Ketika Sastrawan datangi Sekolah-Sekolah

Ketika Sastrawan datangi Sekolah-Sekolah

Rasa prihatin atas rendahnya minat baca, menulis atau mengarang serta kemajuan dan kemapuan mengapresiasi karya sastra pada generasi muda, membuat para sastrawan bergerak melakukan strategi jemput bola.
“Ya, Allah, sudah 50 tahun pengajaran sastra (budaya) dipinggirkan selama ini kami hanya menonton dan ditonton dipinggir jalan. Kami ingin membangun kembali minat baca dan mengarang di kalangan siswa-siswa sekolah,” papar penyair kawakan Taufiq Ismail saat jumpa pers program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya. Sastrawan Bicara, Mahasiwa Membaca, di kantor majalah Horison, Rabu lalu.
Kegiatan tersebut, terang Taufiq, untuk menjawab kemerosotan kemampuan anak didik dalam membaca, menulis dan mengapresiasi sastra. “ Ini merupakan salah satu solusi penting untuk menghidupkan kembali keterampilan sastra dan bahasa di kalangan anak didik,” tegas sastrawan papan atas di Indonesia itu.
Taufiq mengatakan, sejak 1 Januari 1950 kita terlalu melebih-lebihkan eksakta dan ilmu sosial, sehingga banyak murid yang kurang suka membaca dan tak bisa mengarang. Berangkat dari kondisi ini berkolerasi dengan rendahnya apresiasi sastra. Taufiq berpendapat ada sikap dan kebijaksanaan kurikulum dan meremehkan pengajaran bahasa dan sastra.
“Selama ini jika saya menghadapi para pejabat pendidikan untuk merespon soal pengajaran sastra dan bahasa belum ada yang antusias. Kalau ndak langsung menolak, ya mereka cuma berkata nanti dulu sajalah soal bahasa itu…,” ungkapnya. Padahal, sambung Taufiq, dengan tingginya budaya membaca lewat pelajaran bahasa itu, juga mendorong murid untuk membaca pengetahuan lainnya, seperti geografi, sejarah, hukum, ekonomi, kimia dan lainnya.
Program pengajaran sastra untuk anak sekolah yang dikoordinasi Yayasan Indonesia, penerbit majalah Horison, dan sepenuhnya didanai Ford Foudation ini akan berlangsung di 30 SMU, Madrasah Aliyah Negeri, Sekolah Menengah Kejuruan dan pesantren yang tersebar di 20 kota di Pulau Jawa.
Sastrawan yang akan datang kesekolah-sekolah di propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta tersebut berjumlah 47 orang, antara lain Taufiq Ismail, Hamid Djabbar, Hamsad Rangkuti, Agus S Sardjono, Ismail Murahimin, Sutarji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Ayu Utami, Helvy Tiana Rosa, Mustofa Bisri, Nano Riantiarno dan lainnya. Dalam acara yang berlangsung mulai 21-26 Februari 2000 dan 20 Maret-22 April 2000 ini para sastraan akan berkisah tentang proses kreatifnya dan juga membacakan karyanya, seperti puisi, cerpen, penggalan novel atau petikan naskah dramanya.
Tak hanya sampai pada murid sekolah menengah atas, program yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia ini juga menggarap mahasiswa. Dengan tujuan memperkenalkan proses kreatif, pandangan hidup dan karya sastrawan bangsa serta meningkatkan budaya baca mahasiswa, para sastrawan juga datang ke kampus untuk berbicara. Untuk masa akademis 2000-2001, kegiatan ini baru akan dilangsungkan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia serta Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta sebanyak masing-masing enam kali dalam setahun kuliah.
Agar mahasiswa menguasai bahan sebelum sastrawan bicara, maka bagi mereka sebulan sebelumnya dibagikan 25 buah buku karya sastrawan bersangkutan untuk dipelajari.” Mereka diharapkan akan lebih siap berdiskusi dan memperoleh manfaat optimum dari kedatangan sastrawan tersebut, “tutur Taufiq.
Target akhir dari program ini, ungkap Taufiq adalah memasukkan pengajaran sastra yang memadai dalam kurikulum nasional.” Sehingga sastra kita bisa maju,” ujarnya. Sedangkan, penyair Hamid Djabbar menegaskan rencana jangka panjang ‘kelompok sastrawan peduli sastra’ ini adalah melakukan perombakan paradigma kurikulum nasional.
“Kita ingin merombak cara memandang pembangunan pendidikan secara keseluruhan tanpa menyisihkan sastra. Kegiatan ini tidak hanya sekedar menambal kekurangan yang ada, tapi untuk meyakinkan bahwa sastra itu juga bagian integral dari pembangunan budaya dan pembentuk karakter bangsa,” cetus aktivis Partai Bulan BIntang ini.
Philip Yampolsky, Program Officer The Ford Foundation untuk Indonesia, mengatakan jika program ini sukses dan berlangsung sesuai harapan tak menutup kemungkinan untuk dibantu terus-menerus pendanaannya untuk tahap selanjutnya. “Tapi itu sangat tergantung pada keberhasilan program ini sendiri,”ujarnya. Yampolsky menilai program ini merupakan saran kreatif terhadap masalah mundurnya apresiasi sastra di kalangan anak didik.
Sebelum program ini, Taufiq Ismali telah mengadakan Diklat Apresiasi Sastra, Membaca dan Menulis bagi guru bahasa dan sastra di SMU se-Indonesia pada tahun lalu. Kegiatan yang justru di biayai lewat Bappenas, bukan Depdikbud (dulu), ini akhirnya dicanangkan menjadi program yang berkelanjutan.” Intinya kita melihat kurikulum pengajaran bahasa dan sastra kita yang perlu dikaji kembali, ternyata itu tidak mudah sama sekali. Untuk mencapai solusi itu kita harus menembus hutan belantara yang luar biasa hebatnya,” paparnya hingga pada akhirnya, sambung Taufiq, Bappenas mempersilahkannya untuk presentasi tentang penanggulangan kemerosotan pengajaran sastra di sekolah-sekolah.
Yeni guru bahasa dan sastra SMUN 100 Jakarta Timur, yang mengikuti diklat tersebut mengungkapkan bahwa pelajaran sastra yang ada begitu instan. “Murid hampir tak tahu buku-buku sastra yang ada. Mereka hanya membaca sinopsis umum yang ada di buku pelajaran. Memang, di situ sudah mengandung instrinsik sastra, “ungkapannya. Selain itu, sambung Yeni pelajaran sastra juga cenderung pada teori. Hal ini disebabkan dalam UUB (Ulangan Umum Bersama) dan Ebtanas yang ditanya teori, maka murid cukup membaca sinopsis saja,” ujarnya.
Tentang kebiasaan menulis papar Yeni, selama ini tema yang diajukan dalam buku pelajaran sudah ditentukan. “pemikiran murid jadi tergiring, tak ada keleluasaan dan kreatifitas. Itulah, kurikulum harus ditinjau kembali kalau ekstremnya tak ingin diubah. Dan untuk melakukan peninjauan kurikulum itu sebaiknya juga melibatkan para guru yang ada di lapangan, “tandasnya

.* ratu ratna damayani
( Sumber: Republika, Jum’at, 18 Februari 2000, hlm. 2..)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s