Meunasah Alue dan Legenda P Ramlee

                             Meunasah Alue dan Legenda P Ramlee

“Tanam pinang ditanah rata

tanam kelapa dibukit tinggi

pucuk di awan melambai mesra

akar bertemu di perut bumi!”

 

.
Alangkah puitisnya kata-kata tersebut. Ia memiliki makna yang dalam. Itulah sekerat syair dari sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh Ahmad Jais – – penyanyi Malaysia – – yang dihapal baik oleh publik Indonesia, terutama di Aceh pada dekade tujuh puluhan. Namun, jauh sebelumnya, seorang penyanyi Malaysia lainnya, P Ramlee, telah menggunakan ungkapan pantun itu dalam lagu-lagunya.
Barangkali generasi sekarang tidak kenal P Ramlee. Penyanyi dan pemain film tersebut sudah almarhum. Meski dia penyanyi Malaysia, tetapi dia punya ikatan paling kental dengan Aceh. Maka, warga di sebuah desa bernama Meunasah Alue di Kecamatan Muara Dua Lhoksumawe pun merasa kaget dalam hari-hari sekarang ini. Desa mereka dipersiapkan untuk sebuah  hajatan besar.
Diperkirakan 250 orang akan datang ke desa di pinggang Kota Lhoksumawe itu  pada 28 November mendatang. Ini dilaksanakan dalam sebuah acara bertaraf internasional: Dialog Utara dari 26 sampai 28 November. Peserta seminar dan pertemuan paling bergengsi ini berasal dari Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Brunei, Sumatra Utara, dan Aceh sendiri selaku tuan rumah.
Kenapa para budayawan akan berkunjung  ke Meunasah Alue  dan ada apa pula dengan P Ramlee? Konon kabarnya,  P Ramlee bintang film dan penyanyi legendaris itu lahir di desa tersebut. Namanya Ramli, ayahnya bernama Puteh. Versi lain menyebutkan dia bernama Puteh dan ayahnya bernama Ramli.
Kalau begitu kenapa tidak bernama Ramli Puteh atau Puteh Ramli sebagai lazimnya?  Itulah uniknya seniman. Ada hal-hal yang “diperlukan” untuk ketenaran sebuah nama dengan popularitasnya. Banyak artis kita juga mengganti namanya sehingga enak didengar. Setelah dia pindah ke Malaysia (waktu itu bernama Semenanjung Tanah Malaya) nama Ramli diganti dengan P Ramlee mengikut ejaan Malaya.
Di masa jaya-jayanya tahun lima puluhan dan awal enam puluhan,  setiap orang kaya di Indonesia pasti menyimpan piringan hitam berisikan lagu-lagu P Ramlee. Dia berduet dengan Salamah alias Saloma . “Oh Saloma” adalah lagu yang paling populer di samping “BertamasyaBertamasya Salamah, kata P Ramlee, yang disambung Saloma: Sabar dulu kandaku, kita kembali mintala izin ayah dan bunda. Lalu kata P Ramlee lagi: sungguh jujur hatimu.

Saloma menimpali: Sudah tentu kandaku karena ku taat adat dan timur sejak dahulu… Mari bersamaa… kita kita berjumpa….
           Konon, banyak gadis Malaysia dan Indonesia tergila-gila dan jatuh cinta pada P Ramlee. Maklum mereka hanya bisa mendengarkan suara nyanyian lewat radio atau piringan hitam, tanpa melihat wajah. Dan waktu itu, siaran Radio Malaya terdengar cukup jelas di Indonesia, terutama disepanjang pesisir utara Sumatera.
Barulah setelah filmnya beredar, publik Indonesia mengenal P Pamlee dan Saloma dengan suara emasnya. Ketika tenar-tenarnya orang Malaysia lupa bahwa P Ramlee hanya “barang pinjaman”. Atau mereka tak peduli bahwa P Ramlee adalah orang Aceh yang lahir di Meunasah Alue, kemudian merantau ke Malaya pada waktu itu.
Di Malaysia P Ramlee telah ditabalkan sebagai pahlawan nasional. Sebuah Museum dibangun di Pulau Pinang. Dis ana kita bisa membaca biografi P Ramlee dan melihat puluhan piringan hitam berisikan lagu-lagunya. Berbagai aksesoris yang dipakai serta kopi film layar lebar yang pernah dibintanginya – – antara lain Bujang Lapuk- – dapat kita saksikan bila kita berkunjung ke Museum P Ramlee di jalan P Ramlee, Pulau Pinang.
Kelaziman di Malaysia, setiap orang yang berjasa di bidang apa saja diangkat dan dianggap pahlawan. Termasuk P Ramlee selaku pahlawan nasional  bidang seni suara dan film. Sebagai penghargaan dia mendapat derjah Kerajaan Malaysia dengan gelar Tan Sri. Sebuah gelar tertinggi yang juga dianugerahkan kepad Profesor Tan Sri Ismail Husin, Ketua Gapena yang juga keturunan Aceh.
Maka Gapena (Gabungan Penulis Nasional Malaysia) yang memprakarsai Dialog Utara mengagendakan sebuah acara kunjungan dan kenduri di desa kelahiran almarhum P Ramlee, Meunasah Alue.  Sebagian besar penduduknya petani dan sebagian lagi berdagang di pasar.
Dimana sebetulnya desa kelahiran P Ramlee? Mencari desa itu tidak begitu sulit. Bagi anda yang baru datang ke Lhoksumawe tidak akan sesat mencarinya. Anda tinggal turun di Simpang Ardath, Kecamatan Muara Dua, lalu terus masuk ke arah selatan menuju ke jalan Desa Paya Bili. Ruas jalan ke lokasi itu mulus, karena sudah diaspal hotmix, dan kebetulan saja rumah walikota berada di ruas jalan yang dilalui ke Meunasah Alue.
Lalu beberapa jauh dengan Jalan Banda Aceh-Medan?. Tidak terlalu jauh. Jarak Meunasah Alue dengan jalan nasional hanya sekitar dua kilometer. Dan masuk ke lokasi itu juga bisa dengan menggunakan mobil.
Nama P Ramlee masih terpajang di salah satu lorong di lokasi itu. Kebetulan di kawasan itu tinggal sejumlah keluarga besar seniman dimaksud. “Nama P Ramlee sengaja dibuat menjadi nama lorong, sehingga generasi muda di sini tidak lupa dengan tokoh besar tersebut,” ujar warga.
Namun sayang, palang lorong itu terkesan tak terpelihara. Tulisan yang terdapat di papan sudah mulai pudar, sehingga tidak jelas lagi tulisannya. Namun dalam beberapa hari kedepan, nama lorong tersebut akan dipermak sehingga nama P Ramlee jelas terlihat apabila kita melintas di sana.
Meski nama P Ramlee begitu tenar dan mendunia, tapi  sejumlah warga Meunasah Alue tak ingat secara persis. Mereka hanya tahu P Ramlee berasal dari desa mereka. Maklum mereka adalah generasi sekarang yang tak pernah menonton Bujang Lapuk, misalnya. “inilah yang membanggakan kami di sini,” ujar salah seorang warga.
Persiapan lokasi yang akan dikunjungi budayawan sedang dilakukan. Masyarakat amat suka cita dengan bakal digelarnya acara itu. Pejabat Walikota Lhoksumawe, Marzuki Muhd Amin, Ketua Panitia Dialog Utara kali ini, M Rizal SH MSi, dan kepala desa Meunasah Alue, M Ruddin Syam meninjau persiapan menyonsong hajatan tersebut. Ya, hajatan besar ketika para pakar dan “orang-orang kenamaan” dari dalam dan luar negeri akan menyantap “kenduri” di Meunasah Alue.
“Di sini akan digelar temuramah antara peserta Dialog Utara dengan masyarakat,” ujar pejabat walikota. Dan di sani spirit seorang P Ramlee akan muncul “membuhuli” desa kelahirannya. Siapa tahu dari dua “pucuk di awan melambai mesra” dan “akar bertemu dengan perut bumi” seperti lirik lagu di awal tulisan ini benar-benar akan terujud seusai acara.
Ya, lambaian antara Malaysia, tempat P Ramlee menuai nama besar dengan Meunasah Alue, tempat dia dilahirkan. Dan siapa tahu usai dialog utara sebuah monument P Ramlee akan berdiri di Meunasah Alue. (barlian aw/ yuswardi mustafa).

 

( Sumber: Serambi Indonesia, Senin, 14 November 2005, hlm 1 – 7)

      

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s