Mengarang itu Gampang

Mengarang itu Gampang
Oleh: Arswendo Atmowiloto
SETIAP waktu kita bisa di antara buku, kalau mau. Baik di tempat pemeran, di toko, di persawaan komik, di perpustakaan ataupun di rumah. Selalu disadarkan, bahwa berteman dengan buku membuat kita betah. Dan selalu juga terbesit: kayaknya saya bisa menulis seperti yang saya baca ini. Apa salahnya dicoba?
Di antara buku, selalu juga diingatkan, bahwa ada buku yang masih selalu menarik untuk jangka lama. Ada yang segera dilupakan. Ada yang ingin diceritakan berulang.
Jangan bimbang. Jangan berpikir jauh yang membikin jatuh semangat.
MENGARANG itu gampang. Asal bisa baca dan bisa menulis, jadilah. Asal pernah bercerita kepada orang lain, dengan bahasa isyarat, lewat surat atau dengan mengobrol, itu berarti punya pengalaman.
Toh semua karangan fiksi selalu mempunyai unsur sama. Ada tokoh, ada lokasi, ada waktu. Tinggal mempelari sifat masing-masing unsur, tinggal merangkaikan, menuliskan sehingga selesai. Apa susahnya?
Sambil jalan, kita belajar tentang memilih bahasa yang tepat, menguasai pengetikan, cara mengirimkan karangan, cara mengirim kritik, bagaimana mengatur honor untuk beli bakso dan bali buku. Memang cuma sebegitu.
Yang gampang tak perlu dipersulit. Karena yang sulit masih ada juga:meyakinkan diri bahwa kita punyak bakat. Padalah bakat itu sebenarnya cuma minat yang tiada habis-habisnya, tak bisa temat.
KENAPA mengarang? Karena jarang yang menyadari bisa menjadi lapangan kerja. Ini terbukti dalam tanya-jawab dengan anak-anak, yang biasanya menjawab, kalau sudah besar cita-citanya adalah menjadi dokter, pramugari, penyanyi, ABRI, Hansip atau ,,,badut di Ancol. Padahal banyak pengarang yang hidupnya lebih baik. Setidaknya dibandingkan tidak menyadari kemampuan ini dan menjadi penganggur.
Karena saya percaya di antara kita ini banyak yang berbakat. Setidaknya lebih mudah menemukan bakat bakat kesenian di antara manusia Indonesia daripada jenius seperti Pak Habibie, Pak Sutami, Pak Sudjatmoko, Pak Sumitro Joyohadikusumo.
Karena mengarang bisa terus dilakukan tanpa menjadi beban bagi pekerjaan yang sudah dilakukan. Sebagai wartawan, guru, menteri, kiyai, pastor, dokter, karyawan atau jabatan lain.
Karena mengarang bisa dilakukan tanpa menjadi penghalang bagi pekerjaan yang sudah dilakukan. Sebagai wartawan, menteri, pastor,kiyai, dokter,jenderal, karyawan atau jabatan lain.
Karena dengan mengarang bisa menulis buku, bisa menjadi wartawan, bisa menulis buku, bisa menjadi wartawan, bisa menulis lirk lagu, membuat skenario, sandiwara, teks iklan. Setidaknya menulis buku harian dan surat rayuan pula lebih lancar.
Karena mengarang mendasari diri sikap kesenimanan yang mengutamakan kreativitas. Dan kreativitas hanya muncul pada situasi, di mana ada kejujuran, keterbukaan atau kebebasan.
Karena mengarang mengajarkan pada diri sendiri untuk melatih menyampaikan gagasan yang masuk nalar, sekaligus mengajarkan mendengarkan orang lain.
Karena semangat dan sikap inilah bisa membangkit kepercayaan pada diri sendiri. Saya pernah menjajal dengan mengumpulkan remaja lulusan SMP di tahun 1971 di Sasonomulyo, Solo. Ada yang kemudian menjadi pengarang dalam artian tulisannya berupa cerita bersambung yang dimuat d Kompas, dibukukan dan kini punya pekerjaan tetap di perusahaan iklan. Ada yang terus menulis sambil menjadi guru SD. Ada yang menjadi pembina kesenian di kotanya. Di Jakarta, saya mencoba dua kali. Di perusahaan Gramedia tahun 1980, dengan peserta para karyawan ”papan bawah” lulusan SD. Ada yang kemudian bisa menjadi agen yang sukses. Yang kedua di Gelanggang Remaja Jakarta Barat. Hasilnya? Salah seorang yang terus menulis sampai sekarang ini, membuat saya ”iri” karena tulisannya sangat menjanjikan.
Sejauh yang saya tahu, mereka yang ikut Bengkel Menulis ini tadinya belum pernah berhasil mempublikasikan karyanya. Minatnya yang besar yang mendorong mengikuti ”kursus” semacam ini.
Saya percaya, yang begini ini banyak sekali jumlahnya. Pengalaman sebagai redaktur –atau semua redaktur sama saja – menunjukkan, bahwa banyak bakat tertutup yang sebenarnya dengan pengenalan diri serta materi,bisa jadi.
BAHWA mereka yang telah mapan dengan pekerjaan dan panggilan hidupnya pun menjadi lebih lancar mengemukakan gagasannya, lebih terbuka mendengarkan kritik, dengan menulis. Kita bisa mengambil contoh sembarangan dari para penulis besar ini, mulai dari Romo Magunwijaya, Pak Abdurrahman Wahid, Th, Sumarthana, Pak Umar Kayam. Atau memperkokoh profesinya seperti Pak Goenawan Mohamad, Pak Putu Wijaya, Pak Danarto, Pak Supardi Joko Damono, Pak Budi Darma, Pak Suparto Brata. Atau kalau mereka bergerak di bidang yang sejenis lebih mengerti dunia kepengarangan. Pak Ajip Rosidi, Pak Moch. Radjien, Pak Jakob Oetama (pernah menulis serial cerita detektif), Pak Susilo Murti, menjadi lebih-baik di mata rekan pengarang , setidaknya dalam soal honor –karena sikap kepengarangannya .
Banyak sekali bukti lain untuk menambah yakin.
Bahwa mengarang tidak untuk mengabaikan pilihan hidup yang ada. Bahwa kemampuan itu bisa menjadi saling mengisi.
MENGARANG ibarat berdoa, ia tak mengehentikan kerja, malah menyiapkan batin, menambah kekuatan, atau malah kekuatan itu sendiri.
Ia mengajarkan kejujuran dan keterbukaan dalam menyampaikan penglaman hidup , atau malah ia pengalaman hidup itu sendiri.
Seperti juga doa, kepengarangan bisa langgeng. Terutama karena bukan jenis pekerjaan yang bisa ketinggalan zaman. Seorang penarik becak, ketika kemajuan semakin hebat, bisa disingkirkan. Seorang pejabat tinggi, masa jabatannya yang diperpanjang pun mengenal titik henti. Tapi mengarang bisa teruuuus.
Terutama karena sebenarnya begitu banyak yang bisa ditulis. Pengalaman hidup kita masing ini begini menakjubkan- dalam soal cinta saja setiap orang bisa bercerita keunikan masing-masing, dalam soal lingkungan pekerjan bisa mengundang dan lain sebagainya. Sumber yang tak pernah menjadi kering. Selalu ada yang bisa diceritakan.
Terutama karena sebenarnya banyak sekali yang seharusnya bisa dituliskan, dengan baik. Masalah pertanian, industri, yang masih kelihatan kering. Bidang ipoleksosbud hankamrata bisa di tuliskan semuanya. Dan selama ini terasa masih kurang.
Terutama karena tuntunan adanya buku-buku akan menjadi kebutuhan. Untuk keperluan perpustakaan, untuk keperluan diri sendiri. Buku wajib. Banyak sekali, dan akan makin bertambah banyak yang harus membaca. Penggalakan minat baca sekarang ini akan melipatgandakan kebutuhan di masa mendatang.
KALAU ini terasa berlebihan, karena kita kurang menyadari saja.
Kadang saya berpikir, andaikata sikap kesenimanan diajarkan, ditularkan, akan banyak artinya. Kalau pernah tersentuh kepengarangan, barangkali nalar kita lebih bekerja, sehingga lebih kecil kemungkinan kita mendengarkan keputusan yang ganjil, surat perintah yang tak masuk akal, pidato dan penerangan yang membosankan, omongan yang belepotan tapi menentukan.
Coba saja kalau tak percaya.
MENYADARI, melatih, mencari, menemukan, melatih, melatih, melatih kepercayaan diri. Kekuatan sendiri, yang tadinya terabaikan.
Mengarang adalah salah satu jalan.
Akan banyak sekali jalan yang lain, yang bisa digali. Mudah-mudahan ini pendekatan begini bisa menggugah. Bisa mengubah ke arah yang lebih baik.
Cobalah beramai-ramai.
Tak ada salahnya. Setidaknya kita terbiasa mengutarakan gagasan secara jujur dan terbuka, dan mendengarkan gagasan orang lain dengan jujur dan terbuka. Begitu sederhana.

*Catatan pengantar pada ceramah di Pameran Buku Nasional I Jawa Timur,di gedung Dewan Kesenian Surabaya,19 Januari 1985.
(Sumber: Kompas, Senin, 21 Januari 1985 hlm. V.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s