Dosen IKIP mencari jangkerik, benarkah?

Dosen IKIP  mencari Jangkerik, benarkah?
Oleh
C.O. Napitupulu

Dalam sambutannya dalam upacara pelantikan 45 sarjana lulusan IKIP Medan, baru-baru ini Drs. Djaunar Sitinjak bekas Pembantu Dekan III di IKIP Medan itu menyatakan, dewasa ini sudah menjadi rencana umum, Dosen banyak mencari tambahan penghasilan di luar gaji. Ada yang pedagang bahkan ada yang mencari jengkerik untuk makanan burung. Sedangkan dia sendiri, katanya, terpaksa menjadi supir pada malam hari untuk menambah gaji. (Waspada, 16 Juni 1984).

IKIP DAN PERANANNYA

IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan. Sesuai dengan namanya, “institut” yang berarti lembaga maka IKIP adalah Lembaga Pendidikan. Ditinjau dari segi tingkatan atau jenjang pendidikan, IKIP tergolong perguruan tinggi di bawahi dan dibina Dirjen Perguruan Tinggi.
Sebagai perguruan tinggi, IKIP adalah pula wawasan Ibu Asuh yang fungsinya mengasuh manusia-manusia yang ada di dalamnya menjadi manusia ilmuwan. Tepatnya mengasuh para mahasiswa menjadi manusia ilmuwan. Ibu Asuh, dalam istilah popular disebut Alma Mater sebagai lembaga ilmiah yang ditandai dengan kampus masyarakat ilmiah.
Tidak beda dengan Perguruan Tinggai lain, sebagai lembaga ilmiah tempat mempersiapkan calon-calon ilmuwan, IKIP juga melaksanakan program Trikarya, yaitu institusionalisasi, profesionalisasi, dan transpolitisasi.
Berkaitan dengan ciri khas IKIP, melalui profesionalisasi mahasiswa sebagai calon ilmuwan dibina, dilatih sehingga memiliki kemampuan dalam suatu vokasi atau profesi. Profesi yang dimasudkan disini bukan sekedar pekerjaan “vocation”. Melainkan suatu vokasi khusus yang ditandai oleh cirri expertise (keahlian), responsibility (tanggung jawab), dan corporatenes (kesejawatan).
Ciri khas IKIP dimaksud dapat disimak melalui kurikulumnya. Sesuai dengan program profesionalisasi disebut di atas, kurikulum IKIP secara khusus bertujuan memproduksi tenaga dari itu sebagai perguruan IKIP adalah lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang memiliki “karakteristik” tersendiri sehingga berbeda dengan perguruan tinggi lainnya. Karakteristik mana menggambarkan kualifikasi lulusan untuk menduduki suatu jabatan tertentu yaitu guru.
Tidak beda dengan LPTK lainnya, Kurikulum IKIP menganut pendekatan yang berorientasi kepada tujuan, yaitu lulusan yang selain memiliki pengetahuan siap menjadi  sumber informasi bagi anak didiknya, juga keterampilan mengajar merupakan pokok tak terabaikan dari tujuan. Sebab keterampilan mengajar dalam penampilannya sebagai guru di muka kelas di hadapan anak didiknya cukup menentukan keberhasilan proses belajar- mengajar.
Memperhatikan IKIP sebagai Ibu Asuh yang diperkuat ciri khasnya yang tercantum dalam tujuan institusionalnya sebagaimana diutarakan secara singkat di atas, kiranya dapat dimengerti betapa peranan IKIP dalam pengadaan tenaga-tenaga pendidik melalui tenaga pengelolanya terutama dosen. (Dosen, sebutan terhadap guru yang mengajar di perguruan tinggi). Itu berarti bahwa dosen IKIP adalah guru dari guru yang oleh pemerintah diangkat dan ditetapkan dari kalangan sarjana pendidikan pula.

BAGAIMANA JADINYA?

Apa yang diutarakan Drs.Djaunur Sitinjak, seperti dikutip di atas itu mungkin benar adanya. Tidak kurang jumlah dosen yang mengalihkan sebagian tenaga dan dan pemikirannya mencari tambahan penghasilan di luar gaji. Banyak yang menjadi pedagang, honor di berbagai perguruan tinggi swasta atau berbagai SMTA dan SMTP swasta. Lumayan sebab masih dalam lingkungan pendidikan. Bagaimana kalau seorang dosen harus bekerja menjadi pedagang loak? Seperti terlihat di Jalan Hokkian Medan, menjadi pedagang jual-beli/tukar-tambah kendaraan bermotor? Ada pula yang menjadi pemborong bangunan, menjadi rekanan para pimpro di daerah ini.
Suatu hal barang kali baru pernah terungkap, yang barangkali pula mengagetkan para pembaca sebagaimana penulis merasakannya, ialah adanya kalangan dosen IKIP yang mencari Jangkerik. Apakah ini yang mereka lakukan sekedar hobby atau untuk keperluan ternak burung sekedar penambah penghasilan, entahlah. Yang jelas menurut Drs.Djaunar Sitinjak, ada kalangan dosen IKIP mencari Jangkerik.
Dalam tulisan ini tidak dipertanyakan apa sebabnya kalangan dosen IKIP harus bertugas di luar tugas pokoknya, sebab jawabnya mudah sekali. Selain system pengajian yang masih terasa belum wajar bagi guru, termasuk bagi dosen, jam mengajar dari seorang dosen sangat minim. Jauh di bawah jam wajib guru SMTP dan SMTA. Kalau jam wajib guru SMTP-SMTA 24 jam perminggu dan SD 36 jam, jam wajib dosen di perguruan tinggi barangkali sampai saat ini masih 2 jam. Kelonggaran ini memberi peluang bagi para dosen mencari penghasilan tambahan di luar gaji.
Namun, apapun alasannya, tindakan itu akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas pokoknya. Dedikasi dan disiplin kerja pasti menurun. Itu sudah pasti, tidak dapat dielak. Sebab pelaksanaan tugas lain menuntut terbaginya tenaga dan pemikiran sehingga tidak sepenuhnya tertuju pada tugas pokok. Hal ini cenderung menimbulkan pertanyaan yang mungkin sulit untuk menjawabnya “mau dibawa kemana pendidikan kita? Bagaimana jadinya mutu pendidikan yang selama ini didambakan? Peningkatan dicanangkan. Berbagai upaya dilakukan melalui lembaga pendidikan tenaga kependidikan diharapkan tenaga guru yang kualifait. Bagaimana mungkin diperoleh? Sebab gurunya sudah berbuat dan bertindak tidak semestinya. Kalau dosen sudah demikian, bagaimana pula calon guru yang diproduksinya harus berbuat? Barangkali lebih parah lagi. Sebab bagaimanapun, tindakan dan perilaku dosen akan dicontoh mahasiswa sebagai calon guru.

HARAPAN TERHADAP DOSEN IKIP
Sebagai seorang sarjana pendidikan yang diangkat dan dipercayakan pemerintah menjadi dosen di IKIP, dalam arti menjadi guru dari guru, maka bagaimana seharusnya seorang dosen bertindak dan berbuat?
Kita harapkan, sebagai seorang sarjana dosen IKIP hendaknya mampu mengembangkan dan menerapkan pengetahuan intelektualnya di tengah masyarakat, sebab seorang sarjana dituntut pengembangan karir di tengah-tengah masyarakat, kreativitas seorang sarjana dituntut oleh masyarakat, karenanya sebagai seorang sarjana selalu harus siap belajar di tengah masyarakat, sebab secara praktis apa yang dulunya diperoleh di perguruan tinggi terkadang tidak relavan dengan kehendak masyarakat. Untuk menghadapi masyarakat, seorang sarjana harus mampu memproyeksikan apa yang diterima di bangku kuliah dulu. Kemampuan demikian ini menjadi bukti keberhasilan seorang sarjana menerobos keterbelakangan masyarakat.
Sebagai seorang sarjana dalam tugas sebagai dosen dengan arti guru dari guru, seharusnya bertindak dan berbuat menjadi panutan mahasiswa sebagai calon guru. Bertitik tolak dari kesadaran berbangsa dan bernegara, seorang dosen hendaknya bertindak dan berbuat di atas kepribadian luhur. Baik penampilan di depan masyarakat, maupun dalam penampilannya di hadapan mahasiswanya dari seorang dosen dituntut selain ilmu pengetahuan yang memungkinkan ia menjadi sumber informasi bagi mahasiswanya, juga keterampilannya mengajar. Keterampilan mengajar dalam arti dapat mengarahkan dan membuat mahasiswa berhasil belajar akan memberi arti bagi mahasiswa sebagai calon guru. Melalui keterampilan mengajar yang demikian ini mahasiswa akan dapat berinkulturasi dan menyimaknya. Sehingga kelak apabila dia diangkat menjadi guru di salah satu SMTP atau SMTA akan mampu bertindak dan berbuat demikian, karena memang sebelumnya sudah terbiasa.
Begitulah nian bila diinginkan guru yang kualifait, dan begitu pulalah adanya bila diinginkan mutu pendidikan yang relevan dengan tuntutan pembangunan, sebagaimana kita harapkan bersama!!!***

(Sumber: Hr. Waspada, Kamis, 28 Juni 1984 hlm. IV)

 

*Catatan: Sengaja tulisan yang berjudul “Dosen IKIP mencari Jangkerik, benarkah?” saya posting pada tgl. 24 November 2015(lihat tanggal situs blog!), karena hari Selasa, 24 November 2015/12 Shafar 1437  jam 11.00 saya mengikuti Sidang/Seminar Hasil Penelitian Tesis yang berjudul “Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang” di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Oleh karena saya bertugas sebagai dosen FKIP Unsyiah, maka patut pula dibuat sebuah artikel “Dosen FKIP Mencari Ilmu, Benarkah?”. Lebih-lebih lagi, hari ini, 24 November 2015 adalah “Hari Guru Nasional”; bakal muncul pertanyaan lain: ………………… …………………….  ………………………….!.

Bale Tambeh, Rabu dinihari, 25 November 2015, pkl. 4.29, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s