PECINAN DI MAKASSAR

Catatan: Hari ini Senin, 8 Februari 2016 adalah Hari Libur Nasional, yaitu Hari Raya Imlek. Menurut penjelasan Budayawan Jaya Suprana di MetroTV tadi malam; Libur Nasional HARI RAYA IMLEK adalah anugerah bagi WNI asal Tiongkok semasa Presiden Gusdur. “Tanpa Gusdur mungkin tak ada anugerah itu”, katanya.

 

PECINAN DI MAKASSAR
Warga Tionghoa berharap bisa hidup lebih tenang dan lepas dari ketertutupan
Memasuki kawasan Jalan Ahmad Yani, Makassar, sebuah gapura dengan arsitektur khas berdiri di sebelah kiri jalan, tepatnya pintu masuk Jalan Jampea. Di gapura itu terdapat tulisan dengan huruf kanji dan latin ‘China Town’ atau Kota Cina. Kawasan ini memang merupakan tempat bermukim para warga keturunan Cina atau Tionghoa di Makassar.
Kawasan ini sebenarnya sudah lama dikenal sebagai kawasan permukiman bagi warga Cina di Makassar. Masyarakat di kota itu menyebut Pecinan seiring kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China sebagai hari libur nasional, kawasan itu semakin ramai dengan hadirnya gapura atau gerbang tersebut. Gerbang itu diresmikan Wali Kota Makassar HB Amiruddin Maula, saat malam perayaan Cap Goh Meh, 15 Februari, 2003 lalu.
Bagi warna Cina di Makassar, kehadiran gerbang itu disambut suka cita, bukan hanya karena arsitekturnya yang mencerminkan ornamen khas negara Cina, tetpi gapura itu juga dianggap sebagai simbol pengakuan dan penerimaan pemerintah maupun masyarakat Makassar terhadap warga Cina. Gerbang itu juga dinilai sebagai pertanda dimulainya babak baru dalam kehidupan warga Tionghoa dan masyarakat lainnya di Makassar.
Kegembiraan itu juga dirasakan oleh warga Tionghoa lainnya di Makassar. Hal ini diakui oleh Robert Lukas, seorang penjual barang kelontongan di Jalan Jampea, Makassar, dan Tan Rosiadi Tandean, pengusaha warung kopi di Jalan Sangir, Makassar. “Kita memang berharap bisa hidup tenang dan damai lagi bersama warga pribumi di sini, setelah sekira 30 tahun lebih kami hidup dalam ketertutupan,”kata Robert.
Bagi masyarakat Cina di sana, pembangunan gerbang itu dimaksudkan untuk menjadikan daerah itu sebagai salah satu kawasan wisata yang nantinya diharapkan akan mendatangkan nilai tambah bagi ibu kota Sulawesi Selatan itu.
Sayangnya, di kawasan itu sendiri hampir tidak bisa lagi ditemukan ornamen yang mencirikan kebudaaan Cina. Rumah-rumah mereka telah direnovasi mengikuti arsitektur modern. Kalaupun ada yang tertinggal, ia lebih diwarnai arsitektur Belanda. Satu-satunya yang masih menggambarkan kebudayaan Cina adalah empat buah kelenteng yang berada di Jalan Sulawesi dan Jalan Lombok, serta tempat sembahyang, dan bau dupa.
“Kita memang baru mulai. Bangunan-bangunan yang kini telah diubah bentuknya, kita imbau kepada pemiliknya agar dikembalikan kembali ke bentuk arsitektur Cina yang asli. Kalaupun dibangun dengan arsitektur modern, ia tetap memadukan dengan arsitektur Cina. Jadi, ke depan kawasan ini nantinya akan menawarkan nuansa negeri Cina, dengan arsitektur rumah serta kebudayaan yang khas,” papar Amiruddin Maula menanggapi kondisi kawasan itu.
Selain gerbang di Jalan Jampea, dalam waktu dekat akan dibangun lagi empat gerbang serupa di Jalan Lombok dan Jalan Timor. Dipilihnya ketiga jalan tersebut karena kawasan itu hampir seluruhnya dihuni oleh warga Tionghoa. Gerbang itu digelari sebagai gerbang perdamaian dan persaudaraan.
Permukiman warga Tionghoa di Makassar, bukan hanya di tiga jalan itu, tetapi juga di beberapa jalan, diantaranya Jalan Sulawesi, Lombok, Sangir, dan Jalan Somba Opu, yang juga Pusat Perbelanjaan di Makassar. Areal yang masuk kawasan Pecinan itu meliputi tiga kelurahan di Kecamatan Wajo, masing-masing Kelurahan Ende, Melayu Baru, dan Pattunuang, yang berada di sekitar Kawasan Pelabuhan Soekarno Hatta dan Pantai Losari Makassar.
Hingga saat ini, warga Tionghoa yang bermukim di Makassar mecapai 23.000 jiwa. Umumnya mereka bergiat di sektor perdagangan atau bisnis, mulai dari usaha warung kopi, tukang gigi, tukang emas, penjual barang kelontongan, hingga bisnis barang-barang mewah, termasuk usaha hiburan malam.
Hingga saat ini, warga Tionghoa di Makassar diperkirakan 400 tahun silam atau pada abad XVI, bahkan ada yang memprediksi sejak abad VII. Namun, tidak ada catatan sejarah yang memastikan awal masuknya warga Tionghoa di daerah itu. Yang dijadikan patokan hanyalah Kelenteng Ibu Agung Bahari di Jalan Sulawesi, Makassar. Prasasti yang ada di kelenteng itu sudah berusia 287 tahun, tetapi prasasti itu sendri dibuat setalah kelenteng itu dibangun kedua kalinya sekitar 100 tahun sebelumnya. Patokan lainnya adalah warga Tionghoa kini merupakan generasi kedelapan pemukim di kota itu.
Kedatangan warga Tionghoa di Makassar berlangsung dalam beberapa gelombang. Umumnya mereka berasal dari Cina daratan. Mereka datang ke Makassar dengan alasan untuk berdagang dan bereksodus karena itu di Cina tengah berlangsung perang, sehingga warga yang merasa terancam keselamatannya dan kesulitan mencari sumber kehidupan melakukan migrasi. Salah satu negara tujuannya adalah Indonesia.
Di Makassar, mereka berdiam di pesisir pelabuhan Makassar. Merekalah yang membuka kawasan tersebut yang saat itu masih hutan. Namun, itu bukanlah awal dari lahirnya Pecinan. Kawasan itu sendiri muncul karena kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda saat menguasai daerah itu. Pemerintah Belanda yang dekat dengan warga Tionghoa membagi empat wilayah kota Makassar saat itu. Di Wilayah Utara, ditempatkan warga Cina, Melayu dan Arab, sedang warga pribumi di bagian Selatan dan dan pinggiran utara kota. Orang-orang Belanda dan Eropa lainnya tinggal di tengah kota. Sebagian dari warga Cina memang bukan lagi Cina “totok”. Mereka sudah jadi warga keturunan melalui perkawinan campur dengan warga pribumi. Namun, jumlahnya belum terlalu besar karena adanya perbedaan yang cukup signifikan di antara mereka, terutama masalah agama.
(Sumber: REPUBLIKA, Rabu, 19 Maret 2003 hlm. 12)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s