Musabaqah Ke I Dalail Khairat se-Kab. Pidie dibuka Gubernur

       Musabaqah Ke I Dalail Khairat se-Kab. Pidie dibuka Gubernur

Sigli, 22 Juli (Waspada)
Musabaqah Dalail Khairat yang ke 1 tingkat Kabupaten Pidie yang diikuti oleh 23 Kecamatan, dibuka oleh Gebernur Aceh baru-baru ini di Pendopo Kabupaten Pidie. Selain itu sekaligus pula dibuka Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Shalat Berjamaah yang diikuti oleh sejumlah Remaja Putra dan Putri se Kabupaten Pidie. Bupati Drs. Nurdin Abdulrahman dalam amanatnya pada acara pembukaan Musabaqah 1 Dalail di Kabupaten Pidie mengatakan bahwa tujuan dari musabaqah  Dalail, yang dimulai sejak dari desa, Kecamatan dan sekarang di tingkat kabupaten,bukanlah semata-mata untuk mencari juara, tetapi untuk menghidupkan kembali salah satu kegiatan ibadat yang dulunya pernah melembaga di setiap pelosok desa sebagai tanda cinta terhadap agama Islam dan senantiasa menyampaikan puji dan syukur kehadirat Illahi Rabi.
Budaya Agama yang tradisional Pidie ini,nyaris saja lenyap dan sudah langka adanya di desa-desa, bahkan karenanya tempat-tempat pengajian pun terasa semakin sepi. Selain itu kata Bupati, semakin banyak kegiatan syiar agama seperti ini, semakin mungkin menggeledah dan menggerebek diri sendiri, untuk mengenal diri sendiri, Sebab hanya manusia yang mengenal dirinya sendiri akan mengenal pula Tuhannya untuk menghayati diri sendiri kita perlu merenungi tiga hal. “pertama, dari mana saya datang sebelum hidup di dunia kedua,hendak kemana saya setelah hidup saya di dunia fana ini berakhir, dan ketiga dan apa yang setelah hidup saya di dunia fana ini berakhir, dan ketiga dan  apa yang telah saya lakukan untuk mengisi umur saya selama ini.”

PERTAMA DI INDONESIA
Menurut setahu Bupati Musabaqah Dalail serupa belum pernah diadakan sebelumnya, bahkan mungkin ini yang pertama di Indonesia. Gubernur Aceh yang diwakili T. Zainal Abidin, mengatakan pihaknya sedang menjajaki kemungkinan meningkatkan Musabaqah Dalail itu ke tingkat Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Setiap grup Dalail yang ikut Musabaqah ditetapkan 12 orang, dibolehkan membawa buku bacaan dalail, Musabaqah Dalail Khairat Kabupaten Pidie yang pertama ini akan berlangsung sampai dengan Minggu 19 juli 1981. Juara-juara akan diberikan piala bergilir Kabupaten dan juga uang kontan dari Bupati Kepala Daerah Tk II Kabupaten Pidie. (BAS)

 

(Waspada, Kamis, 23 Juli 1981)

 

*Diposting seumpeuna wisuda saya kemarin dan yudisium Senin, 14 Maret 2016.

Ejaan Bahasa Aceh Perlu Sederhana dan Praktis:Transliterasi Bahasa Aceh ke dalam Tulisan Latin

Transliterasi Bahasa Aceh ke dalam Tulisan Latin
Dari peninggalan Belanda Sampai Keinginan Masyarakat


OLEH ABDUL GANI ASYIK
         Bagi pakar dan peminat bahasa Aceh, judul makalah ini sungguh mengejutkan karena judul ini memberi kesan seolah-seolah bahasa Aceh belum mempunyai ejaan, padahal semua kita tahu bahwa ejaan bahasa Aceh telah lama ada dan telah beberapa kali mengalami revisi sejak lahirnya seratus tahun yang lalu.
Tidak mengherankan dan sungguh wajar bila ada diantara kita yang bertanya-tanya mengapa masalah ejaan ini diungkit-ungkit kembali. Sungguh kebetulan yang menyenangkan bahwa “Panitia Pelaksana Lokakarya Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam  (P3KI) “Banda Aceh” meminta saya untuk menyampaikan makalah dengan judul seperti tertera di atas.
Saya katakan tadi ini suatu kebetulan yang menyenangkan karena memang sudah agak lama saya ingin mengemukakan sedikit pandangan dan usulan untuk menjadi pertimbangan para pakar dan pecinta bahasa Aceh.
Perkembangan ejaan
Uraian yang cukup sempurna , walaupun agak singkat tentang sejarah perkembangan Bahasa Aceh dapat  kita baca dalam makalah Aboe Bakar yang disampaikan dalam “Seminar Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Aceh” dalam rangka Dies Natalies Universitas Syiah Kuala ke-19 tahun 1980. Aboe Bakar menyebutkan bahwa orang-orang Belanda telah mencoba menuliskan bahasa Aceh dengan huruf Latin sejak masa sebelum Belanda memerangi Aceh.
Tulisan –tulisan itu ada yang khusus mengenai bahasa Aceh dan ada pula mengenai sejarah atau orang Aceh, yang di dalamnya terdapat kata-kata Aceh yang ditulisan dengan huruf latin. Misalnya saja, Spraech en de Woordboek oleh Frederick de Houtman van Gouda (1613), sebuah Kamus Bahasa Melayu yang ternyata kemudian sebagian kata-kata di dalamnya adalah kata-kata bahasa Aceh: dan daftar kata-kata bahasa Aceh oleh H van Rosenberg yang dimuat dalam TBG jilid 5, tahun 1855.
Dalam zaman perang Belanda di Aceh terdapat pula beberapa penulis Belanda lain. Misalnya JA Kruiit yang menulis Atjeh en de Atjeher (1875), J Dias yang menulis “Lijst van Atjehsche woorden,” dalam TBG, jilid XXV, tahun 1879, dan Arriens yang menulis Meleish-Hollandsch-Atjehsche Woordenlijst (1880).
Yang lebih penting dari pada mereka ini adalah Karel Frederick Hendrick van Langen karena ia menulis dengan cara yang mulai mengarah kesuatu ejaan yang  mirip dengan ejaan bahasa Aceh yang kemudian muncul. Di antara karyanya adalah “Atjehsche Taalstudien,” dalam TBG, jilid XXVIII, 1883, “Handleiding voor de Beoefenung der Atjehsche Taal” dan  “Woordenboek der Atjehsche Taal,” (s’Gravehage, 1889).

Ejaan bahasa Aceh yang benar-benar sistimatis baru lahir empat tahun kemudian (1893) hasil karya DR. Cristian Snouck Hurgronje, mula-mula dalam penulisan kata-kata bahasa Aceh dalam De Atjehers (1883/1894), dua jilid, dan kemudian dalam tulisan “Studien Over Atjehscher Kalnk-en Schriftleer,” dalam Tijdschr v Ind t l en vlk, jilid XXXV, 1893.
Ejaan system Snouck Hurgronje dapat dilihat dalam Aboe Bakar (1980: 18-20).
Ejaan Snouck Hurgronje ini kemudian mengalami beberapa macam perubahan kea rah bentuk yang lebih sederhana oleh pengarang-pengarang buku bahasa Aceh, misalnya diganti  huruf  Arab “ain ( ع) dan koma terbalik pada vocal sengau ( ’ ), dihilangkannya trema di atas huruf  e, digantinya hamzah ( ء ) dengan tanda petik ( ‘ ), setelah Indonesia merdeka terjadi lagi perubahan-perubahan mengikuti perubahan ejaan bahasa Indonesia, yakni Ejaan Soewandi tahun 1947 yang menggantikan antara lain oe dengan u, dan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan tahun 1972.
Perubahan yang terakhir adalah perubahan yang dihasilkan dalam seminar pembinaan dan pengembangan bahasa Aceh tahun 1980, Universitas Syiah Kuala, berdasarkan dua makalah yang disusun oleh dua pakar bahasa Aceh, masing-masing Drs Budiman Sulaiman (sekarang Profesor)  dan Aboe Bakar. Hasil perbaikan pakar ini adalah ejaan yang berlaku sekarang ini.

Ejaan 1980 dalam masyarakat.
Sejak lahirnya ejaan 1980 yang merupakan revisi dan penyempurnaan ejaan lama, para penulis dapat dikatakan terbagi dua. Di satu pihak para peneliti dan penulis buku-buku pelajaran bahasa Aceh. Orang-orang ini dengan  sengaja setia menggunakan ejaan tersebut dalam ejaannya tersebut dalam tulisan-tulisannya. Di pihak lain para pemakai yang menulis untuk hal-hal selain yang tersebut di atas, yang di sini di sebut masyarakat umum. Ke dalam kelompok ini kita masukkan  juga penulis-penulis  di surat kabar.
Tulisan- tulisan dalam masyarakat ini termasuk nama-nama bangunan, dan nama-nama jalan dan sebagainya, dan tulisan-tulisan  masyarakat umum adalah tidak di gunakannya tanda-tanda vocal dan tanda pemisah  suku kata seperti yang dianjurkan Ejaan 1980. Seperti kita ketahui dalam  ejaan 1980 diwajibkan penggunaan tanda penghubung untuk memisahkan dua vocal bila menuliskan kata-kata seperti si-at, keu-eueng, la-ot, dan sebagainya.
Dalam tulisan masyarakat umum , kata-kata ini dituliskan satu: siat, keueueng, laot. Dalam ejaan Aceh selain Ejaan Snouck Hurgronje sampai Ejaan 1980, tanda-tanda di atas vocal digunakan, misalnya e dalam kata mate, e dalam kata taren, dan o dalam kata baho. Dalam tulisan masyarakat umum kata-kata ini ditulis mate, taren dan baho.
Adanya penulisan versi masyarakat ini patut mendapat perhatian kita para pakar dan pecinta bahasa Aceh. Setidak-tidaknya perlu kita tanyakan pada diri sendiri mengapa hal ini terjadi .

Nampaknya terdapat keinginan yang berbeda antara para pakar yang memikirkan ejaan di satu pihak dan masyarakat umum dipihak yang lain.
Para pakar ingin mengucapkan ejaan yang sempurna sehingga tiap bunyi yang diwakili oleh satu lambang. Inilah yang antara lain telah melahirkan penggunaan lambang-lambang pada beberapa vokal sejak Snouck Hurgronje sampai sekarang.
Kemudian timbul lagi keinginan penyusun ejaan untuk menghilangkan keragu-keraguan pembaca dalam memisahkan suku kata bila suku kata pertama berakhir dengan vocal dan suku kata berikutnya mulai dengan Vokal. Ini melahirkan gagasan untuk mewajibkan pemisahan suku kata untuk kata-kata tersebut itu.
Keinginan masyarakat umum agaknya berbeda dengan keinginan para pakar. Mereka nampaknya menghendaki suatu ejaan yang tidak terlalu rumit, yang praktis. Mereka adalah orang-orang yang terlebih dahulu telah menguasai tulisan bahasa Indonesia dan telah terbiasa dengannya.
Bagi mereka ejaan bahasa Aceh terlalu sulit, terlalu banyak tanda-tanda yang membingungkan, apalagi kalau mereka diharuskan mengingat kapan sebuah kata harus dipenggal suku katanya.
Memang benar bahwa ejaan bahasa Aceh terlalu rumit dibandingkan dengan ejaan bahasa Indonesia. Agaknya pantas kita tanyakan apakah perlu dipertahankan kerumitan yang dimiliki ejaan kita itu. Kalau kita melihat ke belakang sebentar, kita akan melihat bahwa ejaan Snouck Hurgronje rumit sekali.
Perubahan-perubahan yang dilakukan para penulis dahulu bertujuan membuatnya tidak terlalu rumit. Sekarang ejaan kita sebenarnya sudah kembali bertambah rumit dari sebelumnya karena selain masih mempertahankan apa yang telah ada, juga sudah bertambah dengan bergandengan dua vokal dari suku kata yang berbeda.

………..(beberapa baris hilang, karena lumpur Tsunami Aceh, 26 Des 2004)……………

…nyederhanaan sampai ke batas yang dapat ditolerir itu. Apakah praktek penulisan yang dilakukan oleh masyarakat umum berada pada batas tersebut?. Jawab saya ya, karena versi tulisan oleh masyarakat itu tidak kurang efektifnya daripada tulisan dengan ejaan yang berlaku sekarang.
Oleh karena itu saya ingin mengusulkan suatu revisi yang membuat ejaan bahasa Aceh lebih sederhana dari pada sekarang. Saya kira tidak perlu membubuhkan tanda-tanda diatas e dan o seperti yang sekarang. Tulisan-tulisan yang ada di surat kabar dan di tempat-tempat lain ternyata tidak menimbulkan kesukaran bagi pembaca untuk membaca e, e’, atau ‘e, dan begitu pada  o  dan  o . Demikian pula tanda pemisah suku kata , ini tidak  perlu. Tanda-tanda di atas  e  dan  o  boleh saja dibubuhkan dalam karya-karya ilmiah atau buku belajar membaca bila dipandang perlu.
Ejaan yang diusulkan
Walaupun tidak semua huruf terpakai dalam penulisan bahasa Aceh, akan tetapi abjad latin secara keseluruhan perlu diangkat sebagai abjad bahasa Aceh, karena bunyi-bunyi itu diperlukan dalam penulisan istilah-istilah asing yang belum diserap penuh dan dalam penulisan lambang-lambang matematika,kimia, dan sebagainya.
Dalam daftar di bawah ini bunyi-bunyi yang tidak terdapat dalam bahasa Aceh ditandai dengan lambang bintang(*) di belakangnya.

Bacaan  huruf abjad ini sama dengan bacaan dalam bahasa Indonesia. Ini perlu karena di sekitar kita banyak terdapat singkatan-singkatan yang dibaca menurut bacaan Indonesia, misalnya SMP, PBB, MPR, DPR, yang harus dibaca es em pe, pe be be, em pee r, de pe er, Begitu pula lambang-lambang kimia, matematika dan lain-lain.
1. Abjad.
Huruf                           Bacaan
A a                                 a
B b                                be
C c                                 ce
N n                                en
O o                                o
P p                                pe
D d                               de
E e                                e
F f *)                           ef
G g                               ge
H h                              ha
I I                                 i
J j                                 je
K k                              ka
L l                                el
M m                            em
Q q *)                 ki
R r                               er
S s                               es
T t                               te
U u                    u
V v                    ve
W w                           we
X x *)                         eks
Y y ye/                      ai
Z z *)                 zet

2. Vokal
Vokal terdiri atas vokal tunggal dan vokal rangkap atau diftong. Di antara vokal tunggal terdapat sekelompok  vokal sengau. Vokal sengau dituliskan dengan tanda petik di bahu kirinya. Jadi  ‘a adalah a sengau seperti dalam kata ‘ap, t’am. Di antara vokal tunggal ada satu yang dituliskan dengan dua lambang, yaitu eu seperti dalam kata kheun, geutah. Vokal rangkap terdiri atas dua vokal tunggal. Pada vokal rangkap sengau , hanya pada vokal pertama dibubuhkan tanda sengau.

a) Vokal Tunggal
a- asam, bate, tika
i- ija, sikat, bili
u- ubat, lusa, hantu
e ( a )- e rhet, tahe
e ( ع)- eh bek, bukhe
e ( e )- eh meucen sare
o (  )- ong soh bako
O ( O )- on thon talo
eu – eu seuba sareu

b) Vokal Sengau
‘a – ‘ap t’am ta’a
‘i – ‘i  ‘i  tu’i
‘u – ‘um  b’um  ‘au  ‘u
‘e (ع )  ‘et  b’eh  pa’e
‘o (  ) – ‘oh ch’op  ch’o
‘eu – ‘euh ch’euk

c) Vokal Rangkap (Diftong)
ue – ueh,  pueh  sue
ee – eelia  deelat  kayee
oe – adoe
eue – eue   seuet   gaseue
ai – kapai
ui – ui   sui
ei – hei
oi  (  ) boinah
oi ( oi ) bhoi
eui – meui

d) Vokal Rangkap Sengau
‘ue – ‘uet  c’ueh  mu’ue
‘ee –  ca’ee

‘ai –  c’ai

‘eue – ‘eue
‘ie – ‘eip cut’iet s’a, s’ie

3. Konsonan
Konsonan terdiri atas konsonan tunggal dan konsonan rangkap. Di antara konsonan tunggal ada juga yang dituliskan dengan dua huruf: sy, ny, dan ng. ini tak dapat dikatakan konsonan rangkap karena satu bunyi satu, yang dalam fonetik (lambang IPA)
Bunyi mb, nd, nj, dan ngga dalam kebanyakan dialek (misalnya Aceh Utara dan Pidie) adalah konsonan tunggal juga. Akan tetapi dalam sebagian dialek di Aceh Besar bunyi-bunyi itu konsonan rangkap.
Di bawah ini keempat bunyi tersebut dicantum dalam daftar tersendiri.

 

……….Bersambung hal 10 kol 7-9

{sambungannya belum dijumpai!)

 

(SUMBER: Serambi Indonesia, Kamis, 12 November 1992 hlm. 4/Opini).

 

 

 

 

 

 

 

Sebagian Isi Berita Seminar:

Ejaan  .  .  .
sehingga tiap bunyi diwakili oleh satu lambang, “ ujar pakar linguistik alumnus Universitas Michigan Amerika Serikat ini.
Dikatakan, memakai tanda baca dan tanda-tanda  pisah suku kata yang banyak seperti pada huruf-huruf sengau menyebabkan generasi muda enggan menulis bahasa Aceh bila mengirim  surat  kepada orangtuanya. Ini berbeda dengan pemuda daerah lain. Gayo misalnya, mereka menulis surat dalam bahasa ibunya sehingga lebih komunikatif.
Sanggahan
        Makalah tersebut ternyata mendapat tanggapan serius dari pakar-pakar bahasa Aceh yang hadir dalam acara tersebut. Drs Adnan Hanafiah, Drs Saifuddin Mahmud MPd, Drs M Hasan Bashri MA, dan Tuanku Abdul Jalil tidak sependapat dengan ide-ide meninjau kembali ejaan bahasa Aceh. Sebab dikhawatirkan suatu saat anak-anak Aceh tidak bisa lagi membedakan tulisan saree (rata) dengan Saree (nama kota),  boh (buah) dengan boh (tarok), kreh (senjata) dengan kreh (bagian kemaluan laki-laki).
Kekhawatiran tersebut dibantah oleh pemakalah dengan memberi  contoh kepada bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia sangat banyak kata-kata yang ejaannya berbeda dengan membacanya. Tapi lidah kitalah yang dapat membedakan bagaimana  cara membaca huruf e pada kata-kata “leceh, remeh, Medan, merah dengan huruf e dalam kata-kata lelah, pecah, penyu dal lain-lain. Begitu juga bahasa Aceh meski tulisannya tidak menggunakan lambang-lambang orang bisa  membaca. Jelasnya.
Drs  Wamad  Abdullah MA, dan beberapa penanya lainnya sangat mendukung isi makalah Abdul Gani Asyik yang menawarkan peninjauan kembali ejaan bahasa Aceh peninggalan Snouck Hurgronje, supaya bahasa Aceh itu bisa  berkembang dan dicintai generasi muda.
Pemakalah lain, Dr Yusni Sabi MA dengan makalahnya “Transletirasi Tulisan Arab ke dalam Tulisan Latin ke Arah Satu Model” menganjurkan agar kalimat-kalimat yang berasal dari bahasa Arab dapat ditulis dengan benar sehingga tidak mengaburkan maknanya. (mee)

 

(Sumber: Serambi Indonesia, 5 November 1992, hlm. 10).
.

 

Memprihatinkan, Perkembangan Hiem di Aceh Dewasa Ini!

Memprihatinkan, Perkembangan Hiem dalam Masyarakat Aceh

Serambi-Banda Aceh

Teka teki (bahasa Aceh: hiem) sebagai salah satu bentuk sastra lisan dalam masyarakat Aceh, kini nyaris punah akibat semakin longgarnya ikatan adat dan kebiasaan sehari-hari, serta pesatnya teknologi informasi. Selain itu, sikap ketidakpedulian generasi muda terhadap perkembangan sastra lisan, ikut mempengaruhi surutnya tradisi hiem yang sebelumnya cukup populer di Aceh.

Hal itu terungkap pada “Seminar Hiem dalam Masyarakat Aceh”, Selasa di Banda Aceh. Seminar yang dilaksanakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh ini menampilkan  dua pembicara masing-masing Drs. Wildan Abdullah, M.Pd dan Dr.Kadarusmadi, M.Pd, dipandu sejarawan Tuanku Abdul Djalil. Acara tersebut diikuti para nara sumber dan pakar budaya serta para guru sejarah dan bahasa SMU dalam kotamadya Banda Aceh dan sekitarnya.

Seminar yang dibuka Kakanwil Depdikbud Aceh Drs. Daeng Malewa itu, menurut Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Drs. Rusdi Sufi, dilaksanakan dalam rangka memperingati ulang tahun II lembaga tersebut, sekaligus peluncuran dua buku hasil penelitian yang mereka adakan.

 

                                                                                           Tiga fungsi

Menurut Wildan dan Kadarusmadi dalam makalahnya,  hiem

Sebagai salah satu bentuk sastra lisan – pada masanya dulu –  berkembang subur di Aceh. Para orangtua, pemuda dan anak-anak selalu menggunakan hiem dalam berbagai situasi. “Pemakaiannya (hiem – red) bukan hanya antara orangtua dengan orangtua, melainkan juga digunakan antara orangtua dengan  pemuda dan anak-anak”, katanya, yang didasarkan pada hasil  penelitian ilmiah yang mereka adakan di pedesaan Aceh. Kecuali karena perubahan sikap masyarakat dan ketidakpedulian generasi muda menurutnya (menghilangnya) hiem di dalam masyarakat Aceh pada dekade terakhir ini, dimungkinkan juga karena belum adanya kumpulan hiem dalam bentuk tulisan atau buku.

Bentuk sastra lisan tersebut hanya sekedar beredar di dalam masyarakat, itu pun pada orang-orang tua. “Oleh karena itu hiem dalam masyarakat Aceh perlu terus diinventarisasikan, diteliti dan dianalisis serta dibukukan, agar dapat digunakan sebagai salah satu pengetahuan tentang sastra daerah,” saran kedua pengajar FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unsyiah itu).

 

Diungkapkan,  sebenarnya ada tiga fungsi hiem yang berkembang  di dalam masyarakat. Pertama, sebagai sarana rekreasi, hiem menjadi pengisi waktu senggang, terutama pada malam hari di tempat-tempat orang berkumpul. Kedua, sebagai sarana kreasi, bentuk sastra ini bisa dijadikan  alat berpikir anggota masyarakatnya,  baik dalam menjawab teka-teki atau menciptakan teka-teki baru. Sedangkan ketiga, sebagai sarana pendidikan, hiem menjadi alat untuk saling mendidik antara generasi muda di tempat-tempat umum, seperti meunasah dan masjid, serta turunnya petuah ( isi dan jawaban teka-teki) dari orang tua kepada yang lebih muda, Para peserta seminar yang ikut memprihatinkan surutnya perkembangan teka-teki dan sastra tutur Aceh, mengungkapkan menyurutnya hiem dalam tradisi masyarakat Aceh  karena pengaruh teknologi informasi.    Munculnya radio dan televisi telah menggantikan kedudukan teka-teki dan tuturan sastra lisan lain sebagai sarana hiburan dan ilmu pengetahuan.

 

                                                                                      Ungkapan porno

       Menjawab pertanyaan peserta bahwa dalam hiem Aceh banyak terdapat kata-kata yang berbau porno, Wildan tidak menampiknya. Ia mengatakan bahwa ungkapan(pertanyaan) teka-tekinya memang kadang-kadang berbau porno, tetapi jawabannya tidak menyangkut hal-hal yang porno. Di dalam makalahnya dia memberi contoh: Bak pade got boh jih kom, ureung inong teueh-eh, boh  paleh han jitem gong(Batang padi bagus bijinya jelek, orang perempuan tidur-tiduran, zakar keparat tak mau tegang).

Kedua pemakalah dan sejumlah pakar dalam seminar tersebut agaknya sepakat bahwa aspek seksualitas dalam hiem  atau teka-teki Aceh  tidak bisa dihindari terutama pada ungkapannya. Oleh karena itu, seksualitas dalam hiem jika dilihat dari segi isinya, menjadi salah satu nilai  dari tujuh nilai lain yang terkandung dalamnya.  Ketujuh nilai tersebut ialah nilai pengetahuan, nilai pendidikan, nilai  seni dan budaya, nilai agamis, nilai keakraban dan kebersamaan, nilai cinta lingkungan serta nilai seksualitas (bar/z)

 

(Sumber: Harian Serambi Indonesia, Rabu, 15 Oktober 1997 hlm. 2)