, sehingga kita mudah ambruk karena ketidaktahuan itu.

Lho! Apa ada alternatif lain yang membuat naskah kita ditolak?!

“Ada!”. Buru-buru saya harus menjawab begitu. Mungkin tulisan itu sudah cukup baik, tapi karena terdesak tulisan yang lebih baik yang ditulis oleh orang yang berwibawa, maka tulisan kita yang sebetulnya sudah bagus otomatis kena gusur. Kasus ini terasa lebih jelas menimpa tulisan-tulisn jenis laporan-liputan suatu masalah penting, terutama yang bersamaan waktu ditulis oleh penulis-penulis berkaliber kakap.

Ada pameran kartun nasional, dan anda menghadiri sekaligus kepingin mengirimkan laporan itu ke koran “anu” misalnya. Meski tulisan anda berkualitas dan layak diberi hadiah bintang tiga, mungkin tidak bakalan dimuat, kalau mas Arswendo Atmowiloto juga mengirim laporan yang sama ke koran yang anda kirimi!. Pertimbangannya kurang lebih: nama Arswendo terasa lebih berwibawa dalam bidang kritik humor dibanding nama anda. Dan peristiwa kayak begini, konon pula mampu meningkatkan gengsi media cetak yang bersangkutan!

Ada pertemuan sastra kelas berat misalnya, dimana Romo Mangun hadir dan menulis kesan-kesannya di koran yang mungkin anda “ancam” untuk dikirimi tanpa mengerutan jidat berulang kali, saya tebak pasti naskah anda bakal masuk kotak sampah! Begitu pula masalah pertanian dan pangan, kalau tulisan anda mimpi bisa nongol di koran besar; anda harus belajar mengalahkan kehebatan Pak Dr Mubyrto.

Tahu diri

Itulah rentetan penyebab yang layak dipertimbangkan masak-masak agar kita lebih bisa tahu diri dan tidak ngawur dalam mengirim naskah. Dan meraba akan sikon seperti ini, kita tentu akan cepat maklum, bahwa tulisan yang tidak muncul di koran “Anu” kemungkinan besar bisa lolos di koran lain hanya masalah “perbenturan” si pengirim saja.

Maka saya tidak perlu heran ketika mendapat undangan untuk meliput sebuah pameran, yang punya kerja atau kawan baik sudah membisiki lebih awal, kalau wartawan anu datang, pengritik anu datang-dus saya bisa secepatnya berinisiatif untuk mengirim kemedia yang mungkin belum punya ‘duta’ di sini…. Walau mungkin saya nekad mengirimkan ke koran yang sudah mengirimkan korespondennya, tindakan spekulatif ini saya lakukan dengan maksud baik. Yakni menaruhkan tulisan saya mampu bertarung menang atau tidak? Dan kalau sampai menang, itu namanya sebuah kepuasan batin yang nikmat berarti saya rengguk.

Kecelakan lain yang menyebabkan naskah kita terlantar nasibnya adalah kegagalan kita meraba misi koran yang kita kirimi. Seorang penyumbang naskah yang terlatih kepekaannya, pasti mengerti dulu misi dan gaya sebuah media cetak. Mengirim Cerpen yang bertema Paskah, rasanya sulit diharap bisa muncul di majalah Panji Masyarakat atau Kiblat. Begitu juga menulis laporan kegiatan  HBI seperti Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW apakah mungkin bisa muncul di majalah ‘Hidup’. Itu catatan ekstrimnya. Tapi buktinya juga banyak media cetak yang memproklamirkan diri sebagai media independent, tetapi pak Redakturnya punya selera khusus. Ada yang getol dengan tulisan-tulisan romantis, kritik sosial, fiksi-fiksi inkonvensional, dsbnya. Kalau boleh diumpamakan barang kali meski sama-sama bermakanan pokok nasi, tapi ada yang seneng gudeg, sate setengah mateng, atau bakmi plus telor puyuh. Bukan mengejek, realita memang terasa demikian.

 

Koran kecil?

Pernah ketika coba-coba mengirim naskah beberapa waktu lalu, saya mendapat saran untuk memulai dari koran kecil saja. Saingannya sedikit dan kemungkinan dimuat besar –meski honornya kecil. Mula-mula memang enak, namun tuntutan untuk lebih dewasa dengan cara memanfaatkan koran dewasa kalau mampu dilaksanakan apa salahnya mencoba?

Lebih-lebih dendam saya pada  redaktur koran kecil yang sok banyak tuntutan (sok rapi, bertele-tele, tidak sistematis, masalah yang ditulis basi, antri panjang dan tethek-bengek alasan menyakitkan lainnya) merupakan pengalaman yang enak.

Rupanya mencoba tidak asal mencoba, itulah cermin yang wajib kita ikat. Mengirimkan tulisan lebih baik dari tulisan yang pernah dimuat pada koran yang akan kita kirimi, lebih memungkinkan lolosnya naskah kita melalui ‘selaput ketatnya’ tirai redaksi. Prinsip inilah yang harus kita pegang, agar kita tidak seenaknya menelorkan tulisan yang berkesan asal jadi.

 

(Sumber: Minggu Pagi, 13 Mei 1984 hlm. 3, terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s