Mengenang Sutan Takdir Alisjahbana

Mengenang  Sutan Takdir Alisjahbana
                          Oleh Achdiat K. Mihardja

TANGGAL 17 Juli lalu Sutan Takdir Alisjahbana meninggal dunia di Jakarta dalam usia 86 tahun. Dia paling akhir yang meninggal dari ketiga pionir Angkatan Pujangga Baru. Kedua kawan seperjuangannya , Armijn Pane dan Amir Hamzah sudah jauh lebih dulu pulang ke rahmatullah.
Sebagai orang yang bukan ahli filsafat, bukan pula sarjana sastra dan budaya, atau ahli kritik sastra, perhatian saya hanya sebagai storyteller alias tukang dongeng yang sekali-sekali suka  mereka-reka kisah-kisah manusia, lebih setuju kepada Takdir sebagai manusia biasa saja, Cuma kebetulan watak kehadirannya sangat “istimewa” dan “unik”, sehingga pasti menarik bagi setiap pengarang cerita atau biografi. Kebetulan dia seorang sahabat yang saya kagumi dan hormati.
Dengan khayal kreatifnya, seorang tukang dongeng bisa menciptakan seorang tokoh yang semangat idealismenya ingin menjangkau langit ketujuh, tapi seolah kontradiktif, semangat realisme  sangat membumi, dan kalkulatif dalam mengumpulkan kekayaan materi yang dibutuhkan justru untuk dapat merealisasikan cita-cita idealismenya itu.
Berdiri di atas kedua kaki yang nampaknya kontradiktif itu, dia melancarkan pikiran-pikiran dan langkah-langkah perbuatan yang tak jarang menimbulkan kontroversi, ketegangan dan konflik , yang dia sayangkan, tapi apa boleh buat. Dia bukan jiwa yang cengeng. Dia batu karang yang mampu menahan bantingan-bantingan ombak.

Itulah Takdir menurut personal impression saya. Dia orang idealis, tapi pun realis. Namanya masyhur sampai ke mancanegara, tapi bulldozer kemauan dan sifatnya yang kritis serta agresif tak berpanen tepuk tangan atau hadiah pujian murahan. Dia menjulang di atas “populism”, bukan seorang “celebrity”…….  tulisan dalam kolom ini tidak disalin, karena kertasnya sobek………………TAS.
nasional yang menentang system pendidikan kolonial. Salah satu semboyan yang terkenal dari perguruan itu berbunyi: “Tertib dan damai”.
Bagi Takdir semboyan itu “absurd”, harus dilempar jauh-jauh dari sifat modern. Dia tulis sebuah sajak yang kira-kira berbunyi begini : Tertib dan damai?!… O,tidak! Tertib dan damai, nantilah! nanti! Kalau badan berkain kafan, telentang di bawah tanah…
Sepagi itu saya sudah sangat terkesan oleh keberanian pemuda Takdir untuk mengkritik sebuah institute perguruan nasional yang dipimpin tokoh-tokoh pendidikan nasional kawakan macam Ki Tjokrodirdjo, Ki Mangunsarkono, dan lain-lainnya.
Takdir konsisten. Semangat muda revolusernya selalu gelisah, aktif, dinamis, kritik sini, kritik sana, tidak mau “tertib  dan damai” selama hayatnya masih dikandung badan.
Armijn Pane, Amir Hamzah, dan saya sendiri yang sekolah di AMS (Sekolah Menengah Jurusan Sastra Timur) di kota Solo, ikut aktif di perkumpulan pemuda yang semata-mata nasional norak dan sifatnya bernama Indonesia Muda, dengan mendirikan cabangnya di kota tersebut. Kemudian setelah lulus AMS, Armijn dan Amir bersama Takdir menerbitkan majalah Pujangga Baru di Jakarta. Itulah suatu peristiwa nasional yang sangat penting; bukan saja karena itulah majalah sastra-budaya Indonesia modern yang paling pertama terbit di Tanah Air, melainkan karena terbitnya majalah itu terdorong suatu kesadaran bahwa persatuan dan kesatuan bangsa itu akan mengambang terapung-apung tanpa  akar, jika tidak disadari suatu kebudayaan yang sama dan serupa sebagai pondasi pengikatnya. Bangsa dan negara Indonesia yang modern harus disadari dan diikat oleh hanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan Indonesia modern. Sastra Indonesia modern oleh salah satu unsur utama kebudayaan tersebut. Dengan istilah “modern” itu dimaksudkan “demokrasi” (tidak feodal tradisional), dan mencakup suatu bangsa sebagai suatu persatuan “nasional” ( tidak terpecah-pecah dalam bermacam-macam kedaerahan  dan kesukuan).
Dalam memikirkan soal pembentukan kebudayaan nasional Indonesia yang modern-demokratis dan utuh-menyeluruh itu, Takdir adalah yang paling gigih diantara pelopor Pujangga Baru itu.
Polemik-polemiknya dengan sejumlah tokoh-tokoh besar inteligensia dari zaman itu, termasuk Ki Hadjar Dewantoro, Dr Amir, Dr Sutomo, Adinegoro, dan lain-lain mengenai soal budaya Timur dan Barat, merupakan suatu peristiwa sejarah yang telah saya kumpulkan dan beberapa kali telah direbitkan sebagai buku, berjudul Polemik Kebudayaan. Itulah puncaknya kegiatan Angkatan Pujangga Baru dalam rangka pemikiran tentang pembentukan kebudayaan persatuan bangsa Indonesia yang modern-demokratis itu. Takdir-lah pionirnya dan bintangnya. Dia lantang dan tegas menyuarakan sikap agresifnya, bahwa budaya feodal tradisional yang dibanggakan “berketimuran” itu, mengkrak mengkrik napas Intelektualisme-nya, napas Materialismenya, dan napas Egoisme Individualisme-nya. Penyebabnya karena kalah melulu, didominasi melulu oleh budaya Barat, berkat ketiga nilai tersebut mereka kukuhi, sedang kita malah abaikan. Akibatnya, beratus tahun kita dijajah mereka.
Sanusi Pane, bintang satunya lagi, yang lebih introspektif jiwanya sebagai penyair-filosuf mengemukakan pendapat yang lebih seimbang: kawinkan si Faust, manusia barat yang mau menundukkan alam demi kepentingan hidup manusia, dan Sang Arjuna  yang mengasingkan diri ke hutan dan bertapa di bukit Indrakila guna membersihkan jiwanya dari polusi nafsu-nafsu kesetanan. Kawinkan kedua jenis manusia itu,  barulah eksistensi manusia bisa beres!
Saya kira, sekarang pun, atau justru malah sekarang ini, di zaman iptek dan ekonomi pasar bebas yang sangat kompetetif ala kapitalisme Liberal yang bersikap hidup survival of the fittest dan lebih mengutamakan self-interest dari pada common interest, sekuler, dan netral terhadap nilai-nilai moral, jusru sekarang inilah polemik Takdir itu sangat relevan untuk dipikirkan lagi.
***

SAYA punya kesan bahwa Takdir cenderung menelan begitu saja nilai-nilai  budaya Barat itu. Tapi nyatanya tidak begitu. Takdir tak se-sekuler itu, dan tidak tanpa kritik pula. Dalam salah satu suratnya dari Amerika kepada saya, dia menyatakan kekecewaannya dengan Kebudayaan barat Amerika-Serikat. Dia melihat budaya Barat itu dalam keadaan “krisis”. Akibatnya buruk sekali bagi seluruh kemanusiaan.

Pada satu kesempatan Takdir mengaku bahwa dia seorang muslim, dan menganggap Islam sebagai “agama akal” parexcellence. Tapi katanya, yang terutama dia ambil adalah nilai-nilai  moralnya, seperti dia ambil pula nilai-nilai  moralnya  agama lainnya.Dia mengakui dirinya lebih dekat kepada filsafat hidup ulama-ulama besar macam Ibn Rusyd dan Ibn Sina yang lebih bersikap hidup dieszseitig duniawiah dari pada kepada Imam Gazali yang dianggap lebih bersikap jenseitig mengarah ke alam akhirat.
Pada kesempatan lain saya kebetulan mencela orang-orang yang suka bolak-balik pergi ke Mekah naik  haji, sambil membawa berkeranjang-keranjang bumbu bumbuan dan makanan-makan kering, untuk dijual kepada para jemaah di sana. Kalau kembali, angkaribung membawa karpet-karpet, batu-batuan, minyak samin, dan sebagainya. Semuanya dengan tujuan yang sama : cari untung. Mendengar celaan saya itu, Takdir seperti ular kobra yang terinjak kaki. Dia heran, mengapa saya mencela orang-orang itu. Apa salahnya, katanya. Itu perbuatan manusia yang paling benar dan seharusnya — ibadah dan cari rezeki. Jelas Takdir menggemakan adagium kaum Calvinist ora etlabora (berdoa dan bekerjalah). Dia konsisten dengan semangat realismenya. Hasilnya, dia sangat realismenya. Hasilnya, dia cukup kaya, sehingga tanpa kekayaan, keringat dan otak dia, mana mungkin Universitas Nasional Jakarta itu bisa  berdiri.  Demikian juga Toyabungkah di Pulau Bali, yang dimaksudkan sebagai pusat pertemuan para sastrawan, seniman dari dalam dan dari luar negeri untuk bertemu, berdiskusi, bereksperimen, bekerja cari ilham, melamun. Perusahaan-perusahaan lainnya, seperti penerbitan, percetakan, toko buku, majalah Ilmu dan Budaya, yang semua merupakan kejaran semangat idealismenya itu, mana mungkin bisa berdiri tanpa semangat realism Takdir yang kalkulatif materialistis itu?!

Pada kesempatan lain lagi, semangat idealismenya itu nongol lagi. Dia mengutarakan bahwa kini dengan bumi sudah menciut menjadi sebuah globalvillage yang kecil, idealismenya mengarah ke pembentukan suatu kebudayaan dunia yang harus dapat mempersatukan segenap umat manusia dengan segala kegiatan hidupnya — agamanya, politiknya, ekonominya, dan sebagainya. Bahasa Inggris, bahasa persatuannya. Dia sudah merencanakan sebuah mesjid yang istimewa bentuknya, melambangkan semangat “interfaith communication” ala Paus John Paul ke-2, Abdurrachman Wahid alias Gus Dur yang ketua umum partai Nahdatul Ulama itu, dan Romo Mangunwijoyo, pastor Katolik yang suka merakyat dan pernah menulis novel yang bagus Burung-burung Manyar.

Itulah sepintas lalu kesan pribadi saya mengenai STA, tokoh besar Indonesia yang pionir dalam pemikiran soal pembentukan sastra dan budaya (juga bahasa) Indonesia modern sebagai pondasi pemersatu dan sekaligus ciri jati diri bangsa Indonesia yang modern-demokratis. Baik di Indonesia maupun di Malaysia, jasa-jasanya dihargai dalam bentuk gelar doctor Honoris Causa dan Universitas Indonesia, Jakarta, dan dari Universiti Sains, Pulau Pinang.

Tanggal 17 juli 1994 ia tutup usia. Maka tiada lain doa saya, semoga arwahnya berada dalam ketertiban dan kedamaian, seperti pernah dijanjikan dalam sajaknya itu, di sisi Tuhan YME.***

(Achdiat  K. Mihardja, pengarang roman Atheis, tinggal di Australia)

 

(Sumber: Kompas, Minggu,  14 Agustus 1994,  Rubrik SENI, hlm. 17). Lembaran koran  bagian atas/sejajar judul Rubrik SENI, pecah-pecah akibat lumpur Tsunami Aceh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s