Lomba Baca Hikayat Masuk Kampus!

Lomba Baca Hikayat Masuk Kampus!?

Oleh: T.A. Sakti
Senin pagi, 12 Oktober 2015 sebuah sms masuk ke ponsel saya. Pesan sms itu berbunyi:”Assalamualaikum. Pak, saya Nisa dari BEM Unsyiah. Sehubungan dengan diadakan lomba Hikayat Aceh di Unsyiah Fair X, kami ingin meminta kesediaan Bapak untuk menjadi juri lomba Hikayat yang akan diadakan pada hari Senin, 19 Oktober 2015”.

“BEM Unsyiah buat lomba baca Hikayat Aceh?”, batin saya membisik seolah tak percaya.
Memang sudah cukup lama saya berharap, agar hikayat dapat berintegrasi kembali dalam kehidupan generasi muda Aceh. Paling tidak harapan demikian muncul sejak Harian Serambi Indonesia memuat hikayat secara bersambung tahun 1992 – 1994, yang telah menyiarkan 12 judul hikayat hasil alih aksara, dan 7 judul di antaranya adalah hasil transliterasi saya sendiri dari huruf Arab Melayu atau Jawoe ke aksara Latin.
Undangan BEM Unsyiah untuk menjadi juri(bersama Nazar Syah Alam) lomba baca hikayat betul-betul mengagetkan. Sebab dalam perkiraan saya, kebangkitan hikayat Aceh kalau pun terjadi; minimal dalam dua puluh tahun mendatang. Itu pun kalau saat itu Pemerintah Aceh telah memasukkan hikayat dalam kurikulum pendidikan ‘muatan lokal’ di Aceh dan dikelola dengan serius. Ternyata dugaan saya meleset, yakni kebangkitan hikayat di kalangan generasi muda Aceh telah dimulai sekarang tahun 2015 yang dipelopori oleh BEM Unsyiah dengan mengadakan lomba baca hikayat dalam rangkaian acara Unsyiah Fair X. Setahu saya, hingga kini belum pernah ada lomba baca hikayat yang disponsori sendiri oleh para mahasiswa atau generasi muda Aceh.
Keterpurukan martabat hikayat Aceh telah berlangsung lebih setengah abad, yaitu sejak tahun 1960-an. Saat itu, radio dan “peutoe beuet’(peti mengaji) sudah merambah ke kampung-kampung di Aceh. Penampilan Syekh-syekh hikayat sebagai sumber pendidikan dan hiburan, sudah digantikan nyanyian P.Ramlee dan Saloma dari Radio Malaysia, Kuala Lumpur. Namun demikian, saat malam tiba bacaan hikayat masih sayup-sayup terdengar dari kejauhan ketika itu.
Tradisi berhikayat di kalangan rakyat Aceh betul-betul ambruk sejak tahun 1970-an. Hasil penelitian Fakultas Keguruan(FK) Unsyiah tahun 1971 menunjukkan, bahwa tradisi berhikayat dalam masyarakat Aceh betul-betul sudah lenyap. Dulu, kehidupan masyarakat Aceh sepanjang tahun ‘diselimuti’ bacaan hikayat. Bulan-bulan selesai panen padi, pada pesta perkawinan, menjelang sunat Rasul, mensyukuri hari-hari bahagia, bahkan dalam rangka melepaskan nazar(peulheueh kaoy); para pemilik hajatan biasanya akan mengundang pembaca hikayat untuk dinikmati penduduk sekampung

.
Benteng terakhir
Upaya defensif untuk mempertahankan keberadaan bacaan hikayat memang berlangsung terus. Hal ini amat tergantung dedikasi pribadi para penyair hikayat. Sementara yang bersifat tradisi masyarakat sudah lenyap. Tokoh-tokoh sastrawan hikayat Aceh seperti Tgk.M.Amin, Tgk. Ibrahim Na’in, Drs. Arabi Ahmad dan Syech Min Cakra Donya merupakan orang-orang yang “pasang badan” untuk melestarikan ‘dendangan hikayat’ di persada Tanah Aceh. Tahun 1968 setiap malam Selasa, Tgk M.Amin selalu membaca Hikayat Aceh di Radio Republik Indonesia (RRI ) Banda Aceh. Sementara malam Jum’at bacaan Nazam rutin disenandungkan Tgk.Ibrahim Na’in. Selanjutnya, bacaan Nazam digantikan Drs. Araby Ahmad di RRI itu. Dalam tahun 1990-an, selama dua tahun Syech Min Cakra Donya mengelola acara baca hikayat di RRI Banda Aceh. Istilah ‘pasang badan’ yang saya sebutkan di atas, berarti mereka betul-betul berkorban demi lestarinya Hikayat Aceh, padahal honor yang diperoleh teramat kecil, nyaris tak cukup untuk biaya transportasi. Walaupun demikian, RRI Banda Aceh amat berjasa dalam memperkuat benteng terakhir hikayat ini.
Sementara itu, beberapa radio lokal Banda Aceh juga ikut berjuang melestarikan hikayat Aceh. Dalam hal ini, Radio Duta Kencana alias Radio “Geureubak Meuh”, Radio Meugah FM, Radio Rapa-i Aceh Lambaro, dan Radio Jati FM telah menaburkan jasanya. Seorang ‘wartawan’ Radio Jati FM, Peunayong asal Sunda pernah empat kali datang merekam bacaan hikayat Aceh ke rumah saya tahun 2007.
Selain lewat siaran RRI dan Radio lokal Banda Aceh, kegiatan yang dapat kita kategorikan sebagai benteng pertahanan terakhir pelestarian hikayat adalah aktivitas Syech Rih Krueng Raya dan Syech Mud Jeureula yang mengunjungi berbagai tempat Uroe Gantoe(Hari Pekan) di seluruh Aceh untuk membaca dan sekaligus menjual buku-buku hikayat. Dalam kesempatan membaca dan menjual hikayat di depan umum itu, Syech Rih Krueng Raya kadang-kadang juga menjual obat dan menyampaikan pesan-pesan pemerintah tentang pembangunan. Dalam kegiatan “berhikayat” kedua penyair Aceh terkenal tersebut, beberapa tahun diantaranya pernah ditemani Medya Hus sebagai tukang tijik taih(membantu  bawa tas). Kini Medya Hus aktif di AcehTV untuk mengasuh beberapa acara budaya Aceh, yaitu Cae Bak Jambo, Ratoh, Seumapa dan Meudike. Dalam acara Cae Bak Jambo dan Ratoh, seniman agung Aceh Medya Hus tak bosan-bosan menghimbau agar masyarakat Aceh(tuha-muda, agam-dara) mencintai kembali budaya Aceh.
Walaupun hasil penelitian FK Unsyiah telah menyimpulkan, bahwa tahun 1971 tradisi berhikayat sudah ‘sekarat’ di Aceh, namun di lapangan nampak masih meninggalkan sisa-sisa kebesaran masa lalunya. Misalnya, Teungku Ismail alias Cut ‘E masih tetap melantunkan Nazam Akhbarul Naim karya Teungku Di Cucum ke mana saja beliau diundang di kampung-kampung di Kabupaten Aceh Besar. Begitu pula dengan aktivitas H.Abdurrahman(Geusyik Raman) dari Lam Ceu(dekat Keude Lam Ateuk, Aceh Besar), beliau juga tetap masih diundang untuk membaca Akhbarul Naim di Aceh Besar dan wilayah Kota Banda Aceh.
Pihak para pengarang hikayat sendiri juga tidak mudah menyerah. Mereka masih tetap menulis hikayat, walaupun pamornya sudah amat merosot. Beberapa judul hikayat masih nampak di sejumlah toko buku di Banda Aceh, sedang di kota Sigli dan Bireuen tak terlintas lagi. Buku-buku hikayat Aceh adalah titipan para pengarang hikayat. Mereka tidaklah mungkin mengharap untung dari usaha penitipan itu, karena amat sedikit yang terjual. Masyarakat Aceh, terutama generasi muda telah merasa malu jika membeli buku hikayat, karena takut dicap teman-temannya ‘kuno’. Akibatnya, para pengarang hikayat selalu rugi, dan modal pun tak kembali.
Tunas baru
Hikayat adalah ‘darah gapah’(darah daging) orang Aceh tempo dulu. Setelah Kerajaan Belanda merasa tak sanggup mengalahkan Kerajaan Aceh Darusslam dengan seluruh kekuatan militernya, maka jalan yang ditempuh Belanda selanjutnya adalah ‘membedah Hikayat Aceh’. Lewat pikiran cerdas C. Snouck Hurgronje, beratus-ratus naskah hikayat, nazam dan tambeh(dua dan tiga terakhir terkait agama Islam) telah dikaji, disaring dan ditapis untuk dipilih saripatinya. Demi tujuan itu,  tentu Pemerintah Belanda telah menguras koceknya jutaan gulden. Dalam beberapa tahun saja, turunlah beberapa butir nasehat Snouck kepada Pemerintah Belanda, berupa “jalan pintas” untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh sampai tak mampu berkutik lagi. Sebanyak 98 judul dari naskah-naskah pilihan telah dimuat Snouck Hurgronje dalam bukunya De Atjeher jilid II(setelah diterjemahkan berjudul: “Aceh di Mata Kolonialis”, jilid II), sedangkan 600 judul lainnya, setelah Snouck pulang ke negerinya berada di tangan Dr.Hoesein Dajadiningrat di Batavia(Jakarta), kemudian beralih kepada Pustaka Pertamina(1994), Jakarta dan info terakhir menyatakan ratusan naskah hikayat itu berada di Pustaka Kraton “Radio Pustoko” kota Solo, Jawa Tengah.
Mengingat begitu pentingnya peran hikayat dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka lembaga- lembaga pemerintah yang terkait dengan kesejarahan, bahasa dan sastra Aceh selalu berupaya mengangkat kembali ‘batang terendam’ itu. Kadang-kadang lembaga itu mendanai kajian hikayat atau mengadakan lomba membaca dan menulis hikayat Aceh. Hanya karena lembaga tersebut selalunya mendapat anggaran sedikit dari Pemerintah Aceh atau Pemerintah Pusat(akibat DPRA-DPR Pusat sangat kurang peduli budaya bangsa!), maka kegiatan-kegiatan demikian kurang terekspose dan jarang diadakan.
Di antara lomba-lomba yang pernah berlangsung terkait hikayat adalah sebagai berikut:

1) Lomba Membaca Hikayat yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Banda Aceh pada hari Sabtu, 28 Agustus 1999. Lomba ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat Aceh dari Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum yang mewakili lembaga/wilayah masing-masing.

2) Lomba Penulisan Hikayat Aceh yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada 22 Oktober 2002. Lomba ini hanya diikuti 22 peserta, yang kesemuanya laki-laki. Sebanyak 16 peserta diantaranya hanya mengkritik “tingkah laku orang perempuan” terkait Syari’at Islam di Aceh.

3) Lomba Membaca Hikayat Huruf Arab Jawi(Harah Jawoe) pada Museum Aceh, Banda Aceh tanggal 17 Desember 2003, yang diikuti enam orang peserta yang kesemuanya perempuan. Mereka tak berkesempatan mengkritik kaum laki-laki, karena naskah lomba disediakan panitia.

4) Lomba Membaca Hikayat Aceh dalam rangka acara Pekan Kebudayaan Aceh Ke 5 (PKA V) tanggal 3-4 Agustus 2009 di Taman Budaya, Banda Aceh. Peserta lomba ini mewakili kabupaten se- Aceh. Kegiatan ini tanpa dihadiri seorang penonton pun, selain peserta dan panitia. Inilah bukti, bahwa hikayat Aceh telah ‘mati’.

5) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh yang diadakan oleh Balai Bahasa, Banda Aceh pada 2 – 3 Juli 2013. Bahan lomba yang disediakan panitia berupa naskah huruf Jawoe atau huruf Arab Melayu. Pendaftaran peserta bersifat terbuka, tanpa pembatasan umur, jumlah peserta 45 orang.

6) Lomba Mengarang Hikayat yang dilaksanakan Stand Majelis Adat Aceh(MAA) Provinsi Aceh dalam kegiatan Pekan Kebudayaan Aceh 6(PKA VI), bulan September 2013 di Banda Aceh.

7) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh yang diselenggarakan Balai Bahasa, Banda Aceh pada tanggal 11 – 12 Maret 2014. Minat calon peserta bagi lomba ini membludak, sehingga melampaui kebutuhan panitia yang membatasi 50 orang. Dalam lomba ini juga diuji kemahiran peserta membaca naskah Aceh dalam huruf Jawi alias Jawoe.
8) Lomba Membaca Naskah Lama Aceh – kali ke 3 berturut-turut – yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Aceh pada 8 s.d. 9 Juni 2015. Calon peserta kali ini amat membludak, sehingga di luar kemampuan panitia yang menampung hanya  50 peserta. Umur peserta juga beragam, mulai remaja, orang muda dan lanjut usia. Pendidikan peserta sejak Dayah, MTsN, SMP, SMK, SMA, MAN dan mahasiswa. Para mahasiswa ini berasal dari beberapa Perguruan Tinggi, yaitu Unsyiah, UIN Ar-Raniry, Ummuha, dan Abulyatama. Sungguh keikutsertaan generasi muda pada Lomba Membaca Naskah Lama Aceh di Balai Bahasa, Provinsi Aceh kali ketiga ini melambangkan puncak ‘kecintaan kembali’ generasi muda Aceh terhadap hikayat.
Bila lomba dalam huruf Arab Jawoe saja sudah cukup meriah, tentu jika lomba dalam aksara Latin pasti lebih membahana.
Perlu dipacu
Penyelenggaraan Lomba Baca Hikayat oleh BEM Unsyiah dalam rangkaian acara Unsyiah Fair X merupakan momentum penting dalam kesejarahan berhikayat di Tanah Aceh. Belum pernah selama ini, lomba baca hikayat berlangsung di komplek Gedung AAC Dayan Dawood yang megah itu. Peristiwa lomba inilah landasan awal tempat bergeraknya semangat hikayat Aceh untuk bangkit kembali di kalangan generasi muda Aceh.
Suasana lomba yang menguji ketrampilan peserta membaca cae yang berjudul “Rumboek Helsingke” karya Sulaiman A.Gani/Tgk. Diyueb Bruek ini amat sederhana. Jumlah peserta hanya 8(delapan) orang. Menurut saya, sedikitnya jumlah peserta lomba, akibat panitia membatasi usia peserta antara 15 – 25 tahun, padahal kebanyakan peminat hikayat yang masih ada, umur mereka rata-rata 25  tahun ke atas.Walaupun sepi dari gaung riuh-rendah celoteh para peserta seperti lomba di Balai Bahasa Provinsi Aceh hampir 5 bulan lalu, namun inilah acara lomba baca hikayat yang pertama dan utama diselenggarakan oleh generasi muda Aceh sendiri. Kata orang, bila generasi muda sudah bergerak, maka semua pihak akan teukeupak!(sontak). Mudah-mudahan ke depan semakin banyak BEM Universitas dan Perguruan Tinggi yang melaksanakan berbagai acara terkait hikayat, tambeh dan nazam Aceh. Dukungan penuh untuk mensupport kegiatan seperti ini kita harapkan dari berbagai pihak, agar tunas muda yang baru bergeliat itu tidak patah dan mati sebelum berbuah. Himbauan khusus kita tujukan kepada Lembaga Wali Nanggroe(LWN) agar sudi menyambut ‘semangat baru berhikayat Aceh’ ini dalam rangka memperkenalkan jati dirinya – hingga kini LWN belum dikenal secara luas- kepada masyarakat Aceh. Semoga!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s