Menulis itu Sulit

Menulis itu Sulit
Oleh Budi Darma
HARIAN Kompas 13 September 1983 menurunkan berita mengenai penulisan buku di UGM. Sebagai kelanjutan berita tersebut, pada tanggal 15 September 1983 harian yang sama menurunkan hasil wawancaranya dengan Direktur Gadjah Mada University Press. Hakekat diskusi dan wawancara tersebut sama, yaitu warga perguruan tinggi tidak mempunyai kebiasaan menulis; padahal orang mengharap warga perguruan tinggi sangup mengeluarkan gagasan-gagasan yang cemerlang dalam bentuk tulisan.
Ada dua hal yang dapat kita catat sehubungan dengan diskusi dan wawancara tersebut. Pertama, sinyalemen yang dilanacarkan dari Unversitas Gadjah Mada pada hakikatnya bukan mengenai keadaan di Universitas bersangkutan saja. Tetapi mengenai keadaan di semua perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya. Kedua, apa yang terjadi dalam perguruan tinggi sebenarnya merupakan bias apa yang terjadi di luar perguruan tinggi sendiri. Kesulitan untuk menulis bukan semata-mata yang dihadapi oleh warga perguruan tinggi, tapi juga kesulitan yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
Berdasarkan dua cacatan tersebut, kita tidak perlu mengulang-ngulang apa yang sudah sering dikeluhkan mengenai kesulitan untuk menulis. Keluhan bahwa warga perguruan tinggi malas menulis sudah menjadi klise, meskipun kenyataan bahwa warga perguruan tinggi malas menulis tidak pernah menjadi klise. Dan keluhan yang sudah merupakan klise tidak perlu kita bicarakan lagi. Pekerjaan lain masih ada, yaitu melihat sebab-musabab mengapa menulis itu sulit. Dan kesulitan menulis, sekali lagi, bukan hak patent warga perguruan tinggi.

 
Ketajaman berpikir
Kesulitan untuk menulis terutama bersumber pada kurangnya kemampuan seseorang untuk berpikir kritis. Seseorang yang tidak dapat berpikir kritis dengan sendirinya tidak dapat mengedentifikasi dan memilah-milah persoalan dengan baik. Dan bila seseorang tidak mempunyai kemampuan melihat persoalan dengan betul, pikirannya juga tidak mempunyai kelengkapan daya analisa yang baik. Persepsi orang semacam ini dengan sendiriya kabur. Dan kekaburan persepsi merupakan sumber kelemahan seseorang untuk menemukan persoalan yang dapat ditulisnya. Ketidakmampuan menemukan persoalan menyebabkan seseorang tidak mungkin menulis mengenai persoalan. Milik orang semacam ini terbatas pada kemampuan menceritakan kembali pengalamannya atau apa yang pernah dilihatnya, didengarnya dan dipelajarinya.
Kurang beribawanya buku teks mengenai Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri dapat terjadi karena penulisannya hanya mampu mendongeng mengenai masalah yang sudah banyak diketahui oleh umum. Melalui buku-buku teks, sebetulnya pembaca menginginkan terbuka pikirannya mengenai persoalan dan bukannya ingin didongengi. Karena itulah, buku mengenai Indonesia yang ditulis oleh orang luar umumnya lebih mudah dicari dibanding dengan yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri.
Sudah dengan sendirinya bangsa Indonesia kaya akan bahan mengenai Indonesia sendiri. Tapi apakah kegunaan bahan kalau kemampuan untuk mengerti bahan itu sendiri tumpul? Dan ketumpulan pengetahuan mengenai bahan dengan sendirinya mengebiri kemampuan untuk menulis mengenai bahan tersebut.

Organisasi pikiran
Kekurangan berikut terletak pada kemampuan mengorganisasi pikiran dan disiplin untuk mengorganisasi pikiran. Sebagai misal, kita sering melihat orang-orang yang pandai berbicara, tetapi bodoh dalam menulis. Dan memang kepandaian berbicara tidak selamanya identik dengan kecerdasan berpikir.
Kelemahan dan kekurangan disiplin mengorganisasi pikiran akan terasa bila seseorang harus mempertangungjawabkan ketangguhan berpikir dalam bentuk tulisan. Dari pertangungjawaban tertulis itulah, kemampuan seseorang yang sebenarnya dapat dikaji. Dalam buku pelajaran bahasa Inggris 88 passages to Develop Reading comprehension: reader halaman 9 (New York: Collage Skills Center ,1980), tim penulis buku tersebut secara implisit juga menyatakan, kemampuan berpikir yang benar justru dimiliki oleh orang-orang yang diam tetapi mendalam kemampuan berpikirnya.
Tengok saja apa yang dikatakan oleh Ilen Soerianegara dalam sebuah diskusi di Tawangmangu yang diselenggarakan oleh Konsorsium Antarbidang Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun lalu. Pada waktu itu Ilen menjadi wakil Gubernur Lemhanas, sebelum akhirnya menjadi Dutabesar Republik Indonesia di Aljazair. Sebagai orang Angkatan 45 sendiri, Ilen mengakui bahwa kekurangan Angkatan 45 pada umumnya terletak pada kekurangmampuan mereka menuliskan apa yang pernah mereka perbuat. Jasa Angkatan 45 memang banyak. Tindakan, perjuangan, dan pemikiran mereka sangat berjasa dalam membangun kemerdekaan Indonesia. Tapi karena rata-rata mereka tidak dapat mempertangungjawabkan apa yang telah mereka perbuat dalam bantuk tulisan, semangat mereka sulit dinilai dan sulit diwariskan.

Kemampuan berbahasa
Selama ini, banyaknya pembicara mengenai kemampuan berbahasa ditujukan untuk lebih menyemarakkan penggunaan bahasa yang yang baku. Dengan penggunaan bahasa yang baku memang perlu. Selain itu, banyak pembicaraan mengenai bahasa yang tidak berkaitan dengan kemampuan berbahasa.
Pembicaraan yang tidak menyangkut kemampuan berbahasa sering dilakukan oleh para ahli bahasa, seperti yang dapat kita saksikan antara lain dalam jurnal MLI (Masyarakat Linguistik Indonesia). Sebagai misalnya, kita dapat menyaksikan pembicaraan mengenai gramatikal fungsional, perantoniman dalam kosa-kata, penelitian mengenai kata kerja transitif, dan sebagainya. Pembicaraan semacam ini memang perlu, terutama untuk pembinaan ilmu bahasa sendiri, akan tetapi sebetulnya tidak berkaitan dengan praktek pengguna bahasa.
Tanpa menyangkal pentingnya kedua macam pembicaraan di atas, sampai sekarang kita melihat bahwa belum banyak orang yang mengungkapkan bahwa sebetulnya kekurangmampuan mempergunakan bahasa terletak pada kekurangmampuan mempergunakan logika. Dan kekurangmampuan mempergunakan logika dapat identik dengan ketumpulan logika. Orang yang berpikirannya ruwet tidak mungkin mempergunakan bahasa dengan baik, demikian juga orang yang logikanya tumpul.
Orang yang dapat mempergunakan bahasa dengan baik, juga bukan selamanya orang yang mempunyai logika yang baik. Tulisan yang kosong dan tidak mencerminkan pikiran yang cemerlang mungkin saja ditulis oleh seseorang yang dapat mempergunakan bahasanya belum tentu benar. Meskipun demikian, dalam tulisan yang beribawa dan karena itu sekaligus mencerminkan otak penulisnya yang cemerlang, dapat dijamin bahasanya berfungsi dengan baik, lincah, dan tidak kaku.

 
Teori
Banyak orang menduga, mempergunakan teori-teori sebagai landasan untuk mengembangkan persoalan dalam tulisan merupakan pekerjaan yang gagah. Karena itulah banyak tulisan yang katanya ilmiah dihiasi dengan sekian banyak teori dan konsep. Dan tentu saja para penulisnya ingin dianggap sebagai ilmuan terkemuka. Untuk lebih meningkatkan wibawa penulisannya, banyak penulis yang ingin dianggap gagah ini mencantumkan sekian banyak gambar panah bersimpang siur, gambar-gambar bulatan, gambar kotak-kotak, dan tanda-tanda lain yang sebetulnya malah mengungkapkan kebodohan serta keruwetan pikiran mereka.
Wibawa sebuah tulisan tidak terletak pada beberapa banyak teori serta gambar ruwet yang dipertontonkan oleh penulisnya. Sebuah tulisan yang beribawa dapat berangkat dari common sense, dan dari common sense itulah tulisan yang beribawa justru dapat membuahkan teori. Memang pekerjaan penulis yang baik bukan mengubur dirinya ke dalam sekian banyak teori, tetapi justru membersitkan teori.
Sebuah tulisan dapat beribawa karena kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Dan kebenaran dapat diungkapkan karena otak penulisnya mampu berpikir kreatif dan mampu mengeluarkan gagasan-gagasan orisinal. Otak semacam ini banyak dimilki oleh mereka yang mempunyai kecerdasan untuk mengolah teori yang pernah dipelajarinya menjadicommon sense.

 
Ketakutan
Ketakutan tidak dianggap ilmiah sering identik dengan kebodohan dalam menilai tulisan ilmiah secara keliru. Mereka yang takut tidak dianggap ilmiah dan mereka yang bodoh menilai ini akhirnya menyuruh diri mereka terbelenggu oleh kaidah-kaidah yang menurut mereka ilmiah.
Menurut mereka, sebuah tulisan seharusnya mempunyai bab pendahuluan bab masalah yang akan dibahas, bab tujuan penulisan, bab metode yang akan dipergunakan dalam tulisan tersebut, bab landasan teori, bab pembahasan, dan bab kesimpulan serta saran. Tulisan yang tidak memuat bab-bab ini menurut mereka hanyalah sampah.
Karena itulah, banyak orang yang justru mematikan kreativitas mereka dengan jalan mengadakan bab-bab tersebut dapat terintegrasi ke dalam tulisan secara implisit, dan karena itu tidak selamanya harus harafiah. Juga karena dorongan untuk mengikuti bab-bab tersebut, penulis yang tidak bijaksana terpaksa mengangkut sekian banyak teori ke dalam bab landasan teori, yang kalau perlu tidak relevan sekali pun. Dan orang-orang semacam ini terpaksa mengada-ngadakan saran, meskipun pikiran cemerlang pasti akan terpakai meskipun tanpa saran dari siapa pun untuk memakainya.
*Dr Budi Darma adalah staf pengajar dan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Surabaya, dikenal juga sebagai penulis cerpen.

(Sumber: Kompas, 29 September 1993, hlm. IV).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s