Ketika Sultan Iskandar Muda Shalat Jum’at di Mesjid Raya Baiturrahman

Droe Keudroe:

Ketika Sultan Iskandar Muda Shalat Jum’at
di Mesjid Raya Baiturrahman(MRB)
Sultan Iskandar Muda adalah sultan yang membawa Kerajaan Aceh Darussalam ke puncak kejayaan. Namanya dipuja-puji orang Aceh hingga hari ini. Dalam cae(syair), like/kasidah(syair agama), lagu Aceh modern, bahkan dalam demonstrasi; masih gencar disanjung-sanjung. Sesuatu yang sakral dalam kesejarahan Aceh selalu dinisbahkan atau dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Yang Agung ini. Orang tidak mempersoalkan lagi, apakah yang diucapkan itu sekedar mitos, legenda atau fakta sejarah masa Sultan Iskandar Muda.
Sebagai sultan terbesar Aceh, kita masih mendapati beberapa naskah tertulis yang berasal dari zaman itu. Salah satu diantaranya adalah berjudul Mabainas Salathin atau Perintah Segala Raja-Raja, yang oleh Profesor Drewes dan Dr.P.Voorhoeve yang pernah mengkaji naskah Melayu ini memberi judul “Adat Aceh”. Denys Lombard(sarjana Prancis) yang menulis disertasi tentang Sultan Iskandar Muda(lihat terjemahan: Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda(1607 – 1636), Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2006, halaman 44), menyatakan, bahwa naskah Mabainas Salathin benar-benar berasal dari era sultan itu. Dua pertiga isi naskah adalah mengenai tata tertib protokoler kerajaan dan sepertiga bagian akhir tentang peraturan pemerintah mengenai bea-cukai di pelabuhan Bandar Aceh Darussalam. Naskah Adat Aceh itu kini tersimpan di Pustaka A.Hasjmy, Jln. Sudirman no. 20 Banda Aceh.
Mengenai Protokoler kerajaan mengandung sembilan peraturan atau majelis dalam naskah Perintah Segala Raja-Raja, yaitu: 1) Sekalian majelis raja, 2) Majelis Hulubalang, 3) Majelis tabal pada hari memegang puasa, 4) Majelis berangkat yang kedua hari raya(Idul Fitri-Idul Adha), 5) Majelis junjung duli, 6) Majelis berangkat hari Jum’at, 7) Majelis berangkat bulan safar(Rabu abeh/Rabu terakhir), 8) Majelis jaga-jaga(malam Lailatul Qadar), 9) Majelis bandar Darussalam(cukai pelabuhan).
Dalam lampiran teks naskah kajian Prof. Drewes dan Dr. P.Voorhoeve tentang “Adat Aceh”(keduanya ilmuwan Belanda) yang dimuat dalam Jurnal Verhandelingen no. XXVI tahun 1958; menyangkut Majelis berangkat hari Jum’at terdapat pada halaman 94 naskah huruf Arab Melayu atau Jawoe dalam bahasa Melayu. Sebutan nama Sultan Iskandar Muda dalam naskah ini sering diganti dengan gelaran Syah ‘Alam(selanjutnya ditulis Syah Alam, artinya Raja Dunia). Begitu pula sewaktu ia bertindak sebagai Khatib Jumat dan Imam shalat, maka nama sultan pun sudah terganti.
Cuplikannya: “Alkisah, maka tersebutlah perkataan Majelis Syah ‘Alam berangkat ke Mesjid sebahyang Jum’at”. Maka naiklah sembah Bintara mohon turun segala alat berangkat pada hari Jum’at. Maka sabda Yang Maha Mulia karunia seperti sembahnya. Maka turunlah segala alat kerajaan berangkat sembahyang Jum’at, masing-masing pada jabatannya. Setelah sudah musta’idlah segala alat pawai, maka berdirilah masing-masing pada tarafnya. Setelah hadir sekalian mereka itu, kemudian turunlah shalih dan puwan kerajaan dan bungkus kain kerajaan. Kemudian, maka naiklah sembah Penghulu Bilal mohon turun Tongkat Khutbah. Setelah itu, maka naiklah sembah Kejuruan Genderang Sri Udahna Gambaran mohon palu Genderang Dong. Maka sabda Yang Maha Mulia karunia seperti sembahnya. Maka segala Hulubalang pun masing-masing berdiri pada tarafnya di Balai Hulubalang”,
(Terjemahan bebas: Tiga orang pejabat resmi terlebih dahulu mempersiapkan segala hal yang perlu. Pertama, Bintara mohon kepada sultan agar dapat menurunkan segala peralatan pawai berangkat ke Mesjid Baiturrahman. Kedua, Penghulu Bilal mohon kepada sultan turun(diberikan) Tongkat Khutbah. Ketiga, Keujruen(Kejuruan) Genderang Sri Udahna Gambaran, mohon pada sultan untuk menabuh Genderang Dong(genderang tegak). Setelah ketiga peralatan itu siap, maka para Hulubalang pun berdiri di Balai Hulubalang pada tempat yang sesuai pangkat atau jabatan masing-masing).

Cuplikannya: “Maka terserlah Syah Alam dengan diiringkan segala alat pawai mengiring Syah Alam tatkala berangkat itu. Maka berangkatlah Syah Alam ke pintu papan, maka hidmatlah segala Hulubalang. Setelah sampailah Syah Alam ke luar pintu gerbang, maka beralih segala Hulubalang hidmat. Kemudian dari itu menebarlah pula segala Hulubalang hingga sampai ke pintu Mesjid Baiturrahman, maka oleh segala Hulubalang hidmat sekali lagi. Setelah sampailah Hadlarat Syah Alam kedalam pintu mesjid, maka Hulubalang pun menyimpang ke kanan pintu mesjid, berdiri masing-masing pada tarafnya. Apabila terserlahlah Syah Alam ke dalam Diwal pintu mesjid, maka tatkala itu genderang pun dialih oranglah murainya kepada ragam sibujan”.
(Selanjutnya, berangkatlah Sultan Iskandar Muda ke Mesjid Raya Baiturrahma(MRB) dengan diiringi pawai kebesaran. Sebelum sampai ke Mesjid, setiap sultan melewati kawasan tertentu dalam kawasan istana Dalam Darud Dunia, maka langgam irama musik pengiring pun akan berganti murainya(bunyi irama), baik murai sibujan atau murai kuda berlari. Kemeriahan pawai yang mengantar sultan dengan berbagai pergelaran genderang dan musik masih berlangsung sampai sang sultan sampai ke pintu mesjid Baiturrahman. Pawai dan arak-arakan serupa ini juga akan berlangsung sekali lagi, ketika sultan berangkat pulang dari sembahyang Jum’at. Namun dari semua acara protokoler kerajaan yang dimuat dalam Mabainas Salatin, maka upacara yang teragung adalah ketika Sultan Iskandar Muda berangkat shalat Hari Raya Haji/Idul Adha ke Mesjid Raya Baiturrahman. Sekiranya jumlah peserta pawai benar-benar akurat seperti yang disebutkan dalam naskah itu, maka jika seluruh penduduk laki-laki dewasa di Kota Banda Aceh sekarang pun tidak cukup untuk mengisi anggota barisan pawai kebesaran Idul Adha masa Sultan Iskandar Muda itu. Apakah jumlah penduduk Bandar Aceh Darussalam saat itu lebih banyak dari warga Banda Aceh sekarang?, wallahu’aklam.
“Maka Hadharat Syah Alam pun masuklah ke dalam Mesjid Kelambu, maka kelambu yang keemasan itu pun ditutup oranglah. Maka Syah Alam pun sembahyang sunat tahyatul masjid dua rakaat suatu salam, maka Bilal pun Bang-lah. Setelah sudah Bilal Azan, maka sembahyanglah sunat Jum’at dua rakaat sesalam.
Setelah itu, maka Penghulu Bilal pun menatangkan Tongkat Khutbah itu, serta menyebut shalawat akan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memberi salam ke kanan. Ia naik ke atas Mimbar, maka Penghulu Bilal pun mengatakan:”Innallaha wa Malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi ya aiyuhallazina amanu shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.
Setelah itu sampailah Khatib ke atas Mimbar, maka ia memberi salam demikian bunyinya:”Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh!” Setelah itu maka ia duduk, maka Bilal pun Bang-lah dua orang sekali. Setelah itu, maka Bilal pun mengatakan:” ‘An Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu hingga akhirnya.
Setelah itu, maka Khatib pun mengatakan:”Alhamdulillah”, maka membaca Khutbah ia dengan dua Khutbah. Setelah selesailah ia daripada membaca Khutbah itu, maka Penghulu Bilal pun qamatlah ia. Setelah sudah qamat, maka Imam pun akan sembahyang Jum’at bersama-sama makmum dua rakaat suatu salam.
Setelah itu maka membaca tasbih dan membaca do’a akan Hadliratun Nabi dan do’a khair akan Syah Alam. Setelah itu, maka sembahyang Sunat empat rakaat dua salam. Setelah itu maka disingkap oranglah tirai kelambunya, maka Hadlarat Syah Alam pun bersabda memanggil Kadli dan segala Orang Kaya-Orang Kaya dan segala Hulubalang, maka Bujang pun pergi menyangjung sabda Yang Maha Mulia.
Setelah sudah sekalian mereka itu menyanjung, maka tirai pun diterapinyalah, lalu Syah Alam pun berangkatlah bertapak dari dalam jerajak ke kisi, lalu ke Astaka hinggalah sampailah ke atas “mahligai kerajaan”. Maka genderang pun dipalu oranglah. Dan segala Hulubalang pun bersegeralah masing-masing memakai keris-pedang sepertinya, serta mengiringi Hadlarat Syah Alam kembali dari Mesjid Baiturrahman”.

Menarik memang, membahas kembali warisan kebudayaan Aceh yang terkandung dalam manuskrip(arsip) Kerajaan Aceh Darussalam yang masih tersisa itu. Amat disayangkan, hingga kini manuskrip itu masih termuat dalam majalah/Jurnal bangsa Belanda Verhandelingen no. XXVI, tersimpan di Pustaka Ali Hasjmy, Banda Aceh. Sudah lebih setengah abad(sejak tahun 1958) seperti itu, padahal lembaga-lembaga yang terkait pendidikan dan kebudayaan cukup banyak di Provinsi Aceh, tak cukup sepuluh jari untuk menghitungnya. Inilah pertanda kebudayaan Aceh semakin terpuruk dan buruk keadaannya.

T.A. Sakti
Peminat dan Pencinta Manuskrip Aceh,
Tinggal di Banda Aceh. Email: t.abdullah sakti@gmail.com

Catatan buat Redaksi: nama asli saya T.Abdullah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s