Sasaran tulisan ilmiah populer

Sasaran tulisan ilmiah populer
Oleh Slamet Soeseno
Di antara segi-segi menarik yang mencuat dari diskusi ”Dorongan minat terhadap bacaan ilmiah populer” penyelenggaraan majalah Intisari tanggal 29 September 1983 yang lalu, ada dua hal yang menarik. Yaitu sasaran yang akan ditembak oleh penulisan nonfiksi dan bentuk ”peluru kendali” yang akan ditembakkan.
Sasaran yang berminat membaca tulisan nonfiksi ternyata terdiri dari tiga golongan. Para remaja yang sudah duduk di bangku SLTA dan mahasiswa tingkat permulaan sampai dengan serjana muda, dan kaum cerdik cendekia yang sudah berumur, banyak makan garam.
Macam apa?
Anak SMP dan SMA kelas satu, meskipun bukan anak-anak lagi, masih suka membaca dongeng yang indah cerita petualangan yang mendebarkan, kepahlawanan yang membanggakan dan sejarah yang merangsang keinginan tahu. Mereka tidak berminat membaca tulisan sains dan teknologi, meskipun ini sudah ditulis secara populer. Sebenarnya juga percuma, kita menulis bacaan semacam ini bagi mereka.
Walaupun kadang-kadang ada bacaan nonfiksi bagi mereka, buku tentang pesawat tempur misalnya atau artikel majalah tentang kapal perang nuklir, namun yang menarik perhatian mereka bukan uraian bentuk dari ciri pesawat hasil teknologi mutakhir itu, melainkan kejadian yang berkaitan dengan pesawat itu.
Bacaan nonfiksi tentang binatang yang berhasil memikat mereka juga bukan uraian tentng jeroan sapi, atau warna bulu kucing yang njebook, tapi kisah kehidupan seekor binatang yang dalam petualangannya berjumpa dengan pelbagai binatang lain yang hendak diceritakan sifat dan cirinya secara zoologis.
Atau kalau dibicarakan itu menyangkut keterampilan beternak lebah misalnya, yang menarik ialah kisah seorang tokoh manusia seperti petani teladan, guru inpres, atau dokter gigi yang tentara, yang pada suatu hari yang berternak lebah. Walaupun yang diutarakan itu sebagian besar tehnik keterampilan berternak, namun ada tokoh yang merupakan semacam benang berita yang terbentang mulai dari permulaan sampai akhir cerita.
Lebih nyerempet mengenai sasaran lagi, kalau kita menulis bacaan nonfiksi bagi para remaja siswa SLTA kelas dua dan tiga, yang memang ditugasi oleh guru mereka untuk menyusun karya tulis nonfiksi. Merekalah yang mulai memegang buku keilmuan, seperti buku seri Pustaka Alam, Khazanah pengetahuan bagi anak-anak, atau seri terjemahaan Ledy Bird Books.
Mereka pula yang membaca artikel tentang sains dan teknologi dalam majalah dan koran. Beberapa di antara malah ada yang menonjol jiwa risetnya. Sampai senang mengikuti lomba mengikuti karya ilmiah, baik sebagai peserta aktif, maupun sebagai penonton.
Sebaiknya mereka kita banjiri dengan bacaan nonfiksi, jangan sampai minat baca mereka yang sudah tergugah kemudian pudar kembali karena kekurangan ( rebutan ) bahan. Atau bahan bacaan yang ada berupa bahan ”asal-asalan”. Bagaimana bentuk bacaan yang selain bermutu juga menarik untuk dibaca, agar digambarkan di belakang nanti. Hanya perlu dicatat, kebanyakan dari kaum remaja ini masih menyukai cerita pendek, novel, dan roman cinta, seks dan kriminil. Ini bukan sesuatu yang perlu dibayangkan, tapi malah harus disyukuri, karena dengan menyukai cerita fiksi, mereka juga berkenalan dengan cara menulis ”cerita ” yang bagus.
Supaya bacaan nonfiksi bagi mereka bisa bersaing dengan bacaan fiksi, terpaksa ia diolah sama seperti bacaan anak, hanya bahan ceritanya yang berbeda bagi remaja ini bukan petualangan yang menarik, tapi juga tingkah laku yang berhubungan dengan cinta dengan seks. Dalam contoh cerita kehidupan binatang di muka, jadi tingkah laku bagaimana binatang bercumbuan, berkelahi rebutan pacar, teknik penyusun sarang mahligai perkawinan, pembagian tugas mengeram dan menjaga telur, membesarkan anak dengan giliran jaga.
Bahan cerita yang menarik ini hanya mungkin ditulis secara menarik, kalau penulisannya dulu memang sudah pernah berkenalan dan menghayati cara mengarang cerita fiksi, yang melukiskan kejadian dengan kata dan kalimat bagus secara jelas, sampai pembacaanya mendapat gambaran jernih.
Yang ketemu nalar
Sasaran yang lebih jitu (Bagi penulisan nonfiksi) sebenarnya ialah seorang dewasa, baik yang sudah bekerja setelah jebol SLTA, maupun yang duduk di perguruan tinggi sebagai mahasiswa. Soalnya, mereka sudah mulai mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog langsung dari penulis ke pembaca. Tidak perlu lewat kisah seorang tokoh cerita lagi.
Walaupun sebagian dari mereka masih juga membaca fiksi (sekarang meningkat ke cerita detektif atau misteri, yang pada hakikatnya juga cerita petualangan, namun diolah lebih cerdik dengan bumbu masalah yang merupakan teka-teki), daripada membaca tulisan nonfiksi yang bersifat teknis dan ilmiah dan populer, namun itu masih lebih baik daripada kalau mereka mencari bacaan erotik, karena kita kurang cukup menyediakan cerita detektif dan nonfiksi.
Sasaran ketiga ialah orangtua, yang kebanyakan menyukai tulisan mistik, filsafat, keagamaan, kebatinan, bahasan teknis, dan esei ilmiah. Merekapun jelas mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog langsung antara penulis dan pembaca. Bahkan mereka menuntut pembahasan lebih mendalam, disertai argumentasi ilmiah yang” ketemu nalar”.
Mereka terdiri dari para sarjana, berbabagai disiplin ilmu, seperti insinyur pertanian misalnya, yang senang membaca artikel tentang elektronik. Dokter syaraf yang senang membaca tulisan tentang anggrek. Atau sarjana hukum yang gemar membaca flora dan fauna. Juga orang tua yang menjadi intelektual tanpa melalui jalur perguruan tinggi, terutama kaum ibu rumah tangga dan wanita karir, termasuk kelompok sasaran ini. Mereka senantiasa menambah pengetahuan dan tingkat kecendekiaannya melalui bacaan nonfiksi, tetapi mereka tidak puas dengan tulisan sederhana yang diolah untuk ”konsumsi”remaja dan anak-anak. Mereka meminta tulisan ilmiah populer.
Sudah tentu, di sana- sini, ada golongan pembaca yang ngancik ke wilayah golongan pemabaca lain, misalnya anak cerdas cermat yang sudah senang membaca bacaan remaja, karena lebih cepat ”matang”daripada anak rata-rata sebaya mereka. Begitu pula, kadang-kadang juga ada remaja yang sudah senang membaca cerita detektif orang dewasa. Atau yang diam-diam yang sudah membaca tulisan erotik.
Tapi sebaliknya ada juga kaum remaja kolot yang masih saja suka membaca cerita petualangan paman Gober dan Donal Bebek, yang sebenarnya kegemaran anak-anak.
Dalam praktek jadi tidak ada batas nyata yang memisahkan ketiga golongan itu secara tegas. Namun daripada kita menembak ngaur, masih lebih baik mengenali sasaran berupa ketiga golongan pembaca itu, beserta kegemaran masing-masing.
Yang merangsang dan menggugah
Karena tiap sasaran itu mempunyai selera yang berbeda-beda, maka penyusunan artikel bagi tiap golongan pembaca itu pun jelas harus berbeda. Bacaan nonfiksi untuk remaja tidak mungkin dibuat sama dengan artikel ilmiah populer untuk sarjana lulusan Cornell atau ITB. Dan bacaan untuk ibu rumah tangga lulusan SKKA tidak mungkin dibuat sama dengan bacaan untuk para pejabat lulusan Lembaga Administrasi Negara.
Itulah sebabnya, bentuk bacaan nonfiksi yang kita jumpai di masyarakat baca-membaca Indonesia pada garis besarnya juga ada tiga. Pertama, bentuk tulisan deskriptif, yang membeberkan sesuatu pengetahuan atau penemuan mutakhir di bidang ke ilmuan tertentu sebagai kumpulan fakta saja, sebagaimana apa adanya (misalnya dalam majalah fashion, masak memasak, atau hias menghias), tanpa banyak meributkan soal bagaimana riwayat (latar belakang) terbentuk hal atau jalannya proses penemuan baru yang dilukiskan itu.
Misalnya uraian tentang berbgai jenis cactus atau untuk indoor garden. Namanya, terbentuknya, warnanya, dan ciri keistimewaan lainnya yang menarik, disertai gambar bewarna yang bagus. Bagi golongan pembaca remaja (SMA kelas dua dan tiga ), bacaan deskriptif ini sudah cukup wah, karena pengetahuan mereka memang sudah lebih meningkat dengan membaca tulisan yang memang lebih mendalam(sedikit) itu, daripada tulisan dalam buku pelajaran ilmu tumbuh-tumbuhan yang mereka kenal di sekolah.
Bacaan deskriptif (saja) ini bisa kita jumpai dalam beberapa harian dan majalah ibukota tertentu, yang mempunyai rubrik nonfiksi, keterampilan, atau ”ilmu dan teknologi” untuk menambah daya tarik, artikel itu sering disajikan dengan menggunakan tokoh terkemuka sebagai benang cerita, agar tulisan lebih bersifat human interest. Namun sebagian besar masih berupa tulisan berisi kumpulan fakta, yang tidak merangsang keinginan tahu dan menggugah proses pemikiran pada pembaca. Tulisan itu (berikut ilustrasinya berupa foto berwarna yang bagus-bagus) bisa dinikamati sambil tiduran saja.
Kedua, bentuk bacaan deskriptif yang betul-betul merangsang keinginan tahu. Uraian fakta yang disajikan selalu disertai penjelasan mengapa (sampai begitu) dan bagaimana (duduknya perkara). Sering pula disertai sejarah (proses) pembentukan atau riwayat penemuaannya.Misalnya tulisan mengenai ikan terbang. Setelah dilukiskan bentuk dan ciri morfologinya secara mendalam, diuraikan lebih lanjut bagaimana ikan itu berevolusi dari bentuk normal seperti ikan biasa yang lain sampai sirip dadanya berkembang dan bertugas sebagai sayap. Lalu diungkapkan bagaimana cara ikan itu terbang, lengkap dengan bukti pengamatan kemampuan ikan itu menempuh jarak sekian meter perdetik. Siapa yang mengukur? Dikisahkan kemudian pengalaman seorang peneliti yang telah mengadakan pengukuran itu. Lalu mengapa ikan itu terbang? Karena iseng? Atau karena dibuat musuh?
Artikel yang merangsang keinginan tahu semacam ini kita jumpai di harian Kompas dan Sinar Harapan; pengembangan pertanian Trubus, dan majalah psikologi Anda.
Walaupun kadang-kadang mereka menyajikan juga artikel deskriptif saja, namun karena pembaca sasaran mereka lebih banyak yang tergolong pembaca dewasa, maka sebagian besar artikel yang mereka muat juga berbentuk artikel ”tingkat menengah” ini. Dari luar negeri masuk pula ke Indonesia secara teratur majalah- majalah ilmiah populer kelompok ini, seperti reader’s Digest, kosmos national geographic magazine.
Ketiga, bentuk deskriptif yang selain merangsang keinginan tahu juga menggugah proses pemikiran. Apa yang disajikan selalu disertai dengan alasan mengapa dan bagaimana duduknya perkara, diselipi dengan masalah yang berkaitan, berikut beberapa alternatif pemecahan masalah, (bagaimana jalan keluarnya), yang perlu direnungkan.

*Slamet Soeseno adalah pensiunan pegawai Ditjen Perikanan dan sekarang staf redaksi majalah”Intisari”di samping Pemred majalah ”Trubus”.
(Sumber: Kompas, 16 -11- 1982 hlm. IV – VI).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s