Tipologi Dosen dan Pelaksanaan Tri Dharma

Tipologi Dosen dan Pelaksanaan Tri Dharma

_________________________________

Oleh Danes Jaya Negara

___________________________________

Seorang  dosen, sebuah perguruan tinggi di luar Jawa pernah mengungkapkan pernyataan yang menggelitik, yakni tiga tujuan menjadi dosen adalah (1) mengejar pangkat setinggi-tingginya ; (2)  berkesempatan meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi; dan (3) harapan agar menjadi kaya.

Meskipun diucapkan sembil berseloroh, saya menangkap, bahwa pernyataan tersebut pragmatis dan lebih subtansif pada kondisi riil seputar profesi dosen, dan ada benang merah  dengan apa yang tengah menjadi isu hangat akhir-akhir ini.

Secara eksplisit, nuansa yang bisa dipetik dua dari tiga tujuan sesungguhnya merupakan refleksi atau fenomena ekses dari Tri Dharma (Tujuan ketiga saya anggap sifatnya UNIVERSAL dan manusiawi). Karena, jangankan seorang dosen, pengusaha yang kaya raya saja terus ingin menumpuk kekayaan.

Konsep Tri Darma sebagai konsep yang  lengkap merupakan pengejawantahan bakti seorang dosen terhadap profesi yang diembannya melalui kegiatan penelitian, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dari ketiga unsur tersebut dapat dinyatakan,  bahwa keberhasilan pelaksaan Tri Dharma erat kaitannya  antara tujuan dan tipologi seorang dosen dan keterkaitan dengan berhasilnya meraih jenjang kepangkatan (professor), atau meraih jenjang pendidikan tertinggi ( doktor).

   

                                                                                                       Tipologi dosen        

Ketentuan di Nederland tahun 1970-an, ada tiga tipologi (tipe dasar) dosen, yaitu dosen didaktikus, dosen peneliti penulis , dan  dosen pelopor (N.Daldjoeni dalam Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 1993). Dari ketiga jenis ini dapat dlihat fungsi yang dilakukan.

Dosen didaktikus berfungsi untuk memberikan dasar-dasar pokok atau latihan-latihan yang ada pada segala cabang ilmu. Tipologi mesti segar, dengan terbitan-terbitan baru  yang bertalian dengan perkembangan cabang ilmu yang diasuh. Kuliah yang diberikan tidak perlu dibumbui dengan hasil riset atau penemuan atau riset mereka sendiri di lapangan atau di laboratorium. Mereka itu harus rajin mengunjungi perpustakaan kampus dan juga memiliki koleksi buku yang memadai, baik di rumah maupun di kantor.

Dosen peneliti-penulis adalah dosen yang tekun mensintesiskan hasil-hasil studi dan riset mereka. Mereka sering asyik dengan bidang ini, dan umumnya tidak ingin dibebani tugas-tugas yang tidak berkaitan dengan aktivitasnya. Dalam memberi kuliah tidak lagi bersifat pengantar (elementary), tetapi  pengupasan preblomatik yang aktual.

Dosen pelapor adalah para spesialis yang cukup yang medalami dasar serta filsafat ilmu. yang diasuh. Kelompok  ini umumnya bergelar doktor, dan diharapkan peka dengan vitalitas serta dinamika ilmu mereka.  Termasuk kericuhan-kericuhan  yang kadang-kadang terdapat didalamnya. Tipologi ini terbentuk dari perkembangan tipologi didaktikus dan peneliti-penulis,  setelah melewati pengalaman yang cukup lama.

 

 

Relevansi pelaksana  Tri Dharma

      Adakah keterkaitan antara tipologi dosen dengan keberhasilan pelaksaan Tri Dharma dan mencapai derajat kepangkatan tertinggi ?.  Rasanya sangat erat sekali, dan disinilah letak subtansinya, terutama bagi dosen dengan peneliti-penulis dan dosen pelopor dengan kualifikasi dan integritas keilmuan yang menjadi spesialisasinya.

Bagi dosen yang concern dengan profesi, memliki komitmen yang tinggi dengan bidang ilmu serta memiliki sense of educate inilah yang akan mewujudkan pelaksanaan Tri Dharma yang kontinyu dan bersifat to hand on bagi kemajuan nusa dan bangsa, sekaligus untuk mencapai derajat tertinggi menjadi mahaguru akan kesampaian.

Bagi dosen dengan tipologi peneliti-penulis, kans mencapai jenjang lebih bersifat progresif, dan peluang menjadi mahaguru akan ada ketimbang  hanya tipologi didaktikus. Karena proporsi penilaian kualitas dan bobot keilmuan lebih besar dari pada tilpogi ini, yang sejalan dengan porsi penilain angka kredit (cum). Alasannya,  hanya mengajar saja tanpa menulis karya ilmiah (berupa buku, modul, laporan penelitian, mensintesakan di jurnal ilmiah dan berbagai jenis tulisan lainnya) jelas persentase angka kredit kecil sekali.

Dosen tipe pelopor merupakan dosen yang concern dengan spealisasi tertentu, bisa juga cukup banyak “jam terbang” dalam dunia pendidikan . Tipologi ini diharapkan sekali menjadi guru besar, karena telah memiliki teori dasar dan filsafat ilmu yang menjadi basis untuk diakui kepakarannnya bila menjadi guru besar.

Dapat disimulasikan, semakin  dekat dosen dengan tipologi tertentu, maka akan semakin mantap pelaksanaan Tri Dharma.

                                                                                      Menjadi Guru besar

Sekarang kaitan berbagai tipologi menjadi jelas, mana yang memang betul-berul tipikal dosen. Oleh karenanya, menjadi guru besar adalah jabatan akademik tertinggi dan berkaitan dengan tipologi tertentu untuk mampu mencapainya.

Persoalannya, persyaratannya  sangat tidak mudah. Ketentuan menyebutkan angka kredit  (cum) kumulatif yang diperoleh, harus mencapai 800 hingga 1000 angka kredit dan setara dengan golongan 1Vd dan 1Ve. Proses memperoleh angka kredit sebesar itu makan waktu puluhan tahun, bahkan setelah sekian lama tidak sedikit yang hanya mampu sampai jabatan  akademik lektor kepala atau golongan 1Vc.

Kalau di instansi lain kepangkatan seseorang erat kaitannya dengan jabatan struktural, maksudnya semakin tinggi  pangkat sesorang akan diikuti dengan pos penting yang didudukinya. Tidak demikian dengan jenjang kepangkatan di perguruan tinggi,  karena tidak otomatis golongan IV atau guru besar menempati pos jabatan struktural, namun bisa sebagai prasyarat (misalnya, jabatan rektor).

Dibandingkan dengan jenjang kepangkatan di ABRI, dapat dikatakan tidak semua lulusan pendidikan Taruna (Akademi Militer) meraih posisi Perwira Tinggi.( Jenderal dengan bintang empat ). Begitu pula dengan dosen yang mengajar di suatu PT, yang meraih jabatan guru besar umumnya sangat sedikit. Di Universitas Gadjah Mada misalnya, dari 2000 dosen lebih, yang berstatus guru besar hanya sekitar 70 orang termasuk yang emiritus (pensiun). Secara nasional jumlah sekitar 3 persen.

Di salah satu perguruan tinggi di luar Jawa, setelah lebih dari 30 tahun  berdiri, baru melahirkan guru besar tidak lebih dari 5 orang. Dan uniknya, ada kasus saat SK Guru Besar diterima, bersamaan itu pula  memasuki masa pensiun. Ini menunjukkan betapa berat proses yang dilalui untuk meraih guru besar.

Sekarang yang menjadi renungan bersama adalah,  termasuk tipologi mana bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia perguruan tinggi? Menjadi lebih baik bila ketiga tipologi dosen dapat menyatu dalam figur seorang dosen, dan akan semakin mantaplah pelaksaan Tri Dharma. Karena,  tanpa konsep Tri Dharma, dengan sendirinya dosen telah melaksanakan apa yang jadi tugas dan tanggung jawabnya. Hanya, tanpa dilakukan secara berkesinambungan, jelas kebangaan pribadi menjadi dosen akan berkurang.

Danes Jaya Negara, mahasiswa Pascasarjana, Program Studi Manajemen UGM, Yogyakarta, staf pengajar  FE-Unpar Palangkaraya.  

(Sumber: Kompas, Rabu, 9 3 1994, hal.  5).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s