Antara Rantopanyang dan ZILS

Antara Rantopanyang dan ZILS
Oleh: ADNAN ABDULLAH – Dosen FKIP Unsyiah

Antara Rantopanyang dan kawasan Industri sekitar Lhokseumawe (ZILS) ada perbedaan rona sosial budaya. Perbedaan itu antara lain berkaitan dengan proses pertumbuhan dan keberadaan unit-unit ekonomi mengolah sumber alam pada masing-masing kawasan itu. Sumber minyak bumi yang terdapar di Rantopanyang, Peureulak, telah diusahakan BPM sejak masa penjajahan Belanda. Kemudian dilanjutkan oleh Permina dan mulai permulaan tahun-tahun 60-an beralih kepada Asamera Oil Co yang berpatungan dengan Pertamina. Sedangkan kawan industry sekitar Lhokseumawe baru muncul dalam tahun 70-an dengan laju perkembangan yang sangat pesat.
Pad waktu BPM menggali sumur-sumur minyak, kawasan Rantopanyang masih merupakan hutan belukar yang belum dihuni manusia. Meskipun jalan untuk memudahkan lalulintas sudah dibuka, namun penduduk yang tertarik untuk bermukim ke sana belum banyak jumlahnya. Yang tinggal menetap di sana umumnya terbatas hanya buruh tambang. Mereka tinggal mengelompok dalam satu lingkungan pemukiman yang jauh terpencil dari masyarakat setempat. Suasana penjajahan juga meredam gejolak interaksi sosial antara buruh tambang dan masyarakat sekitar yang berada jauh di luar kawasan perusahaan.
Sebaliknya ketika perusahaan industry memasuki kawasan pemukiman sekitar Lhokseumawe di awal tahun 70-an, ia menjumpai kelompok-kelompok masyarakat yang selama bergenerasi mengembangkan sistem sosial budaya, sistem ekonomi, sistem kekerabatan dan sistem kepercayaan dengan ciri-cirinya yang khas. Kehadiran perusahaan industri di kawasan tersebut telah membentuk gelembung-gelembung modernisasi di tengah samudra keterbelakangan. Meskipun bermacam pria sarana, sarana, dan peluang tersedia, namun yang berhasil memanfaatkannya masih terbatas jumlahnya. Kebanyakan penduduk setempat lebih melihat kehadiran berbagai prasarana, sarana, dan peluang itu sebagai sumber gangguan: polusi air dan udara, pemukiman yang semakin sesak, meningginya temperatur, kenaikan harga barang-barang, dan perbedaan yang mencolok dalm gaya hidup.
Namun jauh di balik relungan sanubari mereka terbersit sekelumit perasaan bangga adanya perusahaan industri dan pertumbuhan usaha-usaha lain di kawasan pemukiman mereka. Begitu pula dengan meluasnya pola dan gaya hidup baru yang kelihatannya lebih modern. Bagi kebanyakan warga masyarakat setempat berbagai kemajuan tersebut menarik untuk dipandang mata, kendatipun milik orang lain. Memang kehadiran perusahaan industry telah membawa perubahan secara meluas pada bagian terbesar warga masyarakat . Perubahan itu ada yang muncul sebagai pengaruh dari luar, di samping ada pula yang bersumber dari dinamika sosial budaya mereka sendiri. Struktur sosial mengalami perbesaran skala dan peta sosial ekonomi masyarakat menjadi lebih kompleks. Hadirnya industry telah mendorong mereka untuk berupaya mendapatkan pekerjaan dalam bidang apa saja, selain usaha tani, yang cepat menghasilkan uang.
Gambaran di atas tampak berbeda dengan apa yang bisa diamati di kawasan perusahaan tambang minyak Rantopanyang. Keberadaan perusahaan itu seakan-akan larut dalam suasana keterbelakangan setempat. Di sana tidak dijumpai prasarana dan sarana yang mewah dan modern, seperti toko swalayan, mesjid yang mewah, hotel berbintang, telekomunikasi modern, ataupun peralatan teknologi mutakhir.

Gelembung-gelembung modernisasi dan kemewahan kurang kentara tampak di permukaan. Kendatipun pendapatan para karyawan rata-rata juga tergolong tinggi, namun kebutuhan sehari-hari mereka penuhi dari pasar lokal dan mereka tinggal pada rumah-rumah sewa yang kondisinya tidak berbeda secara mencolok dengan pemukim di sekitarnya. Pemukiman di sekitar lingkungan perusahaan tampak bebas memanfaatkan lahan-lahan kosong yang dikuasai perusahaan sebagai ladang usaha. Keadaan lingkungan sekitar perusahaan masih terkesan sebagai kawasan hutan yang memberikan suasana teduh dan nyaman.

Tetapi, apa arti perbedaan yang diungkapkan di atas itu, terutama bila dilihat dari segi peningkatan harapan dan terbukanya peluang. Hal ini kiranya penting lebih-lebih bila dikaitkan dengan makna pembangunan, yaitu untuk meningkatkan harapan di satu pihak dan memperbesar peluang pada pihak lain. Jawaban atas persoalan tersebut dapat dikaitkan dengan aspirasi yang berkembang seiring dengan lahirnya perusahaan-perusahaan berskala besar. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspirasi yang berkembang dan melatarbelakangi kehadiran perusahaan pengolah sumber alam di kedua kawasan itu. Pertama, aspirasi pemerintah yang menitik beratkan keberadaan perusahaan tersebut kepada peningkatan pemasukan devisa bagi negara, yang sekaligus juga berarti meningkatkan pendapatan nasional. Di balik itu pemerintah juga mensyaratkan bahwa dampak negatif itu langsung tertuju pada tata ruang kependudukan, dan ketenagakerjaan.
Kedua aspirasi perusahaan itu sendiri yang menginginkan keterjaminan tecapainya produktivitas yang maksimal tanpa ada gangguan dari lingkungan sekitar terhadap peralatan teknis serta karyawan dan keluarga mereka. Sedangkan yang ketiga adalah aspirasi yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, bahkan kehadiran perusahaan tidak menimbulkan dampak negatif, bahkan sebaliknya dapat membuka peluang kerja baru di luar bidang usaha tani, yang berarti bagi mereka.
Adanya keselarasan di antara ketiga aspirasi yang disebutkan di atas kiranya dapat dijadikan barometer dalam menilai keberadaan sesuatu perusahaan. Penonjolan aspirasi pemerintah yang berlebih-lebihan bisa melahirkan perilaku sewenang-wenang. Memberikan keleluasaan bagi aspirasi pengusaha dapat menimbulkan keserakahan. Mementingkan aspirasi masyarakat semata-mata akan menyebabkan inefisiensi.
Bagi Indonesia, pembangunan merupakan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan, mewujudkan persatuan dan kedaulatan serta meratakan keadilan dan kemakmuran.

(Sumber: Serambi Indonesia, 10 Agustus 1989, hlm. 4/Opini)

*Catatan: Bagi pembaca pada era reformasi sekarang, tulisan di atas terasa tidak menggigit atau hambar,biasa saja. Namun bagi pembaca di era Orde Baru-10 Agustus 1989, saat tulisan ini dimuat Serambi- artikel itu amat tajam dan melukai!. Bale Tambeh, 10 Nopember 2015 pkl. 7:09 wib. pagi, Selamat Hari Pahlawah!. Ingat Tgk Abdul Jalil Cot Plieng, Bayu. T.A.Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s