Memprihatinkan, Perkembangan Hiem di Aceh Dewasa Ini!

Memprihatinkan, Perkembangan Hiem dalam Masyarakat Aceh

Serambi-Banda Aceh

Teka teki (bahasa Aceh: hiem) sebagai salah satu bentuk sastra lisan dalam masyarakat Aceh, kini nyaris punah akibat semakin longgarnya ikatan adat dan kebiasaan sehari-hari, serta pesatnya teknologi informasi. Selain itu, sikap ketidakpedulian generasi muda terhadap perkembangan sastra lisan, ikut mempengaruhi surutnya tradisi hiem yang sebelumnya cukup populer di Aceh.

Hal itu terungkap pada “Seminar Hiem dalam Masyarakat Aceh”, Selasa di Banda Aceh. Seminar yang dilaksanakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh ini menampilkan  dua pembicara masing-masing Drs. Wildan Abdullah, M.Pd dan Dr.Kadarusmadi, M.Pd, dipandu sejarawan Tuanku Abdul Djalil. Acara tersebut diikuti para nara sumber dan pakar budaya serta para guru sejarah dan bahasa SMU dalam kotamadya Banda Aceh dan sekitarnya.

Seminar yang dibuka Kakanwil Depdikbud Aceh Drs. Daeng Malewa itu, menurut Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Drs. Rusdi Sufi, dilaksanakan dalam rangka memperingati ulang tahun II lembaga tersebut, sekaligus peluncuran dua buku hasil penelitian yang mereka adakan.

 

                                                                                           Tiga fungsi

Menurut Wildan dan Kadarusmadi dalam makalahnya,  hiem

Sebagai salah satu bentuk sastra lisan – pada masanya dulu –  berkembang subur di Aceh. Para orangtua, pemuda dan anak-anak selalu menggunakan hiem dalam berbagai situasi. “Pemakaiannya (hiem – red) bukan hanya antara orangtua dengan orangtua, melainkan juga digunakan antara orangtua dengan  pemuda dan anak-anak”, katanya, yang didasarkan pada hasil  penelitian ilmiah yang mereka adakan di pedesaan Aceh. Kecuali karena perubahan sikap masyarakat dan ketidakpedulian generasi muda menurutnya (menghilangnya) hiem di dalam masyarakat Aceh pada dekade terakhir ini, dimungkinkan juga karena belum adanya kumpulan hiem dalam bentuk tulisan atau buku.

Bentuk sastra lisan tersebut hanya sekedar beredar di dalam masyarakat, itu pun pada orang-orang tua. “Oleh karena itu hiem dalam masyarakat Aceh perlu terus diinventarisasikan, diteliti dan dianalisis serta dibukukan, agar dapat digunakan sebagai salah satu pengetahuan tentang sastra daerah,” saran kedua pengajar FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah itu).

 

Diungkapkan,  sebenarnya ada tiga fungsi hiem yang berkembang  di dalam masyarakat. Pertama, sebagai sarana rekreasi, hiem menjadi pengisi waktu senggang, terutama pada malam hari di tempat-tempat orang berkumpul. Kedua, sebagai sarana kreasi, bentuk sastra ini bisa dijadikan  alat berpikir anggota masyarakatnya,  baik dalam menjawab teka-teki atau menciptakan teka-teki baru. Sedangkan ketiga, sebagai sarana pendidikan, hiem menjadi alat untuk saling mendidik antara generasi muda di tempat-tempat umum, seperti meunasah dan masjid, serta turunnya petuah ( isi dan jawaban teka-teki) dari orang tua kepada yang lebih muda, Para peserta seminar yang ikut memprihatinkan surutnya perkembangan teka-teki dan sastra tutur Aceh, mengungkapkan menyurutnya hiem dalam tradisi masyarakat Aceh  karena pengaruh teknologi informasi.    Munculnya radio dan televisi telah menggantikan kedudukan teka-teki dan tuturan sastra lisan lain sebagai sarana hiburan dan ilmu pengetahuan.

 

                                                                                      Ungkapan porno

       Menjawab pertanyaan peserta bahwa dalam hiem Aceh banyak terdapat kata-kata yang berbau porno, Wildan tidak menampiknya. Ia mengatakan bahwa ungkapan(pertanyaan) teka-tekinya memang kadang-kadang berbau porno, tetapi jawabannya tidak menyangkut hal-hal yang porno. Di dalam makalahnya dia memberi contoh: Bak pade got boh jih kom, ureung inong teueh-eh, boh  paleh han jitem gong(Batang padi bagus bijinya jelek, orang perempuan tidur-tiduran, zakar keparat tak mau tegang).

Kedua pemakalah dan sejumlah pakar dalam seminar tersebut agaknya sepakat bahwa aspek seksualitas dalam hiem  atau teka-teki Aceh  tidak bisa dihindari terutama pada ungkapannya. Oleh karena itu, seksualitas dalam hiem jika dilihat dari segi isinya, menjadi salah satu nilai  dari tujuh nilai lain yang terkandung dalamnya.  Ketujuh nilai tersebut ialah nilai pengetahuan, nilai pendidikan, nilai  seni dan budaya, nilai agamis, nilai keakraban dan kebersamaan, nilai cinta lingkungan serta nilai seksualitas (bar/z)

 

(Sumber: Harian Serambi Indonesia, Rabu, 15 Oktober 1997 hlm. 2)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s