Dosen IKIP mencari jangkerik, benarkah?

Dosen IKIP  mencari Jangkerik, benarkah?
Oleh
C.O. Napitupulu

Dalam sambutannya dalam upacara pelantikan 45 sarjana lulusan IKIP Medan, baru-baru ini Drs. Djaunar Sitinjak bekas Pembantu Dekan III di IKIP Medan itu menyatakan, dewasa ini sudah menjadi rencana umum, Dosen banyak mencari tambahan penghasilan di luar gaji. Ada yang pedagang bahkan ada yang mencari jengkerik untuk makanan burung. Sedangkan dia sendiri, katanya, terpaksa menjadi supir pada malam hari untuk menambah gaji. (Waspada, 16 Juni 1984).

IKIP DAN PERANANNYA

IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan. Sesuai dengan namanya, “institut” yang berarti lembaga maka IKIP adalah Lembaga Pendidikan. Ditinjau dari segi tingkatan atau jenjang pendidikan, IKIP tergolong perguruan tinggi di bawahi dan dibina Dirjen Perguruan Tinggi.
Sebagai perguruan tinggi, IKIP adalah pula wawasan Ibu Asuh yang fungsinya mengasuh manusia-manusia yang ada di dalamnya menjadi manusia ilmuwan. Tepatnya mengasuh para mahasiswa menjadi manusia ilmuwan. Ibu Asuh, dalam istilah popular disebut Alma Mater sebagai lembaga ilmiah yang ditandai dengan kampus masyarakat ilmiah.
Tidak beda dengan Perguruan Tinggai lain, sebagai lembaga ilmiah tempat mempersiapkan calon-calon ilmuwan, IKIP juga melaksanakan program Trikarya, yaitu institusionalisasi, profesionalisasi, dan transpolitisasi.
Berkaitan dengan ciri khas IKIP, melalui profesionalisasi mahasiswa sebagai calon ilmuwan dibina, dilatih sehingga memiliki kemampuan dalam suatu vokasi atau profesi. Profesi yang dimasudkan disini bukan sekedar pekerjaan “vocation”. Melainkan suatu vokasi khusus yang ditandai oleh cirri expertise (keahlian), responsibility (tanggung jawab), dan corporatenes (kesejawatan).
Ciri khas IKIP dimaksud dapat disimak melalui kurikulumnya. Sesuai dengan program profesionalisasi disebut di atas, kurikulum IKIP secara khusus bertujuan memproduksi tenaga dari itu sebagai perguruan IKIP adalah lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang memiliki “karakteristik” tersendiri sehingga berbeda dengan perguruan tinggi lainnya. Karakteristik mana menggambarkan kualifikasi lulusan untuk menduduki suatu jabatan tertentu yaitu guru.
Tidak beda dengan LPTK lainnya, Kurikulum IKIP menganut pendekatan yang berorientasi kepada tujuan, yaitu lulusan yang selain memiliki pengetahuan siap menjadi  sumber informasi bagi anak didiknya, juga keterampilan mengajar merupakan pokok tak terabaikan dari tujuan. Sebab keterampilan mengajar dalam penampilannya sebagai guru di muka kelas di hadapan anak didiknya cukup menentukan keberhasilan proses belajar- mengajar.
Memperhatikan IKIP sebagai Ibu Asuh yang diperkuat ciri khasnya yang tercantum dalam tujuan institusionalnya sebagaimana diutarakan secara singkat di atas, kiranya dapat dimengerti betapa peranan IKIP dalam pengadaan tenaga-tenaga pendidik melalui tenaga pengelolanya terutama dosen. (Dosen, sebutan terhadap guru yang mengajar di perguruan tinggi). Itu berarti bahwa dosen IKIP adalah guru dari guru yang oleh pemerintah diangkat dan ditetapkan dari kalangan sarjana pendidikan pula.

BAGAIMANA JADINYA?

Apa yang diutarakan Drs.Djaunur Sitinjak, seperti dikutip di atas itu mungkin benar adanya. Tidak kurang jumlah dosen yang mengalihkan sebagian tenaga dan dan pemikirannya mencari tambahan penghasilan di luar gaji. Banyak yang menjadi pedagang, honor di berbagai perguruan tinggi swasta atau berbagai SMTA dan SMTP swasta. Lumayan sebab masih dalam lingkungan pendidikan. Bagaimana kalau seorang dosen harus bekerja menjadi pedagang loak? Seperti terlihat di Jalan Hokkian Medan, menjadi pedagang jual-beli/tukar-tambah kendaraan bermotor? Ada pula yang menjadi pemborong bangunan, menjadi rekanan para pimpro di daerah ini.
Suatu hal barang kali baru pernah terungkap, yang barangkali pula mengagetkan para pembaca sebagaimana penulis merasakannya, ialah adanya kalangan dosen IKIP yang mencari Jangkerik. Apakah ini yang mereka lakukan sekedar hobby atau untuk keperluan ternak burung sekedar penambah penghasilan, entahlah. Yang jelas menurut Drs.Djaunar Sitinjak, ada kalangan dosen IKIP mencari Jangkerik.
Dalam tulisan ini tidak dipertanyakan apa sebabnya kalangan dosen IKIP harus bertugas di luar tugas pokoknya, sebab jawabnya mudah sekali. Selain system pengajian yang masih terasa belum wajar bagi guru, termasuk bagi dosen, jam mengajar dari seorang dosen sangat minim. Jauh di bawah jam wajib guru SMTP dan SMTA. Kalau jam wajib guru SMTP-SMTA 24 jam perminggu dan SD 36 jam, jam wajib dosen di perguruan tinggi barangkali sampai saat ini masih 2 jam. Kelonggaran ini memberi peluang bagi para dosen mencari penghasilan tambahan di luar gaji.
Namun, apapun alasannya, tindakan itu akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas pokoknya. Dedikasi dan disiplin kerja pasti menurun. Itu sudah pasti, tidak dapat dielak. Sebab pelaksanaan tugas lain menuntut terbaginya tenaga dan pemikiran sehingga tidak sepenuhnya tertuju pada tugas pokok. Hal ini cenderung menimbulkan pertanyaan yang mungkin sulit untuk menjawabnya “mau dibawa kemana pendidikan kita? Bagaimana jadinya mutu pendidikan yang selama ini didambakan? Peningkatan dicanangkan. Berbagai upaya dilakukan melalui lembaga pendidikan tenaga kependidikan diharapkan tenaga guru yang kualifait. Bagaimana mungkin diperoleh? Sebab gurunya sudah berbuat dan bertindak tidak semestinya. Kalau dosen sudah demikian, bagaimana pula calon guru yang diproduksinya harus berbuat? Barangkali lebih parah lagi. Sebab bagaimanapun, tindakan dan perilaku dosen akan dicontoh mahasiswa sebagai calon guru.

HARAPAN TERHADAP DOSEN IKIP
Sebagai seorang sarjana pendidikan yang diangkat dan dipercayakan pemerintah menjadi dosen di IKIP, dalam arti menjadi guru dari guru, maka bagaimana seharusnya seorang dosen bertindak dan berbuat?
Kita harapkan, sebagai seorang sarjana dosen IKIP hendaknya mampu mengembangkan dan menerapkan pengetahuan intelektualnya di tengah masyarakat, sebab seorang sarjana dituntut pengembangan karir di tengah-tengah masyarakat, kreativitas seorang sarjana dituntut oleh masyarakat, karenanya sebagai seorang sarjana selalu harus siap belajar di tengah masyarakat, sebab secara praktis apa yang dulunya diperoleh di perguruan tinggi terkadang tidak relavan dengan kehendak masyarakat. Untuk menghadapi masyarakat, seorang sarjana harus mampu memproyeksikan apa yang diterima di bangku kuliah dulu. Kemampuan demikian ini menjadi bukti keberhasilan seorang sarjana menerobos keterbelakangan masyarakat.
Sebagai seorang sarjana dalam tugas sebagai dosen dengan arti guru dari guru, seharusnya bertindak dan berbuat menjadi panutan mahasiswa sebagai calon guru. Bertitik tolak dari kesadaran berbangsa dan bernegara, seorang dosen hendaknya bertindak dan berbuat di atas kepribadian luhur. Baik penampilan di depan masyarakat, maupun dalam penampilannya di hadapan mahasiswanya dari seorang dosen dituntut selain ilmu pengetahuan yang memungkinkan ia menjadi sumber informasi bagi mahasiswanya, juga keterampilannya mengajar. Keterampilan mengajar dalam arti dapat mengarahkan dan membuat mahasiswa berhasil belajar akan memberi arti bagi mahasiswa sebagai calon guru. Melalui keterampilan mengajar yang demikian ini mahasiswa akan dapat berinkulturasi dan menyimaknya. Sehingga kelak apabila dia diangkat menjadi guru di salah satu SMTP atau SMTA akan mampu bertindak dan berbuat demikian, karena memang sebelumnya sudah terbiasa.
Begitulah nian bila diinginkan guru yang kualifait, dan begitu pulalah adanya bila diinginkan mutu pendidikan yang relevan dengan tuntutan pembangunan, sebagaimana kita harapkan bersama!!!***

(Sumber: Hr. Waspada, Kamis, 28 Juni 1984 hlm. IV)

 

*Catatan: Sengaja tulisan yang berjudul “Dosen IKIP mencari Jangkerik, benarkah?” saya posting pada tgl. 24 November 2015(lihat tanggal situs blog!), karena hari Selasa, 24 November 2015/12 Shafar 1437  jam 11.00 saya mengikuti Sidang/Seminar Hasil Penelitian Tesis yang berjudul “Historiografi Lokal di Aceh, Studi Terhadap Hikayat Malem Dagang” di Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Oleh karena saya bertugas sebagai dosen FKIP Unsyiah, maka patut pula dibuat sebuah artikel “Dosen FKIP Mencari Ilmu, Benarkah?”. Lebih-lebih lagi, hari ini, 24 November 2015 adalah “Hari Guru Nasional”; bakal muncul pertanyaan lain: ………………… …………………….  ………………………….!.

Bale Tambeh, Rabu dinihari, 25 November 2015, pkl. 4.29, T.A. Sakti.

Iklan

Mari Meluruskan Sejarah Imam Bonjol Yang Masih Kiwieng!

Meluruskan sejarah Imam Bonjol
Oleh: Yusuf A. Puar

Dalam sejarah Indonesia, Tuanku Imam Bonjol terkenal sebagai pemimpin perang Padri. Perang yang paling banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Belanda. Perang yang dilaksanakan secara frontal tersusun dan teratur dengan memakai segala macam alat peperangan yang ada pada waktu itu.
Ada beberapa kategori uraian yang perlu saya turunkan:
1. Tidak sedikit buku yang telah ditulis pengarang Belanda dan Indonesia tentang Perang Padri yang mengatakana setelah 16 tahun berperang, disudahi dengan babakan akhir, Imam Bonjol tahun 1837 ditawan Belanda; kesudahannya dibuang ke Manado dan wafat di sana tahun 1864.
Versi serupa yang ditulis Kementerian Penerangan RI berjudul Republik Indonesia – Propinsi Sumatera Tengah (1230 halaman, terbitan 1953) antara lain di halaman 47-48 mengatakan : Kota Bonjol sebagai kubu pertahanan utama tentara Perang Padri diduduki Belanda pada 16 Agustus 1837, semua ikhtiar dilakukan Belanda untuk menangkap Imam Bonjol, tetapi tidak ditemui.
Pada suatu hari Imam Bonjol menerima sepucuk surat dari Residen Belanda, Francis dari Padang, yang meminta agar beliau sudi datang ke Palupuh dekat Bukittinggi. Isi surat tersebut dipenuhinya karena beliau tidak mau lagi berurusan lagi dengan Belanda. Tetapi kemudian ternyata beliau kena tipu. Sesampainya dengan para pengiringnya di Palupuh, beliau dikepung serdadu-serdadu Belanda yang bersenjata lengkap dan beliau ditawan.
Beliau dibawa ke Padang dan dari sini diantarkan ke Betawi(Jakrta). Empat bulan kemudian dibuang ke Cianjur, Jawa Barat, sebagai seorang buangan tahanan politik. Akhirnya beliau dipindahkan ke Ambon. Tiga tahun kemudian (1841) beliau dipindahkan pula ke Manado, ditempatkan di desa Kumbi, Kuka dan lantas di Lotak. Di Lotak beliau menetap agak lama hungga wafat disini pada tahun 1864 (12 Zulhijjah 1283 H.) dalam usia 92 tahun.
2. Surat Terbuka Nasional ini adalah fakta sejarah yang pertama kali mengungkapkan untuk umum, bahwa yang ditawan di Palupuh itu (1837) bukan Imam Bonjol. Jadi otomatis yang bermakam di desa Lotak itu bukanlah beliau. Dan otomatis pula babakan sejarah Imam Bonjol seusainya Perang Padri, berpijak pada sumber yang keliru. Sekaligus membuktikan. Tuanku Imam Bonjol yang sebenarnya wafat di Bonjol dan dimakamkan di sana di pemakaman keluarga, persis di samping pusara ayahandanya Khatib Bayanuddin.
3. Dari pihak Padri yang datang berunding ke Palupuh itu ialah Tuanku Syahbuddin, salah seorang Imam Perang dan sahabat karib Imam Bonjol. Turut serta menemaninya berunding Haji Aminuddin, seorang kemenakan Imam Bonjol sendiri, sebagai siasat terhadap Belanda, bahwa yang mengepalai perundingan Palupuh itu benar-benar pribadi Imam Bonjol. Sampai sejauh begitu, Belanda tidak pasti mengenal wajah Imam Bonjol.
Yang mengatur siasat perundigan Palupuh itu ialah Tuanku Nan Tinggi (TNT); dulu seorang pemimpin berwibawa dalam Perang Padri yang kemudian diketahui mendekat kepada Belanda dan kemudian mengangkatnya sebagai Regent (setingkat lebih tinggi dari posisi yang sudah dihapuskan tahun 1918). Karena pengaruhnya yang besar, TNT yang sebenarnya bertalian saudara dengan Imam Bonjol itu diangkatlah oleh Belanda sebagai Regent.
Yang terjadi di Palupuh bukan pengepungan dan penawanan oleh pihak Belanda, tetapi pertemuan ramahtamah yang disutradai TNT. Terbayanglah tendensi, dalam susunan peserta dan perundingan itu, TNT yang mengatur siasat untuk menyelamatkan Imam Bonjol agar jangan jatuh ke tangan Belanda.
Dari Palupuh TNT membawa Tuanku Syahbuddin (TS) dan rombongannya melancong ke Padang Panjang, dan terus ke Padang. Sampailah mereka ke tepi laut dekat pesisir Muaro, tempat berlabuh sebuah kapal perang Belanda saat itu.
TNT bertanya kepada TS apakah barangkali ia ingin melihat-melihat ke dalam kapal itu. Karena TS setuju, ia dipersilahkan lebih dahulu naik ke kapal, sedangkan TNT masih tinggal di darat. Kapal yang sebenarnya sejak semula telah dipersiapkan oleh Belanda itu, segera berlayar ke Betawi.
Cerita ini disampaikan oleh Rasad, turunan ke-4 dari TNT, di Palembayan dekat Bonjol dalam tahun 1949 kepada T. Zainul Anwari (TZA) sebagai pengungkapan rahasia kaum yang tidak boleh diketahui Belanda. Istri TZA adalah Hamidah binti Abubakar, sedangkan Abubakar adalah turunan ke-3 TNT.
4. Imam Bonjol sewaktu lahir tahun 1772 di Bonjol bernama Muhammad Sahab, anak dari Khatib Bayanuddin, berasal dari desa Tanjung Bungo, Bonjol. Sewaktu pemuda ia bernama Peto Syarif; setelah menjadi ulama namanya ditukar jadi Tuanku Mudo. Kemudian menjadi Tuanku Imam Bonjol atas amanat dari Datuk Bandaharo, pemimpin pertama Padri, sewaktu beliau akan meninggal dunia. Imam Bonjol mempunyai pengikut yang banyak jumlahnya sejak sebelum meletusnya Perang Padri di tahun 1821 itu.
Ibu Imam Bonjol bernama Hamatun yang bersaudara laki-laki, bernama Syekh Said Usman dan keduanya adalah bangsa Arab asli. Kedua bersaudara itu mempunyai ibu asal Yaman Selatan dan ayahnya dari Aljazair yang telah lama bermukim di Maroko. Hamatun dan Syekh Said Usman sebagai mubaligh agama Islam akhirnya sampai ke pantai Sumatera di Sasak, di pantai Sumatera Barat.
Kemudian keduanya terpanggil ke Bonjol untuk mengajarkan agama Islam yang oleh Datuk Temenggung di sana, kepadanya diberi desa dan persawahan di Kampung Koto di Bonjol dan diterima masuk suku Koto. Syekh Said Usaman yang diberi gelar Datuk Bagindo Suman, diangkat jadi Kadi dan sejak itu ia secara turun temurun dengan menyandang gelar yang serupa sampai tahun 1950 adalah tetap jadi Kadi dalam kenegerian Ganggo Hilir di Bonjol.
Tuaku Laras (Kepala Daerah) pertama seusai Perang Padri yang bernama Naai Sutan Caniago menulis buku tebal (tanpa judul) dalam bahasa Minangkabau dialek Bonjol beraksara Arab. Kalimat-kalimat akhir dari buku yang mengandung indikasi tentang wafatnya Tuanku Imam Bonjol di Kampung Koto di Bonjol. Buku itu kini disimpan di Bonjol oleh Haji Kaharuddin dari suku Caniago (berusia sekitar 55 tahun) sebagai milik kaum.
Sebuah fotokopi lengkap dari buku tulisan tangan tersebut kini masih berada pada T. Zainul Anwar di Jakarta yang pernah menyampaikan kepada Prof Dr Prijono, Menteri Menko Pendidikan dan Kebudayaan RI(1957-1966) yang sebagai sarjana ahli Sejarah Kebudayaan dan Hukum Islam sanggup membacanya.TZA sendiri waktu itu pembantu menteri Koordinator Bidang Pendidikan, berkedudukan setingkat Sekjen.
5. Tentang kewafatan Imam Bonjol di Bonjol, TZA menerima amanat kaum dari Pahlawan Basa II (dua)yang menyampaikannya kepada TZA sendiri. Hal ini terjadi dalam tahun 1929 di Bonjol ketika TZA sebagai siswa kelas 6 HIS (Sekolah Rendah Belanda) di Bukittingi pulang ke kampungnya Bonjol untuk berkhitan dan bersunat Rasul. Pahlawan Basa I (Satu) adalah saudara dari Khatib Bayanuddin, yaitu ayahanda Imam Bonjol.
Pahlawan Basa II (Dua) mengungkapkan untuk pertama kali dan justru hanya kepada TZA sebagai calon menurut sislsilah adat, selaku Pahlawan Basa III (Tiga) tentang berkuburnya Imam Bonjol di Bonjol itu, yang harus amat dirahasiakan kepada siapapun, karena kalau Belanda mengetahuinya, tentu akan disuruh bongkar kuburan itu.
Bercerita Pahlawan Basa II (Dua) kepda TZA, bahwa tatkala Imam Bonjol dikuburkan di perkuburan kaum di tempat yang bernama Gelanggang di Bonjol itu, ia sudah pemuda, dan ikut pergi mengantar jenazah Imam Bonjol ke perkuburan tersebut.
Cerita yang serupa tentang penguburan Imam Bonjol didengar TZA juga dari Munyang Buniah (emak dari nenek TZA) yang pada saat bersejarah itu ia sudah meningkat jadi gadis kecil (gadis tanggung).
6. Hal-hal di atas ini yang dibeberkan panjang lebar oleh TZA kepada atasannya Prof. Prijono, diteruskan oleh keduanya kepada presiden Soekarno menjelang saat kemelut sebelum Bung Karno mengakhiri jabatan kepresidennya, agak lama sebelum beliau wafat pada 21 Juni 1970, Prijono sendiri telah mendahuluinya ke alam baka pada 6 Maret 1969.
Selanjutnya kemudian dengan restu TZA, lewat delegasi Mahasiswa Bonjol di Jakarta, dalam tahun 1979 hal-hal yang sama disampaikan kepada Wakil Presiden Adam Malik, dan kemudian kepada Menteri Emil Salim. Reaksinya baru sampai kepada anjuran agar TZA mengumpulkan lagi data-data domestik lebih luas tentang Imam Bonjol, termasuk bahan-bahan dari perpustakaan, dan kalau perlu TZA pergi menyelediki perpustakaan representasi di Leiden, Nederland, atas biaya kedua beliau ini.
Terhadap yang terakhir ini. TZA justru menyatakan tidak ada faedahnya karena semua buku sejarah tentang Imam Bonjol oleh para pengarangnya dan ahli sejarah Belanda bertolak dari pangkal, bahwa yang bermakam di Lotak itu adalah Imam Bonjol yang sebelumnya bernama Tuanku Mudo dan Peto Syarif yang ditawan Belanda di Palupuh.
7. Saya, Penulis Surat Terbuka Nasional ini, mengetahui agak banyak mengenai hal ini, baru dalam bulan Agustus 1982 langsung dari TZA dalam tiga kali pertemuan. Padahal jauh sebelumnya saya pernah mengunjungi Tanjung Bungo di Bonjol, dan menginap di Kampung Koto dekatnya (tahun 1948); juga telah mengunjugi “Makam Imam Bonjol” di Lotak itu (tahun 1965, sesudah mengunjungi di Tondano makam pahlawan Kyai Mojo, Wakil utama Pangeran Diponegoro).
Juga beberapa kali telah mendatangi sisa-sisa puing rumah Gadang Tuanku Nan Tinggi di Sungaipuar, Palembayan Kabupaten Agam (tahun 1945 dan seterusnya). Rumah gadang itu adalah yang terbesar di zamannya di seluruh Minangkabau yang terpampang di perbukitan desa Sungaipuar sebagai desa kelahiran ibu dari mendiang ayahku.
TZA sendiri selain dari turunan Basa I (satu) yang saudara dari khatib Bayanuddin (ayahanda Imam Bonjol) , TZA mempunyai ibu bernama Siti Rahmah, turunan ke-6 dari Hamatun (ibunda Imam Bonjol), jadi TZA adalah turunan ke-7 dari Hamatun tersebut(generasi ke-7 menurut garis “anak pisang secara matrilinial”).
8. TZA sendiri (66 tahun) yang kini telah lanjut usia, dan sudah mulai disinggahi penyakit tua, adalah pemegang amanat terakhir dari saksi-saksi hidup yang bisa bicara, bahwa yang dimakamkan di Lotak itu bukanlah Peto Syarif Tuanku Imam Bonjol. Kalau sampailah TZA dipanggil ke hadirat Tuhan sebelum problem nasional itu diselesaikan sebagaimana mestinya, maka 118 tahun kekeliruan sejarah (1864-1982) itu akan berkelanjutan sampai akhir zaman.
Sudah 145 tahun rahasia tentang pribadi Imam Bonjol disembunyikan (dihitung dari barakhirnya Perang Padri sampai kini: 1837-1945). Oleh beberapa orang pemuka Bonjol pemegang rahasia tentang hal ini sampai kepada TZA sekarang, kalau orang-orang bertanyakan tentang itu, maka diberi jawaban bahwa dalam pusara Imam Bonjol di Gelanggang di Bonjol itu hanya ditanami gigi dan rambut beliau, guna merahasiakan bukanlah seluruh jasadnya yang disemayamkan di tempat itu.
Inilah motif utama yang mendorong saya mencetuskan Surat Terbuka Nasional itu, mengungkapkannya secara umum dan polos, di samping sesuai dengan profesi saya sebagai pengarang beberapa buku dan cerita sejarah. Saya mengaharapkan sebanyak mungkin mediamassa kita turut membantu menyelesaikan problem nasional ini, termasuk mengadakan sambutan dan komentar. Juga tulisan saya ini dalam penerbitan anda, dan reaksi atasnya oleh peminat dan pengamat.

  • KIWIENG = BENGKOK
    (Sumber: Kompas, Februari 1983 hlm. 2)

Ketika Sastrawan datangi Sekolah-Sekolah

Ketika Sastrawan datangi Sekolah-Sekolah

Rasa prihatin atas rendahnya minat baca, menulis atau mengarang serta kemajuan dan kemapuan mengapresiasi karya sastra pada generasi muda, membuat para sastrawan bergerak melakukan strategi jemput bola.
“Ya, Allah, sudah 50 tahun pengajaran sastra (budaya) dipinggirkan selama ini kami hanya menonton dan ditonton dipinggir jalan. Kami ingin membangun kembali minat baca dan mengarang di kalangan siswa-siswa sekolah,” papar penyair kawakan Taufiq Ismail saat jumpa pers program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya. Sastrawan Bicara, Mahasiwa Membaca, di kantor majalah Horison, Rabu lalu.
Kegiatan tersebut, terang Taufiq, untuk menjawab kemerosotan kemampuan anak didik dalam membaca, menulis dan mengapresiasi sastra. “ Ini merupakan salah satu solusi penting untuk menghidupkan kembali keterampilan sastra dan bahasa di kalangan anak didik,” tegas sastrawan papan atas di Indonesia itu.
Taufiq mengatakan, sejak 1 Januari 1950 kita terlalu melebih-lebihkan eksakta dan ilmu sosial, sehingga banyak murid yang kurang suka membaca dan tak bisa mengarang. Berangkat dari kondisi ini berkolerasi dengan rendahnya apresiasi sastra. Taufiq berpendapat ada sikap dan kebijaksanaan kurikulum dan meremehkan pengajaran bahasa dan sastra.
“Selama ini jika saya menghadapi para pejabat pendidikan untuk merespon soal pengajaran sastra dan bahasa belum ada yang antusias. Kalau ndak langsung menolak, ya mereka cuma berkata nanti dulu sajalah soal bahasa itu…,” ungkapnya. Padahal, sambung Taufiq, dengan tingginya budaya membaca lewat pelajaran bahasa itu, juga mendorong murid untuk membaca pengetahuan lainnya, seperti geografi, sejarah, hukum, ekonomi, kimia dan lainnya.
Program pengajaran sastra untuk anak sekolah yang dikoordinasi Yayasan Indonesia, penerbit majalah Horison, dan sepenuhnya didanai Ford Foudation ini akan berlangsung di 30 SMU, Madrasah Aliyah Negeri, Sekolah Menengah Kejuruan dan pesantren yang tersebar di 20 kota di Pulau Jawa.
Sastrawan yang akan datang kesekolah-sekolah di propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta tersebut berjumlah 47 orang, antara lain Taufiq Ismail, Hamid Djabbar, Hamsad Rangkuti, Agus S Sardjono, Ismail Murahimin, Sutarji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Ayu Utami, Helvy Tiana Rosa, Mustofa Bisri, Nano Riantiarno dan lainnya. Dalam acara yang berlangsung mulai 21-26 Februari 2000 dan 20 Maret-22 April 2000 ini para sastraan akan berkisah tentang proses kreatifnya dan juga membacakan karyanya, seperti puisi, cerpen, penggalan novel atau petikan naskah dramanya.
Tak hanya sampai pada murid sekolah menengah atas, program yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia ini juga menggarap mahasiswa. Dengan tujuan memperkenalkan proses kreatif, pandangan hidup dan karya sastrawan bangsa serta meningkatkan budaya baca mahasiswa, para sastrawan juga datang ke kampus untuk berbicara. Untuk masa akademis 2000-2001, kegiatan ini baru akan dilangsungkan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia serta Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta sebanyak masing-masing enam kali dalam setahun kuliah.
Agar mahasiswa menguasai bahan sebelum sastrawan bicara, maka bagi mereka sebulan sebelumnya dibagikan 25 buah buku karya sastrawan bersangkutan untuk dipelajari.” Mereka diharapkan akan lebih siap berdiskusi dan memperoleh manfaat optimum dari kedatangan sastrawan tersebut, “tutur Taufiq.
Target akhir dari program ini, ungkap Taufiq adalah memasukkan pengajaran sastra yang memadai dalam kurikulum nasional.” Sehingga sastra kita bisa maju,” ujarnya. Sedangkan, penyair Hamid Djabbar menegaskan rencana jangka panjang ‘kelompok sastrawan peduli sastra’ ini adalah melakukan perombakan paradigma kurikulum nasional.
“Kita ingin merombak cara memandang pembangunan pendidikan secara keseluruhan tanpa menyisihkan sastra. Kegiatan ini tidak hanya sekedar menambal kekurangan yang ada, tapi untuk meyakinkan bahwa sastra itu juga bagian integral dari pembangunan budaya dan pembentuk karakter bangsa,” cetus aktivis Partai Bulan BIntang ini.
Philip Yampolsky, Program Officer The Ford Foundation untuk Indonesia, mengatakan jika program ini sukses dan berlangsung sesuai harapan tak menutup kemungkinan untuk dibantu terus-menerus pendanaannya untuk tahap selanjutnya. “Tapi itu sangat tergantung pada keberhasilan program ini sendiri,”ujarnya. Yampolsky menilai program ini merupakan saran kreatif terhadap masalah mundurnya apresiasi sastra di kalangan anak didik.
Sebelum program ini, Taufiq Ismali telah mengadakan Diklat Apresiasi Sastra, Membaca dan Menulis bagi guru bahasa dan sastra di SMU se-Indonesia pada tahun lalu. Kegiatan yang justru di biayai lewat Bappenas, bukan Depdikbud (dulu), ini akhirnya dicanangkan menjadi program yang berkelanjutan.” Intinya kita melihat kurikulum pengajaran bahasa dan sastra kita yang perlu dikaji kembali, ternyata itu tidak mudah sama sekali. Untuk mencapai solusi itu kita harus menembus hutan belantara yang luar biasa hebatnya,” paparnya hingga pada akhirnya, sambung Taufiq, Bappenas mempersilahkannya untuk presentasi tentang penanggulangan kemerosotan pengajaran sastra di sekolah-sekolah.
Yeni guru bahasa dan sastra SMUN 100 Jakarta Timur, yang mengikuti diklat tersebut mengungkapkan bahwa pelajaran sastra yang ada begitu instan. “Murid hampir tak tahu buku-buku sastra yang ada. Mereka hanya membaca sinopsis umum yang ada di buku pelajaran. Memang, di situ sudah mengandung instrinsik sastra, “ungkapannya. Selain itu, sambung Yeni pelajaran sastra juga cenderung pada teori. Hal ini disebabkan dalam UUB (Ulangan Umum Bersama) dan Ebtanas yang ditanya teori, maka murid cukup membaca sinopsis saja,” ujarnya.
Tentang kebiasaan menulis papar Yeni, selama ini tema yang diajukan dalam buku pelajaran sudah ditentukan. “pemikiran murid jadi tergiring, tak ada keleluasaan dan kreatifitas. Itulah, kurikulum harus ditinjau kembali kalau ekstremnya tak ingin diubah. Dan untuk melakukan peninjauan kurikulum itu sebaiknya juga melibatkan para guru yang ada di lapangan, “tandasnya

.* ratu ratna damayani
( Sumber: Republika, Jum’at, 18 Februari 2000, hlm. 2..)

Antara Rantopanyang dan ZILS

Antara Rantopanyang dan ZILS
Oleh: ADNAN ABDULLAH – Dosen FKIP Unsyiah

Antara Rantopanyang dan kawasan Industri sekitar Lhokseumawe (ZILS) ada perbedaan rona sosial budaya. Perbedaan itu antara lain berkaitan dengan proses pertumbuhan dan keberadaan unit-unit ekonomi mengolah sumber alam pada masing-masing kawasan itu. Sumber minyak bumi yang terdapar di Rantopanyang, Peureulak, telah diusahakan BPM sejak masa penjajahan Belanda. Kemudian dilanjutkan oleh Permina dan mulai permulaan tahun-tahun 60-an beralih kepada Asamera Oil Co yang berpatungan dengan Pertamina. Sedangkan kawan industry sekitar Lhokseumawe baru muncul dalam tahun 70-an dengan laju perkembangan yang sangat pesat.
Pad waktu BPM menggali sumur-sumur minyak, kawasan Rantopanyang masih merupakan hutan belukar yang belum dihuni manusia. Meskipun jalan untuk memudahkan lalulintas sudah dibuka, namun penduduk yang tertarik untuk bermukim ke sana belum banyak jumlahnya. Yang tinggal menetap di sana umumnya terbatas hanya buruh tambang. Mereka tinggal mengelompok dalam satu lingkungan pemukiman yang jauh terpencil dari masyarakat setempat. Suasana penjajahan juga meredam gejolak interaksi sosial antara buruh tambang dan masyarakat sekitar yang berada jauh di luar kawasan perusahaan.
Sebaliknya ketika perusahaan industry memasuki kawasan pemukiman sekitar Lhokseumawe di awal tahun 70-an, ia menjumpai kelompok-kelompok masyarakat yang selama bergenerasi mengembangkan sistem sosial budaya, sistem ekonomi, sistem kekerabatan dan sistem kepercayaan dengan ciri-cirinya yang khas. Kehadiran perusahaan industri di kawasan tersebut telah membentuk gelembung-gelembung modernisasi di tengah samudra keterbelakangan. Meskipun bermacam pria sarana, sarana, dan peluang tersedia, namun yang berhasil memanfaatkannya masih terbatas jumlahnya. Kebanyakan penduduk setempat lebih melihat kehadiran berbagai prasarana, sarana, dan peluang itu sebagai sumber gangguan: polusi air dan udara, pemukiman yang semakin sesak, meningginya temperatur, kenaikan harga barang-barang, dan perbedaan yang mencolok dalm gaya hidup.
Namun jauh di balik relungan sanubari mereka terbersit sekelumit perasaan bangga adanya perusahaan industri dan pertumbuhan usaha-usaha lain di kawasan pemukiman mereka. Begitu pula dengan meluasnya pola dan gaya hidup baru yang kelihatannya lebih modern. Bagi kebanyakan warga masyarakat setempat berbagai kemajuan tersebut menarik untuk dipandang mata, kendatipun milik orang lain. Memang kehadiran perusahaan industry telah membawa perubahan secara meluas pada bagian terbesar warga masyarakat . Perubahan itu ada yang muncul sebagai pengaruh dari luar, di samping ada pula yang bersumber dari dinamika sosial budaya mereka sendiri. Struktur sosial mengalami perbesaran skala dan peta sosial ekonomi masyarakat menjadi lebih kompleks. Hadirnya industry telah mendorong mereka untuk berupaya mendapatkan pekerjaan dalam bidang apa saja, selain usaha tani, yang cepat menghasilkan uang.
Gambaran di atas tampak berbeda dengan apa yang bisa diamati di kawasan perusahaan tambang minyak Rantopanyang. Keberadaan perusahaan itu seakan-akan larut dalam suasana keterbelakangan setempat. Di sana tidak dijumpai prasarana dan sarana yang mewah dan modern, seperti toko swalayan, mesjid yang mewah, hotel berbintang, telekomunikasi modern, ataupun peralatan teknologi mutakhir.

Gelembung-gelembung modernisasi dan kemewahan kurang kentara tampak di permukaan. Kendatipun pendapatan para karyawan rata-rata juga tergolong tinggi, namun kebutuhan sehari-hari mereka penuhi dari pasar lokal dan mereka tinggal pada rumah-rumah sewa yang kondisinya tidak berbeda secara mencolok dengan pemukim di sekitarnya. Pemukiman di sekitar lingkungan perusahaan tampak bebas memanfaatkan lahan-lahan kosong yang dikuasai perusahaan sebagai ladang usaha. Keadaan lingkungan sekitar perusahaan masih terkesan sebagai kawasan hutan yang memberikan suasana teduh dan nyaman.

Tetapi, apa arti perbedaan yang diungkapkan di atas itu, terutama bila dilihat dari segi peningkatan harapan dan terbukanya peluang. Hal ini kiranya penting lebih-lebih bila dikaitkan dengan makna pembangunan, yaitu untuk meningkatkan harapan di satu pihak dan memperbesar peluang pada pihak lain. Jawaban atas persoalan tersebut dapat dikaitkan dengan aspirasi yang berkembang seiring dengan lahirnya perusahaan-perusahaan berskala besar. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspirasi yang berkembang dan melatarbelakangi kehadiran perusahaan pengolah sumber alam di kedua kawasan itu. Pertama, aspirasi pemerintah yang menitik beratkan keberadaan perusahaan tersebut kepada peningkatan pemasukan devisa bagi negara, yang sekaligus juga berarti meningkatkan pendapatan nasional. Di balik itu pemerintah juga mensyaratkan bahwa dampak negatif itu langsung tertuju pada tata ruang kependudukan, dan ketenagakerjaan.
Kedua aspirasi perusahaan itu sendiri yang menginginkan keterjaminan tecapainya produktivitas yang maksimal tanpa ada gangguan dari lingkungan sekitar terhadap peralatan teknis serta karyawan dan keluarga mereka. Sedangkan yang ketiga adalah aspirasi yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, bahkan kehadiran perusahaan tidak menimbulkan dampak negatif, bahkan sebaliknya dapat membuka peluang kerja baru di luar bidang usaha tani, yang berarti bagi mereka.
Adanya keselarasan di antara ketiga aspirasi yang disebutkan di atas kiranya dapat dijadikan barometer dalam menilai keberadaan sesuatu perusahaan. Penonjolan aspirasi pemerintah yang berlebih-lebihan bisa melahirkan perilaku sewenang-wenang. Memberikan keleluasaan bagi aspirasi pengusaha dapat menimbulkan keserakahan. Mementingkan aspirasi masyarakat semata-mata akan menyebabkan inefisiensi.
Bagi Indonesia, pembangunan merupakan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan, mewujudkan persatuan dan kedaulatan serta meratakan keadilan dan kemakmuran.

(Sumber: Serambi Indonesia, 10 Agustus 1989, hlm. 4/Opini)

*Catatan: Bagi pembaca pada era reformasi sekarang, tulisan di atas terasa tidak menggigit atau hambar,biasa saja. Namun bagi pembaca di era Orde Baru-10 Agustus 1989, saat tulisan ini dimuat Serambi- artikel itu amat tajam dan melukai!. Bale Tambeh, 10 Nopember 2015 pkl. 7:09 wib. pagi, Selamat Hari Pahlawah!. Ingat Tgk Abdul Jalil Cot Plieng, Bayu. T.A.Sakti.