KISAH NABI ISA

                                                KISAH  NABI  ISA


Cae  ABI DAUD
                                                        1

Assalamualaikum, saleum uloen ba
Keu Cek Medya, yang loen hormati
Penggemar cae, para pemirsa
Pih hana lupa, saleum uloen bri

Ateuh bak kuyun, burung “Cempala”
Ateuh bak Bangka, cicem Keudidi
Saboh cae nyo, jino loen rika
KISAH NABI  ISA, judulnya loen bri

Di Nabi ISA, dan sidro  teman
Dua – ureung nyan, jak keuliling Negeri
Di Nabi ISA, pada uroe – nyan
Neuba keu bekal, na lhee – boh Roti

Bak – kira kira, ka – cot uroe timang
Di bawah pepohonan, siat berhenti
Sambil  istirahat, Dua – ureung nyo
Cok – saboh sapo, geu makan Roti

 

 

2

Pada – watee nyan, di Nabi Isa
Jak bak Telaga, ka – neu jak cok – ie
Oh ban neu riwang, di Nabi Isa
Roti yang sisa, Neu – eu hana le

Bak teman droe, Isa neu tanyong
Ho ka lom, Roti yang sisa
Pada watee nyan geu jaweub le ngon
Hana loen kalon, hai Nabi Isa

Ureung nyan dua, ka berangkat lom
Ka geu jak rowong, keliling dunia
Na saboh kameng, Isa neu kalon
Laju – neu rumkhom, neu koh saboh pha

Di kameng – buno, oh – ji eu – le ngon
Ka hudep lom, kana peut boh pha
Pha kameng buno, Isa neu panggang
Laju watee  nyan, makan bersama

3

Sira neuduk-duk, haba neu meupro
Sisa roti buno, Isa tanyong hoka
Oleh teman Isa, ka neu kheun meuno
Hana loen tuho, wahai ya Isa

Di Nabi Isa, Tanoh neu bulit – bulit
Na  lhee  boh   bulit, ube – be raya
Ka jeut keu Meuh, ban lhee boh bulit
Indah keubit, han ngon peu sa

Isa neu bagi cok saboh sapo
Satu lagi nyo, keu ureung cok roti
Wahai ya Isa, yang cok roti buno
Nyo keuh   ulon nyo, Bak na neu turi

Meu nyo meunan. Kheun Nabi Isa
Meuh – bagi saya, keu – gata loen bri
Kita berpisah, sekarang juga
Di Nabi Isa, laju neu pergi

4

Ka tinggai sinan, ureung nyan sidro
Na – siat tempo, datang perampok
Wahai saudara,  kita bek ta meulho
Jino  Meuh – nyo, saboh sapo tacok

Ban lhee – awak nyan, meu pakat jino
Salah sidro  jak blo makanan
Peuhaba teuma,  perampok buno
Dua awak nyo, peugot perencanaan

Bek tapreh jiduk, nanti – oh jiwo
Ureung yang tayu, jak blo makanan
‘Oh ban – ji peuduk, makanan bak jaro
Laju ta – eungkho, bak mati kontan

Di ureung blo makanan, pih peugot rencana
Pih – ku blo tuba, ku paso – lam makanan
Oh ban ji makan, le awak nyan dua
Ngon tiba-tiba, nyawong pih hilang

5

Pada  akhirnya apa ?  yang terjadi
Ban lhee awak nyan mati, gara – gara Meuh  nyan
Isa dan rombongan, keunan neu lewati
Neu – eu ka – mati, bandum awak nyan

Memada – ‘oh no, Cae nyo  ini
Loen sambung lagi, meunyo na – umu panjang
Uloen meu do’a, malam dan hari
Ya Allah neu bri, bak sehat badan

Pih hana tuwo, loen kirim salam
Keu rakan-rakan, Pengarang cae
Saleum mulia, uloen sampaikan
Kepada rakan, bak Jambo  cae

wassalam

Dari ABI DAUD, SAMAHANI
KUTA MALAKA

 

 

 

 

 

Catatan: Disalen ngon komputerle T.Idham Khalid.

Bale Tambeh, uroe  Satu, 14 Khanduri Bu 1437/14 Sy’akban 1437 H/21  Mei 2016 M, poh 3.11  uroe, Bang Asa lheueh lon edit, euntreuk malam ‘nishfu sy’akban’. Hari ini Selasa, jam 7.11 pagi tgl. 31  Mei 2016. Malam Senin kemarin syair KISAH NABI ISA ini dibacakan oleh Cek Medya Hus di ACEHTV  pada acara “Cae Bak Jambo”,   T.A. Sakti

 

Iklan

Meunasah Alue dan Legenda P Ramlee

                             Meunasah Alue dan Legenda P Ramlee

“Tanam pinang ditanah rata

tanam kelapa dibukit tinggi

pucuk di awan melambai mesra

akar bertemu di perut bumi!”

 

.
Alangkah puitisnya kata-kata tersebut. Ia memiliki makna yang dalam. Itulah sekerat syair dari sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh Ahmad Jais – – penyanyi Malaysia – – yang dihapal baik oleh publik Indonesia, terutama di Aceh pada dekade tujuh puluhan. Namun, jauh sebelumnya, seorang penyanyi Malaysia lainnya, P Ramlee, telah menggunakan ungkapan pantun itu dalam lagu-lagunya.
Barangkali generasi sekarang tidak kenal P Ramlee. Penyanyi dan pemain film tersebut sudah almarhum. Meski dia penyanyi Malaysia, tetapi dia punya ikatan paling kental dengan Aceh. Maka, warga di sebuah desa bernama Meunasah Alue di Kecamatan Muara Dua Lhoksumawe pun merasa kaget dalam hari-hari sekarang ini. Desa mereka dipersiapkan untuk sebuah  hajatan besar.
Diperkirakan 250 orang akan datang ke desa di pinggang Kota Lhoksumawe itu  pada 28 November mendatang. Ini dilaksanakan dalam sebuah acara bertaraf internasional: Dialog Utara dari 26 sampai 28 November. Peserta seminar dan pertemuan paling bergengsi ini berasal dari Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Brunei, Sumatra Utara, dan Aceh sendiri selaku tuan rumah.
Kenapa para budayawan akan berkunjung  ke Meunasah Alue  dan ada apa pula dengan P Ramlee? Konon kabarnya,  P Ramlee bintang film dan penyanyi legendaris itu lahir di desa tersebut. Namanya Ramli, ayahnya bernama Puteh. Versi lain menyebutkan dia bernama Puteh dan ayahnya bernama Ramli.
Kalau begitu kenapa tidak bernama Ramli Puteh atau Puteh Ramli sebagai lazimnya?  Itulah uniknya seniman. Ada hal-hal yang “diperlukan” untuk ketenaran sebuah nama dengan popularitasnya. Banyak artis kita juga mengganti namanya sehingga enak didengar. Setelah dia pindah ke Malaysia (waktu itu bernama Semenanjung Tanah Malaya) nama Ramli diganti dengan P Ramlee mengikut ejaan Malaya.
Di masa jaya-jayanya tahun lima puluhan dan awal enam puluhan,  setiap orang kaya di Indonesia pasti menyimpan piringan hitam berisikan lagu-lagu P Ramlee. Dia berduet dengan Salamah alias Saloma . “Oh Saloma” adalah lagu yang paling populer di samping “BertamasyaBertamasya Salamah, kata P Ramlee, yang disambung Saloma: Sabar dulu kandaku, kita kembali mintala izin ayah dan bunda. Lalu kata P Ramlee lagi: sungguh jujur hatimu.

Saloma menimpali: Sudah tentu kandaku karena ku taat adat dan timur sejak dahulu… Mari bersamaa… kita kita berjumpa….
           Konon, banyak gadis Malaysia dan Indonesia tergila-gila dan jatuh cinta pada P Ramlee. Maklum mereka hanya bisa mendengarkan suara nyanyian lewat radio atau piringan hitam, tanpa melihat wajah. Dan waktu itu, siaran Radio Malaya terdengar cukup jelas di Indonesia, terutama disepanjang pesisir utara Sumatera.
Barulah setelah filmnya beredar, publik Indonesia mengenal P Pamlee dan Saloma dengan suara emasnya. Ketika tenar-tenarnya orang Malaysia lupa bahwa P Ramlee hanya “barang pinjaman”. Atau mereka tak peduli bahwa P Ramlee adalah orang Aceh yang lahir di Meunasah Alue, kemudian merantau ke Malaya pada waktu itu.
Di Malaysia P Ramlee telah ditabalkan sebagai pahlawan nasional. Sebuah Museum dibangun di Pulau Pinang. Dis ana kita bisa membaca biografi P Ramlee dan melihat puluhan piringan hitam berisikan lagu-lagunya. Berbagai aksesoris yang dipakai serta kopi film layar lebar yang pernah dibintanginya – – antara lain Bujang Lapuk- – dapat kita saksikan bila kita berkunjung ke Museum P Ramlee di jalan P Ramlee, Pulau Pinang.
Kelaziman di Malaysia, setiap orang yang berjasa di bidang apa saja diangkat dan dianggap pahlawan. Termasuk P Ramlee selaku pahlawan nasional  bidang seni suara dan film. Sebagai penghargaan dia mendapat derjah Kerajaan Malaysia dengan gelar Tan Sri. Sebuah gelar tertinggi yang juga dianugerahkan kepad Profesor Tan Sri Ismail Husin, Ketua Gapena yang juga keturunan Aceh.
Maka Gapena (Gabungan Penulis Nasional Malaysia) yang memprakarsai Dialog Utara mengagendakan sebuah acara kunjungan dan kenduri di desa kelahiran almarhum P Ramlee, Meunasah Alue.  Sebagian besar penduduknya petani dan sebagian lagi berdagang di pasar.
Dimana sebetulnya desa kelahiran P Ramlee? Mencari desa itu tidak begitu sulit. Bagi anda yang baru datang ke Lhoksumawe tidak akan sesat mencarinya. Anda tinggal turun di Simpang Ardath, Kecamatan Muara Dua, lalu terus masuk ke arah selatan menuju ke jalan Desa Paya Bili. Ruas jalan ke lokasi itu mulus, karena sudah diaspal hotmix, dan kebetulan saja rumah walikota berada di ruas jalan yang dilalui ke Meunasah Alue.
Lalu beberapa jauh dengan Jalan Banda Aceh-Medan?. Tidak terlalu jauh. Jarak Meunasah Alue dengan jalan nasional hanya sekitar dua kilometer. Dan masuk ke lokasi itu juga bisa dengan menggunakan mobil.
Nama P Ramlee masih terpajang di salah satu lorong di lokasi itu. Kebetulan di kawasan itu tinggal sejumlah keluarga besar seniman dimaksud. “Nama P Ramlee sengaja dibuat menjadi nama lorong, sehingga generasi muda di sini tidak lupa dengan tokoh besar tersebut,” ujar warga.
Namun sayang, palang lorong itu terkesan tak terpelihara. Tulisan yang terdapat di papan sudah mulai pudar, sehingga tidak jelas lagi tulisannya. Namun dalam beberapa hari kedepan, nama lorong tersebut akan dipermak sehingga nama P Ramlee jelas terlihat apabila kita melintas di sana.
Meski nama P Ramlee begitu tenar dan mendunia, tapi  sejumlah warga Meunasah Alue tak ingat secara persis. Mereka hanya tahu P Ramlee berasal dari desa mereka. Maklum mereka adalah generasi sekarang yang tak pernah menonton Bujang Lapuk, misalnya. “inilah yang membanggakan kami di sini,” ujar salah seorang warga.
Persiapan lokasi yang akan dikunjungi budayawan sedang dilakukan. Masyarakat amat suka cita dengan bakal digelarnya acara itu. Pejabat Walikota Lhoksumawe, Marzuki Muhd Amin, Ketua Panitia Dialog Utara kali ini, M Rizal SH MSi, dan kepala desa Meunasah Alue, M Ruddin Syam meninjau persiapan menyonsong hajatan tersebut. Ya, hajatan besar ketika para pakar dan “orang-orang kenamaan” dari dalam dan luar negeri akan menyantap “kenduri” di Meunasah Alue.
“Di sini akan digelar temuramah antara peserta Dialog Utara dengan masyarakat,” ujar pejabat walikota. Dan di sani spirit seorang P Ramlee akan muncul “membuhuli” desa kelahirannya. Siapa tahu dari dua “pucuk di awan melambai mesra” dan “akar bertemu dengan perut bumi” seperti lirik lagu di awal tulisan ini benar-benar akan terujud seusai acara.
Ya, lambaian antara Malaysia, tempat P Ramlee menuai nama besar dengan Meunasah Alue, tempat dia dilahirkan. Dan siapa tahu usai dialog utara sebuah monument P Ramlee akan berdiri di Meunasah Alue. (barlian aw/ yuswardi mustafa).

 

( Sumber: Serambi Indonesia, Senin, 14 November 2005, hlm 1 – 7)

      

Mengenang Sutan Takdir Alisjahbana

Mengenang  Sutan Takdir Alisjahbana
                          Oleh Achdiat K. Mihardja

TANGGAL 17 Juli lalu Sutan Takdir Alisjahbana meninggal dunia di Jakarta dalam usia 86 tahun. Dia paling akhir yang meninggal dari ketiga pionir Angkatan Pujangga Baru. Kedua kawan seperjuangannya , Armijn Pane dan Amir Hamzah sudah jauh lebih dulu pulang ke rahmatullah.
Sebagai orang yang bukan ahli filsafat, bukan pula sarjana sastra dan budaya, atau ahli kritik sastra, perhatian saya hanya sebagai storyteller alias tukang dongeng yang sekali-sekali suka  mereka-reka kisah-kisah manusia, lebih setuju kepada Takdir sebagai manusia biasa saja, Cuma kebetulan watak kehadirannya sangat “istimewa” dan “unik”, sehingga pasti menarik bagi setiap pengarang cerita atau biografi. Kebetulan dia seorang sahabat yang saya kagumi dan hormati.
Dengan khayal kreatifnya, seorang tukang dongeng bisa menciptakan seorang tokoh yang semangat idealismenya ingin menjangkau langit ketujuh, tapi seolah kontradiktif, semangat realisme  sangat membumi, dan kalkulatif dalam mengumpulkan kekayaan materi yang dibutuhkan justru untuk dapat merealisasikan cita-cita idealismenya itu.
Berdiri di atas kedua kaki yang nampaknya kontradiktif itu, dia melancarkan pikiran-pikiran dan langkah-langkah perbuatan yang tak jarang menimbulkan kontroversi, ketegangan dan konflik , yang dia sayangkan, tapi apa boleh buat. Dia bukan jiwa yang cengeng. Dia batu karang yang mampu menahan bantingan-bantingan ombak.

Itulah Takdir menurut personal impression saya. Dia orang idealis, tapi pun realis. Namanya masyhur sampai ke mancanegara, tapi bulldozer kemauan dan sifatnya yang kritis serta agresif tak berpanen tepuk tangan atau hadiah pujian murahan. Dia menjulang di atas “populism”, bukan seorang “celebrity”…….  tulisan dalam kolom ini tidak disalin, karena kertasnya sobek………………TAS.
nasional yang menentang system pendidikan kolonial. Salah satu semboyan yang terkenal dari perguruan itu berbunyi: “Tertib dan damai”.
Bagi Takdir semboyan itu “absurd”, harus dilempar jauh-jauh dari sifat modern. Dia tulis sebuah sajak yang kira-kira berbunyi begini : Tertib dan damai?!… O,tidak! Tertib dan damai, nantilah! nanti! Kalau badan berkain kafan, telentang di bawah tanah…
Sepagi itu saya sudah sangat terkesan oleh keberanian pemuda Takdir untuk mengkritik sebuah institute perguruan nasional yang dipimpin tokoh-tokoh pendidikan nasional kawakan macam Ki Tjokrodirdjo, Ki Mangunsarkono, dan lain-lainnya.
Takdir konsisten. Semangat muda revolusernya selalu gelisah, aktif, dinamis, kritik sini, kritik sana, tidak mau “tertib  dan damai” selama hayatnya masih dikandung badan.
Armijn Pane, Amir Hamzah, dan saya sendiri yang sekolah di AMS (Sekolah Menengah Jurusan Sastra Timur) di kota Solo, ikut aktif di perkumpulan pemuda yang semata-mata nasional norak dan sifatnya bernama Indonesia Muda, dengan mendirikan cabangnya di kota tersebut. Kemudian setelah lulus AMS, Armijn dan Amir bersama Takdir menerbitkan majalah Pujangga Baru di Jakarta. Itulah suatu peristiwa nasional yang sangat penting; bukan saja karena itulah majalah sastra-budaya Indonesia modern yang paling pertama terbit di Tanah Air, melainkan karena terbitnya majalah itu terdorong suatu kesadaran bahwa persatuan dan kesatuan bangsa itu akan mengambang terapung-apung tanpa  akar, jika tidak disadari suatu kebudayaan yang sama dan serupa sebagai pondasi pengikatnya. Bangsa dan negara Indonesia yang modern harus disadari dan diikat oleh hanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan Indonesia modern. Sastra Indonesia modern oleh salah satu unsur utama kebudayaan tersebut. Dengan istilah “modern” itu dimaksudkan “demokrasi” (tidak feodal tradisional), dan mencakup suatu bangsa sebagai suatu persatuan “nasional” ( tidak terpecah-pecah dalam bermacam-macam kedaerahan  dan kesukuan).
Dalam memikirkan soal pembentukan kebudayaan nasional Indonesia yang modern-demokratis dan utuh-menyeluruh itu, Takdir adalah yang paling gigih diantara pelopor Pujangga Baru itu.
Polemik-polemiknya dengan sejumlah tokoh-tokoh besar inteligensia dari zaman itu, termasuk Ki Hadjar Dewantoro, Dr Amir, Dr Sutomo, Adinegoro, dan lain-lain mengenai soal budaya Timur dan Barat, merupakan suatu peristiwa sejarah yang telah saya kumpulkan dan beberapa kali telah direbitkan sebagai buku, berjudul Polemik Kebudayaan. Itulah puncaknya kegiatan Angkatan Pujangga Baru dalam rangka pemikiran tentang pembentukan kebudayaan persatuan bangsa Indonesia yang modern-demokratis itu. Takdir-lah pionirnya dan bintangnya. Dia lantang dan tegas menyuarakan sikap agresifnya, bahwa budaya feodal tradisional yang dibanggakan “berketimuran” itu, mengkrak mengkrik napas Intelektualisme-nya, napas Materialismenya, dan napas Egoisme Individualisme-nya. Penyebabnya karena kalah melulu, didominasi melulu oleh budaya Barat, berkat ketiga nilai tersebut mereka kukuhi, sedang kita malah abaikan. Akibatnya, beratus tahun kita dijajah mereka.
Sanusi Pane, bintang satunya lagi, yang lebih introspektif jiwanya sebagai penyair-filosuf mengemukakan pendapat yang lebih seimbang: kawinkan si Faust, manusia barat yang mau menundukkan alam demi kepentingan hidup manusia, dan Sang Arjuna  yang mengasingkan diri ke hutan dan bertapa di bukit Indrakila guna membersihkan jiwanya dari polusi nafsu-nafsu kesetanan. Kawinkan kedua jenis manusia itu,  barulah eksistensi manusia bisa beres!
Saya kira, sekarang pun, atau justru malah sekarang ini, di zaman iptek dan ekonomi pasar bebas yang sangat kompetetif ala kapitalisme Liberal yang bersikap hidup survival of the fittest dan lebih mengutamakan self-interest dari pada common interest, sekuler, dan netral terhadap nilai-nilai moral, jusru sekarang inilah polemik Takdir itu sangat relevan untuk dipikirkan lagi.
***

SAYA punya kesan bahwa Takdir cenderung menelan begitu saja nilai-nilai  budaya Barat itu. Tapi nyatanya tidak begitu. Takdir tak se-sekuler itu, dan tidak tanpa kritik pula. Dalam salah satu suratnya dari Amerika kepada saya, dia menyatakan kekecewaannya dengan Kebudayaan barat Amerika-Serikat. Dia melihat budaya Barat itu dalam keadaan “krisis”. Akibatnya buruk sekali bagi seluruh kemanusiaan.

Pada satu kesempatan Takdir mengaku bahwa dia seorang muslim, dan menganggap Islam sebagai “agama akal” parexcellence. Tapi katanya, yang terutama dia ambil adalah nilai-nilai  moralnya, seperti dia ambil pula nilai-nilai  moralnya  agama lainnya.Dia mengakui dirinya lebih dekat kepada filsafat hidup ulama-ulama besar macam Ibn Rusyd dan Ibn Sina yang lebih bersikap hidup dieszseitig duniawiah dari pada kepada Imam Gazali yang dianggap lebih bersikap jenseitig mengarah ke alam akhirat.
Pada kesempatan lain saya kebetulan mencela orang-orang yang suka bolak-balik pergi ke Mekah naik  haji, sambil membawa berkeranjang-keranjang bumbu bumbuan dan makanan-makan kering, untuk dijual kepada para jemaah di sana. Kalau kembali, angkaribung membawa karpet-karpet, batu-batuan, minyak samin, dan sebagainya. Semuanya dengan tujuan yang sama : cari untung. Mendengar celaan saya itu, Takdir seperti ular kobra yang terinjak kaki. Dia heran, mengapa saya mencela orang-orang itu. Apa salahnya, katanya. Itu perbuatan manusia yang paling benar dan seharusnya — ibadah dan cari rezeki. Jelas Takdir menggemakan adagium kaum Calvinist ora etlabora (berdoa dan bekerjalah). Dia konsisten dengan semangat realismenya. Hasilnya, dia sangat realismenya. Hasilnya, dia cukup kaya, sehingga tanpa kekayaan, keringat dan otak dia, mana mungkin Universitas Nasional Jakarta itu bisa  berdiri.  Demikian juga Toyabungkah di Pulau Bali, yang dimaksudkan sebagai pusat pertemuan para sastrawan, seniman dari dalam dan dari luar negeri untuk bertemu, berdiskusi, bereksperimen, bekerja cari ilham, melamun. Perusahaan-perusahaan lainnya, seperti penerbitan, percetakan, toko buku, majalah Ilmu dan Budaya, yang semua merupakan kejaran semangat idealismenya itu, mana mungkin bisa berdiri tanpa semangat realism Takdir yang kalkulatif materialistis itu?!

Pada kesempatan lain lagi, semangat idealismenya itu nongol lagi. Dia mengutarakan bahwa kini dengan bumi sudah menciut menjadi sebuah globalvillage yang kecil, idealismenya mengarah ke pembentukan suatu kebudayaan dunia yang harus dapat mempersatukan segenap umat manusia dengan segala kegiatan hidupnya — agamanya, politiknya, ekonominya, dan sebagainya. Bahasa Inggris, bahasa persatuannya. Dia sudah merencanakan sebuah mesjid yang istimewa bentuknya, melambangkan semangat “interfaith communication” ala Paus John Paul ke-2, Abdurrachman Wahid alias Gus Dur yang ketua umum partai Nahdatul Ulama itu, dan Romo Mangunwijoyo, pastor Katolik yang suka merakyat dan pernah menulis novel yang bagus Burung-burung Manyar.

Itulah sepintas lalu kesan pribadi saya mengenai STA, tokoh besar Indonesia yang pionir dalam pemikiran soal pembentukan sastra dan budaya (juga bahasa) Indonesia modern sebagai pondasi pemersatu dan sekaligus ciri jati diri bangsa Indonesia yang modern-demokratis. Baik di Indonesia maupun di Malaysia, jasa-jasanya dihargai dalam bentuk gelar doctor Honoris Causa dan Universitas Indonesia, Jakarta, dan dari Universiti Sains, Pulau Pinang.

Tanggal 17 juli 1994 ia tutup usia. Maka tiada lain doa saya, semoga arwahnya berada dalam ketertiban dan kedamaian, seperti pernah dijanjikan dalam sajaknya itu, di sisi Tuhan YME.***

(Achdiat  K. Mihardja, pengarang roman Atheis, tinggal di Australia)

 

(Sumber: Kompas, Minggu,  14 Agustus 1994,  Rubrik SENI, hlm. 17). Lembaran koran  bagian atas/sejajar judul Rubrik SENI, pecah-pecah akibat lumpur Tsunami Aceh.