PECINAN DI MAKASSAR

Catatan: Hari ini Senin, 8 Februari 2016 adalah Hari Libur Nasional, yaitu Hari Raya Imlek. Menurut penjelasan Budayawan Jaya Suprana di MetroTV tadi malam; Libur Nasional HARI RAYA IMLEK adalah anugerah bagi WNI asal Tiongkok semasa Presiden Gusdur. “Tanpa Gusdur mungkin tak ada anugerah itu”, katanya.

 

PECINAN DI MAKASSAR
Warga Tionghoa berharap bisa hidup lebih tenang dan lepas dari ketertutupan
Memasuki kawasan Jalan Ahmad Yani, Makassar, sebuah gapura dengan arsitektur khas berdiri di sebelah kiri jalan, tepatnya pintu masuk Jalan Jampea. Di gapura itu terdapat tulisan dengan huruf kanji dan latin ‘China Town’ atau Kota Cina. Kawasan ini memang merupakan tempat bermukim para warga keturunan Cina atau Tionghoa di Makassar.
Kawasan ini sebenarnya sudah lama dikenal sebagai kawasan permukiman bagi warga Cina di Makassar. Masyarakat di kota itu menyebut Pecinan seiring kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China sebagai hari libur nasional, kawasan itu semakin ramai dengan hadirnya gapura atau gerbang tersebut. Gerbang itu diresmikan Wali Kota Makassar HB Amiruddin Maula, saat malam perayaan Cap Goh Meh, 15 Februari, 2003 lalu.
Bagi warna Cina di Makassar, kehadiran gerbang itu disambut suka cita, bukan hanya karena arsitekturnya yang mencerminkan ornamen khas negara Cina, tetpi gapura itu juga dianggap sebagai simbol pengakuan dan penerimaan pemerintah maupun masyarakat Makassar terhadap warga Cina. Gerbang itu juga dinilai sebagai pertanda dimulainya babak baru dalam kehidupan warga Tionghoa dan masyarakat lainnya di Makassar.
Kegembiraan itu juga dirasakan oleh warga Tionghoa lainnya di Makassar. Hal ini diakui oleh Robert Lukas, seorang penjual barang kelontongan di Jalan Jampea, Makassar, dan Tan Rosiadi Tandean, pengusaha warung kopi di Jalan Sangir, Makassar. “Kita memang berharap bisa hidup tenang dan damai lagi bersama warga pribumi di sini, setelah sekira 30 tahun lebih kami hidup dalam ketertutupan,”kata Robert.
Bagi masyarakat Cina di sana, pembangunan gerbang itu dimaksudkan untuk menjadikan daerah itu sebagai salah satu kawasan wisata yang nantinya diharapkan akan mendatangkan nilai tambah bagi ibu kota Sulawesi Selatan itu.
Sayangnya, di kawasan itu sendiri hampir tidak bisa lagi ditemukan ornamen yang mencirikan kebudaaan Cina. Rumah-rumah mereka telah direnovasi mengikuti arsitektur modern. Kalaupun ada yang tertinggal, ia lebih diwarnai arsitektur Belanda. Satu-satunya yang masih menggambarkan kebudayaan Cina adalah empat buah kelenteng yang berada di Jalan Sulawesi dan Jalan Lombok, serta tempat sembahyang, dan bau dupa.
“Kita memang baru mulai. Bangunan-bangunan yang kini telah diubah bentuknya, kita imbau kepada pemiliknya agar dikembalikan kembali ke bentuk arsitektur Cina yang asli. Kalaupun dibangun dengan arsitektur modern, ia tetap memadukan dengan arsitektur Cina. Jadi, ke depan kawasan ini nantinya akan menawarkan nuansa negeri Cina, dengan arsitektur rumah serta kebudayaan yang khas,” papar Amiruddin Maula menanggapi kondisi kawasan itu.
Selain gerbang di Jalan Jampea, dalam waktu dekat akan dibangun lagi empat gerbang serupa di Jalan Lombok dan Jalan Timor. Dipilihnya ketiga jalan tersebut karena kawasan itu hampir seluruhnya dihuni oleh warga Tionghoa. Gerbang itu digelari sebagai gerbang perdamaian dan persaudaraan.
Permukiman warga Tionghoa di Makassar, bukan hanya di tiga jalan itu, tetapi juga di beberapa jalan, diantaranya Jalan Sulawesi, Lombok, Sangir, dan Jalan Somba Opu, yang juga Pusat Perbelanjaan di Makassar. Areal yang masuk kawasan Pecinan itu meliputi tiga kelurahan di Kecamatan Wajo, masing-masing Kelurahan Ende, Melayu Baru, dan Pattunuang, yang berada di sekitar Kawasan Pelabuhan Soekarno Hatta dan Pantai Losari Makassar.
Hingga saat ini, warga Tionghoa yang bermukim di Makassar mecapai 23.000 jiwa. Umumnya mereka bergiat di sektor perdagangan atau bisnis, mulai dari usaha warung kopi, tukang gigi, tukang emas, penjual barang kelontongan, hingga bisnis barang-barang mewah, termasuk usaha hiburan malam.
Hingga saat ini, warga Tionghoa di Makassar diperkirakan 400 tahun silam atau pada abad XVI, bahkan ada yang memprediksi sejak abad VII. Namun, tidak ada catatan sejarah yang memastikan awal masuknya warga Tionghoa di daerah itu. Yang dijadikan patokan hanyalah Kelenteng Ibu Agung Bahari di Jalan Sulawesi, Makassar. Prasasti yang ada di kelenteng itu sudah berusia 287 tahun, tetapi prasasti itu sendri dibuat setalah kelenteng itu dibangun kedua kalinya sekitar 100 tahun sebelumnya. Patokan lainnya adalah warga Tionghoa kini merupakan generasi kedelapan pemukim di kota itu.
Kedatangan warga Tionghoa di Makassar berlangsung dalam beberapa gelombang. Umumnya mereka berasal dari Cina daratan. Mereka datang ke Makassar dengan alasan untuk berdagang dan bereksodus karena itu di Cina tengah berlangsung perang, sehingga warga yang merasa terancam keselamatannya dan kesulitan mencari sumber kehidupan melakukan migrasi. Salah satu negara tujuannya adalah Indonesia.
Di Makassar, mereka berdiam di pesisir pelabuhan Makassar. Merekalah yang membuka kawasan tersebut yang saat itu masih hutan. Namun, itu bukanlah awal dari lahirnya Pecinan. Kawasan itu sendiri muncul karena kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda saat menguasai daerah itu. Pemerintah Belanda yang dekat dengan warga Tionghoa membagi empat wilayah kota Makassar saat itu. Di Wilayah Utara, ditempatkan warga Cina, Melayu dan Arab, sedang warga pribumi di bagian Selatan dan dan pinggiran utara kota. Orang-orang Belanda dan Eropa lainnya tinggal di tengah kota. Sebagian dari warga Cina memang bukan lagi Cina “totok”. Mereka sudah jadi warga keturunan melalui perkawinan campur dengan warga pribumi. Namun, jumlahnya belum terlalu besar karena adanya perbedaan yang cukup signifikan di antara mereka, terutama masalah agama.
(Sumber: REPUBLIKA, Rabu, 19 Maret 2003 hlm. 12)

Iklan

Menulis itu Sulit

Menulis itu Sulit
Oleh Budi Darma
HARIAN Kompas 13 September 1983 menurunkan berita mengenai penulisan buku di UGM. Sebagai kelanjutan berita tersebut, pada tanggal 15 September 1983 harian yang sama menurunkan hasil wawancaranya dengan Direktur Gadjah Mada University Press. Hakekat diskusi dan wawancara tersebut sama, yaitu warga perguruan tinggi tidak mempunyai kebiasaan menulis; padahal orang mengharap warga perguruan tinggi sangup mengeluarkan gagasan-gagasan yang cemerlang dalam bentuk tulisan.
Ada dua hal yang dapat kita catat sehubungan dengan diskusi dan wawancara tersebut. Pertama, sinyalemen yang dilanacarkan dari Unversitas Gadjah Mada pada hakikatnya bukan mengenai keadaan di Universitas bersangkutan saja. Tetapi mengenai keadaan di semua perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya. Kedua, apa yang terjadi dalam perguruan tinggi sebenarnya merupakan bias apa yang terjadi di luar perguruan tinggi sendiri. Kesulitan untuk menulis bukan semata-mata yang dihadapi oleh warga perguruan tinggi, tapi juga kesulitan yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
Berdasarkan dua cacatan tersebut, kita tidak perlu mengulang-ngulang apa yang sudah sering dikeluhkan mengenai kesulitan untuk menulis. Keluhan bahwa warga perguruan tinggi malas menulis sudah menjadi klise, meskipun kenyataan bahwa warga perguruan tinggi malas menulis tidak pernah menjadi klise. Dan keluhan yang sudah merupakan klise tidak perlu kita bicarakan lagi. Pekerjaan lain masih ada, yaitu melihat sebab-musabab mengapa menulis itu sulit. Dan kesulitan menulis, sekali lagi, bukan hak patent warga perguruan tinggi.

 
Ketajaman berpikir
Kesulitan untuk menulis terutama bersumber pada kurangnya kemampuan seseorang untuk berpikir kritis. Seseorang yang tidak dapat berpikir kritis dengan sendirinya tidak dapat mengedentifikasi dan memilah-milah persoalan dengan baik. Dan bila seseorang tidak mempunyai kemampuan melihat persoalan dengan betul, pikirannya juga tidak mempunyai kelengkapan daya analisa yang baik. Persepsi orang semacam ini dengan sendiriya kabur. Dan kekaburan persepsi merupakan sumber kelemahan seseorang untuk menemukan persoalan yang dapat ditulisnya. Ketidakmampuan menemukan persoalan menyebabkan seseorang tidak mungkin menulis mengenai persoalan. Milik orang semacam ini terbatas pada kemampuan menceritakan kembali pengalamannya atau apa yang pernah dilihatnya, didengarnya dan dipelajarinya.
Kurang beribawanya buku teks mengenai Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri dapat terjadi karena penulisannya hanya mampu mendongeng mengenai masalah yang sudah banyak diketahui oleh umum. Melalui buku-buku teks, sebetulnya pembaca menginginkan terbuka pikirannya mengenai persoalan dan bukannya ingin didongengi. Karena itulah, buku mengenai Indonesia yang ditulis oleh orang luar umumnya lebih mudah dicari dibanding dengan yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri.
Sudah dengan sendirinya bangsa Indonesia kaya akan bahan mengenai Indonesia sendiri. Tapi apakah kegunaan bahan kalau kemampuan untuk mengerti bahan itu sendiri tumpul? Dan ketumpulan pengetahuan mengenai bahan dengan sendirinya mengebiri kemampuan untuk menulis mengenai bahan tersebut.

Organisasi pikiran
Kekurangan berikut terletak pada kemampuan mengorganisasi pikiran dan disiplin untuk mengorganisasi pikiran. Sebagai misal, kita sering melihat orang-orang yang pandai berbicara, tetapi bodoh dalam menulis. Dan memang kepandaian berbicara tidak selamanya identik dengan kecerdasan berpikir.
Kelemahan dan kekurangan disiplin mengorganisasi pikiran akan terasa bila seseorang harus mempertangungjawabkan ketangguhan berpikir dalam bentuk tulisan. Dari pertangungjawaban tertulis itulah, kemampuan seseorang yang sebenarnya dapat dikaji. Dalam buku pelajaran bahasa Inggris 88 passages to Develop Reading comprehension: reader halaman 9 (New York: Collage Skills Center ,1980), tim penulis buku tersebut secara implisit juga menyatakan, kemampuan berpikir yang benar justru dimiliki oleh orang-orang yang diam tetapi mendalam kemampuan berpikirnya.
Tengok saja apa yang dikatakan oleh Ilen Soerianegara dalam sebuah diskusi di Tawangmangu yang diselenggarakan oleh Konsorsium Antarbidang Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun lalu. Pada waktu itu Ilen menjadi wakil Gubernur Lemhanas, sebelum akhirnya menjadi Dutabesar Republik Indonesia di Aljazair. Sebagai orang Angkatan 45 sendiri, Ilen mengakui bahwa kekurangan Angkatan 45 pada umumnya terletak pada kekurangmampuan mereka menuliskan apa yang pernah mereka perbuat. Jasa Angkatan 45 memang banyak. Tindakan, perjuangan, dan pemikiran mereka sangat berjasa dalam membangun kemerdekaan Indonesia. Tapi karena rata-rata mereka tidak dapat mempertangungjawabkan apa yang telah mereka perbuat dalam bantuk tulisan, semangat mereka sulit dinilai dan sulit diwariskan.

Kemampuan berbahasa
Selama ini, banyaknya pembicara mengenai kemampuan berbahasa ditujukan untuk lebih menyemarakkan penggunaan bahasa yang yang baku. Dengan penggunaan bahasa yang baku memang perlu. Selain itu, banyak pembicaraan mengenai bahasa yang tidak berkaitan dengan kemampuan berbahasa.
Pembicaraan yang tidak menyangkut kemampuan berbahasa sering dilakukan oleh para ahli bahasa, seperti yang dapat kita saksikan antara lain dalam jurnal MLI (Masyarakat Linguistik Indonesia). Sebagai misalnya, kita dapat menyaksikan pembicaraan mengenai gramatikal fungsional, perantoniman dalam kosa-kata, penelitian mengenai kata kerja transitif, dan sebagainya. Pembicaraan semacam ini memang perlu, terutama untuk pembinaan ilmu bahasa sendiri, akan tetapi sebetulnya tidak berkaitan dengan praktek pengguna bahasa.
Tanpa menyangkal pentingnya kedua macam pembicaraan di atas, sampai sekarang kita melihat bahwa belum banyak orang yang mengungkapkan bahwa sebetulnya kekurangmampuan mempergunakan bahasa terletak pada kekurangmampuan mempergunakan logika. Dan kekurangmampuan mempergunakan logika dapat identik dengan ketumpulan logika. Orang yang berpikirannya ruwet tidak mungkin mempergunakan bahasa dengan baik, demikian juga orang yang logikanya tumpul.
Orang yang dapat mempergunakan bahasa dengan baik, juga bukan selamanya orang yang mempunyai logika yang baik. Tulisan yang kosong dan tidak mencerminkan pikiran yang cemerlang mungkin saja ditulis oleh seseorang yang dapat mempergunakan bahasanya belum tentu benar. Meskipun demikian, dalam tulisan yang beribawa dan karena itu sekaligus mencerminkan otak penulisnya yang cemerlang, dapat dijamin bahasanya berfungsi dengan baik, lincah, dan tidak kaku.

 
Teori
Banyak orang menduga, mempergunakan teori-teori sebagai landasan untuk mengembangkan persoalan dalam tulisan merupakan pekerjaan yang gagah. Karena itulah banyak tulisan yang katanya ilmiah dihiasi dengan sekian banyak teori dan konsep. Dan tentu saja para penulisnya ingin dianggap sebagai ilmuan terkemuka. Untuk lebih meningkatkan wibawa penulisannya, banyak penulis yang ingin dianggap gagah ini mencantumkan sekian banyak gambar panah bersimpang siur, gambar-gambar bulatan, gambar kotak-kotak, dan tanda-tanda lain yang sebetulnya malah mengungkapkan kebodohan serta keruwetan pikiran mereka.
Wibawa sebuah tulisan tidak terletak pada beberapa banyak teori serta gambar ruwet yang dipertontonkan oleh penulisnya. Sebuah tulisan yang beribawa dapat berangkat dari common sense, dan dari common sense itulah tulisan yang beribawa justru dapat membuahkan teori. Memang pekerjaan penulis yang baik bukan mengubur dirinya ke dalam sekian banyak teori, tetapi justru membersitkan teori.
Sebuah tulisan dapat beribawa karena kebenaran yang disampaikan oleh penulisnya. Dan kebenaran dapat diungkapkan karena otak penulisnya mampu berpikir kreatif dan mampu mengeluarkan gagasan-gagasan orisinal. Otak semacam ini banyak dimilki oleh mereka yang mempunyai kecerdasan untuk mengolah teori yang pernah dipelajarinya menjadicommon sense.

 
Ketakutan
Ketakutan tidak dianggap ilmiah sering identik dengan kebodohan dalam menilai tulisan ilmiah secara keliru. Mereka yang takut tidak dianggap ilmiah dan mereka yang bodoh menilai ini akhirnya menyuruh diri mereka terbelenggu oleh kaidah-kaidah yang menurut mereka ilmiah.
Menurut mereka, sebuah tulisan seharusnya mempunyai bab pendahuluan bab masalah yang akan dibahas, bab tujuan penulisan, bab metode yang akan dipergunakan dalam tulisan tersebut, bab landasan teori, bab pembahasan, dan bab kesimpulan serta saran. Tulisan yang tidak memuat bab-bab ini menurut mereka hanyalah sampah.
Karena itulah, banyak orang yang justru mematikan kreativitas mereka dengan jalan mengadakan bab-bab tersebut dapat terintegrasi ke dalam tulisan secara implisit, dan karena itu tidak selamanya harus harafiah. Juga karena dorongan untuk mengikuti bab-bab tersebut, penulis yang tidak bijaksana terpaksa mengangkut sekian banyak teori ke dalam bab landasan teori, yang kalau perlu tidak relevan sekali pun. Dan orang-orang semacam ini terpaksa mengada-ngadakan saran, meskipun pikiran cemerlang pasti akan terpakai meskipun tanpa saran dari siapa pun untuk memakainya.
*Dr Budi Darma adalah staf pengajar dan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Surabaya, dikenal juga sebagai penulis cerpen.

(Sumber: Kompas, 29 September 1993, hlm. IV).

Mengarang itu Gampang

Mengarang itu Gampang
Oleh: Arswendo Atmowiloto
SETIAP waktu kita bisa di antara buku, kalau mau. Baik di tempat pemeran, di toko, di persawaan komik, di perpustakaan ataupun di rumah. Selalu disadarkan, bahwa berteman dengan buku membuat kita betah. Dan selalu juga terbesit: kayaknya saya bisa menulis seperti yang saya baca ini. Apa salahnya dicoba?
Di antara buku, selalu juga diingatkan, bahwa ada buku yang masih selalu menarik untuk jangka lama. Ada yang segera dilupakan. Ada yang ingin diceritakan berulang.
Jangan bimbang. Jangan berpikir jauh yang membikin jatuh semangat.
MENGARANG itu gampang. Asal bisa baca dan bisa menulis, jadilah. Asal pernah bercerita kepada orang lain, dengan bahasa isyarat, lewat surat atau dengan mengobrol, itu berarti punya pengalaman.
Toh semua karangan fiksi selalu mempunyai unsur sama. Ada tokoh, ada lokasi, ada waktu. Tinggal mempelari sifat masing-masing unsur, tinggal merangkaikan, menuliskan sehingga selesai. Apa susahnya?
Sambil jalan, kita belajar tentang memilih bahasa yang tepat, menguasai pengetikan, cara mengirimkan karangan, cara mengirim kritik, bagaimana mengatur honor untuk beli bakso dan bali buku. Memang cuma sebegitu.
Yang gampang tak perlu dipersulit. Karena yang sulit masih ada juga:meyakinkan diri bahwa kita punyak bakat. Padalah bakat itu sebenarnya cuma minat yang tiada habis-habisnya, tak bisa temat.
KENAPA mengarang? Karena jarang yang menyadari bisa menjadi lapangan kerja. Ini terbukti dalam tanya-jawab dengan anak-anak, yang biasanya menjawab, kalau sudah besar cita-citanya adalah menjadi dokter, pramugari, penyanyi, ABRI, Hansip atau ,,,badut di Ancol. Padahal banyak pengarang yang hidupnya lebih baik. Setidaknya dibandingkan tidak menyadari kemampuan ini dan menjadi penganggur.
Karena saya percaya di antara kita ini banyak yang berbakat. Setidaknya lebih mudah menemukan bakat bakat kesenian di antara manusia Indonesia daripada jenius seperti Pak Habibie, Pak Sutami, Pak Sudjatmoko, Pak Sumitro Joyohadikusumo.
Karena mengarang bisa terus dilakukan tanpa menjadi beban bagi pekerjaan yang sudah dilakukan. Sebagai wartawan, guru, menteri, kiyai, pastor, dokter, karyawan atau jabatan lain.
Karena mengarang bisa dilakukan tanpa menjadi penghalang bagi pekerjaan yang sudah dilakukan. Sebagai wartawan, menteri, pastor,kiyai, dokter,jenderal, karyawan atau jabatan lain.
Karena dengan mengarang bisa menulis buku, bisa menjadi wartawan, bisa menulis buku, bisa menjadi wartawan, bisa menulis lirk lagu, membuat skenario, sandiwara, teks iklan. Setidaknya menulis buku harian dan surat rayuan pula lebih lancar.
Karena mengarang mendasari diri sikap kesenimanan yang mengutamakan kreativitas. Dan kreativitas hanya muncul pada situasi, di mana ada kejujuran, keterbukaan atau kebebasan.
Karena mengarang mengajarkan pada diri sendiri untuk melatih menyampaikan gagasan yang masuk nalar, sekaligus mengajarkan mendengarkan orang lain.
Karena semangat dan sikap inilah bisa membangkit kepercayaan pada diri sendiri. Saya pernah menjajal dengan mengumpulkan remaja lulusan SMP di tahun 1971 di Sasonomulyo, Solo. Ada yang kemudian menjadi pengarang dalam artian tulisannya berupa cerita bersambung yang dimuat d Kompas, dibukukan dan kini punya pekerjaan tetap di perusahaan iklan. Ada yang terus menulis sambil menjadi guru SD. Ada yang menjadi pembina kesenian di kotanya. Di Jakarta, saya mencoba dua kali. Di perusahaan Gramedia tahun 1980, dengan peserta para karyawan ”papan bawah” lulusan SD. Ada yang kemudian bisa menjadi agen yang sukses. Yang kedua di Gelanggang Remaja Jakarta Barat. Hasilnya? Salah seorang yang terus menulis sampai sekarang ini, membuat saya ”iri” karena tulisannya sangat menjanjikan.
Sejauh yang saya tahu, mereka yang ikut Bengkel Menulis ini tadinya belum pernah berhasil mempublikasikan karyanya. Minatnya yang besar yang mendorong mengikuti ”kursus” semacam ini.
Saya percaya, yang begini ini banyak sekali jumlahnya. Pengalaman sebagai redaktur –atau semua redaktur sama saja – menunjukkan, bahwa banyak bakat tertutup yang sebenarnya dengan pengenalan diri serta materi,bisa jadi.
BAHWA mereka yang telah mapan dengan pekerjaan dan panggilan hidupnya pun menjadi lebih lancar mengemukakan gagasannya, lebih terbuka mendengarkan kritik, dengan menulis. Kita bisa mengambil contoh sembarangan dari para penulis besar ini, mulai dari Romo Magunwijaya, Pak Abdurrahman Wahid, Th, Sumarthana, Pak Umar Kayam. Atau memperkokoh profesinya seperti Pak Goenawan Mohamad, Pak Putu Wijaya, Pak Danarto, Pak Supardi Joko Damono, Pak Budi Darma, Pak Suparto Brata. Atau kalau mereka bergerak di bidang yang sejenis lebih mengerti dunia kepengarangan. Pak Ajip Rosidi, Pak Moch. Radjien, Pak Jakob Oetama (pernah menulis serial cerita detektif), Pak Susilo Murti, menjadi lebih-baik di mata rekan pengarang , setidaknya dalam soal honor –karena sikap kepengarangannya .
Banyak sekali bukti lain untuk menambah yakin.
Bahwa mengarang tidak untuk mengabaikan pilihan hidup yang ada. Bahwa kemampuan itu bisa menjadi saling mengisi.
MENGARANG ibarat berdoa, ia tak mengehentikan kerja, malah menyiapkan batin, menambah kekuatan, atau malah kekuatan itu sendiri.
Ia mengajarkan kejujuran dan keterbukaan dalam menyampaikan penglaman hidup , atau malah ia pengalaman hidup itu sendiri.
Seperti juga doa, kepengarangan bisa langgeng. Terutama karena bukan jenis pekerjaan yang bisa ketinggalan zaman. Seorang penarik becak, ketika kemajuan semakin hebat, bisa disingkirkan. Seorang pejabat tinggi, masa jabatannya yang diperpanjang pun mengenal titik henti. Tapi mengarang bisa teruuuus.
Terutama karena sebenarnya begitu banyak yang bisa ditulis. Pengalaman hidup kita masing ini begini menakjubkan- dalam soal cinta saja setiap orang bisa bercerita keunikan masing-masing, dalam soal lingkungan pekerjan bisa mengundang dan lain sebagainya. Sumber yang tak pernah menjadi kering. Selalu ada yang bisa diceritakan.
Terutama karena sebenarnya banyak sekali yang seharusnya bisa dituliskan, dengan baik. Masalah pertanian, industri, yang masih kelihatan kering. Bidang ipoleksosbud hankamrata bisa di tuliskan semuanya. Dan selama ini terasa masih kurang.
Terutama karena tuntunan adanya buku-buku akan menjadi kebutuhan. Untuk keperluan perpustakaan, untuk keperluan diri sendiri. Buku wajib. Banyak sekali, dan akan makin bertambah banyak yang harus membaca. Penggalakan minat baca sekarang ini akan melipatgandakan kebutuhan di masa mendatang.
KALAU ini terasa berlebihan, karena kita kurang menyadari saja.
Kadang saya berpikir, andaikata sikap kesenimanan diajarkan, ditularkan, akan banyak artinya. Kalau pernah tersentuh kepengarangan, barangkali nalar kita lebih bekerja, sehingga lebih kecil kemungkinan kita mendengarkan keputusan yang ganjil, surat perintah yang tak masuk akal, pidato dan penerangan yang membosankan, omongan yang belepotan tapi menentukan.
Coba saja kalau tak percaya.
MENYADARI, melatih, mencari, menemukan, melatih, melatih, melatih kepercayaan diri. Kekuatan sendiri, yang tadinya terabaikan.
Mengarang adalah salah satu jalan.
Akan banyak sekali jalan yang lain, yang bisa digali. Mudah-mudahan ini pendekatan begini bisa menggugah. Bisa mengubah ke arah yang lebih baik.
Cobalah beramai-ramai.
Tak ada salahnya. Setidaknya kita terbiasa mengutarakan gagasan secara jujur dan terbuka, dan mendengarkan gagasan orang lain dengan jujur dan terbuka. Begitu sederhana.

*Catatan pengantar pada ceramah di Pameran Buku Nasional I Jawa Timur,di gedung Dewan Kesenian Surabaya,19 Januari 1985.
(Sumber: Kompas, Senin, 21 Januari 1985 hlm. V.

Sasaran tulisan ilmiah populer

Sasaran tulisan ilmiah populer
Oleh Slamet Soeseno
Di antara segi-segi menarik yang mencuat dari diskusi ”Dorongan minat terhadap bacaan ilmiah populer” penyelenggaraan majalah Intisari tanggal 29 September 1983 yang lalu, ada dua hal yang menarik. Yaitu sasaran yang akan ditembak oleh penulisan nonfiksi dan bentuk ”peluru kendali” yang akan ditembakkan.
Sasaran yang berminat membaca tulisan nonfiksi ternyata terdiri dari tiga golongan. Para remaja yang sudah duduk di bangku SLTA dan mahasiswa tingkat permulaan sampai dengan serjana muda, dan kaum cerdik cendekia yang sudah berumur, banyak makan garam.
Macam apa?
Anak SMP dan SMA kelas satu, meskipun bukan anak-anak lagi, masih suka membaca dongeng yang indah cerita petualangan yang mendebarkan, kepahlawanan yang membanggakan dan sejarah yang merangsang keinginan tahu. Mereka tidak berminat membaca tulisan sains dan teknologi, meskipun ini sudah ditulis secara populer. Sebenarnya juga percuma, kita menulis bacaan semacam ini bagi mereka.
Walaupun kadang-kadang ada bacaan nonfiksi bagi mereka, buku tentang pesawat tempur misalnya atau artikel majalah tentang kapal perang nuklir, namun yang menarik perhatian mereka bukan uraian bentuk dari ciri pesawat hasil teknologi mutakhir itu, melainkan kejadian yang berkaitan dengan pesawat itu.
Bacaan nonfiksi tentang binatang yang berhasil memikat mereka juga bukan uraian tentng jeroan sapi, atau warna bulu kucing yang njebook, tapi kisah kehidupan seekor binatang yang dalam petualangannya berjumpa dengan pelbagai binatang lain yang hendak diceritakan sifat dan cirinya secara zoologis.
Atau kalau dibicarakan itu menyangkut keterampilan beternak lebah misalnya, yang menarik ialah kisah seorang tokoh manusia seperti petani teladan, guru inpres, atau dokter gigi yang tentara, yang pada suatu hari yang berternak lebah. Walaupun yang diutarakan itu sebagian besar tehnik keterampilan berternak, namun ada tokoh yang merupakan semacam benang berita yang terbentang mulai dari permulaan sampai akhir cerita.
Lebih nyerempet mengenai sasaran lagi, kalau kita menulis bacaan nonfiksi bagi para remaja siswa SLTA kelas dua dan tiga, yang memang ditugasi oleh guru mereka untuk menyusun karya tulis nonfiksi. Merekalah yang mulai memegang buku keilmuan, seperti buku seri Pustaka Alam, Khazanah pengetahuan bagi anak-anak, atau seri terjemahaan Ledy Bird Books.
Mereka pula yang membaca artikel tentang sains dan teknologi dalam majalah dan koran. Beberapa di antara malah ada yang menonjol jiwa risetnya. Sampai senang mengikuti lomba mengikuti karya ilmiah, baik sebagai peserta aktif, maupun sebagai penonton.
Sebaiknya mereka kita banjiri dengan bacaan nonfiksi, jangan sampai minat baca mereka yang sudah tergugah kemudian pudar kembali karena kekurangan ( rebutan ) bahan. Atau bahan bacaan yang ada berupa bahan ”asal-asalan”. Bagaimana bentuk bacaan yang selain bermutu juga menarik untuk dibaca, agar digambarkan di belakang nanti. Hanya perlu dicatat, kebanyakan dari kaum remaja ini masih menyukai cerita pendek, novel, dan roman cinta, seks dan kriminil. Ini bukan sesuatu yang perlu dibayangkan, tapi malah harus disyukuri, karena dengan menyukai cerita fiksi, mereka juga berkenalan dengan cara menulis ”cerita ” yang bagus.
Supaya bacaan nonfiksi bagi mereka bisa bersaing dengan bacaan fiksi, terpaksa ia diolah sama seperti bacaan anak, hanya bahan ceritanya yang berbeda bagi remaja ini bukan petualangan yang menarik, tapi juga tingkah laku yang berhubungan dengan cinta dengan seks. Dalam contoh cerita kehidupan binatang di muka, jadi tingkah laku bagaimana binatang bercumbuan, berkelahi rebutan pacar, teknik penyusun sarang mahligai perkawinan, pembagian tugas mengeram dan menjaga telur, membesarkan anak dengan giliran jaga.
Bahan cerita yang menarik ini hanya mungkin ditulis secara menarik, kalau penulisannya dulu memang sudah pernah berkenalan dan menghayati cara mengarang cerita fiksi, yang melukiskan kejadian dengan kata dan kalimat bagus secara jelas, sampai pembacaanya mendapat gambaran jernih.
Yang ketemu nalar
Sasaran yang lebih jitu (Bagi penulisan nonfiksi) sebenarnya ialah seorang dewasa, baik yang sudah bekerja setelah jebol SLTA, maupun yang duduk di perguruan tinggi sebagai mahasiswa. Soalnya, mereka sudah mulai mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog langsung dari penulis ke pembaca. Tidak perlu lewat kisah seorang tokoh cerita lagi.
Walaupun sebagian dari mereka masih juga membaca fiksi (sekarang meningkat ke cerita detektif atau misteri, yang pada hakikatnya juga cerita petualangan, namun diolah lebih cerdik dengan bumbu masalah yang merupakan teka-teki), daripada membaca tulisan nonfiksi yang bersifat teknis dan ilmiah dan populer, namun itu masih lebih baik daripada kalau mereka mencari bacaan erotik, karena kita kurang cukup menyediakan cerita detektif dan nonfiksi.
Sasaran ketiga ialah orangtua, yang kebanyakan menyukai tulisan mistik, filsafat, keagamaan, kebatinan, bahasan teknis, dan esei ilmiah. Merekapun jelas mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog langsung antara penulis dan pembaca. Bahkan mereka menuntut pembahasan lebih mendalam, disertai argumentasi ilmiah yang” ketemu nalar”.
Mereka terdiri dari para sarjana, berbabagai disiplin ilmu, seperti insinyur pertanian misalnya, yang senang membaca artikel tentang elektronik. Dokter syaraf yang senang membaca tulisan tentang anggrek. Atau sarjana hukum yang gemar membaca flora dan fauna. Juga orang tua yang menjadi intelektual tanpa melalui jalur perguruan tinggi, terutama kaum ibu rumah tangga dan wanita karir, termasuk kelompok sasaran ini. Mereka senantiasa menambah pengetahuan dan tingkat kecendekiaannya melalui bacaan nonfiksi, tetapi mereka tidak puas dengan tulisan sederhana yang diolah untuk ”konsumsi”remaja dan anak-anak. Mereka meminta tulisan ilmiah populer.
Sudah tentu, di sana- sini, ada golongan pembaca yang ngancik ke wilayah golongan pemabaca lain, misalnya anak cerdas cermat yang sudah senang membaca bacaan remaja, karena lebih cepat ”matang”daripada anak rata-rata sebaya mereka. Begitu pula, kadang-kadang juga ada remaja yang sudah senang membaca cerita detektif orang dewasa. Atau yang diam-diam yang sudah membaca tulisan erotik.
Tapi sebaliknya ada juga kaum remaja kolot yang masih saja suka membaca cerita petualangan paman Gober dan Donal Bebek, yang sebenarnya kegemaran anak-anak.
Dalam praktek jadi tidak ada batas nyata yang memisahkan ketiga golongan itu secara tegas. Namun daripada kita menembak ngaur, masih lebih baik mengenali sasaran berupa ketiga golongan pembaca itu, beserta kegemaran masing-masing.
Yang merangsang dan menggugah
Karena tiap sasaran itu mempunyai selera yang berbeda-beda, maka penyusunan artikel bagi tiap golongan pembaca itu pun jelas harus berbeda. Bacaan nonfiksi untuk remaja tidak mungkin dibuat sama dengan artikel ilmiah populer untuk sarjana lulusan Cornell atau ITB. Dan bacaan untuk ibu rumah tangga lulusan SKKA tidak mungkin dibuat sama dengan bacaan untuk para pejabat lulusan Lembaga Administrasi Negara.
Itulah sebabnya, bentuk bacaan nonfiksi yang kita jumpai di masyarakat baca-membaca Indonesia pada garis besarnya juga ada tiga. Pertama, bentuk tulisan deskriptif, yang membeberkan sesuatu pengetahuan atau penemuan mutakhir di bidang ke ilmuan tertentu sebagai kumpulan fakta saja, sebagaimana apa adanya (misalnya dalam majalah fashion, masak memasak, atau hias menghias), tanpa banyak meributkan soal bagaimana riwayat (latar belakang) terbentuk hal atau jalannya proses penemuan baru yang dilukiskan itu.
Misalnya uraian tentang berbgai jenis cactus atau untuk indoor garden. Namanya, terbentuknya, warnanya, dan ciri keistimewaan lainnya yang menarik, disertai gambar bewarna yang bagus. Bagi golongan pembaca remaja (SMA kelas dua dan tiga ), bacaan deskriptif ini sudah cukup wah, karena pengetahuan mereka memang sudah lebih meningkat dengan membaca tulisan yang memang lebih mendalam(sedikit) itu, daripada tulisan dalam buku pelajaran ilmu tumbuh-tumbuhan yang mereka kenal di sekolah.
Bacaan deskriptif (saja) ini bisa kita jumpai dalam beberapa harian dan majalah ibukota tertentu, yang mempunyai rubrik nonfiksi, keterampilan, atau ”ilmu dan teknologi” untuk menambah daya tarik, artikel itu sering disajikan dengan menggunakan tokoh terkemuka sebagai benang cerita, agar tulisan lebih bersifat human interest. Namun sebagian besar masih berupa tulisan berisi kumpulan fakta, yang tidak merangsang keinginan tahu dan menggugah proses pemikiran pada pembaca. Tulisan itu (berikut ilustrasinya berupa foto berwarna yang bagus-bagus) bisa dinikamati sambil tiduran saja.
Kedua, bentuk bacaan deskriptif yang betul-betul merangsang keinginan tahu. Uraian fakta yang disajikan selalu disertai penjelasan mengapa (sampai begitu) dan bagaimana (duduknya perkara). Sering pula disertai sejarah (proses) pembentukan atau riwayat penemuaannya.Misalnya tulisan mengenai ikan terbang. Setelah dilukiskan bentuk dan ciri morfologinya secara mendalam, diuraikan lebih lanjut bagaimana ikan itu berevolusi dari bentuk normal seperti ikan biasa yang lain sampai sirip dadanya berkembang dan bertugas sebagai sayap. Lalu diungkapkan bagaimana cara ikan itu terbang, lengkap dengan bukti pengamatan kemampuan ikan itu menempuh jarak sekian meter perdetik. Siapa yang mengukur? Dikisahkan kemudian pengalaman seorang peneliti yang telah mengadakan pengukuran itu. Lalu mengapa ikan itu terbang? Karena iseng? Atau karena dibuat musuh?
Artikel yang merangsang keinginan tahu semacam ini kita jumpai di harian Kompas dan Sinar Harapan; pengembangan pertanian Trubus, dan majalah psikologi Anda.
Walaupun kadang-kadang mereka menyajikan juga artikel deskriptif saja, namun karena pembaca sasaran mereka lebih banyak yang tergolong pembaca dewasa, maka sebagian besar artikel yang mereka muat juga berbentuk artikel ”tingkat menengah” ini. Dari luar negeri masuk pula ke Indonesia secara teratur majalah- majalah ilmiah populer kelompok ini, seperti reader’s Digest, kosmos national geographic magazine.
Ketiga, bentuk deskriptif yang selain merangsang keinginan tahu juga menggugah proses pemikiran. Apa yang disajikan selalu disertai dengan alasan mengapa dan bagaimana duduknya perkara, diselipi dengan masalah yang berkaitan, berikut beberapa alternatif pemecahan masalah, (bagaimana jalan keluarnya), yang perlu direnungkan.

*Slamet Soeseno adalah pensiunan pegawai Ditjen Perikanan dan sekarang staf redaksi majalah”Intisari”di samping Pemred majalah ”Trubus”.
(Sumber: Kompas, 16 -11- 1982 hlm. IV – VI).