Gelar Sarjana Bukan ‘Status’ Tapi Identitas Keprofesionalan

Gelar Sarjana  Bukan ‘Status’ Tapi Identitas Keprofesionalan

Oleh: Hendro Partomo

 

            PEMAKAIAN gelar kesarjanaan (lulusan perguruan tinggi) segera ditertibkan dalam waktu dekat ini. Berkenaan dengan itu Menteri Pendidikan dan kebudayaan sebelum bulan Juli tahun ini akan segera mengeluarkan peraturan tentang pemakaian gelar. Demikian keterangan Humas Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (“Suara Karya”, 9 April 1984).

Memang apa yang akan diwujudkan oleh Mendikbud seperti dijelaskan Humas Depdikbud sudah selayaknya. Penertiban ini akan sekaligus menunjukkan keprofesionalan dan tingkat akademik seseorang yang menyandang gelar tersebut.

Seperti kita ketahui, perguruan tinggi di negara kita mempunyai dua arah dalam mendidik para mahasiswanya.

Yaitu : (1) Keahlian akademik yang mencetak para mahasiswa untuk menjadi peneliti keilmuan, tehnik dan seni. Keahlian ini menciptakan seseorang untuk dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru dan (2) Keahlian yang mencetak seseorang agar terampil dalam menerapkan suatu disiplin ilmu yang diperolehnya. Dimana program ini biasa disebut program non gelar atau diploma. Untuk sementara yang telah mengembangkan program ini adalah bidang kependidikan (keguruan). Sedangkan untuk bidang-bidang di luar keguruan baru sedikit saja yang mengembangkan program ini.

Tentang pemakaian gelar yang tidak pada proporsinya banyak dapat kita saksikan di sekeliling kita. Gelar dipakai tidak sebagaimana mestinya, alias tidak singkron dengan keperluannya itu, tidak lain hanyalah ingin memamerkan bahwa dirinya telah sarjana (dalam hal ini bukannya saya iri, tetapi memang demikianlah gejala yang dapat saya amati dari keadaan di sekeliling).

Betapa tidak? Hanya menulis surat undangan perkawinan saja gelar Sarjana dicantumkan. Apakah ini bukan suatu sikap pamer?. Padahal pencantuman gelar dalam surat undangan tidak ada relevansinya sama sekali dengan gelar kesarjanaan yang dipunyai.

Menurut “Suara Karya”, seseorang yang melamar pekerjaan, sedangkan pekerjaan itu tidak membutuhkan keahlian yang melekat pada gelar tersebut pun kurang/ tidak relevan. Kalau pekerjaan tersebut membutuhkan keahlian yang melekat pada gelar yang dipunyai si penyandang gelar, pemakaian/pencantuman gelarnya baru ada relevansinya.

Martabat?

Sampai detik ini masih berkembang di masyarakat yang menganggap orang yang mempunyai gelar kesarjanaan merupakan masyarakat elit. Imaji inilah yang mendorong orang untuk memiliki gelar agar dirinya dapat masuk dalam golongan elit itu. Bukan saja sang sarjana yang merasa bangga, tetapi seluruh keluarganya pun demikian tanpa menyadari apa yang ada di balik selembar ijazah tersebut. Ijazah dianggap sebagai tiket menuju stratum lebih atas. Dengan selembar ijazah seseorang telah memiliki status tinggi tanpa peduli apa yang ada di balik ijazah itu. Apakah ijazah tersebut aspal, hasil membeli atau pun cara lain bukan soal (Suara Merdeka, 23 April 1984).

Sebenarnya gelar bukanlah menunjukkan martabat atau status seseorang. Gelar hanyalah menunjukkan identitas keprofesionalan dan tingkat akademik seseorang saja.

Kalau terjadi seseorang menjadi sarjana lalu  m e m b a n g g a kan  kesarjanaannya, ataupun ingin dihargai oleh orang lain, maka sebenarnya orang tersebut belum memiliki kesadaran  tinggi, serta masih berfikir secara feodal. Sebab ingin dihargai karena bertitel, adalah fikiran orang-orang yang hidup di zaman foedalisme dulu. Justru orang yang mempunyai kesadaran tinggi serta berfikir modern tidak akan berbuat begitu. Ia sadar apa arti kesarjanaan jika tidak punya prestasi, alias dangkal terhadap berbagai masalah dan aspirasi masyarakat (Kedaulatan Rakyat, 22 April 1984).

Dialam pembangunan sekarang ini tidak perlu lagi seseorang terlalu bangga akan gelar yang disandangnya, seyogyanya tunjukkanlah kemampuan niscaya orang akan menghargai.

(Sumber: Minggu Pagi, 13 Mei 1984 hlm. 3). terbit di Yogyakarta khusus hari Minggu dengan induknya koran “Kedaulatan Rakyat”)`

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s